Kereta Berdarah Jilid 17

Jilid 17

“BAIK!” Sahut Sang Siauw-tan sambil mengangguk. “Bersama-sama dengan Ing moy moy aku pergi cari kayu kering, biarlah kau beristirahat sebentar! “

Sebenarnya Koan Ing tidak bermaksud untuk beristirahat tapi karena lukanya pada saat ini sangat parah, maka bilamana sampai terjadi suatu urusan lagi mungkin tak ada kekuatan untuk melawan maka terpaksa sambil tesenyum dia mengangguk juga.

Sang Siauw-tan pun lalu menarik Cha Ing Ing turun dari kuda dan pergi mengumpulkan kaju2 kering sedang Koan Ing sendiri segera turun dari kuda untuk bersemedi di atas sebuah batu.

Tidak selang lama kemudian kedua orang gadis itu sudah berhasil mengumpulkan setumpuk kayu kering untuk kemudian mulai membuat api unggun, Ditengah berkobarnya api unggun mereka bertiga duduk berkumpul di sekeliling api unggun itu dan selama ini Cha Ing Ing tidak mengucapkan sepatah katapun sedang Koan Ing berduapun merasa hatinya murung sehingga tak seorangpun diantara mereka bertiga yang berbicara,

Koan Ing dengan termangu-mangu memandang ke atas api unggun, mendadak dia dongakkan kepalanya hendak berkata tapi.... tampaklah olehnya sesosok bayangan manusia berkelebat dengan amat cepatnya di samping tempat itu.

“Aach. !” jeritnya kaget,

Sang Siauw-tan maupun Cha Ing Ing yang mendengar suara jeritan tersebut pada meloncat kaget kemudian buru- buru dongakkan kepalanya memandang ke depan, kini tampaklah sebatang tombak dengan disertai suara desiran yang amat tajam menghajar ke atas punggung pemuda tersebut,

“Engkoh Ing, awas!” teriak kedua orang itu hampir berbareng,

Walaupun Koan Ing berada di dalam keadaan terluka parah tetapi pendengarannya masih tetap tajam, maka tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas sedang pedang kiem-hong- kiamnya dicabut keluar dari dalam sarung.

Diantara berkelebatnya sinar tajam tahu-tahu tombak tersebut sudah kena dibabat putus jadi dua bagian dan menggeletak dipinggangnya.

Begitu Koan Ing mencabut keluar pedangnya dari empat penjuru segera terdengarlah suara teriakan yang gegap gempita, berpuluh puluh batang tombak dengan disertai suara desiran yang menderu-deru menyambar ke arah mereka bertiga. Ketiga orang itu bersama-sama jadi amat terperanjat, sejak kapan pihak musuh telah mengurung tempat itu merekapun tak ada yang tahu.

Maka dengan cepat Koan Ing meloncat ke atas, pedangnya berkelebat memukul jatuh tiga batang tombak sedang sinar matanya berkelebat memandang ke arah hutan di sekelilingnya.

Saat itulah tampak bayangan manusia berkelebat tiada hentinya, agaknya sekeliling tempat itu sudah dikurung rapat- rapat oleh pihak musuh.

Saking terkejutnya sambil memukul jatuh tombak yang menyambar datang laksana titiran air hujan teriaknya keras, “Kita sudah terkurung musuh!!”

Tanganaja deagan cepat membalik menerima datangnya sambaran sebatang tombak kemudian dengan menggunakan tombak itu mengobat-abitkan kiri kanan memukul jatuh seluruh tombak yang menyerang ke arahnya.

“Engkoh Ing!” Terdengar Sang Siauw-tan berteriak keras sembari menyambar sebatang tombak. “Kau jagalah adik Ing baik-baik aku mau pergi mencari Tia!”

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi amat kaget, baru saja dia hendak berteriak untuk mencegah tahu-tahu Sang Siauw-tan sudah meloncat naik ke atas kuda dan menerjang keluar dari kepungan.

Suara teriakan aneh segera bergema memenuhi seluruh angkasa diantara berkelebatnya sinar mata pemuda itu mendadak membentak keras, tombak ditangan kirinya dengan disertai tenaga sambitan yang amat kuat menyambar ke depan membantu Sang Siauw-tan membuka satu jalan pergi.

Cha Ing Ing pun segera berlari menghampiri diri pemuda itu dan dengan menggunakan pedangnya menangkis setiap batang tombak yang menyambar pada dirinya. Menanti Sang Siauw-tan berhasil menerjang keluar dari kepungan itu Koan Ing baru menyambar tubuh Cha Ing Ing sambil ujarnya, “Kita tidak boleh berdiam terlalu lama disini, mari kita pergi bersama-sama coba menerjang keluar dari kepungan!”

Sehabis berkata mereka berlari mendekati kudanya, siapa tahu pada saat itulah mendadak datang menyambar sebatang tombak yang dengan tepat menghajar perut kuda itu sehingga seketika itu juga rubuh bermandikan darah.

Koan Ing yang melihat kejadian itu jadi tak bisa berbuat apa-apa lagi, kepada gadis itu kembali serunya:” “Ing Ing, kita lari ke atas gunung saja!”

Segera Cha Ing Ing mengangguk, demikian mereka berdua segera kerahkan seluruh tenaganya untuk menerjang naik ke atas gunung.

Pada saat yang bersamaan ditengah suara teriakan yang aneh orang-orang yang mengurung tempat itu pada munculkan diri dan menghampiri mereka berdua.

Koan Ing yang melibat munculnya orang-orang itu hatinya jadi amat terkejut, kiranya wajah maupun kulit orang-orang  itu semuanya berwarna hitam gelap dengan selembar kulit macan tutul menutupi badannya, ditangannya pada mencekal sebatang tombak yang amat runcing, jelas kalau mereka adalah segerombolan orang-orang liar.

Maka dengan gerakan yang amat gesit Koan Ing berdua melanjutkan terjangannya naik ke atas gunung, tetapi orang yang mengepung mereka semakin lama semakin banyak sehingga akhirnya boleh dikata tak ada jalan untuk bergerak maju lagi.

Luka parah yang diderita Koan Ing pun belum sembuh, saking cemas dan khekienya keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dan sambil menggigit kencang bibirnya dia bertahan terus. Cha Ing Ing sendiripun merasa amat cemas sekali, sambil memandang keadaan sekelilingnya dia berteriak cemas, “Engkoh Ing! Disana ada sebuab gua!”

Dengan cepat Koan Ing menoleh kesana ketika dilihatnya di tempat itu memang benar ada sebuah gua dengan cepatnya dia menarik tangan gadis itu untuk menerjang masuk ke dalam gua tersebut....

Dengan kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu sudah tentu orang-orang liar itu tidak bakal kuat bertahan diri, tidak selang beberapa saat lamanya mereka sudah berhasil menerjang masuk ke dalam gua tersebut.

Begitu mereka masuk ke dalam gua, orang-orang liar itupun ikut menerjang datang. Koan Ing segera membentak keras, sambil balik badan dia melancarkan satu serangan mematikan, diantara berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata berturut-turut dia bisa berhasil membunuh mati dua orang manusia liar sedang sisanya segera berteriak keras dan pada mengundurkan diri ke belakang.

Koan Ing yang melihat orang-orang liar itu berhasil dipukul mundur dalam hati merasa amat lega, tak kuasa lagi pandangannya jadi gelap dan rubuh tak sadar ke atas tanah. Tapi begitu tersentuh hawa dingin pada lantai gua itu dia menjadi sadar kembali.

“Engkoh Ing!” Teriak Cha Ing Ing sambil menangis tersedu- sedu.

Tiba-tiba pemuda itu mengerutkan keningnya rapat-rapat dan mengajunkan pedang kiem-hong-kiamnya ke depan dengan disertai suara bentakan yang amat keras? Kiranya pada saat gadis itu tidak waspada itulah tampaklah sesosok manusia berkelebat masuk ke dalam gua,

Walaupun serangannya ini mencapai hasil tetapi seluruh tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin maka sambil menghembuskan napas panjang-panjang ujarnya . “Ing Ing! aku tidak mengapa, badanku cuma terasa amat lelah sekali....


Lama sekali gadis itu memandang Koan Ing dengan pandangan terpesona, akhirnya dia bangun berdiri dan memungut kembali pedarg kiem-hong-kiam tersebut.

Koan Ing yang melibat kelopak mata gadis tersebut dipenuhi dengan air mata hatinyapun ikut merasa sedih, sambil tertawa paksa hiburnya, “Haaa.... , haaa     , entah dari

mana datangnya manusia2 buas yang begitu liar, apalagi tahu?      Mennyari      gara2      dengan      kita.       sungguh

mengherankan?”

Dengan perlahan Cha Ing Ing menyerahkan pedang itu kepada Koan Ing lalu berjongkok di hadapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun,

“Ing Ing! kau tidak usah kuatir” ujar Koan Ing sambil memegang tangan gadis itu erat-erat kemudian menarik napas panjang-panjang. “Untuk beberapa saat lamanya mereka tidak bakal berani menerjang kemari, bukankah tempo hari kitapun baru saja berhasil meloloskan diri dari kematian.”

Cha Ing Ing segera menundukkan kepalanya rendah- rendah, air mata mengalir keluar semakin deras lagi.

Koan Ing jadi melengak melihat kejadian ini, dia tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba Cha Ing Ing bisa begitu sedih sehingga terus-menerus melelehkan air mata, apakah dia sedih karena teringat peristiwa yang lalu?

Suara teriakan2 yang semula bergema di luar gua itupun dengan perlahan mulai sirap? Kembali, suasana di sekeliling tempat itu kembali jadi sunyi senyap.

Koan Ing segera menghela napas panjang, dia tahu bilamana orang-orang buas yang amat liar itu tanpa perduli nyawa sendiri menerjang terus ke dalam gua sekalipun mereka memiliki kepandaian silat yang lebih tinggi pun tidak bakal ada gunanya, apalagi bila mana mereka menyerang ke dalam dimana dirinya terluka parah mana masih punya harapan untuk meloloskan diri tapi bilamana sebaliknya....

