Hong Lui Bun Jilid 29 (Tamat)

Jilid 29 (Tamat)

Pewira tua yang duduk ditengah diantara empat rekannya disebelah atas sedang bicara: "Laporan datang dari Un-ciu, bahwa Kwi-hun-ceng tak berhasil diduduki, orang-orang Hong- )ui-pang menyingkir kepedalaman, Pasukan tak mungkin mengejar karena kekurangan tenaga, kalau bertahan terlalu lama. kuatir melampaui batas waktu yang ditetapkan maka mereka minta bantuan. Kalau hal ini benar, ciangkun mungkin jua takkan berani bertanggung jawab."

Seorang pewira muda yang duduk disebelah bawah berkata dengan tersenyum: " Hong-lui-pang belum lama berdiri dikalangan Kangouw, kekuatannya masih terbatas kalau mau digrebek semestinya tidak perlu banyak banyak tenaga dan mengalami kesukaran. Apalagi menurut berita yang tersiar bahwa mereka mematuhi Hukum dan bertujuan baik, rasanya tak mungkin melawan pasukan pemerintah, kurasa kasus ini masih banyak seluk beluk yang harus kita selidiki, tak perlu bertindak dengan tangan besi."

Seorang Perwira tua disebelah kiri berkata: "Akupun punya pendapat demikian- tapi surat dari Un-ciu hanya menyebut minta bantuan tidak menjelaskan sebabnya, Ciangkun sendiripun ragu-ragu untuk bertindak."

Perwira disebelah kanan berkata juga:" Sejak mula kasus ini cukup membingungkan, surat perintah dari kota raja hanya suruh menangkap tanpa disertai dosa kesalahan, kurasa kasus ini menyangku tpermusuhan kaum persiI atan."

Perwira yang duduk dipaling tengah rnengangguk, katanya: "Ya, kemungkinan demikian, menurut pendapat Losiu. sementara kita tidak memberi reaksi, hanya surat dikirim kemarkas Un-ciu untuk membantu tenaga ikut mengepung sajabila duduk persoalannya sudah jelas baru kerahkan pasukan besar, kita harus menghindari pemborosan yang tiada gunanya. Apalagi orang persilatan paling mengutamakan kesetiaan. memandang mati seperti pulang ke haribaan Thian Yang Maha Kuasa, bila kita salah langkah, bukan mustahil keluarga kita yang ketimpa musibah balas dendam mereka, apakah tidak konyol.." Dua baris perwira rendah yang duduk dibagian bawah berkeplok bersarna dan menyatakan akur. Perwira tua ditengah itu angkat tangannya menghentikan suara ramai, katanya: "Tic- ciangkun, giliran ronda dan petugas malam inHarus diperketat dan lebih hati-hati, katanya kemaren malam ada mata- mata yang menyelundup ke gedung kita, beberapa jago silat yang kita undang membantuj uga terluka waktu mengejar musuh, maka kita harus bersiaga. terutama kawanan brandal Hong-lui-pang yang berada dipenjara itu, harus dilayani selayaknya dan dijaga keras, Segala Sesuatunya jangan gegabah."

Seorang perwira muda berdiri serta mengiakan membungkuk, katanya: "Baik, sekarang juga akan kuadakan inspeksi."

Mendengar mereka anggap Hong Luipang sebagai brandal, keki Liok Kiam-ping bukan main, hampirsaja dia menerobos keluar dan mencaci mereka serta memberi penjelasan, namun mengingat kepentingan Hong-lui-pang dia tak berani bertindak secara gegabah, sia-sia nanti tugas perjalanannya kali ini, serta mendengar perwira muda itu hendak keluar, seketika hatinya bersorak. Kesempatan tak boleh diabaikan, dengan berindap-indap dia keluar serambi dan sembunyi ditempat gelap.

Terdengar langkah berat mendatang, pintu ruang besar terbuka, sesosok bayangan orang berjalan keluar, lalu menuju kearah dalam dengan langkah tegap dan cepat. Sekali lompat Liok Kiam-ping menguntit dibelakangnya.

Sekarang kita ikut Ai-pong-sut Thong-Cau yang berputar kearah lain- Pengalamannya jauh lebih banyak, keadaan gedung ini seperti sudah amat apal baginya, dalam waktu setengah jam dia sudah tiba dibelakang dalam.

Jangan kira tubuhnya tambun pendek. namun gerak geriknya cepat laksana panah, tangkas seperti kera. Saat itu kentongan satu baru saja lewat dia mendekam ditempat gelap dibawah jendela dengan ujung jari dia membasahi kertas jendela lalu mengintip kedalam.

Perabot dalam rumah ini serba antik. meja kursi berukir indah. gordin sutra tebal bersulam, takjauh dipinggir jendela terdapat sebuah meja panjang, sebatang lilin sebesar lengan menyala diujung meja kanan, dibelakang meja besar panjang itu terdapat sebuah kursi besar lebar beralas kasur beludru dengan sulaman yang bagus dinding kamar dihiasi banyak lukisan kuno, rak buku ditata rapi, orang akan merasa nyaman dan lega berada dikamar ini.

Tiba-tiba terdengar suara batuk dari luar. Muncul seorang bocah lima belasan tahun menyingkap kerai menyingkir kepinggir. Seorang tua berusia limapuluhan dengan pakaian preman melangkah masuk sambil menggendong tangan, mukanya putih bersih, alisnya sudah memutih matanya masih bergairan, wajah dan sikapnya tampak kereng berwibawa Langsung orang tua ini duduk dikursi besar itu, katanya: 'Kin- bin, bawa kemari berkas perkara itu.'

Kacung cilik yang menyingkap kerai tadi mengiakan, lalu menuju kealmari sebelah kanan mengambil berkas berkas dokumen lalu ditaruh diatas meja.

orang tua itu membalik balik selembar demi selembar sambil membaca serta pegang pensil membubuhkan tanda tangannya. Mendadak dia berseru heran katanya: 'Lho,  kenapa begini?" sekilas melenggong lalu dia berkata lirih: 'Undang Li suya kemari.' Kacung cilik itu mengiakan terus melangkah keluar.

Tak lama kemudian dia menyingkap kerai pula menyilakan seorang laki-laki tua setengah uban berusia enampuluhan masuk. dengan langkah gopoh orang tua ini mendekat kedepan meja serta menjura, katanya:

'Entah ada keperluan apa Ciangkun Tayjin memanggil hamba.' Ciangkun itu sedikit mengangguk, katanya tertawa: "Li- lohucu, tak usah banyak adat, silakan duduk"

Li-suya menjura pula lalu duduk dikursi.

Ciangkun mengangsurkan dokumen yang dibacanya tadi kehadapan Li-suya, katanya: "silakan Lo lohucu baca dokumen ini lalu bagaimana pendapatmu."

Dengan cermat Li-suya baca dokumen itu, lalu menepekur sejenak katanya kemudian dengan tersenyum: "Menurut pendapat hamba, kalau perintah ini langsung diturunkan oleh Cin-ong sendiri, dibalik kasus ini kurasa ada didukung oleh kekuasaan istana, lebih baik kita ulur saja perkara ini sambil menunggu reaksi dari kota raja, pedoman kita adalah jalan tengah, tidak menyalahi pihak manapun.

Ciangkun bimbang, katanya kemudian:

”Tapi kalau tertunda lama, Kwi-hun-ceng belum juga berhasil direbut, jikalau pihak istana marah dan menjatuhkan hukumannya yang ketimpa bencana bisa merembet keberba pihak, langkah ini Harus dilakukan hati-hati.'

"Harap Tayjin periksa." ujar Li-suya, 'kalau kota raja mendesak. kitapun bisa mendesak dan hibahkan persoalan ini kepihak penguasa setempat, dua pihak harus kita layani secara baik."

Ciangkun manggut- manggut, katanya:

"Baiklah, untuk ini boleh Li-suya laksanakan saja." lalu dia ambil berkas berkas surat itu diserahkan kepada Li-suya terus mengundurkan diri.

Dengan laku hormat Li-suya menerima, lalu membebernya diatas meja, dengan teliti dia periksa dokumen dokumen itu sambil geleng-geleng kepala lalu menepekur.

Dengan ketajaman mata Ai-pong-sut dia dapat melihat dari tempat yang agak jauh. kebetulan Li Su-ya membelakangi dirinya, maka diapun dapat melihat dokumen yang dipegangnya, seketika dia melenggong, karena surat perintah itu datang dari Kiu bu-te-tok sesuai kop surat yang terlihat olehnya, tentang apa isi perintahnya, karena tulisan lebih kecil dia tidak melihat jelas.

Pada hal sudah enampuluh tahun dia berkecimpung dikalangan Kangouw, pengalaman luas, hati tabah dan pemberani lagi, setelah melihat surat perintah itu, mau tidak mau hatinya mencelos dan kuatir pula setelah melihat tulisan Kiu-bun-te-tok itu.

Apa yang dilihatnya ini sudah cukup dijadikan bahan penyelidikan mereka di kota raja. tujuan sudah tercapai, tiada persoalan lainpula yang perlu diselidiki di sini, maka dia mengundurkan diri dan menyelinap pergi kearah kamar tahanan-

Kamar ta ha nan terletak dibilangan kiri dari gedung besar ini, kentonganpertama baru lalu, namun kamar penjara yang besar dan luas ini sudah sunyi senyap. keadaanserba gelap. yang terdengar hanyalah gerosan para tahanan yang tidur pulas dan suara kentong para peronda.

Bayangan orang tampak bergerak pulang pergi didepan pintu penjara, langkah lembut mereka tidak pernah berhenti, Ai-pong-sot berputar kebelakang kamar tidur para penjaga, menyelusuri tembok tinggi lalu melompat masuk kedalam.

Kamar tahanan terdiri dua bilangan, setiap bilangan terdiri tiga puluh kamar, dari pintu besar memandang kedalam, suasana tampak remang-remang dibawah senter minyak yang terganturg diatas dinding, suara rantai yang gemerincing membuat siapapun mengkirik seperti berada didalam neraka.

Tapi Ai-pong sut bernyali besar, dengan hati-Hati dia menyelinap masuk lewat jeruji yang terpasang dijendela atas terus melongok kearah tengah Di kamar besar yang terletak ditengah itulah, para pimpinan cabang Hong- lui pang diwilayah ciat-kang ini dikurung, mereka terdiri pimpinan tinggi semua, ada yang duduk ada yang meringkel, jelas keadaan mereka amat iseng. Ai- pong- sut maklum. diluar mereka adalah pemimpin yang Cekatan dan Cermat bekerja. wajah mereka juga amat dan kenal, namun siapa nama mereka satu persatu sukar diingatnya.

