Elang Terbang di Dataran Luas BAB 42. LORONG RAHASIA

BAB 42. LORONG RAHASIA

Langit belum gelap, namun suasana di dalam rumah kayu yang jelek itu sudah terasa gelap.

Lu-sam duduk di sudut ruangan di balik kegelapan, wajahnya yang tanpa perubahan tampak sedang terpekur memikirkan sesuatu.

"Sekarang Pancapanah pasti sudah mendapat laporan dari anak buahnya, tahu kalau aku telah menghimpun seluruh kekuatanku di kota Oh-ki," kata Lu-sam perlahan, "Dia pasti mengira aku pun berada di kota Oh-ki, karena aku takut Siau-hong maka akan kugunakan siasat melawan siasat dengan memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuh Siau-hong dengan tanganku."

Setelah tertawa, lanjutnya, "Pancapanah pandai menganalisa keadaan dan mengatur siasat, tapi kujamin kali ini dia pasti salah memperhitungkan satu hal."

"Soal apa?"

"Dia pasti tidak percaya kalau Tokko Ci betul-betul berada di sini."

"Tokko Ci betul-betul berada di sini?" Tidak menunggu Lu-sam menjawab, Che Siau-yan bertanya lebih lanjut, "Kau benar-benar akan menjodohkan aku dengannya?"

"Perkawinan adalah sebuah kejadian yang aneh, terkadang bukan hanya bertujuan untuk menyatukan lelaki dan perempuan."

"Lalu karena apa?"

"Karena untuk senjata, anak gadis kaum miskin menggunakan perkawinan sebagai senjata guna memperoleh jaminan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang, sementara anak gadis kaum kaya menggunakan perkawinan untuk menambah posisi serta kekuasaan sendiri." 

Ditatapnya Che Siau-yan dengan sinar mata setajam jarum, kemudian terusnya, "Kau sendiri seharusnya tahu, sesungguhnya aku menikahkan dirimu dengan Tokko Ci demi kebaikan dan keuntunganmu maupun keuntunganku!"

"Tapi hingga sekarang aku belum bertemu dengan dia." "Kau   ingin   bertemu   dengannya?"   mendadak Lu-sam

bangkit, "Baik, ikuti aku."

Di dalam rumah kayu jelek itu terdapat sebuah almari kayu jelek, ketika almari itu dibuka, lalu menekan sebuah tombol rahasia, segera muncullah sebuah pintu rahasia.

Setelah memasuki pintu rahasia itu, tibalah mereka di sebuah dunia lain. Sebuah dunia yang gemerlapan dengan cahaya emas, sebuah dunia yang bertaburkan emas murni.

Ada tiga orang di dalam ruangan berlapis emas itu, seorang lelaki muda, seorang lelaki berusia agak dewasa, dan seorang lelaki setengah umur yang rambutnya telah memutih. Yang muda bertubuh jangkung dengan pakaian yang indah dan mewah, bukan saja dia tampak tampan, bahkan sangat angkuh.

Orang yang berusia lebih dewasa kelihatan halus dan sopan, tak diragukan dia adalah orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Sedangkan orang berusia pertengahan sangat biasa dan umum, tak berbeda dengan lelaki mana pun yang pernah kau jumpai di tengah jalan raya di dunia ini.

Hanya bedanya perawakan tubuhnya lebih kekar dan berotot, bukan saja kelihatan kekar, bahkan lemak di perut pun sama sekali tak tampak.

Ketiga orang itu jelas berasal dari latar belakang yang berbeda, hanya ada satu persamaan di antara mereka.

Ketiga orang itu sama-sama membawa pedang, pedang yang digembol berada di samping tangannya, dalam sekali sambar mereka dapat segera melolos senjata itu.

Ternyata Tokko Ci tidak berada dalam ruangan itu, sedang ketiga orang itu belum pernah dijumpai Che Siau- yan sebelumnya.

Lu-sam segera memperkenalkan orang-orang itu. "Mereka adalah pembantu setiaku,  rata-rata  merupakan

jago  pedang  kelas  satu  dalam  dunia  persilatan," katanya,

"Sayang di tempatku sini tidak berlaku nama, yang ada hanya nomor."

