-->

Pedang Tanpa Perasaan Jilid 11

Jilid 11  

Dengan perasaan pilu Tao ling mendongakkan kepalanya, tampak wajah I Ki Hu hijau membesi. la juga tidak mengatakan apa-apa lagi, kakinya menghentak di permukaan tanah dan mencelat ke atas kuda. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Para pembaca sekalian, Tao Heng Kan dan I Giok Hong dapat bertemu dengan pasangan I Ki Hu dan Tao Ling di tempat itu, menimbulkan suasana yang tidak enak, sebenarnya hal itu bukan kebetulan.

Tempo hari, ketika I Giok Hong dan Tao Heng Kan kehilangan jejak Lie Cun Ju, mereka berdua menyusuri sungai itu mencari pemuda itu. Tetapi Lie Cun Ju sudah dibawa pergi oleh para lhama dari Agama Oey kau. Tentu Tao Ling dan I Giok Hong tidak berhasil menemukannya.

Selama melakukan perjalanan bersama-sama dalam beberapa hari, I Giok Hong sudah mendengar cerita dari mulut Tao Heng Kan sendiri mengapa ia bisa tiba-tiba dianggap sebagai tokoh misterius bagi seluruh umat bulim.

Peristiwa ini diceritakan oleh Tao Heng Kan ketika mereka melakukan perjalanan bersama menyusuri tepi sungai itu.

Bila ingin mengetahui peristiwa ini dengan jelas, maka kita harus kembali ke permulaan cerita ini.

Saat itu air sungai tidak seberapa deras. Kedua perahu bergerak dengan tenang. Di perahu yang satu, terdapat pasangan suami istri Lie Yuan dan kedua putra mereka, Li Po dan Lie Cun Ju. Se-dangkan di perahu yang satunya lagi, terdapat pasangan suami istri Tao Cu Hun dan kedua buah hati mereka, Tao Heng Kan dan Tao ling.

Kedua keluarga itu bertemu secara kebetulan. Begitu sating menyebutkan nama masing-masing, akhirnya terjadi perkenalan. Justru pada malam pertama perkenalan kedua keluarga itu, timbullah kejadian yang aneh.

Malam itu, rembulan bersinar redup. Seluruh permukaan sungai bagai diselimuti kabut tebal. Sebab tidak jauh lagi, mereka akan mencapai selat Pa tung yang terkenal dengan aliran airnya yang deras karena adanya air terjun yang besar. Karena itu tukang perahu juga tidak berani menjalankan perahu di malam hari. Mereka berhenti di tepian dermaga.

Kedua orang tua Tao Heng Kan sedang berbincang-bincang dengan pasangan suami istri Lie Yuan di perahu sebelah. Sedangkan Tao ling sejak sore-sore sudah tertidur pulas. Tao Heng Kan yang ditinggal seorang diri dan belum mengantuk juga. Tadinya dia berniat mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya di perahu sebelah. Tetapi dia merasa sikap pasangan suami istri Lie Yuan agak angkuh sehingga timbul sedikit perasaan sebal dalam hatinya.

Karena sendirian, Tao Heng Kan merasa iseng. Dengan menyilangkan tangannya di depan dada, dia berjalan mondar mandir di buritan perahu. Sepasang matanya menatap sinar rembulan yang redup. Lama-lama terasa asyik juga. Setelah berdiri beberapa saat di buritan perahu, Tao Heng Kan kembali berjalan-jalan menuju geladak perahu di bagian depan.

Pada saat ini, para tukang perahu sudah naik ke atas dermaga dan menuju desa kecil yang letaknya tidak seberapa jauh untuk membeli arak dan mengobrol di kedai arak. Di dalam perahu hanya tersisa beberapa orang yang usianya sudah agak lanjut dan sejak tadi sudah tertidur pulas. Boleh dibilang suasana di atas perahu itu benar-benar sunyi mencekam.

Ketika melangkah perlahan-lahan menuju bagian depan perahu, tiba-tiba Tao Heng Kan melihat sesosok bayangan hitam berlari di atas permukaan air sungai dan sedang melesat ke arah perahunya.

Mula-mula Tao Heng Kan agak tertegun. Dia mengira pandangan matanya yang salah. Tetapi setelah diperhatikan berulang kali, ternyata pandangan matanya jelas sekali dan tidak terjadi kesalahan apa-apa.

Sebab, meskipun ilmu gin kang seseorang sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, sehingga dapat berjalan di permukaan air, tetapi biasanya apabila permukaan airnya tenang. Meskipun perairan di tempat itu tidak sederas selat Pa tung, namun gelombang ombaknya cukup besar. Bahkan semua perahu terus bergerak-gerak karena gelombang air sungai itu. Seandainya ingin berlari di atas permukaan air yang gelombangnya sebesar itu, memang tidak semudah membicarakannya.

Seandainya hal itu dapat dilakukan setiap orang, legenda tentang Tat mo cousu yang dapat menyeberangi lautan pun tidak akan demikian termasyhur sampai sekarang ini.

Tetapi, meskipun Tao Heng Kan sudah mengucek matanya berulang kali, apa yang dilihatnya tetap tidak berubah. Bahkan gerakan orang itu dalam sekejap mata sudah mendekat. Dan ia pun dapat melihat dengan jelas bahwa bentuk tubuh orang itu tingginya luar biasa.

Ketika menyadari bahwa ia tidak salah lihat, hanipir saja Tao Heng Kan membuka mulut berteriak. Tetapi kemudian dia menahan dirinya sendiri. Mulutnya sama sekali tidak bersuara. Karena tiba-tiba dia teringat, kedua orang tuanya sedang berbincang- bincang dengan pasangan suami istri Lie Yuan. Apabila dia sampai berteriak dan akhirnya mereka tidak menemukan apa-apa, bukankah dirinya sendiri yang akan menjadi bahan tertawaan?

Justru ketika pikiran Tao Heng Kan sedang tergerak, orang itu sudah sampai di samping perahu. Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara seakan-akan hendak melesat ke atas atap perahu. Pandangan mata Tao Heng Kan menjadi samar. Dengan tiba-tiba orang itu pun menghilang. Rasa terkejut Tao Heng Kan tak terkirakan. Sebab tadi dia sudah yakin pandangan matanya tidak salah, tetapi mengapa dalam sekejap mata, bayangan bertubuh tinggi itu bisa menghilang?

Dengan gugup Tao Heng Kan membalikkan tubuhnya. Memang dia berdiri di bagian depan perahu. Asal dia membalikkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya, maka dapat menyentuh kahin perahu itu. Tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri.

Seandainya orang itu mencelat ke atas perahu, dia pasti berdiri di belakang punggungnya. Namun hetapa tercekatnya hati Tao Heng Kan ketika dia membalikkan tubuhnya. Ternyata tidak menemui siapa-siapa.

Tetapi Tao Heng Kan yakin tadi ada seseorang yang mencelat ke atas perahu dari permukaan air sungai. Apa yang dilihatnya sama sekali bukan khayatan. Tetapi orang itu dapat menghilang begitu saja. Hal itu membuktikan bahwa kepandaiannya sudah mencapai taraf yang bukan main tingginya.

Sebelum identitas orang itu diketahuinya, dia tidak akan bergembar-gemhor. Karena itu, Tao Heng Kan segera menenangkan perasaannya.

"Sahabat mana yang datang berkunjung, harap memperlihatkan diri!" sapanya dengan suara yang dalam.

