Kereta Berdarah Jilid 11

Jilid 11

SEHABIS berkata Sang Su-im termenung sebentar lalu sambungnya lagi, “Aku tahu kau masih ada urusan yang belum diselesaikan. musuh besar pembunuh ayahmu Bun Ting-seng bisa aku usahakan untuk pencariannya menanti setelah kau kembali dari puncak Su Li Hong aku bisa beritahukan kepadamu!”

Dia tahu Koan Ing adalah seorang yang berhati keras, karena itu dia tidak mau bilang hendak mewakili dirinya untuk mencari balas.

“Terima kasih empek Sang!” ujar Koan Ing sambil bungkukkan badannya memberi hormat.

Tubuh Cha Can Hong segera berkelebat bersama-sama dengan Sang Su-im meloncat turun dari atas kereta.

Koan Ing lantas berpamitan kepada semua orang lalu ambil sentakkan tali les kudanya dia berlalu dari sana.

Cuaca semakin lama semakin menggelap angin utara berhembus dengan santarnya, bunga salju bertaburan dari tengah udara membuat permukaan tanah menjadi putih.

Tampaklah sebuah kereta berwarna merah darah dengan kecepatan yang luar biasa berlari menuju ke arah sebelah timur. Puncak Su Li Hong terletak disuatu tempat lima li diluar perbatasan Tibet.

Koan Ing merasakan hatinya amat cemas dia merasa kepingin cepat2 bertemu muka dengan Sang Siauw-tan semakin cepat semakin baik, sekalipun puncak Su Li Hong adalah sarang macan atau gua naga diapun tetap akan menerjang kesana.

Saat ini jaraknya dengan puncak Su Li Hong tinggal seratus li saja, keempat ekor kuda berwarna merah darah itu dengan tiada lelahnya berlari terus ke depan, dalam hati diam-diam pemuda itu berpikir, “Aku harus melakukan perjalanan siang malam, aku harus cepat2 tiba dipuncak Su Li Hong!”

Dengan cepatnya kuda itu berlari ke depan.

Saat ini cuaca semakin menggelap, kereta berdarah dengan cepatnya menerjang masuk ke dalam sebuah selat yang sempit, angin utara berhembus semakin kencang lagi.

Setelah memasuki selat itu baru saja berjalan sejauh setengah li mendadak sinar matanya menemukan sinar api yang berkedip2 diantara selat tersebut, tak terasa hatinya jadi rada tertegun.

Apa mungkin ‘Yu Ming Hiat Noe’ atau Si Budak Berdarah dari kegelapan hendak mencegat dirinya disana?

Koan Ing segera menggigit kencang bibirnya, urusan sekarang sudah menjadi begini dia tidak mungkin lagi untuk membalik.

Apalagi jarak dengan puncak Su Li Hong tinggal seratus li, disanalah Sang Siauw-tan sedang menerima siksaan batin, dia harus cepat2 tiba di tempat itu.

Dari dalam ruangan kereta dia mengambil keluar sebuah cambuk lalu tangan kanannya diajunkan ke depan. Dengan menimbulkan bunga-bunga cambuk laksana ledakan mercon dengan cepatnya bergema memenuhi angkasa.

Keempat ekor kuda itu meringkik semakin panjang lagi, dengan cepatnya kuda2 itu bergerak ke depan.

Dari dalam selat itu mendadak berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat mengerikan sekali, suara tersebut bergema tiada hentinya dan mendengung2 memantul ke seluruh penjuru.

Koan Ing hanya merasakan segulung hawa dingin yang menusuk tulang menerobos masuk ke dalam punggungnya.

Cambuk panjang berputar dan berkelebat ditengah udara sehingga menimbulkan berpuluh-puluh ledaKan bunga cambuk, keempat ekor kuda itu berlari semakin cepat,

Di dalam sekejap seluruh selat sudah dipenuhi dengan sinar api yang berkedip2 menyilaukan mata, diantara sinar kehijau- hijauan yang mengerikan keempat ekor kuda yang berwarna merah darah itu segera berubah semakin menyeramkan membuat suasana ojadi amat mengerikan.

“Heee.... heee.... Koan Ing!” tiba-tiba terdengar suara leriakan disertai tertawa dingin berkumandang datang. “Cepat tinggalkan kereta itu dan melarikan diri, kalau tidak jangan salahkan aku akan turun tangan kejam terhadap dirimu.”

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia tetap melarikan kereta berdarah itu ke depan bahkan terhadap suara ancaman itu sama sekali tak terpikirkan dihatinya.

Hanya di dalam sekejap saja kereta berdarah itu sudah berlari kembali sejauh setengah li, tapi agaknya selat itu amat panjang dan tak ada ujung pangkalnya walaupun sudah  berlari amat lama tak keluar juga dari selat tersebut.

Hatinya mulai merasa amat cemas, keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya. “Koan Ing, cepat tinggalkan kereta itu!” kembali suara tersebut bergema datang....

Agaknya suara itu berkumandang keluar dari samping telinganya membuat dia merasakan pendengarannya berdengung.

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, hatinya mulai terasa terbakar.

“Hey budak berdarah dari kegelapan bilamana kau punya nyali cepat unjukkan diri, buat apa berbuat sembunyi2 seperti cucu kura2! apa kau orang tidak takut ditertawakan oleh orang-orang Bu-lim?” teriaknya dengan gusar.

Dari tengah selat kembali berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menusuk telinga.

Koan Ing tidak suka banyak bicara lagi dia tidak mau ambil gubris terhadap orang itu, kereta berdarahnya dilarikan semakin cepat lagi.

Di hadapannya kini muncul sebuah tikungan yang tajam, baru saja kereta berdarah itu berbelok mendadak keempat ekor kuda itu meringkik panjang dan pada berdiri.

Koan Ing jadi sangat terperanjat, dengan cepat dia memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu. Terlihatlah jalan di depannya sudah terputus, sebatang pohon yang amat besar sudah tumbang dan menghalangi perjalanannya.

Dalam hati dia merasa terkejut bercampur gusar, bilamana bukannya keempat ekor kuda itu mundur dengan cepat bakankah keretanya akan menumbuk pohon itu hingga hancur?

Dengan guiarnya dia lantas membentak keras, telapak tangan kanannya dengan disertai tenaga lweekang yang lihay segera melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan. “Braaak!” dengan disertai suara yang nyaring angin pukulan tersebut dengan amat tepatnya menghantam pohon itu sehingga ranting dan pohon pada berguguran.

Serentetan suara yang dingin dan tajam kembali berkumandang datang memenuhi angkasa....

Koan Ing jadi melengak, terlihatlah olehnya di atas sebuah tebing kurang lebih dua puluh kaki dari dirinya berdirilah sebuah bayangan berwarna merah darah.

Walaupun di dalam hati Koan Ing sudah menduga akan munculnya Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan, tapi tak urung hatinya merasa tegang juga.

“Koan Ing!!” Terdengar Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan berteriak sambil bertolak pinggang. “Aku tidak ada s kit hati dengan dirimu, akupun tidak ingin menyusahkan dirimu, asalkan kau suka melepaskan kereta itu untukku,  maka aku akan lepaskan jalan hidup buat dirimu.”

Dia berbicara sambil dongakkan kepalanya ke atas karena itu suaranya segera memantul keempat penjuru.

Ooo)*(ooO

Bab 25

KOAN ING yang melihat sikap Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sangat jumawa hatinya rada mendongkol, dia tahu kepandaian silatnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari kepandaian silat tiga manusia genah empat manusia aneh tetapi saat ini dia hendak menuju kepuncak Su Li Hong dia harus melakukan perjalanan cepat karena itu kereta berdarah ini tidak mungkin dapat diserahkan kepadanya.

“Kau masih pikirkan apa lagi?” terdengar suara dari Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan berkumandang lagi dengan dinginnya. Sinar mata Koan Ing segera berputar memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, dia mulai memikirkan cara-cara untuk meloloskan diri dari sana.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan segera mendengus dingin.

“Aku akan menghitung sampai tiga, bila mana setelah angka ketiga kau orang tidak juga turun dari kereta itu janganlah salahkan aku akan menghancurkan tubuhmu di tempat itu juga!”

Koan Ing menarik napas panjang-panjang dia mendengar Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sudah mulai menghitung angka pertama, dengan cepat keretanya ditarik untuk mundur beberapa langkah ke belakang.

“Hee.... heee.... kau jangan harap bisa melarikan diri dari sini, dua!” seru Si Budak Berdarah itu sambil tertawa dingin,

Dengan cepat Koan Ing berkelebat dan melayang turun ke belakang kereta itu.

“Hmm! agaknya kau ingin merasakan kelihayanku!” bentak Si Budak Berdarah dengan gusar.

Tidak menanti dia banyak berbicara lagi cambuk ditangan kanan Koan Ing segera ia hajarkan ke atas tubuh keempat ekor kuda berdarah tersebut.

Diantara suara ringkikan panjang keempat ekor kuda segera menerjang ke depan.

ditengah suara bentakan yang keras Koan Ing segera mengangkat kereta itu melewati halangan tersebut setelah itu meloncat kembali ke atas kereta.

“Kau ingin melarikan diri?” teriak b dak berdarah dengan keras.

Diantara suara bentakannya yang amat mengerikan tubuhnya meloncat turun dari atas tebing. Koan Ing yang berhasil mengangkat kereta tersebut melewati pohon menghalang itu keringat sudah mengucur keluar membasahi seluruh keningnya  pikirnya  dihati,  “Aaaach sungguh mujur!”

Tubuhnya dengan cepat melayang ke atas, tali les kudanya disentakan keras2. untuk kedua kalinya kereta berdarh itu berlari dengan cepatnya menuju ke arah depan.

Ketika menoleh ke belakang Koan Ing segera merasakan hatinya amat terperanjat, kiranya Si Budak Berdarah dari tempat Kegelapan sudah meloncat turun dari atas tebing setinggi dua puluh kaki, sepasang telapak tangannya yang berwarna merah darah sudah dipentangkan siap-siap melancarkan serangan sedang tubuhnya bagaikan seekor burung elang dengan dahsyatnya menerjang ke arahnya.

