Laron Penghisap Darah Bab 22: Liong-sam kongcu.

Bab 22: Liong-sam kongcu.

Sesudah berhenti sejenak, kembali terusnya: "Sekalipun aku tidak pernah berhutang budi kepadanya,

asal kami pernah berteman dan aku tahu kalau jiwanya sedang terancam bahaya maut, aku tidak nanti akan berpangku tangan belaka, kecuali kesalahan berada dipihaknya, kesalahan yang tidak berharga untuk dimaafkan"

"Aku tahu kau memang seorang pendekar sejati yang berjiwa ksatria!" puji Ko Thian-liok, setelah menatap Siang Huhoa dalam dalam, dia bertanya lagi:

"Sebetulnya apa yang menyebabkan kalian bermusuhan?" "Mengenai persoalan ini, aku rasa sudah tidak ada

kepentingan untuk dibicarakan lagi" tampik sianghu cepat.

"Apakah ada sangkut pautnya dengan kasus yang terjadi saat ini?"

"Rasanya sama sekali tidak ada hubungan" "Kalau memang begitu tidak perlu diungkap lagi Aku

bukan termasuk orang yang suka mendengarkan rahasia orang lain"

"Aku pun tidak suka membongkar rahasia orang lain"

Ko Thian-liok manggut-manggut sambil tertawa, dia segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tanyanya:

"Apakah Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap termasuk juga sahabat sahabat Jui Pak-hay?"

"Sama sekali bukan, oleh sebab itu bukan satu kejadian yang aneh bila dia tidak pernah menyinggung tentang ke tiga orang itu sewaktu berada dihadapanmu"

"Apakah antara mereka dengan Jui Pak-hay punya hubungan saudara atau famili?" kembali Ko Thian-liok bertanya.

"Antara mereka dengan Jui Pak-hay sama sekali tidak ada hubungan saudara maupun famili"

"Aneh" seru Ko Thian-liok keheranan, "kalau toch bukan sanak bukan saudara, kenapa Jui Pak-hay mewariskan seluruh harta kekayaannya yang luar biasa itu kepada mereka bertiga?"

Siang Hu-hoa membungkam, seolah dia tidak tahu bagaimana mesti menjawab.

"Jadi kaupun tidak tahu?" desak Ko Thian-liok.

Tiba-tiba Siang Huhoa menghela napas panjang, katanya: "Aku tahu!"

"Karena apa?"

"Dia berbuat demikian untuk menebus dosa-dosanya!" "Kalau begitu dulu dia pernah melakukan perbuatan yang

sangat merugikan ke tiga orang itu?" Meski tidak menjawab, tampaknya Siang Huhoa mengakui akan hal itu.

"Sebetulnya apa yang telah terjadi?" tanya Ko Thian-liok lebih jauh.

"Aku rasa persoalan itu sama sekali tidak ada hubungan dengan soal kematiannya"

"Jadi kau tidak berniat membeberkannya?” Siang Huhoa membenarkan.

Setelah termenung sebentar kembali Ko Thian-liok berkata:

"Kalau dilihat dari kerelaannya menyerahkan harta kekayaan sebesar itu kepada mereka bertiga, nampaknya kejadian di masa lampau merupakan satu kejadian yang besar dan amat serius"

Siang Huhoa tetap tidak menjawab.

"Mereka pasti amat membenci Jui Pak-hay hingga merasuk ke tulang sumsum" lanjut Ko Thian-liok.

Siang Huhoa tetap bungkam seribu bahasa. Mendadak Ko Thian-liok bertanya:

"Apakah selama ini mereka tidak pernah melakukan tindak pembalasan dendam terhadap Jui Pak-hay ?"

