Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 26 (Tamat)

 
Jilid 26 Tamat

"Huh, berdasarkan apa berani kau remehkan orang, nonamu ingin belajar kenal dulu padamu," jengek Keng-kiau.

'"Keparat, kau pingin mampus!" bentak Bwe-hiang-sian-ki.

Sekali berputar, bayangan tangan beterbangan, di mana angin pukulan menyambar terasa dingin nerasuk tulang.

Sejak memperoleh kitab pusaka wariiau Kim-teng Cinjin, seorang tokoh sakti dunia persilatan, sesungguhnya ilmu silat Oh Keng-kiau sudah mencapai puncaknya, akan tetapi, berhubung hatinya vvelag kasih, selama ini enggan melakukan pembunuhan.

Tapi kemarahannya malam ini telah memuncak, begitu turun tangan se&era jurus-jurus serangan aneh dilancarkan sehingga pandangan orang menjedi kabur.

Bwe-hiang-sian-ki sendiri termasuk tokoh kelas satu dalam dunia persilatan, sayang usianya sudah terlampau tua, otomatis kegesitannya juga di bawah Oh Keng-kiau, seielsh beberapa jurus serangssnya mengenai sasaran kosong, dia berpekik gusar.

Pertarungan bertambah sengit, untuk sesaat kedua pihak sukar menentukan menang kalah.

Sementara itu, Pek Sat dan Pek Bi yang dilemparkan Oh Keng-kiau ke atap rumah menjadi gusar juga, kedua orang saling memberi tanda sekejap, lalu melayang turun, buru-buru si nona berbaju biru memanggil mereka untuk mundur.

Mendadak terdengar seorang terbahak-bahak dan berseru, "Sungguh pertarungan yang hebat, hari ini agaknya si nenek telah menemukan tandingannya!"

Kemudian terdengar seorang lain menyambung, "Jumlah yang hadir di sici tidak sedikit, bisa jadi peristiwa Bu-lim yang menggemparkan lagi." Menyusul ucapan itu tampak Hian-thian-ko-ancu dan Pek- hoat-kui-po telah muncul dan langsung menerjang ke arah Oh Keng-kiau.

Sambil manutul tongkat pajangnya, Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau berseru lantang, "Anak perempuan, besar amat nyalimu, berani mengusik Bu-lim-jit-koat!"

Tongkat berputar membawa desing angin tajam langsung menghantam pergelangan tangan Oh Keng-kiau.

"Hei, kalian hendak main kerubut?” teriak Bok Ji-sia.

Ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian nya berputar memancarkan cahaya, gemerincing nyaring, tahu-tahu tongkat Pek-hoat-kui-po gumpil sebagian.

Dengan gusar Bwe-hiang-sian-ki membentak, "Cin-lopocu, tidak ada urusanmu, lebih baik jangan ikut campar."

Kejut Pek-hoat-kui-po karena tongkat kesayangan rusak akibat beradu senjata dengan Bob Ji-sia

Dengan gusar dia menjawab, "Ruyung mestika Jian-kim-sl- hun-pian memang hebat, aku ingin minta petunjuk beberapa jurus lagi."

Sebagai salah seorang tokoh Bu-lim-jit-koai, sudah barang tentu ia memiliki ilmu silat yang hebat, rusaknya senjata andalan sama artinya merusak nama baiknya, pantas ia menjadi murka.

Ji-sia tidak pedu!i, ejeknya, "Sekalipun kalian maju bersama pun Siauya tidak akan mundur."

"Bagus, biar akupun ambil bagian!" teriak Hian-thian- koancu dengan gusar.

Mendadak ia menerobos ke samping Bok Ji-sia, dengan dua jari Ungsuog menutuk Ki-ti-hiat di tubuh Bok Ji-sia. Sementara kelima jari tangan kiri terentang untuk mencengkeram urat nadi musuh, sungguh serangan yang  lihai.

Satu jurus dengan dua gerakan ini dilakukan dengan cepat, yang diancam adalah tempat mematikan.

Dalam kejutnya cepat Ji-sia memutar badan, telapak tangan kiri balik memotong pergelangan tangan Hian-thian- koancu,

Waktu itu, Pek-hoat-kui-po CiD Say-kiau melihat ada kesempatan, sambil membentak tongkat segera menyodok ke lambung Bok Ji-sia.

Namun Ji sia sempat putar Jian-kim-si-hun-pian sehingga membelit tongkat lawan. menyusul terdengar bentakan menggelegar, "Naik!"

Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau merasakan pergelangan tangan mengencang, lalu terlepas, tongkat yang sudah 20 tahun mengikuti dirinya itu mencelat ke udara.

Tenaga dalam S6hebat itu sungguh menggetarkan perasaan orang, sampai nona berbaju biru diam-diam juga mengangguk.

Setelah menerbangkan tongkat lawan, Ji-sia tiriak menghentikan gerakannya, Jian-kim-si-hun-pian sekaligus menyambar ke arah Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau.

Hian-thian-koancu terperanjat, cepat serunya, "Hei, nenek, lekas mundur!"

Berbareng iapun menubruk maju, jarinya menutuk dan sikut menumbuk, menyusu! kaki kirinya menendang Toa-hek- hiat dibawah pusar lawan.

Ji-sia bersiul nyaring, dia enggan melukai musuh, sambil menarik kembali senjatanya, ia meninggalkan Pek-hoat-kui-po dan khusus hanya menyerang Hian-thian-koancu. Terkejut Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau hingga keluar keringat dingin, coba kalau Hian-thian-koancu tidak menolong tepat pada waktunya, mungkin ia sudah binasa.

Sambil meraung murka, dengan nekat ia menerjang msju lagi.

Pertarungan sengit terjadi lagi, dalam kedudukan sebagai dua jago dalam Bu-lim-jit-koat, kenyataannya mereka tak mampu menundukkan seorang pemuda, hal ini benar-benar kejadian yang memalukan.

Tiba- tiba ada orang bersuara tertahan, tampak

Bwe-hiang sian-ki terduduk di tanah deugan wajah pucat, tapi dengan cepat dia melompat banguu lagi,, dengan napas terengah dia berteriak, "Budak keparat, hari ini nyonya besar benat-benar jatuh di tanganmu!"

Oh Keng-kiau berdiri dengan wajah cerah, sambil tertawa katanya, "Habis, kau tak tahu diri dan berani mengusir nonamu, setelah mendapat pelajaran, salahkan siapa lagi?"

Bwe-hiang-sian-ki sama sekali tidak mengira seorang nona cilik yang baru berumur dua puluh tahunan memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna, setelah termenung sebentar wajahnya kelihatan bimbang.

Akhirnya dia menegur dengan suara dingin, "Kau murid siapa?!"

"Dia putri Thian-seng-pocu!" sela si nona berbaju biru itu. "Ah, tidak mungkin" kata Bwe-biang-tian-ki tidak percaya,

"sekalipun Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak terhitung pemimpin Bu-lim-jit-koai, kungfunya hanya seimbang di antara kita meski tenaga dalamnya memang setingkat lebih tinggi dari pada kita. Dangan kemampuannya itu mustahil dia bisa mendidik seorang putri sehebat ini, lagipula mati-hidup Oh Kay-thian juga tidak jelas, dari mana timbul anaknya?" "Hehe, memangnya kau serba tahu segala urusan di dunia ini?" ejek Keng-kiau.

"Budak hina, bila tidak kubunuhmu hari ini, percuma aku hidup selama enam puluh tahun," bentak Bwe-hiang-sian-ki murka.

Kembali ia menerjang ke depan dan beruntun melancarkan beberapa kali pukulan, jurus serangan Bwe-sat-ciang yang lihai.

"Kau cari kematian sendiri, jangan salahkan aku lagi!" bentak Keng-kiau sambil mengegos.

"Berhentil" mendadak dari luar arena berkumandang suara bentakan.

Si nona terbaju biru berpaling sambil tertawa, katanya, "Bagus sekali, memang sudah kuduga kalian akan tiba di sini!"

Tampak Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan Thian-kang- kiam Oh Ku-gwat berjalan paling depan, di belakangnya mengikut Mo-in-jiu Kok Siau-thian dan Leng-hong-siau serta dua puluh empat orang lelaki berbaju hitam.

Begitu mendengar suara bentakan tadi, Ji-sia juga tabu siapa yang datang, dia segera melompat keluar arena, sementara Hian-thian-koancu dan Pek-hoat-kui-po juga manfaatkan kesempatan itu untuk mengundurkan diri.

Hati Keng-kiau bergetar menyaksikan kedua paman datang semua kesitu, timbul perasaan tak tenang.

Perlu diketahui, walaupun Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian adalah pembunuh ibunya, namun sejak kecil Keng-kiau dibesarkan oleh Oh Kay-thian, sehingga mau-tak-mau sudah ada ikatan batin.

Dia ingin turun tangan, namun perasaannya terlampau lemah, seketika tak tahu apa yang mesti dilakukannya, sambil menghela napas dia hanya berdiri di samping Bok Ji-sia. "Jangan gugup Sumoay," desis Ji-sia, "mungkin kita harus bertarung sengit malam ini."

"Menurut dugaanmu apa yang hendak dilakukan Samsiok (paman ketiga)?" tanya Keng-kiau.

"Apa lagi kalau bukan berusaha melenyapkan kita dan menghilangkan bibit bencana di kemudian haril"

Dalam pada itu, Seng-gwat-kiam Oh Khay-thian lintas mengangguk terhadap setiap orang, terutama waktu melihat Ji-sia dan Keng-kiau, dia lantas tersenyum kepada kedua orang itu.

Entah senyuman permusuhan atau senyum persahabatan?

Tiada orang yang tahu.

"Nona, sudah lama sampai di sini?" sapa Oh Khay-thian kepada si nona berbaju biru

"Ah, cuma selangkah lebih duluan daripada dirimu," sahut si nona dingin.