Cambuk ditangan kanan pemuda itu dengan cepat diajun ke belakang menghajar tubuh musuhnya.

Saat ini tubuh Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sudah melayang turun s tinggi satu kaki, melihat datangnya serangan cambuk dari Koan Ing itu sepasang lengannya sedikit bergetar, tubuhnya melayang lebih ke depan lagi, diantara ajunan tangan kanannya dia telah mencengkeram gagang cambuk itu.

Saat ini Koan Ing cuma menginginkan cepat meloloskan diri dari tempat itu, melihat cambuknya kena dicekal dengan cepat dia lepas tangan, kereta berdarahnya segeia meluncur semakin cepat lagi ke depan.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa melepaskan cambuk tersebut, dia agak melengak tapi sebentar kemudian tubuhnya kembali berkelebat mengejar diri Koan Ing.

Koan Ing untuk kedua kalinya menoleh ke belakang, sewaktu dilihatnya Si Budak Berdarah tetap mengejar terus tiada hentinya bahkan kecepatan larinya semakin cepat hatinya jadi sangat terperanjat.

Diam-diam pikirnya dalam hati.

“Aduuuh.... celaka, celaka! Bilamana sampai kecandak maka aku tidak punya kekuatan lagi untuk meloloskan diri.”

Mendadak satu pikiran berkelebat di dalam benaknya, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas sambil mencekal pedang dia berdiri di atas atap kereta.

Sibdak berdarah dari tempat kegelapan yang melihat Koan Ing meloncat ke atas atap kereta dia lantas tertawa dingin, tubuhnya dienjotkan ke atas kemudian melayang ke arah atap kereta tersebut.

Saat itulah Koan Ing baru dapat melihat kalau di atas wajah Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan ini sebenarnya memakai sebuah topeng berwarna merah darah, agaknya dia tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang sebenarnya.

Pedang Kiem-hong-kiam ditangan kanannya dengan menggunakan jurus “Kioe Ku Ceng Jiet” atau sembilan busur menggetarkan sang surja menyerang ke arah depan.

Diantara berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata pedang Kiem-hong-kiam itu tiada hentinya memperdengarkan suara dengungan yang memekikkan telinga.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan segera tertawa dingin, tangan kanannya dipentangkan mencengkeram tubuh pedang tersebat, inilah yang dinamakan ilmu Ing Jiauw Kang dari aliran Siong Yang Pay yang amat lihay itu.

Melihat akan hal itu Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar ami! kara?, jurus ini dia pernah melihatnya dari kitab pusaka ‘Boe Shia Koei Mie’ pemberian Song Ing. Pedang Kiem-hong-kiam ditangan kanannya dengan cepat digerakan, lalu membabat ke kanan. inilah yang dinamakan jurus “Cing To To Ci” atau pulau hijau memupuk kepandaian,

Kiranya jurus ilmu silat dari ilmu pedang “Cing Shia Kiam Hoat” ini justru merupakan jurus yang khusus digunakan untuk memecahkan ilmu Ing Jiauw Kang dari aliran Siong Hang pay.

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan segera tertawa dingin, tangan kanannya menekan kebawah, lima jarinya mencengkeram tubuh pedang Kiem-hong-kiam itu. gerakan tubuhnya amat cepat membuat Koan Ing susah untuk menghindar.

Koan Ing segera merasakan hatinya rada berdesir, jelas Si Budak Berdarah itu sudah menduga kalau dia bakal melancarkan jurus tersebut.... dia tidak menyangka kalau jurus serangan dari musuhnya ini secara samar-samar mengandung ilmu sah cap lak Jien Na So dari aliran Bu-tong- pay.

Dia merasa terperanjat kalau di kolong langit pada saat ini ternyata masih ada orang yang bisa menggunakan ilmu Jien Na So dari aliran Bu-tong-pay sehingga demikian sempurnanya. kiranya kesempurnaan dan kecepatan geraknya ini jauh melebihi dari Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari partai Bu-tong-pay sendiri.

Pedang Kiem-hong-kiamnya segera menekan kebawah, ujung pedangnya menunjuk kelangit, inilah jurus untuk bertahan yang amat lihay Hay Thian It Sian atau satu garis langit dan lautan.

Baru saja Koan Ing melancarkan serangan itu sampai dttengah jalan mendadak lima jari tangan kanan Si Budak Berdarah menekan kebawah memunahkan separuh bagian kekuatan dari ujuag pedangnya itu. Dengan perbedaan dua coen inilah maka jurus bertahan Hay Thian It Sian jadi terpecahkan.

Koan Ing benar-benar merasa hatinya sangat terperanjat, agaknya Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan ini sangat memahami ilmu silat aliran Bu-tong-pay, bukankah ilmu khie- kang tingkat tinggi dari aliran Bu-tong-pay?

Apa mungkin jurus serangan ini dia belajar dari diri Yuan Si tootiang sewaktu tiga manusia genah mengerubuti dirinya tempo hari?

Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan yang melihat jurus serangannya berhasil memecahkan jurus bertahan dari Koan Ing tubuhnya bagaikan seekor ular dengan cepatnya mendesak tubuh Koan Ing lebih hebat, telapak tangannya dengan cepat menghajar dadanya.

Koan Ing benar-benar meresa amat kaget, dia sama sekali tidak menyangka kalau musuhnya bisa menduduki posisi yang membuat dia orang sama sekali tidak jelas, hatinya benar- benar tertegun amat keras bahkan jauh lebih hebat rasanya dibandingkan seWaktu untuk pertama kali dia menghadapi Ciu Tong itu iblis tua dari pulau Ciet Ie To tempo hari.

Koan Ing kembali terdesak mundur dua langkah ke belakang. Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan tidak menyia-nyiakan waktu lagi dia lantas meloncat naik ke atas atap kereta berdarah tersebut sedang tangan kanannya dergan cepat menghajar dada Koan Ing

Dalam bati Koan Ing merasa amat terkejut, dia membentak keras sedang pedang kiem-hong-kiam ditangan kanannya digetarkan sehingga membentuk satu gerokan busur yang amat besar mengurung tubuh Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan.

Jurus serangan yang baru saja digunakan ini bukan lain adalah d|urus Noe Ci Sin Kiam kaki kanannya bersamaan Waktu maju ke depan merebut posisi kedudukan yang paling menguntungkan bagi Si Budak Berdarah untuk menghindarkan diri.

Jarak antara Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan dengan Koan Ing kini tinggal tiga depa saja, dan justru serangannya ini mengancam titiK kelemahannya, tak kuasa lagi dia kembali terdesak mundur satu langkah ke belakang.

Baru saja dia mundur tubuhnya sudah berada ditepi kereta. dengan dinginnya dia lantas membentak keras dengan rambut awut2an sepasang telapaknya kembali mendorong sejajar dada.

Segulung hawa pukulan disertai bayangan merah yang menyilaukan mata segera bergulung dan menghajar tubuh Koan Ing.

Koen Ing merasa benar-benar sangat terperanjat. bukankah serangan ini telah menggunakan ilmu khie-kang aliran jahat Si Hiat Mo Kang yang amat dabsjat itu? Tempo hari justru dikarenakan Si Budak Berdarah dari tempat kegelapan mempelajari limu khei-kang aliran jahat ini maka tiga manusia genah baru turun tangan bersama-sama, tidak disangka ini hari dia menggunakan ilmunya itu juga untuk menghadapi dirinya.

Pedasg Kiem-hong-kiamnya digetarkan ke depan, diantara berkelebatnya sinar pedang dia hanya merasakan daya hisap dari sepasang tangan Si Budak Berdarah itu amat dahsyat sehingga menusuk ke dalam tulang sum-sum.

Dia tidak berani bergebrak saling berhadap-hadapan lagi. berturut-turut tubuhnya mundur dua langkah ke belakang tangan kiri melancarkan lima kali serargan totokan jari.

Limaa gulung angin pukulan dengan dahsyatnya menghajar ke arah sibudakberdarah.

Si Budak Berdarah segera mendengus dingin diantara berkelebatnya hawa khie-kang berwarna merah tawar beberapa gulung serangan jari yang amat dshsjat itu segera terhisap punah tanpa menimbulkan akibat apa pun juga.

Sekali lagi Koan Ing merasa hatinya sangat terperanjat, pedangnya diangkat ke atas diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata hawa pedang memenuhi angkasa.

Hawa hisapan dari Si Hiat Mo Kang itu laksana benda lengkat yang amat kental segera bertaburan dari ujung pedang tersebut,

Di dalam sekejap saja seluruh angkasa dipenuhi dengan suara desiran angin tajam yang memekakkan telinga,

Koan Ing dapat merasa kalau tenaga lwee-kang yang dimiliki oleh budak berdarah dari kegelapan ini jauh berada di atas kepandaian Thian siang Thaysu, dengan ngotot dan Susah pajajnya dia berusaha untuk menghindarkan diri dari tenaga hisapan hawa khie-kang pihak musuh.

Si Budak Berdarah segera tertawa dingin, rambutnya yang awut-awutan berkibar tiada hentinya ditengah angkasa sinar mata yang amat ganas, kejam dan dingin berkelebat tiada hentinya dari balik topeng berwarna merah darah itu agaknya dia merasa tidak puas bilamana tidak berhasil membinasakan diri Koan Ing di bawah serangan telapak tangannya.

Dengan pandangan terpesona Koan Ing berdiri tegak disana, dia tahu bilamana masing-masing pihak beradu tenaga dalam maka jangan sekali-kali menggunakan kegesitan badan, karena bilamana dia coba menghindar maka pihak lawan segera akan menekan lebih hebat lagi yang ada kemungkinan bisa mengakibatkan kematian buat dirinya sendiri.

