Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 16

Jilid 16

NAMA ke empat orang sie wie itu adalah Lo Tek Bun, yang bertubuh tinggi dengan jidat ada belang putih, kemudian Sie Kong yang berkepala botak licin disengaja, sebab dia pandai ilmu kepala besi, sehingga kalau ada rambutnya bisa kena dijambak oleh musuh. Lalu Ang Sie Cwan  yang  mukanya merah seperti Kwan kong, dan Kim Su Kie yang paling muda usianya, yang punya senjata kipas istimewa bertulang baja.

Empat orang sie wie itu kemudian  bergerak serentak membantu si perwira, yang tidak mampu mengalahkan sang biarawati muda usia dan yang cantik jelita  itu.  Mereka bergerak lincah dan gesit,  sebab mengetahui keampuhan pedang ceng liong kiam yang sudah tidak as ing lagi bagi mereka.

Kim Su Kzie adalah seorang laki laki muda tukang perkosa anak perawan atau bini orang. Dia  jatuh cinta selekas dia melihat kecantikan biarawati yang muda usia itu yang dia sangka seorang bhiksuni gadungan, seperti laporan yang dia dengar. Oleh karena itu, sambil bertempur dia cengar cengir seperti monyet kena terasi; sedangkan mulutnya ngoceh tidak karuan, seperti burung beo yang baru belajar  ngomong membikin Cie in suthay jadi keki,  perutnya panas terasa mendidih; akan tetapi biarawati yang muda usia itu tidak mampu menikam pemuda itu, sebab dia  ingat tidak boleh membunuh orang, lagi pula Lim Su Kie pintar ngeledek, dia mundur kalau diancam, dan dia mendekati seperti mau nyenggol kalau Cie in suthay sedang mengancam musuh yang lain.

Biarawati yang muda usia itu mulai repot dikepung lima lawan yang bukan sembarang lawan, sedangkan pihak tentara ikut bersuara gemuruh, tanpa ada yang menghiraukan Lie Hui Houw sebab dikira cuma seorang sais yang tidak bisa diajak berhantam ! Lo Tek Bun yang bertubuh tinggi dan jidatnya ada belang putih, segera mengganti senjatanya dengan pecut panjang, lalu dengan pecutnya itu dia mencari sasaran lengan Cie in suthay yang memegang pedang, atau sepasang kaki dari biarawati yang muda usia itu, yang hendak dia bikin jatuh.

Lie Hui Houw habis sabar melihat cara berkelahi Cie  in suthay yang dapat merugikan diri sendiri dan menghambur waktu. Pemuda ini berteriak nyaring seperti aum seekor harimau jantan yang kelaparan lalu tubuhnya terbang tinggi, hinggap diatas kepala seorang tentara yang sedang berdiri menonton orang orang berkelahi, lalu dia  lompat lagi dan menendang Lo Tek Bun yang waktu itu dia  masih tetap dengan senjatanya pecut panjang sampai Lo Tek Bun rubuh terguling sebab perhatiannya sedang dia  curahkan kepada Cie-in suthay.

Sie Kong marah melihat rekannya kena ditendang  rubuh oleh sedang sa is kereta yang masih muda usianya. Dia mengaum seperti seekor banteng gila, lalu dia menyeruduk dengan kepala yang botak dan gayanya benar-benar seperti seekor banteng; sehingga pantatnya Lie Hui Houw kera diseruduk sebab pemuda ini lagi bersiap siap hendak menyerang Lim Su Kie dan tubuh Lie Hui Houw terpental justeru jadi tambah mendekati Lim Su Kie yang langsung menghajar memakai senjatanya yang  istimewa,  berupa sebuah kipas dengan tulang tulang baja.

Tulang tulang baja kipas itu kecil dan runcing, sudah direndam didalam larutan bisa racun yang dapat  membinasakan orang, akan tetapi untung ditangan kanan Lie Hui Houw ada sarung pedang Ceng liong kiam yang seperti tongkat besi, dan dengan adanya benda itu langsung dia pakai untuk menangkis sedangkan telapak tangan kirinya menghantam iga Lim Su Kie, akan tetapi Lim Su Kie sempat lompat mundur dengan gerak yang luar biasa pesat  dan lincah. "Bagus.” Lie Hui Houw bersuara memuji karena ikut merasa kagum dengan kelincahan lawannya yang masih muda usianya itu lalu sekali lagi dia menerkam memakai gerak macan galak menerkam kambing, akan tetapi dia menjadi sangat terkejut waktu ada jarum jarum halus yang keluar dari kipas istimewa milik lawannya, sehingga cepat cepat Lie  Hui  Houw membuang dirinya bergulingan ditanah sambil sebelah kakinya meraih sepasang kaki Lim Su Kie,  mengakibatkan  lawan  itu  ikut jatuh terguling.

Lie Hui Houw merasa yakin bahwa jarum jarum halus yang digunakan oleh lawannya mengandung bisa  racun maut dan  dia paling benci menghadapi orang orang yang mengganas menggunakan senjata yang mengandung bisa racun seperti si iblis penyebar maut, dari itu dengan cepat dia  segera mempersiapkan diri hendak menyerang musuh ini dengan menggunakan ilnu  houw jiauw kang atau tenaga cakar harimau !

Sie Kong melihat gejala tidak baik bagi rekannya dan dia cepat cepat menyeruduk lagi memakai kepalanya yang botak seperti seekor banteng gila; dan sekali lagi Lie Hui Houw kena diseruduk sampai dia terdorong mundur tiga langkah kebelakang sedangkan si botak tewas dengan leher bolong seperti kena cakar macan menjadi pengganti Lim Su Kie.

Dipihak Lim Su Kie dia menjadi sangat gusar karena melihat seorang rekannya binasa; sekali lagi dia menekan alat pada kipasnya dan lagi-lagi telah meluncur jarum jarum halus yang ditujukan kepada Lie Hui Houw akan tetapi pada saat itu Lie Hui Houw sudah mendahulukan lompat kedekat Cie in suthay sebab waktu itu Lie Hui Houw sangat terkejut karena melihat sepasang telapak tangan Ang Sie  Cwan yang merah membara.

”(tok see ciang Lie . . .) seru Lie Hui Houw didalam hati: karena dia teringat dengan si tangan beracun Ang Cong Loei. Dan selekas itu juga Lie Hui Houw lompat dan menghadang dibagian  sebelah  depan  Cie   in   suthay, siap   membela atau mewakilkan biarawati yang muda usia itu buat melawan Ang  Sie Cwan yang memiliki ilmu 'tangan pasir beracun*.

Ang Sie Cwan tidak perduli musuhnya berganti orang. Dia tertawa seperti iblis yang siap hendak membakar manusia dan dia langsung menyerang memakai sepasang tangannya yang keras dan mengandung racun maut.

Lie Hui Houw melawan memakai ilmu ngo heng ciang pada tangan kirinya, dan ilmu ngo heng kiam hoat pada tangan kanannya memegang sarung pedang ceng liong kiam dan sarung pedang dari baja itu sudah beberapa kali berhasil menghajar sepasang tangan Ang Sie Cwan; akan tetapi musuh ini agaknya memiliki kekebalan, sampai kemudian tangan kiri Lie Hui Houw berhasil menghajar jidat Ang Sie Cwan dengan jurus kuntao bango, dan jidat itu bolong seperti kena dipatok oleh seekor burung bango.

Keadaan menjadi tambah kacau, karena adanya beberapa alat negara itu yang kena dibinasakan. Perwira  yang  memimpin pasukan itu berteriak memerintahkan semua tentara mengepung tambah ketat, memaksa Lie Hui Houw harus kerja keras mendampingi Cie-in suthay yang pantang membunuh sampai kemudian datang seorang pendeta yang ikut mengamuk; melemparkan banyak tentara yang merintang, sampai Cie in suthay menjadi girang,  karena melihat pendeta itu adalah Hui beng siansu seorang tokoh Thian san pay yang memang sudah dia kenal. Juga Lie Hui Houw sudah tidak as ing lagi dengan Hui beng siansu yang pernah membantu waktu dulu Lie Hui  Houw  sedang menyamar sebagai si kakek Lie.

