Kereta Berdarah Jilid 02

Jilid 02

Sehabis berkata dia tertawa tambahnya, “Kaupun tahu ayahmu mempunyai hubungan yang sangat baik dengan ayahnya Siauw-tan Moay-moay, aku tidak akan berani memperlakukan tidak senonoh terhadapnya.”

Ketika Hoo Lieh mendengar Ciu Pak mengungkit-ungkit juga tentang Koan Ing, mendadak di dalam benaknya terlintas satu ingatan, segera dia pikirkan satu siasat yang sempurna.

Ciu Pak melihat Hoo Lieh tidak mengucapkan sepatah kaupun dia segera mengerutkan keningnya.

“Kenapa?”

Seketika itu juga Hoo Lieh terjaga kembali dari lamunannya dengan amat terkejut, “Oooh.... oooh.... dia sudah diantar pergi dari sini.

“Apa?” tanya Ciu Pak terperanjat, sedang sinar matanya berkedip-kedip tak henti-hentinya.

Hoo Lieh tertawa paksa. “Karena ingin mengetahui jejak dari kereta berdarah, begitu berhasil menawan dirinya kami sudah membawa dia pergi untuk disiksa, saat ini sudah tidak ada lagi di sini.”

Dengan pandangan ragu-ragu Ciu Pak memandang diri Hoo Lieh beberapa saat lamanya, lama sekali baru terdengar dia mendengus dengan dinginnya.

“Hmmm.... hmmm, kau jangan menganggap aku seorang manusia yang mudah dipermainkan ”

Walaupun pada mulutnya dia berbicara begitu, tetapi di dalam hatinya merasa ragu-ragu juga, dengan kekuatan dari perkumpulan Tiang-gong-pang, untuk membawa seorang jago yang memiliki ilmu silat biasa saja bukanlah suatu pekerjaan yang sukar.

Bahkan untuk kirim dia pergi dari tempat inipun merupakan suatu urusan yang mudah sekali dikerjakan, tetapi dia pun merasa curiga bahwa Hoo Lieh sudah menganggap dia tidak berani melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap diri Sang Siauw-tan sehingga sengaja berkata tidak ada.

Sekali lagi Hoo Lieh tertawa paksa.

“Bilamana Ciu Kongcu percaya terhadap diriku, aku segera akan kirim orang untuk pergi mengejar, mungkin setengah jam kemudian sudah bisa sampai di sini kembali.

Dengan beberapa patah kata dari Hoo Lieh ini membuat perasaan curiga yang semula meliputi hati Ciu Pak segera tersapu bersih dari dalam hatinya, diapun tidak takut Hoo Lieh bisa melakukan sesuatu perbuatan terhadap dirinya, dia segera mendengus. “Hmmm, baiklah aku beri setengah jam buat kau orang.”

Hoo Lieh segera mengangguk dan putar badannya berjalan menuju ke ruangan dalam.

Ciu Pak tetap berdiri dengan amat dinginnya di tempat semula, selama ini dia selalu bersiap sedia terhadap segala macam permainan gila dari Hoo Lieh, dia tak ingin membuntuti diri Hoo Lieh, dalam anggapannya asalkan Sang Siauw-tan masih ada di tangannya Hoo Lieh tidak akan berani melakukan sesuatu yang merugikan dirinya.

Koan Ing yang diam-diam mencuri lihat dari balik jendela, ketika melihat Sang Siauw-tan tertawan, di dalam hati diam- diam merasa amat terperanjat, akhirnya dia dengar pula beberapa patah perkataan dari Hoo Lieh yang sangat membingungkan, membuat dia semakin merasa bingung tujuh keliling.

Dengan cepat Hoo Lieh berjalan mendekati samping badan Koan Ing kemudian memberikan tanda dengan lirikan mata kepada kedua orang pengawal yang ada disampingnya untuk menggotong tubuh Koan Ing menuju ke salah satu kamar di samping ruangan tersebut.

Tanpa banyak pikir panjang lagi Hoo Lieh membebaskan jalan darah dari Koan Ing, kemudian ujarnya sambil merangkap tangannya memberi hormat, “Koan Siauwhiap, ini hari kau orang harus membantu perkumpulan kami.”

Koan Ing tidak paham apa arti dari perkataan dari Hoo Lieh ini, dia segera mengerutkan alisnya kebingungan.

“Ho Thayhiap kau sedang membicarakan urusan apa, aku Koan Ing sama sekali tidak paham,” ujarnya,

“Aku ingin sekali agar Koan Siauwhiap mau menyamar sebentar sebagai suhumu.”

Sekali lagi Koan Ing dibuat melengak.

Dengan cepat Hoo Lieh membetulkan perkataannya, “Maksudku menyamar sebagai suhumu Kong Bun-yu Thayhiap.”

Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi paham apa maksudnya yang sebenarnya, dia membantah, “Kau sudah salah sangka, suhuku bukan Kong Bun-yu, suhuku adalah si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng,”

Sekarang ganti Hoo Lieh yang dibuat melengak, dia mengira Koan Ing adalah anak muridnya Kong Bun-yu, siapa sangka ternyata dugaannya sama sekali meleset.

Tetapi urusan ini sudah menjadi begini, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa sambungnya, “Untuk menolong Siauw Touw-cu harap Koan Siauwhiap mau memberi bantuan kepada kami,”

Koan Ing yang baru saja kena ditawan oleh serangan Sang Siauw-tan dalam hati masih merasa sangat tidak puas, kini dia diminta untuk menyamar sebagai Kong Bun-yu hatinya semakin kheki.

“Bukankah lebih bagus lagi kalau kau serahkan saja diriku kepadanya?”

Hoo Lieh tertawa, dengan pengalamannya yang luas dan pengetahuannya yang mendalam hanya di dalam sekali pandang dia sudah dapat mengetahui kalau Koan Ing sedang mengumbar sifat ke bocah-bocahannya.

Ujarnya kemudian sambil tertawa, “Koan Siauwhiap, jangan dibilang Ciu Pak itu seorang manusia yang tidak bisa dipercaya, dengan memandang perasaan jerinya terhadap pangcu kami sesudah dia berhasil menawan diri Siauw Touw- cu tidak mungkin dia orang mau melepaskannya kembali, coba Koan Siauwhiap bayangkan saja jika dia tidak mau melepaskan dia orang akan apa jadinya? Sekarang urusan sudah jadi begini, kecuali Koan Siauwhiap seorang tidak ada lagi yang bisa memberi pertolongan untuk membebaskan diri Siauw Touw-cu.”

Koan Ing yang mendengar perkataan dari Hoo Lieh ini tak terasa hatinya bimbang juga, sebetulnya dia ingin pergi menolong Sang Siauw-tan, tetapi baru saja dia kena tawan oleh dirinya kini bilamana dirinya harus pergi menolong dia orang harus ditaruh kemana wajah sendiri? Dia betul-betul merasa tidak enak untuk berbuat itu,

Sejak semula Hoo Lieh sudah tahu perasaan hati Koan Ing ini, tetapi dia tidak sampai mengutarakannya keluar,

“Urusan seperti ini kita manusia golongan pendekar dan enghiong hoo han siapa bisa melakukannya, jikalau Koan Siauwhiap tidak mau melakukannya dikarenakan tadi Siauw Touw-cu sudah berbuat salah terhadap dirimu, aku Hoo Lieh juga tidak akan memaksa. Koan Siauwhiap boleh meninggalkan tempat ini sesukanya. Biarlah urusan yang ada disini aku Hoo Lieh memikirkannya seorang diri, aku rasa akhirnya urusan tentu akan mencapai penyelesaiannya dengan sendirinya.”

Koan Ing yang hatinya dipanasi oleh beberapa patah kata dari Hoo Lieh ini membuat sepasang alisnya dikerutkan rapat- rapat, ujarnya kemudian. “Tapi aku takut penyamaranku tidak persis.”

Hoo Lieh yang mendengar Koan Ing sudah menyanggupi, hatinya menjadi amat girang.

“Soal ini Koan Siauwhiap boleh berlega hati.” ujarnya dengan cepat “Koan Thayhiap sudah lenyapkan diri dari Bu-lim kurang lebih lima puluh tahun lamanya, dengan usia dari Ciu Pak sekarang ini tidak mungkin dia pernah bertemu dengan dia orang tua, apalagi akupun bisa membantu sedikit buat kamu orang.

Koan Ing yang merasa dirinya sudah memberi  kesanggupan sudah tentu harus melakukannya dengan rela hati, dia tahu Kongcu tak berbudi bukan manusia yang dapat diganggu seenaknya, sedikit berbuat salah saja mungkin bisa membuat urusan semakin menjadi kacau. 

Dengan pandangan amat tajam Hoo Lieh memperhatikan wajah Koan Ing, lalu ujarnya, “Yang perlu kau perhatikan, asalkan suara serta gerak-gerikmu sangat luwes tanpa rasa kikuk, urusan sudah tentu akan berhasil, sekarang biar aku bantu ubahkan sedikit

wajahmu kemudian kita latihan satu kali, aku kira urusan tidak akan ada bahayanya,”

Di dalam hati Koan Ing sudah membuat perhitungan yang masak, dengan berdiam diri dia segera mengangguk,

Ciu Pak yang seorang diri berdiri menanti di tengah ruangan kini sudah sedikit merasa tidak sabaran, matanya dilirikkan ke kanan ke kiri melihat keadaan sedang wajahnya

kelihatan amat murung, terlihatlah dengan menggendong badan Sang Siauw-tan dia berjalan menuju ke sebuah bangku,

Sesudah duduk di atas bangku dia meletakkan badan Sang Siauw-tan ke atas tanah dan menotok jalan darah pulasnya, setelah itu dengan amat tajam dia memperhatikan wajahnya, dia merasa wajah dari Sang Siauw-tan sangat cantik sekali.