"Menurut apa yang kuketahui, rasanya tidak pernah" "Tentu mereka tidak berani balas dendam karena

kepandaian silat yang dimiliki Jui Pak-hay sangat hebat,

biarpun tidak melakukan sesuatu tindakan, dalam hati kecil mereka pasti selalu berpikir bagaimana caranya membalas dendam"

"Itu sih lumrah, setiap manusia pasti berbuat begitu" "Mungkin kematian Jui Pak-hay ada hubungannya dengan

mereka?" "Aku rasa tidak ada" Siang Hu-hoa segera menggeleng. "Dengan dasar apa kau mengatidakan tidak ada?" "Sebab kejadian itu sendiri merupakah satu misteri,

mungkin sampai sekarang pun mereka bertiga belum tahu

duduk persoalan yang sebenarnya"

"Mungkin? Berarti kau sendiripun tidak yakin?" "Aku hanya manusia biasa, bukan dewa yang tahu

segalanya "

"Dulu mungkin misteri yang penuh rahasia, tapi sekarang toch sudah bukan rahasia lagi"

"Sekalipun begitu, aku yakin peristiwa yang menyangkut Laron Penghisap darah sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka"

"Kau yakin?"

"Jika ingin mencelakai Jui Pak-hay, sesungguhnya mereka tidak perlu berbuat demikian"

"Maksudmu mereka pun memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh sehingga tanpa cara cara seperti itupun mereka masih sanggup menghabisi nyawa Jui Pak-hay?"

"Benar" Siang Hu-hoa mengangguk, "menurut penilaianku, gabungan dari Wan Kiam-peng dan Cu Hiap pun sudah lebih dari cukup untuk membuat Jui Pak-hay mati kutu"

"Bagaimana dengan Liong Giok-po?"

"Dengan kemampuannya seorang sudah lebih dari cukup untuk merobohkan Jui Pak-hay!"

"Benarkah Liong Giok-po begitu hebat?"

Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya: "Jadi kau meragukan perkataanku?" "Bukan, bukan meragukan, aku hanya heran dan tidak habis mengerti" sahut Ko Thian-liok sambil menggeleng, "setahu ku, Jui Pak-hay adalah seorang tokoh silat yang luar biasa hebatnya"

"Liong Giok-po justru merupakan jago tangguh diantar a jago tangguh pada umumnya"

"Apa? Aku belum pernah mendengar tentang orang ini" seru Ko Thian-liok.

"Aku pun belum pernah" Tu Siau-thian ikut menimbrung. "Tentunya kalian pernah mendengar tentang Liong-sam

kongcu bukan?" tiba-tiba Siang Huhoa bertanya.

Berubah hebat paras muka Ko Thian-liok.

Paras muka Tu Siau-thian turut berubah, serunya tertahan: "Liong-sam kongcu dari Kanglam?"

"Benar"

"Apa hubungan Liong Giok-po dengan Liong-sam kongcu?" "Liong Giok-po itu tidak lain adalah Liong-sam kongcu!"

jelas Siang Huhoa.

Seketika itu juga Tu Siau-thian berdiri tertegun, untuk sesaat dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"Konon kekayaan yang dimiliki Liong-sam kongcu merupakan yang terbanyak di wilayah Kanglam, ilmu silatnya juga menjagoi seluruh dunia persilatan?" tanya Ko Thian-liok.

"Apa yang tersiar selama ini memang merupakan sebuah kenyataan"

"Aku dengar dia pernah mengalahkan secara beruntun tujuh pendekar paling ampuh di wilayah Kanglam hanya dengan mengandalkan tangan kosong belaka "

"Bukan tujuh, tapi sembilan orang!" Siang Hu-hoa meralat. "Malah aku dengar dua orang diantaranya baru saja dikalahkan olehnya belum lama ini"

"Betul, si cambuk emas Luci Sim dikalahkan dia pada tiga tahun berselang, sementara Tok Tongcu si bocah beracun malah keok ditangannya setahun berselang"

"Aku tidak sempat mendengar berita apa apa tentang dunia persilatan, termasuk dua kejadian besar ini" ujar Ko Thian-liok sambil gelengkan kepala dan tertawa, "tampaknya sudah tiga empat tahun lamanya aku tidak mencampuri urusan dunia kangouw lagi"

"Sudah pasti begitu keadaannya, sekarang saudara Ko lebih konsentrasi ke bidang pemerintahan, tentu urusan negara yang kau perhatikan, sebaliknya bila kau masih berkecimpungan dalam dunia persilatan, biar tidak bertanya pun pasti ada orang yang memberitahukan hal ini kepadamu"

"Dari sepuluh orang jago tangguh dunia persilatan, ada sembilan orang diantaranya pernah kalah di tangannya, ini berarti tinggal satu orang yang belum pernah dikalahkan, kalau ingatanku tidak keliru semestinya dia adalah Siang to bu tek (sepasang golok tanpa tanding) Be Tok-heng bukan?"

