-->

Lembah Patah Hati Lembah Beracun Jilid 03

 
Jilid 03

HO KIE lalu merasa kurang enak, maka lalu bertanya "Lim-heng, kemana kita harus mencari Ngo-kui-Khio?" "Tempat  yang  disebut  Ngo-kui  Khio  itu  rasanya tentu

ada suatu tempat yang ditanami lima batang pohon Kui.

mari lekas kita kejar. Kita coba lihat-lihat keadaan disekitarnya."

Masing-masing lalu mengeluarkan kepandaian lari melesatnya, maka sebentar saja mereka sudah melalui lima atau enam lie.

Makin lama keadaan makin sunyi. Disepanjang jalan, yang dapat dilihatnya lapangan yang luas tidak kelihatan sebuah rumahpun juga. Mendadak Ho kie mengehentikan gerakan kakinya, sambil menuding ke tempat tinggal sejauh kira-kira sepuluh tombak ia berkata:

"Coba kita berada ditempat yang agak tinggi itu, nanti kita mencari daya upaya lagi."

Lim Kheng mengangguk, keduanya lantas menuju ketempat yang ditunjukkan oleh Ho kie.

Di sebelah barat, sejarak kira-kira lima lie dari tempat mereka berdiri itu, kedapatan suatu lapangan yang luas. Disitu terdapat suatu bangunan, semacam perkampungan.

Dipingirnya bangunan itu terlihat berdiri lima batang pohon Kui yang teratur rapi. Ho kie lantas berkata dengan giran

"Lim-heng, kau lihat? Apa itu bukan tempat yang dsebut Ngo-Kui-khio?"

sehabis berakta lantas ia lari menuju ke tempat tersebut. Ketika mereka tiba didepan perkampungan itu, kedua-

duanya lantas terperanjat.

Mereka lantas menghentikan tindakan kaki mereka dengan perasaan terheran-heran.

Karena tempat itu sangat sunyi. Tidak ada  suara manusia maupun binatang. Ditanah lapang kosong kelihatan beberapa puluh bangkai manusia yang telah mati menggeletak dalam keadaan yang tidak utuh tubuhnya.

Dimana-manadarah berhamburam. Senjata-senjata berserakan ditanah. Terang bahwa ditempat tersebut belum lama berselang sudah terjadi suatu pertempuran yang sangat hebat. sehingga telah meminta korban yang begitu banyak.

Orang-orang itu kesemuanya adaah orang-orang dari dunia Kangouw. Tetapi sekrang mereka sudah rebah bergelimpangan dengan tidak bernyawa. Siapakah mereka itu? Mengapa mereka bertempur ditanah lapang ini? Sudah berapa lama mereka binasa?

Lim Kheng mengawasi keadaan disekitarnya sejenak, lalu berkata dengan menghela napas.

"ah! kita terlambat sedetik saja!"

"Tempat ini sungguh aneh, Apakah orang-orang didalam rumah binasa semuanya?"

Mendadak angin dingin meniup, sehingga badan Ho kie mengigil.

"Lim-heng, mari kita masuk untuk melihat-lihat" kata Ho kie dengan perlahan.

Lim Kheng mengawasi keadaan kampung sejenak lantas menyahut sambil angguk-anggukkan kepala:

"Baiklah! sebaiknya kau ikuti aku saja, kita jangan bertindak sembarangan."

Ho kie merasa tersinggung, Pikirnya, Apa kau kira aku ini lebih rendah darimu? Tetapi selagi ia hendak menjawab, ia telah menyaksikan sorot mata yang halus dari mata Lim Kheng yang sedang menatap wajahnya...

Hati Ho kie lantas berdebaran, dengan tidak terasa lantas tundukkna kepalanya dan menjawab:

"Baiklah! silahkan Lim-heng jalan lebih dulu!"

Lim Kheng anggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian dengan gerakan gesit ia lompat melesat melalui lapangan dan telah berdiri didepan pintu perkampungan.

Ho kie sangat kagum menyaksikan kepandaian meringankan tubuh Lim Kheng, kemudian dia juga bergerak menyusul padanya. Pintu itu tertutup dari sebelah dalam, tetapi keadaan dalam sangat sunyi, sedikitpun tidak kedengaran suara manusia. Seluruh perkarangan seperti tempat kuburan yang luas, tidak mirip dengan tempat kediaman manusia.

Lim Kheng mengulur tangan kirinya, dengan perlahan ditempelkan keatas pintu sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

Mendadak telapak tangannya digerakkan, setelah mendengar barang patah, tulak pintu yang berada disebelah dalam ternyata sudah dibikin patah. Lim Kheng lalu menoleh dan tersenyum pada Ho kie, pintu lantas dipentang dan orangnya lantas melompat masuk.

APA yang terlihat didalamnya? Sungguh merupakan pemandangan yang mengejutkan. Karena didekat pintu masuk ada berdiri tiga laki-laki berbadan tegap dengan masing-masing tangan membawa golok atau pedang, telah berdiri tegak tanpa bergerak.

Ho Kie lalu menegur dengan suara perlahan : "Sahabat. "

"Sttttt.........." Lim Kheng dengan telunjuk jarinya ditempelkan pada bibirnya memberi isyarat supaya Ho Kie tidak mengeluarkan suara.

Hening sejenak. Heran, ketiga orang itu tidak menunjukkan gerakan apa-apa dan kelihatannya mereka sekarang berdiri seperti patung.

Lim Kheng lalu ketawa seorang diri, kemudian berkata pada Ho kie.

"Saudara Ho, coba kau periksa, apa sebabnya mereka tidak dapat bergerak?" Ho kie lalu memeriksa hidung ketiga orang itu, lantas berseru kaget:

"Aaaaa, kiranya mereka sudah binasa semuanya." "Kalau merek bukan karena sudah binasa, bagaimana

mereka mau membiarkan kita masuk begitu saja?" kata Lim Kheng sambil tertawa.

"Lim-heng sungguh cerdik! Mengaap aku tidak memikirkan soal itu sehinggal hampir saja kena tertipu."

Lim Kheng lalu mulai masuk kedalam untuk memeriksa rumah itu.

Disitu ternyata ada satu ruangan yang luas dikanan kirinya berdiri banyak kursi, dikedua sisinya ada pintu yang menghubungi ruangan luar dengan ruangan dalam.

Kursi dan lantainya kelihatan sangat bersih. Terang bahwa ruangan itu sudah pernah ditinggali orang belum lama berselang.

Lim Kheng berpikir sejenak lalu berkata dengan perlahan.

"Kalau dugaanku tidak keliru, disini pasti sudah terjadi peristiwa hebat. Musuh kuat sudah masuk kedalam. ketiga orang tadi tentunya hendak keluar untuk mengadakan pemeriksaan, tidak dinyana, sebelum membuka pintu. mereka sudha kena ditotok oleh tangan jahat dari musuhnya sehingga mereka binasa semua."

"Dugaan Lim-heng memang ada beralasan. Sudah terang kalau disini pernah didatangi oleh musuh yang kuat. Dilapangan tadi terdapat banyak orang yang sudah binasa, dalam rumah ini sekarang mungkin sudah tidak ada manusianya lagi yang hidup yang dapat kita mintakan keterangan" "Ini masih susah dikatakan. Menurut dugaanku, bangsat tua dan taoto tadi, pasti ada hubungannya dengan peristiwa berdarah ini. Tetapi mereka toh hanya lebih dulu sedetik dari kita, sesudah menyaksiakn pemandangan ini, kemana pula mereka pergi?" kata Lim Kheng sambil menganggukkan kepalanya dan lalu mengadakan pemeriksaan yang teliti pada dirinya ketiga orang yang sudah binasa tadi. Mendadak ia berkata dengan suara kaget:

"Eeeiii Apa ini bukannya perbuatan orang-orang dari Hian kui kauw?"

Ketika mendengar disebutnya nama Hian kui kauw, semangat Ho kie lantas terbangun.

