Elang Terbang di Dataran Luas BAB 41. MULUT LUKA YANG MEMATIKAN

BAB 41. MULUT LUKA YANG MEMATIKAN

"Benar!" kata Lu-sam, "Tahu kekuatan sendiri, tahu kekuatan lawan, setiap pertarungan baru bisa dimenangkan. Dia adalah satu-satunya musuh yang sanggup menghadapiku, jika manusia macam apakah dia pun tidak kupahami, mana mungkin pertempuran ini bisa kumenangkan?"

"Kau benar-benar menganggap dia sebagai musuh paling tangguh yang pernah kau jumpai?”

“Betul."

"Bagaimana dengan Po Eng?"

"Po Eng?" Lu-sam tertawa, "Po Eng tak cukup menguatirkan diriku."

"Kenapa?" tak tahan Che Siau-yan bertanya, "Semua orang menganggap Po Eng sangat hebat, kenapa kau malah memandang enteng orang ini?" Lu-sam tidak langsung menjawab, ia termenung sambil berpikir lama sekali, kemudian baru menjawab pertanyaan itu.

"Po Eng jauh berbeda dengan Pancapanah," kata Lu- sam, "Meskipun Po Eng adalah seorang jagoan kosen, tapi watak dasarnya tidak kejam, dia suka kedamaian, dia terpaksa membunuh orang karena tak lebih untuk mencegah agar tidak jatuh korban lebih banyak, dia bertarung tak lebih karena ingin memusnahkan pertarungan yang lebih besar, meskipun penampilannya kejam tak berperasaan, sesungguhnya dia berhati lembek dan orang baik."

"Bagaimana dengan Pancapanah?"

"Pancapanah jauh berbeda," kata Lu-sam, "Sejak lahir dia memang hidup sebagai seorang petarung, bahkan setiap pertarungan harus menang. Dia tak segan membayar mahal, tak segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, baginya harus menang dan hanya boleh menang, tak boleh kalah. Kalau tak bisa menang berarti mati, tak tersedia pilihan lain."

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, lanjutnya, "Padahal aku selalu menyukai manusia yang bernama Po Eng, bahkan selalu menaruh hormat kepadanya. Jika dia tidak mati, di kemudian hari mungkin kita akan menjadi sahabat."

"Kalau dia tidak mati?" tak tahan Che Siau-yan bertanya, "Apakah kau menganggap dia sudah mati?"

Lu-sam mengangguk.

"Kau yang membunuhnya?" tanya Che Siau-yan lagi.

Lu-sam menggeleng. "Bukan pekerjaan gampang untuk membunuh Po Eng, bahkan aku sendiri pun tak sanggup."

Setelah menghela napas, terusnya, "Karena aku adalah musuhnya, bukan sahabatnya."

"Berarti kau anggap hanya sahabatnya yang dapat membunuh dia?"

"Betul, Pancapanah!" tegas Lu-sam, "Hanya Pancapanah yang bisa membunuhnya, tak ada orang lain!"

"Mengapa kau berpendapat begitu?" tanya Siau-yan, "Bukankah selama ini mereka adalah rekan seperjuangan, sahabat karib, mengapa Pancapanah membunuhnya?"

Perlahan Lu-sam mengeluarkan tangannya, dalam genggamannya terlihat sepotong emas murni yang berkilauan.

"Karena benda ini!"

"Emas murni?" seru Siau-yan, "jadi kau anggap Pancapanah membunuh Po Eng lantaran emas murni?"

Sambil mengawasi emas murni yang berada dalam tangannya, Lu-sam manggut-manggut.

"Sejak zaman dahulu kala, entah ada berapa banyak manusia yang mati terbunuh gara-gara benda ini."

Kemudian sambil menatap Siau-yan dan manggut- manggut, lanjutnya, "Apakah kau anggap alasan ini masih tidak cukup?"

Tentu saja alasan ini lebih dari cukup, hanya saja Che Siau-yan masih juga tidak mengerti.