Cie-in suthay hendak menyapa Hui beng siansu yang usianya lebih tua belasan tahun, akan tetapi mendadak Cie-in suthay menjadi terkejut, karena melihat kereta pertanda ada yang bawa lari.

'Hey ! kereta itu dibawa kabur!" teriaknya Cie  in suthay;  lalu dia bergerak melesat buat mengejar, sedangkan dibelakangnya ada beberapa orang tentara yang ikut mengejar.

Lie Hui Houw berdua Hui beng siansu masih harus menghadapi pihak tentara yang mengepung, sampai pihak tentara setengah tobat setelah itu Hui beng siansu mengajak Lie Hui Houw mengejar kereta.

Lie Hui Houw memang pernah bertemu dengan Hui beng siansu, waktu terjadi peristiwa dia menyamar si kakek Lie menghadapi si iblis penyebar maut dalam ujut penyamaran sebagai si kakek Ouw, akan tetapi pada kesempatan pertemuan itu mereka tidak saling berbicara, bahkan Lie Hui Houw harus buru buru membawa si kakek Ouw, dengan ditemani oleh Kanglam hiap Ong Tiong kun.

Kemudian Lie Hui Houw banyak mendengar dari Cie in suthay tentang tokoh Thian-san pay itu yang sejak muda usia tidak bosan-bosan mencari jejak si iblis penyebar maut.

Waktu itu Hui beng siansu masih merupakan seorang pemuda yang memakai nama Tan Hui Beng. Pertama kali dia bertemu dan menghadapi peristiwa si iblis penyebar maut adalah selagi dia melakukan perjalanan dan singgah didusun Pek kee cung; disuatu pagi yang sejuk hawanya selagi ayam ayam jantan sedang berkokok perdengarkan suaranya dan matahari baru perlihatkan ujutnya.

Di tempat yang sunyi dan masih merupakan tempat belukar karena letaknya didekat perbatasan luar desa, Tan Hui Beng dibikin terpesona menemukan empat tubuh manusia yang membujur rebah menjadi mayat, sedangkan darah berceceran disekitar mayat itu.

"Akh! mayat mayat siapakah gerangan ini? dan apa yang menyebabkan mereka dibunuh dengan cara yang kejam.. . ?" Tan Hui Beng berkata seorang diri. Selagi Tan Hui Beng masih berdiri meneliti, maka tiba tiba dia mendengar teriak suara seseorang; yang disusul kemudian dengan teriak suara orang orang yang lain.

“Pembunuh! pembunuh . . . !"

"Ada pembunuh ! ada pembunuh . . . !"

Kemudian dalam waktu yang singkat, tempat itu telah dipenuhi oleh para penduduk desa Pak kee cung.

"Itu pembunuhnya, tangkap . .”

"Mari kita kepung ! bunuh saja dia ...l”

Dan para penduduk  yang rupanya meluap kemarahan mereka, sebab biasanya didesa mereka tidak pernah terjadi perkara pembunuhan atau kedatangan orang orang jahat; sehingga secara serentak mereka telah menyerang dan mengepung pemuda pendatang baru itu, rnenyerang memakai senjata apa saja yang sedang mereka bawa; ada yang berupa pacul, tongkat kayu, golok dan lain sebagainya.

Meskipun Tan Hui Beng merasa terkejut dan penasaran, akan tetapi pemuda ini menyadari bahwa penduduk  desa setempat salah paham dengan kehadirannya didekat mayat mayat itu, sehingga dia dituduh menjadi s i pembunuh.

Dengan pedangnya yang tetap berada didalam sarungnya, Tan Hui Beng berkelit atau menangkis dari setiap serangan disamping dia berteriak berulangkali untuk meredakan sikap para penduduk itu, akan tetapi usahanya sia sia dan teriak suaranya kandas di antara sekian banyaknya orang  orang desa yang berteriak dan mengepung dia sehingga pada saat berikutnya pemuda ini bergerak pesat seperti terkena tiupan badai, mengakibatkan tubuhnya hanya kelihatan bagaikan bayangan yang bergerak gesit ke delapan penjuru, sebab dia sedang bersilat mengerahkan ilmu 'pat kwa yu sin cianghoa’.

Orang orang desa yang terkena serangan sarung pedang atau kepelan tangan pemuda itu berpelantingan jatuh bagaikan dilanda angin.topan. Semakin lama semakin banyak orang orang yang berjatuhan sampai akhirnya keadaan menjadi reda karena rupanya mereka merasa tobat menghadapi sipemuda pendatang baru itu.

Tiba tiba terdengar suara tawa seorang dan ketika Tan Hui Beng mencari dengan pandang matanya yang tajam dan bersinar terang maka diketahuinya bahwa suara tawa  itu berasal dari seorang lelaki setengah tua sudah empat puluh tahun lebih umurnya; memiara kum is dan sedikit jenggot bertubuh agak kurus akan tetapi sehat kuat; dan lelaki setengah tua itu justru adalah satu satunya orang yang tidak ikut dalam pengepungan tadi.

Lelaki setengah tua itu kemudian me langkah  mendekati Tan Hui Beng; lalu sambil masih tertawa dia berkata :

"Maaf, maaf atas  tindakan orang2 desa yang telah membikin siao hiap jadi marah. Namaku Su Gie lengkapnya  Ong Su Gie. Bolehkah aku mengetahui nama siaohiap  ?” Dengan paksakan diri untuk ikut bersenyum, maka Tan Hui Beng berkata.

'Siaotit bernama Tan Hui Beng, seorang dalam perjalanan yang mendadak menemukan mayat mayat itu, lalu siaotit dituduh sebagai pembunuhnya.”

'Aku tahu. aku tahu... ' kata Ong Su Gie yang memutus perkataan Tan Hui Beng dan  menambahkan  lagi perkataannya.

“. . ketika mereka tadi mengepung siao hiap aku telah pergunakan kesempatan itu buat memeriksa keadaan mayat mayat yang ternyata adalah menjadi korban keganasan si iblis penyebar maut..“

“Toat beng sim . . .?” ulang Tan Hui Beng yang berkata perlahan seperti dia menggerutu. Ong Su Gie manggut membenarkan lalu diperlihatkannya sebuah lencana toat beng s im yang selalu ditinggalkan oleh si iblis penyebar maut didalam melakukan keganasannya.

Kemudian Ong Su Gie juga berhasil memberikan penjelasan kepada para penduduk setempat sambil sekedar dia menceritakan tentang keganasan si iblis penyebar maut yang sudah seringkali dia dengar dan bukti lain yang  ditemukan oleh Ong Su Gie adalah berupa paku naga beracun atau tok liong teng, suatu senjata yang biasa digunakan oleh si iblis penyebar maut.

Maka dalam waktu yang singkat  telah menjadi bahan pembicaraan yang menggemparkan bagi penduduk desa Pek kee cung tentang adanya si iblis penyebar maut yang telah mengganas di desa mereka.

Sementara itu Ong Su Gie yang ternyata merupakan salah seorang penduduk desa Pek kee cung lalu mengundang  Tan Hui Beng singgah dirumahnya di mana pemuda itu diperkenalkan kepada isteri dan anak laki laki Ong Su Gie yang bernama Ong In Thian yang waktu itu sudah berumur  19 tahun sedikit lebih muda dari umur Tan Hui Beng.

"Tentang Toat beng sim itu, tahukah susiok s iapa gerangan dia ,,.., ,?" tanya Tan Hui Beng pada Ong Su Gie  selagi  mereka bicara di ruang tamu.

Ong Su Gie tidak segera memberikan  jawab dan dia kelihatan termenung sebentar; setelah itu baru dia berkata.

"Banyak orang yang sudah mengetahui tentang si iblis yang ganas dan gemar menyebar maut, mengetahui karena mendengar atau menghadapi keganasan Toat beng Sim. Akan tetapi orang tetap tidak mengetahui siapa gerangan namanya dan bagaimana ujut mukanya yang sebenarnya, oleh  karena dia sangat pandai melakukan penyamaran, memakai semacam topeng yang dibikin dari bahan yang mirip dengan kulit manusia, sehingga tidak mudah buat seseorang mengetahui bahwa si iblis penyebar maut sedang melakukan penyamaran .

