Kereta Berdarah Jilid 13

Jilid 13

WAKTU itu kepalanya terasa amat berat serasa ingin tidur, tetapi Sang Siauw-tan, gadis itu sama sekali tidak berada di sisinya.

Koan Ing jadi terperanjat, di dalam sekejap mata itulah rasa mengantuknya lenyap dari benaknya, kepalanya didongakkan memandang ke arah Jien Wong yang lagi duduk di hadapannya. “Dimana Sang Siauw-tan?” teriaknya.

“Dia ada di dalam ruangan batu itu, dia baik-baik saja,” sahut Jien Wong sambil memandang kebingungan ke arahnya lalu bangun dan berjalan ke sisinya.

Tampaklah pada ujung bibir Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim ini masih berlepotan darah, dan darah itu adalah darahnya sendiri. Kini sesudah mendengar Sang Siauw-tan berada di dalam keadaan selamat hatinya jadi amat lega lega sekali.

“Cepatlah kau lepaskan dia keluar!” serunya kembali sambil menundukkan kepalanya sesudah menarik napas panjang.

Pada wajah Jien Wong terlintaslah suatu perasaan yang amat aneh sekali, dia termenung sebentar kemudian baru berkata, “Bocah darah dibadanmu sudah aku hisap separuh, untuk sementara lebih baik kau jangan berbicara dulu.”

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi terperanjat, sepasang tangannya sam bil

memegang tanah dan kepalanya didongakkan ke atas memperhatikan si manusia aneh ini,

Dia tidak menyangka kalau manusia aneh ini tidak membunuh mati dia, apakah pikirannya kini sudah tidak genah? Tetapi kenapa sekarang....? Dia menghisap darahnya, bahkan menghisap separuh dari darah yang ada dibadannya.

Semakin dipikir semakin menyeramkan, akhirnya seluruh bulu kuduknya pada berdiri, Kembali Jien Wong tertawa tawar.

“Tadi aku mengira kau adalah manusia yang membokong diriku maka itu aku hisap darahmu,” katanya perlahan.

Dia berhenti sebentar untuk tertawa kemudian tambahnya lagi:

“Kau yang bernama Koan Ing bukan aku mempunyai ikatan persahabatan yang amat erat dengan kakekmu ‘Siang Kang Bun Su’ atau si kakek asing dari Siang Kiang, seharusnya kau masih ingat aku pernah bersembunyi di dalam rumahmu sampai akhirnya dikelabui ayahmu.”

Koan Ing merasakan hatinya tergetar amat keras, secara tiba-tiba semangatnya pulih kembali karena dalam hati dia merasa heran.... heran mengapa Jien Wong masih dapat mengingat jelas akan peristiwa tersebut. Dengan perlahan Jien Wong mengangkat kepalanya memandang ke atas dan termenung melamun.

Sedang Koan Ing yang mendadak merasa Jien Wong sama sekali tidak mempunyai maksud jahat terhadap dirinya diapun terjerumus ke dalam lamunan, siapapun tak ada yang

berbicara.

Suasana yang sunyi itu mendadak dipecahkan kembali oleh suara Jien Wong, terdengar dia berkata, “Tempo hari sewaktu aku terjunkan diri ke dalam dunia kangouw untuk pertama kalinya aku adalah anak murid dari Kun-lun-pay, tetapi waktu itu pengaruh Kun-lunpay di dalam Bu-lim amat suram dan lemah sudah tentu tak seorangpun jagoan kangouw yang sebelah matapun terhadap partai besar tersebut dan dengan sendirinya kepandaian silat yang aku milikipun tidak tinggi “

Berbicara sampai disini dia tertawa geli sendiri, setelah menghembuskan napas panjang kembali sambungnya, “Aku sendiri sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada siapapun juga karena itu disebut orang sebagai si manusia tunggal dari Bu-lim, tetapi diantara para jago-jago kangouw itu hanya kakekmu seorang saja yang memahami dan mengerti akan perasaan hatiku, karena itu kami lantas mengikat satu persahabatan yang akrab”

Dalam hati Koan Ing merasa semakin keheranan, selamanya dia tidak pernah mendengar jikalau kakeknya kenal dengan Jien Wong, bahkan ayahnyapun tak mengerti akan urusan ini, kalau tidak dengan melalui peristiwa yang mengerikan ini cerita itu tidak bakal terdengar olehnya”

“Kau tentu merasa keheranan bukan?” seru Jien Wong sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat, “Padahal yang sebenarnya aku serta kakekmu cuma bertemu sebanyak tiga kali, percakapanpun terbatas pada ratusan patah kata, tetapi kau harus tahu persahabatan lelaki sejati tawar laksana air, nah. , inilah yang dimaksudkan.” Dengan termangu-mangu dan mulut bungkam Koan Ing memandang ke arah si orang aneh itu, dia tidak menyangka kalau urusan sebenarnya adalah begitu

“Akhirnya karena aku orang tidak kuat menahan sikap sombong dan Congkak dari orang-orang

kangouw, dalam keadaan gusar lantas meninggalkan daerah Tionggoan, siapa tahu secara kebetulan itulah aku menemukan kereta berdarah tersebut.”

Berbicara sampai disini alisnya melentik biji matanya berputar, agaknya dia merasa amat bangga sekali,

“Selama tiga tahun lamanya aku berlatih tekun,” sambungnya lagi, “Sewaktu aku kembali munculkan diri di dalam dunia kangouw banyak jago yang iri dan timbul rasa rakus untuk merebut kereta berdarahku ini hee.... heee....

barang siapa saja yang punya maksud begitu tanpa ampun lagi, tentu mati ditanganmu inilah yang dikatakan sebagai rasa iri dan rakus muncul dihati, berbagai ingatan berkumpul di dalam benak seperti yang diucapkan oleh ciangbunjien angkatan pertama partai Hiat-ho-pay, maka itu sekalipun aku bunuh habis mereka yang ingin merebut kereta berdarah ku ini dalam hati aku sama sekali tidak merasa menyesal “

“Hmmm siapakah sebenarnya ciangbunjien angkatan pertama dari partai Hiat-ho-pay ini? Sungguh dahsyat nafsu membunuhnya.”

“Kau merasa heran bukan?” seru Jien Wong tertawa. “Padahal yang menjadi ciangbunjien angkatan pertama dari partai Hiat-ho-pay ini bukan lain adalah suheng dari ciangbunjien angkatan ketiga puluh lima partai Siauw-lim-pay, Pek Hong Thaysu adanya. karena di dalam partai Siauw-lim dia diasingkan maka di dalam keadaan gusar dia lantas menyelidiki dan berlatih ilmu silat dari seluruh kolong langit untuk kemudian mendirikan partai Hiat-ho-pay “ Bicara sampai disini dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu sambungnya, “Tetapi mereka tetap ngotot mengadakan pengejaran, sudah mati satu rombongan kembali muncul satu rombongan yang lain, terang-terangan kedatangan mereka disebabkan karena kereta berdarah tetapi dimulutnya mereka memakai alasan hendak melenyapkan bibit bencana dari Bu-lim, Hm sungguh kurangajar sekali, Tetapi dengan kepandaian silat yang aku miliki setiap kali kereta berdarah lewat disanalah terjadi banjir darah, akhirnya aku lari ke daerah Tibet untuk menyingkir, sebetulnya di Tibet ini aku mempunyai perjanjian dengan ciangbunjien dari kuil Han-poh- si itu, bilamana dia bisa bantu aku menahan serbuan orang- orang Tionggoan dan bisa mengalah aku dengan mengandalkan orang-orang Tibet maka kereta berdarah ini harus kuhadiahkan kepadanya.”

Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi sadar kembali. “Oouw kiranya begitu,” pikirnya, “Tidak aneh kalau Hud Ing

Thaysu suruh aku jauh menyingkir kegurun pasir, kiranya dia

bermaksud hendak mendapatkan kereta berdarah itu sendiri “,

Terdengar Jien Wong tertawa terbahak^, kembali dengan amat kerasnya,

“Haa,.... haaa.... selama perjalanan ku menuju ke daerah Tibet para jagoBu-lim yang mati ditanganku ada ratusan orang banyaknya. ada orang yang bermaksud merebut dengan menggunakan akal ada pula yang merebut secarajantan tetapi tak seorangpun yang berhasil memenuhi maksud hatinya

Dia berhenti sebentar lalu tambahnya, “Ketika aku muncul kembali untuk ke tiga kalinya di dalam Bu-lim guna melihat siapa saja yang berani mengganggu aku, siapa tahu

di dalam dunia kangouw sudah muncul “Sian, Khei, Sin, Mo” empat manusia aneh, di dalam pertempuran digunung Hoa-san aku sudah dikalahkan oleh mereka.” Sewaktu berbicara sampai disini Jien Wong termenung sebentar agaknya dia sedang membayangkan kembali pengalamannya tempo hari.

Kurang lebih seperminum teh kemudian baru dia berkata lagi tambil tersenyum.

“Tetapi walaupun begitu aku menaruh rasa kagum  terhadap kepandaian silat mereka berempat, mereka amat dahsyat sekali, cuma saja aku kalah tapi mereka tak mengetahui kalau aku belum mati, menanti sewaktu mereka bergebrak sendiri untuk memperebutkan gelar jago nomor wahid, diam-diam aku naik ke atas kereta dan melarikan diri dari sana,”

“Setelah turun dari gunung Hoa-san mereka tidak berhasil menyandak diriku, sehingga aku berhasil melarikan diri ke daerah Siang Kang dan dengan bantuan kakekmu aku lantas dapat bersembunyi disebuah ruangan rahasia untuk mengobati lukaku”

Koan Ing yang mendengar Jien Wong di dalam kerubutan empat manusia aneh ternyata berhasiljuga melarikan diri dalam hati benar-benar amat tercengang, hal ini merupakan satu peristiwa yang amat mengejutkan hati ^

Tetapi diapun merasa kagum dan memuji kegagahan diri Jien Wong, dia orang walaupun berhasil meloloskan diri dari kematian bukannya merasa mendendam terhadap keempat manusia aneh itu sebaliknya memuji dan mengagumi, dia orang benar-benar berlapang dada dan tidak berpikiran sempit.