Maka kembali Lu-sam menjelaskan, "Berkat kerja sama dan perencanaan mereka berdua, emas murni itu berhasil mereka rampok dariku, tapi mereka berdua mempunyai tujuan yang berbeda.”

“Di mana letak perbedaan itu?"

"Po Eng merampok emas milikku karena ingin mencegah aku menggunakan emas itu untuk mewujudkan cita-citaku," kata Lu-sam, "Oleh karena itu, dia hanya ingin mengubur emas itu untuk selamanya. Selama masih hidup, dia tak akan membiarkan siapa pun pergi menyentuhnya."

Setelah berhenti sejenak, kembali Lu-sam melanjutkan, "Tapi Pancapanah ingin menggunakan emas murni itu untuk menggempurku, memenangkan pertarungan melawanku, dia anggap mengubur emas untuk selamanya dan tidak memanfaatkannya merupakan satu tindakan yang sangat goblok."

"Sayang ia tak berhasil membujuk Po Eng," akhirnya Siau-yan mengerti, "Sementara perintah Po Eng pun tak berani dia lawan."

"Betul, oleh karena itu terpaksa dia harus membunuh Po Eng, bahkan membuat skenario yang sempurna agar orang mengira akulah yang telah membunuh Po Eng!"

"Jika bukan kau yang membunuh Po Eng, mengapa kau akui di depan khayalak ramai?"

"Kenapa aku harus menyangkal?" Lu-sam tertawa dingin, "Bukan pekerjaan gampang untuk membunuh Po Eng bukan setiap orang dapat membunuhnya, bila orang lain mengira akulah yang membunuhnya, bukankah kejadian ini merupakan suatu hal yang membanggakan? Kenapa aku harus menyangkal?"

Tiba-tiba dari balik senyumannya terlintas keseriusan yang luar biasa. "Apalagi sudah terlalu banyak orang yang bukan mati di tanganku, tapi tercatat atas namaku, jadi apa salahnya  kalau ditambah satu orang lagi?"

Selama ini sebenarnya mata Che Siau-yan belum pernah bergeser dari teropong di tangannya, tapi sekarang ia berpaling, menatap tajam wajah Lu-sam, seolah dari perubahan mimik wajahnya dia ingin menilai benar tidaknya perkataan itu.

Tapi ia tidak menemukan apa-apa, karena itu tanyanya lagi, "Dari mana kau bisa tahu Pancapanah membunuh Po Eng karena persoalan itu? Dari mana kau bisa mengetahui jalan pikirannya?"

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, jarang ada orang bersedia menjawab persoalan yang ada sangkut- pautnya dengan rahasia pemikiran seseorang.

Ternyata Lu-sam bersedia, bahkan menjawabnya dengan cepat.

"Karena perkataanmu tepat sekali, aku dan Pancapanah memang merupakan manusia sejenis," ujar Lu-sam, "Dulu aku sendiri pun tidak tahu, tapi setelah diawasi dengan seksama, akhirnya aku baru menyadari akan hal itu."

"Padahal seharusnya sejak awal kau sudah tahu akan hal ini, sebab di antara kalian berdua memang banyak terdapat kesamaan," sela Siau-yan, "Jangankan kau, bahkan aku pun sudah mengetahuinya sejak dulu."

"O, ya?"

"Kalian berdua sama-sama manusia tangguh dan berambisi menjagoi dunia persilatan," kata Siau-yan lebih jauh, "Bahkan kalian berdua sama-sama orang yang suka menyendiri, meskipun dapat membuat orang lain mati demi kalian, namun tak memiliki seorang sahabat pun. Karena selama hidup kalian tak pernah mempercayai siapa pun."

Lu-sam tertawa hambar.

"Mungkin karena alasan itu pula maka kami baru bisa hidup hingga sekarang."

Che Siau-yan tertawa hambar.

"Mungkin dikarenakan alasan ini pula, meski kalian masih hidup, walaupun kalian memiliki segalanya, namun hidup kalian tak pernah gembira, tak pernah bahagia."