Seorang lakl-laki brewok berusia tiga puluhan dengan suaranya yang kasar berkata:

"Tanpa alasan kenapa kita dikurung semua di sini. Maknya, memangnya menjadi anggota suatu organisasi juga melanggar hukum ?"

Seorang pemuda bermuka bersih berkata, 'Peduli amat, besok akan kutanyakan biar jelas, kalau tiada jawaban, biar kuhajar mereka.' seorang tun berjenggot hitam berkata:

"Kalian jangan gelisah, kasus ini sudah menggemparkan seluruh Bulim, usaha pembebasan kita pasti sudah dilakukan oleh markas besar. Maka kita harus bersabar meski agak menderita di sini, jangan urusan kecil menggagalkan urusan besar, yakinlah dalam beberapa hari lagi, pasti ada kabar baik dari markas pusat."

Seorang berkumis pendek. bertubuh sedang kekar berkata: "Kalau ngomong sih demikian padahal kejadian mendadak. belum ada perintah dari markas besar, jelas kita tak berani, melawan pemerintah, sehingga terpaksa meringkuk disinitanpa alasan, kalau mau berontak memangnya kita beberapa orang ini boleh dibuat permainan "

orang tua berjenggot hitam tertawa, katanya: "Memang demikian, kami sudah bersabar sampai sekarang, kalau mereka tidak menyiksa dan bermaksud jahat, buat apa kita gelisah sendiri kalau bertindak secara gegabah, urusan juga tidak akan segera selesai, kemungkinan hanya mendatangkan kesukaran danbebanbagi markas besar."

Sungguh lega bukan main hati Ai-pong-sut mendengar percakapan mereka,, diam-diam bersyukur bahwa anggauta Hong-lui-pang adalah orang-orang yang punya pandangan obyektif, pengertian mendalam dan ketat menjaga disiplin danperaturan, patuh kepada hukum yang berlaku maka dia yakin tidak akan sukar kasus ini di bereskan selekasnya.

Disaat dia hendak putar tubuh, mendadak dilihatnya sesok bayangan putih melesat bagai kilat, dari arah samping. Gerak gerik pendatang ini cepat bagai kilat, jikalau bukan Ai-pong- cut Thong cau yang punya Lwekang tinggi, sukar melihat jelas bahwa yang datang adalah Liok Kiam-ping. kalau orang lain tentu bayangannyapun sukar melihatnya.

Hanya sekilas dia melenggong, bayangan itu sudah meluncur tiba didekatnya, katanya lirih: "Tiada urusan disini, hayo pergi." dengan Ginkang tinggi bagai kilat mereka meluncar keluar meninggalkan markas tentara kota Ling an ini.

Diluar kota mereka istirahat gejenak saling menutur apa yang berhasil mereka selidiki, akhirnya diputuskan bersama, mereka cepat harus menuju kekota raja. ditempat itu mereka samadi, menjelang fajar mereka sudah berlari-laripula diantara alas pegunungan menuju utara." "

Begitulah selama lima hari mereka terus tancap gas berlari dengan Ginkang tinggi, bila lelah cukup samadi. dan istirahat makan minum sejenak lalu berangkat pula, untung mereka memiliki Lwekang tangguh sebagai penunjang pula sehingga hari kelima kota Pakkhia sudah jauh kelihatan didepan sana.

Untuk menyembunyikan jejak. mereka menginap disebuah hotel kecil diluar kota pintu selatan. Sesudah hari menjadi gelap baru mereka menyamar pelancongan memasuki kota. Kota Pakkhia amat besar berkeliling kota cukup menghabiskan banyak waktu, tanpa merasa mereka sudah berada d id a erah sekitar kantor Kiu bun te tok, dengan cermat mereka meneliti gedung itu, lalu mencari suatu tempat sepi dan gelap. istirahat sambil menunggu waktu.

Kiu bun te-tok bertugas menjaga keselamatan seluruh warga kota, keamanan berada di kekuasaannya, maka markas besarnya cukup mentereng, dan angker, para petugas piket didepan gedung kelihatan gagah danperkasa, seragamnya barusenjata lengkap. penduduk kota tiada yang berani berjalan lewatpos penjaga, semua tunduk danjalan cepat cepat.

Satu hal yang menarik perhatian adalah markas besar ini amat luas, bukan soal untuk menyelidiki didalam gedung sebesar itu, apalagi markas besar Kiu-bun-te-tok tak boleh dibanding markas tentara. dikota-kola besar umumnya, pos- pos penjagaan terbagi rata dari kontak satu dengan yang lain amat cepat dan segera, sekali lena bukan mustahiljiwa bisa terancam bahaya.

Maka Kiamping berdua memerlukan banyak waktu untuk berputar memilih tempat strategis untuk melompat ketembok pelindung, sambil merunduk mereka majuterus kedalam. Tiga puluhan meter kemudian mereka tiba dibawah tembok yang sekelilingnya tumbuh pohon-pohon rimbun. Aipong-sut celingukan, sekitarnya tiada bayangan orang, segera dia memberi tanda ulapan tangan kepada Liok Kiam-ping lalu mendahului melejit keatas tembok.

Lekas sekali Liok Kiamping sudah berdiri disebelahnya. Ai- pong-sut pasang kuping, pekarangan sebesar ini ternyata sunyi senyap. menurut pengalamannya yang luas, terasa olehnya keheningan yang mencekam ini agak ganjil dan tidak beres. Setelah berpikir segera dia berbisik kepada Liok Kiam- ping.

Dengan enteng mereka meluncur pula ketempat gelap menuju kearah barat. Dengan mengembangkan Ginkang Ai- pong-sutjalan didepan, arahnya selalu ketempat-tempat gelap yang tak mud ah dilihat orang. Liok Kiam-ping terus mengintil dibelakangnya, namun dia mencari jalannya sendiri Jarak mereka sekitar tiga puluhan-

Lekas sekali Ai-pong-sut sudah meluncur seratusan tombak jauhnya. Sekonyong konyong sesosok bayangan gelap menerjang keluar dari tempat gelap sambil menyalak terus menubruk kearah Ai-pong-sut.

Sigap sekali A -pong sut mengitar langkah berputar kebelakangnya, tangan sudah terayun bendak memukul. Mendadak dirasakan samberan angin dari luncuran dua senjata tajam dari kiri kanan, terasa bahwa penyerang ini punya tenaga yang cukup besar. Ai-pong-sut tertawa ringan menegakkan pinggang kedua tangan menekan kebawah, tubuhnya melompat tinggi delapan kaki, senjata rahasia meluncur lewat dibawah kakinya. Ditengah udara dia berputar sekali kedua kaki memancal sebelah tinju menjotos sehingga tubuhnya melengkung dengan luncuran setengah bundar, seperti bola tertendang saja tubuhnya membal setombak jauhnya. Tapi baru saja kedua kaki menginjak tanah, samberan angin yang lebih besar telah menerjang mukanya pula.

Sergapan lihay ini membuat Ai-gong-sut naikpitam, ditengah dengusannya, tubuhnya berkisar ke kiri tangan kanan menepuk "Plak" sebuah senjat rahasia besi dipukulnya jatuh membentur batu menerbitkan lelatu api.

Baru saja berputar hendak angkat kaki. benda hitam yang menubruk tadi telah menerjang tiba dengan gerungan gusar. Amarahnya makin menyala, kali ini dia tidak menyingkir, dengan kedua tangan yang bertenaga besar dia menepuk turun memapak terjangan bayangan hitam itu.

Ternyata yang menubruk dengan garang ini adalah sekor anjing besar bermoncong pendek dengan taring panjang menyeramkan, sekali tepuk pecah kepalanya jatuh terguling setombak jauhnya, kakinya berkelejetan sambil mengerang kesakitan, jelas luka-lukanya berat, jiwanya sekarat.

Dari tempat gelap terdangar seorang membentak: "Sahabat, hebat betul pukulanmu, sayang digunakan memukul binatang apa tidak keterlaluan?" belum lenyap suaranya, tiga bayangan orang sudah meluncur turun.

Ai-pong-sut tenangkan diri, dengan seksama dia  perhatikan, setombak jauhnya tiga

orang berdirijajar, semuanya orang tua yang berperawakan tinggipendek tidak rata, sambil tolak ping ang bersikap angkuh mereka mengawaSi dirinya.

Hwe-giam-lo Siu-Jan ternyata satu diantara ketiga orang ini. dengan mata mendelik mengawasi dirinya.

Melihat manusia yang satu ini, terbukalah pikiran Ai-pong sut, pikirnya: "sembilan puluh prosen aku berani bertaruh bahwa kas3us ini terjadi pasti gara-gara kelicikan orang ini. Karena keki dengan tertawa dia berkata: "Wah, kurang hormat, sungguh tak nyana Siu tangkeh sekarang bertugas disini entah sejak kapan kau bertugas dibawah Kiu bun-te-tok. dunia seluas ini, namun orang hidup dimanapun bisa bertemu"

Terangkat ails Hwe-giam-lo, jengeknya dengan suara berat: "setan cebol, jangan cerewet, malam ini, hehehe..."

"Hehehe... kenapa ?" ”Disinilah tamat riwayatmu"

"Kurasa tidak semudah yang kau kira'

'Mudah atau tidak boleh sebentar kita buktikan" belum habis bicara dengan langkah menyesatkan mendadak dia menubruk sambil menggerakkan kedua tangan- Memangnya bencinya sudah kepat-pati terhadap orang Hong-lui-pang. Dia pernah terjungkal habis-habisan ditangan Liok Kiam-ping tempo hari waktu lawannya ini meluruk ke istana, jiwanya hampir amblas. Setelah istirahat tiga bulan baru kesehatannya pulih.

Kasus penggrebekan markas besar Hong-lui-pang oleh pasukan negeri memang adalah muslihatnya yang hendak menghancurkan musuh dengan kekuatan pemerintah, musuh hendak ditipunya pula datang kekota raja, di sini dia sudah memasang jaring, malam ini musuh betul-betul datang sesuai yang diharapkan. maka begitu turun tangan dia menyerang dengan geram.

