Kereta Berdarah Jilid 16

Jilid 16

“Paman Hoo kau boleh berlega hati, aku cuma ingin tahu apakah ditubuh Sang Siauw-tan ada hal-hal yang aneh!” kata Koan Ing sambil tertawa.

“Dibadannya tidak terdapat apa-apa, tetapi aku tetap akan membawanya kemari!” sahut Hoo Lieh sambil mengangguk.

Selesai berkata diapun berjalan keluar dari rumah. “Penyakit enci Siauw-tan apakah bisa disembuhkan?” tanya

Cha Ing Ing sambil memandang ke arah gadis itu.

Dalam hati ia merasa amat bingung, haruskah dia mengharapkan penyakit Sang Siauw-tan bisa lekas sembuh atau tidak sama sekali? Baginya kedua keputusan ini sangat membingungkan hatinya. “Aku sendiri juga tidak tahu.” sahut Koan Ing sambil tertawa tawar. “Tetapi bagaimanapun juga aku akan mencoba menyembuhkan dirinya.”

Cha Ing Ing dengan perlahan menundukkan kepalanya tidak berbicara lagi.

Pada waktu itulah tampak Hoo Lieh dengan membawa sebuntal jarum emas berjalan masuk dan menyerahkannya kepada pemuda tersebut.

Koan Ing dengan hati ragu-ragu menerima juga jarum emas tersebut, sebenarnya dalam hatinya semula sudah merasa mantap, tetapi kini teringat kalau dirinya tak berpengalaman bilamana sampai meleset bagaimana jadinya?

Lamasekali dia berdiri termangu-mangu, keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.

Hoo Lieh serta Cha Ing Ing yang melihat kejadian ini pada berdiri termangu-mangu, karena mereka tak mengerti kalau pemuda tersebut sedang berbuat apa?

“Koan Sauw-hiap, kau kenapa?” terakhir Hoo Lieh tidak kuat menahan sabar lagi dan bertanya.

“Aakh! tidak mengapa.” seru pemuda itu tersadar kembali dari lamunannya.

Dengan perlahan hawa murninya disalurkan ke  dalam tubuh untuk menenangkan hatinya yang lagi bergolak itu, pada saat dan keadaan semacam ini untuk turun tanganpun tidak mungkin, dia terpaksa harus menggunakan seluruh kepandaiannya untuk turun tangan menolong nyawa gadis itu.

Maka tangannya mulai mencabut keluar sebatang jarum emas lalu dengan gerakan yang cepat ditusukan ke dalam urat nadi pada pergelangan tangannya Sang Siauw-tan.

Melihat kejadian itu Hoo Lieh yang berdiri disisinya jadi amat terperanyat sekali. “Aaach, apa yang sedang diperbuat Koan Ing?” pikirnya. “Bilamana jarum emas itu salah menusuk dan mengenai urat nadinya sehingga darah mengucur keluar terus, apa jadinya nanti?”

Walaupun di dalam hati dia berpikir demikian tetapi tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Terlihatlah waktu itu Koan Ing memejamkan matanya rapat-rapat, sedang kedua jari tangannya ditempelkan di atas ujung jarum tersebut.

Seluruh denyutan jantung serta aliran darah pada tubuh gadis itu dapat dirasa oleh kedua jari tangannya, dia merasa denyutan jantung Sang Siauw-tan serasa telah bergabung dengan denyutan jantungnya sendiri.

Untuk beberapa saat pemuda itu baru membuka matanya kembali dan mencabut keluar jarum emas itu.

“Paman Hoo! penyakit Sang Siauw-tan dapat aku sembuhkan.” katanya.

Mendengar perkataan tersebut Hoo Liae jadi amat girang sekali.

“Bagian manakah yang sudah terluka?” tanyanya terburu- buru.

“Sewaktu tadi Yuan Si Tootiang hendak pergi, dia telah melengketkan jalan darah Ciauw-yang serta Sam-im denan menggunakan tenaga dalamnya, hal inilah yang membuat Sang Siauw-tan sangat menderita.”

“Aaaach.... kiranya begitu.” seru Hoo Lieh dengan mata berkedip2 tiada hentinya, “Tidak aneh kalau tak nampak adanya tanda-tanda penyakit pada tubuhnya.”

“Paman Hoo!” terdengar Koan Ing berbicara lagi sesudah termenung beberapa saat lamanya. “Coba kau sediakan sekuali air panas yang masih mendidih.” Hoo Lieh mengiakan lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan air panas tersebut.

Tidak selang lama kemudian air panas tersebut sudah disediakan, bahkan kuali yang berisi air panas itu masih tertumpang di atas tungku dengan api yang berkobar-kobar.

“Paman Hoo!” ujar pemuda itu lagi sambil menarik napas panyang-panyang. “Aku hendak menggunakan tenaga dalamku untuk melumerkan kembali kedua buah urat nadi itu, tetapi ada kemungkinan badanku jadi teramat dingin, bilamana nanti badanku jadi dingin harap paman Hoo suka membasahi tubuhku dengan air panas tersebut!”

Hoo Lieh segera memngangguk.

Koan Ing pun lantas membalik badan Sang Siauw-tan dan tempelkan telapak tangannya pada punggungnya, sedang dia sendiri duduk bersila untuk mulai mengerahkan tenaga dalamnya.

Sejurus kemudian seluruh kepala dan keningnya sudah dibasahi oleh keringat sebesar kacang kedelai, hal ini membuat Hoo Lieh yang menonton dari samping merasa amat terperanyat sekali.

Hal yang membuat orang tua itu semakin terkejut adalah keringat yang mengucur keluar itu tidak sampai sedetik telah mulai membeku bagaikan es.

Buru-buru dia memandang badan Koan Ing, dan terasalah badannya amat dingin bagaikan potongan es yang telah membeku, maka dengan cepat dia mengambil air panas dan mengguyurnya dengan amat deras.

Dari atas batok kepala Sang Siauw-tan pun engan perlahan mulai mengeluarkan asap yang amat tipis.

Untuk ketiga kalinya Hoo Lieh merasa amat terperanyat, karena selama hidupnya belum pernah ia menemukan cara pengobatan semacam ini. Beberapa saat kemudian sekuali air panas telah habis digunakan, Hoo Lieh lalu memerintahkan orang untuk mengambil sekuali air panas lagi.

Kurang lebih setengah jam lamanya itu berlangsung terus, akhirnya Hoo Lieh merasa temperatur dibadan pemuda ini mulai menaik.

“Aaach....!” tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan merintih perlahan.

Maka dengan cepat Koan Ing menarik kembali telapak tangan kanannya dan mengatur pernapasannya, seluruh tubuhnya kini sudah basah kuyup oleh keringat, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, jelas kalau untuk menyembuhkan penyakit Sang Siauw-tan tadi ia sudah menggunakan tenaga yang amat besar sekali.

Kurang lebih seperminum teh kemudian Sang Siauw-tan baru membalikkan badannya dan membuka mata. Bersamaan itu pula Koan Ing pun membuka matanya.

Melihat pemuda tersebut ada di hadapannya, Sang Siauw- tan agak melengak, tapi sebentar kemudian dia sudah menjerit keras:

“Angkoh Ing!”

Air mata mengucur keluar dengan derasnya membasahi kelopak matanya yang indah itu.

Koan Ing yang melihat usahanya untuk menyembuhkan luka Sang Siauw-tan ternyata mendatangkan hasil yang memuaskan, maka hatinya amat girang sekali.

“Siauw-tan, kau beristirahatlah dan yangan banyak bicara!” serunya sambil tertawa.

Hoo Lieh pun merasa amat giang sekali melihat gadis itu dapat sembuh dan sadar kembali dari lukanya. Dengan pandangan sayu Sang Siauw-tan memandang wajah pemuda itu terpesona, dia tahu kalau karena menyembuhkan luka dalam yang dideritanya itu pemuda itu sudah mengorbankan tenaga murninya, saking terharunya tak kuasa lagi titik air mata mengucur keluar membasahi pipipnya.

Lama sekali dia baru bertanya, “Dimana Tia (ayah)? Apakah dia berada dalam keadaan baik-baik?”

“Empek Sang berada dalam keadaan baik-baik, kau tidak usah merasa kuatir!”

Setelah jatuh tidak sadarkan diri selama beberapa hari, ditambah pula sewaktu menyembuhkan lukanya tadi harus mengorbankan tenaga yang amat banyak, saat ini badan gadis tersebut amat lemah dan payah, beberapa saat dia sudah jatuh pulas dengan nyenyaknya.

Koan Ing melihat Sang Siauw-tan telah tertidur, diapun menghembuskan napas lega.

Dengan perlahan ia menoleh ke belakang, tapi sebentar kenudian pemuda itu sudah melengak karena entah kapan Cha Ing Ing ternyata sudah meninggalkan tempat itu tanpa pamit, sedang pedang Kim-kong-kiam tersebut tergantung di atas dinding, jelas kalau dia sudah pergi karena tidak tahan merasa keperian hatinya.

Melihat kejadian ini Koan Ing segera merasakan hatinya ragu-ragu dan kebingungan.

Akhirnya sambil menghela napas ia menoleh dan memandang ke atas wajah Sang Siauw-tan yang tertidur pulas itu....

o-oo-OOO-oo-o

Salju melayang turun dengan derasnya, membuat permukaan tanah jadi memutih, tampaklah dua sosok bayangan hitam bergerak maju dengan amat perlahan di atas permukaan salju, mereka bukan lain adalah Koan Ing dan Sang Siauw-tan.

Luka yang diderita Sang Siauw-tan kini sudah sembuh  sama sekali. Hoo Lieh pun telah melaporkan hal ini kepada Sang Su-im dengan burung merpati, di samping itu bukan saja Yuan Si Totiang serta Kaucu dari lembah Chiet Han Kok itu si jaring emas penguasa langit Phoa Thian Cu yang sudah munculkan diri di daerah Tionggoan, bahkan kereta berdarah pun telah munculkan dirinya pula di daerah Tionggoan.