Nomor mereka adalah empat, empat belas dan dua puluh empat.

Dibandingkan nomor tiga, tiga belas dan dua puluh tiga, mereka kalah satu tingkat. Sebab mereka memiliki banyak persamaan dengan ketiga orang yang diutus Lu-sam untuk membunuh Siau-hong, bukan saja watak dan latar belakangnya sama, bahkan aliran pedang yang dimiliki pun tidak jauh berbeda.

"Aku minta mereka menanti perintahku di sini, karena aku pun ingin menyuruh mereka pergi membunuh seseorang."

"Siapa yang akan dibunuh?" tanya Siau-yan.

Lu-sam tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

Kembali dia memencet sebuah tombol rahasia dan terbukalah sebuah pintu rahasia lain.

Di belakang pintu merupakan sebuah lorong panjang yang gelap dan lembab.

"Berjalanlah lurus ke depan, setibanya di ujung sebelah sana akan kau jumpai sebuah pintu, pintu itu tidak dikunci, seseorang duduk di belakang pintu, asal kau buka pintu itu, segera akan kau jumpai dia."

Kemudian Lu-sam pun langsung memberikan perintahnya, singkat tapi tegas.

"Aku minta kau pergi membunuhnya! Sekarang juga!" Nomor  empat  pun  seperti  anak  buah  Lu-sam lainnya,

hanya  tahu  menerima  perintah,  tak  pernah  bertanya apa

alasannya.

Tentu saja dia pun tak akan bertanya siapakah orang yang harus dibunuhnya.

"Baik," sahut orang itu, "Sekarang juga aku berangkat."

Selesai mengucapkan perkataan itu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia langsung menerobos masuk ke dalam lorong gelap itu. Gerak-geriknya cekatan, bahkan amat lincah.

Hanya saja dia nampak sedikit emosi. Hal ini terbukti dari paras pucatnya yang berubah sedikit memerah karena gejolak emosi dalam hatinya.

Dengus napas pun kelihatan berubah sedikit lebih cepat dan memburu daripada waktu biasa.

Inilah untuk terakhir kalinya orang lain menyaksikan raut muka serta perubahan wajahnya.

Sejak menerobos masuk ke dalam lorong gelap itu, dia tak pernah muncul lagi.

Sekarang setiap orang sudah tahu kalau dia tak bakal balik lagi dalam keadaan hidup.

Sudah cukup lama dia pergi, lama sekali, manusia macam dia seharusnya tidak butuh waktu selama ini untuk membunuh seseorang, peduli siapa pun korbannya.

Dalam rentan waktu yang begini lama, peduli pekerjaan apa pun yang harus dilakukan, saat ini hasilnya sudah seharusnya diketahui.

Mati!

Inilah satu-satunya hasil akhir.

Tiada orang yang buka suara, juga tiada rasa duka atau sedih yang menghiasi wajah semua orang.

Sebab peristiwa semacam ini bukanlah suatu kejadian yang pantas disedihkan.

Setiap orang pasti akan mati, apalagi bagi manusia macam mereka.

Bagi mereka, "kematian" bagaikan seorang perempuan, seorang perempuan yang sudah lama mereka anggap memuakkan, seorang wanita yang meski mereka anggap memuakkan tapi justru sukar untuk ditinggalkan, karena itu setiap hari mereka menunggu kedatangannya, menanti saat itu benar-benar telah tiba, mereka tak akan merasa terkesiap dan takut, mereka pun tak akan merasa gembira.

Sebab mereka tahu, cepat atau lambat dia pasti akan datang.

Terhadap persoalan semacam ini, mereka nyaris merasa sudah kaku, mati rasa.

Ternyata Lu-sam kembali menunggu cukup lama.

Entah dikarenakan perasaan kasihannya terhadap selembar nyawa manusia atau karena dia menaruh hormat dan takut terhadap datangnya kematian.