. .”

"... pada mulanya aku pun tidak mengetahui, kalau si iblis pandai melakukan penyamaran; sekiranya tidak terjadi suatu peristiwa yang sangat menggemparkan yang pernah aku alami

. .   "

"Peristiwa apakah itu?" tanya Tan Hui Beng waktu Ong Su Gie tidak meneruskan perkataannya kelihatan seperti ragu- ragu.

Sejenak Ong Su Gie masih mengawasi muka tamunya setelah itu baru dia berkata :

“Peristiwa itu terjadi didalam kota Po teng yang meskipun tidak merupakan suatu kota yang besar akan tetapi ramai dan banyak penduduknya.”

"..,..di kota itu aku mempunyai sahabat seorang hartawan yang luas pergaulannya baik di kalangan pedagang pembesar negri ataupun dikalangan rimba persilatan; meskipun dia sendiri tidak pandai s ilat.

Hartawan itu bernama The Sin Goan. Dalam usianya yang sudah lebih dari lima puluh tahun dia  hanya mempunyai seorang anak perempuan yang baru berumur delapan belas tahun; seorang anak dara yang cantik dan halus budi bahasaya. The Lian Cu adalah nama dara yang cantik jelita itu. Dia sangat disayang oleh kedua orang tuanya, akan tetapi dia tidak bersifat manja. Dara yang anak orang  hartawan  ini  sudah mempunyai calon suami, yang sesuai dan memang menjadi idaman hatinya : seorang pemuda bernama Can Houw Liang, anak seorang saudagar yang kaya raya, berasal dari perbatasan Kui ciu bagian barat akan tetapi sudah 5 tahun lamanya menetap menjadi penduduk kota Po teng.

Untuk merayakan hari jadinya yang ke 18 maka The Lian  Cu menghendaki diadakan suatu pesta, dan hartawan The Sin Goan lalu mengundang banyak sahabat serta kenalannya baik yang tinggal berdekatan maupun dari luar kota Po teng termasuk Ong Su Gie yang datang dengan membawa  bingkisan seperlunya.

The Lian Cu adalah anak perempuan satu satunya dari keluarga hartawan The, sehingga tidak mengherankan kalau barang barang bingkisan yang diterimanya sebagai hadiah hari jadinya sangat berlimpah limpah dan kebanyakan terdiri dari barang barang perhiasan batu permata atau mutiara yang tak ternilai harganya.

Adapun para tamu  yang datang memenuhi undangan hartawan The tidak hanya terdiri dari para hartawan atau bangsawan, bahkan banyak juga dari kalangan orang orang rimba persilatan, yang terdiri dari macam macam golongan. Akan tetapi mereka semua adalah orang orang yang menghormati hartawan The Sin Goan, sehingga hartawan itu tidak merasa curiga atau khawatir kalau kalau akan terjadi pencurian atau perampokan meskipun hartawan The mengetahui bahwa diantara para tamu yang hadir; terdapat juga para perampok kenamaan, bahkan terkenal ganas dan kejam.

Ditengah kesibukan hari perayaan itu maka tiba tiba terdengar pekik suara seorang pelayan perempuan kemudian datang laporan kepada hartawan The  Sin Goan yang mengatakan bahwa didalam kamar tempat menyimpan barang barang bingkisan, te lah terjadi pencurian atas semua barang barang yang berupa perhiasan atau permata yang sangat berharga itu.

Ketika hartawan The dengan disertai oleh berapa orang sahabatnya yang akrab dan mahir ilm u silatnya memasuki kamar itu; maka mereka menemui beberapa orang yang bertugas menjaga yang ternyata telah kena dibius memakai asap dupa mengandung racun mengakibatkan mereka tertidur lupa diri. Sebelum hartawan The sempat memikirkan sesuatu daya maka dari arah halaman belakang rumah terdengar adanya bunyi suara orang orang yang sedang bertempur.

Dengan langkah kaki tergesa gesa, hartawan The dan para sahabatnya bergegas menuju kebagian belakang rumah dan masih sempat mereka melihat Can Houw Liang; atau sang calon mantu sedang dikepung 4 orang kauwsu (tukang pukul), yang bekerja sebagai penjaga keamanan dirumah hartawan The dan para kauwsu itu dibantu oleh dua orang sahabatnya hartawan The yaitu dia adalah yang bernama Tio Tiong Cun dan Ong Su Gie.

Para kauwsu yang sempat melihat  kehadiran majikan mereka, maka sambil tetap mengepung mereka berteriak memberitahukan bahwa si pencuri justeru adalah Can Houw Liang !

Dilain pihak waktu itu kelihatannya Can Houw Liang sudah merasa tidak sanggup melawan para pengepungnya, sehingga dengan gerak 'yan cu coan-in' atau burung "walet menembus angkasa maka secara tiba tiba Can Houw Liang  lompat  melesat melewati tembok halaman dan melarikan diri. Akan tetapi oleh karena geraknya itu maka dari dalam kantongnya telah berhamburan sebagian barang barang permata hasil curiannya.

Beberapa orang segera mengumpulkan barang barang permata yang berhamburan itu, untuk dikembalikan kepada hartawan The, sementara beberapa orang lagi  telah melakukan pengejaran kearah Can Houw Liang melarikan diri. Diantara orang orang yang melakukan  pengejaran  itu, terdapat Tio T iong Cun berdua Ong Su Gie yang termahir ilmu ringan tubuh dan lari cepat, sehingga lewat sesaat mereka berdua menemukan Can Houw Liang, yang waktu itu sudah rubuh pingsan di suatu sudut dekat rumah seseorang, akan tetapi tidak diketahui terkena serangan apa dan dilakukan oleh siapa. Sedangkan Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie manganggap bahwa seseorang telah memberikan bantuan, akan tetapi seseorang itu sengaja tidak  mau  diketahui jasanya.

Dengan demikian Can Houw Liang dapat ditangkap dan dibawa menghadap kepada hartawan The, akan tetapi sisa barang barang curian yang seharusnya masih ada padanya, ternyata tidak ditemukan, sehingga  orang yang menduga bahwa Can Houw Liang telah umpat disuatu tempat, atau mungkin sudah diambil oleh seseorang yang sudah berhasil membikin Can Houw Liang tidak berdaya  waktu  ditemukan oleh Tio T iong Cun berdua Ong Su Gie.

Kemudian waktu  Can Houw Liang sudah ditolong dan  sudah sadar dari pingsannya maka ternyata penuda  itu menyangkal telah melakukan pencurian, sebaliknya dia mengatakan bahwa seseorang telah memukul dia sampai dia lupa diri, tanpa dia mengetahui siapa  seseorang itu,  bahkan dia tidak tahu bahwa dia sedang ditangkap dan dituduh men- jadi pencuri.

Orang orang yang hadir dan ikut mendengarkan pengakuan Can Houw Liang, sudah tentu menjadi tertawa, bahkan ada yang perlihatkan muka menghina sebab mereka beranggapan akan sia sia pemuda itu menyangkal sebab banyak orang  orang yang melihat pemuda itu melakukan perlawanan, dan melihat juga waktu sebagian barang barang permata itu berhamburan selagi Can Houw Liang berusaha melarikan diri.

Diantara orang orang yang ikut tertawa, terdapat juga seorang pembesar negeri yang menjadi pejabat pemerintah di kota Po teng, dan pejabat pemerintah itu lalu berkata:

"Rumah penjara akan selalu penuh sesak, kalau setiap pencuri mengakui perbuatannya," demikian kata pejabat pemerintah itu yang membikin orang orang jadi tertawa lagi dan pejabat pemerintah itu lalu memerintahkan para pengawalnya membawa Can Houw Liang buat menambah isi rumah penjara. Hartawan The  Sin Goan tidak berdaya menentang keputusan pejabat pemerintah itu, apalagi waktu  dilihatnya  Can Hok Liang ayahnya Can Houw Liang membiarkan anaknya ditangkap, sebab orang tua itu merasa malu menghadapi perbuatan anaknya yang menjadi seorang pencuri !

