Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 11

Jilid 11

Bayangan hijau berkelebat, Ku Thian-gak me-rasakan dada tergetar keras, tahu-tahu Bok Ji-sia sudah berpindah ke pondongan Lik-ih-hiat-li, de-ngan air mata bercucuran perempuan itu sedang mengawasi wajah Bok Ji-sia tanpa berkedip.

Ku Thian-gak tertegun, demikian pula kawanan jago lainnya, tak seorang pun dapat menduga apa hubungan antara Bok Ji-sia dengan perempuan itu, bahkan siapa gerangan Bok Ji-sia juga tak ada yang tahu.

Tiba-tiba Lik-ih-hiat-li bergumam, “Sia…matilah dengan tenang! Akan kubunuh seribu orang untuk mengiringi kepergianmu, cuma kematiamu terlalu tak barharga…”

Saking sedihnya Lik-ih-hiat-li mengira Ji-sia telah tewas.

Ku Thian-gak segera berkata dengan sedih, ‘Lihiap, Bok- siauhiap belum mati!”

Dengan cepat Lik-ih-hit-li memeriksa denyut jantung anak muda itu, rasa sedih dan cemasnya berangsur mulai hilang. Ia berpaling ke arah Ku Thian-gak, tanyanya, “Siapa yang melukainya?”

“Lihiap, Bok-heng terluka karena melindungi Ku-tayhiap,” tiba-tiba Lamkiong Giok menimbrung, “ia bertarung melawan pemuda jumawa dari Hek-liong-kang, akibat beradu tenaga dalam, akhirnya kedua pihak sama-sama terluka.”

Sembari berkata ia menuding pemuda parlente Hoa Hong- hui yang dipapah Kau-lau-liong-coa-siang siu itu.

“Kalau membantunya masih mendingan!” jengek Lik-ih- hiat-li dingin, “kalau ia terluka karena membantumu, itulah terlalu tidak berharga.”

“Perempuan bejat!” diam-diam Lamkiong Giok menyumpah dalam hati, “begitu bencimu terhadap Lamkiong Giok? Hm, dengan tampangmu jangan mimpi akan merebut hati Bok Ji- sia.” Mendadak Li-ih-hiat-li beraling ke arah ketiga nona Hek- liong-kang, kemudian bertanya “Apakah kalian orang-orang Hek-liong-kang?”

Pek sat yang tergetar mundur oleh Lik-ih-hiat-li tadi pelahan maju ke muka, lalu sahutnya ketus, “Kalau betul orang Hek-liong-kang, lantas mau apa kau?”

Terkesiap juga hati Lik-ih-hiat-li demi meman-dang wajahnya, tapi bagaimanapun tenaga dalam-nya cukup sempurna, setelah melengak, segera ia tenang kembali seperti semula, katanya ketus, “Jika lukanya tak bisa sembuh, maka aku menghendaki nyawa kalian orang-orang Hek-liong-kang.”

“Kalau nyawanya kau hargai, apakah nyawa orang lain tidak terhitung nyawa!” Pek Sat balas mendengus.

“Tak perlu banyak bicara!” bentak Lik-ih-hiat-li, “sekalipun seribu nyawa orang lain juga tak bisa menandingi nyawanya, mau apa kau? Katakan saja terus terang!”

“Betul, kedatangan aliran Hek-liong-kang kami ke Tionggoan adalah untuk mencari dua macam benda mestika perguruan kami, tapi sekalian kami ingin berkenalan dengan orang-orang persilatan di sini, aku mau tahu sampai berapa hebat kungfu ka-lian.”

“Kalau begitu, ayolah serang!” jengek Lik-ih-hiat-li.”

Tiba-tiba Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak maju ke muka, desisnya, “Lihiap, serahkan saja tubuh Bok Ji-sia kepadaku.”

Ia ambil alih badan Bok Ji-sia, lalu pikirnya lagi, “Lukanya amat parah, kalau dibiarkan begini terus, tentu akan tambah runyam, meski aku tak tahu ilmu apakah yang melukainya, tapi apa salah-nya kalau kulancarkan dulu jalan darahnya dengan ilmu mengurut.  Hawa murninya lantas dihimpun dan siap mengurut jalan darah di tubuh anak muda itu.

Mendadak suara merdu menggema, “Lukanya paling pantang diurut, kalau kau mengurut jalan darahnya, maka dia tak bakal tertolong lagi.”

Terkesiap Ku Thian-gak mendengar peringatan si nona baju biru itu, buru-buru ia menarik kem-bali tangannya.

“Ilmu pukulan apakah yang mengenai tubuh-nya?” tanya Lik-ih-hiat-li tiba-tiba, “asal kau sebutkan segera aku dapat menolongnya.”

“Kami tak tahu ilmu pukulan apa yang melu-kainya, tapi kami dapat menolongnya,” jengek Pek Sat.

Lik-ih-hiat-li mendengus, “Biarpun tak tahu dia dilukai pukulan apa, tetap dapat kuselamatkan dia. Nanti bila aku lukai dirimu, akan kulihat dengan ca-ra apa mereka akan menolongmu.”

“Menang dan kalah masih sukar diramalkan, buat apa banyak omong?” seru Pek Sat.

“Sambut dulu pukulanku ini!” seru Pek Sat pu-la dengan kening berkerut.

Begitu ia melangkah maju, telapak tangan kiri langsung membacok dada lawan.

Lik-ik-hiat-li mendengus, “Aku tuan rumah dan kau adalah tamu, biar aku mengalah tiga jurus padamu!”

Sambil bicara, dengan gemulai Lik-ih-hiat-li melayang mundur.

Dengan gusar Pek Sat mendengus, “Nona akan membuatmu tak ada peluang untuk melancarkan serangan balasan!” Tiba-tiba ia menubruk ke depan, secepat kilat kedua telapak tangannya melancarkan serangan be-rantai….

Bayangan tangan melayang kian kemari, dalam waktu singkat ia telah memukul dua puluh empat kali.

Betapa hebatnya Lik-ih-hiat-li, terdesak juga mundur beberapa langkah dari posisi semula, ia terkesiap, pikirnya, “Sejak mempelajari ilmu dalam kitab Hian-ki-hian-cing-pit-lok, pelbagai ilmu silat di dunia telah kukenal, tapi ilmu pukulan apa ini? Kenapa begini cepat?”

Ia tunggu setelah pukulan musuh habis dilepaskan, ia tarik napas panjang, pelahan telapak tangan kanannya ditolak ke depan. Tenaga pukulan berhawa lembut segera berhembus dan menerjang musuh.

Agaknya Pek Sat juga dapat merasakan kelihayan tenaga dalam Lik-ih-hiat-li, sambil tertawa dingin telapak tangan kanannya menyampuk ke samping sehingga angin pukulan Lik-ih-hiat-li yang dahsyat itu terhindar, berbareng itu telapak tangan kirinya menghantam bahu kiri lawan dengan jurus Kai- bun-kian-jit (buka pintu melihat matahari).

Lik-ih-hiat-li merasakan juga tenaga yang kuat yang menolak pukulannya ke samping, ia kaget, pikirnya, “Aneh dan hebat benar ilmu silat aliran Hek-liong-kang.”

Serentak ia menarik kembali serangannya yang kuat itu, lalu tangan kiri dengan jurus Kim-soh-poh-liong (tali emas membelenggu naga), ia berbalik mencengkeram urat nadi pergelangan tangan ki-ri Pek Sat.

Sungguh cepat gerak tangan Pek Sat, sekali berkelebat tahu-tahu ujung jarinya sudah menyen-tuh baju bahu kiri Lik- ih-hiat-li, tapi pada saat itu juga tahu-tahu tangan kiri Lik-ih- hiat-li juga me-nempel pergelangan tangan Pek Sat, keduanya sama mendengus pelahan dan sama menyurut mundur de-ngan cepat. Setelah kedua orang saling menghindari serang-an lawan, masing-masing saling tukar pandang se-kejap, lalu dengan cepat mereka terlibat kembali dalam pertarungan seru. Pertarungan ini tambah hebat, kedua pihak sama tidak berani meremehkan lawan lagi, dengan cepat mereka saling berebut posisi yang lebih meng-untungkan.

Hian-thian-koancu Kun-tim Cinjin pernah ber-gebrak dengan Lik-ih-hiat-li, dia tahu kelihayan il-mu silat dan kehebatan tenaga dalamnya, meski ilmu silat aliran Hek-liong- kang juga hebat, tapi sulit rasanya bagi nona itu untuk bertahan sampai dua puluh gebrakan.

Siapa tahu kenyataannya jauh di luar dugaan Kun-tun Cinjin, pertarungan makin lama makin ce-pat, dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan su-dah lewat tanpa terasa.

Bukan saja Pek Sat tidak tampak tanda-tanda akan kalah, malahan serangannya semakin aneh dan makin dahsyat, semua jurus serangannya tak pernah terlihat dalam dunia persilatan.

Tampaknya kemarahan Lik-ih-hiat-li pun semakin berkobar, pukulan demi pukulan dilancarkan dengan dahsyat, setiap serangan berkekuatan yang sanggup menghancurkan batu karang, keampuhan jurus serangannya tak kurang hebatnya dibanding-kan gadis yang bernama Pek Sat itu.

Menyaksikan itu, Siau-yau-khek Ku Thian-gak menghela napas panjang, pikirnya, “Kungfu kedua orang perampuan ini sungguh luar biasa, yang se-orang bergerak enteng dengan serangan maut yang sukar diduga, yang lain bergerak mantap bertenaga dengan kelembutan di balik kekerasan, jurus se-rangannya ampuh, perubahannya tak terduga, coba kalau kedua macam kungfu iai disatukan, niscaya tiada tandingannya lagi di dunia ini. Andaikata isi kitab Ceng-shia- bu-sia-pit-lok ciptaan Thian-seng Taysu dari Siau-lim-si dan Te-im Sinni dari Hek-liong-kang bisa kupelajari, tak sulit rasanya bagiku untuk menjadi seorang jago tangguh dalam waktu singkat, sayang aku tak punya rejeki sebesar ini dan telah kuberitahukan rahasia kitab tersebut kepada Tong Yong- ling….”

