Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 20

Jilid 20

SESAAT dara yang cacad sepasang kakinya itu menjadi terdiam akan tetapi kemudian dia  dapat tenangkan diri, bahkan dia memikirkan suatu siasat karena adanya undangan dari pemuda Lie Cong Liang untuk dia singgah dirumahnya pemuda itu.

Dilain pihak, pada mulanya Lie Cong Liang ikut menjadi terkejut, waktu dia melihat  perobahan wajah  muka dan pandangan mata dara yang cacad sepasang kakinya itu, akan tetapi disaat berikutnya dia perlihatkan wajah girang, waktu Tang Lan Hua menyatakan kesediaannya memenuhi undangannya. "Apakah kau tidak merasa malu,  berjalan dengan seorang perempuan yang cacad sepasang kakinya.....?" tanya Tang Lan Hua, sebab waktu dilain saat mereka jalan berdampingan, dilihatnya Lie Cong Liang sangat girang sehingga wajah  mukanya berseri seri, di tengah banyaknya orang orang yang mengawasi bahkan ada yang menyapa karena mengenal dengan pemuda itu.

'Kenapa kouwnio berkata begitu. ?' sahut Lie Cong Liang

sambil dia mengawasi dara yang cacad sepasang kakinya itu, yang sedang jalan disisinya, disaat dara cacad itu juga sedang mengawasi dirinya, akan tetapi hilang senyum Lie Cong Liang yang kelihatannya seperti kecewa mendengar pertanyaan dara cacad itu tadi.

Sementara itu, Tang Lan Hua  memberikan  jawabannya juga tanpa dia menyertai senyumnya.

"Karena sudah biasa terjadi, bahwa orang orang akan mengejek kalau melihat seorang perempuan cacad "

"Hendaknya kouwnio jangan beranggapan bahwa semua orang berpendirian seperti itu…' sahut Lie Cong Liang, tegas pada suaranya dan tetap tanpa dia menyertai senyumnya, akan tetapi jawaban pemuda ini, justru membikin Tang Lan Hua jadi semakin tambah memikir, namun pada saat itu dia tidak mengucap apa apa.

Waktu sudah tiba dirumahnya pemuda itu, atau tepatnya rumahnya Lie Bok Seng yang menjadi musuhnya, maka Tang Lan Hua melihat betapa besar dan indahnya rumah itu sedangkan dibagian luar dari pintu halaman terdapat beberapa orang laki laki berpakaian serba ringkas, dan mereka ternyata ditugaskan untuk menyambut kedatangan tamu yang memang sudah banyak berdatangan. Orang orang itu menyambut dengan perlihatkan sikap hormat dan ramah,  begitu  juga waktu mereka melihat kedatangan pemuda Lie Cong Liang meskipun didalam hati mereka merasa heran; karena majikan muda itu datang dengan mengajak seorang perempuan muda yang cacad sepasang kakinya.

Pemuda Lie Cong Liang bersenyum dan mengajak Tang Lan Hua memasuki pekarangan rumahnya, sedangkan dara yang cacad sepasang kakinya itu mengikuti tanpa menghiraukan pandangan mata orang orang terhadap dirinya, dan disaat berikutnya, didalam halaman yang luas dan panjang  itu,  mereka berpapasan dengan empat orang laki laki  setengah tua.

‘Hey, Cong Liang; kau kemana saja?  Ayahmu  mencari  kau ' kata salah seorang dari ke empat orang laki laki itu.

Pemuda Lie Cong Liang menghentikan langkah kakinya; dia berbicara dengan mereka yang menyapa, sedangkan Tang Lan Hua melangkah terus, sampai dia melihat orang orang tidak memperhatikan dirinya. Lalu secara tiba tiba dia lompat melesat tinggi dan jauh, sehingga dalam sekejap dia sudah menghilang dari tempat Lie Cong Liang yang masih berbicara :

"Liong pekhu, aku perkenalkan kau pada seorang temanku yang baru….” akhirnya terdengar kata Lie  Cong Liang  sambil dia memutar tubuhnya, akan tetapi dia menjadi terpesona karena dia kehilangan dara cacad yang dia bawa tadi. “.. apakah di antara cuwie t idak ada yang melihat temanku yang jalan bersama aku tadi...?” tanya pemuda itu agak  gugup.

'Aku lihat dia berjalan terus....’ sahut salah seorang dari mereka yang diajak bicara; dan Lie Cong Liang lalu m inta diri, bergegas dia mencari Tang Lan Hua.

Dilain pihak, dara yang cacad sepasang kakinya itu telah  tiba dihalaman belakang dari rumahnya Lie Bok Seng, dimana dia melihat adanya kolam air yang lebar dan panjang, lalu terdapat sebuah jembatan penyeberangan yang indah, serta beberapa bangunan kecil semacam tempat beristirahat untuk memandangi keindahan sekitar tempat itu.

Disuatu persimpangan jalan, dengan mendadak Tang Lan Hua melompat keatas, lalu dengan bantuan tongkatnya dia bergelantungan pada tiang kaso, sedangkan dibagian bawah dilihatnya berjalan dua orang pelayan  sambil  mereka berbicara, dan kedua orang pelayan itu agaknya  sedang merasa kesal dengan Nio Hoan Eng, yang katanya sebagai tamu telah berlaku galak dan rewel.

Mendengar pembicaraan dua orang pelayan itu, maka tiba tiba Tang Lan Hua lompat  turun. Tongkatnya memukul pingsan seorang pelayan, sedangkan yang seorang lagi dibikinnya rubuh terguling, untuk kemudian  dia ancam memakai ujung tongkatnya,

"Lekas katakan; dimana tempatnya tamu Nio Hoan Eng itu...!” bentak Tang Lan Hua, sambil dia sedikit menekan tongkatnya.

Dengan menahan rasa sakit, pelayan itu memberitahukan bahwa Nio Hoan Eng sedang beristirahat didalam kamarnya, dan pelayan itu lalu menunjuk kesuatu arah, sambil dia menjelaskan letak kamar Nio Hoan Eng.

Sekali lagi Tang Lan Hua memukul, membikin pelayan itu menjadi pingsan, lalu dengan tongkat itu juga dia singkirkan tubuh kedua pelayan itu, kesuatu sudut yang tidak mudah ditemui orang orang.

Kemudian dengan mengikuti petunjuk dari pelayan tadi, maka Tang Lan Hua berhasil menemui kamar Nio Hoan Eng lalu dia mengetuk perlahan pintu kamar yang ditutup.

Nio Hoan Eng menganggap si pelayan telah  datang  lagi, dari itu dengan hati kesal dia membentak dan mempersilahkan masuk, akan tetapi waktu dia melihat yang datang adalah seorang dara yang cacad sepasang kakinya, maka dia jadi berdiri terpesona tak kuasa mengucap apa apa.

Sementara itu Tang Lan Hua menutup lagi pintu  kamar yang tadi dia buka, lalu dengan langkah kaki tenang dan perlahan dia mendekati Nio Hoan Eng sedangkan pandangan- sepasang matanya perlihatkan sinar dendam, dan  dia terbayang lagi dengan peristiwa belasan tahun yang lampau, waktu ayahnya kena pisau belati mengandung bisa racun yang dilepaskan oleh Nio Hoan Eng, sampai kemudian ayahnya menjadi tewas.

Setelah merasa sudah cukup dekat jarak terpisah mereka, maka Tang Lan Hua hentikan langkah kakinya. Untuk sejenak kedua orang itu saling mengawasi. Yang seorang mengawasi terpesona heran, dan yang seorang lagi mengawasi dengan sinar mata menyala menyimpan dendam. Setelah itu  Tang  Lang Hua melepaskan sebelah sarung pedangnya, yang sengaja dia lontarkan kesuatu sudut dari kamar itu.

"Nio Hoan Eng ! kau kenal apa ini......?” tanya dara yang cacad sepasang kakinya itu, dengan nada suara dingin menghina.

Sejak Tang Lan Hua melepaskan sarung tongkat yang istimewa, maka Nio Hoan Eng memang sudah terkejut karena dia melihat s inar hijau yang memantul dari pedang Ceng liong kiam, lalu dia menjadi lebih terkejut lagi, karena perempuan muda yang cacad sepasang kakinya itu dengan berani telah menyebut namanya, tanpa mengenal tata sopan.