Mendadak dari luar gua berkumandang datang suara teriakan yang amat keras disusul dengan suara suitan yang amat menyeramkan suasana di sekeliling tempat itu kembali jadi gaduh, entah ada berapa banyak orang lagi yang muncul disana....

Suara jeritan yang amat seram dan teriakan2 yang tidak dipahami ini walaupun tidak merupakan serangkaian kata-kata tetapi di dalam pendengaran mereka berdua mengetahui jelas kalau inilah suara teriakan Untuk membalas dendam.

Di dalam hati kedua orang itu, kembali merasa amat ngeri sekali.

Dengan perlahan Cha Ing Ing dongakkan kepalanya memandang ke arah pemuda tersebut, empat mata bertemu jadi satu membuat hati terasa berdebar.

Dengan meminjam sinar api yang menyorot masuk ke dalam gua mereka berdua dapat melihat bagaimanakah perubahan wajah dan masing-masing pihak pada saat itu.

“Engkoh Ing!!! sebelum mati maukah kau memeluk diriku?” seru Cha Ing Ing dengan amat sedih,

Selesai berkata dengan perlahan dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan pemuda tersebut.

Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras dan berdiri termangu-mangu di sana. dia mengerti bilamana orang-orang buas itu kembali melancarkan serangan gabungan maka dirinya tidak bakal berhasil mempertahankan diri beberapa saat lamanya. walaupun kini Sang Siauw-tan berhasil meloloskan diri tetapi Sang Su-im ada di tempat seratus li dari sini apakah mereka sempat datang memberi bantuan? Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya terakhir tak kuasa lagi tangannya mulai merangkul tubuh Cha Ing Ing lalu dipeluknya erat-erat.

Cha Ing Ing yang ada di dalam pelukannya segera menangis tersedu-sedu, pada saat ini entah dia baru merasa sedih atau gembira. ,

Ditengah suara teriakan yang amat aneh dari luar gua mendadak melayang datang sebuah benda hitam yang terjatuh di atas tanah, “Plaak ,....!” dengan ketajaman mata dari pemuda itu sekali pandang saja dia mengetahui kalau benda tersebut bukan lain adalah sesosok mayat.

Tidak selang lama kemudian sudah ada dua puluh sosok mayat yang dilemparkan masuk ke dalam gua, dalam hati baik Koan Ing maupun Cha Ing Ing mengerti kalau mayat2  tersebut bukan lain adalah mayat2 dari orang buas yang kena mereka bunuh tadi.

Setelah mayat itu selesai dilemparkan ke dalam gua lalu diikuti dengan panah api dilempar masuk ke dalam gua itu, melihat kejadian ini pemuda itu jadi amat kaget sekali.

Bilamana tidak menderita luka ada kemungkinan dia masih bisa melancarkan satu pukulan untuk menghajar keluar panah berapi itu, tapi kini dia lagi menderita luka parah bahkan boleh dikata tak ada kekuatan lagi untuk turun tangan, di dalam keadaan ssperti ini terpaksa dia cuma bisa menunggu saat kematiannya saja.

Ditengah mengepulnya asap api yang berkobar itu Cha Ing Ing berbatuk keras, Koan Ing yang melihat hal itu jadi berdesir hatinya.

Kini Cha Ing Ing tidak suka menutup pernapasannya dan ingin mencari mati, apa daya? “Ing Ing!! Bagaimana kau orang boleh berbuat demikian? Apakah sudah tidak mau mengurusi ayah ibumu lagi?” teriak pemuda itu sambil mendorong tubuh Cha Ing Ing.

Dengan wajah penuh air mata gadis itu melirik sekejap ke arah Koan Ing yang kemudian menundukkan kepalanya rendah-rendah.

“Kau tak usah mengurusi diriku!!”

Mendengar perkataan itu Koan Ing jadi amat terperanjat. “Heeeei.... mari kita keluar saja!” ajaknya kemudian sambil

bangun berdiri.

Dengan perlahan Cha Ing Ing dongakkan kepalanya kembali memandang ke arah pemuda itu, begitu melihat wajah yang kukuh dari Koan Ing air matanya kembali mengucur keluar dengan deras.

Lama sekali dia memnndang pemuda itu dengan terpesona, terakhir ia baru membuka mulut berkata, “Engkoh Ing! aku tidak akan pergi dari kini, mau bukan kau kabulkan permintaanku untuk kali ini?”

Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau Cha Ing Ing bisa mohon pada dirinya mengenai soal ini. seketika itu juga ia jadi tertegun.

Asap mulai menebal yang akhirnya memenuhi seluruh ruangan gua itu, kembali Cha Ing Ing berbatuk2 sedang air mata mengalir keluar semakin deras lagi.

“Ing Ing!” ujar pemuda itu lagi dengan suara yang halus sekali. “Bilamana kita sampai mati di tempat ini, bagaimana nanti aku bisa bertanggung jawab di depan paman Cha?”

“Kau tidak usah menipu dan memaksa aku lagi, karena aku sekarang bukan bocah cilik lagi....!” teriak Cha Ing Ing tiba- tiba dengan suara keras. “Kalau kau ingin bertemu dengan enci Siauw-tan katakanlah saija secara terus terang, kenapa harus berpura-pura dengan menipu diriku? Buat apa kau pura- pura jadi orang baik?”

Koan Ing yang disembur dengan kata-kata itu jadi melengak dibuatnya, karena dalam hati ia sama sekali tak menduga kalau Cha Ing Ing bisa berkata demikian, maka untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.

“Baiklah! kau suruh aku keluar akan kuikuti perkataanmu itu. Tetapi apa kau kira setelah keluar dari sini masih bisa lolos dari kematian?” teriak gadis itu lagi dengan gusar,

Sehabis berkata dia lantas bergerak keluar dari gua itu. Melihat tindakan yang begitu nekat dari gadis tersebut Koan Ing jadi amat cemas.

“Ing Ing! kau jangan pergi sendiri, mari kita keluar bersama?” teriaknya.

Sekeluarnya dari gua itu terlihatlah Cha Ing Ing masih berdiri disana, hal ini membuat hatinya rada lega. Tetapi sebentar kemudian seluruh bulu kuduknya sudah pada berdiri, karena di sekeliling tempat itu hanya tampaklah cahaya sinar yang amat terang, kiranya mereka sudah terkepung rapat- rapat disana!

Diantara gerombolan orang-orang itu tahu-tahu muncullah seorang lelaki berusia pertengahan yang mengulapkan tangannya menghentikan suara teriakan yang sangat ramai tersebut, kemudian dengan bahasa Han yang lancar serunya, “Kalian sudah membunuh orang, kalian harus ingat hutang nyawa harus dibajar dengan nyawa!!”

Selesai berkata dia lantas memberi tanda kepada orang- orang yang ada dibelakangnya, tampaklah berpuluh-puluh orang buas dengan membawa senjata tulup panah beracun siap-siap melancarkan serangan ke arah kedua orang itu. Koan Ing yang melihat kejadian ini jadi amat terperanjat karena dia tahu kalau panah2 yang digunakan mereka adalah sangat beracun sekali, siapa saja yang terkena tentu akan menemui ajalnya, karena itu buru-buru ia menarik Cha Ing Ing ke belakang tubuhnya dan berseru dengan perlahannya, “Kau jangan bertindak dulu!!”

Dengan sekuat tenaga Cha Ing Ing meronta untuk melepaskan diri dari cekalan Koan Ing, walaupun begitu dia tak pergi jauh.

Pada saat dan keadaan seperti ini Koan Ing tetap tidak suka mengurusi lebih banyak lagi.

“Tahan!!” Teriaknya tiba-tiba.

Lelaki berusia pertengahan itu segera mendengus dingin, tangannya diulapkan menghentikan tindakan anak buahnya.

“Apa yang ingin kau ucapkan?” Tanyanya tawar.

“Kami saling tak kenal dan tiada ikatan permusuhan apapun dengan kalian, cuma secara tidak sengaja lewat digunung ini, kenapa tanpa sebab kalian hendak membunuh kami!?”

Sinar mata lelaki berusia pertengahan itu berkelebat tiada hentinya lalu dia mendengus dingin.

“Selamanya tempat yang kami tinggali tidak memperkenankan ada orang asing yang menginjak.”

Koan Ing yang mendengar perkataan mereka sama sekali tidak pakai aturan dia pun tidak dapat berbuat apa-apa, terpaksa ujarnya, “Orang-orang itu akulah yang turun tangan membunuh, dan peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan dia, lebih baik kalian lepaskan dia pergi.”

“Tidak bisa!!” potong lelaki berusia pertengahan itu dengan keras. “Dia ada bersama-sama dengan dirimu, apalagi kamipun melihat dia juga ikut membunuh, kau lagi jual obat macam apa?” Selesai berkata kembali tangannya diulapkan menyusun kembali jago-jago tulupnya.

Koan Ing yang melihat orang itu tidak bisa diajak damai hatinya dibuat semakin cemas lagi, buru-buru teriaknya kepada gadis tersebut, “Ing Ing cepat kau terjang keluar!”

Selesai berkata dia membentak keras dan menerjang ke arah lelaki berusia pertengahan itu.

Ditengah suara sambaran senjata yang tajam sederetan panah2 beracun dengan cepat meluncur ke arah pemuda itu.

Cha Ing Ing yang melihat tindakan Koan Ing untuk memancing musuh dan memberi kesempatan baginya untuk meloloskan diri dia jadi terperanjat, kemudian teriaknya dengan cemas, “Engkoh Ing!!”

Disertai suara jeritan yang keras itu diapun ikut menerjang dibelakangnya.

Dengan gesitnya Koan Ing mengajunkan pedang kiem- hong-kiamnya menyapu jatuh anak panah yang menerjang ke arahnya, tapi sewaktu mendengar Cha Ing Ing ikut mengejar datang hatinya jadi bergetar keras dan karena berajal itulah lengan kanannya kena dihajar sebatang panah. Seketika itu juga lengan kanannya menjadi kaku dan hilang daya kekuatannya.

Cha Ing Ing menjerit kaget, sambil menarik napas panjang- panjang teriaknya keras, “Kau larilah ke arah lain!!”

Ditengah sambaran anak panah beracun yang amat deras laksana curahan air hujan itu mana mungkin Koan Ing bisa menghindarkan diri lagi? Berturut-turut badannya kena dihajar kembali lima, enam batang anak panah.