Jien Wong termenung sebentar, kemudian melanjutkan kembali kisahnya, “Tetapi akhirnya ada juga yang mengejar datang, mereka berjumlah sepuluh orang, dalam keadaan luka aku pukul rubuh delapan orang dan membinasakan enara orang dengan menggunakan pedang pendek akhirnya cuma tinggal dua orang saja, salah satu diantara meraka adalah Bun Ting-seng anak murid dari si iblis sakti dari lautan timur Ciu Tong” Diam-diam Koan Ing menarik napas panjang....

Jien Wong ini sungguh kejam sekali, di dalam keadaan terluka parah dia masih bisa membinasakan empat belas orang banyaknya,” pikirnya di dalam hati.

“Waktu itu pikiran serta kesadaranku sudah punah, Bun Ting-seng lantas angkat aku sebagai gurunya,” kata Jien Wong lagi. “Hee.... hee cuma sayang dia tidak tahu dimana aku simpan kepandaian silat dari partai Hiat-ho-pay itu.”

Dia berhenti dan tertawa tawar, kemudian tambahnya, “Walaupun seluruh tubuhku terluka, urat syaraf terganggu sukar disembuhkan tetapi di dalam hal ilmu silat aku memperoleh kemajuan yang pesat, seluruh kepandaian silat dari aliran Hiat-ho-pay aku sudah memahaminya seperti memandang jari tanganku sendiri “,

Tempo hari Koan Ing memang pernah mendengar Sang Su- im berkata kalau Jien Wong sudah

menjadi gila, kalau memang benar-benar begitu bagaimana saat ini dia berada dalam keadaan sehat walafiat?

Terdengar Jien Wong menghela napas panjang....

“Heeei.... kemudian ayahmu menerjang masuk tapi mati ditangan Bun Ting-seng dan kaupun menerjang masuk, akhirnya kami melarikan diri ke daerah Tibet dengan menunggang kereta, siapa tahu sewaktu kami tiba di daerah Tibet, Bun Ting-seng bersama muridnya telah lenyap tak berbekas, terpaksa aku seorang diri melanjutkan perjalanan dan bersembunyi di dalam kuil Han Po Si.”

Mendengar Bun Ting-seng tidak ikut masuk deerah ^ibet bahkan Jien Wong sendiripun tidak tahu dia pergi kemana biji mata Koan Ing berputar tiada hentinya, dia merasa rada kecewa.... tapi diapun tidak bisa menyalahkan diri Jien Wong karena waktu itu dia berada dalam keadaan tidak sadar sudah tentu tidak mengetahui pula dengan jelas.

“Akhirnya kuil Han Poo Si terbakar dan aku melarikan diri dari dalam kuil tersebut “sambung Jien Wong sesudah berhenti sebentar. “Tetapi waktu itu juga aku mulai merasa musuh tangguh mulai mengelilingi sekeliling tempat itu, walaupun kesadaranku belum pulih tetapi aku mengetahui kalau di sekitar tempat ada bayangan yang bersembunyi mereka tak ada yang suka munculkan diri secara terang- terangan, aku yang berkepandaian tinggipun tak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka.”

“Apa mungkin kedua belas orang pelindung hukum dari perkumpulan Tiang-gong-pang?” tanya Koan Ing tak terasa tagi,

“Bukan,” jawab Jien Wong sambil gelengkan kepalanya. “Selama ini aku tidak pernah melihat mereka munculkan dirinya tetapi dengan pengalamanku selama puluhan tahun berkelana di dalam dunia kangouw aku yakin kalau ada orang yang mengawasi aku terus.”

Dalam hati Koan Ing merasa semakin tercengang, tetapi diapun mempunyai satu dugaan kalau di dalam daerah Tibet ini sudah berselimut suatu siasat busuk yang maha besar, terbukti sampai kinipun dia tidak tahu siapakah yang sudah menyamar sebagai Hu Sang Ko dan muncul di daerah Tionggoan.”

Walaupun pikirannya berputar terus tetapi mulutnya tetap membungkam di dalam seribu

bahasa.

Terdengar Jien Wong kembali menghela napas panjang. “Heeei.... beberapa hari yang lalu aku bersembunyi di

dalam gua ini dan mengusir pergi kereta berdarah. Walaupun aku terluka dan terkurung tetapi mereka tak bisa mengapa-apakan diriku pun tidak akan bisa memperoleh kereta berdarah itu.”

Dalam hati Koan Ing merasa tergetar kembali, walaupun Jien Wong berada dalam keadaan tidak sadar pikirannya tetapi dengan kepandaian silatnya yang amat dahsyat dan mengerikan itu siapa yang berani memandang rendah dirinya? Tetapi kiniJiu Wong mengalami kerugian, hal ini membuktikan kalau orang tersebut amat dahsyat sekali,

“Orang-orang itu amat banyak” ujar Jien Wong lagi sambil mengerutkan alisnya, “Dan mereka semua adalah jago-jago lihay dari Bu-lim, selamanya belum pernah aku nenemui rencana yang demikian rapat dan sempurnanya sehingga berhasil mendesak aku masuk ke dalam penjara batu ini.

Dia berpikir sebentar, lalu tambahnya, “Diantara mereka sembilan orang berkerudung, orang yang pertama2 masuk ke dalam penjara batu dan tak berkerudung itu akhirnya kena dibabat wajahnya oleh serangan “Thian Kang Ci” mereka lalu menggusur pergi kereta berdarah tersebut”

Kembali Koan Ing merasa terperanjat, ada begitu banyak jago-jago lihay yang bersembunyi di sekeliling tempat ini, cuma dia tak berhasil menemukan seorangpun, kelihatannya di sekitar tempat ini benar-benar sudah diselimuti oleh nafsu membunuh yang setiap saat bisa berkobar.

“Setelah aku kena didesak masuk ke dalam penjara batu ini orang itu sudah membokong aku satu pukulan lalu mengunci pintu dan melarikan diri, aku yang tak bisa membuka pintu tersebut lantas terkurung di tempat ini, tetapi aku pikir mereka pasti bakal kembali lagi. karena itu aku menunggu terus....

heeei.... siapa sangka akhirnya yang datang adalah kau orang.” Koan Ing mendengarkan seluruh kisah itu dengan termangu-mangu, berbagai soal yang mencurigakan hatinya kini sudah tersapu lenyap.

Kiranya peristiwa yang sungguh- terjadi sejak kereta berdarah memasuki daerah Tibet ini diliputi oleh suatu kemisteriusan, semua peristiwa terjadi karena rencana busuk seseorang, bilamana diantara mereka saling bergebrak lagi ada kemungkinan orang-orang Bu-lim bakal musnah di tempat itu juga.

Jien Wong tertawa pahit dan menghela napas panjang. “Aku salah mengira kau adalah mereka2 itu sehingga telah

menghantam kau sehingga hampir mati, hal ini benar-benar berada di luar dugaanku kiranya orang yang aku hisap darahnya bukan mereka.”

“Ketika aku mengisap darahmu sampai separoh jalan itulah pikiranku jadi sadar kembali,” aku kenal kau adalah Koan Ing dan waktu itu racun yang bercampur di dalam darah ditubuhmupun sudah berhasil aku hisap semua, aku tidak menyangka kalau racun yang mengeram di dalam tubuhmu itu adalah obat yang paling mujarab buatku untuk memulihkan kembali pikiran gila yang aku derita selama dua puluh tahun ini, sekalipun begitu usiaku

tidak panjang lagi, aku hanya bisa hidup beberapa hari saja sedang kau kau sudah terbebas dari bencana.”

Dengan termangu-mangu Koan Ing berdiri mematung disana, racun di dalam darahnya sudah

kena dihisap semua oleh Jien Wong? Dia tidak mengetahui waktu ini harus merasa senang atau sedih, urusan ini terjadi diluar dugaannya.

“Ada kemungkinan inilah nasibku,” ujar Jien Wong lagi sambil tertawa, “Tetapi selama hidupku ini masih ada satu urusan yang membuat aku menyesal yaitu hutang budi terhadap kakekmu serta matinya ayahmu karena aku. hal ini benar-benar membuat aku merasa sangat sedih ”

“Kini aku adalah seorang manusia yang hampir mendekati ajalnya, sebetulnya aku bisa menggunakan ilmu sim hoat tingkat atas “Cuan Kang Lok Ti” untuk menyalurkan tenagaku kepadamu, tetapi aku tidak suka kau berbuat begitu, aku ingin kau berjuang sendiri dan membentuk tenaga sendiri, dengan begitu kau bisa tahu betapa beratnya suatu perjuangan untuk mencapai pada tujuan.”

Di atas kereta berdarah ada termuat ilmu silat dari ciangbunjin angkatan yang terdahulu, sedang di  dalam pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie termuat ilmu silat aliran Hiat- ho-pay, tetapi kepandaian silat itu tidak ada gunanya bagimu, bilamana lama belajar pikiran bisa jadi sinting dan akhirnya gila, terhadap ilmu silat Hiat-ho-pay itu aku mengerti amat jelas, sebelum aku mati akan kuturunkan seluruh kepandaian itu kepadamu.”

Koan Ing jadi tertegun, belum sempat dia bicara Jien Wong sudah tertawa kembali.

“Kesemuanya ini hanyalah dikarenakan kau di sekeliling tempat ini bayangan hitam berkelebat tiada hentinya bilamana kau tidak berkepandaian maka tak mungkin bisa melindungi diri sendiri, apalagi setelah kau berhasil mempelajari ilmu tersebut aku memberi tugas kepadamu untuk memusnahkan kereta berdarah tersebut.”

Dalam hati Koan Ing tahu kalau Jien Wong memerintahkan dia untuk menyelidiki manusia misterius itu dan memusnahkan sekalian orang-orang yang merebutkan kereta berdarah. “Terima kasih cianpwee,” sahutnya kemudian sambil berlutut di atas tanah. “Tidak usah.... tidak usah, walaupun aku berbuat demikian belum Cukup bagiku untuk membalas budi kebaikan kakekmu,” cegah Jien Wong sambil goyangkan tangannya.

Sehabis berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah kitab dan berkata lagi.