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba terde-ngar suara tertawa yang dingin sekali. Asalnya dari tengah udara. Tao Heng Kan adalah turunan seorang pendekar pedang yang cukup mempunyai nama di dunia kang ouw. Kepandaiannya juga tidak rendah. Dia segera rnendongakkan wajahnya. Kembali hatinya terkesiap.

Tampak di atas atap perahu ada seseorang yang sedang berdiri dengan mengerahkan ilmu 'Bangau berdiri menangkring'. Sebetulnya, dengan kepandaian yang dimiliki oleh Tao Heng Kan, tidak sepatutnya merasa heran apahila ada seseorang yang berdiri di atas atap perahu. Ketika dia mendongakkan kepalanya, ternyata orang itu sedang menerjang ke arahnya.

Tanpa dapat mempertahankan diri lagi Tao Heng Kan mengeluarkan suara seruan terkejut. Namun baru saja suaranya tercetus keluar, orang itu sudah berdiri di atas geladak dan tangannya terjulur mencengkeram bahu Tao Heng Kan.

Tinggi atap perahu itu paling tidak ada dua depaan. Orang itu menerjang turun dan men-julurkan tangannya mencengkeram. Boleh dibilang keduanya dilakukan dalam satu kali gerakan. Kecepatannya sulit diuraikan dengan kata-kata. Bahkan Tao Heng Kan tidak sempat mempunyai pikiran untuk menghindar. Tahu-tahu pundaknya sudah tercengkeram oleh tangan orang itu.

Hati Tao Heng Kan semakin tercekat. "Sahabat, dari mana asalmu?" tanyanya cepat.

Terdengar orang itu mengeluarkan suara tawa yang dingin. "Kalau kau menolehkan kepalamu, kau toh bisa melihat sendiri?" Sepasang pundak Tao Heng Kan dicengkeram kuat-kuat oleh tangan orang itu. Dengan demikian tubuhnya tidak dapat bergerak sedikit pun. Mendengar orang itu menyuruh dia menolehkan kepalanya, Tao Heng Kan tidak tahu harus menangis atau tertawa. Tetapi selesai berkata, orang itu sudah membalikkan tubuh Tao Heng Kan. Tao Heng Kan memperhatikan dengan seksama. Tampak orang yang tangannya mencengkeram pundaknya sendiri itu mempunyai tubuh yang bukan. main tingginya. Untuk melihat wajah orang itu terpaksa Tao Heng Kan harus mendongakkan kepalanya.

Wajah orang itu kurus sekali. Sulit menebak berapa usianya. Hanya matanya yang menyorotkan sinar tajam berkilauan. Ketika pandangan mata mereka bertemu, Tao Heng Kan segera merasakan adanya semacam perasaan yang sulit dilukiskan.

Pokoknya perasaan tidak nyaman. Tao Heng Kan berniat memalingkan wajah, tapi dia tidak sanggup menghindarkan diri. Saat itu juga, semangatnya seakan hilang entah ke mana. Bahkan dia seperti tidak ingat lagi di mana dirinya berada.

Tao Heng Kan dapat merasakan gejala yang kurang beres. Segera dia mempertahankan ketenangannya. Terdengar orang itu tertawa panjang sekali lagi. Sinar matanya beredar. Tao Heng Kan segera menggunakan kesempatan itu untuk menyurut mundur satu langkah.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya anak muda itu sekali lagi. Orang itu tersenyum simpul.

"Kau tidak perlu menanyakan dulu siapa diriku. Aku ingin bertanya dulu kepadamu. Dalam seumur hidupmu, kepandaian tertinggi yang pernah kau lihat, kira-kira sampai taraf apa?"

Tao Heng Kan tertegun beberapa saat. Dia rnerasa pertanyaan itu aneh sekali. Anak muda itu berpikir sesaat.

"Menggunakan bunga melukai lawan, menyambitkan daun mengundurkan musuh. Rasanya semua ini sudah termasuk taraf yang tertinggi," jawab Tao Heng Kan.

Orang itu menganggukkan kepalanya.

"Tetapi sejak jaman dahulu kala sampai sekarang, ada berapa orang yang sanggup mencapai taraf itu?"

Sembari berbicara, dia menjawil ujung pakaian Tao Heng Kan secuil, kemudian dengan seenaknya disambitkan ke dalam permukaan sungai.

Tao Heng Kan tidak mengerti apa yang dilakukannya. Tampak secuil kain itu perlahan-lahan melayang menuju permukaan sungai. Belum sempat menyentuh permukaan sungai, tampak tekanan secuil kain itu menimbulkan gerakan memutar dalam air. Bahkan menimbulkan per-cikan yang cukup besar sampai setinggi satu depaan. Beberapa titik di antaranya sempat men-ciprat ke tubuh Tao Heng Kan sehingga anak muda itu merasa kesakitan. Kali ini, rasa tercekat di dalam hati Tao Heng Kan tidak alang kepalang.

Karena ilmu yang dipamerkan orang itu benar-benar hebat sehingga hampir tidak masuk akal.

Tao Heng Kan melihat dengan mata kepala sendiri. Orang itu hanya menyambitkan secuil kain ke dalam sungai, namun percikan airnya begitu tinggi bahkan sempat membuat beberapa bagian tubuhnya kesakitan.

Tao Heng Kan sampai termangu-mangu. Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkannya. Kepandaian yang diperlihatkan oleh orang itu sangat sulit dicarikan tandingannya di kolong langit ini. Bahkan tokoh nomor satu Gin leng hiat dang pun mungkin masih belum sanggup menyamainya.

Padahal, ketika orang itu mencuil ujung pakaian Tao Heng Kan tadi, Tao Heng Kan tidak menyadari bahwa tangan orang itu mencengkeram sebilah kayu yang didapatkannya dari atap perahu. Karena gerakan tangannya sangat cepat, Tao Heng Kan tidak sempat melihatnya. Tenaga dalam orang itu dipancarkan melalui bilah kayu tersebut sehingga daya tekannya menjadi besar. Dan ketika kain itu dicemplungkan ke dalam sungai menimbulkan bunyi yang nyaring.

Tao Heng Kan adalah pemuda yang jujur mana mungkin pikirannya sampai kesana. Setelah tertegun sejenak, dia baru berkata.

"Tidak disangka tenaga dalam Cianpwe sudah mencapai taraf demikian tinggi. Boan pwe benar-benar kagum sekali."

Orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana kalau kau menyembah aku sebagai guru?"

Sekali lagi Tao Heng Kan tertegun. Kepandaian orang itu demikian tinggi. Seandainya bisa berguru kepadanya, tentu tidak ada yang lebih bagus lagi. Tetapi dia bahkan tidak mengetahui asal usul orang itu, mana boleh sembarangan menyembahnya sebagai guru?

"Usul Cianpwe sesungguhnya dimohon pun belum tentu terkabul. Tetapi masalah ini besar sekali. Boan pwe harus memohon dulu ijin kedua orang tua, baru dapat memberikan jawaban."

"Kedua orang tuamu sendiri mempunyai rahasia yang disembunyikannya darimu. Buat apa kau harus menanyakan dulu persoalan ini kepada mereka?"

Tao Heng Kan tergerak hatinya mendengar keterangan orang itu. Sejak kemarin- kemarin dia memang sudah curiga atas tindakan kedua orang tuanya yang tiba-tiba meninggalkan kampung halamannya. Meskipun dia sudah berulang kali berusaha meminta penjelasan, tetap saja mereka membungkam. Bahkan di sepanjang perjalanan, kedua orang tuanya selalu menghindari mereka kakak beradik apabila ingin merundingkan sesuatu. Hal itu menunjukkan ada sesuatu yang mereka rahasiakan.