"Bagaimana dengan kau sendiri?" Lu-sam balik bertanya sambil menatap wajah gadis itu lekat-lekat, "Apakah kau bukan manusia semacam ini?"

Che Siau-yan menghindari pertanyaan ini, dia balik bertanya kepada Lu-sam, "Sudah cukup lama kau awasi dia, bahkan mengawasi dengan seksama, apa yang telah kau lihat?"

Lu-sam pun tidak menjawab pertanyaannya itu, dia malah balik bertanya, "Bila sepanjang tahun seseorang hidup mengembara di tengah gurun yang tak berbelas kasihan, tak ada air, tak ada teman... menurut pendapatmu, manusia macam apakah dia?"

"Dia pasti seorang berwatak aneh, nyentrik, seperti binatang buas, penampilannya tentu sangat kurus dan dekil."

Siapa pun tentu berpendapat begitu.

Kekurangan makanan jelas akan menyebabkan tubuh jadi kurus dan lemah, air minum yang lebih berharga dari mustika, untuk minum pun harus berhemat, bagaimana mungkin dia bisa membersihkan badan? Jelas badannya pasti sangat dekil dan bau. "Menurut pandanganmu, apakah Pancapanah mirip seperti orang yang kau lukiskan?"

"Tidak, dia sama sekali tidak tampil seperti itu."

Pancapanah kelihatan tampan, gagah bahkan sangat sehat, sama sekali tidak tampak seperti seorang yang kekurangan gizi.

Pakaian yang dikenakan selalu rapi dan bersih, dibandingkan dengan orang yang sangat perhatian pada penampilan di kotaraja pun, dia tampak jauh lebih rapi, necis, dan trendi.

Bahkan rambut dan kuku pun dirawat bersih, rapi dan berkilat.

"Masih ada satu hal lagi yang lebih aneh!" "Soal apa?"

"Apa yang kau katakan tadi betul," ujar Lu-sam, "Bila seseorang mengembara sepanjang tahun, sepak terjangnya pasti mirip binatang buas, perangainya akan berubah jadi kasar, liar, dan semaunya sendiri."

"Betul."

"Tapi Pancapanah sangat berbeda," kata Lu-sam, "Tadi aku telah mengamatinya cukup lama, kujumpai semua gerak-gerik dan tingkah-lakunya amat beraturan, sedikit keteledoran pun tak dia lakukan, sekalipun seorang keturunan keluarga ternama pun sewaktu bersantap tak akan sesopan dan begitu tahu aturan macam dia."

Che Siau-yan menghela napas panjang.

"Ternyata tidak sedikit yang berhasil kau temukan." "Aku percaya, kau pun pasti dapat melihat hal ini. Tak

perlu menyangkal lagi." Che Siau-yan tidak menyangkal, dia pun tak dapat menyangkal.

"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu," ujar Lu-sam lagi, "Dari beberapa persoalan kecil tadi, bisakah kau melihat rahasia Pancapanah?”

“Rahasia apa?" Siau-yan balik bertanya tanpa berkedip. "Melihat rahasianya dari beberapa hal tadi?"

Lu-sam menatapnya, menatap gadis itu lama sekali, seolah-olah dia pun sedang melihat apakah nona itu sedang berbohong. Tapi dia pun tak berhasil melihatnya.

Atas hal itu, jelas dia merasa amat tak puas, tapi lanjutnya lagi, "Pakaian yang dikenakan bersih dan rapi, tubuhnya sehat, hal ini membuktikan bahwa sepanjang tahun dia mengembara di gurun pasir, namun belum pernah kekurangan rangsum serta air."

Di dataran luas yang kejam dan tak kenal ampun, dari mana Pancapanah bisa memperoleh rangsum dan air yang berkecukupan?

Tak disangkal kejadian ini sangat aneh dan mencurigakan, namun Siau-yan tidak bertanya, dia hanya mendengarkan dengan tenang Lu-sam melanjutkan perkataannya.

