Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 08

 
Jilid 08

Dalam kegelapan, muncul seseorang yang menghampiri mereka Mata setiap orang beralih ke arah suara tersebut Tampak orang yang datang itu adalah seorang laki laki berusia lanjut dengan pakaian hitam Rambutnya dikepang Wajahnya penuh kenput Rambut dan^anggutnya sudah memutih Punggungnya bungkuk, sehmgga berjalan pun susah payah Yok Sau Cun terpana Bukankah dia adalah orang tua penjaga pintu yang kemann ditotok oleh Ciok Ciu Lan?.

Mata orang tua itu buram, jalannya juga lambat sekali Ciok Ciu Lan dengan mudah berhasil menotok jalan darahnya namun ketika rombongan Song Bun Cun datang, mereka tidak melihat adanya orang tua tersebut.

Saat ini dia berjalan dengan tenang, tangannya memegang sebuah pipa tembakau yang terbuat dari rotan Langkahnya lambat laut mendekati jembatan Tampaknya untuk melangkahkan kakinya saja, dia harus mengerahkan seluruh kekuatan Sedangkan matanya yang sayu dan berwarna abu abu, hampir tidak terlihat jelas bola matanya dalam kegelapan tidak ada kesan bahwa dia pernah belajar ilmu silat.

Hu toanio yang melihat kedatangan orang tua itu menjadi cerah dalam seketika. "Kebetulan sekali kedatangan Sen lo di sini ".

Orang tua itu tidak menunggu sampai perkataannya selesai. "Lao han sudah tahu " sahutnya.

"Untung saja Sen lo keburu datang, Tiong kouwnio berpesan ".

Orang tua itu tampaknya tidak senang Hu toanio bicara terus Dia mengibaskan tangannya.

"Bukankah Lao han sudah mengatakan bahwa mereka tidak mungkin meninggalkan tempat ini? Satu orang tidak akan!".

Yok Sau Cun merasa aneh dalam hati Orang tua itu tsrangterangan tidak mengerti ilmu silat. Bahkan kemarin Ciok Ciu Lan dengan mudah menotok jalan darahnya Andaikata dia memang bisa ilmu silat, mana mungkin dia memblarkan Ciok Ciu Lan menotoknya tanpa melawan? Tapi, kaiau mendengar nada suara Hu toanio, dia seakan sangat hormat kepada Lo kuan ke ini.

"Asalkan Sen lo menahan pemuda she Yok ftu, orang iainnya kita bisa hadapi," kata Cun Hong.

Mata orang tua yang buram itu mengerling ke arah Yok Sau Cun sekilas. "Maksudmu bocah ini?' tanyanya.

"BetuI," sahut Cun Hong.

Orang tua itu mengisap plpa tembakaunya sekali Dia menunjuk pemuda she Yok dengan pipanya itu.

"Bocah cilik .. Dari perguruan mana kau berasal?" tanyanya.

Yok Sau Cun sekarang sudah membuktikan bahwa orang tua itu adalah seorang jago yang pandai menyembunyikan kepandaiannya.

"Cayhe berasal dari perguruan mana, rasanya tidak ada hubungannya dengan Lao cang' sahutnya dingin.

Tentu saJa ada hubungannya, Siapa tahu kau adalah murid salah seorang kenalan lama Lao nan Oengan demikian kalau aku turun tangan nanti, mesklpun tetap harus ditawan tapi aku bisa meringankan sedikit tanganku agar kau tidak terluka," sahutnya.

"Bagaimana kalau cayhe bukan murid kenalanmu?" tanya Yok Sau Cun,. "Dengan demikian Lao han tidak perlu sungkan lagi".

Dia tidak membiarkan Yok Sau Cun membantah psrkataannya "Kalau Lao han turun tangan, kalau tidak sampai mati, paling tidak cacat Oleh sebab itu, sebelumnya lebih baik persoalan dijelaskan ".

Yok Sau Cun tertawa tawa.

Tentang ini Lao cang harap tidak usah khawatir Suhu cayhe tidak mungkin kenalan Lao cang,' sahutnya.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau Suhumu bukan kenalan Lao han?" tanya orang tua itu.

"Karena cayhe sendiri tidak tahu siapa she dan nama Suhu," sahut Yok Sau Cun tenang, Mata buram orang itu mengerling sekilas.

"Bagaimana mungkin? Masa ada murid yang tidak tahu she dan nama Suhunya sendiri?".

Cun Hong metihat kedua orang itu bicara tanpa berhenti Hatinya menjadi tidak sabar.

"Sen lo, dia toh tidak tahu siapa nama gurunya Buat apa kau persoalkan hubung" an segala?" katanya dingin Wajah orang tua itu tampak tidak senang Namun dia mana han perasaan hatinya.

"Lao han melihat beberapa gerakannya tadi mirip dengan seorang kenalan lama Oleh sebab itu sengaja Lao han bertanya supaya jangan kesalahan ".

"Sekarang toh sudah ditanyakan Kau sudah boleh turun tangan bukan'" kata Cun Hong sinis.

Yok Sau Cun mendengar Cun Hong men desak orang tua itu agar segera bergebrak dengannya Seakan asal orang tua itu turun tangan maka semua persoalan menjadi beres Tibatjba timbul rasa ingin menang dalam dirinya. "Lao cang, Cun Hong kouwnio sudah mendesak agar kau turun tangan.

Cayhe juga ingin mencoba seranganmu yang katanya kalau tidak mati. paling sedikit cacad itu Tidak usah sungkansungkan lagi Silahkan keiuarkan iimu Lao Gang yang paling ganas," katanya.

Orang tua itu mengisap pipa tembakaunya dua kali Tiba tiba pinggangnya ditegakkan Dari mulutnya disemburkan asap pipa tembakau tadi.

"Bocah busuk, terimalah'.

Dengan jurus Pan liong bu pu (Rombongan naga menyapu jalanan) dia merandek ke samping Yok Sau Cun Tangan kanannya diremangkan lima jari yang hitam dan kurus ditekuk seperti cakar dan menyerang bahunya.

Begitu tangannya diulurkan, jari yang tadinya biasa-biasa saja tiba tiba menjulur kuku panjang Kuku itu seperti pisau pendek tajamnya Angin yang ditlmbulkan terasa panas Sekali lihat saja, Yok Sau Cun tahu serangan itu tidak dapat dianggap enteng Dia segera mundur satu langkah, dengan aialb dirinya dapat Input dan serangan itu. Mau tidak mau, orang tua itu kagum juga tarhadap kecepatan Yok Sau Cun. "Bagus sekali!" teriaknya.

Hati Yok Sau Cun lebih mantap. Jurus yang digunakan tadi adalah Pit kiam sin huat yang diajarkan suhunya Ternyata mamang membawa pengaruh yang balk. Sekarang dia tidak perduli serangan apa pun yang dikeluarkan oleh orang tua itu Dengan keyakinan besar, dia terus melanjutkan jurusjurus tadi. Orang tua itu semakin heran. Sebetulnya ilmu yang dimiliki orang tua itu sangat hebat, Namun duabelas jurus telah dikeluarkannya, dia tetap tidak sanggup menyantuh tubuh Yok Sau Cun. Sedangkan pamuda itu tidak sekali pun baias menyerang, dia hanya berkelit ke kiri dan kanan. tangkah Itu pula yang' digunakannya ketika menghadapi Tiong kouwnio tadi Hati orang tua itu terperanjat sekali.

"Entah iimu apa yang digunakan bocah ini?" pikirnya dalam hati Namun orang tua itu sudah mempunyai nama besar sejak berpuiuhpuluh tahun yang ialu Mana mungkin dia mau mengaku kalau begitu saja? Dia segera merubah gerakannya, Pipa tembakaunya dihisap berkalikali. Asapnya menyembur ke muka Yok Sau Cun.

Pemuda itu kelabakan, tetapi dia berusaha menenangkan hatinya Dia metoncat ke atas. Tubuhnya hinggap di atas pohon Asap itu buyar tertiup angin dan melintas di bawah tubuhnya Yok Sau Cun melayang turun kembali Dia tertawa lebar.

"Ilmu Loa cang yang mematikan atau paling tidak membuat cacad itu telah cayhe pelajan," sindirnya.

Orang tua itu marah sekali Seumur hidupnya baru kali ini dia merasa dipermainkan oleh seorang bocah ingusan Tangannya dengan cepat merogoh sesuatu dan sakunya Dia menaburkannya ke plpa tembakau Sekaii [agi plpa itu dihisapnya Asapnya disemburkan Kali ini terlihat asap berwarna hitam menyembur dan mulutnya Sekali lihat saja, orang tentu tahu bahwa asap Itu beracun. Ciok Ciu Lan terkeJUt sekati melihat perbuatan orang tua itu.

"Dia adalah Hun bu pao (Macan tutui kabut kematian) Yok Siangkong, hati-hati'" teriaknya panik.

"Apa yang kau teriakkan?" tanya Yu Kirn Piau dingin Telapak tangannya diuturkan Menepuk ke arah gadis itu. Ciok Ciu Lan.

tahu julukannya Ceng sat ciu Ilmu telapaknya memang ganas sekali Dia tidak berani menyambut dengan kekerasan Dia mundur dengan cepat. Pedang pendek yang terselip di pinggang segera dihunus.

"Ciok kouwnio, harap mundur Orang ini mencelakai ayahku dengan racun Biar aku yang menghadapinya," tukas Song Bun Cun segera menghadang di depan Ciok Ciu Lan.

Baru saja perkataannya selesai, serangkum angin yang harum menerpa hidungnya, Cun Hong telah berdiri di sampingnya. "Bagian kami sudah ditentukan Kau seharusnya bertarung dengan aku.".

Song Bun Cun sekarang sudah tahu kalau ilmu andalan Cun Hong adalah San ciu to Riam (Tangan kosong seperti pedang) Hati nya marah sekali.