Koan Ing serta Siang Siauw-tan yang menerima berita itu segera melakukan perjalanannya kembali ke daerah Tionggoan.

Perjalanan kali ini memasuki daerah Tibet sama sekali tidak mendatangkan hasil apapun, jejak sikongcu berbaju sutera Boan Ting-seng sampai kinipun masih tidak dikeahui, Jien Wong sudah menemui kematiannya bahkan mereka semua pun hampir-hampir menemui ajalnya di dalam lembah Chiet Han Kok.

Dengan amat cepatnya kedua orang itu melakukan perjalanan ke depan, suatu saat tiba-tiba dari hadapannya muncullah satu titik hitam y6ang semakin lama semakin mendekat.

Koan Ing yang melihat titik hitam tersebut ternyata bukan lain adalah seekor kuda dengan seorang penunggang diatasnya diam-diam merasa amat terperanyat, karena waktu itu dia dapat menemukan kalau orang yang ada di atas punggung kuda itu sudah mati.

Sang Siauw-tan sendiri pun merasa amat terperanyat sekali, setelah mereka saling bertkar pandangan sekejap lantas berjalan mendekati orang itu.

Dia adalah seorang lelaki berusia pertengahan yang pada pinggangnya tersoreng sebilah pedang, seluruh anggota badannya sudah dingin kaku, jelas kalau sudah mati beberapa saat lamanya.

Dengan amat telitinya Koan Ing lantas menggendong mayat itu turun dari atas kudanya dan memeriksanya, ternyata di atas tubuh mayat itu sama sekali tidak ditemukan bekas luka apapun.

Melihat kejadian itu, pemuda tersebut segera mengerutkan alisnya dan termenung.

“Iiiiih, kelihatannya dia mati karena tak dapat bernapas.” tiba-tiba Sang Siauw-tan menjerit tertahan.

Buru-buru Koan Ing dongakkan kepala mayat itu, sebentar kemudian dia sudah merasa amat terkejut karena pada leher mayat lelaki berusia pertengahan itu terteralah sebuah bekas darah yang amat tawar sekali.

Dengan termangu-mangu mereka kembali saling bertukar pandangan dan bungkam diri dalam seribu bahasa, karena tiada yang tahu dengan menggunakan ilmu pukulan apakah orang itu sehingga dapat menemui ajalnya....

Sambil menghela napas panyang, akhirnya Koan Ing mencabut keluar pedangnya dan menggali sebuah liang untuk mengubur jenazah tersebut.

Setelah selesai mereka berdua baru naik ke atas kuda dan kembali melakukan perjalanan ke depan.

Kurang lebih sepertanak nasi, kemudian dari hadapan mereka kembali muncul seekor kuda dengan sesosok mayat di atas tunggangan kuda tersebut.

“Aaakh! kembali sesosok mayat!” seru pemuda itu kepada Sang Siauw-tan.

Terlihatlah Sang Siauw-tan mengerutkan alisnya rapat- raoat, dia tetap membungkam. Setelah kuda itu semakin dekat, mereka pun baru dapat melihat kalau mayat itu adalah mayat seorang kakek tua, padahal lehernyapun tampak bekas berdarah yang memanyang, selain itu sama sekali tak terlihat bekas luka lainnya.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan dongakkan kepalanya memandang ke tempat kejauhan, lalu ujarnya setelah termenung sebentar; “Apa mungkin karena kita berdua peristiwa ini baru terjadi?”

“Heei.... siapa tahu? Aku tidak mengerti ada jagoan darimanakah yang memiliki sifat begitu kejam dan telengas.” sahut Koan Ing sambil tertawa tawar.

Kembali gadis itu termenung berpikir beberapa saat lamanya.

“Apa mungkin perbuatan itu merupakan hukuman yang dijatuhkan oleh sebuah perkumpulan rahasia di dalam Bu-lim? Tetapi.... heei hal ini tidak mungkin, bilamana ada ayahku disini maka teka-teki ini tentu bisa dipecahkan.”

“Wah aku sendiri juga tidak tahu siapakah dia?” seru pemuda itu.

Selesai berkata kembali dia mencabut keluar pedangnya dan menggali sebuah lobang pula untuk mengubur mayat si kakek tua itu.

Siapa tahu waktu nitulah kembali muncul seekor kuda dengan sesosok mayat diatasnya pula. Melihat kejadian itu Koan Ing segera mengerutkan alisnya semakin kencang.

“Apa-apaan ini? Lagi menakut-nakuti orang atau bagaimana?” pikirnya dalam hati.

Dengan perlahan dia menoleh ke belakang, tampaklah waktu itu Sang Siauw-tan lagi tersenyum ke arahnya. Hatinya yang semula merasa amat tidak gembira setelah melihat senyuman manis dari gadis itu diapun ikut tersenyum.

Setelah kuda tadi mendekat merekapun mendapatkan kembali mayat seorang pemuda di atas tunggangannya.

Demikianlah setelah mengubur mayat pemuda itu berturut- turut mereka kembali mengubur tujuh mayat.

Walaupun mereka berdua tidak akan jeri oleh kejadian ini tetapi hatinya merasa tidak leluasa juga, benaknya dipenuhi dengan berpuluh-puluh pertanyaan yang mencurigakan, ada permainan macam apakah ini? Kalau mau cari gara-gara seharusnya menemui secara gagah, buat apa berbuat pekerjaan rendah semacam itu?

Pasa saat mereka lagi berpikir keras itu, dari tempat kejauhan kembali muncul seekor kuda.

Koan Ing segera tersenyum.

“Siauw-tan, coba kau lihat kembali muncul sesosok mayat lagi.” katanya kepada gadis itu.

“Waah.... waah, kalau begitu ini hari kita harus jadi tukang kubur yang tidak digaji.” seru Sang Siauw-tan.

Koan Ing pun tersenyum lalu memandang ke arah kuda yang ada di tempat kejauhan itu, tiba-tiba dia mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Siauw-tan! kali ini kiranya bukan sesosok mayat.” serunya keras.

“Ooh yaa? Aakh!! Benar seorang Tosu, tetapi apa maksudnya mencari kita?”

Koan Ing segera menghembuskan napas panyang2 dan memandang sekejap ke arah gadis itu lalu tertawa. “Dia datang pasti karena kau, karena Tosu itu bukan lain adalah Sak Huan adanya!” Sang Siauw-tan yang melihat sikap dari Koan Ing ini wajahnya segera berubah jadi merah karena menahan jengah.

“Hmmm! Tojin itu benar-benar bermuka kuali, agaknya dia sudah tidak maui jiwanya lagi.” katanya.

Koan Ing cuma tersenyum saja, lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata, “Mari kita kesana lihat-liha, aku mau tahu siasat serta rencana busuk apa lagi yang sedang disusun olehnya!”

“Maksudmu dengan mayat-mayat yang kedelapan ini?” tanya gadis tersebut sambil mengerutkan alisnya.

Mendengar perkataan itu Koan Ing ta dapat menahan rasa gelinya lagi, diapun tertawa terbahak-bahak karena Sang Siauw-tan sudah menganggap Sak Huan sebagai mayat yang kedelapan.

Dengan wajah yang amat dingin Sak Huan berjalan mendekati kedua orang itu, tetapi sewaktu dilihatnya mereka berdua sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan tertawa dan bercakap2 sendiri seperti tak memandang sebelah matapun kepadanya, maka dalam hati jadi amat gusar sekali.

Dengan wajah hijau membesi dia lantas menyapu sekejap ke arah Koan Ing berdua, kemudian baru tanyanya perlahan:

“Selama perpisahan ini apakah kalian berdua masih dalam keadaa baik-baik saja?”

“Hmm! kiranya hasil kerjamu tadi bertujuan hendak membuat kita ketakutan ya? hee. hee yangan mimpi.” teriak

Sang Siauw-tan dengan amat gusar.

Sak Huan sama sekali tidak menggubris, lewat beberapa saat kemudian dia baru tertawa dingin, “Aku sudah cukup lama menantikankedatangan kalian!”

“Oow. kiranya ada urusan apa?” tukas Koan Ing tawar. Sak Huan kembali tertawa, lalu menoleh da memandang sekejap ke arah diri Sang Siauw-tan.

“Suhuku Yuan Si Totiang sudah memperoleh kepandaian silat dari Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, agar urusan ini tidak sampai diketahui oleh orang-orang Bu-lim dia membiarkan aku untuk melakukan pekerjaan apapun.” katanya dingin. “Dia tidak akan ikut campur di dalam urusanku, tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda, dia telah kembali ke daerah Tiaonggoan sedang akupun kini sudah belajar ilmu Hwee Hiat Chiet Sah kang Ki, aku rasa urusan diantara kita tidak dapat diulur-ulur lebih lama, maka ini hari juga aku hendak mengambil suatu keputusan.”

“Hmm! mengambil keputusan apa?” tanya pemuda itu sambil tertawa menghina.

Ooo)*(ooO

Bab 39

“Sang Siauw-tan harus kawin dengan aku!” seru Sak Huan sambil melirik sekejap ke arah pemuda tersebut. “Walaupun kau tidak bakal mati tetapi dengan kepandaian silat yang kau miliki kini tidak bakal bisa menangkan diriku lagi, kau pasti akan mati konyol bilamana berani mencari gara-gara. Dan sekarang juga aku akan membawa Sang Siauw-tan lari keujung langit dan hidup bahagia disana, bilamana kau memang sungguh-sungguh mencintai dirinya seharusnya ka harus rela membiarkan aku mengawini dirinya.”

“Hee.... hee.... sungguh enak sekali perkataanmu itu! seru Koan Ing yang karena merasa perkataannya itu sama sekali tidak pakai aturan. “Bilamana di kolong langit semua urusan bisa diselesaikan dengan amat mudah, maka dunia bakal tenang untuk selamanya.”