Seng-gwat-kiam tertawa, kttika melihat Bwe-hiang-sian-ki juga berada di situ, air mukanya agak berubah, tapi segera tegurnya sambil bergelak, "Aha, nenek, kenapa tampangmu jadi masam begitu? Memangnya baru saja berkelahi dengan orang?"

"Hm, kenapa? Apakah kaupun ingin membonceng?" dengus Bwe-hiang-sian-ki.

"Ah, masa begitu?" seru Oh Kay-thian. "kita telah berusia lanjut, akupun bukan manusia macam itu, ilmu pukulan Bwe- sat-ciangmu menjagoi dunia penilatan, siapa yang berani mengusik dirimu?"

Lalu dia berpaling ke arah Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak dan berseru lagi dengan tertawa "Ha ha, tak kusangka di sini masih ada seorang jago lagi?" "Tak perlu menjilat pantat, aku tidak suka permainan semacam Ini!" jawab Ku Thian-gak dengan mendongkol.

Siapa saja tentu akan marah mendengar perkataan itu, tapi Oh Kay-thian hari ini benar-benar sabar, dia cuma tertawa dan tidak menghiraukan ucapan tersebut.

Sikapnya yang luar biasa ini sama sekali bertentangan dengan sikap biasanya, semua orang menjadi curiga.

Oh Kay-thian lantas berpaling ke arah Hian-thian-koancu dan Pek-hoat-kui-po, sapanya, "Kalian berdua pasti sangat lelah, barusan kalian bergebrak dengan siapa?" '

Siapa pun tahu ucapan tersebut sangat licin, nama Bu-lim- jit-koat amat termashur, jika Hian-thian-koancu dan Pek-hoat- kui-po gagal mengalahkan Bok Ji-sia, sungguh hal ini amat memalukan mereka.

Dengan air muka bsrubah Hian-thian-koancu lantas berseru. "Oh-losarn, kau benar-benar lihai!"

Pek-hoat-kui-po juga lantas menjengek, "Ku-percaya Oh losam sendiri belum tentu bisa menandingi kelihaian iawan . .

. ."

Air muka Oh Kay-thian agak berubah, tapi dengan cepat pulih kembali seperti biasa, sambil mengangkat bahu ia tertawa dan memperlihatkan sikap apa boleh buat.

"Aku Oh losam bukan jago nomor satu di kolong langit yang sanggup mengalahkan setiap jago di dunia ini," ucapnya sambil tersenyum, "Al, sebetulnya siapakah jago berkepandaian selihai itu yang sanggup mengalahkan dua tokoh kelas satu?"

"Itu dia orangnya!" seru Pek-hoat-kui-po «ambil menuding Bok Ji-sia.

Pikiran orang perempuan memang picik, Pek-huat-kui-po masih penasaran karena dikalahkan Bok Ji-sia, maka timbul ingatannya akan mengadu domba antara Oh Kay-thian dengan Bok Ji sia.

Oh Kay-thian berlagak merasa kaget, serunya, "Wah, kalau begitu kepandaian Bok-siauhiap boleh dibilang nomor satu di dunia!"

Kata-katanya amat menyindir dan tak sedap didengar, Bok Ji-sia tahu orang bertujuan mengejeknya.

Maka sambil tertawa dingin jawabnya, "Ah, masa bisa lebih hebat daripada Seng-gwat-kiammu!"

Oh Kay-thian tersenyum, dia lantas berpaling ke arah Oh Keng-kiau, tegurnya, "Anak Kiau, selama berapa hari ini kau ke mana saja?'

Rasa benci Keng-kiau kepadanya sudah merasuk tulang sungsum, jengeknya, "Peduli apa denganmu?"

Air muka Oh Kay-thian berubah hebat, katanya, "Hei, makin menginjak dewasa kau jadi makin tak tahu aturan? Masa berani kurang ajar kepada ayahmu sendiri? Orang yang tidak tahu pasti mengira aku yang salah mendidik dirimu?"

Keng-kiau sangat gusar, "Siapa bilang aku putrimu? Jangan sembarangan omongl"

Oh Ku-gwat yang berada di samping menjadi gemas, semaya, "Jite, tak usah banyak bicara, bereskan dia saja!"

Rupanya ia gusar sekali karena terdesak oleh gadis itu tadi, maka kedatangannya ini adalah untuk membalas dendam sekaligus melenyapkan bibit bencana di kemudian hari,

"Anak Kiau," kembali Oh Kay-thian berseru dengan menghela napas, "apakah aku ayahmu atau bukan, yang pasti selama belasan tahun ini aku telah memelihara dan mendidikmu dengan baik, tahukah kau karena apa? Apa lagi kalau bukan mengharapkan kau jadi orang yang berguna dan menjayakan nama baik nenek moyangmu? Sekarang, tentu nya telah kau dengarkan perkataan ibumu sehingga membenciku setengah mati padahal semua ini hanya salah paham belaka!"

Kata katanya cukup mengharukan sehingga pedih hati Keng-kiau. meski orang ini berdosa besar, tapi sesungguhnya amat menyayangi gadis ini.

Air mata Keng-kiau bercucuran, katanya kemudian, "Bagaimanapun menariknya ucapanmu, selama hidupku tak mau psrcaya lagi kepadamu, hubungan antara kita telah putus, bersiaplah, segera kulancarkan seranganl"

Sambil berkata dia lantas mengambil ancang-ancang, tenaga dalam dihimpun pada lelapak tangannya.

Oh Khay-thian tidak menanggapi tantangan tersebut, malahan sambil bergendong tangan ia berkata, "Bila kau tidak senang, baiklah, boleh kau-pukul diriku beberapa kali, cuma sehabis memukul nanti kau harus, ikut pulang ke Thian-seng- po."

Keng-kiau melengak, ia tak menyangka Oh Kay-thian mandah diserang, meski dendam hatinya, namun ia enggan menghajar seorang yang tidak membalas.

"Jangan kau pikir begitu lagi," serunya kemudian sambil tertawa seram, "kalau bisa, aku justeru ingin meratakan Thian-seng-po dengan permukaan tanah!"

"Kau benar-benar anak yang tak berbakti!" bentak Oh Kay- thian dengan air muka berubah.

Keng-kiau tertawa pedih, "Thian-seng-po adalah lambang kejahatan, setiap orang yang punya rasa keadilan tentu ingin memusnahkannya, aku tak lebih hanya seorang penggerak yang lebih giat saja."

Maklumlah, sejak Thian-seng-po jatuh ke tangan Seng- gwat-kiam Oh Kay-thian. sebagian besar kejahatan yang terjadi dalam dunia persilatan selalu melibatkan pihak Thian- seng-po.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian menganggap Thian-seng-po sebagai lambang kehidupannya, bila benteng itu musnah berarti orangnya turut tewas, tak heran kalau air mukanya lantas berubah demi mendengar ucapan Keng-kiau tadi.

la tahu tiada kompromi lagi dengan Oh Keng-kiau, m.nka dengan gusar bentaknya, "Anak Kiau, kau kira tak berani kubunuhmu?"

"Hm, tentu saja kauherani, perbuatan apapun berani kaulakukan, sudah lama kutahu bakal datang hari seperti ini," jengek Keng-kiau, "cuma, perlu kuberitahukan padamu, tiada sesuatu di dunia ini yang begitu sederhana seperti apa yang kau bayangkan!'.

Oh Kay-thian memandang sekejap sekeliling arena, lalu katanya, "Saudara sekalian, persoalan ini adalan masalah rumah tangga kami sendiri, kuharap orang yang tiada hubungannya dengan Thian-Seng po janganlah ikut campur, kalau tidak, terpaksa akupun tidak sungkan lagi."

Peringatan ini setengahnya ditujukan kepada semua orang, setengahnya lagi khusus ditujukan ke Keng-kiau dan Ji-sia, semua orang juga tahu hal ini, sudah barang tentu mereka enggan mencampuri urusan pribadi orang lain.

Bok Ji-sia lantas tertawa dmgiu, katanya, "Jangan kau coba mengikat orang dengan perkataanmu, yang jelas tuan muda takkan termakan oleh ucapanmu."

"Hm, sekalipun kau tak ikut campur juga tak akan kuampuni dirimu!" jengek Oh Kay thian.

Mendadak terdengar bentakan menggeledek, Oh Ku-gwat melolos pedangnya, dengan jurus Kiam-hai-keng-hun (lautan pedang menggetar sukma) dia terjang Bok Ji-sia.

"Bagus!" bentak Ji-sia. Jian-kim-si-hun-pian itu diayunkan ke depan dengan jurus Boan-thian-hocg-piau (angin puyuh menderu di angkasa), diiringi cahaya emas dan desing tajam ia sambut serangan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian memandang sekejap ke-24 jago Thian-seng-po, katanya, "Perhatikan, jangan sampai ada seorang pun yang lolos!"

"Suheng, mari kita labrak mereka!" seru Keng-kiau, segera ia menerjang Seng-gwat-kiam Oh Kay thian.

"Sumoay, kalau tidak membunuh mereka berdua hari ini kita bersumpah takkan berhentil" bentak Ji-sia.

Pertempuran sengit segera berkobar.

"Samsiok, hari ini keponakanmu terpaksa ber-tindak kurangajar kepadamu!" teriak Keng-kiau terhadap Oh Kay- thian, "

Agaknya Oh Kay-thian juga tahu Keng-kiau tidak mudah ditundukkan, apalagi dia telah membunuh orang tuanya, tentu nona itu tak akan mengampuninya begitu saja.

Satu-satunya jalan sekarang adalah berusaha memusnahkan Keng-kiau dan Ji-sia, sebab bila kedua anak itu tetap hidup di dunia ini, suatu ketika pasti akan merupakan bibit bencana baginya.