Semakin melihat dia merasa semakin tertarik, mendadak dia melepaskan topi yang menutupi kepalanya, seketika itu juga gulungan rambut yang amat panjang terurai ke bawah,

Dia menjadi tertegun, di dalam benaknya dia sama sekali tidak menyangka kalau wajah Sang Siauw-tan semakin cantik lagi tanpa memakai topi itu,

Walaupun orang lain menyebut dirinya sebagai Kongcu tak berbudi tetapi sekarang merasa sayang juga untuk melepaskan diri Sang Siauw-tan, dia tahu ayahnya Sang Su-im bukanlah manusia yang bisa dipermainkan seenaknya, jika dia harus melepaskan diri Sang Siauw-tan maka di dalam menghadapi ayahnya Sang Su-im dia akan mengalami kesulitan.

Berpikir sampai disitu tak terasa lagi pada ujung bibirnya tersungginglah salah satu senyuman yang amat tawar. Pada saat yang bersamaan mendadak terdengar olehnya suara bentakan keras yang amat

gusar diikuti tubuh Hoo Lieh terlempar masuk ke tengah ruangan, dia menjadi termangu-mangu, sedang tubuhnya dengan amat cepat bangkit berdiri.

Baru saja badannya bergerak, terlihatlah seorang siucay berusia pertengahan dengan menggembol sebilah pedang berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang amat perlahan.

Tubuh Hoo Lieh terus menerus mundur ke belakang, tombaknya yang ada ditangan dengan cepat diputar ke depan dadanya kemudian dengan sekuat tenaga menusuk ke arah dada si siucay pertengahan itu.

Si siucay berusia pertengahan itu cuma tertawa menghina, tangan kanannya diputar satu lingkaran di depan dada kemudian dengan sangat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari tusukan Hoo Lieh lalu memukul dengan amat tepatnya ujung tombak tersebut.

Terkena sampokan tangan siucay berusia pertengahan itu tak tertahan lagi ujung tombak tersebut patah menjadi dua bagian.

Ooo)*(ooO

Bab 3

Dengan amat terperanjat Hoo Lieh mundur dua langkah ke belakang.

Dalam hati Ciu Pak merasa amat terperanjat, dengan gerakkan yang begitu mudah si siucay berusia pertengahan itu sudah berhasil menghancurkan ujung tombak yang sedang melancarkan serangan ke arahnya, jika dilihat dari gerakan tersebut jelas sekali kalau tenaga dalam orang ini tidak berada di bawah tenaga dalam ayahnya. Dia merasa agaknya gerakan tangan orang ini pernah didengarnya, pikirannya dengan cepat berputar.

Mendadak hatinya terasa berdesir, jurus serangan yang menggunakan putar setengah

lingkaran di depan dada cuma ada seorang yang menggunakannya yaitu keluarga dari Thian-yu Khei Kiang Kong Bun-yu.

Berpikir sampai di situ dengan cepat dia  berteriak.  “Tahan. !”

Hoo Lieh mundur dua langkah ke belakang sepatah katapun tidak diucapkan sedangkan si siucay berusia pertengahan itu dengan pandangan sangat dingin memperhatikan diri Ciu Pak kemudian dengan kerasnya mendengus.

“Hmmm, kau memiliki ilmu Mayat membusuk, sudah tentu anak murid dari Ciu Tong

siluman tua itu.”

Dalam hati Ciu Pak semakin bergidik pikirnya, “Sungguh tajam pandangan mata orang ini, cuma di dalam satu kali pandangan saja dia sudah tahu kalau aku memiliki ilmu mayat membusuk.... ” Segera dia mengangguk, “Ciu Tong memang ayahku, apakah saudara adalah paman Kong?” Si siucay berusia pertengahan itu tertawa dingin.

“Kalau sudah tahu aku si orang tua, kenapa tidak cepat menyingkir dari sini? hmmm, kau kira urusan kereta berdarah adalah urusan yang dapat dicampuri oleh kalian dari angkatan muda?”

Ciu Pak melengak, sebenarnya saat ini dia sudah ada di atas angin, sudah tentu dia orang tidak ingin meninggalkan tempat ini dengan begitu mudah, apalagi jurus serangan yang baru saja digunakan Kong Bung Yu ini sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu keanehan atau keistimewaan. Dengan memperlihatkan tertawa paksa dia berseru, “Paman Kong. ”

Kong Bun-yu segera melototkan matanya bulat-bulat, potongnya setengah berteriak, “Cepat kau pulang beritahu sama si siluman tua, katakan saja kereta berdarah sudah muncul kembali, kitapun harus bergebrak coba-coba lihat siapa yang lebih unggul, ayoh cepat menggelinding dari sini.”

Sehabis berkata tangan kanannya diayun sebilah pedang pendek dengan kecepatan yang luar biasa meluncur ke depan, tapi baru saja meluncur sampai di tengah jalan pedang itu mendadak berputar dan berbelok ke samping untuk kemudian meluncur dan menancap di atas dinding.

Ciu Pak merasa sangat terperanjat, ilmu pedang semacam ini selamanya dia tidak pernah mendengarnya, segera dia berjalan mendekati dinding, terlihatlah pedang pendek itu sudah tertancap ke dalam dinding sampai ke gagangnya, dia benar-benar merasa sangat terkejut, kelihatannya tenaga dalam dari Kong Bun-yu ini jauh lebih tinggi satu singkat dari tenaga dalam ayahnya.

Dia mencabut kembali pedang pendek itu, hatinya terasa semakin bergidik, kiranya pada tubuh pedang pendek itu tergoreslah sebuah garis berdarah yang amat panjang, tidak salah lagi itulah tanda dari partai Hiat-ho-pay, dia tidak ragu- ragu lagi, segera putar badannya memberi hormat.

“Terima kasih paman Kong tidak turun tangan jahat kepadaku.”

Sehabis berkata begitu tanpa menoleh lagi dia melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Hoo Lieh yang melihat Ciu Pak meninggalkan tempat itu dengan terbirit-birit, segera berlari ke samping tubuh Sang Siauw-tan bantu membebaskan dirinya dan totokan. Sang Siauw-tan yang jalan darahnya terbebas dengan perlahan bangkit berdiri, dari kelopak matanya tak tertahan titik-titik air mata menetes keluar membasahi pipinya, selama ini dia tidak pernah menderita kekalahan seperti ini hari.

Koan Ing menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia menghapus penyamarannya, pertempurannya tadi dengan diri Hoo Lieh sudah tentu hanya pura-pura saja, sedang pedang yang dilempar tadi terlebih dahulu pada dinding setelah dipasang besi semberani di tambah pula dia memiliki pedang pendek peninggalan partai Hiat-ho-pay karenanya dengan mudah sekali mereka berhasil mengusir Ciu Pak dari sana,

Sewaktu Sang Siauw-tan melihat orang yang baru saja menolong dirinya bukan lain adalah diri Koan Ing, dia sedikit melengak, dalam hati dia merasa sangat tidak puas sesudah memandang beberapa saat ke arahnya, mendadak dia orang memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.

“Hmmm, jangan kau anggap pertolonganmu ini hari bisa memaksa hatiku menaruh perasaan terima kasih kepadamu, ini hari kau menolong aku, lain kali aku akan membalas budi kebaikanmu ini.”

Selesai berkata dengan amat dingin dia mengibaskan tangannya membawa Hoo Lieh sekalian meninggalkan tempat itu.

Hoo Lieh tahu sifat dari Sang Siauw-tan ini, diapun tidak punya akal lain terpaksa dengan pandangan minta maaf dia memandang sekejap ke arah diri Koan Ing.

Koan Ing sendiri sama sekali tidak mengira setelah dia menolong diri Sang Siauw-tan dia bisa bersikap begitu dingin terhadap dirinya, saking gemasnya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar, cuma matanya dengan pandangan melotot memandang bayangan Sang Siauw-tan sekalian meninggalkan tempat itu. Dia yang melihat mereka pada meninggalkan tempat itu tanpa menggubris dirinya lagi, dengan gusarnya mendepakkan kakinya ke atas tanah, pikirnya, “Hmmm, bocah perempuan itu sungguh tidak punya aturan, lebih baik untuk selamanya jangan sampai bertemu muka kembali dengan dirinya.”

Cuaca semakin menggelap, malam hari pun datang menjelang, malam itu dia beristirahat satu malam disana, keesokan harinya baru berangkat kembali menuju ke arah utara,

Koan Ing yang baru saja keluar dari pintu sebelah utara mendadak dari hadapannya berpapasan dengan seorang penunggang kuda yang bukan lain adalah si kongcu tak berbudi Ciu Pak, batinya menjadi amat terperanjat, pikirnya, “Aduh celaka, jangan sampai diketahui oleh dia orang.”

Setelah mereka berdua saling lewat di sampingnya, hati Koan Ing baru merasa sedikit lega, tiba-tiba....

“Iiih.... ” terdengar si kongcu tak berbudi Ciu Pak berseru tertahan kemudian menahan tali les kudanya, dan putar balik kudanya melakukan pengejaran.

Koan Ing tahu tentu Ciu Pak sudah menaruh perasaan curiga terhadap dirinya,

pikirannya dengan cepat berputar memikirkan suatu cara untuk meloloskan diri dari pengejaran tersebut.

Ciu Pak dengan cepat sudah berada dihadapan diri Koan Ing, dia memandang sekejap ke arahnya kemudian pada ujung bibirnya tersungginglah suatu senyuman yang misterius, tanyanya, “Hey siauwko, Sang Siauw-tan sekarang ada dimana?”

Koan Ing yang melihat Ciu Pak sudah berada di hadapannya, dia segera sadar untuk menghindarkan diri sudah tidak sempat lagi, Dia pura-pura melengak, “Siapa yang bernama Sang Siauw- tan?”

Ciu Pak tertawa dingin sesudah memperhatikan kembali seluruh tubuh Koan Ing beberapa saat lamanya, dia berkata kembali dengan perlahan, “Penyamaranmu sungguh mirip sekali, cuma suaramu.... Heee.... Heee ”

Koan Ing tahu Ciu Pak sudah mengenali dirinya, dengan amat tenangnya dia tersenyum, mendadak sepasang kakinya melancarkan tendangan menghajar perut kuda tunggangannya, membuat sang kuda dengan cepat berlari ke depan.

Ciu Pak yang melihat Koan Ing tertawa, dia mengira dia mau mungkir kembali, teringat kembali selama hidupnya baru untuk pertama kali dia mengalami penipuan yang demikian memalukan, perasaannya gusar segera membakar hatinya.