Kepandaian dan lwekang memang tinggi termasuk jago top dikalangan Bulim, serangan sekuat tenaga ini sudah tentu hebat bukan main Tapi Ai-pong-sut tidak pandang sebelah mata lawan yang pernah keok ditangannya namun malam ini lawan sudah slap seolah-olah ada kaitannya dengan penyerbuan pasukan negeri kemarkas besar mereka di Kwi- hun ceng, apapun yang akan terjadi, kasus ini Harus dibereskan malam ini juga.

Hati berpikir kaki tangan tidak nganggur, begitu serangan lawan menindih tubuh, mendadak dia berkelit kepinggir, dengan langkah pindah posisi selicin belut dia merobah kedudukan kesebelah kiri, kedua tangan diayun meninju dengan tenaga raksasa. Perbawa pukulannya kira-kira selipat lebih dahsyat dari serangan Hwe-giam-lo Siu-Jan tadi.

Hwe-giam-lo Siu-Jan juga seorang yang berkepandaian tinggi, sudah tentu dia tahu betapa lihay pukulan si kate ini, lekas dia bergerak dengan langkahnya yang menyesatkan pandangan lawan, mengegos minggir, dia meluputkan diri dari serangan telak lawan-

Sejurus dapat mendesak lawan- Ai-pong-sut tidak memberi hati, serangan susulan sudlah, siap dilontarkan. Pada saat itulah seorang membentak dibelakang: "Rasakan juga pukulanku." Keras sekali deru serangan lawan yang menerjang punggung Ai-pong-sut. Sudah tentu menyelamatkan jiwa sendiri lebih utama, tak sempat melukai musuh lekas Aipong sut kembangkan gerak tubuhnya yang ajaib seperti gangsingan dia berputar kesebelah kanan satu tombak jauhnya, dengan tawa ejek dia mencemooh kepada pembokongnya: "Tuan bukan kaum kroco, kepandaianmu begini tinggi, tapi berbuat serendah ini, coba sebutkan siapa nama juluka nmu"

orang tua yang membokong ini bergelak tawa, katanya: "Berbuat kotor adalah kaum kroco, kenapa harus kusebutkan nama jelekku tapi menghadapi kurcaci sekejam kau lain persoalannya. Setan kate, serahkan jiwamu malam ini."

Aipong sut tahu percuma adu mulut dengan mereka, saking gusar dia menyeringai sadis, desisnya: Agaknya kalian memang sudah membuat rencana matang, baiklah kalian maju bersama saja menyingkat waktu menghemat tenagaku." habis berkata kepala mendongak kedua tangan digendong dibelakang pantatnya. sikapnya tak acuh seperti tidak pandang sebelah mata ketiga lawan-

Ketiga orang tua ini terhitung jago-jago kosen yang terkenal di bulim, selama malang melintang di Kangouw, kapan pernah dHina dan diremehkan seperti ini. terutama Hwe-giam-lo Siu-Jan, dendamnya memangnya sudah membara, amarah memuncak lagi. Maka dia berteriak beringas: "Saudara Kiong dan Yau, marilah kita ganyang bersama, terhadap kawanan brandal seperti ini diberi keadilan juga sia-sia belaka marilah kita tentukan mati hidup dengan kepandaian sejati. '

Dibawah aba-abanya tiga orang menyerang serentak. enam telapak tangan berebut memukul ke-arah Ai-pong-sut dengan tipu serangan lihay masing-masing. Ai-pong-sut mandah tertawa ejek. dia kembangkan langkah ajaibnya berlompat setombakjauhnya, beg itu beldiri tegak kedua tangannya terbuka menyerang dua prang di kanan kirinya. "Blang. blang" dua benturan keras menyebab tiga orang tergentak mundur, kekuatan mereka berimbang.

Karena serangan tiga orang serempak mengalami kegagalan, Siu-Jan bertiga saling pandang lalu mengerdip mata, dari tiga jurusan pula mereka menerkam buas. Rasa gusar sudah merasuk hati mereka, maka serangan menggunakan setaker tenaga, perbawa serangan gabungan mereka memang cukup mengejutkan.

Mau tidak mau Ai-pong sut berpikir: "Menurut gelagatnya, mereka sudah kerahkan segala kemampuan, aku seorang diri kalau dikeroyok begini terus, lama kelamaan tentu kehabisan tenaga, terpaksa aku harus melawan dengan ketangkasan gerak tubuh main petak sambil balas menyergap merobohkan lawan satu persatu. segera dia kembangkan Ginkangnya bergerak lincah ditengah samba ran pukulan ketiga lawannya. Ternyata permainan nya cukup lincah dan leluasa.

Liok Kiam-ping saksikan bagaimana Ai-pong-sut layani tiga pengeroyokan dengan berimbang, maka dia berpikir: "Mumpung ada kesempatan, kalau tidak sekarang aku bertindak. bila bala bantuan musuh datang lebih banyak. tentu lebih b era be." segera dia kembangkan Ling-hi-ou melompat tinggi keatas wuwungan rumah terus bergerak dengan kecepatan tinggi menuju kesebelah dalam. Tidak sedikitpetugasjaga yang melihat bayangannya, namun mereka tidak curiga bahwa bayangan yang mereka lihat itu adalah manusia.

Liok Kiamping tiba diantara deretan rumah- rumah pendek. disini Liok Kam-ping memperlambat luncuran tub ah nya lalu mendekam ditempat gelap. sinar lampu masih terlihat menyorot keluar dari beberapa kamar dibawah, bayangan orang juga bergerak didalam kamar, terdengar pula gerutu serapah orang. Ginkang Liok Kiam-ping amat tinggi, seringan daon jatuh dia melompat turun dipinggir sebuah jendela lalu mengintip kedalam. Keadaan kamar ini semrawut tidak karuan, serba orok yang ada hanya sebuah pembaringan dan satu meja dua buah kursi, diatas dinding dipasang lentera minyak yang guram cahayanya, dindingnya juga sudah banyak yang gugur dan belong. Kamar besar ini kelihatan kosong, agaknya jarang ditempati orang. Satu persatu Kiam-ping periksa kamar-  kamar itu. Dikala dia mendekati kamar terakhir diujung belakang, didengarnya percakapan orang.

Seorang berkata serak: "Maknya sontoloyo, locu (tuan besar) memikul tanggung jawab begitu besar dengan menempuh bahaya lagi baru berhasil menunaikan tugas, tapi laporan memperoleh jasa direbut mereka semua, sekarang dengan alasan untuk menjaga keselamatanku dari grebekan orang-orang Hong-lui pang, aku dikurung di sini dan diawasi begini ketat, memangnya aku harus menunggu setelah brandal-brandal Hong-lui-pang itu dibrantas semua baru aku boleh bergerak bebas dan mendapat anugerah."

Seorang laki berkata dengan suara lantang: "Bukan begini persoalannya, ketua kita bermaksud baik terhadapmu, kuatirnya bila kau muncul didepan umum segala rencananya akan berantakan, maka diminta kau suka bersabar beberapa hari lagi, untungnya dalam waktu dekat brandal-brandal Hong- lu-pang itu sudah berhasil ditumpas habis, bila tiba saatnya ketua kita menguasai dunia persilatan, bukankah kaupun akan mendapat pangkat dan kedudukan dan hidup senang.

Dengan nada curiga suara serak itu balias bertanya: "Waktu aku berangkat menunaikan tugas jadi splon didalam markas mereka, bukankah begitu janjinya kepadaku, sekarang tugasku sudah selesai dan berhasil, gerak-gerik malah dibatasi dan diawasi lagi. coba, siapa tidak penasaran, memangnya aku harus disekap seumur hidup disini?' Kini Liok Kiam-ping sudah melihat jelas diatas pembaring an Celentang, seorang laki-laki tiga puluhan tahun, kedua matanya melotot besar menatap seorang tua berseragam perwira berusia lima puluhan-

Sekalian Liok Kiamping menepekur, dapat dia simpulkan bahwa biang keladi terjadinya musibah bagi Hong lui-pang adalah orang ini, perwira yang berdiri diambang pintu sedang menjaga dan mengawasinya.

Mendadak Kiam-ping peroleh akal, tiba-tiba dia melejit tinggi keatas genteng sengaja waktu menginjak genteng dia gunakan tenaga lebih besar sehingga mengeluarkan suara, namun sigap sekali dia lantas mendekam. Laki-lakitua yang berada didekatpinlu mendengar suara diatas, lekas dia berdiri dengan waspada menyelinap keluar serta menutup pintu dari luar, sekali lompat langsung dia memburu kearah datangnya suara.

Tak nyana baru saja tubuhnya terapung diudara, sebelum dia bergaya, sejalur angin sudah menyambar pinggangnya, tubuh seketika merasa lemas dan "Bluk" dia terbanting jatuh ditanah. Deng an gerakan kilat Kiamping menutuk Hiat-tonya dari jarak jauh, begitu lawan terbanting jatuh dia membuka pintu lalu menyelinap masuk kedalam kamar.

"orang diatas pernbaringan itu baru saja berjingkat berdiri, tiba-tiba bayangan orang berkelebat, kontan dia kehilangan kesadaran- Sekali raih Liok Kiam-ping mengempitnya di bawah ketiak. berlari keluar dan menjejak kaki meluncur kearah datangnya tadi. Lwekang nya tangguh Ginkang tinggi, meski mengepit seorang, Kiam-ping berlari secepat mengejar angin, hanya sekejap dia sudah melompati tembok. Diatas tembok itulah dia mencebir bibir mengeluarkan siulan panjang sambil masih terus berlari menuju keistana cin-ong

Meski melawan tiga musuh, dalam waktu dekat Ai-pong-sot masih mampu mengimbangi, namun permainanya pantang lena sedikitpun, dia hanya berkelit sana lompat ini, sukar memperoleh kesempatan balas menyerang.

Lima puluh jurus kemudian, dia menjadi tidak sabar, pikirnya: "Kalau bertempur cara begini kapan berakhir, kalau tidak kerahkan tenaga mana mampu merebut kesempatan, celaka kalau terlalu lama kehabisan tenaga. maka beruntun dia cecar musuh nya sembilan jurus pukulan tiga jurus tendangan.