"Bagaimana Lim kheng bisa tahu kalau itu adalah perbuatan orang-orang Hian-kui kauw?" ia bertanya pada lim kheng.

"Coba kau lihat dibadannya orang-orang itu. Bukankah ada tanda matang biru bekas telapakan tangan, yang kini sudah mulai menyenyah?" Lim kheng sambil menunjuk pada salah satu mayat.

Ho kie lantas membuka baju mayat yang diunjuk, benar saja digegernya orang itu ada tanda telapak tangan yang mengandung darah hitam yang pada saat itu sudah mulai menyenyah.

Ia bercekat dan berseru:

"Benar saja! orang ini binasa karena serangan ilmu Hu- sie biat kut ciang dari golongan Hian-kui kauw."

"Orang yang melakukan serangna ini masih belum cukup hebat kekuatan tenagnya. Jikalau yang melakukan Kauwcunya sendiri, Cian-tok lo mo, serangannya dapat menembusi badan sehingga isi dada hancur semua, dadanya juga menyenyeh dan sebentar saja akan menjadi darah hitam."

Mendadak Ho kie mengingat kembali akan kematian ayahnya ditangan Bo Pin, dan Bo Pin ini yang kedudukannya semacam algojo dari Hian-Kui Kauw, sepantasnya mempunyai kekuatan yang cukup tinggi. Kalau begitu, kematian ayahnya juga tentunya menggenaskan seperti orang-orang ini. Perasaan gemas dan gusar lalu timbul diotaknya, sambil kertak gigi ia berkata kepada kawannya:

"Lim-heng,kalau benar dalam peristiwa ini adalah perbuatan orang-orang Hian-kui kauw. kita tidak boleh berpeluk tangan saja."

"Ini sudah tentu! Kita yang sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, biar bagaimana harus menyelidiki sampai kedasar-dasarnya."

Sehabis berkata demikian, ia lalu pentang kipasnya untuk melindungi dadanya, kemudian ia melesat kedepat pintu disebelah kiri lalu menoleh dah berkata kepada kawannya.

"Saudara Ho, kita masing-masing memasuki satu pintu, kita lihat didalmnya ada terjadi apa lagi yang aneh"

Ho kie yang menyaksikan ketawa kawannya, tiba-tiba hatinya berdebaran. Diotaknya lantas terbayang gerak- geriknya yang mengarahkan dari tingkah laku seorang wanita. Mungkinkah kawannya ini adalah seorang wanita yang menyaru menjadi seorang pria?

Selagi Ho Kie bepikir demikian Lim Kheng sudah masuk jauh kedalam maka ia terpaksa masuk kelain pintu.

Dari pintu yang dimasuki Ho kie terdapat jalan yang lurus, dipinggir jalan ada tanaman rumput dan bunga-bunga yang lebat. Ho kie memasang telinganya, sedikit suara pun tidak kedengaran, maka ia terus masuk kedalam salah satu kamar yang ada disitu.

Dengan sangat hati-hati sekali, Ho kie mengadakan penyelidikan, ia mendapat perasaan bahwa keadaan ditempat itu sangat seram. Kecuali suatu angin yang membuat daun pintu dan jendela bergoyang, seluruh tempat disekitarnya sangat sunyi.

Tidak lama kemudian, ia sudah dapat melalui tiga buah bangunan rumah, tetapi tetap ia belum berhasil menemukan bayangan seorangpun juga.

Setelah berjalan kesana kemari, ia tiba disebuah ruangan kecil yang indah pemandangan dari kamarnya.

Dalam kamar itu terdapat dua buah lemari buku, sebuah meja besar, didinding ada banyak gambar-gambar dan tulisan-tulisan orang terkenal, sehingga Ho kie dapat menduga bahwa kamar itu adalah kamar bagi tuan rumah. Selagi ia hendak keluar berlalu, tiba-tiba melihat sehelai kertas tulis diatas meja yang masih ada bekas tanda belum lama orang menulisnya.

Karena merasa tertarik, ia lantas memeriksa tulisan tersebut. ternyata tulisan itu adalah surat yang belum selesai ditulis semuanya.

Karena sepasang mata Ho Kie dapat melihat dalam keadaan gelap dengan tidak usah menggunakan penerangan apa-apa, maka ia dapat membaca bunyi surat itu dengan berbunyi demikian.

"Rahasia tentang Kalajengking emas sudah terbuka. Musuh-musuh yang kuat sekarang sedang mengepung, sehingga sukar untuk bertindak barang sedikitpun juga. Hal ini harap supaya lekas disampaikan kepada Ciang-bun-jiu supaya segera mengutus. "

Surat itu masih belum selesai ditulis semuanya, maka ia tidak mengetahui surat itu ditujukan pada siapa. Barangkali orang yang menulis surat itu sudah berlalu dengan sangat tergesa-gesa dan tidak akan kembali lagi, maka surat itu ditinggalkan begitu saja diatas meja.

Tetapi siapakah orangnya yang menulis surat itu, Benda apakah yang dimaksudkan dengan Kalajengking emas itu? Apakah orang itu juga sudah binasa ditangan musuhnya?

Rupa-rupanya dugaan timbul dalam otaknya Ho Kie, ia menduga bahwa Kalajengking mas itu adalah sebuah benda pusaka yang sangat berharga yang sudah didapatkan oleh majikan dari rumah gedung ini.

Semula tentunya benda itu ingin diberikan kepada Ciang bun jiu partainya, tetapi kemudian telah diketahui oleh orang lain yang timbul maksudnya hendak merampas  benda tersebut, maka ia lantas meninggalkan surat untuk minta bantuan ....

Kalau dugaannya itu tidak salah. Cungcu dari perkampungan ini tentunya juga adalah orang dari rimba persilatan.

Ho Kie masukkan surat itu kedalam sakunya, lalu memandang keadaan diatas meja. Diujung kanan meja ada terdapat sebuah kotak kecil. Ketika ia coba mengangkat, ternyata sangat berat.

Ia kelihatan bersangsi.

Menurut pantas, barang yang ada didalam peti, sudah tentu kepunyaan orang lain yang tidak seharusnya dibuka sembarangan. Tetapi karena disini sekarang tidak ada seoraug manusiapun yang masih bernyawa, suatu perasaan ingin tahu mendorong padanya untuk membuka kotak itu.

Tepat pada saat itu, dibelakangnya seperti terdengar suara orang ketawa dingin.

Ho Kie terperanjat. Ia cepat-cepat memutar tubuhnya dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Diluar pintu kamar tampak seperti ada berkelebat bayangan hitam yang telah menghilang dengan cepat.

cepat2 ia meletakkan kotak itu diatas meja, segera ia lompat melesat untuk memburu kaarah bayangan tersebut.

Tetapi diluar kamar ternyata sudah kosong melompong, tidak kelihatan bayangan seorang pun juga.

Diam-diam Ho Kie merasa kaget. Karena suara tadi memang benar adalah suara orang, tidak disangkanya bahwa gerak geriknya sendiri sudah dalam pengintaian orang.

Kalau orang itu adalah orang-orangnya Hian-kui kauw, pasti ia akan hajar mampus, maka ia sengaja ketawa dingin juga lalu berkata :

"Hai, kawanan tikus. Perlu apa main sembunyi- sembunyi? Kalau betul berani, lekas kau unjukkan diri !"

Tetapi biar bagaimanapun ia sudah mengejek, tetap tidak ada orang yang menjawab. Ia lalu balik lagi kedalam kamar dan hendak membuka kotak itu untuk melihat apa isinya.

Rupa-rupa pikiran telah mengaduk dalam otak Ho Kie. Hampir semua benda yang sangat berharga itu diingininya. Tetapi akhirnya pikiran sehat dapat menindas semua perasaan serakahnya, ia lantas membungkus barang2 berharga itu dengan sehelai kain dan diletakkan kembali ditempat asalnya. Ia mengerahkan kekuatannya dengan sekali tepok saja ia sudah dapat menghancurkan kotak itu.

Apa yang dilihatnya? Ho Kie kesima, kiranya isi kotak itu adalah mutiara, berlian, emas dan batu giok yang sangat berharga.