Apalagi ilmu iblis Si Hiat Mo Kang ini justru dapat menghancurkannya yang amat dahsyat itu, bilamana dia coba menarik kembali tenaga pukulannya maka tidak tertahan lagi hawa murninya sendiri akan tersedot oleh pihak lawan. Sinar mata pemuda itu mulai berkedip-kedip, dia sudah mulai merasa tidak tahan lagi tetapi sekarang dirinya harus berangkat kepuncak Su Li Hong, dirinya harus berusaha untuk berusaha sehingga tidak sampai menemui kematian ditangan musuh.

Berbagai pikiran dengan tepatnya berkelebat menemui benaknya, walaupun di dalam benaknya, walaupun di dalam kitab pusaka Boe thia koeimie itu terbuat berbagai ilmu silat dari partai besar yang ada di kolong langit tetapi sama sekali tidak pernah menyinggung soal tenaga khie-kang serta hawa pedang dua hal.

Sambil menggigit kencang bibirnya dia bersuit panjang, tubuhnya mendadak merendah dengan menempuh bahaya. dia lantas melancarkan tenaga membentot menurut ajaran Bu- tong-pay, pedangnya dicukil ke atas dengan menggunakan gerakan Thian Ie Teh Tong,

Si Budak Berdarah dari kegelapan sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa menggunakan ilmu silat dari aliran Bu-tong-pay sepasag telapak tangannya yang didoroog ke depan ada separoh bagian sudah berhasil dihindar oleh Koan Ing.

Sekalipun demikian tidak urung separuh bagian pukulannya lagi berhasil menghajar pundak kirinya.

Koan Ing segera mendengus 'sret', tubuhnya terpukul mental oleh pukulan tersebut,

Untuk beberapa saat lamanya Si Budak Berdarah dari kegelapan dibuat termangu-mangu, sebetulnya dia punya maksud untuk membinasakan diri Koan Ing dengan menggunakan tenaga hisapannya, tetapi keadaan tidak mengijinkan terpaksa dia harus turun tangan melancarkan pukulan.

Sebetulnya diapun kepingin menambahi lagi dengan satu pukulan, tetapi karena takut kereta berdarah itu lolos dari tangannya maka tanpa pedulikan diri pemuda itu dia lantas lari mengejar.

Tubuh Koan Ing dengan menimbulkan suara yang amat keras segera terjatuh ke atas tanah, pundak kirinya terasa amat sakit sekali bahkan secara samar-samar terasa ada segulung hawa dingin yang menusuk hingga ketulang sumsumnya. tak kuasa lagi hatinya bergidik.

Dengan menahan rasa sakit perlahan-lahan dia merangkak bangun, pundak kirinya saat ini sudah hancur dan berpelepotan darah.

Dia menarik napas panjang-panjang, lalu duduk bersila untuk berusaha menggunakan hawa murninya menahan darah yang mengalir semakin deras itu.

Kurang lebih seperminum teh kemudian dia baru bangkit berdiri kembali.

Luka dipundak kirinya semakin lama semakin erat, tetapi dia masih berusaha juga untuk berangkat kepuncak Su Li Hong dia harus bertemu muka dengan Sang Siauw-tan.

Koan Ing angkat kepalanya memandang ke kiri ke kanan. dia tidak tahu dimanakah dirinya pada saat ini. tetapi sewaktu bertempur seru melawan Si Budak Berdarah dari kegelapan di atas kereta berdarah tadi dia masih mengingat dirinya menuju ke arah Timur, tidak salah lagi kinipun dia lagi menuju ke sebelah timur,

Diam-diam dia menarik hawa murninya panjang-panjang lalu pejamkan matanya rapat-rapat dalam hati dia mulai merasa rada kecewa karena walaupun tenaga dalamnya sendiri semakin hari semakin tinggi tetapi musuh yang ditemuipun semakin lama semakin lihay,

Tetapi dia tidak mau berpikir lebih jauh yang penting. pada saat ini adalah cepat2 menemui Sang Siauw-tan. Koan Ing dengan cepat kerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju ke sebelah Timur.

Setelah sudah beberapa lamanya tampaklah sang surja sudah mulai munculkan dirinya diufuk sebelah timur.

Hatinya semakin lama semakin cemas larinyapun semakin lama semakin cepat,

lewat beberapa saat kemudian cuaca benar-benar sudah terang tanah sedang puncak Su Li Hong pun sudah terbentang dihadapan matanya.

Saat ini kepalanya mulai terasa pening, tetapi dia masih bertahan dia harus cepat2 tiba di atas puncak Su Li hong itu untuk menemui Sang Siauw-tan.

Beberapa saat kemudian tibalah pemuda itu di bawah puncak, terlihatlah di atas sebuah batu cadas yang tingginya ada beberapa kaki terukirlah “Su Li Hong”

Tanpa memandang lebih jauh lagi Koan Ing segera berlari mendaki ke atas puncak tersebut.

Secara samar-samar dari atas puncak bergema datang suara bertalunya genta yang amat nyaring dan memantul keempat penjuru baru saja dia berjalan sejauh setengah li mendadak dari balik pepohonan berkelebatlah keluar dua orang nikouw berbaju putih.

“Sicu, harap berhenti!” serunya sambil merangkap tangannya memberi hormat.

“Apakah Sang Siauw-tan ada di atas puncak?” tanya Koan Ing sambil menyapu sekejap ke arah kedua orang nikouw itu.

Ni-kouw yang ada disebelah kiri memandang sekejap ke arah Koan Ing lalu tegurnya; “Sicu, tahukah kau tempat ini adalah puncak Su Li Hong? Semua orang lelaki perduli dia tua. muda maupun kecil dilarang naik ke atas puncak, orang perempuan yang naik ke atas puncakpun harus cukur rambut jadi ni-kouw.”

“Cayhe sendiri juga tahu akan hal ini sahut Koan Ing sambil tertawa pahit. “Tetapi aku harus pergi menemui Sang Siauw- tan!”

“Kau ingin mencari Siauw-tan sumoay? Seru nikouw itu, dia termenung sebentar lalu ujarnya lagi. “Saat ini Siauw-tan sumoay sudah bersiap-siap hendak mencukur rambut menerima pantangan, bilamana kau baru melanggar sampai di tempat ini ada kemungkinan masih bisa balik lagi, tetapi bilamana berani naik lagi maka jalan mundur bagimu tidak akan ada lagi.”

“Kalau begitu silahkan suci berdua melepaskan aku naik” ujar Koan Ing sambil tertawa.

Dengan pandangan terperanjat kedua orang nikouw itu saling berpandangan sekejap, mereka sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang menderita luka parah ini berani menerjang naik ke atas puncak Su Li Hong.

Ni-kouw itu memandang sekejap ke arah diri Koan Ing lalu menundukkan kepalanya.

“Sicu!” ujarnya. “Lautan kesengsaraan tak ada ujung pangkalnya menolehlah disana akan ditemui tepian, kami berdua tidak bisa mengabulkan permintaan sicu, harap sicu jangan terburu nafsu karena hal itu bakal menambahkan rasa menyesal untuk selamanya.”

Koan Ing yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, bakal menyesal untuk selamanya? Bilamana tidak dapat bertemu muka dengan Sang Siauw-tan itulah baru merasa menyesal unluk selamanya.

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak dari atas puncak Su Li Hong kembali berkumandang datang suara genta yang berbunyi bertalu2. Koan Ing yang takut Sang Siauw-tan keburu sudah cukur rambut segera berteriak keras, “Kalau begitu maaf aku harus menerjang!!”

Baru saja dia selesai berteriak tubuhnya sudah melayang melewati kedua orang ni-kouw tersebut.

Saking cepatnya gerakan itu sampai kedua orang ni-kouw itu tidak punya kekuatan untuk menghalanginya, terpaksa dengan pandangan melongo mereka memandang bayangan punggung dari pemuda itu....

Koan Ing yang berhasil meloloskan diri dari cegatan kedua orang Ni-kouw itu dengan gerakan yang amat cepat segera berlari menuju ke atas puncak.

Beberapa saat kemudian.... mendadak terdengar suara dengusan yang amat dingin bergema datang, seorang ni-kouw berusia pertengahan dengan gerakan yang amat cepat sudah menghalangi perjalanannya.

“Lemparkan pedang menyerah! pinnie ampuni nyawamu.” serunya dengan dingin.

Dengan cepat Koan Ing merandek, tapi sebentar kemudian tubuhnya sudah melanjutkan terjangannya ke atas, tangan kanannya disilangkan di depan, siap-siap menghadapi sesuatu.

“Hmrm! nyalimu sungguh amat besar!” bentak nikouw berusia pertengahan itu dengan dingin.

Ditengah suara bentakannya yang amat keras lima jari tangannya segera dipentangkan mencengkeram pundak kiri dari Koan Ing.

Pundak kiri Koan Ing sudah terluka dan titik kelemahan pastilah terletak dibadan sebelah kiri karena itu begitu turun tangan dia lantas menyerang tubuh sebelah kirinya.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, saat ini dia harus membereskan musuhnya secepat mungkin. Tangan kanarnya dengan cepat diangkat tanpa peduli cengkeraman dari nikouw berusia pertengahan itu lagi dia balas mengancam lehernya.

Nikouw berusia pertengahan yang melihat pemuda itu sama sekali tidak mengambil gubris terhadap serangannya benar-benar merasa amat gusar.

“Bangsat! sungguh sombong kau orang!” makinya. Sekalipun begitu dia tidak ingin mengadu jiwa dengan diri

Koan Ing.

Dia mendengus dingin, telapak kirinya dibabat menghadang pukulan dari pemuda itu sedang telapak kanannya yang siap hendak mencengkerami pundak kirinya berganti arah menghajar wajahnya.

Koan Ing dengan dingin memandang datangnya serangan tersebut tangan kanannya tetap mengubah jurus. lima jarinya dipentangkan dengan menggunakan telapak sebagai pengganti pedang dia membabat ke arah tangan kiri Nikouw berusia pertengahan itu.

Bukannya berganti jurus, dia melanjutkan gerakannya hal ini jelas memperlihatkan kalau kepandaian jauh lebih tinggi dari Nikouw itu.

