Pedang Pusaka Dewi Kahyangan (Sian Ku Po Kiam) Jilid 06

 
Jilid 06

"Yok Siangkong Jangan berkata demikian Pedang itu telah kuberikan kepadamu Apapun yang terjadi dengan pedang itu, tidak ada sangkut pautnya lagi denganku," katanya.

Song Bun Cun kesal melihat kedua ocang itu.

"Manusia she Yok di sini bukan tempat untuk kalian berkasih-kasihan. Kongcumu ini juga tidak mempunyai kesabaran sebanyak itu Lihat pedangi".

Pergelangan tangannya berputar. Pedangnya ditudingkan ke depan Gerakannya ini hanya tipuan belaka Dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia akan segera mulai menyerang.

Pedang Yok Sau Cun juga sudah tergenggam di tangan, tapi dia belum bergerak Matanya menatap Song Bun Cun dengan tajam.

"Kalau Song heng berkeras ingin bergebrak juga, cayhe tentu akan menemani Tapi ada satu hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu Kelau sudah saling menyerang, apa lagi dengan senjata tajam, tentu ada yang akan terluka. Bukankah terlalu tidak berharga?" katanya.

"Kau masih mau mungkir? Kau membawa surat beracun dan membuat ayahku celaka, sesudah itu kau masih bersilat lidah memperdaya ayahku sehingga percaya kepadamu dan melepaskan dirimu begitu saja Tapi Siau cui terang terangan mendengar Hu toanio mengatakan bahwa kau adalah orang sendiri Ketika kami cepat- cepat menyusul kemari, kau bahkan ada di markas penjahat ini. Apakah di dunia ini ada begitu banyak kebetulan?" bentak Song Bun Cun.

Semakin berkata, hatinya semakin marah. Pedang di tangannya digetarkan "Sudah. Kongcu telah mengatakan semuanya. Lihat pedang!".

Serangannya kali ini bukan tipuan lagi Pedangnya mengeluarkan cahaya yang menyllaukan mata Terlihat pedang bergetar keras bagaikan sebuah kipas besar Serangan itu tepat menyerah ke jantung Yok Sau Cun.

"Piauko. " Dan luar berkumandang teriakan yang mengandung kekesalan Kemudian disusul dengan .

"Cringh" Pedang Song Bun Cun yang sedang meluncur di tengah jalan terkibas ke samping.

Di antara Yok Siangkong dan Song Bun Cun sudah bertambah seorang gadis dengan sebilah pedang di tangan Pakaiannya berwarna hijau. Dialah yang mengibas pe dang Song Bun Cun tadi Dia tentu saja Hui Fei Cin kouwnio Di belakangnya terlihat Siau cui yang melangkah dengan tenang Pakaiannya juga berwarna hijau Di pinggangnya terselip sebilah pedang pendek Tampaknya kedua orang itu melakukan perjalanan dengan tergesa gesa Nafas mereka masih memburu.

Song Bun Cun menarik pedangnya kernball. Bibirnya menyunggmgkan senyurnan. "Piau moi' Bagairnana kau juga bisa datang ke tempat mi?" tanyanya.

Hui Fei Cin memasukkan kembali pedangnya.

"Piauko Mengapa kau demikian keras kepala? Baru mendengar sepatah perkataan Siau cui, langsung memaksa Yok Sau Cun bergebrak Mengapa kau tidak berpikir, apa sebabnya Hu toanio yang sudah berhasil meringkus Siau cui, melepaskannya kembali'? Ha! ini membuktikan bahwa dia memang sengaja membiarkan Siau cui menyebarkan apa yang didengarnya Dengan demikian, kalau kita tidak berhasil menemukan Hua toanio, kita pasti akan mencari Yok Siangkong. Bukankah biasanya kau sangat cerdik dan berpikiran panjang? Mengapa kali inii bisa tertipu siasat manusia-manusia jahat itu?" Kata-katanya tajam dan ketus sekali Siapa pun yang mendengarnya, akan segera tahu bahwa hatinya memang sangat marah.

Song Bun Cun tampaknya sangat takut kepada piaumoinya itu Dia tersenyum lebar.

"Aku dan Ciek Cong koan bergegas datang ke tempat ini Kami menemukan markas manusia Jahat itu Tidak tahunya kedua orang ini juga ada di sini Tentu saja kami curiga " sahutnya.

Hui Fei Cin melink sekilas kepada Ciok Ciu Lan Dia tidak membiarkan Song Bun Cun meneruskan perkataannya.

"Apakah piauko sudah menanyakan kepada Yok Siangkong atau nona ini, mengapa mereka bisa berada di tempat ini?".

"Menurut Yok heng, mereka datang untuk menolong Siau cui Tentu saja kata- katanya tidak bisa dipercaya," sahut Song Bun Cun.

"Mengapa tidak dapat dipercaya"? Justru karena Siau cui ingin menolong Yok Siangkong, maka ia kena ditawan oleh Hu toanio Yok Siangkong bergegas kemari unluk menolongnya, memangnya salah? Ini malah membuktikan bahwa Yok Siangkong adalah seorang manusia yang mengingat budi orang lain Justru karena Piauko terlalu percaya kepada diri sendiri dan tidak pernah mempercayai orang lain maka terjadi hal seperti ini'" katanya ketus.

"Apa yang dikatakan Piau siocia memang ada benarnya " kata Ciek Ban Cing yang berdiri di samping.

Hui Fei Cin menofehkan kepalanya.

"Ciek Congkoan, apakah kau sudah me meriksa bahwa tempat mi benar benar tidak ada orang lam?" tanyanya.

"BetuI Lao siu sudah memenksa seluruh ruangan dalam rumah ini Tampaknya sudah tidak ditinggali orang lagi Dan karena kita menemukan nona ini dan Yok Siangkong, maka terjadi salah paham," sahutnya.

"Waktu Ciek Congkoan masuk ke rumah ini, apakah melihat seorang kakek yang su~ dah tua renta'?" tanya Yok Sau Cun.

"Ketika lao siu masuk ke rumah ini, tidak melihat seorang pun," sahut Ciek Ban Cing dengan tegas.

"Aneh sekali, ketika kami masuk tadi ada seorang penjaga rumah yang sudah tua sekali Dia tidak membiarkan kami masuk sehingga Ciok kouwnio terpaksa menotoknya. Bagaimana dia bisa menghilang?' kata Yok Sau Cun.

Sekali lagi Hui Fei Cin melink ke arah Ciok Ciu Lan.

"Apakah Yok Siangkong masih menemukan halhal yang lain'?" tanyanya.

"Tidak .. Orangorang di rumah ini tampaknya sudah kabur semua Keadaannya jauh berlaman dengan kemann malam Tetapi ada beberapa |ejak yang tertinggal Ketika cayhe sedang memenksa lebih lanjut, Ciek Congkoan dan Song heng masuk ke man," sahut Yok Sau Cun.

"Oh ya .. Lao siu mendengar dan centa Siau cui bahwa Yok Siangkong semalam dibawa ke man oleh Hu toanio Sebetulnya apa yang terjadi?" tanya Ciek Ban Cing.

"Rupanya Ciek Congkoan belum menanyakan dengan jelas langsung menyerang Yok Siangkong, sindir Hui Fei Cin sambil mencibirkan bibirnya.

Wajah Ciek Ban Cing merah seketika Dia mengelapkan tangannya dan berkata "Harap Piau siocia mau memaafkan Lao siu adalah orang kasar sehmgga tidak memakal peraturan," sahutnya.

Yok Sau Cun kemudian menceritakan sekali lagi apa yang dialaminya tadi malam Ciek Ban Cing sampai terpana dibuatnya.

"Kalau begitu, tempat ini memang markas para penjahat Kemungkinan besar karena kedok Hu toanio telah terbuka, maka mereka bergegas memnggalkan tempat ini," katanya. "Yok Siangkong, tadi kau mengatakan bahwa orang yang bersama-sama dengan Hu toanio tadi adalah laki-laki she Yu yang menitipkan surat berisi racun kepadamu,' tanya Hui Fei Cin.

"Tidak salah Meskipun cayhe tidak sempat melihat jelas raut mukanya namun dari nada suaranya, cayhe bisa mengenali" sahut Yok Sau Cun.

'Hm " Hui Fei Cin menganggukkan kepalanya berkali-kali " Kern ungki nan besar keberadaannya bersama Hu toanio di Hu kian adalah untuk mendengar gerakgerik yang teriadi di Tian Hua san ceng Tempat mi memang markas mereka Sedangkan Tiong kouwnio yang ditemui Yok Siangkong kemann malam pasti salah satu pentolan mereka " Matanya mengerfing sekali "Yok Siangkong, menurut centamu, kau dibawa mereka dalam keadaan mata tertutup Apakah ini tempat di mana kau bertemu dengan Tiong kouwnio itu'?".

'BetuI Cayhe ingat dengan jelas Di tempat ini tadmya ada sebuah meja bundar dan beberapa kursi Sekarang tentu sudah dipindahkan Bahkan di lantai mi sengaja ditaburkan kotoran dan debu Tapi cayhe pasti tidak keliru," sahut Yok Sau Cun yakin.

"Ciek Congkoan, kau bawa beberapa orang untuk memenksa daerah sekitar sini. Kemungkinan rombongan penjahat itu masih bersembunyi dan belum pergi," kata Song Bun Cun.

Ciek Ban Cing menganggukkan kepalanya. "Baik. Lao siu segera melaksanakan,' sahutnya.

Dia segera mengajak enam laki-laki tinggi besar yang berpakaian pengawal menyertainya Song Bun Cun menoleh ke arah Hui Fei Cin.

“Piaumoi apakah kita perlu berpencar untuk ikut mencari?”.

"Semalam ketika Yok Siangkong tersadar dia menemukan dirinya dikurung dalam se buah ruangan bawah tanah Kalau saja kita dapat menemukan ruang bawah tanah tersebut, kemungkinan bisa menemukan jejak lain yang tertinggal," sahut Hui Fei Cin.

"Piaumoi sungguh cerdas, kalau kau tidak mengemukakannya aku sendiri tentu tidak akan terpikirkan," kata Song Bun Cun.

"Sayangnya mata Yok Siangkong sedang tertutup saat itu, entah apakah Yok Siangkong masih bisa mengingatnya?" kata Hui Fei Cin.