"Daya ingat mu ternyata masih hebat juga!"

"Aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan menyatroni Be Tok-heng"

"Bukan pasti, malah sudah dia satroni!"

"Apakah dia sudah tewas ditangan Be Tok-heng?" "Dia mencari Be Tok-heng jauh sebelum berhasil

mengalahkan Luci Sim!"

"Ooh, apakah Be Tok-heng menolak untuk bertarung melawannya?"

"Bukan menolak, Be Tok-heng ingin melayani tantangan itupun tidak nanti bisa terjadi" "Kenapa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

"Sewaktu dia menemukan Be Tok-heng, waktu itu kondisi Be Tok-heng sudah payah, dia ibarat setengah orang mampus"

"Oya?"

"Waktu itu Be Tok-heng sedang berbaring sakit diatas pembaringannya"

"Parah sekali sakitnya?"

"Yaa, berat sekali, malah konon tidak lama sepeninggal Liong Giok-po, dia menghembuskan napasnya yang terakhir, mati lantaran sakit"

"Bukankah dengan begitu Liong Giok-po benar-benar telah menjagoi wilayah Kanglam seorang diri?"

"Seandainya dalam wilayah Kanglam hanya terdapat sepuluh orang jago tangguh, semestinya memang begitu keadaannya"

"Bagaimana dengan kungfu yang dimiliki Jui Pak-hay?

Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian silat yang dimiliki ke sepuluh orang jago dari wilayah Kanglam?" tanya Ko Thian-liok lebih jauh.

"Aku rasa kepandaian mereka berimbang!"

"Kalau hal itu merupakan kenyataan, bukankah Liong Giok- po dapat membunuh Jui Pak-hay dengan sangat mudah?"

"Itulah sebabnya aku berkata begitu tadi!"

"Tapi sampai hari ini toch sudah selisih tiga tahunan, siapa tahu Jui Pak-hay telah melatih diri habis habisan hingga ilmu silat yang dimilikinya sekarang sudah jauh lebih tangguh dan hebat lagi?"

"Kemungkinan seperti ini memang ada" "Bukan Cuma mungkin, bahkan besar sekali kemungkinan ini, ilmu silat yang dimilikinya tentu sudah jauh diatas kemampuan Liong Giok-po"

"Maksudmu kungfu yang dimiliki Jui Pak-hay benar benar telah mencapai taraf dimana Liong Giok-po harus menggunakan rencana yang licik untuk bisa menghabisi nyawanya?"

Ko Thian-liok mengangguk tanda membenarkan.

"Aku tidak berani mengatidakan iya" sahut Siang Hu-hoa kemudian, "karena aku tidak melihat ada kemungkinan seperti itu"

"Bisa jadi Liong Giok-po berbuat demikian diluar sepengetahuanmu, karena dia tahu kau adalah sahabat karib Jui Pak-hay, dia kuatir bila rencana pembunuhan ini kau ketahui maka dia bisa tewas diujung pedangmu, karenanya semua rencana dilakukan secara diam diam dan sembunyi"

Siang Hu-hoa tidak menjawab. Kembali Ko Thian-liok berkata:

"Mengenai harta kekayaan yang dimiliki Jui Pak-hay.......

mungkin saja dia tidak punya waktu untuk membawanya pergi, atau dia sudah membaca isi surat wasiat peninggalan Jui Pak-hay, tahu kalau cepat atau lambat sebagian dari harta kekayaan itu akan jatuh ke tangannya, maka dia sama sekali tidak menyentuhnya"

"Bukankah ke dua pucuk surat wasiat itu disegel dengan lilin api?"