“Orang yang menulis kitab pusaka ‘Boe Shia Koei Mie’ ini benar-benar amat lihay hanya sayang dia haoya menulis sepintas lalu dan tidak cukup mendalam, sepuluh tahun kemudian orang ini tentu akan berubah menjadi seorang manusia aneh, kini kau sudah pernah membaca kitab pusaka ‘Boe Shia Koei Mie’ ini berarti pula pekerjaanku hampir sudah selesai separuh, cukup aku memberi pelajaran bagaimana caranya memperdalam isinya maka kau bakal sukses,”

Koan Ing yang melihat kitab pusaka ‘Boe Shia Koei Mie’ nya terjatuh ke tangan Jien Wong dia lantas tahu kalau kitab itu tentunya sudah diambil sewaktu diajatuh tidak sadarkan

diri tadi.

“Selama hidupku ini aku mengutamakan ilmu tabib serta ilmu pedang sebagai andaIan, kesemuanya itu aku susun dalam enam ribu kata, kau harus menghapalnya sehingga masak betul-betul” kata Jien Wong lagi.

Sehabis berkata tangan kanannya lantas menekan jalan darah “Giok Shen Hiat” di belakang otaknya.

Koan Ing hanya merasakan satu hawa segar menusuk ke dalam tubuhnya membuat benaknya jadi tajam,

Waktu itulah terdengar suara yang amat nyaring dari Jien Wong sudah berkumandang masuk ke dalam telinganya.

“Ilmu tabib mengutamakan keahlian, dengan ketajaman otak membuktikan kepalsuan.... ” Setiap perkataan tersebut dengan jelasnya teringat di dalam benaknya Dengan amat sabar dan telitinya Jien Wong mengulangi keenam ribu kata-kata itu sebanyak tiga kali, suaranyapun semakin lama semakin kecil tetapi setiap patah kata yang diucapkan merupakan hal-hal yang penting dalam ilmu ketabiban.

Dengan amat telitinya Koan Ing mengingat2 terus keenam ribu kata itu sehingga kapan Jien Wong berhenti berbisik dia sendiri juga tidak tahu. Ketika pikirannya sadar kembali, tiba- tiba....

“Aah. ” entah sejak kapan Jien Wong sudah menggeletak

di atas tanah tak bernyawa lagi, seluruh tubuhnya kaku dan hangus seperti terbakar,

Lama sekali Koan Ing termangu-mangu disana, tidak disangka Jien Wong sudah mati dengan begitu cepatnya tak

terasa lagi air mata bercucuran membasahi pipinya.

Beberapa saat kemudian mendadak dia teringat akan Sang Siauw-tan, terburu-buru dia bangun sendiri.

Siapa tahu darahnya yang kena dihisap separuh oleh Jien Wong membuat badannya amat lemah, baru saja bangun berdiri dia sudah rubuh kembali ke atas tanah,

Dengan perlahan dia bangun kembali dan berjalan ke  dalam penjara batu itu, tampaklah waktu itu Sang Siauw-tan sedang berbaring disana dengan mata terbuka lebar-lebar,

Sang Siauw-tan yang secara tiba-tiba melihat Koan Ing berjalan masuk dengan amat girangnya lantas meloncat bangun,

“Engko Ing dimanakah manusia aneh itu? Dia tidak memperkenankan aku ke luar”

Sembari berkata dia berjalan mendekat diri pemuda tersebut, “Iiiih.... engkoh Ing, kau kenapa?” tanyanya kemudian sambil menjerit tertahan.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan sembari bertanya butiran air mata mengucur keluar dengan derasnya, dia lantas mengerti kalau parasnya saat ini pasti amat jelek sekali sehingga membuat gadis itu terperanjat dan ketakutan.

“Aku tidak mengapa,” sahutnya kemudian sambil tertawa.

Dengan perlahan Sang Siauw-tan mencekal tangan pemuda itu erat-erat, dalam hati diapun tahu kalau pemuda tersebut tidak ingin dia menaruh rasa kuatir, karenanya setelah termenung sebentar tanyanya, “Dimanakah manusia aneh itu?”

“Dia adalah Jien Wong si manusia tunggal dari Bu-lim, tetapi kini ia telah meninggalkan dunia.” “Mati?” seru Sang Siauw-tan tertegun.

Koan Ing yang melihat gadis itu tidak percaya dia lantas tertawa dan menarik dirinya

keluar dari penjara batu itu dan menunjukkan mayat dari Jien Wong tersebut.

Saking terkejutnya lama sekali Sang Siauw-tan berdiri termangu-mangu disana, sepatah katapun tak diucapkan.

Koan Ing tersenyum, dengan suara yang halus dia lantas menceritakan kisahnya yang baru saja dialaminya itu.

Sang Siauw-tan lantas menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang pemuda, air mata bercucuran dengan derasnya membasahi pipinya. dalam hati dia sendiri tidak mengetahui haruskah dia merasa gembira atau bersedih hati.

Untuk kedua kalinya dia bersama-sama Koan Ing berhasil lolos dari tangan malaikat elmaut

Kini semuanya sudah berlalu, racun yang mengeram di dalam tubuh Koan Ing pun sudah dihisap keluar oleh Jien Wong hal ini berarti juga sejak kini mereka berdua bisa hidup berdampingan hingga tua.

Saking girangnya tak kuasa lagi Sang Siauw-tan menangis semakin keras....

“Siauw-tan,” ujar Koan Ing perlahan sambil membelai rambutnya yang panjang itu. “Sekarang kita bisa berkumpul lagi untuk selamanya, aku tidak akan meninggalkan dirimu....


Berbicara sampai disini mendadak teringat olehnya ajakan Sak Huan si toojien berbaju hijau itu, agaknya dia tahu kalau Jien Wong ada disini sehingga sengaja melepaskan mereka berdua masuk kemari.

Bahkan diapun tahu kalau Jien Wong tak akan membinasakan orang perempuan.

Pikiran tersebut dengan amat cepatnya berkelebat di dalam benaknya, apa mungkin Sak Huan mempunyai sangkut paut dengan orang yang membokong diri Jien Wong?

Semakin dipikir dia merasa semakin curiga. tetapi

sekarang luka parahnya belum sembuh, teringat akan lukanya yang baru bisa sembuh tujuh hari kemudian dia lantas menghela napas panjang.

Dia tahu Sak Huan tentu lagi menanti di tempat luaran, karenanya sambil memeluk tubuh Sang Siauw-tan ujarnya, “Siauw-tan aku hendak menyembuhkan lukaku dulu, di dalam tujuh hari ini tak boleh ada orang yang mengganggu, Coba kau berjagalah buat keselamatanku kau suka bukan?”

Dengan perlahan Sang Siauw-tan mengangguk, diapun tahu kalau Sak Huan masih ada di depan, dia belum tahu Jien Wong sudah mati karena itu tidak berani menerjang masuk.

Kini Koan Ing masih terluka, bilamana dia sampai tiba disana bukankah urusan bakal runyam? Lain halnya bilamana luka Koan Ing sudah sembuh, waktu itu mereka tidak takut lagi terhadap toosu muda itu,

Pemuda itu lantas mencari satu pojokan dinding dan mulai duduk bersila menghadap ke arah dalam.

Hanya di dalam sekejap saja tujuh hari sudah berlalu dengan cepatnya, Sang Siauw-tan pun sudah lega hatinya

Mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat datang, gadis itu segera merasakan hatinya terperanjat tubuhnya buru-buru berkelebat menyingkir kesamping.

Kembali terdengar suara dengusan dingin berkumandang datang, Sang Siauw-tan semakin kaget lagi.

“Bukankah suara dengusan ini berasal dari suara Sak Huan?” pikirnya.

Tidak disangka Toosu bangsat yang tidak tahu malu ini masih belum meninggalkan tempat ini”

Bilamana dia sampai menerjang masuk ke dalam apa yang harus diperbuat?

Sak Huan inipun sungguh bernyali, dia ternyata berani menerjang masuk ke dalam apakah

dia orang tidak takut munculnya Jien Wong?

Sak Huan yang ada diluar sengaja berjalan bolak-balik dengan memberatkan langkahnya selama seperminum teh lamanya, tetapi dia tidak juga masuk kedalam,

Dengan termangu-mangu Sang Siauw-tan bersembunyi dipojokan dinding, dia tahu Sak Huan tentu merasa keheranan karena dirinya berdua sesudah masuk ke dalam tidak pernah keluar lagi.... bilamana Koan Ing sudah mati ditangan Jien Wong, seharusnya dirinya melarikan diri keluar dari sana....

tapi mereka berdua tak ada yang keluar.... Sinar mata Sang Siauw-tan berputar2, mendadak dia meloncat dan bersembunyi dibalik mayat Jien Wong.

Baru saja dia bersembunyi terdengarlah Sak Huan mendengus dingin dan munculkan dirinya disana.

Sinar mata toosu muda itu segera menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu lalu berdiri melengak.

Tampaklah olehnya tubuh Koan Ing menggeletak dipojokkan tembok dengan melingkar, keadaannya mirip seperti sudah mati.

Sebaliknya Jien Wong duduk ditengah, keadaannyapun mirip sudah mati tapi mirip juga sedang tidur.

Lama sekali dia berdiri termangu-mangu, di manakah Sang Siauw-tan? Apakah dia berada dalam ruangan batu itu?

Bagaimana dahsyatnya kepandaian silat yang dimiliki Jien Wong diapun tahu dalam hati ia mengerti bilamana secara gegabah dirinya maju ke depan maka tidak bakal bisa lolos dari cengkeramannya.

Berpikir akan hal itu hatinya merasa bergidik, Koan Ing masih hidup? Atau sudah mati?jaraknya amat jauh membuat toosu muda ini tak bisa melihat lebih jelas,

Dengan perlahan Sak Huan mencabut keluar pedangnya, sekalipun Koan Ing belum mati diapun tidak akan takut sebaliknya Jien Wong, cukup dia masih bernapas sudah membuat hatinya merasa jeri,

Selangkah demi selangkah tubuhnya mulai bergerak mendesak ke arah diri Jien Wong.

Setibanya di depan tubuh si manusia tunggal dari Bu-lim dia melihat orang itu masih tak bergerak sedikitpun, pedangnya lantas disentuhkan ke atas badannya sebentar, akhirnya sambil menghembuskan napas lega dia melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah diri Koan Ing. Sang Siauw-tan yang bersembunyi dibalik mayat Jien Wong sama sekali tidak berani bernapas, mendadak tubuhnya meloncat ke depan sedang tangan kanannya berturut-turut melancarkan tujuh buah sentilan mengancam tubuh Sak Huan.