"Memang mata cayhe sedang tertutup saat itu, namun diamdiam cayhe berusaha mengingatnya dalam hati Kalau tidak salah, cayhe meiewati dua lorong panjang, menembus lima pintu Seluruhnya berjumlah limaratus tuiuh puluh tiga tindak " sahut Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong benar-benar orang yang penuh perhatian terhadap segala hal" kata Ciok Ciu Lan sambil tertawa Entah dia bermaksud menyindir atau memang mengatakan hal yang sebenarnya?.

'Cayhe hanya menuruti nasehat suhu Ka tanya, jadi manusia itu harus tenang dalam keadaan segenting apa pun Meskipun hal yang kecil, tetap tidak boleh diremehkan Ketika itu mata cayhe sedang tertutup jadi tidak tahu berada di tempat apa Hanya bisa mengingat secara diamdiam dengan harapan dapat menemukan jalan untuk melarikan diri Oleh karena itu, cayhe berusaha mengingat jalan keluar itu," sahutnya tersipu sipu.

Dan pembicaraan kedua orang itu, Hui Fei Cin dapat merasakan bahwa hubungan mereka sangat dekat, namun dia tidak enakhati menanyakan di mana mereka terkenalan Oleh sebab itu, dia melanjutkan perkataannya tentang hal yang sedang diselidiki.

"Bagus sekali kalau Yok Siangkong masih mengingatnya Mari kita selidiki sekarang juga".

Semua orang meninggalkan taman tersebut. Song Bun Cun mengibaskan telapak tangannya.

"Yok heng, silahkan," katanya.

"Cayhe harus bertindak sebagai penunjuk jalan, maaf cayhe mendahului ' sahut Yok Sau Cun sambi! mendahului mereka berjalan di muka.

Ciok Ciu Lan ]uga tidak sungkan lagi Dia segera mengikuti di belakang Yok Sau Cun Hati Hui Fei Cin merasa tidak enak Tapi dia juga tidak banyak bicara, hanya menginngi di belakang gadis itu Sedangkan Siau cui adalah pelayan Hui Fei Cin, sudah pasti dia mengintili nonanya Dengan demikian Song Bun Cun terpaksa berjalan di bansan paling akhir Tetapi, karena di sisi Yok Sau Cun sekarang ada Ciek kouwnio maka perasaannya lebih lega Dengan tangan menggeng' gam pedang, dia berjalan di barisan paling ujung Tampangnya terlihat gagah dan tampan.

Beberapa orang itu melewati lorong panjang Tiba-tiba di tikungan depan, Yok Sau Cun berhenti Matanya menatap ke dinding sebelah kanan. Bibirnya tersenyum lebar Ciok Ciu Lan yang beijalan di belakangnya menjadi heran.

"Yok Siangkong, apa yang sedang kau perhatikan?" tanyanya.

'Ketika cayhe keiuar dari ruang bawah tanah dengan mata tertutup serta duringi oieh seorang gadis bergaun pendek, cayhd merasa tangannya menarik ke arah kin," sahutnya.

"Apa hubungannya dengan perhatianmu pada dinding ini?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Kalau dia menarik sebelah tangan Cayhe, bukankah masih ada tangan sebelahnya yang nganggur?" sahut Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan kebingungan namun Hui Fei Cin mengeluarkan suara kaget. "Apakah Yok Siangkong meninggalkan suatu tanda di dinding ini'>" tanya Hui Fei Cin.

"BetuI," sahut Yok Sau Cun sambil menganggukkan kepalanya "Ketika cayhe ditarik oleh gadis itu, secara sembunyi-sembunyi cayhe menggoreskan ujung kuku ke dinding sebelah kanan Hal mi membuktikan bahwa semalam cayhe memang dibawa melalui lorong ini".

Semua orang ikut melihat ke dinding yang ditunjuk oleh Yok Sau Cun Ternyata me mang ada guratan kuku yang cukup dalam tertera di sana Kalau SBJB tidak dijelaskan lebih dahulu, tentu tidak akan ada orang yang memperhatikannya karena guratan itu hanya samarsamar.

"Yok Siangkong ternyata orang yang berpikiran panjang," kata Hui Fei Cin.

"Hui Siocia terlalu memuji Cayhe sendiri tidak sengaja melakukannya siapa sangka han mi akan bermanfaat" sahut Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan tidak ingin melihat Yok Sau Cun banyak bicara dengan Hui Fei Cin Dia segera menukas.

"Yok Siangkong, sekarang kita tel,ah menemukan sebuah petunjuk Dengan demikian waktu kita jadi tidak terbuang siasia Man kita lanjutkan penyelidikan ini".

Yok Sau Cun tidak berkata apa-apa lagi. Dengan mengikuti goresan kuku pada dinding itu, mereka berjalan terus Sampai di Ujungnya mereka membelok ke sebuah gang yang sempit, kemudian menembus Ke belakang Di dindmg sebelah kanan, kembali terlihat guratan kuku Karena lorong itu tidak mempunyai pintu penghubung maka mereka tidak perlu mencari tapi hanya maju sampai ujungnya Di sana ada sebuah pintu besar Bahkan di depannya terlihat sebuah rantai yang dikaitkan dengan gembok.

"Tadi kau mengatakan bahwa ada lima pintu yang kau lewati, ini adalah pintu kelima," kata Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun mengangguk kecil Diamenjulurkan tahgan dan mematahkan gembok tersebut Pintu dibukanya. Terdengar seruan dari mulut Ciok Ciu Lan.

"Rupanya pintu ini menembus ke taman belakang," katanya.

"BetuI Ruang bawah tanah itu memang dibangun dalam taman ini" sahut Yok Sau Cun.

"Wah Kalau begini jadi sulit. Seandainya lorong tadi yang kau lalui semalam tidak heran, kau masih meninggalkan tanda karena jalannya yang sempit sekali Tidak heran kau bisa menjulurkan tangan untuk menggores dinding tersebut Namun di sini adalah sebuah taman yang luas. Tentu kau tidak bisa meninggalkan tanda apaapa Bagaimana kita bisa menemukan ruang bawah tanah itu'?" kata Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun tertawa lebar. "Tanda yang ada di sini tentu bukan guratan kuku," sahutnya.

"Apakah kau juga meninggalkan tanda di sini''" tanya Ciok Ciu Lan dengan mata terbelalak.

"Ketika cayhe dibawa melalui taman mi, cayhe merasakan tanahnya agak lunak ".

"Pada kentungan pertama tadi malam me mang turun huian lebat" sahut Ciok Ciu Lan menerangkan.

"Karena menginjak tanah lunak itu maka cayhe berpikir pasti tidak sedikit je.iak kaki cayhe yang tertinggal di sini Oleh k'arena itUi setiap beberapa langkah, cayhe sengaia me nambah tenaga pada telapak kaki supaya meninggalkan jejak yang dalam.

Seharusnya sampai sekarang masih ada ".

"Yok heng ternyata memang banyak akal," kata Song Bun Cun.

Semuanya masuk ke dalam taman itu. Baru berjalan beberapa langkah, pada tanah yang agak lembab ternyata memang ada jeiak kaki yang tertinggal. Karena waktu itu adalah tengah hari, maka jetak kaki itu se makin jelas.

Taman itu sangat luas Untung saja ada |ejak kaki sebagai petunjuk Tidak berapa jauh melangkah. mereka sampai pada sebuah jembatan kecil. Di bawahnya ada sebuah aliran air Kemudian mereka sampai pada gunung buatan yang banyak menghias rumahrumah besar Di atasnya tertanam pohon pohon palem berukuran sedang Membuat pemandangan semakin indah Di depan gunung buatan itu terdapat padang rumput yang luas Karena sekarang hampir rnasuk musim dingin maka rumput rumput itu berwarna kekuningan.

"Tanah lunak yang pertama dunjak Yok heng pasti rumput rumput ini," kata Song Bun Cun sambil menunjuk dengan ujung kakinya.

Yok Sau Cun maju beberapa langkah Dia berdiri dan memperhatikan sekitarnya Kemudian kepalanya dianggukkan.

"Betul. Pertamatama keluar dari ruang bawah tanah, cayhe sempat mendengar getaran daun yang tertiup angin,' sahut Yok Sau Cun.

"Kalau begitu kemungkinan besar ruangan bawah tanah itu terletak di bawah gunung buatan," kata Ciok Ciu Lan.

"Man' Kita penksa tempat ini," ajak Song Bun Cun.

Dia mendahului yang lain memenksa gu nung buatan itu Di samping kanan ternyata ada sebuah goa Mereka memasukinya Di dalamnya terdapat sebuah gang kecil yang sempit sekali Mereka berjalan menelusunnya Di bagian Ujung ada sebuah pintu Song Bun Cun membuka pintu tersebut Tempat itu adalah sebuah ruang tamu. Di tengah tengah ada sebuah meja segi delapan Di sudut ada sebuah pintu lagi Rumah itu ternyata demikian ruwet Entah siapa yang membangunnya? Sekali lagi. Song Bun Cun mendahuiui yang lainnya membukakan pin tu Terdengar seruan kekecewaan dan mulut beberapa orang. Termasuk Yok Sau Cun sendiri Di balik pintu itu ternyata hanya ada sebuah dapur.

Mereka memperhatikan sekitar ruangan Jtu sejenak. Tampaknya tidak ada yang mencun'gakan Mereka pun mundur kembali ke ruang tamu tadi. Di bagian kin ada sebuah jendela bundar yang dapat melihat pemandangan di taman Mereka berpencar untuk mencari ruang bawah tanah yang dikatakan Yok Sau Cun Namun semuanya berkumpul kembafi ke ruang tamu itu tanpa hasil apaapa Akhirnya mereka keluar dan goa itu.

Song Bun Cun memandangi gunung buatan itu dengan termangumangu Kemudian dia menoleh kepada Yok Sau Cun.

"Coba Yok heng ingatingat lagi Apakah tempatnya tidak salah'? Mengapa kita tidak berhasil menemukannya?".

"Cayhe tidak mungkin salah ingat Dari jejak yang cayhe tmggalkan, sudah ]elas ruangan bawah tanah itu terletak di sekitar tempat ini," sahut Yok Sau Cun.