"Budak can mati!" bentaknya dingin Dia tidak menunggu sampai gadis itu menyerang terlebih dahulu Telapak tangannya menghantam ke samping.

Cun Hong tertawa dingin Tubuhnya berkelebat Dia maiu dengan nekad. Tangannya direntangkan Terkadang menepuk, terkadang menghantam. Sampai tubuhnya berada tepat di samping Song Bun Cun. Telapak kanannya secepat angin menerpa dada pemuda itu.

Bukan saja gerakannya yang cepat, kedua tangan yang menepuk dan menghantam dengan kalang kabut membuat serangannya tebih berbahaya. Song Bun cun mengira dia hanya ahit dalam ilmu pedang saja, tidak tahunya ilmu telapak gadis itu juga begitu lihai Tangan kanannya menggenggam pedang kakinya mundur tiga langkah Dengan gerakan cepat pula dia menusuk ke depan.

Tampaknya Cun hong benar-benar nekat Dia tidak memperdulikan serangan Song Bun Cun Tubuhnya malah diasongkan ke depan Telapaknya tetap menghaniam bagi an tubuh yang paling berbahaya Song Bun Cun tidak membiarkannya sekali ini Pedangnya ditarik kembali Telapak tangan kirinya segera menyambut serangan Cun Hong.

Sementara itu, Sia Ho dan Ciu Suangjuga tidak tinggal diam Mereka menerfang ke arah Hui Fei Cin dan Siau cui. Pertarungan makin seru Di bagian Yok Sau Cun juga terus bertarung dengan sengit. Dia tidak sempat menghindar dari asap yang disemburkan oleh orang tua itu. Hidungnyaterasa pedih. Tidak sedikit asap hitam yang dihisapnya.

"Ternyata serangan kakek ini memang sangat keji," pikirnya dalam hati. Dengan gerakan cepat, dia segara menyambar pergelangan tangan orang tua itu Sekali putar, dia menghentak dengan keras Tubuh orang tua itu dilemparnya.

Orang tua itu sama sekali tidak menyangka akhirnya akan jadi begitu Baru saja pergelangan tangannya tercengkeram, tahutahu tubuhnya sudah melayang. Tapi bagaimana pun, dia adalah seorang tokoh tua yang sudah banyak peagalaman. Selagi masih di udara, tubuhnya segera bersalto Dengan mantap dia melayang kembali ke tanah. Dia berdiri termangumangu di tempatnya Sedangkan pada saat yang bersamaan, telinga Yok Sau Cun mendengar teriakan nyaring.

Dia menolehkan kepalanya Terlihat Ciok Ciu Lan terhantam jatuh Rupanya dia kalah jauh dibandingkan Yu Kirn Piau Telapak tangan laki-laki tersebut berhasil menghantamnya sehingga terpental dan jatuh di atas jembatan. Yok Sau Cun menghampiri dengan tergesa gesa. Pada saat itu, Yu Kirn Piau juga sedang mendekati Ciok Ciu Lan dan bermaksud menghantamnya sekali lagi.

Melihat Yok Sau Cun, dia mengalihkan telapak tangannya menghantam ke arah pemuda itu. Yok Sau Cun sedang mencemaskan keadaan Ciok Ciu Lan Dengan jurus yang sama. dia segera mencengkeram pergelangan tangan Yu Kirn Piau dan melemparkannya sehingga terjatuh ke dalam Lumpur.

"Ciok kouwnio .. Ciok kouwnio " panggil Yok Sau Cun.

Kedua mata Ciok Ciu Lan terpejam erat. Wajahnya berubah hijau Sepatah pun dia tidak menjawab.

"Ciok kouwnio. " teriak Yok Sau Cun sekali lagi.

Nafas gadis itu melemah Seperti sedang sekarat. Yok Sau Cun makin cemas. Gadis itu tetap bungkam Yok Sau Cun tidak berpikir panjang lagi Dia segera membopong tubuh gadis itu Baru tubuhnya berputar, terdengar teriakan Hu tpanio.. .

"Tong Suat, halangi dia!".

Sesosok bayangan berkelebat, menghadang di depan Yok Sau Cun. Pemuda itu sedang cemas. Dia tidak mau membuang waktu. Dengan serampangan pergelangan tangan gadis itu diputarnya Sekali hentak, Tong Suat melayang ke udara. Dia segera melangkah dengan lebar. Karena paniknya, dia membentur tubuh Ciu Suang dan Siau cui yang sedang bertarung Sekali lagi tangannya digerakkan, kali ini Ciu Suang terlempar olehnya. Siau cui menggunakan kesempatan itu untuk meloncat mundur Dia melihat Song Bun Cun dan Hui Fei Cin yang masih bertarung dengan sengit.

"Siocia, Piau sauya, cepat kita pergi!" teriaknya.

Mendengar teriakan itu. Song Bun Cun dan Hui Fei Cin segera mundur dan berlari mengikuti belakang Yok Sau Cun Hu toanio marah sekali. Dig menggereng dengan suara keras, Secepat kilat dia menerjang ke arah pemuda itu. Yok Sau Cun seakan sudah yakin sekali dengan ilmunya melempar orang Dia menggunakan cara ampuh itu untuk menghadapi Hu toanio. Belum lagi dirinya sadar bahwa pergelangan tangannya dicengkeram orang, tubuh Hu toanio telah terpental ke dalam lumpur bersamaan dengan Yu Kirn Piau.

Cun Hong dan Sia Ho melihat rombongan Yok Sau Cun melangkah pergi. Mereka segera melangkah dengan maksud mengejar. Orang tua yang tadi bergebrak dengan Yok Sau Cun segera menghalanginya.

"llmu bocah she Yok itu sangat aneh Katian menyusul pun belum tentu dapat menandinginya".

Song Bun Cun, Hui Fei Cin dan Siau Cui mengikuti di belakang Yok Sau Cun. Begitu keluar dari jembatan tersebut Mereka melihat pemuda itu mengerahkan ginkangnya sambil membopong Ciok Ciu Lan Ketika ketiga orang itu juga melewati tembok besar gedung itu, bayangan Yok Sau Cun sudah tidak terlihat lagi.

Song Bun Cun berdiri dengan termangu-mangu Daripadang rumput yang gelap keluar sesosok bayangan. "Kongcu, bagaimana keadaan di dalam?" tanya orang itu dengan suara rendah. Ternyata dia adalah Ciek Ban Cing.

"Mari kita pergi," ajak Song Bun Cun.

Yok Sau Cun membopong Ciok Ciu Lan melewati tembok. Dia menundukkan kepalanya Mata Ciok Ciu Lan masih terpejam. Denyut jantungnya makin melemah. Wajahnya hijau menakutkan Hati Yok Sau Cun tegang sekali Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan? Dia melangkah tanpa tujuan pasti.

Kira-kira berjalan sepeminuman teh, tiba-tiba Yok Sau Cun teringat tengah han tadi bertemu dengan seorang peramal Dia mengatakan bahwa gadis itu akan mendapatkan bahaya Dirinya hanya bisa diselamatkan kalau berjalan ke arah barat Benar-benar tepat perkataannya.

Yok Sau Cun mendongakkan kepalanya. Dia mengirangira arah di mana la berada sekarang. Setelah yakin, dia menuju barat. Tempat itu merupakan jalan setapak bertanah merah Tidak lama kemudian, dia memasuki sebuah perkampungan, Di sisi jalan ada sebuah kuil kecil Pintunya masih terbuka.

Yok Sau Cun teringat sekarang malam sudah sangat iarut. Di dalam perkampungan juga sulit menemukan sebuah tabib Lebih baik dia beristirahat di kuil kecil dan menunggu hari terang.

Kakinya segera meiangkah mendekati kuil tersebut Dia mendongakkan wajahnya Kuil itu adalah tempat pemujaan To te kong (Dewa bumi) Tampaknya sudah tidak terpakai lagi.

Yok Sau Cun membopong Ciok Ciu Lan melewati pintu pekarangan Di halaman terdapat sebuah sumur. Rumput-rumput tumbuh tinggi karena tidak pernah disiangi. Setelah melewati tangga batu, mereka masuk ke dalam kuil tersebut Keadaan di dalam juga sangat gelap Tapi mata Yok Sau Cun yang tajam dapat melihat. Ruangan itu tidak terlalu besar Di tengah-tengah terdapat patung pemujaan Di depannya ada sebuah meja yang biasa dipakai untuk meletakkan keperluan sembahyang Selain itu tidak ada apa-apa lagi.

Meja itu penuh dengan debu Tampaknya sudah lama tidak pernah dibersihkan Lantainya juga kotor sekali Paling tidak, sudah berbulanbulan tempat mi tidak pernah diinjak orang Yok Sau Cun menyapu debu dan rumput-rumput yang berserakan dengan ujung sepatunya Dia meletakkan Ciok Ciu Lan di atas tanah Dia membuka baju luarnya dan dipakai untuk menyelimuti gadis itu.

Dia tidak tahu Ciok Ciu Lan terluka di sebelah mana? Lagi pula dia adalah seorang gadis Dirinya enggan memeriksa sekujur tubuh Ciok Ciu Lan. terpaksa dia menunggu sampai gadis itu sadar dan bertanya langsung.

Tapi, setelah menunggu sekian lama, Ciok Ciu Lan tetap tidak sadar. sebetulnya Yok Sau Cun ingin membantunya dengan nafas yang disalurkan lewat mulut. Tapi karena dia adalah seorang gadis juga maka dia tidak bisa melakukannya Yok Sau Cun makin panik.

Terpaksa dia mendekati Ciok Ciu Lan dan berbisik di telinganya. "Ciok kouwnio bangun.." panggilnya.

Ciok Ciu Lan tidak menyahut, tapi balik patung pemujaan justru ada seseorang yang bersin.

