Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 09

Jilid 09

SENYUM si kakek Lie sebenarnya mengandung arti supaya pihak Go Bun Heng bertiga jangan terlalu terpengaruh dengan cerita yang sedang mereka dengarkan; sebaliknya  mereka harus berlaku waspada, siap  menghadapi  segala kemungkinan. " sahut Lie Hui Houw.

"... setelah mengucapkan kata kata yang membual,  maka lagi lagi Nio Kok An menyiksa  Lie Hui Houw memakai cambuknya, dan setelah Lie Hui Houw lupa diri, maka Nio Kok An memerintahkan orangnya membawa Lie Hui Houw kedalam kamar tahanan...

".... jadi, dalam keadaan pingsan Lie Hui Houw dibawa ke dalam kamar tahanan dan dia tidak mengetahui  bahwa didalam kamar tahanan itu justeru sudah ada Lie Siu  Lan berdua si bocah anak kakaknya, sebab mereka sudah lebih dahulu menjadi orang tawanan pihak Nio Kok An.

“Kamar tahanan yang diisi oleh Lie Hui Houw bertiga, merupakan ruangan berbentuk bujur sangkar. Tidak  lebar akan tetapi cukup panjang, sementara dibagian atasnya tidak memakai genteng sebagai penutup, jadi bagian atasnya terbuka, akan tetapi dinding tembok sangat tinggi buat orang dapat naik atau lompat.

"... akan tetapi, selama hayat masih dibadan; Lie Hui Houw pantang menyerah kepada maut. Dengan menahan rasa sakit, dia merobek pakaiannya yang memang sudah hancur dan dengan susah payah dia sambung sampai menjadi tali cukup panjang. Setelah  itu dengan merangkul si bocah,  maka dengan menggunakan sepasang kakinya dia berusaha naik keatas menggunakan ilmu pek hou yu-chong atau cecak merayap ditembok yakni telapak kaki kirinya  menginjak dinding tembok yang sebelah kiri dan telapak kaki kanannya menginjak dinding tembok sebelah kanan. Lalu dengan mengerahkan sisa tenaganya, dia mulai lompat berangsur angsur naik ke atas, sedangkan sepasang tangannya dia gunakan buat merangkul si bocah yang dia ajak naik membiarkan Lie Siu Lan menunggu dan mengawasi  dengan hati cemas....

"..memang tidak mudah buat Lie Hui Houw berusaha membebaskan diri. Ada beberapa kali dia tergelincir, akibat sebelah pahanya yang terluka, dan luka itu terbuka ikatannya mengakibatkan darahnya keluar lagi. Tetapi, Lie Hui  Houw tetap berusaha; bahkan punggung dan pundaknya  ikut bekerja buat menahan tubuhnya yang meluncur turun hampir terbanting kebagian bawah, setelah itu dia  berusaha  lagi  untuk naik dan terus naik sehingga waktu dia  tiba  dibagian atas maka punggung dan pundaknya ikut  mengeluarkan darah.. "

Sejenak kakek Lie menunda ceritanya, oleh karena dia merasa perlu untuk m inum araknya; habis turut  merasa sangat tegang waktu menceritakan kisah Lie Hui Houw yang berusaha membebaskan diri dari kamar tahanan dan kakek Ouw ikut m inum. Akan tetapi;  waktu kakek Lie hendak menyambung bercerita, maka mendadak mereka mendengar derap suara kaki kuda yang mendatangi; dan dilain saat mereka melihat ada lima orang penunggang kuda yang turun diluar kedainya kakek Ouw.

Dalam pandangan mata orang biasa, barangkali orang akan menganggap aneh jka seorarg pengemis naik kuda, dan yang baru datang itu justeru adalah lima orang pengemis yang datang dengan menaiki kuda!

Jelas bahwa mereka bukan sembarangan orang orang gelandangan sebab mereka adalah pengemis pengemis yang istimewa dan lebih istimewa lagi ke lima pengemis itu memiliki wajah muka yang mirip satu dengan lain, sukar dibedakan jika tidak diperhatikan secara teliti.

Di lain pihak, waktu melihat datangnya ke lima orang orang gelandangan itu maka dengan suara perlahan Gwa Teng Kie mengajak twa to Go Bun Heng bicara, dan si Golok maut Go Bun Heng cepat cepat mengatakan sesuatu kepada Gwa Teng Kie, juga dengan suara perlahan; membikin kakek Lie dan ka- kek Ouw tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, akan tetapi setelah itu kelihatan Gwa Teng Kie buru buru keluar, langsung bicara dengan ke lima orang orang  gelandangan yang baru datang itu.

Kejadian berikutnya adalah orang melihat Gwa Teng Kie mengajak ke lima orang orang gelandangan itu pergi, batal singgah atau memasuki kedainya kakek Ouw.

Agaknya kakek Ouw merasa heran dengan perbuatannya Gwa Teng Kie, akan tetapi dia tidak mengucapkan apa apa; sebaliknya dia bagaikan sedang memikirkan tentang ke lima orang orang gelandangan tadi, yang wajah  muka  mereka mirip satu dengan yang lain.

"Eh. Ouw heng, mari kita makan dulu..!' ajak kakek Lie waktu kakek Ouw bersiap s iap hendak meneruskan permainan mereka; sementara didalam hati kakek Ouw masih memikirkan tentang ke lima orang orang gelandangan yang batal masuk tadi.

“Aku heran, mengapa mereka tidak dibolehkan masuk..?” terdengar kakek Ouw menggerutu setelah dia perintahkan A heng menyediakan makanan.

“Siapa yang tidak membolehkan mereka masuk..?” tanya kakek Lie seperti orang yang tidak mengerti.

“Si pengemis muda tadi. Kau lihat dia cepat cepat keluar waktu mereka datang…”

"Akh! Ouw heng, kau terlalu banyak curiga. Mungkin kedatangan ke 5 orang orang gelandangan itu sengaja hendak bertemu dengan si pengemis muda; jadi sipengemis muda itu yang keluar dan mengajak ke 5 orang orang gelandangan itu pergi.., " "Kau benar juga, mungkin si pengemis muda itu yang memasang kembang api semalam, memanggil ke 5 pengemis itu datang. Akan tetapi, kemana dia ajak mereka pergi.. "

"Hayaa! mana kutahu? lagi pula buat apa kita mengetahui, kan kita t idak ada urusan aoa apa dengan mereka. Dan, kalau di tempatmu ini banyak orang orang gelandangan, aku yakin langganan kau pada kabur semua..!" sahut kakek Lie yang lalu jadi tertawa akan tetapi si pengemis Gwa Teng Sn yang jadi kelihatan cemberut, sebab dia cukup mendengarkan pembicaraan kedua kakek itu.

Dipihak twa to Go Bun Heng, dia ikut memesan makanan waktu melihat kedua kakek itu bersiap siap hendak makan siang, dia ikut makan waktu kedua kakek itu sedang makan akan tetapi dia hanya makan berdua dengan Gwa Teng Sin sebab Gwa Teng Kie pergi dan belum kembali.

Memang waktu ke 5 orang orang gelandangan tadi datang Gwa Teng Kie memberitahukan twa to Go Bun Heng bahwa ke 5 orang pengemis itu adalah Kim an ngo kay atau 5 pengemis bersaudara dari kota Kim an yang sudah kenamaan dikalangan rimba persilatan.

Menurut dugaan Gwa Teng Kie, kedatangan  Kim  an  ngo kay adalah karena melihat adanya tanda tanda kembang api; dan kalau Kim an ngo kay masuk kedalam kedai kakek Ouw serta menanyakan tentang tanda kembang api itu maka kemungkinan akan mendatangkan kecurigaan pihak  si kakek Lie maupun kakek Ouw. Dari itu Go Bun Heng segera memerintahkan Gwa Teng Kie mengajak Kim an ngo kay langsung ke kuil tempat mereka menginap untuk ditanyakan tentang maksud kedatangan mereka ketempat itu. Sementara itu, se lagi orang orang masih bersantap maka Gwa Teng Kie datang dan melaporkan kedatangan Kim an ngo kay memang disebabkan mereka melihat adanya tanda kembang api disaat mereka sebenarnya sedang menuju kekota Boe ouw; akan tetapi mereka tidak mengetahui entah siapa yang sudah meluncurkan kembang api itu.