Dia sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa melancarkan tendangan menghajar perut kuda sehingga tunggangannya kesakitan dan lari ke depan, di dalam keadaan yang amat gusar tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas sembari berteriak, “Mau lari kemana?”

Baru saja suaranya diucapkan keluar, tubuhnya laksana seekor burung elang sudah melayang ke tengah udara kemudian dengan dahsyatnya menubruk ke tubuh Koan Ing,

Koan Ing dengan cepat mencabut keluar pedangnya, kemudian balas melancarkan satu tusukan dahsyat mengancam punggungnya,

Dengan dingin dia mendengus, tubuhnya dengan cepat menghindar ke samping, sedang tangannya tanpa menoleh lagi mencengkeram ke arah pedang pendek tersebut sebaliknya tangan kirinya dengan amat cepat menghajar iga di badannya. Koan Ing sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam dari Ciu Pak begitu tinggi, tangan kanannya dengan cepat mengendor kemudian berlari mengejar ke arah kuda tersebut,

Ciu Pak sendiri juga sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa melepaskan pedangnya, melihat serangannya tidak mencapai pada sasaran dia mendengus kembali, tangan kanannya dengan cepat menyambar pedang pendek itu dan dipandangnya lebih teliti, terlihatlah di atas tubuh pedang itu tergoreslah sebuah jalur merah darah,

Saat ini perasaan gusarnya sudah mencapai pada puncaknya, bukan saja dia sudah berhasil mengejutkan dirinya sampai melarikan diri terbirit-birit bahkan kehilangan seorang penting juga,

Ciu Pak dengan amat gusar mendengus, tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas punggung kudanya dan mengejar ke arah Koan Ing,

Koan Ing tahu sifat si kongcu tak berbudi ini amat ganas dan kejam sekali, asalkan dirinya terjatuh ke tangannya, maka akibat yang akan diterima sukar untuk dibayangkan,

Dengan mengempit kencang perut kudanya dia melarikan tunggangannya itu dengan amat cepatnya,

Demikianlah segera terjadilah suatu perlombaan kuda saling kejar mengejar, kurang lebih satu jam kemudian jarak diantara mereka masih tetap sejauh tiga kaki lebih.

Kini jalanan di hadapannya adalah suatu jalan bukit yang amat terjal, Ciu Pak tidak sabaran lagi, sambil bersuit panjang tubuhnya meloncat ke atas menubruk ke arah Koan Ing.

Koan Ing yang melarikan diri dengan menunggang kuda mulai merasa tubuhnya amat lelah, kecepatan bergeraknya pun semakin berkurang.

Di dalam dua tiga kali loncatan saja Ciu Pak sudah berhasil menyandak belakang tubuhnya. Koan Ing merasakan hatinya berdesir, dia tahu untuk melarikan diri tidak mungkin lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat turun dari punggung kudanya.

Ciu Pak dengan cepat mengejar ke arahnya, telapak tangan kanannya dengan dahsyat menghajar arah belakang Koan Ing.

Dengan cepat Koan Ing menghindar ke samping, pedang panjangnya dicabut keluar dari sarungnya, setelah ujung pedangnya membuat gerakan setengah lingkaran di tengah udara, dengan hebat menebas pergelangan tangan Ciu Pak.

Ciu Pak bukanlah manusia yang goblok, dia bisa melihat kehebatan dari serangan pihak lawan, dia tahu ilmu pedang ini bukan lain adalah ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat yang menggetarkan seluruh dunia persilatan.

Dia tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat meloncat ke tengah udara, kemudian berturut-turut melancarkan tendangan dahsyat disertai lima pukulan gencar,

Ilmu silat dari Ciat Ie To memang sangat aneh dan amat sakti, setiap arah serangan yang dituju selalu jauh berada di luar dugaan Koan Ing,

Walaupun Koan Ing bukannya manusia yang belum pernah bertempur dengan ilmu silat yang demikian anehnya tetapi untuk beberapa saat lamanya dia dipaksa repot juga untuk menangkisi setiap serangan, dia mulai merasa tangan dan kakinya mulai linu,

Kehebatan dari tenaga dalam Ciu Pak jelas sekali jauh lebih tinggi dari tenaga dalamnya sendiri, semakin bertempur dia merasa semakin terdesak dibawa angin,

Ciu Pak tahu musuhnya tidak bisa meraba kelemahan dari ilmu silatnya, segera dia menggunakan kesempatan ini semakin mendesak diri Koan Ing, membuat dia orang untuk berganti napaspun tidak sempat. Walaupun dia ragu Koan Ing mempunyai sangkut paut dengan diri Koan Bun-yu, tetapi selama ini dia belum pernah menderita kerugian yang demikian besarnya, jika ini hari dia tidak berhasil melukai diri Koan Ing maka namanya di dalam dunia kangouw akan terganggu

juga.

Koan Ing yang semakin lama semakin terdesak dalam hati segera merasa amat mendongkol sekali, dia gemas kenapa ilmu silatnya sendiri tidak hebat sehingga tidak dapat memberikan perlawanan yang lebih seru lagi terhadap lawannya.

Sebetulnya dia sudah terdesak di bawah angin, kini pikirannya bercabang dua. terdengar Ciu Pak tertawa dingin, mendadak pedang panjangnya berhasil dipukul mabur oleh serangan musuh,

Koan Ing merasa hatinya berdesir, dengan cepat dia mundur tiga langkah ke belakang,

Ciu Pak tetap berdiri di tempat dengan dinginnya, lama sekali dia pandang wajah sang pemuda, kemudian ujarnya dengan dingin, “Kau boleh buntungi satu tangan dan satu kakimu sendiri, melihat di atas suhumu, aku beri kesempatan hidup buat dirimu,”

Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, sepatah katapun tidak diucapkan,

“Bagaimana? Tidak tega?” ejek si kongcu tak berbudi itu tak henti-hentinya, “Kekalahanku kemarin hari dikarenakan kau orang, kamu tahu sudah mempengaruhi aku seberapa besar? jika kau tidak tega, mari biar aku yang mewakili kau turun tangan!”

Sekali lagi Koan Ing mengerutkan alisnya, dia tahu nyawanya sekarang berada di dalam cengkeramannya orang lain, buat dirinya sudah tentu tidak ada perkataan lain lagi, tetapi bilamana dia orang hendak memberikan siksaan kepadanya dia sudah ambil keputusan untuk mengadu jiwa, Ciu Pak tertawa-tawa, ujarnya, “Orang lain memanggil aku sebagai si kongcu tak berbudi, hal ini dikarenakan aku paling suka melihat mimik yang amat jelek dari orang yang sekarat.” Sambil berkata dia mulai mendesak ke arah diri Koan Ing.

Tetapi baru saja Ciu Pak maju dua langkah ke depan dari

tempat kejauhan secara mendadak berkumandang datang suara suitan panjang yang satu tinggi yang lain rendah....

Begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka si kongcu tak berbudi segera berubah sangat hebat, dia memandang sekejap ke arah diri Koan Ing, agaknya dia bermaksud membereskan dirinya terlebih dahulu tetapi merasa tidak berani juga untuk tinggal lebih lama lagi disana.

Dalam hati Koan Ing sendiri saat ini juga merasa sangat heran jika didengar dari kedua buah suara suitan itu jelas sekali kepandaian silat mereka amat tinggi tetapi dia sama sekali belum pernah dengar orang berkata ada orang aneh yang menggunakan suara suitan mempertanyakan kedudukannya.

Sinar mata Ciu Pak segera berkelebat beberapa kali, tubuhnya dengan cepat berputar kemudian melarikan diri dengan mengambil jalan semula.

Koan Ing benar-benar merasa amat heran, dia tidak tahu jago darimana yang sudah munculkan diri sehingga membuat manusia semacam Ciu Pak pun ketakutan seperti itu, dalam hati benar-benar merasa tidak paham,

Di dalam sekejap saja suara suitan itu sudah berhenti, Koan Ing tidak mau ambil perduli lagi, segera dia melanjutkan perjalanan menuju ke depan.

Kurang lebih seperminum teh kemudian tampaklah olehnya seorang kakek tua yang rambutnya sudah beruban dengan langkah sempoyongan berjalan mendekati dirinya. Koan Ing segera menghentikan langkahnya, dia mengerutkan alisnya rapat-rapati pikirnya, “Eeeh kenapa

dengan orang tua ini? Agaknya dia menderita luka dalam yang amat parah ”

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak tampaklah orang tua itu terhuyung-huyung kemudian rubuh ke atas tanah.

Koan Ing menjadi sangat terperanjat dengan cepat dia maju dua langkah ke depan membimbing bangun, “Lootiang, kau. ”

Belum selesai dia berbicara, baru saja tangannya  menempel pada pundak si orang tua, mendadak nampaklah tubuhnya secara tiba-tiba berdiri tegak, lima jari tangan kanannya laksana cakar macan dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram tangan kanan Koan

Kecepatan gerak dari orang tua itu sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk membalas, terdengar dia mendengus dengan amat berat separuh badan bagian kanannya sudah menjadi kaku sedikitpun tak bisa bergerak,

Saking sakitnya keringat sebesar kacang kedelai sudah mengucur keluar membasahi bajunya, kepandaian silat yang dimiliki si orang tua itu ternyata jauh berada di atas dirinya bahkan dirinyapun sama sekali tidak menyangka dia orang bisa turun tangan membokong dirinya.

Saking tak tahannya terdengar Koan Ing berteriak, “Hey....

tidak kusangka di dalam dunia sekarang ini masih ada manusia yang tak tahu malunya.”

Orang tua itu tertawa serak, segera dia menyeret badan Koan Ing mendekati dirinya. “Kau tidak kenal dengan aku si orang tua? Aku bernama Gui Cun-pak, seharusnya kau tidak boleh memaki aku orang tua. tahu?”

Koan Ing menjadi tertegun, kiranya orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Thiat-lang atau srigala baja Gui Bun Cun Pak.