“Engkoh Ing mari kita pergi saja! yangan perduli orang edan itu.” sela Sang Siauw-tan pula dari samping dengan nada gusar. Sak Huan sama sekali tidak ambil gubris terhadap perkataan dari Sang Siauw-tan itu, dia kembali memandang tajam pemuda itu, lalu berkata:

“Akupun tahu kalau kau tidak bakal setuju, oleh karena itu aku sudah mengambil keputusan untuk menantang kau bergebrak, bilamana kau yang menang tidak bakal aku bisa lolos dari kematian, sebaliknya bilamana aku yang menang kau pun tidak boleh menghalangi niatku membawa dia pergi dari sini.”

Sang Siauw-tan yang mendengar perkataan dari Sak Huan ini hatinya semakin gusar lag, teriaknya sambil melototkan matanya lebar-lebar, “Tutup bacot anjingmu. Engkoh Ing, kau tidak usah gubris orang edan ini lagi.”

Koan Ing yang mendengar perkataan dari Sak Huan sama sekali tidak pakai aturan, hatinya pun merasa mendongkol.

“Hmm! selama hidup belum pernah aku menemui orang sekasar seperti kau.” serunya.

Sak Huan tertawa dingin dan dengan perlahan dia mencabut keluar pedang panyangnya, “Koan Ing, kini dengan cepat kau bakal merasakan kekasaranku!” ejeknya sinis.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, tangan kanannya membalik mencabut keluar pedang Kim-hong- kiamnya, setelah memasang kuda-kuda dia lantas menubruk ke depan, diantara berkelebatnya sinar pedang dengan membentuk gerakan setengah lingkaran menerjang ketubuh Sak Huan.

Jurus ini adalah jurus 'Nu Jut Sin Kiam' dari ilmu pedang Thian-yu Khi Kiam!

Dengan dinginnya Sak Huan mendengusdia tetap duduk tak bergerak di atas punggung kuanya, mendadak pedang ditangan kanannya digetarkan lalu menyambut datangna serangan pedang Kim-hong-kiam dari Koan Ing. Wajahnya penuh dihiasi dengan sikap yang amat congkaknya, agaknya kini terhadap diri Koan Ing sama sekali tidak memandang sebelah matapun.

Melihat sikapnya yang sangat jumawa, Koan Ing merasa amat gusar, sinar matanya berkelebat tiada hentinya, mendadak Kim-hong-kiamnya mendengus keras dan miring kesamping, arah tujuannya pun segera berubah.

Inilah yang dinamakan jurus “Cie Ci Thian Yang”!

Kedahsyatan serta keanehan dari perubahan jurus serangan ini membuat Sak Huan yang amat congkak it menyadi terperanyat, tubuhnya buru-buru miring ke samping sedan pedangnya menangkis ke depan.

Koan Ing yang melihat serangannya kembali kena ditangkis maka dengan cepatnya menggerakkan pedangnya kembali merubah jurus.

Tetapi pada saat itulah mendadak dari tubuh pedang yang ada ditangan Sak Huan memancarkan cahaya merah yang amat menyilauka mata, seketika itu juga pedang Kim-hong- kiam ditangannya kena terhisap.

Hatinya terasa tergetar keras, dengan sekuat tenaga ia kebaskan pedangnya kesamping, siapa tahu justru karena gerakannya ini kedua bilah pedang itu saling melengket semakin keras lagi.

Dari ujung bibir Sak Huan segera tersungging satu senyuman dingin yang amat tawar sekali.

Koan Ing yang melihat Sak Huan hendak mengajak dia beradu tenaga dalam hatinya terasa amat gusar, dia menarik napas panyang2, mendadak pedang Kim-hong-kiamnya memancarkan cahaya emas yang amat tajam.

Begitu muncul cahaya emas itu ditengah udara segera terdengarlah suara ledakan yang amat keras. Karena kedua bilah pedang yang saling melengket itu segera tergetar keras, mendadak Koan Ing bersuit nyaring dan pedang Kim-hong- kiamnya berhasil ditarik lepas, kemudian langsung melancaran tiga tusukan mematkan.

“Traaaang! traaaang!” berturut-turut ketiga tusukan tersebut berhasil ditangkis pula oleh Sak Huan.

Dengan cepatnya Koan Ing melayang ke atas punggung kudanya kembali, di dalam hati ia merasa amat terperanyat, ia sama sekali tak sangka kalau Sak Huan telah memiliki ilmu pedang yang demikian sempurnanya.

Sebaliknya Sak Huan sendiri merasa hatinya semakin terperanyat, karena di dalam pikirannya semula dengan ilmu pengisap dari budak berdarah dimana ia sudah berhasil mengisap tenaga dalam dari banyak orang, saat ini tentu jauh berada di atas pemuda tersebut, karena itu dia baru menggunakan tenaga dalam untuk menghisap pedang Koan Ing yang paksa dia untuk lepaskan pedang mengaku kalah, tidak disangka tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu ternyata tidak berada dibawahnya.

Percobaannya kali ini membuat dalam hati ia merasa sangat mendesir.

Lama sekali kedua orang itu saling bertukar pandanan, mendadak terdengar Sak Huan tertawa dingin.

“Mari kau ikutlah diriku, kita tentukan siapa menang siapa kalah.” tantangnya.

Koan Ing yang merasa tenaga dalam yang dimiliki Sak Huan pada saat ini tidak lebih hanya seimbang dengan dirinya membuat kepercayaan diri sendiri semakin menebal, maka begitu mendengar Sak Huan hendak menantang dia untuk bergebrak segera tertawa tawar.

“Waktu ini kau telah menyadi perhatian dari para jago di Bu-lim, bilamana kau tidak tahu diri dan terus cari gara-gara, yanganlah salahkan kalau aku bertindak kurang sopan terhadap dirimu.” ancamnya.

Sak Huan segera tertawa terbahak-bahak. “Haa. haa,

bilamana hari ini kau berhasil melarikan diri, waktu itulah kau beru boleh merasa bangga, sekarang lebih baik yangan banyak bacot dulu!”

Selesai berkata tanpa memperdulikan kedua orang itu lagi, dia lantas menarik kudanya dan putar tubuh berjalan pergi.

Sang Siauw-tan yang melihat Sak Huan tidak dapat berbua apa-apa terhadap diri Koan Ing dia lantas berseru keras; “Engkoh Ing, halangi dirinya.”

Di dalam hati sebenarnya Koan Ing lagi merasa kheki melihat Tosu itu, ditambah lagi teringat akan ketujuh orang yang dibunuh tanpa bersalah itu membuat hatinya semakin terbakar.

Dengan segera dia mengempit perut kudanya dan lari mengejar. “Hey, Sak Huan, berhenti! Buat apa kita mencari tempat lain? Ayoh turun kita bereskan disini saja.”

Sak Huan tertawa terbahak-bahak, dengan cepat dia cambuk kudanya semakin keras lagi menerjang ke depan.

“Hey, Sak Huan, kalau kau bermaksud untuk menentukan siapa menang siapa kalah, kenapa melarkan diri?” ejek Koan Ing sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.

Demikianlah mereka berdua satu di depan yang lain di belakang saling berkejaran, sedang Sang Siauw-tan menguntit dari empat kejauhan.'

Beberapa saat kemudian mendadak gadis itu merasa keadaan tidak beres, buru-buru teriaknya, “Engko Ing, berhenti!”

Mendengar suara jeritan itu Koan Ing segera menahan tali les kudanya. Pada saat itulah Sak Huan tertawa terbahak-bahak dan menoleh ke belakang. “Kalian sudah terlambat untuk menarik diri, kini kalian sudah masuk ke dalam jebakan, tak ada jalan lagi buat kalian untuk melarikan diri.” serunya.

Begitu mendengar perkataan itu Koan Ing serta Sang Siauw-tan jadi amat terkejut, dengan cepat mereka menoleh kesamping.

Tampaklah dari empat penjuru muncul enam ekor kuda yang mengepung tempat itu rapat-rapat, ditangan setiap orang mencekal sebuah jala merah yang siap-siap disebarkan ke depan.

Keenam orang itu bukan lain adalah enam orang yang mengurung lembah Chiet Han Kok tempo hari, atau dengan perkataan lain mereka adalah jago-jago yang diandalkan oleh Sak Huan.

Hal ini seketika itu juga membuat pemuda itu merasa hatinya tergetar, lalu berdiri termangu-mangu. Kali ini mereka berdua benar-benar terjebak, kini untuk melarikan diripun tidak bakal terlaksana.

Ditengah kepungan keenam orang penunggang kuda itulah terdengar Sak Huan tertawa Terbahak-bahak.

Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba satu pikiran berkelabat di dalam benak pemuda itu, tubuhnya tahu-tahu meloncat ke depan menyambar tubuh Sang Siauw-tan dan menerjang keluar.

Dengan gusarnya Sak Huan membentak keras, sambil memegang pedangnya dia segera menubruk ke depan dan melancarkan serangan dahsyat mendesak Koan Ing untuk melayang turun kembali.

Koan Ing yang merasa dirinya diserang segera membentak keras, pedang ditangannya pun segera didorongkan sejajar dada. “Traaang....!” dengan cepat sepasang pedan itu saling berbentur satu sama lainnya dengan menimbulkan percikan bunga-bunga api, dan dengan mengambil kesempatan inilah Koan Ing melayang semakin jauh.

Pada saat itulah keenam orang naggota lembah Chiet Han Kok sudah mulai bergerak dan menyaga perjalanannya dari empat penjuru.

Koan Ing segera bersuit panyang, pedang Kim-hong- kiamnya didorong pula sejajar dada, ujung pedang di depan sedang tubuhnya mencelat ke atas.

Diantara berkelebatnya sinar pedang dan melayangnya jaring merah yang mengurung tubuhnya terdengarlah suara jeritan ngeri bergema memenuhi angkasa, kiranya salah seorang musuhnya kena ditusuk roboh.

Orang-orang berkerudung itu sama sekali tak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan, dan hanya di dalam satu kali gebrakan saja sebuah lengan kanan sudah kena ditabas putus, walaupun begitu baju yang dikenakan pemuda itupun tersobek besar sedang rambutnya awut- awutan.