Ia menghela napas dalam-dalam, sesaat lamanya ia hampir-hampir tidak mau melepaskan barang2 berharga itu. Dalam hatinya berpikir, bahwa keadaan dirinya sendiri dan Lim Kheng berdua, pada saat itu sudah tidak mempunyai uang barang sepeser dan emas beserta barang permata itu justru sangat dibutuhkan oleh mereka untuk ongkos dalam perjalanan. Apa lagi jika benar Lim Kheng adalah seorang wanita yang sedang menyaru, batu batu giok ini pasti disukainya"

Benda-benda ini mungkin sudah tidak ada pemiliknya lagi. Bukankah sangat sayang kalau diletakkan didalam rumah kosong. ?

Diantara barang-barang berharga itu ia telah menemukan dua buah kunci kecil yang terbuat dari emas murni. Kunci- kunci itu sangat halus buatannya, mungkin bukan barang perhiasan biasa, ia lalu mengantongi kedua buah kunci itu kemudian keluar dari dalam kamar itu.

Karena disitu ia sudah membuang banyak waktu, ia kuatirkan kalau kawannya, Lim Kheng mendapat bahaya, maka dengan tidak banyak pikir lagi ia lantas cepat melesat ke-atas genteng.

Ia melihat dirumah paling belakang ada berkelebat sinar terang, tetapi ketika ia memasang telinganya, kembali ia sudah tidak ragu-ragu ia lantas lompat melesat kebagian rumah yang ada berkelebat sinar terang tadi. Dengan sangat hati hati ia memeriksa keadaan rumah tersebut, ternyata rumah itu di bangun diatas sebuah bukit kecil yang terpisah agak jauh dari pada rumah rumah yang terdapat dibagian depan. Ia berdiri ditengah tengah,  terpisah oleh sebuah lapangan yang seluas sepuluh tumbak lebih, sehingga bangunan tersebut kelihatannya mencil sendirian.

Karena Ho Kie ada seorang yang berkepandaian tinggi dan bernyali besar, maka ketika ia melihat bahwa pintu rumah itu tidak terpalang, ia lantas mendorong dengan- tangan kanannya. Setelah berada didalam rumah, baru diketahuinya bahwa keadaan di dalam situ ternyata banyak berlainan dengan yang sudah-sudah ia masuki,

ternyata rumah itu sangat sederhana. Di dalamnya tidak terdapat perlengkapan perabot apa-apa, hanya dibagian yang berdekatan dengan bukit, ada sebuah bangunan berupa kuburan besar yang terbuat dari batu pualam.

ooo0dw0ooo HO KIE TERPERANJAT.

Ia heran, mengapa kuburan bisa terdapat didalam rumah? Kalau mau dikatakan bahwa tempat itu digunakan untuk tempat abu leluhur, tidak perlu dibuat berbentuk semacam kuburan. Apa lagi seluruh rumah itu, kecuali sebuah bangunan berupa kuburan, sudah tidak ada lagi tempat abu yang lain-lainnya.

Ia menduga bahwa batu kuburan itu pasti mengandung rahasia, maka dengan sikap yang hati-hati sekali ia maju mendekati.

Didepan batu kuburan itu berdiri sebuah batu kecil yang bertulisan sudah tidak kelihatan lagi apa dan bagaimana bunyinya. Ho Kie memeriksa mengitari kuburan tersebut, Tetapi tetap ia tidak mendapatkan apa-apanya yang aneh.

Selagi berada dalam keragu-raguan, tiba2 kedengaran lapat-lapat suara tindakan kaki orang.

Ia terkejut, buru2 bersembunyi dibelakang kuburan.

Sebentar kemudian, dari luar pintu telah muncul seorang jangkung dan seorang cebol.

Ho Kie yang mengintai dari belakang kuburan telah mengenali orang yang jangkung itu adalah padri buas yang menyebut dirinya Sam-ciok Taoto, sedangkan yang cebol berpakaian hijau berusia kira-kira 40 tahun.

Taoto itu tidak kelihatan membawa tongkatnya. Ditangannya hanya memegang sebilah golok, matanya memandang buas dan sikapnya sangat keren. Sedangkan kawannya sangat aneh bentuknya, badannya dibagian atas tidak berbeda dengan badan orang biasa umumnya tetapi kedua kakinya amat pendek, sehingga kelihatan seperti anak-anak yang masih belum dewasa.

Begitu masuk, Taoto itu lantas bertanya dengan suara rendah :

"Shao-heng, kau kira apa kita tidak datang terlambat? Dalam kuburan ini apa tidak ada orang lain yang sudah masuk lebih dahulu?"

Si Cebol memandang sepasang matanya yang tajam lalu menyahut sambil anggukkan kepalanya :

"Tidak salah! Kelihatannya seperti sudah ada orang lain yang masuk lebih dahulu. Barang itu masih ada atau tidak, susah dikatakan."

"Ini semua gara3 simaling tua yang mau mampus itu. Kalau dia tidak mencuri uang dan senjata rahasia kita, bagaimana aku bisa terlambat sampai sekarang baru menemui kau?"

"Aku sudah tahu bahwa kau kalau melihat arak lantas lupa daratan. maka begitu mendengar beritanya tentang siorang tua she Lo itu, aku lantas memanggil kau kemari dan memesan wanti-wanti jangan sampai kau minum arak.., Kau tahu, selama beberapa hari ini berapa cemas hatiku, disuatu pihak aku harus melayani Lo su ie. jangan sampai dia mengabarkan kepada Hoa-san. dilain pihak aku harus berhati-hati terhadap orang-orangnya Hian kui-kauw, jangan sampai mereka menganggap aku ini berkomplot dengan orang she Lo itu dan mereka turun tangan lebih dulu kepadaku....Akh! Sekarang ini kukatakan semuanya juga sudah tidak ada gunanya. Mudah-mudahan usaha kita tidak didahului oleh lain orang, sehingga benda pusaka itu dibawa kabur."

"Shao heng, kau sudah mengetahui benar jalan masuk kedalam kuburan ini? Apa kau pikir tidak bisa salah?"

"Kalau kau takut akan terjebak, kau tunggu saja, aku diatas jangan turut masuk."

"Mana bisa begitu! Kita merupakan sahabat-sahabat dari banyak tahun. Senang dan susah kita rasakan bersama-sama bagaimana aku tidak mau ikut masuk?"

Si cebol ketawa dingin, dengan tindakan lebar ia berjalan kedepan kuburan. Dengan kedua tangannya ia mengangkat batu kuburan, Ia coba goyang sampai dua kali, mendadak wajahnya berubah.

Si cebol tegang sendiri sikapnya, ia memutar-mutar batu itu kekanan dan kekiri, mendadak memaki sendiri : "Kurang ajar! Sungguh aneh. Rasanya benar2 seperti sudah ada orang yang masuk kedalam batu kuburan ini, mari kita lekas sedikit"

Pada saat itu, dari dalam kuburan mendadak telah terdengar suara keresekan.

Mata si cebol membelalak "Cilaka" ia berseru dengan suara perlahan.

Setelah berseru, dengan cepat ia lalu lompat mundur kesampingnya si Taoto. Keduanya lalu sama-sama lompat melesat keatas penglari rumah.

Ho Kie yang menyaksikan kegesitan si Taoto dan sicebol diam-diam merasa gusar.

Sebentar kemudian suara tadi kedengarannya semakin nyaring. Batu kuburan itu perlahan-lahan menjeblak kebelakang, disitu lantas kelihatan sebuah pintu goa. Tidak lama kemudian, dari dalam goa itu lantas kelihatan munculnya seorang ,tinggi kurus berpakaian hitam yang berjalan sempoyongan.

Orang itu sekujur badannya penuh darah, rambutnya kusut, wajahnya mesum, pada pakaiannya dibadannya terdapat beberapa bagian yang pecah. Ia membawa sebilah golok Kui taoto terang ia sedang menderita luka-luka.

