Laron Penghisap Darah Bab 01: Prolog

 
Bab 01: Prolog

Nyawa terbang sukma buyar.

Bulan tiga, hujan gerimis membasahi wilayah Kanglam. Berdiri seorang diri ditengah guguran bunga.

Burung walet melintas ditengah hujan. Ketika sepasang burung walet terbang melintas diatas dinding pekarangan, Siang Huhoa masih berdiri seorang diri ditengah halaman.

Butiran air hujan telah membasahi pakaiannya, namun dia seolah belum merasa, wajahnya kusam, kesepian.

Pancaran sinar matanya sayu dan kesepian, dia tidak memandang guguran bunga di sekelilingnya, pun tidak mengejar burung walet yang terbang berpasangan, sorot mata itu hanya tertuju keatas sepucuk surat, surat yang berada ditangannya.

Selembar kertas berwarna putih, dengan tulisan berwarna hitam.

Setiap huruf yang tertera nyaris meliuk tidak beraturan, seakan si penulis surat sedang tercekam rasa takut dan ngeri yang luar biasa, demikian takutnya hingga batang pit juga tidak sanggup digenggam kencang.

Mungkin semuanya adalah sebuah kenyataan. Sebab surat itu adalah sepucuk surat permohonan minta tolong.

Laron Penghisap Darah tiap hari mengintai, nyawa kami berada diujung tanduk!!!

Betapapun besarnya nyali Siang Huhoa, tidak urung bergidik juga setelah membaca sampai disitu.

"Laron penghisap darah? Apa itu Laron penghisap darah?"

Berapa saat dia termenung, paras mukanya yang semula kusam karena kesepian, kini telah berubah jadi penuh keragu- raguan, penuh rasa sangsi, setelah buru-buru menyelesaikan pembacaan surat itu, dia segera beranjak dari tempat itu.

Langkah kakinya amat ringan, seringan bunga yang berguguran. Diujung kebun bunga sebelah depan, berdiri sebuah gardu kecil, dua orang gadis secantik bunga, selembut tangkainya, sedang duduk santai di dalam gardu.

Suara mereka indah, merdu bagaikan kicauan burung nuri, senyum mereka pun cerah secerah bunga dimusin semi.

Bahkan nama mereka pun mengandung arti yang tidak jauh dari jenis bunga.

Siau-tho mengenakan pakaian serba merah paras mukanya putih lembut, Siau-tho meski mengenakan pakaian yang sederhana, paras mukanya justru lebih mirip bunga Hua ketimbang wajah Siau-tho.

Sebenarnya mereka berdua adalah dua ekor lebah jahat, penyamun wanita yang seringkali malang melintang disepanjang sungai Tiangkang, orang menyebutnya Heng kang It ok Li ong hong (Seonggok lebah ratu dari sungai besar), tapi sekarang, mereka lebih lembut ketimbang kupu kupu, berdiam dalam perkampungan Ban hoa ceng dan selalu melayani kebutuhan Siang Huhoa.

Hal ini bukan lantaran Siang Huhoa pernah selamatkan nyawa mereka, tapi justru karena Siang huhoa adalah idola mereka, Enghiong mereka, kuncu diantara kaum penyamun!

Mereka menyebut diri sebagai budak bunga dari Ban hoa ceng (perkampungan selaksa bunga), pelayan Siang Huhoa.

Sementara Siang Huhoa sendiri selalu menganggap mereka sebagai temannya, sahabat karibnya.

Tidak lebih tidak kurang hanya sebagai sahabat. Inilah satu-satunya persoalan yang membuat mereka tidak puas.

Biarpun begitu mereka tetap gembira, asal masih bisa berdiam dalam perkampungan selaksa bunga, mereka tetap gembira, tetap merasa puas. Aneka bunga selalu mekar di perkampungan Ban hoa ceng, mekar di empat musim, begitu pula dengan senyuman diwajah Siang Huhoa, senyum yang riang selalu menghiasi bibirnya sepanjang tahun.

Mereka senang bunga, tapi lebih senang melihat wajah Siang Huhoa yang ramah, dengan senyuman yang memikat hati.

Tentu saja Siang Huhoa tidak selalu tertawa, ada kalanya dia pun tidak tertawa.

Tidak heran kalau saat itu ke dua orang gadis itu dibuat terperanjat setelah melihat Siang Huhoa berjalan mendekat tanpa senyuman dibibir.