"Kau ini memang keterlaluan Tempat memuja To te kong mana ada nona segala macam Yang ada juga kakek atau nenek penjaga bumi Aku orang tua sudah capai sehanan baru dapat menemukan kuil kosong ini untuk melepaskan lelah, Malah di sini bertemu dengan orang seperti engkau. Tengah malam buta, memikir istri sampai gila. Datang ke kuil To te kong dan memanggil nona, nona terus Aku rasa kau salah alamat Kalau kau memang memikirkan nona itu terus, lebih baik mendatangi kelenteng di Hang ciu Kuil itu sangat ampun untuk perjodohan Asalkan kau sembanyang siang malam, matmu pasti terkabul" gerutu orang itu.

Yok Sau Cun mendengar orang itu mengoceh panjang lebar Rasanya suara tersebut tidak asing di telinganya Yok Sau Cun mengarahkan pandangannya Disudut yang gelap terlihat seseorang sedang menngkuk. Dapat dipastikan, setelah selesai bicara tadi, dia membalikkan tubuhnya dan tidur kembali.

Yok Sau Cun segera bangkit dan menggapaikan tangannya.

"Laoko mungkin orang sekitar tempat ini. Cayhe ingin numpang bertanya. Apakah di daerah sini ada seorang tabib?" tanyanya so pan.

Tangan orang itu mendekap di kepalanya. Tadinya dia tidak mau memperdulikan Yok Sau Cun lagi. Tapi telinganya menangkap kata 'tabib' yang diucapkan pemuda itu.

"Untuk apa kau mencari tabib?".

"Harap Laoko ketahui, adik cayhe tiba-tiba terserang penyakit aneh Kalau di sekitar sini ada tabib yang. .".

Kata katanya beium selesai, orang itu sudah meloncat tucun dari tempat pemujaan.

"Kebetulan sekali. Aku adalah tabib Bisa menyembuhkan segaia macam penyakit. Meskipun yang paling parah. Kau... kau rupanya memang datang menemui aku untuk berobat Mengapa tidak mengatakan sejak tadi?" Langkah kakinya makin dekat dengan Yok Sau Cun "Di mana rumahmu? Cepat jalan. Paling penting mengobati orang," katanya sambil menarik lengan baju Yok Sau Cun.

Saat itu, Yok Sau Cun sudah meiihat dengan jelas. Wajah yang khas dari orang itu tidak mungkin dilupakannya. Dia adalah Seng mia !o yang meramalkan nasib mereka siang tadi. "Bukankah kau si mulut emas?" tanyanya.

Seng mia lo mengucekkucek matanya beberapa kali Dia memandang Yok Sau Cun dengan seksama Kemudian bibirnya tersenyum.

"Rupanya Siangkong ini.. Aku takut diganggu orang makasengaja mencan kuiltua ini untuk beristirahat Ternyata Siangkong berhasil menemukan aku Siapa yang membentahukan? Merepotkan Siangkong sampai mencan sejauh ini Man kita berangkat," katanya.

Dia mengira Yok Sau Cun mencarinya untuk menyembuhkan seseorang. "Lao cang adik cayhe sudah ada di sini," sahut Yok Sau Cun.,.

"Oh ." Seng mia lo tampak terpana "Kouwmo itu juga sudah datang? Di mana orangnya?".

"Adik cayhe dalam keadaan tidak sadar. Sekarang tergeletak di alas lantai Apakah iao cang benar benar mengerti pengobatan'?".

Seorang peramal memang mengandalkan sebuah mulutnya berkelana di dunia kang ouw. Tentu saja Yok Sau Cun tidak dapat percaya begitu saja.

Seng mia lo meluruskan pinggangnya yang pegal. Matanya mengerling sekilas ke arah Ciok Ciu Lan Kemudian melangkah mendekati Mendengar perkataan Yok Sau Cun, langkah kakinya terhenti Wajahnya mengunjukkan perasaan kurang senang.

Dengan senus dia berkata.

"Perkataan Siangkong ini salah besar Aku dipanggil si mulut emas Meskipun terkadang nasib kurang mujur. Usaha kurang laku. Tapi mengenai ilmu perbintangan, ramalan dan pengobatan Aku ahlinya Apakah Siangkong ini tidak percaya?" tanyanya.

Yok Sau Cun mengibaskan tangannya dengan gugup.

"Cayhe karena terlaiu mencemaskan adik im maka mengucapkan katakata yang tidak pantas Harap Lao cang jangan memasukkan ke dalam hati".

Seng mia lo memainkan keningnya beberapa kali. Dia tertawa lebar.

"Siangkong cemas mencari tabib untuk menyembuhkan ponyakit kouwnio ini. Aku akan mengunjukkan kepada Siangkong bagaimana cara pengobatan si mulut emas agar Siangkong puas," katanya.

Yok Sau Cun tidak berani membantah lagi kali ini Seng rma lo melanJutkan katakatanya "Coba Siangkong lihat Aku meramal nasib seseorang tanpa pertu orang itu mengatakan apa pun Aku pasti dapat mengatakan dengan jitu masa lalu atau pun kejadian mendatang Aku melihat penyakit seseorang demikian juga Tidak perlu pasien bicara banyak Sekali lihat saja, Seng mia lo dapat menebak asal usul penyakit ini Tidak percaya? Siangkong jangan mengatakan apa-apa Coba lihat apakah aku sanggup mengutarakannya atau tidak?".

Yok Sau Cun mendengar nada bicaranya demikian serius. Dia segera menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu, lekas lao cang sembuhkan adik cayhe ini.".

Seng mia lo tidak berkata apa-apa lagi. Dia segera berjongkok dan meneliti raut wajah Ciok Ciu Lan Tanpa sadar, mulutnya mengeluarkan seruan terkejut.

Yok Sau Cun adalah seorang pelajar. Meskipun dia tidak pernah mempelajari ilmu pengobatan, tapi dia tahu biasanya seorang tabib akan bertanya, mendengarkan keluhan pasien, memeriksa biji matanya dan denyut nadinya Tapi Seng mia lo tidak melakukan semua itu Dia jadi penasaran.

"Apakah Lao cang tidak memeriksa denyut nadi adik cayhe?". Seng mia lo tersenyum lebar.

"Aku melihat raut wajah si sakit Raut wajah dapat mengatakan keadaan jalan darah dalam tubuh seseorang Andaikata jalan darah seseorang tersumbat maka aku dapat melihat dari rona wajahnya Buat apa harus memeriksa denyut nadi segala macam'?" sahutnya.

Melihat raut wajah adalah kebiasaan seorang peramal untuk menentukan jalan hidup seseorang Bagaimana pengobatan juga dapat dilihat dari raut muka?.

Yok Sau Cun mengerutkan keningnya.

"Kalau begitu, Lao cang pasti sudah tahu apa penyakit yang didenta adik cayhe ini?". Perkataan ini tampaknya sengaja untuk menguji Seng mia lo.

"Penyakit adik Siangkong adalah luka panas," sahutnya. Yok Sau Cun merasa jawabannya kurang beres.

"Di manamana cayhe juga hanya pernah mendengar tentang luka dalam atau luka dingin, Mana ada luka panas? Malam ini benar-benar kepergok tabib selebor," pikirnya dalam hati.

Seng mia lo melihat Yok Sau Cun tidak menyahut Dia menyipitkan kedua matanya "Apakah Siangkong tidak percaya'? Oh oh . Siangkong lihat kedua belah mata kouwnio ini terpejam rapat Wajahnya kehiiauan Apakah dia berpurapura'? Tidak bukan? Mengenai rona wajah yang menghijau, seperli sebatang kayu yang terbakar Seseorang apabila terluka karena kayu bakar, maka wajahnya akan men}adi hijau. Apabila Siangkong tidak percaya, silahkan mencoba Ambillah sebatang korek api lalu nyalakan Bukankah api yang nyala akan berwarna hijau?" tanyanya.

Thian. Dia melihat suatu penyakit seperti sedang meramal nasib Segala kayu bakar pun dibawanya. Yok Sau Cun sungguh tidak sabar mendengar keterangannya.

Seng mia lo mengangkat kedua jari telunjuk dan manisnya lalu ditudingkan ke hidung Ciok Ciu Lan.

"Seorang anak gadis Mengapa berkelahi seperti anak laki-laki yang hendak membalas dendam dan mengadu jiwa'? Mengapa bisa terluka oleh kayu bakar'?".

Katakata itu membuat hati Yok Sau Cun tergugah.

"Lao cang, kau mengatakan adik cayhe terluka oleh kayu bakar, apa artinya?". Seng mia io menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Aku hanya berkata sekenanya Adik Siangkong lembut dan menawan. Dengan siapa pun tidak ada dendam apa-apa. Rasanya tidak mungkin terluka di tangan orang jahat," katanya.

"Apa yang dikatakan Lao cang memang tepat. Adik cayhe memang dilukai orang," sahut Yok Sau Cun.

"Benarlah kalau begitu. Sebetulnya aku sudah melihat sejak tadi. Hanya saja tidak enak mengungkapkannya. Sekarang Siangkong sudah menjelaskan sendiri Aku pun tidak usah sungkan lagi Adik Siangkong memang terluka oleh semacam ilmu telapak. Karena warnanya hijau, aku berani memastikan bahwa yang digunakan orang itu ada lah ilmu Ce sat ciang," kata Seng mia lo.

Kali ini, Yok Sau Cun benar-benar kagum kepadanya Dia tidak memaki laki laki itu sebagai tabib selebor lagi Dia segen nem bungkuk dengan hormat.

"Lao cang ibarat dewa Seperti melihat kejadian dengan mata kepala sendiri Adik cayhe memang terkena pukulan Ce sat ciang Harap Lao cang mau menyembuhkannya".

Seng mia lo menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Sulit.. sulit. Ilmu Ce sat ciang sangat ganas. Dalam waktu setengah hari, seluruh tubuh akan berubah hijau. Tidak ada obatnya ".

Hati Yok Sau Cun tergatar.

"Kalau begitu, adik cayhe benar-benar tidak tertolong lagi?".

