-->

Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Jilid 02

Jilid 02

Dalam keadaan pertempuran yang kacau balau itu, tiba tiba terdengar ada pekik suara seseorang yang mengajak kawan- kawannya mengundurkan diri sehingga pada saat berikutnya kelompok orang orang yang bertempur itu kelihatan memisah diri, dan mereka yang melarikan diri ternyata tidak dikejar oleh pihak lawan sebab laki  laki si pedagang nasi berteriak melarang, sambil dia mendekati laki laki bekas orang hukuman yang dia sebut sebagai sam ceecu atau pemimpin ke tiga.

"Sam ceecu, kau terluka…” kata si pedagang nasi yang kelihatannya kaget, namun dia menyertai senyumnya, sementara lelaki bekas orang hukuman itu berdiri tegak sambil dia mengawasi s i pedagang nasi tanpa dia mengucap apa apa, sehingga si pedagang nasi itu yang berkata lagi :

" sam ceecu, mari kau ikut ketempat kami, akan kurawat dan kuobati luka itu.. .”

"Siapa kau . . . ?" tiba tiba lelaki bekas orang hukuman itu bertanya, nada suaranya penuh wibawa  membikin  si pedagang nasi itu menunda tindakannya yang hendak tambah mendekati.

"Sam ceecu, apakah kau benar benar telah lupa kepadaku ? Aku adalah Ang Sin T iu yang selalu mendampingi Thio cuncu .

. ."

Si pedagang nasi itu menyudahi perkataannya, sementara sepasang matanya segera kelihatan berlinang basah. Agaknya dia sedih sewaktu menyebut nama Thio cuncu tadi, sementara laki laki bekas orang hukuman itu mendadak menjadi teringat dengan Ang Sin Tiu, yang dahulu menjadi pembantu utama dari Thio Liang Hok.

"Akh, kiranya kau . . . ' akhirnya laki-laki bekas orang hukuman itu berkata; lalu dia ganti mengawasi orang yang berpakaian serba hitam, yang saat itu juga sudah ikut mendekati.

“Sam ceecu ini adalah ... ”

"Susiok, tunggu! tak layak kita bicara di s ini " orang yang

berpakaian serba hitam itu memutus perkataan Ang Sin  Tiu dan nada suaranya terdengar halus merdu sebagai suara seorang perempuan.

"Benar, marilah Sam ceecu ikut dengan kami ." kata  Ang Sin Tiu yang menyadari keadaan.

Laki-laki bekas orang hukuman itu manggut. Dia merobek bagian kaki celananya untuk dia mengikat luka  dibagian pahanya, setelah itu dia ikut rombongan orang orang yang memilih jalan sebelah selatan sampai dilain saat mereka memasuki suatu arah jalan belukar yang penuh liku dan menemui sebuah bangunan tua yang kelihatannya sudah tidak terawat lagi.

Bangunan tua itu cukup besar dan luas. Ada beberapa buah kamar yang lengkap dengan perabotannya, meskipun semua perabot itu merupakan barang barang tua yang tidak ada harganya.

Ang Sin Tiu ajak tamunya memasuki sebuah kamar, dimana kemudian dia mengobati dan membalut luka  dibagian  paha laki laki bekas orang hukuman itu, sambil dia berkata :

“Sam ceecu, luka ini cukup parah meskipun  tak terlalu dalam "

'Tidak apa apa, sebaiknya kau ceritakan tentang kalian. ”

sahut laki laki bekas orang hukuman itu.

Ang Sin Tiu ikut mengawasi tamunya. Matanya berlinang basah dengan air mata, meskipun sebenarnya dia merupakan seorang laki laki yang keras hati. 'Sam ceecu, orang orang mengatakan kau justeru sudah mati ..."

Sejenak laki laki bekas orang hukuman itu terdiam tidak mengucap apa apa, selagi sepasang matanya bersinar hampa mengawasi Ang Sin Tiu; dan sepasang mata itu kemudian berobah kelihatan seperti bersinar menyala menyimpan dendam yang begitu membara. Suaranya ikut berobah serak parau ketika dia bicara :

"Orang orang siapa maksud kau . . .?” demikian tanya laki laki bekas orang hukuman itu, tetap sambil  dia  mengawasi Ang Sin Tiu.

Tak kuasa Ang Sin Tiu mengadu-pandang dengan laki laki yang dia kenal sebagai pemimpin ketiga itu.  Dia  menunduk dan menarik napas panjang, sebelum dia memberi jawaban.

"Dulu, selagi Thio cuncu masih menjadi ketua didesa ini; kami pernah kedatangan beberapa rekan dari kalangan rimba persilatan. Dan mereka mengatakan, bahwa kau kena ditangkap oleh pihak perintah penjajah, dan sudah dihukum mati. ... . " demikian akhirnya Ang Sin Tiu dengan suara yang terdengar perlahan.

"Hm! jadi hal penangkapan atas diriku sudah diketahui oleh orang banyak.. .?' laki-laki bekas orang hukuman itu berkata bagaikan pada dirinya sendiri, namun nada suaranya itu jelas terdengar menyimpan nada dendam.

'Apakah sam ceecu berhasil me larikan diri ..?" tanya Ang Sin Tiu yang mengangkat mukanya buat mengawasi laki laki bekas orang hukuman itu.

Sepasang sinar mata laki laki bekas orang hukuman itu kian menyala. Jelas kelihatan dia  merasa tidak puas dengan pertanyaan Ang Sin Tiu, namun dia berkata: ''Setiap hari aku memakai belenggu rantai besi di kaki, dan melakukan kerja paksa; akan tetapi sebaiknya jangan kau menanya lagi.. ."

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak meneruskan perkataannya. dia perlihatkan lagak tidak senang untuk pembicaraan perihal penderitaannya itu.

Seseorang kemudian memasuki kamar itu  dan  seseorang itu justeru adalah orang yang memakai pakaian serba hitam tadi namun sekarang dia sudah melepas kain penutup muka dan penutup kepalanya sehingga jelas kelihatan bahwa dia adalah seorang dara yang bermuka cantik serta berambut panjang sebatas punggung.

"Sam ceecu ini adalah Lianhua, puteri tunggal Thio cuncu.” Ang Sin Tiu memperkenalkan dara cantik itu kepada laki laki bekas orang hukuman itu yang masih tetap dia  anggap sebagai pemimpin ketiga dari persekutuan "naga hijau" atau ceng liong pang.

Thio Lian hua yang masih berpakaian serba hitam itu mendekati dan memberi hormat sedangkan laki laki bekas orang hukuman ini jadi termenung memikirkan bahwa sudah terlalu lama harus menyimpan diri di dalam rumah penjara, sehingga sekarang dia berhadapan dengan seorang dara anak sahabatnya yang dahulu tentunya belum dilahirkan. Se- andainya pada waktu itu dia tidak kena difitnah  oleh seseorang, mungkin dia  juga telah menikah dengan dara tambatan hatinya, dan mempunyai seorang anak perempuan yang secantik Thio Lian hua !

Sementara itu Ang Sin Tiu meneruskan bicara  selagi  laki laki bekas orang hukuman itu masih terbenam dalam lamunannya :

"Sam ceecu, negara kita sekarang sudah merdeka, akan tetapi kita memiliki seorang raja yang lalim. Cu Juan tsyang ternyata menyimpan dendam dan menganggap Thio Su Seng sebagai saingan bahkan mencurigai bahwa orang orang yang pernah mendukung gerakan Thio Su Seng akan bangkit lagi dan menentang pemerintahannya. "

Ang Sin Tiu menghentikan perkataannya, dan mengajak tamunya minum, yang baru saja diantar oleh seorang laki laki, setelah itu Ang Sin Tiu menyambung pembicaraannya.