Mereka segera sadar, suatu peristiwa yang luar biasa tentu telah terjadi!

Suara canda dan tawanya berhenti seketika, Siau-sin dan Siau-tho serentak melompat bangun dari tempat duduknya.

Siang Huhoa melangkah masuk ke dalam gardu, sambil mengacungkan surat dalam genggamannya, tiba tiba dia bertanya:

"Siapa yang mengirim surat ini kemari?"

"Seorang lelaki setengah umur berdandan kacung, dia mengaku bernama Jui Gi, datang dari Perpustakaan Ki po cay" jawab Siau-tho.

Baru saja Siang Huhoa akan mengajukan pertanyaan lagi, Siau-sin yang berada disisinya telah menyela duluan:

"Sebetulnya surat dari siapa itu?"

"Pemilik Perpustakaan Ki po cay, Jui Pakhay" "Apakah dia temanmu?"

"Dulu yaa!" Siang Huhoa menghela napas riangan. "Dan sekarang?" Siau-sin mendesak lebih jauh. "Sekarang sudah tidak lagi"

Siau-sin tidak bertanya lebih lanjut, dia cukup tahu manusia macam apakah Siang Huhoa itu, bila Jui Pakhay tidak kelewat memuakkan, tidak kelewat memandang hina dirinya, tidak mungkin dia tidak menganggap orang itu sebagai sahabatnya.

"Ada urusan apa dia menulis surat kepadamu?" tanya Siau- tho sesaat kemudian.

"Suruh aku pergi menolong jiwanya" "Suruh atau minta?"

"Suruh!"

"Memangnya Jui Pakhay belum tahu kalau kau sudah tidak menganggap dia sebagai sahabatmu lagi?"

"Dia sudah tahu"

"Kalau memangnya sudah tahu, kenapa masih berkirim surat?" tanya Siau-tho keheranan.

"Sebab ketika masih menjadi sahabatku dulu, dia pernah menolongku satu kali, biarpun aku belum tentu akan mati meski tidak peroleh bantuannya, bagaimanapun aku tetap telah menerima bantuannya, sudah berhutang budi kepadanya"

Setelah berhenti sejenak untuk menukar napas, lanjutnya: "Dia tahu dan yakin, aku bukan orang yang lupa budi,

membalas air susu dengan air tuba!"

"Ooh, jadi dia minta balas jasa budi mu?"

"Setahuku, dia bukan manusia semacam ini, bisa jadi peristiwa yang dialaminya kali ini kelewat horor, kelewat menggidikkan hati, terjadi sangat mendadak sehingga membuat hati dan pikirannya kalut, oleh karena tidak yakin bisa menghadapi ancaman tersebut hingga terpaksa dia datang minta bantuanku"

"Kesulitan macam apa yang dia hadapi sebenarnya?"

Pelan-pelan Siang Huhoa mengalihkan sorot matanya keatas surat yang berada dalam genggamannya, dia bertanya:

"Apakah kalian pernah mendengar sesuatu benda yang disebut Laron penghisap darah?"

"Laron penghisap darah?" sambil miringkan kepalanya Siau- tho berpikir sejenak, ketika tidak peroleh jawaban, dia berpaling ke arah Siau-sin.

Siau-sin sendiri pun balas memandangnya dengan mata terbelalak lebar, tampaknya dia pun tak tahu.

"Apakah kalian sama sekali tidak punya gambaran?" tanya Siang Huhoa kemudian setelah melihat tingkah laku ke dua orang gadis itu.

"Sebetulnya benda apakah itu?"

"Aku sendiripun kurang begitu jelas" sahut Siang Huhoa. Setelah berpikir sejenak, kembali dia melanjutkan:

"Bila kita telaah tulisan dalam surat itu, semestinya yang dia maksud adalah seekor Laron penghisap darah"

Tiba-tiba Siau-tho mendongakkan kepalanya memandang sebuah belandar berukir yang ada diatas gardu kecil itu.

Seekor kupu-kupu sedang hinggap diatas tiang belandar berukir itu.

Seekor kupu-kupu dengan tujuh warna warni, walaupun bukan berada dibawah cahaya sang surya, namun keindahannya amat menawan hati.

