Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 31

Jilid 31

Takkala itu Oh Thi hoa sudah angsurkan cawan araknya ke depan mulutnya. Dia tidak menyaksikan tabuhan kecil yang terjatuh ke dalam araknya karena keracunan oleh bau arak, sudah tentu dia tidak tahu bila arak itu dia minum masuk ke perutnya, maka dalam dunia ini bakal tidak ada manusia yang bernama Oh Thi hoa lagi.

Inilah secawan terakhir yang bakal diminumnya, disaat arak hampir tertenggak ke mulutnya. Sungguh tidak pernah terduga olehnya mendadak Coh Liu-hiang layangkan sebelah tangannya, kontan cawan itu tersampok terbang dan jatuh kerontangan pecah berantakan, arakpun tercecer di lantai. Bukan kepalang kejut Oh Thi-hoa, teriaknya penasaran: "Apa kau mendadak terserang penyakit anjing gila?"

Tanpa perduli caci maki orang, Coh Liu-hiang malah berkata: "Kau lihat poci teh ini". "Mataku tidak picak, sudah tentu aku melihatnya". "Pandanglah tanganku ini!"

"Kau memangnya sudah gila, kenapa harus memandang tanganmu, memangnya tanganmu mendadak bisa tumbuh sekuntum kembang mawar?"

Berkata Coh Liu-hiang tawar: "Tanganku yang ini, semula kugunakan untuk mengambil poci teh, tapi pernahkah kau perhatikan pegangan poci teh ini sekarang sudah beringset ke arah lain, tidak terletak pada sebelah tanganku ini".

"Tidak terletak sebelah tangan kirimu? Memangnya kenapa?"

"Tadi aku duduk di sini, pernah aku menuang secawan teh dan kuminum habis lalu kukembalikan poci ini pada letaknya semula, tapi pegangan poci ini sekarang tidak pada posisi semula".

"Memangnya kenapa harus dibuat ribut, bukan mustahil tadi kau sudah ganti menggunakan tanganmu yang lain".

"Selamanya aku menggunakan tangan kiri untuk menuang teh, sejak dulu sudah menjadi kebiasaan, selamanya takkan berubah".

"Me. memangnya kenapa?"

"Itu berarti, setelah aku minum tehku tadi poci teh ini pernah disentuh orang, dan kau kecuali terserang penyakit demam, selamanya tak pernah menyentuh poci teh".

"Umpamanya aku sakit demam batuk juga tak kau bisa menyentuh poci teh, karena orang lain setelah mabuk arak harus minum teh, untuk menghilangkan mabuknya, aku sebaliknya begitu mengendus bau teh, mabukku bakal menjadi-jadi".

"Nah itulah, jikalau kau sendirian tidak pernah menyentuh poci teh ini, poci teh ini sendiripun tak bisa bergerak, lalu kenapa letak posisinya berpindah?

Oh Thi-Hoa melengak heran, katanya: "Setelah mendengar uraianmu akupun jadi heran."

"Itu berarti di kala kami berdua keluar tadi, pasti ada orang masuk ke mari menyentuh poci teh ini. Tanpa sebab untuk apa dia masuk ke mari menyentuh poci teh ini?"

Tersirap darah Oh Thi Hoa, serunya: "Apakah dia sudah menaruh racun di dalam poci teh ini?" "Benar, orang itu sudah memperhitungkan begitu kembali mulut kita tentu kering dan pasti

menuang teh atau arak untuk minum maka dia taruh racun di dalam poci teh, tapi agaknya tak

pernah terpikir olehnya bahwa selamanya aku menuang air teh menggunakan tangan kiriku, maka setelah dia masukkan racun seenaknya saja dia taruh poci teh ini tidak pada posisi semula, sehingga pegangan poci ini berpindah arah yang berlawanan."

Oh Thi-Hoa menjublek di tempatnya. Sesaat lamanya baru ia bersuara, "Kalau dalam teh ini beracun, tentu araknyapun berbisa."

"Kalau tidak masa aku sudah gila menyampok cawan arakmu tanpa sebab? Meski banyak ragam setan arak di kolong langit ini, tapi setiap arak dipandangnya lebih berharga dari jiwanya sendiri, umpama kau membakar rumah dan harta bendanya, mungkin dia tidak akan marah, tapi bila kau menumpahkan araknya, pasti dia akan marah seperti orang gila."

"Caci maki yang bagus, bagus makianmu." "Bukan aku ingin memakimu, aku hanya ingin supaya kau tahu bahwa aku tidak terjangkit anjing gila." Lalu dia tuang sisa setengah air the ke dalam poci arak, "Ces" seketika asap hijau mengepul naik, seperti orang menuang air dingin ke dalam wajan yang minyaknya sedang mendidih.

Merinding Oh Thi-hoa dibuatnya, katanya: "Racun yang lihay sekali, agaknya setanding dengan racun yang pernah digunakan Ciok-koan-im."

Coh Lu-hiang membenamkan rona mukanya dengan mimik kaku tanpa bicara.

"Kalau dilihat gelagatnya , orang yang menyambitkan senjata rahasia dan orang yang menaruh racun di sini pasti satu komplotan bukan?"

Coh Lu-hiang hanya mengiakan dan mengangguk.

Sesaat lamanya Oh Thi-hoa tercenung diam, katanya kemudian dengan tertawa: "Sungguh tidak pernah aku memperhatikan kau selalu menggunakan tangan kiri mengambil teh, setiap mengerjakan apa saja kau selalu menggunakan tangan kanan, kenapa melulu tangan kiri saja yang kau gunakan mengambil air teh?

"Karena selama beberapa tahun ini kau bertempat tinggal di antara kapal, sebesar kapal itu tempatnya tentu terbatas, demikian juga kamarku itu tidak terlalu besar, maka setiap benda harus ditaruh pada letak masing-masing yang tepat serasa, terutama poci arak atau poci teh, jikalau meletakkan di tempat yang salah, maka pasti sering menjatuhkan atau menyentuh benda-benda lainnya, oleh karena itu Yong-ji lantas membuat sebuah rak khusus untuk menaruh poci teh di sebelah kiri di pinggir kursi yang sering kududuki, cukup mengulur tangan dengan mudah aku bisa mengambilnya." Dia tertawa-tawa lalu meneruskan, "Setelah kebiasaan sekian lamanya, maka selalu aku mengambil teh dengan tangan kiriku."

"Lucu, lucu, tapi kenapa Yong-ji tak menaruh rak poci teh itu di sebelah kananmu saja?" "Soal ini gampang dibereskan karena di sebelah kanan tiada tempat kosong untuk menaruh

poci teh itu."

Oh Thi-hoa geleng-geleng kepala, ujarnya: "Tak nyana tinggal di atas kapal juga ada kegunaannya yang serba melit, tinggal di kapal adakalanya memang terasa terkekang dan kurang bebas, tapi semakin kecil tempat tinggalmu, maka semakin membiasakan dirimu untuk tidak sembarangan menyentuh barang-barang lain yang bukan tujuanmu, maka setiap melakukan pekerjaan apapun, kau akan bekerja menurut aturan, kebiasaan seperti ini mungkin jarang terlihat dan takkan menunjukkan manfaatnya, tapi dikala kau menghadapi bahaya sering tanpa kau sadari tahu sudah menolong jiwamu."

"Kalau demikian jikalau aku pindah ke dalam kurungan burung dara bukankah aku bakal manusia paling punya aturan dalam cara kehidupanku". Mendadak seperti teringat apa-apa, senyuman yang menghias mukanya seketika beku, teriaknya: "Kamar Li Giok-ham sepi lenggang tanpa kedengaran sedikit suara bukan mustahil mereka berdua sudah menjadi korban keganasan orang."