Karena tidak menduga Siu-Jan bertiga terdesak mundur. Tapi mereka cepat menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, serentak mereka merubung majupula. Tak nyana Ai-pong sut bertindak lebih cepat, mendadak kedua tangan terayun, dua jalur bayangan hitam meluncur dari tangannya, ternyata dia mengeluarkan sepasang bandulan pelor besinya, terpaksa Siu-Jan bertiga melompat sambil berkelit, ternyata bandulan pelor besi itu seperti bermata, ke mana mereka menyingkir, pelor itu bisa mengejar dengan cepat.

"Aduh" seorang tua di sebelah kanan terjungkal roboh ditengah jeritannya, tulang pundak kanannya remuk tertimpuk bandulan besi, saking kesakitan dia bergulingan ditanah.

Siu-Jan baru saja selamat dari samberan pelor besi ini, seketika dia melonjak kaget oleh jeritan rekannya- Pada saat itulah, pelor besi Hitam itu sudah putar balik menerjang dirinya pula dari belakang. 'Duk' telak sekali benturan keras ini Hingga tulang punggung Siu-Jan patah, darah kontan menyembur dari mulutnya, tubuh nya tersungkur jatuh.

Sisa seorang tua yang masih selamat lekas melompat jauh menyelinap ke tempat gelap seraya berteriak keras: 'Mundur lepas panah"

Maka terdengarlah suara jepretan-jepretan busur panah, anakpanah beri hamburan selebat hujan- Tapi Ginkang Ai- pong-sut amat tinggi, dengan kecepatan larinya, sebelum panah meluruk tiba dia sudah menyelinap kedalam hutan. Dia kuatirkan keadaan Liok Kiam-ping yang diperkirakan memerlukan bantuannya. maka dia jadi bingung kearah mana dia harus mencarinya.

Disaat dia sedang bingung itulah didengarnya suara siulan Liok Kiam-ping, tahu sang Pangcu tentu berhasil, hatinya amat senang, tanpa pikir dia kembangkan Ginkangnya melesat kearah hutan lebat terus mengundurkan diri. Tak nyana baru saja tubuhnya bergerak, anakpanah telah memberondong ke arahnya. Ditengah gerungannya kedua tangan menarikan lengan baju, anak panah disampuknya jatuh seluruhnya, disaat tubuh melorot turun dia kebas pula lengan baju kebelakang sehingga tubuhnya melengkung turun serta melesat pula kedepan secepat kilat, sekali berkelebat bayangannya sudah lenyap tidak kelihatan lagi.

Begitu keluar dari bilangan gedung Kiu-bun-te-tok. Aipong- sut menentukan arah terus berlari kencang kearah yang sudah dijanjikan, dari luar kota dia putar balik melompati tembok terus meluncur kepusat kota dan berhenti ditengah rimbunnya pepohonan pendek.

Dia bersiul yang segera dijawab siulan pula oleh Liok Kiam- ping. Dalam hutan kecil ditengah kota itulah mereka  berunding sejenak. lalu Hiat-to tawanan mereka dibebas kan dengan tertawa Aipong-sut berkata:

"Kau dari cabang mana, sejak kapan kau menjadi mata- mata musuh? Kenapa pula mengkhianat dan bagaimana kau berhasil menyerap rahasia? Kuharap kau bicara sejujurnya dan gamblang, tebuslah kesalahanmu dengan penyesalan dan pengakuan, kami akan memberi keringanan hukum kepadamu, kalau bandel hukum Hong-lui-pang tidak memberi ampun kepadamu."

Mendengar Ai-pong-sut bilang hukum Hong-lui-pang seketika pucat muka laki-laki itu, katanya sedih: "Tecu Ya-eng (elang malam) Ang Seng, atas anjuran Ham-ping Lomo, masuk jadi anggota Hong-lui-pang di Thong-koan- Waktu Ham-ping Lomo meluruk ke selatan tempo hari markas cabang direbut, Tecu dipaksa untuk menyerahkan daftar rahasia anggota dan diserahkan kepada Hwe-giam-lo Siu-Jan-

Secara diam-diam Siu-Jan masuk istana terlarang membunuh beberapa anggota bayangkari dan sengaja meninggalkan dokumen rahasia dari Hong-lui-pang, sehingga pihak Kiu-bun-te-tok turun tangan mengusut perkara ini.

"Tapi entah bagaimana, pristiwa ini didengar oleh Baginda raja, sehingga urusan tertunda sampai sekarang .Tecu dipaksa menjalankan perintah, kejadian inipun sudah membuatku kapok dan menyesal, tapi kesalahan sudah kulakukan, mohon Pangcu memberi hukuman setimpaL"

Sejak dikalahkan total segala muslihat Siu-Jan di istana Ka- cin-ong dulu, syukur jiwanya masih dapat diselamatkan, dikota raja tiada tempatnya berpijak lagi, maka dia sembunyi disuatu tempat merawat luka-luka, namun secara diam-diam dia masih mengadakan kontak dengan anak buahnya yang masih bercokol dalam dinas mereka berusaha menuntut balas, kebetulan Ang Seng berhasil diperalat mencuri dokumen rahasia Hong-lui-pang, suatu malam dia menyelundup keistana terlarang, membunuh dengan kejam beberapa bayangkari dan memfitnah Hong-lui-pang sebagai pelaku kejahatan itu.

Karuan Liok Kiamping benci luar biasa katanya menggereget: ’Jelek-jelek Siu-Jan dan kamprat-kampratnya punya kedudukan dan nama di Bulim, ternyata tak segan melakukan-perbuatan kotor dan sehina ini, manusia ma cam ini tidak boleh diberi ampun."

Thong cau tertawa lebar, katanya: "Ya setiap kejahatan pasti memperoleh ganjaran setimpal, rencana jahat Siu-Jan jelas sudah gagal total, jiwa nya sudah melayang dibawah Bandulan pelor besiku. Untuk merehabilitir nama baik Hong lui-pang kita terpaksa..." sampai disini dia tarik Kiamping lalu membisiki beberapa patah baru melanjutkan:

"Ang Seng, syukur kau mengaku dan  menyatakan tobat dan menyesal, harapan masa depanmu masih baik, Hong-lui- pang akan memberi pengampunan kepadamu, untuk itu kau sendiri yang harus mencuci bersih fitnah kotor ini, Hong-lui- pang harus dipertahankan kesuciannya, maka kau harus ikut kami ke ong-hu mempertanggungjawabkan perbuatanmu dihadapan Ka-cin ong, percayalah bahwa kau tidak akan memperoleh hukuman berat."

Mendapat pengampunan sang Pangcu, sudah tentu senang dan lega hati Ang Seng, katanya: "Memang itu tugas Tecu, terima kasih akan kemurahan Pangcu, sekarang juga boleh kita berangkat."

Liok Kiam-ping mengangguk. kiri kanan Kiam-ping dan Thong caupegang tanganAng Seng terus meluncur cepat kearah istana Ka-cin-ong.

cepat sekali mereka sudah tiba didepan pintu istana Ka-cin- ong. Waktu itu sudah menjelang kentong ketiga, pintu gerbang istana ong-hu masih tertutup, keluar masuk harus lewat pintu samping. Liok Kiamping pernah masuk kemari maka tidak banyak kesukaran mereka menemukan pintu samping disebelah timur.

Ai-pong-sut Thong cau menjura kedalam serta berkata: "Kami bertiga datang dari Kwi-hun-ceng dikota Un-ciu, ada urusan penting mohon menghadap Ka cin-ong, mohon petugas piket bantu menyampaikan permohonan kami." lalu dia Angsurkan kartu nama warna merah.

Dari balik pintu seorang bersuara serak tua betkata: "Belakangan ini ongya tidur lebih dini, boleh kalian tunggu sebentar, diterima atau tidak tergantung keb eruntung a nmu. " Semasakan air kemudian, dari dalam pintu keluar seorang laki-laki setengah baya berpakaianpengurus rumah tangga, setelah menjura kepada Liok Kiam-ping bertiga berkata: "Silakan ikut cay he."

Mereka melewati sebuah kebon besar, menyusuri jalan  krikil tiba didepan sebuah ruang kembang. tampak Ka-cin-ong sendiri datang menyambut menuruni undakan.

Liok Kiam-ping bertiga memburu maju serta menekuk sebelah lutut memberi hormat katanya: "tengah malam mengganggu, dosanya sudah tidak ringan, mana berani kami disambut sebesar ini."

Ka-cin-ong tertawa lebar, katanya: "Liok siansing seorang serba pintar, Baginda amat rindu kepadamu, hari ini aku dapat menerima kedatanganmu, sungguh senang hatiku, kalian adalah orang-orang gagah pada jaman ini, marilah tidak usah banyak peradatan, silakan masuk." lalu dia mendahului jalan  di depan, Liok Kiam-ping mengintil dibelakangnya.

Setelah berada didalam rumah Liok Kiam-ping berdiri dan menjura, katanya: "Hamba beramai kena fitnah dan perkara masih terkatung-katung, sehingga seluruh anggota kita terlunta-lunta diluar, sekarang duduk perkaranya sudah jelas, sengaja kami kemari mohon kemurahan Tayjin untuk membantu meredakan suasana dan membersihkan nama baik kami.

Ka-cin-ong menepekur, katanya kemudian: "Hal inipun amat diperhatikan dan dikuatirkan oleh Baginda, begini saja, kalian boleh istirahat saja di sini malam ini, bila sidang pagi tiba, Liok-siansing boleh ikut aku menghadap langsung dan melaporkan kejadian ini kepada Baginda, kurasa urusan akan lebih cepat dibereskan."

Liok Kiam-ping mengiakan dengan rasa lega.

Kira-kira kentongan kelima Ka-cin-ong masuk ke istana raja bersama Liok Kiam-ping, sementara Ai-pong sut dan Ang Seng menunggu diistana Ka-cin ong. Setelah fajar menyingsing Liok

-Kiam-ping baru pula ng ke istana Ka-cin-ong dengan seri tawa lebar dan semangat menyala, katanya kepada Ai-pong- sut: "Syukurlah kita berhasil menunaikan tugas dengan baik, kini tinggal menunggu kabar baik saja."

Hari itu juga mereka mohon pamit terus ber ngkat pulang ke Un-ciu. Ditengah jalan Liok Kiam-ping teringat akan janjinya dengan Le Bun, hitung-hitung waktu yang dijanjikan sudah dekat didepan mata, maka dia langsung berangkat menuju ke Te-sat-kok. Ang-Seng disuruh pulang membawa kabar gembira.

Kala itu musim rontok hampir berakhir, menjelang fajar angin ternyata menghembus kencang hawapun dingin.