Suhunya si pendekar pedang menyendiri pernah memberitahukan kepadanya bahwa di dalam dunia kangouw ada sepasang suami istri yang amat lihay dan sering muncul di dalam Bu-lim mereka bernama Thiat-lang atau srigala baja Gui Cun-pak serta Cien-hu atau Si rase perak Cau Tok-soat, karena kedua manusia ini mempunyai sifat yang sangat aneh, karenanya suhunya sama sekali tiiak kenal kepada mereka ini. Sungguh tidak disangka olehnya Gui Cun-pak adalah manusia semacam ini.

Gui Cun-pak angkat kepalanya memandang sekejap  ke arah empat penjuru kemudian kepada Koan Ing ujarnya, “Aku dengar katanya kau orang adalah ahli waris dari Thian-yu Khoi Kiam, apa benar?”

“Bukan!” Seru Koan Ing dengan amat tawar sedang sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat.

Gui Cun-pak menjadi melengak kemudian tertawa dingin tak henti-hentinya.

“Hey nenek tua!” teriaknya ke arah kejauhan, “Setan cilik ini bilang bukan.”

Baru saja perkataan dari Gui Cun-pak ini ucapkan dari dalam sebuah rimba segera berkelebat keluar sesosok bayangan manusia, “Mana mungkin bukan?” Serunya kurang puas,

Suara orang itu sangat aneh sekali laksana pekikan burung malam membuat Koan Ing yang mendengar merasakan seluruh badannya sangat tidak enak, dia tidak tahu siapakah orang ini, apakah mungkin si rase perak Cau Tok-soat?

Sedang dia berpikir terdengar Gui Cun-pak sudah berteriak kembali, “Hey nenek tua, cepat kemari sambut ini!”

Begitu dia menutup mulutnya, tubuh Koan Ing yang ada ditangannya dengan cepat dilemparkan ke arah Cau Tok-soat.

Koan Ing yang dilemparkan Gui Cun-pak ke tengah udara segera merasa jalan darahnya lancar kembali, belum sempat dia melakukan gerakan tubuhnya sudah diterima oleh si rase perak Cau Tok-soat sedang jalan darah ‘Leng Thay Hiat‘nya sudah terancam oleh telapaknya. Sedikit saja dia mengerahkan tenaga dalam maka jiwanya segera akan melayang.

Koan Ing menjadi sangat terperanjat. tubuhnya dengan cepat berbalik ke samping sedang tangan kanannya dengan membentuk setengah lingkaran melancarkan serangan dahsyat menghajar tubuh Cau Tok-soat.

Baru saja serangan ini dikerahkan keluar terdengar Cau Tok-soat sudah tertawa dingin, tubuhnya berkelebat ke samping lima jari tangan kanannya dari telapak berubah menjadi mencengkeram, gerakan tubuhnya yang sangat cepat bagaikan kilat ini membuat Koan Ing belum sempat berganti jurus tangannya sudah berhasil dicengkeram oleh pihak musuh.

Cau Tok-soat yang berhasil mencengkeram diri Koan Ing segera berkata kepada suaminya Gui Cun-pak.

“Memang bukan, mungkin dia anak murid dari Cu Yu.” Sehabis berkata dia melepaskan kembali diri Koan Ing.

Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa sangat terperanjat, dia sama sekali tidak mengira kalau pandangan mereka berdua begitu tajamnya, cuma satu jurus saja dia melancarkan serangan segera sudah diketahui oleh mereka kalau dirinya bukanlah anak murid dan si Thian-yu Khei Kiam

Tapi, entah mereka berdua punya ganjalan sakit hati apa dengan si Kong Bun-yu itu?

Sambil berpikir pandangannya dengan amat tajam memperhatikan kedua orang itu, tampaklah si nenek yang ada di hadapannya mempunyai badan yang sangat kurus dan  repot sekali, rambutnya sudah pada beruban, tetapi sepasang matanya amat tajam bagaikan sebilah pisau.

Gui Cun-pak memandang sekejap ke arah diri Koan Ing kemudian ujarnya, “Hey si nenek reyot, lebih baik kita bunuh saja dirinya.”

Dengan perlahan Cau Tok-soat mengangguk, tangannya dengan perlahan diangkat siap dihajarkan ke atas batok kepala Koan Ing.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara dengusan yang amat berat berkumandang dari tempat kejauhan.

Dia menjadi sangat terperanjat, tubuhnya dengan cepat mundur ke belakang.

Walaupun suara dengusan itu tidak keras, tetapi amat jelas sekali didengar, bahkan seperti berkumandang keluar dari samping badannya saja.

Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat, ketika dia menoleh ke belakang terlihatlah di samping jalan tidak jauh dari tempat itu muncullah seorang kakek tua berjubah hijau berdiri berjajar dengan seorang nona yang amat cantik sekali.

Ketika Koan Ing melihat ke arah gadis itu mendadak dia berdiri tertegun, terasa olehnya wajah nona itu seperti pernah di kenalnya.

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya akhirnya teringat juga olehnya kalau gadis itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan yang kemarin menyamar sebagai seorang lelaki.

Sang Siauw-tan yang kini sudah berganti memakai baju perempuan kelihatan sangat cantik sekali membuat dia saking terpesonanya berdiri melongo, Sang Siauw-tan segera mendengus dan menoleh ke arah lain pura-pura tidak melihat. Koan Ing segera sadar kembali dari lamunannya, pikirnya di dalam hati,

Jago berkepandaian tinggi semacam dia boleh dikata sangat sedikit jumlahnya, kakek berjubah hijau ini tentu si jari sakti Sang Su-im adanya,

Gui Cun-pak maupun Cau Tok-soat sama sekali tidak menyangka secara tiba-tiba bisa muncul seorang yang berkepandaian demikian tingginya, bahkan kemunculannya tidak terasa oleh mereka.

Sinar mata dari Gui Cun-pak dengan berkelebat, tanyanya dengan suara berat. “Siapa kau orang?”

“Tiang Gong Sin-cie, kau juga tidak kenal?” balas tanya si kakek tua berbaju hijau itu dingin.

Seketika itu juga Gui Cun-pak maupun Cau Tok-soat merasakan hatinya berdesir, walaupun di dalam hati mereka berdua sejak dulu sudah punya maksud untuk mencoba-coba ilmu silat dari empat manusia aneh tetapi nama besar dari Tiang Gong Sin-cie sudah cukup membuat hatinya keder, sehingga walaupun Sang Su-im kini sudah muncul dihadapan mereka, Gui Cun-pak berdua tidak berani memperlihatkan gerakan apapun.

Gui Cun-pak yang mendengar nama besar dari Tiang Gong Sin-cie segera merasakan hatinya berdebar-debar, sesudah berusaha menenangkan hatinya dia berteriak kepada isterinya, “Hey nenek reyot, cepat bersiap sedia!” Si rase perak Cau Tok-soatpun kelihatannya merasa terkejut juga, mendengar suara teriakan dari Gui Cun-pak dia menjadi sadar kembali, tubuhnya dengan cepat berkelebat berdiri di belakang badan Gui Cun-pak sedang tangan kanannya ditempelkan ke atas punggungnya.

Nama besar mereka berdua berada di bawah nama-nama Sian, Khei Sin, Mo empat manusia aneh, untuk menandingi kebesaran nama keempat orang itu mereka dengan amat rajinnya berlatih ilmu silat dan menciptakan suatu ilmu aneh dari tenaga gabungan untuk mengalahkan musuh-musuhnya.

Tiang Gong Sin-cie, Sang Su-im ketika melihat mereka berdua walaupun sudah mendengar nama besarnya bukannya lari pergi bahkan memperlihatkan gaya hendak melawan, membuat hatinya menjadi gusar. Dengan dinginnya dia mendengus.

“Hmm.... hmm.... nama besar dari Thiat-lang Cien-hu aku orang sudah pernah mendengar, jika ini hari aku orang tidak kasi sedikit hajaran buat kalian, tentu kamu sekali tidak akan tahu tingginya langit dan tebalnya bumi.”

Ooo)*(ooO

Bab 4

BEGITU selesai dia berbicara, tubuhnya dengan cepat berkelebat menubruk ke arah Cau Tok-soat.

Sejak Thiat-lang Cien-hu menciptakan ilmu ini, kali ini baru untuk pertama kalinya digunakan, sedang musuh yang dihadapipun merupakan Sang Su-im yang memiliki kepandaian

silat yang paling tinggi pada saat ini, dalam hati mereka berdua tak terasa merasa tegang juga.

Begitu dilihatnya tubuh Tiang Gong Sin-cie berkelebat, saking tegangnya tanpa pikir panjang lagi Gui Cun-pak sudah mengirim satu pukulan dahsyat ke arah Sang Su-im. Sang Su-im yang disebut sebagai Tiang Gong  Sin-cie atau si jari sakti juga tentu kehebatan ilmu meringankan tubuh merupakan salah satu ilmu andalannya, sudah tentu pula sekali pukulan yang dilancarkan Gui Cun-pak tadi tidak mencapai pada sasarannya.

Gui Cun-pak Yang melihat serangannya mencapai sasaran kosong untuk menghindar sudah tidak sempat lagi, jari tangan Sang Su-im sudah berhasil menyandak punggung si rase perak Cau Tok-soat, segera Sang Su-im yang berhasil mencengkeram punggung diri Cau Tok-soat segera melemparkan badannya ke arah luar.

Ketika tangan kanannya diayunkan hatinya merasa sangat heran sekali, semula dia menganggap mereka berdua sedang menggunakan ilmu silat meminjam tenaga memukul lawan, walaupun ilmu tersebut mengutamakan tenaga dalam tetapi di dalam pandangan mereka sebagai jago-jago berilmu tinggi bukanlah suatu ilmu yang hebat.

Tetapi begitu dia melemparkan tubuh si rase perak Cau Tok-soat ke depan segera tertampaklah olehnya badan mereka berdua sama sekali tidak berpisah dan bersama-sama melayang ke depan.

Dia tersenyum, dia tahu ilmu tersebut tidak lebih gubahan dari ilmu tenaga dalam meminjam tenega menyerang musuh yang sudah diketahui olehnya.

Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang terlempar ke tengah udara dengan cepat mereka berjumpalitan di tengah udara kemudian melayang turun kembali ke atas permukaan tanah dengan amat ringannya.

