-->

Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 10

Jilid 10

SETELAH cukup lama mengawasi. maka datang rasa tidak puas didalam hati dara manja itu. Tidak puas terhadap laki laki asing itu yang dia anggap tidak sopan. karena mengintai dia yang sedang berlatih ilmu s ilat.

"Siapa kau dan siapa pula yang memberikan  idzin kau  datang disini...?" tegur dara manja itu  tanpa  dia  mendekati laki laki yang masih asing bagi dia.

"Ha ha ha....!” laki laki itu tertawa. yang sudah tentu membikin Siu Lan jadi marah. akan tetapi laki  laki itu menyambung bicara selagi Siu Lan belum sempat mengucap apa apa :”aku datang dari tempat yang jauh. sengaja aku mendaki bukit Tsin nia dan sengaja aku mencari  kau. Sekarang aku lihat kau pandai ilmu silat. akan tetapi sayang sekali ilmu yang kau miliki itu adalah ilm u murahan yang tiada arti dan manfaatnya..."

"Kurang ajar ! kau mengoceh dan mencela aku. Mari. kau maju sedikit dan aku akan serang kau....!" maki dara  manja  itu yang tidak dapat membendung marahnya.

"Ha ha ha." tawa lagi laki laki itu sambil dia melangkah mendekati. dan suara tawanya itu mendatangkan rasa gentar bagi Siu Lan padahal laki laki itu tertawa wajar; tidak menggertak dan tidak menyeramkan suara tawanya.

“Cukup ! Selangkah lagi kau maju. akan kuserang kau !”

dara manja itu berteriak dan tabahkan hatinya.

“Aku justeru menghendaki kau serang aku.” sahut laki laki asing itu.  dan lagi lagi dia  masih tetap menyertai suara tawanya; dan dia tetap tertawa meskipun dia harus berkelit menghindar dari tikaman pedang Siu Lan dan dia bahkan tidak selalu berkelit menghindar. akan tetapi dia mendorong punggung Siu Lan memakai telapak tangan kirinya; mendorong perlahan  akan tetapi mengakibatkan Siu Lan terjerumus hampir jatuh.

“Nah. kau lihat ! tidak ada gunanya kau memiliki ilmu silat itu. Kau tentu sudah tewas kalau aku memukul keras  keras.  Ha ha-ha... !”

“Tutup mulutmu. kau laki laki bau… !” seru dara manja itu sambil sekali lagi dia menikam. bahkan menikam dengan mengerahkan tenaga. menggunakan jurus 'ular betina keluar dari liang' dan sebagai akibatnya dia terjerumus jatuh. padahal laki laki  itu hanya berkelit  menghindar tidak mendorong memakai tangannya.

Siu Lan merangkak bangun dan berdiri. Mukanya kotor mengakibatkan laki laki itu jadi tertawa  lagi;  sedangkan  Siu Lan bagaikan harimau luka telah melakukan penyerangan lagi menikam mengarah jantung laki laki itu.

Akan tetapi hanya dengan sentilan jari tangannya pedang Siu Lan terlempar jatuh. dan pada gerak berikutnya laki laki itu berhasil merangkul tubuh Siu Lan yang ramping.

“Anakku. aku girang  melihat kau. Kau cantik dan kau gagah. He ! tunggu dulu; aku ayahmu jangan kau pukul  aku..!"

Meskipun dia  sedang dirangkul akan tetapi sepasang tangan Siu Lan bebas tidak dipegang. Dia hendak memukul muka laki laki itu. waktu tiba tiba dia mendengar kata kata 'ayah’.

( ayah.. ?) bisik dia didalam hati !

“Ayah. ?” dia mengulang dengan suara perlahan.

"Ya. aku ayahmu. Aku ayahmu yang tentunya kau belum pernah lihat.”

“Akan tetapi. ibu mengatakan ayah sudah binasa dalam pertempuran melawan si iblis penyebar maut.." "Ha ha ha ! ibumu mungkin hanya mendengar berita tanpa dia mengetahui keadaan yang sebenarnya padahal belasan tahun aku mencari kau dan mencari ibumu."

"Siapa nama kau kalau kau mengaku sebagai ayahku ?" tiba-tiba tanya Siu Lan bagaikan dia merasa curiga.

“Ha ha ha! masa ibumu tak pernah mengatakan nama ayahmu?” lelaki itu berkata secara bergurau.

“Kata ibu nama ayah adalah Ong Koan Bie.” “Nah itulah namaku."

Cuma sejenak Siu Lan masih kelihatan seperti ragu ragu setelah itu :

"Oh ayah !" dan Siu Lan merangkul lelaki yang mengaku jadi ayahnya dan yang masih merangkul dia.

"Anak kau sudah besar dan kau cantik sekali."

"Ayah oh ayah." dan Siu Lan mengalirkan air mata merasa girang.

“Eh. jangan kau menangis. Seorang dara perkasa tidak boleh menangis. Akan tetapi tadi kulihat ilmu silatmu.”

"Ilmu silat murahan yang tiada artinya. itukah yang ayah katakan tadi. bukan? Nah. sekarang aku mempunyai ayah yang tinggi ilmunya. Aku mau belajar.” sahut Siu Lan yang kembali jadi berlaku manja.

“Ha ha ha! kau benar benar anak yang manis. anak yang manja. Mari kuajarkan kau."

Dan Siu Lan mendapat pelajaran ilmu s ilat dari ayahnya itu. Dia berlaku giat penuh semangat. Dia bahkan tidak perduli sudah puluhan kali dia terjatuh dan dia bangun lagi dan bangun lagi untuk mengulang pelajaran yang dia  peroleh. sehingga dia t idak melihat kalau ibunya pulang dengan diantar oleh seorang laki  laki yang memanggul barang belanjaan ibunya.

“Siu Lan. kau berhenti dulu. mari aku perkenalkan kau dengan seseorang…” seru ibunya. namun Lie Kim Nio jadi berdiri terpesona waktu dia melihat anaknya tidak berlatih sendirian.

“Ibu....” seru Siu Lan sambil dia berlari mendekati ibunya.”Ibu..."

"Tunggu aku ingin kau berkenalan dulu  dengan seseorang..." dan sang ibu memegang sebelah lengan laki laki yang membawakan barang-belanjaannya yang waktu  itu sudah diturunkan dari bagian punggungnya; dan Lie Kim Nio menambahkan perkataannya yang ditujukan kepada anak- daranya:

". inilah ayahmu..."

"Ayah.?” ulang Siu Lan tak terasa dan  hampir  pingsan waktu dia mendengar ibunya memperkenalkan dia  dengan seorang laki laki lain yang dikatakan menjadi ayahnya sebab  dia justeru hendak memberitahukan ibunya bahwa dia telah kedatangan ayahnya.

“.... ayah. ?” sekali lagi ulang Siu Lan bagaikan tak percaya dengan yang didengarnya; sementara mukanya kelihatan pucat sekali.

“Ya. ayahmu...” ulang Lie Kim Nio sementara matanya sempat melirik pada laki-laki yang tadi berlatih ilmu  silat dengan Siu Lan. yang dia tidak kenal akan tetapi waktu itu sedang mendekati dia :

“Kim Nio...” laki laki itu menyapa lembut perlahan. dan dia menghentikan langkah lakinya tidak terpisah jauh dari K im Nio berdiri; dan keduanya saling berhadapan; saling mengawasi.

“Siapa kau ? Kau siapa...." tanya Kim Nio mulai gugup karena heran. sebab laki laki  itu yang mengetahui dan menyebut namanya; dan nada suara laki laki itu terdengar lembut mesra.

“Ibu. dialah ayahku...." Siu Lan yang nyela bicara. mendahulukan laki laki yang belum dikenal oleh Kim Nio. dan naluri hati Siu Lan mengatakan pasti telah terjadi sesuatu sehingga tiba tiba dara manja itu terisak menangis.