Meskipun hati Tao Heng Kan tergerak oleh kata-kata orang itu, tapi apabila dia langsung menyembahnya sebagai guru, tanpa menanyakan lagi kepada kedua orang tuanya, Tao Heng Kan tetap tidak sanggup melakukannya.

"Walaupun locianpwe berkata demikian, boanpwe tetap tidak berani melancangi mereka." Orang itu tertawa terkekeh-kekeh. "Benar-benar seorang anak yang penuh bakti. Aku memberimu waktu dua hari untuk berpikir. Kalau kau tidak bersedia menjadi muridku, takut-nya seluruh keluargamu akan menemui bencana besar. Ada satu hal lagi, apabila kau berani menceritakan gerak gerikku kepada siapa saja, maka aku akan segera membantai kedua orang tuamu." Selesai berkata, tubuhnya berkelebat bagai segumpal asap melesat keluar. Kakinya menghentak di permukaan sungai dan melangkah dengan cepat. Dalam waktu yang singkat, orang itu sudah sampai di pertengahan sungai. Sekejap mata kemudian, tidak terlihat lagi.

Datang tanpa suara, pergi tanpa bayangan. Tao Heng Kan seakan baru saja mengalami mimpi buruk.

Tao Heng Kan masih berdiam diri di atas geladak beberapa saat. Kemudian dia masuk kem-bali ke dalam kabin. Tidak lama kemudian kedua orang tuanya sudah kembali lagi. Tao Heng Kan tidak berani mengatakan apa-apa. Dua hari kemudian, perahu mereka bersandar di dermaga. Serombongan orang diundang ke gedung kediaman Kuan Hong Siau. Tao Heng Kan yang mengingat kemungkinan orang itu akan kembali lagi, selalu menunjukkan mimik wajah bermuram durja.

Tampangnya yang selalu murung itu tidak mendapat perhatian orang lain. Namun Tao Ling yang sejak kecil akrab dengan kokonya, sempat niemperhatikan. Hal ini sudah kita kisahkan di awal cerita.

Hanya saja, Tao Ling juga tidak tahu apa yang menyebabkan kokonya selalu bermuram durja. Hatinya merasa aneh. Sama sekali tidak membayangkan bahwa akibatnya demikian mengerikan.

Setelah sampai di gedung kediaman Kuan Hong Siau, kemudian ada orang yang mengusulkan agar kedua keluarga pedang kenamaan itu mengadu ilmu. Bahkan Tao Heng Kan yang disuruh ayahnya meminta petunjuk dari putra tertua pasangan suami istri Lie Yuan.

Pada saat itu perasaan hati Tao Heng Kan sedang gundah. Dia terus memikirkan orang yang kemungkinan akan datang kembali menagih janji. Dalam hatinya tidak ada minat membandingkan apakah ilmu pedang keluarganya yang lebih hebat ataukah ilmu pedang Pat kua kim gin kiam yang lebih hebat. Tetapi karena dirinya sudah terpilih, terpaksa dia turun juga ke arena bertanding dengan LiPo.

Mula-mula Tao Heng Kan juga tidak merasakan apa-apa. Tetapi setelah lewat lima jurus, dia mulai merasakan gejala yang kurang beres. Tiba-tiba saja, Tao Heng Kan merasa gerakan pedang Hek pek kiam di tangannya tak dapat lagi dikendalikan. Setiap serangan yang dikerahkannya selalu mengincar bagian mematikan pada tubuh Li Po. Jurus-jurus yang dimainkannya juga mengandung kekejian bukan main.

Beberapa kali Tao Heng Kan berusaha mengubah arah gerakan pedangnya, namun selalu tidak berhasil.

la merasa setiap serangan yang dilancarkannya mengandung serangkum kekuatan yang menyerang jalan darahnya. Sedangkan serangkum kekuatan itu demikian lembutnya namun setiap kali menyentuh jalan darah di tubuhnya, tanpa dapat ditahan lagi Tao Heng Kan tergetar.

Malah setiap gerakan pedangnya mengandung keuntungan bagi dirinya. Dia tidak dapat mempertahankan diri untuk tidak menyerang Li Po secara keji. Dalam tujuh- delapan jurus saja, Tao Heng Kan sudah berhasil melukai Li Po.

Saat itu, kepanikan dalam hati Tao Heng Kan jangan dikatakan lagi. Dia sadar apabila hal ini didiamkan, pasti akan timbul masalah besar.

Timbul perasaan ingin memberontak dalam hati Tao Heng Kan. Dia bermaksud melemparkan pedang Hek pek kiamnya kemudian kembali kesamping kedua orang tuanya. Justru tepat pada saat itu, jalan darah di pinggangnya terasa kesemutan. Juga jalan darah di bagian lututnya. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, kaki Tao Heng Kan menekuk dan pedangnya langsung menghunjam dada Li Po.

Pada saat itu, hanya Tao Heng Kan yang tahu kesulitan dirinya sendiri. Orang lain mana mungkin mengetahuinya, dia bahkan dianggap sengaja menggunakan cara licik membunuh Li Po.

Orang-orang yang hadir di dalam taman bunga itu pun menjadi kalang kabut. Tao Heng Kan masih berdiri termangu-mangu dengan perasaan serba salah. Tiba-tiba telinganya mendengar serentetan tertawa terbahak-bahak yang disusul dengan perkataan seseorang.

"Sekarang kau sudah merasakan kehebatanku bukan? Aku akan menunggumu di atas perahu."

Begitu mendengar suara itu, Tao Heng Kan segera mengenalinya sebagai orang yang justru sedang dikhawatirkan olehnya akan muncul tiba-tiba itu. Tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya.

Tao Heng Kan menyadari, apabila saat itu dia ingin berdebat dengan orang-orang yang hadir di dalam taman bunga gedung Kuan Hong Siau itu, meskipun menceburkan dirinya ke dalam sungai Huang ho juga tidak akan membersihkan nama baiknya.

Satu-satunya jalan yang dapat dipilihnya, hanya kembali ke atas perahu dan menemui orang itu terlebih dahulu. Setelah itu baru mencari jalan untuk mengemukakan ketidak bersalahan dirinya.

Karena itu dia segera membalikkan tubuhnya melarikan diri dari gedung rumah Kuan Hong Siau. Dia berlari menuju tepi sungai. Saat itu, pikiran Tao Heng Kan rumit sekali. Dia mengerahkan segenap kemampuannya untuk berlari. Ketika sampai di tepi sungai, nafasnya sudah tersengal-sengal.

Begitu niasuk ke dalam kabin perahu, dia melihat orang bertubuh tinggi kurus itu sudah duduk dengan santai di atas kursi. Tao Heng Kan berusaha menenangkan perasaannya.

"Kau ..." sapa Tao Heng Kan.

Baru saja Tao Heng Kan mengucapkan sepatah kata, lengan orang itu sudah mengibas perlahan-lahan. Tao Heng Kan merasa ada serangkum kekuatan yang lembut melanda dirinya sehingga gerakan tubuhnya tertahan dan nafasnya sesak. Kata-katanya pun tidak dapat diteruskan lagi.

"Apakah kau sudah tahu sampai di mana kehebatanku?" tukas orang itu.

Kegusaran dalam hati Tao Heng Kan meluap-luap. Tetapi dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

"Kalau kau tidak menuruti kemauanku, maka seluruh keluargamu akan tertimpa bencana yang lebih besar lagi!" Orang itu melanjutkan ucapannya.

Sampai beberapa saat Tao Heng Kan mengerahkan segenap kemampuannya, akhirnya dia sanggup juga mencetuskan beberapa kalimat.

