Laron Penghisap Darah Bab 33 : Masa lalu Persekutuan Rajawali emas.

Bab 33: Masa lalu Persekutuan Rajawali emas.

"Kenapa semuanya kosong?" teriak Nyo Sin sambil mencak- mencak macam monyet kebakaran jenggot.

Tidak selang berapa saat kemudian seluruh peti besi yang ada dalam ruangan itu sudah dibongkar habis, tapi hampir semuanya merupakan peti-peti kosong.

Nyo Sin mulai kejang, sekujur badannya menjadi kaku kemudian gemetar keras.

Untuk sesaat suasana menjadi hening, sinar mata semua orang nyaris tertuju ke atas ke tujuh buah peti itu.

Tidak ada yang bicara, tidak ada yang bergerak, yang kedengaran hanya dengus napas yang memburu.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya seseorang memecahkan keheningan.

Orang itu adalah Liong Giok-po! Perkataan pertama yang muncul dari mulutnya adalah jeritan kaget:

"Mana harta karunnya? Dimana harta karunnya disimpan?"

Teriakan itupun sangat tajam dan melengking, jauh lebih tajam daripada hujan anak panah yang menyembur ke empat penjuru.

Nyo Sin yang menjawab duluan, dia tuding tumpukan peti itu sambil serunya:

"Ketika meninggalkan ruangan ini tempo hari, harta karun itu masih terletak dalam tujuh buah peti besi ditambah dua puluh tiga buah meja kecil, tapi sekarang. semuanya telah

hilang lenyap!"

"Sungguh?" teriak Liong Giok-po keras.

"Tentu saja sungguh!" jawab Nyo Sin sambil berteriak pula, "sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Tiba-tiba Liong Giok-po tertawa dingin.

"Kalau ingin tahu duduknya perkara, kau mesti bertanya kepada seseorang!"

"Siapa?"

"Dia!" sahut Liong Giok-po sambil menuding ke arah Siang Hu-hoa.

"Dia?"

"Betul dia, hanya dia seorang yang mengetahui duduknya perkara" seru Liong Giok-po lagi.

Dia maju dua langkah, kemudian sambil menunjukkan jari tangannya nyaring menempel diujung hidung Siang Huhoa, terusnya:

"Sebetulnya sudah kau larikan kemana harta karun itu?" "Aku tidak pernah menyentuh harta karun itu!" jawab Siang Hu-hoa tanpa perubahan mimik muka.

"Kau tidak membawa lari barang barang itu?" jengek Liong Giok-po, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, dibalik gelak tertawanya itu penuh mengandung nada ejekan dan sindiran.

Siang Huhoa tidak gusar, pun tidak ikut tertawa, dia masih berdiri tenang di tempat.

Selesai tertawa Liong Giok-po menarik kembali tangannya sambil bercekak pinggang, seakan-akan dia ingin mengucapkan sesuatu.

Tapi sebelum dia sempat berbicara, Nyo Sin sudah berteriak duluan:

"Atas dasar apa kau merasa begitu yakin kalau harta karun itu dilarikan dia?"

"Atas dasar apa?" "Betul, atas dasar apa?"

"Ada tiga alasan, pertama. Hanya dia yang bisa mengelabuhi pengawasan dan pengamatan para petugas jaga yang berpatroli dalam ruang perpustidakaan ini!"

"Ehmmm, dengan kehebatan ilmu silatnya memang tidak sulit baginya untuk melakukan hal seperti ini" Nyo Sin manggut-manggut.

Tapi kemudian dia menggeleng pula sambil katanya: "Alasan ini tidak cukup kuat, sebab orang yang hebat ilmu

silatnya bukan Cuma dia seorang"

Liong Giok-po tidak mencoba berdebat, kembali ujarnya: "Kedua, hanya dia seorang yang memahami cara untuk

membuka pintu rahasia itu, hanya dia yang bisa mematikan

alat jebakan serta memasuki ruang bawah tanah" "Alasanmu ini memang tepat sekali" kembali Nyo Sin manggut- manggut, "apakah kau masih memiliki alasan lain yang lebih bagus?"

"Masih ada satu lagi"

"Ehmmm, apa alasanmu yang ke tiga itu?"

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Liong Giok-po menatap wajah Siang Hu-hoa sekejap, kemudian teriaknya:

"Ke tiga, karena dia memang dasarnya seorang pencoleng!"

Kecuali Siang Huhoa, hampir semua orang dibuat tertegun setelah mendengar teriakan tersebut.