Sak Huan yang secara tiba-tiba diserang dalam hati merasa amat terperanjat tubuhnya baru saja berputar ketujuh buah seranganjari itu sudah mendekati tubuhnya membuat dia orang merasa berdesir,

Dalam hati Sak Huan tahu kalau serangan jari ini menggunakan ilmu sakti “Hun Yang Ci” yang amat dahsyat itu.

Walaupun dia sendiri memiliki kepandaian silat yang amat tinggi tetapi terhadap kepandaian silat yang amat dahsyat ini tidak berani memandang terlalu enteng.

Di tengah suara bentakan yang amat nyaring Sak Huan melayang mundur ke belakang sedang

pedangnya dengan santar membabat ke arah depan. “Criiing....!” dengan menimbulkan suara yang amat nyaring

ujung pedang di tangannya sudah kena disambarputus oleh

serangan tersebut, dengan wajah penuh keringat dingin tubuhnya terburu-buru meloncat mundur semakin jauh lagi.

Sang Siauw-tan yang melancarkan dengan sepenuh tenaga tadi sewaktu melihat ketujuh buah sentilannya tidak mencapai pada sasarannya hawa murni di dalam tubuhnya sudah bergolak, maksudnya dia hendak melakukan pengejaran tetapi tenaganya tidak memadai membuat dia orang terpaksa berdiri termangu-mangu.

Dengan pandangan yang amat dingin dia memandang ke arah Sak Huan, dalam hati terasa amat murung sekali, dia takut Sak Huan melancarkan serangan kembali ke arahnya....

Dengan pandangan yang amat girang Sak Huan si toosu muda itu memperhatikan terus diri Sang Siauw-tan, sekalipun begitu hatinya rada jeri juga atas kedahsyatan dari ilmu jari “Han Yang Ci” yang baru saja diperlihatkan oleh gadis tersebut. “He.... hee kelihatannya Koan Ing masih hidup bukan?” serunya sambil tertawa dingin.

Sang Siauw-tan tidak berani membuka mulut, dia takut bilamana dirinya berbicara maka

Sak Huan bisa mendengar kalau tenaga murninya sudah buyar, karena itu dengan tenangnya dia mengatur pernapasan mengembalikan hawa murni yang sudah buyar.

Sak Huan tersenyum, dia sadar bilamana saat ini Koan Ing tidak luka terpaksa dia harus mengundurkan diri dari sana.

Tetapi jika ditinjau dari keadaan pemuda itu ada kemungkinan dia sudah terluka parah dan kemungkinan juga dia lagi menipu dirinya, bilamana Koan Ing benar-benar melancarkan serangan dia dengan ilmu pedang “Thian-yu Khei Kiam” nya bukan suatu ilmu sembarangan.

“Ha. haa kini Jien Wong mati tapi kalian tidak cedera, hal

ini sungguh suatu pemandangan yang aneh sekali!” serunya sambil tertawa.

Sehabis berkata dia memandang kembali ke arah Sang Siauw-tan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, pedang sudah putus dilemparkan ke atas tanah sedang tubuhnya mulai bergerak mendekati diri Koan Ing.

“Kau berani?” teriak Sang Siauw-tan cemas.

Sak Huan yang mendengar gadis itu buka mulut hatinya jadi paham kembali, waktu itulah dia baru tahu kalau gadis tersebut tidak melanjutkan pengejarannya karena tenaga murni di dalam tubuhnya sudah buyar.

Di tengah suara tertawanya yang amat keras itulah tubuhnya sudah berkelebat menubruk ke arah diri Koan Ing. Sang Siauw-tan jadi amat cemas, di tengah suara bentakan yang amat nyaring tubuhnya pun ikut menerjang ke arah toosu muda itu,

Dengan gesitnya Sak Huan berhasil mencengkeram pundak pemuda itu kemudian putar badannya membentak.

“Berhenti kau sudah tidak maui nyawa Koan Ing?”

Sang Siauw-tan segera merasakan hatinya tergetar amat keras, tubuhnyapun dengan sendirinya berhenti bergerak.

Dengan seramnya toosu muda itu tertawa dingin kemudian memandang sekejap ke arah

diri Koan Ing.

Waktu itu Koan Ing sedang berusaha menyembuhkan lukanya sehingga terhadap apa yang sudah terjadi di tempat luaran dia sama sekali tidak tahu.

ak Huan agak melengak, dia merasa heran apa yang sedang dikerjakan Koan Ing. bagaimana mungkin dia tidak bangun juga.

Tangan kanannya segera ditempelkan pada pundak pemuda itu, terasalah jantungnya masih berdenyut yang berarti pula Koan Ing masih hidup. Tapi kenapa dia  tidak sadar juga? Sungguh aneh sekali urusan ini

Dengan perlahan matanya beralih ke arah Sang Siauw-tan lalu ejeknya dengan suara sinis. “Bilamana aku membunuh dirinya, kau hendak berbuat apa?” Sang Siauw-tan segera merasakan hatinya bergidik.

“Bilamana kau berani berbuat begitu aku akan suruh kau orang mati disini juga tanpa tempat untuk mengubur dirimu!” serunya dingin.

Walaupun begitu dalam hati dia merasa amat sedih sekali, baru saja dia bersama Koan Ing lolos dari bahaya, tidak disangka kini kembali pemuda tersebut jatuh ditangan pihak musuh.

Tak kuasa lagi titik-titik air mata mengucur keluar dengan derasnya.

“Hey Siauw-tan!” seru Sak Huan kembali sambil memandang gadis itu termangu-mangu. “Bilamana kau suka kawin denganku, maka pemuda ini akan aku lepaskan.”

Sejak semula Sang Siauw-tan sudah mengetahui kalau toosu muda itu bermaksud demikian, dia lantas mendengus dingin, “Tidak mungkin!”

Sak Huan jadi melengak, jawaban dari Sang Siauw-tan ini amat kukuh membuat dia jadi melengak, urusan ini benar- benar berada diluar dugaannya.

Apakah Sang Siauw-tan benar-benar sudah tidak ingini lagi nyawa dari Koan Ing? hal itu tidak mungkin

“Kalau begitu aku mau melepaskan dia atau bunuh mati dia adalah sama saja?” ujarnya sambil tertawa.

Dengan dinginnya Sang Siauw-tan mengerutkan alisnya, tak sepatah katapun yang diucapkan.

Dengan termangu-mangu Sak Huan memandang ke arah gadis itu, lama sekali baru ujarnya, “Kau begitu cantiknya, perduli bagaimanapun aku harus mendapatkan dirimu, apa yang bakal terjadi aku tidak perduli bilamana ada orang yang berani menghalangi maksudku maka akan kubunuh orang itu, termasuk Koan Ing.”

Ooo)*(ooO

Bab 31

MENDENGAR perkataan itu, Sang Siauw-tan segera merasakan hatinya tergetar amat keras, dia tahu tindakan Sak Huan amat kejam sekali, apa yang diucapkan olehnya ada kemungkinan bisa dilaksanakan, Sak Huan yang melihat gadis itu masih juga tidak memperlihatkan reaksi apa-apa, dia lantas mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Walaupun aku bunuh diri Koan Ing, aku tahu kau akan tidak suka kawin dengan diriku,” ujarnya dengan dingin. “Tetapi bilamana aku tidak bunuh dirinya kaupun tak ada harapan buat kawin dengan dia orang. setelah dia mati kau harus kembali kepuncak Su Li Hong.”

“Hmm cuma sayang dia tidak bakal mati lagi,” sahut gadis tersebut dengan nada yang amat dingin.

Mendengar perkataan tersebut Sak Huan jadi amat terperanjat, Koan Ing tidak bakal mati? Kalau begitu jikalau dia tidak membinasakan pemuda itu mereka tentu akan kawin dan hidup bersama-sama.

Suatu ingatan buruk berkelebat di dalam benaknya, dengan perlahan telapak tangannya siap diangkat....

“Tahan!” mendadak terdengar suara yang amat dingin dan berat berkumandang datang.

Sang Siauw-tan jadi terperanjat, ketika dia menoleh ke belakang tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan yang berbaju hijau sudah berdiri beberapa kaki di belakang tubuhnya.

Orang itu bukan lain adalah Si Jari sakti Sang Su-im, ayahnya

“Tia.... ” saking girangnya tak tertahan lagi gadis itu menjerit sambil menangis dan menubruk ke dalam pelukan ayahnya.

“Siauw-tan kini kau sudah besar, jangan menangis lagi,” hibur ayahnya sambil merangkul anaknya. “Aku dengar setelah kalian turun dari puncak Su Li Hong lantas masuk ke daerah Tibet lagi, aku dengar dari paman Hoo mu kalian sudah amat lama sekali masuk ke dalam gua ini maka itu aku sengaja datang kemari.“

Sak Huan yang melibat munculnya Sang Su-im disana dia jadi melengak dibuatnya, nama si jari sakti sudah lama dia dengar apalagi ilmu jari “Han Yang Ci” nya yang amat sakti itu,

Teringat akan ilmu jari “Han Yang Ci” hatinya terasa jadi bergidik.

Bilamana dia masih berani melanjutkan maksudnya untuk membinasakan Koan Ing di tempat itu maka dia sendiripun bakal menemui ajalnya disini, Dan untuk menghadapi Sang Su-im baginya kini masih terlalu pagi.

Berbagai ingatan dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya, tak terasa lagi sambil bungkukan kepalanya dia berseru, “Sak Huan menghunjuk hormat buat cianpwee.”

Sang Su-im memandang sekejap ke arah Sak Huan lalu mendengus dengan dinginnya. dia sebagai pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah tentu kenaljuga dengan murid kesayangan ciangbunjien dari Bu-tong-pay ini,

“Lepaskan Koan Ing” perintahnya kemudian dengan dingin sambil memperhatikan diri Sak Huan beberapa saat Iamanya, Biji mata tosu muda itu tampak berputar^, dia yang tidak mengerti apa yang hendak dilakukan Sang Su-im terhadap dirinya sudah tentu tidak suka melepaskan Koan Ing dengan begitu saja,

“Nama besar dari Sang cianpwee sudah lama boanpwee dengar di dalam Bu-lim. kali ini Cianpwee muncul kembali dari daerah Tibet biarlah aku mewakili suhu menghunjuk hormat, suhuku kini sudah jauh berada digunung Kun-lu-san,” katanya.