Sebetulnya bukan belandar berukir yang diamati Siau-tho, dia sedang mengawasi kupu kupu yang hinggap disitu: "Menurut pandanganku, Laron tidak beda jauh dengan kupu-kupu "

"Dipandang sepintas dari bentuk tubuhnya memang agak mirip" tukas Siang Huhoa cepat, "padahal beda didalam banyak hal, kupu kupu akan hinggap didahan jika malam tiba, sementara Laron akan muncul diwaktu malam, ketika hinggap, sepasang sayap kupu-kupu berdiri tegak dibelakang punggungnya, sedang sayap Laron terpentang di kiri kanan"

Ternyata bukan saja dia memiliki pengetahuan yang luas mengenai bunga-bungaan, pengetahuannya dalam hal serangga pun amat mengagumkan.

"Paling tidak dalam satu hal ada kesamaan" kata Siau-tho. "Hal yang mana?" tanya Siau-sin tidak tahan

"Serangga-serangga itu tidak suka darah, terlebih menghisap darah"

“Itulah sebabnya aku merasa kejadian ini sangat aneh" Siang Huhoa menerangkan.

Siau-sin dan Siau-tho tertegun, untuk sesaat mereka hanya bisa berdiri termangu.

Kembali Siang Huhoa merentangkan suratnya seraya berkata:

"Jui Pakhay sengaja berkirim surat kepadaku karena si Laron penghisap darah itu mengintainya setiap hari, siang maupun malam, keselamatan jiwanya sudah berada diujung tanduk"

Sekali lagi Siau-sin dan Siau-tho tertegun.

"Benarkah ada kejadian seperti ini?" seru Siau-tho tanpa terasa.

"Bila kita tinjau dari isi surat ini, rasanya memang benar- benar telah terjadi peristiwa semacam ini" "Jangan-jangan nama tersebut hanya julukan seseorang?" tiba tiba Siau-sin menyela.

"Rasanya sih bukan"

"Tapi anehnya, kenapa Laron penghisap darah itu mencari gara gara dengannya?" kembali Siau-tho bertanya.

Tiba-tiba Siang Huhoa bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri, setelah bersin berulang kali dengan nada suara yang berubah sangat aneh jawabnya:

"Karena bininya adalah jelmaan Laron penghisap darah, seorang siluman Laron!"

Bukan merasa takut atau ngeri, Siau-sin dan Siau-tho malah tertawa tergelak.

"Aaah, masa kaupun percaya kalau di dunia ini terdapat setan iblis atau siluman?" ejek Siau-tho sambil tertawa.

"Aku bicara demikian lantaran isi surat berbicara begitu" kata Siang Huhoa cepat, kemudian dia sodorkan surat itu ke tangan mereka.

Serentak Siau-sin dan Siau-tho menerima sodoran surat tersebut, tapi begitu selesai membaca isi surat itu, senyuman mereka seketika hilang lenyap tidak berbekas

"Jangan jangan otak Jui Pakhay kurang waras atau tidak beres?" gumam Siau-tho dengan wajah hijau membesi.

"Paling tidak pada tiga tahun berselang dia masih waras, kalau sekarang mah aku kurang tahu"

"Berarti sudah tiga tahun kau tidak pernah bersua dengannya?"

"Yaa, tiga tahun lamanya" Siang Huhoa membenarkan sambil menghela napas panjang, pelan-pelan dia alihkan sorotnya ke angkasa. "Apakah tiga tahun berselang dia sudah berbini?" kembali Siau-tho bertanya.

Siang Huhoa menggeleng.

"Maksudmu kau belum pernah berjumpa dengan bininya?" Siau-tho bertanya lagi.

"Benar, sampai sekarang aku belum pernah bertemu muka" Siang Huhoa mengangguk, "tapi tidak lama kemudian kami akan segera berjumpa"

"Berarti kau sudah putuskan untuk berangkat ke sana?" Siau-tho nampak agak terperanjat.

"Benar, apa pun yang terjadi, aku tetap harus berangkat" "Kau tidak kuatir bininya benar benar adalah siluman

Laron?" Siau-tho mulai cemberut tidak puas.

"Hingga detik ini aku belum merasa perlu untuk takut" "Oya?"

"Karena hingga saat ini, seekor Laron penghisap darah juga belum pernah kujumpai"

“Tidak ada salahnya kita ikut meramaikan suasana, toh sudah agak lama kita tidak pernah berjalan-jalan" timbrung Siau-sin sambil tertawa.

Siang Huhoa tersenyum.