Baru berjalan kira-kira 5 tindak, mendadak ia muntahkan darah segar. Tapi ia masih kuatkan dirinya dengan golok untuk menunjang tubuh jangan sampai rubuh.

Setelah mengaso sejenak, lalu memesut darah dimulutnya, kembali ia berjalan hendak keluar pintu,

Mendadak si cebol dan si Taoto melayang turun dan menghadang didepannya. Orang itu terkejut, buru-buru angkat goloknya untuk melindungi dadanya, lalu mundur dua tindak,

"Ko hiocu, aku yang rendah adalah Shao Cu Bung, apa kau sudah tidak kenal aku lagi ?" si cebol berkata.

Orang itu memandang dengan mata yang layu, setelah mengeluarkan seruan kaget, lantas turunkan goloknya dan berkata sambil tertawa getir :

"Kiranya Shao Losu, kau.... kau kenapa juga datang kemari ?"

Si cebol dengan tajam mengawasi orang itu, tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya balas bertanya:

"Ko hiocu baru keluar dari dalam kuburan ini, kiranya Ko tancu juga sudah datang sendiri, apa sekarang masih berada didalam?"

Orang she Ko itu berdiam sejenak, lantas menjawab sambil menganggukkan kepala;

"Dengan terus terang, tancu sekarang ini sedang terkurung dibawah tanah, dia suruh aku melarikan diri untuk meminta bala bantuan Hoa-san-pay ada mempunyai beberapa orang kuat yang melindungi, fihak kita sudah ada 4 atau 5 orang yang binasa."

"Apa benar? Kalau begitu kita harus lekas masuk kedalam lobang untuk membantu Li tancu!"

"Kalau Shao losu mau berbuat demikian, kita Hiau-kui- kauw pasti akan mengucapkan banyak terima kasih kepada Shao losu di kemudian hari pasti akan membalas budimu ini."

"Tak usah kuatir. Ko hiocu boleh lekas minta bala bantuan, disini ada aku si orang she Shao yang akan membantu Li Tancu, tidak nanti meleset!" Orang she Ko itu tampaknya merasa sangat berterima kasih atas bantuan kedua orang itu, dengan tanpa curiga apa-apa, ia lantas memberi hormat sambil angkat tangannya, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan sempoyongan.

Si cebol terus mengawasi, setelah orang itu berjalan kira- kira 5 tindak, sicebol tiba-tiba menyerang dan tepat mengenakan gegernya orang she Ko itu, hingga tengkurap ditanah dan binasa seketika,

Ho Kie yang menyaksikan kejadian itu, hatinya merasa bergidik. Dalam hati berpikir orang she Ko itu meski seorang dari Hian-kui-kauw yang sudah sepantasnya mendapat bagian karena dosa-dosanja, tapi sicebol juga agaknja terlalu telengas, terang dia bukan bangsa baik-baik.

Si cebol setelah membinasakan orang she Ko itu lalu berkata kepada sitaoto:

"Hun tancu dari Hian-kui-kauw Lie Hui Hauw, sekarang sedang berada didalam lobang kuburan. Orang itu mempunyai kekuatan tenaga pemberian alam yang luar biasa. Sekarang ternyata dia telah terkurung, dari partay Hoa-san-pay pasti ada datang orang-arang yang berkepandaian sangat tinggi. Kita sebaiknya menggunakan kesempatan kedua pihak itu bertarung mati-matian lekas- lekas turun tangan, kalau terlambat nanti tidak keburu lagi!"

Taoto itu menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui usul kawannya, ia buru-buru membuka kantong senjata rahasianya dari badan Ko hiocu yang sudah jadi bangkai, lalu diikatkan pada pinggangnya sendiri.

Berjalan belum beberapa tindak, si taoto mendadak berhenti dan bertanya: "Ya, kau tadi mengatakan orang tua kurus kecil yang mencuri uang dan senjata rahasiamu, apakah bukan seorang tua yang mempunyai jenggot seperti kambing dan matanya sebelah kiri agak kurang leluasa kalau berkedip?"

"Benar, dia memang mempunyai jenggot seperti kambing, Tapi bagaimana keadaan matanya kurang jelas... "

"Kalau begitu pasti itu pencuri ulung si Auw-yang Khia, yang namanya sangat kesohor dalam kalangan hitam, Bangsat tua itu banyak akalnya, kekuatannya juga hebat, pula merupakan kakek moyangnya pencuri, terhadap kita, ancamannya tidak lebih kurang dari pada Lie Hui Hauw. Kita harus lebih berhati-hati terhadapnya."

Bersama si taoto ia lantas mulai masuk ke dalam lobang kuburan itu.

Ho Kie yang melihat pintu rahasia lubang itu tidak ditutup, ia tidak mau menghilangkan kesempatan sebaik ini, maka diam2 ia mengikuti dibelakang kedua orang tadi.

Jalanan masuk kedalam lobang itu merupakan suatu lorong sempit yang berliku-liku. Oleh karena Ho Kie mengintai segala tindak tanduknya kedua orang tadi, maka ia sengaja berjalan sangat perlahan dan harus menahan napas supaya jangan sampai dipergoki.

Lorong itu kira-kira ada dua tombak panjangnya.  Sehabis melalui lorong itu, ada terdapat sebuah kamar batu yang luas. Ho Kie dengan jalan sembunyi mengawasi keadaan kamar itu.

Begitu melihat, ia menjadi bingung sendirinya, sebab dalam kamar itu, selain jalanan masuk dari lorong tadi, ketiga dinding lainnya juga ternyata masih mempunyai pintu yang berderet deret yang tidak kurang dari tujuh lubang banyaknya.

Karena kedatangannya itu sedikit terlambat, maka ia sudah tidak dapat melihat si cebol dan si taoto itu tadi memasuki pintu yang sebelah mana.

Ini membuat ia bingung sendiri, Ia berdiri ditengah tengah ruangan dan mengawasi keadaan  disekitarnya, tetapi juga tidak kedengaran suara gerakan apa-apa.

Dalam keadaan yang demikian itu terpaksa ia harus mencari sendiri. Dengan tidak banyak pikir lagi ia lantas mendorong pintu ketiga didinding sebelah kanannya.

Dalam pintu itu, kelihatan juga seperjalanan lorong yang sangat dalam.

Setelah merasa ragu-ragu sejenak, ia lalu bertindak maju lagi. Dengan cepat ia sudah berjalan kira-kira tujuh atau delapan tombak jauhnya, kembali ia tiba disebuah kamar batu, Kamar ini kelihatannya lebih kecil dari pada kamar yang pertama sekali ditemuinya, dan apa yang mengherankan ialah, disitu juga terdapat kira-kira enam atau tujuh buah pintu.

Ho Kie berpikir keheranan. Berapa luasnaja kuburan ini, diingat dari perjalananku tadi, saat ini barangkali sudah berada jauh dari luar gedung tadi.

Pada saat itu, ia agaknya lantas mengerti apa sebabnya gedung dalam perkampungan ini dibangun menurut keadaan dibawah kaki bukit dan apa pula sebabnya dibagian depannya terdapat sebidang tanah lapang yang sepuluh tumbak lebih luas.

Menurut perhitungannya sendiri, pada saat itu ia seharusnya sudah berada ditengah-tengah bukit. Ia merasa menyesal tadi telah mengikuti tindakannya sicebol, Ia lebih menyesal lagi, mengapa tadi ia tidak mau mengintai dari jarak dekat, sehingga sekarang ini dirinya berada dalam suatu tempat yang tidak mengetahui menuju kemana.

Apakah Lim Kheng juga memasuki jalanan dibawah tanah ini? Kalau ya, sekarang ini dia entah berada dibagian mana?

Hatinya menjadi jeri. Ho Kie tidak berani gegabah lagi, sebab didalam tanah itu, jalanan simpang terlalu banyak jumlahnya, sekali saja salah bertindak ia tentunya akan kesasar.