"Segel itu tampak baru, padahal ke dua pucuk surat wasiat itu bukan ditulis pada saat yang bersamaan"

"Tentang hal ini aku pun sudah memperhatikan" Siang Hu- hoa mengangguk, tanpa terasa sorot matanya dialihkan kembali ke atas ke dua pucuk surat wasiat itu. Biarpun isi surat kedua pucuk surat wasiat itu sama dan persis, kertas serta sampul surat yang digunakan pun sama, namun bila diperhatikan dari gaya tulisannya, dengan jelas dapat dibedakan bahwa ke dua pucuk surat itu bukan ditulis pada saat yang sama, paling tidak pasti selisih sekian hari.

"Kemungkinan besar surat wasiat pertama ditulis oleh Jui Pak-hay pada awal bulan tiga, bisa jadi saat itulah Liong Giok- po sudah mencuri lihat isi surat tersebut"

"Bila Liong Giok-po bisa mencuri lihat isi surat wasiat itu, berarti Kwee Bok serta Gi Tiok¬ kun pun dapat mencuri lihat isi surat itu" kata Siang Huhoa.

"Bila ke dua pucuk surat wasiat itu masih tetap ada, tidak disangkal itulah alasan yang paling baik bagi Kwee Bok dan Gi Tiok-kun untuk membunuh Jui Pak-hay"

'Tapi kenyataannya ke dua pucuk surat itu tidak dimusnahkan"

"Maka dari itulah kemungkinan keterlibatan Liong Giok-po dalam kasus pembunuhan ini tidak lebih enteng ketimbang mereka berdua"

"Jangan lupa, masih ada Cu Hiap dan Wan Kiam-peng" "Benar!"

"Kalau sesuai dengan perkataanmu itu, berarti termasuk diriku pun patut dicurigai" ujar Siang Hu-hoa tiba tiba.

Ko Thian-liok tertegun, dia tidak mengerti apa maksud perkataan itu.

Terdengar Siang Huhoa berkata lebih lanjut:

"Bukankah didalam surat wasiat itu tercantum dengan jelas bahwa setelah kematian Jui Pak-hay, maka seluruh harta kekayaan milikinya dibagi rata antara Cu Hiap, Wan Kiam- peng dan Liong Giok-po, bila ke tiga orang itu sudah mati maka harta kekayaan itu diwariskan kepada anak cucu mereka, bila mereka bertiga tidak memiliki anak cucu maka seluruh harta kekayaan itu akan diberikan kepadaku?"

"Dalam surat wasiat itu memang Jui Pak-hay berkata demikian, tapi sampai sekarang Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiam-peng toch tetap sehat walafiat dan tidak kekurangan sesuatu apa pun?”

"Darimana kau bisa tahu kalau mereka masih sehat?"

Ko Thian-liok melengak, sesaat kemudian dia baru menjawab:

"Itu hanya dugaanku, aku sendiri memang tidak tahu secara pasti"

"Bukankah baru malam ini kau mengetahui nama nama seperti Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiam-peng?"

"Benar, aku hanya mendengar nama mereka bertiga" Ko Thian-liok mengangguk.

"Oleh sebab itu kau sama sekali tidak yakin apakah sampai sekarang mereka bertiga tetap sehat wal'afiat atau tidak?"

Mau tidak mau terpaksa Ko Thian-liok harus mengangguk. Pelan-pelan Siang Huhoa berkata lebih jauh:

"Sekarang aku hanya berharap mereka bertiga tetap aman sentausa, selamat dan tidak kekurangan sesuatu apa pun, sebab kalau tidak maka kecurigaan terhadap diriku akan semakin bertambah besar"

Ko Thian-liok termenung berpikir sebentar, kemudian katanya:

"Ehmm, kalau tadi aku sangat setuju dengan jalan pemikiran serta analisa dari opas Tu, tapi sekarang, kelihatannya aku harus mempertimbangkan kembali keputusanku" "Apakah tayjin curiga kematian Jui Pak-hay ada sangkut pautnya dengan Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiam- peng?" tanya Tu Siau-thian.

"Kita tidak kuatir ada seribu kasus tapi justru kuatir bila terjadi hal yang diluar dugaan "

"Bukankah barang bukti dan saksi yang memperberat tuduhan atas diri Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sudah lebih dari cukup?" tanya Tu Siau-thian.

