Laron Penghisap Darah Bab 32 : Tujuh peti harta karun.

Bab 32: Tujuh peti harta karun.

Ko Thian-liok tertawa hambar.

"Bagaimana pun juga sekarang toh tidak ada urusan lain, biar akupun ikut serta dalam peninjauan ini" katanya. Liong Giok-po tampak tertegun ketika mendengar ucapan tersebut.

Nyo Sin yang berdiri disampingnya ikut terperanjat, buru- buru cegahnya sembari menggoyangkan tangannya berulang kali:

"Tayjin, jangan turut ke sana, jangan turut ke sana" "Kenapa tidak boleh ikut?"

"Ruang bawah tanah itu dipenuhi alat jebakan yang sangat mengerikan, setiap saat jiwa kita terancam bahaya, tayjin adalah seorang pejabat tinggi, buat apa mesti turut mempertaruhkan nyawa untuk mengunjungi tempat semacam itu?"

"Aku justru pingin menambah pengalaman khususnya dalam menghadapi alat perangkap itu" sahut Ko Thian-liok sambil tertawa.

"Tentang ini "

"Apalagi ada saudara Siang yang menampingi aku" tukas Ko Thian-liok lagi, "biar ada bahaya pun aku rasa tidak akan sedemikian gawatnya bahaya itu"

"Tentang ini "

"Sudah, jangan ini itu terus, cepat sampaikan perintahku, suruh orang siapkan tandu"

Jawaban itu diutarakan sangat tegas. Terpaksa Nyo Sin menganggukkan kepalanya: "Terima perintah!"

Kembali Ko Thian-liok berpesan:

"Lebih baik gunakan tandu biasa, jangan sampai mengejutkan khalayak ramai"

"Berapa orang yang akan dibawa?" "Apakah Tu Siau-thian sudah kembali?" Ko Thian-liok balik bertanya.

"Sewaktu Liong kongcu muncul disini, hamba telah mengutus orang untuk memanggilnya tapi dia belum kembali, entah kalau sekarang"

"Kalau begitu kirim orang untuk memanggilnya, jika dia belum juga kembali, kau dan Yau Kun berdua saja yang ikut aku"

Nyo Sin kembali menyahut dan segera mengundurkan diri dari ruangan.

Memandang bayangan punggung Nyo Sin yang menjauh, Ko Thian-liok termenung sejenak lalu gumamnya:

"Aneh benar Tu Siau-thian ini, entah ke mana dia telah pergi?"

"Mungkin dia benar-benar telah berhasil melacak suatu titik terang" sahut Siang Hu-hoa.

"Seandainya benar begitu, dia sudah sepantasnya kalau dihubungi”

"Atau bisa jadi dia menemukan titik jejak ditengah jalan dan mesti dikuntit terus, maka dia pergi tanpa sempat memberi kabar terlebih dulu"

"Kalau melacak sesuatu seorang diri, nyawanya gampang terancam, biarpun dia berhasil menemukan sesuatu, kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, apalah gunanya hasil penemuan itu?"

"Selama ini opas Tu selalu bertindak sangat hati hati, aku yakin dalam tindakannya kali ini dia bisa lebih berhati hati lagi"

"Justru yang aku kuatirkan adalah biar sudah berhati hati pun tidak ada gunanya"

Sesudah berhenti sejenak, kembali ujarnya: "Kita semua harus sadar, tersangka yang sedang kita hadapi kali ini bukanlah tersangka biasa"

"Tapi masalahnya sudah berkembang jadi begini rupa, biar kita mau kuatir pun rasanya percuma saja "

Ko Thian-liok menghela napas panjang dan manggut- manggut.

Siang Huhoa juga tidak berbicara lagi, dia buang pandangan matanya ke luar jendela.

Malam hari sudah semakin kelam, saat itu meski hujan telah berhenti namun hembusan angin masih terasa kencang.