“..., raja yang lalim itu mengeluarkan perintah menangkap dan menghukum mati semua orang orang yang pernah membantu atau mendukung gerakan Thio Su Seng, dan Thio cuncu tewas karena adanya seseorang yang melaporkan, mengatakan Thio cuncu sanak terdekat dari Thio Su Seng dan yang ikut mendukung atau membantu- -“

".. Thio cuncu ditangkap oleh serombongan tentara yang sengaja didatangkan dari kota Lu liang thang, dan Thio cuncu tewas ditangan seorang yang berpakaian seragam serba hijau, lengkap dengan kain se lubung penutup kepala dan  muka, yang juga berwarna hijau "

"Tay lwee sip sam ciu ..." gumam laki laki bekas orang hukuman itu, sehingga dia memutus perkataannya  Ang  Sin Tiu.

"Ya, benar Tay lwee sip sam ciu yang ke 8 sesuai dengan nomor dalam lingkaran gambar seekor naga pada bagian dada sebelah diri.. . . ” sahut Ang Sin Tiu yang lalu meneruskan perkataannya :

"... Saat itu aku sedang ditugaskan mengantarkan Lian hua yang ziarah ke makam almarhum ibunya, dan kami terpaksa harus menyelamatkan diri sesuai dengan saran saran sebagian penduduk desa ini yang tetap setia dengan Thio cuncu ”

" ,.. kami umpatkan diri sampai kemudian kami mengetahui bahwa orang yang melaporkan kepada pihak  pemerintah adalah Ma Kok Sun, dan Ma Kok Sun ini yang sekarang justru diangkat menjadi kepala desa Ang sie cung oleh pihak pejabat pemerintah kota Lu liang thang - - - "... Lian hua bertekad hendak membalas dendam terhadap Ma Kok Sun, dan kami mendukung sepenuhnya.  Akan tetapi Ma Kok Sun memiliki banyak orang-orang  yang sengaja dibayar buat melindungi  dia, ditambah dengan sebagian penduduk desa yang memihak dia sehingga beberapa kali kami harus bertempur, dan niat membalas dendam belum berhasil kami laksanakan . . .

"... kami umpatkan diri dan menyusun kekuatan ditempat ini, sebaliknya Ma Kok Sun juga memperkuat diri dengan mengundang banyak jago jago kaum rimba persilatan  yang mau menerima bayaran, sehingga set iap hari berdatangan orang orang yang memasuki desa ini. . .

”Aku sengaja menyamar menjual nasi dekat perbatasan desa. Aku selalu menggunakan bubuk racun terhadap mereka yang aku curigai akan membantu Ma Kok Sun  andaikata mereka singgah dan makan ditempatku. Akan tetapi petang tadi aku menjadi terkejut waktu melibat kedatangan sam ceecu. Aku agak ragu ragu sehingga aku tidak perkenalkan diriku, dan aku bertanya pada diriku sendiri, apakah mungkin sam ceecu masih hidup...?

”.. kemudian aku cepat cepat berkemas dan menemui Lian hua, sampai kemudian Lian hua  mendatangi tempat sam ceecu menginap; namun kami yang ikut mengawasi kepergian Lian hua, telah berpapasan dan bertempur dengan orang orangnya Ma Kok Sun.”

Bertepatan dengan Ang Sin Tiu  menyudahi perkataannya itu maka terdengar suara ribut ribut dibagian luar dari  bangunan tua itu dan seseorang kemudian memasuki kamar dengan tergesa gesa membawa laporan  bahwa  tempat mereka telah diserbu oleh banyak orang orang dari Ma Kok Sun.

"Hai ! Rupanya mereka sudah mengetahui tempat kita, dan kita harus melakukan pertempuran yang menentukan ..." kata Ang Sin Tiu yang tetap bersikap tenang, lalu dia mengawasi luka pada kaki tamunya dan dia berkata lagi : "... sam ceecu, luka pada ,.."

”Tidak apa apa.. „ " sahut lelaki bekas orang hukuman itu yang memutus perkataan Ang Sin  Tiu, dan dia  bahkan mendahulukan bangun dari tempat duduknya, untuk kemudian dia ikut keluar.

Pertempuran diluar bangunan tua itu sudah terjadi secara kacau, dan diantara suara yang ribut ribut itu terdengar teriak suara seseorang yang memberikan perintah membakar bangunan tua itu.

Thio Lian hua menjadi geram waktu mengetahui orang yang memberikan perintah itu justeru adalah Ma Kok Sun.

"Itulah Ma Kok Sun  :...  ." teriak dara yang masih berpakaian serba hitam itu; sambil dia lari mendekati buat menyerang Ma Kok Sun.

Ang Sin Tiu hendak mengikuti Thio Lian hua,  akan tetapi  dia dihadang oleh beberapa orang musuh yang langsung mengepung dia.

Laki laki bekas orang hukuman itu juga dihadang oleh gerombolan musuh yang ternyata telah datang dalam jum lah yang banyak sekali.

Luka pada pahanya sudah dibalut rapih  dan sudah mendapat pengobatan akan tetapi mau tak mau gerak kelincahannya menjadi berkurang, dan laki laki bekas orang hukuman itu lalu mengerahkan tenaganya yang dia saIurkan pada sepasang tangannya, sehingga dalam sekejap dia berhasil menghajar empat orang musuh yang langsung tewas dengan mulut mereka mengeluarkan darah segar.

Dua orang laki laki pendatang baru yang magrib tadi ikut singgah dan makan ditempat Ang Sin Tiu; menjadi geram waktu menyaksikan kegagahan laki laki bekas orang hukuman itu. Mereka berdua sama sama menggunakan senjata senjata golok, dan serentak mereka menyerang memakai gerak tipu 'sepasang naga merebut mutiara'.

"Bagus '..! !" seru laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara mengejek. Sikapnya  kelihatan  tenang  dan bergerak menyisi dari sebatang golok yang mengarah bagian sebelah kiri iganya sementara telapak tangan kirinya mencari sasaran pada lengan musuh yang seorang lagi.

Musuh yang diserang lengannya itu menjadi  sangat terkejut. Dia cukup lama menjadi jago menjelajah di kalangan rimba persilatan. dari itu gerakannya cepat   dan  tangkas, waktu dia membatalkan serangannya yang sekaligus untuk menghindar pukulan yang mengarah bagian lengannya.

Akan tetapi, gerak musuh itu agaknya sudah menjadi perhitungan lelaki bekas orang hukuman itu, sebab telapak tangan kirinya menyambar terus dengan ganti arah dan gerak, sehingga tahu tahu tangan kiri lawan yang sekarang kena dia pegang dan tarik secara tiba tiba, mengakibatkan  lelaki bersenjata golok itu terjerumus maju ke sebelah depan, lalu sebelah kepalan tangan kanan lelaki bekas orang hukuman itu menghajar bagian dada, bagaikan pukulan sebuah  palu godam;

Jelas bahwa lelaki bekas orang hukuman itu telah bergerak menggunakan jurus "macan" (houw-kun) dan jurus "ular" (coa-kun), ilmu pukulan yang khas dari Siao lim. Dia bergerak sangat tangkas dan cermat, mengakibatkan lawannya tak kuasa menolong diri dan rubuh tewas dengan mulut mengeluarkan darah segar !

Lawan yang seorang lagi kelihatan sangat cemas, namun  dia yakin tak boleh berdiam diri; dari itu dia mendahulukan menyerang, membacok dengan gerak tipu 'tay san ap teng, atau gunung tay san menindih.

Laki laki bekas orang hukuman itu tertawa mengejek, dan menghilang dari hadapan musuh yang membacok; kemudian dari bagian s isi kiri, sebelah tangan kanannya menyerang jidat musuh itu dengan gerak 'Ho kun'  atau kuntao bango; mengakibatkan jari jari tangannya penuh berlumuran darah, karena jidat musuhnya itu menjadi bolong dan tewas seketika.

Segera terdengar pekik suara bagaikan aum seekor harimau jantan, oleh karena laki laki bekas orang hukuman itu telah dikurung oleh belasan musuh yang hendak membinasakan dia.