Tiba-tiba terdengar Lik-ih-hiat-li membentak nyaring, beruntun ia lancarkan tiga kali pukulan berantai.

Ketiga kali pukulan itu tampaknya enteng seakan-akan tak bertenaga, tapi waktu serangan di-lancarkan amat tepat, seketika itu Pek Sat dipaksa mundur tiga langkah. Setelah dipaksa mundur oleh Lik-ih-hiat-li, tampaknya Pek Sat menderita luka dalam, sekujur badan gemetar keras, setelah muntah darah wajah-nya berubah menjadi pucat seperti mayat.

Melihat itu, si nona baju biru bercadar meng-hela napas sedih, katanya, “Tak kusangka di Tionggoan masih terdapat jago selihai ini. Enci Pek Bi, bimbinglah enci Pek Sat kemari!”

Wajah Pek Sat yang dingin itu tiba-tiba ber-ubah menjadi pedih, katanya, “Siocia, enci terluka parah…”

Baru bicara sampai di sini, sekujur badan kem-bali gemetar keras, dan pelahan roboh ke tanah. Pek Bi cepat melangkah maju dan memegang tubuh saudaranya yang hampir roboh itu.

“Ia terkena pukulan Keng-sian-jit-gwat-ciang!” kata Lik-ih- hiat-li dengan suara seram, “hm, kalau ti-dak segera mendapat pengobatan, darahnya akan membeku dan mengakibatkan kematian yang me-ngerikan.”

“Tapi, dia juga jangan harap bisa hidup!” no-na baju biru itu menyambung dengan dingin, “dia” yang dimaksud ialah Ji- sia.

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Pek Sat menghela napas sedih, katanya, “Siocia, benarkah Cici tak tertolong lagi?” Nadanya penuh kesedihan dan mengharukan. Besar sekali perubahan sikap Pek Sat, dari se-orang gadis yang dingin dan keras kepala, kini berubah menjadi lemah dan mengenaskan.

Mendengar ucapan tersebut, nona baju biru bercadar itu mendongak dan memandang langit yang redup, lama sekali ia termenung….

Sampai sekian lama ia baru berkata dengan pelahan, “Enci Pek Sat, kau bisa tertolong!”

Pek Sat menjadi girang, rasa putus asa seketika buyar, semangat pun terbangkit kembali, seakan-akan setiap perkataan nona baju biru itu mengen-dalikan mati atau hidupnya.

“Pek Bi Cici, mari kita pergi!” nona baju biru bercadar itu berseru.

Tiba-tiba Si-hun-koay-sat-jiu tertawa seram, ejeknya “Orang-orang dari Hek-liong-kang harap tetap tinggal di sini, kalian kira bisa kabur dari si-ni dengan begitu saja?”

“Mau apa kau?” tanya nona baju biru itu ketus.

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat lantas tertawa terkekeh- kekeh dengan seramnya, “He he he, kehadiraa kami ini adalah untuk membasmi kalian orang-orang Hek-liong-kang,” demikian ia berkata, “selain itu, tentu saja kami pun ingin melihat beberapa macam mestika Hek-liong-kang itu!”

“Antara Thian-kang, Te-sat dan Seng-gwat-kiam dari Thian-seng-po, kau ini yang mana?” ta-nya si nona baju biru sambil tertawa.

Mendengar pertanyaan itu hati Oh Ku-gwat bergetar, pikirnya, “Entah untuk apa budak setan ini menanya soal ini?”

Oh Ku-gwat menyahut dangau terbahak, “Tidak berani, aku ini Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat, entah ada petunjuk apa darimu?” “O, rupanya kau adalah si Lotoa tertua yang kungfunya paling rendah, Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat!”

Hampir saja meledak dada Oh Ku-gwat men-dengar perkataan itu, segera ia tertawa dingin, “Ah, kalau sesama saudara sendiri bukan sesuatu yang memalukan bila ada perbedaan dalam tingkat ilmu silat masing-masing.”

“Benarkah Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak telah berpulang ke alam baka?” tiba-tiba nona baju itu mengajukan pertanyaan yang menggemparkan.

Baik Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat sendiri maupun kawanan jago lainnya sama-sama berubah air mukanya demi mendengar perkataan tersebut, pandangan berpuluh pasang mata segera beralih pada wajah si rase tua Oh Ku-gwat.

Budak liar, hendaknya ucapanmu sedikit tahu diri!” damprat Oh Ku-gwat.

“Wahai, rase tua, kau berani memakiku? Ha-ti-hati bila mulutmu tiba-tiba membengkak besar!”

Baru selesai perkataannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin, menyusul dari arah belakang Oh Ku-gwat lantas terdengar suara-suara “plak, plok, plak, plok”, suara gamparan, ternyata muka Oh Ku-gwat telah ditempeleng orang.

Peristiwa ini kontan saja membuat semua ja-go yang hadir terbelalak kaget. Kiranya entah sedari kapan, tahu-tahu di be-lakang Oh Ku-gwat telah bertambah dengan se-orang kakek tinggi besar, rambutnya telah beruban, mengenakan jubah panjang warna abu-abu dengan mengempit toya besi yang panjang, besar dan hitam, jenggotnya panjang sebatas dada.

Telapak tangan kanan si kakek sedang di tem-pelkan pada punggung Oh Ku-gwat ketika itu, se-dangkan tangan kirinya melancarkan penempelengan sebanyak enam kali lagi pada wajah Oh Ku-gwat, dalam waktu singkat muka si rase tua Thian-kang-kiam itu sudah merah dan membengkak.

Nona baju biru itu tertawa cekikikan, “Wahai rase tua, coba lihat, cocok bukan dengan perkata-anku?”

Baru habis berkata, tiba-tiba gadis itu men-jerit kaget.

Menyusul jeritan kaget itu, “plak, plok” ter-dengar pula dua kali tamparan.

“Perempuan liar! Mencari gara-gara melulu, bi-ar kaupun mencicipi dua kali tamparanku!” demi-kian suara seorang mendamprat.

Ternyata di depan si nona, tahu-tahu sudah berdiri Bok Ji- sia yang selama ini tergeletak tak berkutik seperti orang mati itu, kemunculannya ini tentu saja sangat mengejutkan orang.

Tak seorang pun yang tahu sedari kapan Bok Ji-sia sadar kembali, juga orang tak menyangka ia berani menampar si nona baju biru bercadar.

Bahkan Ku Thian-gak serta Lik-ih-hiat-li yang memondong Bok Ji-sia pun tak kurang kejutnya.

Seluruh tubuh nona baju biru itu gemetar ke-ras karena gemasnya, jeritnya, “Kau….kau berani memukul aku?….mulai sekarang aku….aku akan menghancur-lumatkan tubuhmu…..”

Mendengar jeritan melengking nona baju biru itu, si kakek berjenggot yang tinggi besar itu baru seakan-akan sadar kembali dari impiannya, tiba-tiba ia membentak, dengan cepat luar biasa ia mener-jang dari belakang Oh Ku-gwat, toya baja menya-pu pinggang Bok Ji-sia dengan jurus Ciat-hong-bong- siau (angin puyuh menerbitkan suara tajam). Cepat Ji-sia memutar badan, bukan mundur dia malah maju, cepat iapun menerjang ke depan, suatu pukulan segera menghantam bahu kiri kakek itu. Tiba-tiba kakek itu menjerit, tubuhnya yang tinggi besar terpental jauh ke belakang. Tamparan dari kakek tinggi besar tadi diang-gap oleh Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat sebagai suatu penghinaan besar, mana ia mau terima de-ngan begitu saja? Sambil membentak cahaya pedang langsung menusuk tubuh kakek itu.

Bagaikan harimau terluka kakek itu meraung, toya baja bagaikan seekor ular segera menyongsong datangnya ancaman.

“Tring!” Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat segera merasakan betapa dahsyatnya tenaga serangan mu-suh yang terpancar dari toyanya ketika beradu de-ngan pedangnya, ia terkesiap, buru-buru ia himpun tenaga dan berusaha mementalkan senjata musuh.

Tapi sayang, kekuatan yang terpancar dari to-ya itu luar biasa kuatnya, pedang Oh Ku-gwat tergetar oleh toya baja sehingga terpental ke sam-ping, malahan tabuhnya ikut tergetar mundur.

Sementara itu terdengar si nona baju biru kem-bali berteriak dengan suara sedih, dendam dan le-mah, “Jisuheng, cepat.…..cepat gunakan Hua-kut-sin-kang (ilmu sakti panghancur tulang) untuk menghancur lumatkan laki-laki busuk itu!”

Ketika kata “Hua-kut-sin-kang” diucapkan si nona baju biru, kembali semua jago terkejut, me-reka seperti pernah mendengar nama ilmu tersebut, tapi seketika tak teringat.

Dalam pada itu, tangan si kakek tinggi besar telah membacok tubuh Bok Ji-sia dari kejauhan.

“Sia…….cepat mundur!” Lik-ih-hiat-li berte-riak, cepat tangan kanannya diayunkan, segulung tenaga pukulan lunak tapi berhawa dingin segera mendampar ke depan. Tapi Bok Ji-sia yang keras kepala itu telah melangkah ke depan, kedua telapak tangannya se-gera didorong juga ke depan. Tiba-tiba anak muda itu mendengus tertahan, se-kujur badan terasa bergetar, darah dalam dada bergolak berat, telinga mendengung, mata berkunang-kunang, kepala jadi berat dan kakinya seperti tak bertenaga, akhirnya ia sempoyongan dan roboh ter-kapar di tanah.

Lik-ih-hiat-li menjerit kaget, ia menerjang ma-ju, Ji-sia dipondongnya, dengan cemas ia menjerit, “Sia…Bok Ji- sia….Bok Ji-sia…..”

Suaranya keras, melengking dan menusuk te-linga.

Setelah dipaksa mundur oleh serangan kakek berambut putih tadi Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat memutar pedang pula, sinar pedang segera menyam-bar ke batok kepala si kakek yang sementara itu sudah terpental lebih oleh serangan dahsyat Lik-ih-hiat-li.