Tidak mungkin, siapapun yang mengincar jiwa kedua suami istri ini, bukan soal sepele." "Tapi waktu mereka datang Lu Ba bi sedang kumat penyakitnya, mungkin mereka tidak

mampu melawan. bagaimana juga, aku harus menjenguk mereka." "Menjenguk mereka pun baik, mungkin mereka ada mendengar sesuatu apa yang mencurigakan."

Tanpa menunggu kata Coh Liu-hiang berakhir, Oh Thi hoa sudah berlari keluar.

Waktu itu cuaca masih gelap meski menjelang fajar, dikejauhan sudah terdengar kokok ayam jago.

Dua kali Oh Thi hoa memanggil , Li Giok-ham sudah menyulut api di dalam kamar dan membuka pintu dengan mengenakan mantel ia keluar, roman mukanya masih unjuk rasa kantuk dan keheranan serta kaget, namun ia tetap tersenyum menyapa: "Kalian begini pagi sudah bangun !"

Melihat orang keluar dengan segar bugar barulah Oh Thi-hoa mengelus dada lega, katanya tertawa: "Bukan kami bangun pagi-pagi tapi semalam suntuk kami tidak tidur."

Berkilat sorot mata Li-Gok-ham, tanyanya: "Apakah terjadi sesuatu?"

"Panjang kalau dibicarakan kalau kau sudah bangun, marilah duduk ke kamar, kami mengobrol disana."

Li Giok-ham berpaling ke dalam kamar, lalu pelan-pelan menutup pintu dari luar, katanya menghela nafas: "Istriku pada kurang enak badan, sebetulnya siaute pun baru saja pulas."

"Apakah penyakit istrimu tidak berat?" Tanya Oh -Thi-hoa.

"Ya penyakit lama saja yang kumat, setiap bulan pasti kumat dua kali, namun tak mengganggu kesehatannya, Cuma rada menyulitkan saja."

Sekaligus Oh Thi-hoa melirik pada Coh Liu-hiang, seperti hendak bilang: "rekaanmu meleset, dia tidak terkena racun, cuma penyakit lama saja yang kumat."

Coh Liu-hiang mandah tertawa, katanya malah: Kalau Li-heng baru saja tertidur, entah adakah kau mendengar sesuatu yang mencurigakan ?"

"Istriku terus merintih-rintih kesakitan sambil meronta-ronta, seperti anak kecil saja, terpaksa aku harus cari akal untuk membujuk dan menghiburnya, kejadian lain sampai tidak pernah kuperhatikan." Baru berhenti mendadak dia bertanya:" Sebetulnya apakah yang telah terjadi, apakah ?"

"Bukan kejadian apa-apa, Cuma ada orang berusaha mencelakai jiwa Coh Liu-hiang ini pun penyakitnya sejak lama, setiap bulan malah kumat sering kali. "

Oh Thi-hoa mengolok-olok jenaka.

Li Giok-ham terkejut "Ada orang hendak mencelakai Coh- heng? Siapakah orangnya yang punya nyali begitu besar?"

"Aku mengejarnya setengah harian dia, namun bayangan orangpun tak berhasil kecandak, tokoh-tokoh kosen yang lihay dalam Kangouw, agaknya hari-kehari lebih banyak lagi".

"Waktu itu mereka sudah kembali ke dalam kamar, begitu melihat paku-paku perak diatas meja, seketika berubah air muka Li Giok-ham, katanya: "Senjata rahasia diatas meja ini bukankah alat orang untuk mencelakai Coh heng?" Coh Liu-hiang menatap muka orang lekat-lekat sahutnya; ""Apa Liheng juga kenal asal-usul senjata rahasia ini?"

"Agaknya mirip dengan Bau hi-li hoa ting." "Tepat!" ujar Coh Liu-hiang

"Coh Liu-hiang memang tidak bernama kosong, menurut yang Siaute ketahui, kekuatan daya luncur serangan Ban hi-li hoa ting ini boleh terhitung nomor satu di seluruh muka bumi, setiap kali disambitkan mesti melihat darah, sampai sekarang belum ada seorang tokoh kosen manapun yang bisa berkelit atau meluputkan diri dari incarannya, It-seng Totiang yang dulu malang melintang di Lam-hoa, akhirnya mati karena senjata rahasia ini. Sebaliknya Coh-heng tetap tak kurang suatu apa. Hal ini membuktikan, bahwa kepandaian silat Coh-heng masih setingkat lebih tinggi dari tokoh besar ahli pedang yang pernah menjagoi daerah selatan itu".

Oh Thi-hoa tertawa ujarnya: "Cuma nasibnya saja selalu lebih beruntung dan orang lain".  "Di bawah incaran Bau-hi li-hoa ting tidak pernah ada orang yang bernasib baik kecuali Coh-

heng. umpama nasib orang berlipat, lebih baik sekali-kali tak akan bisa lolos dari brondongan dua puluh tujuh batang paku perak ini".

"Agaknya kau amat paham mengenai senjata rahasia yang keji ini, tanya Oh Thi-hoa. "Inilah senjata rahasia yang paling terkenal dimuka bumi ini dulu waktu ayah mulai

mengajarkan ilmu silat kepada kami, pernah pula menuturkan tentang segala seluk beluk senjata rahasia, disuruhnya supaya selanjutnya aku lebih waspada, menurut kata beliau. Dikolong langit ini ada enam benda yang paling menakutkan. Bau-hi-li-hoa-ting ini adalah salah satu diantaranya.

"Pengetahuan Li-locianpwe amat luas" timbrung Coh Liu-hiang, "tentunya asal usul pembuatan alat senjata ini juga pernah diceritakan kepada Li-heng".

"Pembuat alat senjata ini adalah anak dari keluarga persilatan juga, namanya Cin Si-bing, ayahnya adalah Lam-ouw siang kiam yang jaya dan disegani pada zaman dulu".

"Menurut apa yang kami ketahui, pembuat alat senjata ini, sedikitpun tidak bisa main silat, putra dari Lam-ouw siang kiam cara bagaimana tidak pandai main silat? Apakah khabar ini kurang benar?" sela Oh Thi-hoa.

Apa yang Oh-heng dengar tidak salah, Cin Si bing memang tidak bisa main silat, karena sejak kecil dia sudah terserang kelumpuhan dan tak terobati sehingga tidak leluasa bergerak, bukan saja tidak bisa belajar silat, malah tenaga untuk berdiripun tak bisa".

"Kasihan!" Ujar Oh Thi-hoa.

"Mereka adalah lima laki-laki bersaudara. Cin Si bing nomor tiga, mungkin karena tanpa daksa sehingga otaknya jauh lebih cerdik dan pintar dari ke empat kakak adiknya, sayang badan cacat. Sementara saudara-saudaranya sudah malang melintang menegakkan nama di kalangan kang ouw. Sudah tentu hatinya amat iri, jelus dan penasaran, maka dia lantas bersumpah pada suatu ketika dia hendak melakukan sesuatu yang cukup menggemparkan dunia supaya orang-orang lain melek matanya bahwa orang cacatpun tak boleh dipandang rendah".

"Ke empat saudaranya itu bukankah Kam lam su-gi yang amat terkenal dulu?" "Ya" Li Giok-ham mengiakan, "setahun penuh hidup Cin Si-bing hanya rebah saja di atas pembaringan, kecuali membaca buku, maka dia menghabiskan waktu membuat mainan dari ukuran kaya, dasar otaknya emang pintar dan berbakat lagi, lama kelamaan sepasang tangannya itu menjadi begitu ahli, khabarnya rumahnya dipasang alat-alat rahasia yang dibuatnya sendiri dengan amat lihay dan beraneka ragamnya meniru alat kerbau, dan kuda kayu buatan Cukat Liang pada zaman Sam-kok dulu, diapun membuat banyak sekali orang-orangan dari kayu yang bisa bergerak sendiri, cukup asal dia menyentuh tombol rahasianya, orang-orangan kayu dapat melayani segala makan minumnya dengan baik".