Selagi berada dalam keadaan bingung, suara jeritan mengerikan mendadak masuk kedalam telinganya. Ia mencoba mengamat-amati suara itu, rasanya keluar dari pintu keempat, Ia lalu maju mendekati dan menyerang pintu batu dengan menggunakan kedua tangannya.

Ketika pintu itu terpukul hancur dan terbuka, dari dalam telah menerobos keluar sesosok bayangan orang,

Ho Kie dengan cepat mundur empat tindak, lalu menegur dengan keras ; "Siapa?"

Orang yang ditanya tidak menjawab. Hanya dengan kedua tangannya mendekap kepalanya, Ia berputaran didalam kamar sambil menjerit jerit, agaknya sedang menderita rasa sakit yang agak hebat.

Setelah lari berputaran dua kali putaran-orang itu mendadak menubruk Ho Kie....

Sambil membentak keras Ho Kie lalu mengayun tangannya menyerang. Orang itu setelah terserang jatuh bergelimpangan dan jungkir balik, tubuhnya dengan tepat telah membentur dinding, sehingga kepalanya pecah dan ia binasa seketika itu juga.

Ho Kie mengambil batu api. Setelah menyalakan api, ia telah menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan.

Kiranya, sekujur badan orang itu penuh digerumuti semut besar-besar, sehingga keadaan badannya sudah tidak karuan macam.

Pada saat itu, dari dalam lubang pintu itu merayap  keluar puluhan ribu binatang semut.

Ho Kie yang menyaksikan itu, hatinya berdebaran badannya sampai dirasakan bergetar, buru-buru ia padamkan apinya dan masuk kedalam pintu yang lain.

Dalam keadaan tergesa-gesa ia sudah tidak keburu melihat pintu mana yang telah dimasukinya, ia segera menutup pintunya. Setelah kakinya tenang kembali, barulah ia memeriksa keadaan tempat yang dimasukinya. Apa lacur, pintu itu ternyata merupakan jalan buntu yang disekitarnya terkurung oleh dinding batu yang tebal.

Ia menghela napas dalam-dalam. Sekarang, kecuali menempuh bahaya dengan jalan menerjang kepungan binatang semut dan menerobos keluar diri situ, sudah tidak ada jalan lain lagi baginya,

Tetapi kalau diingatnya bagaimana keadaan orang yang dikerubuti oleh semut-semut tadi, bulu romannya telah berdiri dengan tidak terasa lagi.

Ia lebih suka mati terkurung dalam kamar itu dari pada dirinya dibuat santapan oleh binatang semut itu. Dalam keadaan demikian. Ia lantas duduk bersemedi sambil memikirkan jalan keluar. Kira-kira tiga jam sudah berlalu, keadaan di luar kamar mungkin sudah, hampir malam. Entah dimana adanya Lim Kheng sekarang? Apakah ia dapat menemukan jalanan dibawah tanah itu? Andaikata ia dapat menemukan jalanan, ia juga tidak akan mengetahui kalau dirinya sekarang sedang terkurung disitu. Memikir sampai disitu, ia lantas mulai putus asa.

Tetapi apakah ia pun mandah binasa didalam kamar kecil itu? Tidak! Ia masih harus mencari dimana adanya itu orang tua yang memberikan pelajaran padanya ilmu silat yang demikian tingginya dan ia masih memerlukan belajar ilmu silat lebih tinggi lagi untuk dapat menuntut balas pada Hian kui-kauw atas kematian ayahnya.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia telah mengingat kembali pesannya siorang tua Toan theng Lojin yang menyuruh ia belajar silat dari Cit-cie Sin-hong. Bukanlah Lim Kheng itu mengaku sebagai muridnya Cit-cie Sin- hong? Tetapi apakah, ia mau mengajak dia untuk belajar ilmu silat pada Cit-cie Sin hong suhunya itu?

Tetapi kemudian ia merasa geli sendirinya, sebab untuk meloloskan dirinya sendiri sekarang ini saja ia sudah tidak mampu, bagaimana ia mau memikirkan belajar ilmu silat pada Cit-cie Sin hong?

Entah berapa lama telah berlalu dalam keadaan demikian.

Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu yang amat perlahan, Ia coba memasang telinganya, benar saja, suara itu terdengar dari dinding sebelah kanannya. Meskipun suara itu halus, tetapi terdengarnya nyata didalam telinganya.

Ho Kie girang, ia buru buru mendekati dinding dan mengetuk ngetuk dua kali. Benar saja, suara ketukan dilain kamar itu lantas berhenti.

Sebentar lagi, Ho Kie coba mengetuk sambil menanya dengan suara perlahan :

"Siapa disana?" Berulang-ulang ia memanggil, tetapi ia tidak mendapat jawaban.

Ho Kie melompat bangun, dengan seluruh kekuatan tenaga ia coba menggempur dinding tersebut. tetapi kecuali ada sebagian yang runtuh batunya, dinding itu tidak mendapat keretakan lainnya.

Selagi ia merasa putus asa, mendadak mendengar suara orang bicara padanya:

"Kau berbuat demikian, sekalipun kau gempur sampai satu tahun juga tidak bisa bikin hancur tembok dinding ini!"

Ho Kie kaget, ia bertanya ; "Kau siapa?"

"Siapa aku? Sama dengan kau yang harus menantikan kematian didalam kamar ini!"

Suara itu agaknya pernah ia dengar, tapi sesaat itu Ho Kie sudah tidak ingat lagi di-mana ia pernah dengar suara itu.

"Pembicaraan antara kita bisa dapat di dengar dengan jelas, disekitar kamar ini tentunya ada terdapat lobang angin, coba kau periksa dengan teliti!" berkata Ho Kie.

"Kau sendiri bagaimana tidak bisa cari, kita belum kenal sudah berani memerintahi orang!" jawabnya orang itu dingin.

Ho Kie merasa mendongkol dan geli sendiri. Tanpa banyak bicara, ia lantas keluarkan ilmunya merayap didinding, dengan hati hati ia mencari lobang hawa. Benar saja, di ujung bagian atas kamar itu, terdapat tiga buah lobbang kecil.

Ia coba mengintai dari lobang itu, tapi keadaan gelap gulita, tidak dapat ia melibat apa-apa.

Ho Kie lompat turun dan berkata dengan suara agak keras ;

"Hai! Sahabat! Aku sudah menemukan lobang hawa!" "Kau bisa berbuat apa dengan lubang hawa itu, Siang-

siang aku juga sudah menemukan, Semua ada tiga lobang tapi dirimu tokh tidak bisa berubah menjadi binatang kecil lalu kau bisa keluar dari lubang sekecil itu."

"Kau ini bagaimana sih? Kita berdua terkurung dalam kamar tutupan, namun tampaknya sedikit pun tidak memiliki perasan?"

"Kau suruh aku berbuat bagaimana? memangnya aku harus bertekuk lutut dihadapanmu yang dibatasi oleh tembok dinding itu?"

Kalau aku bisa lihat kau, aku pasti sedikit memberi sedikit hajaran padamu seorang yang sombong, congkak?"

"Kau jangan banyak lagak siapa yang sombong congkak

?"

Sekarang Ho Kie mendadak ingat, bahwa suara itu

ternyata sama dengan suaranya si anak muda yang berdandan seperti anak sekolah yang mirip dengan Lim Kheng.

Dengan penuh perhatian ia berseru ; "Apakah Lim Kheng?" Orang itu ketawa geli. "MaAf, aku bukan seorang she Lim"

Ho Kie tercengang, ia mencoba sekali lagi :

"Lim Kheng, apa kau sudah tidak kenali suaraku? Aku Ho Kie di sini."

"Maaf, aku juga tidak kenal siapa Ho Cit atau Hopat."

Ho Kie menjadi gusar. Dengan gemas ia menggempur dinding dengan kepalannya.

tanpa memperdulikan runtuhnya reruntuh batu dinding, ia terus menggempur secara berulang-ulang, akan tetapi dindingnya sedikitpun tidak bergeming. Tapi Ho Kie yang keras kepala benar-benar tidak memperdulikan bisa membikin runtuh dinding itu atau tidak, terus menggempur tidak hentinya. sehingga benar saja. dalam kamar itu sudah penuh pecahan batu dan abu.