"Kita sejak tadi menelusun jejak yang ditinggalkan Yok heng. tapi sampai batas jembatan ini tidak ada jejak lagi Mungkinkah ruangan bawah tanah itu tidak berada di 'sekitar sini?" tanya Song Bun Cun.

"Meskipun mata cayhe semalam tertutup, tapi tanah lunak yang diinjak cayhe tidak saiah lagi rumputrumput ini. Di jembatan memang tidak ada jeiak Hal ini disebabkan tenaga dalam cayhe yang kurang tinggi sehingga tidak sanggup meninggalkan jejak di alas batu Tapi menurut cayhe, ruangan bawah tanah itu pasti ada di sini Hanya saja kita befum menemukan pintu masuknya " sa hut Yok Sau Cun.

Mereka terdiam sekian lama Masing ma sing sibuk ikut berpikir Tiba tiba Yok Sau Cun mengeluarkan seruan terkejut.

"Ah... cayhe ingat ketika dibawa keluar dari ruang bawah tanah semalam hanya berjalan beberapa langkah saja sudah tercium udara segar Berarti ruang bawah tanah itu pasti berada di sekitar gunung buatan ini " katanya.

"Man kita cari sekali lagi" ajak Ciok Ciu Lan.

Mereka berpencar sekali lagi. Setiap pohon disibak oleh mereka namun tetap tidak ada hasilnya.

"Di sekitar sini pasti ada pintu rahasia," kata Ciok Ciu Lan. "Pintu rahasia apa'?" tanya Hui Fei Cin.

"Aku pernah dengar cerita dart ibuku, bahwa ada beberapa komplotan terselubung yang takut gerakgenk mereka' diketahui orang Biasanya komplotan ini mempunyai tempat pertemuan dengan pintu rahasia Kalau bukan anggota mereka sendiri, tentu tidak tahu di mana letaknya pintu rahasia tersebut Sedangkan untuk membuka pintu rahasia, setalu ada tombol yang tersembunyi. Asal kita dapat menemukan tombol tersebut maka pintu rahasia itu akan terbuka sendiri," sahut Ciok Ciu Lan menjelaskan.

"Kalau begitu. kita coba masuk kembali ke dalam goa. Sejak tadi kita hanya mencari pintu menuju ruang bawah tanah, sama sekali tidak memperhatikan tombol apa pun Siapa tahu apa yang dikatakan Ciok kouwnio ada benarnya." kata Song Bun Cun memberi saran.

Beramai-rarnai mereka kembali ke dalam goa Hampir sepeminuman teh mereka meraba ke sana ke man tapi masih juga tidak ada hasilnya Hui Fei Cin hampir putus asa.

"Di mana tombol itu sebenarnya? Apa lagi tempat ini tidak tertembus cahaya sehingga remangremang Lagipula kita tidak mempunyai korek api, untuk melihat jelas saja sulit. Piauko. mungkin lebih baik kita ajak Ciek Congkoan ke mari saja Dia sudah berpengalaman di dunia kangouw. Siapa tahu dia bisa menemukan tombol pembuka pintu rahasia itu," katanya.

"Aku punya korek api," sahut Ciok Ciu Lan. Dia mengeluarkan sebuah korek api dari ikat pinggangnya.

"Ces!" Dinyalakannya api itu dan diangkatnya untuk menymari dinding goa tersebut.

Ditelusun dan kin ke kanan Lalu dinding sebelahnya lagi Bagian ujung dinding goa itu merupakan tempat yang tergelap karena letaknya yang di p0j0k Ciok Ciu Lan melihat sebuah lekukan di dalam dinding tersebut.

"Mungkin di sini tombolnya ".

Tangannya segera menyusup ke dalam lekukan yang cukup dalam itu Terasa tangannya meraba sebuah gelang besi Dia berusaha menariknya Terdengar suara deritan samarsamar di telinga mereka.

"Dentan itutampaknya berasal dari bawah tanah," kata Yok Sau Cun.

Baru saja ucapannya selesai terdengar suara benda berat yang bergeser. Mata mereka semua menoleh ke arah sumber suara itu Dinding batu sebelah kanan tibatlba berputar dan terbuka. Di dalamnya gelap gulita, namun t'erlihat ada tangga yang menuju ke bawah.

"Ciok kouwnio sungguh pandai Kalau tidak ada engkau, mungkin untuk selamanya kita juga tidak bisa menemukan tempat mi," kata Hui Fei Cin.

"Hui Siocia terlalu memandang tinggi aku." sahut Ciok Ciu Lan Korek api di tangannya diangkat tinggitinggi "Biar aku berjalan di muka agar ada penerangan ".

Perlu diketahui korek api zaman itu lain dengan zaman sekarang Korek yang ada di tangan Ciok Ciu Lan dapat bertahan lama seperti sebuah obor. "Ciok kouwnio, lebih baik cayhe yang t>erjalan di depan ' kata Yok Sau Cun menawarkan diri.

Ciok Ciu Lan tersenyum manis.

"Tidak apaapa Aku yang jalan lebih dahulu juga sama saja," sahutnya.

Dia segera menuruni tangga batu itu Yok Sau Cun takut terjadi apa-apa pada gadis itu, maka dia segera mengikuti di belakangnya. Begitu Juga yang lain, tiba-tiba ada sesuatu hal yang terlintas di benak Hui Fei Cin.

"Siau cui, kau tinggal di smi saja Jangan sampai kita terkurung di dalam. Kalau terjadi sesuatu atau ada orang yang tidak kenal datang, maka kau harus bertenak memanggil kami, mengerti'?" katanya.

"Baik," sahut Siau cui Dia naik kembali ke atas.

Tangga batu itu tidak terlalu panjang Di sebelah kiri terdapat dua buah pintu besi Keduanya tidak terkunci Mereka mendorong pintu yang pertama Rupanya hanya sebuah gudang tempat penyimpanan botol botol arak yang sudah kosong Mereka se gera membuka pintu satunya lagi. Ruangan ini juga gudang namun yang tersimpan di dalamnya adalah berbagai keperluan rumah tangga yang sudah tidak terpakai. Di sudut dalam terdapat sebuah pintu lagi. Mereka membuka pintu itu Dalamnya kosong melompong.

"Dalam ruangan inilah cayhe disekap tadi malam," kata Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan mendahului mereka masuk ke dalam. Diedarkannya api itu ke sekeliling ruangan.

"Di sini tidak ada patunjuk apa pun. Tarnpaknya komplotan para penjahat itu memang sudah kabur.".

"Rasanya ini bukan markas mereka. Kemungkinan hanya tempat pertemuan sementara," kata Yok Sau Cun kecewa.

"Kalau memang bukan markas mereka, mengapa harus dipasang tombol rahasia?" tanya Hui Fei Cin.

Song Bun Cun tersenyum lebar.

"Ini bukan termasuk hal yang mengherankan Banyak orang kaya yang takut harta bendanya dirampok, ada juga yang membangun ruang rahasia untuk penyimpanan harta tersebut Hanya berdasarkan ruang bawah tanah ini, kita belum dapat memastikan bahwa mi markas mereka ' katanya menjelaskan.

"Kalau demikian kita naik kembali saja," sahut Hui Fei Cin.

Keempat orang itu naik ke alas dan meninggalkan ruang bawah tanah tersebut. Tampak Siau cui masih berdiri di tempat semuia dengan pedang pendek di tangan. Dia tidak menemukan apaapa Hal ini membuktikan bahwa Tiong kouwnio bersama komplotannya memang sudah kabur. Mereka keluar dari gunung buatan Dari kejauhan tampak bayangan tinggi besar Ciek Ban Cing mendatangi dengan tergopo- gopoh.

"Apakah Ciek Cong koan menemukan sesuatu hal yang genting?" tanya Song Bun Cun sambil menghampin dengan langkah lebar.

Hui Fei Cin Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan juga memburu ke sana Setelah melewati aliran air Ciek Ban Cing sampal pada jernbatan kecil Dia menghentikan langkahnya dan membungkuk dengan sikap hormat.

"Kongcu, Piau Siocia, ternyata kalian ber ada di sini," sapanya. "Apakah Ciek Cong koan menemukan sesuatu'?" tanya Song Bun Cun.

"Lao sm sudah memeriksa seluruh rumah dan daerah sekitar Tidak ada apaapa yang mencurigakan. Tetapi Lao ceng cu meng utus Song hin menyusu! ke mari dan menyuruh Kongcu serta Piau siocia segera kembali ke Tian Hua san ceng," sahut Ciek Ban Cing.

"Apakah Song hin tahu mengapa Tia meminta kami kembali?" tanya Song Bun Cun cemas.

"Menurut Song hin, ada tamu yang datang dan Yang ciu," sahutnya. "Siapa yang datang dari rumahku?" tanya Hui Fei Cin.

"Lao siu tidak tahu. Song hin hanya mengatakan bahwa Lao ceng cu memmta Kongcu dan Piau siocia kembali aegera. Tampaknya ada persoalan mendesak yang Lao ceng cu ingin rundingkan dengan kalian berdua," sahutnya.

"Kalau begitu, Piau moi man kita berangkat segera," ajak Song Bun Cun sambil mendahului jalan di muka.

Hui Fei Cin menganggukkan kepalanya dan menoleh kepada Yok Sau Cun. "Yok Siangkong, jangan lupa |anjimu untuk berkunjung ke Yang ciu," katanya.

Katakata itu diucapkan dengan nada berbisik. Mungkin hanya Yok Sau Cun seorang yang bisa mendengamya karena dia berdirl tepat di sisi Yok Sau Cun Belum lagi anak muda itu memberikan jawaban, Hui Fei Cin, Siau cui dan Ciek Ban Cing sudah mengikuti Song Bun Cun melangkah keluar. Tetapi di telinga Yok Sau Cun masih terasa berkumandang suara lembut dan penuh harapan itu!.

"Yok Siangkong orangnya sudah pergi Apa lagi yang kau renungkan'?" sindir Ciok Ciu Lan. Yok Sau Cun terkejut "Eh ... Apa yang kau katakan?" "Aku lihat sebelum pergi tadi, Hui Siocia itu mengucapkan sesuatu kepadamu," kata Ciok Ciu Lan dengan bibir mencibir.