"Siapa kau…..” akhirnya bentak Nio Hoan Eng  dengan geram dan penuh wibawa.

“Ha ha ha! bukankah sejak dulu kau mencari cari sepasang pedang Ceng liong kiam ini? Bukankah kau sudah membinasakan ayahku, melulu untuk merampas sepasang pedang ini ? Nah, aku adalah Tang Lan Hua, aku datang dengan membawakan kau sepasang pedang yang menjadi idaman hatimu !”

Memang dari Lie Bok Seng telah diketahui oleh Nio Hoan Eng bahwa Tang Han Cin mempunyai seorang  anak perempuan yang bernama Tang  Lan Hua.  Akan tetapi waktu itu Lie Bok Seng justeru memuji dan mengatakan Tang Lan Hua sebagai seorang anak yang cerdas lincah otaknya. Mengapa sekarang yang datang adalah seorang dara yang lumpuh sepasang kakinya ?

“Akan tetapi kakimu. ?” kata Nio Hoan Eng yang kelihatan

gugup karena heran.

“Hm, akibat kalian mengepung ayahku, maka hampir seharian penuh aku terendam air gunung yang dingin. Itulah sebabnya sepasang kakiku menjadi beku dan lumpuh. Akan tetapi, kalau waktu itu kalian sempat menemui aku, sudah tentu nyawaku yang kalian bikin lumpuh. ”

Sekali lagi Nio Hoan Eng menjadi terpesona, sehingga dia tak mampu mengucap apa apa; dan Tang Lan Hua yang meneruskan bicara :

“.... nah, sekarang kau siapkan senjatamu, untuk kau menerima kematianmu. ”

Bagaikan orang yang taat dengan suatu perintah dari atasannya, maka Nio Hoan Eng siapkan senjatanya yang berupa sepasang ruyung. “Awas, aku segera menyerang...” kata lagi Tang Lan Hua memperingatkan, lalu pedang ditangan kirinya yang masih berupa tongkat, menekan lantai membuat tubuhnya melayang menerkam sedangkan pedang ditangan kanannya dia pakai buat menabas batang leher musuhnya.

Sudah tentu Nio Hoan Eng  sangat memandang remeh terhadap seorang dara yang cacad sepasang kakinya. Dia menganggap remeh dengan ilmu s ilat Tang Lan Hua, yang dia anggap akan sia-sia mengantar kematian menghadapi dia, yang ilmunya sekarang telah mencapai batas kemampuannya.

Akan tetapi, dia sangat terkejut waktu melihat gerak yang pesat dari tubuh Tang Lan Hua, sehingga cepat cepat dia angkat ruyung yang ditangan kanannya, maksudnya dengan sekali hantam, akan tetapi dia lupa dengan pedang pusaka Ceng liong kiam, dari itu ruyung besi senjatanya  putus menjadi dua sedangkan pedang Ceng liong kiam  meluncur terus dan memutuskan batang lehernya.

Air mata Tang Lan Hua berlinang keluar selagi dia mengawasi tubuh Nio Hoan Eng, yang rebah tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya.

Tang Lan Hua menangis bukan buat Nio Hoan Eng, akan tetapi dia menangis karena didalam hati dia sedang bicara kepada ayahnya :

('ayah, seorang musuh sudah kubinasakan, semoga arwah ayah mulai tenang ,')

Dengan pedang Ceng liong kiam, kemudian Tang Lan Hua merobek baju Nio Hoan Eng dan dengan pedang itu juga dia menyontek kepala Nio Hoan Eng  yang lalu dia bungkus memakai baju Nio Hoan Eng atau dengan bagian rambut yang dia t idak bungkus, untuk memudahkan dia menenteng !

Dara yang cacad sepasang kakinya itu kemudian keluar meninggalkan kamar dengan langkah kaki yang perlahan dan tenang. Dia tiba lagi di taman yang terdapat kolam air, akan tetapi ditempat itu sekarang dia menemukan sepasang muda mudi yang sedang bertengkar. Sepasang muda  mudi  itu adalah Lie Cong Han, putera pertama dari Lie Bok Seng, bersama tunangannya, Kwee In Hong, puteri tunggal dari  Kwee Tian Peng.

Ikatan pertunangan sepasang muda mudi itu dilakukan oleh pihak orang tua mereka, yakni sejak keduanya masih merupakan kanak kanak. Dari itu seringkali terjadi  kedua muda mudi itu bertengkar, apalagi sifat manja dari Kwee In Hong yang bahkan berhati tamak. Akan tetapi, pada setiap pertengkaran, selalu berkesudahan pihak Lie Cong Han yang terpaksa harus mengalah, sebab pemuda itu takut dengan  ayah tunangannya, yang terkenal galak dan tinggi ilmunya, yang bahkan juga ditakuti oleh ayahnya Lie Cong Han, yakni Lie Bok Seng!

Demikian hari itu mereka bertengkar lagi, padahal kedatangan Kwee In Hong adalah untuk membantu persiapan pesta ulang tahun mertuanya, dan Kwee In Hong berangkat dari rumahnya dengan mengajak empat orang pengawal, sedangkan ayahnya katanya akan menyusul belakangan.

Kedua muda mudi yang sedang bertengkar  itu,  juga melihat kehadirannya dara yang cacad  sepasang  kakinya, yang mereka tidak kenal.

Pemuda Lie Cong Han yang menjadi tuan rumah mewakili ayahnya; merasa heran karena dia belum pernah  kenal dengan tamunya yang cacad sepasang kakinya itu, oleh karenanya dia lalu mendekati, memberi hormat dan menyapa, sedangkan dara yang cacad sepasang kakinya itu lalu berkata.

"Bukankah kau yang bernama Lie Cong Han,  putera pertama dari Lie Bok Seng, atau kakaknya Lie Cong Liang "

demikian kata Tang Lan Hua, yang tidak menghiraukan  Lie Cong Han berlaku ramah tamah, sebaliknya  dia bersuara dingin seperti mengejek. Kata kata dara yang cacad sepasang kakinya  itu  sudah tentu telah menambah rasa herannya Lie Cong Han, sebab dia tidak mengetahui bahwa adiknya telah bercerita kepada Tang Lan Hua.

"Kouwnio, bolehkah aku mengetahui nama kouwnio. ?”

akhirnya Lie Cong Han menanya.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu tidak langsung memberikan jawaban, sebaliknya  sepasang matanya  melirik dan mengawasi Kwee In Hong dengan pandangan sinar mengejek, setelah itu dia  berkata dengan nada suara  menghina :

“Kalau kau ingin mengetahui namaku, sebaiknya kau perintahkan dia pergi...” demikian kata Tang Lan Hua dan dengan 'dia', sudah tentu dimaksud Kwee In Hong, sehingga membikin dara manja itu menjadi marah marah, membanting sebelah kakinya di lantai, akan tetapi tak  sempat  dia mengucap apa apa, sebab Lie Cong Han yang mendahulukan bicara : "Kouwnio, apa sebab untuk memberitahukan namamu harus memerintahkan tunanganku pergi ?"

“Tunanganmu ? siapa kesudian menjadi tunanganmu. Sebaiknya kau usir perempuan cacad itu pergi.... !" setengah berteriak Kwee In Hong berkata, mendahului Tang Lan Hua untuk memberikan jawaban kepada Lie Cong Han.

Dalam keadaan biasa, Tang Lan Hua pasti akan menjadi marah kalau ada seseorang yang menyentuh soal cacadnya, akan tetapi pada saat itu, agaknya dia  sengaja hendak mengganggu Kwee In Hong yang manja, sehingga dia lalu berkata :

“Sebab namaku mempunyai hubungan yang erat dengan rahasia keluarga dengan ayahmu, dan mempunyai hubungan pula dengan sepasang pedang Ceng liong kiam ” "Ceng liong kiam....?” Lie Cong Han mengulang menyebut pedang pusaka itu, karena dia merasa terpesona, dan Kwee In Hong juga ikut jadi terpesona.