Oh Thi-hoa tertawa, katanya: "Kalau begitu rumahnya itu tentu amat menyenangkan kalau Cin- siansing itu belum meninggal, ingin aku menemui beliau".

"Begitulah beberapa tahun telah berselang, dengan kayu dia berhasil membuat sebuah kotak rahasia yang dilengkapi alat-alat pegas dan sebagainya, lalu dia suruh saudara-saudaranya pergi mencari pandai besi untuk membuatkan kotak yang mirip kayunya itu dari bahan perak, saudaranya menyangka hanya mainan anak-anak belaka maka tidak pernah mengambil perhatian, di Koh-so berhasil mencarikan pandai besi yang paling terkenal pada waktu itu dipanggil pulang ke rumahnya, kalau tidak salah pandai besi itu bernama Kiau jiu song".

Sampai di sini ia menghela napas, lalu melanjutkan: "Kiau jiu song bertempat tinggal di rumah Cin Si-bing itu selama tiga tahun, siapapun tiada yang tahu apa saja kerja kedua orang ini didalam rumah serba rahasia itu, cuma setiap bulannya Cin Si-bing menyuruh prang mengantar honor yang berjumlah besar ke rumah Kiau jiu song untuk ongkos hidup sehari-hari bagi keluarganya, oleh karena itu meski tiga tahun tidak pulang, istri dan anaknya tidak perlu kuatir".

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya: "Mungkin istrinya itu tidak tahu bahwa uang yang mereka makan itu adalah uang jaminan yang diberikan Cin Si-bing untuk membeli nyawa suaminya".

"Benar, tiga tahun kemudian, begitu Kiau jiu ong keluar dari rumah itu, kontan dia terjungkal jatuh terus tak bangun lagi. Kontan lantaran dia sudah kehabisan tenaga, daya otak dan hatinya sudah keropos, jiwanyapun tak tertolong lagi. Tapi bagaimana duduk perkara yang sebenarnya siapapun tiada yang tahu Keluarga Ciu dibilangan Ouw-lam selatan waktu itu merupakan keluarga besar yang punya kekayaan dan kekuasaan, amat disegani dan terkenal, oleh karena itu keluarga Kiau jiu songpun tiada yang menarik perkara akan kematian yang aneh itu".

Coh Liu-hiang menghela napas pula, ujarnya: "Kalau Kiau Jiu song sudah tahu kunci rahasia cara pembuatan alat Bau-hi-li-hoa-ting, Cin Si-bing pasti tidak akan membiarkannya hidup dan membocorkan kepada orang lain, mungkin Kiau jiu song si pembuat alat itu sendiri yang menjadi korban pertama kali oleh Bau-hi-li-hoa-ting".

"Setengah bulan kemudian, mendadak Ciu Si-bing menyebar banyak undangan dia undang seluruh tokoh-tokoh ahli senjata rahasia yang berkepandaian tinggi, hari itu kebetulan hari Tiong- chiu, bulan sedang purnama, orang-orang Kangouw itu memandang muka Kam lam su gi, yang hadir ternyata tidak sedikit jumlahnya, disaat para hadirin sedang kebingungan, entah apa maksud Ciu kongcu yang cacat dan belum pernah berkelana di Kangouw ini menyebar undangan sekian banyaknya".

Ingin Oh Thi-hoa menimbrung, akhirnya dia telan kembali kata-katanya.

Terdengar Li Giok-ham melanjutkan: "Tak nyana setelah minum arak berputar tiga kali, mendadak Ciu Si-bing mohon kepada Hou Lam-hwi untuk bertanding senjata rahasia". Akhirnya Oh Thi-hoa tak sabar lagi, selanjutnya: "Apakah Hou Lam-hwi yang dijuluki Pat-pi-sin- wan atau lutung sakti delapan tangan itu?"

Benar, seluruh badan orang ini dari atas sampai ke bawah penuh ditaburi alat-alat senjata rahasia, khabarnya didalam waktu yang bersamaan dia bisa menyambitkan delapan macam senjata rahasia yang berlainan, sudah tentu kepandaian menyambit serangan senjata rahasiapun luar biasa, seolah-olah badannya tumbuh delapan tangan, memang sesungguhnya dia boleh dipandang sebagai ahli senjata rahasia yang kosen di Bulim pada jaman itu, sudah tentu tokoh semacam dia mana suci melayani tantangan seorang tanpa daksa untuk bertanding. Apalagi dia cukup kental berhubungan dengan Kang Lam su-gi".

"Benar, umpama dia menang. Kemenangannya itupun tak perlu dipuji", ujar Oh Thi-hoa. "Seluruh hadirinpun menduga Ciu Si-bing hanya berkelakar saja, tak kira Ciu Si-bing berkukuh

untuk bertanding dengan Hou Lam-hwi malah dia memancing dengan perkataan tajam yang kotor, Hou Lam-hwi terpaksa turun gelanggang karena penasaran".

"Akhirnya bagaimana?"

"Kusingkat saja ceritanya, akhirnya Hou Lam-hwi mati di bawah berondongan Bau-hi-li-hoa- ting itu, malah beberapa tokoh ahli senjata rahasia yang lainpun ikut jadi korban. Semua orang tahu bahwa Ciu Si-bing menyambit senjata rahasia dari kotak perak gepeng di tangannya itu, namun tiada orangpun yang bisa berkelit menyelamatkan diri".

"Telengas benar Cin-kongcu itu" Coh Liu-hiang menghela napas.

"Sejak kecil orang ini sudah cacad jasmani sudah tentu tabiatnya jadi eksentrik, tapi apakah Lam ouw siang kiam dan Kang lam su gi tidak mengurus anak dan saudaranya itu".

"Waktu itu Lam ouw siang kiam dan bersaudara sudah wafat, Kam lam su gi sebaliknya mempunyai tujuan licik tertentu".

"Tujuan licik apa?"

"Melihat saudaranya dapat membuat alat senjata rahasia selihay itu, maka mereka berangan- angan untuk menegakkan lebih cemerlang nama kebesaran keluarga Ciu mereka di kalangan mayapada ini, namun tak pernah terpikir oleh mereka, karena ambisi yang keterlaluan ini, kaum persilatan di Kangouw sudah pandang mereka sebagai musuh umum kaum persilatan, siapapun tak ingin alat rahasia sekejam itu terjatuh ke tangan para saudara Ciu itu, maka siapapun ingin melenyapkan saja itu baru lega hatinya, karena siapa yang tidak takut bila alat senjata rahasia itu digunakan memusuhi dirinya?"

"Terutama orang-orang yang biasanya sengketa dengan keluarga Ciu itu", timbrung Oh Thi- hoa. "Tahu musuh mereka memiliki alat senjata rahasia yang begitu lihay, sudah tentu setiap malam tidak bisa tidur".

"Oleh karena itu mereka berpikir turun tangan lebih dulu tentu menguntungkan, maka dengan berbagai daya upaya satu per satu mereka sikat Kang lam su gi, lalu Ciu keh ceng dibakarnya habis seluruhnya, sudah tentu Ciu Si-bing pun mati ditengah kobaran api itu".

Sampai sekarang baru Coh Liu-hiang bertanya: "Lalu belakangan Bau-hi-li-hoa-ting ini terjatuh ke tangan siapa?"

"Tiada yang tahu alat senjata rahasia itu jatuh ketangan siapa, karena siapapun yang memperolehnya tentu merahasiakan dan tak mau bilang kepada siapapun, tapi setiap selang tiga lima bulan, pasti ada tokoh Kangouw yang menemui ajalnya karena Bau-hi-li-hoa-ting ini, tapi orang yang membekal alat senjata itu sendiripun takkan berumur panjang, karena begitu ada sedikit kabar dan bocor beritanya, pasti akan ada orang yang berusaha merebutnya."