('ternyata dia masih seperti dulu....') kata Ang Sin  Tiu didalam hati; sebab dia teringat dengan kebiasaan sam ceecu atau panglima ketiga dari Ceng liong pang  yang  terkenal gagah perkasa itu.

Ang Sin Tiu yang bertempur memakai senjata sebatang golok; kelihatan sangat mementingkan keselamatan  nyawa  Thio Lian hua, yang pada saat itu sedang bertempur melawan Ma Kok Sun serta dua orang pembantunya.  Hasrat  hatinya Ang Sin Tiu hendak mendekati dan memberikan bantuan bagi Thio Lian hua akan tetapi dia dihadang dan tidak mudah buat dia menerobos musuh yang bahkan segera mengepung dia.

Waktu mendengar pekik suara laki laki  bekas orang hukuman itu dan mengetahui bahwa Sam ceecu itu sudah berhasil membinasakan dua lawannya yang terkenal sebagai kawanan maka semangat Ang Sin Tiu bangkit dan goloknya berhasil me lukai sa lah seorang pengepungnya, sehingga selanjutnya dia harus menghadapi sisa 3 orang lawan.

Di pihak Thio Lian hua, dia sedang menghadapi lawan yang bukan sembarangan lawan. Ma Kok Sun adalah musuh yang telah mengakibatkan ayahnya itu menjadi binasa.

Dia harus membalas dendam namun Ma Kok Sun  mahir  ilmu silatnya, dan dua orang pembantunya juga merupakan jago jago kawakan yang terkenal kejam dan ganas.

Seorang musuh hampir berhasil mengkait kaki Thio Lian  hua memakai senjata kaitan baja. Dara ini melompat tinggi sambil ia melepas sebatarg pisau belati yang mengarah musuh yang bersenjata sepasang kait baja itu, namun pisaunya kena disampok tidak berhasil mencapai sasaran.

Seorang musuh lain menyapu tubuh Thio lian hua memakai senjata golok, akan tetapi dara yang masih berpakaian serba hitam itu, sempat menendang lengan musuh yang memegang golok itu selagi tubuhnya meluncur turun.

Thio Lian hua  bernapas lega, karena keadaannya  tadi sangat gawat. Akan tetapi, bertepatan pada saat itu juga, Ma Kok Sun membarengi menyerang memakai senjata pian koan pit yang semacam alat tulis cina.

Ma Kok Sun menverang bagaikan membokong. Dia menikam dari bagian belakang Thio Lian hua,  namun  dara yang berpakaian serba hitam itu cukup tangkas buat memutar tubuh sambil menangkis memakai pisau  belati  ditangan kirinya, sementara belati ditangan kanannya terbang meluncur kearah Ma Kok Sun.

Ma Kok Sun tidak menduga dengan gerak yang tangkas  dan cepat dari lawannya itu. Belati yang terbang meluncur dengan cepat sudah membenam dibagian dadanya,  akan tetapi sempat dia lompat mundur dan tempatnya diganti oleh dua orang pembantunya yang baru datang, buat merintangi serangan susulan dari Thio Lian hua.

Dara berpakaian serba hitam itu  kemudian  harus mengamuk didalam kepungan enam orang laki laki, atas perintahnya Ma Kok Sun yang menjadi naik pitam karena kena dilukai tadi.

Sekali lagi terdengar pekik suara mengerikan bagaikan aum seekor harimau yang sedang marah, disusul dengan melayangnya tubuh beberapa orang yang kena  dilontarkan oleh lelaki bekas orang hukuman itu, yang mengamuk dan berhasil mendekati Thio Lian hua yang sedang dikepung. Pihak musuhdw menjadi sangat gentar melihat kegagahan lelaki yang mereka takz kenal itu, dan Thio Lian  hua menggunakan kesempatan itu buat dia mendekati Ma  Kok  Sun.

Ma Kok Sun kehilangan orang-orangnya yang pada melarikan diri karena ketakutan, waktu melihat Thio Lian hua datang mendekati, dan Ma Kok Sun juga bergegas hendak menyingkir melarikan diri. Dara berpakaian serba hitam itu melontarkan sebatang pisau belati, yang tepat membenam dibagian lutut sebelah kiri dari Ma Kok Sun; dan waktu sekali lagi tangan kiri Thio Lian hua bergerak, maka lutut sebelah kanan yang menjadi sasaran pisau belati itu.

Ma Kok Sun terjatuh bagaikan orang yang berlutut memohon keampunan, akan tetapi dua batang lagi  pisau belati melayang dan membenam pada sepasang telapak tangannya, bahkan menembus langsung sampai bagian dada.

Ma kok Sun  perdengarkan pekik teriak yang sangat mengerikan, namun tak sampai lama dia  harus  menderita; oleh karena Ang Sin Tiu te lah menikam dia memakai goloknya sehingga tewas lah Ma Kok Sun itu.

)o(dwkz)( X)(hen)o(

DARA YANG berpakaian serba hitam  itu  menangis   lupa malu setelah dia berhasil membalas dendam ayahnya, setelah itu dia berIutut mengucap terima kasih kepada  laki-laki yang dia sebut sebagai ”Sam ceecu' ; sementara laki laki bekas orang hukuman itu repot membangunkan.

Dalam.percakapan selanjutnya yang terjadi didalam bangunan tua itu, maka laki-laki bekas orang hukuman itu menganggap bahwa Thio Lian hua  dan  rekan  seperjalanan Ang Sin Tiu tidak akan bebas dari kejaran pihak alat negara; terlebih dari Tay lwee sip sam ciu yang terkenal ganas dan tinggi ilmunya, Oleh  karena itu dia  menyarankan agar sebaiknya Ang Sin  Tiu berdua Thio Lian  hua  bergabung dengan si jeriji sakti Phang Bun Liong yang menjadi Hek liong pangcu.

“Hek liong pang? bukankah sudah lama persekutuan itu dibubarkan.. .?" tanya Ang Sin Tiu yang banyak mengetahui perihal perkembangan didalam kalangan rimba persilatan.

Sejenak laki laki bekas orang hukuman itu menjadi terdiam mengawasi Ang Sin Tiu namun akhirnya dia berkata :

“Aku tidak tahu, akan tetapi aku baru saja bertemu dengan Ang ie liehiap Lee Su Nio yang mengatakan  hendak mendatangi It ci sian Phang Bun Liong diteluk Hek liu ouw..."

Nama Ang ie liehiap Lee Su Nio cukup dikenal oleh Ang Sin Tiu, juga oleh Thio Lian hua  itu.  Kedua  duanya  percaya bahwa s i jeriji Sakti Phang Bun Liong masih menjadi penghuni teluk Hek liu ouw, meskipun persekutuan  Hek  liong  pang sudah dibubarkan.

"Baik Kami akan mengikuti saran sam-ceecu buat  berlindung ditempat Phang lo-cianpwee,  akan tetapi sam ceecu sendiri hendak kemana .,,,?” akhirnya tanya  Ang  Sin Tiu.

Laki laki bekas orang hukuman itu diam seperti termenung tidak segera memberikan jawaban, sampai sesaat  lamanya baru dia berkata :.

"Aku bermaksud mendaki gunung Ceng-liong san..,  ,” "Ceng liong pang sekarang hanya dipimpin oleh Yang toako

,.. " Ang Sin Tiu memberikan keterangan.

"Yang toako kau maksud Yang Cong Loei si 'tangan beracun’,..,?" tanya laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara yang terdengar gemetar, dan sepasang matanya bersinar aneh. Sementara itu terdengar Ang Sin Tiu memberikan jawabannya. ''Benar. Sejak kemerdekaan negeri kita tercapai dan Ca Juan Tsyang menjadi Beng-tay couw, maka pangcu  ikut mendampingi menjadi penghuni istana kerajaan, sedangkan toa ceecu dan jie ceecu ikut  mengundurkan diri  dari Ceng liong pang; namun mereka tidak  ikut  mengabdi pada Beng tay couw, hanya entah dimana gerangan mereka berdua sekarang menetap - -”

Ang Sin Tiu mengucapkan kata-katanya yang sebenarnya merupakan keterangan yang sangat penting artinya bagi lelaki bekas orang hukuman itu akan tetapi pada waktu  itu kelihatannya dia bagaikan tidak mendengarkan  oleh  karena dia justru termenung bagaikan orang yang kehilangan sukma dan pada sinar matanya menyala bagaikan sinar mata seekor harimau jantan yang menyimpan dendam.