Siang malam Liok Kiam-ping dan Thong Cau menempuh perjalanan, menjelang mag rib hari keempat. mereka sudah tiba didepan mulut selat Te-sat-kok diBu-tong-san- Batu-batu gunung yang berserakan dimulut selat yang menyesatkan dulu terasa segar dan sudah apal baginya. Dengan mud ah tanpa menemui kesulitan sed ikitpun Liok Kiam-ping langsung masuk kedalam lembah.

Terasa mesra dan indah keadaan lembah nanpermai dan beri hawa sejuk ini, terbayang oleh Kiam-ping disaat dirinya meninggalkan lembah ini dengan Le Bun dulu, timbul rasa manis mesra direlung hatinya. Terbayang lagi takkan lama lagi dirinya akan segera berjumpa dengan sang pujaan- semakin bergairah semangatnya, langkahnyapun tegap dan gagah.

Tanpa terasa sudah sehari semalam Liok Kiam-ping berada didalam Te-sat kok, namun sang pujaan belum juga kunjung pulang, mau tidak mau perasaannya menjadi mendelu dan kuatir. Pikirnya: "Biasa nya Le Bun amat teliti dan hati-hati setiap menghadapi persoalan dan boleh dipercaya. Pertemuan di Ui-san hanya untuk bertanding Kungfu, demi menepati janji tiga puluh tahun yang lalu, apa lagi Tang-ling sudah putus sayapnya, Se bong juga sudah kecundang,jelas mereka takkan mampu melawan Lam- coat, hanya keturunanBu in-khek dariBok-pak (padang pasir utara) saja yang mampu  bertanding dengan dia, namun Seng-si-koan Le Bun sudah tembus, Lwekangnya jelas lebih unggul dibanding generasi mud a yang sekarang berkecimpung didunia Kangouw, yakin takkan sukar mengalahkan lawannya.'

Dengan jari dia menghitung waktu, perjanjian di Ui-san sudah d iamb ang mata. namun sang kekasih belumjuga kunjung pulang mau tidak mau rasa gugup hatinya menjadi curiga, namun dia menghibur diri, mungkin ditengah jalan tersangkut suatu perkara yang tidak terduga, maka Kiamping menunggu lagi dengan menekan sabar.

Malam itu Liok Kiam-ping gundah gulana, hingga fajar menyingsing dia tidak memejam mata. Saat itu mondar mandir gelisah diruang tengah.

Sejak berada di Te-sat-kok kegemaran Ai-pong-sut minum arak ternyata angot, selama beberapa hari ini dia mabuk- mabukan, celentang diatas ranjang tidak ingat diri. Entah kenapa hari itu pikirannya jernih, begitu siuman dia membelalakan mata serta berteriak: "Lho, ciangbun, kenapa kau tidak tidur."

Liok Kiam-ping hanya sedikit mengangguk, wajahnya hanya unjuk senyum getir sebagai ban.

Ai-pong-sut Thong cau tertawa lebar, katanya: "Dari sini ke Ui-sanjauhnya ada ribuan li, meski kita orang pesilat yang memiliki kungfu tinggi, sukar diramalkan melakukan perjalanan sejauh itu tidak akan mengalami aral rintang, adalah logis kalau kita bakal terlambat tiba ditempat tujuan."

Liok Kiam-ping hanya geleng-geleng, perasaannya makin tertekan, ditunggu lagHingga mag rib hari kedua, bayangan Le Bun tetap tidak muncul. Liok Kiam-ping tidak sabar lagi", katanya kepada Ai-pong-sut: "Kurasa dia terlib at suatu urusan ditengah jalan hingga taksempat pulang kemari."

Sehari iniAi-pong- sutpantang minum arak. pikiran jernih, maka dia merasakan hal ini memang agak ganjil, namun dia tidak memberi komentar, setelah menepekur, akhirnya dia berkata sambil geleng kepala: "Dengan bekal kepandaian Lam-coat, kurasa dalam kalangan Bulim sekarang sukar dicari tandingan, kurasa tiada alasan orang mencegat mereka.

Kata Liok Kiam-ping: "Kalau demikian, bukan mustahil mereka menghadapi musibah di Ui san?" lalu dia berjingkrak berdiri, 'kumohon Tianglo sudi bantu aku menjaga tempat ini, dalam lima hari kalau nona Le Bun belumjuga pulang, boleh silakan kau pulang kemarkas besar di Kwi-hun-ceng, bagaimana pendapat Tianglo?' Ai-pong -sut mengangguk sambil mengiakan saja.

Gugup dan gelisah hati Liok Kiam-ping, saat itu juga dia mohon diri terus bera ngkat. Sekali jejak tubuhmya meluncur- keluar selat.

Saat itu baru saja kentongan satu, Liok Kiam-ping, tidak pedulikan keadaan sekelilingnya untuk mengejar waktu, dia kembangkan Ginkang sekuat tenaganya, semalam suntuk dia melakukan perjalanan- Dengan kecepatan larinya ternyata menjalang fajar hari ketiga dia sudah tiba di-Sikssin hong dipuncak Ui-san- cuaca masih gelap. hawa pegunungan nan dinginpenuh kabut, kunang-kunang masin kelap kelip beterbangan diudara.

Lwekang Liok Kiam-ping amat tinggi, pandangannya tajam, meski kabut tebal, kunang-kunang berterbangan, namun dia masih bis a melihat keadaan sekitarnya.

Dilihatnya Le Bun duduk bersimpuh ditengah lapangan, tunduk kepala memejam mata seperti sedang sarnadi, sekitar tubuhnya dibungkus uap nutih yang bergulung gutung kunang-kunang yang kebetulan terbang menyentuh uapputih itu seketika padam dan mati. Semula Liok Kiam-ping tidak ambil perhatian, namun kejap lain dia merasakan adanya gejala yang tidak beres, kabut hitam makin tebal, kunang- kunang juga makin banyak seperti sengaja memberondong kearah Le Bun- sehingga pertahanan uapputih Le Bun semakin susut mengecil, wajah Le Bun nampak pucat Napasnya tersengal-sengal, kelihatan sudah kepayahan.

Sesaat lagi Liok Kiam-ping perhatikan, akhirnya dia sadar bahwa Le Bun kekasihnya sedang terkurung didalam barisan, tanpa terasa dia menjerit kaget "Yu-ling ling-ho-tin"

Seperti diketahui dibagian depan cerita ini, Le Bun diambil murid oleh Jit-Coat Suseng dan menetap di Ling-lam, dengan raj in dan tekun dia meyakinkan Kan le cin-khi dan Jit-Coat- siau.

Untung Seng-si-koan dalam tubuhnya sudah tembus, sejak kecil dia sudah dididik gurunya yang asli menggunakan seruling, maka untuk mempelajari jit Coat siau dia tidak menemukan banyak kesulitan, kemajuannya malah lebih pesat dari yang diperhitungkan semula. Dalam jangka seratus haridia sudah mahir menguasai Kan le ciH-khi didalam tiupan serulingnya.

Setengah tahun kemudian sesuaijanji yang ditentukan, dia sudah berhasil menguasai Kan le cin-khi, dengan irama serulingnya dia dapat membunuh orang tanpa disadari oleh lawannya, kepandaiannya memang sudah cukup mengejutkan.

Jit Coat Suseng amat lega dan senang bahwa murid didiknya menjelang akhir hayatnya ini mampu mewarisi seluruh kepandaiannya. Maka tiga hari menjelang hari yang dijanjikan

Jit-Coat Suseng perintahkan Le Bun berangkat menuju ke Ulsan. Sudah tiga bulan mereka hidup bersama, laksana kakek dan cucu, hari ini mereka harus berpisah, sungguh amat berat dan mengharukan. Jit-Coat Suseng bergelak tawa, katanya: "Anak bodoh, manusia mana yang takkan berpisah dalam kehidupan dunia fana ini. Kelak Suhu akan selalu mampir ke Kwi-hun-ceng, berkumpul dengan kalian, dengan bekal kepandaianmu sekarang, cukup berkelebihan untuk menepatijanji. Nak, berangkatlah dengan hati leg a dan lapang."

Mendengar Suhunya menyebut Kwi-huu-ceng, seketika teringat oleh Le Bun akan kekasihnya tak lama lagi mereka akan segera bertemu, seketika syuurr hatinya, maka bergegas dia berlutut dan menyembah kepadalam-Coat terus minta diri dan berlari keluar gua turun gunung.

Lwekangnya sekarang sudah berlipat tinggi taraf kepandaiannya termasuk kelas wahid karena hatinya girang tanpa merasa dia tancap gas, berlari dengan kecepatan tinggi laksana kilat. Sejak kecil dia menetap di Te satkok, sudah biasa hid up dipegunungan, maka dia menempuh peejalanan lewatjalan dekat meski yang dilaluijurang dan selat atau lembah dan gunung curam sekalipun. Setelah dua hari dua malam menempuh peejalanan, akhirnya dia tiba di Ui-san, setengah hari lebih dan dari waktu yang dyanjikan. Betapapun tinggi Lwekangnya setelah menempuh peejalanan cepat dan makan banyak tenaga capaijuga Le Bun dibuatnya. Maka dia mencari tempat sepi bersamadi menghimpun tenaga dan memulihkan semangat, setelah badan segar baru dia mulai bergerak kearah Sik sin-hong.

Pertemuan di Ui-san yang kedua kali ini setelah tiga puluh tahun yang lampau, sebelumnya hanyajanji pertemuan dan saling mengukur kepandaian dari Su coat secara pribadi. tapi entah bagaimana tentang janji pertemuan ini bocor dan tersiar luas dikalangan bulim, golongan hitam atau aliranputih asal seorang pesilat yang mempunyai nama didunia persilatan. Meski jauh juga meluruk datang ingin menonton.

vvaktu Le Bun tiba diatas puncak, ribuan orang sudah berjejal diatas puncak, Ditengah tanah lapang yang masih kosong, di empatpenjuru sudah disiapkan empat buah batu besar dalam bentuk sama, batu diarah timur dan utara sudah diduduki dua orang pemuda lakiperempuan, keduanya duduk bersimpuh memejam mata seperti menanti dengan sabar.

Sekilas tampak oleh Le Bun, pemuda yang duduk di sebelah timur adalah Yu ling Kongcu, yang duduk disebelah utara adalah gadis jelita yang berusia dua puluhan, belum pernah Le Bun melihat gadis ayu ini, tapi dari tempat duduknya disebelah utara maka dapat diduga bahwa dia murid keturunan Bu-iu- khek dari padangpasir.