Gui Cun-pak menjongkokkan badannya ke bawah, diapun saking gusarnya seluruh wajah sudah berubah menjadi merah padam, dengan sepasang mata yang melotot keluar, dia memandang tajam diri Sang Su-im. Begitu tubuh si rase perak mencapai permukaan tanah dia segera meloncat naik ke atas punggung Gui Cun-pak, pada mulanya mengeluarkan suara suitan kegusaran. Rambutnya yang sudah memutih pada berkibar tertiup angin agaknya dia benar-benar merasa amat gusar ketika melihat mereka sudah terdesak di bawah angin.

Sang Su-im yang berhasil melemparkan tubuh mereka berdua ke tengah udara tapi melihat keadaan mereka sama sekali tidak gentarpun, dia tidak berani berlaku gegabah lagi.

Dia belum pernah bertempur secara langsung melawan mereka berdua, bahkan sekali pandang saja dia sudah dapat melihat kalau ilmu silat yang digunakan oleh Thiat-lang Cien- hu ini sama sekali bukanlah ilmu silat biasa yang pernah ditemuinya.

Diapun tahu berhasilnya tadi semuanya dikarenakan sikap gegabah dari kedua orang itu, sehingga memberikan kesempatan dirinya untuk merebut kemenangan.

Walaupun dalam hati dia sudah mulai waspada tetapi pada air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang amat tawar kini ada orang di dalam kalangan, bilamana sampai orang-orang diluaran mengetahui kalau dia Tiang Gong Sin-cie masih harus bersikap hati-hati terhadap dua orang boanpwee harus ditaruh kemana wajahnya?

Dengan amat tajam Gui Cun-pak memperhatikan diri Sang Su-im, air mukanya sudah berubah menjadi merah padam,

Mendadak tubuhnya bagaikan seekor katak meloncat ke depan, sepasangnya tangannya melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat menghajar tubuh Sang Su-im, pukulan yang dilancarkan keluar terasa amat aneh sekali, Sang Su-im tertawa terbahak-bahak, pikirnya, “Hmm, dugaanku sedikitpun tidak salah, ilmu silat mereka berdua tidak lebih hanya gubahan dari ilmu meminjam tenaga yang sering terdapat di dalam Bu-lim, Dia tidak ingin memberi perlawanan kepada mereka  dengan menggunakan ilmu jari saktinya, dia merasa jikalau untuk melawan manusia semacam inipun dia harus mengeluarkan ilmu jari saktinya bukankah nama baiknya di dalam dunia kangouw akan terganggu?

Dengan kepandaian silat yang dimiliki Sang Su-im sekarang ini boleh dikata setiap jurus serangan dari setiap partai mau pun perkumpulan dia mengetahuinya dengan amat jelas, dengan enaknya dia melancarkan tiga pukulan sekaligus dengan menggunakan jurus Sin Toh Pat Ciang atau ilmu delapan pukulan unta sakti dari Thian-san-pay.

Thiat-lang Cien-hu yang berdempet menjadi satu juga satu orang saja dengan Gui Cun-pak yang melancarkan serangan di dalam sekejap saja merekapun sudah melancarkan tiga puluh jurus banyaknya.

Sang Su-im yang melawan mereka berdua dengan menggunakan jurus-jurus serangan yang acak-acakan sudah cukup membuat dia berada di atas angin, sudah tentu dia semakin tidak memandang sebelah mata pun kepada mereka lagi.

Tadi dalam hatinya tak urung merasa sedikit terkejut juga, tak disangka olehnya kedua orang manusia ini masih mempunyai sedikit ilmu simpanan yang begitu hebat bahkan jurus-jurus serangan yang digunakan untuk menyerang dirinyapun bisa memaksa dirinya harus berpikir dulu sebelum melancarkan serangan.

Di dalam pertempuran yang amat sengit itu tak henti- hentinya Sang Su-im berpikir terus, dia tahu jikalau dia harus bertempur sebanyak lima puluh jurus banyaknya masih belum sanggup memukul rubuh mereka berdua maka namanya di dalam Bu-lim akan merosot.

Pada saat Sang Su-im sedang merasa amat murung itulah mendadak Thiat-lang Cien-hu bersama-sama bersuit panjang Cien-hu meloncat turun dari punggung Thiat-lang lantas mereka berdua dengan empat telapak tangan bersama-sama melancarkan serangan menghantam Sang Su-im.

Sang Su-im Yang pikirannya sedang bercabang, kini melihat serangan musuh begitu gencar, hatinya merasa amat terperanjat saat inilah empat buah angin pukulan sudah berada di hadapannya membuat dia benar-benar terkejut.

Dengan cepat dia membentak keras, sepasang telapaknya bersama-sama melancarkan pukulan dahsyat ke depan.

“Braaaak....!” di tengah suara benturan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi, angin pukulan mereka berdua sudah berhasil dipukul balik oleh angin pukulannya.

Tanpa menanti mereka berdua berganti serangan kembali dengan perasaan amat gusar dia menjentikkan jari tengah serta jari telunjuk tangan kanannya,

“Sreet! Sreet....!” dua gulung angin serangan memecahkan kesunyian dengan amat cepatnya menghajar tubuh mereka berdua.

Untuk menghindar tidak sempat lagi, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun Thiat-lang serta Cien-hu rubuh ke atas tanah terhajar oleh sentilan tersebut.

Sang Su-im segera mendengus, dia mundur satu langkah ke belakang kemudian melirik

sekejap ke arah Koan Ing, pikirnya, “Jika aku betul-betul menggunakan ilmuku yang sebenarnya mereka tidak akan tahan lebih lama.”

Tangannya dengan cepat bergerak kembali membebaskan jalan darah mereka yang tertotok, ujarnya dengan amat dingin, “Ini hari aku lepaskan kalian pergi, lain kali jika sampai bentrok lagi dengan aku si orang tua, hmmm, kalian harus tahu tidak semudah ini aku mau lepaskan kalian.” Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang sudah mengeluarkan ilmu andalan mereka Thian Ku Yu Gong, atau burung elang meloncat di langit tetapi berhasil ditotok rubuh juga oleh Sang Su-im hanya di dalam satu kali kebutan saja, membuat hati mereka berdua rada merasa sedih.

Pada waktu yang lalu dalam hati mereka sudah menaruh minat untuk menjajal ilmu silat dari empat manusia aneh kemudian merebut nama besar di dalam Bu-lim, siapa sangka baru bertemu dengan saleh satu dari empat manusia aneh mereka sudah berhasil dipukul rubuh, saat itulah mereka baru tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki mereka masih  terpaut amat jauh dari kepandaian empat manusia aneh.

Kini mendengar Sang Su-im mau melepaskan mereka dari kematian membuat hati mereka merasa amat girang, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka berdua saling pandang sekejap kemudian tanpa menoleh lagi sudah melarikan diri terbirit-birit, di dalam sekejap saja sudah lenyap tanpa bekas.

Koan Ing yang melihat pertempuran antara mereka bertiga di dalam hari diam-diam merasa amat terperanjat. dengan keanehan dari ilmu silat mereka bertiga boleh dikata baru pertama kali ditemuinya selama hidupnya.

Setelah Thiat-lang Cien-hu meninggalkan tempat itu, dengan perlahan Sang Siauw-tan melirik sekejap ke arah Koan Ing kemudian ujarnya kepada diri ayahnya Sang Su-im.

“Tia, kemarin hari orang ini sudah menolong aku satu kali, kali ini lepaskanlah dia pergi.”

Sang Su-im menyapu sekejap ke arah diri Koan Ing. “Urusan ini kau ingin diselesaikan secara bagaimana

terserahlah kau lakukan sendiri,” ujarnya sambil tertawa tawar.

Sang Siauw-tan dengan amat congkaknya segera menoleh ke arah Koan Ing, ujarnya sambil mencibirkan bibirnya. “Hey, kaupun boleh pergi, sejak saat ini kita sama-sama tidak berhutang budi, lain kali kau harus sedikit berhati-hati.”

Mendengar perkataan itu, dalam hati Koan Ing merasa sangat tidak senang tetapi diapun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka berdua, karena kepandaian silat yang dimilikinya sampai sekarang ini belum sanggup untuk mengalahkan dia.

Terpaksa dengan hati mendongkol dia tidak memberikan reaksi, apalagi mengingat nyawanyapun baru saja ditolong oleh Sang Su-im sewaktu Thiat-lang hendak mencabut nyawanya tadi.

Ketika Sang Siauw-tan melihat Koan Ing saking gusarnya sudah berdiri termangu-mangu disana tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, dengan amat bangga dia lemparkan satu senyuman manis.

“Tia, mari kita pergi,” ajaknya kemudian kepada ayahnya.

Sehabis berkata dengan tangan menggandeng Sang Su-im mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.

Kini tinggal Koan Ing seorang diri yang berdiri termangu- mangu disana dengan hati yang

mangkel dan mendongkol, dia memandang bayangan tubuh Sang Su-im ayah beranak yang

meninggalkan tempat itu, pikirnya.

“Hmm, sekalipun kau orang sudah menolong nyawaku tetapi tidak seharusnya bersikap begitu kasar terhadap aku.”

Berpikir sampai disitu, tak tertahan lagi dia mendepakkan kakinya ke atas tanah.

Sebenarnya diapun ingin turun gunung, tapi ketika dilihatnya Sang Su-im ayah beranak pun mengambil jalan itu, dia segera membatalkan niatnya, sebaliknya malah menuntun kudanya menuju ke tengah gunung. Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mendadak di jalanan gunung di hadapannya muncul seorang kakek tua yang kurus kecil sedang memandang dirinya dengan pandangan yang sangat

dingin.

Koan Ing menjadi amat terperanjat, bukankah orang itu srigala baja Gui Cun-pak adanya? Tidak disangka sama sekali olehnya kalau dia orang ternyata tidak pergi, kelihatannya dia sengaja datang mencari dirinya.

Ketika dia menoleh ke belakang tampaklah di tengah jalanan sudah bertambah lagi dengan seseorang yang bukan lain adalah si rase perak Cau Tok-soat.