"Kalau demikian, bukanlah alat senjata rahasia ini menjadi benda yang bertuah?" ujar Coh Liu- hiang. "Selama puluhan tahun, entah berapa kali sudah alat senjata rahasia ini sudah pindah tangan setiap orang yang pernah memilikinya tentu akhirnya ajal, sampai beberapa tahun yang lalu, alat senjata rahasia ini mendadak menghilang tak keruan paran, mungkin orang yang memilikinya tidak pernah menggunakannya oleh karena itu kaum persilatan pada generasi mendatang ini meski sering mendengar cerita mengenai Bau-bi-hi-hoa-ting ini malah tidak sedikit pula orang yang tahu akan bentuk dan pembawanya, namun tiada seorangpun yang pernah melihatnya sendiri.

Oh Thi-hoa mengawasi Coh Liu-hiang katanya tertawa: "Kalau begitu, agaknya nasib kita memang luar biasa." "Kali ini orang itu ternyata hendak menghadapi Coh-heng maka dia berusaha menggunakan alat rahasia yang lihay ini." "Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang itu tentu mempunyai dendam kesumat dengan Coh-heng, karena perduli dia pinjam, merebut atau mencurinya, bahwa dia dapat memiliki alat senjata rahasia ini tentulah bukan suatu hal yang gampang." "Kalau begitu lebih aneh lagi " ujar Oh Thi-hoa, "Dengan susah payah dia dapat memiliki alat senjata ini, kenapa pula dibuang begitu saja." "Mungkin karena tidak berhasil mencelakai Coh-heng, tiada gunanya dia simpan alat ini pula, mungkin malah bakal menimbulkan bencana bagi diri sendiri, bila alat ini hasil curian, bukan mustahil pemiliknya akan mencari perhitungan kepadanya, oleh karena itu seenaknya saja dia buang, supaya orang sulit menyelidiki siapakah sebenarnya pencurinya?"

"Benar," Oh Thi-hoa menepuk tangan, pasti ada sebab musababnya".

Berkata Li Giok-ham: "Dan lagi khabarnya setiap senjata rahasia ini disambitkan harus melihat darah, kalau sebaliknya bakal membawa mala petaka bagi pemiliknya, mungkin diapun sudah tahu bahwa alat senjata rahasia tak bertuah, masakah dia berani membawa-bawanya lagi di badannya".

"Benar, itupun kemungkinan, tapi "

"Tapi siapakah sebenarnya orang itu? Masakah Coh-heng sedikitpun tidak bisa menduganya?"

Soalnya aku sendiri belum melihat muka asli orang itu, main tebak dan reka tak berguna malah membingungkan saja. Namun bila dia begitu teliti, agaknya sudah direncanakan lebih dulu untuk membunuh aku, sekali gagal pasti ada dua kalinya, akan datang suatu ketika pasti diketahui siapa dia sebenarnya?".

Terdengar suara cekikikan, katanya: "Tepat, selama beberapa tahun belakangan ini, belum pernah kudengar ada siapa yang bisa lolos dari telapak tangan Maling Romantis".

Malam dan seram, senjata rahasia yang aneh dan hebat, pembunuh misterius, cerita berdarah, suasana dalam kamar sebetulnya sudah cukup berat membuat orang seolah-olah susah  bernapas. Tapi begitu Liu Bu-bi melangkah masuk, hawa dalam kamar seakan-akan bergolak dan cahaya menjadi terang, kehidupan lebih bergairah, sampaipun api pelita yang sudah guram itupun seperti menyala lebih terang.

Rambutnya yang panjang terurai panjang menyuntai di atas pundaknya, muka halus tanpa pupur dengan alis lentik ini sedikitpun tidak menunjukkan rasa kesakitan, kurus dan keletihan. Hampir Oh Thi-hoa tidak percaya bahwa perempuan ayu yang berdiri di depannya ini adalah orang yang belum lama berselang meronta-ronta kesakitan bergelut dengan siksa dan derita. Lebih mengetuk kalbunya lagi karena tangan orang menjinjing sebuah poci arak. Terpancar cahaya terang pada sorot mata Oh Thi-hoa, tak tahan ingin rasanya dia memburu maju merebut poci arak itu.

Tak nyana baru saja tanganya terulur, secepat kilat Coh Liu-hiang mendadak menangkap pergelangan tangannya terus ditelikung ke belakang. Karuan Oh Thi-hoa menjerit kesakitan, makinya: "Kau kejangkitan penyakit apa lagi?" belum habis kata-katanya secepat kilat Coh Liu- hiang beruntun menutuk Thian-cwan, Yiap-pek, Ti-te, Khong-cui dan Tong ling, lima jalan darah besar pada lima tempat yang berlainan.

Bukan saja tak mampu bergerak lagi separoh badan Oh Thi-hoa rasanya linu kemeng dan mati rasa "Bluk" terjatuh duduk kembali ke kursinya semula, dengan kesima dia pandang Coh Liu- hiang.

Li Giok-ham suami-istripun kaget dan melongo.

Liu Bu-bi senyum manis katanya: "Apakah Coh Liu-hiang kuatir poci arakku ini keracunan?"

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: "Araknya memang tidak beracun, tapi badannya sudah ada racunnya".

"Apakah Oh-heng sudah meminum arak beracun itu?" ujarnya Li Giok-ham.

"Kali ini bukan arak yang membuat celaka dirinya, tapi tangannya sendiri", sahut Coh Liu-hiang tertawa.

Baru sekarang semua orang tahu bahwa sebelah tangan Oh Thi-hoa sudah bengkak malah kulitnya sudah menghitam bening dan menguap asap hitam.

Li Giok-ham menjerit kaget: "Cara bagaimana Oh-heng bisa keracunan?"

Dengan sebelah tangannya, Oh Thi-hoa menarik-narik hidungnya, katanya getir, "Mungkin aku betul-betul kepergok setan kepala besar tadi".

Coh Liu-hiang bertanya: "Apakah tadi kau mencabuti Bau-hi-li-hoa-ting itu satu-persatu?" Oh Thi-hoa mengiakan dengan manggut.

"Nah, disitulah letak persoalannya, kau kira bila kulit tanganmu tak pecah atau terluka, hawa beracun tak merembes masuk ke dalam tubuh, tanpa kau sadari bahwa racun di atas paku-paku perak itu bisa melalui celah-celah kuku jarimu merembes ke dalam badan".

Tapi menurut apa yang ku tahu, timbrung Li Giok-ham, "Bau-hi-li-hoa-ting ini selamanya tak pernah dilumuri racun, soalnya kekuatan senjata rahasia ini sendiri sudah begitu keras dan dahsyat meski tak beracun orang yang tersambit pasti mati!"

"Ucapan Li heng memang tak salah, tapi pembunuh itu agaknya kuatir kematianku masih kurang cepat, maka Bau-hi-li-hoa-ting yang sejak mula tidak beracun dia lumuri racun yang paling jahat".

Li Giok-ham suami-istri beradu pandang, mereka tidak bicara lagi, namun pelita digeser ke samping paku-paku perak yang berserakan di atas meja itu, dari sangkul rambutnya Liu Bu-bi menanggalkan sebatang tusuk konde, pelan-pelan dijepitnya sebatang terus diamati-amati dengan seksama didepan mata, roman muka mereka semakin serius dan akhirnya berubah tegang.

Oh Thi-hoa batuk-batuk dua kali, ujarnya: "Apakah benar paku itu beracun?" Kembali Li Giok-ham suami-istri saling pandang, Liu Bu-bi mengiakan.