Dipihak pejabat pemerintah setempat sebenarnya adalah menjadi harapannya bahwa hartawan  The atau ayah Can Houw Liang hendak mengajukan permohonan supaya Can Houw Liang jangan ditangkap sehingga si pejabat pemerintah itu mempunyai kesempatan buat minta uang tebusan !

Barangkali apabila ada seseorang sempat  untuk  berpikir dua kali pada waktu mendengarkan pengakuan dari Can Houw Liang, maka seseorang itu tentunya akan menyadari bahwa Can Houw Liang bukanlah merupakan anak kecil lagi.

CAN HOUW LIANG adalah seorang pemuda terpelajar yang bahkan terkenal cerdas, bagaimana mungkin dia memberikan pengakuan tidak me lakukan pencurian, kalau dia mengetahui ada banyak orang orang yang sudah melihat barang  bukti yang sudah ada padanya, dan orang orang bahkan sudah bertempur dengan dia. Jadi pengakuan Can Houw Liang itu lebih tepat dianggap sebagai pengakuan orang sinting !

Dan setelah tiga hari Can Houw Liang turut memenuhi isi rumah penjara dikota Po teng maka secara mendadak pada malam berikutnya Can Houw Liang menghilang, ditolong oleh seseorang yang telah merusak pintu penjara akan tetapi tidak diketahui entah siapa gerangan yang telah menolongnya itu, sebab dia memakai selubung penutup kepala hingga tidak terlihat wajah mukanya sebatas leher !

Menghilangnya Can Houw Liang dari rumah penjara kota Po teng itu sudah tentu membikin si pejabat pemerintah menjadi repot. Dia mendatangi rumah hartawan The dan mendatangi juga rumah ayahnya Can Houw Liang tetap tidak ditemukan sehingga mengakibatkan banyak orang-orang  jadi membicarakan lagi urusan Can Houw Liang itu. Sementara itu tidak jauh terpisah dari kota  Po  teng terdapat desa Bian s ie cung yang letaknya berdekatan dengan gunung B ian san.

Di dekat perbatasan antara desa Bian sie cung dengan gunung Bian san itu terdapat sebuah kuil yang cukup besar akan tetapi dari bagian luar kelihatan agak menyeramkan se- bab banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar  dan  lebat.

Setahu orang orang, kuil itu dipimpin oleh seorang pendeta bangsa Biauw yang bernama Touw liong touwsu, yang sudah lima tahun lamanya menetap dikuil itu akan tetapi seringkali melakukan perjalanan ke berbagai kota atau tempat lain.

Touw-liong touwsu atau si pendeta suku bangsa Biauw itu sudah berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh kurus dan tinggi, memiara rambut panjang dan memakai ikat kepala dengan sehelai kain warna putih (sorban).

Belasan tahun yang lalu, Touw-liong touwsu pernah datang menyambangi gurunya yang bermukim jauh diatas gunung Ya ma coan, diperbatasan In Lam..lalu dia  menjadi sangat terkejut sebab menemukan gurunya dalam keadaan luka parah; ditemani oleh seorang pengemis kecil.

Meskipun benar nyawanya tertolong, ternyata  si  kakek yang menjadi gurunya Touw touwsu itu menjadi cacad  lumpuh, tidak mampu lagi menggunakan ilmu s ilatnya.

Dengan mengajak kedua muridnya yang bernama Toa mo tosauw dan Jie mo tosauw, maka Touw Iiong touwsu kemudian melakukan perjalanan ke berbagai pelosok tempat buat dia  mencari kedua musuh gurunya, yang menurut keterangannya terdiri dari dua orang laki laki bangsa asing, yang tidak diketahui nama kebangsaannya.

Selama melakukan perjalanannya itu, dua  kali dalam setahun Touw liong touwsu memerlukan menyambangi dan memberikan laporan kepada gurunya, melatih si pengemis kecil yang ternyata telah dijadikan murid bungsu dari gurunya yang sakti itu.

Untuk sepuluh tahun lamanya gurunya berhasil mendidik murid bungsu itu (yang tentunya bukan merupakan seorang pengemis kecil lagi) dan ketika kakek tua itu  wafat;  maka Touw liong touwsu menetap dikuil yang letaknya didekat desa Bian sie cung.

Malam itu se lagi Can Houw Liang masih berada di dalam rumah penjara di kota Po teng, tiba tiba pemuda ini telah mendapat pertolongan dari seseorang yang memakai selubung tutup kepala dari kain warna hijau.

Orang itu dengan geraknya yang tangkas dan lincah dalam sekejap telah berhasil membikin para petugas mati daya sampai kemudian orang itu merusak pintu penjara.

Adalah pada waktu Can Houw Liang ingin mengucap terima kasih maka secara tiba tiba tangan kanan orang itu sudah bergerak dan secarik kain warna hijau semacam saputangan menyambar muka Can Houw Liang lalu suatu bau harum telah tercium oleh pemuda itu yang kemudian menjadi pingsan lupa diri.

Kemudian waktu Can Houw Liang telah sadar maka dia mendapat dirinya diikat berdiri bersandar pada suatu tiang kayu dengan sepasang tangan terbentang lebar dan sepasang kaki rapat; sehingga pemuda itu menjadi sangat heran dan tidak mengerti mengapa dirinya yang sudah  ditolong  keluar dari rumah penjara, dan sekarang ditahan di suatu tempat yang masih asing bagi dia, bahkan diikat erat erat sampai dia tidak bisa bergerak.

Dengan pandangan matanya, Can Houw Liang mulai meneliti keadaan disekitar tempat dia ditahan, sehingga dia mengetahui bahwa dia berada disuatu kamar yang luas dan terdapat suatu meja upacara sembahyang menjadikan dia merasa yakin bahwa dia ditahan disuatu kuil. Lewat sesaat Can Houw Liang melihat datangnya dua orang pendeta muda bersama seorang laki  laki bertubuh tinggi besar, yang bermuka hitam dengan sedikit kum is, sedangkan pakaiannya berupa jubah warna putih.

Can Houw Liang batal menanyakan sesuatu, sebab tiba tiba laki laki bermuka hitam itu kedengaran berkata kepada sa lah seorang pendeta muda yang mengantar.

'Kelihatannya dia sudah siuman, tolong siao  suhu beritahukan pada cuncu,” demikian kata orang bermuka hitam itu.

Pendeta muda yang diajak bicara itu menurut. Dia pergi meninggalkan ruangan itu sementara laki laki bermuka hitam  itu lalu mendekati Can Houw Liang dan dengan cermat dia meneliti pemuda yang sedang diikat itu.

"Tempat apakah ini?' tanya Can Houw Liang yang masih belum mengerti tentang maksud penahanan atas dirinya.

Laki laki bermuka hitam itu tidak menjawab. Dia tetap mengawasi dengan penuh perhatian; dan Can Houw Liang lalu menanya lagi.

“Siapakah orang yang kau sebut cuncu itu?"

'Diam kau,” bentak laki laki yang bermuka hitam itu yang sekarang kelihatan menjadi marah dan tambah menyeramkan, setelah itu dia menyambung perkataannya.

“Maut sudah mengintai, akan tetapi kau masih banyak menanya,” demikian dia berkata seperti menggerutu dan meninggalkan Can Houw Liang untuk dia  mendekati si pendeta yang seorang lagi yang sejak tadi berdiri diam mengawasi. Dipihak Can Houw Liang sudab tentu dia menjadi sangat terkejut, ketika didengarnya perkataan  laki  laki bermuka hitam tadi. Dia penasaran karena tidak tahu apa sebabnya dikatakan maut sedang mengintai dia ! Tiba tiba si pendeta muda yang pergi tadi te lah kembali lagi dengan mengajak seorang pemuda dan ketika Can houw Liang melihat pemuda yang baru datang itu, maka sepasang matanya menjadi terbelalak mengawasi terpesona sebab pemuda yang dilihatnya itu justeru adalah  sangat  mirip dengan dia.