“Ayah ? Ayahmu ? Aku justru datang membawa ayahmu...” tanya Lie Kim Nio bertambah heran bahkan sampai kedua lututnya terasa jadi lemas.

Di lain pihak Ong Koen Bie yang datang bersama sama Lie Kim Nio berdiri diam sambil melihat  dan mendengarkan  dengan penuh perhatian.

"Benar. Aku adalah ayahnya." sahut lelaki yang masih asing bagi Lie Kim Nio dengan nada suara yang tetap terdengar lembut mesra.

"Bedebah. aku tak kenal dengan kau ! betapa beraninya  kau mengakui lain orang !” tiba tiba Lie Kim Nio memaki dan dia bahkan menyiapkan pedangnya; hendak menyerang lelaki itu.

"Ibu tahan !” seru Siu Lan sambil dia  menerkam dan memegang tangan ibunya yang memegang pedang.

Dipihak lelaki yang dianggap masih as ing bagi Lie Kim Nio sejenak dia terkejut dengan sikap Lie Kim Nio; akan tetapi dilain saat dia berkata lagi :

"Kim Nio. boleh saja kau berkata tidak kenal dengan aku akan tetapi kau tentu tidak melupakan ini..." dan laki laki itu mengeluarkan sebuah kantong kulit  yang kecil  bentuknya waktu dia mengeluarkan isinya ternyata berupa paku paku 'tok liong teng' atau paku paku naga beracun'.

“Kau! Kau si iblis penyebar maut.. !” seru Lie K im Nio waktu dia melihat paku paku itu lalu dia  mendorong Siu Lan membikin dara manja itu tersungkur jatuh dan dia menikam si iblis penyebar maut.

"Kim Nio sabar dan ingat bahwa Siu Lan  adalah  anakku. anak kita..” kata si iblis penyebar maut; selagi dia berkelit menyamping nada suaranya tetap terdengar  lembut  mesra dan sabar.

“Ibu. jangan kau serang ayah." seru Siu Lan sambil dia menangis dan sekali lagi dia mendekati ibunya akan tetapi Kim Nio mengibas dan mengulang serangannya terhadap si iblis penyebar maut !

Di lain pihak sudah enam belas tahun lamanya  Ong  Koen Bie meninggalkan Lie Kim Nio dan sudah hampir  belasan  tahun lamanya dia  berkelana menjadi tabib mengembara sambil dia mencari istrinya.

Dia pernah pulang akan tetapi dia  hanya menemukan sebuah gubuk yang sudah kosong. Dia  tak tahu kemana istrinya dan ayah mertuanya pergi dari itu dia berkelana tanpa arah tujuan dengan hati pedih dan rasa rindu ingin bertemu dengan istrinya yang dia tuduh main gila dengan lelaki lain; padahal tuduhan itu belum ada bukti dan kenyataannya.

Dia menyesali diri dengan tindak perbuatannya yang melulu berdasarkan napsu muda yang membara yang telah mengakibatkan rumah tangganya jadi berantakan.

Lalu secara tiba tiba dan secara diluar dugaan dia bertemu dengan istrinya yang sedang berbelanja membawa seorang bocah anaknya Lie Sun Houw.

Suatu pertemuan yang mengharukan kedua pihak sete lah sekian lamanya mereka terpisah akan tetapi merupakan suatu pertemuan menggembirakan. Kepada Ong Koen Bie. memang Lie Kim Nio belum menceritakan tentang Siu Lan. sebab dia merasa dia memerlukan waktu yang cukup buat dia menceritakan kepada suaminya itu. Dari itu adalah di luar dugaan bahwa pada hari yang sama si iblis penyebar maut muncul dan mengaku menjadi ayah dari Siu Lan.

Jelas bagi Ong Koen B ie. bahwa tuduhannya dulu terhadap isterinya ternyata sekarang terbukti. Jelas  bahwa  isterinya  dulu telah berlaku serong. menghianati cintanya.

Bagaikan orang tidak sadar tanpa mengucap apa apa Ong Koen Bie memutar tubuh hendak meninggalkan tempat itu. tempat isterinya yang baru dia temui setelah belasan tabun mereka berpisah. namun yang sekarang membawa kenyataan yang pahit. yang hampa bagi dirinya!

Akan tetapi Ong Koen Bie terpaksa harus menunda langkah kakinya sebab Lie Kim Nio mengejar dan sambil terisak menangis Lie Kim Nio menceritakan peristiwa dulu  dia mengejar Ong Koen Bie sampai dia kena dibius dan diperkosa oleh si iblis penyebar maut ; yang menghasilkan lahirnya Siu Lan didunia yang penuh noda dan dosa ini !

Sedih dan pilu hati Ong Koen Bie waktu dia mendengarkan pengakuan isterinya. Pengakuan yang diucapkan sambil menangis. sambil berlutut dan sambil merangkul sepasang kakinya. Dia  yakin bahwa isterinya tidak membohong  dan  tidak pernah membohongi dia !

Perlahan dia bergerak membebaskan diri dari rangkulan isterinya. Lalu tiba tiba terdengar pekik suaranya  yang panjang; pekik suara yang terdengar begitu memilukan hati namun yang bercampur dendam selama belasan tahun.

Menyusul kemudian tubuhnya Ong Koen Bie bagaikan terbang melayang. hingga sambil menendang si iblis penyebar maut; yang waktu itu sedang dipegang oleh Siu Lan.

Si iblis penyebar maut tersungkur jatuh karena tidak menduga bakal diserang. bahkan Siu Lan ikut terlempar sambil perdengarkan teriakan suara yang nyaring. Geram si iblis penyebar maut sangat menyeramkan. waktu dia melihat Siu Lan tidak segera bangun berdiri. Dia menyusut darah yang keluar dari mulutnya; sebab agaknya dia kena gempur bekas tendangan Ong Koen Bie tadi; dan dia  lompat  langsung menerkam Ong Koen Bie dengan sepasang tangan terbentang dan jari jari tangan yang membuka lebar. Itulah ilmu  'eng jiauw kang atau tenaga cakar garuda yang menyimpan tenaga dahsyat !

Ong Koen Bie ikut mengerahkan tenaga waktu dia melihat ancaman serangan si iblis penyebar maut.

Dua laki laki yang sama sama mengerahkan tenaga dalam  itu saling bentur. telapak tangan si iblis penyebar  maut  berhasil meraih dada Ong Koen Bie dan melontarkan sejauh yang dia sanggup lakukan. sementara kepalan Ong Koen Bie bersarang didada sebelah kanan si iblis penyebar maut.

Dua lawan itu sama sama memuntahkan darah dari mulut mereka. Ong Koen Bie terjatuh rebah dan si iblis penyebar maut tetap berdiri. meskipun tubuhnya kelihatan bergoyang goyang.

Sekali lagi si iblis penyebar maut hendak melakukan serangan terhadap Ong Koen Bie. akan tetapi dia didahulukan oleh Lie K im Nio yang menikam memakai pedang.

"Ibu. jangan !” teriak Siu Lan meskipun dia masih terduduk ditanah. dan Lie Kim Nio bagaikan tak mendengar suara anaknya. dan tikaman pedangnya tetap meluncur. mengarah muka si iblis penyebar maut!

Hanya dengan miringkan kepalanya. si iblis penyebar maut nyaris terkena tikaman pedang Lie Kim Nio akan tetapi  kepelan tangan kiri Lie Kim Nio tidak disangka  oleh  si  iblis akan memukul dada kanannya. sehingga sekali lagi si iblis penyebar maut kena pukul sampai dia terhuyung; akan tetapi sepasang matanya mengawasi Lie Kim Nio  dengan  sinar mesra. bukan menyimpan rasa dendam atau marah !