Setelah mengambil keputusan, seketika juga dia melupakan hubungan darah antara mereka, ia mendongakkan kepala dan tertawa seram, suaranya keras menggetar rumah di sekitar tempat itu.

Setelah berhenti tertawa, dia berseru "Kau-manusia yang lupa budi, hari ini harus kulenyap-kan dirimu dari muka bumi."

Selesai berkata, telapak tangan terangkat dan memapak ke depan, kontan ia hendak menutuk Khi-hay-hiat di tubuh Oh Keng-kiau,   sementara   kelima   jari   tangan   lain  menabas pinggang musuh, dua jurus dilancarkan bersama dengan cepat.

Cepat Keng-kiau menggeser ke samping, telapak tangan kanan balas menghantam.

Seng-gwat kiam Oh Kay thian sudah lama berkumpul dengan Keng-kiau, terhadap ilmu silatnya boleh dibilang sangat apal, ia tertawa, serunya, "Hehehe, rupanya kau ingin mampus!"

Dengan menambahi tenaga pukulannya ia sambut hantaman si nona.

Ia tidak tahu Oh Keng kiau telah mempelajari ilmu maha sakti peninggalan Kim teng Cinjin, kepandaiannya sekarang sudah jauh melebihi apa yang diketahuinya. Andaikata ia tahu sudah pasti takkan berani bertindak gegabah.

Oh Keng-kiau sendiri juga terkesiap menyaksikan kehebatan tenaga pukulan Oh Kay-thian, dengan kening berkerut segera bentaknya, "Mampuslah kau sendiri!"

Dengan jurus Hek -liong kiam-tau (naga hitam mengangguk kepala) ia menangkis sambil menabas ke bawah, inilah ilmu sakti Kim-teng-pit-kip yang tidak menimbulkan suara dan tanpa berwujud.

Oh Kay thian kaget oleh serangan yang tidak menimbulkan suara ini, menyusul ia tambah terperanjat dan hendak menarik kembali serangannya, namun tak sempat lagi.

"Blang," benturan keras terjadi. Oh Kay-thian merasakan benaknya mendengung, darah bergolak, beruntun dia mundur beberapa langkah sebelum berdiri tegak lagi.

Setelah berhasil memaksa mundur Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, Keng kiau merasakan lengannya menjadi kaku, dengan wajah dingin dia membentak lagi, "Ayo, sambut pula pukulanku " Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar jeritan Oh Ku-gwat. "Orang she Oh," kedengaran Ji sia bersera, "hari ini adalah

hari terakhir kalian bersaudara!"

Mendadak Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat membentak gusar; "Maju semual"

Ke 24 orang jago Thian-seng-po yang berada di sekeliling tempat itu serentak memancarkan diri, bayangan pedang gemerdep dari empat penjuru dan serentak mengurung Ji-sia.

"Omintohud!" tiba-tiba bergema suara pujian kepada sang Budha yang nyaring, tahu-tahu It-hu Taysu dari Siau lim-pai berjalan masuk.

Dengan cepat Siau-yau-sian-hong-kek Ku Thian-gak memburu maju sambil berseru, "Taysu, sudah lama Tecu menanti di sini!"

It-hu Taysu merangkap tangannya di depan dada seraya berkata, "Kau berasai dari Siau-lim-pai, setiap saat selalu memikirkan kepeutingan Siau-iim-dari sini dapat diketahui betapa mulia hatimu. Begitu memperoleh kabar darimu, segera kuberangkat ke sini"

Sesudah berhenti sebentar, lalu bentaknya, "Harap Oh-sicu menghentikan serangan dulu, ada persoalan hendak kubicarakan!"

Begitu mendengar kehadiran It hu Taysu dari Siau-Iim-si, air muka Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat berubah bebat, buru- buru dia melompat mundur, sementara pertarungan di sebelah lain pun berhenti.

Hanya Oh Keng kiau yang dipengaruhi kobaran rasa dssdam yang tak mau menghentikan serangannya, Seng- gwat-kiam Ob Kay-thian berniat mendesaknya mundur, namun hal ini bukan pekerjaan gampang, saking jengkelnya dia berpekik berulang kali. Dengan kepala tertunduk dan mata setengah terpejam, It- hu Taysu berseru, "Lisieu, mengingat padaku bersediakah kau

. . .,

"Dendam kesumat lebih dalam daripada lautan ,. .” belum habis perkataan Keng kiau, segera ia membentak nyaring, kembali ia melancarkan beberapa kali pukulan.

Karena didesak berulang kali, Seng gwat-kiam Oh Kay-thian berteriak gusar, "Anak Kiau, aku hanya mengalah dan bukan berarti takut padamu kalau tak berperasaan, terpaksa aku turun tangan keji!"

"Criing!" denting nyaring bergema, cahaya berkilauan terpancar tampaknya iblis tua yang jarang rnempergudakan pedangnya benar-benar jadi kalap.

Melihat lawannya melolos pedang Keng-kiau terkesiap, sambil tertawa seram pukulannya segera berubah, angin pukulan mtnderu-deru.

Dalam waktu singkat bayangan ped«ng dan telapak tangan memenuhi udara, dua sosok bayangan aii hitam saling gempur dengan hebatuys.

Siau-yau-sian hong kok Ku Thien-gak merasakan tekad Oh Keng-kiau untuk mati, ia tahu hanya Bok Ji-sia saja yang mampu menghentikan serangan Oh Keng-kiau.

Maka dia lantas berpaling ke arah Ji-sia sembari berseru, "Bok-siauhiap, kau "

Ji-sia paham maksudnya, sebelum selcrai ucapannya, segera dia berseru, "Jangan kuatir Cianpwe, akan kupanggil kembali Sumoy!"

"Huh, Sumoy . . mesra amat panggilannya!" ejek si nona berbaju biru sambil tertawa dingin. Nada perkataannya mengandung rasa cemburu. Dengan gemas Ji-sia melototnya sekejap, ia tak tahu kalau gadis itu secara diam-diam telah mencintainya?

Setelah melotot gusar pada nona berbaju biru, Ji sia segera berpaling dan membentak. "Sumoay, kembali!"

Ia tidak memperhatikan sorot mata si nona berbaju biru ketika itu, gadis yarg serba hebat itu sedang melelehkan air mata.

Pek Bi terperanjat menyaksikan ha! itu, segera tegurnya. "Siocia, kenapa kau?"

"Ti . . . tidak apa-apa," sahut si nona berbaju biru.

Peristiwa ini meliputi cinta asmara yang rumit, dalam hati dia sangat mencintai Bok Ji-sia, tapi ada kalanya rasa benci melebihi rasa cintanya, membuat dia kehilangan kesempatan untuk dicinta.

Dia selulu terombang-ambing oleh perasaan "cinta padanya atau benci padanya?", jika tidak berjumpa ia merasa rindu dan ingin bertemu, tapi setelah bersua, iapun membencinya setengah mati.

Dalam pada itu, meski Oh Keng-kiau segan untuk mundur setengah jalan, akan tetapi setelah mendengar teriakan Suhengnya itu, sesudah ragu sejenak akhirnya dia melompat mundur sambil berkata dengan dingin, "Baik. akan kubiarkan kau hidup satu jam lagi, tapi jangan harap meloloskan diri malam ini"

"Tak usah takabur anak Kiau. belum tentu pamanmu tak mampu menandingi dirimul" jengek Oh Kay-thian ketus.

Oh Keng-kiau tertawa dingin, dia lantas melompat ke depan It-hu, katanya sambil menjura, "Tolong tanya Taysu ada urusan apa kan menghentikan pertarunganku?"

It-hu membalas hormat, "Omintohud, harap Lisicu jangan salah paham, adapun kedatanganku malam ini adalah lantaran urusan perguruan kami, dalam peristiwa ini bukan hanya perguruan kami saja yang dicelakai, bahkan berbagai perguruan lain juga mengalami peristiwa yang sama!"

"Taysu, apakah telah terjadi sesuatu atas Siau-lim-si?" seru Bok Ji sia terperanjat.

Bukan cuma Bok Ji-sia saja yang terperanjat oleh perkataan It hu Taysu, bahkan kawanan jago lain diam-diam ikut merasa kaget.

Eetsiah ditanya oleh Ji sia, air muka Ii-hu Taysu lantas berubah menjadi amat sedih, katanya dengan berduka, "Kalau dibicarakan, peristiwa ini sungguh menyedihkan, tahukah kalian apa sebabnya hampir dua puluh tahun lamanya orang- orang kesembilan perguruan besar tak pernah muncul dalam dunia persilatan? Mengapa pula selama ini kami hanya mengurusi persoalan sendiri tanpa ikut campur urusan orang lain "

Suaranya menggetarkan perasaan orang seakan-akan menahan rasa sedih, seketika sinar mata semua orang tertuju pada It-hu Taysu dengan tercengang.

It-hu tersenyum pedih, katanya. "Semua ini adalah akibat lenyapnya kesembilan cangbunjin kami, secara diam-diam segenap anak murid kesembilan perguruan mencari jejak ketuanya, namun sama sekali tiada kabar beiitanya. Peristiwa ini telah berlalu belasan tahun, semua orang seolah-olah telah melupakan peristiwa ini, tapi kami justeru selalu memperhatikan dengan saksama, akhirnya kami berhasil mengetahui peristiwa yang penuh diliputi suka duka ini "

Mengungkap kembali kejadian lama tersebut, Jl-sia jadi teringat pada perjumpaannya dengan kesembilan ketua perguruan besar dalam Thian-seng-po, wajah kesembilan orarg kakek menjelang ajalnya itupun terbayang kembali. Sampai di sini, It-hu Taysu sengaja berhenti bicara, tiba- tiba sorot matanya yang tajam beralih ke wajah Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian dan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat.

Ketika mendengar It-hu mengungkap peristiwa tersebut, air muka berubah, apalagi pendeta itu menatap ke arah mereka, tambah kebat-kebit hati mereka.