"Tapi sayang, kali ini hanya aku seorang saja yang akan berangkat ke sana"

"Aah " Siau-sin mendesis lirih lalu terbungkam seketika.

Siau-tho ikut jadi lemas dan tidak bersemangat lagi.

Mereka tahu apa yang telah diputuskan Siang Huhoa, tidak mungkinada seorangpun yang dapat merubahnya. "Persoalan ini adalah urusan pribadiku, aku tidak ingin kalian ikut campur di dalam masalah ini" sambung Siang Huhoa lagi sambil tertawa.

Siau-sin dan Siau-tho tetap terbungkam tanpa bersuara. "Apakah Jui Gie si penghantar surat itu sudah berlalu?"

kembali Siang Huhoa bertanya setelah hening sesaat.

"Aku menyuruh dia menunggu jawabanmu di serambi samping" jawab Siau-tho.

Ternyata orang itu masih menunggu di serambi samping. Rupanya Jui Gie kenal dengan Siang Huhoa , begitu melihat orang itu muncul di dalam serambi, dia segera bangkit berdiri.

"Ternyata memang benar kau" sapa Siang Huhoa dengan mata mendelik.

"Tidak nyana Siang-ya masih kenal dengan hamba" ujar Jui Gie sambil soja.

"Sewaktu mengabdi kepada Jui Pakhay, rasanya usiamu sudah tidak terlalu muda lagi?"

"Turun temurun hamba selalu mengabdi kepada keluarga Jui"

"Ooh " Siang Huhoa kembali manggut-manggut,

kemudian dia mengalihkan pembicaraan dan bertanya lagi, "sebenarnya apa yang telah terjadi di perkampunganmu?"

"Selama berapa hari beruntun majikan selalu di teror Laron penghisap darah, mengerikan sekali " jawaban Jui Gie

tergagap seperti orang yang amat ketakutan.

Ternyata benar-benar ada Laron penghisap darah!! Siang Huhoa agak tertegun, desaknya kemudian:

"Jadi kaupun sudah pernah bertemu dengan Laron penghisap darah?" "Belum, belum pernah" Jui Gie menggeleng. "Bagaimana dengan penghuni yang lain?" "Setahuku, mereka pun tidak pernah melihat"

"Berarti hanya Jui Pakhay seorang yang pernah melihat makhluk itu?" Jui gie tertawa getir:

"Dalam hal ini aku sendiripun kurang begitu jelas"

Kembali Siang Huhoa berpaling sambil bertanya lebih jauh: "Ketika menyerahkan surat itu kepadamu, apa yang dia

katakan?"

"Dia hanya berpesan agar secepat mungkin menyerahkan surat ini ke perkampungan selaksa bunga:

Dan dia memang melaksanakan tugas itu dengan amat cepat!

Ketika surat itu terkirim masih tanggal tujuh bulan tiga, hari ini adalah bulan tiga tanggal tiga belas.

Jarak dari Perpustakaan Ki po cay menuju perkampungan selaksa bunga ternyata bisa ditempuh tidak sampai enam hari.

Siang Huhoa berpikir sejenak, lalu katanya lagi: "Waktu itu, apakah kau menjumpai sesuatu yang tidak

beres dengan dirinya?"

"Paras muka majikan sangat tidak sedap dipandang waktu itu, bahkan sepasang tangannya gemetar terus tiada hentinya"

Siang Huhoa tidak bertanya lebih lanjut, sebab dia tahu ditanya pun percuma karena orang ini tidak akan bisa memberi penjelasan yang diperlukan.

Tiba-tiba dia berpaling, kemudian perintahnya: "Siapkan kuda!" Kakek yang berdiri menanti didepan pintu baru saja menyahut dan siap mengundurkan diri, tiba tiba dari halaman luar sudah berkumandang suara ringkikan kuda.

Ternyata Siau-tho dan Siau-sin telah menyiapkan kuda baginya.

Sambil tersenyum Siang Huhoa segera melangkah keluar diikuti Jui gie yang menguntil ketat di belakangnya.

Kulit tubuh yang putih, gagang pedang berwarna kuning emas dengan sarung pedang berwarna merah tua.

Siau-tho segera membantu Siang Huhoa menggembolkan pedangnya sementara Siau-sin memasangkan mantel ditubuhnya. Sambil tersenyum Siang Huhoa segera melompat naik ke punggung kudanya.