Sementara itu Ong Koen Bie yang sudah berdiri; sempat melihat hasil serangan istrinya.  sehingga  sekali lagi dia berteriak mengumpulkan sisa tenaganya dan sekali lagi dia menendang mengakibatkan sekali lagi si iblis penyebar maut jadi tersungkur; bahkan dia sampai terjatuh duduk akan tetapi dalam hati masih sempat dia berpikir dan terinsaf dengan tendangan semacam yang dilakukan oleh Ong Koen Bie. suatu ilmu tendangan yang dimiliki oleh Thie ciang Tio Kun Liong; salah seorang musuhnya yang ikut dalam aksi pengganyangan markasnya di dalam kota Hoa lam.

Meluap marahnya si iblis penyebar maut karena teringat dengan sangat banyaknya orang orang yang memusuhi dia. Dia berdiri dengan suatu gerak lompat. lalu sepasang kaki dan tangannya bergerak saling berganti mengerahkan semacam ilmu yang tidak dikenal oleh Ong Koen Bie  maupun oleh  Lie Kim Nio. sementara tulang tulang si iblis penyebar maut sampai terdengar berbunyi waktu dia mengerahkan tenaganya.

Sekali lagi Ong Koen Bie berteriak dan sekali lagi dia melompat sambil menyerang dengan tendangan geledek; dan sekali ini sebelah tangan si iblis penyebar maut menangkap sebelah kaki Ong Koen Bie yang dipakai untuk menendang sedangkan sebelah tangan lainnya ikut menangkap kaki  kiri Ong Koen Bie lalu dengan didulukan oleh pekik teriaknya yang bagaikan hantu kelaparan maka dia membeset tubuhnya Ong Koen Bie yang kemudian dia lemparkan jauh jauh !

Lie Kim Nio berteriak semacam seorang sinting; waktu dia melihat tubuh suaminya beset hampir menjadi dua. sekali lagi dia menerkam sambil dia menikam dengan pedangnya akan tetapi dia berpekik  keras sebelum pedangnya mencapai sasaran. dan dia rubuh terguling terkena serangan sebatang piao di tenggorokannya sedangkan si iblis penyebar maut juga terkena sebatang piao lain pada bagian pundak kirinya.

Rupanya Ong Koen Bie tidak segera tewas meskipun tubuhnya dibeset melalui sepasang kakinya. Pada waktu dia dilemparkan oleh si iblis penyebar maut. sempat dia melontarkan beberapa batang piao yang mengandung larutan bisa racun kearah si iblis penyebar maut. Akan tetapi. diluar dugaannya Lie Kim Nio  bergerak menyerang si iblis dan si iblis menyingkir dari ancaman serangan Lie Kim Nio sehingga bekas tempat  si iblis  diganti oleh Lie Kim Nio yang terkena serangan piao pada bagian tenggorokannya sebaliknya si iblis penyebar maut hanya kena bagian pundak kirinya; akan tetapi si iblis segera merasakan tubuhnya menjadi lemas tidak bertenaga.

Si iblis  penyebar maut terkenal sebagai akhli dalam menggunakan berbagai macam larutan bisa racun. dari itu alangkah amat mengecewakan kalau dia sampai dikalahkan oleh barang mainannya sendiri!

Dia hanya perlu menelan sebutir obat pulung bikinannya sendiri. dan hilang sudah rasa nyeri dan lemas yang menyerang dia. Akan tetapi. sukar buat dia menghilangkan rasa nyeri pada hatinya. waktu dia  melihat anak daranya sedang menangisi ibunya.

Bagaikan diperintahkan oleh naluri hatinya; si iblis penyebar maut yang memang masih terduduk; segera merangkak mendekati tempat Siu Lan dan Siu Lan yang melihat keadaan ayahnya; cepat cepat merangkul dan berkata sambil dia masih tetap menangis:

"Ayah. oh ayah. apakah kau juga bakal mati ?”

Ada butir butir air mata yang ikut mengalir keluar dari sepasang mata si iblis penyebar maut waktu dia melihat dan mendengar perkataan anak daranya itu :

“Tidak. anakku sayang. saya tidak akan mati...." sahut  si iblis penyebar maut dengan suara yang lemah. akan tetapi dia memaksakan diri buat memperlihatkan senyumnya. Senyum wajar. senyum haru bercampur girang.

"Ayah. oh ayah. ibu ” "Anakku. ibumu tewas. Akan tetapi kau Iihat. bukan aku yang membunuhnya ” dan si iblis mengelus atau membelai

rambut anaknya. lalu dia berkata lagi  :

“…banyak orang orang mengatakan aku kejam. aku ganas dan aku penyebar maut. Akan tetapi. anakku kau lihat. aku berlaku kejam. ganas dan aku menyebar maut  terhadap musuh atau orang orang yang memusuhi aku. Tak akan aku menggunakan kekejaman sekiranya aku bukan menghadapi ancaman maut. Dalam pertempuran tadi kalau aku menggunakan senjataku. tidak perlu aku harus mengeluarkan tenaga. dan dia tentu sudah binasa …”

Si iblis penyebar maut menunjuk kearah mayat Ong Koen Bie dan dia meneruskan perkataannya lagi :

“..berapa banyak orang orang yang berlagak menjadi pendekar ksatrya; membela kaum lemah dengan memusuhi pihak yang kuat. Akan tetapi;  apakah benar benar dia melakukan hal hal seperti lagak yang diperlihatkannya itu ? Anakku; sayang; dulu aku adalah seorang pengemis. Seorang pengemis bocah yang lemah; dan orang selalu menghina aku. Aku pernah ditendang melulu sebab aku  menumpang meneduh dekat pintu rumah seseorang. aku pernah dituduh menjadi mata-mata kaum perampok padahal aku tak tahu apa arti kata mata-mata. Pokoknya terlalu  banyak penghinaan terlalu banyak penderitaan yang aku hadapi dan alami dari orang-orang yang merasa dirinya kuat. Dan disaat aku sadari menjadi dewasa sudah memiliki ilmu mereka lari dan mereka umpatkan diri sambil mereka berteriak memaki aku sebagai iblis penyebar maut."

"Ayah." Siu Lan mengeluh; akan tetapi si iblis penyebar maut menyambung bicara ;

"Dari itu anakku; marilah kau ikut aku. Jangan perdulikan orang orang sinting yang mengatakan si iblis penyebar maut yang ganas dan yang kejam. Kau perlu belajar ilmu buat memperkuat dirimu buat bekal dihari kemudian. Satu pesanku janganlah kau percaya yang mengaku menjadi sahabatmu. Anggaplah semua ini palsu belaka dan anggaplah  semua orang sebagai musuh yang setiap waktu dapat menghina bahkan membunuh kau." Dan waktu  si 'macan  terbang'  Lie Hui Houw berdua Kanglam hiap Ong Tiong kun tiba  di bukit Tsin nia mereka hanya menemukan mayat mayat Ong  Koen Bie berdua Lie Kim Nio dan dendam mereka terhadap si iblis penyebar maut menjadi kian  bertambah sebab mereka menduga mayat mayat itu pasti adalah korban keganasan si iblis yang berhasil menyebar maut. sebelum mereka keburu datang.

Mereka kehilangan dara manja Siu  Lan dan si bocah anaknya Lie Sun Houw. yang mereka anggap tentu sudah dibawa oleh si iblis penyebar maut. padahal s i bocah anaknya Lie Sun Houw sudah mulai menangis  waktu pertempuran mulai terjadi. menangis sambil berangsur angsur menjauhi diri dari tempat pertempuran karena dia ketakutan sampai kemudian dia berlari lari menyusuri gunung Tsin san. tanpa ada seseorang yang perhatikan dia.

“Tunggu....!" tiba tiba seru Cie-in  suthay  yang menghentikan langkah kaki secara mendadak. dan waktu itu mereka sudah berada disuatu perkampungan dekat kota Lan kiao tin.