"Akal pasti ada Kau harus menceritakan dulu bagaimana sampai adik ini bisa terkena Ce sat ciang Harus menceritakan dengan jelas Jangan sampal ada yang tertinggal. Oh ya bukankah tadi siang aku sudah mengatakan bahwa raut wajah adik ini membawa pertanda kurang baik? Dan aku juga menganjurkan kaiian mengambil arah barat Sekarang centakanlah semuanya" kata Seng mia lo.

Sampai detik itu, Yok Sau Cun tidak bisa menutupi kejadian yang sebenarnya lagi Dia terpaksa menceritakan kejadian yang mereka alarm malam ini selengkapnya Seng mia lo mendengar sampai penstiwa rusak nya harpa Tiong kouwmo Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali Setelah kisah.

Sang dituturkan oleh Yok Sau Cun selesai la menarik nafas paniang.

"Tampaknya masih ada harapan " katakatanya terhenti Dia mengerutkan keningnya Wajahnya agak tegang "Tampaknya ada yang datang. Mungkmkah mereka telah mengejar sampai ke tempat ini?" gumamnya seorang diri.

"Biar cayhe lihat," sahut Yok Sau Cun.

"Kau tidak boleh pergi Adikmu terluka beginiparah Seandainya.. " Dia menarik lengan baju Yok Sau Cun dan berbisik "Begini saja, aku saja yang keluar Kalau benar ada yang menyusul, mungkin aku bisa menemukan akal mengusir mereka " Katakatanya baru saja selesai Dia segera melangkah keluar dari kuil kosong itu.

Matam ini gelap sekali Tidak terlihat sebuah bintang pun di langit Rembulan pun menyembunyikan diri Awan menyehmuti angkasa Seng mia lo mengangkat bahunya Dia melesat ke depan pintu Kedua bofa ma tanya mengerling ke kiri dan kanan.

"Tampaknya aku keluar terlalu dim Mereka masih belum sampai, gumamnya.

Orangnya belum sampai tapi dia sudah tahu Bukankah telinganya dapat dikatakan seperti telinga dewata.

Seng mia !o meluruskan pinggangnya dengan matas Dia berjalan menuju sebuah batu yang terdapat di pintu kuil dan ducfuk dengan santai Baru saja pantatnya dihenyakkan ke atas batu tersebut Dan kejauhan sudah terlihat dua sosok bayangan yang melesat secepat terbang Yang di de pan merupakan seorang kakek tua renta de ngan rambut yang sudah memutih seluruhnya Tangannya menggenggam sebuah pipa tembakau yang terbuat dan rotan Dia adaiah Hun Bu Pao Sen Yang Kao Sedangkan di belakangnya mengikuti seorang gadis bergaun pendek Di punggungnya terselip sebatang pedang Kalau melihat wajahnya yang dingin, sinar mata yang menggidikkan senyumannya yang membawa perasaan menggigil namun mampu membuat orang terpesona, maka Rita segera tahu dia tak bukan Tiong kouwnio adanya.

Kedua bayangan itu bagaikan terbang Sebentar saia sudah melayang mendekat.

"Apakah Sen hu hoat (Penanggung jawab bagian hukuman) melihat dia datang ke arah ini?" tanya Tiong kouwnio.

Hung Bu Pao menganggukkan kepalanya berkali-kaii.

"BetuI Karena iimu silatnya sangat aneh, maka Lao han mengikuti dari Jauh. Lao han melihat dengan mata kepala sendiri, dia menggendong gadis itu masuk ke dalam kuil itu ".

"Apa yang dikatakan Sen hu hoat memang tepat, kalau orang itu tidak cepat dibasmi, maka kelak dia akan menjadi dun dalam mata bagi partai kita ". Ternyata kedatangannya adalah untuk membunuh Yok Sau Cun Hun Bu Pao mengangkat pipa tembakaunya ke mulut.

"Lao han akan menjadi petunjuk Jalan bagi Tiong kouwnio," sahutnya.

Dia segera beqalan di muka Dengan langkah lebar dia menuju kuil tua Tetapi baru saja dia menaiki tangga batu depan kuil itu Kakinya tersandung sesuatu Dia jatuh terpelanting.

Hun Bu Pao merupakan jago tua yang Budahmalang melintang di dunia Bulim se lama tiga puluh tahun lebih Bagaimana dia bisa seceroboh itu sampai jatuh tersandung? Reaksinya sungguh cepat Baru saja tubuhnya mencapai tanah Dia segera bersalto di udara dan melayang turun kembali dengan mantap.

"Siapa'?" bentaknya.

"Aduh. Bagaimana sih kau ini'? Mengapa Jalan tidak pakai mata'?.

Kakimu hampir saja meremukkan tulang aku orang tua." Di atas batu yang ada di depan pintu, rupanya terdapat seseorang Pasti dia tertidur di tempat itu Karena cuaca sangat gelap Hun Bu Pao tidak memperhatikannya Saat ini, orang itu sedang mengerang kesakitan Dia memeluk dengkulnya sambil merintih terus.

Hun Bu Pao marah sekali Matanya mendelik.

"Siapa kau? Mengapa bisa tidur di depan pintu?" bentaknya.

Mulut Seng mia lo masih merintih kepanjangan Tampaknya dia kesakitan.

"Aku merasa hawa di daiam sangat panas. Mana banyak kotoran dan rerumputan. Banyak nyamuk Maka setelah berpikir bolakbalik, rasanya lebih enak tidur di luar. Bukan saja keadaannya lebih bersih, hawanya pun lebih sejuk Siapa sangka, tengah malam buta bisa sial begini Datang orang yang tidak melihat lagi langsung mendepak dengkulku. Sakitnya bukan main Aku men can makan dengan meramal nasib orang. Tapi sekarang dengkulku tertendang olehmu Bagaimana aku bisa mencan nafkah besok?".

Akhir musim gugur Bulan sembilan adalah saatnya sebentar lagi akan turun salju. Dia mengatakan tidur luar karena udaranya lebih sejuk Bukankah aneh? Hun Bu Pao telah berkelana di dunia Bulim selama tiga puluh tahun lebih Segala macam manusia sudah pernah dilihatnya Sepakan kakinya i tadi, meskipun tidak disengaja, kalau orang biasa saja pasti sudah mati Mana mungkin masih sanggup mengoceh panjang lebar? Apalagi tubuhnya sendiri sampai terpelan ting. Dia segera mengunjukkan tawa seram.

"Bocah tua Siapa sebenarnya engkau? Di hadapan orang yang ahli, jangan coba berbohong Lebih balk kau jangan macammacam!" bentaknya.

Seng mia lo tertawa kering 'Aku hanya kebetulan lewat dan beristirahat di tempat ini," sahutnya.

"Di depan orang tua she Sen kau masih Oerani berdusta?' bentak Sen lo sekali lagi , Hatinya makin curiga.

"Rupanya Sen toaya Aku bernama Sai Kuan Lo julukan si Mulut Emas Pekerjaan meramal nasib, melihat keberuntungan atau pun bencana.".

"Kalau begitu, kau bisa meramal?" tanya Hun Bu Pao.

"Betul. betul. Aku dipanggil Mulut Emas Tentu saja bisa meramal Baik keberuntungan atau pun bencana Kalau tidaktepat, sepeser pun tidak usah bayar,' sahut Seng mia lo.

"Apakah kau pernah meramal nasibmu sendiri? Kapan kau akan dijemput Giam lo ong (Malaikat elmaut)'?" tanya Hun Bu Pao sinis.

'Mengenai nasibku sendiri, aku Seng mia lo sudah bosan menghitungnya Istri dan harta, bukan bagianku Mengenai tutup usia, malam ini, tahun ini, bulan ini memang ada sebuah penghalang Kalau saja aku dapat melewati nntangan ini, maka aku akan hidup sampai usia delapan puluh tiga," sahutnya.

"Sayangnya kau tidak dapat melewati malam ini," kata Hun Bu Pao.

Tangan kanannya terangkat Pipa tembakau sejak tadi sudah siap Dengan gerakan yang tidak terduga Pipa tembakau yang se besar kepalan tangan anak kecil itu dihantamkan ke batok kepala Seng mia lo Belum sempat mulut laki-laki itu mengaduh, kedua lututnya sudah terkulai dan rubuh di atas tanah.

Tiong kouwnio becmaksud mencegah, tetapi sudah terlambat Keningnya berkerut Dia menggerutu kepada Hun Bu Pao.

"Kau turun tangan terlalu keras Gerakgerik orang ini mencurigakan aku rasa bukan peramal biasa yang berkelana di dunia kangouw. Seharusnya kita menyelidiki lebih lanjut".

Hun Bu pao menyadan dirinya memang turun tangan terlalu cepat, dia tidak berani membantah Sementara itu, Yok Sau Cun yang bersembunyi di dalam kuil tadinya merasa geli mendengar tanya jawab antara Seng mia lo dan Hun Bu Pao Tiba-tiba dia melihat plpa tembakau Hun Bu Pao menghantam kepala tukang ramal itu Hatinya terkejut sekali Dia mencemaskan keadaan Seng mia lo Baru saja dia bermaksud keluar untuk melihat telinganya mendengar suara laki-laki yang sedang mengomel.

"Bocah busuk1 Pipa tembakau laokomu itu benar-benar terlalu keras. Hampir saja otak tua tukang ramal ini hancur berantakan. Tapi, seharusnya aku mengucapkan terima kasih. Laoko sudah membantu aku melewati penghalang bencana tahun ini. Dengan demikian, aku bisa hidup sampal delapan pu luh tiga tahun Untung saja dia tidak bersungguhsungguh mengetuk kepalaku " katanya sambil bangkit berdiri dan menjura tiada hentinya. Tetapi, Hun Bu Pao yang melihat hantamannya tidak mematikan orang itu, malah meniura sambil tertawatawa dan mengucapkan terima kasih kepadanya, jadi marah seka!i Matanya mendelik kepada Seng mia lo.