Sang Su-im yang melihat dia orang tidak suka melepaskan Koan Ing kembali mendengus dengan dinginnya. “Cepat lepaskan diri Koan Ing, aku kasi satu jalan hidup bagi dirimu untuk

mengundurkan diri dari sini.”

Justru Sak Huan tidak mau lepaskan diri pemuda itu karena Sang Su-im belum mengucapkan kata-kata ini, ketika didengarnya orang tua itu sudah setuju untuk melepaskan dirinya diapun lantas meletakkan Koan Ing ke atas tanah.

“Terima kasih cianpwee!” serunya. Sehabis berkata dia lalu putar tubuh dan berjalan

keluar.

Mendadak Koan Ing membuka matanya, waktu tujuh hari baginya sudah lewat yang berarti pula lukanya sudah sembuh benar-benar ketika dilihatnya Sak Huan hendak berlalu dari sana tubuhnya segera berkelebat menghalangi perjalanannya

Sang Su-im yang melihat kepandaian silat pemuda itu memperoleh kemajuan lagi, dalam

hati semakin keheranan....

“Kepandaiannya begitu tinggi, bagaimana mungkin dia orang bisa ditawan oleh Sak Huan si Toosu itu?” pikirnya.

“Hian-tit!” serunya kemudian. “Aku sudah menyanggupi untuk lepaskan dia orang, kau jangan menghalangi perjalanannya lagi”

Terhadap apa yang terjadi baru-baru ini Koan Ing sama sekali tidak tahu, karena itu dia lantas menyahut, Empek Sang, siauw-tit mau menanyai satu urusan dari dirinya.”

Dia lantas menoleh ke arah Toosu rnuda itu dan serunya, “Siapa yang sudah membinasakan si manusia tunggal dari Bu- lim ini?”

“Siapa itu si manusia tunggal dari Bu-lim?” teriak Sak Huan melengak. “Aku cuma tahu di dalam gua ini ada seorang gila yang memiliki kepandaian silat amat tinggi, tetapi aku tidak tahu kalau dia adalah si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong adanya.”

Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang tajam wajah toosu muda itu, dalam hati dia merasa rada tidak percaya terhadap perkataannya itu tapi Sang Su-im sudah menyanggupi terlebih dahulu. dia tidak mau memaksa Sang Su-im harus melanggarjanji.

Karenanya dia lantas menyingkir ke samping memberi jalan buat Sak Han sitoosu itu untuk berlalu.

Sang Siauw-tan yang begitu melihat luka Koan Ing sudah sembuh benar-benar dengan amat girangnya lantas menubruk ke depan.

Koan Ing sendiripun sudah tahu kalau nyawanya baru saja ditolong oleh Sang Su-im, karena itu sambil membelai rambut gadis itu tanyanya, “Siauw-tan, dimanakah ayahmu?”

“Haa.... haa Siauw-tan, sekarang kau tidak maui ayahmu lagi, aku akan merasa cemburu!” seru Sang Su-im tiba-tiba sambil tertawa terbahak2.

Sang Siauw-tan menoleh dan tertawa, diapun lantas menceritakan kisahnya bagaimana Koan Ing naik ke gunung Su Li Hong dan hingga bertemu dengan Jien Wong.

Sang Su-im termenung sebentar, akhirnya sambil memandang ke arah mayat si manusia

tunggal dia menghela napas. “Tidsk kusangka di dalam urusan ini sudah terjadi perubahan yang amat besar, kini Jien Wong dibunuh orang hal ini menunjukkan kalau rencana manusia misterius itu tidak kecil, sedang jejak Yuan Si Tootiang pun sangat mencurigakan, tetapi aku rasa kedua orang itu tidak mungkin suka bersekongkol dengan orang lain hanya dikarenakan kereta berdarah itu saja, bagaimanapun mereka adalah orang-orang Bu-lim dari kalangan lurus, perbuatannya tidak akan keterlaluan sehingga mempengaruhi nama baik Bu-tong-pay di dalam dunia kangouw.”

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar untuk kemudian tambahnya, “Tetapi aku yakin dibalik kesemuanya ini pasti ada otak yang memimpin peristiwa ini, cuma saja tidak tahu siapakah orang itu?”

Mendadak dia tertawa dan serunya, “Ttdak perduli apa yang sudah terjadi asalkan kalian berdua kini berada di dalam keadaan sehat-sehat saja hal ini sudah cukup membuat aku orang tua merasa amat gembira.”

Sang Siauw-tan yang melihat ayahnya amat girang diapun lantas tertawa.

“Tia, Jien Wong sudah memerintahkan engkoh Ing untuk pergi memusnahkan kereta berdarah sedang paman Cha sekalian sudah berangkat ke gunung Kun lun san, kini kita harus berbuat bagaimana?”

Biji mata Sang Su-im berputar-putar, dia termenung sebentar lalu baru menjawab, “Tujuh hari kita sudah tak bakal bisa menyusul mereka, kini Yuan Si Tootiang bilang kereta berdarah sudah pergi ke arah barat daya tetapi orang-orang perkumpulan Tiang-gong-pang yang aku kirim tak seorangpun yang berhasil menemukanjejak kereta berdarah tersebut.”

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dalam hatinya kembali berkelebat satu pertanyaan yang membuat hatinya bertambah curiga. Yuan Si Tootiang tidak ada alasannya uatuk menipu orang-orang itu. bilamana kereta berdarah sungguh- sungguh tidak menuyu ke arah barat daya lalu apa maksud Yuan Si Tootiang menipu mereka?

Yuan Si Tootiang adalah ciangbunjin dari partai Bu-tong- pay, dia orang tidak mungkin sengaja memancing orang-orang itu meninggalkan daerah Tibet untuk mengejar kereta berdarah sedang dia sendiri tinggal di daerah Tibet mengadakan pencaharian. Apalagi dia sendiripun berangkatnya bersama dengan Thian Siang Thaysu sekalian, tak mungkin Tootiang ini mempunyai ilmu untuk membelah diri menjadi dua

Berbagai pikiran yang mencurigakan berkelebat di dalam benaknya, dia merasa gerakan

serta tindakan dari Yuan Si Tootiang kali ini merupakan suatu persoalan yang amat mencurigakan.

Tiba-tiba terdengar Sang Su-im tertawa.

“Apakan benar-benar kereta berdarah menuju ke arah barat daya? Sedang anak murid dari perkumpulan Tiang-gong- pang tak ada seorangpun yang mengetahui? Ada  kemungkinan juga anak murid Bu-tong-pay yang menemukan sehingga Yuan Si Tootiang tahu.”

“Empek Sang lalu tahukah kau orang kenapa Yuan Si Tootiang begitu terlambat baru munculkan diri di daerah Tibet?” tanya Koan Ing tiba-tiba setelah berpikir sebentar.

“Kau merasa heran akupun merasa heran,” kata Sang Su- im sambil mengerutkan alisnya. “Sewaktu Thian Siang si hweesio tua itu meninggalkan kuil Siauw-lim menuju ke daerah Tibet anak murid dari perkumpulan Tiang-gong-pang kita pada tahu tetapi munculnya Yuan Si Toosiang terlalu mendadak bahkan cuma membawa seorang murid saja, hal ini sangat aneh dan mengherankan sekali.”

Sehabis berkata dia termenung sebentar dan tambahnya. “Apa kau menaruh rasa curiga kalau dia orang punya

maksud tertentu terhadap kereta berdarah itu?”

“Aku cuma merasa kalau tindak tanduk dari Yuan Si Tootiang sangat misterius sekali, kedahsyatan dari ilmu silatnya ada kemungkinan jauh di atas empek Sang sendiri.”

Sang Su-im hanya tersenyum saja dan tidak jadi marah oleh perkataan dari pemuda tersebut, rasa Congkak yang melipu ti hatinya kini sudah sirap separuh oleh kejadian tempo hari sewaktu berada dalam daerah Tibet.

Walaupun begitu selama ini dia masih selalu mengira kalau tenaga dalam dari tiga manusia genah, empat manusia aneh berada seimbang, tetapi jurus serangan serta pengalaman bertempur dari empat manusia aneh kini jauh lebih lihay daripada tiga manusia

genah.

Apalagi selama dua puluh tahun ini mereka pada berlatih terus, sudah tentu dia

merasa tidak percaya bilamana dikatakan kepandaian serta tenaga dalam Yuan Si Tootiang jauh berada diatasnya.

Sang Su-im termenung sebentar lalu ajaknya: ^

“Mari kitapun segera berangkat kegu-nung Kun”“lunpay untuk melihat keramaian.”

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk- saat ini dia harus cepat-cepat mengejarjejak kereta berdaiah itu sudah tentu kalau diapun harus berangkat pula ke gunung Kun-lunsan.

Apalagi ada bantuan dari Sang Su-im sebagai pangcu suatu perkumpulan besar, hal ini benar-benar amat menguntungkan bagi dirinya.

Dengan cepatnya mereka bertiga keluar dari gua itu, dari dalam sakunya Sang Su-im lalu mengambil keluar seekor burung dara dan ujarnya sambil tertawa, “Kini seluruh kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah bergeser ke Tibet, dengan adanya perintahku ini maka seluruh anak buah Tiang Gong ^ang akan tersebar disepanjang jalan menuju ke gunung Kun-lunsan, gerak-gerik para jagoBu-lim yang bagaimana lihaypunjangan harap bisa lolos dari pengawasanku”, Sehabis berkata dia tertawa dengan bangganya, Koan Ingpun tahu bagaimana luasnya pengaruh dari Tiang- gong-pang tetapi Sang Su-im

yang tidak suka akan penonjolan pengaruh tidak pernah secara terang-terangan menyebarkan anak buahnya di depan umum,

Kini secara tiba-tiba dia bermaksud untuk menyebarkan anak buahnya secara terang-terang an, jelas sudah kalau  Sang Su-im bermaksud untuk memperlihatkan pengaruhnya,

Baru saja mereka bertiga mendekati sebuah kota kecil mendadak dan depan muncul berpuluh-puluh orang berbaju putih dengan dipimpin oleh Hoo Lieh.