Perlahan-lahan awan gelap mulai tersingkirkan, rembulan pun muncul kembali dari balik awan.

Siang Huhoa hanya berharap peristiwa pembunuhan ini mulai menunjukkan titik terang, selangkah demi selangkah masalahnya makin terkuak.

Benarkah Tu Siau-thian telah menemukan sesuatu yang luar biasa?

Siang Huhoa tidak dapat menjawab pertanyaan itu, lalu siapa yang bisa menjawabnya?

Hanya satu orang! 0-0-0

Tu Siau-thian memang berhasil menemukan sesuatu.

Sayangnya, penemuan sehebat apapun yang berhasil dia kumpulkan, saat ini sudah tidak mungkin bisa dibawa pulang lagi. Peristiwa ini bukannya mulai menunjukkan titik terang seperti apa yang diduga Siang Huhoa, sebaliknya justru bertambah rumit dan bertambah kacau.

Terutama ketika Siang Huhoa balik lagi ke perkampungan Ki-po-cay, kepalanya semakin dibikin pusing lagi oleh masalah yang harus dihadapi.

Dalam perkampungan Ki po cay kembali terjadi peristiwa besar.

Peristiwa besar itu justru terjadi di dalam ruang rahasia di bawah perkampungan Ki po cay.

Alat perangkap yang ada dalam ruang bawah tanah itu semuanya masih berjalan normal, tapi ketika mereka memasuki ruang rahasia tersebut, seluruh harta karun yang semula memenuhi ruangan, kini hilang lenyap tidak berbekas.

Lenyap dengan begitu saja bagaikan gumpalan asap.

Seluruh perlengkapan dan alat jebakan yang terpasang dalam ruang rahasia itu tidak menunjukkan ada masalah.

Ketika dengan sepenuh tenaga Siang Hu-hoa menggetarkan tombol rahasia di balik dinding ruangan, ke dua pintu rahasia yang bergantungkan ukiran Mi lek Hud dan Kwan-im bertangan seribu itu segera terbuka bersama-sama.

Ketika dia mendorong lengan Kwan-im bertangan seribu ke atas maka dari balik mata patung itu segera meloncat keluar dua buah biji matanya.

Sepasang biji mata yang sebenarnya terbuat dari bahan baja.

Tidak lama kemudian berkumandanglah suara mencicit seperti suara serombongan tikus yang sedang mengunyah bangkai, suara itu timbul dari balik lorong rahasia. Tidak ada rombongan tikus yang muncul disitu, suara tersebut berasal dari suara gesekan alat rahasia yang mengendalikan buka tutupnya pintu-pintu dalam ruangan.

Setelah mendapat pengalaman satu kali, kali ini Siang Huhoa dapat menghadapi semuanya dengan lebih gampang.

Setelah suara aneh itu bergema lewat, diapun melangkah masuk ke balik pintu rahasia.

Tidak ada hujan panah, tidak ada juga hujan pisau terbang.

Sama seperti tempo hari, semua alat rahasia berjalan lancar dan tidak menunjukkan gejala yang aneh.

Nyo Sin merupakan orang ke dua yang melangkah masuk ke dalam ruang rahasia.

Dia berjaga-jaga didepan Ko Thian-liok, dalam keadaan begini, biar nyalinya agak kecil pun terpaksa harus tampil dengan membesarkan keberaniannya.

Apalagi dia tahu Siang Huhoa mengikuti di belakangnya, sedikit banyak keselamatan jiwanya agak terjamin.

Liong Giok-po merupakan orang ke tiga yang masuk, dia melangkah sangat hati-hati, mengikuti ketat persis di belakang Nyo Sin.

Tidak ada orang yang bisa menyaksikan mimik mukanya, selama ini topi bambu dan kain kerudung wajahnya memang tidak pernah dilepaskan lagi.

Padahal biarpun dia lepaskan kain kerudungnya, sulit juga bagi orang lain untuk membedakan perubahan wajahnya.

Sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, pujinya: "Sungguh hebat alat perangkap yang dipasang disini"

Nyo Sin hanya mengiakan, sementara Siang Huhoa tidak memberi pernyataan apa pun, dia masih melanjutkan langkahnya. Pertanyaan yang diajukan Liong Giok-po tadi sesungguhnya memang ditujukan kepada Siang Huhoa, tapi melihat lelaki itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dia pun memperkeras suaranya:

"Saudara Siang, sudah kau dengar pertanyaanku?" "Ooh, rupanya kau sedang bicara padaku?" "Benar"

"Bukankah komandan Nyo sudah mewakili aku untuk menjawabnya?"

"Masih ada yang ingin kutanyakan"

"Kalau begitu katakan saja" jawab Siang Huhoa sambil menghentikan langkahnya.

"Kita bisa berbicara sambil melanjutkan perjalanan" "Sayang aku tidak memiliki nyali sebesar itu" "Oya?"

"Aku belum menguasai penuh atas alat perangkap yang terpasang disini, sewaktu berbicara, perhatianku pasti akan bercabang, kalau sampai salah melangkah, kita beberapa orang bakal celaka disini"

Belum sempat Liong Giok-po berbicara lagi, Nyo Sin yang sudah berjalan mendahului ke dua orang itu segera berteriak keras:

"Kalau ada yang mau dibicarakan lebih baik dibicarakan nanti saja, jangan main-main dengan alat perangkap yang dibuat Jui Pak-hay"

"Tampaknya kau seperti sudah mengetahui kehebatan dari alat perangkap ini?" ejek Liong Giok-po sambil tertawa.

"Tentu saja aku tahu: "Memangnya pernah merasakan kehebatan alat perangkap itu?"

"Tempo hari aku nyaris dihajar hujan panah yang ditembakkan alat perangkap itu, tubuhku nyaris berubah menjadi landak"

"Lalu berapa batang anak panah yang bersarang ditubuhmu?"

"Satu pun tidak ada"

"Waah, hebat sekali kepandaianmu!"

"Bukan aku yang hebat, coba kalau bukan saudara Siang yang menarikku tepat pada saatnya, mungkin badanku sudah menjadi separuh landak"

"Mangkanya kau hanya mengintil terus kali ini?" "Aku "

"Hahaha ternyata kau memang orang pintar" kembali

Liong Giok-po mengejek sambil tertawa tergelak.

Nyo Sin segera membungkam diri dalam seribu basa, sementara Liong Giok-po juga tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya menengok ke arah Siang Hu-hoa.

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan kepadaku?" Siang Huhoa segera menegur.

"Sebenarnya bukan apa apa, aku hanya ingin tahu darimana kau pelajari ilmu jebakan? Kenapa kau seperti begitu hapal dengan alat perangkap yang terpasang disini?"

"Siapa bilang aku hapal?"

"Bukankah sekarang kau bisa membuka pintu rahasia itu secara mudah, mematikan semua alat perangkap dan masuk kemari secara bebas?"

"Kenyataan memang begitu" "Kalau tidak hapal, kenapa bisa masuk secara mudah?" "Tampaknya kau telah melupakan sesuatu"

"Soal apa?"

"Bukankah pernah kubilang, kami pernah berkunjung kemari satu kali?"

Kemudian setelah tertawa dingin katanya lagi:

"Dengan pengalaman satu kali, bila datang untuk kedua kalinya segala sesuatu pasti akan lebih gampang lagi"

"Benarkah begitu?"

"Apa lagi yang ingin kau ketahui?"

"Sejak awal hingga sekarang sudah berapa kali kau masuk kemari?" kembali Liong Giok-po bertanya.

"Termasuk kali ini, aku sudah dua kali memasuki tempat ini"

"Maksudmu setelah masuk pertama kali dulu, kau tidak pernah memasuki tempat ini lagi?"