Lautan bunga menyelimuti seluruh halaman tengah, diluar pintu bunga terhampar bagai menyelimuti langit, hujan gerimis masih berderai ditengah kabut nan tebal, entah berapa banyak bunga yang berguguran tertimpa olehnya.

Dengan sekali bentakan, Siang Huhoa melarikan kudanya menembus lapisan hujan dan kabut yang menyelimuti udara.

Hari ini bulan tiga tanggal dua, kentongan ke dua, rembulan yang melengkung bagai sabit menghiasi langit yang bening bagai permukaan air. Perasaan hati Jui Pakhay terasa lega dan nyaman bagai ikan yang berenang di dalam air.

Berapa butir mutiara mestika yang bernilai tiga ratus tahil emas murni ternyata laku dijual dengan harga lima ratus tahil emas murni. Kejadian semacam ini pada hakekatnya merupakan satu kejadian yang layak digirangkan.

Setelah menghantar tamunya hingga didepan pintu gerbang, sambil menggembol uang kertas senilai lima ratus tahil emas murni, dia berjalan masuk dengan langkah yang ringan dan cepat, menelusuri serambi panjang, melalui jalan setapak ditengah kebun bunga dan kembali ke perpustakaannya di halaman paling belakang.

Perpustakaan ini merupakan tempatnya untuk membaca buku, juga merupakan tempatnya untuk menyimpan dan menyembunyikan harta kekayaannya. Pada dinding samping perpustakaan itu terdapat sebuah pintu rahasia, dibalik pintu terbentang satu susun undak-undakan yang terbuat dari batu, langsung berhubungan dengan sebuah ruang bawah tanah.

Dari pintu rahasia sampai ke ruang bawah tanah, semuanya terdapat tujuh lapis alat jebakan rahasia yang bisa mencabut nyawa siapa pun dalam sekejap mata, selain dia, belum pernah ada orang yang berhasil melalui ke tujuh lapis alat jebakan rahasia itu dengan aman dan selamat.

Dia percaya dan sangat yakin, karena ke tujuh lapis alat jebakan maut itu adalah hasil rancangannya, dia sendiri yang merancang, mencipta, membuat dan dia sendiri pula yang memasangkan.

Dia memang murid paling buncit dari Hiun-cicu, seorang ahli tehnik yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan, hampir semua kepandaian gurunya dalam menciptakan pelbagai peralatan telah dikuasahinya dengan matang, tidak heran kalau ke tujuh lapis alat jebakan maut itu merupakan hasil karyanya yang paling hebat.

Dia percaya dan yakin, ke tujuh buah alat jebakan mautnya sangat dapat diandalkan, diapun sadar betapa dahsyatnya kekuatan penghancur yang dihasilkan alat-alat jebakan itu.

Tombol buka tutup untuk membuka pintu rahasia itu dipasang diatas dinding, dibalik dinding itu tergantung sebuah lukisan antik.

Sebuah lukisan antik dari Tong Pak-hau, padahal lukisan itu tidak ternilai harganya, namun dia hanya menggantungkan dengan begitu saja, karena harta karun yang tersimpan dibalik kamar rahasia, beribu kali lipat lebih berharga daripada lukisan antik itu.

Kini, dia sedang berdiri dihadapan lukisan antik tersebut.

Tertimpa cahaya lentera yang terang benderang, diatas dinding terbias bayangan tubuhnya yang tinggi besar.

Ketika dia mulai menyingkap lukisan tersebut, bayangan tubuhnya juga bagai terbelah dari atas kepala hingga ke bawah, terbelah jadi dua.

Keadaan semacam ini sudah banyak kali dialami, tapi baru kali pertama ini tiba-tiba muncul suatu perasaan yang aneh sekali dalam hati kecilnya.

Bersamaan waktunya, tiba-tiba bayangan tubuhnya hilang lenyap tidak berbekas, lenyap ditengah bayangan aneh yang tinggi besar dan sangat luar biasa.

Bayangan itu sudah pasti bukan bayangan tubuhnya sendiri yang mendadak berubah menjadi besar, raksasa dan sangat aneh: Sejenis makhluk tiba-tiba sudah muncul dari belakang tubuhnya, merampas bayangan tubuh sendiri yang semula terbias karena pantulan cahaya lentera.

Sejenis makhluk, yang jelas bukan manusia!