“Hong moay, sudikah kau memberi kesempatan buat kami bicara berdua ?” akhirnya Lie Cong Han berkata kepada tunangannya ketika dilihatnya dara yang cacad sepasang kakinya itu hanya manggut, dan setelah sejenak pemuda ini diam berpikir.

“Kurang ajar! kau berani mengusir aku melulu sebab kau tergoda oleh perempuan cacad itu..,?” kata Kwee In Hong bertambah marah, dan lagi lagi pula dia membanting sebelah kakinya dilantai, lalu dia menangis  akan tetapi dia  pergi membiarkan Lie Cong Han berada berdua dengan Tang Lan Hua.

Setelah tunangannya pergi, maka Lie Cong  Han menghadapi Tang Lan Hua dan dia langsung mulai mengajukan pertanyaan;

“Tadi kau mengatakan tentang sepasang pedang Ceng  liong kiam, tahukah kau dimana  adanya  sepasang  pedang itu. ?”

Mengenai pedang pusaka Ceng liong kiam, Lie Cong Han memang pernah mengetahui dari cerita ayahnya, sehingga dia menjadi terkejut waktu mendengar jawaban dara yang cacad sepasang kakinya itu:

“Disini.. “ demikian jawab Tang Lan Hua singkat  lalu sebelah tangannya bergerak ke atas dan meluncur sarung tongkatnya sementara yang dipegangnya sudah berganti ujud merupakan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar hijau terkena sinar matahari yang memantul.

Lie Cong Han menjadi sangat terpesona, akan tetapi dia sempat melihat sarung tongkat meluncur turun, dan kembali memasuki tempatnya yang semula. “Namaku adalah Tang Lan Hua,.." dara yang cacad sepasang kakinya itu memperkenalkan namanya, dan menyambung lagi perkataannya.

".. kau tentu sudah mendengar cerita  ayahmu  tentang kisah sepasang pedang Ceng liong kiam dan tentang tewasnya ayahku. Kedatanganku sekarang adalah  untuk membunuh ayahmu,..!”

Memang, dari ayahnya sudah diketahui oleh Lie Cong Han, tidak melulu soal pedang Ceng liong kiam, akan tetapi juga tentang hilangnya Tang Lan Hua dan sebagainya. Akan tetapi, sekarang dia melihat sepasang kaki dara  itu  cacad, sehingga dia lalu menanya dan Tang Lan Hua memberikan jawaban yang sama seperti yang dia berikan kepada Nio Hoan Eng.

"Akan tetapi, ayahku tidak ikut membunuh ayahmu. “

akhirnya terdengar kata Lie Cong Han, sedangkan didalam hati dia lagi berpikir, apakah mungkin seorang dara yang lumpuh sepasang kakinya, sanggup menghadapi ayahnya ?

“Hmm ! belasan tahun aku menderita menyimpan dendam, apakah dengan suatu perkataan dari kau, akan dapat menghapus rasa dendamku..... ?” sahut Tang Lan Hua, dingin nada suaranya dan sepasang sinar matanya seperti menyala.

Sejenak Lie Cong masih diam berpikir.  Tidak  sampai hatinya buat dia membiarkan dara cacad sepasang kakinya itu tewas atau menjadi cedera ditangan ayahnya, sebaliknya dia berusaha 'mengusir’ Tang Lan Hua pergi.

"Baik, kalau kau memaksa hendak bertemu dengan ayahku, lebih dulu kau harus melewati mayatku "

Sehabis dia berkata begitu, maka Lie Cong Han menyiapkan pedangnya, lalu dia menyerang dengan satu  tikaman ancaman, tidak menggunakan tenaga yang besar dan tikamannya sewaktu waktu dapat dia robah untuk mencari sasaran yang tidak membahayakan bagi Tang Lan Hua. Di pihak Tang Lan Hua, dara yang cacad sepasang kakinya ini juga dapat membedakan antara serangan dari seorang musuh yang ganas dan dari seorang musuh yang tidak bermaksud jelek terhadap dirinya, dari itu dia  juga tidak menggunakan tenaga yang besar  bahkan hanya dengan tongkatnya dia menangkis.  Akan tetapi, diluar dugaannya, pemuda itu terlempar terkena dorongan tangkisannya, bahkan Lie Cong Han terjatuh dengan mulut mengeluarkan darah!

Pemuda Lie Cong Han terkejut sehingga datang rasa penasarannya. Tadi dia tidak menggunakan tenaga yang besar; dan tidak pula dia siaga, sehingga dengan mudah dia dikalahkan. Dia  bangun  berdiri, sambil dia  membersihkan darah di mulutnya memakai lengan baju, setelah itu dia menyerang lagi dengan gerak yang sama, akan tetapi dengan menambah sebagian tenaganya.

Dara yang cacad sepasang kakinya ini dapat menduga bahwa pemuda itu pasti menambah tenaga  pada  serangannya; sebab pemuda itu tadi telah dijatuhkan, oleh karenanya Tang Lan Hua juga menambah sedikit tenaga pada tangkisannya, dan sekali lagi tubuh Lie Cong Han terlempar jatuh sementara pada mulutnya kembali telah mengeluarkan darah!

"Lie Cong Han, sia-sia kau melawan aku..!" kata dara yang cacad sepasang kakinya itu, sengaja dengan nada suara mengejek. Setelah itu dia  menambahkan  perkataannya dengan mengacungkan sebelah tangannya yang menenteng kepalanya Nio Hoan Eng.

“.....aku bahkan telah membinasakan Nio Hoan Eng. !”

Bagaikan disambar petir Lie Cong Han terkejut waktu mendengar perkataan itu. Akan tetapi tak mau dia mudah percaya; bahwa paman Nio Hoan Eng yang tinggi ilmunya, dapat dibinasakan oleh seorang dara yang cacad sepasang kakinya itu. Akan tetapi, tepat pada saat itu, dia mendengar teriak suara beberapa orang pelayan,  yang  mengatakan bahwa Nio Hoan Eng sudah binasa !

Di lain pihak, Tang Lan Hua juga sudah mendengar adanya langkah kaki dari banyak orang orang yang sedang mendatangi tempat itu, oleh karenanya dengan geraknya yang ringan dia cepat menghilang membikin Lie Cong Han lagi lagi harus berdiri terpesona dan kagum.

('kalau dia inginkan nyawaku, pasti aku sudah tewas ,.....

!’) pikir Lie Cong Han di dalam hati, lalu dia ikut mendatangi kamar Nio Hoan Eng dan dia meredakan suasana yang ribut.

Sementara itu Kwee In Hong bukan hanya  menjauhi diri dari Lie Cong Han berdua Tang Lan Hua, akan tetapi dia bahkan mengajak ke empat orang pengawalnya  untuk langsung meninggalkan kota Bok kee tin dan pulang ke rumah ayahnya, tanpa pamit kepada Lie Bok Seng atau kepada s iapa pun juga.

Ke 4 orang pengawalnya itu menjadi sangat heran, akan tetapi mereka memang sudah terbiasa dengan lagak manja Kwee In Hong dan mereka harus cepat cepat kaburkan kuda mereka, sebab Kwee In Hong sudah mendahulukan kabur.

Setelah terpisah jauh dengan perbatasan kota Bok kee tin, disuatu tikungan jalan yang sunyi rombongan Kwee In Hong berpapasan dengan rombongan Kwee Tian Peng yang hendak datang ke rumahnya Lie Bok Seng. Didalam rombongannya Kwee Tian Peng yang terdiri dari tujuh orang, terdapat Nio Hoan Houw atau adik kandung dari Nio Hoan Eng, yang sengaja datang ke rumah Kwee Tian Peng, membawa berita tentang tewasnya puteranya (Nio Beng Hui) ditangan seorang dara yang lumpuh sepasang kakinya dan yang katanya membawa sepasang pedang Ceng liong kiam !