“Sayang ,..” si golok maut Go Bun Heng menggerutu dengan suara perlahan sementara kakek Lie dan kakek Ouw yang berusaha hendak ikut mendengar pembicaraan mereka, kclihatan menjadi kecewa.

Adalah disaat kedua kakek itu sedang merasa kecewa dan penasaran; maka di kedai kakek Ouw kembali datang serombongan penunggang kuda, dan kali ini yang datang sebanyak enam orang sekaligus; semua merupakan laki laki yang memakai pakaian semacam orang orang yang  pandai ilmu silat, atau dengan kata lain mereka itu adalah orang- orang yang biasa berpetualang   dikangzusi.com  kalangan rimba persilatan.

Usia ke enam orang laki laki yang baru datang itu tidak merata; ada yang sudah tua dan ada yang masih muda, ada yang bermuka tampan, ada yang bermuka galak.

Suatu hal yang membikin kakek Ouw jadi tambah penasaran, kedatangan mereka lagi lagi telah dijegal oleh sipengemis muda Gwa Teng Sin, yakni sebelum  ke  enam orang orang itu memasuki kedainya kakek Ouw; dan ke- lanjutannya adalah Gwa Teng Sin  mengajak mereka pergi sehingga batal mereka memasuki kedainya kakek Ouw.

"Kurang ajar..!” tiba tiba seru kakek Lie membikin  kakek Ouw jadi terkejut bahkan Go Bun Heng berdua Gwa Teng Kie jadi ikut terkejut; sementara kakek Lie meneruskan berkata :

“. mengapa lalat ini masuk ke tempat minumku..?”

Dan kakek Lie mengangkat mangkok araknya, sambil dia bangun dari tempat duduknya; lalu dia me langkah keluar sampai didekat pintu, dimana dia membuang isi mangkoknya.

Dalam pada itu, tak ada seseorang yang melihat gerak tangan kiri kakek Lie, dan tak ada seseorang yang melihat bahwa dari balik lengan baju si kakek telah meluncur sehelai kertas yang jatuh ditanah; lalu secara tiba tiba kertas itu terkena tiupan angin, cukup keras sehingga  kertas  itu melayang dan menyusul Gwa Teng Sin yang sedang mengantar ke enam orang laki laki pendatang baru tadi.

Adalah disaat kakek Lie dan kakek Ouw sudah siap menghadapi papan catur mereka, dan kakek Lie sedang bergegas hendak menyambung ceritanya; maka  datanglah Gwa Teng Sin  tergesa gesa, dan si pengemis  muda itu menyerahkan sehelai kertas kepada twa to Go Bun Heng, yang lalu dibaca oleh si Golok maut, sebab kertas itu ternyata berupa surat yang memang ditujukan buat twa to Go Bun Heng. Isi surat itu adalah :

'Go toako’

Kau pernah sekali melakukan kesalahan dalam menunaikan tugasmu buat Thio susiok dan kesalahan tersebut hendaknya jangan sampai terulang lagi. Tempatkan orang orang yang baru datang disatu tempat. Esok waktu tengah hari aku memerlukan dua puluh orang yang sudah siap dikaki gunung Kauw it san, dan empat orang didalam kedai kakek Ouw.

Sekian..

Sementara itu; terdengar si kakek Lie berkata dengan suara perlahan kepada kakek Ouw :

"Aku jadi curiga tamu kita yang mengaku bernama Go Bun Heng menerima surat; dan matanya sering melirik kita. Entah apa maksud...”

'Aku juga sedang memikirkan.....” sahut kakek Ouw yang memutus perkataan kakek Lie juga dengan suara yang perlahan dan dia  memang sedang memperhatikan set iap gerak si Golok maut Go Bun Heng.

"Bagaimana menurut pikiranmu, apakah  teruskan ceritaku…” kakek Lie berkata lagi. “Aku kira sebaiknya begitu, untuk memecah perhatian mereka…” sahut kakek Ouw.

Kakek Lie menurut, akan tetapi lebih dahulu dia m inum araknya yang baru diisinya. T idak biasanya, saat itu kelihatan agak gugup, bagaikan benar benar dia sedang mencurigai  sikap twa to Go Bun Heng.

“…si macan terbang Lie Hui Houw berhasil mencapai tembok tertinggi dari kamar tahanan itu, kemudian dari bagian atas dia melontarkan ujung tali yang dibikinnya kepada Lie Siu Lan dan setelah itu barulah dia menarik dan menolong Lie Siu Lan naik keatas; sampai dara manja itu berhasil pula ditolongnya. Akan tetapi, perbuatannya itu sempat diketahui oleh pihak musuh, dan pihak musuh segera memberikan tanda bahaya sehingga dalam sekejap musuh sudah banyak yang berjaga dibagian bawah, sebab mereka tidak mampu naik keatas yang sangat tinggi..!

“…dipihak Lie Hui Houw, dia pun menghadapi kesukaran buat lari dengan membawa bawa si bocah dan Lie Siu Lan; sehingga akhirnya Lie Hui Houw memesan supaya Lie Siu Lan menjaga si bocah, sedangkan dia sendiri dengan nekad telah lompat turun sehingga terjadi lagi pertempuran antara si macan terbang Lie Hui Houw melawan sekian banyaknya para pengepungnya..."

"Singkatkan saja bagian pertempuran itu…” kata  kakek  Ouw seperti tidak sabar.

'Baik, baik....” sahut kakek Lie; meskipun sebenarnya dia merasa tidak setuju.

“.. pertempuran yang terjadi itu benar benar merupakan suatu pertempuran yang pincang. Lie Hui Houw  sedang  terluka dan dia  bahkan dikepung rapat sehingga tidak mungkin dia memenangkan pertempuran itu bahkan maut mengintai dia dan mengintai dara Lie Siu Lan berikut si bocah anaknya almarhum Lie Sun  Houw yang sebenarnya belum mengenal dosa. Akan tetapi disaat keadaan berbahaya maka datang seorang yang membantu dia dan seseorang itu adalah seorang wanita setengah baya bermuka cantik dengan memakai tudung caping lebar yang dibikin dari bahan bambu, membawa bungkusan  pakaian dibagian punggungnya, dan dengan sepasang pedang pendek dia mengamuk sampai dia berhasil mendekati Lie Hui Houw dan untuk girangnya si macan terbang Lie Hui Houw mengetahui bahwa dia adalah kakak misannya.."

“Lie Kim Nio..." tanya kakek Ouw heran bahkan sampai sepasang matanya jadi membelalak, tidak terkecuali pihak si Golok maut Go Bun Heng yang kelihatan bertambah tegang mendengarkan.

'Benar Lie Kim Nio..." sahut kakek  Lie  dan agaknya kakek  Lie tidak memperhatikan keadaan kakek Ouw tadi.

Akan tetapi waktu kakek Lie hendak meneruskan bercerita maka lagi lagi harus menunda karena datangnya serombongan penunggang kuda yang kali ini tujuh orang.

"Semakin banyak yang datang….” kakek Ouw menggerutu perlahan:

"Ya, semakin banyak dan lagi lagi dipegat oleh si pengemis muda dan lagi lagi diajak pergi…” ikut kakek Lie menggerutu perlahan selagi dia memperhatikan kejadian itu.

“Kalau setiap hari terjadi tamuku dipegat orang bisa kagak laku daganganku, Lie heng, kupikir sebaiknya kita  tunda permainan kita, aku merasa perlu me laporkan kepada kepala kampung yang baru dipilih sebab kedatangan mereka benar benar sangat mencurigakan…” kata kakek Ouw tetap dengan suara perlahan lahan sehingga tidak mungkin didengar oleh si golok maut Go Bun Heng.

"Bagaimana kalau aku bantu pekerjaanmu, mengikuti mereka supaya kita mengetahui ke mana mereka dibawa?" kakek Lie menyarankan lagaknya tua tua mau jadi penyelidik. Kakek Ouw tidak segera menjawab perkataan kakek Lie.

Sejenak dia mengawasi, setelah itu baru dia berkata ;

"Sebaiknya Lie heng tetap disini,  bantu melihat lihat warungku. Aku khawatir A heng tidak mampu melayani tamu tamu kita, kalau nanti semakin banyak yang datang dan akhirnya mereka singgah di kedaiku?'

Kakek Lie menurut, meskipun didalam hati dia membantah sebab buktinya tamu tamu itu tidak ada yang singgah dikedai kakek Ouw meskipun tambah banyak mereka datang.