"Kau bilang dia dia adalah seorang pencoleng?" tanya

Nyo Sin dengan wajah penuh keraguan.

"Betul, bukan Cuma pencoleng kecil, dia bahkan seorang perampok ulung!" seru Liong Giok-po sambil manggut- manggut.

"Kau jangan sembarangan menuduh orang!" "Kau anggap aku adalah type manusia yang suka

sembarangan menuduh?"

"Apa buktinya kalau dia itu perampok?"

"Jika seorang perampok selesai melakukan kejahatannya masih meninggalkan bukti, maka dia tidak bisa disebut seorang perampok ulung"

"Lalu darimana kau bisa tahu kalau dia adalah seorang perampok ulung?"

"Aku harus melakukan penyelidikan hampir tiga tahun lamanya, setelah bersusah payah mengumpulkan saksi dan bukti barulah aku berani mengatakan secara begitu meyakinkan" Tiba-tiba Nyo Sin memperhatikan Liong Giok-po beberapa kali, mengamatinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, kemudian ujarnya:

"Rasanya kau tidak mirip seorang opas yang sedang melakukan penyelidikan"

"Aku memang bukan seorang opas"

"Kalau memang bukan opas, kenapa kau lakukan penyelidikan itu?"

"Sebab aku harus menyelidikinya hingga jelas!" "Kenapa?"

"Sebab aku punya ganjalan dengannya" "Ganjalan apa?"

"Dia pernah merampas barang milikku!" "Barang apa?"

"Intan permata dan emas perak yang tidak ternilai jumlahnya"

"Ach, masa ada kejadian seperti ini?"

"Aku memiliki sebuah kelebihan yakin tidak pernah suka berbohong"

"Oooh " Nyo Sin berseru tertahan, "oleh karena dia

pernah merampas intan permata, emas perak yang tidak ternilai harganya dari tanganmu, maka kau melakukan penyelidikan atas dirinya?"

"Benar!"

Nyo Sin manggut-manggut berulang kali.

"Kelihatannya apa yang kau katakan memang merupakan kejadian nyata" katanya, "kalau tidak, buat apa kau menyelidiki jejaknya hampir selama tiga tahun!" "Tepat sekali" Liong Giok-po tertawa dingin, "cuma terus terang, dalam tiga tahun ini aku bukan cuma menyelidiki dia seorang saja"

"Oya?"

"Selain dia, pada saat yang bersamaan aku pun menyelidiki seseorang yang lain"

"Siapakah orang itu?" "Jui Pak-hay!"

Untuk kesekian kalinya Nyo Sin berdiri termangu. Setelah tertawa dingin, Liong Giok-po berkata lebih jauh:

"Sebenarnya untuk melakukan penyelidikan aku tidak perlu menghabiskan waktu hingga tiga tahun lamanya, yang menjadi persoalan adalah sejak tiga tahun berselang mereka berdua sudah berselisih dan memisahkan diri, satu tinggal di utara yang lain tinggal di selatan, itulah sebabnya aku butuh waktu selama tiga tahun untuk berlarian antara utara dan selatan"

"Jadi kau mengatakan Jui Pak-hay pun seorang perampok ulung?" tanya Nyo Sin dengan nada penuh selidik.

"Betul, dia memang seorang perampok ulung!"

"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, seolah kau mengatakan bahwa Jui Pak-hay adalah komplotan dari Siang Huhoa?"

"Memang begitulah kenyataannya"

"Ada satu hal kau mesti menerangkan dulu sejelas- jelasnya!" seru Nyo Sin kemudian sambil menarik muka.

"Soal apa?"

"Kau harus bertanggung jawab terhadap setiap patah kata yang kau ucapkan" "Tentu saja aku akan bertanggung jawab"

"Baiklah" ujar Nyo Sin kemudian, "kau mengatakan Siang Huhoa dan Jui Pak-hay bekerja sama merampas intan permata, emas perak yang tidak ternilai harganya dari tanganmu, bukan begitu?"

"Sebenarnya intan permata, emas perak yang dirampok mereka itu bukan milikku seorang"

"Lalu milik berapa orang?" "Tiga orang"

"Siapa dua orang yang lain?" "Wan Kiam-peng dan Cu Hiap!"

"Oooh tidak heran kalau dalam surat wasiatnya Jui Pak-

hay mewariskan seluruh harta kekayaannya untuk kalian bertiga" seru Nyo Sin kemudian seakan baru menyadari akan sesuatu.

"Bukan diwariskan, tapi hanya mengembalikan barang- barang itu kepada pemilik lamanya"

"Kalau didengar dari nada pembicaraanmu, seakan semua yang kau tuduhan merupakan kejadian nyata?"