Kakek itu buru-buru menangkis dengan tangan kirinya, berbareng ia balas menghantam. Thian-kang-kiam Oh Ku gwat yang licik itu cukup memahami betapa dahsyatnya serangan mu-suh, buru-buru ia menarik kembali serangannya dan melompat ke samping.

Dalam pada itu, Hek-to-sam-koay dan Mo-in-jiu Kok Siau- thian sama tertawa dingin, seren-tak mereka pun menyerang kakek berambut putih itu dari berbagai penjuru.

Kakek berambut putih itu memang amat ko-sen, toya baja pada tangan kanannya diayunkan ke depan dengan jurus Hong-sau-cian-kun (menyapu rata seribu prajurit), dengan membawa desing angin keras, toya menyambar pinggang keempat musuh.

Merasakan betapa dahsyatnya serangan tersebut, Hek-to- sam-koay dan Mo-in-jiu Kok Siau-thian terpaksa melompat mundur, dengan mata terbelalak diawasinya kakek itu. Sekarang semua jago baru benar-benar me-rasakan betapa lihainya ilmu silat ketiga laki-laki dan empat perempuan dari Hek-liong-kang ini, tak heran bila mereka berani sesumbar hendak meng-obrak-abrik dunia persilatan hanya dengan bertujuh orang saja.

Dengan mata melotot dan wajah kereng si  ka-kek berambut putih kembali membentak, “Siapa lagi yang berani mencoba kepandaianku?”

Si-hun-koay-sat-jiu merupakan tokoh keenam dari Bu-lim- jit-coat, pelahan ia maju ke depan, ia tertawa dingin, “Kungfumu memang cukup he-bat, hehehe….tapi masih ingin kucoba beberapa jurus seranganmu!”

Kakek berambut putih itu menatap sekejap badan Si-hun- koay-sat- jiu yang ceking tapi jangkung itu, lalu menegur, “Dari sekian banyak jago yang hadir, apakah ilmu silatmu terhitung paling tinggi?”

“Tidak, tidak berani! Tapi kukira selisih pun tidak seberapa!”

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin merasa tak puas oleh perkataan tersebut, dampratnya, “Mak-hluk tua, kau berani meremehkan kami?”

“Hei, hidung kerbau!” dengan marah Si-hun-koay-sat-jiu berpaling, “bila kau tak puas, kelak kita bertarung lagi!”

“Mana, mana! Meskipun selama delapan belas tahun ini ada beberapa orang di antara Bu-lim-jit-coat telah tiada, tapi suatu pertarungan untuk memperebutkan kedudukan  memang tak bisa dihindarkan lagi.”

Terdengar kesiur angin, dengan langkah lebar kakek berambut putih itu maju ke depan, di anta-ra berkelebat toya, beruntun ia menyodok tiga kali, semua serangan ditujukan pada jalan darah kematian di tubuh Si-hun-koay-sat-jiu, angin serangan yang menderu segera memaksa jagoan keenam Bu- lim-jit-coat itu harus melompat mundur tiga langkah.

Kembali kakek berambut putih memutar toyanya dan menciptakan selapis bayangan hitam, kemudian dengan dahsyatnya menghantam batok ke-pala Hian-thian-koancu, terpaksa Kun-tun Cinjin melompat mundur juga ke belakang.

Setelah berhasil memaksa mundur kedua tokoh Bu-lim-jit- coat itu, si kakek berambut putih itu mendongakkan kepalanya dan bergelak tertawa. Si-hun-koay-sat-jiu berkelebat ke samping dan menghindarkan diri dari serangan tersebut. Deru angin pukulan yang kuat berhembus lewat, debu pa-sir beterbangan di udara.

Sambil tertawa dingin tangan kanan Si-hun-koay-sat-jiu kembali menghantam, segulung tenaga pukulan yang dahsyat menyambar tubuh si kakek dari sudut yang tak terduga. Kakek berambut putih itu berseru tertahan, cepat ia bergeser ke samping, deru angin pukulan Si-hun-koay-sat-jiu menimbulkan pula gelombang debu pasir.

“Hm, bagaimana rasanya ilmu silat daerah Tionggoan?” ejeknya kemudian.

Kakek berambut putih itu membentak, kem-bali tangan kiri melepaskan suatu pukulan.

Si-hun-koay-sat-jiu tertawa dingin, dengan tangan kiri ditangkisnya serangan tersebut. Ketika dua gulung tenaga pukulan saling tumbuk, bahu Si-hun-koay-sat-jiu bergetar sehingga mundur tiga langkah, sebaliknya kakek berambut putih itupun tergetar mundur dua langkah.

Dari benturan tersebut, kedua pihak sama-sama punya perhitungan sendiri, mereka tahu sampai di mana taraf kepandaian musuh, untuk sesaat tak se-orang pun di antara mereka berani turun tangan secara gegabah, hanya empat mata yang penuh ke-gusaran saling tatap tanpa berkedip. Dalam pada itu, Bok Ji-sia yang berada da-lam pondongan Lik-ih-hiat-li telah membuka mata-nya setelah diurut jalan darahnya dan dipanggil namanya sekian lama….

Yang pertama dilihatnya adalah butiran air mata pada kelopak mata Lik-ih-hiat-li, untuk pertama kalinya hatinya tersentuh oleh kebaikan pe-rempuan tersebut, sekarang ia baru merasa bahwa perempnan itu sesungguhnya tidak berniat jahat kepadanya.

Ji-sia segera meronta turun dari pondongan Lik-ih-hiat-li, setelah menghela napas sedih, kata-nya, “Entah siapakah Lihiap ini? Aku betul-betul berhutang budi atas beberapa kali pertolonganmu, selama hidup tak nanti kulupakan budi kebaikan-mu ini.”

Nona baju biru bercadar yang berada di sam-ping sana segera tertawa dingin dan menimbrung, “Kau telah terkena pukulan Hua-kut-sin-kang Ji-suhengku, lewat beberapa jam lagi tubuhmu akan hancur dan mati dengan mengenaskan. Hm, apa gu-nanya kau ingat budi kebaikan orang?”

Dengan rasa benci dan dendam Lik-ih-hiat-li melotot dengan sinar mata tajam dan menggidikkan.

“Kau ingat baik-baik?!” teriak Bok Ji-sia penuh kebencian, “Asal aku tidak mati, aku pasti akan membunuh habis semua orang aliran Hek-liong-kang kalian!”

“Kami akan menanti!” jawab si nona bercadar.

“Baik! Tunggu saja!” selesai mengucapkan ka-ta-kata ini, Ji-sia memandang sekejap ke arah Lik-ih-hiat-li, Ku Thian-gak dan Lamkiong Giok, ke-mudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia pu-tar badan dan berlalu.

“Bok Ji-sia, mau ke mana kau?” teriak Lik-ih-hiat-li sedih.

Ji-sia berpaling dan menjawab, “Darah dalam tubuhku saat ini terasa bergolak keras, rasanya mual sekali….Aku ingin mencari suatu tempat untuk beristirahat, asal aku tidak mati, setiap dendam pas-ti akan kubaias….”

Dengan rasa kuatir Lik-ih-hiat-li berkata, “Bok Ji-sia, kau….kau takkan mati, bila kau mati, akan kubunuh semua jago di dunia ini untuk membalaskan sakit hatimu.”

Tatapan matanya yang lembut menimbulkan rasa bimbang dalam hati Bok Ji-sia, ia tak mengerti mengapa perempuan ini begitu menaruh perhatian kepadanya, tapi tatkala terbayang kembali pende-ritaan masa lalu, ia menjadi sedih pula dan diam-diam menghela napas, “Setiap perempuan di dunia ini yang mencintaiku, sudilah maafkan diriku…”

Sambil berteriak di dalam hati ia melangkah ke depan dengan perasaan bimbang…..

Buru-buru Lamkiong Giok menyusul ke sana, dan menegur, “Saudara Bok, hendak ke mana kau?”

Dengan kepala tertunduk Ji-sia termenung sejenak, kemudian baru menengadah dan menjawab, “Sekarang aku terluka parah dan hampir mati, aku sendiri pun tak tahu ke mana harus pergi.”

“Mungkin dia akan mencari suatu tempat yang bagus sebagai tempat kuburnya,” mendadak si no-na baju biru menyindir.

Berkobar pula amarah Bok Ji-sia, tapi segera teringat lagi saat kematiannya sudah dekat, maka ia cuma menghela napas saja.

Ditatapnya Lamkiong Giok sekejap, kemudian katanya, “Ada suatu permintaanku, entah bersedia-kah saudara Lamkiong menyanggupinya?”

“Asal mampu, aku akan lakukan, pasti akan ku-terima permintaanmu itu!” Sekali lagi Bok Ji-sia menghela napas panjang, “Seandainya aku mati, tolong sampaikan berita kematianku kepada nona Tong Yong-ling!”

“O, soal itu pasti akan kulakukan, legakanlah hatimu……”

Sebenarnya Lamkiong Giok hendak berkata, “Legakanlah hatimu untuk mati,” tapi kata-kata ter-sebut keburu ditelannya kembali.

Ji-sia menghela napas panjang, ia berkata pula, “Saudara Lamkiong, walaupun kita berjumpa tanpa sengaja, tapi aku merasa amat cocok denganmu. Ai….sungguh tak tersangka persahabatan kita ha-nya berlangsung sesingkat ini.”

Agaknya Lamkiong Giok dibuat terharu oleh ucapan itu, katanya kemudian dengan nyaring, “Saudara Bok berjiwa besar dan berhati mulia, Thian tak akan merenggut nyawa manusia semacam kau….”

Sementara itu Lik-ih-hiat-li telah mendekat, katanya tiba- tiba dengan dingin, “Dia berhati busuk dan jahat, dia justeru berharap lekas kau mati, masa kau anggap dia orang baik- baik?”

Berubah hebat air muka Lamkiong Giok demi mendengar perkataan itu, ia tertawa dingin, seru-nya, “Lihiap, kuminta sedikit kau hargai orang lain, ketahuilah bahwa semua ucapanku timbul dari lu-buk hati yang tulus, aku benar-benar merasa senasib dan sepenanggungan dengan saudara Bok.”