"Yang Cong Loei - - " gumam lelaki bekas orang hukuman itu, perlahan suaranya akan tetapi cukup didengar oleh Ang  Sin Tiu berdua Thio Lian hua.

"Sam ceecu, kau kenapa.. ?" tanya Ang Sin Tiu waktu Thio Lian Hua memberikan tanda.

Laki-laki bekas orang hukuman itu bagaikan  tersentak waktu dia mendengar pertanyaan Ang Sin tiu,

”Akh, tidak ..." sahut dia perlahan; lalu dia menambahkan perkataannya :

"... hari sudah mendekati pagi sebaiknya aku pergi sekarang. Dan kalian juga sebaiknya berkemas buat meninggalkan desa ini.,."

Ang Sin Tiu hendak mencegah, akan tetapi dia tidak berhasil, dari itu sekali lagi dia dan Thio  Lian  Hua mengucapkan terima kasih. Laki laki bekas orang hukuman itu kemudian balik ke tempat penginapan, buat dia mengambil bungkusan pakaiannya yang sebenarnya tidak ada harganya.

Orang orang di rumah penginapan sudah banyak yang terbangun dari tidur mereka, sebab mereka mengetahui perihal terjadinya pertempuran yang mengakibatkan tewasnya Ma Kok Sun, mereka mengawasi lelaki bekas  orang hukuman itu dengan muka ketakutan, akan tetapi lelaki  itu tenang tenang saja memasuki kamarnya, lalu keluar lagi untuk langsung meninggalkan desa Ang sie cung.

Sekali lagi langkah kakinya yang kokoh  kuat  menyusuri jalan yang menuju kearah gunung Ceng liong san,  dan langkah kakinya itu bagaikan dia ingin cepat cepat mencapai tempat tujuan.

Lelaki bekas orang hukuman itu bahkan terus melakukan perjalanannya, baik pada waktu siang maupun pada waktu malam hari, dia hanya sejenak beristirahat pada waktu makan atau tidur kalau dia merasa sudah sangat mengantuk sehingga pada waktu lohor dia memasuki dusun Yo kee po, dan teringat dengan kenalannya yang bernama Yo Hok Sin.

Saat itu bekal uangnya sudah habis, hingga laki laki bekas orang hukuman itu bermaksud hendak meminjam sedikit uang kepada kenalannya itu, Sebab dia belum makan siang sedangkan perjalanan masih jauh dari tempat tujuan.

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, di dusun Yo kee po katanya Yo Hok Sin membuka rumah perguruan ilmu silat sehingga laki laki bekas orang hukuman itu merasa yakin bahwa tidak akan sukar buat dia mencari rumah  kenalannya itu, akan tetapi waktu dia menanyakan kepada seorang orang yang dia temui, maka orang itu balik mengawasi dia dengan perlihatkan muka ketakutan.

'Kau hendak mencari Yo Hok Sin ,...?” demikian orang itu balik menanya dengan suara gemetar. 'Benar, kata dia membuka rumah perguruan  ilmu silat didusun ini..,”  sahut laki laki  bekas orang hukuman itu, sedangkan didalam hati dia merasa heran berbareng merasa curiga.

Orang itu manggut manggut akan tetapi sepasang matanya melirik kearah sekitar tempat itu, seperti dia sedang meneliti, dan suaranya perlahan waktu dia berkata lagi.

"Akan tetapi Yo Hok Sin sekarang sudah binasa, rumahnya sudah dikuasa i oleh orang lain. ..”

"Maksud kau, keluarganya sudah pindah ke lain tempat.

..?" tanya laki laki bekas orang hukuman itu; sedangkan didalam hati dia merasa menyesal, bahwa orang yang hendak dia temui buat dipinjam uangnya, ternyata sudah binasa.

Orang yang diajak bicara tidak segera memberikan jawaban. Sepasang matanya melirik kesuatu arah, lalu pada wajah mukanya kelihatan dia semakin menjadi ketakutan; lalu dia berkata terburu buru:

”Tak tahu, kau tanyakan saja kepada lain orang. . .”

Sehabis berkata begitu, maka orang itu buru buru pergi meninggalkan laki laki bekas orang hukuman itu, sehingga laki laki bekas orang hukuman itu menjadi bertambah heran dan curiga, lalu dia memerlukan melihat ke arah orang tadi melirik.

Disudut jalan dekat orang orang yang sedang berdagang memakai meja dan keranjang buah laki laki bekas orang hukuman itu melihat adanya dua orang pemuda yang sedang mengawasi dia dengan perlihatkan lagak girang dan sikap mengejek.

Dua orang pemuda yang sedang mengawasi itu adalah orang orang yang berpakaian sebagai layaknya orang orang yang mengerti ilmu silat. Kedua duanya memiliki tubuh yang kuat serta dengan otot otot yang terlatih. Setelah sejenak berdiri diam maka laki laki bekas orang hukuman itu lalu meneruskan lagi langkah kakinya, melewati tempat kedua pemuda yang sejak tadi mengawasi dia dengan perlihatkan sikap garang dan lagak menghina.

Didalam hati laki laki bekas orang hukuman  itu  merasa yakin bahwa kedua orang pemuda itu akan merintangi  dia akan tetapi kenyataan kedua pemuda itu membiarkan  dia lewat; sampai kemudian dia menyusuri keramaian penduduk desa itu, dan ia langsung me langkah sampai dia memasuki suatu jalan yang sunyi dimana mendadak dia berhenti karena adanya suara seseorang wanita yang menyapa dia :

'Toaya, tunggu !"

Laki laki bekas orang hukuman itu memutar tubuhnya, dan melihat orang yang menyapa itu adalah seorang perempuan muda, berpakaian sederhana seperti layaknya seorang gadis desa, namun wajah muka perempuan itu cukup cantik dan ramping bentuk tubuhnya.

Gadis desa itu menunduk malu waktu dia sudah berdiri berhadapan dengan laki laki bekas orang hukuman itu, yang sedang mengawasi dan merasa heran. Dengan memaksa diri. gadis desa itu kemudian menanya:

"Toa-ya aku dengar tadi kau menanyakan keterangan perihal Yo suhu "

“Yo Hok Sin maksud kau ... ?” Gadis desa itu manggut membenarkan dan berkata lagi ;

"Apakah toa ya bernama Yo Hok San, pamannya Yo kouwnio . . ?"

'Bukan . . .” sahut lelaki bekas orang hukuman  itu  sambil dia menggoyangkan kepalanya.

'Oh ! maafkan sebab aku salah duga . . " gadis desa itu berkata lagi, sementara mukanya perlihatkan rasa meayesal bercampur duka, lalu dia bergegas hendak pergi meninggakan lelaki bekas orang hukuman itu,

'Tunggu . . !'“ kata lelaki bekas orang hukuman itu.

Sejak semula lelaki bekas orang hukuman itu  memang sudah merasa curiga, kalau kalau telah terjadi sesuatu terhadap Yo Hok Sin dan keluarganya, dari itu ingin benar dia memperoleh keterangan pada kesempatan dia bertemu dengan gadis desa itu.