Begitu Koan Ing melayang turun ke atas permuakaan tanah, buru-buru dia duduk bersila dengan pedang  diacungkan sejajar keningnya, inilah jurus adu jiwa ‘Giok Sak Ci Hun’ dari Hiat Hoo Kiam Hoat.

“Siauw-tan yangan bergerak!” pesannya kepada gadis itu.

Sang Siauw-tan tahu dengan tenaga dalam yang dimilik pemuda itu pada saat ini tidak bakal seorangpun yang dapat melukai dirinya, karena itu dia tidak bergerak secara sembarangan sebaliknya duduk dengan tenangnya disisi Koan Ing. Maka dengan cepatnya Sak Huan serta kelima orang berkerudung itu sudah mengurung tempat itu rapat-rapat, tetapi mereka tiada yang berani bergerak secara gegabah karena pelajaran yang baru saja diperlihatkan oleh pemuda itu sudah cukup membuat mereka merasa jeri.

Walaupun mereka tak ada yang kenal dengan jurus serangan dari Koan Ing, tapi bagaimana pun juga mereka semua adalah jago-jago Bu-lim yang berpengalaman, sudah tentu tidak akan tidak mengerti kalau jurus serangan yang dipersapkan Koan Ing kali ini adalah jurus adu jiwa.

Dengan pandangan yang amat tajam Sak Huan memperhatikan diri Koan Ing dia tahu seluruh tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu sudah dikumpulkan di atas pedangnya, barang siapa diantara mereka ada yang berani maju terlebih dulu dialah yang akan mati nomor satu.

Lama sekali ia termenung, akhirnya dia tertawa dingin. “Koan Ing, tidak kusangka kau adalah manusia yang tak berguna lebih baik cepat menyerah saja!” serunya.

Koan Ing membungkam dalam seribu bahasa, tangannya yang sebelah menarik tangan Sang Siauw-tan kencang- kencang.

Sak Huan yang melihat Koan Ing tidak suka berbicara dia tertawa dingin. “Sekalipun kau berbuat begitu juga tiada gunanya, akhirnya kau bakal mati juga, aku mau lihat kau  kuat bertahan seberapa lama!”

Selesai berkata bersama-sama dengan kelima orang lainnya segera duduk di sekeliling Koan Ing membentuk barisan melingkar.

Dengan pandangan yang ama tawar Koan Ing menyapu sekejap ke arah tiga orang yang ada di hadapannya, kemudian dengan perlahan memejamkan matanya. Sinar mata Sak Huan kembali berkelebat, dia yang melihat Koan Ing memejamkan matanya dalam hati ingin sekali menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan bokongan, tetapi sewaktu melihat tenaga dalamnya sudah disalurkan seluruhnya di atas pedang tersebut maka dengan hati berat terpaksa menarik kembali niatnya itu.

Sak Huan tahu bilamana dirinya maju melancarkan serangan,maka kematian sudah tentu saja ada diambang pintu, sekalipun Koan Ing yang dihadapinya memiliki tenaga dalam yang jauh lebih rendah dari dirinya pun pada saat ini dia tidak bakal berani maju apalagi tenaga dalamnya seimbang, hal ini semakin tidak mungkin lagi.

“Heeei.... bagaimana pun juga Koan Ing tidak bakal kuat menahan diri lebih lama lagi, walaupun aku tidak mendesak akhirnya dia bakal lelah sendiri, baiknya aku menanti saat yang baik saja.” pikirnya dihati.

Tanpa banyak cakap lagi diapun duduk bersila disana.

Yang paling ditakuti Koan Ing adalah kelima buah jaring merah itu, asalkan salah satu diantara mereka berenam ada yang berani menerjang secara kekerasan dia sendiripun tidak bakal bisa meloloskan diri dari sana. Dan untuk memecahkan persoalan ini hanya ada satu jalan saja yaitu berusaha secepatnya memahami ilmu ‘Ih Cian Hoat’ serta ilmu tanpa senyata yang baru dipelajari separuh bagian itu.

Dan kini dalam keadaan seperti ini terpaksa dengan menempuh bahaya dia harus mencoba, dia tahu bilamana pada saat-saat ini Sak Huan sekalian melancarkan serangan bukan saja ia tak berhasil menolong nyawanya sendiri bahkan dengan mudahnya bakal mati ditangan mereka.

Tapi keadaan sudah kepepet, mau tak mau ia harus pejamkan matanya untuk berlatih.

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing pejamkan matanya tanpa mengubah jurus serangannya dalam hati jadi kebingungan juga dengan termangu-mangu dia memandang dia memandang ke arahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Hanya di dalam sekejap saja empat jam sudah berlalu dengan cepatnya, sudah beberapa kali dia bermaksud untuk mengajak Koan Ing berbicara, tetapi melihat pemuda itu tetap duduk tak bergerak membuat iapun tidak berani menganggu.

Dan sudah beberapa kali ia hendak menyadarkan pemuda itu tetapi setiap kali dia batalkan niatnya.

Sak Huan pun dengan pandangan tajam memperhatikan terus seluruh gerak-gerik dari Koan Ing, sinar matanya berkedip-kedip, dia tidak menyangka kalau selama empat jam ini jurus serangan pedang ditangan kanan penuda itu sama sekali tidak berubah, diapun menaruh rasa kagum atas kelihayan dari Koan Ing.

Dengan perlahan Sak Huan menarik napas panyang- panyang, dia ingin melihat pemuda itu kuat bertahan berapa lama lagi.

Sinar matanya mulai beralih ke atas wajah Sang Siauw-tan yang amat cantik itu, kembali berpuluh-puluh persoalan berkelebat di dalam benaknya.

Lama sekali Tosu itu termenung, tiba-tiba ia mendengus, “Sang Siauw-tan, kau tidak usah bersama-sama dengan Koan Ing lagi!” serunya perlahan.

“Bangsat! Nenek kura-kura, Tosu cabul, kau tidak usah banyak bacot lagi.” maki gadis itu sambil mencibirkan bibirnya.

“Hee.... hee.... asalkan aku sehari bisa hidup di dunia, aku bersumpah pasti akan mendapatkan dirimu.” kata Tosu itu sambil tertawa cengar-cengir, “Walaupun kau marah tetapi sikapmu itu semakin menambah rasa cintaku terhadap dirimu, bagaimana juga akhirnya kau pasti milikku.” Sang Siauw-tan yang melihat semakin bicara Sak Huan semakin tidak kenal sopan, dia jadi gusar sekali.

“Bangsat cabul, kau tidak usah mengingau disiang bolong.” Dengan termangu-mangu dan pandangan terpesona Sak

Huan masih memandang wajah Sang Siauw-tan yang penuh dihiasi rasa gusar itu, hatinya benar-benar menaruh rasa cinta pada dirinya, dia merasa gemas tak berhasil menangkap tubuh Sang Siauw-tan, menelanyanginya lalu menidurinya.

Baru saja ia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dalam benaknya teringat sesuatu, “Iiih, kenapa selama ini Koan Ing tak berbicara?” serunya tertahan

Dia tahu setiap kali dirinya bersikap kuarng ajar pada Sang Siauw-tan, pemuda itu pasti akan gusar, tapi kali ini Koan Ing sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, hal ini benar- benar membuat hatinya keheranan.

Pada saat itulah mendadak Koan Ing membuka matanya kembali dan tersenyum kepada gadis itu. “Siauw-tan, sekarang kita boleh pergi!” serunya.

Selesai berkata dengan perlahan dia menurunkan kembali pedang Kim-hong-kiamnya.

Sak Huan yang melihat sikap dari Koan Ing ini segera dibuat tertegun, di bawah kurungan enam orang jagoan yang memiliki tenaga dalam amat dahsyat ternyata pemuda itu masih berani berbicara seenaknya, hal ini bukankah sama saja tidak memandang sebelah matapun kepada mereka?

“Hee.... hee.... kau ingin keluar dari sini? hmm! Boleh....

boleh, aku mau lihat kau hendak menggunakan cara apa?” ejeknya kemudian setelah tertegun beberapa saat lamanya.

Dengan pandangan dingin Koan Ing menyapu sekejap keempat penjuru, mendadak kepada Sang Siauw-tan ujanya; “Siauw-tan! kau jalanlah lebih dulu!” Selesai berkata tangan kirinya yang merangkul pinggang gadis itu dilepaskan dan mendorong tubuhnya keluar.

Bersamaan itu pula Sang Siauw-tan enjotkan badannya ke depan, dengan menggunakan tenaga gabungan itulah dengan ringannya dia berhasil melayang jauh keluar kalangan.

Sak Huan yang melihat kejadian ini segera mendengus dingin, pedangnya dibabatkan ke depan menghalangi gerakan Koan Ing sedang kelima lembar jaring merah itupun bersama- sama menggulung ke arah pemuda tersebut.

Koan Ing sedikitpun tidak jadi gugup, sewaktu pedangnya saling bentrok dengan pedang Sak Huan itulah dia meminyam tenaga pantulan itu, dia melayang mundur ke belakang.

Tetapi pada saat itu sebuah jaring kembali mengancam dari atas kepalanya.

Sak Huan tertawa dingin, tubuhnya merendah sedang pedangnya dengan gerakan yang amat cepat menusuk pemuda itu.

Koan Ing yang diserang dari empat penjuru dengan cepat membentak keras, anggota badannya dikerutkan dan di dalam waktu yang bersamaan itu ilmu merebut senyata dengan tangan kosong serta Ih-cin-hoatnya dilancarkan keluar.

Tubuhnya lemas sama sekali tak bertenaga, dimana jaring merah itu menutup segera mendapatkan sasaran yang kosong.

Melihat kedahsyatan dari ilmu tersebut keenam orang itu jadi amat terperanyat, pada waktu itulah Koan Ing bersuit nyaring, tubuhnya menggetar lalu meloncat ke arah Sang Siauw-tan.

