Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 06

Jilid 06

Laki-laki di sebelah kanan menjawab, “Mula-mula kami mendengar suara kucing mengeong, ham-ba sekalian sadar pasti ada kejadian yang tak beres, maka dua orang melakukan pemeriksaan, ketika ke-mudian mendengar dua kali dengusan tertahan, ka-mi yang berada dalam garda dengan cepat berpaling, siapa sangka saat itulah jalan darah kami tertutuk sehingga sama sekali tidak melihat apa yang terjadi.” Lamkiong Giok tertawa dingin, “Ilmu silat me-reka amat lihai, tentu saja kalian bukan tandingan-nya. Tapi kalian telah melalaikan tugas, tahukah apa hukumannya?”

Menggigil orang-orang itu karena ketakutan, “Hukuman mati…”

Bok Ji-sia terkejut menyaksikan wajah Lamkiong Giok memancarkan wibawa sebesar itu.

“Matipun masih kurang bagi dosa kalian,” kata Lamkiong Giok dengan hambar, “tapi mengingat aku sedang membutuhkan tenaga orang sekarang, maka hukuman itu bisa diubah menjadi hukuman lain. Nah, berdiri semua!”

Dengan girang keempat orang itu segera ber-seru, “Terima kasih atas kebaikan Siaucengcu…..”

Belum lagi selesai ucapan mereka, empat titik cahaya putih menyambar keluar disusul empat kali jeritan ngeri yang menyayat hati. Darah segar berhamburan, tahu-tahu buah ke-pala keempat orang itu sudah menggelinding ke tanah. Keempat jalur sinar putih itu berputar di udara dan menyusup kembali ke balik ujung baju Lamkiong Giok.

Bergidik hati Ku Thian-gak, Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling menyaksikan kekejaman orang, ter-utama caranya membunuh orang sambil tersenyum itu, ilmu senjata rahasianya sungguh luar biasa, se-kalipun seorang jago lihay yang diserang, dalam ja-rak sedekat ini rasanya sulit juga untuk menghindar.

Lamkiong Giok sama sekali tidak memandang mayat itu, kepada keempat laki-laki lain ia berkata de-ngan dingin: “Gusur mayat mereka dari sini!”

“Lamkiong Giok,” Tong Yong-ling berseru dengan wajah dingin, “Jika kau tidak mau melepaskan kami, ayo sekarang juga boleh kita turun ta-ngan!” Memandang wajah Tong Yong-ling yang ayu, muka Lamkiong Giok yang mengerikan itu ber-ubah menjadi lembut dan ramah, ia tersenyum.

“Nona Tong,” demikian sahutnya, “mana Siaute berani kurangajar padamu, kalau ingin pergi silahkan pergi sekarang juga!”

“Ku-cianpwe, ayo kita pergi!” kata Ji-sia ti-ba-tiba kepada Ku Thian-gak. Tanpa berpaling ia berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Mendadak Lamkiong Giok bertepuk tangan tiga kali. Bayangan manusia berkelebat, tiba-tiba laki-laki baju hitam yang berdiri di sekeliling tempat itu bergerak mendekat semua, pedang dilolos, secepat kilat mereka mambentuk sebuah barisan yang membendung sekeliling tempat itu.

Dengan sinar mata tajam Bok Ji-sia berpaling, katanya sambil tertawa dingin, “Lamkiong Giok, percuma pengepunganmu ini, kau tidak lebih hanya mengirim anak buahmu pulang ke akhirat!”

“Saudara, jangan takabur dulu, kenapa tidak coba menerobos kepungan mereka?” jengek Lam-kiong Giok.

Sementara itu, Hek to-su-koay tiba-tiba tampil ke muka dan menghampiri Bok Ji-sia.

Cepat Tong Yong-ling membentak, “Su-koay, kalian tahu malu tidak, mau main kerubut?”

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba Eng jiau Jiu Hou Wi-kang bergerak ke muka, tangan kiri se-cepat kilat mencengkeram anak muda itu. Ketika cengkeraman Eng-jiau-jiu itu hampir mengenai tubuhnya, mendadak Ji-sia berkelit ke samping, dan berbareng itu tangan kanannya mem-bacok ke muka dengan jurus Sin-liong-jut-in (naga sakti muncul dari mega).