Adanya Nio Hoan Houw mengetahui peristiwa tewasnya putranya, adalah karena dia telah kedatangan Kwan Seng  yang membawa mayatnya Nio Beng Hai, sebab waktu peristiwa itu terjadi ternyata Kwan Seng tidak tewas ditangan Ciam kauw s in kay Ciam Sun Ho, akan tetapi dia hanya rubuh terguling menderita luka lalu dia meramkan sepasang matanya pura pura mati, sehingga dia dapat mengintai dan mengikuti terus peristiwa yang berlangsung waktu itu. Setelah dara yang cacad sepasang kakinya itu menghilang, baru  dia  mendekati Nio Beng Hui, yang masih sempat memerintahkan Kwan Seng untuk menghubungi ayahnya (Nio Hoan Houw) buat memberitahukan semua kejadian itu.

Menjelang waktu fajar, Kwan Seng menguburkan mayat kakaknya, membiarkan mayat mayat Ciam Sun Ho berdua Coa Kim Hin, kemudian dia mengangkut jenazah Nio  Beng  Hui untuk dibawa kerumah Nio Hoan Houw dengan harapan dia akan mendapat hadiah.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya itu, dan setelah dia menerima hadiah dari Nio Hoan Houw, maka Kwan Seng hidup menjauhkan diri dari kalangan rimba persilatan, dengan memiliki sejumlah harta hasil curian yang dia lakukan bersama almarhum kakaknya.

Dipihak Nio Hoan Houw, dia langsung menghubungi kakaknya (Nio Hoan Eng) buat menyampaikan berita tentang tewasnya Nio Beng Hui, dan tentang munculnya Tang Lan Hua sebagai dara yang cacad sepasang kakinya, dan yang membawa-bawa sepasang pedang Ceng liong kiam. Tetapi Nio Hoan Houw tidak berhasil bertemu dengan Nio Hoan  Eng, yang katanya sudah berangkat ke rumahnya Lie Bok Seng, sehingga dia langsung menyusul dan ditengah  perjalanan  itu dia bertemu dengan rombongannya Kwee Tian Peng dan dia ikut didalam rombongan itu, sambil dia menceritakan semua peristiwa yang dia ketahui kepada Kwee Tian Peng.

Dilain pihak, Kwee Tian Peng jadi merasa heran ketika rombongannya bertemu dengan rombongan Kwee In Hong yang meninggalkan rumahnya Lie Bok Seng, orang tua ini bahkan terkejut, karena menduga telah terjadi sesuatu peristiwa dirumahnya Lie Bok Seng, akan tetapi kemudian tertawa setelah mendengar perihal adanya  pertengkaran antara Kwee In Hong dengan Lie Cong Han oleh karena dia sudah terbiasa dengan sikap manja dari puterinya. Namun demikian, dia  ikut  marah waktu  anaknya menambahkan keterangan bahwa pertengkaran mereka terjadi sebab  Lie Cong Han telah terpikat dengan seorang perempuan lain, yang katanya lebih cantik kalau dibanding dengan Kwee In Hong.

'Apakah Lie Bok Seng tidak mengetahui perbuatan anaknya...?’ tanya Kwee Tian Peng yang menjadi geram.

'Dia bahkan memihak pada anaknya......’ sebut Kwee ln Hong dengan lagak marah marah dan menangis, padahal tidak pernah dia mengucap apa apa pada calon ayah mertuanya.

Kwee Tian Peng ikut menjadi marah, dan dia  bahkan membatalkan niatnya yang hendak menghadiri pesta ulang tahun Lie Bok Seng, sebaliknya dia ajak semua rombongannya untuk pulang kerumahnya; membiarkan  Nio Hoan Houw sendirian yang terus menuju ke rumah Lie Bok Seng, buat menemui Nio Hoan Eng.

Andaikata Kwee In Hong berterus terang dihadapan ayahnya, atau setidaknya dia menambahkan perkataannya bahwa dara yang dia maksud, atau yang dikatakan cantik itu berkaki lumpuh, maka sudah pasti Kwee Tian Peng akan mendatangi rumahnya Lie Bok Seng, sebab dia tahu bahwa dara yang cacad sepasang kakinya itu sudah  pasti  adalah Tang Lan Hua dan ditangan Tang Lan Hua justeru terdapat sepasang pedang Ceng liong kiam, yang sudah lama menjadi idaman hatinya; namun tak dapat dia memilikinya.

Bagi Kwee ln Hong, dia juga sudah seringkali mendengar cerita dari ayahnya perihal adanya sepasang pedang  Ceng liong kiam yang merupakan suatu benda pusaka, dari itu dia ikut menjadi kaget waktu  dia  mendengar Tang Lan Hua menyebutkan nama pedang itu. Akan tetapi, pada waktu itu segala urusan apa pun juga, sudah dikalahkan dengan sifat manja dan pemarah, sehingga dia tidak mau perduli dengan urusan lain, dia bahkan bertekad hendak memutuskan atau membatalkan pertunangannya dengan Lie Cong Han, dan dia terbayang dengan waktu tunangannya itu bicara dengan Tang Lan Hua, yang membikin hatinya jadi bertambah panas.

Sementara itu, waktu Nio Hoan Houw tiba di rumahnya Lie Bok Seng, maka diketahui olehnya tentang sudah tewasnya kakaknya (Nio Hoan Eng) dan pada waktu itu orang orang sedang berkumpul membicarakan perihal Tang Lan Hua, atau anaknya Tang Han Cin, yang katanya sudah datang untuk melakukan balas dendam !

Dan Nio Hoan Houw kemudian  menambahkan  dengan berita tentang tewasnya puteranya (Nio Beng Hui),  dalam suatu pertempuran melawan Tang Lan Hua, dan dara yang cacad sepasang kakinya itu bahkan sudah mengalahkan dan membinasakan Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho dan si ular kepala dua Coa Kim Hin, yang menjadi kauwcu atau pimpinan orang orang golongan hitam.

Di lain pihak, pemuda Lie Cong Liang yang memang sudah pernah bertemu dengan Tang Lan Hua, akan tetapi belum pernah menyaksikan kesaktian  dara yang cacad sepasang kakinya itu maka dia  kelihatan menjadi ragu  ragu  meskipun dia tahu benar tentang kegagahan Nio Beng Hui yang menjadi saudara sepupunya, juga tentang kegagahan Ciam kauw sin kay Ciam Sun Ho dan si ular kepala dua  Coa Kim Hin. Sebaliknya pemuda ini tetap merasa iba bahkan dia te lah me- nanam benih cinta terhadap dara yang cacad  sepasang  kakinya itu !

“Kasihan, dia cacad pada sepasang kakinya …” terdengar kata Lie Bok Seng yang bahkan ikut merasa iba, bukan dendam, meskipun dia mengetahui kalau kedatangan  Tang Lan Hua adalah sebagai musuh yang hendak membunuh dia. Dan didalam lubuk hati orang tua ini,  dia justeru menjadi terkenang dan terbayang lagi dengan peristiwa belasan tahun yang lalu, waktu pertama kali dia bertemu dengan Tang Lan Hua, sampai terjadi Tang Han Cin tewas sehingga hal itu benar-benar sangat disesalkan oleh Lie Bok Seng. Untuk yang kesekian kalinya, orang tua ini bahkan menjadi teringat lagi, bahwa dahulu  sebenarnya dia sangat erat hubungannya dengan Tang Han Cin, yang seringkali bahu membahu menempuh bahaya. Melulu karena adanya sumpah persaudaraan, maka dia wajib melakukan apa yang sudah dia lakukan, yang pada mulanya  dia  anggap dapat damaikan urusan mereka. 

“Apakah tidak ada obat buat orang  yang  menderita penyakit lumpuh.....?” tiba tiba Lie Cong Liang ikut bicara; dan dia justru memikirkan derita penyakit dara yang cacad sepasang kakinya itu, bukan sebagai musuh. Di dalam hatinya Lie Cong Liang bahkan membayangkan, betapa penderitaan Tang Lan Hua yang sejak kecil sudah menjadi anak yatim dan cacad sepasang kakinya sehingga dia  sedang memikirkan suatu daya buat menemui dara cacad yang telah menambat hatinya itu.

“Obatnya ada…” sahut Lie Bok Seng  dengan  suara perlahan, akan tetapi jelas kelihatan pendiriannya bahwa dia lebih memikirkan kepentingan Tang Lan Hua dari pada nyawanya yang sedang diancam.