Melihat kejadian itu Sak Huan merasa sangat terkejut bercampur gusar, diapun membentak keras, diantara berkelebatnya sang tubuh tahu-tahu dia melancarkan satu cengkeraman mengancam pinggang pemuda tersebut. Jarak antara Koan Ing dengan dirinya tidak lebih cuma lima depa, dengan cepatnya cengkeraman itu telah mencapai pada sasarannya.

Sewaktu hatinya lagi merasa teramat girang itulah mendadak dia merasakan kelima jarinya seperti menangkap suatu benda yang amat licin, tahu-tahu Koan Ing sudah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman itu.

Melihat kejadian itu Sak Huan baru merasa hatinya berdesir, dengan kerasnya satu tendangan dari Koan Ing telah bersarang di atas pundak kanannya membuat saking sakitnya dia mendengus berat, sedang pedang ditangannya kena terpukul jatuh.

Dengan meminyam tenaga tendangan tadi Koan Ing pun lantas melayang kesisi tubuh Sang Siauw-tan lagi.

Melihat pemuda pujaannya memperlihatkan ilmu sakti Sang Siauw-tan benar-benar merasa amat girang.

“Engkoh Ing!” teriaknya, “Ilmu silat apa yang baru saja kau gunakan? Sungguh dahsyat sekali.”

“Haa.... haa, ilmu biasa saja, Siauw-tan! mari kita pergi, tidak usah urusi mereka lagi.” ajak Koan Ing lagi sambil tertawa terbahak-bahak.

Selesai berkata sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka berdua kembali melakukan perjalanan ke depan.

Sak Huan sekalian enam orang yang melihat kelihayan dari ilmu silat pemuda itu, hatinya sudah merasa amat jeri sehingga tak seorang pun yang berani turun tangan mencegah, walaupun melihat kedua orang itu meninggalkan tempat tersebut dihadapan mata kepala mereka sendiri.

Sak Huan yang pundak kanannya kena ditendang saat ini merasa amat sakit serasa menusuk ke dalam tulang sumsum, maka sambil menggigit kencang bibirnya dia berusaha tidak sampai merintih.

Sebenarnya di dalam hatinya dia bermaksud untuk melanjutkan pengejarannya tetapi teringat akan kelihayan dari pemuda tersebut hatinya kembali merasa jeri.

“Sungguh aneh sekali!” pikirnya dihati, “Sejak kapan Koan Ing berhasil mempelajari ilmu silat yang sedemikian aneh dan lihaynya ini?”

Dia menggigit bibirnya kencang-kencang, dalam hati benar- benar merasa amat gemas dan kecewa.

“Pokoknya pada suatu hari aku harus bisa membinasakan diri Koan ing dan rebut Sang Siauw-tan!” batinnya kembali.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau rencana bagus dan rapat yang disusunnya selama ini berhasil juga digagalkan oleh pemuda itu, dia merasa kecewa kenapa tadi tidak melancarkan serangan ke arah Koan Ing sewaktu pemuda itu lagi berlatih.

Saking khekinya Sak Huan mendepak-depakan kakinya ke atas tanah dan putar badan berlalu dari sana.

Dan karena Yuan Si Totiang sudah berjanji dengan dirinya, ia cuma mau membantu dirinya untuk kali ini saja lain kali untuk menghadapi Koan Ing ia harus turun tangan sendiri....

Walaupun dalam hati ia tahu kalau dirinya bukanlah tandingan pemuda tersebut tetapi bilamana tidak berhasil membinasakan Koan Ing hatinya benar-benar merasa tidak puas.

Tetapi harus menggunakan cara apakah untuk menghadapi pemuda itu?....

Sembari berjalan seorang diri Sak Huan mulai memikirkan siasat-siasat busuk dan licik lainnya untuk menghadapi Koan Ing dikemudian hari.... Koan Ing serta Sang Siauw-tan yang berhasil meloloskan diri dari Sak Huan sekalian dalam hati merasa amat lega, bilamana bukannya keinginan hidup yang mendesak dia untuk mempelajari ilmu2 sakti tersebut mungkin pada saat ini mereka berdua sudah menemui ajalnya.

Sang Siauw-tan merasa hatinya amat girang sekali. “Engkoh Ing.” ujarnya sambil tertawa, “Ini hari kau berhasil

memberi  suatu  pelajaran  yang keras  terhadap  Sak  Huan si

Tosu cabul dan laknat itu!”

Ooo)*(ooO

Bab 40

“Untung sekali mereka tidak melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan sewaktu aku berlatih, kalau tidak entah apa jadinya waktu itu?” sahut Koan Ing tertawa.

Sang Siauw-tan tersenyum, sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, mendadak dia menjerit tertahan.

“Aaakh! Ada orang datang.” serunya.

Koan Ing pun dengan cepat menoleh ke depan, tampaknya disebuah bukit disebelah kiri mereka, berdirilah seekor kuda putih dengan tegaknya, maka buru-buru ia mencegah Sang Siauw-tan untuk mendekati tempat itu.

“Jangan kesana, belum tentu dia datang untuk mencari kita.” serunya cepat.

Sang Siauw-tan menarik napas panyang-panyang, karena dia merasa orang itu pasti munculkan diri karena diri mereka berdua.

Di dalam benak Koan Ing pun sebetulnya mempunyai perasaan demikian, tapi urusan sudah jadi begini, bilamana mereka harus menghindar diri hal ini sangat tidak sedap dipandang, tapi. siapakah orang itu? Dengan menyalankan kudanya perlahan-lahan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya mendekati si pemuda berbaju putih yang ada di atas kuda putihnya itu.

Sewaktu pemuda itu melihat kedua orang itu berjalan mendekati ke arahnya dengan segera lalu bertanya dengan suara yang amat keras:

“Yang datang apakah Koan siauw-hiap?”

Koan Ing memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan lalu tertawa tawar.

“Cayhe benar Koan Ing adanya!”

“Kalau memang saudara adalah Koan Siauw-hiap, tentunya kau pun sudah bertemu dengan tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat dari pangcu kami bukan?”

Baik Koan Ing mapun Sang Siauw-tan sama-sama merasa amat terkejut, semula mereka menganggap munculnya tujuh sosok mayat itu adalah hasil permainan dari Sak Huan, tidak disangka dugaannya adalah salah, kiranya perbuatan itu merupakan tanda dari satu perkumpulan tertentu.

“Eeeei.... kalau begitu apa nama perkumpulan kalian?” tanya Sang Siauw-tan dengan rasa keheranan.

“Nama besar perkumpulan kami sudah terkenal di dalam Bu-lim, bilamana kalian berdua tidak mengetahui tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat, hal ini membuat kalian sangat bodoh sekali.” sahut pemuda berbaju putih itu tawar.

Kembali Koan Ing dan Sang Siauw-tan merasa terkejut, memang mereka pernah dengar kalau tempo hari di dalam Bu-lim pernah ada sebuah perkumpulan yang bernama ‘Sin Ti Pang’ yang menggunakan “Tujuh Sosok Mayat Penyambut Tetamu Terhormat” sebagai penghormatan. Tetapi kejadian itu merupakan peristiwa pada empat puluh tahun yang lalu, tidak disangka hari ini perkumpulan tersebut kembali munculkan dirinya.

Mereka ternyata sudah menggunakan penghormatan “Tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat” hal ini membuktikan kalau mereka sangat menghargai dirinya.

“Oooouw.... kiranya Sin Ti Pang!” sahut Koan Ing sambil tersenyum manis, “Dimanakah pangcu kalian? hantarkan aku pergi menghadap.”

Pemuda berbaju putih itu tidak mengucapkan sepatah katapun, iapun segera memutar kudanya dan menuruni bukit tersebut.

Di belakang bukit itu ada sebuah tempat yang terhindar dari tiupan angin, salju yang melapisi permukaan tanah amat tipis sekali sehingga tampaklah batu-batu cadas hitam yang besar dan tajam.

Dengan dipimpin oleh pemuda berbaju putih itu mereka berdua melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, yang akhirnya sampailah mereka disebuah mulut selat.

Pada kedua belah samping selat itu yang separuh merupakan batu-batuan yang amat besar sedang sebagian lagi merupakan tanah ladang yang bersalju, di atas tanah bersalju itu tampaklah dua kursi kosong ditengah-tengah meja duduklah seorang lelaki berusia pertengahan dengan wajah berwarna kuning serta dua orang bocah cilik berdiri dibelakangnya.

Maka dengan cepat Koan Ing meloncat turun dari kudanya, dan pada waktu itulah terdengar si pemuda berbaju putih itu berseru:

“Koan Ing tiba!”

Dengan perlahan lelaki berbaju putih itu bangun berdiri dan tertawa. “Kiranya kau adalah Koan Ing yang namanya mulai menanyak di dalam dunia persilatan, cuma aku merasa heran bagaimana mungkin kedatangan dari Koan Siauw-hiap begitu lambat, maaf aku ‘Sin Ti Lang Cun’ atau si lelaki tampan seruling sakti Ti Siuw-su tidak menyambut dari tempat kejauhan.”

Sinar mata Koan Ing berkelebat karena teringat kalau penghormatan ‘Tujuh sosok mayat penyambut tetamu’ itu merupakan tanda buat seorang tetamu terhormat dari Sin Ti Pang, bisa juga merupakan tanda bagi seorang musuh bebuyutan dari perkumpulan tersebut.

Tetapi dirinya tak ada ikatan sakit hati apa-apa dengan mereka, ada maksud apa ia mengundang dirinya datang?

“Ti Pangcu!” sapanya kemudian sambil tersenyum, “Ada urusan apa kau orang mengundang cayhe.”

Dia tidak menyawab pertanyaan dari Koan Ing itu sebaliknya malah berkata, “Nona itu tentunya nona Sang Siauw-tan putri kesayangan dari Pangcu Tiang-gong-pang bukan?”

“Benar!” sahut Koan Ing lagi sambil tertawa. “Entah ada urusan apa Ti Pangcu mengundang kami datang kemari?”