“Hey orang muda,” Terdengar Gui Cun-pak berkata sambil tertawa dingin tak henti-hentinya, “Kau tak akan lolos lagi dari tempat ini, sejak tadi aku sudah menduga kalau Sang Su-im pasti akan pergi meninggalkan kau seorang, kami masih ada beberapa patah kata hendak ditanyakan kepadamu.”

Ketika Koan Ing melihat jalan mundurnya sudah terhadang, hatinya terasa amat berat, sepatah katapun tidak dapat diucapkan. Cau Tok-soat yang ada di belakangpun ikut membuka bicara, “Sebetulnya kami mengira kepandaian silat kami sudah seimbang dengan kepandaian empat manusia aneh itu tapi sekarang kami baru tahu kalau kepandaian kami agaknya hampir-hampir jauh tertinggal.

“Asalkan kau mau membawa kami mencari jejak kereta berdarah itu, kami segera akan lepaskan kau pergi,” sambung Gui Cun-pak lagi sambil tertawa dingin.

Koan Ing tetap membungkam di dalam seribu bahasa, dalam ingatannya dia terus menerus memikirkan urusan yang lain. Terdengar Cau Tok-soat tertawa dingin lagi.

“Dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini tidak ada kesempatan lagi buat kau memilih-milih.” ujarnya, “Kau bisa menguntit dari daerah Siang Kiang sampai disini sudah tentu mempunyai keterangan yang lebih luas lagi untuk membawa kami menemukan kereta berdarah tersebut.

Kini Koan Ing terjebak kembali ke dalam hal yang sangat membahayakan, pikirannya segera berputar, batinnya, Jika aku berhasil melatih ilmuku sehingga berada seimbang dengan kepandaian empat manusia aneh maka tak akan ada lagi manusia yang berani mencari setori dengan aku. ”

Kini dia tidak dipandang sebelah mata pun oleh Sang Siauw-tan, semuanya dikarenakan ilmu silat yang dimilikinya tidak cukup, kalau tidak mana mungkin Sang Siauw-tan berani memandang begitu rendah kepada dirinya? Hmm. pada satu

hari dia harus memperlihatkan kepandaian silat yang sesungguhnya di hadapan Sang Siauw-tan.

Gui Cun-pak yang melihat Koan Ing sedang termangu- mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun, segera dengan dingin dia mendengus.

“Kau jangan pikirkan permainan busuk terhadap diriku?” bentaknya dengan keras.

Koan Ing yang dibentak oleh Gui Cun-pak segera tersadar kembali dari lamunannya, dia menyapu sekejap ke arah dua orang itu, tiba-tiba dalam hatinya timbul suatu perasaan yang amat aneh, pikirnya lagi, Jikalau ini hari aku tidak sanggup untuk melawan mereka berdua, buat apa pergi belajar ilmu silat yang lebih hebat lagi.

Pikiran yang sangat aneh ini, berkelebat di dalam benaknya, di dalam sekejap saja dia tidak memikirkan kembali mati hidupnya. tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas, tangan kanannya dibabat dengan dahsyatnya menyambit pedang pendek itu ke arah musuh kemudian tubuhnya sendiri berlari dengan cepat ke arah atas musuh.

Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat sama-sama tidak menyangka kalau Koan Ing berani melarikan diri, untuk beberapa saat lamanya mereka berdua berdiri tertegun, pikirnya, “Hmm.... bocah ini sudah tidak ingin nyawanya sendiri? Kenapa dia orang tidak pikir-pikir dulu apa bisa lolos dari tangan kami berdua?”

Sebentar kemudian mereka berdua sudah sadar kembali dari lamunannya, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas tetapi bersamaan dengan itu pedang pendek yang di sambit oleh Koan Ing tadi dengan tepat menyambar di hadapan mereka.

Dengan cepat Gui Cun-pak menerima pedang tersebut, di dalam sekilas pandang saja dia sudah melihat kalau pada tubuh pedang pendek itu tergoreslah sebuah goresan merah darah, bukankah pedang ini merupakan tanda dari partai Hiat- ho-pay? Tak tertahan lagi dia menjerit tertahan.

Tubuh Cau Tok-soat dengan amat cepatnya meluncur ke depan, saat ini di dalam pikiran mereka semua sudah menganggap kalau Koan Ing pasti tahu jejak dari kereta berdarah itu karenanya mereka tidak akan melepaskan kembali mangsanya dengan begitu saja.

Kini tubuh Koan Ing sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dari mereka berdua, tetapi mereka berdua yang sudah mengambil keputusan untuk menawan dia tubuhnya berkelebat semakin kencang lagi, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan amat cepatnya mengejar diri Koan Ing.

Koan Ing begitu melayangkan badannya ketika melihat kedua orang musuhnya masih ada kurang lebih sepuluh kaki jauhnya dari dalam hatinya telah timbul suatu harapan, sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah sekelilingnya kemudian dengan amat cepatnya berlari masuk ke dalam sebuah buian yang amat lebat sekali,

Tetapi jalanan di sekitar gunung ini, Si Thiat-lang Cien-hu jauh lebih paham daripada Koan Ing. Ketika mereka berdua melihat tubuh Koan Ing dengan amat cepatnya berkelebat masuk ke dalam hutan yang amat lebat itu, dalam hati diam-diam merasa amat gusar, mereka heran apakah pemuda itu tidak pernah memikirkan kalau dia tidak akan lolos dari tangan mereka berdua?

Baru saja tubuhnya mencapai pinggiran hutan itu mereka berdua sudah berhasil mengejar diri Koan Ing tidak lebih lima kaki di belakang tubuhnya.

Koan Ing sama sekali tidak pernah menyangka kalau gerakan tubuh mereka berdua bisa begitu cepatnya, dia benar-benar merasa amat terperanjat.

Matanya segera memandang ke depan, sesudah memutar dua kali di sekeliling hutan itu tubuhnya dengan cepat meluncur naik ke atas sebuah pohon besar.

Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang berhasil mengejar hingga sangat dekat dengan Koan Ing mendadak kehilangan jejak Koan Ing membuat mereka berdiri tertegun, tapi dengan cepatnya sudah sadar kembali, mereka merasa Koan Ing tentu sudah bersembunyi di suatu tempat.

Dengan dingin mereka segera mendengus, Koan Ing tentu sudah bersembunyi di atas pohon. tapi sekalipun begitu apa

dia kira bisa lolos dari kejarannya?

Koan Ing yang berhasil bersembunyi di atas Pohon, diapun tahu jelas kalau dia orang tidak akan begitu mudah bisa lolos dari pengawasan mereka berdua.

Walaupun dalam hati dia tahu sekalipun dirinya terjatuh ke tangan si Thiat-lang Cien-hu demi kereta berdarah berdua tidak akan berbuat sesuatu terhadap dirinya, tetapi hatinya tak urung merasa murung juga.

Matanya dengan melotot lebar-lebar memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, dia mau cari adakah tempat yang bisa di gunakan untuk meloloskan diri. Tetapi dia tidak berani banyak bergerak, kini Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat sudah berada tidak jauh dari pohon dimana dia bersembunyi, sedikit dia berisik saja segera akan diketahui oleh mereka.

Terdengar dengan amat dinginnya Cau Tok-soat membentak, “Hey, Koan Ing, kau jangan mengira bisa melarikan diri seenaknya, bila aku berhasil menemukan  dirimu, pertama-tama akan aku putuskan dulu sepasang kakimu.”

Koan Ing menjadi amat terkejut, dia tahu jika Cau Tok-soat sudah mengatakan begitu maka dia bisa melakukannya.

Sinar matanya segera menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, terlihatlah tidak jauh dari tempat dianya berada di atasnya sebuah pohon terdapatlah sebuah gua yang amat lebar,

Pikirannya segera bergerak, dengan perlahan dia turun dari pohon tersebut kemudian dengan cepatnya berkelebat menyusup ke dalam gua di tengah pohon tersebut.

Gerakannya kali ini tidak akan kedengaran oleh Thiat-lang Cien-hu mereka berdua, tetap, dia sama sekali tidak menyangka kalau dalamnya gua itu mencapai puluhan kaki.

Ketika kakinya menginjak dalam gua itu dia segera merasakan kakinya menginjak suatu tempat yang kosong.

Dia menjadi amat terperanjat, terasalah keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia bukannya takut terjatuh kedalam, cuma dia takut suara yang ditimbulkan akan diketahui oleh Thian Lang Cien-hu yang ada di depan, jikalau mereka ikut masuk ke dalam gua bukankah dirinya tidak akan lolos kembali dari tangan mereka?

Tubuh Koan Ing dengan cepat jatuh di atas permukaan tanah, baru saja dia mau bangkit berdiri, sekali lagi hatinya merasa sangat kaget, terlihatlah di samping tempat itu terdapatlah sebuah jalan di bawah tanah itu, pikirnya, “Jika aku tertangkap kembali oleh mereka berdua, mereka pasti akan menyiksa diriku habis-habisan, daripada menunggu di sini, baiknya aku bersembunyi di dalam jalan di bawah tanah itu saja.... jika mereka menyusul turun juga mengambil kesempatan mereka tidak bersiap sedia akan melancarkan satu serangan bokongan mengobrak-abrik mereka, sedikit2nya bisa juga menerima kembali pokoknya.”

Berpikir sampai di sini, Koan Ing segera menyembunyikan dirinya, terdengarlah suara tindakan kaki semakin lama semakin mendekat dan akhirnya berhenti di luar pintu gua itu tetapi mereka berdua sama sekali tidak masuk ke dalam, mereka berjaga-jaga di sana. 

Sedang Koan Ing merasa keheranan mendengar Gui Cun- pak yang ada di luar sudah berseru dengan suaranya yang amat berat, “Koan Ing, kau keluarlah, kami tidak akan melukai dirimu,”

Mendengar perkataan itu Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, pikirnya di dalam hati, “Perkataan orang semacam itu tidak bisa dipercaya, mereka takut aku membokong, mereka lalu sengaja mengucapkan kata-kata tersebut agar aku terpancing keluar.”

Lama sekali dia termangu mangu tapi tidak terdengar juga suara dari luaran kali ini sebaliknya malah membuat hatinya merasa sangat cemas, kenapa Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat tidak ikut turun kemari?