Dengan nada menghina Lik-ih-hiat-li mendengus, “Lamkiong Giok, ketika masih berada dalam ku-buran kuno…. “

Mendadak Bok Ji-sia melotot gusar ke arah Lik-ih-hiat-li dan memotong, “Budi kebaikanmu suatu saat pasti akan kubalas, tapi jika kau berusaha merusak hubunganku dengan saudara Lamkiong, jangan menyesal bila aku bersikap ku-rang sopan.”

Lik-ih-hiat-li menghela napas sedih. “Bok Ji-sia,” katanya, “pengalamanmu dalam dalam dunia persilatan masih amat cetek, kau tak tahu akan kelicikan dan kebusukan orang, apalagi terhadap intrik busuk dan segala tipu muslihat du-nia persilatan.”

Ji-sia mendengus, tukasnya, “Tak lama lagi aku akan meninggalkan dunia mi, semua kebanggaan atau penghinaan tidak lagi mempengaruhi di-riku, terima kasih atas kata- katamu itu.”

Habis berkata, Ji-sia menjura kepada Lamkiong Giok, kemudian putar badan dan berlalu dari situ.

Dalam pada itu situasi dalam arena telah ter-jadi perubahan, terdengar si nona baju biru itu se-dang berkata kepada semua orang, “Para jago Tionggoan, tanyalah pada dirimu sendiri, sampai dimanakah taraf kecerdasan kalian?”

Semua orang tertegun dan tidak mengerti oleh pertanyaan si nona yang mendadak itu.

Hian-thian-koancu Kun-tun Cinjin segera ter-tawa dingin, katanya, “Mau apa kau ajukan perta-nyaan ini? Terus terang, setiap orang yang datang kemari rata-rata adalah orang yang memiliki kecer-dasan luar biasa.”

Tiba-tiba si nona baju biru bertanya iagi, “Ta-hukah kalian apa tujuan kedatangan kalian?”

Kun-tun Cinjin tertawa seram, “Hehehe, kau sendiri sudah tahu, buat apa bertanya lagi?”

“Ya, aku tahu kalian datang kemari untuk mengantar kematian.”

Semua orang menunjukkan kemarahan yang meluap demi mendengar perkataan itu.

Dengan suara dingin Kun-tun Cinjin berkata, “Golongan Hek-liong-kang kalian kini menghadapi musuh dari segenap penjuru, jangan harap kalian akan kabur dari neraka ini!” Nona baju biru itu mendongakkan kepalanya memandang langit yang biru, kemudian seperti ber-gumam, “Kenapa? Masakah mereka tidak percaya pada perkataanku?”

Tiba-tiba ia berpaling ke arah Pek Bi dan ber-kata lagi, “Enci Pek Bi, suruh mereka mengikuti-ku, supaya mereka tahu akan mampus atau tidak!”

Pek Bi segera memperlihatkan senyuman yang membetot sukma, katanya, “Siocia kami kalau bi-lang satu tetap satu, kalau kalian tak percaya ikutilah kami, buktikan sendiri sekitar teka-teki mati-hidup kalian!”

Nona baju biru itu tiba-tiba berkata kepada si kakek berambut putih, “Ji-suheng jangan berta-rung lagi, mari kita pergi!”

“Dia harus tetap di sini!” mendadak terdengar bentakan, menyusul Lik-ih-hiat-li menerjang maju.

“Apakah kau hendak balas dendam baginya?” tanya si nona baju biru.

“Ia telah melukainya, nyawanya harus digunakan untuk membayar ganti rugi ini.”

“Sepasang tanganmu yang haus balas dendam itu lebih baik kau serahkan kepada orang lain!”

Lik-ih-hiat-li tertegun, ia tidak mengerti mak-sud perkataannya.

Tiba-tiba si nona baju biru berpaling ke arah Siau-yau-sian- hong-khek, kemudian berkata, “Sean-dainya kau menginginkan tanda kebesaran Thian-yang-ciangbun serta keselamatan jiwamu, maka kau harus melakukan seperti apa yang dikatakan Hoa Hong-hui!”

Dengan wajah penuh kesedihan. Siau-yun-khek Ku Thian- gak menghela napas panjang. “Ka-lau begitu, lebih baik orang she Ku mati saja da-ripada membantu berbuat kejahatan.”

“Selamanya tangan kami tidak ternoda oleh anyirnya darah, tentu saja kami tak akan membunuhmu,” nona baju biru itu tertawa dingin.

“Yang disebut pembunuh, tidak tentu tangannya harus berlepotan anyirnya darah, membunuh tanpa menodai tangan sendiri dengan darah adalah pem-bunuh yang lebih keji dan jahat,” kata Ku Thian-gak.

“Sudahlah, jangan banyak bicara, kau mau ikut kami atau tidak? Terserah pada keputusanmu sendiri.”

Siau-yau-sian-hong-khek Ku Thian-gak terse-nyum pedih, “Jika seorang telah mengesampingkan soal mati hidup, kehormatan dan penghinaan, si-apa pula yang bisa memaksakan kehendaknya atas diriku?”

“Jadi kau bertekad ingin mampus saja? Cuma, tahukah kau penderitaan apa yang bakal kaurasakan sebelum memperoleh kematianmu itu?”

“Soal ini aku sudah tahu, tak perlu banyak bi-cara lagi. Meskipun cara kematian manusia terdiri dari beribu macam, namun dasarnya hanya dua, yakni mati dengan tenang atau mati dengan men-derita, setelah mati kukira keadaannya tak jauh berbeda.”

“He, buat apa kalian bersilat lidah melulu?” tiba-tiba Si- hun-koay-sat-jiu mendamprat, “Ayo ce-pat bawa kami menyaksikan teka-teki soal mati-hidup kami!”

Nona baju biru itu tidak banyak bicara lagi, ia bersama Pek Bi dan lain-lain pelahan berjalan menuju ke arah gedung yang lain.

Mendadak Siau-yau-khek Ku Thian-gak meng-hampiri Lik- ih-hiat-li, kemudian tanyanya dengan lirih, “Tolong tanya apa hubungan Lihiap dengan Bok Ji-sia?” “Ada urusan apa?” tanya Lik-ih-hiat-li dingin.

“Ada suatu masalah yang menyangkut mati-hidup Bok Ji- sia hendak kubicarakan denganmu.”

Hati Lik-ih-hiat-li bergetar keras, cepat tanya-nya, “Masalah apakah itu? Coba katakan!”

“Lihiap, kuminta kau jawab sejujurnya, benar-kah engkau menguatirkan keselamatan Bok Ji-sia?”

Lik-ih-hiat-H menghela napas sedih, “Jiwanya jauh lebih penting daripada jiwaku!”

“Tahukah kau bahwa mati hidupnya ada sang-kut-paut yang amat penting dengan nasib seluruh anggota persilatan di dunia ini…?”

Lik-ih-hiat-li melengak mendengar ucapan itu, ia tak mengira kalau keselamatan Bok Ji-sia mem-punyai akibat sebesar itu.

“Apa maksud ucapanmu itu? Coba jelaskan!” serunya kemudian.

“Ai…. panjang sekali kalau dibicarakan, sekarang aku hanya mohon kepadamu agar melindungi ke-selamatan jiwanya, segala sesuatunya akan kau ke-tahui di kemudian hari, sekarang baiklah kuberi-tahukan dulu kepadamu, ia membawa ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian yang digilai setiap umat per-silatan….”

“Apa? ia membawa Jian-kim-si-hun-pian?” hampir saja Lik- ih-hiat-li menjerit saking kagetnya.

Sebenarnya aku bertekad hendak melindungi keselamatannya, tapi tak lama lagi akupun akan berpulang ke alam baka, maka tugas ini se-karang kulimpahkan kepadamu, semoga kau mau memikirkan kepentingan umat manusia di dunia ini.” “Jangan kuatir! Bok Ji-sia dan aku memiliki hubungan yang luar biasa, urusan tak boleh tertun-da lagi, baiklah aku berangkat dulu!”

Seusai berkata, perempuan itu segera berkelebat pergi dengan cepat. Memandangi bayangan tubuhnya yang makin menjauh, Siau-yau-khek Ku Thian-gak menghela na-pas, gumamnya, “Kalau dilihat dari rasa sedih dan cemas perempuan ini atas luka Bok Ji-sia, hubungan di antara mereka berdua pasti luar biasa sekali, ai….”

Ia merasa tidak perlu banyak berpikir lagi. Kematian! Kian lama terasa kian endekatinya.

oooOOooo

Sementara itu dengan langkah cepat Bok Ji-sia berjalan keluar dari halaman gedung, sambil me-nahan rasa sakit di dadanya ia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melayang menuju ke ta-nah pegunungan dengan cepat. Mula- mula kecepatannya memang luar biasa, tapi akhirnya bahkan maju selangkah saja rasanya susah, tulang belulang sekujur tubuh terasa sakit dan linu, ketika ia paksakan diri maju belasan kaki lagi, robohlah dia terkapar di tanah.

Darah kental tertumpah berulang kali, ia me-rasa seluruh tulang tubuhnya seakan-akan terlepas, dua kali ia meronta dan mencoba untuk duduk, ta-pi setiap kali roboh kembali ke tanah.

Angin bukit berhembus kencang, rumput kering di empat penjuru bergoyang dan menimbulkan su-ara gemersik nyaring….

Tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya meman-dang keadaan di sekitar situ, ternyata tempat ini adalah sebuah tanah pekuburan yang sepi dan me-nyeramkan, batu nisan yang porak poranda, kubur-an yang tak terawat, saat itu dia merasa di seke-liling Thian-seng-po seakan-akan berubah menjadi tanah pekuburan semua…. Iapun merasakan ke-hidupannya kian mendekati liang kubur. Ia tahu pada akhirnya menusia itu harus mati, terbayang akan kematian, timbul perasaan bim-bangnya, terbayang betapa dendam kematian ayah-nya belum terbalas, dendam ibunya belum dituntut, pesan Thian-kang-te-sat-seng- gwat-kiam belum di-laksanakan, dan sekarang ia harus berpisah dengan kehidupan ini, tanpa terasa titik air mata jatuh membasahi pipinya.