Semenjak memperoleh tambahan tenaga murni dari Oh Kay-gak, walaupun pemuda itu merasakan tenaga dalamnya bertambah kuat, ia sendiri tak tahu berapa besarkah tenaga serangannya, padahal dalam setiap pukulannya dia hanya sertakan enam bagian tenaga dalam. Terasalah angin pukulan rnenderu-deru bagai-kan gulungan ombak samudra dengan cepatnya mendampar ke depan. 

Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang berempat merupa-kan jago lihay golongan hitam yang tersohor, ter-utama ilmu cakar elangnya sungguh suatu kepan-daian yang lihai.

Semula ia tak pandang sebelah mata terhadap Bok-Ji-sia, ia kira cengkeraman kilatnya yang ja-rang bisa dihindari jago persilatan itu pasti sukar dihindari pula oleh seorang pemuda tanpa nama, ia baru terperanjat setelah menyaksikan Ji-sia tetap berdiri di tempat semula meski serangannya sudah menyambar tiba.

“Jangan-jangan orang ini berilmu sakti.” demikian ia berpikir.

Serentak ditambahnya dua bagian tenaganya, kecepatannya pun berlipat. Siapa tahu serangan ini pun menemui kegagal-an, ia lebih terkejut lagi melihat gerak tubuh lawan yang aneh, ia menjadi nekat, dihimpun segenap tenaganya untuk membinasakan musuh dengan sekali pukul.

Dalam pada itu angin pukulan Ji-sia telah me-nyambar tiba. Bagaimanapun Hou Wi-kang adalah seorang jago kawakan, begitu melihat serangan musuh sa-ngat hebat, ia tak berani memandang enteng lagi kepada musuh, hawa murni segera dihimpun pada telapak tangan kanan dan menyambut pukulan Ji-sia.

Ketika kedua gulung angin pukulan terbentur, debu pasir segera beterbangan. Sekalipun dalam keadaan terburu-buru sehing-ga tidak mengerahkan tenaga secara sempurna, da-lam serangan tersebut Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang telah menggunakan tujuh bagian tenaga dalamnya. Siapa sangka, akibat benturan tersebut tubuh-nya tergetar mundur empat langkah, tentu saja hal ini membuatnya terkesiap. Bukan cuma dia yang kaget, lebih kaget ada-lah kawanan jago silat yang berada di sekeliling gelanggang.

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong, si manusia paling licik dan paling banyak tipu muslihat itu telah mem-punyai rencana menggunakan kekuatan Su-koay untuk melawan Lamkiong Giok, oleh karena itu ia perlihatkan sikap kuatir terhadap keempat orang itu. Begitu Eng-jiau jiu kalah satu gebrak, segera ia melompat maju dan menubruk Bok Ji-sia dari belakang.

“Bok-siangkong, awas belakang.” Tong Yong-ling menjerit kaget.

Ji-sia telah menguasai ilmu yang tercantum da-lam kitab Jiat-in-siang-gi-pit-keng, begitu mendengar deru angin dari belakang, tanpa berpaling lagi lengan kirinya berputar dan melancarkan bacokan ke be-lakang.

Jangan kira serangan ini dilancarkan tanpa ber-paling, sesungguhnya baik ketepatan maupun keli-haian, sedikit pun tak kalah dengan serangan biasa, segulung angin tajam langsung menumbuk tubuh Tok-sim Siu-su.

Bu Yan-hong, si sastrawan berhati keji ini ter-masuk pula seorang jago kawakan yang berpenga-laman, ketika melambung ke udara tadi, ia telah membuat persiapan yang cukup, maka begitu Bok Ji-sia melancarkan serangan segera ia pentang ta-ngan dan mendadak melambung lima depa lebih tinggi ke udara, angin menderu menyambar lewat di bawah kakinya.

Begitu kaki menempel tanah, serentak Bu Yan-hong mendorong kedua telapak tangannya dengan kuat. Serangan ini mempergunakan segenap kekuatan-nya, hebat luar biasa, angin dahsyat langsung me-numbuk iga kiri Bok Ji-sia. Pada saat yang sama, Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang mengayunkan telapak tangannya menghantam punggung pemuda itu. Rupanya mereka berniat membinasakan Ji-sia lebih dulu, kemudian baru membereskan Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling.