Di pihak twa to Go Bun Heng waktu dia melihat kakek Ouw pergi meninggalkan kedainya; maka dia memberikan tanda kepada Gwa Teng Sin untuk mengikuti, dan si pengemis muda itu bergegas hendak melakukan perintah itu.

"Hei, pengemis muda, kemana kau hendak pergi..?'  tiba  tiba seru kakek Lie sambil dia mengawasi Gwa Teng Sin.

Gwa Teng Sin menunda langkah kakinya didekat pintu. Dia ragu ragu mengawasi si kakek Lie untuk kemudian ganti dia mengawasi twa to Go Bun Heng, sementara si kakek Lie berkata lagi ;

"... kalau kau hendak mengikuti Ouw lopek, aku larang. ”

Sekali lagi Gwa Teng Sin jadi patuh menurut setelah dia melihat Go Bun Heng memberikan aba aba.

Setelah Gwa Teng Sin duduk ditempatnya kakek Lie duduk; lalu sekali lagi s i golok maut memberi hormat dan berkata ;

“Lie lopek, kalau boleh aku ingin  mengganggu sedikit!" "Nah.  kau!  apalagi yang  kau  kehendaki dari  aku?"  sahut

kakek  Lie  acuh  dan  tidak mempersilahkan  si golok maut Go

Bun Heng duduk; sementara sekilas dia melirik kearah A heng; dan A heng pada waktu itu memang sedang memperhatikan tamu tamunya. "Aku ingin sedikit menanya." terdengar si Golok maut Go Bun Heng berkata lagi.

"Kalau kau hendak menanyakan tentang kakek Ouw, aku tidak mau menjawab sebab kau harus  menanya  sendiri kepada kakek Ouw. Jadi apa yang kau hendak tanyakan.?"

Sejenak Go Bun Heng tidak dapat bersuara apa apa agaknya dia merasa tobat dengan sikap si kakek Lie.

"Yang aku hendak tanyakan adalah tentang surat…”

“Orang bodoh,.." kakek Lie memutus kalimat perkataan Go Bun Heng, dan kakek Lie meneruskan perkataannya :

".. surat apa yang hendak kau tanyakan kepadaku dan apa yang aku ketahui tentang surat,..?"

Twa to Go Bun Heng berdiri diam bagaikan  patung. Agaknya dia kehabisan bahan bicara dan kehabisan juga kesabarannya, akan tetapi dia paksakan diri:

"Lie lopek, sebenarnya siapakah kau..?"

"Nah, kumat lagi penyakit kau. Aku  adalah  aku,  kakek Lie..!”

Twa to Go Bun heng memutar tubuh hendak meninggalkan si kakek tanpa pamit, akan tetapi tiba tiba kakek Lie berseru: "Tunggu..!”

Bagaikan orang yang patuh dengan perintah atasan, maka Go Bun Heng batal meninggalkan kakek Lie.

".., sekarang ganti aku yang hendak menanya..” kata kakek Lie setelah Go Bun Heng menghadapi dia; dan kakek ini mene- ruskan pertanyaannya;

“... kenapa dan dimana kau tempatkan orang orang datang tadi..?"

Sepasang mata A heng jadi membelalak waktu mendengar pertanyaan kakek Lie terlebih si Golok maut Go Bun Heng; akan tetapi naluri hati si Golok maut sekarang cepat bekerja, sehingga tanpa ragu ragu dia menjawab: "Disebuah kuil yang memakai merek tay sin bio..."

"Sudah berapa orang yang datang semua..?" "DeIapan belas orang …”

Dengan menggunakan jari tangannya, kakek  Lie menghitung seorang diri; setelah itu dia berkata lagi :

"Berapa jumlah semuanya termasuk kau?” "Duapuluh tiga.."

'Hmm! masih kurang satu... " gerutu kakek Lie perlahan suaranya; tidak mungkin didengar oleh A heng yang terpisah cukup jauh akan tetapi cukup jelas didengar oleh twa to Go  Bun Heng, yang justru membikin si Golok maut kelihatan menjadi girang sekali. Akan tetapi; si kakek Lie yang berkata lagi, sebelum Go Bun Heng sempat mengucap apa-apa :

"Cukup sudah, silahkan kau pergi..”

oo ^)dwkzXhen(£ oo

HARI ITU sampai sampai larut malam kakek Lie menunggu- nunggu, namun kakek Ouw belum kunjung tiba.  Akhirnya kakek Lie pulas tertidur, dan dia tak menghiraukan diwaktu A heng beberapa kali mengintai dan memperhatikan dia.

Esok paginya kakek Lie memerlukan menemui kakek Ouw, dan langsung dia ajak bicara: "Ouw heng, aku ada berita untukmu. "

"Berita apa..?” tanya kakek Ouw kelihatan heran.

"Kemarin aku berhasil menggertak tamu kita yang katanya bernama Go Bun Heng; dan aku berhasil mengetahui bahwa mereka yang baru datang itu ditempatkan dikuil Tay sin bio..!" “Oh..!" cuma itu yang kakek Ouw ucapkan.

"Dan aku berhasil juga mengetahui jumlah mereka semuanya duapuluh tiga orang, dan siang ini mereka katanya akan mendaki gunung Kauw it san. "

"Untuk apa. ?" tanya kakek Ouw; kaget bercampur heran.

"Hal ini aku tidak tanyakan; akan tetapi menurut dugaanku, mereka tentu hendak mencari si hantu bermuka hitam..“

'Ha ha ha..!' kakek Ouw jadi tertawa.

'Eh; mengapa kau tertawa..?' ganti kakek Lie yang perlihatkan lagak merasa heran.

'Orang orang itu orang orang bodoh! Mana mungkin  didalam dunia ada hantu !"

“Akh! rupanya kau belum pernah bertemu dengan hantu.. " kakek Lie menggerutu.

“Apakah kau sudah pernah..?” ganti kakek Ouw yang menanya.

“Hayaa..!” dan kakek Lie tinggalkan kakek Ouw, untuk dia membersihkan muka lalu bantu membuka kedai.

Dan seperti biasa setelah selesai dengan pekerjaan mereka, maka kedua kakek itu menyediakan lagi papan catur mereka, dan kakek Lie bersiap siap hendak meneruskan lagi bercerita tentang si 'macan terbang' Lie Hui Houw yang belum selesai lalu tepat pada saat itu muncul twa to Go Bun Heng yang datang bersama sama Gwa Teng Sin dan Hui beng siansu.

'Hari ini, dia hanya membawa satu orang gelandangan..,” bisik kakek Lie pada kakek Ouw :

”Sebagai gantinya dia bawa seorang  pendeta  buat mengusir hantu. ” sahut kakek Ouw mulai berkelakar. 'Entah kemana perginya si pengemis; yang satu  lagi..  " bisik kakek Lie; tetapi suaranya sedikit lebih keras; sambil matanya melirik kearah tempat Go Bun Heng duduk.

'Mungkin sedang mencari sedekah buat bayar makanan hari ini.. ' sahut kakek Ouw; juga agak keras suaranya, sehingga pasti cukup didengar oleh pihak si Golok maut Go Bun Heng bertiga; dan si kakek Ouw lalu menambahkan perkataannya :

'.. akan tetapi Lie heng sebaiknya jangan hiraukan urusan mereka; dan kita mulai main sambil kau se lesaikan cerita mengenai Lie Hui Houw.. "

Kakek Lie tersenyum dan diminumnya  araknya  siap  buat dia meneruskan bercerita : ".. karena mendapat bantuan dari kakak misannya, maka semangat si macan terbang Lie Hui Houw jadi bangkit lagi, membikin keadaan pertempuran jadi berubah dan berhasil Lie Hui Houw menerobos  kepungan untuk menghadapi Nio Kok An, dan Nio Kok An tidak sanggup menghadapi si 'macan terbang’ Lie Hui Houw meskipun sebenarnya Nio Kok An memiliki ilmu silat yang mahir."

"Singkatnya pertempuran itu dimenangkan oleh si macan terbang dan si macan terbang tidak mati ,,,,!" kakek Ouw memutus karena merasa tidak sabar, sedangkan nada  suaranya terdengar seperti orang yang ngomel ngomel bercampur penasaran.