"Tidak pernah"

"Selama beberapa hari tinggal di perkampungan Ki po cay, masa kau tidak melakukan penyelidikan lagi terhadap ruang bawah tanah ini?"

"Tidak"

"Memangnya kau anggap ruang bawah tanah ini tidak ada yang patut dicurigai?"

"Bukan begitu"

"Lalu apa alasannya?"

"Selama beberapa hari ini Ko tayjin tidak punya waktu, opas Nyo dan opas Tu juga tidak punya waktu senggang" Ko Thian-liok yang berdiri di belakang mereka segera menimpali:

"Kenyataan memang demikian, selama beberapa hari terakhir di dalam kota telah terjadi lagi beberapa kasus yang harus kami tangani sendiri, jadi aku tidak punya waktu untuk melakukan penyelidikan, begitu juga halnya dengan opas Nyo dan opas Tu"

"Lalu apa hubungannya soal ini dengan kehadiran mereka?"

"Jelas sangat besar, ruangan ini dipenuhi harta karun yang tidak ternilai harganya, tanpa didampingi pejabat negara, siapa yang berani memasukinya secara sembarangan?"

"Oooh, jadi kau berusaha menghindari tuduhan dan kecurigaan?"

"Benar"

"Selama beberapa hari berdiam di perkampungan Ki po cay, apakah ada petugas negara yang mendampingi mu?" kembali Liong Giok-po bertanya.

"Ada!"

"Selama beberapa hari ini aku selalu mendampingi Siang tayhiap" Yau Kun yang mengikuti dipaling belakang segera menyahut.

"Menjalankan perintah?" desak Liong Giok-po.

Perasaan jengah dan kikuk segera menghiasi wajah Yau Kun, dia tidak menjawab.

Membungkam sama artinya dengan mengakui. "Melaksanakan perintah siapa?" desak Liong Giok-po lebih

jauh.

Yau Kun tetap tidak menjawab, maka Nyo Sin yang menjawab: "Semua ini atas usul Tu Siau-thian, dia menganggap cara begini lebih baik dan sesuai"

"Jadi maksudmu dia tidak percaya dengan Siang Huhoa?" "Dalam menghadapi kasus macam apa pun, sebelum

duduknya persoalan jadi jelas, kita memang tidak boleh percaya kepada siapa pun"

"Tampaknya rasa curigamu amat besar"

"Paling tidak kau berapa kali lipat lebih hebat daripada diriku"

Liong Giok-po tertawa hambar, kembali tanyanya: "Apakah pihak kerajaan mengutus petugas untuk menjaga

sekeliling ruangan ini?"

"Ada empat orang"

"Bagaimana cara mereka menjaga?"

"Mereka bertugas secara bergilir, siang malam tidak pernah meninggalkan ruangan ini barang selangkah pun"

"Bagaimana kemampuan orang orang itu?"

"Biarpun kepandaian silat mereka bukan termasuk yang paling baik, namun ke empat orang itu merupakan anak buahku yang terpandai"

"Bagaimana kalau mereka dibandingkan Yau Kun?" Liong Giok-po bertanya lebih jauh.

"Tentu saja Yau Kun jauh lebih hebat" Mendadak Liong Giok-po tertawa tergelak, serunya:

"Moga moga saja mereka berlima sanggup mengawasi terus semua gerak gerik Siang Huhoa"

Nyo Sin tidak menjawab, dia memang tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan itu, sebab bila harus menjawab secara terus terang, dia memang tidak seratus persen yakin dengan kemampuan yang dimiliki Yau Kun berlima.

Tentu saja dia berpendapat begitu, karena dia pernah menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimiliki lelaki itu.

Siang Hu-hoa tidak berbicara pula, dia hanya tertawa dingin tiada hentinya.

Sekali lagi Liong Giok-po tertawa, ujarnya kepada Siang Hu- hoa:

"Dengan kemampuan yang Siang-heng miliki, sanggupkah kau untuk menyingkirkan pengawasan dari ke lima orang itu?"