“kau jangan takut . " kata lelaki bekas orang hukuman itu dengan suara yang terdengar ramah, sebab melihat seorang gadis desa itu gemetar ketakutan, waktu mendengar kata kata 'tunggu” tadi sementara laki laki bekas orang hukuman itu meneruskan perkataannya :

"... aku adalan sahabatnya Yo suhu, dapat kau anggap aku sebagai pamanya Yo kouwnio. Nah sekarang kau antar aku menemui Yo kouwnio,..,”

Gadis desa itu masih memperlihatkan rasa takut, dia mengawasi dengan s inar mata curiga, sehingga laki laki bekas orang hukuman itu harus perlihatkan senyum ramah, untuk yang pertama kalinya dia lakukan sejak dia lepas dari rumah penjara, senyum yang diperlihatkan oleh laki laki bekas orang hukuman itu ternyata berhasil mengurangi rasa takutnya gadis desa itu yang kemudian manggut dan mengantarkan untuk menemui Yo kouwnio atau nona Yo yang ternyata sedang umpatkan diri disuatu kuil tua yang letaknya ditempat belukar, sebelah utara dusun Yo kee po.

Waktu keduanya sudah mendekati letak bangunan kuil tua itu, maka terdengar oleh mereka adanya suara orang-orang yang sedang bertempur memakai senjata tajam, yang tentunya sedang terjadi didalam ruangan kuil tua itu.

“Hayaaa ! rupanya mereka sudah mengetahui tempat Yo kouwnio umpatkan diri . .! " gadis desa itu berkata dan cepat cepat dia lari memasuki kuil tua itu. Lelaki bekas orang hukuman itu bergerak cepat mendampingi gadis desa itu, dan sempat menarik memakai sebelah tangannya, waktu sebatang tombak datang menyambar, selagi mereka baru saja memasuki pintu halaman kuil tua.

Tombak itu nyaris mencapai sasaran, dan didalam halaman kuil itu terdapat 4 orang pemuda bersenjata, yang sekarang bersikap mengurung kedua orang yang baru datang itu.

Seorang pemuda yang tadi menikam memakai tombak, mengawasi dengan sikap mengejek, karena melihat lelaki bekas orang hukuman itu tak membekal senjata. Pemuda itu lalu berteriak, dan sekali lagi dia menikam memakai tombaknya, dan sekali ini ditujukan kepada laki laki yang tidak dikenalnya itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu bersikap   tenang, Sebelah tangannya tetap memegang lengan kanan gadis desa yang berdiri ketakutan disisinya.

Hanya sedikit tubuh laki laki bekas orang hukuman itu bergerak miring waktu ujung tombak datang menikam, lalu dengan sebelah tangan kanannya, dia meraih datang tombak dan secepat itu juga dia  menarik  membikin si pemilik terperosok mendekati lalu sebuah tendangan mengakibatkan pemuda itu terlempar balik  dengan mulut mengeluarkan darah!

Sebatang tombak yang sekarang berada di tangan laki laki bekas orang hukuman itu.dan dia lontarkan disaat seorang pemuda bersenjata golok sedang lompat menerkam hendak menyerang.

Tubuh pemuda bersenjata golok itu tak berhasil mendekati sebab tombak itu telah membenam diperutnya, pemuda itu rubuh tewas seketika!

Dua orang pemuda lainnya yang menyaksikan kejadian itu, berteriak ketakutan dan lari memasuki ruangan dalam kuil. dimana seorang dara perkasa berbaju hijau sedang dikepung dan berada dalam keadaan yang sangat  membahayakan nyawanya.

Segera terdengar pekik suara bagaikan aum seekor harimau jantan yang sedang marah; dan laki laki bekas orang hukuman itu mulai mengamuk memakai sebelah tangan kanannya, sebab tangan kirinya masih tetap dia gunakan buat memegang lengan kanan gadis desa yang perlu dia lindungi.

Sebatang golok datang manyambar, akan tetapi tangkas dan cepat golok itu berhasil dikebut; sedangkan sipemilik kena ditendang tewas seperti pemuda yang bersenjata tombak tadi. Lalu dengan golok rampasan itu dia mengamuk dan dalam sekejab dia berhasil me lukai  empat orang lawan yang mendekati.

Mungkin karena tenaganya yang besar, atau  mungkin karena golok itu terlalu sering dia  pakai buat menangkis berbagai macam senjata; maka disuatu saat selagi golok itu terbentur dengan golok seorang musuh, maka goloknya putus menjadi dua dan laki laki bekas orang hukuman itu hampir terkena tabasan golok lawannya andaikata  dia   tidak  lekas lekas m iringkan tubuhnya, sambil dia membenamkan sisa goloknya ditubuh lawannya, sehingga lawan itu tewas seketika dan golok lawan itu direbutnya, sebagai ganti golok  yang patah dua tadi. Dara perkasa berbaju hijau atau Yo kouwnio yang sedang dikepung oleh serombongan musuhnya, menjadi bangkit semangat perlawanannya waktu melihat datangnya seseorang yang membantu dia meskipun  orang itu tidak dikenalnya.

Pedang dara perkasa berbaju hijau itu bergerak tambah lincah mencari sasaran pada musuh, sedangkan pihak musuh menjadi gentar, sebab melihat beberapa orang rekan-rekan mereka sudah tewas menjadi mayat.

Secara serentak pihak musuh itu lalu bergerak hendak melarikan diri akan tetapi tidak mudah mereka lakukan niat mereka, akan tetapi Yo Kouwnio tak mungkin mau sembarang melepas musuhnya, dan dalam hal ini dia dibantu oleh laki laki bekas orang hukuman itu sehingga akhirnya hanya sisa beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri.

Didusun Yo kee po; untuk waktu yang cukup lama Yo Hok Sin mengusahakan rumah perguruan ilmu s ilat yang khas dari keluarga Yo. Murid muridnya cukup banyak, disamping dia mendidik ketiga orang anaknya yakni Yo Bun Siang, Yo Bun Lian dan Yo Bun Seng. Yang pertama dan Ketiga adalah laki laki, sedangkan yang kedua adalah perempuan.

Disaat sedang memuncaknya kancah perjuangan  rakyat yang menentang pemerintah penjajah, dusun Yo kee po banyak berkurang penduduknya. Kemudian waktu kemerdekaan telah dicapai, maka dusun Yo kee po bertambah lagi penduduknya dengan para pendatang baru, antara lain terdapat seorang hartawan bernama Lim Toan Ceng, yang ternyata banyak memiliki kawan kawan orang orang rimba persilatan, termasuk kaum pelarian dari  persekutuan  Thian tok bun yang terpencar berantakan setelah markas mereka dibasmi.

Kawan kawan Lim Toan Ceng yang sering berdatangan didusun Yo kee po, kemudian mengetahui bahwa Yo Hok Sin pernah menjadi pendukung gerakan Thio Su Seng, serta bersahabat erat dengan Kanglam hiap  Ong Tiong Kun. seorang tokoh kenamaan yang menjadi  musuh  bebuyutan bagi orang orang Thian tok bun, bahkan sejak persekutuan itu memakai nama Han bie kauw.

Sisa gerombolan  Thian tok bun  itu kemudian  berhasil menghasut Lim Toan Ceng. Mereka kemudian membentuk perkumpulan Cung lien hui, persatuan kaum pemuda yang mendukung pemerintah kerajaan Beng, sehingga  didalam waktu yang singkat  para pemuda setempat banyak yang mendaftarkan diri menjadi anggota, tidak terkecuali para pemuda yang semula belajar ilmu silat pada Yo Hok Sin. Pihak Yo Hok Sin menjadi tidak puas karena banyak murid muridnya yang pindah menjadi anggota Cung lien  hui, sedangkan para pendiri dari perkumpulan itu justeru sedang  dia curigai sebagai orang orang dari golongan yang sesat.

Telah beberapa kali terjadi bentrokan senjata antara pihak Yo Hok Sin dengan pihak Cung lien hui, dan  kenyataannya pihak Yo Hok Sin menjadi tidak berdaya, malahan pihak Yo Hok Sin kemudian dituduh sebagai orang orang yang menentang pihak pemerintah kerajaan Beng.

Murid muridnya Yo Hok Sin menjadi semakin berkurang, mereka takut bahwa setiap waktu mereka bakal ditangkap dan dihukum mati. disamping mereka selalu mendapat  ancaman dari pihak orang orang Cun lien hui.