'Benar.,. ' sahut kakek Lie yang jadi tersenyum, dan meneruskan lagi bercerita :

"... si macan terbang Lie Hui Houw memenangkan pertempuran itu, membinasakan Nio Kok An dan mempertemukan Lie Kim Nio dengan anak daranya, serta si bocah anaknya Lie Sun Houw. Dan pada kesempatan  itu, tanpa diketahui oleh Lie Siu Lan, maka Lie Kim Nio menceritakan pada adik m isannya tentang siapa sebenarnya ayahnya Lie Siu Lan ; yakni s i iblis penyebar maut...' “Dimana mereka menetap setelah pertempuran itu selesai....“ tanya kakek Ouw; waktu melihat kakek Lie m inum araknya dan pertanyaan semacam itu memang sangat diharap oleh pihak si Golok maut Go Bun Heng bertiga. Dan  diluar  tahu mereka, didalam hati si kakek Lie sudah mengetahui bahwa dia bakal mendapat pertanyaan yang seperti itu dari si kakek Ouw!

' Mereka siapa, maksud Ouw heng?' sengaja kakek Lie balik menanya; bahkan dengan suara yang wajar bagaikan orang yang benar benar tidak mengetahui atau tidak mengerti.

“Lie Kim Nio dan anaknya..” sahut kakek Ouw, agak gemetar suaranya, tetapi mukanya tidak  memperlihatkan suatu perobahan.

Sejenak kakek Lie diam tidak menjawab. Mukanya menunduk mengawasi biji biji catur sementara sebelah tangannya memutar mutar mangkok araknya. Lagak perbuatannya itu bagaikan memperlihatkan  dia  sedang berpikir, dan sebagai akibatnya dia justeru membikin suasana menjadi tegang, tidak melulu buat si kakek Ouw yang sedang menunggu jawaban, akan tetapi juga bagi pihak Hui beng siansu bertiga, yang langsung sedang mengawasi kakek Lie.

“... untuk banyak tahun lamanya Lie Kim Nio  hidup menderita berkelana mencari si iblis penyebar maut yang sudah memperkosa dia; akan tetapi usahanya ternyata sia sia belaka, sebab dimana saja dia tiba; dia merasa selalu sudah ketinggalan dengan pihak para pendekar yang juga tak bosan bosan mencari jejak si iblis ternyata berhasil menghilang dan mengulang perbuatan jahatnya.”

Ada butir butir air mata yang menetes keluar dari sepasang mata kakek Lie; tetapi untungnya tidak terlihat oleh kakek Ouw, sebab kakek Lie sedang menunduk selagi dia mengucapkan perkataannya itu. Juga pihak Hui beng siansu tidak mungkin melihat adanya butir butir air mata itu. “…Kemudian Lie Kim Nio hidup menyendiri memperdalam ilmu diatas gunung Tsin san, dibukit Tsin  nia  dan berhubung Lie Hui Houw hendak melakukan perjalanan mencari si iblis penyebar maut maka si macan terbang memesan supaya kakak misannya menunggu ditempatnya di bukit Tsin nia bersama Lie Siu Lan dan si bocah.

“...berdasarkan kata kata membual yang pernah diucapkan oleh Nio Kok An; maka Lie Hui Houw sudah  mengetahui dimana tempat si iblis bermukim dan kegiatan apa yang  sedang dilakukan..”

“Hm, kegiatan apa yang dilakukan oleh dia ;,?" terdengar kakek Ouw bersuara seperti menggerutu.

Sehabis tadi dia menunduk dan selagi dia menyambung kisahnya mengenai keadaan Lie Kim Nio, pandangan mata kakek Lie tak Iepas mengawasi muka kakek Ouw, dan selama itu si kakek Lie tidak berhasil membaca keadaan muka kakek Ouw yang kelihatan tidak berobah atau terpengaruh. Melulu pada bagian mata kakek Ouw kelihatan adanya beberapa perobahan. Perobahan sinar mata itu. Kadang kadang seperti orang yang sedang mengenangkan kejadian tempo dulu, kadang kadang seperti orang yang merasa kehilangan sesuatu lalu menemukannya kembali dan..,

"Dia siapa maksud Ouw heng?' sengaja kakek Lie menanya; padahal dia sudah mengetahui maksud pertanyaan kakek Ouw yang seperti menggerutu tadi.

"Si iblis..,!” sahut kakek Ouw singkat;

“Hm! si iblis bukan si iblis kalau kian  hari dia tidak bertambah jadi ganas. Dia bahkan seorang penghianat bangsa; sebab orang-orang yang katanya diperlukan untuk diberikan pekerjaan, ternyata diangkut menyeberang untuk pihak Mongolia, Mereka sudah merupakan  orang orang tawanan sedemikian lekas perahu mereka meninggalkan kota Tio-ciu. Mereka diancam  disiksa dan dihukum kerja paksa untuk kepentingan pihak Mongolia. Berapa banyak si iblis menerima uang karena menjual manusia itu? Nio Kok  An terlalu membual merasa sudah berjasa dan bakal menjadi orang kesayangannya si iblis penyebar maut. Dia telah memberikan pengakuan tanpa dim inta (nada suara kakek Lie berobah menjadi bertambah tegas dan keras, mengandung kebencian atau kemarahan), dan dari hasil keuangan  itu;  si iblis gunakan buat dia membeayai perkumpulannya yang dia namakan Thian tok bun; persekutuan penyebar bisa racun sebagai ganti persekutuan Han bie kauw dan persekutuan ini akan mendapat uang jasa yang berlimpah limpah dari pihak Mongolia yang bermaksud kembali menjajah negeri  Cina, sebab bisa racun itu akan menyebar maut tidak melulu dikalangan pasukan perang pemerintah kerajaan beng akan tetapi juga dikalangan rakyat jelata..!”

Terbelalak mata Hui beng siansu, Go Bun Heng dan GwaTeng Sin waktu  mendengarkan kisah kegiatan yang sedang dilakukan oleh si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, sedangkan sepasang mata kakek Lie  kelihatan bersinar menyala bagaikan menyimpan rasa dendam yang membara.

“…dalam perjalanan menuju ketempat si iblis penyebar maut, sempat si 'macan terbang' Lie Hui Houw menghubungi salah seorang sahabatnya yang memang terkenal paling gigih mencari jejak si iblis penyebar maut sejak si iblis masih merupakan pemimpin dari orang orang Han bie kauw; dan sahabatnya Lie Hui Houw itu sudah tentu menyebar berita lagi sambil mengusahakan tenaga tenaga untuk mengganyang si iblis sementara Lie Hui Houw seorang diri meneruskan perjalanannya dan langkah langkahnya menuntun dia sampai  di gunung Kauw it san.”

Terdengar suara menggerutu yang tidak jelas dari twa to  Go Bun Heng bertiga. "Apakah dia datang hanya sendirian..?” tanya kakek Ouw seperti hendak menegaskan atau merasa tidak percaya; juga Hui beng siansu bertiga ikut memperhatikan dan ingin mendengarkan jawaban dari si kakek Lie.

"Ya, sendirian. Pantang buat si 'macan terbang’ menunda pekerjaannya dan menunggu orang orang yang berjanji memberikan bantuan.. “ sahut kakek Lie; nada suaranya mengandung rasa bangga.

"Lie heng; kau hebat sekali. Kau terlalu banyak mengetahui tentang si macan terbang Lie Hui Houw, siapakah kau sebenarnya..,?' kata si kakek Ouw; nada suaranya seperti orang bergurau padahal hasrat hatinya ingin benar dia mengetahui, untuk memastikan dugaannya!

”Ha ha ha ha..! " tawa kakek Lie lalu dia berkata :

“.. Ouw heng, sekarang kau jadi orang yang tak bisa menahan kesabaran.. “ dan kakek Lie tertawa lagi, memaksa kakek Ouw menjadi ikut tertawa dan Hui beng siansu bertiga ikut menjadi tersenyum. Senyum yang menyimpan  tiga macam arti yang berlainan!

Sementara itu kakek Lie memerlukan m inum araknya untuk kemudian dia mengoceh lagi :

“.. seorang diri si 'macan terbang’ Lie Hui Houw mendaki gunung Kauw it san, seorang diri dia  telah menyelidiki, sehingga dia tahu tentang adanya lampu lampu merah (ang teng) yang dianggap sebagai lentera maut, serta si  hantu muka hitam (hek mo) yang ternyata bukan hanya ada satu hantu, akan tetapi ada 5 hantu muka hitam, sebab ke 5 hantu itu sebenarnya adalah Heng san ngo kui atau hantu  jejadian dari gunung Heng san, yang merupakan penjahat penjahat pelarian setelah sarang mereka diatas gunung  Heng san diganyang habis...