Sin Ti Lang Cun tertawa dan maju dua langkah ke depan. “Dikarenakan ayahku meninggal dunia, maka selama empat

puluh tahun ini perkumpulan Sin Ti Pang belum pernah munculkan dirinya kembali di dalam dnia kangouw, tapi kini berhubung urusan kereta berdarah sekali lagi kami munculkan diri, kami mengundang kalian berdua datang kemari justru karena ada tiga urusan penting.”

Sang Siauw-tan yang melihat Sin Ti Lang Cun berlagak misterius, pertama-tama dia yang merasa tidak sabaran.

“Ti Pangcu, cepat kau katakan!” serunya. Ti Siuw-su tersenyum, dia merendek sejenak, kemudian berkata kembali, “Pertama, perkumpulan yang terbesar di dalam kolong langit pada saat ini boleh dihitung adalah partai Sin Ti Pang kami, atau dengan perkataan lain kami harap kalian berdua suka menyampaikan kepada Sang Su-im untuk mengembalikan kedudukan di dalam daerah Tionggoan itu kepada partai Sin Ti Pang kami.”

“Hmm! kau lagi bermimpi.” teriak gadis itu sambil tertawa dingin.

Tetapi Ti Siuw-su sama sekali tidak jadi marah, dia tersenyum, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya, “Kedua, aku minta kalian berdua masuk menyadi anggota perkumpulan kami, bilamana kita sudah menyadi satu keluarga maka diantara kitapun tidak usah terjadi bentrokan lagi!”

Selesai berkata dia putar badan kembali ke tempatnya semula.

“HM! urusan ini harus kita putuskan sendiri bukan?” seru Koan Ing tawar.

Sewaktu Ti Siuw-su hampir mendekati bangkunya itulah mendadak dia putar badan dan berkata lagi dengan wajah yang amat keren:

“Dan terakhir aku menginginkan kereta berdarah! kalian yang datang kemari karena penghormatan “Tujuh sosok mayat penerima tetamu terhormat”ku tentunya tahu juga bukan akan maksudku!”

Sinar mata Koan Ing segera berkelebat, dia tahu maksud Ti Siuw-su adalah mengartikan kalau mereka adalah musuh bukan kawan, maka dengan cepat ia mendengus dan menoleh ke arah Sang Siauw-tan.

“Siauw-tan!” serunya keras, “Aku sama sekali tidak menyangka kalau Sin Ti Pang yang tempo dulu pernah menyagoi Bu-lim, ternyata tidak cukup saatnya untuk bergerak, biasanya orang-orang Bu-lim bekerja dengan mengandalkan kekuatan sendiri, perbuatan semacam ini baru aku temui untuk pertama kalinya!”

“Heee.... heee.... kau tidak usah menyindir aku lagi.” sahut Ti Siuw-su sambil tersenyum. “Sejak semula aku pun sudah tahu kalau kalian tidak bakal menurut, satu-satunya cara pada saat ini adalah berusaha untuk sementara waktu yangan bergebrak, aku mau menanti kalian pikir masak-masak dulu.”

Koan Ing yang melihat Ti Siuw-su bermaksud hendak menahan mereka, diapun lantas tersenyum.

“Kalau begitu pangcu ingin minta beberapa petunjuk ilmu silatku bukan?” sindirnya lagi.

Ti Siuw-su cuma tersenyum saja tanpa mengucapkan sesuatu, sebaliknya pemuda berbaju putih yang ada disisinya sudah berteriak:

“Buat apa pangcu turun tangan sendiri, cukup tecu saja sudah lebih dari cukup untuk menghadapi dirinya.”

Sejak semula Ti Siuw-su memang kepingin mengerti seberapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Koan Ing, kini mendengar perkataan dari pemuda berbaju putih itu dia lantas mengangguk.

“Di bawah nama besar tak bakal ada manusia goblok, kau jangan terlalu memandang enteng dirinya!!”

Pemuda berbaju putih itupun segera barjalan maju ke depan dan bungkukkan dirinya memberi hormat, sesudah itu sambil mencabut keluar sebatang seruling besi ujarnya:

“Koan sauw-hiap, silahkan memberi beberapa petunjuk.”

Koan Ing tertawa tawar, dia tahu dengan nama besar serta kejajaan dari perkumpulan Sin Ti Pang tempo hari, pada saat ini tidak akan berbuat gegabah, di sekeliling tempat ini tentu sudah dikurung oleh mereka.... Karena itu diapun tabu untuk meloloskan diri dari tempat itu bukanlah satu persoalan yang mudah.

“Bagus sekali!” ujarnya kemudian. “Di-bawah perkumpulan Sin Ti Pang pasti ada jagoan yang lemah, aku rasa kepandaian silat yang jien-beng milikipun pasti sangat mengejutkan sekali.”

Dengan perlahan dia mencabut keluar pedang kiem-hong- kiamnya, dengan ujung pedang menghadap tanah dia memandang tajam ke arah pemuda berbaju putih itu.

Pemuda berbaju putih itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, dengan diiringi suara jeritan yang tajam senjata seruling yang ada ditangannya segera melancarkan serangan menotok alis dari diri Koan Ing

Tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini sama saja dengan tenaga dalam yang dimiliki jagoan kelas wahid di dalam Bu-lim, jika dibandingkan dengan pemuda berbaju putih ini sudah tentu perbedaannya sama dengan langit dan bumi. begitu tubuhnya mencelat maju ke depan pedang panjangnya bagaikan kilat menutul ke atas ujung seruling yang ada ditangan pemuda itu.

Sin Ti Langcoen yang melihat gaya serangan dari Koan Ing ini hatinya merasa sangat terperanjat, juga karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya, baru saja ia hendak mencegah tahu-tahu ujung pedang dari Koan Ing sudah menempel di atas ujung seruling pemuda berbaju putih itu.

Walaupun pemuda itu bisa melihat dengan gerakan bagaimana Koan Ing melancarkan serangan, tapi dengan kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing bagaimana mungkin pemuda berbaju putih itu bisa menghindarkan dirinya, maka terasalah pergelangan tangan kanannya tergetar amat keras seruling besinya sudab dipukul miring kesamping. Hatinya segera merasa berdesir, maka dengan cepat seruling besinya ditarik kembali inilah jurus “Seng Kwang Hwee In” atau sinar bintang berkelebatan, yang merupakan jurus bertahan dari ilmu serulingnya.

Koan Ing tertawa tawar, pedang kiem-hong-kiamnya segera diangkat ke atas bersamaan dengan tubrukan badannya ke depan kaki kanannya melancarkan satu tendangan kilat menghajar pergelangan tangan dari pemuda berbaju putih.

Buru-buru pemuda itu menekan pergelangannya kebawah. pada saat itulah pedang Koan Ing mendengung ditengah udara lalu ujung pedangnya sambil berputar menerobos turun kebawah. jurus seranganpun berubah jadi jurus “Cie Ci Thian Yang.”

Saking terkejutnya Pemuda berbaju putih itu menjerit kaget, buat dia tak sempat untuk menghindarkan diri lagi terpaksa sambil pejamkan matanya menanti kematian.

Siapa tahu pada saat itulah Koan Ing sudah menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kembali ke tempat asalnya.

Sang Siauw-tan yang ada di samping setelah melihat Koan Ing menang dia segera tertawa senang ejeknya, “Ti Pangcu! parkumpuian kalian patutnya diberi nama di bawah nama besar sabenarnya tidak ada jagoan palsu!!”

Ti Siuw-su sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing sedemikian tingginya, diam-diam dia merasa terkejut.

Sebenarnya ilmu silat yang dimiliki pemuda berbaju putih itupun juga tidak rendah siapa tahu hanya di dalam tiga jurus saja sudah jatuh kecundang. Dia manatik ttapas panjang-panjang dan pujinya tawar, “Nama besar Koan siauw-hiap ternyata bukan nama kosong belaka.”

“Oooouuw.... jadi Ti pangcu mau memberi pelajaran juga kepadaku!” seru Koan Ing sambil tertawa.

Mendengar perkataan itu Ti Siuw-su segera tertawa terbahak-bahak.

“Haa.... haa Koan siauw-hiap, apakah kau tahu bagaimanakah cara kematian yang dialami oleh ketujuh orang penyambut tetamu terhormat itu?” tanyanya.

“Cayhe memang tidak tahu. tetapi aku rasa urusan itu tiada sangkut pautnya dengan urusan kita.”

Ti Siauw Su tidak menggubris dirinya, mendadak dia bertepuk tangan tiga kali, dan dari balik batu segera munculah dua belas orang lelaki berbaju putih.

“Heee.... heee.... sebentar lagi kau bakal tahu, bagaimana lihaynya,” ejeknya sambil tertawa.

Dengan pandangan yang amat dingin Koan Ing menyapu sekejap ke arah dua belas orang itu, dia yang pernah merasakan kepungan dari hweeshio2 Siauw-lim-si beberapa kali, sudah tahu pada saat ini tidak bakal memandang sebelah matapun terhadap mereka.

“Ti pangcu! apakah kau ingin mencoba kepandaian silatku lagi kemudian baru suka turun tangan sendiri!” ujarnya tertawa.

“Koan Ing! haaa.... haaa. kau terlalu sombong yang tidak

memandang sebelah matapun kepada kami!” seru Ti Siauw Su sambil tertawa terbahak-bahak.” Haruslah kau ketahui bilamana ini hari kau berhasil meloloskan diri dari kepungan barisan Sang Loo Tin dari perkumpulan Sin Ti Pang kami. urusan ini hari juga kita bikin selesai.” Sinar mata pemuda itu segera berkelebat, tampaklah Ti Siuw-su selesai berkata segera kebutkan ujung bajunya kemudian dengan membawa pemuda berbaju putih dia berlalu dari sana.

Koan Ing pun lantas menarik tangan Sang Siauw-tan “Siauw-tan, kitapun harus pergi!” serunya.

Mereka berdua pun dengan cepat berjalan ke depan untuk berlalu dari sana. Sejak tadi kedua belas orang berbaju putih itu sudah pada mencabut keluar senjala seruling besinya, baru saja kedua orang hendak berjalan melalui batu-batuan mendadak terasalah ada tiga orang bersenjatakan seruling besi dua dari belakang dan satu dari depan melancarkan serangan gencar.