Yo Hok Sin tidak dapat lagi menahan kesabarannya. Seorang diri dia mendatangi markas Cung lien hui hendak menemui Lim Toan Ceng, akan tetapi yang menyambut kedatangannya adalah Lim Biauw Kie, yang didampingi oleh beberapa orang pemuda yang menjadi anggota Cung lien hui ; serta beberapa orang laki-laki bermuka garang bekas gembong-gembong Thian tok bun.

Pada mulanya Yo Hok Sin tidak menduga, bahwa  ditempat itu dia  bakal berhadapan dengan orang orang bekas dari persekutuan Thian tok bun yang terkenal dengan ganas dan kejam, sedangkan orang yang bernama Lim Biauw Kie, mengaku sebagai saudara misan dari Lim Toan Ceng.

Lim Biauw Kie ini sebenarnya adalah muridnya Coa Hok Ciang; si orang hutan tangan panjang' yang pernah merajalela di kalangan rimba persilatan.

Dahulu pernah terjadi, Lim Bauw Kie datang  di kota  Gie lung an, hendak menemui seorang adik seperguruannya yang bernama Can Hok Ling; akan tetapi ternyata Lim Biauw datang terlambat, sebab Can Hok Ling sudah mati dibunuh oleh Liauw Cong In, setelah Can Hok Ling ditangkap oleh si pendekar tanpa bayangan Tan Sun Hian.,

Kemudian Lim Biauw Kie menemui Ouw lt  To yang  waktu itu telah menjadi kauwcu Thian tok bun cabang kota Gie lung an, dan Ouw It To lalu menganjurkan agar Lim Biauw Kie menghubungi Yo Jin Hce, ketua Thian Tok bun cabang Yo sin cung, untuk membantu usaha merampas kereta harta yang sedang diangkut oleh rombongannya Tiauw-Cong In dengan janji jika berhasil maka Lim Biauw Kie akan menerima upah yang besar.

Lim Biauw Kie dapat menyusul rombongan Coa Kie Hian yang sedang membawa 20 orang anggota Thian tok bun, dan atas sarannya Lim biauw Kie maka mereka merencanakan perampasan kiriman harta dengan menyamar  sebagai kawanan perampok.

Dengan memakai sarannya Lim Biauw Kie itu, mereka ternyata berhasil merampas kereta harta, akan tetapi pada pertempuran yang berikutnya Lim Biauw K ie kena ditikam oleh pedangnya Liong Cie In (yang kemudian menjadi biarawati muda dengan nama Cie in suthay), sehingga Lim Biauw Kie rubuh dengan perdengarkan pekik mengerikan, dan orang- orang menduga bahwa Lim Biauw Kie  telah binasa,  padahal dia hanya berpura pura dan berhasil menyelamatkan diri pada setelah pertempuran itu selesai.

Sementara itu, sia sia Yo Hok Sin  memaksa hendak  bertemu dengan Lim Toan Ceng, sampai akhirnya terjadi pertengkaran dan seorang diri Yo Hok Sin harus melakukan perlawanan terhadap beberapa orang  pemuda  yang diperintah menyerang dan mengepung.

Betapapun halnya, Yo Hok Sin adalah seorang tokoh kaum rimba persilatan yang dimalui, tidak sukar bagi dia untuk melukai beberapa orang pemuda yang mengepung itu sampai kemudian terdengar teriak suara seseorang yang memerintahkan sisa para pemuda itu mengundurkan diri. Suara seseorang itu amat keras  menyeramkan dan waktu Yo Hok Sin mengawasi dilihatnya orang itu memiliki wajah muka hitam memiara jenggot pendek yang  runcing  seperti duri landak, bertubuh penuh otot karena dia adalah Hek houw Thio Leng, si macan hitam bekas ketua Thian tok bun cabang kota Boe-ouw.

“Bagus! kau pelarian dari kota Boe-ouw juga berada di sini..,..!" kata Yo Hok Sin dengan nada suara mengejek.

'Hm! Yo Hok Sin sebaiknya kau jangan menjual lagak disini. Kau akan dihukum mati oleh pemerintah kita  kalau kau ditangkap seperti kawan kawan kau yang sudah menda- hulukan kau ..."

"Penghianat... . !' maki Yo Hok Sin yang sangat gusar, sampai tangannya kelihatan gemetar waktu dia menuding dan karena tak dapat membendung kemarahannya, maka dia langsung lompat menyerang, memakai kepalan tangan kanan dengan jurus 'dewa sakti menyerahkan buah butho'

Hek houw Thio Leng tertawa sambil dia lompat menyisi, berkelit dari serangan Yo Hok sin; untuk kemudian dia balas memukul mengarah bagian punggung lawan itu.

Yo Hok Sin mengangkat tangan kirinya yang dia   pakai untuk menangkis, kedua tangan mereka  saling membentur dengan keras; mengakibatkan Yo Hok Sin terjerumus ke sebelah depan dan Hek houw Thio Leng terdorong mundur beberapa langkah kebelakang.

"Bagus ,.,!” seru Hek houw Thio Leng dergan nada suara mengejek; meskipun di dalam hati dia terkejut karena tidak menduga lawan yang tubuhnya lebih kurus itu, ternyata memiliki tenaga yang besar. Dipihak Yo Hok Sin. dia memang sudah menduga akan tenaga besar dari si macan-hitam Thio Leng, akan tetapi dia berhati tabah dan tidak menghiraukan bahwa tangan kirinya terasa sakit akibat benturan tadi. Dia bersiap siaga, menambah tenaganya yang dia salurkan pada sepasang tangannya, lalu dia menyerang lagi dengan  gerak tipu 'petani membelah kayu '.

Hek houw Thio Leng sudah bersiap-siap dan dia hendak menangkis pukulan lawannya. Sengaja sekali lagi dia hendak mengadu tenaga, akan tetapi dia terkejut karena lawannya hanya menipu dia dengan serangannya tadi, sebab secara tiba-tiba sebelah kaki Yo Hok Sin yang justeru menendang, mengakibatkan Hek houw Thio leng rubuh terguling dan si macan hitam ini harus terus menggulingkan tubuhnya buat menghindar dari injakan kaki Yo Hok Sin yang berulang kali nyaris mencapai sasaran.

Hek hok Thio Leng kemudian tertolong dari ancaman maut, sebab dua oiang rekannya cepat cepat memasuki gelanggang pertempuran dan menyerang Yo Hok Sin secara silih berganti, sehingga pada detik detik berikutnya Yo Hok Sin  harus melawan tiga orang musuh yang bukan merupakan lawan lemah sebab ketiga tiganya merupakan tokoh tokoh bekas pimpinan persekutuan Thian tok bun, atau persekutuan penyebar racun maut, sebuah  perkumpulan  yang  didirikan oleh Han-bie kauwcu berdua Han-bie niocu  sehabis perkumpulan Han bie kauw diganyang berantakan.

Yo Hok Sin cukup tangguh menghadapi kepungan ketiga lawan yang kuat itu, akan tetapi tiba tiba lambat laun dia kehabisan tenaga, terlebih karena beberapa kali dia harus menerima pukulan dari Hek houw Thio Leng yang bertenaga besar, selagi dia tidak siaga sebab memperhatikan seorang lawan yang tangan kirinya memakai kaitan baja, sebagai ganti lima jari tangannya yang sudah putus.

Disuatu saat Yo Hok Sin tidak dapat menghindar dari serangan orang yang memakai kait baja itu. Lehernya kena kegaet robek dan mengeluarkan banyak darah. Dia belum berhasil membebaskan lehernya yang masih terkait, ketika sebelah kepalan Hek houw Thio Leng menghujam dibagian matanya yang sebelah kanan, sampai biji matanya keluar dan Yo Hok Sin meram menahan rasa sakit.

Suatu tendangan dari lawan yang ketiga, mengakibatkan tubuh Yo Hok Sin terlempar dan terguling dilantai; lalu sekali lagi dia kena diinjak oleh Hek houw Thio Leng yang bertenaga besar, sampai terdengar bunyi suara tulang tulang iganya yang patah, dan darah mengalir keluar dari mulut serta leher- nya yang bekas kena kait baja tadi.