"Hei, mengapa tidak kau teruskan ceritamu!" dengan tak sabar Pek-hoa-kui-po Cin Say-kiau berteriak.

"Akhirnya, murid kami Ku Thian-gak berhasil menyingkap rahasia ini di dalam Thian-seng-po, setelah melakukan penyelidikan selama beberapa bulan, diketahuilah pembunuh keji itu adalah "

"Taysu seorang pendeta agung, kenapa, kau-tuduh kesembilan ketua perguruan besar itu berada di dalam Thian- seng-po kami!" bentak Oh Kay-thian.

"Masa kau berani menyangkal?" bentak It-hu Taysu dengan gusar.

Segera Oh Ku-gwat maju ke muka, katanya, "Hendaknya Taysu jangan sembarang memfitnah orang, tuduhan harus disertai dengan bukti, kalau tidak, sekalipun Thian-seng-po cuma suatu perkampungan kecil, tentu kami akan menuntut keadilan kepada Taysu."

"Omintohud, orang yang beragama tak pernah bohong, mana mungkin sembarangan berbicara." kata It-hu.

Sedapatnya Oh-Kay-thian berlagak tenang, katanya, "Peristiwa ini menyangkut nama baik Thian-seng-po, maka ingin kutuntut keadilan pada Taysu, berikan bukti-buktinya. Kalau tidak, terpaksa kami bersaudara akan menahan Taysu di sini, akan kami lepaskan setelah ketua Siau-lim-pai datang minta maaf, kecuali itu rasanya tiada jalan kedua lagi."

"Omitohud! Bila Oh-sicu menginginkan bukti, sudah barang tentu tak bisa kuberikan sekarang juga, tapi Ku Thian-gak telah menyaksikan sendiri tulang belulang kesembilan ketua perguruan besar tersimpan dalam penjara bawah tanah benteng kapan "

Oh Kay-thian tertawa dingin, katanya, "Ku Thian-gak adalah orang kalian dan musuh kami, tentu saja dia sengaja menodai nama baik kami, ucapannya tak dapat dipercaya . .."

Siau-yau-siang-hong-kek Ku Thian-gak naik pitam, bentaknya dengan marah, "Jangan kau samakan aku dengan dirimu yang berhati busuk "

"Thian-gak, jangan kasar, ayo mundurl" bentak It-hu Taysu.

Kemudian katanya lagi,' Ucapan Oh-sicu memang benar, Ku Thian-gak memang anak murid kami, musuh besar kalian, namun siapa benar dan siapa salah akhirnya pasti akan ketahuan. Walaupun di. dunia ini banyak orang jahat, namun orang baik tetap lebih banyak daripada orang jahat, tentu ada yang akan membela keadilan dan kebenaran."

Diam-diam Oh Kay-thian terkesiap, serunya kemundian, "Apakah kedatangan Taysu malam iri khusus untuk urusan ini?"

"Benar!" jawab It-hu tegas, "bukan hanya kami saja, perguruan yang lain pun segera akan datang kemari!"

Tiba-tiba terdengar orang berseru lantang, "Bu-tong-pai tiba!"

Tampak Ki sian-it-to dari Bu-tong-pai dengaa memimpin kedelapan orang muridnya masuk ke dalam ruangan Giam-Io- tian.

Begitu Bu-tong-pai muncul di situ, suasana berubah menjadi tegang, terutama Ob Ku gwat, air mukanya berubah hebat, buru-buru ia memberi tanda kepada kedua puluh empat jago Thian-seng-po. Ki-sian-it-to lantas meojura kepada It-hu tambil menyapa, "Taysu, sudah kau umumkan persoalan ini?"

"Omitohud, kawan dari aliran lain belum tiba, tak berani kuputuskan sendiri!"

"Ah, tidak menjadi soal, Taysu sudah cukup mewakili kesembilan perguruan besar!"

Tiba-tiba nona berbaju biru itu melangkah maju, lalu berkata, "Ramai benar tempat ini, tampaknya kesembilan perguruan besar kalian akan datang semua."

Ki-sian-it-to tersenyum getir, "Urusan ini menyangkut kesembilan perguruan kami, tentu saja kami harus berkumpul di sini!"

Melihat orang yang berdatangan makin banyak, Oh Kay- thian sadar bila sekarang tidak pergi, sulitlah untuk kabur bila kesembilan perguruan telah berkumpul.

Segera Oh Kay-thian menarik ujung baju Oh Ku-gwat dan. berkata, "Toako tak perlu banyak bicara lagi, ayo kita pergi, untuk apa bersilat lidah dengan mereka!"

"Mau kabur?" jengek Oh Keng-kiau dengan gusar, "masa segampang itu?"

"Anak Kiau, kau sengaja menyusahkan empek-mu?!" tanya Oh Kay-thian dengan pedih.

Oh Keng-kiau menggeleng, ucapnya, "Ingin kutanya bagaimanakah kematian ibuku? Bagaimana pula kematian ayahku? Seandainya kaupunya perataan, tentu takkan kau celakai kakak kandungmu sendiri dan menodai istrinya."

Bok Ji-sia menarik mundur Oh Keng-kiau, bisiknya, "Sabar Sumoay, jangan terlampau emosi, hari ini dia takkan lolos dari tuntutan keadilan!" Sementara itu Cuan-sin Loni dari Go-bi-pai dengan memimpin kedelapan orang muridnya dan Tiong-ciu-it-kiam dari Tiam-cong-pai juga berdatangan.

Tak beberapa lama To-liong-kek dari Khor.g-tong-pai dan Cing-sia-pai juga datang.

Dalam waktu singkat hampir seluruh inti kekuatan dunia persilatan TioDggoan telah berkumpul, rupanya mereka sudah mempunyai persetujuan secara diam-diam, dengan cepat segenap jago Thian-sang-po terkepung di tengah.

Terkejut Oh Kay-thian, ia tahu lebih banyak bahaya daripada selamat baginya hari ini, untuk kabur jelag bukan hal yang gampang. Sedapatnya ia bersikap tenang, katanya, "Kalian datang untuk mencariku?"

"Hmni, perbuatan yang kaulakukan tentu pula kau sendiri paling tahu!" dengus Tiong-ciu-it-kiam.

"Apa yang kulakukan?" bentak Oh Kay-thia».

"Sembilan nyawa dari kesembilan Ciangbunjin kami bukankah mati ditanganmu?"

"Sebaiknya mengaku saja kesalahanmu itu!" kata To-liong- kek dari Khong-tong-pay sambil maju ke depan.

"Kalian semua ngaco-belol" teriak Oh Ku-gwat dengan bermandi keringat dingin. "Bukan kami yang melakukan perbuatan itu."

"Kalau bukan kalian, mengapa kesembilan ketua kami bisa mati di dalam Thian-seng-po?" tanya Cuan-sin Loni.

Oh Ku-gwat menjadi gelagapan, akhirnya ia berkata, "Semua itu perbuatan Jite kami Oh Kay-gak!"

Mendadak Bok Ji-sia berteriak, "Betul, hal itu memang perbuatan Suhuku, tapi kalau dibicarakan dari awal, maka semua ini adalah rencana busuk kalian berdua " "Nah, masa kalian tetap tidak mengaku!" seru Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai.

"Omong kosong!" bentak Oh Ku-gwat "kami tak pernah melakukannya, mengapa harus mengaku."

Suara tertawa ejek segera berkumandang dari empat penjuru, meski mendongkol, sadarlah mereka bahwa keadaan sangat tidak menguntungkan.

Mendadak Tlong-ciu-it-kian melompat maju sambil membentak, "Kalian hendak bunuh diri atau menunggu kami yang turun tangan?"

Sambil melolos pedang andalan Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat menyeringai, "Hehe, apa kaukira aku dapat digertak?"

Berbareng ia memberi tanda, ke-24 jago Thian-seng-po juga segera melolos pedang dan menyebar ke empat penjuru dan siap tempur.

Tiong-ciu-it-kiam mendongakkan kepala dan berseru, "Pembunuh berada di depan mata, apa yang kalian tunggu lagi?"

Para jago dari pelbagai aliran memang tak sadar menunggu lagi, penyelidikan dua puluh tahun baru mendatangkan hasil, setelah mengetahui siapakah pembunuhnya, serentak mereka mendesak maju dengan gusar.

"Apakah kalian hendak membunuh kami berdua?" tanya Oh Kay-thian sambil menatap sekejap sekeliling.

"Kami hendak membalaskan dendam Ciang-bunjin!" serentak para jago menyahut,

Pelahan Oh Kay-thian menghampiri It-hu Taysu.

Suasana menjadi tegang, semua orang mengawasi Oh. Kay-thian tanpa berkedip mereka menduga inilah perlawanan yang terakhir menjelang ke-matiannya. Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian berhenti di depan It-hu, lalu berkata, "Taysu seorang  pendeta  yang  mengutamakan welas asih?"

"Apakah Oh-s'cu telah menyesali perbuatanmu masa lalu dan bertekad bertobat serta kambali ke jalan yang benar?"

Seng-gwat kiam Oh Kay-thian menggeleng kepala, katanya, "Bukan, aku ingin mengajukan suatu permohonan "

Diam diam It-hu menghela napas, ujarnya,

'Katakanlah, asal permintaanmu tidak kelewst batas, sudah pasti «kan kupenuhi."

Oh Kay-thian tersenyum getir, katanya, "Aku hanya mengharapkan mati dengan tubuh yang utuh, sedang orang yang boleh turun tangan juga hanya terbatas keponakan perempuanku Oh Keng-kiau seorang, terus terang aku merasa menyesal sekali terhadap Jikoku Ob Kay-gak dan isterinya, Bwe-Siau-leng!”

Oh Keng-kiau merasa sedih dan terharu, mendadak dia lari ke depan dan berseru sambil menangis, "Paman!"