Pada saat itulah cha ing Ing sudah menerjang ke samping tubuh pemuda itu, begitu melihat Koan Ing sudah tidak kuat memegang pedangnya lagi buru-buru dia menyambar pedang itu untuk melindungi tubuh. “Engkoh Ing! aku sudah berbuat salah.... ” Teriak gadis itu sambil menangis dan menyambar tubuh Koan Ing dengan menggunakan tangan kirinya.

Dengan pandangan sayu pemuda itu membuka matanya memandang sekejap ke arah Cha Ing Ing tapi kepalanya terasa amat pening sekali hingga sukar ditahan.

Sambil mengobat-abitkan pedangnya gadis itupun melirik sekejap ke arah pemuda yang ada dalam rangkulannya, tapi sewaktu melihat sinar matanya redup dan tak bercahaya lagi hatinya jadi cemas sehingga air matanya mengalir keluar bertambah deras.

Ditengah sambaran panah beracun yang amat deras itu akhirnya Cha Ing Ing pun kena dihajar badannya, buru-buru napas dan jalan darahnya ditutup, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mencoba terus memperiahankan diri.

Koan Ing yang melibat gadis itupun kena dihajar anak panah beracun hatinya jadi merasa amat menyesal, karena dia merasa perkataan dari gadis tadi sedikitpun tidak salah, memang di dalam hatinya cuma pikirkan Sang Siauw-tan seorang saja.

Tetapi kini.... mereka berdua hampir mati....

Tiba-tiba tardengar tiga buah letusan keras meledak ditengah udara membuat pemuda itu merasa hatinya targetar keras.

“Aaah.... Sang Siauw-tan tiba.... ” karena hatinya bergetar keras, tak kuasa lagi pemuda itu jatuh tak sadarkan diri

Ooo)*(ooO

Bab 42

ENTAH lewat beberapa saat lamanya dengan perlahan dia baru sadar kembali dari pingsannya dan waktu itu dia menemukan dirinya berbaring di atas sebuah pembaringan, Tetapi teringat akan peristiwa yang baru saja terjadi buru- buru tubuhnya bergerak hendak bangun berdiri,

Koan hian-tit, untuk sementara lebih baik kau jangan bergerak dulu!” seru seseorang secara tiba-tiba sambil menekan badannya.

Koan Ing menarik napas panjang-panjang setelah pandangannya jadi terang diapun dapat melihat kalau di samping pembaringannya berdirilah dua orang, mereka bukan lain adalah Sang Su-im ayah beranak.

Lama sekali ia memandang ke arah mereka berdua dengan termangu-mangu, bagaimana dirinya bisa tidur di atas ranyang?

Waktu itulah dia dapat mencmukan kalau Sang Siauw-tan jauh lebih kurusan dari tempo dulu sedang Sang Su-im sambil tersenyum lagi memperhatikan dirinya.

“Kali ini akulah yang membuat kalian celaka,” ujar Sang Su- im sambil tertawa. “Sewaktu berada didaerab Tian Lam aku mendapatkan berita tentang Sang Siauw-tan, saking girangnya dan terkejutnya lantas membawa Tian Pian Ih Boen atau sitabib sakti dari daerah Tian Lam, dan itu Lam Kong Ceng kiranya juga telah memasuki daerah Tionggoan tetapi sama sekali tidak menyangka kalau orang-orang buas itu telah salah paham kalau dikiranya kami menculik tabib itu dengan paksa maka mereka lantas pada menguntit kemari untuk menghadapi diriku.... Tetapi siapa sangka kaulah yang kena getahnya!”

Koan Ing cuma tersenyum saja setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba di dalam benaknya teringat akan sesuatu ujarnya, “Dimana Cha Ing Ing.”

Sinar mata Sang Su-im berkelebat tiada hentinya sedang Sang Siauw-tan menundukkan kepalanya rendah-rendah, lewat beberapa saat kemudian baru terdengar Sang Su-im menjawab: “Bocah itu sungguh keras kepala, baru saja sembuh dia sudah pergi dari sini tanpa pamit. Dan sampai ini hari kau sudab berbaring selama setengah bulan lamanya karena Lam Kong Ceng telah mencekoki dirimu dengan arak Pek Jien Coeinya yang lihay, sekarang lukamu sudah sembuh semua!”

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, karena sewaktu mendengar Cha Ing Ing sudah meninggalkan tempat itu tanpa pamit hatinya merasa tidak enak. karena itu tak sepatah katapun yang dapat diucapkan keluar.

“Karena urusan manusia2 buas itu Lam Kong Ceng sudah kembali ke daerah asalnya,” ujar Sang Su-im lagi. “Sebelum berangkat dia mengemukakan kalau dirinya sangat kagum dengan ilmu pengobatanmu, bilamana ada kesempatan dikemudian hari ia ingin minta beberapa petunjuk dari dirimu.”

Dengan perlahan pemuda itu dongakkan kepalanya mcmaadang ke arah Sang Su-im lalu serunya, “Empek Sang, terima kasih.”

Kemudian kepada Sang Siauw-tan dia tersenyum.

“Siauw-tan! Beberapa hari ini kau tentu merasa sangat cemas bukan?”

“Eeeei.... karena tiba-tiba kau bicara begitu sungkan- sungkan terhadap diriku? Sekarang kau sudah sembuh hatikupun sudah lega,” kata gadis itu sambil tersenyum.

“Siauw-tan!” Tiba-tiba Sang Su-im menyela dan samping. “Kau antarkan engkoh Ingmu untuk jalan-jalan di tempat luaran, dengan demikian otot2nya yang sudah kakupun biar luwes kembali, di samping itu diapun memerlukan hawa segar!”

Sang Siauw-tan segera mengangguk, kemudian sambil membimbing Koan Ing untuk bangun berdiri.

Walaupun pada saat ini luka yang diderita Koan Ing sudah sembuh semua tetapi karena setengah bulan ini terus menerus dia berbaring membuat badannya pun menjadi amat lemah, maka sambil mencekal tubuh Sang Siauw-tan dengan perlahan-lahan ia berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.

Kiranya pada saat ini mereka berada di atas loteng, pemandangan yang ada di hadapannya adalah sebuah sungai besar yang berliku2, disisi kiri kanannya tumbuhlah  pepohonan nan hijau, kaadaannya jauh berbeda dengan pemandangan sewaktu berada di daerah Tibet serta tanah salju.

“Siauw-tan! sekarang kita berada dimana?” tanyanya  sambil manarik napas panjang.

“Coba kau tebak!”

Sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat pemuda itu memandang sekejap ke sekeliling tempat itu lalu ujarnya, “Sungai yang kelihatan ini tentunya sungai Tiang Kang, jika ditinjau dari gunung yang ada dikedua belah sampingnya aku kira tempat ini pastilah selat Sam Shia, apa betul?”

Sang Siauw-tan segera tersenyum. “Kita pada saat ini berada digunung Toa Wu-san, apakah kau sudah lupa dengan tantangan Sin Ti Lang Coen terhadap ayahku untuk merasakan kelihayan dari barisan Sang Loo Toa Tin dipuncak Jien Giok Hong? Dan mulai ini hari masih tinggal tiga hari saja!”

Koan Ing tersenyum, belum sempat dia mengucapkan sesuatu mendadak pemuda itu sudah menjerit kaget kiranya  di samping sungai itu terlihatlah olehnya cahaya berdarah yang berkelebat dengan cepatnya. jika dilihat dari keadaanya mirip sekali dengan kereta berdarah cuma hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Sang Siauw-tan yang mendengar Koan Ing menjerit tertahan tak terasa diapun menoleh ke arah sungai.

“Kau sudah melihat sesuatu?” tanyanya. “Agaknya kereta berdarah, dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap tak berbekas!!”

“Kereta berdarah?” seru Sang Siauw-tan sambil memandang tajam ke arah sungai tersebut,

Sang Su-im yang mendengar perkataan tersebut segera berjalan mendekat dan memandang ke arah depan.

“Kereta berdarah!!” serunya. “Bagaimana mungkin kereta berdarah bisa muncul disini sungguh aneh sekali!!

“Tia! apakah kereta berdarah bisa muncul disini?” tanya gadis itu sambil dengan perlahan menoleh ke arah Sang Su- im.

“Memang selama beberapa hari Yaun Si Totiang serta sijaring emas penguasaha langit sudah memasuki daerah Tionggoan, sedang Thian Siang Thaysu itu ciangbunjien dari Siauw-lim-pay pun sudah kembali ke kuil untuk mempersiapkan delapan ratus lo han tin untuk menghadapi Yuan Si Tootiang tetapi toosu itu tidak ambil perduli karena jejaknya masih berkelebat tiada ujuug pangkalnya. Dan oleh karena perbuatan itu Thian Siang Thaytu terus menyebar undangan Bu-lim Tiap untuk mengundang seluruh jagoan Bu- lim bersama-sama menghadapi Yuan Si Tootiang serta Phoa ThiaD Coe mungkin sekali apa yang dilihat Koan hian-tit tadi memang kereta berdarah adanya.”

“Empek Sang! apakah kau mengetahui siapakah majikan dari kereta berdarah pada saat ini?” tanya pemuda itu tiba- tiba.

“Aku rasa persoalan ini, adalah persoalan yang ingin diketahui oleh setiap orang yang ada di kolong langit” sahut Sang Su-im sambil tertawa.

Baru saja dia selesai berkita mendadak terdengarlah suara dengusan yang amat dingin berkumandang datang disusul suara seruan dari sesesorang dengan amat dinginnya; “Sang Su-im! sungguh pandai kau orang mencari kesenangan!”

Diantara berkumandangnya suara tersebut tampaklah sesosok bayangan abu-abu berkelebat naik ke atas loteng, Koan Ing melihat munculnya orang itu dalam hati merasa sangat terperanjat sekali.

Karena orang itu mencekal sebuah tombak yang besar dengan rambut yang sudah pada memutih, orang lain pasti bukan lain adalah Ciat Ih Toocu dari lautan Timur. Ciu Tong adanya!