Dipandang dengan cara apa pun, bayangan tersebut sudah pasti tidak mirip bayangan manusia, sama sekali tidak mirip, malah kalau mau bicara jujur, bayangan itu mirip sekali dengan bayangan kupu-kupu.

Bayangan itu sama sekali tidak bergerak, dia hanya muncul secara mendadak, terlewat tiba-tiba sehingga mencekam perasaan hatinya.

Agak tertegun Jui Pakhay merendahkan separuh badannya, begitu merendahkan badannya, dia langsung menerobos masuk ke balik ruang rahasia. Bayangan itu langsung menutupi seluruh wajahnya, hampir bersamaan waktunya dia pun telah melihat suatu makhluk.

Makhluk itu bukan kupu-kupu, melainkan seekor Laron!

Seekor Laron berwarna hijau kemala yang bening dan indah, Laron itu menempel diatas kain penutup diatas lampu lentera yang terletak dimeja tulis.

Dibawah pancaran sinar lentera, dari seluruh tubuh Laron itu seakan memancarkan cahaya seram yang membawa pancaran sinar siluman! Dibalik pancaran sinar siluman itu tampak sepasang mata berwarna merah darah.

Bukan mata, ternyata bukan sepasang mata! Benda itu tidak lebih hanya guratan garis merah darah yang berbentuk mata, satu di sebelah kiri satu lagi disebelah kanan sayap Laron hijau itu.

Disekeliling guratan sisik merah darah berbentuk mata itu merupakan guratan-guratan sisik lain yang berwarna merah darah pula, seakan sekujur tubuhnya terdiri dari serat-serat berdarah.

Serat darah itu meliuk-liuk dari bawah membentang sampai di atas dan berkumpul disekeliling "mata" itu, sekilas pandang bentuknya mirip dengan sepasang alis mata, sementara garis bulatan dibagian perut Laron hijau itu berbentuk seperti sebuah hidung.

Dengan komposisi semacam ini, pada hakekatnya terbentuklah selembar wajah, wajah tanpa muka, sebuah wajah setan!!

Manusia, rasanya belum tentu bisa memiliki sebuah raut wajah yang begitu menakutkan dan begitu menyeramkannya.

Raut wajah itu ternyata tidak lain adalah sepasang sayap dari Laron itu, diatasnya pun terdapat guratan sisik berwarna merah darah, hanya jumlahnya lebih tipis dan sedikit, sepasang sayapnya ini berbentuk seperti sebuah mahkota kemala hijau yang aneh sekali bentuknya.

Ditengah mahkota kemala hijau itu tentu saja terletak kepala dari sang Laron.

Disebelah kiri kanan kepala Laron itu terdapat sebuah sungut berbentuk sayap, selain itu terdapat pula sepasang benda berbentuk bulat bagaikan bola, inilah sepasang mata yang sebenarnya.

Ternyata sepasang mata inipun memiliki warna yang sama dengan sepasang mata yang tumbuh diatas sayapnya itu, merah bagai pancaran darah segar, bahkan memancarkan pula sinar tajam yang menggidikkan hati

Cahaya darah! Sepasang mata yang memancarkan cahaya darah itu seakan sedang melotot ke arah Jui Pakhay!

Benarkah Laron tersebut sedang mengawasinya? Jui Pakhay tidak tahu dan tidak yakin, namun paling tidak dia mempunyai perasaan semacam ini. Tidak heran kalau seketika itu juga timbul perasaan ngeri dan perasaan takut yang luar biasa dari dalam lubuk hatinya.

Semacam rasa ngeri, rasa takut yang belum pernah dialami sebelumnya!

Dia ingin sekali mengalihkan sinar matanya ke tempat lain, namun dalam detik tersebut, tiba-tiba dia menjumpai bahwa sepasang matanya sudah jadi kaku, bahkan sekujur tubuhnya mulai terasa kesemutan, mulai menjadi kaku.

Sepasang mata Laron yang berwarna merah darah itu seakan menyimpan semacam kekuatan iblis yang maha aneh dan maha dahsyat, yang menghisap sepasang mata Jui Pakhay sehingga tidak mampu bergeser.

Kini, bukan Cuma sepasang matanya saja yang terhisap, Jui Pakhay merasa bahkan sukmanya dan nyawanya pun seakan ikut terhisap. Lambat laun dia mulai merasakan betapa sukmanya, nyawanya perlahan-lahan mulai melambung, mulai melayang meninggalkan rongga badan kasarnya.