Paras Lu-sam tampak jauh lebih serius ketimbang wajah Che Siau-yan serta kedua orang lainnya.

Malahan dia masih saja mencuci sepasang tangannya yang sebetulnya sudah sangat bersih dan memasang sebatang hio di atas tungku terbuat dari emas murni.

Setelah itu dia baru berpaling ke arah nomor empat  belas.

Kata Lu-sam, "Karena nomor empat gagal, sekarang terpaksa kau harus melaksanakannya."

"Baik."

Nomor empat belas segera menerima perintah itu. Dia selalu berusaha mengendalikan diri, selalu mengendalikan diri dengan baik.

Namun setelah menerima perintah itu, tubuhnya, wajahnya, sedikit banyak nampak berubah juga, berubah karena gejolak emosinya. Sesuatu perubahan yang tidak mudah diketahui dan dirasakan orang lain.

Kemudian dia pun mulai bertindak.

Pada mulanya dia bergerak sangat lamban, hati-hati, cermat, dan amat lambat.

Dia mulai memeriksa diri sendiri.

Pakaiannya, ikat pinggangnya, sepatunya, tangannya, pedangnya.

Dia cabut pedangnya, lalu dimasukkan kembali, dicabut lagi dan dimasukkan kembali.

Hingga dia menganggap setiap benda yang menempel di tubuhnya telah siap dan sempurna.

Hingga dia menganggap semuanya sudah memuaskan, dia baru menerobos masuk ke dalam lorong gelap itu.

Gerak-geriknya tetap lincah dan cekatan, bahkan jauh lebih terlatih daripada rekannya tadi.

Namun dia pun tak pernah kembali.

Kali ini Lu-sam menunggu jauh lebih lama, kemudian baru mencuci tangannya di baskom emas dan menyulut sebatang hio. Bahkan dia menghela napas tiada hentinya.

Berhadapan dengan nomor dua puluh empat, parasnya berubah makin serius, kembali dia mengeluarkan perintah singkat.

Karena dia tahu, berbicara dengan manusia sebangsa dua puluh empat, kelewat banyak bicara itu tak ada gunanya, sebab yang lain akan dianggap sampah.

Dia hanya mengucapkan dua kata, "Kau pergilah!" Dengan membungkam dua puluh empat menerima perintah ini, sepatah kata pun tidak bicara.

Tentu saja dia tak akan seperti nomor empat. Begitu menerima perintah, sikapnya seperti orang yang kebakaran alis mata.

Dia pun tidak seperti nomor empat belas, memeriksa dulu semua persiapannya, memeriksa apakah semuanya berjalan lancar, lalu memeriksa pula pedangnya, apakah mulus sewaktu dicabut.

Sudah ada dua orang yang tak pernah balik lagi setelah memasuki lorong gelap itu.

Kedua orang itu adalah pembunuh tangguh, jagoan lihai yang pandai menggunakan pedang.

Kedua orang itu adalah rekannya, sudah lama sekali dia hidup bersama mereka berdua.

Dia pun tahu mereka bukanlah manusia yang gampang dihadapi.

Tapi setelah menerima perintah itu, dia seperti baru saja menerima undangan dari orang lain yang mengundangnya makan, bahkan undangan makan dari seorang sahabatnya yang paling akrab.

Suasana di balik lorong masih tampak gelap dan lembab.

Tak terdengar suara apa pun, tak terlihat gerakan apa pun.

Bagaikan seekor ular raksasa yang sedang mementang mulut lebar-lebar, dengan tenang menelan dua orang bahkan suara sewaktu menelan pun sama sekali tak terdengar.

Nomor dua puluh empat sudah siap berjalan masuk ke dalam lorong. Sikapnya masih begitu tenang bukan saja parasnya tidak berubah, dia pun sama sekali tidak melakukan persiapan apa puin.

Dia melangkah tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat, lagaknya tak berbeda seperti hendak bersantap di rumah teman yang jaraknya tidak terlampau jauh.

Pernah dia berpikir, korban yang kali ini bakal ditelan lawannya tubuh berikut tulang kemungkinan besar adalah dirinya?