Mengingat waktu sudah mendesak begitu tiba Le Bun langsung melompat tinggi mengembangkan Ling-hi-pou yang pernah diajarkanLiok Kiam-ping kepadanya, dengan enteng dia meluncur turun dibatu sebelah selatan. Betapa indah gemulai gaya Ling-hi-pou yang di demonstrasikan Le Bun,jaun lebih luwes dan lembut dari gerakan Liok Kiam-ping biasany a, kapan hadirin pernah melihat pertunjukan Ginkang sehebat itu, karuan kehadirannya mendapat tampik sorak yang gegap gumpita.

Bila mentari sudah tepat bercokol ditengah cakrawala, Yu- ling Kongcu mendahului berdiri sebelum bicara dia menjura keempatpenjuru: "Cayhe Yu-ling Kongcu dari Tang ling-kiong, atas perintah orang tua datang menghandiri pertemuan besar di Uisan ini, sekarang waktu yang dyanjikan sudah tiba, tinggal murid keturunan Bong Siu dari barat yang belum tiba. Maka anggaplah dia gugur dan tidak ikut dalam pertemuan ini. Bagaimana pendapat nona berdua? " Gadis yang duduk disebelah utara atau murid Bu-ing khek tertawa katanya: "Aku yang rendah Hoan Kiang soat, atas perintah Bu-in khek  guruku hadir-dalam pertemuan ini, mungkin karena perjalanan jauh hingga murid Bong Siu dari barat belum tiba, mungkin sebentar lagi akan tiba, hari baru tepat lohor, kurasa boleh kita tunggu beberapa kejap lagi, setelah ditunggu tetap tidak datang, anggaplah dia gugur dan tiada hak ikut dalam pertandingan ini"

Kecuali memperkenaikan dirinya, sudah tentu Le Bun juga menyatakan akur saja. Karena kalah suara terpaksa Yu ling kong-cu duduk kembali. Setengah jam kemudian, tiga orang ini mulai berunding, menentukan urutan dari pertempuran mereka. Babak pertama Pak-ong melawan Lam-Coat, pemenang dari pertarungan babak pertama ini diteruskan bertanding dengan Tang-ling.

Diam-diam Yu-ling kongcu bersyukur dan merasa lega. beruntung dirinya akan turun gelanggang dibabak kedua. Le Bun dan Hoan Kiang-soat melangkah maju beberapa langkah ke tengah gelanggang, keduanya berdiri beri hadapan di tengah arena.

Setelah mengkonsentrasikan diri keduanya menjura sambil berkata: "Silakan." Sebelah tangan Hoan Kiang-soat merogoh kebelakang pundak, "Sret" selarik cahaya kemilau biru melesat, Pedang panjangnya telah dicabutnya keluar. Berhadapan dengan musuh tangguh Le Bun tidak berani gegabah atau memandang enteng lawan, sebat sekali dia mengegos miring, seruling batujadeputih ditangannya sudah terpegang ditangan.

Keduanya mengembangkan gerak kilat menuju ketimur dan baratujadi mengelilingi arena s a ling berganti tempat, sejenak mereka berhenti. tanpa beejanji keduanya melompat maju ketengah arena. Pedang panjang Hoan Kiang soat menepis miring dan berteriak: "Lihat serangan." ditengahjalanpedangnya berobah denganjurus Pek- coa tosim ( ularputih menjulurkan lidah ) menusuk lurus keJiau-kin hiat dipundak Le Bun.

"Dengan melangkah Ling-hipou Le Bung mengegos ke kanan sambil mengendap tubuh, berbareng tangan kanan menggentak seruling putih untuk mengetuk pedang lawan. Padahal serangan Hoan Kiang .soat hanya gertakan belaka, serangan ditengahjalan sementara seruling lawan sudah mengetuk tiba, lekas dia melintir pedangnya sambil menarik mundur, berbareng kaki pindah posisHingga tubuh berputar, maka pedangnya bergerak dengan perubahanjurus Sip llto-so menusuk cacat nadi dipergelangan tangan Le Bun. Seruling Le Bun menyerang tempat kosong, sementara ujung pedang lawan sudah balik mengancam dirinya, lekas dia mengendap badan menarik tangan sambil berkelit kekanan, berbareng seruling ditangan kanan terangkat menutuk Thay-yang-hiat Hoan Kiang soat. Gerak geriknya aneh cepat lagi, serulingnya membawa desing suara melengking, ternyata Le Bun mulai kerahkan Ka H—le- ciH—kh i didalam permainan serulingnya.

Belum sempat Hoan Kiang-soat menarik pedang, seruling lawan sudah menutuk tiba, cepat dia kembangkan Ginkang tunggal tiada bandingnya Bu-ing-pcu (langkah tanpa bayangan) berkelebat delapan kakijauhnya tutukan seruling Le Bun berhasil dihindarkan,

Bahwa dirinya dua kali terancam hati Hoan Kiang-soat naikpitam, segera dia kerahkan tenaga dalamnya, pedangnya seperti dibanduli benda berat, batang pedangnya memancarkan cahaya biru kemilau seluas dua kilo. Ditengah hardikannya cahaya biru yang mencorong berkelebat, untuk kedua kali dia merangsak maju.

Le Bunjuga kembangkan Ginkangnya berseliweran diantara samberan cahaya biru, setiap serulingnya terayun desing suaranya cukup memekak telinga seperti berkutet dengan cahaya biru lawan. Maka kedua pihak sama mengembangkan kecepatan, keduanya s a ling merebut kesempatan ingin dahulu mendahului. Saking cepat gerakan mereka, hakikatnya tidak melihat lagi bentuk bayangan mereka. Yang terang cahaya biru makin menyala, sinar seruling putihjuga berkilauan seperti dua naga yang saling gubat dengan sengit. Lima puluh jurus. Setiap gerakpermainan kedua pihak makin deras dan besar perbawanya, keduanya sudah menampilkan berbagai corak ragam gerakan danpermainannya, namun lawan terdesak dirinyapun terancam, sehingga kedua pihak sama-sama sering menghadapi bahaya yang meng a nca m j iwa.

Tanpa terasa seratus jurus sudah mereka beri hantam. gerakan masih cepat dan tangkas, seperti tidak kenal lelah, tiga tombak sekitar gelanggang. hawa seperti bergolak oleh hamburan angin kencang yang ditimbulkan oleh permainan senjata kedua orang yang lagi bertempur.

Sekonyong-konyong terdengar suara hardikan nyaring, Dua bayangan orang yang berkutet mendadak melompat berpencar. Kalau Hoan- Kiang-soat tampak tersengal-sengal. Demikian pula Le Bun juga kelihatan payah, Maklum mereka beejuang demi mempertahankan kebesaran nama perguruan. sebelum ada ketentuan siapa kalah dan menang, pertempuran ini tak boleh berhenti.

Terutama Hoan Kiang-soat dalam hal tenaga dalam dia insaf dirinya masih kalah setingkat dibanding lawan. namun dia masih punya keyakinan tebal dengan Ginkangnya yang khusus dan tunggal disertai permainan ilmu pedangnva yang aneh menakjupkan, lawan akan diajak bertempur sampai titik da rah terakhir. Ditengah cekikik tawanya yang merdu, tak kelihatan dia menggerakan badan, hanya sekali berkelebat. tubuhnya sudah melambung delapan kaki tingginya. Ditengah udara menekukpinggang hingga tubuhnya berputar laksana seekor burung merakseindah bidadari menari lengan ka nanny a bergerak, cahaya birupedangnya mencorong benderang menabas turun keatas kepala Le Bun. Mata Le Bun silau oleh cahaya biru yang menyala benderang, seolah-olah ada ratusan batang pedang yang sekaligus memberondang dirinya hingga susah dibedakan bagian mana ditubuhnya yang diserang. Lekas dia kembangkan gerakan Lian-hoan-yau-pou,jurus penyelamat jiwa dari Ling-hi-po yang paling lihay, beruntun tubuhnya berkelebat lalu melayang keluar setombakjauhnyai Mau tidak mau Le Bun kagum dan membatin: "Kiam-hoat darijenis apakah sedemikian lihay ?"

Tengah Le Bun kebingungan, Hoan Kiang-soat sudah mengejar tiba bagai setan gentayangan menyergap dari belakang, dengan deru yang keras ujung pedangnya mengancam Giok-sin-hiat dibelakang batok kepala Le Bun. Mendengarsuara angin membedakan serangan, Le Bun melenggong sekilas, untung dia tidak pernah gugup meski terancam, sebelum kakinya menyentuh tanah. mendadak dia menarik napas, kedua tangan menekan kebelakang sehingga tubuh yang melorot turun berhasil didorongnya maju dua kaki sehingga tusukan lawan luput. Meski melenggong oleh serangan lawan yang lihay tadi, Le Bun naikpitam dan membakar keinginannya merebut kemenangan. Begitu ujung kaki menutul bumi tubuhnya sudah melejit setombak tingginya, di tengah udara berputar selingkar tubuhnya rebah celentang laksana naga memutar kepala mengegos ekor, dia berbalik menubruk ke a rah Hoan Kiang-soat. Gerak tubuhnya indah gemulai tidak kalah indah dari gerakan Hoan Kiang-soat tadi.

Ginkang Bu iu-khek memang tunggal dan tiada bandingan, terkenal sejakpuluhan tahun lamanya, Hoan Kiang-soat adalah ahli warisnya yang sudah mempelajari seluruh ilmunya.

Dalam pertemuan di Uisan ini dia kira dengan langkah tanpa bayangan ajaran gurunya yang menunggal diBulim, disertaipermainan pedangnya yang lihay, yakin dapat menundukkan lawan-lawannya serta menjunjung tinggi wibawa perguruannya. Tak kira setelah beri hadapan dengan Le Bun, baru dia sadar kemampuannya masih kalah seurat dibanding Le Bun, karuan perasaannya menjadi dingin. semangat tempurnyapun tidak segigih tadi. Sedikit lena bis a berakibat fatal bagi seorang kosen yang lagi berhantam ditengah arena. Sekilas melengak itulah seruling putih Le Bun sudah menutuk kepundak kirinya. Kan le-cin- khi mampu menghancurkan batu keras, begitu serangan yang mampu meretakan batu pilar di lontarkan, dengan senrtirinya kekuatan tenaga dalamnya ikut memberondang keluar karuan Hoan Kiang-soat seperti dicocoki jarum dingin sekujur badannya.