"Tingkah lakunya begitu sopan dan tahu aturan, bukan saja menunjukkan dia tahu tata krama, bahkan punya wibawa," ucap Lu-sam lebih jauh, "Semua ini membuktikan dia bukanlah manusia menyendiri yang kesepian seperti apa yang dibayangkan orang selama ini."

"O, ya?" "Di saat orang lain menyangka dia seperti seekor serigala liar yang sedang bergelandangan, siapa tahu dia justru sedang berkumpul dengan sejumlah orang."

"Sejumlah orang?"

"Orang-orang yang kagum kepadanya, hidup tergantung dia, orang yang setiap saat siap mati demi dia.”

“Oh?"

"Oleh karena dia harus berkumpul dengan orang-orang seperti ini, maka semua tindak-tanduknya, semua sepak terjangnya harus teratur dan penuh disiplin," kata Lu-sam, "Sebab dia harus menggunakan tingkah-laku sendiri sebagai contoh untuk orang lain."

"Semua ini menandakan apa?"

"Menandakan bahwa dia pasti memiliki sarang rahasia di tengah gurun pasir, sarang yang dipakai untuk tinggal."

Setelah berhenti sebentar, tambahnya, "Di kolong langit tak ada manusia kedua yang lebih hapal tentang situasi di wilayah gurun ini selain dia, hanya dia yang bisa menemukan tempat seperti itu dan cuma dia yang mengetahui rahasia ini."

"Bahkan Po Eng pun tidak tahu?"

"Tentu saja Po Eng tidak tahu, dia menggunakan tempat itu untuk melatih sekawanan manusia yang setiap saat rela mati demi dirinya, di tangan orang-orang itulah Po Eng menemui ajalnya."

Dia mendongakkan kepala.

"Sekarang dia pasti menginginkan agar aku pun tewas di tangan orang-orang itu." Ada semacam orang yang gejolak perasaan dan jalan pikirannya seolah setiap waktu dapat berubah.

Tak diragukan Lu-sam adalah manusia semacam ini. Tiba-tiba dia tertawa, benar-benar tertawa.

"Biarpun Pancapanah setiap waktu ingin membunuhku, tapi aku tak pernah membencinya," kata Lu-sam, "Sebab aku pun ingin membunuhnya, setiap waktu ingin membunuhnya."

Tawa Lu-sam kelihatan sangat gembira.

"Dia ingin membunuhku, aku pun ingin membunuhnya, tapi di antara kita berdua sama sekali tak terikat dendam sakit hati. Aku tidak membencinya, dia pun belum tentu membenci aku."

Keinginan membunuh seseorang memang tak selalu dikarenakan dendam atau sakit hati.

Che Siau-yan sangat memahami hal ini.

"Aku tahu, orang yang kau benci bukan Pancapanah, orang yang kau benci adalah seorang yang lain.”

“Siapa yang kubenci?"

"Siau-hong!" jawab Siau-yan cepat, "Bukan saja kau membencinya, Tokko Ci pun membencinya, bahkan bisa jadi Pancapanah pun membencinya."

"Kenapa?"

"Karena kalian tahu ada sebagian orang sangat menyukainya," kata Siau-yan, "Semua orang tahu, orang yang patut dikasihani pasti mempunyai bagian yang paling menjengkelkan, orang yang banyak dicintai orang pasti banyak pula yang membencinya." Tentu saja Lu-sam memahami teori ini, perbedaan  antara cinta dan benci memang tipis.

Senyuman yang menghiasi wajahnya mendadak lenyap. "Aku tahu kau sangat membenci Siau-hong," kata Siau-

yan lagi, "Pancapanah pasti mengetahui juga hal ini." "Hm!"

"Oleh sebab itu ketika Pancapanah menurunkan perintah untuk melancarkan gempuran, dia pasti akan menggunakan Siau-hong sebagai motor utama dalam gerakannya kali ini."

"Kenapa?"

"Karena dia tahu, sekalipun kau mengerti bahwa tujuan penyerangannya kali ini adalah mencari jejakmu, kau tetap akan masuk perangkap," kata Siau-yan, "Sebab kau pun seperti dia, ingin menggunakan kesempatan ini untuk menghabisi nyawa Siau-hong."