Sang Su-im yang melihat mUnculnya Ciu Tong disana sama sekali tidak merasa ada diluar dugaan

“OooouuwW kiranya kau orang!” Serunya tawar,

Dengan pandangan dingin Ciu Tong segera menyapu sekejap ke seluruh kalangan, kemudian baru ujarnya dengan perlahan, “Kau seorang diri berdiam disini dengan tenang, apakah kau masih tidak tahu kalau Yuan Si Tootiang serta Phoa Thian-cu dikarenakan hendak mengejar jejak kereta berdarah sudah pada berdatangan digunung Wu san?”

“Biarlah mereka mau mengejar atau tidak itu kereta berdarah untuk sementara bukan urusanku,” sahut Sang Su- im cepat. “Karena besok pagi2 aku masih ada urusan dipuncak Jien Giok Hong untuk menghadapi barisan Seng Loo Toa Tin dari Sin Ti Langcoen itu pangcu dan Sin Ti Pang!”

Terlihatlah sinar mata Ciu Tong berkelebat dengan tajam, agaknya dia merasa urusan ini rada berada diluar dugaan.

Pada saat itulah dari bawah loteng kembali berkumandang datang suara tertawa yang amat keras disusul dengan munculnya sesosok bayangan manusia yang meloncat naik ke atas loteng pula.

“Sang-heng selama perpisahan ini apa kau baik-baik saja?” serunya. Orang itu bukan lain adalah si dewa telapak dari gurun pasir Cha Can Hong adanya.

Sang Su-im yang melihat munculnya Cha Can Hong segera tertawa. “Kiranya kau orang, apakah istri serta putrimu tidak ikut?” Tanyanya.

“Beberapa hari lagi dia baru tiba disini, tadi aku dengar orang bilang perkumpulan Sin Ti Pang sudah tiba disini, suasana kali ini benar-benar sangat ramai, apakah Sang heng sudah melihat budakku?”

Selesai berkata sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah Koan Ing.

Koan Ing yang melihat sinar mata orang itu amat tajam hatinya merasa tergetar keras, karena dari sinar mata Cha Can Hong ini seolah2 mengartikan kalau Cha Ing Ing lari dikarenakan dirinya.

“Oooh kau maksudkan Ing Ing? Memang beberapa hari yang lalu dia masih berada disini, cuma saja secara mendadak dia lari pergi tanpa pamit.”

“Aaaah.... kalau begitu hatikupun agak tenang kembali, karena bilamana dia tidak menemukan diriku mungkin akan balik kembali kemari.”

Ciu Tong yang ada di samping mendadak dengan suara yang amat dingin, “Eeei.... lebih baik kalian jangan membicarakan terus soal bocah cilik, lebih baik kita bicarakan persoalan yang ada dihadapan kita pada saat ini. Karena sejak Yuan Si Totiang serta Phoa Thian-cu masuk ke daerah Tionggoan ini hingga kini kita orang tak dapat berbuat sesuatu apapun terhadap mereka bahkan dimanakah mereka pada saat ini kita juga tidak tahu”,

“Soal itu mudah sekali diatasi, karena asalkan kita mendapatkan kereta berdarah itu mereka pasti akan mencari kita dengan sendirinya,” sahut Cha Can Hong sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Tetapi siapa yang tahu kereta berdarah itu ada dimana? Bukankah perkataanmu itu sama dengan perkataan kosong belaka?” seru Ciu Tong tawar.

Sang Su-im yang selama ini berdiam diri lantas ikut buka mulut,

Mendengar perkataan itu dengan cepat Ciu Tong putar badannya, dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang amat tajam.

“Dimana?” tanyanya.

“Sekarang sudah pergi jauh, sekalipun aku memberi tahu padamu juga percuma, apalagi sekarang kita belum tahu siapakab majikan dari kereta berdarah itu, orang itu bisa memperoleh kereta berdarah jelas sekali ilmu silatnya pasti luar biasa sekali.”

“Hmm! Coba kau bilang siapa yang memiliki kepandaian begitu luar biasa?” Tanya Ciu Tong sambil mengetuk2kan tongkatnya ke atas lantai loteng.

“Haaaa.... haaa.... haaa.... Ciu heng buat apa kau marah2 sendiri?” seru Cha Can Hong sambil tertawa terbahak-bahak. “Urusan ini tidak mau kita pusing2 pikirkan lagi, karena nanti bila sampai pada waktunya pasti kita bisa ketahui sendiri!”

Ciu Tong segera mendengus dan tidak mengucapkan kata- katanya lagi, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan sungai yang ada di hadapannya, agaknya dia bermaksud hendak mencari dimanakah jejak kereta berdarah itu sebenarnya.

Cha Can Hong tersenyum kepada Sang Su-im ujarnya lagi, “Yuan Si Totiang itu jadi orang memang benar-benar kurang ajar sekali, aku rasa diapun tentu ada di sekeliling tempat ini, Sang-heng! Bagaimana kalau kau orang mengirim anak buah untuk mencari tahu jejaknya?”

Belum sempat Sang Su-im menjawab Ciu Tong sudah mendengus dan menoleh. “Menurut penglihatanku lebih baik kita bersama-sama berangkat ke gunung Bu-tong-san bilamana dia tidak suka munculkan diri lebih baik kita hancurkan saja Bu-tong-pay.”

Baru saja bicara sampai disitu mendadak terdengar suara seseorang yang amat dingin sudah menyambung, “Aku rasa kau masih belum berhak untuk berbuat demikian.”

Diantara suara pembicaran itulah tampak sesosok bayangan manusia berwarna hijau berkelebat naik Ke atas.

Sekali lagi Ciu Tong mendengus dingin, tubuhnya membalik melancarkan babatannya ke belakang dengan menggunakan tongkatnya.

Orang berbaju hijau itupan dengan cepat mencabut pedangnya, diantara berkelebatnya sinar hijau yang membentuk gerakan setengah lingkaran menekan ke arah tongkatnya itu.

Sinar mata iblis tua dari lautan Timur itu segera berkelebat tajam, dalam hati ia merasa amat gusar sekali karena di hadapannya ternyata ada orang yang berani begitu kurang ajar dan bernyali untuk melancarkan serangan ke arahnya.

“Turun!” bentaknya gusar....

Mendadak tongkatnya didorong sejajar dada menghajar tubuh orang berbaju hijau itu. Orang berbaju hijau itu terkejut, pedangnya dibalik menyambut datangnya serangan tongkat, inilah jurus Bu-tong Kiam Hoat.

Nama besar Ciu Tong sejajar diantara nama2 empat manusia aneh sudah tentu tenaga dalam yang dimiliki juga amat dahsyat, sekalipun dia merasa kaget akan ke dahsyatan dari ilmu silat orang itu tetapi masih tidak dipikirkan dihati. Tongkatnya kembali digetarkan ke depan,  mendadak sambil meloncat melancarkan totokan ke arah bagian lehernya.

“Tiiing....!!” sekalipun tangan kanan dari orang berbaju hijau itu berhasil mencekal di atas kayu pagar tetapi pedang yang ada ditangannya kena dipukul lepas juga dari tangannya.

Sebentar kemudian tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan dengan wajah amat terperanjat muncul dihadapan mereka,

Sang Su-im memandang sekejap ke arah orang itu lalu tersenyum. “Ooouw.... kiranya sute dari Yuan Si Tootiang, Koan Yuan Bee adanya!”

Ciu Tong dengan dinginnya mendengus dengan pandangan menghina dia orang melirik sekejap ke arahnya, Maka dengan paksakan diri Koan Yuan Bee naik ke atas loteng disertai wajah jengah karena bagaimanapun juga kesalahannya yang baru saja dialami benar-benar sangat memalukan sekali.

“Hmm” sakit hati ini hari tentu akan kubalas dikemudian hari?” serunya dengan rasa malu dan mendongkol.

Selesai berkata dia putar tubuh dan melayang turun ke atas tanah.

“Haaaa.... haaa.... walaupun selama hiduppun jangan harap kau bisa berhasil membalas sakit hatimu ini!” teriak Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak.

Pada saat itulah....

“Coba lihat, itu kereta berdarah!” Teriak Cha Can Hong secara tiba-tiba.

Mendengar teriakan tersebut dengan hati tergetar semua orang pada menoleh kebawah, memang tampaklah kereta berdarah bagaikan sesosok bayangan dengan cepatnya berkelebat ke depan kemudian lenyap dari pandangan Ciu Tong segera menggerakkan badannya melayang kebawah. dengan tangan mencekal tongkatnya erat-erat bagaikan seekor burung rajawali menubruk ke bawah loteng.'

Cha Can Hong yang melihat Ciu Tong sudah barangkat diapun berseru dengan cepat, “Sang-heng, siauwte pun berangkat lebih dulu.”

Selesai berkata tubuhnya pun melayang sejauh dua puluh kaki, laksana seekor burung bangau dengan cepatnya melayang ke bawah dan mengejar dari belakang tubuh Ciu Tong.

Sang Su-im ragu-ragu sejenak, akhirnya dia pun berseru, “Siauw-tan! kau temanilah engkoh Ing mu aku akan pergi sebentar!”

Tubuhnyapun bagaikan seekor rajawali dengan cepatnya berputar ditengah udara kemudian meluncur ke dalam hutan, diantara berkelebatnya bayangan hijau hanya di dalam  sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Koan Ing menghembuskan napas lega lalu memandang ke arah Sang Siauw-tan gadis tersebut, hanya di dalam sekejap saja loteng yang semula amat ramai itu kini tinggal mereka berdua,

“Apa yang hendak dilakukan oleh kereta berdarah itu?” pikirnya dihati.

Bilamana bukannya dia baru saja sembuh dari sakitnya mungkin dia sendiripun akan ikut melakukan pengejaran.

Sang Siauw-tan agaknya mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, maka dia tersenyum. “Engkoh Ing, mari kita masuk saja kedalam, kau harus banyak beristirahat agar kesehatanmu bisa lekas pulih kembali!!”

Dengan sangat berterima kasih Koan Ing tersenyum dan mengangguk. Demikianlah mereka berdua pun lantas masuk ke dalam kamar, setelah menutup pintu dan jendela Koan Ing mulai duduk bersila untuk melakukan latihannya.