Melihat hal itu Koan Ing jadi amat gembira, dia tidak menyangka kalau anak murid dari Tiang-gong-pang sudah menyamar masuk ke Tibet, dan kini setelah penyamaran dilepaskan maka di seluruh Tibet semuanya hanya anak murid dari perkumpulan Tiang-gong-pang yang berkeliaran dimana2.

Dengan cepat Hoo Lieh menyongsong diri Sang Su-im lalu bungkukkan badannya menjura. “Tecu Hoo Lieh menghunjuk hormat buat pangcu!” serunya.

“Tidak usah banyak adat, apakah semuanya sudah siap?” seru Sang Su-im sambil mengulapkan tangannya.

“Kereta buatpangcu sudah dipersiapkan kedua belas orang pelindung hukumpun segera akan tiba, sedang anak buah yang di sebar di sekeliling kun-lun-san baik yang bersembunyi maupun yang terang-terangan sedang diatur, di dalam tiga hari kemudian semuanya akan sudah siap, sedang Cha Thay- hiap sekalian kemarin sudah kirim burung dara yang mengabarkan bahwa mereka sudah tiba digunung Ku^lun san”

Dengan perlahan Sang Su-im mengangguk sebaliknya Koan Ing merasa amat terperanjat, kiranya anak murid dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah membuntuti terus diri Thian

Siang Thaysu sekalian bahkan seluruh gerak-gerik mereka selama di perjalanan pun diketahuinya dengan amat jelasnya,

Mereka bertiga masuk kesebuah rumah penginapan dan beristirahat semalam, untuk kemudian hari kedua berangkat kembali ke gunung Kun^lun-san,

Sang Su-im serta Koan Ing masing-masing menunggang seekor kuda sebaliknya Sang Siauw-tan

duduk di dalam kereta itu.

Berturut-turut beberepa hari sudah lewat dengan cepatnya sedang mereka sudah tiba digunung Kun^lun-san, selama beberapa hari inijejak dari Thian Siang Thaysu sekalian agaknya sudah lenyap tak berbekas, sedang anak murid dari Tiong Gong Pang yang tersebar digunung Ku.^Iun sanpun lenyap tak berbekas.

Dalan hati Koan Ing serta Sang Su-im penuh diselimuti oleh rasa heran dan curiga yang memberatkan hatinya.

Seluruh jago-jago dari perkumpulan Tiang-gong-pang sudah dikerahkan keluar semua tetapi hingga saat ini tidak nampak jejak maupun beritanya.

Dengan perlahan Sang Su-im dongakan kepalanya memandang ke arah gunung Kun lun-san yang tinggi dan amat curam itu, dia tidak menyangka kalau perkumpulan Tiang-gong-pang kali ini bakal menemui bencana yang begitu besar, jika benar-benar terjadi maka Yuan Si Tootiang tentu mengajak para jago itu mendatangi tempat jebakan yang sudah diatur oleh manusia misterius dibalik layar itu,

Dia tahu pihak lawan tentu sudah menyebarkan seluruh mata-matanya di daerah Tibet mereka ada maksud tertentu sudah tentu pula segala gerak-gerik dari anak buah pun kena diawasi mereka sejak semula.

Baru saja dia orang berpikir sampai di situ mendadak dari balik gunung terbang mendatang seekor burung merpati yang dengan sekuat tenaga mengibas2kan sayapnya.

Sang Su-im merasakan hatinya tergetar amat keras, bukankah burung ini adalah burung dara dari perkumpulan Tiang-gong-pang?

Seekor burung dara yang terluka terbang mendatang dengan membawa berita dari Kun lun san!

Semua orang merasakan semangatnya berkobar kembali, temani pula anak buah Tiang-gong-pang sudah mengepung gunung Kun-lun-san rapat-rapat.

Baru saja burung dara itu melayang da tang mendadak sebuah anak panah dengan cepatnya menyambar ke atas tepat menghajar di atas badan burung dara tersebut,

Sang Su-im kontan merasa hatinya tergetar, dia tidak menyangka kalau ada orang yang begitu bernyali mencari gara-gara dengan dirinya yang telah mempunyai nama besar didadalam Bu-lim ini, tangannya segera di ulapkan sedang kedua belas orang pelindung hukum yang ada dibelakangnya segera memencar ke samping dan lari ke atas,

Kembali tampaklah sebatang anak panah yang disertai dengan suara desiran nyaring melesat ke tengah udara....

“Empek Sang, biar aku pergi memeriksa!” seru Koan Ing dengan hati terperanjat.

Sang So Im ragu-ragu sebentar, akhirnya dia mengangguk. “Tia akupun ikut pergi!” seru Sang Siauw-tan pula dari

samping.

Sehabis berkata dia meleset ke tengah udara dan melayang ke atas kuda Koan Ing. Koan Ing ragu sejenak, lalu dia menoleh untuk minta persetujuan, dengan perlahan Sang Su-im mengangguk, Koan Ing segera menjepit perut kudanya dan melarikan tunggangannya ke arah puncak gunung.

Sebaliknya kedua belas pelindung hukum itu dengan menyebar dari kedua belah sayap kanan dan kiri mengepung ke arah di mana burung merpati itu jatuh.

Setibanya di bawah gunung Koan Ing lantas menarik tubuh Sang Siauw-tan melesat ke atas meninggalkan pelana kuda dan melayang ke arah dimana burung dara itu menggeletak.

Bersamaan itu tampaklah bayangan putih berkelebat tiada hentinya sehingga sekeliling hutan tersebut sudah terkepung rapat-rapat oleh kedua belas pelindung hukum dari perkumpulan Tiang-gong-pang itu. ^

Dengan cepatnya Koan Ing berlari ke depan, dia menyapu sekejap dulu ke arah sekeliling tempat itu, Dan tampaklah burung dara itu menggeletak diantara ranting2 pohon sedang suasana saat itu amat sunyi senyap.

“Siauw-tan kau berjaga2lah di bawah melindungi aku!” serunya kemudian kepada gadis tersebut.

Sehabis berkata dia berkelebat dan melayang ke atas pohon.

Siapa tahu baru saja tangan pemuda itu mencekal burung dara tersebut terdengarlah Sang Siauw-tan yang ada di bawah pohon sudah berteriak kaget, “Awas!”

Segulung bau amis yang menusuk hidung menyambar datang, Koan Ing jadi terperanjat

tubuhnya dengan cepat membalik dan melayang ke arah batang pohon yang lain

Ketika menoleh kembali ke belakang hatinya semakin terkejut lagi, kiranya seekor macan kumbang dengan seramnya lagi mengawasi dirinya, sedang tubuhnya siap-siap menerkam ke arah bawah.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, tubuhnya berdiri tegak sedikitpun tidak bergerak sedang matanya mengawasi binatang buas itu tak berkedip.

Mendadak macan tutul itu mengaum lalu meloncat ke atas pohon yang lain dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Melihat binatang itu sudah berlalu Koan Ing pun lantas melayang turun ke atas tanah sambil menarik tangan sang gadis dia lari menuruni gunung tersebut.

“Sungguh aneh sekali munculnya macan kumbang itu,” pikirnya diam-diam dihati,” Apa mungkin binatang itu sengaja berbuat begitu?”

Dengan gerakan yang amat cepat mereka kembali kehadapan Sang Su-im dan menyerahkan burung dara itu.

Dengan hati cemas orang tua itu menerima burung tersebut dan mengambil secarik kertas yaog diikat dikakinya untuk di baca isinya,

Tapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat, sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat dia menyerahkan kertas itu kepada Koan Ing, Dengan hati yang berdebar-debar pemuda itu lantas membaca isi surat itu....

“Terkurung.... di lembah Chiet Han Ku.... ” tampaklah lima buah kata yang ditulis dengan darah segar.

“Lembah Chiet Han Ku?” diam-diam hatinya merasa amat terperanjat sekali, bukankah lembah itu merupakan salah satu tempat terlarang dari tiga tempat terlarang lainnya di dalam Bu-lim? Bukankah lembah Chiet Han Ku merupakan tempat bahaya di samping selat ‘Hwee Im Shia’ serta hutan ‘Wang Yu Liem’?” Ooo)*(ooO

Bab 32

DARI ANTARA ketiga tempat terlarang dari Bu-lim ini dia pernah terjerumus ke dalam selat Hwee Im Shia bersama- sama Sang Siauw-tan, bilamana bukannya alat rahasia yang ada di dalam selat itu selama ratusan tahun ini sudah hampir musnah ditambah nasib mereka berdua amat baik ada kemungkinan sejak dulu sudah mati di dalam selat itu,

Sungguh tidak disangka di dalam lembah Chiet Han Ku inipun kembali mereka menemui urusan Lembah Chiet Han Ku, selama ini terpisah dari gunung Kun lun san dianggap orang sebagai tempat terlarang.... apalagi katanya banyak terdapat jago-jago Bu-lim terkurung disana.

Koan Ing benar-benar amat terperanjat, dia bingung apa yang harus diperbuat pada saat ini. Sang Siauw-tan yang melihat dia orang kebingungan segera mendengus dingin.

“Orang-orang itu terlalu memandang tinggi urusan, apakah lembah Chiet Han Ku benar-benar merupakan tempat terlarang bagi orang-orang Bu-lim? Mereka anggap tempat itu terlarang justru aku ingin menginjak rata tempat2 ini,” katanya.

Di tengah udara kembali terdengar suara desiran anak panah yang amat nyaring sekali. “Heee.... heee.... kiranya di sekitar tempat ini sudah lama menanti musuh-musuh!” seru Sang Su-im sambil tersenyum,

Koan Ing hanya tersenyum saja, mendadak satu iagatan berkelebat di dalam benaknya apakah macan tutul itupun sengaja dikirim oleh pemilik lembah Chiet Han Ku untuk merebut burung merpati?

“Empek Sang” ujarnya mendadak kepa da Sang Su-im. “Tadi sewaktu aku bersama-sama Siauw-tan memungut burung merpati itu agaknya ada seekor macan kumbang yang sedang mencari burung itu juga, dia yang tidak berhasil mendapatkan mangsanya lantas mengundurkan diri cepat- cepat.”

“Ouw begitu?” seru Sang Siauw-tan, dia termenung berpikir sebentar untuk kemudian ujarnya, “Tidak perduli apa yang bakal terjadi, yang penting saat ini kita sudah tahu siapakah lawan kita.”