... memang hebat cara kakek Lie menguraikan penyelidikan yang dilakukan oleh si macan terbang Lie Hui Houw; Semua yang mendengarkan merasakan sangat tegang;  terpesona sampai mereka tidak bergerak dari tempat duduk mereka bahkan pandangan mata mereka tak pernah lepas dari  si kakek Lie sehingga mereka tidak mengetahui bahwa di kedai kakek Ouw sudah bertambah dengan satu tamu lain, tamu laki laki yang kira kita seumur dengan si golok maut Go Bun Heng, namun memiliki wajah  muka yang tampan serta memiara sedikit kum is yang dirawat rapih, dan tamu lelaki itu langsung duduk, ikut mendengarkan kisah cerita kakek Lie  bahkan dia ikut jadi terpesona tanpa dia perdengarkan suara!

Sementara itu kakek Lie terus mengoceh tanpa istirahat; tanpa dim inumnya araknya dan tanpa disentuhnya biji biji catur yang sejak tadi jadi ikut menganggur!

"...Heng san ngo kui bermukim diatas gunung Kauw it san bukan sebagai raja gunung akan tetapi mereka hanya merupakan kacung kacung belaka yang berlagak  menjadi hantu muka hitam yang menyebar maut kalau ada lentera lentera merah yang menyala bergantungan diatas  dahan dahan pohon, dan Heng san ngo kui memimpin sekelompok orang berseragam serba hitam; lengkap dengan tutup muka memakai secarik kain hitam serta lambang kala hitam dalam lingkaran putih pada bagian dada sebelah kiri dari pakaian seragam mereka dan lambang  itu adalah lambang  dari persekutuan Thian tok bun.. .!

SekaIi lagi terdengar suara gerutu dari twa to Go Bun Hengkz bertiga, sementara yang lain diam tidak bersuara, bahkan terus mengawasi muka kakek Lie yang  masih mengoceh terus:

’.. jelas bahwa dibelakang Heng san ngo kui masih ada seseorang lain yang lebih berkuasa lebih berpengaruh dan seseorang itu adalah pemimpin atau ketua dari persekutuan Thian tok bun; dan dia adalah si iblis penyebar maut.. "

Sekilas, kakek Lie menatap sepasang mata kakek Ouw yang waktu itu kelihatan jadi tambah menyala, dan sekilas kakek Lie melirik kearah tamu laki laki yang baru datang tadi, lalu dia 'ngoceh’ lagi :

“.. satu hal yang disesalkan oleh si iblis penyebar maut adalah Thian tok bun baru  dirintis,  masih  dalam  persiapan atau pemulaan. Persediaan bisa racun buat menyebar maut belum selesai dia olah, masih merupakan larutan didalam tabung tabung di ruang tempat pengolahan obat obat di atas gunung Kauw lt san. Andaikata larutan bisa racun itu sudah selesai untuk disebarkan dan orang orang seperti sipengemis muda bahkan semua rombongannya,  pasti sudah  tewas semua sebab tanpa mereka  menyadari ditempat mereka menginap ada mata mata atau orang orang Thian tok yang menyamar menjadi hweeshio."

"Lie heng, sekali lagi aku tanya padamu, siapa  kau sebenarnya?' tanya kakek Ouw ; tegas suaranya, dan tambah menyala sinar sepasang matanya yang mengawasi kakek Lie.

"Sabar, sabar ; Ouw heng. Hari ini kau benar benar kelihatan gugup sekali, bahkan perma inan catur tidak kau lakukan; padahal sejak tadi aku menunggu giliran kau melakukan langkah, sedangkan pertahananmu kelihatannya sudah hancur sama sekali...," sahut kakek Lie, tenang tenang suaranya yang dia campur dengan kelakar dan tenang juga lagaknya waktu  dia  minum araknya, untuk kemudian  dia meneruskan ocehannya, 'Nah sekarang Go toako bertiga juga Ong heng yang baru datang. Bersiaplah buat kita  mengikis habis si iblis penyebar maut!”

Bagaikan patuh menerima perintah dari seorang panglima,  si Golok maut Go Bun Heng bertiga serentak berdiri dan serentak siap dengan senjata mereka, juga Kanglam hiap Ong Tiong Kun atau tamu laki laki yang baru datang itu, ikut patuh dengan 'perintah' dari si kakek Lie; yang waktu itu masih mengoceh terus :

'.. dan kau Ouw heng, he he he! aku jadi terbiasa menyebut kau Ouw heng. Buat kau; terserah kepadamu. Apakah kau mau melepaskan topeng yang menutup ujutmu atau tidak, sebab rahasia penyamaran kau sudah terbuka dan kau adalah si iblis penyebar maut atau Toat beng sim  alias  Han bie kauwcu alias Koan bin jin yoa atau manusia muka seribu! akan tetapi, supaya kau tidak mati penasaran, kau lihat siapa aku..“

Kakek Lie menyudahi perkataannya dengan sebelah tangannya membuka selaput kulit mukanya, yang ternyata berupa topeng yang dibikin dari bahan pelastik yang mirip dengan kulit manusia, dan dilain detik si kakek Lie sudah berubah menjadi si 'macan terbang' Lie Hui Houw!

'Lie ciangkun ,!” teriak Gwa Teng Sin dan Go Bun Heng; sikap mereka tegak memberikan hormat secara militer!

"Hm! kiranya kau si 'macan terbang’ Lie Hui Houw, dan kau juga yang menjadi panglima dalam kesatuan tentara pemberontak Thio Su Seng yang sudah hancur berantakan; tetapi sayang kau buta mata menuduh aku sebagai si iblis penyebar maut. Keluar..!"

Kakek Ouw menutup perkataannya dengan mendorong pinggir meja memakai sepasang tangannya, sementara dari bagian dalam kedainya muncul enam orang berseragam serba hitam, lengkap dengan tutup muka dan lambang Thian tok  bun; dan mereka langsung  terlibat dalam pertempuran melawan Hui beng siansu berempat. Dipihak  si  'macan terbang' Lie Hui Houw, dia  hanya menggunakan  sebelah tangan kirinya buat ikut mendorong pinggir meja, sehingga mereka berdua saling dorong, semakin lama semakin mengerahkan tenaga dalam, sehingga  kalau yang seorang kena terdorong pasti akan tergempur tenaga dalamnya!

Sementara itu, sambil mengadu kekuatan tenaga dalam, si 'macan terbang' Lie Hui Houw sempat berpikir entah sejak kapan si kakek Ouw yang dia tuduh sebagai si iblis penyebar maut, menyimpan ke enam orangnya yang berpakaian seragam serba hitam, sebaliknya si A-heng tidak kelihatan hidungnya sejak pagi tadi.

Mereka berdua masih saling dorong masih saling mengadu kekuatan; sementara di pihak Hui beng siansu serta tiga rekannya menghadapi enam orang lawan dan mereka sengaja tidak memberikan kesempatan bertempur diluar kedai kakek Ouw, meskipun di tempat yang sekecil itu tidak mungkin mereka bergerak bebas.

Akan tetapi, ditempat yang sempit itu memang menguntungkan pihak Hui beng siansu. Sebab pihak musuh jadi sukar melarikan diri; dan pihak musuh  sukar menggunakan senjata rahasia, yang pasti mengandung bisa racun yang amat berbahaya!

Dan pihak musuh yang berseragam serba hitam itu,  ternyata tidak sanggup menghadapi pihak Hui beng siansu yang memang merupakan tokoh tokoh kawakan dikalangan rimba persilatan, kecuali Gwa Teng Sin yang termuda usianya namun si pengemis muda itu tidak mengecewakan gurunya: si biang pengemis Pit  Leng Hee yang ilmu  silatnya  sebagian besar bersumber pada ilmu silat milik almarhum Kwee Ceng berdua Oey Yong, yang kemudian dicampur baurkan dengan ilmu s ilat Siao lim, berdasarkan ajaran Pheng hweeshio, selagi mereka masih merupakan pembantu pembantu utama dari gerakan Thio Su Seng.