“Obat apakah itu ayah,..?” begitu cepat Lie Cong Liang mengajukan pertanyaan juga dengan penuh semangat. Agaknya dia mendapat harapan hendak menyembuhkan derita penyakit Tang Lan Hua dan sikap serta lagaknya yang manja itu, bukan tidak diketahui oleh ayahnya, bahkan juga oleh semua yang hadir, termasuk Lie Cong Han dan Nio  Hoan Houw.

“Obat untuk menyembuhkan penyakit lumpuh seperti yang diderita oleh Tang Lan Hua itu ada, akan tetapi sangat sukar diperoleh...” sahut Lie Bok Seng; tetap dengan suara perlahan seolah olah dia bicara pada dirinya sendiri. “Dimana dapat diperoleh obat itu, ayah ? biar aku yang mencarinya buat Tang kouwnio...” Lie Cong Liang yang bicara lagi, sebab dilihatnya ayahnya menunda bicara bahkan dengan perlihatkan muka muram.

“Obat itu tidak dapat diambil, anak Liang, akan tetapi harus didatangi sendiri oleh si-penderita, sedangkan letak tempat obat itu tidak pernah dapat dikunjungi oleh manusia..,!”

Lie Cong Liang ikut menjadi lesu dan bermuka muram, waktu didengarnya perkataan ayahnya itu, akan tetapi dia masih penasaran sehingga dia menanya lagi :

“Mengapa tempat  itu  tidak  dapat  dikunjungi  oleh manusia. ?”

Sejenak Lie Bok Seng mengawasi anaknya yang bungsu, sepasang matanya kelihatan hampa, akan tetapi dia berkata menjelaskan.

"Jauh diatas gunung Tiang Pek san yang tinggi menjulang ke angkasa, atau tepatnya dibagian puncak yang tertinggi dari gunung itu, lewat danau Tian tie yang jernih dan dingin airnya dipuncak gunung itu, tidak dikenal adanya beda musim. Sepanjang waktu tempat itu sangat dingin dipenuhi  hujan salju, meskipun matahari bersinar terik. Salju yang  cair terkena sinar matahari, berobah menjadi air dingin yang mengalir turun. Ada yang masuk kedalam danau Tian tie, dan ada yang berceceran tumpah ke berbagai jurang yang banyak terdapat diatas gunung Tang Pek san, sementara di beberapa tempat dipuncak yang tertinggi itu, banyak salju  yang mengeras menjadi es abadi, atau es yang tidak  pernah menjadi ca ir. Konon dari potongan potongan es abadi itu, ada yang berbentuk ruangan yang lebar dan luas  atau  dengan kata lain, ruangan yang seluruhnya  terbuat dari lapisan es abadi, sehingga kalau ada sesuatu makluk yang memasuki ruangan itu, maka makhluk itu akan membeku menjadi es abadi, atau makhluk itu akan mati terbungkus dengan  salju yang cepat sekali  membeku menjadi es abadi. Namun demikian ada sesuatu yang aneh didalam ruangan itu, yakni tentang adanya suatu mata air yang berhasil membikin suatu kolam kecil tempat menampung air itu. Dan mata  air  itu justeru merupakan suatu sumber air panas yang mengandung belirang, hingga disekitar kolam itu penuh dengan asap atau uap. Jadi kalau Tang Lan Hua bisa mencapai kolam sumber air panas itu dan merendamkan sepasang kakinya selama enam jam,dia pasti akan menjadi sembuh...„!”

“Akan tetapi sebelum Tang kouwnio mencapai  kolam  itu, dia akan mati beku kalau memasuki ruangan es abadi itu, begitu maksud ayah, bukan ,..?" tanya Lie Cong Liang, lesu suaranya, hilang harapannya.

Akan tetapi, sang ayah justeru memberikan jawaban yang diluar dugaan pemuda ini:

"Dia t idak mati beku didalam ruangan es abadi itu kalau dia memegang suatu benda mustika.. , " demikian kata Lie Bok Seng menyertai sedikit senyum, sebuah senyum hampa akan tetapi bercampur sedikit harapan!

“Benda mustika apakah itu, ayah,,, ?" tanya lagi Lie Cong Liang ikut mempunyai harapan, dan tidak sabar dia menunggu jawaban dari ayahnya.

“Benda mustika itu merupakan sebutir batu hitam  ‘ouw  liong ta’ yang sebenarnya adalah sebutir telur ular hitam yang besar merupai naga. Telur itu membeku tak mau menetas, mempunyai khas iat melawan hawa yang bagaimana pun dinginnya, dan setahu aku, benda mustika itu disimpan di istana Pangeran Gin Lun di kota San hay koan….”

Setelah mendengar cerita yang dibentangkan  oleh ayahnya; maka tak sudahnya Lie Cong Liang jadi  berpikir, sebab hasratnya membara hendak mengantar dara yang  cacad sepasang kakinya itu, berusaha mendapatkan  batu  hitam ouw liong ta untuk kemudian menempuh perjalanan menuju puncak gunung Tiang pek san. Ketika hari sudah menjadi ma lam, maka Lie Cong Liang mendatangi tempat Tang Lan Hua menginap, yakni pada sebuah kuil tua yang sudah tidak digunakan lagi, karena dara yang cacad sepasang kakinya itu  katanya  tidak  ingin bermalam disebuah rumah penginapan, untuk mencegah atau menghindar dari perhatian orang banyak.

Letak kuil tua itu diperbatasan luar kota Bok  kee  tin, disuatu tempat yang sunyi bahkan agak belukar, penuh dengan tanaman tanaman pohon besar yang tidak terawat,  dan tempat menginapnya itu hanya kepada pemuda Lie Cong Liang yang pernah Tang Lan Hua beritahukan. Lie Cong Liang mendapati kuil tua itu sangat sunyi keadaannya. Tiada seseorang yang dia temui, sebab Tang Lan Hua rupanya se- dang tidak berada didalam kuil tua itu.

Dengan bantuan s inar bulan yang memasuki dari pintu kuil yang sudah rusak, maka Lie Cong Liang melihat  adanya sebuah meja tua kotor penuh debu dan sarang laba laba, dan meja itu dahulunya dipakai untuk upacara sembahyang.

Diatas meja itu, pemuda Lie Cong Liang melihat adanya sebuah bungkusan berbentuk bundar serta sebuah  tempat abu jenazah dengan tulisan. Kemudian waktu Lie Cong Liang tambah mendekati tempat abu jenazah yang kecil berbentuk sebuah piala, maka pada tulisan itu dilihatnya tercantum nama Tang Han Cin, sehingga dia yakin bahwa  tempat abu jenazah itu adalah miliknya Tang Lan Hua, atau dara yang cacad sepasang kakinya dan yang memang dia hendak temukan. Sebelah tangan pemuda itu kemudian hendak menjamah bungkusan yang berbentuk bundar  itu, akan tetapi  dia menjadi terkejut karena tiba tiba mendengar bentak suara bernada bengis:

“Jangan sentuh bungkusan itu.. !”

Itulah suara Tang Lan Hua yang datang dengan membawa seberkas dengan bungkusan alat sembahyang. Dia  berdiri dengan bantuan tongkatnya yang istimewa, dan sinar sepasang matanya kelihatan menyala bagaikan orang sedang marah.

“Tang kouwnio, maafkan aku. Akan tetapi aku datang sengaja hendak menemui kau...” pemuda Lie Cong Liang berkata dengan suara lembut bukan bernada permusuhan.

“Menemui aku untuk mewakilkan ayahmu menerima kematian....?!” tanya Tang Lan Hua dingin dan bernada menghina suaranya.

"Bu,., kan. Aku datang sebagai seorang sahabat,,,"  sahut Lie Cong Liang agak gugup.

“Sahabat..... ?" ulang Tang Lan Hua seperti menggerutu akan tetapi dia menyudahi pembicaraan itu dan dengan lagak tak menghiraukan kehadirannya Lie Cong Liang, maka dara yang cacad sepasang kakinya itu  mendekati  meja sembahyang. Dibukanya bungkusan  yang dibawanya, yang ternyata berisi sepasang lilin dan sekedar  perlengkapan barang sembahyang, setelah itu dia  membuka  bungkusan yang berbentuk bundar, yang hampir disentuh oleh Lie Cong Liang tadi dan dilain saat diatas meja sembahyang itu membentang sebuah kepala manusia yang masih kelihatan berdarah membeku, dan kepala manusia itu justeru adalah kepalanya Nio Hoan Eng!