Dalam hati nikouw berusia pertengahan itu merasakan hatinya berdesir, dia sama sekali tidak menyangka kalau kepandaian silat dari pemuda ini dahsyat, dia tidak berani berlaku gegabah lagi telapak kanannya dengan cepat ditarik sedang tubuhnya mundur satu langkah ke belakang.

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, lima jari tangan kanannya mendadak disentil ke depan, lima gulung desiran angin serangan yang amat tajam dengan cepat meluncur ke arah nikouw berusia pertengahan itu.

Saking kagetnya air muka nikouw itu segera berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat. dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam dari Koan Ing jauh lebih tinggi dari pada apa yang dipikirkan bahkan saat ini pemuda itu berada di dalam luka berat.

Sambil menjerit kaget tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping. Dimana angin pukulan jari itu menyambar datang jubah putihnya sudah tertembus lima buah lubang kecil, masih untung Koan Ing tidak bermaksud melukai dirinya.

Walaupun begitu saking kagetnya keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia berdiri termangu-mangu disana beberapa saat lamanya.

Langkah kaki Koan Ing tidak mau berhenti sampai disitu saja, tubuhnya dengan cepat berkelebat menerjang naik ke atas puncak.

Kembali lewat Beberapa saat lamanya, jalanan gunung semakin lama semakin berbahaya.

Sewaktu dia melewati sebuah tikungan tebing tampaklah seorang nikouw muda dengan argkernya sudah menanti kedatangannya ditengah jalanan.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, baru saja dia siap-siap menerjang ke atas mendadak nikouw itu membuka matanya.

“Apakah yang datang adalah Koan Ing Koan Siauw-hiap?” tegurnya.

Koan Ing jadi melengak, dia sama sekali tidak menyangka kalau ada orang yang mengenali dirinya, dia lalu mengangguk dan memperhatikan nikouw itu dengan pandangan tajam.

Nikouw itu memakai jubah warna putih dengan wajah yang cantik hanya saat ini rada kepucat2an. jika dipandang dari sikap serta wajahnya jauh berbeda dengan kedua orang nikouw yang terdahulu, dia mempunyai satu pengaruh yang memaksa orang untuk menaruh hormat kepadanya. “Pinnie Ceng It. murid tertua dari Sin-san Soat-nie!” ujar Nikouw muda itu dengan perlahan.

Sawaktu Koan Ing mendengar nikoW yang ada di hadapannya saat ini adalah murid tertua dari Sin-san Soat-nie hatinya rada kaget, walaupun saat ini dia bermaksud untuk menerjang naik ke atas puncak, tidak urung sebagai penghormatan terhadap nikouw muda itu dia mengurungkan niatnya juga,

“Ooouw.... kiranya Cing It suci!” serunya sambil bungkukkan badan memberi hormat. “Koan Ing mempunyai satu permintaan yang tidak sesuai harap suci suka mengabulkannya.”

Dengan pandangan yang tawar Cing It memandang sekejap ke arah pemuda itu lalu Katanya; “Setiap orang yang menaiki puncak Su Li Hong rintangan pertama masih boleh berjalan balik, tetapi bilamana telah menerjang masuk rintangan kedua, yang lelaki harus dipapas putus sebuah lengannya sedang yang perempuan harus cukur rambut jadi nikouw. Tetapi bilamana bertemu dengan orang yang memiliki kepandaian silat maka satu2nya keputusan adalah mati!”

“Tetapi aku harus menemui Sang Siauw-tan!” seru Koan Ing dengan ngotot.

Air muka Cing It masih tetap amat tawar, dia tidak menggubris perkataan dari pemuda itu sebaliknya dengan dingin sambungnya lagi, “Mengingat kau adalah keponakan murid Kong Boen Yu dan paman gurumu itu mempunyai ikatan persahabatan dengan suhuku tempo hari maka asalkan kau orang melepaskan pedang dan minta maaf, suhuku akan menyudahi urusan ini.”

Koan Ing yang mendengar Cing It Nikouw berbicara demikian, dalam hati lantas mengetahui kalau urusan ini tidak bakal bisa diselesakan dengan cara damai, dia tertawa. “Kalau begitu terpaksa aku harus menerjang dengan menggunakan kekerasan!” serunya.

Dari pinggangnya Cing It Nikouw lantas mencabut keluar sebilah pedang panjang siap-siap menghadapi sesuatu.

Koan Ing pun mencabut keluar pedang Kiem-hong- kiamnya, dia memandang sekejap ke arah Cing It Nikouw lalu katanya, “Suci harap kau orang suka turun tangan lebih ringan terhadap diriku”

Dia bungkukkan badannya memberi hormat terlebih dulu kemudian tubuhnya baru berkelebat menerjang ke depan.

Dengan cepat Cing It Nikouw menyingkir ke samping pedang panjang ditangannya dengan cepat membabat ke depan, serentetan sinar kehijau2-an berkelebat ditengah angkasa menabas jalan pergi dari Koan Ing.

Gerakannya amat dahsyat sekali sehingga mengejutkan pemuda itu!

Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, pedang panjangnya digetarkan sehingga mendengung amat keras, dengan menimbulkan gerakan separuh busur dia membabat datangnya serangan pedang dari Cing It ni-kouw itu, inilah yang dinamai jurus “Ci Cie Thian ang.”

Cing It nikouw yang untuk pertama kalinya harus bergebrak melawan ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat hatinya merasa rada berdesir juga, dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing yang ada di hadapannya pada saat ini walaupun lagi menderita luka parah tetapi tenaga dalamnya masih amat dahsyat sekali!

Diantara berkehbatnya bayangan putih berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan tusukan yang setiap gerakannya membawa hawa pedang yang amat dahsyat.... Dengan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing pada saat ini ditambah dengan banyaknya pengalaman yang didapatkan sewaktu melawan musuh pada masa yang lalu sudah tentu pemuda ini tidak bakal merasa jeri terhadap ketiga buah serangan tusukan pedang dari Cing It nikouw ini.

Pedarg panjangnya segera disentil ke depan.... ”Criiing. !”

dengan menimbulkan suara yang amat tajam dia menusuk alis muka Cing It nikouw.

Cing It nikouw menarik napas panjang. tubuhnya mundur ke belakang sedang gerakkan pedangnya dari kedudukan menyerang kini berubah jadi kedudukan bertahan. berturut- turut dia mengubah tiga buah gerakkan pedang untuk menghalangi jurus serangan dari Koan Ing ini.

Ditengah suara sUitan yang panjang tubuh Koan Ing berkelebat ke depan, pedang kiem-hong-kiamnya balas melancarkan serangan ke arah Cing It nikouw dengan menggunakan jurus-jurus ‘Thian Hong Si Lang’ atau angin langit meniup ombak! ‘Hay Ciauw Thian Yang’ atau pojok laut ujung langit, serta ‘Noe Ci Sin Kiam’ atau gemas gusar kebutkan pedang.

Cing It nikouw yang melihat kedahsyatan tenaga dalam Koan Ing walaupun berada dalam keadaan luka berat masih berada jauh diatasnya, dengan cepat pedangnya dikebaskan ke depan, sedang tubuhnya tergetar mundur selangkah demi selangkah ke arah belakang.

Begiiu Koan Ing berhenti bersuit pedangnya sudah berhasil menekan ujung pedang dari Cing It nikouw, inilah jurus serangan “Ban Sin Ping To” atau selaksa malaikat menenangkan ombak.

Pedang panjang ditangan kanan Citig It nikouw yang terkena tekanan kini tak dapat maju maupun mundur tetapi air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugup maupun terkejutnya. Sebenarnya Koan Ing mempunyai maksud untuk paksa dia untuk melepaskan pedang tetapi sewaktu angkat kepalanya dan memandang sinar matanya yang berkedip2 entah mengapa hatinya merasa berdebar amat keras, dia merasa ada suatu perasaan yang sangat aneh.

Pedangnya segera miring kesamping, dengan meminjam kesempatan tenaga pantulan ke samping itulah Cing It nikouw cepat2 berjumpalitan beberapa kali ditengah udara untuk melenyapkan tenaga tekanan ditubuhnya kemudian melayang turun ke atas tanah.

“Terima kasih atas kemurahan hati suci!” ujar Koan Ing kemudian sambil bupgkukkan badannya memberi hormat.

Cing It nikouw sendiripun tahu kalau Koan Ing tidak bermaksud untuk paksa dia melepaskan pedang, melihat pemuda itu menjura kepadanya diapun lantas balas memberi hormat.

“Sute harap suka baik-baik berjaga diri, semoga kau berbasil mencapai keinginanmu”,

Koan Ing lantas putar tubuh dan berlari menuju ke atas puncak.

Dikarenakan adu tenaga dengan Cing It nikouw baru2 ini pemuda tersebut merasakan kepalanya mulai pening.

Dia tidak ingin sampai Cing It nikouw melihat keadaannya yang amat mengenaskan itu. setelah berputar satu pojokan gunung dia baru mencekal dinding batu untuk menahan badannya, saat ini keringat dingin mengucur keluar terus dengan amat derasnya, pandangannya jadi gelap hampir- hampir tidak kuasa untuk mempertahankan diri.

Dia mulai pejamkan matanya untuk beristirahat, setelah itu sambil menggigit kencang bibirnya dia meneruskan perjalanannya naik ke atas puncak, dia takut bilamana sampai sedikit terlambat maka selamanya akan menyesal. Setelah berjalan sampai di atas puncak matanya mulai memandang ke kanan memandang ke kiri memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Di atas puncak gunung Su Li Hong berdirilah sebuah kuil yang amat megah, di depan pintu kuil duduklah seorang nikouw berbaju putih dengan amat tenangnya, keadaan di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Selangkah demi selangkah Koan Ing maju ke depan, terlihatlah olehnya seluruh tubuh nikouw berbaju putih itu berwarna putih bersih laksana salju dan saat ini sedang memejamkan matanya duduk disana, agaknya dia sama sekali tidak melihat munculnya Koan Ing disana.

Tetapi sekali pandang saja Koan Ing sudah tahu kalau orang itu bukan lain adalah Sin Hong Soat-nie.