"Kau . . kau. “ kata Can Houw Liang, akan tetapi tak kuasa dia meneruskan perkataannya padahal dia sudah mulai jelas dengan sebab sebab dia dituduh menjadi pencuri. Ada lain orang yang telah menyamar sebagai dirinya.

"Ha ha ha ,. !” tawa pemuda yang baru datang dan yang mirip dengan Can Houw Liang itu.

Disaat berikutnya; dua pemuda yang mirip mukanya itu sudah berdiri saling berhadapan. Lalu secara tiba tiba Can  Houw Liang yang baru datang telah meludahi muka Can Houw Liang yang sedang diikat.

Can Houw Liang yang sedang diikat tidak menduga, sehingga mukanya kena ludah Can Houw Liang yang baru datang. Dia marah dan bermaksud hendak balas meludahi Can Houw Liang yang baru datang, akan tetapi sebelum niatnya terlaksana, tiba tiba tangan kanan Can Houw Liang yang baru datang telah menampar muka Can Houw Liarig yang diikat membikin muka Can Houw Liang yang sedang diikat menjadi terdorong menyamping, dan ludahnya tidak mencapai sasaran yang dikehendaki.

"Ha ha ha . . !" tawa lagi Can Houw Liang  yang  baru datang itu, lalu dia meneruskan berkata:

" . . . lima belas tahun yang lalu, kau pernah meludahi seorang pengemis kecil. Kau menganggap remeh perbuatanmu itu, dan kau bahkan tertawa. Tertawa sebab kau merasa girang, sebab kau telah berhasil menghina seorang bocah yang tidak berdaya . “ (Dahulu, ya dahulu.  Disuatu pagi yang dingin karena memang sedang dalam pertengahan musim dingin, selagi Can Houw Liang bersama ayahnya membuka pintu rumah, karena mereka bermaksud hendak mengunjungi seorang sanak, maka kelihatannya bahwa di depan pintu rumahnya sedang meringkuk seorang pengemis  kecil yang merintih.  Merintih karena kedinginan, dan merintih karena sedang kelaparan ! Dengan sebelah kakinya yang kecil, si bocah Can Houw Liang menendang si pengemis kecil itu).

' . . nah, sekarang kau teringat dengan waktu  kau menendang si pengemis kecil itu, bukan . . ?" tiba tiba tanya Can Hauw Liang yang sedang diikat; lalu secara tiba tiba  pula dia menendang betis Can Houw Liang yang sedang diikat, membikin pemuda yang tidak berdaya itu jadi berteriak kesakitan namun tidak dapat menghindar.

(… si pengemis kecil itu berteriak mengaduh. Lalu  waktu  dia sedang berusaha hendak berdiri buat dia meninggalkan tempat itu, maka Can Houw Liang telah meludahi, tepat pada muka si pengemis kecil yang jadi berdiri terpesona dihadapannya akan tetapi tidak berani melawan, sebab dilihatnya di dekat Can Houw Liang ada ayahnya Can Houw Lang bahkan juga ada empat orang tukang pukul yang telah bergerak mendorong dan mengusir si pengemis kecil itu . .)

Dan pandangan mata si pengemis kecil itu, sekarang mirip benar dengan pandangan sinar mata Can Houw Liang yang sedang berdiri mengawasi Can Houw Liang yang diikat membikin Can Houw Liang yang sedang diikat itu menjadi terkenang dengan masa lalu yang sebenarnya sudah dia lupa- kan.

'Bagi kau yang telah meludahi si pengemis kecil itu sudah tentu kau menganggap remeh perbuatanmu . . .' kata lagi Can Houw Liang yang sedang berdiri mengawasi Can Houw Liang yang sedang diikat, lalu dia menyambung bicara lagi :  "... akan tetapi, bagi si pengemis kecil itu. Meskipun benar dia hanya seorang gelandangan yang tidak berdaya,  akan tetapi dia mempunyai rasa dan harga diri, sedangkan harga dirinya itu sudah kau landa dengan perbuatanmu itu. Fui ., '

Sekali lagi Can Houw Liang yang sedang diikat harus menerima ludahnya Can Houw Liang yang sedang berdiri dan berbicara di hadapannya.

Can Houw Liang yang sedang diikat itu tidak sempat menanyakan siapa sebenarnya orang yang sekarang mirip dengan dia itu oleh karena mendadak Can Houw Liang yang berdiri itu keluar meninggalkan ruangan sambil dia memesan sesuatu kepada si pendeta muda yang memanggil dia tadi.

Malam itu dengan menggunakan ilmu ringan tubuh  ouw beng kong atau bayangan hitam melayang diangkasa, maka Can Houw Liang dengan memakai tutup muka dari kain warna hijau, berhasil memasuki rumahnya hartawan The, tanpa ada seseorang yang mengetahui meskipun sebenarnya waktu itu terdapat banyak para kauwsu dan para tamu yang kebenaran masih menginap.

Dengan geraknya yang lincah dan ringan, Can Houw Liang kemudian berhasil memasuki kamarnya dara The Lian Cu.

Meskipun waktu itu The Lian Cu sudah rebah diatas tempat tidurnya, akan tetapi dia  belum pulas tertidur, sebab dia sedang memikirkan perbuatan calon suam inya yang katanya telah menjadi seorang pelarian dari rumah penjara kota Po teng.

Seperti kata orang orang bahwa perempuan itu memiliki perasaan yang halus, yang kadang kadang bagaikan mempunyai indera yang keenam, maka hati nurani The  Lian Cu merasa tidak percaya bahwa laki laki pilihannya telah melakukan pencurian, apalagi barang yang dicuri adalah milik yang menjadi caIon isterinya, yang kemudian hari barang barang itu akan menjadi milik mereka berdua. Akan tetapi, adanya bukti barang itu berhamburan dari dalam kantong Can Houw Liang benar benar telah membikin The Lian Cu menjadi bingung tidak mengerti.

Dan dara yang jelita itu kemudian menjadi sangat terkejut waktu secara tiba tiba dilihatnya daun jendela kamarnya terbuka, lalu seseorang yang memakai  tutup  muka  warna hijau memasuki kamarnya.

Hampir The Lian Cu berteriak memanggil orang orang akan tetapi dia batal melakukannya; sebab orang itu dilihatnya memberikan aba aba agar dia tidak bersuara dan di lain saat orang itu melepaskan tutup mukanya, sehingga pada detik berikutnya dara jelita itu melihat pemuda calon suaminya yang sedang melangkah mendekati, sambil menyertai seberkas senyum.

“Lian moay…” kata calon suami itu yang tiba tiba te lah duduk disisi The Lian Cu yang baru sempat  duduk  diatas tempa tidurnya, dan kemudian dara yang jelita itu buru buru menghalau waktu tangan calon suaminya hendak menyentuh tubuhnya,

"Lian moay, kau tidak lagi menyintai aku?" tanya Can Houw Liang sambil dia mengawasi muka calon istrinya dan tak lupa dengan menyertai senyumnya.

Dara yang jelita itu tidak segera memberikan jawaban sehingga sejenak keadaan didalam kamar itu menjadi hening.

Sejak mereka berdua bertunangan memang benar telah beberapa kali keduanya mengadakan pertemuan dan saling bertukar kata bahkan pemuda itu sudah biasa memegang sepasang lengan The Lian Cu kalau mereka berdua sedang berada didalam taman bunga,  akan tetapi untuk  berada berdua didalam kamar tidur  apalagi saat  itu  dara  yang jelita itu sedang memakai pakaian tidur yang tipis kainnya maka hal itu adalah memalukan bagi The Lian Cu.

Akan tetapi waktu didengarnya kata kata lembut dan sikap mesra maka The Lian Cu balas mengawasi muka calon suaminya dan dia berkata : "Liang ko, kau..,” dan dara yang jelita itu tak dapat meneruskan perkataannya; padahal jelas maksudnya dia hendak menanyakan keterangan perihal pencurian dan peristiwa berikutnya yang dialami oleh calon suaminya itu.