Betapapun pendidikan selama delapan belas tahun merupakan budi yang besar, kendatipun Oh Keng-kiau membencinya, mau-tak-mau juga merasa berterima kasih kepadanya.

"Dapatkah aku membunuhnya? Dapatkah aku membunuhnya?" demikian ia menjadi ragu.

Sambil meedekap di bahu Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian, tak tahan lagi Keng-kiau menangis tersedu-sedu .

Mendadak Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat melompat ke depan sambil tertawa seram, serunya, "Budak yang tak kenal budi, tak perlu pura-pura berbelas kasihani"

Tiba-tiba pedangnya menusuk ke punggung Oh Keng-kiau. "Kau cari mampus?" bentak Ji-sia dengan gusar. Cahaya emas berkelebat, terdengar suara gerangan tertahan, tangan Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memegangi ruyung Jian-kim-si- hun-pian yang menembus perutnya, setelah berpekik ngeri, ia terguling di atas tanah dan binasa.

Segenap jago mengawasi tubuh yang terkapar itu, tak seorang pun yacg mengeluarkan suara. Hanya It-hu Taysu yang bergumam tiada hentinya„ ''OmitohudI Siancay, Siancay, syahdui "

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian memandang sekejap mayat Oh Ku-gwat, katanya kemudian dengan tersenyum pedih, "Buah kejahatan! Karma, inilah karma!"

Sehabis berkata kembali dia tertawa panjang, siapa pun tidak tahu apa yang ditertawakannya dan apa' yang akan dilakukannya.

"Sungguh perbuatan yang amat keji!" tiba tiba terdengar seorang membentak nyaring.

Ji-sia menjadi gusar, ia berpaling dan bentaknya, "Inilah akibat dari perbuatan sendiiri, kenapa menyalahkan aku!"

"Kau sembarangtn mencelakai orang, ini menandakan kau tak berperasaan dan berhati keji," kata nona berbaju biru ketus, "sekalipun dosanya patut diberi hukuman, tapi kau . .

.."

Tanpa menunggu orang menyelesaikan kata-katanya, dengan tertawa dingin Bok Ji-sia menukas, "Kau sengaja mengadu dombal"

"Tidak berani," nona itu tertawa sinis, "sebesar-besarnya nyali nonamu juga tak berani memusuhi kesembilan  perguruan besar, aku hanya merasa tidak senang menyaksikan caramu membunuh omng!" Setelah berhenti sekejap, lalu dia membentak pula "Oh Kay-thian, tak perlu menangis, apakah kau tak ingin membalas dendam?"

Jelas Nona berbaju biru itu bermaksud tidak baik, dia ingin memusuhi Bok Ji-sia serta kesembilan perguruan besar.

"Membalas dendam, dapatkah aku?" gurmam Seng-gwat- kiam Oh Kay-thian dengan perasaan bimbang.

Nona berbaju biru itu tahu pikiran orang mulai goyah oleh perkataannya, diam-diam ia bergirang, sahutnya cepat, "Kau dapat, pasti dapat asal kau-mau mendengarkan perkataanku, selain bisa membalas dendam, kaupun dapat menaklukkan dunia!"

"Omitohud!" seru It-hu Taysu kepada keagungan sang Budha, "Apakah Lisicu berhasrat memusuhi kami bersembilan perguruan?"

"Hm. aku justeru tidak senang menyaksikan lagak kalian yang sok besar!" jengek si noda berbaju biru.

Tiba tiba terdengar Seng gwat-kiam Oh Kay-thian berteriak "Nona, aku menuruti perkataanmu, sekarang apa yaag harus kita lakukan?”

"Sekarang cepat kita menerjang keluar dari sinil" ujar nona berbaju biru itu dengan tertawa.

Para jago lihai berbagai perguruan itu menjadi gempar, mereka tidak menyangka perempuan aneh dari Hek-Iiong- keng ini berani memusuhi jago seluruh dunia persilatan.

"Baik, akupun ikut nona!" tiba-tiba Hian-thian-koancu melompat ke depan.

Menyusul Pak-hoai-kui-po Gin Say-ku juga turut melangkah maju dan berdiri di samping Hian-thian-koancu dan nona berbaju biru itu, segera kekuatan mereka menjadi jauh lebih besar. Dengan perasaan menyesal, Bok Ji-sia memandang It-hu Taysu, katanya dengan pedih, "Gara-gara tindakanku mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tak terduga, harap Taysu "

Perkataannya terasa penuh rasa menyesal dan mengharukan, para jago sama memandangnya dengan sinar mata menghiburnya, hal ini membuat Bok Ji-sia jadi rikuh, dengan emosi dia maju ke sana.

"Anak muda, janganlah terlalu bersedih," buru-buru It-hu Taysu berkata sambil tarsenytim, "kejadian ini sudah ditakdirkan dan sukar dicegah oleh tenaga manusia."

Ketika para jago dari kesembilan perguruan besar menyaksikan nona berbaju biru itu secara tiba-tiba membentuk sepasukan musuh tangguh, diam-diam mereka terkesiap, mereka saling mimberi tanda dan bertekad akan mengadu jiwa.

Sambil menghela napas It-hu Taysu berkata, "Nona. jangan kau gunakan kecerdasan secara tersesat, peristiwa ini menyangkut mati-hidap dunia persilatan di wilayah Tionggoan pada masa mendatang, harap nona suka berpikir lagi sebelum bertindak."

"Huh, tak perlu banyak bicara lagi," seru nona berbaju biru itu sambil tertawa dingin, "orang-orangku juga segera akan berdatangan, siapa menang dan siapa kalah, kita lihat saja nanti."

Seraya berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali, begitu menggema tepukan tangan itu, tiba-tiba dari atas Giam-lo-tian melayang turun dua sosok bayangan, mereka adalah si kakek berambut putih dan Hoa Hong-hui.

Dalam waktu singkat, kekuatan pihak golongan hitam semakin kuat dan hampir melampui pihak sembilan  perguruan, menilik keadaan yang di depan mata, menang dan kalah menjadi sukar diduga, Tiong-clu-it-kiam membentak, "Taysu, tiada sesuatu yang perlu dipertimbangkan lagi, mari kita maju bersama!"

Begitu selesai berkata dia maju lebih dulu memimpin anak murid Tiam-cong-pay dan melancarkan serangan.

"Perkokoh posisi masing-masing", bentak si nona berbaju biru cepat, "Musuh menyerang kita bertahan, musuh mundur kita tetap bertahaa, jangan sampai kacaukan barisan !"

Gadis itu dapat mengatur siasat dengan baik, begitu kawanan jago golongan hitam ini bersatu, pertahanan mereka ibaratnya selapis dinding baja, bukan bal yang mudah bagi kesembilan perguruan besar untuk mematahkan pertahanan mereka.

Dalam waktu singkat cahaya golok dan bayangan pedang bersambaran, yang satu maju yang lain segera mundur, satu bertahan yang lain menyerang, semua jago dari pelbagai aliran saling berebut menerjang ke depan tanpa memperdulikan mati-hidup sendiri.

Dalam sekejap saja ada beberapa sosok tubuh terkapar ke tanah, sedang di pihak nona berbaju biru itupun kehilangan Hian-thian-koancu yang terluka parah, seandainya mereka tidak bertahan dengan ketat, mungkin jiwanya sudah melayang sejak tadi.

Sementara itu, Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai dan Cuan-sin Loni dari Go-bi-pai juga ikut terjun ke medan tempur, To- liong-jiu dari Khong-teng-pai dengan kedua telapak tangannya yang hitam besar tiada hentinya melancarkan pukulan dahsyat.

Hanya It-hu Taysu saja yang berbisik-bisik memuji keagungan Budha, dia berharap pertumpahan darah ini jangan berlangsung lebih lanjut.

Saat itulah Oh Ke-ngkiau mundur ke belakang, kaianye, "Suheng, inilah barisan Su-siang-tin, tak terduga dalam waktu singkat dia dapat membentuk barisan rapi seperti ini, kita harus menyerang sudut Kan-wi, terjang Li-wi dan melangkah ke tengah. "

Waktu itu Bok Ji-sia sendiri lagi tercengang mengapa si nona berbaju biru hanya bertahan belaka tanpa menyerang, maka begitu mendengar Oh Keng kiau menjalankan barisan ini adalah Su-siang-tin, diam-diam ia terkesiap, pantaslah kawanan jago itu tak sanggup menembusnya.

Si nona berbaju biru sendiri duduk di tengah barisan sambil tiada hentinya menuding ke sana kemari memberi petunjuk.

Ji-sia segera bersiul nyaring, serunya, "Baik! Sumoay, segera kuterjang ke dalam!"

Yang menjaga sudut "Kan" adalah Hoa Hong-hui, sewaktu dilihat Bok Ji-sia mengayunkan Jian-kim-ii-hun-pian dan menerjang datang, ia terkejut, buru-buru suatu pukulan dilancarkan.

Sambil tertawa dingin Ji-sia segera membentak,

"Kau berani membantu kaum laknat dan melakukan keganasan, tak dapat kuampuni dirimu!"

Di pihak lain lain, Oh Keng-kiau juga segera menyerbu ke tempat 'Li", dengan gemas beberapa kali pukulannya memakksa Pek Sat yang menjaga posisi "Li" menjadi agak kelabakan sehingga pertahanan barisan Su-siang-tin menjadi terbuka.

Melihat ada kesempatan baik, buru buru Siau-yau-sian- hong-kek Ku Thian-gak menerobos masuk lewat peluang itu dan menerjang ke titik pusat barisan Su-siang-tin, sedang Bok Ji-sia dan Oh Keng kiau juga menerjang selapis lebih ke dalam.

Dalam waktu singkat barisan Su-siang-tio,menjadi kacau tak keruan, Pek-hoat-kui-po Cin Say-kiau dan Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian telah meninggalkan barisan, meski barisan Su- siang-tin bisa menahan gempuran para jago, waktunya juga tak bisa berlangsung terlampau lama lagi.