Pedang ditangan kanan Koan Ing segera didorong ke depan mendesak mundur orang yang ada di depan sedang Sang Siauw-tan dengan disertai suara bentakan yang amat keras membalikkan badannya melancarkan dua sentilan jari menghajar dua orang yang dibelakangnya. 

Belum habis jurus serangan mereka gunakan mendadak ketiga orang itu sudah mengundurkan diri ke balik batu sedang tiga orang lainnya munculkan dirinya kembali, ketiga orang serta ketiga batang seruling besi itu dengan amat tepat berhasil menangkis datangnya serangan kedua orang itu.

Sang Siauw-tan serta Koan Ing yang melihat kejadian itu jadi amat terperanjat, ketepatan dari ketiga batang seruling untuk menggagalkan serangan tersebut sungguh tepat sekali, hal itu benar-benar membuat ke dua orang itu tak dapat berkutik.

Baru saja mereka berpikir keras, kembali menyusul tiga orang dengan tiga batang seruling menangkis pedang Koan Ing untuk kemudian ditekan ke arah bawah. Kerja sama diantara mereka ini benar-benar luar biasa rapatnya, maju mundur dilakukan bagaikan angin. Koan Ing yang belum sempat berpikir apa-apa tahu-tahu pedang kiem- hong-kiamnya kena diapit dan ditekan ke bawah hatinya jadi merasa amat terperanjat, kini berada di dalam posisi semacam itu berarti pula telah kehilangan seluruh tenaga untuk melawan

Pada saat tiga orang musuhnya berkelebat ke samping itulah tampak empat untai benang serat yang amat kuat dilemparkan ke depan hendak menjerat leher Koan Ing berdua.

Kembali pemuda itu merasa berdesir pikirnya, “Aaaach....

kiranya demikian, jika dilihat dari kerja sama mereka yang bagitu erat tentu ketujuh mayat tadi mati karena terjerat oleh benang serat yang amat kuat ini, agaknya ini hari akupun sukar untuk meloloskan diri.”

Kedua belas orang itu dibagi menjadi empat kelompok yang maju dan yang mundur bekerja sama dengan eratnya, hampir boleh dikata mereka sama sekali tak memberi kesempatan untuk dirinya berdua buat berganti napas.

“Engkob Ing, hati-hati.... ” tiba-tiba terdengar Sang Siauw- tan menjerit keras.

Berturut-turut dia melancarkan tiga buah sentilan jari menghajar ke arah musuh. dia tahu bilamana di dalam keadaan semacam ini dirinya tidak turun tangan dengan cepat mungkin mereka berdua akan segera menemui ajalnya.

Ilmu jari “Han Yang Ci” merupakan ilmu sakti turunan keluarga Sang, ketiga buah sentilan tadi seketika itu juga menahan datangnya tiga utas benang serat yang mengancam datang.

“Haaa.... haaa.... mereka bertujuh pun pada mati di dalam barisan ini,” terdengar suara dari Ti Siauw Su berkumandang keluar dari balik batu. Koan Ing benar-benar merasa hatinya tergetar keras. karena walaupun Sang Siauw-tan berhasil  menahan datangnya serangan tersebut tetapi kembali muocul tiga orang yang bersama-sama melancarkan serangan ke arahnya kali ini mereka berubah jadi satu depan dua belakang bersama-sama menggencet kedua orang ini.

Kecepatan dari berubahnya barisan itu benar-benar tidak memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk memikirkan cara yang baik untuk menghadapi mereka, kini dia membentak keras pedangnya berturut-turut menusuk ke depan dengan menggunakan jurus “Hay Thian It Sian yang amat lihay.

Barisan “Seng Loo Tin” pun mulai berulah berputar, dari antara seruling besi yang berkelebat tiada hentinya itu secara samar-samar mulai mengeluarkan suara yang amat nyaring,

Koan Ing yang setiap kali melancarkan serangan dengan menggunakan jurus serangan apapun pasti kena ditangkis lama kelamaan mulai terdesak juga, baru saja berjalan lima puluh jurus mereka berdua mulai merasa tidak tahan.

Seluruh aagkasa dipenuhi dengan berkelebatnya benang serat yang amat kuat, Sang Siauw-tan yang tidak berhasil mengatur pernapasannya saat ini benar-benar kepajahan, wajahnya berubah pucat pasi sedang napasnya tersengal- sengal.

Di dalam keadaan terpaksa Koan Ing segera menggunakan lengan kirinya untuk menangkisi setiap serangan benang serat yang mengancam dirinya, walaupun dia mempunyai ilmu ‘In Cing Hoat’ tetapi serangan yang menggunakan tenaga dalam ini mana dapat dipergunakan olehnya, kini pakaiannya robek2 sedang sebuah bekas berdarah membekas pada lengannya itu.

Sekali lagi Ti Siuw-su tertawa terbahak-bahak. “Haa. haa

Koan Ing!! Lebih baik kau lempar pedangmu itu dan menyerah kalah saja!” Sambil menggigit kencang bibirnya pemuda itu tak mengucapkan sepatah katapun, berturut-turut dia melancarkan tiga serangan dahsyat.

Mendadak terdengarlah suara dengusan ringan, maka buru- buru dia menoleh ke belakang tampaklah Sang Siauw-tan dengan wajah pucat pasi karena kehabisan napas terjatuh ke atas tanah.

Dia jadi amat terkejut, dengan cepat tangan kirinya menyambar tubuh gadis tersebut.

Ditengah suara tertawa yang amat keras kembali ada tiga batang seruling besi menekan ke arahnya, maka dengan cepat pemuda itu menggerakkan pedang kiem-hong-kiamnya untuk menangkis, tetapi pada saat yang bersamaan pula kembali tiga batang seruling menyambar datang.

Dengan gusarnya Koan Ing meraung keras, tubuh Sang Siauw-tan yang ada dilangan kirinya segera dilepaskan sedang pedangnya dengan gencar melancarkan serangan mendesak mundur ketiga orang itu.

Jurus yang digunakan olehnya ini bukan lain adalah jurus ‘Giok Sak Ci Hwee’ dari Hiat Hoo Kiam Hoat.

Tampaklah serentetan cahaya emas yang amat mengerikan berkelebat memotong cahaya seruling menembus ke arah dalam, serangannya kali ini telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, sudah tentu mereka bertiga tidak kuat untuk menahan serangan tersebut.

Terdengarlah suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tangan kanan dari ketiga orang itu sudah kena dibabat putus menjadi dua bagian.

Walaupun begitu jurus ‘Giok Sah Ci Hwea’ ini sedikitpun tak ada gerakkan untuk bertahan. di dalam sekejap mata itulah pundak kiri, iga serta punggungnya sudah kena digebuk oleh seruling pihak lawan sedang tiga utas benang serat itu juga berhasil menjerat lehernya.

Dia mendengus berat, terasa pandangan jadi gelap, hampir-hampir ia jatuh tidak sadarkan diri.

Bagaimanapun juga dia pernah mempelajari ilmu ‘Ih Cing Hoat’ serta ilmu tanpa senjata maka kini di dalam keadaan semacam ini mana mungkin dia orang menyerah dengan begitu saja? tangannya dengan cepat balik membabat putus ketiga utas benang serat yang menjerat lehernya itu.

Pada saat itulah lehernya terasa amat dingin tak tertahan lagi ia muntahkan darah segar.

Kesembilan orang berbaju putih lainnya walaupun pada merasa terperanjat dengan kejadian yang mereka hadapi tetapi kini melihat Koan Ing telah terluka parah maka dengan cepat pada bergerak maju ke depan enam batang seruling bersama-sama melancarkan serangan ke arah pemuda tersebut.

Dengan gusarnya Koan Ing mendengus, pedang kiem bong kiamnya diangkat dan dipalangkan di depan dada.

Di dalam keadaan terluka parah mana mungkin pemuda itu kuat menahan serangan musuh? Begitu pedang dan seruling terbentur satu sama lain maka dia segera tergetar mundur sejauh empat lima langkah ke belakang dengan sempoyongan, sekali lagi dia muntahkan darah segar dan rubuh ke atas tanah.

Melihat musuhnya rubuh kesembilan orang itu segera merubung maju ke depan, tetapi pada saat itulah....

“Jangan bergerak!”

Dengan keadaan pajah Koan Ing membuka matanya, saat itu dia dapat melihat orang yang baru saja membentak keras bukan lain adalah si seruling sakti Ti Siuw-su adanya. “Eei.... Koan Ing, bagaimana rasanya?” ejek Ti Siuw-su sambil tertawa dingin.

Dengan perlahan Koan Ing bangkit berdiri, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia melototi orang itu.

Kembali Ti Siuw-su tertawa terbahak-bahak.

“Haa.... haa, bila mana kau ingin menggunakan kekerasan lagi maka jangan salahkan aku akan menggunakan cara yang luar biasa untuk menghadapi dirimu, kaupun merupakan seorang yang cerdik, tentu kau mengetahui bukan apa akibatnya bilamana Sang Siauw-tan ada ditanganku apa lagi hubungan kalian yang begitu erat! hee hee.... hee, Koan Ing! pikirlah dengan pikiran jernih!!”

Koan Ing yang mendengar Ti Siuw-su hendak menggunakan Sang Siauw-tan untuk memaksa dirinya, dia tertawa dingin. “Hee.... hee, dia adalah putri kesayangan dari Sang Su-im pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang” ujarnya dingin. “Bilamana kau berani berbuat sesuatu terhadap dirinya mungkin untuk melangkahi Tionggoan kalian akan menemui kesukaran apalagi ilmu jari sakti Han Yang Ci bukanlah main-main!!”

“Haa.... haa, bilamana kau tidak suka mendengarkan omonganku aku akan segera turun tangan membinasakan dirimu dan tinggal Sang Siauw-tan sebagai barang sandaran pertempuran kita dikemudian hari dengan perkumpulan Tiang- gong-pang!”