Berbicara sampai disini dia termenung dan bergumam kembali seorang diri, “Lembah Chiet Han Ku terkurung lalu siapa yang terkurung?”

Sang Su Tm kembali mengerutkan alisnya rapat-rapat, kepada Hoo Lieh yang ada dibelakangnya dia lantas berbisik, “Penjagaan diperkuat dan kurung jaIan besar sekitar lima li, aku dengan membawa Siauw-tan serta Koan Ing naik ke atas gunung terlebih dulu.”

Sehabis berkata dia lantas menggape ke arah Koan Ing lalu berjalan terlebih dulu ke atas gunung, dia merasa tidak percaya kalau lembah Chiet Han Ku yang tidak besar itu mencari gara-gara dengan tiga manusia genah dan empat manusia aneh.

Perkumpulan Tiang Gony Pang merupakan perkumpulan yang terbesar di seluruh kolong langit, apakah untuk bergebrak dengan pemilik lembah Chiet Han Ku pun tidak kuat?

“Tia?” tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan bertanya. “Berapa jauh jarak artara lembah Chiet Han Ku dengan tempat ini?”

“Kurang lebih seratus li”jawab Sang Su-im, setelah termenung berpikir sebentar.

“Kini hari sudah tidak pagi lagi, mungkin sebelum besok sore kita sudah berhasil menemukan mereka” Cuaca semakin menggelap, anak panah berapi pun sering sekali berkelebat menerangi udara.

Air muka Sang Su-im kelihatan terus murung, mendadak dia berhenti di bawah pohon dan menoleh ke arah Koan ng serta Sang Siauw-tan.

“Mari kita beristirahat semalam disini!” serunya.

“Hian-tit” terdengar Sang Su-im membuka mulut dan berkata kepada pemuda itu. “Selama dua puluh tahun ini baru pertama kali perkumpulan Tiang-gong-pang menemui musuh lihay, terus terang aku beritahukan kepadamu, bahwa tiga puluh enam orang anak murid Tiang-gong-pang yang dikirim di sekitar lima puluh li dari tempat ini tak seorangpun yang kembali untuk memberi kabar, diantara mereka masih ada empat orang Touw^cu serta dua orang pelindung hukum yang memasuki tanah terlarang itu, bagaimana nasib mereka?”

Mendengar perkataan itu Koan Ing merasa hatinya tergetar, dia tidak menyangka kalau situasi pada saat ini amat jelek, jika ditinjau dari hal inijelas menunjukkan kalau kekuatan dari lembah Chiet Han Ku benar-benar amat mengerikan sekali.

“Empek Sang, bagaimana kalau aku yang berangkat?” ujarnya kemudian setelah termenung sebentar.

Dengan perlahan Sang Su-im menggelengkan kepalanya. “Kau   tidak   perlu   menempuh   bahaya   dengan berbuat

begitu,”    katanya    sambil    tertawa.   “Kitapun    tidak tahu

bagaimana keadaan paman Cha sekalian, dengan kepandaian mereka yang begitu tinggi ternyata tak ada kabar berita juga tentang hal ini benar-benar membuat hatiku merasa amat kuatir”

Dengan termangu-mangu Koan Ing duduk ter menung, dia tahu berita mengenai lembah Chiet Han Ku serta berita dari Thian Siang Thaysu sekalian sudah tertutup, hal ini membuat mereka seolah2 sama saja dengan meraba di tempat kegelapan.

Selagi dia termangu-mangu itulah mendadak....

“Plaak.... ” sebuah anak panah berapi meledak di tengah udara.

Air muka Sang Su-im segera berubah hebat.

“Di depan ada tanda bahaya, kalian menyusul saja dari belakang!” serunya kemudian dengan tergesa-gesa .

Sehabis berkata tubuhnyapun berkelebat dan menubruk ke arah dimana berasalnya anak panah berapi itu,

Koan Ing jadi melengah dengan cepat dia menarik tangan Sang Siauw-tan dan berkelebat pula ke arah depan.

“Buat apa kau begitu cemas?” terdengar Sang Siauw-tan tertawa ringan. “Suara ledakan itu tidak menunjukkan urusan apa-apa tetapi ledakan itu terdengar sejak kita di

gunung Kun-lun san ini, hal itu berarti juga kalau orang- orang dari lembah Coiet Han Ku sudah ada yang bercampur kemari.”

Koan Ing segera menarik napas panjang dia menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, jika ditinjau dari perkataan itujelas sebentar lagi mereka bakal bentrok dengan orang-orang dari lembah Chiet Han Ku.

Setibanya dihadapan Hoo Lieh sekalian mereka berdua mendadak tidak menemukan Sang Su-im ada disana, dalam hati mereka berdua jadi amat kaget.

“Dimana ayahku?” terdengar gadis itu bertanya dengan suara cemas.

“Pangcu dia orang tua sudah berangkat ke daIam lembah Chiet Han Ku, dia meninggalkan pesan wanti2 agar kalian berhati-hati. setelah ini setiap satujam penjagaan harus dimajukan sepuluh li ke depan.

Koan Ing benar-benar merasa hatinya tergetar, tampaklah di atas tanah menggeletak dua sosok mayat yang pada bagian lehernya sudah dicengkeram hancur, kelihatannya kedua orang itu mati terkena cakar macan tutul tadi.

“Engkoh Ing ayoh kita cepat mengejar ayah” seru Sang Siauw-tan kemudian kepada diri Koan Ing.

Agaknya Koan Ingpun mempunyai maksud begitu, kepada Hoo Lieh lantas pesannya, “Paman Hoo kami akan ikut mengejar ke atas, tempat ini aku serahkan semua kepada paman Hoo.”

Sehabis berkata mereka berduapun segera bergerak dan berkelebat ke arah depan.

Beberapa saat kemudian mendadak Sang Siauw-tan menarik tangan Koan Ing ke belakang.

Koan Ing jadi kaget dan menoleh, sebentar kemudian hatinya jadi berdesir, kiranya diantara pepohonan yang rindang itu tampak sepasang mata berwarna hijau dengan tajamnya sedang memperhatikan mereka,

Kiranya dari pihak lembah Chiet Han Ku telah menggunakan macan tutul untuk menjaga gunung, tidak aneh kalau pihak perkumpulan Tiang-gong-pang mengalami kerugian besar,

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terasa bau amis yang disertai sambaran angin tajam menubruk dari belakang tubuhnya, terburu-buru dia menarik Sang Siauw-tan ke depan sedang pedang Kiem-hong-kiamnya dicabut keluar dari sarungnya, Diantara berkelebatnya cahaya emas, pedangnya sudah meluncur ke depan.

Macan kumbang itu dengan cepat dan gesitnya bersalto di tengah udara lalu menubruk ke dalam hutan.

Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang ke atas pedangnya yang masih dibasahi darah, dia tahu macan itu tentu pernah memperoleh latihan kalau tidak serangannya tidak bakal bisa dihindari sehingga dapat berhasil melarikan diri dengan hanya membawa luka

“Engkoh Ing macan yang lain juga melarikan diri.” tiba-tiba seru Sang Siauw-tan dari samping.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, ternyata sedikitpun tidak salah sepasang mata berwarna hijau yang terlihat tadi kini telah lenyap.

Dia lantas termenung diam.

“Siauw-tan perduli dia mempunyai sarang macan atau telaga naga, mari kita terjang ke dalam,” ajaknya.

Sang Siauw-tan tersenyum, teringat akan selat Hwee Im Shia mereka berani terjang apalagi lembah Chiet Han Ku ini?.

Kembali mereka berdua melanjutkan perjalanannya ke depan, mendadak dari dalam hutan meloncat keluar seekor macan tutul yang kemudian lari keluar hutan.

Koan Ing yang melihat macan itu bukannya lari ke dalam hutan sebaliknya malah meloncat keluar, dalam hati lantas tahu kalau inilah siasat untuk memancing musuhnya.

Sedikitpun tidak salah, tampaklah macan tutul itu setelah keluar dari hutan lantas berhenti padajarak lima kaki dari mereka berdua dan menoleh ke belakang sambil mengaum keras.

Melihat kejadian itu Sang Siauw-tan segera mendengus dingin “Macan tutul ini sungguh menakutkan sekali!” serunya.

Dengan pandangan halus pemuda itu menyapu sekejap ke arah binatang itu, dia tahu orang-orang lembah Chiet Han Ku tentunya sengaja mengeluarkan binatang.^ itu untuk menjebak para jago, jelas kalau rencana mereka sudah disusun amat rapi sekali.

“Benar agaknya binatang itu hendak memancing kita menuju ke suatu tempat tertentu.” katanya perlahan.

Dengan pandangan ragu-ragu kembali Sang Siauw-tan memandang ke arah depan, mendadak dia menjerit,  “Aaaah.... di atas badannya membawa anak panah berapi, bagaimana kalau kita kejar ke depan untuk melihat apa yang sudah terjadi?”

Koan Ing ragu-ragu sejenak.

“Ada kemungkinan ayahmu sudah masuk” katanya.

Sang Siauw-tan kaget kinijejak ayahnya sudah tak kedengaran lagi, bagaimana kalau misalnya dia orang tua kena tertipu dan masuk dalam jebakannya?

Tangan kanannya dengan cepat mengayun ke depan, dua batang anak panah berapi warna merah dan hijau dengan cepat disambitkan ke tengah udara.

“Blaamm.... blamm.... ” suara yang amat nyaring segera menggetarkan seluruh udara.

“Mari kita pergi,” ajaknya kemudian. “Biarlah paman Hoo sekalian yang menghadapi dirinya, mereka berjumlah sangat banyak.”

Dengan cepatnya mereka berdua berkelebat masuk ke dalam hutan.

Pada waktu itulah mendadak terdengar suara petir yang menyambar, agaknya hari akan hujan.

Melihat kejadian itu Koan Ing jadi panik, dia mengetahui bahwa anak panah berapi akan musnah bila mana kena air hujan, dengan adanya kejadian ini maka bagi perkumpulan Tiang-gong-pang akan menemui kesulitan di dalam mengadakan hubungan.

Sedang dia berpikir sampai di situ mendadak terasalah hujan sebesar kedelai mulai turun dengan amat derasnya

Dengan cepat pemuda itu menyambar tangan Sang Siauw- tan dan berkelebat masuk ke dalam sebuah gua.