'Kau perhatikan mereka....” kata biarawati yang muda  usia itu sambil sepasang matanya mengawasi kesuatu arah; dan waktu Lie Hui Houw ikut mengawasi. maka dia melihat adanya dua orang pemuda dan seorang bocah umur belasan tahun yang kepalanya botak.

Segera jelas bagi Lie Hui Houw bahwa C ie in suthay sedang tertarik perhatiannya dengan sebatang pedang yang dibawa oleh sa lah seorang dari kedua pemuda itu; sebab pedang itu adalah pedang Ceng liong kiam yang menjadi barang pusaka dari persekutuan Ceng liong pang ! Oleh karena itu. maka si 'macan terbang' Lie Hui Houw ikut menjadi terpesona. sampai dia tidak mengucap sesuatu perkataan. dan biarawati yang muda usia itu yang  berkata lagi:

"Lekas kita ikuti mereka....” demikian kata Cie in  suthay yang segera mendahulukan melangkahkan kakinya buat mengikuti orang orang itu. dan si 'macan terbang'  Lie  Hui Houw cepat cepat bergegas sambil didalam hati dia bertanya tanya entah siapa gerangan ketiga orang orang itu. terutama yang memegang pedang Ceng liong kiam.

ooo ):( dwkzOhnd ).(;coo

KOTA Kun beng merupakan kota yang cukup besar dan ramai suasananya. Ada beberapa rumah makan yang besar ditambah dengan puluhan warung warung nasi yang berceceran sampai dipelosok kota. dan terdapat  juga beberapa rumah penginapan yang banyak tamunya berupa kaum pelancong  yang terdiri dari para pedagang maupun orang orang gagah dari kalangan rimba persilatan yang biasa melakukan perantauan.

Ada seorang gelandangan yang masih muda usianya. seorang perempuan. Kulit mukanya hitam mehong  kayak kucing garong. penuh debu yang sudah berkarat menjadi tanah juga pada sepasang lengan dan tangannya. Pakaiannya yang serba ringkas ketat; kelihatan banyak yang robek kecil dibeberapa tempat yang belum dia jahit atau tambal. sehingga kelihatan kulit tubuhnya yang juga banyak kena debu yang sudah berkarat.

Sudah tiga hari dia keluyuran didalam kota Kun beng. tanpa orang tahu dari mana ia datang karena memang tidak ada orang yang mau menghiraukan. apalagi untuk menanyakan.  Dia keluyuran seorang diri tanpa teman. Kadang kadang orang menemukan dia sedang mengorek ngorek  tempat sampah mencari sisa sisa makanan yang langsung dia kunyah  dan telan kalau sudah dia temukan. dan kadang kadang orang melihat dia keluyuran dibeberapa bagian kota Kun beng yang sedang ramai dengan orang orang yang berlalu lintas. dimana dia meneliti hampir set iap laki laki muda yang dia temui. terlebih kalau dia tahu laki laki muda itu  bermuka  tampan serta berpakaian seperti orang orang gagah dari kaum rimba persilatan.

Akan tetapi. baik orang orang yang dia teliti maupun orang orang yang sedang melihat lagak perempuan gelandangan itu; semuanya menganggap bahwa perempuan gelandangan itu adalah seorang sinting yang tidak perlu dihiraukan. terlebih mereka takut kena dimaki atau kena digebuk.  sebab perempuan gelandangan itu membawa bawa sebatang kayu yang cukup tebal dan yang dia  pakai menjadi semacam tongkat. meskipun langkah kakinya tidak pincang sehingga ti- dak ada perlunya dia memakai tongkat.

Perempuan gelandangan itu memiliki sebuah kuil tua buat tempat dia bermalam. Kuil tua yang sudah kosong tidak ada penghuninya dan tidak ada perabotannya bahkan tidak ada orang orang gelandangan lain yang menempati. sebab letak kuil tua itu disudut kota yang sunyi sehingga agak jauh buat kaum gelandangan melakukan tugas sehari hari. yakni tugas keluyuran buat mencari sisa sisa makanan atau melakukan kesibukan masing masing yang sudah biasa mereka lakukan.

Berlainan adalah dengan perempuan gelandangan yang masih berusia muda itu. Dia justru menghendaki tempat yang menyendiri. dari itu dia memilih kuil tua  yang sudah kosong itu. tanpa menghiraukan kalau malam  hari  tempat  itu kelihatan gelap menyeramkan. terlebih  perempuan gelandangan itu tidak memasang api sebagai alat penerang.

Petang itu. dia pulang ketempat dia biasa bermalam agak siang dari biasanya; karena dia merasa badannya agak tidak sehat. Dia berhenti sejenak waktu tiba tiba dia melihat adanya seorang bocah gelandangan yang sedang kencing menghadap tembok halaman kuil.

Bocah gelandangan itu kencing seenaknya; dan bocah gelandangan yang usianya kira kira sudah dua belas tahun itu menjadi agak terkejut waktu dia melihat kehadirannya orang lain ditempat yang sunyi itu. Si bocah yang botak kepalanya membalik tubuhnya; kencingnya belum habis keluar; sehingga sempat perempuan gelandangan itu melihat  tempat  sembur air kencing itu keluar; dan muka perempuan gelandangan itu kelihatan menjadi kemerah merahan mungkin merasa malu. namun pandangan matanya tak mau lepas dari tempat yang dilihatnya; sedangkan pikirannya entah kemana merantau bagaikan dia sedang mengingat ingat sesuatu kejadian tempo dulu.

Setelah habis air kencingnya keluar semua. bocah gelandangan yang botak kepalanya  itu mengikat lagi tali celananya yang memang sudah bau. dan dia nyengir kayak kuda kelaparan. maksudnya bersenyum terhadap perempuan gelandangan yang masih mengawasi dengan sinar mata hampa; dan waktu perempuan gelandangan itu melihat si bocah bersenyum. maka dia pun ikut  nyengir; jadi kedua duanya sama sama nyengir seperti lagi naksir naksir.

Si bocah gelandangan yang botak  kepalanya lalu melangkah mendekati. dan dia menyapa :

"Cici. kau datang cari siapa ? atau kau nyasar ditempat  yang sepi ini...”

Perempuan gelandangan itu menggelengkan kepala sambil dia menyingkap anak rambutnya yang sedikit terurai dibagian dahi; menyingkap memakai dua ujung jari  tangannya sehingga kena dia raba kulit dahinya yang basah dengan keringat bercampur debu dan kena tersapu bagian yang kotor itu mengakibatkan kulit dahi itu berobah kelihatan putih halus. "Aku justru menetap disini." perempuan gelandangan itu kemudian berkata.

Bocah gelandangan itu tak memperhatikan jawaban yang didengarnya. Perhatiannya  lebih banyak dia curahkan  pada apa yang dilihatnya yang telah membikin dia jadi sejenak terpesona sebab yakin dibalik muka yang kotor penuh debu berkarat itu tersimpan suatu wajah muka yang  cantik  putih dan halus kulitnya.

“Cici tinggal disini? ditempat yang menyeramkan ini ?" "Kenapa menyeramkan ?” balik tanya perempuan

gelandangan itu.

“Kau tidak takut nanti ada hantu?"

"Huh! apa itu hantu. Aku kepingin lihat bagaimana macamnya hantu...." sahut perempuan gelandangan itu; ada sedikit lagak manja yang diperlihatkannya.

"Wah! kau benar benar seorang pemberani. Aku senang dengan orang orang pemberani. Aku mau menemani kau tinggal disini„.”

Perempuan gelandangan itu tertawa ngikik seperti setan kuntilanak yang kegirangan. setelah itu baru dia berkata: ”Bagus kalau kau mau menemani aku; akan tetapi aku tidak mau dengar kau panggil aku cici”.

"Baik. aku akan panggil kau nyonya." sahut si bocah gelandangan sehabis sejenak dia diam berpikir.