Entab lewat beberapa saat lamanya sewaktu dia selesai berlatih tenaganya pun sudah pulih kembali, maka sambil tersenyum dia segera membuka matanya.

Waktu itu keadaan di dalam ruangan itu remang2 karena hanya diterangi dengan dua buah lilin saja, sedangkan Sang Siauw-tan lagi berjalan bolak-balik dengan amat cemas.

“Siauw-tan! jam berapa sekarang?” tanya pemuda itu kemudian sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Ooouw.... kau sudah bangun, sekarang sudah tengah malam” sabut gadis itu sambil menoleh.

Koan Ing jadi melengak, belum sempat dia mengucapkan sesuatu Sang Siauw-tan sudah menyambut kembali, “Tia bilang dia cuma pergi sebentar tetapi sampai sekarang masih tak ada sedikit beritanya entah apa yang sudah mereka temui? Kenapa mereka tidak juga pulang?”

Koan Ing menghela napas, diapun termenung berpikir sebentar kemudian baru turun dari alas pembaringan, membuka pintu dan berjalan keluar.

Bintang tersebar memenuhi seluruh angkasa sinar rembulan menerangi seluruh jagat suasana amat sunyi sekali kecuali tiupan angin malam yang menderu-deru serta gulungan ombak yang keras, sedikitpun tidak tampak bayangan manusia lain.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan berjalan mendekati samping tubuh pemuda itu dan berdiri bersama-sama.

“Siauw-tan, mungkin empek Sang sudah mengejar amat jauh sehingga tidak sempat pulang lagi,” ujar Koan Ing sambil mencekal tangan gadis itu kencang-kencang. “Kau tidak usah kuatir dengan kepandaian silat yang dimiliki empek Sang tidak bakal dia orang tua menemui kesulitan!”

Sang Siauw-tan tersenyum dan dengan perlahan menundukkan kepalanya rendah-rendah tadi hatinya kacau dan murung berhubung tak ada yang menemani dirinya, kini setelah Koan Ing sadar kembali diapun tidak usah merasa kuatir lagi.

Koan Ing mengalihkan pandangannya keluar loteng lalu ujarnya sambil tertawa, “Pemandangan di tempat ini sungguh indah sekali, bilamana ada suatu hari kita berdua bisa berdiam disini sungguh menyenangkan sekali!!”

Dengan perlahan Sang Siauw-tan menundukkan kepalanya semakin rendah lagi, lama sekali dia baru angkat kepalanya dan memandang ke arah pemuda itu dengan hati yang amat girang.

Empat mata bertemu jadi satu membuat hati berdebar, lama sekali tak seorang pun diantara mereka yang mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak ditengah suara tertawa panjang yang amat nyaring tampaklah sesosok bayangan hijau berkelebat naik ke atas loteng. Sang Siauw-tan yang mendengar suara itu  hatinya jadi bertambah kegirangan.

“Tia! kau baru kembali?” teriaknya sambil melepaskan tangannya dari cekalan pemuda tersebut.

Begitu tubuh Sang Su-im melayang naik ke atas loteng sambil tersenyum dia menyapu sekejap ke arah dua orang anak muda itu.

“Mungkin kau masih tidak ingin aku kembali pada saat ini bukan?” godanya.

Seketika itu juga wajah gadis itu berubah jadi merah jengah. “Tia, kau bergurau lagi. dimana paman Cha sekalian?

Kenapa mereka tidak ikut kemari?” serunya.

“Mereka entah sudah pergi kemana,” sahut Sang Su-im sambil tertawa keras. “Aku cuma melihat kereta berdarah itu menuju ke sebelah Timur, aku lantas mengejar kesana, siapa sangka sekalipun sudah mengejar sampai saat inipun tanpa mendapat hasil apa-apa!”

Selesai berkata dia tertawa, agaknya ia sedang mentertawakan akan ketidak becusan dari dirinya.

Pada saat itulah dari luar loteng kembali berkumandang datang suara yang amat dingin dan nyaring,

“Sang pangcu kiranya kau ada disini, sungguh tidak kusangka duuia benar-benar amat sempit dimanapun kita selalu berjumpa!”

Ditengah suara teriakannya itu tampaklah sesosok bayangan putih bagaikan segulung kabut dengan cepatnya melayang naik ke atas loteng itu.

Orang itu bukan lain adalah Sin Hong Soat-Nie adanya, Koan Ing yang melihat ni-kouw itu memandang ke arahnya dengan pandangan tajam hatinya lantas merasa rada berdesir.

“Ooouw....! kiranya Soat-nie adanya apakah selama ini kau baik-baik saja?” seru Sang Su-im sambil tertawa....

“Ehmm! sejak memasuki daerah Tionggoan hingga kini terus-menerus pinnie mengejar jejak dari Yuan Si Tootiang beserta kereta berdarah itu tetapi selama ini tak ada sedikit beritapun yang berhasil aku dapatkan, baru pada waktu ini pinnie dengar kereta berdarah itu muncul kembali disini mungkin sebentar lagi Thian Siang Thaysupun bakal tiba disini!!”

Sang Su-im menarik napas panjang-panjang dan tertawa. “Walaupun tadi akupun ikut mengejar kereta berdarah itu tetapi tak mendapatkan hasil apa?, tetapi sinnie tidak usah kuatir cayhe sudah perintahkan anak murid perkumpulanku untuk memeriksa jejak musuh pada daerah sekitar lima ratus li di sekeliling tempat ini!!”

“Sang Pangcu!!” ujar Sin Hong Soat-nie tiba-tiba. “Aku ingin meminjam semacam barang dari Sang Pangcu entah sukakah kau orang mengabulkannya?”

“Soat-nie kenapa kau harus berlaku sungkan? Bilamana mau pinjam sesuatu katakanlah biar aku mengambilkannya buat Soat-nie!!”

Dengan perlahan Sin Hong Soat-nie menyapu sekejap ke arah ketiga orang itu kemudian ujarnya:

“Kalau begitu akan harus mengucapkan terima kasih dulu kepada Sang Pangcu, karena aku ingin membawa Koan Ing pergi dari sini!” katanya.

Sang Su-im yang mendengar perkataannya ini jadi melengak dibuatnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sin Hong Soat-nie menghendaki diri Koan Ing.

Sewaktu ada di lembah Chiet Han Kok tempo hari Sin Hong Soat-nie memang sudah menginginkan Koan Ing, tapi berhubung waktu itu semua orang sedang berada ditepi maut maka urusan ini tidak diungkat kembali, tapi sekarang keadaan sudah aman ternyata kembali dia hendak mendapatkan diri Koan Ing, maka jika dilihat dari sikap Sin Hong Soat-nie ini agaknya dia bermaksud kurang baik terhadap pemuda itu

“Soat-nie! maaf di dalam urusan ini aku tidak sanggup untuk melaksanakannya!” serunya kemudian sambil tertawa. “Bilamana diantara Soat-nie dengan Koan Ing benar-benar ada sesuatu yang kurang beres lebih baik kau mencari aku orang saja. buat apa kau harus begitu ngotot untuk mendapatkan dirinya? Bukankah dia cuma seorang boanpwee saja?” “Heeeee.... heeeee.... aku rasa Sang pangcu tidak ingin bentrok dengan aku karena soal Koan Irg bukan?” Seru si ni- kouw tua itu dengan dingin. “Koan Ing sudah membohongi angkatan tua bahkan memancing anak muridku Cing It untuk menuruni puncak Sun Li Hong bahkan sampai kini jejaknya tidak ketahuan. Sang pangcu! apakah kau masih ingin melindungi orang yang terang-terangan bersalah?”

Koan Ing yang berdiri di samping pada saat ini sudah tidak kuat untuk menahan sabarnya lagi, maka tiba-tiba ujarnya, “Aku Koan Ing merasa yakin belum pernah menipu Soat-nie, sedangkan mengenai Cing It suci, dia sendiri turun tangan atas kemauan sendiri, apa hubungannya dengan diriku? tempo hari akupun pernah bergebrak sekali dengan dirinya, apakah hal ini bisa dikatakan sebagai melarikan muridmu?”

“Hmm! pada saat ini apa kau kira merupakan waktumu untuk ikut berbicara?” bentak nikouw itu gusar.

“Soat-nie!!” sambung Sang Su-im pula dengan wajah serius. “Suhu maupun supek dari Koan Ing sudah pada meninggal dan kita sebagai orang-orang Bu-lim yangan kata sama bersama-sama dengan mereka masih mau menggunakan kedudukan kita untuk menganiaja seorang boanpwee yang masih muda.”

Mendengar kata-kata yang pedas itu air muka Sin Hong Soat-nie segera berubah hebat, ujung baju tangan kanannya segera dikebutkan ke depan.

“Baik!” teriaknya kemudian. “Kalau kau orang masih juga membelai bangsat cilik itu akupun ingin sekali minta pelajaran beberapa jurus ilmu jari “Han Yang Ci” mu yang sudah pernah menggetarkan duma kangouw!!”

Sang Su-im yang mendengar Sin Hon Hoat Nie menantang dirinya untuk bergebrak dia lantas kerutkan alisnya rapat- rapat, la u tertawa tawar. “Ooooouw.... jadi Soat-nie bermaksud untuk memberi pelajaran kepada cayhe dengan ilmu pedang Sian Thian Kiam Khie-mu itu? Baik. baiklah, aku

akan menuruti keinginanmu!”

Sin Hong Soat-nie yang melihat dia orang sudah menerima tantangan maka sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat dengan perlahan mencabut keluar pedangnya,

Ditengah kegelapan itu tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa yang amat keras sekali diiringi dengan munculnya sesosok bayangan manusia diantara kedua orang itu.

Begitu tubuhnya mencapai lantai loteng tersebut serunya dengan suara yang amat keras, “Buat apa kalian bergebrak sendiri? jejak dari Yuan Si Tootiang sudah aku dapatkan!”

Baik Sin Hong Soat-nie maupun Sang Su-im segera merasakan hatinya tergeta keras, ketika dongakkan kepalanya tampaklah orang itu bukan lain adalah Ciu Tong yang berdiri disana sambil mencekal tongkatnya.