"Apa yang harus kulakukan?" katanya. Orang itu tertawa seram.

"Kau harus menyembah aku dulu sebagai gurumu, nanti baru aku bicarakan hal lainnya."

Sekarang Tao Heng Kan sudah menyadari. Untuk mencapai tujuannya, orang itu tidak segan-segan mengorbankan selembar jiwa Li Po. Hal ini membuktikan bahwa orang itu bukan dari golongan lurus. Mana mungkin Tao Heng Kan sudi menerima permintaannya begitu saja?

Dia mendongakkan wajahnya dan memandang orang itu dengan berani.

"Meskipun ilmu kepandaianmu tinggi sekali, tetapi aku juga tidak rakus. Tidak perlu kau ungkit lagi soal menyembah dirimu sebagai guru!"

Wajah orang itu berubah angker.

"Kau tidak sudi mengangkat aku sebagai guru? Sebentar lagi aku akan memperlihatkan kekejianku!"

Mereka berdua belum sempat bicara banyak di dalam kabin. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi. Rupanya pasangan suami istri Tao Cu Hun dan Tao Ling putri mereka sudah kembali ke atas perahu. Ketika di atas dermaga saja, ketiga orang itu sudah melihat ada bayangan seseorang yang berbentuk tinggi kurus di dalam kabin. Namun mereka tidak tahu siapa orang itu.

Ketika mereka bertiga masuk ke dalam kabin, orang itu sudah menghilang, di dalam kabin tinggal Tao Heng Kan seorang diri. Pada saat itu, sebetulnya Tao Heng Kan sudah bertekad menceritakan apa yang dialaminya kepada kedua orang tuanya. Namun belum lagi sempat, pasangan suami istri Lie Yuan dan Lim Cin Ing sudah menyusul datang bersama Kuan Hong Siau dan rombongannya. Setelah itu, timbul serentetan kejadian aneh, jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan tiba-tiba ter-totok oleh seseorang. Kemudian perahu itu terbelah menjadi dua bagian dan kandas ke dalam sungai. Orang-orang yang ada di atas perahu pun hanyut terbawa air sungai yang deras. Tao Ling dan Lie Cun Ju malah terdampar ke sebuah pulau tandus. Dan akhirnya timbul cinta kasih di hati kedua remaja itu.

Namun apa yang dialami Tao Heng Kan justru jauh berbeda.

Ketika tubuhnya tercebur ke dalam sungai, hal pertama yang diingatnya tentu ingin menyem-bulkan kepalanya ke permukaan air. Namun justru baru ingin menyembulkan kepalanya, tiba-tiba dia merasa di sampingnya ada seseorang yang menjulurkan tangan dan menekan kepalanya agar tidak dapat disembulkan lagi.

Perasaan Tao Heng Kan tercekat seketika. Karena dia tidak dapat menahan nafas terlalu lama di dalam air, lagipula kepala merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Dengan ditekannya bagian kepalanya, boleh dibilang sama artinya nyawanya telah tergenggam di tangan orang itu.

Tao Heng Kan berusaha menenangkan perasaannya. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Di dalam kemilau air yang beriak-riak, dia melihat tidak jauh darinya ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tajam.

Begitu melihat sinar mata itu, Tao Heng Kan segera mengenali. Ternyata orang yang menekan kepalanya tidak lain dari laki-laki bertubuh tinggi kurus itu.

Tao Heng Kan benar-benar tidak habis pikir. Laki-laki bertubuh tinggi kurus itu mengapa demikian mendesak dirinya agar menyembahnya sebagai guru? Hawa marahnya semakin meluap. Dia menghimpun hawa murninya kemudian mengirimkan sebuah pukulan kepada orang itu.

Tetapi pukulannya itu tidak sempat mengenai lawan. Bahkan orang itu sudah menjulurkan sebelah tangannya menotok jalan darah di pinggangnya. Tubuhnya pun menjadi lemas seketika. Tanpa dapat dipertahankan lagi, mulutnya membuka dan Glek! Glek! beberapa teguk air sungai mengalir ke dalam tenggorokannya. Sesaat kemudian pandangan matanya pun menjadi gelap dan ia jatuh tidak sadarkan diri.

Ketika tersadar kembali, dia merasa ada cahaya terang benderang yang menyilaukan. Per-lahan-Iahan Tao Heng Kan memhuka matanya. Dia menemukan dirinya sudah terbaring di atas geladak sebuah perahu. Sedangkan perahu itu sedang melaju dengan tenang di tengah-tengah sungai. Matahari bersinar dengan terik. Ternyata sudah tengah hari. Tao Heng Kan merasa perutnya mual. Ketika dia bangkit dan duduk, Tao Heng Kan langsung memuntahkan air yang terasa asam di mulut. Dengan susah payah, tangannya berhasil meraih pinggiran perahu dan berdiri perlahan-lahan. Tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara orang tua yang dingin dan menyeramkan.

"Sudah sadar?"

Tao Heng Kan segera menolehkan kepalanya. Tampak si laki-laki bertubuh tinggi kurus dan misterius itu sudah berdiri di belakangnya.

Hati Tao Heng Kan merasa benci dan kesal. Dia ingin menantang orang itu, tapi dia sadar kepandaiannya belum mampu melawannya. Dia ingin melarikan diri, tetapi sekarang ia berada di tengah-tengah sungai. Tidak ada jalan baginya untuk lari.

Keadaan saat itu benar-benar apa boleh buat dan terpaksa pasrah menunggu nasib. "Apa sebetulnya yang kau inginkan?" kata Tao Heng Kan.

Orang itu tertawa dingin.

"Pasangan suami istri Lie Yuan sudah kutotok jalan darahnya dengan semacam ilmu yang khas. Tidak ada orang di dunia ini yang sanggup membebaskannya. Apakah kau ingin kedua orang tuamu menjadi korban berikutnya?

Sejak kecil Tao Heng Kan mendapat didikan keras. Orang-orang yang ada hubungannya dengan kedua orang tuanya, boleh dibilang terdiri dari para pendekar berjiwa besar. Seumur hidup dia belum pernah menemukan orang yang menggunakan cara selicik ini untuk mencapai tujuannya. Untuk sesaat, dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.

"Setiap orang yang kutotok dengan semacam ilmu yang khas itu, kecuali Kui lo (Setan tua) jaman dahulu hidup kembali, jangan harap ada yang dapat membebaskannya. Apa lagi, keluarga Sang dari Si Cuan, atau keluarga Lie dari Tung cuan sekali pun, tidak dapat mengetahui bahkan ilmu apa yang aku gunakan," kata orang itu kembali.

Sebetulnya Tao Heng Kan sama sekali tidak tahu asal usul orang itu. Tetapi tiba-tiba mendengar mulut orang itu mengucapkan dua kata 'Kui lo', seakan mengandung makna bahwa ilmu kepandaiannya sealiran dengan Kui lo, tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Sebab orang yang mendapat julukan 'Kui lo' itu, terkenal sebagai orang yang paling keji dalam golongan sesat seratusan tahun yang lalu. Pada usia tujuh belas tahun dia muncul di kalangan umat persilatan. Tidak sampai tiga tahun namanya sudah menggetarkan dunia kang ouw. Ilmu kepandaian yang dikuasainya tidak ada seorang pun yang tahu sumbernya. Namun satu hal yang diketahui setiap tokoh persilatan, yakni ilmu kepandaiannya mengandung jurus-jurus yang bukan main anehnya.