Perempuan gelandangan itu menggelengkan kepala.

Sikapnya kelihatan wajar tidak mengandung kelakar. "Bagaimana kalau nyonya besar. Toa nay-nay... ?"

"Hm ! tidak bagus...” sahut perempuan gelandangan itu juga sambil dia menggelengkan kepalanya. Bocah gelandangan yang botak kepalanya itu diam berpikir lagi sambil dia menggaruk garuk kepalanya  yang tak ada kutunya; lalu dia teringat bahwa perempuan gelandangan itu masih muda usianya. Memang tidak tepat kaIau dia sebut nyonya sehingga buru buru dia berkata lagi :

"Nona !” seperti berteriak girang si bocah gelandangan itu berkata :

Akan tetapi perempuan gelandangan itu menggelengkan kepalanya; tanpa dia mengucap apa apa.

“Panggil apa dong." seperti putus asa si bocah gelandangan mengeluh ditambah dengan sebelah tangannya yang menggaruk garuk lagi kepalanya yang botak meskipun sebenarnya kepala itu tidak gatal.

"Sumoay !” tiba tiba perempuan gelandangan itu menyarankan.

(sumoay' adik seperguruan; perempuan).

”Sumoay...?” ulang si bocah gelandangan yang botak kepalanya. Dia  merasa sangat heran. sebab biasanya  kata ganti 'sumoay” hanya pernah dia dengar kalau dia ikut nonton wayang boneka di petak sembilan. eh. dirumah toapekong toa se bio !

Perempuan gelandangan itu manggut dengan muka berseri seri. dan dia berkata lagi.

“Benar. dan aku panggil kau suheng....” ('suheng' yakni kakak seperguruan. laki laki ).

Sejenak si bocah gelandangan yang botak kepalanya terdiam terpesona. dan dia teringat lagi dengan wayang boneka yang pernah dia  pernah ikut nonton. sehingga  akhirnya dia jadi tertawa. Tawa girang. padahal dalam hati dia berkata : (“aku lupa; dia  perempuan sinting..") Dan perempuan gelandangan itu ikut tertawa. Tawa  girang  bagaikan kuntilanak yang benar benar kegirangan. sebab dia  telah menemukan sang suheng ! Setelah keduanya kenyang tertawa maka perempuan gelandangan itu menarik sebelah lengan si bocah gelandangan yang botak kepalanya yang langsung dia ajak memasuki kuil tua yang kosong itu.

'Suheng kau lihat bunga bunga yang aku tanam bagus atau tidak...” perempuan gelandangan  itu berkata sambil dia menunjuk kebeberapa sudut ruangan yang banyak dihuni oleh sarang laba laba.

“Hm! sungguh indah bagus untuk dilihat.” sahut si bocah yang botak kepalanya. itu seenaknya dia  bicara sebab dia merasa perlu membiasakan diri dengan sang sumoay meski  pun didalam hati dia berkata.

( akh. dasar orang sinting..?')

"Ini tempat tidurku..“ kata lagi perempuan gelandangan itu. waktu mereka memasuki sebuah ruangan dan si bocah botak melihat tempat tidur sang sumoay yakni berupa tumpukan jerami kering yang ditebar seenaknya diatas lantai.

“Bagus kasurnya cukup tebal...” Perempuan gelandangan atau perempuan sinting itu bersenyum. Manis senyumnya se- hingga hampir hampir si bocah botak lupa bahwa sang sumoay adalah seorang perempuan sinting !

"Lekas kau sediakan tempat tidurmu...” perempuan sinting itu berkata lagi.

"Dimana aku tidur;..?”

"Terserah dimana kau senang..” sahut perempuan sinting  itu tetap menyertai seberkas senyum yang aduhai.

“Disini saja..” Perempuan sinting itu perlihatkan lagak manja. lagak yang wajar yang bukan dibikin bikin :

"Mummm. suheng tidak boleh tidur sekamar dengan aku..” "Aku takut kalau tidur sendirian....” sahut si bocah botak.

juga wajar suaranya sebab dia memang benar benar penakut.

"Tadi kau katakan senang dengan orang orang pemberani. sekarang kau sendiri yang ketakutan..... !" perempuan sinting itu bersuara menegur. kelihatan  marah dan mengangkat tongkatnya seperti hendak memukul.

“Eh. eh ! baik. aku tidur dikamar sebelah !” kata si bocah gelandangan yang tadi ketakutan. lalu dia lari  dengan sepasang tangan melindungi bagian kepalanya  yang botak takut kena dipukul !

( dasar perempuan sinting - -!) maki si  bocah  botak didalam hati. selagi dia menyiapkan jerami jerami kering buat tempat dia tidur diruang sebelah.

Waktu sang bulan sudah nongol dan si bocah botak menyalakan api unggun maka perutnya mulai nyanyi m inta diisi.

Si bocah botak tidak melihat sang sumoay keluar dari ruang tempat tidurnya; padahal hasrat hatinya si bocah ingin mengajak sang sumoay keluar jalan jalan sambil mencari sisa sisa makanan. sekaligus si bocah hendak membanggakan diri dihadapan kawan kawan. bahwa dia  sudah punya teman perempuan alias pacar.

Oleh karena yang ditunggu tunggu tak kunjung keluar; sedangkan perut si bocah tambah keroncongan; maka  si bocah melangkahkan kakinya. memasuki ruang tempat sang Sumoay tidur.

Ruang itu memang gelap. akan tetapi  ada  sedikit  sinar yang masuk dari sang bulan dan dari sinar api unggun yang masih menyala. Samar samar si bocah botak melihat bahwa sang sumoay rebah meringkuk dengan suara menggigil karena menderita penyakit demam.

'Sumoay. kau sakit...' akhirnya si bocah botak berkata. sambil dia melangkah mendekati.

Perempuan sinting itu mengawasi si  bocah  botak.  Dia masih menggigil dan si bocah memang tidak memerlukan jawaban. sebab dia sudah melihat kenyataan.

Setelah berpikir sebentar maka si bocah yang berkata lagi : 'Sumoay. kau jangan pergi pergi. Aku keluar sebentar

mencari makanan buat kau. '

Si bocah botak kemudian keluar tanpa dia  menunggu jawaban dan perempuan sinting itu  tetap  mengawasi  meskipun hanya bagian punggung  si bocah yang masih kelihatan. Ada seberkas sinar keharuan yang sekilas kelihatan pada sinar matanya. setelah itu kembali s inar mata itu menjadi hampa !

Cukup lama si bocah botak pergi meninggalkan perempuan sinting yang sedang menderita  penyakit demam itu. dan kepergiannya si bocah botak ternyata tidak sia sia.

Dia datang dengan sebungkus makanan dan sebungkus ramuan obat..

'Sumoay. kau sudah tidur...?' si bocah botak menyapa. selagi perlahan lahan dia memasuki ruangan tempat sang sumoay yang ternyata masih menggigil tak dapat  pulas  tertidur.

“....sumoay. kau bersabarlah sebentar; aku akan  bikin panas makanan buat kau. setelah itu kau makan obat yang akan aku godok.” “Apa itu....?" tanya perempuan sinting itu dengan suara lemah gemetar; sedangkan pandangan matanya samar mengawasi suatu benda yang dipegang oleh si bocah.

'Kaleng kosong buat memasak obat …!” sahut si bocah.

Perempuan sinting itu tersenyum. menganggap  sang suheng sedang berlaku jenaka. menggodok obat memakai kaleng kosong yang entah bekas apa !

Si bocah yang botak kepalanya tidak melihat senyum sang sumoay. sebab dia sudah keluar buat panaskan makanan yang dia bawa.

"Nih. makan....!" kata si bocah waktu dia  sudah  kembali lagi ketempat sang sumoay.

Perempuan sinting itu memaksa diri untuk duduk. dan dia melarang waktu si bocah memegang hendak membantu.