"Sudah lama kudengar bahwa Li-locianpwe bukan saja berilmu silat tinggi namun juga seorang terpelajar yang pernah mempelajari ketabiban meski tidak sudi menggunakan senjata rahasia beracun melukai orang, namun dalam bidang ini beliau banyak memeras otak menyelidikinya, sesuai dengan ajaran dan warisan keluarga, tentunya pengetahuan Li-heng dalam bidang inipun amat luas."

"Tidak salah," Oh Thi-hoa menambahkan. "Kalau kalianpun bilang paku itu beracun, tentulah tidak akan salah lagi."

"Oleh karena itu Cayhe mohon petunjuk kepada Li-heng," ujar Coh Liu-hiang, "entah racun macam apa yang dilumuri di atas paku-paku ini?"

Li Giok-ham menarik napas dulu baru menjawab: "Obat racun di dunia ini terlalu banyak ragamnya, sampai ayahkupun mungkin tidak bisa membedakannya satu persatu!"

Coh Liu-hiang menjublek di tempatnya agaknya seperti hendak bicara namun tak bisa membuka mulut.

Mendelik mata Oh Thi-hoa, katanya: "Kalau demikian racun yang mengenai aku ini jadi tidak bisa disembuhkan?"

Liu Bu-bi unjuk tawa yang dipaksakan ujarnya: "Siapa bilang tidak bisa disembuhkan?" "Buat apa kalian kelabui aku, aku ini memangnya anak kecil? Kalau kalian tidak tahu racun

apa yang mengenai aku, cara bagaimana bisa menyembuhkan keracunanku ini?"

Kembali Li Giok-ham suami istri beradu pandang. Mulut mereka terbungkam.

Berputar biji mata Oh Thi-hoa, mendadak dia gelak tawa, ujarnya: "Buat apa kalian sama merenggut dan patah semangat, paling tidak sekarang aku belum mampus! Hayolah, hari ini ada arak hari ini mabuk, marilah kita minum sepuas-puasnya dulu." Sebelah tangannya masih bisa bergerak hendak meraih balik tangannya yang satu ini.

"Kenapa tidak kau beri kesempatan aku banyak minum, mumpung aku masih bisa hidup. Bila aku sudah mampus, umpama kau setiap hari menyiram kuburanku dengan arak setetespun tidak akan bisa kunikmati."

"Tadi aku sudah menutuk Hiat-to dan membendung racun tertutup di lenganmu saja. Asal kau tak minum lagi di dalam jangka setengah hari, kadang racunnya takkan menjalar."

"Setelah setengah hari? Masakah di dalam jangka dua belas jam ini kau dapat mengundang orang yang dapat menawarkan racun di dalam badanku?"

Coh Liu-hiang tertunduk, ujarnya: "Bagaimana juga cara ini jauh lebih baik untuk mengulur jiwamu."

Oh Thi-hoa gelak-gelak, serunya: "Saudara yang baik, kau tak usah pergi mencari orang serta munduk-munduk minta bantuannya. Cukup asal kau berikan poci arak itu, tanggung aku takkan mampus." Mendadak dari balik kulit sepatu panjangnya dia merogoh keluar sebatang pedang kecil, katanya tertawa: "Coba lihat, inilah caraku yang paling praktis untuk menghilangkan racun. Bukankah cara ini tidak ada bandingannya?"

Terkesiap darah Coh Liu-hiang, serunya: "Apa kau ingin "

"Orang sering bilang, ular menggigit tangan orang gagah mengutungi pergelangan tangan.

Apakah hal ini perlu dibuat geger? Kenapa kau ribut tak keruan paran"

Mengawasi pedang kecil yang kemilau di tangan Oh Thi-hoa tanpa terasa keringat bertetes- tetes di atas kepala Coh Liu-hiang. Sebaliknya rona muka Oh Thi-hoa sedikitpun tidak berubah.

Li Giok-ham menghela napas, katanya: "Oh-heng memang tidak malu sebagai orang gagah, cuma "

Mendadak Liu Bu-bi menyeletuk: "Cuma kau harus menunggu dua belas jam dulu." "Kenapa?"

"Karena tiba-tiba teringat olehku seseorang yang dapat menyembuhkan keracunanmu." sahut Liu Bu-bi. Tanpa menunggu orang lain bersuara matanya mengerling ke arah Li Giok-ham, lalu menambahkan: "Apakah kau sudah lupa kepada Cianpwe yang hanya mempunyai tujuh jari tangan itu?"

Berkilat sorot mata Li Giok-ham, serunya riang: "Oh ya, hampir saja kulupakan dua hari yang lalu Su-piaute atau adik nisan ke empat malah masih menyinggung nama Cianpwe itu, katanya beliau sudah pergi ke Ko-siang cheng adu minum arak selama tujuh hari tujuh malam dengan Hiong lopek, sampai sekarang belum berkesudahan, entah siapa yang menang, asal beliau masih disana, Oh-heng pasti masih ada harapan".

Liu Bu-bi tertawa, ujarnya: "Kalau toh belum ada ketentuan siapa bakal menang, Hiong lopek pasti takkan membiarkan dia pergi".

"Dimana letak Ko Siong-cheng?" tanya Oh Thi-hoa, "Siapa pula Hiong Lopek itu? Siapa pula Cianpwe yang hanya punya tujuh jari itu? Orang-orang yang kalian singgung ini, kenapa belum kukenal atau pernah dengar namanya?"

Walaupun Hiong Lopek adalah sahabat kental pada cianpwe yang seangkatan dengan ayahku, namun dia sendiri bukan orang dari kaum persilatan, sudah tentu Oh-heng tentu takkan kenal siapa dia", demikian sahut Li Giok-ham.

Liu Bu-bi menambahkan: "Tentang Cianpwe tujuh jari itu, Oh-heng tentu pernah mendengar nama besarnya, cuma beliau belakangan ini, karena suatu peristiwa yang menyedihkan melarang orang lain menyinggung namanya".

"Perangai Cianpwe ini memang terbuka dan simpatik", Li Giok-ham lebih jauh, namun tabiatnya sangat aneh, jikalau sampai diketahui kami belakangnya melanggar pantangannya, kami suami-istri jangan harap bisa hidup tentram".

Oh Thi-hoa tertawa, katanya: "Kalau tabiat orang itu begini aneh, dengan aku tidak pernah kenal lagi, jikalau sampai aku kebentur tembok dan gagal, bukan lebih-lebih mengenaskan dari pada aku mampus keracunan?" Liu Bu-bi tersenyum manis, ujarnya: "Tidak perlu kau sendiri harus mengalami kegagalan, biar kami saja yang pergi, cukup asal kumasakkan dua macam sayuran kepadanya, tanggung dia tidak akan menolak permintaanku".

"Benar, tapi kita harus lekas berangkat", timbrung Li Giok-ham, "Letak Ko siong cheng memang tidak jauh, namun tidak dekat, dan lagi disana paling tidak kau harus memakan waktu saja jam lagi untuk memasak hidanganmu itu".

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya: "Kalian begini simpatik, jikalau aku masih mengulur-ulur waktu kalian, aku ini bukan manusia lagi, tapi ulur busuk, kaupun perlu mengiringi perjalanan

mereka".

"Tidak perlulah", sela Liu Bu-bi, "Lebih baik Coh-heng "kata-katanya tiba-tiba terputus

karena tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meski tetap duduk di kursinya, namun sekujur badannya sedang gemetar, mukanya menguning seperti kertas emas.

Serasa terbang arwah Oh Thi-hoa saking kaget teriaknya gemetar: "Kau ....... kau .......

sebelum dia kuat bicara, Coh Liu-hiang sudah tersungkur jatuh".

Bergegas Li Giok-ham dan Liu Bu-bi memburu maju memapaknya bangun, dimana jari-jari tangan mereka menyentuh badannya, terasa kulit badannya meski terlapis baju, namun masih terasa panas membara seperti gosokan.