Setelah menjura berkali-kali, tiba tiba Seng mia lo menatap Hun Bu Pao dengan pandangan melongo.

"Ada apa dengan laoko ini? Matanya mendelikdelik Apakah sedang marah kepadaku? Memang batok kepalaku ini juga kekerasan sedikit, apakah membuat tanganmu menjadi sakit?".

Tiong kouwnio menatap dan samping de ngan pandangan dingin. Sefak semula dia sudah menduga kalau laki-laki ini bukan se kedar tukang ramal biasa. Dia pasti seorang jago yang tidak mau mengunjukkan diri Kalau tidak, hantaman pipa tembakau Hun Bu Pao yang dapat menghancurkan sebuah batu karang, mengapa tidak mempan terhadapnya? Tetapi dia yakin dengan kepandaian Hun Bu Pao, dia tentu tidak akan membiarkan orang itu begitu saja Lebih baik dia membiarkan untuk sementara dan melihat kelanjutannya.

Dia segera berdiri di samping tanpa mengucapkan apa-apa Sampai saat itu, Seng mia lo masih menjura terus sambil mengucapkan terima kasih Sedangkan Hun Bu Pao tidak mengunjukkan reaksi apa-apa. Tiong kouwnio merasa ada sesuatu yang tidak benar Dia segera melesat mendekati kedua orang itu.

"Apa yang kau lakukan terhadap Sen Yang Kao?" tanyanya dingin.

Seng mia lo tampak ketakutan Dia mundur tiga langkah dengan tubuh gemetar.

"Harap kouwnio jangan marah Aku juga tidak tahu apa yang terjadi Tiba-tiba saja Laoko ini berdiri tanpa bergerak dengan mata mendelik Eh Apakah dia terganggu roh haius penjaga kuil ini?".

Tiong kouwnio tertawa dingin.

"Sobat ini tampaknya berilmu tinggi. Sia pa kau sebenarnya? Sebaiknya dijelaskan saja," katanya.

"Tidak... tidak berilmu tinggi,.. Aku benar-benar bernama Kirn ti kou (Mulut Emas). Bisa membaca rezeki alaupun bencana. .".

Mata Tiong kouwnio berkilauan. Tangannya perlahanlahan terangkat Pedangnya sudah tergenggam.

"Mana senjatamu?" tanyanya sinis.

Seng mia lo mundur satu langkah. Dia menatap Tiong kouwnio dengan mata terbelalak.

"Apakah kau ingin bergebrak dengan aku?" tanyanya ketakutan. "Tidak salah Tiong Hui Ciong Ingin meminta pelajaran barang beberapa jurus. Ternyata nama kepanjangannya adalah Tiong Hui Ciong.

Mata Seng mia lo menyipit,.

"Aduh.... Nenek. Apakah kau ingin mengambil nyawaku? Pekerjaanku adalah

tukang ramal, setiap hari membantu orang mengusir bencana. Pedang memang ada, tapi terbuat dari kayu, hanya untuk menakutnakuti setan saja.".

"Jangan mengoceh lagi. Kalau tidak mau mengeluarkan senjatamu, berarti kau men cari mati sendiri.Aku tetap akan menyerangmu," kata Tiong Hui Ciong ketus.

Seng mia lao menggoyangkan tangannya dengan panik.

"Tunggu. tunggu dulu. Kalau nona berkeras ingin bertarung dengan aku, bagaimana

pun aku harus mengambil senjata dulu," sahutnya. "Di mana pedangmu sekarang?".

Seng mia lo menunJuk ke arah kuil kosong. "Ada di dalam kuil itu," sahutnya.

"Balk, cepat kau ambi!" kata Tiong Hui Ciong.

"Aku akan mengambilnya sekarang. Ha rap nona tunggu sebentar," sahut Seng mia lo dengan bahu terangkat Dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kuil.

Tiong Hui Ciong memperhatikan punggungnya. Diam diam hatinya berpikir.

"Orang ini usianya mungkin sekitar lima puluhan. Kalau memang seorang tokoh terkenal, mengapa aku tidak pernah mendengar bahwa di dunia Bulim ada seorang jago yang demikian?".

Dia segera melangkah menghampuri Hun Bu Pao Dia mengulurkan tangannya dan menepuk salah satu urat nadi orang tua itu. Maksudnya ingin membebaskan Hun Bu Pao dan totokannya. Siapa sangka, meskipun dia sudah menepuk jalan darah itu, tapi Hun Bu Pao masih berdiri mematung Totokannya belum terlepas Hatinya tergetar.

Sekali lagi telapak tangannya diangkat Kali ini dia menepuk beberapa kali Tapi Hun Bu Pao masih juga tidak bergerak. Tampaknya totokan itu masih belum terbebas fuga Hatinya makin kecut Dia berpikir dalam hati...

"llmu Go teng hui guan milikku ini adalah ilmu membebaskan totokan jenis apa saja. Tap! mengapa totokan atas diri Hun Bu Pao tidak dapat kubuka? Entah ilmu apa yang digunakannya?" Dia terpaksa membiarkan Hun Bu Pao dalam keadaan tertotok.

Sementara itu, Seng mia lo berlanlari ke dalam kuil dengan muka bersenseri Dia menghampin tempat persembunyian Yok Sau Cun. "Bagus bagus Dewa penolong sudah datang," katanya. "Maksud Lao cang ?".

Seng mia lo membongkar buntalannya yang terdapat di belakahg patung pemujaan. Dia mengeluarkan sebatang pedang kayu.

"Sekarang aku tidak sempat bercerita panjang lebar kepadamu Pokoknya adik Siangkong sudah dapat disembuhkan," katanya.

"Apakah dia mempunyai obat pemunah?" tanya Yok Sau Cun, yang dimaksud olehnya adalah Tiong Hui dong.

"Ce sat ciang tidak ada obat pemunahnya," sahut Seng mia lo "Cepat ikut aku keluar Kau akan bertindak sebagai saksi" Tanpa banyak cakap lagi, dia menarik ujung lengan baju Yok Sau Cun dan menyeretnya keluar.

Sampai di luar, Seng mia lo memandang Tiong Hui ^Cong dengan bibir tersenyum "Aku akan tTertarung denganmu Tentu harus ada seorang saksi Seandainya kau kalan, pasli tidak dapat mungkir bukan?".

Tiong Hui dong mendongakkan wajahnya. Dia melihal laki-laki yang mengaku sebagai tukang ramal itu menyeret seseorang keluar dari dalam kuil Orang itu adalah Yok Sau Cun. Dia tertawa dingin.

"Sejak semuia aku sudah curiga kalau kalian ini satu komplotan ".

"Tebakan kouwnio salah, aku dengan Lao cang inj bukan satu komplotan," sahut Yok Sau Cun datar.

"Seandainya satu komplotan, juga tidak apa-apa Mari mari... Aku hendak bertanding dengan nona ini Siangkong menjadi wasit antara kami," tukas Seng mia lo dengan mulut tertawa terus.

Tiong kouwnio mendengus sekali Dia sebal melihat gerakgerik Seng mia lo Laki-laki tukang ramal itu tidak memperdulikan sikapnya yang dingin.

"Kouwnio, coba katakan, bagalmana kita harus bertanding?" tanyanya.

Mata Tiong Hui Ciong mendelik ke arah tangan Seng mia lo. Orang tua tidak kenal mampus ini benar-benar membawa sebuah pedang kayu untuk bertanding dengannya Dia marah sekali. Seumur hidup, dia belum pernah menerima hinaan sebesar ini Beraniberaninya dia bertanding dengan Tiong Hui Ciong yang membawa pedang pusaka. Kalau orang ini tidak gila, kemungkinan lain, dia pasti seorang tokoh yang benlmu tinggi. Tiong Hui Ciong tidak berani meremehkan lawannya.

"Bagaimana kalau kita batasi sebanyak sepuluh jurus?" tanyanya,. Seng mia lo mengangkat bahunya Dia menunjuk dengan tiga buah jari. "Menolong orang seperti memadamkan kebakaran Sepuluh jurus terlalu banyak. Kalau benar-benar mau bertanding, tiga jurus sudah cukup," sahutnya.

Tiong Hui Ciong merasa heran mendengar perkataannya.

"Menolong orang? Siapa yang hendak kau tolong? Apa hubungannya dengan pertandingan kita?".

"Ada.. ada, Tentu saja ada hubungannya. Nanti kouwnio akan tahu sendiri," sahut Seng mia lo sambil tertawatawa.

"Sebetulnya berapa jurus yang kau inginkan sebagai batas?".

Seng mia lo mengeluarkan tiga jari tangannya Dia memutarbalikkan sejenak, kemudian kepalanya manggutmanggut.

"Begini tiga jurus saja.".

Tiong Hui Ciong benar-benar hampir muntah melihal lagaknya. Mana matanya sipit. Hidungnya besar, giginya rada tonggos.

Apakah orang seperti ini mempunyai kepandaian yang tinggi? Dia bahkan seperti seekor singa yang membuka mulutnya, berani bertanding melawannya hanya dengan tiga jurus saja Bahkan hanya mengandalkan sebatang pedang kayu Bukankah sama saja mencan mati? Untuk sesaat, dia merasa [ucu, geli juga kesal.

"Baiklah Tiga jurus Kau boleh mulai sekarang," katanya.

Seng mia lo mengulurkan telapak tangannya kemudian dilambaikannya. "Tunggu dulu, perkataanku belum selesai,".

"Katakanlah," kata Tiong HUI Ciong tidak sabar.

"Pertandingan kita hanya sampai batas saling menutui saja. Jangan sampai ada yang terluka," sikap Seng mia lo menjadi serius.

"Silahkan menyerang. Aku tidak akan melukaimu," kata Tiong Hui Ciong.

"Betul, betui Hanya sampai batas saling menutui saja Toh kita ada saksi yang menilai pertandingan ini," sahut Seng mia lo Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu "Oh... tidak. Selama berkelana di dunia kangouw, aku tidak pernah menyerang orang terlebih dahulu Silahkan kouwnio saja yang mulai menyerang.".