Tentu saja Ku Thian-gak berdua terperanjat, sambil tertawa dingin Ku Thian-gak berkata, “Hm, kalian adalah jago-jago kenamaan dunia persilatan, tidak malukah mengerubuti seorang angkatan muda secara licik? Apakah kalian tidak kuatir ditertawa-kan orang bila kejadian ini tersiar?”

Di tengah seruan tersebut, serentak kedua orang itu menerjang maju.

“Mundur kalian berdua!” bentak Kui-tau-kou Tu Leng-mong dan Sat-hong-tok-ciang Ki Thi-hou.

Dua gulung angin pukulan yang kuat menyam-bar ke arah Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling. Dalam pada itu semangat Bok Ji-sia berkobar mendadak demi dikerubut dua musuh, ia tertawa nyaring, tiba-tiba kaki kirinya maju selangkah, tu-buhnya berputar dan kedua telapak tangannya terentangkan ke kiri dan kanan.

Pada saat tangan direntangkan, tiba-tiba ia berputar pula, tangan yang direntangkan itu mendadak ditarik kembali. “Mundur kau!” bentaknya nyaring.

Di tengah bentakan, tangan yang di tarik kem-bali secepat kilat terus melepaskan pukulan…..

Tok-sim Siu-su dan Eng-jiau-jiu merasakan tu-buh berguncang keras, dengan sempoyongan mereka tergetar tiga-empat langkah. Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling juga ter-kejut menyaksikan kejadian ini, kawanan jago lain pun kaget. Lebih-lebih kedua orang aneh yang dipukul mun-dur itu, rasa kaget mereka sukar dilukiskan. Kiranya waktu kedua orang itu melepaskan pukulan dahsyat, tiba-tiba mereka merasakan tenaga betot yang maha kuat, sedemikian besarnya tenaga tarik tersebut sehingga tubuh mereka berdua ter-sedot ke muka.

Pada saat itulah mendadak muncul lagi tenaga yang sangat besar menerjang datang, kontan mereka merasakan darah dalam dada bergolak keras, tanpa tahan tubuh merekapun terdorong mundur dengan sempoyongan. Ilmu silat apakah ini? Sungguh membuat semua orang terperanjat. Tapi setelah mendesak mundur kedua musuh, tiba-tiba Ji-sia juga muntah darah.

Ternyata ia telah mempergunakan ilmu sim-panan Oh Kay- gak, tapi lantaran belum apal cara menggunakan tenaga, hal ini membuat tenaga te-kanan kedua lawan menerjang tubuh sendiri, akibat-nya walaupun kedua orang itu kena dipukul mun-dur oleh tenaga saktinya, tapi isi perut sendiripun ikut terluka sehingga tumpah darah.

Coba kalau tidak begini, bukan cuma terdo-rong mundur saja kedua orang aneh itu, malah mungkin sekali akan terluka parah. Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong heran melihat Ji-sia muntah darah, dia mengira musuh telah terluka parah, secepat kilat ia menerjang maju sambil ber-seru, “Saudara Hou, cepat binasakan orang ini, dia tak punya kepandaian yang berarti.”

Tangan kanan menyambar ke depan, dengan lima jari terpentang ia cengkeram tubuh Bok Ji-sia. Pemuda itu mendengus, tiba-tiba ia berputar, tangan kiri menabas ke depan dengan kelima jari setengah menekuk setengah terbuka, ia balas men-cengkeram pergelangan tangan Tok-sim Siu-su. Serangan itu enteng kelihatannya, padahal sa-saran yang diarah sungguh tepat sekali, putaran tu-buh, menghindar dan balas menyerang, semua ini dilancarkan dalam sekejap mata….. Terkesiap Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong, ia merasa sulit menghindarkan diri dari ancaman ini, lengan kanannya menahan ke bawah, telapak ta-ngan kiri diayunkan atas membacok jalan darah Beng-bun-hiat di punggung Ji-sia.