Sia sia pihak musuh berseragam serba hitam itu berusaha menerobos, hendak mengajak bertempur dibagian luar kedai. Mereka tidak diberi kesempatan sedikitpun juga oleh pihak Hui beng siansu berempat yang menggempur secara ketat.

Sebaliknya buat si kakek Ouw yang masih mengadu kekuatan tenaga dalam dengan si macan terbang Lie Hui Houw tak mungkin dia memberikan bantuan bagi pihaknya; sampai disuatu saat si kakek Ouw perdengarkan pekik suara yang keras, lalu meja yang dipakai sebagai perisai saling mengadu tenaga, menjadi hancur beberapa keping; dan tubuh Lie Hui Houw maupun si kakek Ouw terpental keatas udara, dan selama jungkir balik di udara; empat batang pisau terbang atau yang dikenal dengan nama Coan yo shin jie meluncur ke arah Hui beng siansu berempat.

Bagi Hui beng siansu dengan kawan kawannya, mereka sanggup menghindar dari serangan belati penembus tenggorokan yang.sudah tidak asing lagi bagi  mereka; sehingga pertempuran yang mereka lakukan hanya sekejab terintang.

Si macan terbang Lie Hui Houw menjadi sangat penasaran melihat ketangkasan lawannya, yang sanggup memecah tenaga dan perhatian memberikan bantuan bagi pihak teman temannya, sehingga waktu keduanya turun dari  udara; sebelah kaki kanan Lie Hui Houw menendang kakek Ouw, dan angin tendangan itu menderu, menandakan Lie Hui Houw memakai tenaga dalam namun sebelah telapak tangan kakek Ouw memukul kaki yang sedang menendang itu, dengan  akibat si kakek Ouw tergempur mundur beberapa langkah ke belakang tetapi nyaris kena tendangan maut tadi.

Lie Hui Houw tambah penasaran. Bagaikan seekor macan yang terbang, dia lompat menendang lagi memakai sepasang kakinya, sambil dia  perdengarkan pekik suara yang keras bagaikan aum seekor macan jantan sehingga kakek Ouw buru buru berkelit  dengan suatu lompatan menyamping, dan sebagai akibatnya, maka dinding tembok bobol kena tendangan kaki Lie Hui Houw!

Dipihak Kanglam hiap Org T iong Kun, sambil dia bertempur menghadapi dua orang lawan yang berseragam serba hitam; seringkali dia harus melirik kearah si kakek Ouw yang sedang bertempur melawan si 'macan terbang’ Lie Hui Houw,

Untuk belasan tahun lamanya, Kanglam hiap Ong  Tiong Kun mencari jejak si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, tanpa dia mengenal lelah dan tanpa menghiraukan ancaman bahaya maut. Tak mungkin dapat dia melupakan peristiwa tempo dulu isterinya dibinasakan oleh si iblis penyebar maut, sesaat sehabis Ong Tiong Kun menikah dengan Phang Lan  Ing, anak kesayangannya si jeriji sakti Phang Bun Liong yang menjadi persekutuan naga hitam atau Hek liong pang.

Berulangkali Ong Tiong Kun berhasil menemukan jejak si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, dan  berulangkali juga dia berhasil menghadapi dan bertempur melawan si iblis penyebar maut; akan tetapi selalu Kanglam hiap Ong Tiong Kun kena tipu muslihat si iblis penyebar maut yang berhasil melarikan diri sehingga sekali ini, tak mau dia lengah  dan selalu dia bersiap siaga jangan sampai terjadi si kakek Ouw melarikan diri!

Oleh karena Kanglam hiap Ong Tiong Kun  bertempur sambil memecah perhatiannya maka akibatnya menjadi tidak mudah buat dia mengalahkan kedua lawannya. Akhirnya Ong Tiong Kun menyadari kesalahannya, lalu dia perhebat serangannya sehingga dalam jurus jurus berikutnya  dia berhasil membinasakan kedua lawannya, setelah itu dia bergegas hendak memberikan bantuan bagi Lie Hui Houw sesuai dengan rencananya.

Akan tetapi, secara tiba tiba ada tubuh seseorang yang terguling mendekati kaki Ong Tiong Kun; dan itu adalah tubuhnya si kakek Ouw yang kena tendangan si  macan terbang Lie Hui Houw!

Hanya sejenak Kanglam hiap Ong Tiong Kun ragu ragu dengan sepasang mata menyala mengawasi si kakek  Ouw  atau si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu; seteIah itu tanpa membuang kesempatan Ong Tiong Kun angkat pedangnya, hendak menikam perut si iblis yang sudah rebah tak berdaya!

“Tunggu...!" Itulah pekik teriak si macan terbang Lie Hui Houw suara berwibawa dari seorang pemuda perkasa yang punya kedudukan menjadi panglima pada kesatuan gerakan tenaga rakyat yang dipimpin oleh Thio Su Seng. "Ong heng, maafkan aku.." kata Lie Hui Houw yang sudah mendekati. Nada suaranya berobah ramah bersahabat dan dia menambahkan perkataannya :

“…aku sudah berjanji hendak mempertemukan dia dengan kakak misanku, yang menghendaki anaknya melihat ayahnya meskipun hanya untuk sekejap saja. Dari itu aku persilahkan kau ikut ke Tsin nia sebab setelah pertemuan itu, akan aku serahkan si iblis kepada kau…”

Kanglam hiap Ong Tiong Kun merasa terharu mendengar perkataan si macan terbang Lie Hui Houw  karena  didalam nada suara itu mengandung rasa cinta atau kasih sayang kepada kakak misannya. Oleh karena Ong Tiong Kun jadi menurut, batal dia menikam kakek Ouw atau si iblis penyebar maut; dan mereka kemudian mengikat tubuh si kakek  Ouw erat erat.

Sementara itu pertempuran di pihak Hui beng siansu dengan kawan kawannya juga sudah dise lesaikan tanpa ada seorang musuh yang masih hidup dan se lagi mereka membersihkan ruangan bekas pertempuran terjadi; maka mereka melihat adanya asap tebal yang mengepul tinggi keangkasa, berasal dari atas gunung Kauw it san.

"Agaknya kawan kawan kita sudah  berhasil  pula menunaikan tugas mereka.. " kata twa to Go Bun Heng yang perlihatkan senyum puas.

Si macan terbang Lie Hui Houw ikut bersenyum puas. Juga yang lain, mereka kemudian duduk beristirahat sambil mereka menghadapi santapan siang.

"Go toako, maafkan aku karena aku  terpaksa melakukan hal hal yang tidak sebenarnya selama dalam penyamaranku ." kata Lie Hui Houw ditengah mereka bersantap itu.

'Lie ciangkun,  aku justeru malu  dengan kebodohanku sehingga hampir saja aku merusak rencana kerja kau...” sahut si golok maut Go Bun Heng, yang mukanya kelihatan jadi berobah merah.

Sesungguhnya usia Lie Hui Houw masih sangat muda, terhadap si golok maut Go Bun Heng atau terhadap Kang lam hiap Ong Tiong Kun dan Hui beng siansu  barangkali  lebih tepat kalau dia  menyebut paman. Akan tetapi  didalam pasukan Thio Su Seng kedudukannya Lie Hui Houw waktu itu adalah sebagai panglima, sehingga dia sudah terbiasa membahasakan diri 'toako' kepada si golok maut Go  Bun Heng, dan kebiasaan itu tetap dia pertahankan.

'Go toako, aku kira sebentar lagi kawan-kawan kita akan datang dan berkumpul di kedai ini: aku harap kau sampaikan rasa terima kasihku kepada mereka; oleh karena mereka telah melihat kembang api yang aku luncurkan dan yang  sebenarnya aku tujukan buat Ong Heng sesuai dengan janjiku,” sejenak Lie Hui Houw terdiam berpikir; setelah itu dia berkata lagi ;

"... aku terpaksa tidak dapat menunggu mereka, sebab aku masih mempunyai pekerjaan lain, dan aku hendak lekas lekas membawa tawanan kita bersama sama Ong heng dan setelah itu aku harus menemui guruku.”

Twa to Go Bun Heng manggut menyatakan mengerti dan menyanggupi tugas yang diserahkan kepadanya, oleh karena ini; setelah selesai bersantap maka Lie Hui Houw dan Kanglam hiap Ong Tiong Kun mendahulukan berangkat dengan membawa tawanan mereka, si kakek Ouw atau si  iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu, dengan memakai tiga ekor kuda, sementara tubuh kakek Ouw tetap diikat erat erat.