Yok Sau Cun yang ditarik oleh Seng mia lo sebagai saksi, mengerutkan keningnya Dia melihat tukang ramal ilu bicara seenaknya, seperti sedang mempermainkan Tiong kouwnio. Hatinya menjadi curiga. Apakah dia memang mempunyai kepandaian yang dapat diandalkan.  Tiong Hui Ciong mendengus sekali Dia tidak berkata apa-apa lagi Tangan kanannya terangkat Pedang pusaka yang digenggam disentak ke atas.

"Cring!!!" Kemudian diulurkannya ke depan Kaki kirinya juga maju setengah langkah. Sedangkan telapak kiri diluruskan. Inilah jurus Hui hong can yi (Burung hong terbang mementangkan sayap) Dia menggunakan jurus ini sebagai pembukaan.

Keempat pelayan Tiong Hui Ciong masinginasing memitiki kepandaian yang tinggi Dengan kepandaian yang dimilikinya se betulnya dia tidak usah memakai jurus pembukaan lagi Tapi dia sengaja melakukannya karena ingin melihat apakah lawannya yang bertampang cecurut itu juga akan memakai jurus pembukaan? Dan gerakannya nanti, mungkin dia bisa menebak asalusul orang itu.

Seng mia lo yang berdiri di hadapannya, juga mulai bergerak Pedang kayu di tangannya digerakgerakkan. Dia tidak tergesa , gesa Gerakannya sangat lambat Dia me narik nafas perlahan lahan Tangan kanannya juga diangkat Pedang kayunya juga disentak ke atas, namun tidak menimbulkan suara..

"Cringg" Seperti milik Tiong Hui Ciong Pedang tersebut diulurkannya ke depan Kaki kirinya juga maju setengah langkah. Telapak kinnya diluruskan Tubuhnya terhuyunghuyung seolah kedudukan kakinya kurang mantap Ternyata gerakan yang dilakukannya persis seperti Tiong Hui Ciong Itulah Jurus pembukaan dan Hui Hong Can Yi.

Rupanya mata Seng mia lo yang sipit dari tadi memperhatikan gerak gerik gadis itu dengan seksama Apa yang diiakukannya, dia pun mengikuti Persis seperti seorang yang sedang belajar ilmu dannya Tetapi, murid yang satu ini malah mengacaukan segalanya Baik gerak tubuh, uluran pedang ataupun langkah kaki, tidak ada satu pun yang benar Hanya terlihat agak mirip saja.

Yok Sau Cun yang melihat apa yang di lakukan Seng mia lo, diamdiam berpikir

."Bukankah dia sama saja dengan mencan kematian?".

Baru saja dia mgin memperingatkan, tiba-tiba Seng mia lo menolehkan wajahnya dan tersenyum simpul Tiong Hui Ciong melihat gerakan yang dilakukan tukang ramal itu hanya memru dirinya Dia mencoba mengikuti jurus Hui Hong Can Yi Kakinya masih becgoyanggoyang seakan hendak jatuh Hati nya kesal, lucu sakaligus kesal Diamdiam dia memaki.

"Kakek cari mampus'".

Kemudian dia raenatap tajam kepada Seng mia lo,. "Apakah kau sudah siap?" tanyanya.

Tukang ramal itu menganggukkan kepalanya berkali-kali Wajahnya serius.

"Pembukaan yang jelek sekali Harap kouwnio jangan menectawakan Silahkan mulai," katanya. Kata-kata itu membuat hati Tiong Hui Ciong marah sekali. Apa yang dimainkannya tadi adalah meniru gerakannya Sekarang dia mengatakan pembukaan itu jelek sekali. Bukankah maksudnya menyindir Tiong Hui Ciong bahwa jurus pembukaan yang dimainkannya tadi sangat jelek? Hm.. Hui Hong Can Yi tiada tandingannya di dunia ini Be rani kau menghina? Pikirnya dalam hati Wajahnya tambah kaku Matanya bersinar dingin menusuk.

"Hatihati!" tetiaknya. Tangannya segera bergerak. Kakinya juga ikut maju Tubuhnya melayang bagaikan seekor burung. Pedang nya mengeluarkan suara gemerincing Dia menikam ke bawah Putaran pedang bagaikan kitiran angin. Baru setengah jalan berubah lagi menjadi menyerang bagian atas. Melewati bahu Seng mia lo dan membalik lagi.

Mata Seng mia lo yang menyipit. Dia memandang Tiong Hui Ciong tanpa berkedip. Lawannya maju dua langkah, dia juga cepat cepat maju dua langkah Pedang yang tergenggam di tangannya juga melakukan gerakan yang sama, pertamatama menikam ke bawah, kemudian berbalik ke alas Dia menirukan jurus yang dimainkan gadis itu.

Kedua orang itu samasama maju Jurus yang dimainkan pun sama Muka mereka saling berhadapan Tentu saja orang yang pertama menyerang akan meraih keuntungan Apalagi pedang yang digunakan Tiong Hui Ciong adalah sebatang pedang pusaka yang berkilauan Sekali lihat saja, orang akan tahu kalau pedang itu sangat tajam.

Sekali tebas saja, pedang kayu Seng mia to akan tertebas menjadi dua bagian. Entah bagaimana, ketika pedang gadis itu sudah sampai di depan mata, tiba-tiba saja melesat ke kin, melewati bahu Seng mia lo.

Tukang ramal itu sendiri tetap menirukan gerakan Tiong Hui Ciong. Tiga gerakan yang dilakukan oleh kakinya, tidak ada satu pun yang benar. Kalau gadis itu melangkah dengan tubuh tegak, sedangkan dia kakinya saja masih gpyah. Dia melangkah melewati bahu Tiong Hui Ciong.

Pokoknya mereka tidak seperti sedang bertarung, melainkan seperti dua orang yang sedang berlatih ilmu silat dan kedua nya sibuk dengan gerakan masinginasmg Tiong Hui Ciong melesat ke udara, dan dengan gerakan yang indah, dia membalikkan tubuhnya Seng mia lo masih belum menya dan, dia melangkah terus Ketika dia menolehkan kepalanya, dia baru melihat bahwa gadis itu sudah memutar. Dengan kelabakan dia segera mengikutinya Matanya mengerling ke arah Yok Sau Cun dan tersenyum lebar.

"Saksi, jangan melotot saja Jurus pertama sudah lewat'" teriaknya.

'Bagus!" seru Tiong Hui Ciong Tiba tiba kedua ujung kakinya berjingkat Sebelah tangannya mengepal, sebeiahnya lagi menudingkan pedang Bayangannya mencelat ke udara. Pedang panjangnya melancarkan tikaman sebanyak tiga kali Kecepatannya seperti angin, menenang ke arah Seng mia lo.

Laki-laki itu segera mengikuti gerakannya Kedua uiung kakinya berjingkat Tangannya yang sebelah juga dikepalkan, sebelah menuding dengan pedang kayunya Kaki dihentak, Tiong Hui Ciong langsung melayang di udara Dia hanya meloncatloncat saja Lagaknya lucu sekali Pedang kayunya meniru gerakan Tiong Hui Ciong dan ditusukkannya ke depan, tapi tak ada cahaya yang berkilauan seperti pedang gadis itu Apa lagi dia selalu melihat dulu baru meniru gerakannya, lentu saja dia terlambat dan Tiong Hui Ciong Pada saat yang sama pedang gadis itu sudah hampir mencapal tubuhnya Dengan kalang kabut dia mengangkat pedang kayunya di atas kepala dan menangkis sembarangan.

Hati Yok Sau Cun tergetar Tangannya basah karena keringat dingin. "Celaka!" serunya.

Siapa pun yang melihat suasana pertarungan waktu itu, pasti akan mencemaskan keadaan Seng mia lo Tetapi, meskipun gerakan laki-laki itu lambat sedikit dibandingkan Tiong Hui Ciong, tetap ada manfaatnya juga Dengan kepala menunduk, pedang kayunya menahan bacokan dari gadis itu. Terdengar suara.

"Tang! Tang' Tang'" Dengan penuh keajaiban. Pedang kayunya berhasil menahan pedang pusaka Tiong Hui Ciong Begitu mendengar suara beradunya pedang, tubuh gadis itu segera mencelat mundur beberapa langkah.

Yok Sau Cun terpesona melihat pertarungan itu Dia sekarang baru yakin Seng mia lo adalah seorang tokoh benlmu tinggi. Kepandaiannya sungguh tidak masuk akal Perlu diketahui, bagi seorang yang berlatih ilmu silat, untuk menyaiurkan tenaga dalam ke pedang tidaklah terhitung sulit. Tapi dengan sebatang kayu menerima serangan pedang pusaka lawan dengan kekerasan, harus menyaiurkan hawa murni untuk melindungi pedang kayunya, sedangkan kekuatan tenaga dalamnya tidak boleh berkurang. Ilmu ini belum tentu dapat dipelajari sembarang orang.

Yok Sau Cun masih berdiri dengan termangumangu. Terdengar teriakan dari Seng mia lo' "Hai saksi, lihat dengan jeias. Sekarang sudah dua jurus'".

Mata Tiong Hui Ciong seperti sebongkah es layaknya Wajahnya semakin kaku. Hawa pembunuhan mulai terasa dalam sorot matanya.

"Bagus! Terimalah jurus ketiga dariku!" bentaknya. Seng mia lo mengibasngibaskan pedang kayunya.

"Eh Kouwnio, kita sudah sepakat untuk membatasi dengan saling menutui sa|a Tenaga nona harus dikurangi sedikit Pedang kayuku ini untuk mencari makan, kalau sampai patah. aku tidak bisa membantu langganan mengusir setan lagi!" teriaknya nyaring.