Tiba-tiba ia terbayang lagi pada pengalaman-nya selama sebulan yang pendek ini, pemandangan seram dalam benteng Thian-seng-po….pelbagai corak manusia yang dijumpainya….serta ilmu si-lat yang tiada batasnya itu…..

Setelah berpikir sekian lamanya, pemuda itu merasa matanya mulat berat, ia merasa lelah dan sangat mengantuk.

Pelahan ia membuka mulut dan menghembuskan napas panjang, tapi ia merasa suara berhembus pun tidak dimiliki lagi.

Tiba-tiba saja Ji-sia menyadari keadaannya se-karang ibarat pelita yang kehabisan minyak. “Ai!…” Ia menghela napas sedih dalam hati….

Beberapa kali ia berusaha menenangkan kem-bali pikirannya yang kalut, tapi selalu gagal. Orang hidup akhirnya pasti mati juga, sekali-pun ia memiliki semangat yang memandang kematian seperti pulang ke rumah, tapi siksaan batin yang dihadapinya menjelang kematian sungguh te-rasa berat untuk dilawan dengan semangat yang ting-gi itu, kenangan lama terasa terlintas dalam benak-nya, ia selalu gagal untuk menenangkan kembali perasaannya.

Pelahan, semakin diresapinya apa makna “mau mati biarlah mati”.

Tapi, di balik beberapa patah kata yang sing-kat dan sederhana itu entah tercakup berapa ba-nyak perasaan yang ruwet. Dendam dan budi yang belum terbalas…. Persahabatan yang mendalam….

Serta semua kesedihan, kegembiraan, pahit, ge-tir, pedas, kecut dan aneka perasaan lain yang per-nah dirasakan selama hidup, hampir semuanya ter-lampiaskan keluar pada detik- detik terakhir ini, sebab mulai sekarang segala keberhasilan, begagalan, kejayaan atau penghinaan di dunia ini sudah tiada sangkut pautnya lagi dengannya.

Dengan perasaan sedih dan apa boleh buat, terpaksa ia harus meninggalkan dunia yang fana ini…..

Akhirnya, ia merasa otaknya mulai layu dan kering….

Dalam keadaan beginilah anak muda itu jatuh terduduk di tanah dan tertidur lelap….

oooOooo

Cahaya senja memancar di angkasa, sang surya mulai terbenam di langit barat, sinar senja yang indah itu menyoroti pula wajahnya…. wajah yang segar berwarna merah itu.

Tak lama kemudian, tabir malam pun pelahan menyelimuti jagat raya ini.

Di tengah remang cuaca, Bok Ji-sia merasa pe-rutnya berkeroncongan. laparnya tidak kepalang. Padahal, ia tak tahu sekaligus sudah duduk di sana selama tujuh hari tujuh malam.

Pada saat itulah tiba-tiba dari balik tanah pe-kuburan itu muncul sesosok bayangan manusia yang bertubuh ramping, dengan matanya yang tajam dia memandang sekejap ke arah Bok Ji-sia yang sedang duduk tenang itu, tanpa terasa ia bersuara heran.

Dengan langkah pelahan ia berjalan ke bela-kang Bok Ji- sia, tiba-tiba ia melolos sebilah pe-dang yang bersinar tajam….. Begitu terdengar suara dilolosnya pedang da-ri sarung, Ji- sia segera membuka matanya.

Tapi pada saat itulah, dari belakang berku-mandang suara seorang yang mengancam dengan dingin, “Kalau berani berpaling, segera kubuat kau mati tak terkubur!”

Ji-sia merasakan jalan darah pada punggungnya terasa sakit, menyusul terasi ada cairan panas me-leleh di punggungnya. Ia menyadari cairan panas itu adalah cairan darah sendiri yang bercucuran.

Maka dengan suara dingin ia bertanya, “Saat ini aku berada di dunia ataukah dalam neraka?”

Tampaknya orang yang berada di belakang itu tertegun oleh pertanyaan yang aneh itu, untuk se-saat lamanya ia tak sanggup menjawab. Kiranya Ji-sia baru sadar dari pingsannya, se-keliling tempat itu hanya kegelapan belaka, maka ia sangka dirinya sudah mati. 

Bok-Ji-sia coba mengawasi sekeliling situ, ke-tika dilihatnya tempat itu adalah tanah pekuburan yang sangat dikenal olehnya, tanpa terasa ia ber-tanya lagi, ”Sesungguhnya kau ini manusia ataukah setan?”

Tiba-tiba orang di belakang itu tertawa cekikikan dengan suara yang merdu, tapi suara tertawanya sedikit membawa hawa seram sehingga membuat orang menyangka dia adalah setan perempuan.

Andaikata hal ini terjadi pada hari biasa, nis-caya bulu kuduk Bok Ji-sia sudah berdiri, tapi se-karang ia menyangka dirinya sudah mati, maka di-anggapnya lawan adalah rekan setan seneraka de-ngannya, maka ia tidak merasa seram.

Orang yang ada di belakang itu segera berkata dengan tertawa, “Tempat ini adalah perbatasan an-tara dunia dan akhirat, jadi aku adalah manusia juga setan.” Mendengar itu, Bok Ji-sia segera mendengus, “Hm, kalau begitu kau sengaja datang menangkap nyawaku?”

Setelah berhenti sejenak, ia berkata pula, “Aku tak lebih hanya seorang yang terluka dan hampir mampus, di antara kita juga tak pernah terikat per-musuhan, buat apa kau membunuhku?”

Orang yang berada di belakang itu tertawa, “Adalah wajar bila kau ingin mati dengan tenang, biar kuberitahukan kepadamu sejujurnya, aku hen-dak membunuhmu lantaran kau bawa ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian!”

Berguncang keras perasaan Bok Ji-sia demi mendengar jawaban itu, tapi dari sini juga ia bisa membuktikan bahwa dirinya masih berada di dunia, keinginannya untuk melanjutkan hidup segera mun-cul kembali, buru-buru ia mencoba untuk meng-himpun kembali tenaganya.

“Dapatkah kau tebak siapa gerangan diriku ini?” tiba-tiba orang yang berada di belakangnya bertanya.

Sambil menghimpun tenaga dalamnya, Ji-sia menghela napas pelahan, lalu jawabnya, “Suaramu kedengarannya asing sekali, apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku siapa gerangan dirimu ini? Dari mana kau tahu aku membawa ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian?”

Kiranya setelah mencoba untuk menghimpun tenaga murninya tadi, Ji-sia mendapatkan meski se-mangatnya masih segar, tapi lantaran lapar, hawa murni yang terhimpun itu tiba-tiba terputus di te-ngah jalan.

Perempuan di belakang Ji-sia itu kembali ter-tawa cekikikan, “Itulah kalau dinamakan jodoh, di-cari sampai sepatu jebol pun tak bertemu, waktu tidak dicari, eeeh, tahunya bertemu tanpa sengaja!”

“Apa maksudmu berkata demikian?” tanya Ji-sia. Dengan tertawa dingin damprat perempun itu, “Kau benar- benar seorang tolol besar, pantas se-lalu menjadi pecundang orang. Terus terang, sebe-tulnya aku tak kenal kau ini Bok Ji- sia murid Oh Kay-gak, tapi setelah kupancing dengan perkataan, sekarang yakinlah aku akan dirimu, hahaha, bagus sekali! Ruyung Jian-kim-si hun-pian sudah pasti akan menjadi milikku.”

Mendengar perkataan itu, Ji-sia baru sadar telah tertipu, satu ingatan dengan cepat terlintas dalam benaknya, ia berkata, “Aku tak lebih hanya seorang yang sudah hampir mampus, bersediakah kau memberi sedikit makanan kepadaku, agar se-telah mati nanti aku menjadi setan yang kenyang?” Ternyata Ji-sia mengetahui sebab terputusnya tenaga himpunan tadi adalah karena kelaparan.

Saat ini dirasakan makin parah akibat ke-laparan itu, seandainya tak bisa mendapat makanan tepat pada saatnya, mungkin terpaksa ia harus me-nunggu kematian belaka.

Bok Ji-sia yang keras hati dan angkuh, sudah barang tentu tak rela ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian dicuri orang, maka ia bermaksud mencari ke-sempatan untuk menghimpun tenaga kembali dengan sedikit mengisi perut, bila tenaganya sudah pulih nanti, tentu saja ia bisa bertindak menurut keadaan.

Akan tetapi, perempuan di belakangnya bukan perempuan sembarangan, setelah mendengar perka-taan Itu, ia lantas tertawa dingin.

“Aku toh cuma menghendaki ruyung emas Jian-kim-si- hun-pian dan tidak menghendaki nya-wamu, biar saja nyawamu direnggut orang lain,” demikian ia berkata, “bila ingin makan, tunggu saja setelah ruyung itu kau serahkan kepadaku nanti.”

Ji-sia mengertak gigi dan memejamkan mata sambil menahan siksaan lapar yang makin melilit perut, ia berusaha melanjutkan semadinya, tapi ra-sa lapar itu terlalu hebat, betapapun ia tak mampu menghimpun kembali tenaganya.

“Ayo cepat lepaskan Jian-kim-si-hun-pian dan serahkan kepadaku!” perempuan di belakangnya mendesak lagi.

Ji-sia menghela napas sedih, “Aku telah ber-sumpah kepada orang yang menghadiahkan ruyung ini kepadaku untuk tidak menyerahkan ruyung ini kepada orang lain sebelum nyawaku putus, maka seandainya kau menghendaki ruyung ini, lebih baik tusuk dulu diriku sampai mati, kemudian ruyung ini boleh kau ambil.”

“Bagus, kalau kau memang ingin mampus, akan kubunuh kau lebih dulu.”

Berbareng dengan selesainya kata-kata itu, Ji-sia merasakan punggungnya menjadi sakit, ujung pedang orang itu agaknya sudah menusuk ke dalam kulit badannya….

“Tunggu sebentar!” buru-buru Ji-sia berteriak. “Kenapa? Takut mampus?” ejek perempuan itu.