“Hmm! kau hendak berbuat apa sesukamu, tetapi kalau ingin aku mendengarkan perkataanmu hee.... hee jangan harap!” seru Koan Ing sambil mendengus dingin.

Ti Siuw-su segera tertawa terbahak-bahak, nafsu membunuh segera berkelebat pada sinar matanya.

“Perkataan yang diucapkan selamanya tidak pernah berubah. “Tujuh sosok mayat penyambut tetamu terhormat” yang aku ke luarkan pertanda musuh besar. Dan Sang Siauw- tan tentu akan menurut padaku. dan bilamana kau ingin mati aku pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi!”

Selesai berkata dia mendengus dingin, tangannya diulapkan maka segera tampaklah tiga batang seruling besi dengan dahsyatnya melancarkan serangan ke arah pemuda tersebut.

Ooo)*(ooO

Bab 41

SINAR MATA Pemuda itu segera berkedip, dia tahu dengan keadaannya pada saat ini untuk menghadapi serangan gabungan dari tiga orang itu tidak mungkin bisa terlaksana.

Maka pada saat-saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara panggilan dari seseorang:

“Engkoh Ing!”

Dengan terperanjat dia dongakkan kepalanya tampaklah Cha Ing Ing dengan menggunakan sebilah pedang menangkis datangnya serangan ketiga orang itu.

Koan Ing jadi amat terkejut bercampur girang, tanpa memperdulikan lagi bagaimana Cha Ing Ing bisa munculkan dirinya disana dia membentak keras, pedang kiem-hong- kiamnya segera berkelebat ke depan melancarkan satu tebasan dahsyat.

Jurus ini bukan lain adalah jurus “Im Gong Cian Sin” atau mega kosong jeram curam. Diantara berkelebatnya cahaya pedang terdengarlah suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, darah segar muncrat memenuhi angkasa, kini kembali seorang pemuda berbaju putih kena ditabas putus tangan kanannya.

Dengan cepatnya ilmu pedang gabungan ‘Cuo Ci Yu So’ dilancarkan keluar, ditengah suara bentakkan nyaring sepasang pedang itu bersama-sama melancarkan serangan dengan menggunakan jurus ‘Ci Lek Toan Kiem’.

Ditengah suara bentakan yang keras mereka berdua bersama-sama menggetarkan dua batang seruling terakhir.

Si seruling sakti Ti Siauw Su yang melihat kejadian itu benar-benar merasa amat terperanjat, kerapatan dan kedahsyatan dari kerja sama ilmu pedang itu belum pernah ditemuinya selama ini.

Di dalam sekejap saja antara kedua belas orang itu ada empat orang sudah terluka parah, dengan sendirinya barisan Seng Loo Tin itupun segera terpukul pecah.

“Kalian lekas mundur!” ujar Ti SiauW Su dengan segera.

Melihat musuh2nya sudah mengundurkan diri Koan Ing baru bisa menarik napas panjang-panjang, diaangkat kepalanya dan memandang ke arah Cha Ing Ing.

Tampaklah paras muka gadis itu pucat pasi dan penuh dibasahi butiran air mata, diapun lagi memandang pamuda itu dengan terpesona.

Koan Ing yang melihat kejadian ini hatinya benar-benar merasa amat menyesal, karena bilamana bukannya Cha Ing Ing munculkan dirinya di dalam keadaan kritis ini mungkin saat ini ia sudah menemui ajalnya.

“Ing Ing, kau datang dari mana?” sapanya kemudian dengan suara halus.

“Selama ini aku terus menerus menguntit kalian!!” jawab Cha Ing Ing sambil menundukkan kepalanya.

Koan Ing jadi melengak, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar. Demikianlah mereka berdua berdiam diri sambil berdiri saling berhadap2an. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Cha Ing Ing menundukkan kepalanya dan berseru, “Engkoh Ing. biar aku pergi melihat keadaan dari enci Siauw-tan.”

Selesai berkata dengan tergesa2 dia mengusap kering air matanya yang mengucur keluar setelah itu berjalan mendekati diri Sang Siauw-tan yang masih menggeletak di atas tanah itu.

“Hee.... hee kerja sama ilmu pedang kalian berdua benar- benar amat dahsyat sekali!” seru Ti Siuw-su sambil memandang tajam kedua orang itu bergantian. “Ini hari aku mau minta beberapa petunjuk dari kalian beidua.”

Dengan dinginnya Koan Ing mendongak lalu mendengis berat. “Hmm! tidak kusangka perkataan dari seorang pangcu tidak bisa dipercaya, kini barisan Seng Loo Tinmu sudah terbobol, siapa sangka janji yang sudah diucapkan sendiri sekarang hendak ditarik kembali hee.... hee pangcu macam apa itu!”

Ti Suw Su yang mendengar perkataan tersebut jadi berdiri melengak, dia memang pernab mengatakan bilamana Koan Ing berhasil menghancurkan barisan Seng Loo Tin-nya dia akan melepaskan untuk pergi, walaupun akhirnya pihak lawan sudah bertambah lagi dengan satu orang tetapi buktinya barisan yang paling diandalkan olehnyapun telah dipukul hancur, bagaimana kini dia harus memenuhi janjinya sendiri.

Setelah berpikir beberapa saat lamanya akhirnya Ti Siuw-su mendengus dingin dan menyapu sekejap ke arah mereka bertiga.

“Baik! untuk sementara waktu aku lepaskan kalian, dan jangan lupa sampaikan ke pada Sang Su-im, katakan aku Thiat Ti Langcoen menantang dia untuk membobolkan barisan “Seng Loo Toa Tin” ku di atas puncak Jie Giok Hong digunung Wu San.” Koan Ing yang mendengar Ti Siuw-su suka melepaskan mereka dan mendengar pula perkataan terakhir dari orang itu dia lantas mengerutkan keningnya.

“Hmmm! jangan kuatir. sampai waktunya empek Sang pasti akan datang untuk memenuhi janjinya,” sahutnya keras.

Sang Siauw-tan sebetulnya tidak terluka dia hanya jatuh pingsan karena kehabisan tenaga, setelah dibantu Cha Ing Ing beberapa saat kemudian dia sudah sadar kembali.

Sewaktu dilihatnya Cha Ing Ing ada disana dia segera tertawa. “Aaach Ing moay-moay, bagaimana kau pun bisa sampai disini?” tanyanya.

Cha Ing Ing merasa jengah untuk menceritakan keadaan yang sesungguhnya, maka dengan wajah berubah merah dia menundukkan kepalanya rendah-rendah

Walaupun selama ini Koan Ing belum pernah menceritakan sikap Cha Ing Ing terhadap dirinya tetapi dengan ketajaman mata dari Sang Siauw-tan dia bisa menebak juga tiga bagian.

“Ing moay-moay!” serunya kemudian sambil tertawa dan menarik tangan gadis itu untuk diajak bangun, “Ini hari aku harus mengucapkan terima kasih atas bantuanmu!!”

Agaknya Cha Ing Ing tak ada perkataan yang bisa diucapkan, dan karena itu selama ini terus bungkam diri. Waktu itulah Koan Ing sudah menuntun kudanya mendekati mereka, Sang Siauw-tan yang melihat pemuda itu terluka tetapi tidak ingin menyedihkan hati Ing Ing maka lantas ujarnya dengan tawar:

“Engkoh Ing, kau baik-baiklah menjaga dirimu sendiri!” Koan Ing pun tahu apa maksud dari perkataan Sang Siauw-

tan ini, maka dengan perlahan dia mengangguk. Demikianlah Sang Siauw-tan dan Cha Ing Ing menunggpng seekor kuda sedang Koan Ing sendiri menunggang kuda yang lain mereka melakukan perjalanan meninggalkan tempat itu.

Dengan termangu-mangu Ti Siuw-su memandang bayangan punggung mereka bertiga yang mulai lenyap dari pandangan setelah itu dia baru menghela napas panjang- panjang.

Semangatnya untuk menjagoi Bu-lim yang semula berkobar2 di dalam hatinya kini setelah menemui kejadian inipun sudah paham separuhnya.

Dengan cepatnya Koan. Ing bertiga meninggalkan tempat berjaga perkumpulan Sin Ti Pang, Dan pada suatu saat mendadak dari udara meluncur datang seekor merpati pos berwarna putih.

Dengan cepat Sang Siauw-tan menerima merpati itu dan melepaskan surat yang terikat dikakinya. sesudah membaca sebentar akhirnya sambil tertawa ujarnya:

“Aaah.... ayahku sudah ada pada seratus li dari sini, tidak selang lama segera akan tiba disini!” Selesai berkata dia menoleh dan memandang ke arah Koan Ing serta Cha Ing  Ing. “Bagaimana kalau kita menyambut keda itangan mereka?” njaknya dengan penuh gembira.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan begitu gembira karena bakal bertemu dengan ayahnya diapun tidak ingin menyia2kan harapannya ini. maka dengan cepat ia mengangguk.

“Sudah tentu bagus sekali,” sahutnya senmbil tertawa. “Akupun sudah lama sekali tidak bertemu muka dengan empek Sang!”

Sang Siauw-tan yang melihat pemuda itu sudah setuju diapun lantas menoleh ke arah Cha Ing Ing. Cha Ing Ing dengan perlaban mengangguk pula, tetapi dia masih tetap bungkam seribu bahasa.

Mereka bertigapun lantas menjalankan kudanya menuju sebelah Barat daya untuk memapaki Sang Su-im sekalian.

Kembali mereka melakukan perjalaran sejauh beberapa puluh li, sewaktu mendekati daerah pegunungan cuaca sudah mulai gelap. Sang Siauw-tan yang melihat hari mulai gelap dan rasa kuatir lantas ujarnya, “Engkoh Ing, mungkin Tia tidak melihat kalau kita ada disini!”

“Kita bikin saja api unggun disini untuk menanti kedatangan ayahmu, bukankah hal ini lebih bagus?” sahut Koan Ing tersenjum.