Siang Huhoa hanya tertawa dingin tanpa menjawab.

Melihat tiada jawaban dari lawannya, Liong Giok-po segera menjawab sendiri pertanyaan itu:

"Tentu saja kau mampu melakukan hal itu, asal Siang-heng ingin melakukannya, jangan lagi baru lima orang, biar lima puluh orang pun aku percaya masih belum mampu untuk mengawasi semua gerak geriknya"

Siang Huhoa tetap tidak menjawab, dia cuma tertawa dingin.

"Sekarang, lebih baik kau berharap agar semua harta karun itu masih tetap tersimpan dengan aman didalam ruang bawah tanah" kembali Liong Giok-po berseru.

"Tentu saja aku berharap begitu"

"Kalau sampai hilang, aku jadi menguatirkan dirimu "

"Kau tidak perlu merasa kuatir"

"Sebelum menyaksikan sendiri tumpukan harta karun itu, aku tetap merasa kuatir"

Sekali lagi Siang Hu-hoa tertawa dingin, tanpa membuang waktu lagi dia segera melangkah pergi. 0-0-0

Lorong itu panjangnya cuma dua kaki.

Hanya didalam berapa langkah Siang Hu-hoa sudah tiba diujung lorong itu, kini dihadapannya adalah sebuah undak- undakan batu.

Undak-undakan itupun tidak terlalu panjang, hanya terdiri dari tiga puluh anak tangga.

Ujung anak tangga merupakan sebuah pintu baru, pintu itu dalam keadaan terbuka, cahaya lentera yang redup menembus keluar dari balik pintu.

Siang Huhoa segera menuruni anak tangga dan masuk ke balik pintu ruangan, tapi dengan cepat dia berdiri terkesima, matanya terbelalak dan mulutnya melongo.

Padahal dia masih ingat dengan jelas, waktu itu mereka tinggalkan ruang rahasia ini karena dari balik pintu sudah terdengar suara gemerutuk yang aneh.

Bahkan dia masih ingat, ketika mereka baru saja meninggalkan pintu ruangan, ke dua belah pintu batu itu merapat dengan perlahan.

Kenapa pintu itu dalam keadaan terbuka sekarang?

Mengapa bisa begitu? Apa yang terjadi?

Atau mungkin kedua belah pintu waktu itu sudah dilengkapi dengan waktu sehingga ketika sampai pada waktu tertentu maka pintu tersebut secara otomatis akan terbuka, kemudian ketika waktu sudah lewat, pintu itu secara otomatis menutup kembali? Atau mungkin diruang bawah tanah dia telah melengkapi lagi dengan alat khusus sehingga ketika mereka melalui suatu tempat tertentu, pintu itu secara otomatis membuka sendiri?

Dia tidak yakin akan hal itu, diapun tidak percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat orang yang mampu membuat peralatan secanggih ini.

Agaknya Nyo Sin juga melihat gegagat yang kurang beres, segera jeritnya:

"Sewaktu meninggalkan ruangan ini, bukankah pintu rahasia dalam keadaan tertutup? Kenapa sekarang berada dalam keadaan terbuka?"

"Aku sendiripun tidak habis mengerti" Siang Huhoa menggeleng.

"Jangan-jangan memang sudah terjadi sesuatu di sini?" "Asal kita masuk ke dalam, bukankah semuanya akan

menjadi jelas?"

"Kalau begitu cepat kita masuk ke dalam"

Biarpun dia berteriak nyaring, namun sepasang kakinya seakan sudah berakar disitu, sama sekali tidak bergerak.

Dia tidak bergerak, Siang Huhoa justru bergerak sangat cepat, dia langsung menerobos masuk ke ruang dalam.

Cahaya lentera masih bersinar menerangi seluruh ruangan.

Tapi begitu menyelinap masuk ke dalam, Siang Huhoa segera berdiri tertegun bagaikan sebuah patung.