"Jika kau masih sangsi atau ragu, kenapa tidak ditanyakan kepada Siang Huhoa saja?"

Tanpa terasa Nyo Sin mengalihkan sinar matanya ke wajah Siang Huhoa, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, Liong Giok-po sambil menatap tajam wajah lelaki itu sudah berkata duluan:

"Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, kau seharusnya berani mengatakan hal yang sesungguhnya"

"Hmmm, kau tidak usah kuatir!" sahut Siang Huhoa sambil tertawa dingin. Nyo Sin segera maju mendekat, tegurnya kemudian: "Benarkah kau adalah seorang perampok ulung?"

"Boleh dibilang begitu" ternyata Siang Huhoa mengangguk membenarkan.

"Berarti Jui Pak-hay juga seorang perampok?" "Benar!"

"Wouw, kalau begitu selama ini aku salah menilai tentang dirimu" seru Nyo Sin sambil menghela napas panjang.

Siang Huhoa hanya tertawa hambar tanpa menjawab. Kembali Nyo Sin bertanya:

"Tiga tahun berselang benarkah kau pernah bekerja sama dengan Jui Pak-hay untuk merampok harta kekayaan milik Liong Giok-po bertiga?"

Siang Huhoa mengangguk.

"Berarti hasil rampokanmu itu tidak lain adalah harta karun yang tersimpan dalam ruang bawah tanah ini?" teriak Nyo Sin lagi dengan mata melotot.

"Kira-kira begitu"

"Kira-kira? Apakah masih tersimpan di tempat lain?

Bagianmu kau simpan di mana?"

"Aku tidak menyimpan sepotong pun!" "Oya?"

"Sejak awal hingga sekarang, tidak sepotong benda pun yang pernah berada dalam genggamanku"

"Berarti sudah diambil semua oleh Jui Pak-hay?" "Betul"

"Siapa yang merencanakan perampokan waktu itu?" "Dia!"

"Sebagai komplotannya, keuntungan apa yang telah kau peroleh?"

"Tidak ada keuntungan yang kuperoleh, sebaliknya aku justru kehilangan sesuatu"

"Kehilangan apa?" "Teman, seorang teman!" "Jui Pak-hay?"

Siang Huhoa membungkam tanpa menjawab.

Dengan mata melotot Nyo Sin mengawasinya, kemudian setelah menggeleng ujarnya:

"Tampaknya kau belum cukup canggih untuk menjadi seorang perampok ulung"

Siang Huhoa hanya tertawa hambar.

"Masa kau biarkan dia mengangkut semua hasil rampokan itu?" sekali lagi Nyo Sin menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Setelah dia pergi lama sekali, aku baru menyadari akan hal ini"

"Waah...waaah tidak nyana meski gerakan tubuhmu

lincah dan gesit, ternyata otakmu tidak cukup cekatan"

TjanID

"Bukannya kurang cekatan tapi selalu dirundung penyakit, penyakit lama"

"Penyakit lama? Penyakit apa?" tanya Nyo Sin keheranan. "Kelewat percaya dengan teman, khususnya terhadap

teman lama"

"Percaya dengan teman pun kau anggap sebuah penyakit?" "Bukan cuma penyakit, bahkan penyakit yang mematikan!" sahut Siang Huhoa sambil m anggut manggut.

Setelah tertawa hambar terusnya:

"Untung penyakit lamaku itu sekarang sudah mulai sembuh, bahkan delapan puluh persen sudah sembuh"

"Kenapa tidak kau kejar balik barang-barang itu?" tanya Nyo Sin lagi.

Kembali Siang Huhoa tertawa.

"Bagaimana pun juga toh barang itu bukan milikku, jika dia suka, biar saja dibawa lari olehnya"

"Kelihatannya kau selalu royal terhadap barang milik orang lain"

"Yaa. Tentu saja, apalagi gara-gara peristiwa ini aku pun dapat mengenali wajah asli seorang sahabatku, bukankah hasil yang kuraih cukup besar?"

Nyo Sin manggut-manggut, mendadak dia menarik muka dan berseru:

"Tahukah kau bahwa setiap orang yang berani melakukan kejahatan, dia akan diganjar hukuman sesuai dengan peraturan negara?"

"Aku tahu"

Nyo Sin tertegun sesaat, kemudian teriaknya:

"Sudah tahu aturan negara masih melanggar hukum, dosa kesalahanmu bertambah berat, tahukah kau akan hal ini?"