Akhirnya Oh Thi-hoa ikut nimbrung maju teriaknya serak: "Apakah kaupun keracunan?" Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala dengan lemah.

"Kalau tidak keracunan memangnya apa sih yang terjadi, Li heng kau tolong periksa

keadaannya sekarang, lekas ......

Coh Liu-hiang kertak gigi, dengan sekuat tenaga dia tertawa dibuat-buat suaranya mendesis dari sela-sela giginya: "Masakah kau belum pernah melihat orang jatuh sakit? Kenapa dibuat ribut- ribut?"

"Tapi biasanya badanmu sekekar kerbau, beberapa tahun ini belum pernah aku melihat kau jatuh sakit kali ini kok malah sakit?"

"Memang kali ini datangnya penyakitku ini tidak tepat pada waktu semestinya".

Waktu hendak memotong lengan tangannya sendiri tadi, sikap Oh Thi-hoa masih tenang dan wajar, bisa kelakar pula, namun kini kepalanya gemrobyos oleh keringat, teriaknya: "Orang selamanya tidak pernah sakit, sekali sakit tentu berat Li-heng kau "

"Kau tidak perlu gugup", bujuk Liu Bu-bi, "Kukira Coh-heng belakangan ini terlalu capai dan bekerja keras, terserang angin dingin lagi ditambah kegugupan hatinya lagi karena tanganmu ini, maka mudah sekali dia terserang sakit".

"Benar," sahut Coh Liu-hiang, "Sakitku ini tidak menjadi soal, kalian lebih lebih baik lekas

pergi mencari mencari obat pemunah itu," katanya tidak soal padahal bibirnya gemetar tak

bisa bicara lagi.

Kata Oh Thi-hoa: "Keracunan tanganku ini, yang tidak menjadi soal, lebih baik kalian berusaha menyembuhkan penyakitnya dulu.

"Omong kosong," sentak Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menjadi sengit, katanya keras: "Jikalau kau tidak mau mereka mengobati penyakitmu dulu, umpama obat pemunah racunku dibawa pulang, aku tidak sudi makan".

Coh Liu-hiang marah dampratnya: "Usiamu sudah setua ini, kenapa masih belum bisa membedakan berat dan ringan, aku penyakitku umpama harus tertunda tiga hari lagi juga tidak

akan apa-apa, sebaliknya racun di tanganmu tidak boleh ditunda," dia meronta sekuat tenaga berusaha berdiri, tapi baru terduduk sudah terperosok jatuh pula. Tersipu Oh Thi-hoa hendak memapahnya, sehingga mulut tidak sampai bicara lagi, terpaksa hanya membanting kaki melulu.

Li Giok-ham tertawa, katanya: "Kalau sama-sama setia kawan dan berjiwa ksatria namun ....

Namun penyakit Coh-heng ini pantang menggunakan tenaga dan tak boleh marah, jikalau kami tidak menurut kemauannya, penyakitnya malah bertambah berat, untunglah aku ada membawa Ceng biau san, puyer ini khusus untuk menyembuhkan penyakit seperti ini dan pasti manjur!".

"Ya, setelah minum puyer ini, harus istirahat pula secukupnya, untuk Oh-heng perlu juga menelan pil ini," demikian kata Li Giok-ham sambil mengangsurkan sebutir pil kuning kepada Oh Thi-hoa: "Khasiat obat ini cukup menahan racun ini menjalar, maka sebelum kami pulang penyakit Coh-heng dan racun di lengan Oh-heng tidak akan memburuk".

Jikalau menggunakan ibarat kata sehari laksana satu tahun untuk melukiskan keadaan Oh Thi- hoa pada waktu itu, memang cukup setimpal dan tepat sekali. Semula didahului oleh penyakit lama Liu Bu-bi kumat lalu pembunuh misterius itu menyerang dengan alat senjata rahasia yang keji, kini bukan saja dirinya keracunan, sampai Coh Liu-hiangpun terserang penyakit dan rebah di atas pembaringan tak bisa bergerak.

Begini banyak persoalan pelit yang menyebalkan ini sekaligus melihat dirinya, dalam keadaan serba risau dan gerah ini arakpun tidak boleh diminum, cara bagaimana Oh Thi-hoa bisa tentram melewatkan waktu sepanas ini?

Dengan susah payah dia menunggu akhirnya dua jam sudah berselang dengan sebelah tangannya yang normal Oh Thi-hoa menjinjing Ceng hiau san dan poci teh menghampiri Coh Liu- hiang, siapa yang nyana memegangi obat saja Coh Liu-hiang sudah tidak kuat lagi sehingga puyer itu jatuh tercecer di lantai. Untung meski tidak makan obat, penyakit Coh Liu-hiang tidak memburuk, lambat laun dia malah terlena didalam tidurnya sementara perut Oh Thi-hoa sudah berontak saking kelaparan maka dia suruh pelayan membawa nasi ke kamar.

Agaknya pelayan ini hendak menjilat dan mencari alem, katanya tertawa: "Kemarin tuan tamu ada pesan arak terbaik buatan kita, kebetulan hari tinggal seguci saja, apakah tuan tamu hendak memesan lagi?"

Untung kalau tidak menyinggung soal arak, memangnya Oh Thi-hoa sedang merasa penasaran dan belum terlampias, seketika meledak amarahnya, hardiknya dengan berjingkrak: "Bapakmu ini toh bukan setan arak, siang hari bolong begini kenapa minum arak, sundelmu?"

Sungguh mimpipun pelayan itu takkan habis mengerti kenapa tepukan alemnya di pantat kuda bisa mengenai pahanya, saking ketakutan seketika lari ngacir lintang-pukang, waktu antar makanan yang dipesan tak berani masuk lagi.

Tak nyana sekali pulas Coh Liu-hiang bisa tidur lima jam lamanya kira-kira mendekati magrib baru ia siuman Oh Thi-hoa mengira ia jatuh semaput baru sekarang ia merasa lega: "Bagaimana kau rasa lebih baik tidak?" Coh Liu-hiang tertawa, belum sempat bicara, Oh Thi-hoa sudah menambahkan: "Kau tidak kuatir akan diriku, racunku tidak menjadi soal kecuali lenganku ini tertutuk oleh kau, tak bisa bergerak, makan bisa keyang, seperti orang biasa lazimnya!".

Waktu itu didalam rumah sudah mulai gelap Oh Thi-hoa lantas menyulut api memasang lentera, diberinya Coh Liu-hiang makan semangkuk bubur, dan tangan Coh Liu-hiang masih bergetar, mangkokpun tidak bisa dipegangnya kencang.

Kelihatan lahir Oh Thi-hoa wajar dan masih tertawa-tawa, namun hatinya amat mendelu dan merasa tertekan perasaannya.

"Apa mereka masih belum pulang?" tanya Coh Liu-hiang dengan napas memburu. Mengawasi tabir malam di luar jendela, sesaat Oh Thi-hoa diam saja, akhirnya tak tahan lagi,

sahutnya: "Dalam Kang ouw mana ada Bulim Cianpwe berjari tujuh? Bagaimana juga tak habis kupikirkan? Dulu memang ada Chit cay in tho atau Maling sakti tujuh jari, tapi bukan lantaran dia hanya punya tujuh jari, adalah karena tangan kanannya tumbuh dua jari lebih banyak, kalau ditambahkan seluruhnya berjumlah dua belas jari, dan lagi, bukan saja orang ini tidak bisa menawarkan racun, malah kinipun sudah meninggal dunia".

"Kalau demikian kau anggap kedua suami-istri ini sedang membual?" "Kenapa mereka harus membual?"

Coh-heng menghela napas, dia pejamkan matanya lagi.

Aku hanya mengharap semoga mereka lekas pulang, kalau tidak bila pembunuh kemarin malam ini datang lagi kami berdua mungkin pasrah nasib saja terima digorok leher kami.