Terhhat rona merah di pipi Yok Sau Cun "Tidak .. tidak ada apaapa. Dia hanya mengucapkan selamal tinggal," sahutnya gugup.

"Tidak usah mengatakannya. Apa yang diucapkannya kepadamu, tidak seharusnya aku tanyakan. Hm... man kita pergi," ajak Ciok Ciu Lan. Setelah meninggalkan gedung beaar itu, Yok Sau Cun melihat ke sekitarnya Tidak tampak satu orang pun.

"Ciok kouwnio, aku tetap beranggapan bahwa gedung ini mencungakan.".

"Oleh sebab itu, kita harus segera pergi dan sini," sahut Ciok Ciu Lan tersenyum. "Apa yang nona maksudkan?" tanya Yok Sau Cun.

"Kalau kita pergi berarti kita tidak menaruh cunga apaapa pada gedung ini". "Apakah kita perlu kembali lagi nanti?" lanya Yok Sau Cun.

"Tentu saja harus Namun bukan sekarang," sahut Ciok Ciu Lan "Kapan'?".

Ciok Ciu Lan mendongakkan kepalanya "Ssst Ada yang datang " katanya Dan arah depan terlihat seorang laki laki dengan dandanan penduduk biasa mendatangi Yok Sau Cun tidak berkata apaapa i lagi Mereka melewati jalan setapak dan berjalan menuju kota Senja han mereka sudah sampai di sana.

"Kita cari tempat untuk beristirahat Malam nanti kita kembali lagi," kata Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya Tiba-tiba terdengar suara seseorang berseru: "Man... mari. . Saudara berdua, kemarilah! Duduk sebentar agar kita dapat berbincang-bincang.".

Yok Sau Cun menolehkan wajahnya ke arah suara itu. Tampak di tikungan jalan besar, ada seorang laki-laki yang duduk di belakang sebuah meja Di atas kepalanya tergantung secank kain bertuliskan Peramal sakti Tidak tepat tak usah bayar! Wajah laki-laki tua itu kurus kecil seperti kepala tikus. Di atas bibirnya menjuntai dua buah kumis panjang Usianya hampir enam puluh an. Matanya sipit, hidungnya pesek, giginya agak tonggos Wajahnya kekuningan Ku rusnya tinggal tulang dibungkus kulit Dia mengenakan pakaian yang warnanya sudah pudar. Tangannya memegang sebuah kipas yang besar dan lebar. Dia sedang menunjuk kepada Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan Wajahnya menampilkan senyuman yang lebih mirip senngai seekor tikus.

"Manusia berpatok pada kata jodoh Seng mia lo (Peramal tua) dan kalian dapat bertemu di sini juga karena ada jodoh He. . he... he . saudara berdua berjatan dengan tergesa-gesa Pasti ada hal yang genting di depan mata. Marl duduk di sini sebentar. Kita berbincangbincang sejenak Seng mia lo kirn jui (Mulut emas memiliki ramalan yang selalu tepat). Tidak tepat, saudara berdua boleh segera angkat kaki," katanya. Yok Sau Cun tidak memperdulikannya.

Ciok Ciu Lan terpana mendengar peramal itu berkata, "Saudara berdua berjalan dengan tergesa-gesa, pasti ada hal yang genting di depan mata" Oia menjadi tertarik Kakinya berhenti melangkah Dia menoleh ke arah Yok Sau Cun.

"Yok Siangkong, bagaimana kalau kita cobacoba?" katanya.

"Orang-orang semacam itu semuanya hanya menipu untuk mencari makan Buat apa mencoba?" sahut Yok Sau Cun.

"Coba kita tanyakan hal genting apa yang membuat kita tergesa-gesa'?" kata Ciok Ciu Lan.

Terdengar suara tawa dari mulut peramal itu.

"Apa yang dikatakan kouwnio itu memang benar Orang meramal untuk mencegah musibah, bukan bertanya tentang rezeki saja. Siapa tahu dapat dijadikan patokan apabila hendak melaksanakan suatu rencana" sahutnya.

Ciok Ciu Lan melangkah menghampirinya. '.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau ada persoalan gawat yang sedang kami hadapi" tanyanya.

"Seng mia lo melihatnya dan wajah kalian berdua," sahutnya.

"Coba kau lihat, apakah persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Kouwnio tampaknya sedang menguji Seng mia lo Bagaimana kalau kouwnio mengambil sebuah ciam si (Sumpil yang ada tulisannya, biasanya terdapat di kelenleng)?".

"Tidak Ciam si kadang-kadang bisa diatur. Bagaimana kalau menuliskan satu huruf saja?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Boleh boleh Silahkan kouwnio menulis huruf apa saja Nanti Seng mia lo berusaha meramalnya.".

"Yok Siangkong, kira kira huruf apa yang harus kululis?" tanya Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Matanya melihat sebuah pedati yang ditarik seekor sapi Dia menyahut sekenanya.

"Tulis saja huruf Gu (sapi).". "Seng mia lo, bagaimana?" tanya Ciok Ciu Lan.

"Boleh . Tapi karena huruf itu dipilih oleh Siangkong ini, maka Seng mia lo akan meramalnya lebih dahulu," sahut peramal Itu.

"Coba katakan," ujar Ciok Ciu Lan.

"Huruf yang dipilih oleh Siangkong ini adalah 'Gu' Kalau garis alasnya dibuang maka yang terbaca adalah huruf Wu'. Kalau dari huruf 'Gu' tadi ditambahkan sebuah kumis di bawahnya. akan terbaca huruf 'Sit' (hilang). Huruf 'Wu' artinya siang Namun karena hufuf itu diambil dari huruf 'Gu' tanpa kepala, berarti bukan siang tapi malam Sedangkan huruf 'sit' didapatkan dan huruf Gu' yang ditambah segaris. Apakah artinya bahwa ada orang yang menghitang kemann malam? Sedangkan 'Gu' yang dilihat Siangkong tadi, diinngi oleh seseorang Hal ini berarti hilangnya orang tersebut kemarin malam karena dibawa orang. Dan apabila huruf 'Gu' tadi ditambah segaris iagi di bawahnya, maka akan terbaca huruf 'Seng' (Hidup) Hal ini berarti bahwa orang yang menghilang tadi malam meskipun dibawa oleh seseorang tapi sekarang dalam keadaan baikbaik saja," kala peramal itu menjelaskan.

Yok Sau Cun lerpana mendengar keterangan tersebut, Apakah peramal ini benar- benar bermulut emas sehingga apa yang ditebaknya selalu tepat Kalau tidak, bagaimana dia bisa tahu bahwa tadi malam dia dibawa oleh seseorang namun berhasil kembali dengan selamat Tetapi, pikiran lain melintas Iagi di benaknya Apakah peramal ini merupakan satu komplolan dengan para penjahat itu.

"Hai. . Seng mia lo, aku yang meminta diramalkan, seharusnya kau menghitung perkiraanku." sahut Ciok Ciu Lan.

"Baiklah... Seng mia lo lihat ada beberapa hal yang sama dengan Siangkong ini Tapi karena huruf 'Gu' tadi dipilih oleh Siangkong ini, maka Seng mia lo berani memastikan bahwa yang hilang semalam bukan kouwnio tapi Siangkong ini.

Sedangkan 'Gu' yang dipilih kouwnio bila ditambah satu kumis juga menjadi kata sin Tapi karena huruf itu sebelulnya pilihan Siangkong ini maka berarti ‘sin’ yang disebut di sini bukan bermakna hilangnya dan kouwnio tapi memberi makna bahwa kouwnio akan kehilangan sesuatu. Sedangkan huruf Gu' yang dibuang kepalanya menjadi Wu' (Malam) Namun karena kejadian semalam dialami lebih dahulu oleh Siangkong ini dan baru diketahui kouwnio kemudian, maka berarti bukan malam kemarin tapi malam ini".

"Maksudmu, aku akan kehilangan sesuatu malam ini'?" tanya Ciok Ciu Lan terkejut.

'Betul Namun ada suatu hal lagi yang perlu diketahui kouwnio Apabila kouwnio menernui kesulitan apapun, ambillah jalan menuju arah barat Dengan demikian, jiwa kouwnio masih dapal dipertahankan," katanya lebih lanjut.

"Sudahlah. Kau mengoceh sembarangan Aku yang mendengar juga tidak perlu dimasukkan daiam hati." Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan uang beberapa sen. Diletakkannya di atas meja dan mengajak Yok Sau Cun meninggalkan tempat peramal itu. Baru saja dia berjalan beberapa langkah, terdengar si peramal berseru "Kouwnio, berhenti dulu'".

"Apalagi . Bukankah ongkosnya sudah kubayar" bentak Ciok Ciu Lan. Peramal itu lersenyum lebar.

"Apa yang kouwnio berikan tadi masih jauh dari cukup " sahutnya. Ciok Ciu Lan menjadi marah mendengar perkataannya.

"Berapa yang kau pinta?”.

"Paling sedikit lima tail," sahut peramal itu.

"Lima tail'? Bukankah sama saja kau menipu?" bentak Ciok Ciu Lan.

"Kalau Siangkong ini, Seng mia lo meramal dengan gratis Tapi lain dengan kouwnio Seng mia lo sudah memberikan jalan untuk menghindarkan diri dan marabahaya, maka bayarannva tidak dapat disamakan dengan orang lain ".

"Kau. " Mata Ciok Ciu Lan mendelik Karena marah.

"Sudahlah " kata Yok Sau Cun sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan uang sebanyak lima tail Dia segera mengajak Ciok Ciu Lan meninggalkan tempat itu.

Selelah agak jauh, Ciok Ciu Lan berpaling sekali lagi kepada laki-laki tukang ramal tadi.

"Tampaknya dia bukan peramal biasa," katanya. Yok Sau Cun mengangkat tubuhnya.

Mereka mengisi perut di sebuah kedai bakmi di perbatasan kota Setelah itu bergegas menuju Cang ciu. Mereka memmla dua kamar di penginapan Hinlong Pelayan membawakan leko berisi teh dan dua baskom air hangat unluk mencuci muka Kemudian dia rnengundurkan diri.

Yok Sau Cun sudah mencuci muka Dia duduk sambil menikmali teh hangat Dia melihat Ciok Ciu Lan berjalan ke kamarnya Dia segera berdiri dan membukakan pintu.