"Justru karena lebih dari cukup, aku malah kuatir"

"Aaah, masa ada kejadian yang begitu kebetulan?" seru Tu Siau-thian kurang sependapat.

"Maka dari itulah aku curiga kalau dibalik kesemuanya ini terselip hal hal yang diluar dugaan siapa pun"

Nyo Siri yang selama ini hanya membungkam, kini tidak tahan lagi, mendadak timbrungnya:

"Jadi menurut tayjin apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menyelesaikan kasus ini?"

"Pertama kita harus menemukan Liong Giok-po, Wan Kiam- peng dan Cu Hiap terlebih dulu sebagai pewaris harta kekayaan itu, kita selidiki mereka apakah tersungkut dengan pembunuhan atas diri Jui Pak-hay atau tidak, kemudian baru mengambil keputusan"

"Bukankah dengan demikian kita harus membuang waktu berhari hari lagi?" seru Nyo Sin tidak sependapat.

Yaaa, apa boleh buat, mau tidak mau terpaksa kita harus berbuat begitu" ucap Ko Thian-liok sambil menghela napas.

Ia berpaling ke arah Siang Huhoa, lalu tanyanya:

"Saudara Siang tentu kenal dengan mereka bertiga bukan?” "Kebetulan saja pernah bersua satu kali" "Pernah bertemu dengan mereka bertiga?" "Yaa, semuanya hanya pernah bersua satu kali" "Kalau begitu kalian saling tidak kenal?"

Siang Huhoa mengangguk.

"Tidak masalah" kata Ko Thian-liok lagi, "asal saudara Siang tahu alamat tempat tinggal mereka, itu sudah lebih dari cukup"

"Walaupun alamat mereka yang sejelasnya tidak kuketahui, namun sebagai orang kenamaan rasanya tidak susah untuk mencari keterangan dari tetangga sekitarnya"

"Tentang kasus ini, apakah saudara Siang masih mempunyai pandangan tambahan?"

"Rasanya sudah tidak ada lagi"

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan?" kembali Ko Thian-liok bertanya.

"Tetap tinggal disini hingga seluruh kasus ini terungkap" "Bagus sekali" seru Ko Thian-liok, setelah manggut-

manggut kembali ujarnya, "aku rasa kasus ini tidak sederhana,

untuk bisa mengungkap seluruh teka teki dibalik kejadian ini, kami masih membutuhkan bantuan saudara Siang, khususnya dalam soal kepandaian silat serta kecerdasan"

"Saudara Ko terlalu menyanjung" Kembali Ko Thian-liok tertawa.

"Kami mempunyai banyak kamar disini, bagaimana kalau untuk sementara saudara siang tinggal disini saja?"

"Rumah pejabat terlalu ketat penjagaannya, tidak leluasa untuk keluar masuk, aku rasa lebih baik tinggal di luar saja"

"Lalu saudara siang hendak tinggal dimana?" "Perkampungan Ki po cay!" "Ooh...?"

"Aku berniat sekali lagi melakukan penyelidikan dan pemeriksaan dalam perkampungan itu"

"Kau takut masih ada tempat yang kelewatan dalam pemeriksaan hari ini?"

"Biasanya pemeriksaan yang dilakukan secara tergesa-gesa akan meninggalkan banyak tempat yang tidak sempat ditinjau"

"Baiklah kalau begitu, bila menemukan sesuatu harap segera menghubungi kami"

"Tentu saja"

"Bila aku membutuhkan bantuanmu, pasti akan kuutus orang ke perkampungan Ki po cay untuk mencari dirimu"

"Bila tidak bertemu aku, tinggalkan saja pesan pada Jui Gi" "Bagaimana kalau aku tinggalkan Yau Kun untuk melayani

kepentinganmu?" sela Tu Siau-thian tiba-tiba.

"Tidak usah"

"Aaah, betul, ide opas Tu memang sangat bagus" seru Ko Thian-liok pula, "harus ada orang yang melayani keperluan saudara Siang"

"Soal ini ""

"Saudara Siang tidak usah menampik lagi" cepat Tu Siau- thian memotong.

Akhirnya Siang Hu-hoa mengiakan, dia memang bukan lelaki yang suka banyak bicara.