Dan jauh disebelah depan mereka bertiga, tanpa mereka mengetahui ada seekor kuda yang dilarikan cepat cepat oleh si penunggangnya; dan si penunggang kuda itu justeru adalah si kakek Ouw!

))-<(dwkz-x-hnd))« SELAMA belasan tahun Kanglam hiap  Ong Tiong Kun menyimpan dendam terhadap si iblis penyebar maut alias Han bie kauwcu akibat tewasnya isteri kesayangannya selagi mereka baru saja menyelesaikan hari pernikahan mereka.

Berulangkali dia menempuh bahaya mencari jejak musuh bebuyutan itu karena si iblis  penyebar maut atau Han bie kauwcu yang dianggap sudah binasa, ternyata masih gentayangan dan masih menyebar maut, bahkan sekali pernah terjadi, pihak si iblis memasang  perangkap  buat membinasakan Kang lamhiap Ong Tiong Kun, dengan memberikan umpan seorang wanita muda yang cantik jelita; dan yang bernama Lie Sian Ing. Akan tetapi umpan yang dipakai untuk memikat itu, bahkan jadi terpikat oleh kejantanan dan kegagahan Kanglam hiap Ong Tiong Kun, mengakibatkan si iblis bukan main marahnya karena merasa dikhianati; dan pada kesempatan dia  berhasil menangkap Kanglam hiap Ong Tiong Kun serta perempuan Sian Ing itu, maka si iblis penyebar maut menyiksa  Kanglam hiap Ong Tiong Kun dengan memukul dan merusak alat kelakian Ong Tiong Kun; hingga sejak itu hilang kelakian Kanglam hiap Ong Tiong Kun meskipun dia t idak sampai binasa!

Hek liong pang atau persekutuan Naga  hitam adalah persekutuan yang dirintis atau dipim pin oleh ayah mertuanya Ong Tiong Kun. yaitu si jeriji sakti Phang Bun Liong, dan persekutuan Hek liong pang dibubarkan setelah Phang Bun Liong hendak hidup menyendiri, bebas dari pergaulan orang orang rimba persilatan, sedangkan Kanglam hiap Ong Tiong Kun lebih banyak melakukan perantauan untuk mencari jejak  si iblis penyebar maut, sehingga Hek liong pang tidak lagi ada yang urus.

Setelah lewat belasan tahun, usia Kanglam hiap Ong Tiong Kun sekarang sudah empat puluh tahun lebih. Sikapnya sekarang menjadi lebih sabar, akan tetapi pedangnya tetap tak memiliki mata terlebih kalau dia  berhadapan dengan musuh yang terkenal ganas dan kejam.

Pada raut muka Ong Tiong Kun jelas kelihatan bahwa dia sudah kenyang dengan segala macam derita dan siksa, baik lahir maupun bathin. Dan dia sekarang memiara sedikit kum is yang dia rawat rapih.

“Aku kenal dia  waktu kita  sama sama mengganyang markas si iblis penyebar maut..“ tiba tiba Cie in  suthay  berkata, sambil dia mengipas dirinya memakai lengan baju, untuk mengurangi rasa panas karena teriknya sinar matahari.

Waktu itu Lie Hui Houw berdua Cie in suthay sedang beristirahat; duduk ditepi jalan dekat sebuah perkampungan yang letaknya tidak jauh dari kota Lan kiao tin.

Selama mendengarkan kisah cerita si 'macan  terbang  Lie Hui Houw sambil mereka meneruskan perjalanan mereka; kelihatan Cie-in suthay merasa puas terlihat pada mukanya cerah dihias dengan senyumnya yang dapat menawan hati selusin perjaka.

'Waktu itu kalian mengganyang si iblis  dengan kegiatan persekutuan Thian tok bun, tentunya..“ kata Lie Hui Houw sambil dia mengawasi muka biarawati yang muda usia itu.

"Benar "sahut cie-in suthay yang lalu menambahkan perkataannya:

".. sesungguhnya orang tidak akan menduga kalau si iblis penyebar maut dapat meneruskan rencananya dengan persekutuan Thian tok bun sebab kalian telah mengganyang markas mereka di gunung Kauw it san.., "

Lie Hui Houw manggut membenarkan dan berkata : "Sayangnya waktu itu aku tidak dapat ikut  dalam aksi

pengganyangan itu, sebab aku harus menemani suhu memperdalam ilmu buat menunaikan tugas si  macan terbang..." "Sebagai laki laki bekas orang hukuman “ Cie in suthay menambahkan; tak lupa dengan menyertai seberkas senyumnya yang aduhai.

Sejenak Lie Hui Houw jadi terdiam seperti berpikir sampai kemudian Cie in suthay yang berkata lagi: ".. hayo,  teruskan lagi ceritamu..!"

"Sampai dimana tadi..? " balik tanya Lie Hui Houw yang terlupa.

"Sampai kalian sedang membawa si kakek Ouw yang tidak berdaya yang kalian ikat  pada seekor kuda, sedangkan disebelah depan kalian ada lagi si kakek Ouw yang selang memacu kudanya..” sahut Cie in suthay, wajar nada suaranya tidak merasa heran sebab sudah terbiasa dengan muslihat si iblis penyebar maut

Sesungguhnya adalah merupakan hal yang amat menggembirakan bagi Kanglam hiap Ong Tiong Kun, bahwa setelah sedemikian lamanya bersusah  payah akhirnya dia berhasil menemukan si iblis penyebar maut dalam ujut  si kakek Ouw yang saat itu telah menjadi tawanan mereka sehingga hanya tinggal menunggu saat si iblis dipertemukan dengan Lie Kim Nio setelah itu habis sudah dendam yang membara berkenaan dengan tewasnya isteri kesayangannya.

Teringat dengan almarhum Phang Lan Ing maka air mata Ong Tiong Kun mengalir keluar lagi tidak perduli saat itu dia sedang memacu kudanya yang mendampingi  si  macan terbang' Lie Hui Houw serta tawanan mereka; si iblis penyebar maut.

“benarkah si iblis penyebar maut..?” terlintas pertanyaan itu didalam hati Ong Tiong Kun, yang sudah terlalu sering mengalami kekecewaan akibat tipu muslihat si iblis penyebar maut. Kata kata si iblis se lalu seperti terdengar ditelinga Ong Tiong Kun, bahwasanya si iblis akan selalu dapat menghindar dari ancaman bahaya dengan menempatkan lain orang pada ujut penyamarannya, sehingga seribu kali orang menduga si iblis sudah tewas, seribu kali orang akan menemukan seribu iblis penyebar maut dalam seribu bentuk dan ujut muka!

Pada waktu itu ujut si iblis penyebar maut adalah sebagai si kakek Ouw; pemilik kedai nasi. Akan tetapi, apakah yang sedang mereka bawa itu benar benar s i kakek Ouw? atau ada wajah lain dibalik ujutnya si kakek Ouw itu? Wajah asli dari si iblis penyebar maut atau wajah lain orang lagi yang menggantikan penyamaran si iblis penyebar maut?

“Tunggu..!” tiba tiba Kanglam hiap Ong T iong Kun berseru, sambil dia berusaha menghentikan lari kudanya, membikin Lie Hui Houw jadi ikut menghentikan Iari kudanya juga kuda yang membawa tubuh terikat dari si kakek Ouw.

“Kenapa Ong heng .,.?'' tanya Lie Hui Houw yang merasa heran ; menduga mungkin Kanglam hiap Ong Tiong Kun sakit perut akan tetapi waktu Ong Tiong Kun menyatakan kecurigaannya maka Lie Hui Houw tertawa dan berkata ;

"Jadi. Ong heng meragukan bahwa si kakek Ouw adalah si iblis penyebar maut? atau dengan kata lain, Ong heng meragukan pendapatku bahwa si kakek Ouw adalah si iblis penyebar maut,.. “

"Bukan meragukan, akan tetapi aku khawatir si iblis menggunakan akal yang sama, menggantikan lain orang pada tempatnya dan dia sendiri menghilang, menyelamatkan diri “ sahut Kanglam hiap Ong T iong Kun gugup; sedangkan Lie Hui Houw yang merasa tidak mengerti atau kurang mengerti dengan maksud perkataan teman seperjalanannya sehingga untuk itu Lie Hui Houw terdiam berpikir, setelah ini baru dia berkata.