Walaupun Ciu Tong tertawa terbahak-bahak tiada hentinya tetapi dari sinar matanya berkilas nafsu membunuh yang semakin menebal.

Pada saat ini Sin Hong Soat-nie tidak memperdulikan lagi bentrokannya dengan Sang Su-im, buru-buru tanyanya, “Saat ini Yuan Si Tootiang ada dimana?”

Sinar mata yang mengandung nafsu membunuh berkelebat tiada hentinya dari mata Ciu Tong. terdengarlah dia mendengus dingin. “Saat ini Cha Loo-te lagi mengawasi gerak- geriknya, aku takut dia tidak sabaran maka sengaja memberitahukan soal ini kepada kalian, kali ini kita harus hancurkan dirinya dari muka bumi!”

Perlahan-lahan Sang Su-im pun menarik napas panjang- panjang, dia tahu kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Yuan Si Tootiang jauh berada di atas mereka berempat, dia tahu bilamana serangannya kali ini meleset maka dikemudian hari toosu dari Bu-tong-pay itu pasti akan semakin berhati-hati lagi.

“Apakah sijaring emas penguasa langit Phao Thian Coe juga ada disana?' tanyanya kemudian.

Cuma Yuan Si Tootiang seorang, agaknya diapun datang kemari karena mangejar kereta berdarah itu. sebetulnya kami berdua bisa untuk menahan dirinya tetapi bilamana dia bermakSud untuk melarikan diri maka tiada orang yang bisa menghalanginya, karena iTu aku Khusus datang kemari untuk beritahukan urusan ini kepada kalian, ini hari juga kita harus hancurkan dirinya.”

“Bagus, mari kita segera berangkat!” seru Sin Hong Soat- nie dengan cepat.

Sinar mata Ciu Tong berputar setelah itu sekali enjotkan badannya dengan cepat dia sudah meluncur ke depan disusul oleh Sin Hong Soat-nie serta Sang Su-im dibelakangnya.

Koan Ing pun dengan cepat mencekal sarung pedang Kiem- hong-kiamnya lalu kepada Sang Siauw-tan serunya, “Siauw- tan, mari kitapun pergi!”

Sang Siauw-tan melirik sekejap ke arah pemuda tersebut sewaktu dilihatnya dia telah sembuh banar2 segera mengangguk.

Dengan cepatnya kedua orang itupun melayangkan tubuhnya kebawah lalu berlari mengejar ke arah tiga orang semula.

Tetapi beberapa saat kemudian mereka berdua sudah kehilangan jejak dari mereka bertiga, hal ini membuat Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia bingung harus kemanakah pergi mencari jejak orang-orang itu.

Waktu itu hari sudah terang, Koan Ing lantas termenung berpikir sebentar, “Empek Sang berkata kalau kereta berdarah menuju ke Timur, baiknya kitapun lari ke sebelah Timur saja!” Sang Siauw-tan pun waktu itu tak ada pendapat, pemuda tersebut tiba-tiba berkelebat ke sebelah Timur maka diapun dengan cepat mengikutinya dari samping.

Kurang lebih dua lie jauhnya mereka berlari tapi apapun tidak kelihatan, Koan Ing mulai merasakan hatinya rada cemas, sambil menarik napas panjang-panjang matanya mulai menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.

Mendadak dia menjerit kaget, karena sinar matanya terbentur dengan sebuah jaring merah yang amat besar dan tergantung pada dahan pohon disebelah kiri, bukankah jaring itu merupakan pertanda dari orang-orang lembah Chiet Han Kok?

Ooo)*(ooO

Bab 43

DALAM HATI Koan Ing benar-benar merasa amat terperanjat. dia sama sekali tak menyangka kalau dia orang bukannya berhasil mendapatkan Sang Su-im sekalian sebaliknya malah sudah masuk ke dalam perangkap musuh.

Sinar matanya kembali menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, suasana amat sunyi sekali tak kedengaran sedikit suarapun entah orang-orang dari lembah Chiet Han Kok itu sengaja tidak menampakkan diri atau kalau memang tidak ada orang disana.

Sang Siauw-tan sesudah menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu lalu ujarnya dengan perlahan, “Kalau betul-betul mereka memasang jebakan disini tentunya saat ini mereka telah menemukan kita, tetapi kenapa mereka tidak juga munculkan dirinya? Apakah mereka lagi memancing ayahku supaja masuk ke dalam jebakan ini pula?”

Tiba-tiba di dalam benak pemuda itu berkelebat satu ingatan. “Apakah mungkin orang-orang lembah Chiet Han Kok sengaja memasang jebakan disini memusnahkan kita semua?” “Aku rasa ada kemungkinan mereka sengaja berbuat demikian untuk membendung kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang kita!” ujar Sang Siauw-tan setelah termenung berpikir sebentar.

Selesai berkata tangan kanannya diajunkan ke depan, sebatang anak panah berapi dengan cepat meluncur ke atas udara dan meledak tiga kali. Inilah tanda penyerangan yang dikirim gadis tersebut kepada anak buahnya.

Begitu anak panah itu meledak dari dalam hutan itu segera terdengarlah suara yang amat gaduh sekali tapi sebentar kemudian sudah menjadi tenang kembali.

Diam-diam Koan Ing merasa hatinya berdesir, karena ditinjau dari suasana yang sangat gaduh itu dia bisa menerka kalau di dalam hutan pada saat ini sudah barsembunyi kira- kira seratus orang banyaknya, tempat itu pastilah sarang kekuatan dari orang-orang lembah Chiet Han Kok.

Entah bagaimanakah jadinya bilamana pasukan dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah tiba disini? Tapi yang aneh walaupun mereka sudah mengirim tanda bahaya kenapa tak seorangpun dari lembah Chiet Han Kok yang keluar dan mencari mereka?

Sewaktu dia lagi berpikir sampai disitulah tiba-tiba dari dalam hutan terdengarlah suara ringkikkan kuda yang memanjang.

Koan Ing merasa amat terkejut, bukankah itu suara ringkikkan kuda dari kereta berdarah? jelas orang-orang dari lembah Chiet Han Kok sengaja mengatur jebakan di tempat ini bukannya ditujukan pada mereka melainkan terhadap kereta berdarah ini tidak aneh kalau orang-orang tersebut tidak mengambil tindakan apapun terhadap dirinya.

Suara berputarnya roda itu bergema semakin santar, dan dari arah sebelah kanan muncullah sebuah kereta yang dengan cepatnya menerjang datang. Dari tengah hutanpun segera berkumandang suara yang amat gaduh sekali diiringi dengan suara desiran anak panah yang amat santar menghajar ke arah keempat ekor kuda kereta itu.

Koan Ing yang melihat kejadian itu merasa amat terperanjat, buru-buru dia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk menyingkir kesamping.

“Plaak !!” dari dalam kereta itu muncullah sebuah cembuk

panjang yang dengan amat cepatnya menyapu seluruh anak panah yang menyambar ke arahnya, dan kereta itu tidak menghentikan gerakannya lagi dan langsung menerjang keluar.

“Lepaskan jaring!!” tiba-tiba terdengar suara bentakan yang amat keras bergema keluar dari dalam hutan.

“Braak....!” dari seluluh penjuru hutan tersebut segera tersebarlah berpuluh-puluh buah jaring berwarna merah yang seketika itu juga mengurung kereta itu di-tengah-tengah, jelas kalau siasat ini diatur khusus untuk menghadapi kereta berdarah tersebut.

Koan Ing yang melihat siasat dari orang-orang Lembah Chiet Han Kok itu ternyata benar-benar amat lihay dan sempurna dalam hati merasa rada berdesir juga.

Kembali kereta berdarah itu deugan cepatnya melanjutkan terjangannya ke depan cambuk panjang yang menyambar keluar dari dalam kereta membentuk setengah lingkaran ditengah udara lalu dengan cepatnya menghajar sebuah jaring merah yang mengancam keretanya,

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia tahu kedahsyatan dari ilmu silat yang dimiliki orang di dalam kereta berdarah itu benar-benar luar biasa sekali sukar dibajangkan, bilamana bukannya melihat dengan mata kepala sendiri mungkin dirinya tidak bakal mampercayainya. Dan menurut pandangannya tenaga dalam orang itu tidak berada di bawah tenaga dalam si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong.

Begitu jaring merah itu kena dipukul miring ke samping dari dalam hutan segera berkumandang keluar suara bentakan yang amat keras disusul munculnya tiga sosok bayangan manusia ke depan.

Dengan cepatnya tiga jaring merah di sebarkan pula keluar, satu menutup jalan maju dari sang kereta sedang yang dua berebut mengurung kereta berdarahnya sendiri. Bersamaan waktu itu pula anak panah meluncur keluar laksana hujan deras.

Dari dalam kereta berdarah itu segera terdengarlah suara dengusan yang amat dingin disuiul suara cambuk yang dihajarkan ke atas kudanya, ditengah suara ringkikan yang memanjang segulung hawa pukulan yang tak berwujud dengan cepatnya memukul jatuh seluruh anak panah yang mengancam kereta.

Cambuk panjang itupun berkelebat ditengah udara menggulung dua buah jaring merah yang mengurung ke arahnya kemudian dengan sedikit cambuk tersebut disentakkan maka jaring serta jagoannya kena dilemparkan ketengah udara.

Koan Ing yang melihat kejadian itu merasa hatinya berdebar-debar keras, dia merasa kuatir terhadap keselamatan dari orang yang ada di dalam kereta berdarah itu ditengah kurungan anak panah yang begitu santar ditambah lagi dengan kepungan jago-jago lihay, walaupun dia memiliki kepandaian silat yang amat tinggipun belum tentu bisa meloloskan diri dari sana.

Siapakah sebetulnya penghuni kereta berdarah itu? Kepandaian silatnya benar-benar luar biasa tingginya karena hanya dengan menggunakan sebuah cambuk ternyata dapat menghadapi jaring-jaring raksasa yang mem bikin orang- orang Bu-lim merasa kepalanya pusing itu dengan demikian mudahnya, hal itu benar-benar luar biasa sekali!!!

Anak panah tiada hentinya menyambar ke depan mengurung seluruh kereta itu yang membuat kereta berdarah seketika itu juga berhenti bergerak.