Pada detik itulah, dia pun mulai melihat mulut dari Laron penghisap darah itu.

Dari balik mulut Laron merah darah itu menyembur keluar sebatang tabung penghisap yang berwarna merah darah pula, bagaikan sebatang jarum tajam, membiaskan cahaya tajam yang menyilaukan mata ketika terkena cahaya lentera.

Segulung hawa dingin yang menggidikkan hati seketika muncul dari dasar telapak kaki Jui Pakhay dan menyusup naik ke atas kepala, bagaikan tertusuk jarum yang amat tajam, dengan cepat menyusup naik dan menghujam ke ulu hatinya.

Dia sangat terkesiap, amat tercekat perasaan hatinya, kesadaran otaknya seakan menjadi terang kembali, sekujur badannya seakan tercebur ke dalam kolam yang berisi air dingin, nyawanya, sukmanya seolah sudah terbang melayang ke angkasa.

Dari balik matanya sudah mulai terpancar sinar kengerikan, cahaya ketakutan yang luar biasa, tiba-tiba dia seakan sudah teringat dengan suatu kejadian yang amat menakutkan!

Tak kuasa lagi dia menjerit keras:

"Laron penghisap darah!!"

Suara jeritannya parau dan gemetar, sama sekali tidak mirip dengan suara jeritannya dihari hari biasa.

Begitu kata "Laron penghisap darah" meluncur dari mulutnya, seluruh otot dan kulit wajahnya mengejang keras, seluruh badannya menggigil keras bagaikan orang kedinginan, raut muka itupun sama sekali tidak mirip dengan raut wajahnya. Dia seakan-akan telah berubah jadi orang lain, menjelma jadi manusia yang berbeda!

"Sreeet!" bergema suara robekan yang tersayat oleh suatu benda, tahu tahu di atas kain penutup lampu lentera itu sudah muncul sebuah lubang kecil, tabung penghisap berwarna merah darah dari Laron hijau itu tahu-tahu sudah menancap diatas lubang tersebut.

Tidak dapat disangkal lagi kalau tabung penghisap itu bentuknya memang tidak berbeda jauh dengan sebatang jarum, bahkan dalam kenyataan memiliki ketajaman yang melebihi ujung dari sebatang jarum.

Benda setajam itu tentu saja tidak terlalu sulit untuk menusuk masuk ke dalam tubuh manusia dan menembusnya.

Mengawasi tutup lentera yang tertusuk hingga berlubang itu, Jui Pakhay merasa seakan-akan kulit tubuh sendiripun ikut tertusuk hingga tembus, terasa darah segar sedang terhisap keluar dengan derasnya.

Kini sepasang tangannya mulai dingin membeku, sepasang tangan yang dingin membeku itu sudah ditekan berbarengan ke atas pinggangnya.

Ikat pinggang itu bukan ikat pinggang biasa, dibalik ikat pinggang tersebut tersembunyi senjata tajam andalannya, senjata yang membuat dia tersohor di dalam dunia persilatan, Jit seng coat mia kiam (pedang tujuh bintang pemusnah nyawa).

Pedang lemas sepanjang tiga depa dengan tujuh biji senjata rahasia berbentuk bintang yang tersembunyi di balik senjata tersebut, ketika melepaskan tusukan dengan menyalurkan tenaga dalamnya, maka ke tujuh buah senjata rahasia berbentuk bintang itu akan melesat keluar dengan kecepatan luar biasa, mencabut nyawa lawan disaat musuh sama sekali tidak menduga. Hingga kini, belum pernah ada seorang manusia pun yang berhasil mempertahankan selembar jiwanya dibawah ujung pedang Jit seng coat mia kiam itu.

"Jit seng toh hun, It kiam coat mia" (tujuh bintang pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa) begitulah gambaran senjatanya ketika menghadapi manusia, tapi bagaimana pula kehebatannya sewaktu berhadapan dengan seekor Laron?

Tabung penghisap telah ditarik kembali, setitik cahaya yang luar biasa tajamnya terbias dari ujung jarum diatas kepala Laron itu.

Dari balik keheningan yang mencekam suasana Perpustakaan itu, tiba-tiba bergema suara yang sangat aneh.. "Seeerrr...serrrrr...!"