"Tentu saja tahu" "Kau "

Baru sepatah kata dia berseru, Siang Huhoa sudah menukas pembicaraannya: "Aku percaya kau pasti sangat menguasai soal hukum dan peraturan bukan?"

"Tentu saja"

"Kalau begitu aku pingin bertanya satu hal dulu kepadamu" "Katakan!"

"Merampas barang hasil rampokan apakah termasuk perbuatan yang melanggar hukum juga?"

"Soal ini " Nyo Sin agak tertegun, "aku rasa hitam

makan hitam pun termasuk sebuah perbuatan yang melanggar hukum!"

"Jika aku pun seorang pencoleng, tentu saja kejadian semacam ini pantas disebut hitam makan hitam" seru Siang Huhoa sambil tertawa.

"Selama fakta dan bukti berbicara begitu, tetap kejadian ini disebut hitam makan hitam" timbrung Ko Thian-liok tiba-tiba sambil tertawa.

"Kalau tidak ada bukti dan fakta, berarti bukan?" "Kecuali barang hasil rampasan diserahkan kepada pihak

hukum kemudian dikembalikan kepada pemilik sesungguhnya" Ko Thian-liok menerangkan.

"Kalau mesti berbuat begitu, tampaknya aku tidak bisa menghindar untuk tetap menyandang predikat sebagai seorang perampok?"

Ko Thian-liok mengangguk.

"Aku tahu orang persilatan punya tradisi membantu kaum lemah menindas kaum kuat, padahal perbuatan semacam ini sesungguhnya merupakan perbuatan yang melanggar hukum, membasmi kejahatan merupakan tugas kaum berwajib, tanggung jawab negara"

"Semestinya harus begitu" Tiba-tiba Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya lagi:

"Sayangnya, petugas negara kebanyakan bernyali kecil dan takut urusan, orang yang benar-benar mau bertanggung jawab sedikit sekali jumlahnya"

"Soal ini aku mengerti"

"Itulah sebabnya banyak bermunculan kaum pendekar yang membantu kaum lemah menindas kaum kuat, dalam hal ini, selama persoalan tidak saling bergesekan dengan kepentingan negara, biasanya pihak berwajib tidak akan turut mencampurinya"

"Rasanya memang begitu"

"Biarpun secara hukum perbuatan orang orang itu bisa dikatakan salah, tapi secara kemanusiaan bisa dianggap benar sekali" Ko Thian-liok menambahkan.

"Kalau begitu aku boleh merasa lega hati sekarang" seru Siang Huhoa tertawa.

Mendadak terdengar Nyo Sin menyela:

"Tadi kau bilang hanya merampas hasil jarahan orang, bukankah perkataanmu itu sama artinya dengan menuduh Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap sebagai kaum penyamun?"

"Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada yang bersangkutan?" sahut Siang Huhoa cepat, kemudian sambil menatap wajah Liong Giok-po tambahnya, "seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, bukankah itu yang kau katakan tadi?"

"Hahahaha soal inipun kau tidak perlu kuatir" jawab

Liong Giok-po sambil tertawa seram. "Tentu saja aku tidak perlu kuatir" "Padahal kejadian yang sesungguhnya adalah begini "

"Bagaimana?"

"Kalian pernah mendengar tentang Persekutuan rajawali mas?" tanya Liong Giok-po setelah termenung dan berpikir sejenak.

Persekutuan rajawali mas dari gurun utara?" tanya Nyo Sin dengan wajah berubah.

"Benar!"

"Menurut apa yang kuketahui, persekutuan itu merupakan sebuah organisasi penjahat yang paling besar di kolong langit"

"Betul" Liong Giok-po mengangguk, "Persekutuan rajawali mas terdiri dari dua belas orang jago berilmu tinggi yang menyebut diri sebagai dua belas rajawali mas, mereka merupakan satu kelompok besar penyamun yang banyak melakukan kejahatan. Dibawah pimpinan mereka terdapat satu dua ribu orang pencoleng yang datang dari pelbagai daerah. Oleh karena organisasi ini dididirikan jauh di utara gurun pasir, maka selama ini pihak kerajaan tidak mampu berbuat banyak terhadap ulah mereka"

"Benar, rasanya memang begitu"

"Selama puluhan tahun berpetualang menjelajahi seluruh negeri, dua belas rajawali mas berhasil mengumpulkan begitu banyak intan permata, emas, perak serta barang berharga lainnya hingga mencapai satu nilai yang luar biasa, mereka simpan harta karun itu disebuah tempat yang sangat rahasia bahkan ruang rahasia itu dilengkapi dengan pelbagai alat perangkap dan jebakan yang mengerikan, mereka sebut tempat itu sebagai Gudang harta rajawali mas"

Setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, kembali dia melanjutkan: "Ketika berita ini tersiar luas dalam dunia persilatan, muncul banyak jago yang mengincar harta karun itu, namun tidak ada yang berani bertindak secara gegabah, sebab tenaga gabungan ke dua belas rajawali mas itu luar biasa hebatnya, jarang ada orang yang mampu menahan serangan gabungan mereka"

"Masa begitu hebat?" seru Nyo Sin tidak percaya. "Hmm, tidak ada larangan bagimu untuk tidak percaya"

jengek Liong Giok-po ketus.

Nyo Sin kontan saja terbungkam. Kembali Liong Giok-po berkata:

"Dua belas rajawali mas sebenarnya merupakan saudara angkat, hubungan mereka boleh dibilang sangat bagus, tapi sayangnya dengan saudara kandungpun kadangkala kita

bisa bentrok apalagi dengan saudara angkat........

"Akhirnya pada tiga tahun berselang, ke dua belas rajawali emas itu terpecah menjadi dua rombongan dan saling gontok- gontokan sendiri, akibatnya persekutuan Rajawali emas mengalami pukulan yang fatal, dari dua belas orang rajawali emas yang memimpin persekutuan itu tinggal enam orang yang hidup, itupun dua diantaranya sudah menderita luka yang sangat parah.

"Begitu kabar berita ini tersiar dalam dunia persilatan, musuh musuh besar yang pernah disakiti atau menderita karena ulah merekapun segera berbondondong-bondong datang menuntut balas, maka mereka pun berusaha untuk merahasiakan jejak dan menghindari pembalasan dendam itu, tapi yang jadi masalah adalah ada satu kelompok kekuatan yang belum terbasmi tuntas, diantaranya ada lima enam orang berhasil melarikan diri, dari mulut mereka inilah berita tersebut akhirnya tersiar luas" Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia sudah tiba didepan dinding ruangan, maka terusnya:

"Waktu itu, kebetulan aku bersama berapa orang saudara angkatku berada di sekitar tempat kejadian "

"Oooh, jadi kaupun mempunyai saudara angkat?" timbrung Nyo Sin.

"Benar, semuanya kami berenam, enam orang saudara angkat!"

"Berarti tujuh orang berikut dirimu?" "Benar!"

"Kalau begitu Wan Kiam-peng dan Cu Hiap juga termasuk saudara angkatmu?"

"Benar"

"Apakah kalian pun termasuk musuh besar persekutuan rajawali emas?" kembali Nyo Sin bertanya.

"Bukan!" Liong Giok-po menggeleng.

Baru saja Nyo Sin ingin menanyakan sesuatu lagi, Liong Giok-po sudah keburu berkata lagi:

"Walaupun kami bertujuh mengetahui juga tentang harta karun milik Persekutuan rajawali mas, waktu itu sebetulnya tidak terlintas pikiran untuk mendapatkan harta karun itu, hingga berita tentang perpecahan tersiar keluar, kami baru terpancing untuk mendapatkan harta karun tersebut"

Pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya, lalu berkata lebih jauh:

"Akhirnya kami berhasil menemukan salah seorang yang berhasil kabur dari markas besar persekutuan rajawali mas, setelah menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya, kamipun paksa dia untuk menghantar ke markas besar Kim tiau beng (persekutuan rajawali mas)" Ketika bercerita sampai disini, emosinya kembali bergolak, terusnya:

"Dibimbing oleh orang itu, dengan sangat mudah kami berhasil menyusup masuk ke daerah terlarang markas kim tiau beng, dengan melakukan serangan secara tiba-tiba dan tidak terduga ketika kami serbu ke dalam markas mereka, kami membantai ke enam orang sisa rajawali yang masih hidup dan berhasil tiba di ruang rahasia tempat harta karun itu disimpan"

"Maka harta karun peninggalan Kim tiau beng itupun terjatuh ke tangan kalian?" seru Nyo Sin cepat.

Perlahan Liong Giok-po mengangguk:

"Sekalipun begitu, dari tujuh bersaudara kini tinggal tiga orang yang masih hidup" katanya.

"Cu Hiap, Wan Kiam-peng dan kau?"

"Benar. Disaat memusnahkan alat jebakan yang ada dalam ruang rahasia itu, karena kurang hati hati Cu Hiap terhajar oleh hujan anak panah sehingga dia kehilangan separuh nyawanya"

0-0-0