Semua perabot dalam ruangan itu masih utuh tidak bergeser, namun harta karun yang tidak ternilai jumlahnya itu justru sudah lenyap tidak berbekas, tidak tertinggal sepotong pun.

Ke mana kaburnya harta karun itu? Seluruh dinding ruangan terbungkus kain sutera yang halus, permukaan lantai dihiasi permadani berwarna merah darah, hampir semua perabot yang terletidak dalam ruangan itu sangat indah, mewah dan antik.

Lentera berada persis di tengah ruangan. Lentera itu semuanya berjumlah delapan, satu di atap ruangan dan tujuh lentera lainnya mengelilingi diseputarnya berbentuk setengah bintang.

Tujuh lentera itu tidak bersinar, hanya lentera dibagian tengah ruangan yang memancarkan cahaya nya.

Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dilihat Siang Hu-hoa sewaktu untuk pertama kalinya memasuki ruang rahasia itu.

Disekeliling meja besar, dua tiga puluh buah meja kecil yang berjajar diseputar ruangan pun masih berada di posisi semula.

Diatas meja itu semula terletak empat belas gulung catatan pengalaman Jui Pak-hay serta sepucuk surat wasiat, barang- barang itu sudah mereka bawa pergi ketika meninggalkan ruang rahasia tempo hari, semua benda itu sudah diboyong ke kantor pengadilan dan sudah diperiksa Ko Thian-liok.

Yang tidak mereka bawa waktu itu hanya benda benda berharga yang diletakkan diatas belasan meja kecil itu.

Kini permukaan meja sudah berada dalam keadaan kosong, seluruh harta karun yang tidak ternilai harganya itu sudah hilang lenyap tidak berbekas.

Masih untung ke tujuh buah peti yang penuh berisikan emas dan perak masih tergeletak di sudut ruangan.

Siang Huhoa telah mengalihkan sorot matanya ke atas ke tujuh buah peti besi itu. Baru saja dia hendak maju menghampiri, Nyo Sin dengan kecepatan bagaikan kuda yang lepas dari jeratan langsung menerjang ke depan melewati sisi tubuhnya.

Dengan wajah berseri dia lari ke sudut ruangan, teriaknya:

"Masih untung ke tujuh buah peti berisi intan permata itu masih ada disitu"

Sayang dia gembira kelewat awal, selain itu juga kurang teliti, tampaknya dia belum memeriksa kalau sebuah kunci gembok yang semula mengunci ke tujuh buah peti itu kini sudah berserakan di tanah.

Kunci-kunci gembokan itu memang sejak awal hanya tergantung diatas peti, itulah sebabnya secara mudah mereka bisa menanggalkan kunci gembok dan memeriksa isi peti itu.

Tapi kini semua kunci gembok berserakan di lantai, siapa yang melepaskan kunci kunci itu dan membuangnya di lantai?

Nyo Sin tidak memperhatikan hal itu, berbeda dengan Siang Huhoa yang segera

menangkap gejala itu, sepasang alis matanya kontan berkerut.

Sementara itu Nyo Sin sudah siap membuka peti peti besi itu, disaat terakhir mendadak dia merasakan ada yang tidak beres, kontan teriaknya lagi:

"Bukankah peti-peti ini hampir semuanya dalam keadaan terkunci?"

Ketika melihat semua kunci berserakan diatas permadani, dia merasa makin keheranan:

"Aku masih ingat dengan jelas, ketika akan meninggalkan ruangan ini, semua kunci gembok sudah kukembalikan ke tempat asalnya " "Jangan-jangan ada penjahat yang melepaskan kunci kunci itu? Tapi... apa mungkin dia sanggup membawa lari semua harta karun itu seorang diri ?"

Dengan penuh tanda tanya dia membuka peti itu......

ternyata peti itu hanya sebuah peti kosong!

Buru-buru dia periksa peti ke dua, ternyata peti ke dua pun merupakan peti kosong.

0-0-0