Apalagi orang yang mengerti tentang kegunaan Su-sieng- tin hanya si nona berbaju biru seorang, kawanan jago yang menggabungkan diri itu belum berpengalaman, sudah barang tentu barisan mereka segera menjadi porak poranda.

Mendadak terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati, Hian-thian-koancu terkena bacokan Tiongciu-lt-kiam sehingga barisannya terpotong menjadi dua, darah berhamburan, keadaannya sangat mengerikan.

Tapi, tidak sedikit pula kawanan jago dari berbagai perguruan yang mengalami nasib sama sehingga menjadi pahlawan tak bernama.

Menyusul kemudian Pek-hoa-kui-po Cln Say-kiau juga roboh tak terkutik di atas tanah.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian beruntun membinasakan dua orang jago lihai, baru saja dia berusaha meloloskan diri dari kepungan, mendadak tampak Ki-sian-it-to dari Bu-tong-pai dan Cuan-sin Loni dari Go-bi-pai rnengadang di depannya.

"Apakah kalian benar-benar hendak membunuhku?!" bentaknya sabmil menyeringai.

Jurus serangan ampuh ilmu pedang Seng-gwat-kiam-hoat segera dilontarkan secara bertubi-tubi.

Mendadak dari udara meluncur tiba sesosok bayangan dan langsung menutuk ke bawah, terdengar Seng-gWat-kiam Oh Kay-thian menjerit ngeri, tubuhnya yang tinggi besar roboh terjengkang ke atas tanah.

"'Anak Kiau," serunya dengan tertawa pedih, "akhirnya . .

*akhirnya aku tewas juga di di tanganmu!" Sampai di sini, kepaknya terkulai dan mengembuskan napas terakhir, seorang gembong iblis akhirnya tewas di tangan keponakannya sendiri.

Mendadak terdengar suara tertawa nyaring bergema dari kejauhan yong semakin mendekat, sebelum para jago mendongakkan kepala tahu-tahu di tengah arena telah bertambah dengan seorang kakek berbaju serba hitam.

Begitu melihat kakek berbaju hitam itu, sekujur badan si nona berbaju biru jadi gemetar, sedang para jago dari berbagai aliran pun serentak berhenti bertempur.

Hofi Hong-hui, kakek berambut putih dan kedua Pek bersaudara serentak berlutut di depan kakek berbaju hitam itu sambil berseru, "Terimalah hormat hamba. Loyal"

Sambil menuding si kakek berambut putih, kakek berbaju hitam itu segera menegur, "Kau sebagai pelindungnya, mengapa mendidik Siocia menjadi macam begini!"

"Budak tua pantas mati, budak tua pantas mati!" kakek berambut putih itu mendesis dengan tubuh gemetar.

Nona berbaju biru pun tampak sedih sekali, sambil menangis bisiknya, "Ayah, ananda memang bersalah!"

Kakek berbaju hitam itu mendengus, "Hm, masa kau tidak rikuh msngucapkannya, bencana yang terjadi di Tionggoan ini semuanya adalah akibat ulahmu!''

Siapakah kekek ini? Mengapa nona berbaju biru itu menunjukkan rasa takut pedanya? Diam-diam para jago sama memikirkan asal usul orang.

Dia tak-lain-tak-bukan ialah Hek-liong Lojin, tokoh sakti dunia persilatan.

"Omintohud, masih ingatkah Lotiang pada It-hu?" segera It-hu Tausu menyapa. Hek-liong Lojin manggut-manggut, "Wajahmu penuh welas asih, hati Budhamu sudah berakar, tak jauh lagi tujuan yang akan kau capai. baik-baik-lah kau jaga diri."

It-hu Taysu merangkap tangan memberi hormat dan mundur ke samping dengan tenang.

Hek-liong Lojin memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya, 'Segala perbuatan anak perempuanku selama ini telah banyak membikin susah kalian, harap saudara sekalian sudi memaafkannya."

Tiba tiba dari luar arena bergema suara isak tangis lirih.

Lalu terdengar Bok Ji-sia berbisik, "Sumoay, sakit hatimu telah terbalas dan dapatlah menghibur arwah Suhu dan Subo di alam baka!"

Ketika itu Oh Keng-kiau sedang mendekap di atas mayat Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian sambil menangis tersedu-sedu, bila teringat kembali akan kasih sayang Oh Kay-thian kepadanya masa lalu, hatinya merasa pedih bagaikan ditusuk- tusuk, ia menyesal telah membinasakannya ....

Tapi, dendam kesumat ayeh-ibunya sedalam lautan dan kini terbalas, dapat legalah hatinya, cuma ....

Tiba-tiba Hek-liong Lojin mendekati Oh Keng-kiau, katanya, "Anak bodoh, asap telah buyar, air mengalir terus , "

Keng-kiau mendongakkan kepala dan menyahut, "Hilang tanpa perasaan, pergi meninggalkan bekas!"

"Ah, Sumoay! Kiranya benar kau!" seru Hek-liong Lojin dengan gembira.

Mendengar ucapan itu, semua orang terperanjat, siapa pun tidak menyangka dengan kedudukan Hek-lioag Lojin dalam dunia persilatan ternyata menyebut Oh Keng-kiau yang masih muda belia sebagai Sumoay. Beratus pasang mata serentak memandang mereka dengan heran.

Air muka Hek-liong Lojin tampak aneh, katanya lebih lanjut, "Boan-ya tiada bandingan. Rintang bersuara dewa!"

Mendadak Oh Keng-kiau berubah menjadi serius dan menyambung, "Hek liong sebenarnya tak berair, sumber berasal dari Kim-teng!"

Tanya jawab itu sekali lagi mengejutkan semua orang, siapa pula yang menduga ilmu silat Hek-liong Lojin ternyata juga bersumber dari kitab pusaka Kim-teng Cinjin. Dia sudah tahu puluhan tahun kemudian kitab pusaka Kim-teng-pit-kip bakal diperoleh seorang anak perempuan, maka pada sampul kitab pusaka itu dia sengaja menulis empat bait kata itu untuk mempermudah usahanya di kemudian hari membuktikan siapa yang mendapatkan kitab pusaka itu.

Setelah mendapatkan kitab pusaka Kim-teng-pit-kip, Oh Keng-kiau selalu ingat pada empat bait kata itu, tak tersangka Hek-liong Lojin yang tersohor dalam dunia persilatan ini adalah saudara seperguruannya sendiri.

Dengan gembira segera ia berseru sambil memberi hormat, "Suhengl"

Hek-liong Lojin tersenyum, katanya sambi menggandeng tangan Sumoaynya, "Semua persoalan telah selesai, Sumoay, mari pergi!"

Dengan air mata bercucuran Keng-kiau mengangguk, ia melirik sekejap ke arah Bok Ji-sia.

Tiba-tiba ia berlutut di depan jenazah Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian dan berkata, "Paman, aku membunuhmu karena harus membalaskan dendam bagi orang tuaku . . . Sekarang kuberi hormat kepadamu karena engkau telah memeliharaku selama belasan tahun ..."

"Sumoay, kau mau pergi?" bisik Ji-sia sedih. "Ya," Keng-kiau tertawa pedih, "tapi aku pasti akan datang menengokmu!''

Sementara itu Hek-liong Lojin juga menatap wajah Bok Ji- sia lekat-lekat, tiba-tiba ia berkata "Usiamu masih muda dan ternyata bisa mencapai tingkatan sedemikian tingginya, sungguh sangat mengagumkan, dua tahun lagi bila kau bermain ke Hek-liong-kang tentu akan kusambut kedatanganmu dengan baik."

"Bila Wanpwe tidak mati, pasti akan datang tepat pada waktunya," jawab Ji-sia pedih.

Mendadak nona berbaju biru menarik kain cadarnya sambil berseru, "Aku tidak mau pakai benda ini lagi!''

Sambil berkata kain biru yang selalu menutupi wajahnya itu lantas dibanting ke atas tanah .. . .

Seketika itu juga semua orang terbelalak, seraut wajah cantik yang tiada taranya muncul di hadapan mereka, sungguh sukar melukiskan betapa cantik gadis ini.

Bok Ji-sia tertegun, ia tidak menyangka kecantikan nona berbaju itu sedemikian luar biasa, bila dibandingkan Bwe-hoa- siao-kim Tong Yong ling, nona yang tersebut terakhir ini sungguh bukan apa-apanya.

“Ciu-gwatl" terdengar Hek-liong Lojin berseru kaget, "tahukah tindakanmu itu merupakan pantangan besar Hek- liong-kang!"

Kiranya dalam perguruan Hek-liong-kang berlaku suatu peraturan yang tidak tertulis, yakni sebelum anak murid perempuan aliran Hek-iiong-kang menikah, maka ia dilarang melepaskan kain kerudungnya, kalau tidak, maka selama hidup ia tak boleh kawin.

Hoa Hong-hui juga sangat terperanjat, jeritnya, "Sumoay, kau " Si nona berbaju biru alias Ciu-gwat tertawa pedih, katanya, "Selama hidup aku takkan kawin!"

Hoa Hong-hui berkaok-kaok mendongkol, langsung lari keluar Giam lo-tian.

Siapa tahu bila sudah kembali ke Hek-liong-keng, maka jangan harap akan muncul kembali di daerah Tionggoan, ini berarti jangan harap akan bersua dengan Bok Ji-sia.

Seketika cinta dan benci bercampur aduk, ia benci juga cinta, akhirnya ia memutuskan tidak kawin selama hidup, inilah semacam pengorbanan.

Hanya Bok Ji-sia yang tolol saja yang sama sekali tidak merasa dirinya dicintai orang padahal oleh karena tragedi yang pernah menimpanya maka ia tak berani menerima cinta gadis mana pun.