Pokoknya tidak ada seorang pun tokoh dunia bu lim yang pernah melihat ilmu serupa. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang tahu darimana ia mempelajari ilmu-ilmu itu.

Orang yang mendapat julukan Kui lo itu seorang perempuan. Dengan kepandaian yang dimilikinya, dia malang melintang di dunia persilatan, selama tiga puluhan tahun. Apa pun yang dilakukannya tidak pernah mengindahkan peraturan dunia bu lim. Tergantung dari kesenangan hatinya sendiri. Hal ini membuat para tokoh bu lim angkat tangan terhadapnya.

Namun, ketika menjelang usia senja, tiba-tiba saja perempuan iblis ini menghilang dari kalangan dunia bu lim. Tidak ketahuan rimbanya. Sedangkan para tokoh bu lim masih saja dilanda kekhawatiran karena tidak tahu mati hidupnya iblis itu.

Sampai bertahun-tahun kemudian, di saat orang-orang merasa usia Kui lo sudah demikian lanjut sehingga tidak dimungkinkan lagi masih hidup di dunia ini, mereka baru mulai melupakannya.

Memang di dalam hati para jago kelas tinggi menyadari bahwa orang yang mempunyai ke-dudukan tertinggi dan kepandaian terhebat di dunia bu lim bukan orang dari golongan lurus, namun orang dari golongan sesat yaitu Kui lo, si nenek iblis.

Bahkan para tokoh golongan lurus di dunia bu lim pernah mengadakan penyelidikan untuk mencari tahu asal usul ilmu yang dimiliki Kui lo.

Pada saat itu, mereka berkumpul di gunung Go Bi san. Jumlahnya mencapai puluhan orang, tetapi sampai akhirnya, tetap saja tidak ada seorang pun yang sanggup mengutarakan dari mana asal usul kepandaian Kui lo.

Tao Heng Kan turunan seorang pendekar besar. Tentu saja dia juga pernah mendengar nama Kui lo yang sempat menggetarkan dunia bu lim seratusan tahun yang lalu.

Karenanya dia terkejut setengah mati mendengar orang tinggi kurus tadi menyebutkan nama itu.

"A ... pa hubunganmu dengan Kui lo?" tanyanya gugup.

Tampak bahu orang itu menjungkit ke atas, bibirnya bergerak sedikit seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya dia membatalkannya. Tao Heng Kan menunggu beberapa saat.

"Tidak usah kau tahu!" kata orang itu dengan ketus.

Tao Heng Kan melihat perahu yang mereka tumpangi terus melaju ke depan. "Lalu, kemana akan kau bawa aku sekarang?" tanya Tao Heng Kan.

Orang itu tertawa seram.

"Tadi kau menanyakan soal Kui lo. Sekarang aku akan mengajak kau menemui dia." Tubuh Tao Heng Kan langsung tergetar mendengar kata-katanya.

"Kui . . . lo masih hidup?"

Orang itu tidak menjawab. Tao Heng Kan tidak tahu apa isi hatinya. "Sekarang aku masih mempunyai beberapa urusan yang ingin menggunakan tenagamu, karena itu kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mencelakaimu. Tetapi ada satu hal yang perlu kau mengerti, nasib kedua orang tuamu justru ada di tanganmu."

Sebetulnya kebencian Tao Heng Kan terhadap orang itu bukan main dalamnya. Tetapi dia juga menyadari bahwa kepandaian orang itu tinggi sekali. Bahkan sulit dicari tandingannya di dunia ini. Tiap dia mengucapkan kata-kata gertakan, bukan tidak mustahil dia akan melakukannya.

Mata Tao Heng Kan menatap orang itu lekat-lekat.

"Kalau kau tidak bersedia menyembah aku sebagai guru, kedua orang tuamu pasti akan mati. Terus terang saja kukatakan kepadamu, di dalam dunia ini, orang yang berani berhadapan dengan aku sebagai musuh, dapat terhitung dengan jari. Harap kau camkan baik-baik." Terdengar orang itu berkata lagi.

Tao Heng Kan merenung beberapa saat. Hatinya mendongkol sekali, tetapi dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi orang itu.

"Mengapa kau begitu kukuh ingin aku menyembahmu sebagai guru?" tanya Tao Heng Kan.

"Tentu saja ada alasannya." Watak Tao Heng Kan memang keras kepala. "Kalau kau tidak mengatakan alasannya, biar harus mati sekali pun aku tetap tidak bersedia menyembah engkau sebagai guru."

Orang itu menatap Tao Heng Kan beberapa saat.

"Boleh saja. Setelah kalian meninggalkan Tai Hu, aku terus mengikuti kalian dari belakang. Sepanjang perjalanan aku melihat sikapmu yang cocok dengan seleraku. Dapat diandalkan, bila kau bersedia menyembah aku sebagai guru, tentu kau akan menuruti setiap perintahku dan menjadi murid yang setia."

Tao Heng Kan tertawa dingin. "Kau kira kalau kau menyuruh aku memperkosa anak gadis orang atau membakar rumah rakyat jelata, aku juga akan menuruti kemauanmu?"

Orang itu tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja aku tidak menyuruh engkau melakukan tugas seperti itu. Kau hanya perlu ikut aku ke satu tempat untuk mengambil suatu barang. Hanya begitu saja. Pasti kau tidak ingin kedua orang tuamu sampai celaka karena penolakanmu, bukan?"

Pada dasarnya Tao Heng Kan memang seorang anak yang berbakti. mendengar orang itu lagi-lagi mengancam keselamatan ayah bundanya, hati pemuda itu panik setengah mati. Tanpa berpikir panjang lagi dia segera menyetujui permintaan orang itu.

"Baiklah. Aku akan menyembah engkau sebagai guru." Wajah orang itu berseri-seri seketika. "Nah, begitu. Setelah menyembah aku sebagai guru, kau baru tahu bahwa banyak keuntungan yang akan kau peroleh."

Demi menyelamatkan jiwa kedua orang tuanya, Tao Heng Kan sudah mengeluarkan janjinya. Tentu saja dia tidak bisa menjilat ludahnya kembali. Pada saat itu, Tao Heng Kan tidak pernah membayangkan urusannya bisa menjadi sedemikian rupa.

"Bila aku menyembah kau sebagai guru, tentunya aku berhak tahu siapa engkau sebetulnya?"

Orang itu tersenyum.

"Dulu .. . aku terkenal sebagai Pangcu perkumpulan Hek Can pang (Ulat hitam) Cen Sim Fu."

Orang itu bicara dengan lembut, namun Tao Heng Kan yang mendengarnya justru terkejut setengah mati. Tanpa sadar dia berteriak.

"Apa? Kau pangcu dari Hek Can pang?"

Cen Sim Fu menganggukkan kepalanya. "Betul. Apanya yang aneh?"

Tiba-tiba kaki Tao Heng Kan menyurut mundur satu langkah, lengannya terangkat dan sebilah pukulan dihantamkan ke arah Cent Sim Fu. Dalam waktu yang bersamaan, sepasang kakinya menghentak, tubuhnya segera berjungkir balik kebelakang.

Tadinya dia memang berdiri di atas geladak. Begitu tubuhnya bejungkir balik di udara, kelihatannya sedikit lagi anak muda itu akan tercebur ke dalam sungai. Namun, Tao Heng Kan lebih rela dirinya terjatuh ke dalam sungai daripada berhadapan dengan manusia semacam Cen Sim Fu.

Gerakan tubuhnya memang cukup cepat. Begitu mencelat, tubuhnya sudah melayang ke luar dari perahu, asal dia mengempos hawa murninya, tubuhnya pasti akan tercebur ke dalam sungai. Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba Cen Sim Fu mengeluarkan suara siulan panjang. Tampak seperti segumpal asap hitam, orang itu ikut mencelat diudara.