Dengan cepat pemuda itu jatuhkan diri berlutut di hadapannya.

“Boanpwee Koan Ing menghunjuk hormat buat Soat-nie!” serunya.

“Ada maksud tujuan apa kau datang kemari?” tanya Sin Hong Soat-nie sambil membuka matanya.

Dengan perlahan Koan Ing mendongakkan kepalanya, terlihatlah olehnya sepasang mata nikouw yang berwarna hitam laksana intan permata memancarkan cahaya yang gemerlapan. Hatinya jadi merasa rada tergetar. Dia tidak menyangka kalau pada masa yang silam Sin Hong Soat-nie adalah seorang gadis cantik.

Dia tidak berani melihat lagi, cepat2 kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

“Boanpwee datang kemari hendak menemui Sang Siauw- tan.” “Kau orang bukannya tidak mengetahui peraturan dari puncak Su Li Hong ini, kenapa nyalimu begitu besar?” Teriak Sin Hong Soat-nie dengan dingin.

“Aku harus menemui dirinya, tidak perduli bagaimanapun aku harus bertemu muka dengan dirinya!”

Sinar mata Sin Hong Soat-nie dengan perlahan menyapu sekejap ke atas pundaknya lalu ujarnya dengan perlahan, “Baru2 ini aku mendengar munculnya kembali kereta berdarah di dalam Bu-lim bahkan Si Budak Berdarah dari kegelapan pun sudah munculkan dirinya kembali, pundakmu sudah terluka apakah terluka ditangan Si Budak Berdarah itu?”

Dengan perlahan Koan Ing mengangguk.

Dari sepasang mata Sin Hong Soat-nie segera memancar keluar sinar mata yang sangat aneh.

“Kau berani naik ke atas gunung dengan membawa luka, nyalimu sungguh tidak kecil” ujarnya dengan perlahan. “Kau sudah datang kemari maka jangan harap bisa turun gunung dalam keadaan hidup2, kau hendak bunuh diri atau aku yang turun tangan!”

Selamanya Koan Ing tidak pernah. tunduk kepada otang lain atau minta ampun kepada orang lain mendengar perkataan dari Sin Hong Soat-nie ini hatinya rada tersinggung.

Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan mencabut keluar pedang kiem-hong-kiamnya lalu tertawa tawar.

“Walaupun kepandaian silat aku Koan Ing tidak tinggi tetapi aku pun ingin sekali minta berapa jurus petunjuk dari jagoan pandai dari Bu-lim!”

Sin Hong Soat-nie yang melihat Koan Ing berani dia menantang untuk bertempur dengan pandangan tajam segera memperhatikan diri Koan Ing. Sejak pertemuaannya untuk pertama kali tadi dia sudah merasa kalau pemuda ini bukanlah manusia yang lemah seperti apa yang sedang dipikirkan semula bahkan taruhan nyawa dia hendak menemui Sang Siauw-tan entah dikarenakan soal apa?

Tetapi sikap yang sangat jumawa dari Koan Ing membuat dia merasa sangat tidak puas!

“Selama dua puluh tahun ini cuma kau seorang yang berani berbuat begitu jumawa terhadap diriku bahkan kau berani juga naik kepuncak dalam keadaan luka dalam, bilamana kau bisa menangkan diriku bukan saja dapat bertemu dengan Sang Siauw-tan bahkan puncak Su Li Hong ini pun cuma kau seorang yang boleh pulang pergi!” katanya parlahan.

Ooo)*(ooO

Bab 26

KOAN ING tidak mengucapkan sepatah katapun, Kiem- hong-kiam ditangannya dengan perlahan-lahan diangkat sejajar dengan dada.

Dengan pandangan terpesona Sin Hong Soat-nie memperhatikan diri Koan Ing lalu ujarnya, “Aku sudah sangat lama tidak bergebrak dengan orang, bilamana kau suka melawan aku dengan menggunakan pedang dan berhasil untuk menerima seranganku sebanyak seratus jurus aku bisa kabulkan permintaanmu untuk bertemu dengan Sang Siauw- tan! saat ini dia masih belum cukur rambutnya.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat dia tidak memikirkan apakah dirinya bisa bertahan terhadap seratus jurus serangan dari Sin Hong Soat-nie. saat ini benaknya lagi dlpenuhi dengan berbagai ilmu silat yang pernah dipelajarinya untuk mencari apakah ada cara untuk mengalahkan Sin Hong Soat-nie.

“Terima kasih suthay.” sahutnya. Dari pinggangnya Sin Hong Soat-nie segera mencabut keluar sebilah pedang lalu dengan menggunakan tangan kirinya mengelus-elus.

Koan Ing tetap berdiri tak bergerak di atas tanah, berbagai jurus-jurus ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari kitab pusaka Boe Shia Koei Mie mulai berkelebat memenuhi benaknya, tetapi dia masih belum dapat mendapatkan apakah dengan kekuatan tenaga dalamnya saat ini bisa mengalahkan diri Sin Hong Soat-nie.

Dengan dinginnya Sin Hong Soat-nie membentak keras. “Awas. !!”

Tubuhnya dengan cepat menubruk ke depan, pedang panjang tangannya dengan kecepatan yang luar biasa bergerak keluar, diantara berkelebatnya sinar keperak- perakan. dia menghajar tubuh Koan Ing.

Pedang kiem-hong-kiam ditangan kanan Koan Ing segera disentilkan ke depan, lalu dengan menggunakan jurus untuk bertahan Hay Thian It Sian yang paling lihay dia mempertahankan diri.

Dengan rasa terperanjat Sin Hong Soat-nie menjerit kaget, tubuhnya segera melayang ketengah udara sedang pedangnya sewaktu berputar dengan cepat menekan pedang kiem-hong- kiam ditangan Koan Ing.

Inilah jurus Ban Sin Peng To dari ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat.

Sinar mata Koan Ing dengan cepat berputar, pedang kiem- hong-kiamnya dengan menimbulkan suara desingan yang amat keras Segera membentuk satu lingkaran busur inilah jurus Noe Ci Sin Kiam dari ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat.

Sin Hong Soat-nie yang melihat Koan Ing dalam keadaan luka parah masih berani menerima datangnya serangan dengan keras lawan keras hatinya rada bergidik juga. Pedangnya dengan cepat berkelebat, ujung pedangnya segera menekan ke atas tubuh pedang yang ada ditangan Koan Ing itu.

Koan Ing bersuit nyaring. pedang kiem-hong-kiamnya menyentil ke depan, diantara berkelebatnya sinar pedang yang berwarna keemas-emasan dia sUdah menyalurkan hawa khei-kang tingkat tertinggi dari aliran Bu-tong-pay ke dalam jurus pedang tersebut.

Pedang kiem-hong-kiamnya segera menyentil ke depan berturut-turut berkelebat sebanyak tujuh kali mengancam tujuh tempat yang berbeda, inilah gerakan “Ku Koang Chiet Ci” .

Pedang Sin Hong Soat-nie dengan beratnya menekan kebawah. tetapi hanya di dalam beberapa sentilan saja tenaga tekanannya berhasil dipunahkan semua yang melihat kejadian itu dengan rasa amat terkejut segera pujinya; “Jurus pedang yang bagus! “

Koan Ing benar-benar terdesak. terpaksa dia harus mengerahkan jurus baru ciptaannya sendiri untuk  melancarkan serangan itu.

Melihat serangannya mencapai pada sasaran, tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan sedang pedang kiem-hong- kiamnya berkelebat dan menotok ke depan menusuk alis dari Sin Hong Soat-nie.

Sin Hong Soat-nie dengan cepat melintangkan pedangnya ke depan, serentetan sinar tajam yang menyilaukan mata menghalangi datangnya serangan dari Koan Ing kemudian meneruskan gerakannya menekan dada sang pemuda.

Saat ini pemuda tersebut sudah benar-benar terjerumus ke dalam lamunan, berbagai jurus serangan dari kolong langit tiada hentinya berkelebat di dalam benaknya, dia cuma tahu dirinya harus cepat2 menangkan diri Sin Hong Soat-nie. Pedang Kiem-hong-kiam ditangannya berturut-turut berganti jurus, dengan meleburkan seluruh kepandaian silat yang ada di dunia ini ke dalam ilmu silat ‘Thian-yu Si cap pwee cau’ pedang kiem-hong-kiamnya dengan gerakan menutup, menekan bersama-sama menggencet diri Soat-nie.

Dalam hati Sin Hong Soat-nie merasa sangat terperanjat, mendadak dia mulai merasakan kalau Koan Ing bukanlah seorang musuh yang enteng ilmu pedang dari pemuda itu benar-benar membuat hatinya bergidik.... bahkan selamanya dia belum pernah menemui orang yang memiliki kepandaian silat yang demikian sempurnanya.

Pedangnya dengan cepat berkelebat menutup datangnya serangan dan Koan Ing.

Saat ini Koan Ing benar-benar sudah terjerumus ke dalam alam lamunan, jurus-jurus serangan yang dilancarkan melalui pedangnya dengan tiada hentinya mengalir keluar, agaknya seluruh kepandaian silat yang ada di dalam dunia ini sudah diketahui olehnya.

Pedang Kiem-hong-kiamnya dengan mengikuti gerakan tubuhnya laksana serentetan sinar keemas-emasan segera berkelebat menghajar tubuh Sin Hong Soat-nie,

Sin Hong Soat-nie merasakan hatinya rada bergidik,  pedang panjangnya dengan cepat berkelebat menghalangi gerakan dari Koan Ing.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau tenaga dalam pemuda itu amat lihay bahkan setiap jurus serangan belum habis dilancarkan jurus serangan yang lain sudah menyusul datang.

Demikianlah seluruh angkasa segera dipenuhi dengan bayangan sinar emas serta perak yang saling berkelebat tiada hentinya, Saat ini Koan Ing sudah benar-benar dibuat mabok oleh jurus pedang yang dilancarkan keluar seluruh pengetahuan yang pernah diperolehnya selama ini diperas keluar habis- habisan membuat pedang kiem-hong-kiamnya setiap kali berkelebat tentu melancarkan serangan-serangan yang ada diluar dugaan,

Sin Hong Soat-nie sendiripun sama sekali tidak menyangka akan kedahsyatan serta kehebatan dari jurus serangan yang dilancarkan oleh sang pemuda.