-oo0dw0oo-

Udara malam bersih, hawa terasa dingin.

Hek-liong Lojin menghela napag, katanya kemudian, "Mari kita pulang ke Hek-Iiong-kang!"

"Selamat jalan Lotiangl" It-hu Taysu berseru lantang. Semua jago dari pelbagai aliran itu tahu bahwa Hek-liong

Lojin adalah tokoh aneh nomor satu di dunia mi, sekalipun

Ciangbunjin angkatan tua juga tiga tingkat lebih lendah daripada kedudukan Hek-liong Lojin, maka semua orang sama memberi hormat sebagai angkatan muda.

Tiba-tiba gadis berbaju biru lari ke hadapan Bok Ji-sia, lalu berkata dengan lirih, "Aku cinta padamu, tapi akupun benci padamu, aku bernama Ciu-gwat, lupakan saja diriku!"

Selesai berkata, dengan air mata bercucuran dia lari pergi dari situ. Diam-diam Hek-liong Lojin menghela napas, dengan langkah berat iapun berlalu.

Oh Keng-kiau seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya dengan air mata bercucuran iapun mengikuti Hek- liong Loj'n berlalu dari situ.

'"Ciu-gwat!" pelahan Ji-sia bergumam.

Suasana kembali hening, remang fajar mulai nampak di ufuk timur sana.

Fajar mendatangkan segala harapan, juga membawa air mata dan darah bagi hubungan antara ayah, ibu dan anak. Bok Ji- sia kembali menghadapi urusan yang sukar diputuskan selama hidupnya.

Angin pagi berhembus kencang, sinar sang surya semakin tinggi menerangi bumi raya ini.

Selagi Ji-sia meluncur ke depan dengan cepat, mendadak terdengar seorang membentak, "Orang she Bok, berhenti!"

Muncul sesosok bayangan. Ji-sia kelihatan kaget, cepat ia membalik tubuh, tertampak Huan-in-kiam Lamkiong Giok sedang menatapnya dengan dingin.

Setelah tertegun, sapanya sambil tertawa, "Saudara Lamkiong, kebetulan hendak kucari dirimu!"

"Aku juga sedang mencarimu," jawab Lamkiong Giok dingin.

Segera Ji-sia melibat air muka Lamkiong Giok pada hari ini sedikit berlainan, biasanya pemuda ini tak pernah menunjukkan sikap semacam ini, apakah . . .

Sambil tersenyum dia menegur, "Saudara Lamkiong, air mukamu hari ini tampak tidak "

"Aku hendak membunuhmu!" ucap Lamkiong Giok ketus. "Kenapa?" Ji-sia menjadi bingung. Lamkiong Giok tertawa pedih, sahutnya, "Karena hanya ada seorang saja di antara kita yang boleh hidup di dunia ini!"

"Ah, kukira tidak sampai segawat itu bukan?" "Siapa bilang tidak!"

Sama sekali Ji-sia tidak menduga orang yang dianggap sebagai sahabat karibnya ini dapat berubah menjadi begini tak berperasaan, ia tidak tahu bahwa budi dan dendam orang tua mereka masa lalu telah didengar oleh Lamkiong Giok?

Karena Lamkiong Giok kuati» Bok Ji sia akan mencari Lamkiong Hian untuk membalas dendam maka ia menjadi nekat akan mendahului membunuh Bok Ji-sia.

Siapa yang mengira bahwa mereka berdua sebenarrya adalah sandata seayah lain ibu?

Untuk sesaat Ji-sia menjadi bingung dan berdiri tertegun. "Bersiaplah" seru Lamkiong Giok, "aku akan segera turun

tangan!"

Ji-sia menggeleng, "Kukira tiada gunanya kita melangsungkan pertarungan im!"

"Ayo cabut ruyungmu, aku segera turun tangan!"

Namun Ji-sia tetap berdiri tak bergerak. "Lam-kiong-heng," katanya, "aku takkan membalas, silakan kauturun tangan!"

"Mengapa kau tidak membalas?" Lamkiong Giok melengak. "Aku tidak tahu apa sebabnya, aku hanya merasakan bila

bertarung, maka hal ini merupakan suatu kesalahan besar!"

Ji-sia memang selalu merasakan antara dia dengan Lamkiong Giok seskan akan ada hubungan yang luar biasa, dia merasa tidak layak mereka saling gontokan sendiri, mungin  hal ini disebabkan mereka memang mempunyai bubungan darah. Sejak kecil Lamkiong Giok dibesarkan dalam lingkungan golongan hitam, wataknya terdidik keji dan kejam, baginya sama sekali tak penting soal hubungan darah segala.

Sambil mendongak dia tertawa, serunya, "Kau mau bertarung tidak?"

"Sudah kukatakan, aku tidak mau bertarung melawanmu!" sahut Ji-sia sambil menggeleng,

"Baik, kalau begitu akan kusempurnakan dirimu!"

Dengan kejinya Lamkiong Giok menggetarkan ujung bajunya, sekilas cahaya putia segera menyambar ke depan Tipi Ji-sia tetap tidak bergerak.

Tiba-tiba Lamkiong Giok menarik kembali pedangnya, katanya, "Biarlah kuberitahukan kepadamu alasannya mengapa aku membunuhmu!"

"Katakanlah!"

Secara ringkas Lamkiong Giok lantas mengisahkan kembali percakapan antara Bok Jin-kiat dan Lamkiong Hian yang dapat disadapnya tempo hari, kemudian ia menambahkan, "Tahukah kau siapakah ayah-ibumu?"

"Tahu!" jawab Ji-sia dengan hati bergetar.

Padahal dia hanya sempat bertemu dengan Lik-ih-hiat-li, namun tidak tahu bahwa ayahnya, Bok Jin-kiat, masih hidup,

"Bagus sekali," kata Lamkiong Giok ketus, “ayahmu juga ayahku, tapi ibumu bukan ibuku, hal ini tentunya kau mengerti bukan?"

Hati Ji-sia bergetar, sesaat ia terbelalak dan hampir tidak percaya pada apa yang didengarnaya.

Sampai lama baru dia menjawab, "Kalau begitu, kita adalah saudara seayah lain ibu!" "Hehe, jangan terburu napsu, siapa yang sudi menjadi saudaramu?" jengek Lamkiong Giok.

Setelah tertegun sejenak, lalu sambungnya, "Cuma di antara kita memang ada sedikit hubungan, kenyataan ini tak bisa disangkal."

Bok Ji-sia benar-benar terkesiap oleh keterangaa Lamkiong Giok, mimpi pun dia tak menyangka dirinya bisa mempunyai hubungan dengan pihak Kiam hong-ceng.

Sekalipun dia tak tahu ada hubungan apakah itu, tapi dia tahu srmuanya ini akibat perbuatan ayahnya, pikirannya, "Apakah ayahku mempunya dua orang isteri? Mengapa dulu aku tidak tahu?"

Berpikir demikian, dia lantas tertawa, katanya, "Saudara Lamkiong, kalau kita mempunyai hubungan, selayaknya kita rayakan bersama, mengapa kau malahan hendak membunuhku?"

"Hehe, justeru karena hubungun ini, maka aku ingin membunuhmu!"

Setelah bsrhenti sejenak, bentakkya pula, "Waktu sudah tidak banyak lagi, saudara Bok, aku akan segera turun tangan!"

Segera ia menerjang ke muka, telapak tangan kirinya menahas, sementara telapak tangan kanan menyodok ke bawah.

Ji-sia tertawa gusar, serunya, "Sandara Lamkiong. benar tidak kau pikirkan hubungan baik lagi?"

Tenaga segera dihimpun pada telapak tangannya, tanpa berkelit maupun menghindar ia menyambut serangan Lam kiong Giok.

"Blang", bentrokan keras terjadi, tubuh Ji-sia mencelat ke sana. "Uak!" darah segar tumpah dari mulut Ji-sia anak muda ini tak mengira Lamkiong Giok berhati sekeji ini dan benar benar melancarkan serangan, sedahsyat ini kepadanya.

"Saudara Lamkiong, kau benar-benar kejam!" serunya dengan suara gemetar gusar

Lamkiong Giok tertawa terkekeh-kekeh, "He-hehe, kau sendiri yang mencari mampus, kenapa salahkan orang?"

Air mukanya berubah di-gin, kedua mata memancarkan sinar kebencian, pelahan ia mendekati Bok Ji sia.

Sambil menahan rasa sakit, J!-sia segera membentak, "Kau masih akan turun tangan.”

"Hehe, aku menghendaki jiwamu!"

Tangannya bergetar, mendadak dari balik bajunya terpancar keluar cahaya putih yang langsung menyambar tubuh Bok ji-sia.

Tiba-tiba seorang membentak, "Bangsat, kau benar-benar keji!"

"Tring!" diiringi denting nyaring pedang pendek Lamkiong Giok itu mencelat balik, bahkan malah menyamar tubuhnya sendiri.

Lamkiong Giok terperanjat, buru-buru dia ke-baskan lengan bajunya sambil membalik badan dan melompat ke samping. Seketika dia gemetar.

Tertampak Lik-ih hiat-li dengan sinar mata yang mengerikan sedang mengawasinya, sementara Bwe-hoa-kiam Tong Yong-lisg juga sedang mendelik padanya penuh rasa benci.

"Lamkiong Giok, manusiakah kau?" dengus Lik-ih-hiat-Ii. "Aku .. . aku " Lamkiong Giok gelagapan.

Cepat Ji-sia melompat bangun dan berseru, 'Ibu!"  

"Nak," kata Lik-ih hiat-li dengan air mata bercucuran, "ibu tahu kau sangat menderita!"

"Engkoh Bok, kau terluka?" tanya Tong Yong-ling sambil membangunkan Ji-sia.

"Terima kasih, nona Tong!" sahut Ji-sia.