Setiap gerak serangan jago lihai rata-rata ada-lah serangan mematikan, begitu gagal dengan serangannya, Ji-sia melejit ke udara bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, ia melayang lima de-pa ke depan. Hou Wi-kang tertawa seram, secepat kilat ia menggeser ke belakang Ji-sia, tangannya yang pan-jang secepat kilat membacok ke bawah.

Berbareng itu juga angin pukulan Tok-sim Siu-su Bu Yan- hong juga menggulung tiba. Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, ia mem-bentak sambil miring ke samping, menghindarkan sergapan Eng-jiau-jiu, kemudian mendesak maju mendekati kedua orang musuh. Kedua tangannya beruntun melancarkan se-rangkaian serangan gencar, bayangan telapak tangan menyelimuti angkasa, dalam waktu singkat ia me-lepaskan dua belas kali pukulan berantai.

Serangkaian serangan beruntun Ji-sia ini mem-buat kaget dan kagum kawanan jago di sekeliling tempat itu, Lamkiong Giok juga terkejut, ia tak tahu dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago muda sehebat ini, satu ingatan tiba-tiba ter-lintas dalam benaknya, timbul niat jahatnya.

Tong Yong-ling merasa senang juga melihat kehebatan pemuda itu, sudah dua hari ia berkumpul dengan Bok Ji-sia dan melakukan pertarungan bersama beberapa kali, ia tahu kungfu Ji-sia memang lihay, jurus serangannya amat sakti, tapi ada satu hal yang membuatnya bingung, yakni kemajuan yang dicapai pemuda itu sedemikian cepatnya sehingga melanggar kebiasaan.

Waktu bertarung untuk pertama kalinya di dalam penjara air dulu, semakin lama berta-rung kekuatannya semakin hebat, waktu itu pemuda ini tidak lebih unggul darinya, tapi kekuatan yang ditampilkan malam ini jelas jauh melebihi dirinya, sebab itu ia merasa gembira untuk kemajuan yang dicapai pemuda tersebut.

Diam-diam Ku Thian-gak menghela napas gegetun, semula dia mengira kungfu Bok Ji-sia pa-ling-paling di bawah kepandaian Tong Yong-ling, tapi setelah menyaksikan kehebatannya sekarang, terutama jurus-jurus serangannya yang aneh dan sakti, ia baru sadar bahwa dugaannya meleset.

Sementara itu Bu-Yan-hong berdua merasa be-tul-betul terhina, mereka menganggap terdesaknya mereka berdua secara berulang oleh seorang bocah tanpa nama sehingga kalang kabut, jelas merupa-kan kejadian yang memalukan, hawa napsu mem-bunuh segera menyelimuti wajah mereka.

Ketika Ji-sia sedang berhenti menyerang untuk ganti napas, mendadak Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang membentak, kedua tangannya meaggetar, angin pu-kulan yang dahsyat segera menggulung datang dari sudut yang aneh dan langsung menerjang jalan da-rah penting di dada Ji-sia. Rupanya Ji-sia sudah gusar pula, ia tertawa dingin, ia berputar kencang, menghadap ke arah lain, telapak tangan kiri berjaga, tangan kanannya segera balas mencengkeram pergelangan tangan Eng-jiau-jiu.

Merasa serangannya menemui sasaran kosong, Eng-jiau-jiu sudah merasa keadaan tidak mengun-tungkan, cepat ia melompat mundur. Tapi pada saat itulah dari mencengkeram tiba-tiba Ji-sia ubah serangannya menjadi pukulan yang telak kena bahunya, kontan ia mencelat se-jauh satu tombak lebih. Untung tenaga dalamnya cukup sempurna, sehingga ia tak sampai roboh, ta-pi agak sempoyongan juga.

Bok Ji-sia tidak mau melepaskan korbannya, begitu dilihatnya Eng-jiau-jiu kena dipukul terluka, segera ia siap menyusul ke depan, saat itulah Tok-sim Siu-su membentak, dengan dahsyat menerjang tiba. Ji-sia paling benci pada manusia licik macam Bu Yan-hong, kening bekernyit, sebelum musuh sempat turun tangan, telapak tangannya dirangkap menjadi satu sambil berputar, lalu didorong ke depan menghajar dada lawan.