Sekarang dia telah berjalan sampai di mulut lorong, siapa pun pasti mengira dia bakal langsung melangkah masuk ke dalam.

Siapa tahu secara tiba-tiba ia berhenti, perlahan membalikkan badan, mendongakkan kepala dan menatap Lu-sam.

Pancaran matanya tiada luapan perasaan, juga tiada perubahan apa pun, dia hanya berkata, "Aku belajar pedang sejak berusia tujuh tahun, pada usia tiga belas tahun, sebelum selesai belajar pedang, aku telah belajar membunuh orang."

Suaranya datar tanpa emosi, "Bahkan aku benar-benar telah membunuh satu orang."

"Aku tahu," Lu-sam tersenyum, "Pada usia tiga belas tahun, kau berhasil menusuk mati tukang jagal Liok yang paling buas dan jahat di desamu di tengah jalan pasar yang ramai."

"Tapi sepanjang hidup tidak banyak manusia yang kubunuh," kata nomor dua puluh empat, "Karena aku tak pernah suka mencari gara-gara, aku pun tak pernah mengikat tali permusuhan dengan orang lain." "Aku tahu."

"Yang lebih penting lagi, sebetulnya aku tidak suka membunuh.”

“Aku tahu."

"Kau membunuh orang tak lebih karena harus hidup terus."

"Aku membunuh orang tak lebih karena harus makan, setiap orang perlu makan, aku pun manusia," kata nomor dua puluh empat, "Meskipun membunuh orang demi sesuap nasi bukanlah suatu kejadian yang menyenangkan, tapi ada sementara orang yang hidup lebih sengsara karena demi sesuap nasi mereka harus melakukan pekerjaan yang jauh lebih menyiksa."

Dengan hambar dia melanjutkan, "Oleh karena aku membunuh orang demi sesuap nasi, maka setiap kali melakukan pembunuhan harus ada imbal baliknya, belum pernah terkecuali satu kali pun."

"Aku tahu."

"Biarpun kau menampung aku di saat identitasku terbongkar dan dikejar musuh, namun kau pun tidak terkecuali," kata nomor dua puluh empat lebih jauh, "Kau seharusnya tahu juga berapa hargaku untuk membunuh  satu orang."

"Aku tahu," Lu-sam tersenyum, "Sudah kusiapkan sejak tadi."

Dia berjalan menghampirinya, lalu menyerahkan batang emas yang dipegangnya selama ini ke tangan nomor dua puluh empat. "Aku pun mengetahui peraturanmu, sebelum membunuh, harus membayar separoh dulu," kata Lu-sam, "Aku rasa sebatang emas ini sudah cukup, bukan?"

"Sudah cukup," sahut nomor dua puluh empat, "Emas lantakan ini bukan saja kadarnya tinggi, bahannya juga bagus, tak mungkin tidak laku dijual, tapi bila seseorang sudah hampir mati, apa gunanya emas lantakan buat dia?"

Biarpun berkata begitu, dia tetap memasukkan emas itu ke dalam sakunya. Mendadak ujarnya lagi, "Aku masih ingin memohon satu hal lagi kepadamu."

"Minta apa?"

"Bila aku mati nanti, tolong jangan cuci tanganmu dan memasang hio lagi, sebab kau telah membayar lunas."

Perkataan itu seperti belum selesai diucapkan, tapi dia telah membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam lorong gelap itu.

Bayangan punggungnya kelihatan lebih panjang dari perawakan badannya, namun dengan cepat dia lenyap di balik kegelapan.

Apakah dia pun pergi untuk tak kembali lagi?

Che Siau-yan mengawasi orang itu hingga bayangannya sama sekali lenyap di balik kegelapan, kemudian ia baru menghela napas.

"Orang ini benar-benar aneh." "O, ya?"

"Kelihatannya dia sudah tahu kalau kepergiannya kali ini pasti mati, bahkan dia pun tahu, bila seseorang telah mati, emas lantakan berkwalitas tinggi pun tak ada gunanya," kata Siau-yan, "Tapi dia justru harus menerima dulu pembayaran emas itu dari tanganmu, mengapa dia berbuat begitu."