Hanya di dalam sekejap saja masing-masing pihak sudah saling bergebrak sebanyak lima puluh jurus, Sin Hong Soat-nie mulai mengerutkan alisnya rapat-rapat dia tahu bilamana pertempuran melawan Koan Ing ini dilanjutkan lebih lama maka keadaan akan semakin tidak genah.

Dengan nyaringnya dia membentak keras, tubuhnya meloncat ke atas sedang pedangnya digetarkan mementalkan pedang kiem bong kiam yang mengancam badannya itu tubuhnya dengan cepat berkelebat ke depan sedang pedangnya digetarkan membentuk bintang2 berwarna keperak-perakan menghajar tubuh Koan Ing,

Koan Ing cuma merasakan angin pukulan yang amat tajam menusuk badannya dia lantas membentak keras, pedang kiem horg kiamnya ditarik kembali membentuk satu lingkaran mekar memunahkan serangan dari nikouw tersebut.

Dengan dinginnya Sin Hong Soat-nie mendengus. keanehan dari ilmu pedang Koan Ing ini benar-benar membuat hatinya keheranan. bilamana dia tidak dapat memegang kesempatan ini maka sebelum seratus jurus ada kemungkinan dia bisa memperoleh kekalahan.

Pedang panjangnya segera disambar ke arah depan dengan menggunakan jurus Cian So Suo Ci yang paling dibanggakan.... Ditengah berkelebatnya sinar keperak-perakan tampaklah pedang kiem-hong-kiam ditangan kanannya tergetar amat keras sehingga menimbulkan suara dengungan yang memekikkan telinga.

Pedang Kiem-hong-kiamnya segera membentuk gerakan busur memecahkan berbagai serangan-serangan gencar lalu menyentuh tusukan pedang dari nikouw tersebut.

Kecepatan perubahan ini dilakukan hanya di dalam sekejap saja membuat Sin Hong Soat-nie jadi kelabakan.

Hanya di dalam sekejap saja kembali puluhan jurus berlalu, Sin Hong Soat-nie mulai merasa hatinya amat terkejut bercampur gusar bilamana di dalam seratus jurus dia tidak berhasil mengalahkan diri Koan Ing maka bagaimaaa malunya dia orang dengan kawan2 Bu-lim lainnya.

Sinar matanya dengan cepat berkelebat, ketika dilihatnya sinar mata Koan Ing amat terperanjat dia tidak tahu Koan Ing lagi memikirkan urusan apa, di dalam anggapan Koan Ing sudah tersesat sehingga memainkan serangan sesat yang membingungkan.

Pelangnya kembali digetarkan ke depan. serentetan sinar keperak2an yang panjangnya ada setengah depa segera memancar ke depan.

Mendadak Koan Ing jadi sadar kembali dari lamunannya, pedang ditangan kanannya menekan kebawah lalu dengan lurus menusuk ke depan inilah jurus ‘Hay Thian It Sian’.

Diantara berkelebatnya sinar keemasan hawa pedang memenuhi angkasa menggetarkan serangan-serangan tersebut,

Sin Hong Soat-nie yang telah melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu h wa pedang yang paling tinggi untuk menyerang musuhnya jelas sudah mempunyai niat untuk mengalahkan Koan Ing di bawah serangan pedangnya, tetapi sama sekali tak terduga olehnya kalau tenaga dalam Koan Ing pun amat dahsyat sekali.

Serangan pedangnya dilancarkan keluar terus menerus, pedangnya laksana serentetan sinar keperak-perakan yang disertai hawa tekanan yang amat hebat menghajar tubuh Koan Ing.

Sebaliknya Koan Ing berada dalam keadaan tenang-tenang saja, air mukanya berubah jadi amat kukuh sedang pedangnya perlahan-lahan digetarkan menuding ketengah angkasa.

Diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan yang menyilaukan mata pemuda itu baru merasa kaget kalau kedahsyatan hawa pedang Sin Hong Soat Hie sama sekali berada diluar dugaannya, dia tahu ilmu tenaga dalam yang demikian dahsyatnya tidak dapat diperoleh kemenangan dengan mengandalkan kegesitan serta kebagusan saja.

Harapan untuk menang mulai lenyap dari dasar lubuk hatinya, saat ini dia cuma mengharapknn bisa bertahan sampai seratus jurus lebih.

Sin Hong Soat-nie yang melihat kekukuhan hati Koan Ing dalam hati merasa terperanjat, walaupun dia lahu kalau tenaga lweekang dari pemuda itu jauh lebih lemah dan tenaga lweekangnya sendiri tetapi hati seseorang yang telah bulat tekad untuk mati dan bertempur mati2an akan jauh lebih dahsyat tenaganya.

Pedang ditangannya berturut-turut berkelebat kesana kemari Demikian pedang kiem-hong-kiam itu terpaksa harus mundur ke belakang.

Akhirrja tibalah pada jurus yang terakhir. dia mendengus dingin pedangnya dengan menimbulkan pelangi perak disentilkan ke depan, inilah jurus yang terlihay dari ilmu pedang “Sin Hong Kiam Hoat”nya jaitu jurus “Sin Sian Hwee Jong” atau sumber air muncrat menyebar. Koan Ing yang melihat kedahsyatan dari tenaga tekanan jurus serangan itu hatinya merasa terperanjat, dia tahu bilamana dia tidak membuang pedang untuk mengaku kalah maka sebentar saja tubuhnya akan menggeletak di atas tanah dengan bermandikan darah segar. 

Berpuluh-puluh ingatan dengan cepat berkelebat dalam hatinya, kini adalah jurus keseratus! Bilamana dia tidak berhasil menerima serangan ini dan menderita kalah maka tak ada kemungkinan lagi baginya untuk menemui diri Sang Siauw-tan, untuk memenuhi harapan tersebut dengan paksakan diri dia harus menerima juga serangan terakhir ini.

Ditengah berputarnya berbagai ingatan Koan Ing bersuit panjang lalu menggerakkan pedang kiem-hong-kiamnya menyambut datangnya serangan dari Sin Hong Soat-nie itu.

Dengan cepatnya sepasang pedang bentrok menjadi satu sehingga menyebabkan beterbangannya bunga-bunga api, diantara mengamuknya hawa pedaag yang amat santar itulah sesosok bayangan manusia terlempar keangkasa sejauh tiga kaki lebih.

Koan Ing masih memegang kencang-kencang pedang kiem- hong-kiamnya, dengan perlahan dia bangkit berdiri dan tertawa.

“Suthay, seratus jurus sudah lewat!” serunya,

Pandangannya mulai menggelap, tetapi dengan mengikuti ingatannya dia mulai putar badan menghadap ke arah dimana Sin Hong Soat-nie berdiri.

Sin Hong Soat-nie yang melihat seluruh tubuh Koan Ing sudah bermandikan darah hatinya merasa rada menyesal, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk melukai diri sang pemuda, dia ingin paksa Koan Ing untuk melepaskan pedangnya. Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu berani bertaruhan nyawa untuk menerima juga serangannya yang terakhir itu dengan keras lawan keras.

Walaupun pada hari biasa dia sering melihat orang terluka tetapi keadaan seperti Koan Ing ini hari dia belum pernah menemuinya. Koan Ing bisa lolos dari serangan dahsyatnya hal ini merupakan suatu kemujuran buat dirinya!

Dengan pandangan terpesona Sin Hong Soat-nie memperhatikan diri Koaa Ing, selamanya dia belum pernah menemui orang yang demikian kukuh dan bersemangatnya.

Lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata dengan suara perlahan, “Sang Siauw-tan ada di dalam ruangan tengah, kau pergilah menemui dirinya!”

Koan Ing cuma merasakan kepalanya amat pening sedang dadanya terasa sangat mual, dengan menggunakan pedangnya untuk mempertahankan badan dia coba berdiri tegak kemudian setelah mengetahui jelas arah tujuannya dengan perlahan baru berjalan maju ke depan.

Dengan termangu-mangu Sin Hong Soat-nie memandang puuggung pemuda itu, dalam hati dia merasakan suatu perasaan sedih yang sangat tidak enak.

Dia tidak menyangka kalau dirinya yang disebut orang sebagai manusia berwajah welas berhati kejam ini hari harus menaruh rasa sedih buat orang lain.

Dengan langkah yang rada sempoyongan Koan Ing berjalan masuk melalui pintu besar. dia memasukkan dulu pedangnya ke dalam sarung lalu membereskan pakaiannya yang sudah robek dan kumal setelah itu baru berjalan masuk kedalam.

Dalam hati diam-diam pikirnya, “Ini kali adalah pertemuan kami yang terakhir, aku harus bersikap baik-baik agar pandangannya tidak jelek kepada diriku dan akupun tidak akan merasa menyesal sampai akhir jaman!” Baru saja Koan Ing berjalan maju satu langkah pandangannya kembali jadi gelap hampir-hampir dia terjatuh ke atas tanah.

Dengan terburu? tangannya mencekal pintu depan lalu pikirnya sambil mentertawakan dirinya sendiri, “Bisa bertemu dengan Sang Siauw-tan atau tidakpun masih merupakan Satu persoalan buat apa aku bereskan pakaian segala macam.”

Lama sekali dia berhenti di depan pintu kemudian dengan perlahan baru berjalan masuk ke dalam ruangan.

Nikouw berbaju putih berlalu-lalang menlaluinya dikedua belah sampingnya tetapi dia sama sekali tidak melihat jelas, selangkah demi selangkah pemuda itu berjalan melewati ruangan pertama menuju keruangan tengah.

Dengan langkah perlahan dia menaiki anak tangga lalu berdiri tersandar di pintu beberapa saat lamanya.

Terlihatlah olehnya seorang bayangan putih menghampiri dirinya, sekali pandang saja dia tahu kalau orang itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan, walaupun saat ini dia membelakangi dirinya tetapi tidak mungkin salah lagi.