Sebutan "nona Tong" itu sangat menghancurkan perasaan Tong Yong-ling, rasa cintanya kepada Ji-sia sangat mendalam, dia berharap bisa hidup bahagia dengan pemuda tersebut, siapa tahu mengharapnya terasa begitu asing, begitu jauh. Tanpa terata air matanya menitik.

Menyaksikan adegan tersebut Lamkiong Giok menjadi tak keruan perasaannya, dia mendengus, "Orang the Bok, lihat saja akhirnya nanti?"

"Saudara Lamkiong, mengapa kau benci padaku!" seru Ji- sia sambil tertawa pedih.

"Tanyakan sendiri kepada ayah ibumu?" seru Len kiong Giok dengan penuh dendam.

Seraya berkata dia memandang sekejap Bok Ji-sia dan Lik ih-hiat-li dengan penuh kebencian, kemudian segera berlalu.

"Kembalil" hardik Lik-ih-pit-li tiba-tiba sambil menyerang ke depan.

"Ada apa?" Lamkiong Giok berpaling dengan marah.

Entah mengapa, rasa takutnya terhadap Lik-ih-hiat-Ii pada masa lalu kini lenyap seluruhnya, seakan-akan dia tahu perempuan itu takkan turun tangen kepadanya, mungkin hal ini disebabkan mereka masih mempunyai hubungan yang erat.

Dengan suara dingin Lik-lh-hiat-li berkata "Bila berdasarkan perbuatanmu masa lalu, kau pantas mampus, cuma '* "Hanya ucapan itukah yang hendak kau sampalksn kepadaku?" jengek Lamkiong Giok.

Tiba-tiba Ji-sia menjadi gusar, bentaknya, "Saudara Lamkiong, biasanya kuhormati dirimu sebagai lelaki sejati, tak tahunya kau sudah gila, berani kurangajar kepada ibuku!"

Dengan melupakan rasa sakit, ia siap menerjang Lamkiong Giok pula.

Lik-ih-hiat-li menghela napas dan menarik Ji-sia, katanya, "Sudahlah nak, bagaimana pun jahatnya dia toh adikmu sendiri!"

"Bagus sekali," seru Lamkiong Giok, "pelajaran saudara Bok takkan kulupakan . . . hmm selama hayat masih dikandung

badan, pasti kubalas."

“Cepat pergi dari sinil" bentak Lih-ih-hiat-li, "beritahu kepada bapakmu, kami akan segera membereskan utang darah inil"

"Sampai jumpa, Wanpwe akan menanti kedatangan kalian di Kiam-houg-ceng," segera Lam- kiong Giok melayang pergi.

"Bagaimanapun jahatnya dia toh adikmu sendiri” karena perkataan ini, maka segalanya menjadi terang.

Dengan tertawa pedih Ji-sia berkata, "Ibu, benarkah dia adikku?"

"Benarl" dengan air mata bercucuran Lik-ih-hiat-li mengangguk. "Nak, andaikata kuberitahukan satu hal padamu, adakah keberanianmu untuk hidup?”

Ji-sia malu berjumpa dengan ibunya, ketika tahu ibunya masih hidup di dunia ini, mestinya dia enggan berjumpa lagi dengan siapa pun. Perbuatan terkutuk dengan ibu kandung sendiri selalu menghantui pikirannya, diam diam la pernah bersumpah, asal pembunuh laknat yang mencelakainya dulu berhasil dibunuh, maka iapun akan bunuh diri di depan pusara ibu dan ayahnya, Sekarang ia berhadapan dengen ibunya, tentu saja penderitaan batinnya sukar dilukiskan, Sambil mengertak gigi, katanya kemudian, "Ibu, katakanlah!"

Diam-dism Lik-ih-hiat-li menghela napas, katanya, "Nak, kesalahan dulu bukan atas kehendakmu akan sendiri, terutama dalam dunia persilatan yang penuh dengan dosa dan kejahatan ini, di mana-mana terdapat perangkap, selangkah kurang hati-hati, bisa menyesal sepanjang hidup Jangan kauingat' pada kejadian dulu, kutahu peristiwa itu bukan kesalahanmu lupakan peristiwa itu, mari kita mulai dengan hidup baru

“Ibu, aku tidak paham dalih ini!" kata Ji-sia sambil menggeleng,

Kembali air mata Lik-ih-hiat-li berderai, katanya pedih. "Sekarang urusan telah berkembang menjadi begini, biarlah kuberitahukan kepadamu, ayahmu masih hidup."

Saking malunya Ji-sia menangis, "Aku tak punya muka untuk bertemu dengan ayah, aku tak..." Sambil berkata, ia menangis tersedu-sedu hingga Tong Yong-ling yang berada di sampingnya ikut terharu daa meneteskan air mata.

Sambil menahan penderitaan batin tiba-tiba Lik-ih-hiat-li berseru. "Jin-kiaf, keluarlah untuk bertemu dengan anakmu!"

Segera muncul seorang kakek tua renta berwajah jelek, dengan air mata bercampur darah dan kedua tangan direntangkan, pelahan ia mendekati Ji-sla.

"Anak Sia, inilah ayahmul" kata Lik-ih-hiat-li sambil menuding si kakek.

"Ayah!' Ji-sia menjerit pedih.

Di balik panggilan tersebut entah terkandung berapa banyak air mata dan darah? Pahit dan getir. Mereka bertiga saling raegkul sambit menangis. Sambil membelai rambut Ji-sia, kakek itu berkata, "Nak, tak perlu sedih lagi, aku tidak menyalahkan dirimu, yang salah adalah ayahmu dan manusia laknat itu, sekarang kita harus berani menghadapi kenyataan dan membalas sakit hati ini ..."

"Ayah. siapa yaug mencelakai kita? Siapa ....?" pekik Ji-sia, "bentahukan padaku, dia berada di mana? Berada di mana?. "

"Dia berada di Kiam-hong-ceng, dia ialah Lamkiong Hian. "

Gelak tertawa seram sagera berkumandang menggema angkasa, sambil melompat ke depan Ji-sia berteriak, "Balas dendam! Balas dendam! Ayah, ananda berangkat!"

"Tak perlu pergi, aku berada di sinil" mendadak seorang berseru nyaring.

Menyusul seorang telah muncul di situ, dia tak lain ialah Kim-hong-cengcu Lamkiong Hian.

Ia tampak sangat tenang, dengan khidmat selangkah demi selangkah maju ke tengah arena.

Ji-sia menyeringai, serunya, "Lamkiong Hian, serahkan nyawamu hari inil"

"Ya, aku datang untuk menyerahkan nyawaku!" Jawab Lamkiong Hian dengan dingin.

Cahaya emas segera terpancar, Ji-sia telah melolos Jian- kim-si-hun-pian dan mendongak sambil tertawa.

"Lamkiong Hian," bentak Lik-ih-hiat-li, "kami sudah cukup menderita kau celakai!"

"Enso, dapatkah kau lupakan masa lalu?" tanya Lamkiong Hian.

"Tidak dapat, aku menghendaki nyawamu!" bentak Ji-sia.

Ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian segera diputar dan menusuk ke dada Lamkiong Hian. "Kupasrahkan nyawaku kepada kalian," kata Lamkiong Hian sambil memejamkan mata, "semoga Toako dan enso baik baik merawat kedua orang anak itu!"

Ucepan seorsng yang mendekati ajalnya selalu merupakan kata-kata yang mulia, tak nyana gembong iblis ini mau bertobat pada akhirnya den pasrah nasib.

Darah segar muncrat, menyusul tubuh Lamkiong Hian lantas roboh terkapar.

Melihat musuh telah tewas, Ji-sia tertawa seram pula. teriaknya, "Dendam terlampias! Lebih baik pulang .. . Dendam telah terlampiaskan! Lebih baik pulang . ..

Menyusul tertawa yang seram itu, bagaikan orang gila dia lari menuju sebuah jurang secepat terbang. .

Dengan terperanjat Tong Yong-Iing menjerit, ; "Engkoh Bok, kembali!"

"Anak Sia, kau .... " Lik-ih-hiat-li juga berteriak, cepat mereka berdua mengejar ke sana.

Tiba2 muncul sesosok bayangan dari tepi jalan seraya membentak, “Orang she Bok, kembalikan nyawa ayahku!"

Mengikuti bentakan itu, kedua orang lantas bergumul menjadi satu dan menggelinding ke tepi jurang.

Lik-ih-hikt-lt terperanjat menyakskan hal itu dari belakang, teriaknya, "Nona Tong. kedua bocah itu tak mau hidup lagi!"

"Kalau dia mati, akupun tak ingin hidup!" sahut Tona Yong- ling dengan cemas.

Mendadak terdengar Bok Ji-sia berteriak, "Saudara Lamkiong, kau benar-benar tak ingin hidup?"

"Ya, biarlah mati, biar kita mati bersama!" seru Lamkiong Giok sambil menangis. Kedua orang terus bergelinding ke tepi jurang, Ji-sia memang sudah bertekad mati, ia pejamkan mata dan menyerah kepada elmaut.

Tiba-tiba Lamkiong G'ok mencengkeram kedua tangan Ji- sia sambil berteriak. 'Saudara Bok, kita berangkat bersama ke alam baka!"

Makin cepat kedua orang itu terguling ke jurang dan lenyaplah bayangan mereka.

Beberapa kali jeritan ngeri bergema dari dasar jurang, dasar jurang yang tertutup oleh kabut tebal.

Ketika Lik-ih-hiat-li sampai di tepi jurang ia hanya bisa bergumam, "Dendam telah terlampias, lebih baik pulangi"

Siapa pula yang tahu keenam patah kata tersebut merupakan kata terakhir Bok Ji-sia menjelang kematiannya? Pulang ke akhirat, yaitu jalan yang harus dilalui oleh setiap manusia.

— TAMAT —