Memang kekuatiran Oh Thi-hoa cukup beralasan, dalam keadaan mereka sekarang, Coh Liu- hiang jatuh sakit, tenaga memegangi mangkok saja sudah tidak kuat, lengan Oh Thi-hoa tinggal satu saja yang bisa bergerak, jikalau pembunuh misterius itu meluruk datang, mereka berdua terang takkan bisa melawan.

"Tapi kalau orang itu sudah bekerja demikian rapi berusaha membunuh aku, sekali gagal pasti akan diusahakan kedua kalinya".

Waktu Coh Liu-hiang mengatakan hal ini, Oh Thi-hoa belum merasakan apa-apa, namun serta dipikir, lama kelamaan hatinya semakin bingung dan takut, jantung berdebar-debar, tanpa sadar kelakuannya menjadi semakin aneh, lekas dia menutup rapat jendela kamarnya.

Didengarnya Coh Liu-hiang berkata: "Kalau dia mau datang, apa gunanya kau tutup jenela?"

Sekian lama Oh Thi-hoa terlongong, keringat dingin sudah membasahi jidatnya. Tak lama kemudian, bulan dan bintang tidak kelihatan muncul, cuaca ternyata semakin mendung dan hujanpun turunlah.

Suara ramai di sekeliling hotel semakin sirap dan malam kembali sunyi lelap, titik air hujan saja yang kedengaran berjatuhan, menyentuh daun jendela, suaranyapun semakin ramai semakin lebat dan semakin nyaring, belakangan malah saling bersahutan seperti genderang dibunyikan di medan laga, membuat orang mendidih darahnya. Kalau dalam keadaan seperti ini ada orang berjalan malam, bukan saja tidak kedengaran langkah kakinya, sampai lambaian pakaiannyapun takkan bisa terdengar. Memang malam hujan begini adalah saat terbaik bagi orang berjalan malam melaksanakan operasinya.

Oh Thi-hoa tiba-tiba mendorong terbuka jendela, dengan mata terbuka lebar, matanya mendelong tak berkedip mengawasi alam nan gulita di luar jendela, pohon flamboyan di pekarangan berubah menjadi bayangan-bayangan raksasa, sedang balas melotot kepadanya.

Sekoyong-koyong "Serr" sesosok bayangan berkelebat lewat di depan jendela. Oh Thi-hoa berjingkrat kaget, waktu dia tegasi dan melihat jelas hanya seekor kucing hitam saja, keringat dingin sudah membasahi badannya.

Coh Liu-hiang disebelah dalam ikut berteriak kaget: "Ada orang datang?"

Oh Thi-hoa tertawa dipaksakan, sahutnya: "Hanya seekor kucing kelaparan saja," suaranya terdengar wajar dan seenaknya saja, bahwasanya hatinya amat mendelu dan getir.

Berapa tahun sudah mereka berdua malang melintang di Kang ouw, mati hidup dipandangnya sebagai mainan saja, kapan pernah pandang orang-orang jahat dalam mata mereka, seumpama menghadapi laksaan musuh berkudapun mereka tak pernah gentar mengerut ke kening. Tapi sekarang hanya seekor kucing saja, sudah cukup membuatnya kaget mengucurkan keringat dingin.

Malam semakin larut, hujan belum reda juga, api lentera sebesar kacang nan kemilau sang ksatria sedang terbelenggu oleh penyakit didalam kamar sekecil ini, sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang, air mata hampir menetes keluar.

Didalam keheningan malam, kedua puluh tujuh batang Bau-hi-li-hoa-ting tetap menggeletak di atas meja dengan sinar peraknya yang kemilau, seolah-olah sedang unjuk perbawa dan menantang kepada Oh Thi-hoa.

Sekonyong-konyong sorot mata Oh Thi-hoa bersinar tajam, "Kalau senjata rahasia ini dapat membunuh orang, tentunya dapat juga untuk mempertahankan diri, kini kalau dia sudah berada di tanganku, kenapa tidak kumanfaatkan dia untuk membunuh orang itu?"

Meski hanya sebelah tangannya saja yang dapat bergerak, akan tetapi tangan ini sudah digembleng dan dilatih secara berat seperti besi baja yang ditempa, kokoh dan kuat, kelima jari- jarinya dari bergerak dengan lincah dan gesit, semuanya amat berguna. Meskipun dia belum pernah lihat alat senjata rahasia semacam Bau-hi-li-hoa-ting, tapi waktu berusia sepuluh tahun dulu, dia pernah membongkar dan mempelajari konstruksi alat-alat rahasia penyambit panah yang terbuat dari bumbung baja.

Dengan pengalaman yang sudah dibekalinya itu, tidaklah mudah dia mempelajari konstruksi alat penyambit Bau-hi-li-hoa-ting yang terbuat dari kotak perak itu, perlahan-lahan akhirnya berhasil juga, dia memasukkan paku-paku perak itu kedalam tabung masing-masing yang berjumlah duapuluh tujuh lobang. Kira-kira seperminuman teh, kemudian dia sudah selesai dengan pekerjaannya.

Sampai pada waktu itu, baru dia menarik napas lega, mulutpun mengguman: "Baik kalau berani salahkan keparat itu biar datang".

Sekonyong-konyong suara samberan angin meluncur lagi seperti tadi dari luar, sesosok bayangan kini melesat masuk dari luar ke dalam kamar malah. Kali ini Oh Thi-hoa sudah lebih tabah dan mantap, dengan ketajaman matanya dia sudah melihat bayangan itu adalah seekor kucing juga, tapi kucing ini melesat terbang terbuang ke tengah ruangan. Dengan mengulap tangan Oh Thi-hoa bermaksud mengusir dengan menakut-nakutinya dengan bentakan rendah. Tak nyana kucing yang terbang lurus itu tiba-tiba melorot jatuh dan "Blug" tepat jatuh ke atas meja, lentera di atas meja sampai bergetar jatuh.

Cepat sekali Oh Thi-hoa memburu maju menyambar lentera sementara matanya mengawasi kucing, dilihat si kucing rebah lemas di atas meja tanpa bergerak, napasnya sudah kempas- kempis, jiwanya tinggal menunggu waktu saja.

Pada leher si kucing malah terikat seutas benang yang membelit secarik kertas. Oh Thi-hoa segera mengambil kertas itu, dilihatnya di atas kertas ada huruf-huruf yang berbunyi: "Coh Liu- hiang ... Coh Liu-hiang, coba kau pandang dirimu sekarang hampir mirip dengan kucing ini? Apa kau masih tetap hidup?"

Kertas itu bukan saja merupakan rekening penagih nyawa mereka, boleh dikata merupakan suatu penghinaan pula, jikalau Coh Liu-hiang sampai melihat beberapa patah kata ini, betapa perasaan hatinya?"

Oh Thi-hoa insaf kalau kertas peringatan ini sudah dikirim dulu, sebentar si pengirimnya tentu akan tiba juga, kali ini mereka tidak menggunakan cara keji yang rendah dan untuk membokong, sebaliknya menantang secara terang-terangan, tentunya sudah memperhitungkan bahwa Coh Liu- hiang bukan saja tiada mampu melawan, malah untuk lari menyelamatkan dirinya tak bisa lagi.

Mengawasi kucing yang kempis-kempis di atas meja, serta mengawasi Coh Liu-hiang yang rebah di atas pembaringan, mendadak dia mengambil kotak perak berisi Bau-hi-li-hoa-ting itu berlari keluar lewat jendela.