Saking girangnya tidak kuasa lagi air mata mulai  bercucuran membasahi wajahnya.

Lama sekali Koan Ing berdiri termangu-mangu beberapa saat kemudian dengan rada gemetar sapanya:

“Siauw-tan!”

Sang Siauw-tan tetap membelakangi pemuda itu, dia duduk dengan tenangnya di tempat tersebut.

“Kau datang kemari ada urusan apa?” tanyanya kemudian setelah termenung beberapa saat lamanya.

“Aku ingin melihat wajahmu untuk teeakhir kalinya, aku  ada banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirimu,” kata Koan Ing sambil berjalan maju dengan perlahan, matanya memandang ke arah punggung gadis itu dengan mendelong....

“Kau beiani menyerbu puncak terlarang Su Li Hong sekalipun mati juga seharusnya, kau jangan mengira aku bisa menaruh rasa kasihan kepadamu Sang Siauw-tan sudah lama mati, kau boleh pergi!”

Koan Ing jadi melengak.

“Siauw-tan!! Kau jangan begitu membenci aku. Bilamana kau bisa memahami hatiku akupun tidak usah memberi penjelasan kepadamu, tetapi bilamana kau menyuruh aku pergi baiklah! aku segera akan pergi!”

Sang Siauw-tan yang duduk membelakangi pemuda itu kini berada dalam keadaan kebingungan, dia tidak mau menoleh karena takut hatinya bertambah sedih.... walaupun begitu air mata tak kuasa lagi mulai mengucur keluar dengan amat derasnya.

Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan tidak berbicara dalam hati lantas mengerti kalau dara tersebut sudah mau mendengarkan perkataannya.

“Siauw-tan! Aku tidak ingin mencelakai dirimu!” ujarnya dengan perlahan. “Sekalipun aku tidak naik kepuncak Su Li Hong nyawakupun tidak akan lebih dari sepuluh hari, tentunya kau tahu bukan kenapa aku suruh kau merasa kecewa? Aku tidak bisa mencelakai kebahagiaan seumur hidupmu!”

Dengan termangu-mangu Sang Siauw-tan duduk termenung, hampir-hampir dia tidak mau percaya terhadap telinganya sendiri.

Koan Ing mau mati? Nyawanya tinggal sepuluh hari saja? Apa yang sudah terjadi? Urusan yang lalu mulai berkelebat kembali di dalam benaknya, Koan Ing bagaimana bisa. Ach!

pasti perbuatan dari Ciu Tong! Dia mulai merasa menyesal kenapa dirinya naik kepuncak Su Li Hong, dia menyesal karena perbuatannya yang mengikuti nafsu waktu itu menbuat mereka berdua jadi bjgini.

“Siauw-tan!” Ujar Koan Ing lagi.” Aku tahu tidak  seharusnya aku bersikap begitu kepadamu. tetapi kaupun harus berpikir pula dengan lebih mendalam. kau masih ada ayahmu yang sudah tua.... apa kau merasa tega untuk tinggalkan orang tuamu untuk jadi Ni-kouw?”

Mendadak Sang Siauw-tan menoleh ke belakang dan memandang terpesona diri Koan Ing yang penuh berpelepotan darah.

Akhirnya tidak tertahan lagi dia menubruk tubuh pemuda tersebut dan menangis tersedu-sedu.

“Oooow.... engkoh Ing! kenapa tidak kau katakan sejak dulu!” teriaknya.

“Siauw-tan!” kata Koan Ing sambil memegang erat tangan gadis tersebut, Kau barus turun dari puncak.... ,kau harus meninggalkan tempat ini.

Sang Siauw-tan yang berada di dalam pelukan pemuda itu menangis semakin keras lagi.

“Engkoh Ing. aku akan turun gunung bersama-sama kau . kau.... kau. , kau tidak boleh mati!”

Koan Ing menarik napas panjang? Lalu tertawa sedih, dia tahu urusan itu tidak mungkin terjadi, Urusan sulah jadi begini apakah mereka masih bisa turun gunung dengan selamat!? hal ini tidak bakal bisa terjadi.

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak dari luar ruangan kuil itu berkumandang masuk suara helaan napas panjang.

Kalian berdua boleh turun gunung, tetapi Siauw-tan boleh kembali lagi setelah Koan Ing mati. Setelah berbicara sampai disitu suasana kembali menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Di dalam hati Koan Ing benar-benar merasa terkejut bercampur girang, dia sama sekai tidak mengerti Sin Hong Soat-nie yang selamanya dikatakan orang sebagai si manusia berwajah welas berhati kejam kenapa ini hari bisa berbuat begitu ramah dan baik?

Dia bilang Sang Siauw-tan boleh kembali, tetapi terang- terangan dia tahu kalau ayah Sang Siauw-tan adalah sijari sakti Sang Su-im apalagi Sang Siauw-tan belum menyanggupi, sampai waktunya bilamana dia kembali nikouw inipun tidak bisa berbuat apa-apa.

Sang Siauw-tan sendiri juga termangu-mangu, beberapa perkataannya tadi sebenarnya diucapkan karena golakan hatinya, dia sendiri sama sekali tidak memikirkan apakah urusan ini bisa dikabulkan atau tidak, siapa sangka Sin Hong Soat-nie ternyata sudah mengabulkan perkataannya itu dengan cepat.

Mereka berdua saling berpandangan beberapa saat lamanya, kemndian dengan dibimbing oleh Sang Siauw-tan mereka berdua mulai berjalan keluar dan kuil itu.

Cuaca baru saja terang tanah, udara sangat dingin sekali....

ditengah tiupan angin kencang yang amat dahsyat bunga- bunga salju beterbangan memenuhi permukaan tanah.

Dari antara permukaan salju yang tebal itulah tampak dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat menuju ke sebelah barat.

Mereka berdua adalah Koan Ing serta Sang Siauw-tan berdua, setelah beristirahat dua hari sekembalinya dari puncak Su Li Hong dan luka yang diderita Koan Ing sudah sembuh mereka berdua malanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah Barat. Koan Ing yang merasa yakin Bun Ting-seng itu pembunuh ayahnya pasti berada di daerah Tibet, lantas mengajak Sang Siauw-tan untuk bersama-sama berangkat ke Tibet.

Saat ini hubungan batin diantara mereka berdua sudah maju lagi satu tingkat sedang rasa cinta yang meliputi mereka berduapun sudah lebih mendalam satu lapis,

Mendadak....

Dari antara permukaan salju di tempat kejauhan tampaklah dua sosok bayangan manusia berkelebat dengan amat cepatnya menuju ke arah mereka berada.

Koan Ing yang melihat munculnya dua sosok bayangan manusia menuju ke arah mereka alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.... jika dilihat dari kecepatan geraknya jelas mereka berdua adalah jago-jago kelas wahid dari kalangan Bu-lim.

Cepat2 dia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk memperlambat gerakannya.

Kedua sosok bayangan manusia itu dengan cepatnya berkelebat mendatang dan akhirnya berhenti dihadapan mereka.

Melihat akan hal itu Koan Ing pun terpaksa menghentikan langkahnya lalu memperhatikan sekejap dua orang itu.

Tampaklah orang yang ada di hadapannya saat ini adalah dua orang TooSu yang satu tua yang lain muda

jang tua rambut serta jenggotnya sudah pada memutih semua sedang yang muda berusia kurang lebih tiga puluh tahuran, pada pundaknya masing-masing tersoreng sebilah pedang panjang.

“Apa kau orang adalah Koan Ing?” tanya sitoosu tua itu setelah memperhatikan diri Koan Ing beberapa saat lamanya, “Cayhe memang Koan Ing adanya. tolong tanya siapakeh Tootiang berdua. ?” tanya Koan Ing kembali sambil menyapu

sekejap ke arah mereka berdua.

Mendadak dia menemukan keadaan dari sitoosu muda itu rada tidak beres. sinar matanya dengan cepat berputar dan memperhatikan dirinya lebih tajam lagi.

Tampaklah sinar mata sitoosu itu Sedang melototi diri Sang Siauw-tan dengan tajam agaknya dia bermaksud untuk menelan seluruh tubuh gadis itu.

Melihat akan hal itu dia lantas mengerutkan alisnya, terlihat olehnya pada Saat itu Sang Siauw-tan pun lagi memandang Teosu tersebut dengan pandangan gusar pikirnya.

Kurang ajar siapakah toosu itu? Kenapa sedikitpun tidak tahu atuan? terang Toosu mana boleh melototi seorang gadis tanpa berkedip....

Pinto Yuan Si ujar Toosu tua itu lagi memperkenalkan diri. Bersama dengan muridku Sak Huan baru saja tiba di daerah Tibet, apakan kau tahu dimanakah Thian Siang Thaysu berada?” .

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia memandang sekejap ke arah Toosu muda itu dengan amat gemas.

Walaupun dalam hati dia merasa rada berada diluar dugaan terhadap munculnya Yuan Si Tootiang secara tiba-tiba tetapi terhadap diri Sak Huan dia merasa sangat tidak puas.

Yuan Si Tootiang yang melihat air mukanya pemuda itu rada berubah dia lantas melirik sekejap ke arah Sak Huan.

Agaknya waktu itu Sak Huan sitoosa muda tersebut sama sekali tidak merasa, sapasang matanya masih memandang ke atas tubuh Sang Siauw-tan tak berkedip.

Yuan Si Tootiang segera mendengus dingin, mendengar suara dengusan tersebut Sak Huan baru merasa terkejut sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah diri Koan Ing lalu memandang ke tempat kejauhan.

Koan Ing yang disapu sekejap oleh Sak Huan itu segera merasakan hatinya melonjak, saat itulah dia dapat melihat kalau sinar mata Toosu muda itu penuh diliputi oleh rasa dengki dan bermusuhan.

Alisnya dikerutkan semakin rapat, tak sepatah katapun diucapkan keluar.

Yuan Si Tootiang kembali mendengus, sinar matanya dengan rada mendongkol melirik sekejap ke arah Sak Huan.