Mungkin karena lelah. Ho Kie berhenti sendiri, napasnya memburu.

Orang itu tidak mendengar suara Ho Kie lagi, ia lantas menegur sambil tertawa dingin;

"Mengapa tidak menggempur lagi? Kalau kau terus berbuat demikian, barangkali tidak usah menunggu tiga tahun, kau benar-benar sudah bisa bikin ambruk gedung ini. coba saja terus! Siapa tahu ?" Sehabis berkata demikian ia lantas tertawa bergelak.

Ho Kie yang sudah letih, membiarkan diri-nya diejek seolah-olah tidak mendengarnya.

Lama, setelah tenaganya pulih kembali, dengan tidak disengaja ia menemukan sebuah lubang anak kunci kecil, disebuah tempat yang sudah runtuh, ia telah mendapatkan suatu lubang kunci yang sangat terrahasia. Kalau tidak karena temboknya pada berarakan lubang itu sungguh tidak mudah dapat dilihat,

Ia lalu ingat pada kedua anak kunci emas yang didapatnya dari kotak kecil, ia lalu keluarkan dari sakunya dan dicoba satu demi satu kelubang itu.

Tiba-tiba terdengar suara Greeek, benar saja dinding itu telah memperlihatkan sebuah pintu. Dengan tidak berayal iagi Ho Kie lantas melompat masuk kedalam kamar disebelahnya sembari membentak :

"Bocah kau. "

Siapa nyana, ketika ia berhadapan dengan orang yang berada disebelah kamar, seketika lantas melongo dan tidak dapat melanjutkan ucapannya bahwa kagetnya.

Ho Kie anggap orang itu Lim Kheng, tapi sebenarnya ia itu adalah anak sekolah yang mirip Lim Kheng, maka ia berkata :

"Di Cit-cie-kang, Kau sudah kabur dari tanganku tapi sekarang kita sama terkurung dalam kamar ini, kemana kau mau lari?"

"Apa kau kira aku takut padamu ?" demikian jawab anak sekolah itu dengan tenang.

Ho Kie yang mengingat bagaimana dirinya telah dipermainkan oleh anak muda itu, ia sudah tidak dapat mengendalikan lagi amarannya. Dengan cepat ia mengulur tangan kirinya untuk menyambar tangan anak sekolah itu.

Anak muda berbaju putih itu mementang kipasnya menangkis tangan Ho Kie, kakinya bergerak secara cepat, dengan aneh pula telah berbelit kesamping.

"Kau cari mampus!" ia membentak keras. "Siapa mampus, siapa hidup? Sekarang masih terlalu pagi untuk diramalkan. Bocah tolol, sambuti seranganku!" jawab Ho Kie sumbil ketawa dingin.

Ia lantas maju menyerang dengan ilmu silatnya Hian- kui-cap-sa-sek-kin-na-khiu, ia ingin dalam segebrakan saja dapat menundukkan lawannya.

Tetapi- sang lawan secara indah sekali sudah dapat menghindarkan serangan Ho Kie.

Ho Kie terus mendesak dan melancarkan serangan bertubi-tubi, apa mau lawannya itu sangat licin. Ia terus terusan berkelit kesana kemari, kegesitannya ternyata tidak berada dibawahnya Lim Kheng.

Hampir sepuluh jurus Ho Kie telah melancarkan serangannya, tetapi semuanya dapat dielakkan oleh anak sekolah itu dengan caranya yang enak sekali.

Sambil ketawa dingin anak muda itu mengejek Ho Kie : "Hanya mempunyai kepandaian sebegini saja kau sudah

berani unjukkan diri didunia Kang-ouw. Hmm! Benar-benar tidak tahu diri."

Ho Kie yang sudah mendongkol benar-benar, lantas mengeluarkan tipu serangannya warisan Toan-theng Lojin yang dinamakan Tay-lek kim kong-ciang.

Benar saja, dengan menggunakan tipu serangan ini, telah membuat anak sekolah baju putih itu sukar menyingkirkan diri. maka terpaksa ia harus menyambuti dengan kekerasan.

Setelah kekuatan kedua tangan beradu, masing masing mundur satu tindak. Diantara sambaran angin dari beradunya serangan tersebut, lantas tercium hawa busuk yang  memenuhi  dalam  kamar.  Ho  Kie  terkejut,  dalam hatinya diam-diam telah berpikir. Apakah bocah ini bukan orang Hian kui kauw?

Selagi ia memikirkan diri lawannya, anak sekolah itu sudah menggetarkan badannya dan mencelat dari lubang pintu masuk kekamar bekas kurungan Ho Kie. Sambil membentak keras Ho kie mengejar, tetapi gerakan anak sekolah itu gesit sekali, sebentar saja sudah berada dipintu.

Ho kie coba mencegah sembari membentak: "Jangan bergerak! Pintu itu tidak boleh dibuka "

Tapi anak sekolah baju putih itu tanpa menghiraukan peringatan Ho Kie, dengan cepat tangannya sudah menarik pintu yang tertutup rapat.

Begitu pintu terbuka, dikamar sebelah, terlihatlah binatang semut yang bergerak-gerak diseluruh ruang dalam kamar itu.

Anak sekolah baju putih itu sambil ketawa lantas melesat dan di tengah udara ia memutar tubuhnya dengan menggunakanilmunya merembet ditembok, sekali bagus seklai ia sudah geser tubuhnya ke dekat pintu.

Ho Kie kesima menyaksikan perbuatan anak muda itu, ketika ia melongok kebawah, bangkai yang dikerubuti semut tadi ternyata cuma tinggal tulangnya saja dan binatang semut yang demikian banyaknya itu kini sudah mulai merayap masuk kedalam kamarnya.

Ia tidak berani meniru cara anak muda tadi, terpaksa mundur ke dalam kamar bekas terkurungnya anak muda tadi dan buru-buru menutup pintunya.

Dengan demikian, anak sekolah baju putih tadi sebaliknya sudah berhasil keluar dari dalam kurungan, sedang ia sendiri lantas terkurung sendirian dalam kamar kecil yang gelap itu.

Dengan perasaan sangat masgul ia duduk ditanah, mendadak ia ingat anak kuncinya. ia coba mencari cari lubang kunci, untung di situ juga terdapat sebuah lubang kunci.

Dengan tidak ayal lagi, ia keluarkan anak kuncinya...dimasukkan kedalam lubang kunci dan lantas telah terbuka sebuah pintu. Sinar yang dari luar situ lantas menyorot masuk, ternyata disitu terdapat sebuah lorong yang dikanan kirinya terdapat obor api. Disana pula menggeletak bergelimpangan enam-tujuh mayat manusia. Dengan demikian ia telah memperlihatkan segenap tempat tersebut.

Tanpa banyak berpikir pula Ho Kie lantas melewati dan lari mengikuti jalan lorong itu.

Disuatu tikungan, ia mendengar dari depannya seperti ada orang ketawa. Dengan cepat ia sembunyikan dirinya, badannya digeser maju dengan perlahan.

Ia mendengar ada seorang berkata dengan suaranya yang keras:

"Kalajengking emas pemunah racun itu adalah benda pusaka yang jarang terdapat dalam dunia. Aku siorang she Li dengan mengambil resiko menanam bibit permusuhan dengan orang-orang Hoa-san pay setelah aku membunuh mati Lo Su le, benda itu sekarang ada dibadanku. Kalau kalian tidak takut, kekuatan Tay-lek sin-koan ku kalian boleh mencoba."

Kemudian suata itu disusul oleh suara orang lain.

"Li tan cu, kita bukannya takuti kau! Sebetulnya karena melihat kau sedang terluka parah, tidak pantas kita turun tangan, sehingga kau nanti akan binasa dengan mata tidak meram "

Terdengar pula suaara orang yang pertama bicara; "Baik! kalau begitu, kalian boleh coba saja,"

Setelah suara ini berhenti, lalu disusul oleh suara menderunya angin dan beradunya tenaga......