Serangan teramat cepat, untuk berkelit sambil berputar jelas tidak keburu, terpaksa dia kerahkan seluruh tenaga murninya diujung pedang, sekali sendal dengan jurus Hun- hoa-hud-liu dengan kekerasan dia menyampuk seruling lawan. "Cring"" tidak keras benturan kedua senjata, namun cahaya biru seketika kuncup satu kaki lebih kecil, bayangan orangpun melorotjatuh di tengah gelanggang.

Kan le-cin-khi adalah lwekang sakti dari ajaran murni aliran I fian-bun, Lwekang biasajelas takkan kuat menandangi, tak heran Hoan-Kiang-soat yang mengerahkan seluruh kekuatan diujung pedangnya tak mampu menandingi pertahanannya yang kokoh. Untung Lwekangnya juga tinggi begitu membentur dan merasakan gelagatjelek lekas dia alihkan getaran pedangnya miring satu kaki, begitu tenaga dalam yang dikerahkan buyar kontan dia jatuh ditengah arena. Le Bun kira gebraksejurus ini cukup menjatuhkan lawan, tak nyana dikala bahaya pedang lawan berkelebat itulah, Kan-le- cin khi yang dikerahkanjuga mendadak macet ditenganjalan. Mau-tidak mau diapun kagum akan Lwekang lawan yang tinggi. Bahwa lawan berhasil dipukul mundur sudah tentu semangat tempurnya makin menyala. Mumpung tubuh Hoan- Kiang-soat melorot turun itulah seruling putihnya terangkat, dengan Kan-le-cin-khi dia merangsak dari belakang. Serangan susulan ini laksana kilat menyambar, dikala kehabisan tenaga, betapapun Hoan Kiang-soat sukar berkelit menyelamatkan diri, dikala

kepepet dan tersudut itulah, secara reflek dia berusaha menolongjiwa dengan menudingkan pedang keatas. "Cring" dering nyaring bergema diangkasa sampai lama, pedang panjangnya ternyata mencelat terbang, Cahaya biru dari pedangnya Hoan-Kiang-soat meluncur satu tombak menancap diatas batu. gagang pedangnya masih bergoyang dengan g eta ran keras. Saking kaget Hoan Kiang soat menjerit ngeri dengan muka pucat, keduamata sudah terpejam menerima nasib.

Tujuan daripertemuan inHanyalah bertanding mengukur kepandaian, setelah satu pihak ada yang kalah maka pertempuranpun harus diakhiri, apalagi lawan sudah dilucuti senjatanya, maka sambil melintangkan seruling dan berdiri lurus, Le Bun berkata dengan tertawa: "Terima kasih, Cici sudi mengalah kepadaku." Hoan Kiang-soat kira jiwanya takkan selamat dalam pertarungan ini, kenyataannya lawan bukan saja tidak menyakiti dirinya, malah bersikap ramah dan rendah hati, tidak malu sebagai murid guru ternama, timbullah rasa simpatiknya, katanya dengan tawa getir: "Akulah yang harus terima kasih kau menyelamatkan jiwaku, setulus hati aku mengagumimu, kelak bila ada jodoh, pasti akan kuminta pula petunjuk darimu, sekarang biar aku mohon diri saja” Setelah menjura hormat segera dia melejit tinggi meluncur kebawah gunung seenteng burung walet. Untuk merangsak dengan permainan serulingnya barusan Le Bun harus kerahkan Kan le- cin-khi dan menguras banyaktenaga maka badan terasa capai.

Disaat dia mengatur napas itulah Yu-ling Kongcu beranjak maju ketengah gelanggang dengan sikap munaflk dia berkata "Sungguh tak nyana. hanya berpisah beberapa bulan. kemajuan Lwekang nona sungguh sukar diukur. Sejak bertemu pertama kaki tempo hari, selalu terbayang wajahmu dilubuk hatiku, pertarungan sering merenggangkan hubungan, maka kuanjurkan pertandingan ini dibatalkan saja-  Selanjutnya kita bersama melanglang-buana sebagai sepasang pendekar muda, menjagoi dikalangan Bulim, Adik bagaimana menurut pendapatmu? Berdiri alis Le Bun, sikapnya seperti muak danjijik, bentaknya marah: "Kuminta kau tahu diri dan bersikap sopan, siapa adik mu, kalau cerewet lagi jangan menyesal kalau nona turun tangan keji kepadamu."

Yu-ling Kongcu malah berseri tawa katanya: "Adik Bun kenapa marah dan gelisah, ketahuilah Ping-kokomu sekarang sudah ditangkap dan digusur kekota raja untuk dijatuhi Hukuman, sekarang mungkin sudah berada dalam penjara, Kwi-hun-ceng sudah ditumpas habis olehpasukan negeri, sekarang Se-bong sudah runtuh, Ham ping- kiong dan Lo-hu- to sudah gugur, dalam Bulim sekarang hanya Tanng ling-s in- kiong yang akan menjadi pimpinannya, kuharap adik Bun berpikir lagi '

Ngeri perasaan Le Bun mendengar orang berulang memanggil "adik" kepadanya, amarahnya makin membara, apalagi mendengar berita tentang Ping-kokonya, entah betul atau tidak, yang terang kabar ini sudah membuatnya sedih dan sakit hati, a ma rah yang tak terkendali segera dia tumplek kepada Yu-ling Kongcu "Anjing kurap." bentaknya beringas, "lihat serangan." Seruling putih terayun lurus kedepan menotok Hoakay-hiat didada Yu ling Kongcu.

Yu ling Kongcu menyeringai tawa sadis, katanya: "Tidak sukar untuk berkelahi, baiklah biar Kongcu menemani kau berlatih beberapa jurus" sembari mengoceh kaki kiri menggeser kebelakang meluputkan diri dari serangan lawan. Disaat tubuhnya bergerak itulah tangannya sudah memegang sebatang kipas lempit yang terbuat dari besi, dengan jurusJlo ci-thian lam (menuding langit selatan dengan tertawa) menjojoh urat nadi tangan kanan Le Bun.

Berkelit, mengeluarkan kipas serta balas menyerang dilakukan serempak, memang tidak malu sebagai anak tokoh lihay.

Dengan kesebatan langkahnya Le Bun menarik tangan berputar kepinggir Yu ling Kongcu seruling putih mendesing, tajam berputar disekeIiiing badan Yu- ling Kongcu. Agaknya amarahnya sudah memuncak, benci dansengit lagi mendengar ocehanpemuda bajul ini, maka serangannya menggunakanJit- coat siau kebanggaan Lam- coat.

Untuk mengembangkan kemurnianJit-coat-siau yang sejati dituntut bekal Ginkang yang tinggi di landasi tenaga Kan le cin khi yang ampuh baru betul -betul dapat memperlihatkan perbawanya.Jangan kata jurus permainannya aneh menakupkan, desing suaranyapun cukup membisingkan telinga bagi yang Lwekangnya rendah, dalam jangka setengah jampasti akan jatuh semaput.

Untung Lwekang Yu-1ing Kongcu cukup tinggi, pengalaman tempurnyapun cukup banyak, tahu lawan yang dihadapi memiliki latihan Lwekang kelas tinggi dari a lira n murni, maka dia tidak berani lengah, seluruh perhatian ditujukan menghadapi permainan seruling lawan-

Ginkang ajaran "Tang- ling juga menjagoi kalangan persilatan, dalam setahun ini Yu-ling Kongcu juga berlatih dengan giat dan tekun, sehingga Lwekang bertambah Kungfu makin tinggi, sepenuh tenaga danperhatian dia menghadapi serangan Le Bun, ternyata keadaan sama kuat alias setanding.

Kedua lawan yang bertarung ini merupakanjago-jago top kelas tinggi, permainan mereka cukup cepat dan lihay, begitu cepat gerakan mereka sehingga yang kelih atan hanya dua bayangan hitam dan hitam, perbedaan yang menyolok seperti dua ekor naga yang lagi bergelut dengan sengit, masing- masing mengembangkan ketangkasan, kecerdikan dan kemampuan merebut inisiatif menyerang. Setiapjurus permainan mereka adalah tipu-tipu lihay yang aneh dan simpanan dari perguruan masing masing, takpernah mereka melancarkan serangan sepenuh tenaga saking cepat mereka bergerak dan menghadapi reaksi lawan disaat menghadapi serangannya, sungguh merupakan pertempuran yang berbeda dengan kebanyakan pertempuranjago-jago silat umumnya. Lekas sekali seratus jurus telah tercapai.

Le Bun termakan oleh obrolan Yu ling Kongcu sehingga menguatirkan keselamatan sang kekasih, makin serang makin ganas nafsu membunuh telah membakar sanubarinya, kekuatan kan-le-cin-khi dia tambah dua bagian lagi.

Karena itu situasi menunjukan sedikit perobahan- terpaksa oleh Yu-ling Kongcu permainan silat lawan seperti tidak habis- habis permainannya, gerak tubuhnya cepat laksana angin lesus yang terlihat hanya bayangan putih tidak kelinatan bentuk badannya. Lebih celaka lagi desing seruling yang melengking tajam memekak telinga dan seperti menyedot sukmanya.

Karena terdesak, jantung juga tegang, maka seluruh perhatian Yu-ling Kongcu tumplek untuk menghadapi serangan lawan disamping mengendalikan diri terhadap gangguan suara serulingnya dengan berbagai daya upaya dia terus berjuang mempertahankan diri menyelamatkan diri, tidak menyerang tapHanya membela diri saja.

Saat itu hari sudah terang benderang, mereka sudah beri hantam dua ratus jurus banyaknya. Semestinya mereka sudah merasa lelah danpayah. Terutama Le Bun yang harus bertempur dua babak, untuk Seng-si-koan dalam tubuhnya sudah tembus, tenaga dalamnya seperti punya sumber yang tak pernah habis saja, maka dia hanya merasa sedikit lelah, tapi tidak sampai kepayahan.