Cambuknya kembali dikebutkan ke depan menyapu jatuh anak panah yang mengurung keretanya itu dan tali les kudanya ditarik membalikkan kereta berdarah itu meluncur ke arah Koan Ing serta Sang Siauw-tan berada.

Melihat kereta itu menerjang ke arahnya Koan Ing jadi amal terparanjat, buru-buru ia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk menyingkir kesamping.

Kali ini anak panah itu berubah arah meluncur ke arah  Koan Ing berdua, pemuda itu jadi gusar maka dengan cepat dia mencabut keluar pedang Kiem-hong-kiamnya yang kemudian dengan cepatnya menyapu jatuh anak panah yang mengancam tubuh mereka berdua itu.

Ditengah suara ringkikan kuda yang amat keras itu kembali kereta berdarah itu menerjang ke depan.

Cambuk panjang yang muncul dibalik kereta kembali melayang ketengah udara menyambar kesana kemari dengan dahsyat.

“Lepaskan panah berapi!!!” dari tengah hutan kembali terdengar suara bentakan keras.

Baru saja dia menutup mulut dari empat penjuru bermunculan anak panah berapi yang dengan cepatnya meluncur ke arah keempat ekor kuda beserta kereta berdarah itu.

Orang yang ada di dalam kereta segera membentak gusar, empat ekor kudanya disenkkan sehingga meloncat ke atas bersamaan itu pula kereta berdarah itupun terangkat oleh tenaga sedotan dari jagoan tersebut sehingga melayang setinggi dua kaki lebih.

“Blaam!!” Keempat ekor kuda itu dengan cepatnya berhasil melangkahi jaring merah itu sedang keretanya sendiri dengan tepat menindihi jaring merah tersebut.

Suara bentakan segera bergema memenuhi seluruh angkasa, berpuluh-puluh orang berkerudung dari lembah Chiet Han Kok bermunculan mencegat kereta berdarah itu. Agaknya mereka telah mengambil keputusan untuk mendapatkan kereta tersebut walaupun dengan menggunakan cara apa pun,

Cambuk panjang kembali digetarkan di tengah udara sehingga terdengar suara ledakan yang amat keras, jelas sekali kalau orang yang ada di dalam kereta itu sudah dibuat gusar sehingga menggerakkan nafsu membunuhnya.

“Tunggu sebentar!” Tiba-tiba terdeagar suara yang amat nyaring bergema datang.

Para jago yang siap melancarkan serangan itu segera menghentikan gerakannya sedang orang yang ada di dalam kereta itu pun tidak menggubris sama sekali, kereta berdarah segera dihentikan sedang cambuk yang ada ditengah udarapun ditarik kembali.

Seorang manusia berkerudung dengan mencekal sebuah jala emes dengan langkah yang perlahan muncul dari balik hutan.

Sekali pandang saja Koan Ing bisa mengenali kalau dia bukan lain adalah Kokcu dari lembah Chiet Han Kok, sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu adanya, agaknya pada saat ini dia bermaksud untuk turun tangan menghadapi sendiri pemilik kereta berdarah tersebut.

Dari mata Phoa Thian-cu segera terlihat memancarkan cahaya yang amat tajam, dan kepada orang yang berada di dalam kereta berdarah itu ujarnya, “Saudara, sungguh dahsyat sekali kepandaian silat yang kau miliki! tetapi kenapa tidak suka kau orang unjukkan wajah aslimu?”

“Kau sendiri kenapa mengenakan karung juga pada wajahmu? Kau orang sendiri tidak suka memperlihatkan wajahmu buat apa aku perlihatkan diri?” sahut orang yang ada di dalam kereta itu dengan berat.

Sijaring emas penguasa langit Phao Thian Coe segera dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.

“Haaa.... haaa.... selamanya kami orang-orang lembah Chiet Han Kok paling pantang memperlihatkan wajah sendiri terhadap orang lain, lalu siapakah kau sendiri? Kami orang- orang Bu-lim tidak pernah mengetahui adanya manusia semacam dirimu.”

“Hmm! urusan yang belum kau ketahui masih terlalu banyak, akupun kini mengetahui kalau maksudmu hanya pada kereta bardarah ini, tetapi aku rasa kau masih terlalu jauh untuk punya pikiran semacam ini lebih baik lebih cepatlah menyingkir!!”

Selama puluhan tahun ini sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu selalu menganggap kepandaian silatnya adalah nomor satu di kolong langit, ternyata kini mendengar orang yang ada di dalam kereta berdarah itu sedemikian rendahnya menghina dirinya dalam hati merasa amat gusar sekali.

“Sungguh besar sekali omonganmu,” dengusnya murka. “Ini hari aku Phoa Thian-cu kepingin melihat siapakah sebetulnya kau orang, dan seberapa tinggi kepandaian silatmu sehingga berani begitu congkak.”

“Heeeee.... heeee.... bagus, bagus sekali, kalau begitu kita menggunakan taruhan menang kalah kita untuk menentukan milik siapakah akhirnya kereta berdarah ini!” “Kau jangan bermimpi. sekalipun kau menang kereta berdarah ini herus ditinggalkan disini!” teriak Phoa Thian-cu dingin.

Selesai berkata tubuhnya dengan cepat menerjang ke depan, jaringan emasnya segera disebarkan ke depan mengurung kereta berdarah itu.

Sewaktu mendengar perkataan terakhir dari Phoa Thian-cu ini, orang yang ada di dalam kereta berdarah segera memakinya, “Bangsat, kau sungguh tak punya malu!”

Sekali lagi cambuknya dikebutkan ke depan, dengan menimbulkan suara desiran yang amat tajam menyapu ke arah Phoa Thian-cu.

Sinar mata Phoa Thian-cu berkelebat tiada hentinya, walaupun kepandaiannya yang dimilikinya amat tinggi tetapi diapun sudah melihat bagaimana luar biasanya kepandaian silat yang dimiliki orang itu maka tanpa terasa hatinya sudah menaruh tiga bagian rasa jerinya.

Dan tangan kanannya dengan cepat digetarkan menarik kembali jaring emas itu menjadi segulung tali emas, ditengah babatan ke depan jaring emas itu kembali membentang mengurung ruangan duduk dari kereta berdarah itu.

“Hmm! Lumajan juga ilmu silatmu!” ejek orang itu dingin.

Cambuknya ditarik ke belakang dan dengan tepat menangkis datangnya jaringan tersebut. Sijaring emas penguasa langit Phoa Thian-cu yang melihat orang yang ada di dalam kereta berdarah tersebut hanya di dalam satu jurus sudah berani menangkis jaring emasnya dengan cambuk tersebut dalam hati semakin gusar sinar matanya berkelebat tiada hentinya. kembali jaring itu dilemparkan ketengah udara.

Cambuk panjang yang ada di dalam kereta berdarah itu kembali menggetarkan cambuknya ditengah udara dengan membentuk gerakan setengah lingkaran busur. Cambuk dan jaringan bergetar ditengah udara, mendadak terasalah serentetan cahaya terang menyambar ke arah Phoa Thian-cu.

Dari sepasang mata sijaring emas penguasa langit itu memancarkan cahaya yang berapi2, walaupun Koan Ing tak dapat melihat bagaimanakah wajahnya tetapi dalam hati bisa menebak kalau pada saat ini wajahnya tentu sudah berubah merah padam.

Rentetan cahaya itu dengan perlahan bergerak ke depan, tiba-tiba Phoa Thian-cu membentak gusar, jaring emasnya ditariknya ke belakang sedang sepasang kakinya dengan cepat melancarkan tendangan ke arah tanah sehingga debu pada beterbangan memenuhi angkasa. 

Koan Ing yang melihat kejadian ini segera merasakan hatinya amat terperanjat karena walaupun keadaan Phoa Thian-cu kepepet tetapi ilmu tennga dalam meminjam benda melancarkan pukulannya ini benar-benar luar biasa sekali dan tidak malu apa bila disebut sebagai seorang jagoan kelas wahid.

Walaupun begitu tetapi yang jelas di dalam bentrokannya kali ini dia sudah menemui kekalahan.

Dengan gusarnya ia mendengus, jaring emasnya sekali lagi disebarkan ke depan. sasaran yang dituju bukannya orang yang ada di dalam kereta itu melainkan keempat ekor kuda yang ada di depan.

Terdegarlah orang yang ada di dalam kereta berdarah itu mendengus dingin. cambuk panjangnya bergerak setengah lingkaran busur ditengah udara kemudian laksana seekor naga beracun dengan cepatnya menyapu leher Phoa Thian-cu.

Dia orang bukannya menolong sang kudanya melainkan malah melancarkan serangan ke arah leher Phoa Tbian Coe, hal ini membuat sijaring emas penguasa langit jadi kelabakan yang terpaksa harus menarik kembali jaring emasnya untuk menolong diri sendiri dan menangkis cambuk tersebut.

Hanya di dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berlalu dengan cepatnya walaupun kepandaian silat yang dimiliki oleh orang di dalam kereta itu jauh lebih lihay dari Phoa Thian-cu tetapi disebabkan tempatnya terbatas ditambah pula Phoa Thian-cu sebentar menyerang ke dalam kereta sebentar menyerang sang kuda itu membuat keadaan mereka berduapun jadi seimbang.

Koan Ing adalah seorang jagoan muda yang memiliki pengetahuan amat luas, tetapi sewaktu melihat berkelebatnya cambuk dari orang di dalam kereta berdarah itu hatinya merasa kebingungan juga, dalam hatinya sama sekali tak berhasil menebak dari aliran manakah jurus-jurus  serangannya itu? Dan siapakah orangnya? .

“Engkoh Ing, mari kita pergi sana!” tiba-tiba Sang Siauw- tan menegur.

Koan Ing jadi sadar kembali dari rasa terkejutnya, karena kini mereka berdua masih berada di dalam kepungan orang- orang lembah Chiet Han Kok. bilamana menang kalah berbasil ditemukan apakah waktu itu masih ada kesempatan buat mereka berdua untuk melarikan diri?.

Maka dengan perlahan ia mengangguk, walaupun begitu dalam hati masih merasa amat sayang sekali karena pertempuran yang sedang berlangsung ini merupakan satu pertempuran yang benar-benar luar biasa dan jarang sekali terjadi di dalam Bu-lim.