“Jejak kereta berdarah apakah kau tahu?” tanyanya lagi sambil menoleh ke arah Koan Ing.

“Menurut apa yang cayhe ketahui kereta berdarah itu sudah terjatuh ketangan Si Budak Berdarah dari kegelapan!”

Yuan Si Tootiang termenung sebeataran terhadap sikap yang tawar dari Koan Ing serta tidak mau menyebut dirinya sebagai boanpwee dalam hati dia merasa sangat tidak puas.

“Kalau begitu sudahlah!” serunya kemudian sambil memperhatikan sekejap ke arah Koan Ing.

Sehabis berkata dengan mengajak Sak Huan dia berlalu menuju ke arah Barat.

Lama sekali Koan Ing memperhatikan mereka berdua, setelah bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan baru ujarnya kepada sang gadis:

“Mari kitapun pergi!”

Sang Siauw-tan mengangguk, mereka berdua segera berangkat menuju ke arah Barat daya. dia tidak ingin berjalan dengan arah yang sama seperti Yuan Si Tootiang berdua karena itu sengaja sedikit mengubah arahnya. Cuaca semakin lama semakin menggelap, akhirnya sampailah kedua orang itu disebuah kuil bobrok.

Ruangan kuil itu sudah hancur dan amat kotor tetapi cukup untuk berteduh. mereka berdua saling berpandangan sekejap lalu duduk bersandar di dinding untuk beristirahat.

“Eagkoh Ing! mata sitoosu muda tadi sungguh kurang ajar sekali,” ujar Sang Siauw-tan tiba-tiba.

Koan Ing tertawa tawar.

“Tiga manusia genah merupakan orang-orang dari kalangan lurus, aku lihat terhadap Sak Huan muridnya Yuan Si Tootiang sangat sayang, Hmmm! Dari antara ketiga manusia genah itu tak ada seorangpun yang bisa menandingi paman Cha.

Sang Siauw Ian tertawa sedih.

“Entah dimanakah ayahku pada saat ini.

Koan Ing cuma tersenyum dengan perlahan dia meraba rambut gadis itu dengan penuh kemesraan.

“Empek Sang mewakili aku pergi mencari tahu jejak dari Bun Ting-seng, kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang amat besar. dengan cepat kita bakal menemui anak buahnya dari perkumpulan Tiang-gong-pang.”

Dengan perlahan Sang Siauw-tan menyandarkan kepalanya di atas pundak Koan Ing lalu pejamkan matanya untuk beristirahat,

Mendadak dari tempat kegelapan berkumandang datang suara dengusan yang amat dingin,

Kedua orang yang lagi saling berpelukan dengan cepat memisahkan diri, sinar mata Koan Ing dengan cepatnya menyapu sekejap memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu. Dengan ketajaman matanya yang bisa melihat tempat kegelapan seperti memandang di tempat terang pemuda itu segera dapat menangkap sesosok bayangan manusia dengan cepatnya berkelebat menuju kepojokkan ruang kuil.

Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa amat terperanjat, sewaktu memasuki kuil tadi dia sudah memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu, waktu itu dia tidak menemukan siapapun, tetapi bagaimana orang ini bisa tiba di tempat itu sepengetahuan dirinya?

Dari hal ini saja sudah menunjukkan kalau kepandaian silat orang itu amat tinggi, tenaga lweekang yang dimilikipun tidak berada di bawah dirinya.

Koan Ing segera mencekal tangan Sang Siauw-tan erat-erat tenaga dalam orang itu sangat tinggi bahkan ada maksud untuk mengejar dirinya terus hal ini menunjukkan kalau dia orang mempunyai maksud jelek....

Sinar matanya dengan cepat berputar, dia tertawa kepada gadis itu ujarnya, “Entah siapakah orang itu, kelihatannya dia sengaja memancing agar aku pergi mengejar dirinya....

Hmmm! Kita tidak usah gubris dirinya lagi.”

Sang Siauw-tan tersenyum, tadi diapun mendengar suara dengusan yang amat dingin itu cuma sayang matanya tak dapat menangkap bayangan yang berkelebat.

Suara dengusan kembali berkumandang dari luar kuil. Koan Ing serta Sang Siauw-tan lalu saling bertukar pandangan sekejap, mereka berdua merasa heran entah siapakah dia orang.... agaknya dia paksa dirinya berdua untuk meninggalkan tempat itu.

Lama kelamaan Sang Siauw-tan mulai merasa tidak senang terhadap orang itu. dia mengerutkan alisnya rapat-rapat lalu menarik tangan Koan Ing, “Engkoh Ing, mari kita keluar untuk melihat siapakah orang itu lalu sedikit beri hajaran!”

Koan Ing tersenyum dan mengangguk, kemudian bersama- sama dengan Sang Siauw-tan berjalan keluar kuil itu.

Sekeluarnya dari ruangan dia dapat melihat diluar halaman sudah berdiri seseorang yang sedang memandang dirinya dengan pandaiagan dingin.

Dia jadi melengak.... kiranya orang itu bukan lain adalah Sak Huan itu anak murid dari Yuan Si Tootiang Ciangbunjien dari Bu-tong-pay.

Dengan pandangan dingin Sak Huan memandang ke arah Koan Ing lalu ejeknya, “Hmm! usiamu paling tidak tinggal sepuluh hari saja, kau punya hak apa untuk tetap bersama- sama dengan Sang Siauw-tan!”

Mendengar perkataan itu Koan Ing jadi amat gusar, dia sama sekali tidak menyangka kalau Sak Huan bisa mengejar mereka berdua sampai disini secara terang mengucapkan kata-kata tersebut.

“Agaknya di dalam urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu bukan. ?” serunya dingin.

Sinar mata Sak Huan berkedip2, dia tak menggubris perkataan dari Koan Ing itu sebaliknya kepada Sang Siauw-tan ujarnya:

“Koan Ing tidak bakal hidup lebih lama lagi, kenapa kau senang bersama-sama dirinya?”

Saking khekinya air muka Sang Siauw-tan sudah berubah jadi merah padam.

“Buat apa kau ikut campur?” bentaknya gusar.

Dengan termangu-mangu Sak Huan memperhatikan diri Sang Siauw-tan mendadak dia tertawa dingin. “Justru aku mau ikut campur, dengan kecantikan wajahmu tidaklah seharusnya berkawan dengan Koan Ing si manusia yang sudah mendekati ajalnya!”

Saking gemas dan mendoogkolnya seluruh tubuh gadis itu gemetar amat keras, dia meronta dari cekalan Koan Ing dan berjalan maju ke depan.

Ooo)*(ooO

Bab 27

DENGAN cepat Koan Ing menarik kembali tubuh Sang Siauw-tan, lalu maju setengah langkah ke depan.

“Dimana Suhumu?”

Sak Huan segera tertawa terbahak-bahak. “Haaa.... haaa....

buat apa harus suhuku yang turun tangan?”

“Dengan luka yang kau derita saat ini ada kemungkinan sepuluh jurus pun kau tidak bakal tahan.... heee.... heee....

bilamana tak percaya kita boleh coba-coba.”

Koan Ing yang melihat anak murid Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay ternyata begitu jumawa segera tertawa dingin.

“Kepandaian silat dari tiga manusia genah sudah aku temui. aku rasa suhupun tidak lebih hanya demikian saja. ,

.walaupun aku terluka tetapi tidak akan kalah di dalam sepeluh jurus!”

“Kalau tidak percaya kenapa tidak coba-coba!” tantang Sak Huan dengan keras.

Koan Ing yang melihat Sak Huan sangat tidak puas, hatinya merasa kheki juga.

“Hmm! Bangsat ini sungguh jumawa sekali, aku harus kasih sedikit hajaran kepadanya. apalagi lukanya sudah sembuh dua hari sedang tenagapun sudah ada lima enam bagian telah pulih. ”

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi dia lalu menuruni tangga2 batu itu.

Dari punggungnya Sak Huan segera mencabut keluar pedangnya. sinar matanya dengan tajam memperhatikan pemuda itu.

“Luka dari Koan Ing belum sembuh benar-benar, aku harus kalahkan dia di dalam sekali serangan.... aku harus hajar dirinya,” pikir toosu itu diam-diam.

Walaupun Koan Ing baru saja sembuh dari lukanya. tetapi demi dilihatnya toosu itu amat jumawa sekali hatinya rada mendongkol juga, pedang kiem-hong-kiamnya dengan cepat dicabut keluar siap-siap menantikan serangan dari Sak Huan.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sak Huan sebagai seorang toosu ternyata sudah jatuh hati terhadap diri Sang Siauw-tan.... bahkan dengan begitu berani menguntit dirinya dan tantang dia orang untuk bergebrak. ,

Terdengar Sak Huan tertawa dingin tiada hentinya.

“Koan Ing.... kau tidak suka hidup beberapa hari lagi, baiklah! kalau kau sampai mati janganlah salahkan aku berlaku terlalu telengas!”

Koan Ing yang di dalam hati lagi gusar mendengar perkataan itu segera mendengus dingin.

“Justru aku ingin sekali mencari tahu kepandaian silat dari aliran Bu-tong-pay!”

Sak Huan segera tertawa terbahak-bahak....

Ditengah suara tertawanya itulah pedang panjangnya dengan amat dahsyat menghajar tubuh Koan Ing. Sekali pandang saja Koan Ing sudah dapat tahu kalau jurus tersebut bukan lain adalah jurus “Ku Bok Jan Thian” dari ilmu pedang Bu-tong Kiam Hoat. jika ditinjau dari kedahsyatan ilmu pedang itu dia dapat menduga kalau tenaga dalamnya tidak berada di bawah tenaga dalam sendiri sewaktu tidak terluka.

Diam-diam dalam hati dia orang mulai menggerutu, jika dilihat dari kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Sak Huan jelas memperlihatkan kalau tenaga dalam Yuan Si Tootiang itu ciangbunjien dari Bu-tong-pay amat dahsyat sekali, apa mungkin jauh lebih tinggi dari Thian Siang Thaysu?