Tubuh Tao Heng Kan yang sedang melayang di tengah udara, merasa ada serangkum tenaga yang kuat meluncur ke arahnya seiring gerakan tubuh Cen Sim Fu. Tiba-tiba bagian lehernya mengencang. Tahu-tahu kerah bajunya sudah dicengkeram oleh orang itu.

Begitu dicengkeram, kembali ada serangkum kekuatan yang menekan dirinya sehingga tanpa dapat dipertahankan lagi tubuhnya meluncur terus ke bawah dan jatuh dengan keras. Blukkk! Tubuhnya menghantam geladak perahu itu. Sampai beberapa saat Tao Heng Kan berusaha memberontak, tetap saja ia tidak sanggup bangkit kembali.

Sedangkan Cen Sim Fu sendiri, setelah berhasil menekan tubuh Tao Heng Kan, tubuhnya berjungkir balik di udara setinggi satu depaan, berputaran lalu menukik turun dan mendarat di atas geladak perahu dengan indah. Matanya menatap Tao Heng Kan dengan pandangan dingin.

Dengan susah payah Tao Heng Kan berusaha berdiri. Akhirnya berhasil juga. Namun seluruh tulang belulang di tubuhnya terasa sangat ngilu. Biarpun sudah berhasil bangkit namun gerakan kakinya masih limbung, hampir saja dia tersungkur jatuh kembali. Tao Heng Kan memang keras kepala. Begitu berhasil bangun, ternyata ia berniat menceburkan diri kembali ke dalam sungai.

Namun kemana pun dia berlari, Ceng Sim Fu selalu berhasil menghadang di depannya. Telapak tangan orang itu mengibas perlahan, tubuh Tao Heng Kan terpental jauh karena kekuatan yang melanda dirinya.

Demikianlah sampai tujuh-delapan belas kali Tao Heng Kan dipermiankan oleh Cen Sim Fu. Tubuhnya dibanting kesana kemari sampai akhirnya mata anak muda itu berkunang-kunang dan tidak sanggup lagi membedakan mana utara mana selatan.

Meskipun Tao Heng Kan hampir pingsan diperlakukan orang itu, tapi hatinya tetap sadar. Biar bagaimana pun, dia harus meninggalkan perahu itu, harus pergi dari pangcu Hek Can pang itu.

Karena nama Hek Can pang di dunia bu lim tidak bedanya dengan kotoran yang menjijikkan. Perkumpulan ini termasuk perkumpulan paling rendah dalam golongan sesat. Sedangkan ketua perkumpulan itu sendiri, yakni Cen Sim Fu sudah terkenal di dunia kang ouw. Hatinya keji, tangannya telengas dan tidak ada satu perbuatan pun yang tidak sanggup dilakukan oleh orang itu. Mana mungkin Tao Heng Kan sudi menyembah orang itu sebagai guru?

Dalam waktu yang bersamaan, hati Tao Heng Kan juga merasa aneh. Sebab, meskipun nama perkumpulan Hek Can pang di dunia kang ouw demikian busuknya, namun sebetulnya tidak seberapa lihai. Karena setiap pengikut perkumpulan itu tidak memiliki kepandaian yang seberapa tinggi dan sebagian besar mengandalkan obat bius atau dupa bius untuk melakukan kejahatan. Perkumpulan ini dianggap kelas teri di dunia kang ouw dan beberapa tahun belakangan ini, tidak pernah lagi terdengar gerak gerik perkumpulan itu. Mengapa ilmu kepandaian Hek Can pang tahu-tahu bisa berubah sedemikian tinggi?

Namun pada saat itu, Tao Heng Kan tidak mempunyai minat menyelidiki hal itu. Begitu tubuhnya terhempas di atas geladak perahu, dia berusaha bangkit kembali. Tiba-tiba saja nafasnya menjadi sesak, dadanya terasa tertekan oleh beban yang berat. Begitu dia membuka matanya, tampak kaki kiri Cen Sim Fu sudah menginjak dadanya.

Saat itu juga, timbul pikiran Tao Heng Kan untuk memejamkan matanya menunggu kematian. Kalau dia memang tidak ingin menyembah orang itu sebagai guru, tapi juga tidak sanggup melolos-kan diri, apa lagi yang harus dikatakan?

Terdengar Cen Sim Fu tertawa terkekeh-kekeh dengan nada dingin. "Kau bermaksud kabur?" Tao Heng Kan tidak menyahut sama sekali. Kembali Cen Sim Fu tertawa dingin.

"Bocah busuk, aku justru ingin melihat sampai di mana kekerasan hatimu. Aku ingin kau melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuamu mengalami kematiannya!"

Mendengar sampai di sini, tanpa dapat mempertahankan diri lagi, seluruh tubuh Tao Heng Kan bergetar hebat.

Kalau saja Cen Sim Fu membuat dirinya menderita atau menyiksanya sampai sekejam apa pun, Tao Heng Kan yakin dia dapat menggeretakkan giginya menahan semua siksaan. Tetapi Cen Sim Fu justru tidak berbuat demikian. Karena kekerasan hatinya, dia ingin menyiksa bathin Tao Heng Kan dengan membunuh kedua orang tuanya.

Tao Heng Kan merasa siksaan bathin seperti itu justru lebih sulit ditahan daripada siksaan badan yang sekejam apapun.

"Cen pangcu, di antara kita tidak ada permusuhan apa-apa. Mengapa kau begitu kukuh ingin aku menyembahmu sebagai guru?" Tao Heng Kan berkata dengan lemas.

Cen Sim Fu tertawa dingin. "Kau anggap aku masih pangcu Hek Can pang yang dulu, yang mana kejahatan kelas teri apa pun sanggup melakukannya? Sekarang aku sudah menguasai kepandaian demikian tinggi. Perbuatan semacam itu sudah lama kutinggalkan!"

Tao Heng Kan tertawa getir.

"Aku mengerti. Sekarang kau justru akan melakukan kejahatan besar." Cen Sim Fu hanya tertawa tanpa memberikan komentar apa-apa.

"Taruhlah aku bersedia menyembah engkau sebagai guru, tetapi kalau kau menyuruh aku berbuat kejahatan, aku pun tidak akan melakukannya," ucap Tao Heng Kan kembali.

Mata Cen Sim Fu mengeluarkan sinar yang ganjil. "Kita mengadakan perjanjian untuk dua tahun.

Dalam dua tahun ini, kau harus menyembah aku sebagai guru, tapi aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang tidak kau suka. Setelah dua tahun, kita bebas menentukan jalan masing-masing, bagaimana?"

Tao Heng Kan merenung sejenak.

"Baiklah. Aku bersedia menyembah kau sebagai guru, tapi untuk dua tahun saja!" Cen Sim Fu tertawa dingin. Kakinya diangkat dari dada Tao Heng Kan kemudian menyurut mundur satu langkah. Dengan susah payah Tao Heng Kan baru berhasil bangun.

"Sekarang kau istirahat dulu. Besok aku baru memberitahukan kepadamu mengapa aku kukuh ingin kau menyembah aku sebagai guru," kata Cen Sim Fu.

Tao Heng Kan terpaksa mengiakan. Dia masuk ke dalam kabin perahu dan beristirahat sepanjang malam.

Pada pagi keduanya, Cen Sim Fu masuk ke dalam kabin. Tao Heng Kan benar-benar kehabisan akal. Terpaksa dia menyembah orang itu dan menyebutnya 'suhu'.