"Ciok kouwnio, apakah kita harus berma lam di sini?" tanyanya Ciok Ciu Lan menulupkan kembali pinlu kamar Dia menyahut dengan suara rendah.

"Siapa yang bilang kita akan bermalam di sini'?" Malam ini kita harus cepat-cepat kembali ke Wi su kan Kita akan memeriksa sekali lagi gedung besar itu," sahutnya.

Yok Sau Cun menuangkan secangkir teh unluk gadis itu. "Kalau begitu, buat apa kita datang ke tempat yang begini jauh'?" tanya pemuda itu tidak mengerti.

"Tuan besar. Ini yang dinamakan siasat "Perangkap tikus" Kemungkinan besar mereka mengulus orang unluk mengikuti kita Kalau mereka lihat kita pergi sedemikian jauh, mereka tentu mengira kita tidak menaruh curiga lagi pada gedung itu Seandainya tempat itu memang markas mereka maka komplolan itu akan kembali ke sana dengan hati lapang Mereka pasli tidak menyangka kita bakal kembali lagi Oleh sebab itu, malam mi kita balik tanpa sepengetahuan siapa pun Tapi, kepergian kita ini hanya unluk mencari bukti yang berharga atau petunjuk di mana kita bisa mendapalkan obat penawar bagi Song loya cu Sekali-kali jangan turun tangan tidak perlu," kata Ciok Ciu Lan mengingatkan Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Ciok kouwnio memang banyak pengalaman Cayhe berhasil memetik hasilnya dari pengalaman kouwnio".

Ciok Ciu Lan tertawa lebar.

"Aku sejak kecil sudah sering mengikuti ibu berkelana Tidak pernah menjadi kutu buku seperti dirimu," katanya.

"Karena ingin memenuhi permintaan Cia su, cayhe sekarang |uga berkecimpung di dunia Bulim Kelak masih mengharapkan bimbingan Kouwnio ".

Mala Ciok Ciu Lan menjadi cerah sekelika Dia memandang Yok sau Cun dengan seksama.

'Asal kau tidak keberatan, aku tentu de ngan senang hati memberitahukan apa yang aku ketahui" Dia menarik napas sekali "Yok Siangkong, tadi kau mengatakan bahwa kau ingin rnemenuhl permintaan suhumu Apa sebelulnya permintaan itu'?".

Yok Sau Cun tidak menutupi. Dia menceritakan apa kedua permintaan suhunya dan bagaimana dia berusaha memenuhinya.

"Menilik dan ceritamu, permintaaan suhumu yang pertama adalah menemukan putra tunggalnya yang menghilang enambelas tahun yang lampau Pada waktu itu usianya baru duabelas tahun, berarti sekarang sudah tumbuh dewasa. Dia mempunyai tahi lalat merah di alis sebelah kanan Panggilannya kelika kecil adalah Liong Koan. Selain itu, tidak ada pelunjuk lagi Aih.. Dunia ini begitu luas Ke mana kau hendak mencarinya Sedangkan permintaan kedua lebih sulit lagi Song loya cu akan memenuhi permintaan itu kalau kau sanggup menerima satu jurus ilmu pedangnya Tetapi Song loya cu mendapat gelar Bulim it kiam' yaitu jago pedang nomor satu di Bulim Satu jurus ilmu pedangnya lebih sulit ditandingi daripada seratus jurus ilmu pedang jago lain." kata Ciok Ciu Lan.

Yok Sau Cun tertawa gelir Ciok Ciu Lan kasihan melihatnya.

"Oh ya . Yok Siangkong, kalau menurut pendapatku, tampaknya Song loya cu dan suhumu saling kenal Mengapa waktu itu kau tidak mencoba bertanya kepadanya, apa permintaan kedua suhumu itu?" tanyanya.

"Tidak perlu bertanya Cayhe tidak sanggup menerima satu jurus ilmu pedang Song loya cu Tanya pun tidak ada gunanya Pada suatu hari, kalau cayhe sanggup menerima satu jurus ilmunya itu Tanpa ditanyakan dia juga akan menjelaskannya kepadaku," sahut Yok Sau Cun.

"Apa yang kau katakan ada benarnya juga," kata Ciok Ciu Lan Dia merenung sejenak Sekali tagi dia menarik nafas panjang. "Namun . aih, Jago-jago Bulim yang dikenal ibuku memang banyak, tapi tidak ada seorang pun yang sanggup menandingi Song loya cu. Kalau tidak, ibu mungkin bisa memohon mereka membimbingmu '.

"Tidak. , Cayhe yakin suatu han pasti sanggup menerima satu jurus itu, namun yang paling penling adalah memunahkan racun dalam lubuh Song loya cu, cayhe sudah berjanji akan menemukan obal pemunah itu sampai dapat," sahut Yok Sau Cun legas.

"Persoalan ini tidak terlalu sulit. Asal malam ini kita bisa membuktikan bahwa yang meracuni Song loyacu adalah komplotan ini, maka aku akan meminia ibu mengambilkan obal pemunah tersebut. Kemungkinan besar, dengan menghargai ibuku, mereka akan memberikannya' sahut Ciok Ciu Lan.

Tiba-tiba Yok Sau Cun teringat sesuatu.

"Peramal yang kita temui hari ini sangat aneh Tampaknya dia sudah tahu apa yang kita rencanakan malam ini," katanya.

"Orang itu hanya penipu Kata-katanya hanya berdasarkan dugaan," sahut Ciok Ciu Lan.

"Bukankah kau sendiri yang memaksa mendengar apa yang akan dikatakannya?" goda Yok Sau Cun.

"Aku loh bukan orang bodoh Siapa yang bisa percaya ocehan seorang peramal pemeras seperii itu? aku hanya penasaran mendengar dia berkata bahwa kita sedang menghadapi persoalan gawal Rasanya dia bukan satu komplolan dengan para penjahal itu," kata Ciok Ciu Lan sambil tertawa.

"Aku letap merasa curiga " sahut Yok Sau Cun.

"Pembicaraan kita tidak akan ada habisnya kalau berdebal seperti ini Aku ke mari unluk mengalakan bahwa matam ini kita harus kembali lagi ke Wi sukan Sekarang masih ada cukup banyak waktu. Lebih balk kita memulihkan tenaga untuk berjaga- jaga kalau terjadi sesuatu nanti,' kata Ciok Ciu Lan.

Tidak menunggu Yok Sau Cun menyahut, dia segera kembali ke kamarnya sendiri Yok Sau Cun naik ke atas tempat tidurnya Dia duduk dengan sikap bersila. Tidak lama kemudian, pikirannya sudah kosong dan tenang.

Entah berapa lama sudah berlalu. Kelika dia membuka matanya, ruangan kamarnya gelap-gulita Sudah waktunya menyalakan penerangan Dan depan kamar lerdengar seorang pelayan menyapa.

"Kek kuan. . kalian ingin makan di luar alau Siaujin pesankan beberapa macam hidangan unluk diantarkan ke dalam kamar?".

Yok Sau Cun turun dan lempal lidur Belum lagi dia menjawab, terdengar suara Ciok Ciu Lan mendahuluinya.

"Kami tidak ke mana mana Suruh lukang masak memilihkan beberapa macam hidangan yang lezal dan aniarkan ke dalam kamar." pelayan itu mengiakan dan mengundurkan diri Pintu kamar dibuka Ciok Ciu Lan melangkah masuk Dia tersenyum melihat Yok Sau Cun yang sudah duduk di kursi.

"Ternyata Yok Siangkong sudah bangun. Aku gembira kau masih bermimpi". "Apakah kau sempat tidur tadi'?" tanya Yok Sau Cun.

Ciok Cin Lan menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa lidur kalau pikiran sedang kaiul," sahutnya.

Pelayan tadi masuk kembali sambil membawakan teko berisi air teh Yok Sau Cun menunggu pelayan itu keluar, baru benanya.

"Apakah kita langsung berangkat sehabis makan nanti?".

"Masih terlalu pagi Jangan sampai ada yang tahu Lebih baik menunggu sampai kentungan perlama ' kata Ciok Ciu Lan.

"Cayhe menurut saja apa kata kouwnio," sahut Yok Sau Cun.

Kali ini pelayan masuk membawa beberapa macam sayuran dan nasi Dia meletakkannya di alas me|a dan mempersilahkan kedua lamu itu menikmatinya.

Mereka makan dengan cepal. Setelah selesai, Ciok Ciu Lan bangkit.

"Aku kembali ke kamar sekarang Kau juga pura pura memadamkan lilin lalu lidur Kentungan pertama nanti kau keluar melalui jendela samping. Aku menunggumu di ujung jalan. Tinggalkan saja beberapa tail untuk pembayaran kamar dan makanan," katanya.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya. "Cayhe sudah mengerti.".

"Dan jendela samping, ada dua cumah penduduk. Kau harus lewat tempat itu karena keadaannya iebih gelap Di sana ada sebuah gang kecil. Bila kau jalan terus maka akan menembus ujung jalan," kaia Ciok Ciu Lan menjelaskan Sekali lagi Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya. 'Cayhe sudah mengingalnya".

Ciok Ciu Lan membuka pmlu kamar dan keluar Yok Sau Cun merapatkan kembali pintu tersebut dan meniup lilin supaya padam Keadaan di dalam kamar itu gelap kembaii Dia naik ke alas tempat tidur tanpa berganti pakaian.

Yok Sau Cun adalah turunan lerpelajar Dia belum pernah menjadi Ya heng jin (Orang yang berjalan malam) Hatinya agak tegang Seperti mendapatkan mainan baru Lama sekali rasanya waktu berlaiu Tepat kenlungan pertama berbunyi, dia meloncat bangun Dan sakunya dia mengambil dua pecahan uang perak dan diletakkan di atas meja Dengan hati hati dia membuka Jendela samping Selelah melongok ke kiri dan kanan, dia melompali jendela tersebut Kemudian ia merapatkannya kembali.

Sejak kecil dia sudah berlatih silal. Ginkangnya tentu saja sudah cukup tinggi Dia hanya belum berpengalaman menjadi Ya heng jin. Dengan sigap dia meloncat ke atap rumah penduduk Langkah kakinya nngan sekali. Seperti sehelai daun yang tertiup angin dan hinggap di atas rumah orang. Dia turun kembali ketika melihat gang kecil yang disebutkan Ciok Ciu Lan tadi Dengan mengendap endap, dia berjalan terus Di u]ung jalan lerlihat sesosok bayangan tinggi kurus Bukankah itu Ciok Ciu Lan?.