'Lian moay, apakah kau percaya bahwa  aku  telah melakukan pencurian..," sengaja Can Houw Liang menanya lembut mesra nada suaranya.

The Lian Cu mengawasi lagi muka calon suaminya setelah sesaat tadi dia diam menunduk, dan sekali ini dibiarkannya waktu sebelah tangannya dipegang erat erat oleh pemuda itu yang kemudian menambahkan perkataannya.

"Pencurian itu bukan aku yang lakukan aku justru.., " “Mengapa  Liang  ko tidak mengatakan terus  terang kepada

ayah dan kepada  mereka  yang  menangkap kau ?”  tanya The

Lian Cu yang memutus perkataan calon suaminya.

“Sukar buat aku ingkar  sebab lebih dulu aku harus menangkap pencurinya; untuk aku membuktikan keadaan yang sebenarnya.. .* sahut Can Houw Liang, sambil  dia meraba raba lengan calon isterinya yang putih halus kulitnya.

'Siapakah gerangan si pencuri itu ,,?” The Lian Cu menanya lagi karena dia memang tidak percaya bahwa calon suaminya tetah melakukan pencurian, sementara waktu itu dia merasa geli, akibat lengannya sedang diraba mesra oleh calon suaminya.

'Seseorang yang aku tidak ketahui s iapa dia, akan tetapi dia telah menyamar sebagai aku; waktu dia melakukan perbuatan itu. .” sahut Can Houw Liang.

“Menyamar .. ?' ulang The Lian Cu yang kelihatan menjadi heran, akan tetapi didalam hati dia sudah dapat menduga tentang apa sebabnya orang orang menuduh calon suaminya yang melakukan pencurian itu. “Benar, akan tetapi hal ini akan aku atasi, yang penting bagiku, apakah Lian moay percaya bahwa aku telah mencuri

.?"

The Lian Cu menggelengkan kepalanya dan perlihatkan seberkas senyum manis, senyum wajar karena sesungguhnya dia merasa girang sebab calon suam inya sudah memberikan penjelasan kepadanya.

"Kau tetap menyintai aku . . . . ?' tanya lagi ca lon suami itu dan waktu The Lian Cu manggut maka tiba tiba Can  Houw Liang menarik sepasang lengan calon  isterinya  membikin tubuh mereka saling menyentuh lalu Can Houw Liang merangkul dan mencium pipi serta leher dara yang jelita itu.

'Oh, Liang ko, jangan.." The Liang Cu bersuara lembut perlahan didalam rangkulan calon suaminya kemudian  rasa  geli menjalar membikin dia tertawa perlahan sementara Can Houw Liang mendorong membikin tubuh mereka berdua rebah diatas tempat tidur.

"Liang ko. dimana kau umpatkan diri se lama ini ?" tanya dara yang jelita itu sambil jari jari tangannya memainkan daun telinga kekas ihnya yang rebah menindih tubuhnya; dia membiarkan tangan tangan kekas ihnya yang dengan nakal sedang menyusuri tubuhnya. 

'Hmm! aku terpaksa berdiam didalam sebuah kuil,  jauh di luar kota Po teng .'sahut Can Houw Liang yang lalu mematikan api lilin yang masih menyala.

Ketika disaat berikutnya The Lian Cu telah berada seorang diri, maka suatu rasa kekosongan telah menyelubungi dirinya, karena kekasihnya telah pergi, meskipun berjanji akan kembali pada esok malamnya, akan tetapi dengan memesan supaya The Lian Cu tidak memberitahukan kepada orang lain tentang kedatangannya.

Dara yang jelita rebah termenung dengan air mata membasahi mukanya. Dia tidak menyesali akan perbuatan yang baru mereka Iakukan. Dia hanya merasa  heran, mengapa dengan mudah dia sudah menyerah tidak berdaya menghadapi perbuatan kekas ihnya. Dia benar benar tidak mengetahui bahwa suatu obat perangsang 'yen-yang-bun'  telah digunakan; sehingga atas suatu bau harum yang tercium oleh dara yang jelita itu, maka dia  tidak berdaya dan membiarkan kegadisannya direnggut oleh si iblis penyebar maut yang menyamar sebagai ujut calon suaminya.

Esok malamnya pada waktu yang sama Can Houw Liang menepati janjinya kepada kekasihnya, akan tetapi malam itu tidak lagi dia memerlukan memakai obat perangsang, sebab The Lian Cu telah berlaku menjadi seorang isteri yang patuh terhadap suaminya.

Demikian sepasang insan anak manusia itu memadu kasih mesra, sedangkan tanpa diketahui oleh dara yang jelita  itu pihak ayahnya dan sementara penduduk kota Po-teng masih tetap ramai membicarakan perihal Can Houw Liang,  yang tetap menghilang sehabis melarikan diri dari rumah penjara kemudian disusul dengan peristiwa tewasnya Can Hok Liang (ayahnya Can Houw Liang) tanpa diketahui  siapa pembunuhnya akan tetapi pada tubuh orang tua itu, atau tepatnya pada bagian lehernya, membenam sebuah paku "tok liong teng" atau paku naga beracun, yang menjadi senjata rahasia si iblis penyebar maut.

Para tamu yang datang dirumah hartawan The Sin Goan untuk menghadiri upacara hari jadi The Lian Cu, telah pamitan pulang ketempat masing masing, kecuali Tio Tiong Cun dan Ong Su Gie yang dim inta bantuannya oleh hartawan The yang masih merasa penasaran dalam menghadapi urusan calon menantunya.

Tio T iong Cun berdua Ong Su Gie merupakan orang orang gagah yang biasa berkelana dikalangan  rimba persilatan, sehingga mereka sudah mendengar perihal keganasan si iblis penyebar maut sampai kemudian mereka menghadapi peristiwa tewasnya Can Hok Liang yang mereka duga telah menjadi korban keganasan si iblis penyebar maut, sebab telah ditemukannya paku naga beracun ("tok-liong teng') yang merupakan senjata khas menjadi senjata rahasia  si iblis penyebar maut dan disamping itu mereka berdua  masih penasaran dengan hilangnya Can Houw Liang dari rumah penjara di kota kangzusi Po teng dan pemuda itu tetap tidak muncul .com padahal berita tentang tewasnya Can Hok Liang dengan cepat telah tersebar meluas.

Dengan adanya peristiwa di kota Po teng itu, maka Tio Tiong Cun berdua Ong Su Gie bertekad hendak melakukan penyelidikan disamping mereka merasa wajib  memberikan bantuan bagi hartawan The Sin Goan yang menjadi sahabat mereka.

Dengan giat dan secara silih berganti T io T iong Cun berdua Ong Su Gie bantu meronda diwaktu malam, baik disekitar rumah hartawan The, bahkan sampai kerumah almarhum Can Hok Liang.

Dan pada malam itu, selagi Tio  Tiong  Cun  mendapat giliran meronda disekitar rumah hartawan The, maka tiba tiba dilihatnya ada sesuatu bayangan hitam yang bergerak sangat pesat dan lincah.

Di antara para kauwsu yang bekerja pada hartawan The telah diketahui oleh Tio Tiong Cun bahwa mereka tidak ada yang memiliki ilmu ringan tubuh yang sedemikian mahirnya sedangkan Ong Su Gie pada malam itu mendapat giliran meronda dirumah almarhum Can Hok Liang. Oleh karena itu tanpa ragu ragu Tio Tiong Cun melesat mengejar karena bayangan hitam itu menghilang sampai dilain saat diketahui o!eh Tio Tiong Cun, bahwa bayangan hitam itu sedang mengintai didekat jendela kamarnya The Lian Cu!

Dengan geraknya yang ringan Tio Tiong Cun me lesat mendekati bayangan hitam itu, akan tetapi dia menjadi heran dan terpesona sebab waktu bayangan hitam itu  membalik maka yang dilihatnya justeru adalah sahabatnya, Ong Su Gie.

"Ong hiantee, bukankah kau menjaga di,."