“Ah, mati sebetulnya bukan hal yang mena-kutkan,” kata Ji-sia sambil menghela napas sedih, “akan tetapi aku tak ingin mampus dengan begini saja… ”

“Jadi kau ingin mampus dengan cara bagai-mana?” tukas perempuan itu.

“Kalau aku harus mati dengan cara begini, di akhirat pun aku tetap penasaran sebab akupun seorang yang berilmu, tentu saja aku lebih suka mati sebagai seorang pendekar, yakni dengan kepandai-an yang kumiliki untuk menentukan mati dan hidup.”

Agaknya orang itu merasa gusar mendengar perkataan itu, ia mendengus, “Jadi kau menantang aku untuk berduel?”

“Mestinya aku tak berani, tapi kau tahu,  se-orang pendekar matipun tak sudi takluk kepada orang, jika kau ingin membunuhku dengan cara ren-dah, tolong beritahukan namamu sebelum kau bu-nuh aku.”

Ji-sia terpaksa bertindak demikian, karena ia tahu setelah persoalan berkembang menjadi begini, hanya jalan inilah yang bisa ditempuhnya.

“Bok Ji-sia!” tiba-tiba perempuan itu bertanya, “kau anggap ilmu silat Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay- gak lebih baik atau ilmu silat Kiu-thian-mo-li yang lebih hebat?”

Bagaikan bunyi geledek di siang hari bolong, dengan terkejut Bok Ji-sia berseru, “Hah, apakah kau Kiu….Kiu-thian- mo-li?….”

“Jika aku adalah Kiu-thian-mo-li, sekarang mayatmu tentu sudah dingin,” jawab perempuan itu dengan tertawa dingin.

Bok Ji-sia mendengus, “Hm, belum tentu demikian, lantas siapakah kau?”

“Siapakah aku tak perlu kau tanyakan,” jawab saja pertanyaanku tadi, ilmu silat siapa yang lebih hebat di antara kedua orang itu?”

Ji-sia termenung sejenak, kemudian sahutnya. “Tentang ini….ini….sulit untuk dikatakan……”

“Kalau begitu, jadi ilmu silat Oh Ku-gwat le-bih cetek?” sambung perempuan itu.

“Hai, kenapa kau sembarangan omong,” teriak Ji-sia dengsn gusar.

Perempuan itu tertawa, katanya, “Tidak perlu banyak bicara lagi, aku murid Kiu-thian-mo-li, namaku Mo-li-ceng-li (Gadis suci perempuan iblis) Cu Giok-ceng. Bila kau masih menginginkan nyawamu, serahkan Jian-kim-sin hun-pian kepada-ku, kemudian dengan kepandaianmu boleh kau coba merampasnya kembali dari tanganku, jika ruyung itu tidak kau serahkan dulu kepadaku, maka pedang yang tak kenal ampun ini akan segera menembus tubuhmu. Nah, bagaimana keputusanmu? boleh kau pilih!”

Satu ingatan kembali terlintas dalam benak Bok Ji-sia, pikirnya, “Walau ruyung itu tidak ku-serahkan kepadanya, tentu saja dia akan menusuk-ku sampai mati……Wah, apa yang mesti kulaku-kan sekarang…..?”

Untuk sesaat ia menjadi sangsi dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Tidak lama, agaknya Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng tak sabar lagi, ia lantas menegur, “Hei, kena-pa kau belum juga mengambil keputusan?”

“Persoalan ini betul-betul amat sulit, mana boleh kuputuskan secara sembirangan?” sahut Ji-sia.

“Kalau kau ingin menimbangnya selama seta-hun dan akupun harus menunggu setahun lagi?” teriak Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng dengan marah. “Lebih baik kau mampus saja sekarang, setelah mampus nanti akan kubereskan mayatmu, akan kubangunkan sebuah kuburan besar yang indah un-tukmu, setiap hari Ceng-beng, aku akan berziarah ke makammu, menangis di depan pusaramu untuk menghibur sukmamu yang kesepian. Dengan de-mikian kematianmu akan lebih berharga. Nah se-karang juga pedangku akan kutusukkan ke tubuh-mu!”

Ketika Bok Ji-sia merasakan punggungnya kembali terasa sakit, buru-buru teriaknya, “Eh, tunggu sebentar! Nona, aku kan belum mengambil keputusan?!”

“Huh, tampaknya kau memang takut mampus,” jengek Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng,

“kalau begitu, apa gunanya kau bicara tentang semangat seorang pendekar yang menganggap kematian sebagai ber-pulang ke rumah? Lebih pantas menyamakan diri-mu dengan anjing budukan!”

Buru-buru Ji-sia membentak, “Bukannya aku takut  mampus, pertama aku tak rela membiarkan ruyung emas Jian- kim-si-hun-pian terjatuh ke ta-ngan orang lain. Kedua, aku masih banyak urus-an yang perlu diselesaikan.”

Tiba-tiba Cu Giok-ceng tertawa, “Dan jangan-jangan kau belum berpamitan dengan binimu atau pacarmu.”

“Jangan sembarangan bicara, aku tak punya bini, juga tak punya pacar.”

“Kalau begitu, kau pastilah seorang lelaki ke-sepian yang dingin perasaan.”

“Dari mana kau tahu?” Tanya Ji-sia.

“Sebab kau tak punya bini ataupun pacar, pa-dahal laki- laki gagah semacam kau banyak diincar kaum wanita, jika dugaanku ini tak salah, maka laki-laki keras hati macam kau ini tentu akan mem-buat susah kaum gadis remaja, daripada membiar-kan mereka patah hati atau bunuh diri, lebih baik kau kubunuh saja dan beres.”

Setelah mendengar perkataan itu, Ji-sia segera tahu Mo-li- ceng-li Cu Giok-ceng sesungguhnya adalah gadis binal yang masih polos dan menarik, dia menduga paras si gadis pasti menawan hati.

Tiba-tiba Ji-sia bertanya, “Bolehkah aku ber-paling untuk melihat wajahmu?”

“Tidak boleh!” jawab Cu Giok-ceng sambil ter-tawa dingin, “tapi jika kau tak takut mampus, si-lakan saja berpaling.”

Bok Ji-sia menghela napas panjang, katanya, “Baiklah! Akan kuserahkan dulu ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian kepadamu, tapi bagaimana seandai-nya kau lantas kabur setelah mendapatkan ruyung?” “Kalau kabur ya sudahlah, mau apa kau?” ja-wab Cu Giok- ceng sambil tertawa cekikikan.

“Kalau begitu, kau memang berniat mencuri Jian-kim-si- hun-pian dengan cara yang licik dan ren-dah, kenapa kau kabur jika hendak mendapatkan ru-yung secara jujur dan terang-terangan?”

Cu Giok-cian menjadi marah, “Memangnya aku sudah kabur?” ia berteriak.

“Belum kau lakukan, tapi sudah kau katakan, betapapun menimbulkan kekuatiranku.”

“Jungan kuatir, aku Cu Giok-ceng tak akan mengingkari janji sendiri, apalagi ilmu silatmu juga belum tentu bisa mengalahkan diriku.”

“Terus terang saja, sekarang aku lapar sekali, tenaga dalamku tak bisa dihimpun kembali, setelah kuserahkan ruyung itu nanti, bolehkah aku makan minum sepuasnya sebelum melangsungkan perta-rungan untuk menentukan ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian itu akan menjadi milik siapa?”

“Baik, kukabulkan permintaanmu!” sahut Cu Giok-ceng. Ji-sia menghela napas, “Aku percaya dengan janjimu!”

Mendadak Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng mende-ngus  tertahan, tahu-tahu nadi pergelangan tangan kirinya sudah dicengkeram orang, menyusul jalan darah Thian-ki-hiat di punggungnya ditekan oleh telapak tangan orang pula.

Segera Bok Ji-sia mendengar suara seorang yang sudah dikenalnya menggema di tepi telinganya, “Si walang menubruk tonggeret, burung nuri menunggu di belakang. Nona Cu, lebih baik serahkan saja ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian itu kepadaku!” Waktu itu sebenarnya Ji-sia sudah merogoh sakunya untuk mengeluarkan ruyung, ketika mendengar ucapan tersebut, buru-buru ia menarik kem-bali tangannya, sementara tangan yang lain dengan cepat merogoh sisa rangsum yang masih ada dan cepat-cepat dijejalkan ke dalam mulut. Ia merasa girang sekali dengan perubahan yang terjadi sekarang.

Tibi-tiba Cu Giok-ceng membentak, “Bok Ji-sia, kau tak boleh mengisi perut!”

Di tengah seruan tersebut, Ji-sia merasakan punggungnya menjadi sakti sekali, lalu cairan darah pun meleleh keluar membasahi punggungnya, tapi ia tak peduli, sambil mendengus buru-buru ia telan lagi sisa rangsum yang masih ada.

“Bu-sian-gi-su!” terdengar Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng membentak pula dengan gusar, “kau be-tul-betul licik dan tak tahu malu!”

Ternyata orang yang mencengkeram urat nadi pergelangan tangin kiri Cu Giok-ceng serta meng-ancam jalan darah di punggungnya itu tak lain adalah Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng yang pada hari-hari biasa tak pernah menunjukkan ke-hebatannya, tapi namanya tersohor dalam dunia persilatan itu.

Bok Ji-sia sendiripun terperanjat setelah me-ngetahui orang di belakangnya adalah Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng, ia merasa dunia persilatan be-nar-benar sangat berbahaya dan penuh dengan ti-pu muslihat dan akal busuk yang mengerikan.

Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng tertawa terbahak- bahak, katanya, “Mana, mana! Kau si setan binal juga tidak berbeda jauh daripada diriku?”

“Apa maksudmu berbuat demikian?” seru Cu Giok-ceng dingin, “memangnya aku akan menging-kar janji?” Kwanliong Ciong-leng tertawa, “Wah, soal itu sih sukar dikatakan, siapa yang bisa menduga hati manusia?”

“Kalau kau tidak mempercayaiku, kenapa kau beritahukan soal ini kepadaku? Memangnya kau hendak mengangkangi ruyung Jian-kim-si-hun-pian?”