Sepasang sayap Laron itu mulai bergetar, mulai dikibas- kibaskan, perasaan hati Jui Pakhay mulai menyusut, mulai mengecil sementara suara "Seerrr, seerrr" itu makin lama semakin bertambah nyaring.

Laron hijau yang semula hanya sebesar kepalan tangan, kini berubah selebar telapak tangan... suara "Seerrr, seerrr" pun makin lama bergema makin keras dan memekikkan telinga.

Akhirnya seluruh penutup lentera itu sudah tertutup oleh tubuh Laron hijau itu.

Kelopak mata Jui Pakhay makin menyusut, peluh yang bercucuran makin deras, peluh itu peluh dingin.

"Sreeet!" diiringi suara kebasan keras, Laron itu mulai terbang meninggalkan penutup lentera, bagaikan setan iblis yang ganas, langsung menerkam ke arah Jui Pakhay.

Sepasang mata diatas kepala Laron itu, sepasang mata bermotif bunga di sayap Laron itu, bagaikan kobaran api yang membara ditengah genangan darah, berkilauan ditengah cahaya api yang membara.

Mendadak jarum penghisap itu kembali disemburkan keluar, bersamaan waktunya pedang pun melepaskan sebuah tusukan kilat.

Laron penghisap darah!! Jui Pakhay nyaris menjerit ngeri, hampir pecah nyalinya membayangkan kengerian serta teror horor yang terbentang di depan mata, akhirnya dia turun tangan, pedang jit-seng-coat-mia-kiam melancarkan sebuah tusukan maut.

Cahaya pedang yang meluncur bagai sambaran kilat, sinar dingin yang cemerlang bagaikan cahaya bintang, sekali serang tujuh bintang meluncur berbarengan ke arah depan.

Jit seng toh hun, It kiam coat mia (tujuh bintang pembetot sukma, satu tusukan mencabut nyawa).

"Traak, traak, traak" tujuh kali dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, ke tujuh batang senjata rahasia berbentuk bintang itu sudah menancap semua diatas permukaan meja.

Ditengah kilatan cahaya pedang yang menyambar diatas penutup lentera, benda itu terpapas kutung jadi dua bagian, tapi.......

"Sreet!" satu suara desingan angin melejit tinggi ke tengah udara.

Lidah api dari lentera itu ikut terpapas kutung menjadi dua, terpapas ditengah kilatan cahaya pedang yang menyambar lewat bagai sambaran halilintar, melejit dan terbang ke tengah udara.

Seketika itu juga suasana di dalam ruang perpustakaan dicekam kegelapan yang luar biasa, sementara lidah api dari lentera yang terbelah dan mencelat ke udara itu masih menari-nari di angkasa bagaikan api setan yang membara. Bagaimana dengan sang Laron? Dalam waktu singkat tubuhnya berubah bagaikan setan gentayangan membuat tubuh Laron penghisap darah itu berubah menjadi tembus pandang hingga tersisa segulung lingkaran cahaya yang memancarkan sinar terang, ketika tusukan pedang itu menghampiri badannya, lingkaran cahaya itupun turut hilang lenyap tidak berbekas.

Lenyap bagaikan setan iblis! Jui Pakhay celingukan ke sana kemari, peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Tiba-tiba serangan pedangnya kembali dilancarkan, menyambut lidah api yang sedang menari ditengah udara dan menggesernya kembali ke atas lentera.

Sekali lagi cahaya lentera menerangi seluruh ruangan, lambat laun suasana ditempat itupun jadi terang benderang, dibawah cahaya lampu, dengan jelas Jui Pakhay menyaksikan bahwa disana, dalam perpustakaan buku itu hanya ada dia seorang.

Tidak ada Laron, nyamuk dan lalat pun tidak nampak seekor pun, apa yang terpampang dihadapan matanya tadi seolah hanya sebuah ilusi, sebuah khayalan yang tidak nyata.

Dia membungkukkan badan, memungut kembali penutup lentera yang terjatuh diatas lantai.

Sebuah lubang tusukan kecil sebesar tusukan jarum, terlihat muncul diatas penutup lentera itu, lubang tersebut tidak lain adalah tempat yang ditusuk oleh Laron penghisap darah itu dengan alat penghisapnya yang tajam.

Jelas peristiwa itu bukan sebuah ilusi, bukan sebuah lamunan atau khayalan!! Sekujur badan Jui Pakhay mulai gemetar keras, peluh dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.