Tio Tiong Cun hentikan perkataannya, sebab dilihatnya sahabatnya memberikan aba aba supaya dia tidak  bersuara dan sahabatnya itu bahkan mengajak dia menjauhi tempat itu.

(Usia Tio Tiong Cun sedikit lebih tua dari Ong Su Gie, sehingga dia menyebut adik, atau hiantee)

"Toako, aku sudah berhasil menemukan tempat Can Houw Liang . . " kata Ong Su Gie, setelah mereka pindah dari dekat jendela kamar The Lian Cu.

"Benarkah . . . ? " tanya Tiong Cun; heran bercampur girang.

'Benar. Marilah toako ikut aku . . .’ sahut Ong Su Gie yang lalu mendahulukan bergerak kesuatu arah disusul cepat cepat oleh sahabatnya.

Tio Tiong Cun memiliki ilm u lari cepat 'liok tee hui heng' atau terbang diatas rumput yang mahir, akan tetapi saat  itu  dia harus mengerahkan semua kemampuannya, buat tetap dia mendampingi sahabatnya, sehingga didalam hati dia memuji Ong Su Gie yang benar benar sangat mahir ilmu ringan tubuh dan lari cepat.

Mereka lari jauh menuju luar kota Po-teng dan mereka masih terus lari meskipun mereka telah  memasuki desa  Bian sie cung. Sampai kemudian mereka memasuki sebuah kuil dimana dengan lagak berhati hati Ong Su Gie mengajak rekannya memasuki ruangan, sehingga  dilain saat mereka melihat pemuda Can Houw Liang yang diikat  sepasang  kaki dan tangannya, serta yang waktu itu berada dalam keadaan pingsan, meskipun tetap dalam keadaan berdiri.

Tio Tiong Cun bergegas hendak mendekati dan menolong Can Houw Liang, akan tetapi tiba tiba didengarnya suara sahabatnya yang mencegah niatnya. Mencegah bukan dengan nada seorang sahabat akan tetapi membentak seperti seorang musuh :

"Tunggu.. . !”

Tio T iong Cun memutar tubuhnya menghadapi sahabatnya dan dilihatnya Ong Su Gie tiba tiba tertawa dan berkata lagi :

" kau sudah terperangkap. maut sudah mengintai akan

tetapi kau masih menjual lagak hendak menolong lain orang. Ha ha-ha,, “

'Ong hiantee, kau,..,?'

"Ha ha ha ! ketahuilah olehmu bahwa  aku  adalah  Toat beng sim, aku bukan sahabatmu.”

'Iblis penyebar maut..,?" ulang T io T iong Cun yang menjadi terpesona. Sekarang sadarlah dia bahwa orang yang  sedemikian lamanya dia anggap sebagai sahabatnya ternyata adalah seorang iblis  penyebar maut yang ganas; seperti pengakuan Ong Su Gie sendiri !

“Binatang! kalau begitu kau adalah si iblis penyebar maut yang kejam dan ganas itu ,.,!” Tio Tiong Cun menyambung perkataannya dan memaki, karena tak  kuasa  dia membendung kemarahannya.

"Ha ha ha,,,!" Ong Su Gie tertawa lagi, akan tetapi sambil dia mengeluarkan senjatanya yang melibat dibagian pinggangnya, oleh karena senjata itu adalah  merupakan Kim  sie joan pian atau cambuk lemas yang penuh duri duri yang tajam, yang mengandung bisa racun maut!

Dalam gusarnya, maka tanpa ragu ragu T io tiong Cun juga menyiapkan senjatanya, berupa sebuah golok yang tajam dan dia bahkan mendahulukan me lakukan penyerangan, bergerak dengan tipu 'jangkerik muda Iompat dirumput'  (han-san-sie tit), sambil goloknya menikam, memakai jurus dari 'pak hong liu-san* atau angin utara meniup gunung. Sekali lagi Ong Su Gie perdengarkan suara tawanya. Tawa bagaikan iblis  yang sedang gembira, sementara dengan tenang kakinya melangkah mundur, lalu diayunkan  dan kakinya menghajar golok lawannya dengan jurus belut hitam menyelam didalam air sehingga cambuknya  itu  sempat melibat golok lawannya, yang hampir lepas dari pegangan T io Tiong Cun, sekiranya Tio Tiong Cun tidak bergerak ringan, mengikuti daerah perputaran cambuk lawannya, sehingga  lepas dari libatan lalu T io T iong cun menendang lengan lawan yang sebelah kanan, memaksa lawannya harus  berkelit memisah diri !

"Bagus... !” seru Ong Su Gie memuji; sambil Iagi lagi dia tertawa dan memutar cambuknya, sampai perdengarkan bunyi suara angin menderu dan cambuk itu kemudian dengan lincah dan gesit telah mencari sasaran pada tubuh lawannya, melakukan serangkaian serangan maut.

Untuk sesaat Tio Tiong Cun terdesak dengan serangan lawan yang datangnya bertubi tubi; yang memaksa dia harus melawan sambil melangkah mundur.

Untung bagi T io T iong Cun bahwa latihan tenaga dalamnya sudah mencapai batas  kemampuannya,  sehingga  walaupun dia terdesak, namun dia dapat berlaku tenang, sehingga tidak dapat dia dikalahkan dengan mudah.

Sebenarnya sudah cukup lama T io T iong Cun kenal dengan Ong Su Gie. Mereka berdua bahkan pernah bahu membahu bertempur melawan berbagai musuh, karena keduanya merupakan sehaluan yang biasa menentang  berbagai perbuatan jahat dari itu sesungguhnya adalah sangat diluar dugaan Tio Tiong Cun bahwa sahabatnya itu  sebenarnya adalah si iblis penyebar maut yang ganas dan kejam.

Di samping itu Tio Tiong Cun juga merasa heran sebab sedemikian lamanya dia kenal dengan sahabatnya akan tetapi tak pernah dia melihat sahabatnya itu memakai senjata Kim sie joan pian atau cambuk lemas. Sebab biasanya senjatanya Ong Su Gie adalah sebatang pedang yang istimewa tajamnya.

Sementara itu sambil tetap bertempur menghadapi lawannya, Ong Su Gie sekarang perdengarkan kata katanya yang agak kurang dimengerti oleh Tio Tiong Cun :

'Dahulu, ya dahulu kau pernah  menghina  seorang pengemis kecil waktu kau dalam perjalanan mengantar kereta piauw.’

(Dahulu Tio Tiong Cun memang pernah  menjabat pekerjaan sebagai piauwsu pada T in wan piauwkiok. Dia t idak heran kalau sahabatnya mengetahui tentang pekerjaannya itu akan tetapi dia heran mengapa sahabatnya mengetahui tentang hal remeh seperti yang dikatakan bahwa dia telah menghina seorang pengemis kecil yang sebenarnya dia sudah tidak ingat lagi)

”... si pengemis kecil itu tidak mengemis sesuatu  kepadamu. Tidak juga dia mengharap belas kasihanmu atau dari rombonganmu. Akan tetapi mengapa  kalian  menghina dia? Mengapa kalian memaki dia dengan mengatakan dia menjadi mata mata pihak orang orang Kay pang dan mengusir dia babkan beberapa pembantu kau telah melontarkan pengemis kecil itu dengan batu batu.. .?”