Pemuda Lie Cong Liang tidak menjadi terkejut ketika dia melihat isi bungkusan itu. Dia memang menduga sebab Nio Hoan Eng tewas dengan kepala hilang!

Pemuda Lie Cong Liang juga membiarkan waktu Tang Lan Hua melakukan upacara sembahyang seorang diri,  dan pemuda ini bahkan membiarkan dara yang cacad sepasang kakinya itu melampiaskan rasa sedihnya dengan suara isak tangisnya yang sangat mengharukan.

Setelah melihat Tang Lan Hua selesai dengan upacara sembahyang terhadap arwah ayahnya, maka  pemuda  Lie Cong Liang ikut memasang hio dan menyebut paman kepada arwah Tang Han Cin, lalu dengan s ikapnya yang ramah penuh rasa prihatin; pemuda Lie Cong Liang berhasil mengajak dara yang cacad sepasang kakinya itu bicara dan membujuk supaya Tang Lan Hua mau berangkat ke kota San hay koan buat mengusahakan batu hitam ouw liong ta untuk kemudian menuju keatas gunung Tiang Pek san berusaha menyembuhkan sepasang kakinya yang lumpuh. Untuk menempuh perjalanan yang jauh itu, pemuda Lie Cong Liang menyatakan kesediaannya buat mengantarkan.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu diam mendengarkan dengan penuh perhatian, akan tetapi pada waktu dia mendengar kesediaan pemuda itu mengantarkan dia, maka dengan sinar mata yang tajam tetapi penuh pertanyaan dia berkata :

“Kau sebagai puteranya salah seorang musuhku,  sudi mengantarkan dan membantu aku ?”

Lie Cong Liang  bersenyum.  Sebuah senyum penuh harapan

:

'Tang  kouwnio,  hatiku akan sangat  girang  kalau  kau bisa

menjadi sembuh. Lagipula dengan sepasang kakimu tidak cacad, akan lebih mudah buat kau mengalahkan supek Kwee Tian Peng. Sebab perlu kau ketahui, ilmu kepandaiannya jauh berbeda apabila dibanding dengan belasan tahun  yang  lalu. Dia bertambah lihay, sebab dia telah mendapat sebuah kitab ilmu silat Pat kwa to, karya seorang tosu sakti yang tewas karena sesuatu penyakit, waktu tosu itu singgah dirumah  Kwee supek…”

“Hmmm ! setelah sepasang kakiku sembuh, akan dengan mudah juga aku membinasakan ayahmu, begitu maksudmu..,..?” dara yang cacad kakinya itu berkata kembali bernada mengejek.

Lie Cong Liang terdiam dan terpesona  mendengar perkataan dara yang cacad sepasang kakinya itu, akan tetapi kemudian dia  berkata lagi dengan suara yang bertambah perlahan.

“Tetapi ayahku tidak ikut membinasakan Tang susiok,,,” “Hmmm.. !" sekali lagi Tang Lan Hua bersuara mengejek,

akan tetapi tanpa dia menambahkan dengan kata kata.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu merasa yakin bahwa pemuda yang dihadapinya itu telah mengetahui semua peristiwa melalui ayahnya. Sedangkan dia? maka sekali lagi tengah membayang dihadapan matanya tentang peristiwa belasan tahun yang lalu, waktu dia disembunyikan didalam sebuah saluran air yang berisi air gunung yang sangat dingin. Tubuhnya yang tidak tinggi sebagai seorang bocah berumur limabelas tahun, menyebabkan lain orang tak  dapat melihat  dia yang berada didalam saluran air itu meskipun dia berdiri dengan sepasang tangan memegang pedang Ceng liong kiam, sebaliknya dia dapat melihat lain orang, sehingga teringat dia waktu Lie Bok Seng bertiga dengan Kwee Tian Peng dan Nio Hoan Eng lewat didekat tempat dia disembunyikan. Waktu itu tubuhnya menjadi gemetar. Gemetar menahan rasa dingin, gemetar menahan rasa takut melihat wajah muka Nio Hoan  Eng dan Kwee Tian Peng yang sangat menyeramkan, dan gemetar menahan rasa marah karena merasa telah dibohongi oleh Lie Bok Seng, yang menjanjikan dia menonton latihan pertempuran ilmu silat yang hendak dilakukan oleh Lie  Bok Seng atau yang waktu  itu dia kenal sebagai si kelana, melawan ayahnya yang dia anggap sebagai seorang yang paling gagah dan yang paling baik dise luruh jagat!

"Besok pagi aku akan membeli dua ekor kuda, buat kita berangkat ke kota San hay koan, setelah itu kita menerobos daerah T iang pek san yang penuh saIju. Akan tetapi, apakah Tang kouwnio mempunyai persediaan baju dingin....?”  kata lagi pemuda Lie Cong Liang dengan semangat membara dan khayalannya sudah mendahulukan kepergiannya, membayangkan dia jalan mendampingi dara cacad yang telah menambat hatinya itu!

Sementara itu dan waktu mendengarkan perkataan  Lie Cong Liang; maka Tang Lan Hua menjadi tertawa perlahan, akan tetapi sebelum dia sempat mengucap apa apa maka telinganya yang tajam mendengar adanya seseorang yang sedang mendatangi.

Dengan memberikan aba aba memakai gerak dengan tangan tangannya, Tang Lan Hua memberitahukan kepada Lie Cong Liang lalu dengan langkah kaki yang tenang dia berjalan dengan bantuan sepasang tongkatnya yang istimewa menuju kesuatu sudut gelap untuk umpatkan diri, sambil tak lupa dia meniup api lilin bekas sembahyang tadi. Sejenak  Lie  Cong Liang kelihatan ragu ragu; sebab dia t idak mendengar sesuatu suara. Langkah yang tenang dari Tang Lan Hua, menandakan bahwa seseorang yang mendatangi itu masih terpisah cukup jauh, jadi demikian hebatnya alat pendengaran dara  yang cacad sepasang kakinya itu.

Setelah Lie Cong Liang turut umpatkan diri disuatu sudut yang terpisah dengan tempat Tang Lan Hua, maka benar saja seseorang telah memasuki kuil tua itu dan seseorang itu ternyata adalah Lie Cong Han, kakak yang dipercaya penuh oleh Lie Cong Liang sehingga dia memberitahukan waktu dia hendak meninggalkan rumahnya.

Setelah saling bertemu, maka Lie Cong Han memberi hormat pada Tang Lan Hua, setelah itu baru dia berangkat secara tergesa gesa, sebab dirumahnya telah kedatangan rombongannya Kwee Tian Peng dan mereka bermaksud mencari Tang Lan Hua, dan hendak merebut pedang Ceng liong kiam. "Bagus! aku belum mencari dia, akan tetapi  dia telah mendahulukan hendak mencari aku.....!” kata Tang Lan Hua; sedangkan sinar mukanya berobah bengis penuh dendam. “Akan tetapi, Tang kouwnio, sebaiknya lebih dulu kau mengobati sepasang kakimu, setelah itu baru kau menghadapi mereka...." kata Lie Cong Han, akan tetapi telah  membikin dara yang cacad sepasang kakinya jadi semakin bertambah marah.

“Tidak ! biarkan aku hadapi mereka,...!”

“Tang kouwnio, aku tahu kau tidak gentar menghadapi Kwee pekhu, akan tetapi mereka telah datang dalam rombongan yang besar jumlahnya, tidak kurang dari tigapuluh orang,” masih Lie Cong Han hendak merintangi.

"Apakah kau pikir aku takut menghadapi kepungan mereka.

,. ?” tanya Tang Lan Hua dengan suara geram dan mengejek.