Wajah Cen Sim Fu tampak serius sekali.

"Aku menerima kau sebagai murid, karena ada sebuah urusan besar. Aku memerlukan orang yang bernyali besar. Mempunyai pengetahuan cukup luas dan yang paling penting tidak bisa bertingkah macam-macam di hadapanku, atau dengan kata Iain orang yang jujur. Kau merupakan orang yang sesuai dengan apa yang kuinginkan. Dan ini juga suatu keberuntungan bagi dirimu."

Diam-diam TaoHeng Kan menggerutu dalam hati. "Masih dibilang keberuntungan, justru entah sial berapa turunan!"

Cen Sim Fu cengar cengir, Dibilang meringis bukan, tersenyum pun bukan. Sungguh tidak enak dilihat mimik wajahnya.

"Mungkin dalam hatimu, kau tidak percaya apa yang kukatakan. Tapi dua tahun kemudian, mungkin kau niatan tidak ingin pergi dari sisiku lagi. sekarang kau akan membantu aku menyelesaikan suatu urusan, sedangkan ilmu kepandaianmu masih cetek sekali. Aku akan mengajarkan semacam ilmu lwe kang dengan lisan. Kau ikuti apa yang kukatakan dan berlatih dengan keras. Satu bulan kemudian kau akan mencapai basil yang gemilang."

Diam-diam Tao Heng Kan memaki lagi dalam hati.

"Tokoh golongan hitam seperti kau saja, mana mungkin mengajarkan aku lwe kang tingkat tinggi segala macam, paling-paling ilmu sesat."

Tetapi Tao Heng Kan sudah mengadakan perjanjian, terpaksa dia mengiakan perlahan- lahan. Cen Sim Fu mulai menguraikan ilmu lwe kang yang dimaksudkannya. Tao Heng Kan pun mendengar-kan dengan seksama. Sebetulnya bukan karena ia ingin mempelajari ilmu itu. Dia hanya ingin membuktikan kebenaran kata-kata Cen Sim Fu. Tidak disangka-sangka setelah mendengar sebagian, hati Tao Heng Kan langsung tercekat. Ternyata lwe kang yang diuraikan oleh Cen Sim Fu memang benar-benar lwe kang tingkat tinggi yang mempunyai kehebatan yang tak terkatakan.

Diam-diam Tao Heng Kan segera memusatkan seluruh perhatiannya. Dihapalkannya uraian Cen Sim Fu baik-baik dan mengulanginya beberapa kali. Dia benar-benar tidak habis pikir, tokoh seperti apa sebetulnya orang yang mendapatkan julukan Hek tian mo (Iblis langit hitam) Cen Sim Fu ini?

Setelah selesai menguraikan ilmu lwe kang kepada Tao Heng Kan, Cen Sim Fu memerintahkan tukang perahu agar berlabuh di dermaga. Dia sendiri langsung mengajak Tao Heng Kan naik ke tepi sungai. Daerah itu merupakan perbukitan yang tandus. Cen Sim Fu menetapkan bahwa dalam waktu satu bulan dia tidak boleh bertemu dengan siapa pun. Tao Heng Kan harus melatih lwe kang yang diajarkannya. Dia sendiri tidak akan menemui pemuda itu. Satu bulan kemudian ia baru akan menemuinya.

Ternyata Tao .Heng Kan sendiri juga sudah kesemsem dengan ilmu yang diajarkan oleh Ce Sim Fu. Dia mencari sebuah goa yang sunyi dan sepanjang hari berlatih dengan keras. Boleh dibilang pemuda itu sampai lupa diri. Tanpa disadari satu bulan telah berlalu.

Cen Sim Fu datang menemuinya. Saat itu tenaga dalam Tao Heng Kan ternyata maju pesat. Apabila tidak mendapat uraian dari orang itu, tentu dia tidak mungkin mencapai taraf sedemikian rupa hanya dalam waktu satu bulan saja.

Cen Sim Fu pun mengajak Tao Heng Kan ke daerah Si Cuan, dari sana mereka meneruskan perjalanan ke wilayah barat. Sepanjang perjalanan, mereka menyebut diri masing-masing bagai guru dan murid. Selama itu Cen Sim Fu juga tidak pernah melakukan kejahatan apa-apa. Dengan demikian kesan buruk dalam hati Tao Heng Kan pun jadi jauh berkurang.

Hari itu, mereka sampai di sekitar Iembah Gin Hua kok. Cen Sim Fu mengajak Tao Heng Kan masuk ke dalam rimba. Dia duduk di atas sebuah batu besar kemudian menyusupkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan empat ekor naga-nagaan emas yang berkilauan.

"Muridku, apakah kau pernah melihat kedua orang tuamu memegang naga-nagaan emas seperti ini?" tanya Cen Sim Fu.

Tao Heng Kan memperhatikan sejenak, dia menggelengkan kepalanya dengan heran. "Tidak pernah. Benda apa itu?"

Cen Sim Fu tersenyum misterius.

"Hanya semacam senjata rahasia, harap kau simpan baik-baik."

Tao Heng Kan tidak tabu bahwa benda yang dilihatnya adalah Tong tian pao Kong. Dia pun tidak tahu hahwa dunia bu lim saat itu sedang gempar karena benda itu.

Padahal Cen Sim Fu justru sedang menguji pendirian dia sebagai manusia, apakah Tao Heng Kan cukup jujur atau tidak. Namun pemuda itu tidak curiga apa-apa, sambil lalu dia menerima keempat buah naga-nagaan emas kemudian disusupkannya ke dalam saku. "Tidak jauh dari sini ada sebuah Iembah yang dinamakan Iembah Gin Hua kok. Kau masuk ke dalam goa rahasia di Iembah itu dan bawa putra kedua pasangan suami istri Lie Yuan untuk menemuiku!"

Tao Heng Kan tidak banyak bertanya. Dia segera mengiakan dan menuju Iembah Gin Hua kok. Mengenai apa yang terjadi di dalam Iembah itu, sampai Cen Sim Fu memaksa Tao Heng Kan menikam jantung 1 Giok Hong, sudah kita ceritakan di bagian yang terdahulu. Rasanya tidak perlu kita ulangi kembali.

Keempat buah naga-nagaan emas itu benar-benar digunakan sebagai senjata rahasia oleh Tao Heng Kan. Ketiga iblis dari keluarga Lung dan Leng Coa sian sing memperebutkannya. Tetapi Cen Sim Fu keburu muncul dan merebut kembali naga- nagaan emas itu.

Peristiwa ini diteritakan Tao Heng Kan ketika melakukan perjalanan bersama I Giok Hong. Sekarang kita kembali kepada I Giok Hong dan Tao Heng Kan yang meninggalkan I Ki Hu dan Tao Ling.

Tampak sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas.

"Heng Kan, kalau ditinjau dari arah yang mereka ambil, tampaknya kedua orang itu juga menuju sebelah barat gunung Kun Lun san."

Tao Heng Kan tertawa getir.

"Aku justru tidak percaya ada yang ingin menuju tempat itu. Tadi pagi, Suhu berhasil me-ngejar kita, tetapi dia tidak menanyakan masalah Lie Cun Ju yang menghilang. Ini benar-benar sebuah keberuntungan bagi kita. Ternyata dia malah memerintahkan kita menemuinya di sebelah barat Gunung Kun Lun. Kita turuti saja kata-katanya. Tidak perduli dengan orang lain."

I Giok Hong berdiam diri beberapa saat.

"Heng Kan. apakah suhumu sebelumnya tidak pernah mengatakan apa yang ditugaskannya kepadamu?" tanya I Giok Hong.