“Ini masakan apa. ?" tanya perempuan sinting itu;  waktu  dia telah menghadapi makanan yang dibawa oleh si bocah. yang mengeluarkan bau sedap.

"Nasi campur ! Nasi goreng campur nasi putih; ada ikan gurame masak tomat...”

"Mmm. makanan enak. Aduh ! kog banyak tulangnya...!" “Iyaa. ikannya terlalu gemuk; dagingnya jadi masih ada

sisa diantara tulang tulang?”

"Dagingnya dimakan orang orang sinting" perempuan sinting itu bersuara menggerutu. akan tetapi dia  makan dengan lahapnya. Lupa mengajak si bocah buat ikut makan.

“Orang orang sinting..” ulang si bocah  botak  tidak mengerti. dia menambahkan perkataannya :

".. sumoay. aku mau masak obat dulu” dan si bocah yang botak kepalanya itu keluar. membiarkan sang sumoay makan sendirian. sebab untungnya dia  sudah makan lebih dulu. sebelum dia membeli obat menghabiskan sisa uang yang ada padanya. hasil dia mengemis sepanjang hari tadi.

Si bocah botak kemudian balik lagi dengan membawa obat yang sudah dia godok. tepat disaat sang sumoay sudah selesai makan; dan si bocah lalu menyerahkan obat itu;  sementara  dia membereskan bekas bekas sang sumoay makan.

Malam harinya perempuan sinting itu dapat pulas tertidur. akan tetapi dia banyak diganggu oleh m impi m impi  buruk yang mengakibatkan dia terbangun; bahkan adakalanya dia bersuara seperti orang yang kaget atau ketakutan. akan tetapi tidak sampai didengar oleh si bocah yang botak kepalanya. sebab si bocah terus ngorok  bekas siang harinya  dia kelelahan.

Esok paginya perempuan sinting itu masih rebah sakit sehingga si bocah botak terpaksa harus keluar sendirian. menyusuri jalan jalan raya mencari sisa sisa makanan sambil dia mengemis uang. sebab dia masih perlu membeli obat buat sang sumoay.

Sampai tiga hari si bocah melakukan tugasnya yang berat itu. akan tetapi dia rela dan tidak mengeluh menolong sang sumoay yang baru dikenalnya.

Banyak kawan kawan si bocah botak yang jadi merasa heran karena melihat si bocah perlu mencari tambahan sisa sisa makanan yang dia bungkus dan bawa. terlebih  mereka yang pernah melihat si bocah membeli obat dari hasil uang yang dia peroleh dari mengemis atau meminjam pada kawan kawannya;

"Siapa yang sakit.?” tanya salah seorang  temannya  yang ikut merasa prihatin; akan tetapi si bocah hanya bersenyum sambil berkata :

“Disuatu saat nanti. kalian akan mengiri kalau melihat temanku itu...” kata si bocah bangga. "Hayaa ! kau sudah punya pacar tentunya.” kata beberapa orang teman si bocah membikin si bocah botak merasa bangga !

Pagi itu angin meniup sepoi sepoi membawa udara sejuk yang segar kedalam halaman kuil tua di bagian belakang.

Perempuan sinting itu sudah sembuh dari  derita penyakitnya. Dia merasa segar kena angin  pagi  yang  sejuk dari itu semangatnya bangkit tanpa dia rasa dan  dia  berlatih ilmu s ilat tanpa memakai senjata.

Sepasang tangannya bergerak cepat dan lincah juga gerak tubuh dan sepasang kakinya; suara angin pukulannya semakin lama jadi semakin menderu deru berbunyi sedangkan gerak tubuhnya semakin lincah dan gesit  sehingga  sukar buat seseorang mengikuti pandangan mata.

Disuatu saat perempuan sinting itu menghentikan gerak tubuhnya. Sepasang tangannya tegang merentang bagaikan mengejang sementara perhatiannya dia curahkan pada daun daun diatas pohon yang cukup tinggi dan lebat. Dia sedang mengerahkan tenaganya lalu dia bergerak bagaikan memukul atau mendorong; memukul udara kosong dengan semacam ilmu 'pek kong ciang' atau pukulan udara kosong.

Suara angin pukulannya menderu. daun daun diatas pohon bergerak berbunyi lalu pada berguguran;  terbang berhamburan mengikuti arah pukulannya !

Muka perempuan sinting itu kelihatan bersenyum puas; meskipun banyak peluh yang sudah dia keluarkan.  Secara samar dia teringat bahwa ilmu pukulan itu dia peroleh dari seorang orang tua kurus bongkok yang aneh kelakuannya.

Kakek bongkok itu dia anggap aneh kelakuannya. sebab kemana saja dia pergi se lalu perempuan sinting itu tak lepas dari sikakek yang mengikuti padahal perempuan sinting itu sudah berusaha menghindar. ogah bertemu apalagi bergaul dengan seorang kakek bongkok yang dia jijik melihatnya; dan menganggap si kakek bongkok itu adalah orang sinting !

Akan tetapi kemana pun perempuan sinting itu pergi. selalu dia diikuti oleh kakek bongkok yang aneh dan pada set iap kesempatan bertemu atau berkumpul. perempuan sinting itu dilatih dengan berbagai macam ilmu pukulan  dan  ilmu melepas senjata rahasia. sampai kira kira ada dua bulan la- manya. si kakek itu lalu menghilang. tanpa pamit dan tanpa mengucap apa apa.

Perempuan sinting itu tak perduli dan memang jadi kehendaknya supaya dia jangan bertemu lagi dengan s i kakek bongkok yang dia anggap sinting itu;  dan perempuan  sinting itu bahkan buru buru pergi jauh jauh tanpa dia menghiraukan bungkusan pakaiannya hilang sehingga untuk seterusnya dia tidak pernah ganti pakaian; bahkan dia tak punya uang buat membeli makanan.

Perempuan sinting itu tak ingat lagi telah berapa lama dia tak mandi. dia benar benar lupa  apa  arti mandi; akan tetapi dia tak lupa  untuk makan; sebab perutnya tak mengenal keadaan. selalu menagih janji dan akan mendatangkan rasa sakit bercampur lemas kalau dia  tak makan bahkan akan mengakibatkan dia  tak dapat meneruskan perjalanannya. padahal dia perlu jalan dan terus jalan untuk dia mencari seseorang yang tak pernah dapat dia lupakan. Jadi. hanya 'seseorang' itu yang masih sisa didalam pikirannya!

Suatu hal lain yang dia tidak bisa lupakan sebab bisa mendatangkan bencana bagi dia adalah mengenai tongkatnya yang dia bawa-bawa.

Si kakek bongkok  yang aneh yang dia anggap sinting. pernah berkata bahwa tongkat yang  dia  bawa  adalah sebatang pedang. sebatang pedang yang banyak orang inginkan untuk memiliki tanpa perduli dengan cara merampas atau mencuri. tak perduli dengan membunuh atau bakal dibunuh ! Ada beberapa kali terjadi. dia dihadang dan diserang orang orang jahat. Dia hampir mati kalau si kakek bongkok tidak selalu mengikuti dan selalu menolong. tepat pada waktunya. Dari itu s i kakek lalu berpesan. supaya dia berhati hati. jangan sembarangan perlihatkan pedangnya.

Syukur bagi perempuan sinting itu. bahwa sarung pedangnya kelihatan bagaikan  tongkat kayu yang biasa digunakan oleh orang orang yang lumpuh sepasang kakinya. sehingga tidak sembarang orang mengetahul kecuali mereka yang mengetahui tentang kisah pedang yang istimewa itu.

Sementara itu. waktu si bocah botak bangun dan mencari. maka si bocah menemui sang sumoay sedang duduk bersandar pada pohon bekas dia pakai buat melatih tenaga dalamnya tadi.