Dilain pihak, pemuda Lie Cong Liang kelihatan menjadi sangat bingung mendengarkan pembicaraan kakaknya dengan dara cacad yang telah menambat hatinya. Dia langsung ikut bicara untuk berusaha meredakan kemarahan Tang Lan Hua, setelah itu lagi lagi dia membujuk supaya Tang Lan Hua mau segera berangkat ke kota San hay koen, malam itu juga!

“Tang kouwnio, memang baik saran adikku itu. Sebaiknya kalian segera berangkat, dan esok pagi aku akan menyusul, membawakan pakaian adikku dan tiga ekor kuda,” Lie Cong Han yang berkata lagi.

“Tiga ekor kuda...?” tanya Tang Lan Hua yang tidak mengerti.

“Ya, tiga ekor kuda, sebab aku akan ikut mengantarkan sampai kau berhasil menjadi sembuh,..!" sahut Lie Cong Han tanpa ragu.

Dara yang cacad sepasang kakinya itu tidak berdaya menghadapi desakan kedua pemuda itu. Didalam hati bersemi kesan yang begitu baik terhadap kedua putera dari musuhnya itu, sehingga mendatangkan rasa haru. Segera Tang Lan Hua mengemasi barang barang bawaannya, dibantu oleh kedua pemuda Lie Cong Han dan Lie Cong Liang. Lalu bertiga mereka menyusuri jalan yang sunyi dan gelap, sampai di tepi jalan raya Lie Cong Han melepas kedua muda mudi itu meninggalkan kota Bok kee tin.

"Adik Liang, esok pagi kita bertemu ditempat Ouw lopek..” kata Lie Cong Han, sesaat sebelum mereka berpisah.

“Siapakah Ouw lopek itu ,..,?” tanya Tang Lan Hua pada Lie Cong Liang, setelah mereka berpisah dari Lie Cong Han.

Pemuda Lie Cong Liang tertawa. Kebiasaannya yang lincah dan riang mulai kelihatan lagi :

"Itulah kakek tukang tahu.. ,”

Dara yang cacad sepasang kakinya ikut tertawa, suatu tawa ria yang baru pertama kalinya dia lakukan,  sejak dia meninggalkan tempat gurunya !

Dengan berjalan kaki memakai bantuan sepasang tongkat, mau tak mau mereka telah melakukan perjalanan yang lambat sekali; dan hal ini kelihatan menggelisahkan hati Lie Cong Liang, karena pemuda ini tetap merasa khawatir dengan pihak Kwee Tian Peng, yang kemungkinan akan melakukan pengejaran bersama sama rombongannya sedangkan mereka belum jauh meninggalkan perbatasan kota Bok kee tin.

"Mengapa kau kelihatan gelisah.....?" tanya Tang Lan Hua yang sempat memberikan perhatian.

"Akh ! tempat Ouw lopek masih terlalu jauh...... “ sahut pemuda Lie Cong Liang yang kelihatan gugup, akan tetapi berusaha tidak memperlihatkan rasa kekhawatirannya.

"Kau maksud, kita berjalan terlalu lambat, sehingga kau khawatir kita tidak mungkin mencapai tempat Ouw lopek malam ini, bukankah begitu....?” Tang Lan Hua menanya lagi, lembut perlahan suaranya, seperti merasa iba melihat pemuda itu cemas hatinya. “Akh..... !" tidak berani Lie Cong Liang mengucap kata kata, takut akan menyinggung perasaan dara yang cacad sepasang kakinya itu, yang dianggapnya terlalu perasa dan pemarah.

"Marilah kita gunakan ilmu lari cepat,.." ajak  dara  yang cacad sepasang kakinya itu; namun yang telah berhasil menambat hati pemuda yang berjalan disisinya.

Lie Cong Liang hentikan langkah kakinya, membikin Tang Lan Hua ikut berhenti. Pemuda ini memang sudah mendengar dari kakaknya, bahwa dara yang cacad sepasang kakinya itu sangat mahir ilm u ringan tubuh, akan tetapi untuk berlari cepat apakah mungkin ?

"Kau larilah…..” Tang Lang Hua yang berkata lagi seperti mendesak, sebab melihat pemuda itu  hanya  berdiri mengawasi dan sekali ini Tang Lan Hua perlihatkan seberkas senyum bangga yang manis memikat.

Meskipun benar Lie Cong Liang adalah adiknya Lie Cong  Han, akan tetapi dalam pelajaran ilmu silat pedang dan ilmu ringan tubuh, ternyata dia  lebih mahir dan sejak kecil dia memang lebih lincah serta cerdas.

Setelah Tang Lan Hua mengajak pemuda itu berlari cepat, maka untuk sejenak Lie Cong Liang kelihatan ragu ragu, akan tetapi waktu dia melihat senyum manis dara tambatan hatinya itu maka dia seolah olah terlupa bahwa dara tambatan hatinya memiliki sepasang kaki yang lumpuh dan dia lalu mulai berlari lari memakai ilmu ringan tubuh ajaran dari ayahnya.

Beberapa saat lamanya pemuda itu lari dengan menggunakan ilmu ringan tubuh akan tetapi dia  tidak merasakan adanya seseorang yang berlari di sebelah belakangnya maupun disisi akan tetapi tiba tiba dia menjadi terkejut waktu disebelah depannya Tang Lan Hua hinggap dari atas udara dan waktu sebelah tongkatnya itu mencapai bumi, maka tubuhnya dara cacad itu kembali melayang di angkasa, tambah menjauh jarak terpisahnya dengan pemuda itu. Sejenak pemuda Lie Cong Liang jadi terpesona heran. Sekarang dia mengetahui caranya Tang Lan Hua melakukan perjalanan cepat. Bukan dengan berlari, akan tetapi dengan melayangkan tubuh dengan bantuan tenaga benturan sepasang tongkatnya pada bumi, yang sudah tentu dengan menyalurkan tenaga dalam yang sangat mahir.

Segera Lie Cong Liang mengerahkan tenaganya buat dia mempercepat larinya; akan tetapi dia tetap tidak berhasil memperdekat jarak terpisahnya antara dia dengan dara tambatan hatinya, apalagi untuk mengejarnya.

Demikian, dengan cara yang istimewa itu mereka berdua menempuh perjalanan mereka. Entah sudah berapa jauh mereka meninggalkan perbatasan kota Bok kee  tin,  tak sempat lagi Lie Cong Liang memperhatikan, sebab sedang memusatkan tenaga dan perhatiannya supaya dia tidak tertinggal terlalu jauh dari Tang Lan Hua yang  telah menambat hatinya, sebaliknya bagi Tang Lan Hua, kau  dia mau, sejak tadi dia sudah berhasil meninggalkan pemuda Lie Cong Liang, sampai tak mungkin lagi dia  dikejar dan tak mungkin terlihat lagi.

Akhirnya dengan napas memburu Lie Cong Liang berteriak: “Tang kouwnio! kita sudah sampai !” Rumah Ouw lopek

yang dimaksud ternyata merupakan sebuah kedai nasi ditepi jalan, yang sangat sunyi diwaktu ma lam seperti itu, akan tetapi banyak dikenal dan hampir setiap orang yang berlalu lintas akan singgah baik untuk makan nasi dengan tahu yang istimewa, ataupun hanya untuk melepas lelah sambil m inum arak.

Agaknya pemuda Lie Cong Liang dan kakaknya sudah seringkali singgah ditempat Ouw lopek, sehingga tanpa ragu ragu pemuda itu mengetuk pintu rumah Ouw  lopek  yang sudah ditutup, dan disaat berikutnya Ouw-lopek kelihatan terkejut, waktu tamunya datang tengah malam buta, bahkan dengan mengajak seorang perempuan muda yang cacad sepasang kakinya.

“Ouw lopek, maafkan bahwa kami sudah mengganggu kau.....” kata Lie Cong Liang dengan perlihatkan senyumnya, padahal saat itu napasnya masih memburu, membikin Ouw lopek sa lah tafsir; menganggap bahwa pemuda itu sedang dalam pengejaran seseorang dan harus lari sambil menggendong perempuan muda yang cacad sepasang kakinya itu.