Setelah membinasakan Yo Hok Sin maka Hek houw Thio Leng mengajak sekelompok rombongannya buat mendatangi rumah keluarga Yo dimana mereka mengepung  ketiga anaknya Yo Hok Sin, tanpa ada seorang murid  Yo Hok  Sin yang berani ikut bertempur, bahkan mereka melarikan diri kabur semuanya.

Dalam pertempuran yang kacau itu, si bungsu Yo Bun Seng tewas ditangan laki laki yang memakai kait  baja,  sedangkan Yo Bun Siang terluka parah namun sempat diajak lari oleh adiknya, Yo Bun Lian, sampai kemudian mereka umpatkan diri didalam kuil tua yang letaknya ditempat yang belukar.

Sampai berhari hari lamanya sepasang muda mudi itu umpatkan diri, dan segala  kebutuhan mereka  disediakan oleh si gadis desa Lie Sin Nio yang berhasil dihubungi oleh Yo Bun Lian.

Dahulu si gadis desa Lie Sin Nio bekerja sebagai pelayan pada keluarganya Yo. Dia berhenti karena ibunya sakit dan dia ternyata masih tetap setia terhadap bekas majikannya.

Kedusun Ang Sie cung ada adiknya Yo Hok Sin yang bernama Yo Hok San dan Yo Bun Lian lalu menulis surat buat minta pamannya itu datang untuk bersama sama melakukan balas dendam. Surat itu dibawa oleh kakaknya Lie Sin Nio, namun sang paman itu belum datang sampai Lie Sin Nio membawa seseorang yang tidak dikenal oleh Yo Bun Lian, tepat disaat kedua muda mudi itu dikepung oleh musuh dan dalam pertempuran itu Yo Bun Siang bahkan tewas meskipun pihak musuh akhirnya dapat dihalau.

"Laki laki yang memakai kait  baja, kau tahu siapa namanya.??" tanya laki laki bekas orang hukuman itu selagi Yo Bun Lian menceritakan kisahnya.

“Entah siapa namanya dia tidak ikut didalam  rombongan tadi. Dia kurus agak tinggi berkulit kuning pucat dan jalannya agak pincang kaki kirinya “,sahut Yo Bun Lian yang ternyata masih terus mengalirkan air mata, menangisi kakaknya yang sudah binasa.

“Hm ! ternyata dia masih mengganas.. “ Laki-laki bekas orang hukuman itu seperti menggerutu,

"Inkong kenal dia . . . ?" tanya Yo Bun Lian; dan sekilas dia menjadi curiga, khawatir kalau kalau orang yang telah membantu itu justru bersahabat dengan musuh yang memakai kait baja itu.

Laki-laki bekas orang hukuman itu manggut, akan tetapi pada mukanya dia tidak diperlihatkan perobahan apa apa, hanya sepasang matanya yang kelihatan bersinar seperti menyala, dan dia berkata :

“Namanya Cie Tong Hee. Dia memakai gelar si 'kait baja' dan kait baja itu memang tidak pernah lepas dari tangan kirinya, sebab dia memang sengaja menggantikan kelima jari tangannya dengan kait baja itu . . ."

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak meneruskan perkataannya, meskipun sebenarnya Yo Bun Lian sedang mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dengan membicarakan si kait baja Cie Tong Hee, laki laki bekas orang hukuman itu bagaikan teringat dengan pengalamannya tempo dulu, waktu seorang diri dia mendaki gunung Ho san, mengganyang kelompok  berandal yang dipimpin oleh si 'kait baja Cie Tong Hee serta kakaknya yang bernama Cie Tong Him, si beruang kepala putih. Kemudian dia pun menjadi teringat juga dengan nama gunung Hong san yang membikin dia  terbayang lagi dengan dara tambatan hatinya sehingga secara mendadak sinar matanya berubah menjadi hampa, meskipun pada mukanya dia t idak perlihatkan apa apa; dan dia bahkan bagaikan tidak sadar waktu dia mengucap kata kata dengai suara yang amat perlahan :

'Adik Hong; dimana kau kini berada . . ?” Sejak tadi Yo Bun Lian sedang mengawasi  laki  laki yang sedang duduk termenung dihadapannya itu, dara yang cantik dan  yang  sudah menjadi anak yatim ini masih menunggu laki laki itu bicara lagi tentang si kait baja Cie Tong Hee akan tetapi laki laki itu tetap duduk termenung bahkan ada butir butir air mata yang kemudian menetes membasahi mukanya, lalu sesaat kemudian laki laki  itu menyambung perkataannya tetap dengan suara yang terdengar perlahan, menandakan dia  sedang menyimpan suatu rasa duka :

"Maafkan aku, marilah kita datangi tempatnya Cung lien hui dan .”

"Aku kira tidak perlu kita datangi mereka sebab aku yakin mereka justeru akan datang mencari kita ,..' sahut Yo  Bun Lian dengan muka muram, mengingat mereka hanya berdua dan pihak musuh sangat banyak dan kuat;

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak memaksa dia bangun berdiri dan menemukan adanya makanan  yang sedang disediakan oleh Lie Sin Nio sehingga  sambil menantikan kedatangan dari rombongan pihak musuhnya, mereka bertiga lalu mengisi perut. Mereka baru saja selesai makan, ketika pihak musuh ternyata benar-benar sudah mendatangi dengan perdengarkan suara mereka yang ribut sudah terdengar sejak dari jauh!

Laki laki bekas orang hukuman itu mengajak Yo Bun Lian keluar buat menunggu musuh di halaman kuil dan memerintahkan Lie Sin Nio untuk tetap berada diruangan dalam.

Rombongan musuh yang datang terdiri dari belasan orang banyaknya, dipimpin oleh Hek houw Thio Leng bertiga dengan si kait baja Cie Tong Hee dan Lo Thong Sun.

Seorang pemuda yang tadi menjadi pecundang dan berhasil me larikan diri, memberitahukan Thio Leng dengan menunjuk kearah laki laki bekas orang hukuman itu.

Hek houw Thio Leng perdengarkan suara mengejek sambil dia melangkah tambah mendekati, diikuti oleh si 'kait baja' Cie Tong Hee dan Lo Teng Soen.

”Hm ! jagoan tengik pernah apa kau dengan  keluarga Yo…?" tegur si macan hitam Thio Leng dengan nada suara menghina.

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak menghiraukan teguran si macan hitam, sebaliknya pandangan matanya ditujukan kepada si 'kait baja Cie Tong Hee. sampai disuatu saat si 'kait baja' ikut mengawasi dan pandang mata mereka berdua saling bertemu.

Kelihatan ada sedikit perobahan pada mukanya yang pucat dari si 'kait baja'. Agaknya Cie Tong Hee merasa seperti pernah mengenal dengan laki laki bekas orang hukuman itu, namun entah dimana sudah dia lupa.

.'Cie Tong Hee. apakah benar benar kau sudan tidak kenal lagi dengan aku - -!" akhirnya kata laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara bengis.

Si 'kait baja”Cie Tong Hee tambah mengawasi dan tambah meneliti; “Hm ! segala gelandangan mengaku kenal aku . !” gumam Cie Tong Hee dengan suara mengejek.

“Akh ! Kau lupa atau tidak lupa aku tidak perduli. Dulu aku pernah berkata, kalau sekali lagi kita  bertemu, maka kaki kananmu akan kubikin pincang ..." "Kau . .I' akhirnya kata Cie Tong Hee sambil dia menuding dengan kedua jari tangan kanannya yang kelihatan gemetar, juga nada suaranya ikut gemetar juga; namun dia berusaha meneruskan berkata :

“Kau . . . bukankah kau sudah mati . . ?”

"Kalau aku sudah mati kau sekarang tentunya bertemu dengan hantuku . . . ." sahut laki laki bekas orang hukuman  itu, juga dengan nada suara yang mengejek.