Pikirannya berputar? Memikirkan berbagai urusan, jikalau Thiat-lang serta Cien-hu sudah melakukan persiapan dengan kepandaian yang dimiliki mereka sekarang ini tidak mungkin bisa terbokong oleh dirinya tapi kenapa mereka berjaga2 saja di tempat luaran?” Mereka tidak punya alasan yang kuat untuk mengharuskan dirinya keluar dari tempat ini,

Lama sekali barulah Koan Ing mendengar suara berbisik- bisik dari mereka berdua cuma dia tidak mendengar dengan jelas apa soalnya,

Lewat beberapa saat lagi terdengar suara yang amat ringan bergema di dalam ruangan bawah tanah itu, dia tahu salah satu di antara dua orang itu sudah turun ke bawah, kini hatinya malah sebaliknya terasa amat tegang, sepasang matanya dengan amat tajam memperhatikan mulut pintu gua tersebut,

Terlihatlah sesosok bayangan manusia meloncat turun ke bawah, dengan cepat Koan Ing mencabut pedangnya, di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tiga kali serangan,

“Orang yang baru saja turun itu agaknya sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa berbuat demikian,” dengan gusarnya dia mendengus dan balas melancarkan tiga  serangan dahsyat.

Keadaan di dalam ruangan gua itu amat sempit dan kecil sekali lagi pula Koan Ing melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu Thian-yu Kiam Hoat yang merupakan ilmu yang dahsyat untuk beberapa saat lamanya orang itu tak dapat mengapa-apakan diri Koan Ing. 

Dari suara dengusan orang itu, Koan Ing bisa dapat tahu kalau orang itu bukan lain daripada si srigala baja Gui Cun- pak.

Sepuluh jurus dengan cepatnya berlalu, tiba tiba....

Plaaak.... pedang panjang di tangannya berhasil dipukul lepas dari tangannya.

Koan Ing tahu dia tidak boleh bertempur lebih lama lagi, tubuhnya segera merendah menerobos masuk ke dalam ruangan goa yang lebih dalam lagi, dia bermaksud sesudah menempatkan suatu jarak yang cukup jauh,  kemudian mencari suatu tempat yang persembunyiannya lebih baik untuk sekali lagi turun tangan membokong diri Gui Cun-pak.

Gui Cun-pak yang ada di dalam goa, walaupun kepandaian silatnya jauh lebih tinggi dari kepandaian silat dari Koan Ing tetapi gerakan tubuhnya tidak seberapa jauh lebih cepat dari gerakan Koan Ing, karenanya mereka berdua satu di depan yang lain di belakang dengan amat cepatnya sudah berlari sejauh sepuluh kaki lebih.

Koan Ing yang berlari di depan, ketika secara tiba-tiba tidak mendengar lagi suara tindakan kaki dari Gui Cun-pak yang sedang melakukan pengejaran ke arahnya, tak terasa lagi sudah berdiri termangu.

Dia menanti beberapa waktu lamanya di sana tetapi tak terdengar juga suara dari Gui Cun-pak yang sedang mengejar, hatinya merasa sangat heran sekali, pikirnya, “Hmm. buat

apa aku menunggu dirinya, baiknya aku maju terus ke depan, coba lihat disana apa ada jalan keluar tidak. ”

Berpikir sampai disini dia segera berjalan maju ke depan.

Kurang lebih sepuluh kaki di hadapannya telah muncul sebuah ruangan batu yang amat

besar.

Dalam hati Koan Ing sangat heran sekali, dia segera bangkit berdiri, dengan meminjam sinar terang yang memancar masuk ke dalam gua dia berjalan terus ke depan.

Tampaklah luas ruangan batu itu ada kurang lebih puluhan kaki, pada ujung ruangan itu duduklah sesosok mayat  manusia yang sudah mengering, di tempat lain terdapat juga beberapa tengkorak manusia. Dalam hati dia merasa sangat heran, pikirnya, “Heeeh.... sungguh heran, di tempat sini ternyata ada sebuah ruangan yang demikian besar, tidak kusangka sama sekali ada juga orang yang mau mendiami tempat yang lebih mirip dengan tempat ini.”

Sesudah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya dengan perlahan dia berjalan mendekati mayat tersebut.

Tapi baru saja dia orang angkat kakinya maju ke depan, mendadak mayat yang sudah mengering itu meloncat ke atas kemudian bagaikan kilat cepat meluncur ke arahnya.

Dia menjadi sangat terperanjat, di dalam anggapannya dia sudah mengira orang itu

adalah sesosok mayat, sama sekali tidak terduga kalau ternyata dia adalah seorang manusia hidup.

Melihat datangnya serangan dari orang itu tangan kanannya dengan cepat melancarkan

serangan dengan menggunakan jurus Thian Hong Coa Lok atau pelangi langit menutup jalan

dari ilmu telapak Thian-yu Ciang Hoat.

Tapi baru saja dia melancarkan serangan itu sampai di tengah jalan, tangan kanannya sudah berhasil dicengkeram oleh orang itu, terasalah olehnya pergelangan tangannya amat panas seperti dibakar, sakitnya luar biasa.

Dengan menyeret tubuh Koan Ing tubuh orang itu berputar setengah lingkaran di tengah udara kemudian melayang kembali ke tempat semula, teriaknya dengan amat gusar, “Kau muridnya Cu Yu?”

Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak menduga dengan serangannya tadi dia sudah mengetahui asal usul perguruannya sendiri.

Ketika dia angkat kepalanya memandang terlihatlah sepasang mata orang itu sudah dicongkel keluar, kini sepasang matanya berlobang tak berisi sedang sepasang kakinya pun sudah terbabat putus keadaannya sangat mengerikan sekali.

Hatinya menjadi sangat terperanjat, sepasang kaki orang itu sudah putus sedang matanya pun buta tetapi kepandaian silatnya sangat tinggi sekali, kelihatannya tidak berada di bawah silat empat manusia aneh, siapakah sebenarnya orang ini? Kenapa sebelumnya dia belum pernah mendengar adanya manusia semacam ini?

Koan Ing yang di dalam sekali gebrakan saja sudah berhasil ditawan pihak musuh, bahkan diketahui juga asal perguruannya dia benar-benar merasa amat terperanjat.

“Apakah orang ini mempunyai dendam sakit hati dengan suhunya pada masa yang lalu?”

Melihat wajahnya yang amat aneh itu dalam hati tak terasa lagi timbul perasaan bergidik yang membuat bulu romanya pada berdiri.

Ketika orang aneh itu melihat dia orang tidak mengucapkan sepatah katapun tangan kanannya segera diayun melemparkan tubuhnya ke pojokan ruangan.

“Manusia tidak punya semangat.” serunya sambil tertawa dingin.

Ooo)*(ooO

Bab 5

Koan Ing yang dilemparkan orang aneh itu ke ujung ruangan sama sekali tidak punya tenaga untuk melawan.

“Braaak!” punggungnya dengan sangat keras menghajar dinding ruangan tersebut.

Ketika mendengar orang aneh itu mengejek dirinya tidak punya semangat hatinya amat gusar, sambil merangkak bangun teriaknya nyaring, “Suhuku memang si pendekar pedang menyendiri dari gunung Chiu Leng!” Agaknya orang aneh itu sudah menduga kalau dia bisa berkata demikian, pada wajahnya sama sekali tidak kelihatan perubahan yang aneh, dia duduk termangu-mangu beberapa saat lamanya agaknya sedang mengingat kembali suatu urusan. Lama sekali baru terdengar dia berseru dengan suara berat, “Kau kemarilah ”

Koan Ing yang sudah dibuat keder oleh ilmu silat orang aneh itu menjadi rada ragu-ragu, tetapi ketika teringat  kembali kalau si orang aneh itu sudah memaki dirinya sebagai manusia tidak becus hatinya terasa panas juga, segera dia berjalan ke arah orang aneh itu dan berhenti kurang lebih tiga langkah di hadapannya, dia takut manusia aneh itu turun kembali menyerang ke arahnya, karena itu dengan amat waspada di a memperhatikan terus gerak-geriknya.

Terdengar si orang aneh itu dengan amat dingin mendengus.

“Kesini maju lebih dekat lagi!” serunya keras.

Dalam hati Koan Ing merasa mendongkol juga, pikirnya, “Hmmm kenapa aku harus takut untuk maju lebih dekat lagi? Apa kau kira aku takut dengan kau orang?”

Berpikir sampai disini dia segera maju kembali ke depan.

Tetapi baru saja kaki kirinya maju lagi satu langkah mendadak tubuh orang aneh itu bergerak tangan kanannya berputar satu lingkaran di depan dada kemudian melancarkan satu pukulan dahsyat ke arahnya.

Koan Ing menjadi amat terperanjat untuk menghindar tidak sempat lagi, tubuhnya miring ke samping, dengan tepatnya menerima hajaran dari orang aneh tersebut.

“Braaak. !”

Sekali lagi punggungnya tertumbuk pada dinding ruangan membuat seluruh tubuhnya terasa pegal linu. Dengan cepat dia meloncat bangun dari atas tanah tak terasa hatinya bergidik juga.

Jelas sekali ilmu pukulan Yang baru saja digunakan itu bukan lain adalah Sim Hoat tingkat atas dari ilmu sakti Thian- yu Khei Kang tetapi kemantapan dari pukulan serta kecepatan dan geraknya jauh di atas suhunya sendiri, dia menjadi bingung sendiri.

Pikirnya, “Aku belum pernah mendengar di dalam perguruan ada orang semacam ini, tapi jelas  dia menggunakan ilmu Thian-yu Khei Kang?”

Terdengar orang itu berdiam diri sebentar kemudian ujarnya dengan serius.

“Cepat jatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada supekmu Thian-yu Khei Kiam, Kong Bun-yu.”

Koan Ing menjadi melengak, dia pernah mendengar cerita dari suhunya katanya supek Kong Bun-yu adalah seorang lelaki tampan yang dandanannya amat perlente, mana mungkin dia orang bisa berubah seperti begini?