Gadis itu juga sudah melihat kedatangannya Dia segera maju mendekati. "Apakah ada yang melihat dirimu?" tanyanya.

"Tidak'" sahut Yok Sau Cun tegas "Tadi ada sesosok bayangan yang muncul dari atap rumah seberang Aku hampir saja menduga dirimu Tapi dia mengambil arah utara Gerak tubuhnya sangat cepat Kemudian aku melihat kau rnuncul dari gang kecil itu, maka aku segera tahu bahwa yang tadi bukan engkau Ginkang orang itu sangat tinggi Entah dia melihat engkau tidak barusan'?" kata Ciok Ciu Lan.

"Rasanya tidak Waktu cayhe metewali gang kecil, tidak merasa adanya orang lain," sahut Yok Sau Cun.

"Untunglah... Mari kita berangkal sekarang," ajak Ciok Ciu Lan.

Mereka melangkah dengan tergesa-gesa Sebentar saja sudah sampai di bawah tembok perbatasan kota. Ciok Ciu Lan mengajak Yok Sau Cun ke tempat yang sepi.

"Man kita naik," katanya.

Kedua tangannya menempel di tembok. Dengan sigap merayap ke atas Jurus yang digunakannya adalah Cecak merayap Yok Sau Cun juga menempeikan kedua tangannya ke tembok itu Tapi dia menyalurkan lenaga ke telapak tangannya dan sekali hentak melayang meloncali tembok tersebut llmu yang digunakannya adalah Burung walel mencari sarang.

"Yok Siangkong, ginkangmu linggi seka li," kata Ciok Ciu Lan kagum. "llmu Ciok kouwnio juga luar biasa," sahut Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan melirik sambil tersenyum.

"Kalau dibandingkan dengan Yok Siangkong, masih terpaut jauh ".

Dia memberi isyarat dengan tanganny agar melanjutkan perjalanan Mereka melesat menuju luar kota.

"Dari sini Wi su kan hanya memerlukan waktu setengah kentungan. Umumnya Ya heng jin, dua ketungan sebelumnya sudah bergerak Lebih beik kita sampai di sana lebih dim, agar tidak kepergok orang lain Di depan gedung itu ada padang rumput yang luas. Tidak ada tempat untuk menyembu nyikan diri Di sana memang terdapst be nyak pohon Namun jaraknya terlalu jauh sehingga tidak dapat mengintai dengan je las Aku rasa, sebaiknya kita masuk dan laman belakang Tempat itu lebih sesuai un tuk pengintaian " kata Ciok Ciu Lan.

"Cayhe sudah menyatakan akan menurut apa kata Ciok kouwnio," sahut Yok Sau Cun.

Mata Ciok Ciu Lan yang bening menatapnya dengan penuh perhatian. Ada sinar ce merlang terpancar dari mala itu.

"Kata-kataku belum selesai Kedatangan kita malam ini hanya untuk menyelidiki Ja ngan sampai ada yang tahu Teriebihlebih jangan bergebrak dengan siapapun juga" katanya.

"Apakah cayhe ada tampang suka mencan keributan'?" tanya anak muda itu sambil tersenyum.

"Aku hanya mengingatkan bahwa kedatangan kita bukan untuk berkelahl," kata Ciok Ciu Lan sambil mencibirkan bibirnya.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya.

"Cayhe sudah tahu Man kita melanjulkan perjalanan," sahutnya.

Ciok Ciu Lan tersenyum sekilas dia melesat mendahului anak muda itu Yok Sau Cun mengikuti di belakangnya Dia juga segera mengerahkan ginkang Dua sosok bayangan bagai burung yang lerbang di malam hari Satu di depan satu lagi di belakang Tidak sampai setengah kentungan mereka sudah liba di Wi su kan.

Ciok Ciu Lan menghindan jalan besar Dia mengambil jalan kecil Selelah menempuh dua li Dia berhenti.

"Sudah sampai," katanya dengan nada berbisik.

" Mata Yok Sau Cun memandang ke depan Dalam kegelapan, samarsamar lerlihat gedung yang besar itu Jarak antara mereka dan gedung itu kirakira masih ada setengah li. Dengan pandangan mereka yang tajam, mereka dapat melihat tidak ada sedikit pun penerangan yang nyala di dalam gedung itu. Hati Yok Sau Cun Jadi curiga.

"Apakah kawanan penjahal itu benarbenar sudah pergi'? Mengapa tidak ada penerangan sama sekali?".

Ciok Ciu Lan menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada penerangan juslru menandakan bahwa mereka sudah mempunyai ren cana lertentu," sahutnya.

"Apakah mereka sudah menduga kalau kita akan datang kembali malam harinya'?" tanya Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan tertawa kecil.

"Apa yang mereka persiapkan bukan untuk menghadapi kita. Mari. tempat ini tidak aman kalau berdiam terlalu lama," sahutnya.

Dia mengajak Yok Sau Cun mengikutinya Mereka menghindan pintu depan. Dengan mengambil arah berputar, mer'eka tiba di laman belakang. Jaraknya memang belum terlalu dekat. Kebetulan di sana banyak terdapat pohon buah Karena hari gelap dan daun-daun pohon itu sangat rimbun Maka tidak mudah kepergok orang Ci0k Ciu Lan memberi isyarat dengan tangan Sekejap kemudian mereka sudah menyelinap di dalam hutan buah itu.

Yok Sau Cun melihat Ciok Ciu Lan sangat berhati-hati Dia berjalan dengan mengendapendap Ditelusurmya pohon pohon yang lebat agar bayangannya tidakterpantui oleh cahaya rembulan Kirakira setengah )alan, Ci0k Ciu Lan menghentikan langkah kakinya.

"Jarak dan sini ke taman belakang gedung itu tidak terlalu jauh Kita menunggu dulu sejenak baru menyelinap kesana ," katanya.

Yok Sau Cun tidak berani terlalu besar hati melihat sikap Ciok Ciu Lan yang demikian waspada Dia melangkah maju beberapa tindak Dia juga menghindari tempat yang dapat memantulkan bayangannya Di arahkannya pandangan ke depan Di bagian luar hutan buah merupakanpadang rumput Tembok belakang taman itu sangat tinggi bagai sebuah benteng yang kokoh. Kecuali suara jangkrik, hanya kesenyapan yang menyelimuti suasana sekitar.

Tiba-tiba hatinya tergetar, telmganya menangkap suara sayup sayup percakapan dua orang manusia Tidak lama kemudian menyusul tubuh yang nngan melayang turun di tengah hutan buah Perlu diketahui bah wa sejak kecil dia sudah berlatih Iwekang aliran murni Walaupun sedikit suara atau gerakan sa)a Panca mderanya segera akan membenkan reaksi Cuma sa)a dirinya sen diri tidak menduga kalau Iwekang yang dimilikinya telah mencapai tahap sedemikian tinggi. Begitu perasaannya tergugah, dia segera menjawil lengan baju Ci0k Ciu Lan. "Cepat menunduk! Ada orang datang," katanya.

Ciok Ciu Lan sama sekali tidak mendengarapaapa Hatinya merasaheran Namun dia menuruti juga permintaan anak muda itu.

Dalam waktu sekejap saja, terdengar suara "Sret'" Yang nngan Sesosok bayangan melayang turun. Jaraknya tiga depa dengan mereka.

Dalam kegelapan. tampak orang itu bertubuh pendek kecil Kepalanya memakai kopiah warna hitam, pakaiannya seperti seOrang tosu Warnanya hitam pula. Di punggungnya terselip sebatang pedang panjang Tangannya menggenggam sebuah tasbih berwarna putih berkilauan, Melihat gerakannya ketika melayang turun tadi Kecepatannya bagai petir yang menyambar Mereka dapat menduga bahwa ilmu silat orang itu pasti sangat tinggi Tapi penampilannya menunjukkan dia bukan orang baik- baik.

Baru saja orang itu melayang turun, di belakangnya menyusul sesosok bayangan kurus meioncat ke sisinya Tubuh orang yang kedua ini tinggi kurus,.

"Suhu .!" panggil orang yang kedua.

Rupanya suara orang ini yang tadi menggetarkan hati Yok Sau Cun Begitu dia membuka mulut, Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan segera mengenalinya. Dia adalah pemuda berwajah hitam yang ada di kedai makan milik Houw jiau Sun tempo hari.

Orang yang berpakaian itu bersiehem sekali. "Murid.,. apakah gedung Ini yang kau katakan'?". "BetuI Gedung besar ini," sahut anak muda itu.

"Kau mengatakan bahwa Hek Houw Sin Cao Kuang Tu )uga menaruh hormat ketika bertemu dengan bocah she Tiong itu?" tanyanya kembali.

Anak muda berwajah hitam itu mengiakan kembali. "Aneh sekali Siapa sebetulnya gadis itu'?". "Apakah Suhu juga tidak tahu'?".

Orang berpakaian hitam itu tertawa terkekehkekeh.

"Suhu toh tidak melihat orangnya, bagaimana bisa mengenah? Tetapi kalau dia berhasil menawan Hui taihiap, tampaknya ilmu silatnya tinggi juga," katanya.

Hati Yok Sau Cun tergetar. Diam-diam dia berpikir dalam hati. "Bukankah Hui taihiap itu ayah dan Hui fei Cin sio cia'?". "BetuI" Terdengar sahutan dari mulut anak muda itu "Bahkan dia hanya menggunakan tiga jurus untuk melumpuhkannya ".

Sekali Yok Sau Cun terkejut.

"Ayah Hui fei Cin siocia adalah seorang tokoh dunia persilatan temanteman dunia kangouw men)ulukinya Wi yang taihiap Tetapi dia berhasil dikalahkan oleh tiong kouwnio dalam tiga jurus saja Kalau memang benar, Jmu manusia she Yu yang menitipkan .surat kepadanya untuK disampaikan kepada Song lo ya cu lebih mengerikan lagi ' katanya dalam hati.

"Suhu, apakah kita perlu masuk ke dalam?" tanya anak muda itu.