Tao Heng Kan menganggukkan kepalanya.

"Tidak salah. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa dan aku juga tidak berani menanyakannya,"

Mereka berdua meneruskan perjalanan. Ketika hari sudah gelap, mereka sampai di sebuah lembah gunung yang tidak seberapa luas. Begitu masuk ke dalam lembah, tampak seonggok api unggun yang menyala. Di samping api unggun itu duduk dua orang.

Begitu melihat kedua orang itu, I Giok Hong langsung bermaksud mengundurkan diri. "Koko!" sapa salah satu dari kedua orang itu. Rupanya mereka berdua bukan orang lain, lagi-lagi I Ki Hu dan Tao Ling. Baru saja Tao Heng Kan ingin menyahut, I Giok Hong sudah berbisik di samping telinganya.

"Mari kita pergi!"

Suara bisikannya lirih sekali, namun tetap saja tidak luput dari pendengaran I Ki Hu.

"Daerah sini apabila malam tiba, serigala-serigala keluar berombongan. Jangan keras kepala, akhirnya malah mengenyangkan perut serigala!" Terdengar laki-laki setengah baya itu menyindir.

Perlu diketahui bahwa antara I Ki Hu dan I Giok Hong memang sudah saling memalingkan muka. Anak bisa jadi tidak rnenginginkan orang tua, tetapi orang tua biar mulut mengatakan putus hubungan, perasaan mengkhawatirkan tetap ada. Apa yang dikatakan I Ki Hu memang ketus seperti menyindir, namun kenyataannya dia justru memberikan nasehat yang baik.

I Giok Hong tertawa dingin. Dia tidak memperdulikan ucapan I Ki Hu. Ditariknya lengan Tao Heng Kan dan diajaknya meninggalkan mereka berdua.

"Giok Hong, mengapa kau begitu keras kepala terhadap ayahmu sendiri?" tanya Tao Heng Kan dengan suara rendah.

Wajah I Giok Hong segera menyiratkan kegusaran. Selama melakukan perjalanan beberapa hari bersama-sama, seluruh perasaan Tao Heng Kan sudah tercurah pada I Giok Hong.

Pertama, I Giok Hong memang sengaja ber-manis-manis di hadapan Tao Heng Kan untuk mencari kesempatan menyiksanya perlahan-lahan demi membalaskan sakit hatinya atas perbuatan adik pemuda itu yang dianggap merebut ayahnya. Kedua, dalam beberapa bulan terakhir ini, Tao Heng Kan mengalami bebagai perubahan yang mengejutkan. Tiba-tiba saja dia mendapat perhatian I Giok Hong. Baginya, hal ini merupakan pendorong semangat, juga menimbulkan kehangatan yang tidak terkira dalam batinnya.

Karena itu, bagi I Giok Hong, boleh dibilang mempunyai tujuan tertentu mendekati Tao Heng Kan. Sedangkan bagi pemuda itu sendiri, perasaannya memang keluar dari hati yang tulus. la benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu.

Begitu melihat wajahnya yang menyiratkan kegusaran, Tao Heng Kan cepat-cepat mengem-bangkan seulas senyuman.

"Baik, baik. Terserah kau saja."

Diam-diam hati I Giok Hong merasa senang. Dia berpikir, Tao Heng Kan demikian menuruti apa pun kehendaknya. Kelak rencananya dapat berjalan lancar dan berkembang setahap demi setahap. Pada saat itu, tidak usah khawatir pemuda itu tidak mungkin akan tersiksa batinnya. I Giok Hong dan Tao Heng Kan pun berjalan ke luar dari lembah itu. Kurang lebih berjalan setengah li, mereka duduk di atas rerumputan yang subur. Tao Heng Kan juga menyalakan api unggun dan membakar daging hasil buruan mereka untuk mengisi perut.

Tidak lama kemudian, langit semakin menggelap. Tao Heng Kan menganjurkan I Giok Hong agar beristirahat. Dia sendiri akan duduk di samping api unggun menungguinya. Setengah kentungan kembali berlalu. Malam mulai larut.

Tao Heng Kan baru merasa bahwa keadaan di sekitarnya demikian hening dan sunyi, bahkan terkesan agak mencekam. Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar kumandang suara 'Uh . . . uh . . uh . . .', seperti suara tangisan seseorang, tapi tidak mirip sekali. Seperti suara tertawa, namun bukan juga. Pokoknya tidak enak didengar dan membuat bulu kuduk jadi meremang. Setelah berkumandang beberapa kali suara itu pun menghilang dan suasana di tempat itu menjadi hening kembali.

Tao Heng Kan tiba-tiba teringat kata - kata I Ki Hu menjelang malam tadi. Menurutnya di sekitar daerah ini banyak terdapat serigala -seripala yang buas. Hatinya menjadi tercekat, cepat-cepat dia bangkit Namun begitu berdiri, Tao Heng Kan pun tertegun.

Tampak tidak jauh di hadapannya, tempat cahaya api unggun tidak bisa menjangkau, antara kegelapan ada berpuluh-puluh pasang mata yang menyorotkan sinar berkilauan dan sedang memandang kepadanya dan I Giok Hong,

Setelah tertegun sejenak, Tao Heng Kan bergegas membangunkan I Giok Hong. "Giok Hong, cepat bangun. Coba kau lihat, apa itu?"

I Giok Hong mengucek - ngucek natanya. Begitu melihat dengan jelas, dia terperanjat setengah mati. Rupanya entah sejak kapan di sekeliling mereka telah mengepung ratusan ekor serigala.

Malam itu, cuaca gelap sekali langit tertutup awan hitam. Bentuk tubuh serigala itu pun tidak dapat tertangkap jelas oleh pandangan mata.

Namun, mata-mata serigala itu justru memancarkan sinar yang herkilauan dalam kegelapan malam. Suatu pemandangan yang menggetarkan hati.

I Giok Hong segera melepaskan pecutnya dari selipan ikat pinggangnya, Tao Heng Kan juga sudah menghunus pedangnya. Tangannya menyentakkan sebongkah kayu bakar dan dikibaskannya ke arah kerumunan serigala. Tampak gerombolan serigala itu sempat panik sebeotar. Namun sekejap kemudian mereka tenang kembali.

Kedua orang itu sadar, gerombolan serigala itu belum menerjang mereka karena api unggun masih menyala. Tapi api unggun itu toh tidak mungkin bisa menyala terus sampai sepanjang malam.

Apabila api unggun itu padam, pasti terjadilah petarungan antara kedua manusia dan gerombolan serigala itu. Suatu pertarungan yang berlimpah darah. Sedangkan jumlah serigala-serigala itu demikian banyak, di pihak mereka hanya berdua. Apakah mereka sanggup melawan binatang yang terkenal buas itu, masih merupakan sebuah tanda tanya.

Baik Tao Heng Kan maupun I Giok Hong tidak ada satu pun yang bersuara. Perasaan mereka diliputi ketegangan yang tidak terkatakan. Kira-kira sepeminuman teh kemudian, baru terdengar suara keluhan Tao Heng Kan.

"Seandainya kita tahu di tempat ini banyak serigala-serigala buas, seharusnya sejak tadi kita mengumpulkan kayu bakar yang banyak agar api unggun bisa menyala terus sepanjang ma lam. Dengan demikian, kita tidak menghadapi bahaya seperti ini."

I Giok Hong tertawa dingin.

"Sekarang baru menyesal, apa gunanya? Lebih baik kita siap-siap mengadu jiwa dengan binatang-binatang itu."