Tiong Hui Ciong hanya tertawa dingin Tubuhnya kembali seperti seekor burung melayang di udara la tidak menjingkatkan kaki seperti tadi lagi melainkan langsung melesat ke atas Sampai di tengah jalan baru dia memutar tubuhnya dan secara tiba- tiba pedang di pergelangan tangannya ditudingkan untuk menusuk kepada Seng mia lo.

Kali ini, Seng mialo memandang dengan1 terpana. Dia tidak sempat menirukan gerakannya lagi, kepaianya mendongak memandang pedang Tiong Hui Ciong yang sedang menerjangnya. Tubuh gadis itu seperti terbang Pedangnya lebih cepat lagi. Sinar pedang yang berkilauan memercikkan bunga-bunga di angkasa.

Seng mia lo teriak ketakutan.

"Mat! aku'" Dengan kalang kabut dia jatuhkan dirinya, tiarap di atas tanah. Pedang kayunya dikibaskibaskan serampangan di atas kepala.

Kejadiannya sungguh cepat Tujuh delapan tikaman Tiong Hui Ciong tetah disambutnya, kemudian terhhat bayangan pedang berkelebat. Tahutahu gadis itu sudah terkulai di tanah. Entah bagaimana terjadinya penstiwa itu Tapi dapat dipastikan Tiong Hui Ciong sudah tertotok oleh Seng mia lo.

Gadis itu merasakan separuh tubuhnya bagai kesemutan Tangan kanannya lemas.

"Tingi" Pedang pusaka terlepas dari genggamannya Seng mia lo menyipitkan matanya Mulutnya tertawa terkekehkekeh Tangannya dilambai-lambaikan.

"Nona sengaja mengalah kepadaku. Sejak semula aku sudah menyatakan bahwa pertandingan kita hanya terbatas dalam saling menutul saja. Untunglah aku tidak menyalahi janji," katanya.

Tidak menyalahi janji' yang dimaksudkannya adalah dia berhasil melmpuhkan Tiong Hui Ciong hanya dengan menutul tubuhnya dengan ujung pedang kayu Dia sama sekali tidak melukai nona itu. Tiong Hui Ciong kesal sekali Wajahnya merah padam Tetapi percuma saja, jalan darahnya telah ditotok oleh Seng mia lo. Mulutnya tidak bisa bicara. Tubuhnya sama sekali tidak, dapat bergerak Dia terpaksa memejamkan matanya menunggu nasib.

Yok Sau Cun menjura kepada Seng mia lo.

"Selamat Lao cang, kemenanganmu sungguh mengagumkan " katanya. "Hei, saksi Cepat gendong dia ke dalam!" teriak Seng mia lo.

"Untuk apa'?" tanya Yok Sau Cun kebingungan. "Menolong adikmu," sahut Seng mia lo. "Apakah dia harus.menolong adik cayhe'?".

Seng mia lo melambal lambaikan tangannya.

"Kau tidak perlu banyak bertanya dulu Cepat bawa dia ke dalam ".

Yok Sau Cun terpaksa menuruti permintaan Seng mia lo. Digendongnya Tiong Hui Ciong ke dalam kuil kosong Tukang ramal itu sendiri segera mendekati Hu Bu Pao. Ditepuknya bahu orang tua itu satu kali. "Harap kau jaga di sini Siapa pun tidak boleh mendekat satu langkah ke kuil itu, mengerti. Meskipun totokanmu sudah bebas. dan tenagamu sudah pulih kembali, tapi ada satu hal yang harus kau ketahui Aku teiah menotok dua jalan darah pentinginu yang lain. Sebelum matahari terbit esok hari, jalan darahmu harus aku yang membebaskan, bila tidak jangan harap kau dapat menikmati matahari untuk selanjutnya," kata Seng mia io. Tanpa menunggu jawaban dari Hu Bu Pao dia segera melangkah ke dalam kuil.

Yok Sau Cun masih berdiri dengan termangumangu ketika Seng mia lo menghampirinya.

"Waktu sudah mendesak, cepat totok tujuh jalan darahnya," kata tukang rama! itu. "Jalah darah apa saja yang harus cayhe totok?" tanya Yok Sau Cun.

Seng mia !o menyebutkan ketujuh jalan.

darahyang, dimaksudkannya. Yok Sau Cun terpana mendengarkan keterangannya, ka renasemua bagian jalan darah yang disebutkan Seng mia lo terdapat di daerah peka.

Bagaimana dia harus turun tangan? Meskipun di dunia kangouw tidak ada peraturan tertulis bahwa ada perbedaan antara lakiiaki dan perempuan, atau laki-laki tidak boleh menotok jalan darah perempuan, tapi dengan sendirinya Yok Sau Cun enggan melakukannya.

"Mengapa cayhe harus menotok jalan darahnya'"' tanya Yok Sau Cun. "Karena kau ingin menolong adikmu bukan?" sahut Seng mia lo. "Apakah ada hubungannya dengan penyembuhan adik cayhe?".

"Hubungannya besar sekaii Bukankah tadi aku mengatakan bahwa dewa penolong sudah datang'? Dialah satusatunya orang yang dapat menyembuhkan adik Siangkong," sahut Seng mia lo.

"Cayhe semakm tidak mengerti Lao cang telah berhasil menguasai Tiong kouwnio, kalau dia memang mempunyai obat untuk menyembuhkan adik cayhe, mengapa tidak memaksanya saja untuk mengeluarkan obat tersebut""' tanya Yok Sau Cun tambah bingung.

Sekali lagi Seng mia lo mengibasngibaskan tangannya.

"Aku sudah mengatakan bahwa Ce sat ciang tidak ada obatnya.".

"Kalau memang demikian, untuk apa menotok jalan darah Tiong kouwnio?".

"Siangkong yang mulia, aku benar-benar kehabisan rasa sabar kepadamu Apa yang kulakukan adalah untuk kebaikan adikmu sendiri Tentunya tidak akan saiah Aih, kau harus tahu, di dunia ini cuma tinggal dia seorang yang dapat menyembuhkan adikmu Untuk itu, kita perlu menotok jalan darahnya," sahuttukang ramal itu sambi! meng hentakhentakkan kakinya ke tanah. Yok Sau Cun setengah percaya setengah curiga. "Ini .".

"Apa yang kau cemaskan? Nyawa manusia lebih penting dari segalanya Aku hanya dapat memben jalan. Kalau kau memang enggan menotok jalan darahnya, maka nyawa adikmu sulit dipertahankan lagi. Terserah keputusanmu sendiri ".

Yok Sau Cun yang mendengar nadanya begitu senus, jadi cemas. Takuttakut kalau Seng mia lo tidak akan memperdulikan persoalan ini lagi. Dia juga berpikir kembali. Kalau memang hanya Tiong kouwnio yang dapat mengobati Ciok Ciu Lan, dia tidak mungkin menolak lagi.

"Baiklah, satu pertanyaan lagi. Setelah cayhe menotok Jalan darah Tiong kouwnio, bagaimana caranya dia menyembuhkan adik cayhe?".

"Aku tefah mengatakan bahwa nanti kau akan tahu dengan sendirinya ''.

"Pertanyaan terakhir Apakah akan tenadi sesuatu pada Tiong kouwnio apabila cayhe menotok tujuh buah jalan darahnya itu?" tanya Yok Sau Cun.

"Tentang itu, kau tidak usah khawatir. Aku jamin tidak akan terjadi apa apa padanya," sahut Seng mia lo.

"Baiklah Apakah aku harus menotok jalan darahnya sekarang juga?" tanya Yok Sau Cun terpaksa menyetujui.

"Tunggu dulu Kau harus mendengar perintahku. Apabila aku menyuruhmu menotok, maka kau harus segera melakukannya Tidak boleh terlambat sedikit juga, mengerti?" sahut Seng mia lo.

"Cayhe akan ingat baik-baik.".

Seng mia lo segera mengulurkan telapak tangan kanannya Dengan kencang dia mencengkeram bahu kiri Yok Sau Cun Tangan kinnya sendiri kembali diulurkan, dia memegang urat nadi pergelangan tangan kanan pemuda itu.

Yok Sau Cun terkejut sekali.

"Lao cang, apa yang kau lakukan?" tanyanya.

"Jangan bergerak, aku memegang urat nadi pergelangan tanganmu agar dapat me nyalurkan hawa murni Sedangkan cengkeraman tangan mi kulakukan supaya hawa murni tersebut tidak mencapal tangan satunya," sahut Seng mia lo.

Hati Yok Sau Cun diamdiam merasa heran.

"Mengapa dia harus menyalurkan hawa murni terlebih dahulu baru membiarkan aku menotok jalan darah Tiong kouwnio?". Tiba-tiba dia merasa ada serangkum hawa panas mengalir dari tangan Seng mia lo Panasnya seperti air yang baru mendidih.

Hampir saja dia tidak sanggup menahannya, tetapi telinganya mendengar bisikan dari tukang. ramal tersebut.

'Cepat kepalkan tanganmu Ulurkan jari telunjuk dan siap untuk menotok jalan darahnya ".

Yok Sau Cun segera menuruti permintaannya Dia mera?a hawa panas tadi berkumpul di ujung telunjuknya Tanpa sadar, dia menunduk Hatinya tercekat, ternyata telunjuknya telah berubah menjadi merah matang Entah ilmu apa yang digunakan Seng mia lo'? Tepat pada saat itu, telinganya mendengar kembati bisikan dan laki laki tersebut.

"Cepat!".

Yok Sau Cun tidak ayal lagi Dia segera menotok jalan darah yang dikatakan oleh Seng mia lo Pertamatama di bawah tengkuknya, kemudian pindah ke depan di bagian tengah dada Setelah itu, di bagian kanan kiri ketiak, di alas payudara sebelah kanan, di pusar, dan lambung.