Ho Kie karena mengira Lim Kheng ada di situ, maka tubuhtnya terus mendesak masuk kedalam,

Disitu ternyata adalah sebuah kamar yang luas, keadaannya terang benderang.

Baru saja ia tiba didepan pintu, tiba2 terdengar beradunya dua kekuatan tenaga yang keras, disusul oleh suara rubuhnya tubuh orang..........

Ho Kie terperanjat, ia tidak dapat menduga siapa adanya orang yang telah jatuh terluka itu. Mendadak ia mendengar suara orang berkata;

"Kalian orang-orang dari Hian kui-kauw semuanya ganas dan telengas. Aku siorang she Shao, meskipun tidak berguna, juga ingin mencoba-coba kekuatan kalian"

Ho Kie mendengar suara orang itu adalah suara si cebol Shao Cu Beng, seketika itu lantas masuk kedalam kamar. Disitu ternyata sudah terdapat banyak mayat yang berserakan di tanah, sedangkan Sam ciok Taoto tengah duduk bersamadi untuk mengatur pernapasannya.

Shao Cu Beng dengan mata beringas mengawasi seorang berewokan yang berbadan besar yang sedang berdiri dihadapannya,

Wajah orang itu keren sekali, usianya kira-kira 40 tahun. Dididpan dadanya sudah terdapat banyak darah, tetapi wajahnya masih bisa perlihatkan ketawa dingin. Munculnya Ho Kie secara tiba-tiba telah mengagetkan Shao Cu Beng dan orang tinggi besar itu.

Shao cu Beng menggeser tubuhnya dan mundur tiga tindak.

Ho Kie memandang mereka sambil tertawa dingin. Tidak usah menanya, ia sudah mengetahui bahwa orang laki berewokan itu adalah Li Hai Houw dan Shao Cu Beng semuanya tidak mengenal Ho Kie, sehingga mereka pada saling pandang, masing-masing pada menduga, siapakah yang akan dibantu oleh anak muda itu?

Ho Kie tiba2 bertanya kepada Lie Hui Houw ; "Apakah kau orang Hian kui kauw?"

Lie Hui Houw terkejut, ia buru buru siapkan diri, kemudian menjawab dengan suara dingin :

"Benar! Aku si orang she Lie, salah satu tancu dari Hian- kui-kauw,"

Ho Kie lalu berpaling dan berkata kepada sicebol. "Aku tahu, kau adalah Shao Cu Beng. betul tidak?"

Shao Cu Beng juga terkejut, buru buru ia melindungi dada dengan kedua tangannya dan menjawab :

"Benar! Bagaimana saudara kecil bisa mengetahui namaku?"

Ho Kie ketawa dingin, kemudian berkata, dengan perlahan lahan ;

"Hian-kui-kauw telah merusak ketentraman dunia, Sudah sepantasnya kalau ditumpas. Shao Cu Beng? kau bunuhlah dia!"

Lie Hui Houw terperanjat, dalam hatinya-berpikir : "Aku sudah terluka berat, anak buahku sudah terbinasa semuanya, Meskipun aku sudah berhasil melukai Sam-ciok Taoto, tetapi dengan Shao Cu Beng seorang saja sudah sukar melayani, dan bocah ini kelihatannya ada permusuhan dengan Hian-kui-kauw, pasti ada orang Hoa- san-pay, Kalau benar demikian, sangat berbahaya bagi diriku."

Sebaliknya bagi Shao Cu Beng, ia lantas bisa bernapas lega. Sambil ketawa ia menyahut :

"ucapan saudara kecil ini sedikitpun tidak salah. Dosanya Hian kui kauw sudah terlalu banyak. Sudah sepantasnya kalau ditumpas. Aku si orang she Shao, meskipun tidak berguna, ingin menghajar kaki tangannya Hian kui-kauw ini sampai mampus untuk mengamankan dunia rimba persilatan "

Ho Kie menjawab sambil ketawa dingin :

"Sungguh enak didengarnya perkataanmu, hanya saja aku mengetahui juga, kau ini ada seorang yang ganas dan telengas, lagi pula sangat licik, juga bukan merupakan manusia baik2. "

Shao Cu Beng wajahnya berubah seketika, dalam hati diam-diam berpikir : "Meskipun bocah ini tidak akan membantu ia, tetapi kelihatannya juga menghendaki kalajengking emas itu juga, maka aku harus menjaga jaga dirinya.

Ho Kie melihat berubahnya wajah sicebol.

"Kau jangan takut!" katanya ketawa. "Meskipun aku mengatakan kau bukan orang baik-baik, tetapi dengan kau, aku tidak mempunyai permusuhan apa-apa. Tidak nanti aku membantu dia untuk membinasakan kau!"

Hati Shao Cu Beng agak lega, maka lantas bisa berkata sambil tertawa bergelak-gelak: "Kalau begitu, saudara kecil bermaksud hendak menonton atau sebagai saksi kita?"

Shao Cu Beng diam-diam sudah mendapat pikiran, Sambil mengerahkan kekuatannya, perlahan-lahan ia mendekati Lie Hui Houw.

Lie Hui Houw merasa kuatir, ia coba menggertak padanya:

"Shao Cu Beng, kau jangan terlalu mendesak. Aku siorang tua she Lie juga tidak akan mandah dipermainkan begitu saja."

"Lie Tancu, dalam keadaan demikian ini aku tidak bisa berbuat lain. "

Shao Cu Beng seorang yang kejam. Baru saja ia menutup mulutnya, orangnya sudah menerjang Lie Hui Houw laksana macan kelaparan, sebentar saja ia sudah mengirim empat kali serangannya saling susul.

Serangannya itu semuanya ditujukan pada bagian-bagian terpenting didadanya Lie Hui Houw. sedikitpun ia tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk bergerak.

Lie Hui Houw terpaksa menggunakan sisa tenaganya yang penghabisan, sambil membelakangi tembok dia menyambuti serangan si cebol.

Ketika kekuatan kedua pihak itu beradu. Shao Cu Beng telah terpental mundur lima tindak, hampir saja jatuh ditanah, sedangkan Lie Hui Hauw, karena ia membelakangi dinding tidak mempunyai tempat mundur lagi, maka serangan si cebol itu telah membuat lukanya didalam bertambah hebat, sehingga mulutnya mengeluarkan darah.

Ho Kie yang menyaksikan hal itu, dalam hati merasa girang. Sambil bertepuk tangan ia berkata : "Benar! Shao Cu Beng! Hajarlah lagi Orang-orang Hian- kui-kauw harus dibunuh mampus semuanya."

Shao Cu Beng sangat girang, sambil menggeram hebat ia menyerang lagi.

Lie Hui Houw mengetahui bahwa dirinya sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi, maka sambil mengertek gigi ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya untuk menyambuti sekali lagi serangan sicebol.

Kali ini Shao Cu Beng telah dibikin terpental sejauh satu tombak lebih dan lantas terjatuh ditanah, sedangkan Lie Hui Hauw sendiri, lukanya bertambah parah, tenaganya sudah habis, maka setelah menyemburkan banyak darah, ia juga rubuh ditanah......

Dengan susah payah dan mengorbankan banyak jiwa, ia baru berhasil mendapatkan benda pusaka yang sangat langka itu. Kasihan baginya belum sampai ia keluar dari jalanan dibawah tanah, ia sudah terbinasa ditangan Shao Cu Beng.

Sebelum menarik napas yang penghabisan, ia masih bisa menanyakan pada Ho Kie dengan suara keras:

"Kau!...... Kau mempunyai permusuhan apa dengan Hian-kui kauw?"

"Dalam laksana lautan!" jawab Ho Kie dengan dingin.

Mendengar jawaban itu, Lie Hui Hauw lantas menggeram dan putus nyawanya.