Kemudian dengan hambar dia menambahkan, "Karena itu kali ini Siau-hong pasti bakal mati."

Lu-sam adalah seorang yang cermat dan teliti.

Seseorang bila bangkit dari modal dengkul lalu tumbuh menjadi orang paling kaya di negeri itu, biasanya dia adalah seorang yang cermat dan teliti.

Terhadap setiap orang, setiap persoalan yang ada di sekelilingnya, dia pasti akan memeriksa dan menganalisa secara amat cermat.

Tapi sekarang dia seakan sama sekali tak menaruh perhatian terhadap reaksi Siau-yan atas masalah itu, seolah dia sama sekali tak tahu hubungan perasaan antara gadis itu dan Siau-hong. Hanya saja secara tiba-tiba dia alihkan pokok pembicaraan.

"Sekarang apakah Siau-hong dan Pancapanah telah pergi?"

"Benar."

"Mereka tidak membunuh Lu Kiong?” “Tidak."

"Mereka pun tidak membawa Lu Kiong?" Che Siau-yan menggeleng.

"Sebenarnya kusangka Pancapanah pasti akan membawa serta Lu Kiong, karena dia anggap Lu Kiong di kemudian hari masih berguna, sungguh tak disangka ia tidak melakukan hal itu."

Lu-sam tersenyum.

"Cara kerja manusia macam Pancapanah terkadang memang tak dapat diduga siapa pun."

"Tapi kau telah menduganya," kata Siau-yan, "Apa yang hendak dia lakukan, tampaknya hanya kau seorang yang dapat menduganya."

Senyuman Lu-sam tampak lebih misterius, gembira, dan cerah.

Tiba-tiba ia bertanya kepada Che Siau-yan, "Apakah semua tindakan yang akan kulakukan dapat kau tebak seluruhnya?"

Ooo)d*w(ooO Pancapanah tidak mabuk. Di hari biasa dia jarang minum arak, juga jarang ada orang melihat dia minum arak, tapi arak yang diminum hari ini jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang, sebagian besar orang pasti mengira dia bakal mabuk.

Namun ia tidak mabuk.

Dia begitu sadar dan segar seperti baru saja memanjat pohon kelapa dan menikmati kelapa muda.

Siau-hong tidak sesadar rekannya, di tengah setengah mabuknya dia nampak begitu murung.

Mereka berjalan menelusuri jalan setapak di sebuah tanah perbukitan yang sepi, angin yang berhembus menyiarkan bau harumnya rumput dan dedaunan.

Tiba-tiba Pancapanah mengajukan sebuah pertanyaan kepada Siau-hong, pertanyaan yang aneh, "Apakah Lu-sam seekor babi?"

"Bukan," Siau-hong menggeleng, "Dia lebih aneh daripada setan."

"Mengapa tanpa sebab dia menggunakan banyak pikiran dan tenaga untuk mengundang kita makan gratis?"

"Aku tidak tahu."

"Sebetulnya aku pun tidak tahu," jawab Pancapanah, "Tapi sekarang aku sudah mengerti, dia sengaja menahan kita di situ karena dia ingin mengawasi aku secara tenang. Ingin melihat manusia macam apakah diriku ini."

"Dia dapat melihat kehadiranmu?"

"Biarpun kita tak dapat melihat dia, tapi aku percaya dia pasti dapat melihat kehadiran kita," ujar Pancapanah, "Bersembunyi di sebuah tempat yang amat jauh, mengintip secara diam-diam. Bahkan bukan melihat dengan memakai matanya." "Bukan melihat dengan mata, lantas melihat dengan apa?"

"Menggunakan semacam cermin yang istimewa." "Cermin?"

"Tentu saja bukan cermin seperti yang biasa kita pakai, bahkan kurang cocok kalau dikatakan sebuah cermin."