Sebagai gembong golongan hitam, tak sedikit jumlah jago yang pernah dihadapi Tok-sim Siu-su, tapi belum pernah ia menjumpai pukulan seperti yang digunakan Ji-sia sekarang, setelah tahu musuh terlalu lihai, ia tak berani lagi pandang enteng la-wan, buru-buru hawa murni dihimpun, tubuh yang sedang menerjang ke muka tiba-tiba mendak ke bawah, telapak tangan kirinya langsung menolak keluar……

Ji-sia maju selangkah ke depan, kedua tangan direntangkan, tangan kiri berubah mencengkeram menyambar tangan Bu Yan-hong yang menyerang, sedangkan tangan kanan tetap langsung menghan-tam dada lawan.

Perubahan serangan ini sungguh diluar du-gaan orang, lagipula amat cepat, kawanan jago si-lat golongan hitam itu menjadi kaget dan keluar keringat dingin. Untung dia adalah gembong iblis yang sudah berpengalaman, meskipun kaget, permainannya ti-dak menjadi kalut, cepat ia menyurut mundur.

Kemarahan Ji-sia makin membara, ia bertekad menjatuhkan musuh, tentu saja ia tidak membiar-kan lawan kabur dari cengkeramannya, ia melayang maju, belum lagi Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong ber-diri tegak, hawa panas telah menempel di dada, ha-wa pukulan yang berat seperti bukit karang me-nindihnya hingga tak dapat bernapas.

“Saudara, jangan bertindak keji!” tiba-tiba se-orang membentak.

Bayangan orang berkelebat lewat, Ji-sia merasa-kan angin pukulan lembut menerjang tiba dari sam-ping. Ji-sia terperanjat, tangan kanan bergeser me-nyongsong datangnya sergapan. Tapi segera Ji-sia merasakan tubuh bergetar, kedua gulung tenaga pukulan yang saling bertemu seketika lenyap tak berbekas, sedang kedua pihak pun sama-sama merasakan pundak bergetar keras. Dengan sinar mata tajam Ji-sia berpaling, di-lihatnya Huan-in-kiam Lamkiong Giok dengan ter-senyum sedang mengangguk padanya.

“Saudara Bok, ilmumu sungguh hebat dan mem-buat  Siaute kagum,” katanya sambil menjura, “hari ini benar-benar terbuka mataku, bila aku salah me-nilai dirimu, harap sudi dimaafkan.”

Ji-sia berkerut kening mendengar perkataan itu, iapun merasa terkejut akan kehebatan orang yang berhasil memunahkan serangannya dengan sekali kebasan, tampaknya kesempurnaan tenaga dalam orang betul-betul sukar diukur. Sementara ia merasa kagum, Lamkiong Giok juga merasa terkejut akan kelihaian anak muda itu sebab bentrokan yang terjadi barusan membuat da-rah dalam dadanya bergolak.

“Sungguh hebat kepandaianmu!” puji Kwanliong Ciong- leng, “dengan usia semuda ini ternyata ber-hasil memiliki kepandaian begini hebat, rasanya sukar menemukan seseorang angkatan muda lain yang berkepandaian seperti dirimu.”

“Betul!” sambung Lamkiong Giok sambil ter-tawa, “siapa pula dalam dunia persilatan dewasa ini yang bisa mengikuti kehebatan saudara Bok?”

“Bagaimana dengan guruku Bwe-hiang-sian-ki?” ka-ta Tong Yong-ling-dengan suara dingin.

Sambil tertawa dingin Kwanliong Ciong-leng berkata, “Bwe- hiang-sian-ki dari Han-bwe-kok ter-cantum dalam urutan Bu- lim-jit-coat, sudah barang tentu ilmu silatnya tak boleh dianggap enteng, jika dia tekun berlatih selama delapan belas tahun, hasil-nya memang memadahi, cuma sekalipun ia berlatih diri dengan tekun, pihak lawan juga berlatih dan takkan selisih terlalu banyak. Nona Tong, menurut perkataanmu, apakah Bok-lote ini juga murid guru-mu?” Tong Yong-iing mendengus, “Hm, siapakah yang tidak  tahu guruku tak pernah menerima mu-rid lelaki? Hm, sudah tahu pura-pura bertanya. Te-rus terang kuberitahukan kepada kalian, dia adalah anak didik Susiok guruku!”