Tak terasa lagi kembali dia melirik sekejap ketengah kalangan. Tetapi karena pandangannya inilah membuat pemuda tersebut merasa amat terperanjat, kiranya pada saat ini cambuk dari orang yang ada di dalam kereta berdarah itu sedang melancarkan serangannya menembusi jaring emas mengancam alis Phoa Thian-cu. Bukankah jurus ini adalah jurus “Hwee Kong Ci Thian” dari “Hiat Hoo Sin Pian” ajaran si manusia tunggal dari Bu-lim sesaat menjelang kematiannya? terhadap jurus serangan ini dia sangat hapal sekali karena tempo dulu ia pernah memikirkan hendak menggunakan jurus ini untuk memecahkan jaring raksasa dari lembah Chiet Han Kok, cuma sayang waktu itu tenaga dalamnya tidak memadahi sehingga tidak dapat ia lakukan, tidak disangka ini hari jurus serangan tersebut bisa digunakan orang lain di hadapannya.

Dalam hatinya semakin lama semakin terkejut bercampur curiga, akhirnya dia bersuit nyaring dan tubuhnya mendadak melayang ketengah udara kemudian menerjang ke arah kereta berdarah tersebut.

Pedang kiem-hong-kiam ditangannya dengan membentuk serangkaian sinar tajam menyapu ke arah horden tersebut, karena dalam hati dia bsrmaksud untuk mengetahui siapakah manusia misterius yang ada di dalam kereta berdarah itu.

Tindakan yang dilakukan oleh Koan Ing benar-benar berada diluar dugaan semua orang, agaknya mereka semua tidak menyangka kalau Koan Ing bisa melancarkan terjangannya secara tiba-tiba ke arah kereta itu.

Orang misterius yang berada di dalam kereta berdarah tersebutpun agaknya merasa rada ada diluar dugaan dengan kejadian ini, dan yang sebetulnya ia lagi melancarkan serangan-serangan gencar melawan Phoa Thian-cu tetapi dengan adanya kejadian ini gerakannya jadi rada merandek sedang Phoa Thian-cu sendiripun dibuat tertegun.

Sewaktu semua orang dibuat melongo-longo itulah pedang kiem-hong-kiam dari pemuda tersebut sudah mencapai pada horden kereta tersebut.

Orang yang ada di dalam kereta itu segera mendengus dingin, segulung serangan jari yang amat santar dengan cepatnya meluncur keluar manghajar bagian leher dari diri Koan Ing.

Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, pada saat yang sangat kritis ini tubuhnya buru-buru melompat mundur ketengah udara, ujung kakinya menutul tubuh sang kuda kemudian sekali lagi menerjang ke arah dalam kereta.

Cambuk panjang dari orang itu segera dikibaskan ke depan menggulung lengan kanan pemuda itu.

Kecepatan gerak dari serangannya sedikit pun tidak memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk menyingkir, Koan Ing segera balas kebaskan pedang kiem-hong-kiamnya ke depan sedang ujuug kaki kanannya menutul permukaan kereta dan berdiri tegak tak bergerak, dan dengan tepatnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan cambuk itu.

Cambuk panjang itu dengan cepat membentuk bunga- bunga cambuk ditengah udara kemudian dihantamkan ke atas tubuh sang kuda, diantara suara ringkikan yang keras kereta berdarah kembali menerjang ke depan.

Dikarenakan kedatangan Koan Ing, maka Phoa Thian-cu jadi tertutup pandangannya, kini melihat kereta berdarah itu bermaksud hendak menerjang pergi maka dengan gusarnya lantas membentak dengan keren, “Kau ingin pergi kemana lagi?”

Tubuhnya dengan cepat menubruk ke depan sedang jaring emasnya segera ditebarkan ke arah empat ekor kuda itu.

Orang yang ada di dalam kereta itu agaknya jadi gusar sekali dibuatnya, dia mendengus dingin sedang cambuknya dikebaskan ketengah udara menggulung ke arah tubuh Koan Ing.

Koan Ing yang melihat cambuk itu menyambar datang dengan membawa suara desiran tajam dia tidak berani menerimanya dengan kekerasan, malah buru-buru tubuhnya merendah kebawah untuk menghindar.

Cambuk panjang itu dengan disertai suara desiran yang tajam segera menyambar lewat dan dengan tepat menghajar jaring emas yang disebarkan Phoa Thian-cu.

Begitu jaringan itu berhasil kena disapu miring, kembali cambuk itu menyapu menghajar punggung Koan Ing.

Baik Koan Ing maupun Phoa Thian-cu merasakan hatinya berdesir atas kelihayan dari ilmu silat orang itu dan benar- benar sukar dipikirkan, tidak disangka serangan cambuk itu memang sukar dilawan.

Koan Ing yang punggungnya kena dibokong tubuhnya dengan cepat berputar setengah lingkaran, sedang pedang kiem-hong-kiamnya dengan disertai sambaran tajam menutul ke atas cambuk lawan.

Pada saat itulah kereta berdarah kembali menerjang keluar, sedang orang-orang lembah Chiet Han Kok pun dengan cepat mengepung kembali tempat itu rapat-rapat, diantara berkelebatnya jaringan merah yang disebar dari empat penjuru, berpuluh-puluh buah jaringan merah bersama-sama meluncur ke atas kereta berdarah tersebut.

Seketika itu juga kereta berdarah itu kena dikurung di dalam jaringan yang amat kuat.

Orang yang ada di dalam kereta itu dengan gusarnya segera mendengus, karena bukan saja saat ini kereta berdarahnya telah terjebak di dalam jaringan merah yang amat kuat dan banyak itu bahkan disini berada di dalam kepungan Koan Ing serta Phoa Thian-cu dua orang jagoan lihay

Maka cambuk panjangnya setelah kena ditangkis oleh sang pemuda dengan dahsyatnya lantas digetarkan ke depan sehingga kaku laksana sebuah tongkat yang kemudian dengan cepatnya mencukil ke arah jaring-jaring merah tersebut.

Bersamaan itu pula terasalah segulung angin pukulan yang amat santar menyapu ke arah Koan Ing serta Phoa Thian-cu.

Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing segera merasakan hatinya berdesir, jika dilihat dari serangan yang menyambar datang ini jelas sekali menunjukkan kalau orang yang ada di dalam kereta sedang merasa amat gusar sekali sehingga menurunkan tangan yang amat kejam.

Dimana sambaran angin dahsyat yang menggulung datang itu memaksa pemuda tersebut buru-buru menyingkir kesamping, Phoa Thian-cu sendiripun dengan terpaksa harus meloncat untuk menghindar.

Tetapi karena kokcu ini meloncat ketengah udara inilah cambuk tersebut berbasil menyingkirkan kesepuluh jaring itu lalu melarikan kereta berdarahnya menerjang ke arah mereka.

Phoa Thian-cu sebagai kokcu dari lemhah Chiet Hao Kok selamanya belum pernah menderita kalah ditangan siapapun juga, bagaimana dia orang mau sudahi dengan begitu saja pertempurannya ini hari dan apa lagi kereta berdarah itu merupakan benda yang di-incar2 sejak dahulu.

Selama ini lembah Chiet Han Kok dianggap orang sebagai tempat terlarang bagi orang-orang Bu-lim, bilamana kekalahannya ini hari sampai tersebar di dalam dunia kangouw, akan kemanakah mereka orang-orang lembah Chiet Han Kok hendak tancapkan kaki?

Berpuluh-puluh ingatan dengan cepatnya berkelebat di dalam benak si orang berkerudung ini, mendadak dengan gusarnya ia membentak lalu menubruk ke arah kereta berdarah tersebut.

Orang yang ada di dalam kereta berdarah itupun meraung keras, diantara menyambarnya angin serangan terasalah segulung hawa lweekang berwarna hijau tua bagaikan ombak menggulung dengan dahsyatnya ke arah tubuh Phoa Thian-cu.

Saat ini Phoa Tbian Coe sudah tidak memikirkan mati hidupnya lagi, di dalam hatinya ia cuma punya satu ingatan saja jaitu berusaha unluk mempertahankan kereta berdarah itu disana.

Maka sapasang telapak tangannya dengan sejajar dada segera dihantamkan ke depan segulung tenaga pukulan tak berwujut dengan cepatnya menyambut datangnya serangan pihak lawan.

“Braak !” tubuh Phoa Thian-cu ketika terpukul mundur ke

belakang dan menubruk sebuah pohon besar sehingga patah menjadi dua bagian dan rubuh ke atas tanah.

Begitu tubuh Phoa Thian-cu rubuh ke atas tanah dengan diiringi suara ringkikan kuda yang amat keras kereta berdarah itu segera menerjang ke arah tubuhnya dengan cepat, agaknya orang di dalam kereta berdarah itu sudah menaruh rasa benci terhadap dirinya sehingga bermaksud untuk membinasakan dirinya di bawah injakan kereta.

Phoa Thian-cu bukanlah seorang jagoan murahan, walaupun dia sudah menderita kalah di dalam bentrokan tadi tetapi tenaga pukulan tersebut olehnya sudah disalurkan ke arah pohon itu sehingga badannya tidak sampai menderita luka, kini melihat datangnya terjangan sang kereta maka buru-buru dia menggelinding ke samping untuk menghindar.

Dengan kecepatan yang luar biasa kereta berdarah menerjang ke depan, diantara ringkikan kuda dan berputarnya roda tampak dua orang anak buah lembah Chiet Han Kok yang tak sempat menghindar sudah kena diterjang.

Suara jeritan ngeri bergema datang memenuhi angkasa. Pada saat itulah mendadak ditengah udara terdengar suara ledakan keras menggetarkan seluruh bumi. Karena Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing ikut menerjang ke depan dalam hati merasa terkejut bercampur cemas, tapi diapun tak punya daya, sewaktu hatinya lagi merasa cemas itulah mendadak di udara terdengar suara ledakan.

Seketika itu juga hatinya merasa amat girang, karena dia tahu anak buah perkumpulan Tiang-gong-pang sudah pada berdatangan bahkan ada kemungkinan ayahnyapun sebentar lagi pasti ikut muncul disana.