“Jangan kuatir nona, aku akan tetap meme-gang janjiku yang dulu, aku cuma menginginkan sarung ruyungnya, sedang ruyung Jian-kim-si-hun-pian sendiri kuhadiahkan kepadamu sebagai ba-las jasa.”

Waktu itu Bok Ji-sia telah mengambil rangsum lagi dan cepat-cepat dijejalkan ke dalam mulut.

Melihat itu, Cu Giok-ceng membentak dengan marah, “Hei, jangan rakus! Nanti saja kalau ingin makan, awas kurobek perutmu biar semua makan-an yang kau makan keluar lagi!”

Ujung pedangnya menusuk pelahan pula pung-gung anak muda itu, terpaksa Ji-sia menggigit bibir menahan sakit sambil menyumpah di dalam hati, “Sialan!”

Padahal makanan itu milik sendiri, perut lapar tak boleh makan, setiap kali makan harus merasakan pula siksaan berat, ia merasa makan seperti ini betul-betul sangat susah.

“Budak sialan!” gerutunya di dalam hati, “se-karang kau berani menyiksaku, hati-hati lain waktu, akan kusiksa dirimu sampai setengah mati!”

“Kwanliong Ciong-leng!” terdengar Mo-li-ceng-li Cu Giok- ceng berseru lagi, “yakinkah kau bah-wa dengan cara ini aku dapat kau kuasai?”

“Bila kau berani sembarangan bergerak, jangan salahkan aku akan membunuhmu dengan cara yang keji!” ancam Bu- sian-gi-su.

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng tertawa dingin, ‘Ilmu silatmu kira-kira lebih hebat berapa banyak daripada kepandaianku?” “Kalau dihitung tiada yang lebih kuat dan tiada yang lebih lemah, anggap saja sama kuat,” Bu-sian-gi-su tertawa.

“Kalau tahu begitu, mana mungkin aku bias kau bunuh dengan mudah?”

“Kalau tak percaya, boleh dicoba!”

Tiba-tiba Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng bertanya lagi, “Memangnya kepandaianmu lebih hebat dari kepandaian Bok Ji sia?”

Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng tertawa di-ngin, “Budak setan, jangan kau salah lihat orang, kerjaku tiap hari adalah memburu burung, mana mungkin biji mataku bisa terpatuk oleh sang bu-rung? Kalau kau berani menggunakan akal licik, ja-ngan menyesal bila aku akan turun tangan keji  ke-padamu!”

Selesai berkata, Kwanliong Ciong-leng segera memperbesar tenaga cengkeramannya.

Cu Giok-ceng meringis, serunya, “He, kalau kau berani memperbesar tenagamu, jangan salahkan aku bila kulepaskan Bok Ji-sia!”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Ji-sia me-ngomeli kegoblokan sendiri. Cepat ia merogoh lagi rangsum kering dan dijejalkan ke dalam mulut, kali ini ternyata Cu Giok-ceng tidak berkaok lagi.

Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng terkejut juga nendengar ucapan tadi, cepat ia tarik kembali sebagian tenaganya, lalu sambil tertawa ia berkata, “Jika kau berani melepaskannya, jangan harap kau bisa hidup, lebih baik paksa dia menyerahkan ru-yung emas Jian-kim-si-hun-pian!”

Setelah makan rangsum kering beberapa comot, rasa lapar Ji-sia jauh berkurang, buru buru ia me-ngerahkan tenaga, kali ini muncul hawa murni yang membanjir dari arah pusar. Dalam sekejap mata, hawa murni itu naik ke atas dan menyalur ke seluruh tubuh, peredaran da-rah ikut pula bergolak keras, tiba-tiba timbul pe-rasaan gelisah dan tak tenang.

“Bok Ji-sia!” terdengar Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng membentak lagi, “lebih baik serahkan saja Jian-kim-si-hun- pian tersebut sekarang juga kepa-daku?”

Walaupun tusukan pedang perempuan itu me-nimbulkan rasa sakit di punggungnya, akan tetapi saking kerasnya pergolakan darah di dalam badan, sehingga anak muda itu tak sempat merasakan sa-kit lagi.

Tiba-tiba Ji-sia merasa aliran hawa di dalam badan seakan- akan berhasil menjebol selapis din-ding baja yang sangat kuat, aliran tenaga yang tak berbendung itupun dengan cepat menerjang lebih ke depan, tapi di depan sana agaknya ada lagi se-lapis dinding baja yang menghadangnya….

Pada saat itulah, Bok Ji-sia kembali merasakan pedang Cu Giok-ceng menusuk punggungnya secara keji. Ia mendengus, hawa murni yang bergolak pun mendadak berhenti.

“Mau apa kau?” tegurnya kemudian.

“Bok Ji-sia, tak perlu berlagak pilon, cepat serahkan!” seru Kwanliong Ciong-leng yang ber-ada di belakang sambil tertawa.

“Apa yang mesti kuserahkan?” tanya Ji-sia. “Jian-kim-si-hun-pian!”

Mendengar itu, mendadak Ji-sia mendongak-kan kepala dan tertawa terbahak-bahak. Suara tertawanya keras menggema angkasa. Ia seperti merasakan kegembiraan yang tak terhingga.

“Apa yang kau tertawakan?” Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng menegur. “Aku bergembira atas kebangkitan kembali diriku! Dan kalian berdua segera akan mampus!”

“Hmmm, melihat kelakuanmu yang sinting, agaknya kau cari mampus,” damprat Cu Giok-ceng. Habis berkata, pedangnya berputar dan “Plok”, Ji-sia mendengus tertahan, jalan darah Cian-keng-hiat pada bahu kirinya terketuk oleh gagang pedang perempuan itu.

Cian-keng-hiat merupakan salah satu di an-tara ketujuh jalan darah kelumpuhan di tubuh ma-nusia, sebenarnya Ji-sia hendak menghimpun tenaga untuk melakukan tindakan, siapa tahu telah dida-hului oleh Cu Giok-ceng, seketika itu juga sekujur tubuhnya menjadi kaku, hawa murri yang baru saja terhimpun pun seketika lenyap, ia jatuh terduduk di tanah, namun tak sampai pingsan, matanya ma-sih bisa melihat jelas keadaan di sekitar situ.

Sungguh cepat gerak tubuh Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng, begitu ia menghajar jalan darah Cian-keng-hiat pada bahu Bok Ji-sia dengan gagang pe-dangnya tadi, dengan menghimpun tenaga dalamnya pada tangan kiri, tiba-tiba sikutnya menyodok ju-ga ke belakang.

Kwanliong Ciong-leng tak menyangka Cu Giok-ceng bakal menyerangnya, ia merasa cengkeraman pada langan orang seakan-akan dipentalkan oleh te-naga yang amat kuat.

Ia tertawa dingin, tenaga telapak tangan ka-nan yang menempel jalan darah Thian-ki-hiat di punggung Cu Giok-ceng segera dikerahkan. Tapi orang lain ternyata lebih cepat, agaknya Cu Giok-ceng tahu jelas gerakan yang bakal dila-kukan Kwanliong Ciong-leng, baru saja tenaga pukulannya dikerahkan, dengan suatu gerak cepat, Cu Giok-ceng menyelinap ke samping kiri.

Tapi dengan demikian, tenaga pukulan yang di-lancarkan Kwanliong Ciong-leng tersebut jadinya menghantam belakang kepala Bo Ji-sia…. Waktu itu jalan darah Bok Ji-sia tertutuk, sekalipun masih sadar tapi tubuh tak bebas lagi, tam-paknya pukulan itu akan bersarang di belakang ke-palanya dan membinasakan dia, untunglah Cu Giok-ceng bukan orang sembarangan, tatkala tubuhnya menyelinap ke samping tadi, kaki kanannya ber-bareng menendang tubuh Bok Ji-sia hingga terpental sejauh beberapa kaki.

Akibat tendangan itu, jalan darah Cian-keng-hiat yang tertutuk di tubuh Bok Ji-sia menjadi bebas kembali, sementara di sebelah sana terdengar suara deru angin pukulan yang keras.

Ji-sia berpaling, ternyata Cu Giok-ceng sudah melibatkan diri dalam pertarungan seru melawan Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng.

Waktu itu, Cu Giok-ceng telah sarungkan kem-bali pedangnya, dia bertempur dengan bertangan kosong. Bu-sian- gi-su Kwanliong Ciong-leng tertawa di-ngin, jari tangan kirinya setajam pisau menusuk ja-lan darah Hu-kiat-hiat di lambung si nona, semen-tara telapak tangan kanannya menghantam kepalanya. Cu Giok-ceng mendengus, tubuhnya bergerak ke samping, ia membentak dan menerjang maju la-gi dengan jurus Jit-gwat-ceng-hui (rembulan dan ma-tahari berebut cemerlang) ia hantam Kwanliong Ciong-leng dengan kedua tangan sekaligus.

Jangan mengira Cu Giok-ceng hanya seorang perempuan, ternyata tenaga pukulannya sangat ku-at, lagipula menguasai ilmu mengebut jalan darah yang lihay. Kwanliong Ciong-leng tak berani menyambutnya dengan kekerasan, cepat ia berputar dan me-nyusup ke belakang lawan lalu dengan jari tangan ia tikam belakang kepala Cu Giok-ceng.

Buru-buru Cu Giok-ceng menggunakan gerakan Hu-kan- ciong-hay (memandang samudra yang luas), tubuhnya mendoyong ke depan, baru saja lolos dari serangan, tiba-tiba ia berputar kembali, jari tangan kiri dan telapak tangan kanan berbareng mengancam jalan darah Ciang-tay-hiat dan Sin- kan-hiat di dada dan perut Kwanliong Ciong-leng,

Setelah meninjau beberapa jurus serangan kilat yang dipergunakan kedua orang itu, Ji-sia merasakan ilmu silat kedua orang itu memang sangat lihai, se-karang ia baru merasa betapa luasnya pelajaran ilmu silat di dunia ini.

Demikianlah, sambil menonton jalannya per-tarungan, Bok Ji-sia mengisi terus perutnya yang lapar.