Ouw lopek persilahkan kedua tamunya masuk dan duduk diruangan dalam, sementara ia menutup pintu yang dibukanya tadi, akan tetapi pemuda Lie Cong Liang kemudian mengajak sikakek kebelakang, dimana secara jelas pemuda itu perkenalkan nama Tang Lan Hua, serta mengatakan bahwa mereka dalam perjalanan menuju kota San hay koan.

“Ditengah malam begini dan apakah lao ya mengetahui kepergian kau ini... ?" tanya

Ouw lopek yang merasa curiga.

“Aku percaya Ouw lopek tidak akan memberitahukan kepada ayahku....” sahut pemuda Lie Cong Liang sambil tertawa dan perlihatkan lagak jenaka,  lalu  dia  m inta disediakan kamar buat dara yang cacad sepasang kakinya beristirahat, sedangkan dia sendiri cukup beristirahat diatas bangku kayu.

Esok paginya Lie Cong Han memenuhi janjinya. Dia datang dengan tiga ekor kuda dan dua bungkusan pakaian. Yang satu merupakan bungkusan pakaian adiknya, sedangkan yang satu lagi pakaiannya sendiri, sementara pada wajah mukanya, kelihatan bahwa dia telah melakukan perjalanan yang cepat secara tergesa gesa.

“Adik Liang,  mari kita ajak Tang kouwnio lekas lekas berangkat. „..” ajak Lie Cong Han yang kelihatan gugup bercampur cemas. “Akan tetapi, kita belum sarapan..” Lie Cong Liang membantah; ingin mengajak mereka sarapan lebih dahulu, setelah sesaat dia mengawasi keadaan kakaknya.

“Biar nanti kita makan ditempat lain ,” sahut Lie Cong Han, yang kemudian menambahkan perkataannya :

“..., sejak semalam In Hong merasa curiga. Dia  mengatakan bahwa aku keluar untuk menemui Tang kouwnio. Aku khawatir dia benar benar mengawasi diriku, dan akan segera melakukan pengejaran.. ,”

“Hm.. , !" Tang Lan Hua  bersuara mengejek,  akan tetapi dia patuh menurut waktu Lie Cong Liang mengajak dia segera berangkat meninggalkan tempat itu.

Ouw lopek mengantarkan ketiga tamunya sampai diluar pintu. Lama orang tua itu mengawasi sampai ketiga  muda mudi itu hilang dari pandangan matanya. Dia tidak merasa heran atau terpesona waktu melihat cara Tang Lan Hua naik  ke atas kudanya, sebab dia memang sudah diberitahukan oleh pemuda Lie Cong Liang, tentang dara cacad yang tinggi ilmunya itu, sebaliknya dia  merasa iba melihat  dara  yang begitu cantik jelita itu, ternyata cacad sepasang kakinya, dan  dia bahkan merasa iba terhadap pemuda Lie Cong Liang yang dia sudah kenal sejak kecil.

('nasib sudah ditentukan oleh Tuhan. Manusia tidak akan mampu merobahnya.....') kata Ouw  lopek  didalam  hati, setelah dia berada seorang diri.

Waktu sudah mencapai dusun berikutnya, maka Lie Cong Liang mengajak singgah untuk mereka sarapan, akan tetapi waktu mereka sudah selesai sarapan dan hendak meninggalkan kedai nasi, ternyata dibagian luar sudah menunggu dua orang laki laki yang berpakaian semacam  bu  su (tukang pukul), yang sedang memperhatikan  tiga  ekor kuda yang dipakai oleh rombongannya Lie Cong Liang. Setelah melihat kedua orang bu su itu, maka pemuda Lie Cong Han menjadi terkejut, sebab dia  mengetahui bahwa kedua orang bu su itu adalah para pengawalnya Kwee In Hong, tunangannya. “Kim An dan Kim Sui, mengapa kalian berada di tempat ini... ?” Lie Cong Han menyapa setelah dia mendekati kedua orang bu su itu.

Kim An dan Kim Sui paksakan diri untuk bersenyum, lalu Kim An yang berkata:

"Lie siangkong, maafkan kami, akan tetapi kami justeru mendapat perintah Kwee  kouwnio buat mengejar Tang kouwnio. Dengan Lie siangkong kami dilarang berhubungan...”

Pemuda Lie Cong Han menjadi marah, akan tetapi sebelum sempat bicara maka Tang Lan Hua yang sudah mendahului bersuara.

“Bagus, kalau begitu mereka lakukan tugas mereka.,!” demikian kata dara yang cacad sepasang kakinya itu yang ditujukan kepada pemuda Lie Cong Han sementara nada suaranya terdengar dingin mengejek, dan dia berdiri menantang kedua orang busu itu.

Sejenak kelihatan Kim An berdua K im Sui jadi bimbang dan ragu ragu. Memang sudah didengar oleh mereka bahwa dara yang cacad sepasang kakinya itu memiliki sepasang pedang Ceng liong kiam yang maha tajam dan sepasang pedang itu tersimpan didalam sarung yang digunakan menjadi sepasang tongkat buat penolong dara cacad itu berjalan. Kalau mereka menyerang dengan menggunakan senjata, sudah pasti senjata mereka kalah tajam dan akan putus menjadi dua, seperti ruyung miliknya Nio Hoan Eng. Dari itu kedua orang busu itu lalu memutuskan untuk menyerang tanpa memakai senjata, supaya pihak lawan juga tidak menggunakan senjata.

Dengan menggunakan suatu aba aba, maka Kim An berdua Kim Sui lompat menerkam, sementara kedua pasang tangan tangan mereka melancarkan serangan maut! Baik Kim An maupun Kim Sui tidak mempunyai kesempatan melihat orang yang mereka serang itu bergerak, akan tetapi tahu tahu Sepasang tongkat istimewa itu sudah memukul mereka, sehingga keduanya terlempar jauh, lalu mereka terjatuh dengan kepala masuk kedalam tempat untuk kuda minum.

Kim An berdua Kim Sui berusaha hendak mengeluarkan kepala mereka yang terendam didalam air minum kuda, akan tetapi tiba tiba terasa oleh mereka bahwa batang  leher  mereka tertindih oleh sesuatu benda, membikin mereka tak kuasa mengangkat kepala mereka dari dalam air minum kuda, mengakibatkan mereka sukar bernapas, dan terminum oleh mereka air minum untuk kuda itu.

Sekiranya Tang Lan Hua bermaksud membinasakan  mereka, maka dengan mudah dara yang cacad sepasang kakinya itu melakukannya, sebab tak berdaya Kim An berdua Kim Sui melepas diri. Akan tetapi, memang tidak menjadi maksud Tang Lan Hua buat membinasakan kedua orang itu, sehingga dia lalu melepaskan, membiarkan Kim An berdua kabur, dan lagak dari kedua tukang pukul ini telah membikin beberapa orang yang kebenaran menyaksikan jadi pada tertawa, tidak terkecuali pemuda Lie Cong  Liang  yang waktu itu sudah menyiapkan kuda mereka buat mereka meneruskan perjalanan mereka.

Dari tempat dia berdiri sehabis  mengalahkan  Kim An berdua Kim Sui maka dara yang cacad sepasang kakinya itu menekan sepasang tongkatnya pada bumi;  lalu tubuhnya melayang diangkasa dan hinggap diatas punggung kudanya untuk kemudian bertiga mereka menghilang dari hadapan beberapa orang yang menyaksikan dengan mengeluarkan suara heran.

"Haya, seorang lie pousat sudah menjelma" kata seorang orang tua yang berpakaian semacam penduduk dusun. Dilain pihak, meskipun  sambil me larikan kudanya, akan tetapi didalam hati tak sudahnya Lie Cong Han memuji kesaktian ilmu Tang Lan Hua. Memang bagi Lie Cong Han, dia juga tidak sukar buat mengalahkan Kim An berdua Kim Sui, akan tetapi kalau dikepung berdua, sudah tentu pemuda itu harus melakukan suatu pertempuran yang akan memakan waktu buat dia mengalahkan kedua tukang pukul itu.

Sementara itu, istana Pangeran Gin Lun yang didalam kota San hay koan, sudah tentu berada dibawah penjagaan yang ketat oleh sepasukan tentara yang dipimpin oleh seorang perwira muda yang gagah perkasa.