Si bocah botak melihat bahwa muka sang sumoay sedang cerah. menandakan sang sumoay sudah sembuh dari penyakitnya.

Pakaian yang banyak koyaknya. sudah rapat dijahit oleh perempuan sinting itu. sebab si bocah sudah memerlukan meminjam jarum berikut  benangnya pada si A Miauw. temannya; dan si bocah menjadi terpesona waktu dia melihat sang sumoay menjahit. Terpesona sebab cara sang sumoay memegang jarum dan benang itu bagaikan seorang gadis pingitan (cian kin siocia) yang lagi menyulam.

Akan tetapi apa yang dilihat oleh si bocah yang botak kepalanya itu. tidak berani dia  memuji dihadapan sang sumoay. sebab dia melihat dengan cara mengintai tanpa diketahui oleh sang sumoay karena sang sumoay harus membuka baju yang dijahit itu. jadi sang sumoay hanya memakai baju dalam sehingga kelihatan bagian bagian tubuh yang.....yang ogah si bocah botak memberitahukan  kepada lain orang. “Suheng kau sudah bangun.....?" tanya perempuan sinting itu. waktu s i bocah botak melangkah tambah mendekati.

Si bocah botak manggut sambil dia bersenyum. dan berkata:

“Sumoay; kau sudah baik..?”

Perempuan sinting itu manggut; dan keadaan menjadi hening sejenak; sebab si bocah ikut  duduk diam; sampai perempuan sinting itu yang bicara lagi:

"Kau mau ikut aku... ?”

Si bocah yang botak kepalanya jadi merasa girang. Saatnya sudah tiba buat dia membanggakan diri dihadapan kawan kawannya: dari itu dia bersenyum lagi. dan berkata: ”Kenapa tidak ?”

“Aku sudah bosan dikota ini; kita harus pergi ke lain tempat...” perempuan sinting itu berkata lagi sementara sepasang matanya tidak mengawasi si bocah sebaliknya jauh dia memandang hampa.

“Pergi ke lain tempat ? jadi kau maksud hendak pergi dan kota ini..?” si bocah yang menanya.

"Kenapa tidak..?” sahut perempuan sinting itu dan ganti dia mengawasi si bocah.

Si bocah yang botak cepat cepat mengulang lagi biasanya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal; tidak perduli kepalanya sudah botak dan banyak tanda tanda pitak.

"Tetapi kita t idak punya uang buat ongkos. " akhirnya kata

si bocah.

“Hi hi hi dasar kau orang s inting. Apakah kalau pergi harus punya uang? apa sekarang kau punya uang … ?”

Sekali lagi bocah menggaruk kepalanya padahal baru saja dia merasa sudah cukup. “Tetapi. kalau pergi jauh kita kan harus bayar ongkos naik kereta...”

“Hush ! Laki laki tak tahu malu. Kita pergi naik kaki..!"

Pusing kepala si bocah karena dia  banyak menggaruk kepalanya. Dia teringat tak boleh mengucap 'takut' termasuk”takut capai'; sebab sang sumoay pasti memaki lagi dengan kata kata 'orang sinting".

"Tapi kita perlu  uang; buat membayar hutang waktu membeli obat; dan buat beli jarum menggantikan punya si A Miao …”

Perempuan sinting itu terdiam. Kata kata 'obat' membikin  dia jadi teringat bahwa dia pernah sakit. dan pernah dirawat oleh si bocah.

"Habis bagaimana... ?" tanya perempuan sinting itu.

”Hari ini kita cari uang dulu. kita bayar hutang hutang setelah itu kita baru pergi.”

“Cari uang dimana ?” perempuan sinting itu menanya dan mengawasi si botak.

"Kau ikut aku. kau nanti lihat bagaimana caranya aku minta uang. setelah itu kau bantu aku supaya kita cepat dapat banyak."

Perempuan sinting itu menurut maka keduanya lalu meninggalkan kuil tua itu dan memasuki  bagian  kota  Kun beng yang ramai.

Si bocah yang botak kepalanya belum sempat mulai mengemis waktu beberapa orang temannya melihat dia berjalan dengan perempuan muda didekatnya.

“Hay botak; kau punya teman ?" kata yang seorang disamping. disambung dengan yang lain :

“Kenalkan dong dengan kita." Si bocah kelihatan bingung apalagi waktu dia melihat ada Liok ko diantara kawan kawannya itu. Dan Liok ko ini biasanya galak. sering main pukul dan gemar mengganggu perempuan perempuan muda teman senasib mereka.

"Ini... ini...” kata si bocah botak yang kelihatan gugup sedangkan perempuan sinting itu diam mengawasi tidak mengerti.

"Huh! lagakmu jadi sombong…” kata si Liok ko sambil dia menjamah kepala si bocah. untungnya kepala itu botak sehingga tidak ada rambut yang buat dijambak.

“Kenalkan dia siapa namanya.. !" bentak Liok ko dengan suara geram.

'Dia ; dia..."

"Ha ha ha perempuan sinting mana ada namanya ” tawa

seorang lain yang berkata secara menghina.

"Ya. perempuan sinting tanpa nama.” berkata yang lain lagi juga menghina. membikin si bocah mendelik  sepasang matanya. terhadap yang berkata secara menghina itu. akan tetapi si bocah tidak berdaya bahkan kepalanya yang botak kena ditempeleng oleh Liok ko yang terkenal galak.

Perempuan sinting itu marah; karena melihat kepala  si bocah ditempeleng. dia mendekati dan memaki:

“Orang sinting ! kau berikan uangmu." kata perempuan sinting itu yang tak tahu apa apa; dan pikirannya hanya  teringat dengan maksud mereka hendak mencari uang.

“Nah ! perempuan ini benar benar sinting !” teriak Liok ko yang jadi tertawa; lalu secara tiba tiba sebelah tangannya bergerak hendak menjamah bagian dada perempuan  sinting itu.

Tanpa dapat dilihat kecepatannya sebelah tangan kiri perempuan sinting itu bergerak memegang lengan si Liok ko yang lalu dia putar sampai terdengar bunyi suara tulang yang patah !

Liok ko berteriak seperti babi yang mau dipotong. Tangan kiri memegang tangan kanannya yang patah tulangnya. Dia mundur terbongkok bongkok atau nungging nungging. menahan rasa sakit dengan mulut berteriak-teriak sementara empat orang temannya langsung menyerang perempuan sinting itu akan tetapi secepat itu juga mereka berserakan bergelimpangan di jalan raya. seperti anjing anjing geladak yang kena pentung oleh tongkatnya perempuan sinting itu. termasuk dua orang lagi yang hendak memukul s ibocah.

Sejenak si bocah jadi terpesona dengan gerak yang serba cepat dan tangkas dari teman perempuannya itu. kemudian datang rasa takutnya dan dia menarik tangan sang sumoay. yang langsung dibawa lari ke kuil tua tempat mereka mondok.

Sementara itu ditempat kejadian pemukulan tadi segera menjadi ramai. akan tetapi waktu orang orang melihat yang berkelahi adalah sesama orang orang gelandangan yang bahkan mereka anggap orang orang sinting; maka  mereka tidak mau ikut memusingkan kepala.

"Sumoay. lain orang kau boleh pukul; akan tetapi s i Liok-ko itu...." kata si bocah waktu mereka sudah berada lagi didalam kuil.

”Dia kenapa. ?” tanya sang sumoay.

”Dia seolah olah merupakan kepala kaum orang-orang gelandangan didalam  kota ini.  Dia  pengemis  yang bukan sembarang pengemis. sebab dia adalah anggota Kay pang …”

“Apa itu Kay pang... ?” tanya lagi perempuan sinting itu. merasa tidak mengerti !