Dalam waktu singkat Cu Giok-ceng dan Kwan-liong Ciong- leng telah saling gebrak sebanyak empat-lima puluh jurus, sedemikian cepatnya mereka bergerak sehingga sukar dibedakan lagi siapa di antaranya.

Perlu diketahui, Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng amat jarang memperlihatkan ilmu silatnya di dunia persilatan, padahal kelihaian kungfunya ter-masuk jago kelas satu. Tapi hari ini, setelah bertemu dengan murid Kiu-thian-mo-li, Mo-li- ceng-li Cu Giok-ceng, ia me-rasa agak kewalahan.

Ia mengerti ilmu silat Cu Giok-ceng sukar di duga arah sasarannya, di tambah lagi tenaga dalam-nya cukup sempurna, gadis ini merupakan salah seorang lawan tangguh yang jarang ditemuinya se-lama ini. Bila pertarungan berlangsung lebih lama, belum tentu menang-kalah bisa diketahui dalam satu-dua ratus jurus, maka diam-diam ia mulai simpan tenaga dan dipersiapkan untuk merobohkan lawan pada saat terakhir.

Sementara itu selesai makan Bok Ji-sia sedang mengawasi sekeliling tempat itu, tiba-tiba dilihatnya tidak jauh di sana sesosok bayangan putih jang-kung berdiri di atas sebuah kuburan. Oleh karena malam gelap, sinar bintang pun redup, sekalipun Bok Ji-sia memiliki mata tajam, juga sulit melihat jelas wajah orang itu, ia hanya melihat sesosok bayangan manusia berbaju putih. Waktu Ji-sia mengawasi lebih cermat, tanpa terasa ia merinding. Ternyata dalam waktu yang singkat di atas tu-juh buah kuburan, lebih kurang empat tombak di sekitar sana telah berdiri tujuh sosok bayangan ma-nusia berbaju putih.

Ji-sia terkesiap, pikirnya, “Aneh betul! Kenapa dalam waktu singkat bisa berubah menjadi begini banyak? Padahal aku hanya berpaling sekejap saja. Coba aku berpaling lagi akan kulihat apakah akan bertambah banyak atau tidak?”

Dasar sifat kekanak-kanakannya belum hilang, apa yang dipikirnya lantas dilakukannya, segera Ji-sia berpaling pula.

Segera ia terkesima, ternyata saat itu bayangan putih itu telah bertambah dua orang lagi, hing-ga kini jumlahnya sembilan orang. Ji-sia coba mengacak matanya dan menengok lagi, tapi kembali ia terperanjat, ternyata di bela-kang kesembilan sosok bayangan manusia itu kini muncul empat sosok bayangan putih lain yang ber-diri di atas empat buah kuburan. Dengan demikian, jumlah manusia baju putih di atas kuburan itu menjadi tiga belas orang.

Diam-diam Ji-sia bergidik, pikirnya, “Manusia-kah mereka?

Ataukah setan?”

Di bawah sinar bintang yang redup, sulit un-tuk melihat jelas wajah manusia berbaju putih yang berada empat tombak dihadapannya sana, Ji-sia hanya merasa ketiga belas sosok bayangan putih itu memiliki biji mata berwarna hijau.

Tanpa terasa timbul ingin tahu Bok Ji-sia, pe-lahan ia coba maju ke sana. Tapi mendadak ia me-nyurut mundur lagi tiga langkah dengan terkesiap, setelah menarik napas, pikirnya, “Betulkah di dunia ini ada setan atau mayat hidup? Kalau tidak, ke-napa ketiga belas bayangan putih ini…..”

Kiranya setelah agak dekat dan melihat jelas wajah  mereka, hampir pecah nyalinya karena ter-peranjat, dilihatnya wajah yang menyeringai seram, wajah yang seakan-akan pernah dilihatnya di suatu tempat, tapi seketika tidak diingatnya lagi.

Mereka berwajah pucat kehijau-hijauan, bibir-nya merekah keluar sehingga barisan giginya ter-tampak jelas, rambut panjang terurai di pundak, mata berwarna hijau, biji matanya kaku seperti mayat, lengannya panjang dan kaku, panjang kuku-nya lebih tiga inci dan tampak mengerikan.

Bukan begitu saja, bahkan dari tubuh mereka seakan-akan terpancar hawa setan yang mengerikan seperti mayat yang baru diseret keluar dari peti mati, atau mayat hidup.

Makin dilihat, Ji-sia merasa semakin takut, co-ba kalau tiada dua orang lain sedang bertempur sengit hingga mengurangi hawa seram, mungkin ia benar-benar akan gemetar ketakutan.

Tiba-tiba Ji-sia berteriak, “Hei, kalian jangan bertempur lagi, ada mayat hidup!”

Teriakannya sangat manjur, Cu Giok-ceng segera berkelit ke samping menghindari serangan Kwan-liong Ciong-leng, lalu berseru, “Ada apa kau ber-teriak-teriak? Apakah melihat setan?”

“Ya, benar, benar melihat setan, tiga belas jumlahnya….tiga belas mayat hidup….” sahut Ji-sia dengan tergagap.

Mo-li-ceng-li Cu Giok-ceng lagi menatap wajah Bok Ji-sia tanpa berkedip, melihat pemuda itu merasa ketakutan, ia tertawa geli dan berseru, “Aneh betul kau ini, terus menerus omong setan, betul-betul persetan….”

Belum lagi perkataannya selesai diucapkan, tiba-tiba di tengah keheningan malam berkumandang su-ara jerit lengking yang aneh sekali bagaikan bunyi burung hantu dan membuat bulu kuduk orang sa-ma berdiri. Setelah mendengar suara itu, Cu Giok-ceng ba-ru berpaling, tapi gadis pemberani ini pun tak urung menarik napas dingin setelah menyaksikan keadaan itu, bisiknya dengan agak gemetar, “Setan, betul-betul ada setan!”

Waktu itu Bu-sian-gi-su Kwanliong Ciong-leng sudah melihat juga ketiga belas bayangan putih di atas kuburan itu, agak tergetar juga perasaannya.

Tapi bagaimanapun juga ia lebih tua dan ber-pengalaman, sekalipun di dalam hati merasa ter-kesiap, wajahnya tetap tenang, dan mulut mem-bungkam.

Diam-diam ia berpikir, “Heran, masa ada to-koh semacam mayat hidup di dalam dunia persilatan?”

Sementara itu jeritan melengking itu telah ber-gema memenuhi angkasa perbukitan, suara yang menggema tiada putusnya ini, mendatangkan pera-saan seram bagi yang mendengarnya.

Berbareng dengan suara seram itu, bayangan putih di atas kuburan itu mulai bergerak, tiga so-sok di antaranya mulai berlompatan ke depan.

Gerak-gerik mereka persis seperti mayat hidup, ketika bergerak kakinya kaku lurus dan melompat dengan menggunakan tenaga pantulan pada tumit, kedua tangan lurus ke bawah, mata yang hijau me-lotot tak bergerak, bagaimanapun dipandang sama sekali tidak membawa bau manusia.

Tiba-tiba Cu Giok-ceng berpaling ke arah Bok Ji-sia kemudian katanya, “Hei, orang she Bok, be-ranikah kau menghajar setan?”

Ji-sia tersenyum, “Kalau kau tidak memukul mereka, maka mereka yang akan menghajarmu.”

Sementara pembicaraan berlangsung, ketiga sosok bayangan putih itu sudah melompat maju lebih dekat, sekarang mereka dapat melihat lebih jelas muka mayat hidup itu, mereka sama menyurut mundur dua langkah oleh wajah yang menyeringai seram itu.

Tiba-tiba Ji-sia menjerit kaget, “Ah, mereka berasal dari Thian-seng-po….”

Belum habis teriakannya, sesosok mayat hidup itu telah mencengkeramnya.

Mayat hidup yang lain berbareng juga menye-rang Cu Giok- ceng, lengan yang lurus terjulai itu mendadak menyambar muka yang cantik itu.

Sekilas pandang Cu Giok-ceng dapat melihat jari tangan mayat hidup itu berwarna kehijau-hijau-an, segera teriaknya, “Hei, orang she Bok, hati-hati dengan jari mereka, agaknya beracun yang sangat jahat…”

Sambil berkata ia melompat ke samping untuk menghindar. Gagal dengan serangannya, mayat hidup itu melompat pula ke depan dengan cepat, kedua ta-ngannya menghantam sekaligus.

Sewaktu berkelit tadi, Cu Giok-ceng telah me-lolos pedangnya, cahaya berkilauan segera membelah angkasa, langsung ia menabas lengan mayat hidup itu.

“Cring!” ketika pedang yang tajam mengenai lengan mayat hidup, kecuali bunyi nyaring itu ter-nyata tidak menimbulkan cacat pada sasarannya.

Kejadian ini sungguh menggetarkan hati Cu Giok-ceng, segera terpikir olehnya bahwa mayat hidup itu bukan setan gadungan melainkan setan sungguhan, sebab pedangnya meski bukan pedang mestika yang bisa memotong emas seperti memo-tong tahu, tenaga dalam macam apapun takkan mampu menahan serangannya, asal tabasan itu kena sasarannya niscaya tubuh lawan akan terpapas, sebab itulah ia percaya makhluk aneh itu bukan manusia. Sementara itu Bok Ji-sia telah menghimpun te-naga dan menghantam mayat hidup itu dengan jurus Thi-cui-ki-ciong (palu baja memukul genta), angin pukulan yang maha dahsyat segera menyam-bar ke muka.

Dengan cekatan mayat hidup itu melompat ke samping menghindarkan pukulan itu. Kemudian me-lompat lagi ke muka, cakar setan sebelah kanannya tahu-tahu menyambar dari sudut yang tak terduga. Ji-sia menggeser ke samping, kedua tangan serentak didorong ke depan.

Agaknya mayat hidup itu jeri juga pada pu-kulan Bok Ji-sia yang kuat, ia tak berani menyam-but dengan kekerasan, mendadak ia melompat ke samping.

Jangan kira mayat hidup itu bertubuh kaku dan lamban, ternyata gerakannya dilakukan dengan, cekatan dan gesit.