Menurut suhunya supeknya Kong Bun-yu pernah bergaul rapat dengan seorang perempuan, tetapi dia orang tua tidak menjelaskan lebih luas lagi.

Tak disangka Kong Bun-yu yang ditemuinya sekarang ternyata berwajah begitu aneh dan mengerikan sekali, walaupun begitu mana dia tahu supeknya ini termasuk di dalam salah satu empat manusia aneh, dia sendiri harus menaruh rasa hormat kepadanya. Setelah termangu-mangu beberapa waktu dia lantas jatuhkan diri berlutut, “Koan Im menghunjuk hormat kepada supek.”

“Hmm. bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?”

“Tecu didesak oleh Thiat-lang Cien-hu.” Ketika Kong Bun-yu mendengar disebutnya nama Thiat- lang Cien-hu tampak suatu hawa amarah terlintas pada wajahnya, dia mendengus dingin tapi tidak mengucapkan sepatah katapun.

Koan Ing segera menceritakan kisahnya bagaimana dia terdesak masuk ke dalam ruangan di bawah tanah ini,

Agaknya Kong Bun-yu sama sekali tidak punya minat untuk mendengarkan kisahnya, segera dia bertanya, “Keadaan suhumu apakah baik-baik saja?”

Mendengar Kong Bun-yu mengungkit kembali suhunya, dia segera palingkan wajahnya memandang tajam wajah suheng suhunya.

“Keadaan tubuh suhu beberapa waktu ini kurang memuaskan, sesudah lama dia orang tua tidak dapat turun dari pembaringan.”

“Lama.... tempo hari suhu sudah terkena satu pukulanku, kini sudah tentu tidak akan tahan lagi.

Mendengar perkataan tersebut Koan Ing merasakan hatinya tergetar amat keras mendadak

dia bangkit berdiri.

Dia yang sejak kecil dididik dan di besarkan oleh Cu Yu sudah menganggap gurunya seperti ayahnya sendiri, kini mendengar perkataan dari Kong Bun-yu sudah tentu hatinya merasa amat terkejut bercampur gusar.

Walaupun sepasang mata dari Kong Bun-yu sudah buta tapi segala gerak-gerik dari Koan Ing tidak dapat luput dari pengawasannya, mendadak tangan kanannya menyambar ke depan mengirim satu pukulan, Kraak !

Tulang tengkorak yang ada dipolkan ruangan sudah terpukul hancur oleh angin pukulannya. “Heee.... heee. ” serunya dengan suara berat. “Walaupun

peristiwa tempo hari dikarenakan kesalahanku, tetapi aku adalah supekmu kau berani berlaku kurangajar di hadapanku?”

Koan Ing yang melihat air muka Kong Bun-yu amat murung dan sedih, dia menjadi termangu-mangu, ini adalah urusan dari kaum angkatan tua mana boleh dia orang ikut mencampurinya? Terpikir akan hal ini tak tertahan lagi titik- titik air mata menetes keluar membasahi pipinya.

Kong Bun-yu pun duduk termenung tak berbicara, lama sekali baru terdengar dia berkata lagi, “Pada saat seperti ini kau bisa tiba di sini sungguh bagus sekali. ”

Koan Ing segera menghapus bekas air matanya dengan menggunakan tangannya, kini dia sedang memikirkan bagaimana keadaan dari suhunya Cu Yu sekarang sehingga perkataan dari Kong Bun-yu sama sekali tidak terdengar olehnya.

Agaknya Kong Bun-yu tahu apa yang sedang dipikirkannya oleh Koan Ing, dengan dinginnya dia mendengus.

“Hmm.... seorang lelaki sejati tak akan merasa kesusahan untuk memikirkan suatu urusan.”

Koan Ing segera mengerutkan alisnya, dia tidak ingin dipandang remeh Kong Bun-yu, dengan nada melawan teriaknya, “Peristiwa yang sudah lampau sudah tentu aku tidak mau ikut campur, tetapi akibat yang diderita suhuku sekarang adalah diakibatkan oleh kau orang, kalau begitu aku bukanlah sutitmu, kau pun bukanlah supekku!”

Pada wajah Kong Bun-yu segera terlintas hawa amarahnya, sambil tertawa keras teriaknya, “Bagus, punya semangat....

punya semangat. ”

Seusai berkata, air mukanya berubah menjadi amat serius, ujarnya kembali, “Tapi kau jangan melupakan satu hal, perguruan Thian-yu masih ada aku sebagai ciangbunjinnya, sedang suhupun belum di keluarkan dari perguruan, jikalau kau tidak ingin memanggil aku sebagai supek aku tidak akan memaksa tetapi kau orang harus mengerjakan satu urusan dulu.”

Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan diri Kong Bun-yu, tidak tahu apa arti dari perkataan ini, Tetapi urusan ini menyangkut soal perguruan sedang Kong Bun- yupun merupakan seorang ciangbunjin perkataan yang diucapkan tidak mungkin bisa bernada guyon.

Sepasang telapak tangan Kong Bun-yu segera direntangkan dan lantas telapak tangannya mencengkeram sebuah batok kepala dari tengkorak itu pada saat itu tenaganya disalurkan segera terdengarlah suara yang amat keras kedua buah batok kepala tengkorak manusia itu sudah tercengkeram hancur sehingga berubah menjadi bubur.

“Heee.... heee.... kecuali kau bisa memisahkan hancuran tulang-tulang batok kepala yang baru aku lakukan sekarang ini.” ujarnya tawar.

Koan Ing menjadi tertegun, di tempat kegelapan semacam ini harus memisahkan tumpukan bubuk batok kepala ini?

Ketika Koan Bun-yu mendengar lama sekali Koan Ing tidak mengucapkan sepatah katapun, dia segera mendengus, ujarnya dingin, “Kedua orang ini sudah menerjang masuk ke tempatku sehingga aku binasakan diri mereka pada tiga tahun yang lalu, cuma urusan yang demikian kecilnya saja kau tidak bisa lakukan masih berkata mau berbuat pekerjaan yang lain? hmmm”

Koan Ing yang dipanasi oleh perkataan Kong Bun-yu ini sepasang alisnya- segera dikerutkan rapat-rapat.

“Kenapa tidak bisa?” teriaknya keras. Selesai berkata dia berjalan maju ke depan dan memandang ke arah sana, terlihatlah batok kepala tengkorak tersebut sudah dicengkeram menjadi bubuk halus oleh tenaga pencetan sepasang telapak Kong Bun-yu sehingga menjadi setumpuk bubuk berwarna abu-abu, hal ini membuat hatinya tertegun.

Kong Bun-yu tidak ambil perduli Koan Ing lagi, dengan amat tenangnya dia duduk tak berbicara.

Koan Ing benar-benar dibuat tertegun oleh keadaan yang dihadapinya, dia bingung harus berbuat bagaimana baiknya, keadaan di dalam gua itu sebenarnya sudah amat gelap apa lagi cuaca pada saat itu sudah menjelang malam membuat keadaan di dalam gua saking gelapnya sukar untuk melihat lima jarinya sendiri.

Kong Bun-yu tidak berbicara lagi dari atas tembok dia memetik sebuah jamur dimasukkan ke dalam mulut terus dikunyah.

Melihat keadaan yang begitu mengerikan dengan mata terbelalak mulut melongo Koan Ing memandang diri Kong Bun-yu agaknya Kong Bun-yu sudah terbiasa hidup di tempat itu dengan menggantungkan daripada jamur, tetapi dengan kehebatan dari ilmu silatnya, bagaimana mungkin dia bisa terjatuh hingga ke dalam keadaan semacam ini?

Koan Ing seorang diri termenung memikirkan banyak pertanyaan, tetapi Kong Bun Yo tidak menggubris dirinya lagi. Ia sendiri memejamkan matanya berlatih pernapasan, terlihatlah sepasang tangannya dengan mendatar, dada diangkat ke atas kemudian membentuk setengah lingkaran di tengah udara.

Dimana tangan Kong Bun-yu berkelebat pada udara segera terdengar suara deburan yang

amat berat. Dalam hati Koan Ing menjadi sangat terperanjat, ilmu silat dari Thian-yu-pay selamanya berbeda jauh dengan ilmu silat partai lain, di dalam melatih tenaga dalam bukannya mengutamakan ketenangan sebaliknya mengutamakan gerak, kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Kong Bun-yu sekarang ini menurut penglihatannya mungkin masih jauh lebih tinggi dari kepandaian si Tiang Gong Sin-cie Sang Su-im.

Sinar terang semakin redup sepasang matanya kini tidak dapat melihat apa-apa lagi walaupun begitu dia masih bisa dengar kalau Kong Bun-yu sedang berlatih Thian-yu Chiet Co Sin yang merupakan ilmu tenaga dalam tingkat atas.

Dia yang seharian penuh tidak makan sesuap nasipun kini merasakan perutnya amat lapar sedang badannya sangat lelah, untuk mengambil jamur yang ada di atas tembok dia merasa tidak tega atau lebih tepat lagi tidak punya minat sama sekali.

Koan Ing yang duduk termangu-mangu tidak lama kemudian sudah tertidur dengan amat pulasnya.

Ketika dia sadar kembali dari pulasnya hari sudah pagi, terlihatlah Kong Bun-yu masih tetap berlatih tenaga dalamnya selama ini Kong Bun-yu tetap tidak mengucapkan sepatah katapun, dia terus menerus berlatih tenaga dalamnya.

Ketika Koan Ing melihat Kong Bun-yu begitu menghina dirinya dalam hati merasa sangat tidak senang, pikirnya, “Hmm.... aku harus bisa memisahkan abu tengkorak itu menjadi dua bagian.”

Berpikir sampai disini dia segera duduk di samping abu tulang itu dan menghapus abu yang ada di atas batu di kedua belah sampingnya, setelah itu dari tanah mengambil sekerat tulang dan mulai menutul membagi menjadi dua bagian.

Baru beberapa lama dia sudah merasakan pandangannya menjadi kabur, sepasang matanya terasa amat pedas sukar untuk dipentangkan kembali, terpaksa dia beristirahat sebentar.

Saat itulah perutnya terasa amat lapar sekali hingga sukar untuk ditahan, hatinya menjadi sangat bingung.