Setelah hening sesaat, mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia bertanya lagi:

"Bagaimana dengan Kwee Bok dan Gi Tiok-kun? Sekarang mereka ada dimana?" "Sudah kukirim mereka berdua ke dalam penjara besar" jawab Nyo Sin cepat.

"Penjara besar?"

"Penjara besar adalah tempat untuk mengurung tawanan tawanan penting, bukan saja penjagaan sangat ketat bahkan dijaga oleh jago jago tangguh, malah aku telah tempatkan tambahan dua penjaga khusus didepan pintu mereka berdua"

"Dua penjaga khusus? Siapa mereka?" tiba-tiba Ko Thian- liok bertanya.

"Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei!"

"Lagi lagi mereka berdua!" keluh Ko Thian-liok. "Mereka terhitung lumayan juga" bela Nyo Sin. "Hebat dalam soal minum arak?" sindir Ko Thian-liok.

"Tapi ilmu golok mereka pun terhitung hebat " ucap

Nyo Sin tergagap.

"Sayangnya kalau sudah minum arak, tenaga untuk menggenggam golok pun sudah tidak dimiliki"

"Sudah kuturunkan perintah untuk melarang mereka minum arak"

"Menurut apa yang kuketahui, kedua orang ini termasuk orang yang pelupa"

“Tapi kali ini aku percaya mereka pasti akan mengingatnya terus"

"Moga-moga saja begitu" kata Ko Thian-liok, kemudian setelah gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lebih jauh:

"Sekali minum arak, Thio toa-cui pasti akan minum sampai mabuk, sementara Oh Sam-pei ujian mabuk dalam tiga cawan, bukan satu dua kali mereka berdua menyusahkan orang dan bikin urusan berantakan" "Tapi mereka " Nyo Sin semakin tergagap.

"Aku tahu mereka adalah sahabat karibmu, tapi urusan dinas tetap dinas urusan pribadi kembali ke pribadi, masa kau masih belum bisa membedakan mana urusan dinas dan mana urusan pribadi?"

Tayjin tidak usah kuatir, Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sudah dijebloskan ke dalam penjara besar, biar mereka punya sayap pun jangan harap bisa kabur dari situ"

"Bagaimana kalau mereka berubah menjadi laron dan terbang pergi dari sana?" tanya Ko Thian-liok tiba-tiba.

Berubah hebat paras muka Nyo Sin.

Paras muka Siang Hu-hoa dan Tu Siau-thian turut berubah hebat, ditengah malam buta begini, perkataan Ko Thian-liok memang mendatangkan perasaan seram yang luar biasa.

Untuk sesaat suasana pun jadi hening, sepi dan tidak kedengaran suara apapun.

Sampai lama kemudian Tu Siau-thian baru memecahkan keheningan, katanya:

"Tayjin, apakah kau pun beranggapan bahwa mereka berdua adalah jelmaan dari siluman laron?"

"Aaai, benar atau bukan, aku sendiripun tidak yakin" sahut Ko Thian-liok sambil menghela napas panjang.

Siapa yang bisa menjawab secara pasti akan pertanyaan itu?

Kembali Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya lagi:

"Lebih baik kita percaya kemungkinan itu daripada sama sekali tidak mempercayainya, sebelum semua masalah terungkap, sementara waktu kita anggap saja mereka berdua memang jelmaan dari siluman laron" Tu Siau-thian dan Nyo Sin serentidak mengangguk.

Siang Hu-hoa sendiripun tidak memberi pernyataan apapun.

"Maka dari itu sekarang aku mulai agak kuatir" ujar Ko Thian-liok lagi.

"Apa yang tayjin kuatirkan?"

"Kuatir mereka benar benar berubah jadi laron dan terbang keluar melalui jendela" sahut Ko Thian-liok sambil bergidik.

Paras muka Tu Siau-thian ikut berubah hebat. "Maksud tayjin, kau akan menengok ke dalam penjara

sekarang juga?" tanyanya. "Benar!"

"Aku pun punya maksud begitu" Ko Thian-liok segera berpaling ke arah Siang Huhoa sambil bertanya:

"Bagaimana pendapat saudara Siang?" "Tidak ada salahnya kita pergi ke sana.