Shao Cu Beng yang telah jatuh terluka parah, ketika menyaksikan Lie Hui Hauw sudah binasa dengan tidak memperdulikan lukanya sendiri, ia lantas merangkak menghampiri mayatnya Lie Hui Hauw. Dari saku mayat itu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbuat dan emas murni, tetapi sebelum ia pindahkan kedalam sakunya sendiri, Ho Kie sudah membentak:

"Bawa kemari,"

"Saudara kecil mau apa?" Shao Cu Beng masih berpura- pura bertanya:

"Kalajengking emas,"

"Apa saudara kecil ini adalah orang Hoa San pay ?" "Bukan!! Tetapi kalajengking emas ini juga bukan

kepunyaanmu, bagaimana kau dapat memilikinya?"

"Kalau begitu, kau juga mempunyai hati temaha hendak merampas benda pusaka ini."

"Ah, tidak!! Aku hanya tidak menginginkan benda ini terjatuh ditangan orang jahat dan ganas seperti kau ini."

Shao Cu Beng sudah mempunyai rencana sendiri, ia berpikir sejenak, sedikitpun tidak melawan. Tetapi baru saja ia hendak menyerahkan benda itu, tiba-tiba ditariknya kembali dan berkata:

"Kua telah menganggap aku seorang jahat, aku juga tidak membantah! Tetapi benda ini adalah benda pusaka yang jarang ada didalam dunia. Sebelum kau bawa pergi, bolehkah kau menyembuhkan lukanya sahabatku ini?"

Ho Kie mengerti bahwa sicebol ini tentu mempunyai maksud tertentu, tetapi karena sudah memajukan permintaan, hatinya lalu merasa tidak enak, maka ia lantas menjawab:

"Sebetulnya, Taoto ini juga bukannya orang baik, Tetapi karena mengingat benda ini kau dapatkan boleh merebut dari tangan Lie Hui Houw, baiklah!! Aku terima permintaanmu, menggunakan benda ini sekali saja." Shao Cu Beng lantas berdiri menghampiri Sam-ciok Taoto. Ia berlega mengobati Sam-ciok Taoto sambil berdiri membelakangi Ho Kie, tetapi kotak itu diam-diam telah dimasukkan kedalam sakunya.

Diam2 ia menotok jalan darahnya Sam-ciok Taoto itu supaya tidak banyak bicara-sehingga menggagalkan rencananya.

Ho Kie ingin melihat bagaimana ia mengobati kawannya memakai benda pusaka itu. Baru saja melongok sicebol yang kejam itu lantas membalikkan badan, dengan secepat kilat ia menyerang pusarnya Ho Kie.

Dalam keadaan tidak menduga duga itu, hampir saja Ho Kie terluka ditangannya. Untung ia keburu lompat mundur.

Shao Cu Beng yang melihat seranganna tidak berhasil, buru buru lantas angkat kaki hendak kabur.

Ho Kie gemas sekali melihat perbuatannya sicebol ini, maka lantas membentak. "Mau kemana?" kemudian sudah mengirimku satu serangan dahsyat.

Shao Cu Beng mengeluarkan satu jeritan ngeri, lalu mundur sempoyongan. Kedua tangannya menekap dadanya, keringat dingin mengucur dari jidatnya.

ooo0dw0ooo

MELIHAT KEADAAN Shao Cu Beng itu, ia seperti terkena serangan didepan pintu, Ho Kie merasa girang, maka lantas menjambret dirinya dan menampar pipinya sambil memaki :

"Manusia busuk!! Kau berani membokong-tuan rumah mudamu."

Shao Cu Beng mulutnya mengeluarkan darah, giginya rontok, tetapi ia masih bisa berkata, "Cilaka!! Ada setan. Ada setan!. "

Mendengar disebutnya setan, Ho Kie juga heran. Setelah menotok jalan darahnya si cebol, ia lalu melongok keluar.

Didepan pintu ternyata ada berdiri seorang tua yang rambutnya sudah putih semua dengan badan berlumuran darah.

Ho Kie terkejut, ia buru-buru kerahkan kekuatan dikedua lengannya dan lantas membentak dengan suara keras :

"Kau siapa?"

Orang tua itu kelihatan menggerakkan pundaknya lalu maju sempoyongan dan menjawab dengan suara dingin:

"Aku Lo Su le." "Lo So le?. "

Ho Kie terkejut tidak mengetahui siapa adanya Lo Su le, maka ia lantas mundur satu tindak.

Orang tua itu lantas anggukkan kepalanya lalu berkata pula dengan suaranya yang parau :

"Aku adalah Khungcu dari gedung ini. Aku telah binasa ditangannya Lie Hui Houw, Rohku belum buyar, maka aku hendak menagih jiwanya. "

Ho Kie mendadak ingat bahwa orang tua itu adalah yang telah meninggalkan surat di kamar bukunya untuk orang- orang Hoa-san-pay,

Meskipun bernyali besar, tetapi menyaksikan orang yang sudah mati bisa hidup kembali, bulu roma Ho Kie juga berdiri, dengan tidak dirasa ia lantas mundur lagi dua tindak sembari membentak:

"Kau mau apa?" "Aku hendak menuntut balas!" "Orang she Lie itu sudah binasa."

"Orang she Lie sudah binasa ? Aku hendak berhitungan dengan kau!" sehabis berkata orang tua itu lantas pentang kedua tangannya dengan gerakan yang kaku ia menerjang Ho Kie.

Dalam ketakutannya, Ho Kie menyambuti serangan orang tua dengan kedua tangan sambil memejamkan matanya.

Orang tua yang hidup kembali itu telah dibikin terpental dan jatuh disatu sudut karena serangan Ho Kie yang hebat. Tiba-tiba ia mendengar suara orang ketawa yang kemudian disusul oleh perkataannya;

"Benar-benar tidak mempunyai nyali. Baru melihat orang mati saja sudah ketakutan."

Ho Kie terperanjat, ketika membuka matanya, didepan telah berdiri seorang pemuda anak sekolah baju putih yang bukan lain adalah Lim Kheng.

Ia baru tersadar bahwa tadi semua adalah perbuatan nakal dari Lim Kheng ini yang bermaksud untuk menggoda dirinya.

Ho Kie merasa kurang senang, lalu berkata kepada kawannya itu :

"Barusan seandainya aku kesalahan tangan, bukankah akan mencelakakan diri Lim heng?"

"Baru saja ketakutan setengah mati, sekarang sudah omong besar! Kalau bukan aku, apa sisetan cebol ini kau kira mau balik mundur padamu? Kau tidak mengucapkan terima kasih padaku, sebaliknya menyesalkan aku." jawab Lim Kheng sambil tertawa cekikikan. "Orang she Lo itu toh sudah mati, buat apa kau permainkan mayatnya?"

"Orang she Lo dari Hoa san pay ini juga bukan manusia baik-baik. Didalam salah satu kamar gedung ini aku telah menemukan beberapa wanita muda cantik2. mereka itu semuanya adalah wanita baik-baik yang dirampas kemudian dibuat gundik oleh Lo Su Ie ... Oleh karena wanita-wanita itu aku telah membuang banyak waktu. Didalam pekarangan aku tidak dapat menemukan kau, dengan susah payah baru menemukan kuburan ini, dan kemudian tiba disini. Tidak nyana baru saja tiba diluar pintu, aku lantas dapat lihat sicebol ini telah menotok jalan darah si Taoto, setelah tidak berhasil membokong kau, lantas hendak kabur maka aku lantas menggunakan mayat Lo Su Ie untuk menakuti dia !"

Dari dalam sakunya Shao Cu Beng. H0 Kie mengambil kotak yang berisi kalajengking emas.

"Dua manusia ini juga bukan dari golongan baik2, kau pikir bagaimana membereskan mereka?"

"Mereka cuma karena temaha hendak memiliki benda pusaka itu saja, tidak ada kejahatan lainnya yang kita lihat, kita tutup saja pintu batu itu, biar mereka menentukan nasibnya sendiri."

Lim Kheng dan Ho Kie lalu turun tangan menutup pintu dari batu itu, kemudian berlalu dari tempat tersebut.

-oo0dw0oo-