Dari pada menunggu musuh datang mencabut nyawa mereka, lebih baik keluar meluruknya ajak adu nyawa, watak dan perbuatan keras Oh Thi-hoa ini, sampai mampuspun takkan bisa dirubah lagi. Terasa olehnya darah mendidih di seluruh badan, sedikitpun tak terpikir olehnya bahwa Coh Liu-hiang sedikitpun tak punya tenaga untuk melawan, jikalau dirinya tinggal pergi melabrak musuh, dengan Coh Liu-hiang sendirian tinggal dalam kamar tanpa ada orang yang menjaga dan melindungi, bukankah berarti memberi umpan musuh untuk membekuk atau membunuhnya dengan gampang.

Hujan rintik-rintik, sehingga tabir yang sudah gelap ini semakin kelam, di pekarangan sebelah sana sayup-sayup kedengaran tawa perempuan yang cekikikan genit, lebih menambah suasana yang hening lelap dan dingin ini terasa seram.

Begitu tiba di pekarangan langsung Oh Thi-hoa lompat ke wuwungan rumah, bentaknya bengis: "Sahabat sudah kemari, kalau berani silahkan unjuk diri dan bertanding sampai ajal dengan aku orang she Oh, sembunyi ditempat gelap terhitung orang gagah macam apa?" 

Kuatir membuat Coh Liu-hiang kaget, suaranya tidak berani keras-keras, namun diapun kuatir orang yang dicarinya tidak mendengar maka sambil bicara tak henti-hentinya dia membanting kaki.

Tak nyana belum lagi kata-katanya terucap habis, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara tawa geli yang tertahan, berkata dingin seseorang: "Sejak tadi sudah kutunggu kau di sana siapa suruh matamu tak melihatku".

Sigap sekali Oh Thi-hoa putar badan, tampak sesosok bayangan orang berkelebat, tahu-tahu orang sudah melompat ke wuwungan rumah yang lain, orang ini mengenakan pakaian serba hitam, kepala dan mukanya berkerudung serba hitam, kepala dan mukanya tertutup kain hitam, katanya pula dengan tertawa dingin: "Jikalau kau ingin gebrak aku, kenapa tidak berani kemari?" Dengan menggeram gusar Oh Thi-hoa segera menubruk kesana, tapi begitu ia tiba di wuwungan sebelah sana, orang itu sudah melesat sejauh tujuh delapan tombak jauhnya diiringi diawasi dengan tertawa dingin.

Begitu kejar mengejar berlangsung dengan cepat, kejap lain mereka sudah jauh meninggalkan penginapan itu, tangan Oh Thi-hoa kencang-kencang memegang alat senjata rahasia yang ganas dan hebat itu, apa boleh buat orang itu berlari seperti dikejar setan, jarak mereka masih tetap bertahan tujuh delapan tombak, kalau Oh Thi-hoa tak berhasil memperpendek jarak kedua pihak, ia kuatir senjata rahasianya takkan bisa mencapai sedemikian jauh dengan serangan telak yang mematikan, kalau senjata rahasia ini merupakan alat senjata titik terakhir yang bakal menentukan mati hidupnya, betapapun ia tak berani sembarangan bergerak, bertaruh dengan nasib dan mengejar kemenangan yang belum dapat dipastikan.

Harus diketahui ilmu ginkang Oh Thi-hoa sebetulnya tak rendah, namun sebelah lengannya kini masih tertutuk Hiat-tonya dan tak bisa bergerak, bukan saja darah tidak normal dan lancar dalam saluran badannya, dikala berlari tanpa adanya imbangan gerak-gerik tangannya larinya menjadi kurang cepat dan gerak-geriknya kurang leluasa.

Seluruh kekuatan sudah dia kerahkan, namun jarak mereka malah semakin jauh. Tiba-tiba orang itu lompat turun ke jalan raya tapi tidak melalui jalan besar, malah memilih ke jalan-jalan kecil-kecil, dari lorong-lorong sempit membelok ke gang sempit, segesit ikan berenang, selicin belut menyusup, belok ke timur lalu menikung ke selatan, tiba-tiba bayangannya tak kelihatan lagi.

Keruan Oh Thi-hoa semakin naik pitam dampratnya sengit: "Kalau kau datang hendak bunuh aku, biar aku berdiri di sini saja, kenapa kau tidak kemari membunuhku?"

Belum lenyap caci makinya, pada tikungan di depan sana kembali ia dengar cekikikan tawa orang yang geli tertahan. Tampak orang itu melongokkan kepalanya katanya tertawa dingin: "Aku masih sedang menunggu kau kenapa tidak kemari saja".

Sebelum orang bicara habis, dengan sisa setaker tenaganya Oh Thi-hoa menubruk kesana, baru saja badannya berputar menyelinap ke ujung tembok, tampak seorang kakek tua yang memikul jualan mi dan bakpao sedang berengsot-engsot mendatangi dengan pikulannya turun naik keberatan.

Saking bernafsu mengejar musuh, langkahnya begitu tergopoh-gopoh dan cepat sekali seperti mobil yang remnya blon, tak terkendali lagi "Brak krompyang!" pikulan si orang tua ditumbuknya sampai putus dan barang dagangannya pontang-panting tercecer kemana, bukan soal kalau mi dan bakpao sama jatuh dan hancur, celaka adalah kuah dan minyak goreng di atas wajan sama tumpah membasahi Oh Thi-hoa, sudah tentu seluruh badannya gebes-gebes basah dan kepanasan, jalan kampung dari batu-batu keras yang memangnya licin setelah hujan, ditambah kuah dan minyak yang tercecer ditanah menambah licin permukaan jalan pula, begitu menumbuk pikulan langkah Oh Thi-hoa masih sempoyongan ke depan dan akhirnya terpeleset terguling- guling.

Orang baju hitam yang dikejarnya sekarang sudah berhenti dan membalik badan, serunya tepuk tangan sambil mengolok-olok senang, "Bagus baik sekali, hari ini Hoa ou tiap atau kupu- kupu kembang, menjadi ayam pilek kecebur ke sungai".

Dengan menggerung gusar Oh Thi-hoa mencak-mencak merangkak bangun, tapi kakek tua penjual mi itu sudah menggelinding datang, sekali raih ditariknya baju belakang tengkuknya terus menubruk ke atas badannya, serunya dengan suara serak kalap: "Kau jalan apa tidak pakai mata? Keluarga besar kecil menggantungkan barang daganganku ini, kau sebaliknya bikin putus sumber kehidupanku, adu jiwa dengan kau" Kalau mau gampang saja Oh Thi-hoa kipaskan kakek tua ini ke samping, namun dia tahu yang salah memang dirinya, terpaksa dia tumpahkan amarah, katanya: "Lepaskan tanganmu barang- barangmu yang rusak seluruhnya kuganti".

"Baik" seru kakek tua, "Ganti ya ganti, keluarkan uangmu, pikulan Mie ini kubuat dengan ongkos tujuh tahil perak, ditambah dua puluh delapan mangkuk dan Mi, bakpao kuah dan lain-lain paling tidak berjumlah sepuluh tail".

"Baik sepuluh tail ya sepuluh tail, kuganti seluruhnya," dengan lantang Oh Thi-hoa berkata kedengarannya ia bicara dengan enak saja bahwasanya diam-diam dia mengeluh dalam hati, Karena dia ini memang seorang laki-laki yang rudin pembawaan sejak kecil, umpama kantongnya memiliki selaksa tail perak dalam tiga haripun bisa dipakainya sampai habis, demikian pula sekarang satu peserpun kantongnya tidak punya uang.

Sementara kakek tua itu masih mendesaknya dengan sengit: "Sepuluh tail ya sepuluh tail, lekas keluarkan emasmu?"

"Aku besok pasti kubayar kepadamu," seru Oh Thi-hoa tergagap.

Kakek itu jadi gusar: "Memangnya aku tahu bahwa aku ini tulang miskin, kalau sepuluh tail perak tidak kau bayar sekarang juga, jangan harap kau lepas dari tanganku".