Setelah menarik napas, terusnya, "Tapi aku hanya bisa mengatakan begitu, sebab aku tak bisa menemukan istilah lain yang lebih cocok."

Kemudian kepada Siau-hong tanyanya, "Masih ingatkah kau, dari mana datangnya orang yang membuat patung lilin itu?"

"Konon berasal dari sebuah negeri yang sangat jauh." "Aku berani bilang, di negeri yang letaknya sangat jauh

itu, terdapat seorang aneh yang sangat pintar, dia berhasil

menciptakan sebuah cermin sihir yang misterius dan hebat, yang bisa melihat hal-hal di tempat jauh yang tak mungkin terlihat orang lain, seperti mata seribu li yang sering kita dengar dalam dongeng," kata Pancapanah.

Kemudian tambahnya, "Dia pasti sedang melihat kita secara diam-diam menggunakan cermin sihir itu."

"Buat apa melihat kita?"

"Memperhatikan sikap kita, mengawasi gerak-gerik kita, melihat manusia macam apakah kita berdua ini?" ujar Pancapanah, "Sebab tahu sendiri tahu pihak lawan, semua pertempuran baru bisa dimenangkan, dia pasti telah menganggap kita sebagai lawan tandingnya."

Kemudian sambil menatap Siau-hong, ujarnya lagi, "Terutama kau, karena dia sangat membencimu!" Siau-hong termenung tidak bicara.

"Oleh karena dia membencimu, bersumpah akan membunuhmu dengan tangan sendiri, maka kali ini dia pasti akan termakan oleh siasatku, pasti akan memperlihatkan jejaknya," kata Pancapanah, "Sebab rasa benci yang membara terkadang bisa membuat orang menciptakan keteledoran dan kesalahan yang tak bisa dimaafkan.”

“Oh?"

"Lu -sam bukan babi, dia setan iblis, setelah secara sengaja kita umumkan perintah untuk melakukan penyerbuan dengan sepenuh tenaga, dia pasti dapat menduga pula kalau kita hendak menggunakan cara ini untuk melacak jejaknya."

Setelah berhenti sejenak, tambahnya, "Jangankan dia, kau dan aku pun semestinya dapat menduga akan hal ini."

Mau tak mau Siau-hong harus mengakui kebenaran ucapan itu.

"Tapi dia tetap akan masuk perangkap," ucap Pancapanah, "Sebab dia pun ingin menggunakan siasat ini untuk menjalankan siasatnya, memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuhmu dengan tangan sendiri."

"Oh?"

"Oleh sebab itu dia pasti telah menghimpun seluruh inti kekuatannya di sini, dia ingin menunggu kedatangan kita kemudian meringkus kita."

"Aku pun berpendapat begitu."

"Sayang rasa bencinya terhadap dirimu kelewat dalam, karena itu tak bisa dipungkiri dia pasti akan melakukan kesalahan, paling tidak melakukan dua kesalahan." "Dua kesalahan yang mana?"

"Pertama, dia pasti memandang enteng kekuatan kita," ujar Pancapanah dengan penuh keyakinan, "Padahal orang- orang yang telah kulatih secara khusus jauh lebih hebat daripada apa yang dia bayangkan. Bila kekuatan kami menyerang secara serentak dan bertarung melawan anak buahnya, kemungkinan unggul buat kita jauh lebih besar ketimbang pihaknya."

"Yang kedua?"

"Dia pasti mengira aku ikut pergi, padahal aku tidak ikut. Sebab kita sudah yakin akan menang, aku justru akan melakukan pekerjaan lain, mumpung dia sedang menghimpun seluruh kekuatannya di sini, agar seusai kalah dalam pertarungan ini, dia tak punya jalan mundur."

"Jadi kau anggap kali ini kita pasti menang?" tanya Siau- hong, "Apakah kau sudah melupakan Tokko Ci?"

Bukan menjawab, Pancapanah balik bertanya, "Masa kau benar-benar percaya dengan ucapan Lu-sam, mengira Siau-yan dan Tokko Ci betul-betul sudah bergabung dengan dia?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi, "Lu Kiong adalah pembantu yang sudah banyak tahun mengikuti dia, mengapa dia harus memberitahukan rahasia ini kepada kita? Buat kita, apa kegunaan Lu Kiong?"