Waktu itu mereka sudah keburu basah oleh hujan yang turun dengan derasnya, melihat rambut yang basah kuyup dari sang gadis, Koan Ing jadi merasa iba hati.

“Siauw-tan, apa kau kedinginan?” tanyanya halus. Sang Siauw-tan tersenyum dan gelengkan kepalanya.

Dengan terburu-buru Koan Ing lantas mengumpulkan ranting kering yang banyak tersebar di sana untuk membuat api unggun, sedang mereka berduapun duduk disampingnya untuk menghangatkan badan.

Hujan turun semakin deras seperti ditumpahkan dari langit saja membuat hawapunjadi bertambah dingin.

“Siauw-tan, bagaimana keadaan ayahmu, saat ini?” tanya Koan Ing tiba-tiba setelah termenung sebentar.

“Dengan kepandaian silat yang dimiliki Tia, aku rasa kau tidak usah menaruh rasa kuatir lagi.”jawab gadis itu sambil tersenyum. Koan Ing lantas tersenyum dan tidak berbicara lagi.

Mendadak dia meloncat bangun dan menoleh ke arah depan dengan sikap siap sedia.

Tampaklah sesosok bayangan putih dengan cepatnya berkelebat masuk ke dalam gua, hanya gerakan serta tindakannya sempoyongan tidak genah.

Sewaktu dapat melihat siapakah orang itu mereka semakin terkejut lagi, karena orang itu bukan lain adalah anak murid dari Sin Hong Soat-nie. Cing It Nikouw. “Suci, kau kenapa?” tanyanya dengan terkejut sambil membimbing badannya.

Wajah Cing it nikouw pucat pasi bagaikan mayat, tubuhnya yang putih kini sudah berlepotan darah, tangan kanannya memegang pedang sedang keadaannya sungguh mengenaskan, jelas baru saja bertempur sengit dengan orang lain.

Tubuhnya dengan sempoyongan nyeruduk ke depan dan akhirnyajatuh di dalam pelukan Koan Ing.

Sang Siauw-tan sendiri juga kaget, dengan cepat dia bangun dan meloncat ke depan.

Bagaimana mungkin Cing It nikouw bisa turun dari puncak Su Li Hong? Bahkan seluruh tubuhnya berlepotan darah

Cing It nikouw yang tubuhnya kena dipegang oleh Koan  Ing agaknya dia merasa amat terkejut, tetapi setelah dilihatnya orang itu bukan lain adalah Koan Ing dia baru menghembuskan napas lega.

“Kau?”

Baru saja berbicara sampai di situ tenaganya sudah habis, sedang pedang yang ada di tangannya terjatuh ke atas tanah dan dia sendiri jatuh tidak sadarkan diri di dalam pelukan Koan Ing.

Dengan cepat Koan Ing serahkan badan Cing It nikouw ke arah Sang Siauw-tan lalu memungut pedangnya dan membawa tubuhnya ke samping api unggun. Sang Siauw-tan memandang sejenak ke arah Cing It nikouw kemudian baru ujarnya, “Aah,., cuma terluka ringan saja, tenaganya sudah dikuras habis, agaknya baru saja dia bergebrak seru melawan orang”,

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk dan menoleh ke belakang Sang Siauw-tan pun lantas memeriksa keadaan luka dari Cing It Nikouw, membubuhi obat dan membalutnya.

Hujan turun semakin kecil sedang Cing It Nikouw pun  masih jatuh tidak sadarkan diri

membuat Koan Ing serta Sang Siauw-tan terpaksa berdiam diri tidak bercakap2. Lama sekali tampaklah dengan perlahan Cing It Nikouw membuat matanya kembali.

Pandangan pertama yang terlihat olehnya adalah Koan Ing yang ada di hadapannya, lama sekali dia memandang ke arahnya, kemudian baru duduk.

“Suci. kau beristirahatlah dulu,” cegah Sang Siauw-tan dengan cepat.

Cing It Nikouw menoleh dan memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan lalu merangkap tangannya memberi hormat.

“Terima kasih sumoay serta Koan Siauwhiap yang suka menolong jiwa pinnie,” ujarnya. Sang Siauw-tan segera tersenyum.

“Suci bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanyanya, “Sebenarnya sudah terjadi urusan apa? Suhu dia orang tua apakah juga ikut mendatangi gunung Kun lun san ini?” Cing It Nikouw termenung sebentar akhirnya dia menghela napas panjang, “Hei. aku kena dikejar macan tutul yang dilepaskan

orang-orang lembah Chiet Han Ku.”

Sehabis berkata dia lantas memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Diam-diam Koan Ing merasa amat terperanjat, tidak disangka sama sekali sebelum orang-orang lembah Chiet Han Ku munculkan dirinya dia sudah menemui cedera seperti ini, lalu bagaimana hebatnya orang-orang dari lembah tersebut?

Sebaliknya Sang Siauw-tan sama sekali tidak memikirkan hal itu, dia berpikir bagaimana mungkin Cing It Nikouw bisa sampai di situ sedang puncak Su Li Hong tidak mungkin bisa dituruni seenaknya.

Apalagi Cing It Nikouw adalah murid tertua dari ciangbunjiennya, bilamana dia orang

tidak menerima perintah bagaimana mungkin bisa turun gunung? Apa mungkin dikarenakan Koan Ing?

Dia memandang ke arah Koan Ing yang waktu itu sedang memandang ke arah Cing It Nikouw dengan termangu-mangu,

Setelah itu sinar matanya dialihkan ke atas tubuh Cing It Nikouw,

Tampaklah olehnya walaupun Cing It nikouw merupakan seorang nikouw tapi tidak malu dia menjadi murid tertua dari Sin Hong Soat-nie, tubuhnya amat halus dan lembut melebihi dirinya,

Berpikir akan hal itu hatinya jadi tergetar amat keras, bilamana Cing It nikouw benar-benarjatuh cinta kepada engkoh Ingnya, lalu dia harus berbuat bagaimana?”

Koan Ing sama sekali tidak berpikir sampai di situ, dia hanya memandang ke arah luar gua dan ujarnya dengan perlahan, “Siauw-tan hari sudah terang”

Mendengar perkataan tersebut Cing It nikouw mendadak membuka matanya dan memandang ke atas wajah Koan Ing yang lagi memandang ke depan gua itu.

Waktu ini sinar api unggun sudah padam, sedang cahaya sang surya pun sudah menyorot masuk ke dalam gua, dengan termangu-mangu nikouw itu memandang ke arah pemuda tersebut sedang pipinya memerah dadu.

Sang Siauw-tan yang selama ini terus menerus mengawasi gerak-gerik nikouw itu dalam hati segera merasa terperanjat.

“Aaah     kiranya begitu!” serunya kemudian di dalam hati. Mendadak Cing It nikouw memejamkan matanya kembali dan termenung berpikir sebentar.

“Heei.... hari sudah terang, akupun harus pergi,” ujarnya kemudian sambil angkat kepalanya.

Selesai berkata dengan perlahan dia bangun berdiri,

“Suci lukamu belum sembuh bagaimana boleh pergi?” seru Koan Ing melengak, diapun ikut bangun berdiri,” Apakah suhumu juga ikut datang kemari? Bilamana su ci tak ada urusan penting bagaimana kalau berangkat bersama-sama kita?”

Sang Siauw-tan pun ikut bangun berdiri diam-diam dia merasa amat cemas, bilamana Koan Ing terus menerus hendak menahan Cing It nikouw dan semisalnya nikouw itu benar-benar berangkat bersama-sama mereka apa yang akan terjadi?”

Tetapi kini Cing It nikouw berada di dalam keadaan terluka, di dalam aturan dan cengli memang seharusnya Koan Ing menahan dirinya, sedang diapun tidak ada alasan untuk melarang pemuda itu menahan nikouw tersebut untuk berangkat bersama-sama,

Dengan perlahan Cing It nikouw menundukkan kepala dan melirik sekejap ke arah Sang

Siauw-tan,

“Aku masih ada urusan,” katanya. “Apa lagi kalianpun masih ada urusan yang harus diselesaikan, luka yang pinie derita amat ringan juga kesempatan buat kita untuk bertempur masih banyak, lebih baik aku berangkat dulu”

Koan Ing yang baru untuk kedua kalinya bertemu dengan Cing It nikouw, saat ini melihat dia orang dengan kukuh mau pergi, dia pun tidak berani menahan lebih lama lagi. “Kalau begitu harap suci suka baik-baik berjaga diri,” ujarnya kemudian sambil tertawa. “Sute, sumoay, selamat tinggal” seru Cing It nikouw pula sambil merangkap tangannya memberi hormat.

Sehabis berkata dia lantas putar tubuh dan berlalu dari sana.

Ooo)*(ooO

Bab 33

SANG SIAUW-TAN yang melihat Cing It nikouw akhirnya pergi juga diam-diam dia

menghela napas panjang.

“Eeei Siauw-tan, kau lagi pikirkan apa?” tiba-tiba terdengar Koan Ing menegur.

“Oooow tidak mengapa hari sudah siang, kitapun tak usah beristirahat lagi, mari kita berangkat” seru gadis itu buru-buru. Koan Ing mengangguk dan berjalan ke luar dari gua.

Pada saat itulah mendadak di hadapan mereka kembali berkelebat datang seseorang dalam keadaan sempoyongan, keadaannya amat mengenaskan,

Koan Ing yang melihat munculnya seorang dalam hati benar-benar merasa amat terperanjat, bukankah orang itu adalah Ciu Tong?

Seluruh tubuh si iblis sakti dari lautan Timur ini sudah berlepotan darah, tangannya mencekal tongkatnya erat-erat sedang keadaannya amat menyedihkan sekali, kegagahannya tempo hari sama sekali musnah tak berbekas,

Ketika Ciu Tong tiba dihadapan mereka berdua napasnya semakin memburu,

“Sang Su-im ada dimana?” tanyanya terengah2 sambil mempertahankan tubuhnya dengan tongkat,

Koan Ing yang melihat keadaannya amat menyedihkan itu terburu-buru maju membimbing, Empek Sang ada di depan, loocianpwee, kau kenapa?” serunya.

“Kami terkurung didalam.... lembah.... lembah Chiet Han Ku.”

Akhirnya dia tak kuat mempertahankan diri lagi dan jatuh tak sadarkan diri.