"Karena demi prinsip hidupnya." "Prinsip hidup?"

"Prinsip hidup adalah peraturan," kata Lu-sam, "Walaupun dia tahu bakal mati, namun dia tetap harus melaksanakan tugas ini. Kalau memang harus melaksanakan, berarti dia harus menerima dulu pembayaran emas murni itu, karena hal ini merupakan peraturannya." 

Di balik nada ucapannya, sama sekali tak terselip sindiran atau nada cemoohan.

"Bagi seseorang yang memegang prinsip hidup,  peraturan itu tak boleh dilanggar, peduli dia hidup atau mati, semuanya sama saja."

Perkataan itu diucapkan serius, bahkan terselip perasaan hormat dan kagumnya.

"Menurutmu, orang semacam ini terhitung orang bodoh ataukah orang pintar?" tanya Siau-yan kemudian.

"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, manusia semacam ini makin lama semakin bertambah sedikit."

"Kau amat menyukai manusia semacam ini?" "Benar."

"Mengapa kau tetap memintanya pergi mengantar kematian?"

"Dari mana kau tahu kalau dia pergi untuk mati?" Lu- sam balik bertanya, "Dari mana kau bisa tahu kalau yang bakal mati pasti dia, bukan orang yang akan dibunuhnya?" Dia menatap tajam wajah Siau-yan, kemudian lanjutnya, "Jangan-jangan kau tahu siapa yang aku minta dia untuk dibunuh?"

Che Siau-yan tidak bicara lagi.

Beberapa saat kemudian ia terbungkam, dia murung dan gelap segelap lorong rahasia itu.

Lorong rahasia itu masih tak terdengar sedikit suara pun, tidak terlihat pula sesuatu gerakan.

Nomor dua puluh empat tak pernah kembali, sampai lama sekali dia tetap belum kembali.

Tiba-tiba Lu-sam berkata, "Tampaknya kita harus pergi makan?"

"Makan?" Siau-yan seperti terperanjat, "Kau hendak makan?"

"Makan bukanlah sesuatu yang aneh, setiap orang butuh makan," kata Lu-sam, "Kalau sudah waktunya makan, kita harus makan, bagaimana pun perkembangan dari suatu persoalan, kita harus makan dulu sebelum membahasnya kembali."

"Apakah hal ini merupakan prinsipmu?" "Benar."

Ooo)d*w(ooO

Arak berada dalam sebuah poci yang terbuat dari emas, cawan pun terbuat dari emas murni.

Ketika arak anggur dari Persia dituang ke dalam cawan terbuat dari emas, meski tidak dapat membiaskan cahaya terang namun terendus bau harumnya yang semerbak. Bahkan mendatangkan suatu keindahan yang luar biasa. Siapa bilang kaya-raya bukan suatu keindahan yang luar biasa?

Hidangan pun diletakkan dalam piring yang terbuat dari emas murni.

Peralatan makan yang serba emas, dikombinasikan dengan hidangan yang lezat. Bukan hanya indah dan lezat saja, pada hakikatnya merupakan sebuah kombinasi yang sempurna.

Cara dan gaya Lu-sam ketika bersantap pun mendekati sempurna.

Bisa bersantap malam dengan seorang semacam ini, seharusnya merupakan satu kejadian yang menggembirakan.

Namun Che Siau-yan sedikit pun tak punya selera untuk bersantap.

Dia bukan merasa kuatir karena keselamatan si nomor dua puluh empat. Juga bukan sedang menguatirkan orang yang akan dibunuh nomor dua puluh empat.

Dia hanya merasa di saat orang lain pergi membunuh seseorang, sementara kau masih bisa menikmati hidangan lezat dan arak wangi, kejadian seperti ini benar-benar tak masuk akal, suatu tindakan yang kelewatan.

Lorong yang gelap masih hening dan sepi.

Akhirnya Lu-sam menyelesaikan hidangan malamnya, kemudian mencuci tangan dalam sebuah baskom emas.