"Kita toh sudah sampai di sini tentu saja harus masuk ke dalam " sahut orang tua berpakaian hitam itu.

Dia segera mengedarkan pandangannya ke gedung besar tersebut. "Muridku, mari kita masuk " ajaknya.

Baru saja perkataannya selesai tanpa ada gerakan sedikit pun, tubuhnya mencelat hinggap di atas tembok gedung itu dan , menghilang Pemuda berwajah hitam itu mengikuti di belakang suhunya. Namun ilmu meringankan tubuhnya masih terpaut jauh.

Ketika melesat meninggalkan tempat itu terdengar suara gemerisik rumput yang diinjaknya.

Ciok Ciu Lan memandangi kedua orang itu sampai menghilang di balik tembok gedung tersebut.

"Yok Siangkong, tahukah kau siapa Hek pao tojin (Pendeta berpakaian hitam) itu?" tanyanya.

"Cayhe belum pernah berkelana di dunia kangouw, mana mungkin bisa tahu siapa orang itu? Kalau mendengar dan nada bicara Ciok Kouwnio tampaknya tojin itu mempunyai nama besar" sahut Yok Sad Cun.

'Dia bernama Hek I cun yang (Penggapai matahan berpakaian hitam) Nama aslinya Kongsun Kian Oh ya pemuda berwajah hitam tadi bukankah anak muda yang pernah bertemu dengan kita di Kwa ciu? Waktu itu kita masih belum tahu asatusulnya Ternyata dia merupakan anak mund Hek t cun yang Berarti dia yang disebut Hek hai ji (Bocah hitam)" kata Ciok Ciu Lan.

"Apakah kita juga ikut masuk sekarang?" tanya Yok Sau Cun.

"Tampaknya kau begitu ingin masuk ke dalam. Sebetulnya ada tokoh yang berilmu demikian tinggi seperti Hek I cun yang, yang mewakiii kita menyelidiki keadaan di dalam dan kita menunggu hasil di sini, merupakan jalan pemecahan yang terbaik " kata Cio Ciu Lan.

"Kita bersembunyi di sini sedangkan di hadapan kita ada tembok tinggi sebagai penghalang. Apa yang terjadi di dalam tidak kita ketahui Kalau kita menyelinap ke gunung buatan yang kita datangi kemann, pasti bisa melihat segalanya dengan jelas Lagipula di sana banyak pohon siong yang menutupf diri kita sehingga tidak mungkin kepergok orang lain," sahut Yok Sau Cun.

Ciok Ciu Lan merapikan rambutnya yang tergerai.

"Kalau kau memang mendesak ingin masuk Marii" sahutnya. "Biar cayhe yang jalan di depan," kata Yok Sau Cun.

Dengan gerakan ringan, dia segera menyelinap keluar dan hutan buah tersebut Kakinya dihentakkan, tubuhnya melayang ke atas tembok tanpa suara sedikit pun Kemudian dia meloncat ke gunung buatan tersebut. ilmu menngankan tubuh Ciok Ciu Lan tidak setinggi Yok Sau Cun Dia harus me nutui tiga kali baru sampai di belakangnya.

"Yok Siangkong, cepat kemari' panggilnya. Yok Sau Cun menghampirinya.

"Gunung buatan ini lebih tinggi dari tembok gedung itu Memang semua pemandangan dalam taman dapat terlihat jelas namun tempat ini juga paling dicurigai orang. Lebih baik kita can tempat persembunyian yang lain saja '.

Yok Sau Cun menganggukkan kepalanya Mereka mengendap endap sekitar tempat itu Akhirnya mereka menemukan sebuah batu besar yang terhalang oleh pohon pohon yang nmbun Tempat itu pas untuk dua orang sa|a dan mereka dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas dan batu ter sebut.

Jangan kata saat itu tengah malam, dan keadaan sekitar sangat gelap Biar pun siang hari juga susah ditemukan Orang Belum lama kedua orang itu berjongkok menyembunyikan diri, tiba tiba terdengar suara.

"Srseet! Sesosok bayangan entah melayang turun dan sebelah mana, persis hinggap di alas gunung buatan.

Otak Ciok Ciu Lan bekerja dengan cepat. Dia menarik Yok Sau Cun agar menunduk kan kepalanya Pemuda itu menurut Hatinya kagum sekali kepada kesigapan gadis itu.

"Untung saja Ciok kouwnio tadi memper ingatkan Tampaknya gunung buatan itu mempunyat fungsi yang banyak Kalau kami tadi tidak segera menemukan tempat ini, pasti sudah kepergok oleh orang ' katanya dalam hati.

Tempat persembunyian mereka memang sangat sempit Begitu keduanya menundukkan kepala wajah mereka )adi saiing menempe! Seumur hidupnya Yok Sau Cun be lum pernah berdekatan dengan perempuan Hatinya berdebar debar Dia dapat mencium harum yang terpancar dan rambut Ciok Ciu Lan Perasaannya melayanglayang Hampir saja dia lupa bahwa di dekat gunung buatan itu ada seseorang yang entah kawan atau lawan.

Ya heng jin itu tampaknya tidak mengetahui ada dua orang yang sedang menyembunyikan diri di batik batu besar itu Dia memandang sekitarnya sekilas lalu melon cat menurum gunung.

Ciok Ciu Lan mengangkat kepalanya memperhatikan orang tersebut Kelihatan nya orang itu bertubuh sedang Di pung gungnya terseiip sebatang pedang panjang Dia tecus menurum bagian aliran sungai Tiba-tiba tangannya terangkst ke atas dan menepuk satu kali Kemuoian dia melesat dan menghilang dalam kegelapan.

Tepa! pada saat itu dan bagian kin dan Ranan gunung buatan meloncat ketuar dua orang Mereka segera mengikuti orang per tama tadi dan juga menghilang dalam hutan kecil Karena keadaan sangat gelap Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan tidak sempat melihat wajah kedua orang itu Namun dan caranya yang melongok ke kanan kin dan mengerahkan gmkang ketika melayang. tentunya tujuan mereka juga menyehdiki ge dung ini.

"llmu yang dimiliki tiga orang tadi cukup tmggi. Tampaknya orang yang menyatroni gedung ini tidak sedikit Juga," kata Ciok Ciu Lan.

Dia menolehkan kepalanya. Ketika itu, dia baru tersadar bahwa pipi mereka sangat dekat sehingga ketika menoleh sempat saling menyentuh sekilas Yok Sau Cun semakm terpesona. Natas Ciok Ciu Lan yang harum menerpa hidungnya, membuat hatinya semakin berdegupdegup Gadis itu malu sekafi, dia segera menolehkan wajahnya kembali.

Yok Sau Cun sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakannya Sampai wajah gadis itu berpaling kembali dia baru sadar Wajahnya yang tampan menjadi merah pa dam seketika.

"Ciok kouwnio apa yang kau katakan?" tanyanya.

"Aku sedang berbicara kepadamu, pikiranmu sendiri melayang ke mana?".

"Cayhe cayhe sedang berpikir. apakah kita perlu masuk ke dalam'?" sahut Yok Sau. Cun gugup.

"Kau lihat keadaan dalam taman sunyi senyap, sedikit gerakan pun tidak ada Kalau apa yang kuterka tidak salah, kemungkinan besar sejak tadi dalam kegelapan sudah ada yang mengintai," kata Ciok Ciu Lan sambil mencibir.

Tepat pada saat itu, terlihat dua titik sinar melayang di kejaunan Perlu diketahui, bagi seorang yang melatih ilmu silat, diperlukan mata Ya heng jin, yaitu dapat melihat jauh meski dalam kegelapan Sekarang tiba-tiba ada dua titik sinar, tentu saja makin kentara.

Ternyata yang terlihat itu adalah dua buah lentera. Tentunya ada orang yang menenteng Lentera itu berjumlah dua buah Dapat dipastikan orang yang datang berjumlah dua Yok Sau Cun menaiamkan matanya Dan kejauhan terlihat langkah mereka yang gemulai Pemuda itu dapat memastikan bah wa yang datang adalah dua orang gadis.

"Ciok kouwnio. kedua orang yang menenteng lentera itu adalah anak gadis," katanya.

Iwekang Ciok Ciu Lan lebih cetek Dia baru dapat menangkap dua titik sinar saia Belum terlihat bayangan manusianya.

"Tampaknya kedua gadis itu menuju kemari Kemungkinan besar mereka adalah pe layan Tiong kouwnio itu Hitung hitung kedatangan kita malam ini tidak sia sia juga," sahutnya.

Kedua lentera Itu menembus jalan setapak di antara pepohonan. Terkadang cahayanya bergoyanggoyang karena tiupan angin. Terkadang menghilang sejenak dalam nmbunnya pohon tetapi makin lama makin mendekat.

Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah sampai di bagian aliran air Kali ini Ciok Ciu Lan dapat melihat dengan jelas. Ternyata yang membawa lentera adalah dua orang gadis yang mengenakan rok pendek. Mereka beqalan berdampingan Tangan yang satunya membawa lentera Sedangkan tangan yang lainnya membawa sebuah keranjang Entah apa isi keranjang tersebut Sekarang mereka sudah sampai di atas jembatan.

"Rasanya tujuan mereka tidak mungkin gunung buatan itu," kata Ciok Ciu Lan sambii menggefengkan kepalanya.

"Aneh .. orang yang pertama tama masuk ke taman ini adalah Hek i tojin dan mundnya Mengapa mereka tidak terlihat lagi?".

"Kalau sampai saat inl mereka belum menunjukkan diri, kemungkinan besar mereka fuga sedang bersembunyi," sahut Ciok Ciu Lan.

Kedua gadis itu menuruni jembatan Mereka berhenti di tempat itu. Lentera yang mereka bawa digantungkan di atas ranting pohon. Keranjangnya juga diletakkan di tanah Seteiah itu, mereka mengeluarkan sebuah kam lap dan membersihkan meja per segi yang terdapat di samping jembatan Seteiah itu mereka membuka keranjang yang terletak di tanah Yang seorang mengeluarkan sebuah teko terbuat dan emas dan beberapa cawan dari bahan yang sama Juga beberapa macam peralatan makan se perti sumpit mangkok dan yang lainlam Gadis yang satunya lagi mengeluarkan se buah tempat pedupaan Dia meletakkannya di sisi jembatan dan dinyalakannya Sekejap saja sudah tercium harum yang menyegarkan. Ciok Ciu Lan tertawa dingin.