(“hayoaa ! Dasar orang sinting.....!" ) seru si bocah. akan tetapi cuma didalam hati sebab dia merasa sia sia memberitahukan sang sumoay tentang orang orang Kay pang dan dia yakin  sang sumoay tidak tahu dan tidak mampu berpikir tentang persekutuan kaum pengemis yang kenamaan itu. Akan tetapi. si bocah kemudian jadi teringat dengan sang sumoay yang ternyata pandai ilmu silat.

"Sumoay apakah kau pandai ilmu s ilat...?”

Perempuan sinting itu tertawa. Tawa gembira. lalu ganti dia menanya :

"Apakah kau mau belajar  ilmu silat...?”

"Akh ! Bukan waktunya untuk belajar. Apakah kau bisa lompat tinggi.... ?” tanya Iagi si bocah. agaknya dia  teringat lagi dengan cerita wayang boneka; bahwa orang yang pandai ilmu silat dan ilmu meringankan tubuh dengan mudah dapat memasuki rumah rumah orang hartawan.

Perempuan sinting itu lagi lagi tertawa. lalu dia menarik sebelah tangan si bocah; yang dia ajak kebagian belakang kuil dan secara tiba tiba perempuan sinting itu lompat keatas sebuah pohon yang tinggi. meninggalkan si bocah yang dia lepaskan pegangannya tadi.

Si bocah mengawasi terpesona. lalu dia  menjadi lebih terpesona waktu secara mendadak dia melihat tubuh sang sumoay melesat ke atas genteng kuil; dan waktu sepasang matanya mengikuti kearah sang sumoay tadi melesat. maka tahu tahu sang sumoay sudah berdiri lagi dihadapannya.

“Hayaaa..” teriak si bocah dengan mengeluarkan lidahnya. Perempuan sinting itu perlihatkan muka girang.

membanggakan kemampuannya dihadapan sang suheng !

"Suheng. bagaimana kau lihat ? Apakah kesaktianku bertambah setelah kita lama berpisah..?” demikian dia berkata kepada si bocah yang botak kepalanya.

"Ya. sungguh lihay...!” sahut si bocah memuji. sambil dia mengacungkan dua ibu jarinya; dan si bocah benar benar sangat girang bercampur kagum. sampai dia kurang memperhatikan perkataan yang diucapkan oleh sang sumoay tadi.

"... kau sungguh lihay. tidak susah lagi buat kita mencuri uang. Tidak perlu mengemis karena sering dihina orang. diusir seperti anjing anjing geladak...!” si bocah botak menyambung bicara.

"Mereka adalah orang orang sinting...!” sahut perempuan sinting itu. kelihatan berduka.

"Ya. mereka adalah orang orang sinting sebab mereka suka menghina lain orang..”

“Biar kuhajar mereka..” perempuan sinting itu berkata lagi. perlihatkan muka merah.

“Akh! tidak perlu... !” tukas si bocah yang melarang. merintang sang sumoay yang bergegas hendak pergi; dan dia buru buru menyambung perkataannya:

“...sebaiknya kita  atur rencana. nanti malam kita  curi uang..."

"Ya. atur rencana...” sahut perempuan sinting itu seenaknya; dan seenaknya juga dia ikut duduk di lantai dekat si bocah yang sudah mendahulukan duduk.

"Aku tahu rumah seorang hartawan yang kikir dan kejam. Tidak pernah kita berhasil kalau mengemis di rumah hartawan itu. tidak perduli waktu patekong naik  atau  patekong turun...”si bocah mulai menyusun siasat; bicara sambil sepasang tangannya ikut bergerak menerangkan. seperti orang lagi menari sambil duduk.

"Ya. patekong naik atau patekong turun...” kata sang sumoay. juga dengan sebelah tangannya ikut  bergerak  naik dan bergerak turun; seperti yang dilakukan oleh si  bocah botak tadi.”Nanti malam aku antar kau kerumah hartawan itu. lalu kau lompat naik keatas genteng. cari kamarnya dan kau curi uangnya.”

“Ya; kita curi uangnya buat membayar hutang. Sekarang saja. buat apa mesti tunggu nanti malam..” dan sang sumoay narik sebelah tangan si bocah yang hendak dia ajak pergi.

“Eh; sekarang masih siang. mereka belum tidur..” si bocah membantah.

"Apa salahnya mereka sudah tidur atau mereka  belum  tidur ?”

"Kalau mereka belum tidur; mereka akan mengetahui kedatangan kita. “

“Apakah kau takut dengan orang orang sinting itu. ?” mau

ngambek perempuan sinting itu menanya.

“Bukan takut. akan tetapi harus menghindar  supaya mereka tidak mengetahui maksud kita. Kalau kita mengambil secara paksa. itu namanya bukan mencuri ”

"Apa dong namanya. ”

"Merampok !"

“Ya. merampok....." ulang sang sumoay sambil sebelah tangannya bergerak seperti merampas sesuatu; menirukan gerak sang suheng atau si bocah yang botak kepalanya.

Si bocah tertawa. Perempuan sinting itu ikut tertawa. akan tetapi buru buru dia berkata :

"Tetapi sekarang perutku lapar …” dan dia meraba bagian perutnya yang sudah mulai membusung.

Sejenak si bocah menjadi bingung. Tidak berani dia keluar dari kuil tua itu buat mencari sisa sisa makanan.  sebab  dia yakin si Liok ko sedang persiapkan kawan kawan dan semua kawan itu tentu merupakan anggota Kay pang yang  pandai ilmu s ilat. "Aku...”  

Si bocah tidak sempat meneruskan perkataannya  lagi. sebab dari luar  sudah menerobos belasan orang orang gelandangan; sambil mereka perdengarkan  suara”yang berisik".

"Itu dia kita bunuh saja...” terdengar teriak Liok ko.  sambil dia menunjukkan ke arah si bocah berdua.

Benar seperti yang diduga oleh si bocah. bahwa Liok ko mengumpulkan orang orang Kay pang yang semuanya pandai ilmu silat; sebab mereka yang datang  ternyata  bukan pengemis yang sembarangan pengemis. Mereka bahkan membekal senjata yang biasa digunakan oleh orang  orang yang mahir ilmu silat.

Si bocah kaget dan ketakutan. sampai dia  merangkak mendekati sang sumoay. dan perempuan sinting itu menjadi marah melihat keadaan si bocah. Dia berteriak nyaring seperti suara kuntilanak melengking. dan tubuhnya melesat mendahulukan menyerang memakai  tongkatnya membikin sekaligus dua orang pengemis terpukul mampus. sebab tidak menduga bakal diserang secepat itu.

Lain lain orang orang gelandangan menjadi sangat terkejut semuanya. Mereka tidak melulu terkejut sebab kedua kawannya yang kena dipentung. akan tetapi mereka juga terkejut karena tenaga yang dahsyat dari perempuan  sinting itu yang ternyata benar benar memiliki kemampuan yang lihay sehingga mereka saling bertanya didalam hati entah siapa gerangan perempuan sinting itu:

Dipihak perempuan sinting itu; dia  sudah siap tempur menghadapi belasan orang orang gelandangan yang sudah mengurung dia. sedangkan si Liok ko yang terkenal galak kelihatan bertambah menjadi garang karena melihat dua kawannya sudah mampus duluan. Liok ko mencabut goloknya yang dia tempatkan dibagian punggungnya. Golok itu menjadi benda kesayangannya dan yang dia bawa kalau dia menghadapi lawan kuat.

Dengan gerak tipu 'tay sanap teng” atau gunung tay san menindih; maka Liok ko membuka serangan dengan suatu bacokan dengan maksud hendak membelah tubuh lawannya menjadi dua.

Perempuan sinting itu tertawa ngikik seperti kuntilanak mencari laki lalu dia miringkan sedikit tubuhnya. membiarkan golok Liok ko lewat disisinya. sementara ujung  tongkatnya yang istimewa menghajar dahi pengemis itu mengakibatkan dahi itu pecah dan Liok ko rubuh tengkurap tak bersuara.