Siau-hong termenung tidak menjawab.

"Sebenarnya aku pun pernah berpikir begitu, kemungkinan besar Tokko Ci telah bergabung dengannya," kata Pancapanah lagi, "Tapi setelah mendengar perkataan Lu Kiong, aku malah tidak berpikir begitu." Setelah tersenyum, terusnya pula, "Oleh karena itu aku telah memperhitungkan, kali ini kau pasti berhasil, Lu-sam pasti mampus."

Baru saja mereka tiba di sebuah simpang tiga, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang, tampak seekor kuda berlari cepat melalui samping jalan.

Masih berada beberapa tombak jauhnya, si penunggang kuda berbaju hijau itu telah melompat turun dari kudanya.

Kuda cepat yang sudah terlatih itu seketika berhenti berlari, sedangkan sang penunggang kuda segera berlutut di hadapan Pancapanah sembari mempersembahkan secarik kertas.

Orang itu mempunyai gerakan tubuh yang lincah dan cepat, meski memiliki perawakan tubuh yang gemuk.

Siau-hong merasa seakan pernah bertemu orang itu, tapi merasa juga seolah tak pernah melihat. Menanti ia mendongakkan kepala, Siau-hong baru teringat bahwa dia adalah si perempuan gemuk yang membunuh pegawai toko cita ketika berada di jalan raya tempo hari, hanya saja hari ini dia tampil dengan dandanan seorang pria.

Tentu saja dia tak lain adalah salah satu pembunuh yang telah dilatih Pancapanah selama banyak tahun.

Gulungan kertas yang dia sodorkan tak jauh berbeda dengan peta yang pernah diperlihatkan Pancapanah kepada Siau-hong, di atasnya tertera letak sarang rahasia milik Lu- sam, hanya bedanya dalam kertas gulungan kali ini tergambar sebuah lingkaran tinta warna merah.

Pada lingkaran itu tertera pula banyak sekali gambar panah. Semua panah mengarah ke satu titik. Posisi yang dilingkar dalam peta itu mungkin adalah sebuah kota besar, tapi mungkin juga sebuah sungai, sebuah hutan atau sebuah tanah perbukitan.

Pancapanah segera merentangkan gulungan kertas itu. "Apakah Lu-sam telah menghimpun seluruh kekuatan intinya di tempat ini?"

"Benar!" jawabannya sangat meyakinkan.

Maka Pancapanah segera memberi perintah, "Kalau begitu semua orang kita harus tiba pula di tempat itu lusa pada jam Cu-si (jam 12 tengah malam)."

"Baik!"

"Sebelum jam Cu-si, kalian harus sudah berkumpul di dalam hutan di luar kota itu," kata Pancapanah lagi, "Kurang satu orang, aku akan mengambil semacam barang dari tubuhmu, mungkin hidungmu, mungkin tanganmu, mungkin juga kakimu."

Kemudian dengan nada dingin lanjutnya, "Mungkin juga batok kepalamu!"

"Baik!"

Setelah menerima perintah Pancapanah, orang itu melompat naik lagi ke atas kudanya dan bergerak meninggalkan tempat itu.

"Di manakah tempat yang dimaksud?" tanya Siau-hong kemudian.

"Sebuah kota kecil yang sangat ramai, disebut kota Oh- ki," Pancapanah menerangkan, "Sebelum jam Cu-si hari lusa, lebih baik kau pun berkumpul di sana, kalau tidak. ”

"Kalau tidak, apakah kau pun akan memungut semacam barang dari tubuhku?" Cepat Pancapanah menggeleng.

"Bila kau tidak datang, mungkin akulah yang akan memungut semacam barang dari tubuhku," kata Pancapanah sambil tertawa getir, "Dan barang itu kemungkinan besar adalah batok kepalaku."

Ooo)d*w(ooO