Jalan darah Tiong Hui Ciong memang sejak semula sudah ditotok oleh Seng mia lo. Mulutnya tidak bisa dibuka. Tubuhnya tidak dapat bergerak. Tgtapi dia tentu tahu jalan darah bagian mana saja yang ditotok oleh Yok Sau Cun saat itu Sebagai seorang gadis yang biasa dipuja oieh banyak orang, tiba-tiba disentuh oleh laki laki pada bagian peka di tubuhnya meskipun hanya dengan telunjuk, tetap saja dia merasa malu dan pamk Kenngat dingin menetes Kedua matanya dipejamkan. Berkedip pun dia tidak berani.

"Kendorkan kepalan tanganmu," kata Seng mia lo.

Tangan kanannya sendiri yang mencengkeram bahu Yok Sau Cun dilepaskan Aneh juga, begitu cengkeraman itu dilepaskan Telunjuk Yok Sau Cun yang berwarna merah membara segera pulih seperti biasa Namun tubuhnya telah basah oleh kenngat, wajahnya masih merah padam Tentu saja hal ini disebabkan ofeh rasa panas pada sebelah tangannya tadi yang menjalar sampai ke atas Lagipula sejak kecit belum pernah dia menyentuh tubuh perempuan Perasaan ini juga membuat tubuhnya membara dan kenngat mengalir.

Yok Sau Cun menariknapas panjang Wajahnya masih tersipu-sipu.

"Lao cang, sebetuhya ini " Tadinya dia ingin berkata. 'Sebetulnya ilmu apa ini?' Tetapi Seng mia lo tidak membiarkan dia meneruskan pertanyaannya Tangannya rrtemberi isyarat kepada Yok Sau Cun.

"Lebih baik kita bereskan urusan yang lebih penting Kita boleh mangajukan syarat kepada nona Ini sekarang," katanya Tangannya diulurk'an Dia membebaskan jafan darah yang pertama ditotoknya dengan pedang kayu tadi. "Tiong kouwnio, adik kecilku ini mempunyai sedikit permohonan Apakah kau bersedia menolong'?" tanyanya.

Wajah Tiong Hui Ciong merah padam Kali ini bukan karena malu tapi marah Matanya mendelik ke arah tukang ramal itu.

"Kau menyalurkan Hwe leng cu kepada Yok Sau Cun agar menotok jalan darahku Apalagi yang harus kukatakan'?" katanya ketus.

Rupanya ilmu yang digunakan Seng mia lo adalah Hwe leng cu (Telunjuk sukma api) Tukang ramal itu mengangkat bahunya.

"Itu adalah persyaratan yang akan kita rundingkan Menolong orang lain, berarti menolong dirimu sendiri Aku jamin kau tidak akan apa-apa" sahutnya.

Tadi Tiong Hui Clong memang dalam keadaan tidak dapat bergerak Terpaksa membiarkan Yok Sau Cun menotok jalan darahnya Wajahnya sudah terbiasa dingin dan kaku. Tapi bagaimana pun dia adalah seorang anak gadis Rasa malu menyetimuti hatinya Sampai saat mi, dia tidak berani menolehkan wajahnya untuk melink Yok Sau Cun sekilas pun Dia hanya menunduk saja.

"Siapa yang harus kutolong?" tanyanya.

"Hi hi hi Berarti Tiong kouwnio sudah setuju," sahut Seng mia lo sambil tertawa cekikikan Dia meraba raba hidungnya yang pesek "Bukan orang lain yang harus kau tolong Dia adalah adik Yok Siangkong ini. Lukanya parah sekali Hanya dengan ilmu Kim heng ciang (Telapak bayangan emas) mitik nona baru dia dapat disembuhkan.".

Yok Sau Cun mulai mengerti Rupanya dia ingin memaksa secara halus agar Tiong kouwnio menggunakan ilmu Kim heng ciang yang dikatakannya untuk menyembuhkan Ciok Ciu Lan. Wajah Tiong Hui Clong menampilkan perasaan heran.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku mem pelajan Kim heng ciang'?".

Sekali Seng mia lo mengangkatangkat bahunya. Kelima jannya ditempeikan ke dadanya sendiri.

"Aku sudah menjadi peramal selama belasan tahun Kim bokeui hweto (Emas kayu, air, api dan tanah) semua masuk dalam hitungan Bagaimana bisa terlepas dan mataku yang tua?" sahutnya.

Tiong Hui dong tertawa dingin Dia tidak berkata apa-apa.

"Kalau Tiong kouwnio sudah setuju lebih baik kita mulai sekarang ". Sekali Tiong Hui dong tertawa dingin. Matanya mengerling sekilas. "Luka apa yang diderita adik Yok Siangkong'?" tanyanya. "Dia terluka oleh ilmu Ce sat ciang Di dunia ini hanya Kim heng ciang nona yang dapat menyembuhkannya Dengan demiki an kami terpaksa menyusahkan Tiong kouwnio beberapa saat" Sebelum Yok Sau Cun sempat menyahut, Seng mia lo sudah memotong lebih dahulu.

Tiong Hui Ciong melirik Yok Sau Cun sekilas.

"Apakah gadis itu adik Yok Siangkong?" tanyanya sinis Kata-katanya sangat sinis. Matanya yang tadi mengerling ke arah Yok Sau Cun sempat melihat ketampanan pemuda tersebut Tanpa sadar. wajahnya jadi merah padam. Wajah Yok Sau Cun juga tersipu-sipu.

"Dia adalah adik angkat cayhe Kalau Tiong kouwnio bersedia menolong, cayhe mengucapkan beribu-ribu terima kasih," sahutnya.

Tiong Hui Ciong tidak meladeninya. Dia menoleh kembali kepada Seng mia lo. 'Bagaimana aku harus menolongnya'?".

Tampaknya dia sudah menyetujui Seng mia lo mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

"Kim heng ciang adalah ilmu ajaib dari partai Ciong lam pai Juga merupakan ilmu telapak yang paling hebat di dunia ini Apa bila melukai orang yang tenaga dalamnya belum seberapa tinggi, dapat mati seketika Usia Tiong kouwnio masih sangat muda Mungkin baru sampai tingkat tiga yang berhasil nona pelajari. Tetapi meskipun hanya sampai tingkat tiga, hebatnya sudah bukan main. Untuk menyembuhkan luka Ce sat ciang, mungkin memerlukan tenaga dalam lima bagian," katanya.

"Apa yang kau katakan memang tidak salah Aku belum lama mempelajarinya Bisa menyerang tapi tidak bisa menarik kembali. Ilmu itu belum sanggup kukendalikan. Kau mengharuskan aku mengeluarkan tenaga sebanyaklima bagian saja, terus terang aku belum sanggup melakukannya " sahut Tiong Hui Ciong.

"Tepat!" kata Seng mia lo sambil menepuk tangannya sekali "Aku memang sudah menduganya Oleh karena itu, aku menyuruh Tok Siangkong menotok tujuh jalan darahmu. Waktu kau mengerahkan ilmu itu. Hanya satu jalan darah saja yang boleh dibebaskan. Dengan demikian, tenaga yang akan terpancar dari telapak tanganmu hanyalima bagian saja".

Mendengar keterangan itu, Yok Sau Cun benar benar mengerti.

"Rupanya dia bukan hanya ingin memaksa Tiong kouwnio menyembuhkan Ciok Ciu Lan saja, tapi sudah menduga segala sesuatunya dengan tepat," pikirnya.

Sedangkan Tiong Hui Ciong juga sedang berpikir secara diam-diam.

"Maling tua ini sungguh banyak akalnya Lebih baik kuturuti saja apa kemauannya, kalau tidak dia tentu tidak akan melepaskan diriku" Gadis itu lalu memandang kepada Seng mia lo sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku setuju," sahutnya.

"Terima kasih, Tiong kouwnio Kau ternyata mau memberi muka kepada tukang ramal jaianan ini Lain kali tentu akan kubalas budi kebaikanmu hari ini," kata Seng mia lo sambil tersenyum lebar.

"Bagaimana akan kau balas kebaikanku'?" tanya Tiong Hui Ciong. Tangan Seng mia lo mengelus-engelus hidungnya yang pesek Dia tertawa.

"Hal ini sulit dijelaskan. " Kemudian dia menggunakan ilmu Coan im jut bit ke telinga gadis itu "Kouwnio tidak usah banyak bertanya. Apa yang diderita nona malam ini, kelak hari aku akan berusaha keras agar semuanya akan berjalan lancar.".

Wajah Tiong Hui Ciong merah padam Dia tentu saja mengerti apa yang dimaksudkan Seng mia lo Dia tidak berkata apa-apa.

"Waktu sudah tinggat sedikit Harap kouwnio segera turun tangan" kata Seng tnia lo setelah meiihat gadis itu tidak memberikan reaksi.

"Bagaimana caranya aku belum tahu'?" ta nya Tiong Hui Ciong. Seng mia lo menunjuk ke arah samping Ciok Ciu Lan.

'Tiong kouwnio harap duduk memejamkan mata di sebelah sana" katanya.

Tiong Hui Ciong merasa urusan sudah terlanjur Lebih baik dia menurut sa|a Dia segera duduk di tempat yang ditunjuk oleh Seng mia lo Sekali lagi tukang ramal itu menunjuk Sekarang ke arah Tiong kouwnio.

"Yok Siangkong. kau juga duduk di samping Tiong kouwnio," katanya.

Yok Sau Cun mengikuti perintah laki-laki ftu. Seng mia lo segera menempatkan diri di belakang pemuda tersebut Tangan kanannya diulurkan untuk mencengkeram bahu kiri Yok Sau Cun sedangkan tangan kinnya kembaii meraba pergelangan tangan kanan pemuda itu Seperti tadi, serangkum hawa panas mengaiiri pergelangan tangan Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong, sekarang kau totok jalan darah punggung Tiong kouwnio" Dia menunggu seJenak "Sekarang Tiong kouwnio mengulurkan telapak tangannya ke arah dada adik Yok Siangkong Jangan berhenti sebelum ada perintah dariku ".

Tiong Hui Ciong juga merasakan tubuhnya panas membara Hal ini disebabkan oleh totokan telunjuk Yok Sau Cun yang mengalirkan hawa tersebut.