Tidak pernah Cie Tong Hee bermimpi bahwa sesudah dua puluh tahun lamanya, hari itu dia akan bertemu lagi dengan sam ceecu dari Ceng liong pang yang gagah perkasa itu, yang sudah membinasakan kakaknya dan melukai kaki kirinya sehingga dia cacad menjadi pincang jalannya, padahal berita yang dia dengar dikatakan bahwa 'sam ceecu' itu sudah tewas didalam rumah penjara kaum penjajah bangsa Mongolia.

Sementara itu si macan hitam Thio Leng yang tidak mengetahui kegagahan laki laki bekas orang hukuman itu, dan laki laki itu justru sedang mengawasi dengan sepasang sinar mata yang menyala, lalu dia berkata dengan nada suara yang bengis.

"... . kau memakai gelar 'macan hitam', mukamu memang hitam akan tetapi dengan hak apa kau berani mengaku macan

. . . ?"

Hek houw Thio Leng menjadi marah tak terkirakan. Dia berteriak geram sambil melompat menerkam memakai sepasang kepalannya yang besar.

"Ha ha ha  ! Gerak seekor macan bukanlah seperti itu , !' terdengar laki laki bekas orang hukuman itu tertawa dan berkata dengan menghina, sementara sepasang  tangannya ikut bergerak, menyambut sepasang kepalan tangan  Thio Leng yang secepat kilat dia pegang pada bagian lengannya. Hek houw Thio Leng sangat terkejut karena melihat gerak cepat dari lelaki yang tak dikenalnya itu, akan  tetapi  dia  adalah seorang jago kawakan, dia  cepat mengalihkan arah meluncurnya sepasang tangannya, sambil dia ikut membuang dirinya menyamping.

“Bagus, kau dapat menghindar! sekarang kau perhatikan gerak seekor macan yang sebenarnya . !" lelaki bekas orang hukuman itu berkata lagi, dan dia menyudahi perkataannya dengan membarengi menyerang Thio Leng, juga memakai sepasang kepalan seperti yang dilakukan oleh si macan hitam tadi.

Hek houw Thio Leng bergegas hendak menghindar dari serangan sepasang kepalan itu, akan tetapi tahu  tahu sepasang tangan laki laki itu sudah berhasil menangkap dia pada bagian tengkuknya, dan pada saat berikutnya tubuh Hek houw Thio Leng yang besar melayang jauh, namun untung bagi s i macan hitam ini tubuhnya terbentur dengan tubuh tiga orang pemuda, sehingga mereka semuanya terjatuh bersama sama !

)o(dw)(X)(hen)o(

HEK HOUW THIO LENG bertambah geram merasa dihina dihadapan orang banyak. Dia  merayap bangun; dan dia menghalau waktu dua orang pemuda pendek membantu dia berdiri. Lalu dia melihat bahwa Yo Bun Lian  sedang  mengamuk memakai pedang didalam kurungan kelompok gerombolan pemuda, sementara Lo Tong Soen sedang menghadapi laki laki yang perkasa itu, dan Cie Tong  Hee masih gugup berdiri disisi bagaikan patung hidup.

"Pengecut; mengapa kau diam saja… !" teriak Hek houw Thio Leng yang ditujukan kepada Cie Tong Hee, sambil dia melepaskan ikatan pinggangnya yang ternyata adalah merupakan senjata Joan pian atau cambuk lemas. Lo Tong Soen menyisih waktu  Hek houw Thio Leng menyerang memakai senjata cambuk lemas, dan si macan hitam ini bahkan menyerang saling susul sebanyak lima kali, mengakibatkan sesaat laki laki bekas orang hukuman itu menjadi kelihatan kelabakan, sebab dia memang tidak bersenjata.

Sementara itu. Lo Tong Soen sudab menyiapkan sebatang golok, sedangkan Cie Tong Hee  memegang sebatang pedang di tangan kanannya.

Sejenak Lo Tong Soen berdua Cie Tong Hee saling mengawasi, setelah itu keduanya perdengarkan suatu suara seruan, dan secara serentak mereka melakukan penyerangan terhadap laki laki bekas orang hukuman itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi agak terkejut waktu dia mendengar suara seruan; dan melihat Cie Tong Hee melakukan serangan bersama sama Lo Tong Soen, yang seorang memakai sebatang golok dan yang lain menggunakan sebatang pedang.

( im yang to loan to hoat .,,!') pikir laki laki bekas orang hukuman itu didalam hati, dan dia menjadi teringat dengan pengalaman tempo dulu.

Im yang to loan to hoat adalah ilmu yang khas diciptakan oleh Cie Hee tojin yang bermukim diatas  gunung  Bong san, dan Cie Tong Hee dua bersaudara dengan Cie Tong  Him adalah merupakan murid muridnya Cie Hee tojin.  Cie  Tong Hee bersenjata pedang dan Cie Tong Him yang tubuhnya lebih besar memakai senjata golok. Akan tetapi dalam mereka berdua memadu ilmu Im yang to loan to hoat, golok dan pedang seolah olah suami isteri yang saling  memadu  kasih dan dapat saling bertukar tempat atau saling membantu. Jadi, golok kadang kadang bergerak sebagai benar benar golok, palsu karena bergerak seolah olah sebagai pedang, demikian pula sebaliknya. Dahulu laki laki bekas orang hukuman itu memakai senjata Ceng liong kiam (pedang naga hijau) yang menjadi barang pusaka milik Ceng liong pang. Ceng liong kiam ada sepasang, pedang yang laki-laki dan pedang yang perempuan. Laki laki bekas orang hukuman itu memakai pedang Ceng liong kiam yang laki-laki, sementara pedang Ceng liong kiam  yang perempuan dipakai oleh dara tambatan hatinya.

Jadi, dulu waktu  dia melukai Cie Tong Hee dan membinasakan Cie Tong Him laki  laki bekas  orang hukuman  itu memakai pedang pusaka, akan tetapi sekarang dia tidak bersenjata, dan jelas terpikir olehnya bahwa Lo Tong  Soen yang dia belum kenal dan bersenjata golok pasti adalah satu muridnya C ie hee tojin atau menjadi saudara seperguruan dari Cie Tong Hee !

Namun demikian laki laki bekas orang hukuman itu tidak sempat berpikir lama oleh karena serangan Cie Tong Hee berdua Lo Tong Soen segera datang.

Dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya lelaki bekas orang hukuman itu dapat menghindar dari kedua serangan pertama, dan waktu kedua musuh itu menyerang lagi, maka tiba-tiba lelaki bekas orang hukuman itu  lompat  menerkam Hek houw Thio Leng, sehingga hampir hampir s i macan hitam itu menjadi korban goloknya Lo Tong Soen yang sedang membayangi lelaki bekas orang hukuman itu.

Hek houw Thio Leng terkejut waktu secara tiba tiba dia diterkam oleh lelaki yang tidak dikenalnya itu, yang bergerak bagaikan seekor macan kumbang,  dan dia  menjadi lebih terkejut lagi waktu goloknya Lo Tong Soen bagaikan mengancam dia.

Si macan hitam Thio Leng menjerit dan dapat juga dia menghindar dari maut, akan tetapi ujung cambuknya kena dipegang oleh lelaki bekas orang hukuman itu yang sengaja tidak mau melepaskan lagi. Hek houw Thio Leng kemudian hendak  mengangkat sebelah tangan kirinya buat dia menangkis goloknya Lo Teng Soen yang masih menyambungi, sedangkan tangan kanannya masih memegang cambuknya yang sedang ditarik  oleh  laki laki yang tidak dikenalnya, bahkan si macan hitam kalah tenaga, sehingga terpaksa Hek houw Thio Leng melepaskan pegangannya dan cepat cepat dia melompat menghindar dari golok rekannya.

Peluh dingin segera mengucur membasahi muka si macan hitam Thio Leng yang baru lepas dari ancaman maut kena serangan golok rekannya sendiri.

)o(dw)(X)(hen)o(