(Sekarang T io T iong Cun jadi teringat dengan peristiwa itu. Teringat bahwa waktu itu dia sedang melindungi suatu kiriman kereta piauw yang kemudian dirintangi oleh beberapa orang orang gelandangan yang diduga dari pihak Kay pang, atau persekutuan para pengemis. Kemudian terjadi pertempuran dan orang orang gelandangan berhasil dihalau oleh dia serta para pembantunya, akan tetapi pada saat berikutnya datang serombongan kawanan berandal yang dipimpin oleh seorang perempuan yang masih muda usia akan tetapi gagah perkasa, sehingga rombongannya kena dihajar kucar kacir. Iringan kereta piauw itu akhirnya kena dirampas oleh pihak berandal dan T io T iong Cun mengajak sisa pembantunya buat melakukan penyelidikan; sampai kemudian  mereka menemukan seorang pengemis kecil yang sedang menangis seorang diri di tepi suatu jalan yang sunyi. Disebabkan mereka curiga kalau kalau si pengem is kecil itu adalah mata mata dari pihak Kay pang yang dianggap menjadi pembawa bencana, yang mengakibatkan kereta piauw mereka dirampas oleh kawanan berandal, maka Tio Tiong Cun mendekati dan membentak si pengemis kecil itu membikin  si pengemis  kecil itu menjadi ketakutan, namun menyangkal bahwa dia menjadi mata mata pihak Kay pang, sampat kemudian para pembantu Tio Tiong Cun mengusir si pengemis kecil itu, bahkan  ada yang melontarkan dengan batu batu kecil.

Akan tetapi, ada hubungan apakah antara si pengemis kecil dengan sahabatnya yang bernama Ong Su Gie ini ? Peristiwa itu terjadi kira kira sudah sepuluh tahun lebih. Usia Ong Su Gie sekarang sudah lewat dari 40 tahun sehingga tidak mungkin bahwa s i pengemis kecil itu Ong Su Gie. Akan tetapi mengapa Ong Su Gie kelihatan begitu dendam dengan peristiwa itu.

“… si pengemis kecil itu memang tidak  berdaya  waktu kalian hina akan tetapi kalian lupa bahwa s i pengem is kecil itu adalah seorang manusia biasa yang tidak ada bedanya seperti kalian, sebab dia juga mempunyai rasa. Rasa harga diri dan rasa dendam . . ' demikian Ong Su Gie berkata lagi, selagi dia melakukan berbagai serangan kepada Tio Tiong Cun.

"Akan tetapi ada hubungan apa antara kau dengan si pengemis kecil itu . . " tanya T io T iong Cun, sambil dia harus berkelit dari suatu sabetan cambuk.

"Sebab si pengemis kecil itu adalah aku.." teriak Ong Su Gie yang kelihatan sangat marah dan dendam.

Selagi Tio Tiong Cun terpesona bagaikan dia tidak percaya dengan perkataan sahabatnya tadi, maka dia terkena hajaran cambuk berbisa dari si iblis penyebar maut. Tio Tiong Cun berusaha menahan rasa sakit pada pundak kirinya yang terkena cambuk berduri itu, akan tetapi dia tak kuasa menahan rasa pening yang menyerang dia  yang membikin matanya menjadi gelap dan  tubuhnya sempoyongan, sedangkan goloknya ikut lepas dari pegangannya, sehingga  dia menyadari bahwa dia  telah terkena bisa racun yang sangat dahsyat !

Masih sempat Tio Tiong Cun mendengar suara tawa sahabatnya. Tawa bagaikan iblis yang siap menyebar  maut. Lalu sahabatnya itu mendekati dengan sebelah tangan kirinya memegang sebatang pisau belati.

Pisau belati itu bagaikan kilat lalu membenam dibagian  perut Tio Tiong Cun, lalu pisau belati itu ditarik kebagian atas merobek perut Tio Tiong Cun yang menyemburkan darah hangat, dan T io Tiong Cun rubuh tengkurap menjadi mangsa yang kesekian banyaknya dari si iblis penyebar maut yang waktu itu berujut muka sebagai Ong Su Gie!

Disaat berikutnya si iblis penyebar maut mengganti ujut mukanya, dan kembali ia menjadi si pemuda Can Houw Liang.

-o)dw-hen(o-

SEHARUSNYA malam itu Tio Tiong Cun bertugas jaga disekitar rumah hartawan The, akan tetapi waktu Ong Su Gie mencari, dia  tidak menemukan sahabatnya itu Ong Su Gie menunggu dan menunggu, akan tetapi sahabatnya itu tak kunjung kelihatan.

Ong Su Gie menjadi gelisah dan merasa cemas. Lagi dia meminta bantuan para kauwsu buat mencari sahabatnya itu, akan tetapi apa gerangan kata dua  orang kauwsu yang bernama Ang Cin Bu dan Ang Cin Bun ?

'Bukankah tadi Ong tayhiap yang mengajak Tio tayhiap pergi . . ?" Sudah tentu Ong Su Gie jadi terpesona; tidak mampu dia bicara apa apa.

Sejak dia berpisah membagi tugas, maka Ong Su Gie menetap mengawasi rumah keluarga Can Hok Liang. Dia datang kerumah hartawan The karena tiba waktunya buat dia berkumpul dengan sahabatnya, akan tetapi tidak pernah dia temui sahabatnya itu, jadi bagaimana mungkin dikatakan bahwa dia telah mengajak sahabatnya pergi?

Adapun kauwsu Ang Cin Bu lalu menambah perkataannya sebagai berikut :

"., secara kebenaran sempat kami lihat Ong tayhiap yang sedang mengintai kedalam kamar The siocia,"

'Hayaa! aku mengintai kamarnya anak perawan ?’ kata Ong Su Gie yang merah mukanya menahan rasa malu ! akan tetapi kauwsu Ang Cin Bu tidak menghiraukan dan dia berkata lagi;

"Kemudian kami melihat Tio tayhiap datang dan berkata: 'Ong hiantee, bukanlah kau menjaga di..,..?' dan Ong tayhiap lalu memberikan aba-aba supaya T io tayhiap jangan bersuara sebaliknya Ong tayhiap mengajak Tio tayhiap pergi sebab katanya Ong tayhiap sudah berhasil menemui Can kongcu !

"Kami mempunyai tugas menjaga keamanan rumah The wangwee dari itu kami tidak mungkin ikut pergi dengan kalian. Jadi bagaimana mungkin sekarang Ong tayhiap mencari Tio tayhiap, mencari dan menanya kepada kami ?”  Ang Cin Bun ikut bicara selagi Ong Su Gie masih terpesona; dan kauwsu ini bahkan perlihatkan rasa curiga.

Ong Su Gie jadi tersinggung waktu  dia  mendengar perkataan Ang Cin Bun. Dia sampai berteriak membantah akan tetapi tiba-tiba dia menjadi terkejut ketika dia  mendengar suara hartawan The Sin Goan yang datang mendekati dan hartawan The sudah mendengarkan pembicaraan yang berlangsung tadi. (“Kau tahu hiantit," kata Ong Su Gie kepada Tan Hui Beng yang menjadi tamunya; dan dia menambahkan lagi :

“. . . saat itu betapa rasa maluku terhadap hartawan The yang menjadi sahabatku. Malu karena aku dituduh sudah mengintai ke dalam kamar anak perawannya,  dan  malu karena aku dituduh sudah menganiaya sahabatku yang bernama Tio Tiong Cun, yang pagi harinya kami temukan mayatnya dibungkus dengan karung, ditempatkan disuatu semak di halaman belakang rumah hartawan The dan mayat sahabatku itu sangat rusak karena perutnya yang robek  seperti bekas dibedah; sehingga orang orang yang melihatnya menjadi bergidik dan marah terhadap si pembunuh yang biadab, dan si pembunuh biadab itu justeru dituduh aku ... !")

Hari itu juga jenazah Tio Tiong Cun dimasukkan kedalam peti mati lalu dikirim kerumah keluarganya di kota Lim Tong. Untuk pekerjaan ini hartawan The sengaja telah mengupah Kim goan piauwkiok yang mengantar.

Pada mulanya Ong Su Gie bermaksud meninggalkan rumah hartawan The pada hari itu juga, akan tetapi hartawan yang amat ramah tamah  itu membujuk supaya dia  menunda niatnya, dengan mengatakan sebaiknya Ong Su Gie pergi setelah urusan di kota Po teng itu menjadi  jelas,  yang sekaligus akan menghapus tuduhan orang terhadap Ong Su Gie.

Malam harinya sampai mendekati waktu subuh Ong Su Gie terus meronda disekitar rumah hartawan  The, meskipun sebenarnya dia merasa seolah olah sudah dias ingkan, akibat dicurigai oleh para kauwsu yang bekerja pada hartawan The.