Sebaliknya setelah dua ratus jurus kemudian Yu-ling Kongcu betul- betul sudah letih dan payah, namun rangsakan Le Bun teramat gencar sehingga dia tumplek  seluruh perhatian maka tidak disadarinya bahwa kondisinya sudah makin lemah. Tapi otaknya cerdas banyak akal muslihatnya, dalam keadaan terdesak melulu, dia membatin: "Kalau begini terus, keadaanku makin payah, bukansaja tiada harapan menang, kesempatan melarikan diripun mungkin tiada lagi." Setelah mengambil ketetapan mendadak dia berkelebat mundur setombakjauhnya, kedua lengan terulur, ditengah gerungannya, kedua telapak tangannya mendadak berobah hijau lalu meng hitam, maka mengepullah dua gulung kabut gelap dari kedua telapak tangannya. Makin lama kabut hitam itu makin tebal dan banyak. setelah dia himpun tenaga dan mendorong maju telapak tangannya, kabut hitam itu menerpa ke a rah Le Bun.

Dari mulut Liok Kiam-ping, Le Bun pernah dengar kelihayan Heksat-ciang dari Tang- ling jahat dan ganas, namun karena baru sekarang dia menghadapinya, maka hatinya  bimbang dan setengah percaya, diluar tahunya bahwa ilmu yang dilancarkan Tangling Kongcu sekarang adalah Heksat-ling-lan- ling yang paling ganas dari Heksat-ciang.

Bila tubuh manusia tersentuh oleh pukulan ini, seluruh tubuh akan membusuk dan jiwapun melayang.

Melihat kabut hitam bergulung-gulung makin melebar memenuhi angkasa, keadaannya lebih hebat dibanding apa yang diceritakan oleh Liok Kiamping, maka tahulah Le Bun bahwa lawan telah memboyong ilmu simpanannya, maka Le Bun tidak meremehkan serangan lawan, lekas dia kerahkan seluruh Lwekangnya, dasarotaknya cerdik danpandai melihat gelagat, Kan-le-cin-khi pun telah dikembangkan untuk melindungi bad an- Untung sebelumnya dia sudah waspada, bila kabut hitam itu sudah menyentuh badan baru dia mengerahkan Kan-le-cin-khi tentu sudah terlambat. Kabut tebal hitam itu bergolak setengah kaki disekitar badan Le Bun, seperti tertahan oleh dinding baja yang tidak kelihatan lalu buyar tertiup angin lalu.

Walau dia berhasil menahan damparan kabut hitam yang bergolak keras itu, namun IHeksat lan-ling yang membungkus sekujur badannya itu buyar keempatpenjuru. celaka adalah penonton yang menjadi korban, tidak sedikit yang terjungkal roboh keracunan, ada yang mati seketika tapi tidak sedikit yang sekarat. sisa yang lain la ri kocar kacir turun gunung.

Melihat Heksat-lang-lin yang paling di andalkan juga tidak mampu merobohkan lawan, Yu-ling Kongcu menjadi nekad, tekadnya mengalahkan musuh makin besar, mendadak dia menggerung keras sambil menghamburkan napaspanjang berulang kali, apipospor laksana kunang-kunang yang diterbitkan oleh pukulan tangannya bukan saja di bawah landasan tenaga dalamnya, didorong oleh tiupan mulutnya yang keras, karuan seluruhnya membrondong kearah Le Bun selebat hujan deras.

Melihat betapa gencar dan dahsyat serangan musuh, kejut dan kuatir hati Le Bun, lekas dia duduk bersimpuh, memusatkan pikiran dan semangat mengembangkan Kan-le- cin-khi sampai pada puncaknya untuk menahan serangan musuh. Betapapun tinggi Lwekangnya, karena sudah bertempur dua babak. lama kelamaan dia kehabisan tenaga dan makin lemah, untung Seng-si-koan sudah tembus, maka sekuat tenaga dia masih kuat melawan.

Tapi damparan kabut hitam segencar gelombang pasang, makin lama menindih makin berat, jarak yang semula bertahan setengah kaki kini tinggal dua dim lagi sudah akan menyentuh tubuhnya, mungkin setengah jam lagi, kalau tidak mati Le Bun pasti terluka parah. 

Disaat genting itulah Liok Kiam-ping tiba dipinggir arena, diapun melihat keadaan Le Bun yang gawat dan berbahaya, lekas dia kerahkan Kim -kong-put-hoay-sin-kang. selangkah demi selangkah beranjak ke tengah gelanggang.

Kim- kong-put-hoay-sin-kang memang bukan olah-olah saktinya. dimana dia bergerak kabut hitam yang disertai api kunang-kunang yang beterbangan itu seketika padam dan buyar, sirna tanpa bekas, seperti uap air mendidih yang sirna ditengah udara. Padahal Yu ling Kongcu sudah tertawa lebar, dia yakin dirinya pasti menang lawan akan dikalahkan dan dibekuk, hanya tinggal waktunya saja, tak nyana disaat yang menentukan itulah ternyata Liok Kiam-ping muncul menggagalkan rencana dan usahanya, setelah melihat yang datang adalah Liok Kiamping, dendam lama sudah membakar hati. sakit hati baru lebih membakar sanubari, maka dalam hati dia bertekad, hari ini Harus menentukan kalah menang, kalau tidak bisa menang juga harus gugur bersama musuh. Mendadak dia kerahkan pula tenaganya, seluruh Lwekang yang pernah diyakinkan dia kerahkan sepuluh bagian, maka kunang-kunang biru bertambah banyak dan sinarnyapun makin terang, kekuatannya selipat lebih dahsyat dari tadi.

Akan tetapi Kim- kong-put-hoay-sin-kang adalah ilmu sakti dari aliran Hud yang tiada taranya, umpama Yu-ling Kongcu memiliki Lwekang berlipat ganda dari yang telah dimiliki sekarang juga jangan harap Heksat lan-ling dapat menyentuh badan orang.

Kejap lain Liok Kiam-ping sudah berada didepan Le Bun, legalah hatinya, namun dia harus perhatikan juga Heksat lang- ling- Yuling- Kongcu. maka belum berani dia buka suara mengajak kekasihnya bicara.

Padahal Le Bun sudah hampir kehabisan tenaga, mendadak dia merasakan tekanan disekitar tubuhnya menjadi kendor, dia tahu seorang telah membantu dirinya, waktu dia mendongak dan membuka mata, Liok Kiamping seperti datang dari tengah angkasa, sungguh senang hatinya bukan kepalang, seperti kejatuhan rejeki nomplok saja layaknya, namun dia sadar kondisinya sudah cukup payah, maka lekas dia pejamkan mata pula dan samadhi memulihkan kekuatan.

Yu-ling Kongcu sudah kerahkan seluruh kemampuannya sehingga Heksat- lan-ling umpama banteng ketaton yang mengamuk, namunjangan kata unggul, ternyata dia merasa terdesak malah. Maklum diapun sudah banyak keluar tenaga setelah ratusanjurus bertempur lawan Le Bun tenaga dan semangatnya juga sudah loyo, maka Heksat-lan-ling makin terdesak dan kuncup.

Insaf dirinya tiada harapan menang, mendadak kedua bolamatanya melotot beringas, seperti jago ayam dan keok ditengah aduan, tanpa pikirkan keselamatan jiwa raga sendiri, selangkah demi selangkah dia mendesak kearah Liok Kiam- ping malah.

Tujuannya mendesak masuk ke dalam pertahanan Kim kong-put-hoay-sin kang lawan, lalu dengan kerahkan setaker tenaga racun pospor ditubuhnya mengajak gugur bersama Liok Kim-ping. Tapi makin dekat pertahanan Kim kong-put hoay-sin-kang langkahnya terasa makin berat, dadanya seperti ditahan oleh tangan raksasa- yang kokoh kuat hingga tubuhnya tak kuasa maju lebih dekat lagi.

Kebetulan saat itu Le Bun selesai bersemedi, semangatnya sudah pulih pikiranpun jernih lekas dia ayun seruling, Kan-le - cinkhi yang dikerahkan membuat seruling putih mencorong cemerlang, laksana bintang sapu yang jatuh menyambar lurus ke dada Yu-ling Kongcu.

Padahal Yu-ling Kongcu sedang kerahkan seluruh tenaganya ingin mendesak maju, tak mungkin dia mampu menghadapi serangan lain yang dilancarkan dari luar, apalagi tenaganya juga hampir ludes, maka dia tidak mampu berkelit, cahaya benderang meluncur tiba, mau berkelit juga tidak mampu lagi. Kontan mulutnya menjerit kesakitan seperti binatang liar yang tertembus peluru jantungnya. Seruling jade putih Le Bun amblas menembus dada Yu ling Kongcu "Bluk" badannya roboh terkapar, jiwa melayang seketika.

Selincah burung walet pulang kesarangnya Le Bun menubruk ke dalam pelukan Liok Kiam-ping. keduanya berpelukan dengan kencang, mungkin karena diburu emosi, sekujur badan Le Bun bergetar, mata terpejam, namun air mata meleleh membasahi pipi.

Entah berapa lamanya mereka berpelukan, seolah dunia milik mereka bersama, akhirnya mereka bergandeng tangan saling berpandangan penuh kasih mesra. Kejap lain mereka sudah berlari bagai terbang turun gunung sambil bergandeng tangan langsung kembali ke Kwi-hun-ceng.

Bila mereka, tiba di Kwi-hun-ceng, markas besar telah terbuka dan diperbaiki pula, pasukan negeri sudah ditarik kembali atas perintah Ka cin-ong. Sudah tentu bersorak sorai seluruh anggota Hong-lui-pang menyambut pulangnya sang Pangcu bersama Le Bun.

Mendengar Ping-koko pulang sudah tentu Siau Hong tidak mau ketinggalan dengan langkah lebar lekas dia menyongsong maju seraya berteriak senang: "Ping-koko. Bun-cici, kalian sudah pulang. Baikkah kalian?

Terhadap adik cilik yang mungil dan jenaka serta welas asih ini, Le Bun amat sayang, gemas lagi, segera dia peluk Siau Hong dengan penuh pengertian, lalu bertiga mereka bergandengan tangan, Siau Hong disebelah kiri, Le Bun disebelah kanan, mereka berpandangan penuh bahagia.

Beberapa hari kemudian Kwi-hun ceng dipajang secara semarak. hari yang telah ditentukan untuk merayakan pernikahan Pangcu mereka Liok Kiam-ping yang sekaligus mempersunting dua gadis jelita pujaan hatinya, yaitu Siau Hong dengan Le Bun.

Dunia persilatan aman sentosa Kwi-hun-ceng makin menjulang namanya. Liok Kiam-ping diakui sebagai tokoh yang disegani dan terpandang.

TAMAT