"Apa maksud Ong heng ,. "

"Maksudku mungkin yang kita bawa bukan kakek Ouw " sahut Ong Tiong Kun yang bahkan jadi bertambah gugup. Sekarang Lie Hui Houw mengerti; dan dia jadi tersenyum selagi dia berkata :

“Kalau begitu mari kita periksa muka si kakek Ouw.. " demikian kata Lie Hui Houw sambil dia mendahulukan  turun dari kudanya diikuti oleh Kanglam hiap Ong Tiong Kun untuk kemudian mereka bantu menurunkan si kakek Ouw yang tubuhnya diikat.

Sejenak Kanglam hiap Ong T iong Kun berdua Lie Hui Houw meneliti muka kakek Ouw yang diperintahkan duduk  ditepi jalan raya terlindung oleh sebuah pohon dari teriknya sinar matahari.

Sebelah tangan Ong Tiong Kun kemudian meraba kulit  muka kakek Ouw tanpa menghiraukan s i kakek memaki sambil kemudian Ong Tiong Kun berhasil menarik selaput kulit muka kakek Ouw dan muka kakek Ouw berobah menjadi muka A heng, pembantu si kakek Ouw dikedainya.

“Celaka, kita benar benar kena ditipu!”  seru  Ong  Tiong Kun; setelah dia meneliti bahwa dibalik ujut muka  A  heng tidak ada topeng lain lagi.

Si 'macan terbang' Lie Hui Houw lemas sampai dia terduduk tanpa terasa,

Sementara itu A heng tertawa melihat kedua orang yang mengaku perkasa itu telah kena ditipu, dan dia terus tertawa meskipun Lie Hui Houw me ludahi mukanya dan A heng balas meludahi muka si 'macan terbang Lie Hui Houw, namun meleset sebab dia kena ditendang oleh Kanglam  hiap Ong Tiong Kun dan Ong Tiong Kun bahkan tak bosan bosan memukul A heng sampai A heng terpaksa mengaku mengatakan bahwa pada malam sebelum terjadi pertempuran si iblis penyebar maut memerintahkan A  heng  memakai topeng menjadi si kakek Ouw sedangkan si iblis katanya hendak naik keatas gunung Kauw-it san. "Jelas bahwa si iblis lagi lagi berhasil melarikan diri.. " Ong Tiong Kun berkata seperti menggerutu ; sedangkan Lie Hui Houw memukul kepala A heng sampai remuk kepala A heng.

Muka si macan terbang Lie Hui Houw kelihatan berobah muram waktu dia kena ditipu oleh si iblis penyebar maut, dan Cie in suthay pergunakan kesempatan itu buat dia berkata ;

“Dahulu waktu kami mengganyang markas kegiatan si iblis penyebar maut; waktu itu sekelompok orang orang gagah mengepung dan membunuh si iblis penyebar maut, sehingga hancur tubuh dan mukanya, mengakibatkan orang orang tidak teringat untuk meneliti ujut muka si iblis ,, "

Sejenak si macan terbang Lie Hui Houw diam berpikir; mengingat ingat kejadian selanjutnya setelah dia berdua Kanglam hiap Ong T iong Kun kena ditipu oleh si iblis penyebar maut; sedangkan cie in suthay lalu mengajak dia buat meneruskan perjalanan mereka. ''Andaikata aku mendapat kesempatan bertemu lagi dengan dia, pasti kubunuh!” Lie Hui Houw menggerutu penasaran namun dia ikut bangun berdiri dari tempat duduknya.

Cie in suthay mengawasi si macan terbang Lie Hui Houw. Tajam sinar matanya akan tetapi dia menyertai senyumnya waktu dia berkata lagi ;

"Apakah kau lupa bahwa dia adalah ci-humu...?” (cihu yang berarti abang mantu)

Sementara   itu    Lie    Hui Houw  terdiam berdiri dengan

sepasang mata membelalak. Akan tetapi segera dia teringat bahwa dara manja Lie Siu Lan adalah  anak kakak  m isannya Lie Kim Nio dan ayah Lie Siu Lan adalah  si iblis  penyebar maut!

Lie Hui Houw masih terdiam tidak bersuara meskipun langkah kakinya sudah mengikuti perjalanan biarawati yang muda usia itu sedangkan didalam hatinya dia harus memikirkan sekali lagi tentang perbuatan si iblis penyebar maut, terhadap Lie Kim Nio dan Lie Siu Lan, sebab selama menunggu berita dari si 'macan terbang' Lie Hui Houw, maka Lie Kim Nio bersama anak daranya dan si bocah anaknya Lie Sun Houw mendiam i rumah diatas bukit Tsin nia, bagian dari gunung Tsin san yang besar dan luas.

Rumah itu adalah tempat Lie Kim Nio menyendiri dan memperdalam ilmu, sehingga disekitar  tempat itu tidak terdapat rumah lain orang.

Di pihak Lie Siu Lan, dara manja itu merasa sangat girang dapat bertemu dan berkumpul dengan  ibunya,  sehingga lambat laun dia  dapat melupakan kesedihannya karena tewasnya kakeknya, atau ayahnya Lie Kim Nio.

Akan tetapi satu hal yang masih disesalkan oleh Lie Siu Lan sampai saat itu dia belum bertemu dengan ayahnya, sebab menurut kata ibunya; sang ayah itu sudah binasa dalam satu pertempuran melawan si iblis penyebar maut! Memang, pada mulanya kedua ibu dan anak itu agak canggung,  terlebih dipihak Lie Siu Lan; sebab dia bertemu dengan ibunya setelah dia berusia remaja. Akan tetapi, mereka berdua dengan cepat dapat saling menyesuaikan diri, dan Lie Kim Nio melatih ilmu silat anak daranya, karena katanya Lie Siu Lan bertekad hendak mencari balas terhadap si iblis penyebar maut yang telah membinasakan ayahnya.

Menurut kata ibunya sang ayah bernama Ong Kun Bie, sehingga Siu Lan lalu mengganti marga Lie dengan  marga Ong, dan seterusnya dia menganggap bernama Ong Siu Lan.

Pada saat dia  berada seorang diri, sering kali Siu Lan membayangkan ayahnya; bahwa sang ayah  itu  bertubuh kokoh kuat, memiliki ilmu silat yang mahir seperti si 'macan terbang’ Lie Hui Houw.

Dengan si 'macan terbang’ Lie Hui Houw sebenarnya Siu Lan harus menyebut paman, akan tetapi waktu dia melihat usia Lie Hui Houw tidak selisih banyak dengan umurnya maka Siu Lan yang biasa bersikap manja tidak mau  menyebut paman sebaliknya dia memakai istilah piauwko atau kakak misan.

Wajah muka yang tampan dan sikap perkasa dari sang kakak misan itu, sering kali mengganggu hati Siu Lan yang sedang membara sebagai seorang dara remaja; sehingga dara manja itu kadang kadang membayangkan betapa akan serasi bila bersama si macan terbang Lie Hui Houw menjelajah dan menjagoi dikalangan rimba persilatan, membikin orang banyak menjadi kagum dan iri hati dengan pasangan pendekar muda yang gagah perkasa itu, yang satu cantik dan yang satu tampan!

"Akan tetapi, mungkinkah aku menjadi pacarnya Lie piauwko? Sayang, sungguh sayang. Mengapa Lie Hui Houw itu menjadi kakak misanku...?'' berulangkali dara manja  itu berpikir dan berkata seorang diri.

Dan hari itu, untuk yang kesekian kali Siu Lan ditinggal seorang diri, sebab ibunya dan si bocah sedang pergi  ke  dusun terdekat hendak membeli persediaan bahan pangan.

Seorang diri Siu Lan terbenam daIam lamunannya; dan seorang diri dia melatih ilmu silat sampai mendadak dia dikejutkan dengan suara orang laki laki yang memberikan pujian.

Siu Lan menunda latihannya dan mengawasi laki laki yang bersuara memuji dia. Seorang laki laki yang masih asing buat dia, seorang laki laki dengan kulit muka agak hitam  akan tetapi bertubuh agak tinggi kokoh, berusia kira kira sudah 30 tahun lebih yang pada saat itu sedang mengawas i dia dengan perlihatkan senyum, suatu senyum ramah tidak mengandung rasa permusuhan.