"Gadis yang bernama Tiong kouwnio ini sungguh banyak lagaknya".

Pada saat itu. lubang gua yang kemann mereka periksa muncul dua buah lentera iagi Namun langkah kaki kedua orang ini lebih cepat dari yang tadi Dalam waktu seke)ap saja mereka sudah tiba di sisi jembatan. Yang membawa lentera itu juga dua orang gadis Yang satunya membawa sebatang pedang, sedangkan gadis yang lainnya membawa sebuah kurungan minp kandang, Di belakang mereka terlihat seorang gadis yang )uga mengenakan rok pendek Langkahnya anggun sekali.

'Dialah Tiong kouwnio," bisik Yok Sau Cun.

Di belakang Tiong kouwnio masih ada seorang nenek tua renta yang berjalan dengan pinggang membungkuk. Siapa lagi kalau bukan Hu toanio.

Kedua gadis yang berjalan dimuka segera menggantungkan lentera yang dibawa mereka Suasana )adi terang dan semarak dengan adanya keempat lentera tersebut. Ditambah lagi beberapa gadis yang sibuk kian keman membuet pemandangan itu bagaikan sebuah lukisan hidup Tiong kouwnio dengan langkah lemah gemulai berfalan ke sisi )embatan. Dia duduk di atas sebuah kursi yang telah tersedia di sana. Gadis yang membawa sebuah kurungan segera menghampiri Tiong kouwnio Dia membuka ku rungan tersebut Isinya ternyata sebuah harpa besar.

Kedua orang yang sedang bersembunyi itu sampai termangu mangu Aneh sekali Seumur hidupnya belum pernah mereka melihat orang membawa harpa dalam kurungan seperti kandang itu Gadis itu meletakkan harpa tersebut di samping Tiong kouwnio Ciok Ciu Lan memperhatikan gadis itu Usia nya pasti tidak lebih dan duapuluh Begitu tafsirannya Alisnya berbentuk indah namun agak tipis Raut wa)ahnya cantik )elita Sayangnya mimik wajah itu terlalu kaku dan dingira Gadis itu bagaikan putri es yang rupawan.

"Sudah terang komplotan penjahat lagaknya dibuat seperti putri kaum terpelajar Memetik harpa menikmati malam Thian justru tidak mengabulkan Malam ini tidak berbintang bahkan gelap bagai kuburan " pikir Ciok Ciu Lan dalam hati.

Tapi, meskipun malam tidak berbintang dan suasana gelap. Apalagi kalau tidak ada lentera yang dibawa para gadis pelayan itu, Tiong kouwnio tampaknya sangat menikmati keindahan malam Dia mengangkat harpa tersebut dan diletakkan di pangkuannya.

"Tingi Tengi Tong!" Dia menjentikkan jarinya yang halus di atas senar harpa itu. Memang umumnya kalau seseorang ingin memamkan harpa, mereka pasti menyesuaikan nadanya terlebih dahulu Namun bunyi yang dijentikan oleh )ari Tiong kouwnio itu bukan hanya penyesuaian nada sebab bagi telinga Ciok Ciu Lan terasa bagaikan petir yang menyambar.

Tidak' Masih lumayan kalau suara petir menyambar Suara harpa ini membuat hatinya berdegupdegup Keringat dmgin mengucur Serta kepalanya berat bagai dibebani sebuah batu yangbesar Yok Sau Cun terkejut Dia segera mengulurkan tangan memapahnya.

“Ciok kouwnio, apa yang terjadi'?".

Tangan Ciok Ciu Lan mendekap dadanya Matanya berkerut kerut. "Yok Siangkong, suara harpa ini aneh sekali," sahutnya. 'Bagaimana anehnya?" tanya Yok Sau Cun.

"Apakah kau tidak merasakannya?" Ciok Ciu Lan malah baUk bertanya. "Tidak. Sebetulnya apa yang terjadi dengan dirimu?".

"Ketika mendengar dentingan harpa itu, jantungku berdebar-debar, kepalaku berat sekali ..." Nafasnya makin terengah-engah.

Belum lagi nada bicaranya selesai, di samping jembatan terdengar lagi suara.

"Ting! Tengi Tong!" Tubuh Ciok Ciu Lan bergetar. Wajahnya pucat pasi Kedua ta ngannya cepatcepat ditutupkan ke telinga.

"Celaka sua… ara harpa ini ada… lah semacam ilmu sesat yang . " Beberapa patah kata ini dmcapkan nya dengan susah payah Tubuhnya jatuh terkulai.

Yok Sau Cun panik sekali Dia tidak per dulikan lagi perbedaan antara laki-laki dan perempuan Dengan tangan gemetar dia me meluk tubuh Ciok Ciu Lan.

"Berusahalah untuk tenang Sebetulnya apa yang terjadi?" tanyanya cemas.

Suara harpa tetap berbunyi, memperdengarkan irama yang indah Yok Sau Cun tidak mengerti Nafas Ciok Ciu Lan makin memburu. Matanya bahkan mendelik ke atas.

Keempat anggota tubuhnya menggelepargelepar, seperti seorang yang terkena racun jahat. Yok Sau Cun memeluknya semakin erat Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tiba- tiba otaknya bekerja Suatu ingatan terlintas di benaknya Dia segera mengulurkan tangan dan ditempelkan di punggung Ciok Ciu Lan Disalurkannya hawa murni ke tubuh gadis itu Ternyata cara ini sangat ampuh. Ciok Ciu Lan bagaikan baru terbebas dari penyakft yang parah Nafasnya mulai teratur Matanya tidak mendeffk lagi Kaki dan tangannya juga melemah perlahan Dia menarik natas dalam dalam.

"Terima kasih Kalau kau tidak segera menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhku, kemungkinan besar jantungku akan tergetar putus oleh irama itu ".

"Begitu gawaP Kalau demikian mengapa cayhe tidak merasakan apa pun?" tanya Yok Sau Cun heran.

Tepat pada saat itu, terdengar suara.

"Sreettt!!'"Sesosok tubuh melayangturun di dekat jembatan.

"Perempuan rendah! Apakah kau masih belum mau berhenti?" bentaknya.

Sesosok bayangan yang melayang turun itu ternyata laki-laki pendek kecil yang bernama Hek i tojin Di tangan kanannya tergenggam sebuah tasbih. Sedangkan tangan kirinya mencekal seseorang. Rupanya pemuda berwajah hitam itu. Nafasnya sedang tersengalsengal Orangnya sudah tidak sadar. Suara harpa sudah berhenti Mata Tiong kouwnio yang bening itu menyipit. "Hu popo coba kau lihat, siapa yang mengganggu kesenangan kita".

Hu toanio mengiakan Dia segera melangkah mendekati jembatan Terangterangan dia sudah melihat Hek i tojin tapi sengaja seperti tidak melihat.

"Tiong kouwnio sedang memainkan harpa. Siapa yang datang mengganggu?" teriaknya lantang.

Hek i tojin menggeletakkan mundnya di etas tanah Dia menekan sekejap bagian punggungnya Setelah mundnya dapat berdiri dengan tegak, dia mengeluarkan suara tawa tergelakgelak.

"Lohu!" sahutnya.

Pakaian yang dikenakannya adalah pa kaian tojin Tapi dia menyebut dirinya sen diri. 'Lohu'. Rasanya sangat tidak sesuai Hu toanio melinknya sekilas.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya ketus. Sinar mata Hek i tOJin bagai kilat yang menyambar.

"Kau adalah perempuan siluman, Hu toanio He he Apakah kau tidak mengenali Lohu lagi?".

Hu toanio terlawa sumbang.

"Kaum keroco di dunia Bulim ini sudah banyak yang pernah kulihat Mana mungkin aku mengingatnya satu persatu?".

Ciok Ciu Lan telap bersandar di dada Yok Sau Cun Dia berkata dengan suara rendah.

"Hu toanio berani bicara tidak sopan kepada Hek i tojin pasti karena ada Tiong kouwmo sebagai tulang punggung Kalau tidak, biar pun dia mempunyai nyali sebesar gunung juga harus berpikir tiga kali dulu " katanya.

Mata Hek i tojin semakin tajam.

"Hu pocu, kau berani bicara dengan nada demikian kepada Lohu Biar lohu memberi pelajaran kepadamu ".

Lengan bajunya dikibaskan Suaranya se perti angin topan menerjang ke arah Hu toanio. Nenek itu tentu saja tidak berani menyambutnya Dia rnundur beberapa langkah de ngan kalang kabut Tepat pada saat itu, terlihat tangan Tiong kouwmo menyentil Tempat pedupaan yang terletak di sampingnya me mang sedang menyala, bahkan keharuman nya membuat perasaan segar Tampak bara api di dalam pedupaan itu melayang oleh sen tilannya. Dengan kecepatan yang mengagum kan melesat ke arah Hek i tojin. "Rupanya dia menyalakan pedupaan itu bukan hanya ingin rnencium baunya yang harum saia Dia dapat menggunakannya sebagai sen|ata rahasia".

Hek i tojin tentu tahu kelihaian serangan itu Dia segera menarik kembali lengan ba|u nya Ketika itu bara api sudah hampir men capai dirinya Dia mengulurkan tangan kiri nya dan mengibas sekali lagi Sedangkan tangan kanannya mencekal leher muridnya dan meloncat rnundur beberapa tmdak Hu toanio segera kernbali ke samping meja majikannya.

"Hu popo siapa orang ini?" tanya Tiong kouwnio.

"Menjawab pertanyaan kouwnio, orang ini mendapat sebutan Hek i tojin Nama aslinya Kongsun Kian." sahut Hu toanio dengan tubuh membungkuk.

"Bagaimana dengan asal usulnya?" tanya gadis itu kembali.

"Menurut centa yang tersebar dia berasal dari Pak hai, kemudian pindah... pindah. ke

..".

"Tidak usah dilanjutkan lagi Dia menamakan dirinya sendiri Hek i t0(in Cukup me menuhl syarat perguruan kami " tuk Tiong kouwnio.

Hu toanio tertawa lebar.