Air dalam baskom emas itu bukan air biasa, melainkan air teh.

"Hari ini menu kita adalah udang dan kepiting" Lu-sam menjelaskan, "Untuk menikmatinya, kita harus mengelupas udang dan kepiting dengan tangan sendiri, dengan begitu kita baru betul-betul bisa menikmati lezat dan nikmatnya udang dan kepiting. Karena itu hanya mencuci tangan dengan air teh, bau amis di tangan kita baru bisa hilang."

"Bagaimana dengan membunuh orang?" tiba-tiba Siau- yan bertanya.

"Membunuh orang?" tampaknya Lu-sam masih belum paham betul maksud perkataan itu.

"Apakah membunuh orang pun seperti menikmati udang dan kepiting? Harus turun tangan sendiri baru bisa menikmati kenyamanan dan kenikmatannya?" tanya Siau- yan.

Sebuah pertanyaan yang telak, namun jawaban Lu-sam pun tak kalah hebatnya.

"Kalau soal itu tergantung." "Tergantung apa?"

"Tergantung siapa yang akan kau bunuh. Ada kalanya kau cukup menyuruh orang lain pergi membunuhnya, tapi ada sementara orang kau harus turun tangan sendiri baru merasakan kenikmatannya."

"Selesai membunuh?" tanya Siau-yan lagi, "Kalau kau telah membunuh sendiri, selesai membunuh harus mencuci tanganmu dengan apa agar bau anyir darah bisa hilang?"

Tak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu, tak ada juga yang bersedia menjawab. Lu-sam dengan menggunakan selembar saputangan putih mengeringkan tangannya, perlahan-lahan ia bangkit kemudian berjalan pula memasuki lorong gelap itu.

Dia sama sekali tidak mengajak Che Siau-yan.

Sebab dia tahu, Siau-yan pasti akan mengintil di belakangnya. Apa yang sebenarnya telah terjadi dalam lorong itu? Pintu masuk lorong terbuat dari kayu berbentuk timbangan. Makin ke dasar semakin mengecil, ketika sampai di pintu masuk, luas gua tinggal dua kaki.

Siau-yan yang berperawakan tubuh kecil pun perlu memiringkan tubuh untuk memasukinya.

Oleh karena itulah meski di luar cahaya lentera amat terang benderang, namun cahaya yang terang tak dapat menembus hingga ke dasar lorong.

Begitu masuk ke dalam, segala sesuatunya tak terlihat lagi, bahkan melihat kelima jari tangan sendiri pun susah.

Mengapa Lu-sam harus membangun lorong itu begitu rahasia?

Bayangan tubuh Lu-sam telah lenyap di balik kegelapan. Baru saja Siau-yan maju sambil meraba kiri kanan,

terdengar Lu-sam berseru, "Lebih baik kau jangan berjalan lurus ke depan."

"Kenapa?"

"Karena lorong ini tidak lurus. Dalam lorong terdapat tiga puluh tiga buah tikungan, bila kau berjalan lurus ke depan, pasti akan membentur dinding hidungmu bisa ringsek."

Setelah berhenti sejenak, terusnya hambar, "Aku tahu, mungkin saja kau tak percaya, dilihat dari depan, lorong ini memang kelihatannya lurus hingga ke dasar, bila tak percaya, silakan saja dicoba sendiri."

Che Siau-yan tidak mencobanya, sebab dia tahu dalam kegelapan orang mudah melakukan kesalahan, mudah membuat dugaan yang keliru.

Orang bisa menganggap lurus itu belok, belok itu lurus. Bisa membuat orang sukar untuk membedakan antara lurus dan belok, bisa membuat hidung orang jadi ringsek.

Biarpun dia masih muda, tapi gadis ini pun tahu, banyak kejadian di dunia ini yang tak berbeda dengan ruang yang gelap.

Gampang membuat kau menduga salah, membuat kau sukar untuk membedakan mana yang lurus, mana yang belok, mana benar mana salah.

Ooo)d*w(ooO