Walaupun Bok-Ji-sia tak ingin mengaku orang lain sebagai gurunya tapi dalam keadaan demikian terpaksa dibiarkan si nona berbohong.

“Kalau begitu nona Tong harus memanggil  Bok-lote sebagai susiok,”seru Lamkiong Giok sam-bil tertawa. lantas siapa pula Susiokcou (kakek guru) kalian?”

Tong Yoog-ling tahu orang sedang menyindir-nya, keruan ia mendongkol, bentaknya, “Apakah kalian memang bermaksud mencari urusan dengan nona? Hm, terus terang, Susiokcouku berwatak aneh sekali, sejak tamat belajar belum pernah melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, beliau sangat menyayangi murid satu-satunya ini, bila menerbitkan kemurkaan beliau, dunia persilatan tentu akan diobrak-abrik, sekalipun ayahmu Lamkiong Hian juga belum tentu sanggup menahan dua puluh ge-brakannya.”

Dia adalah gadis yang cerdik, ia sadar bilama-na sampai beberapa orang yang licik dan jahat ini tahu Bok Jt-sia adalah murid kesayangan Oh Kay-gak, akibatnya beberapa macam benda mestika mi-lik anak muda itu pasti akan diincar orang, kalau sampai begitu, keadaan tentu bisa runyam.

Oleh karena itulah, sengaja ia menyusun cerita bohong untuk menggertak mereka, sedemikian sempurnanya ia berbohong hingga hakikatnya, tiada ti-tik kelemahan sedikit pun, sekalipun lawannya orang licik dan cerdik, untuk sementara merekapun dibi-kin ragu untuk bertindak. Soalnya merekapun tidak tahu jelas apakah Bwe-hiang-sian-ki benar mempunyai Susiok atau tidak, padahal mana ada Susiok Bwe- hoa-sian-ki yang masih hidup di dunia? Tapi di antara beberapa orang gembong iblis itu, ada satu orang yang mengetahui keadaan sebe-narnya. Sebetulnya orang persilatan tak ada yang tahu Oh Kay-gak telah dikenakan tahanan dalam ben-tengnya kecuali sembilan ketua perguruan besar, apalagi tentang kematian Oh Kay-gak, lebih-lebih tak diketahui umat persilatan, tapi entah mengapa ternyata Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng yang licik itu mengetahui semua persoalan ini dengan jelas.

“Hah, mana ayahku bersedia untuk berjumpa dengan Susiokcoumn itu,” kata Lamkiong Giok sam-bil tertawa.

“Kalian mengatakan bahwa jago silat paling top dalam dunia persilatan sekarang adalah Oh Kay-gak, Lamkiong Hian dan Kiu-thian-mo-li, tapi sia-pakah di antara ketiga orang itu yang paling lihay?” kata-Bok- Ji-sia dengan dingin.

Sambil tertawa jawab Bu-siang-gusi Kwanliong Ciong-leng, “Bila bicara tentang kemampuan mere-ka dulu, boleh dibilang seimbang, tapi masih ada pula sedikit selisih yang kecil sekali, maka dapat dikatakan Kiu-thian-mo-li yang paling hebat di an-tara ketiga orang itu, Lamkiong Hian kedua dan Oh Kay- gak paling akhir.”

Mendengar Kwanliong Cioag-leng mengata-kan kungfu Oh Kay-gak paling rendah, hati Ji-sia menjadi gusar dan segera mendengus dengan nada menghina.

Seperti diketahui, ia telah menerima budi kebaikan yang tak terkirakan dari Oh Kay-gak, gu-runya ini merupakan satu- satunya penolong yang memberi kesan dalam baginya, tentu saja Ji-sia tak tahan mendengar perkataan yang merendahkan na-ma Oh Kay-gak.

Dengan dingin ia bertanya pula, “Apakah me-reka bertiga pernah saling beradu kepandaian?”

Kwanliong Ciong-leng tersenyum, sahutnya, “Mereka bertiga terlibat dalam suatu hubungan budi dan dendam yang tak terselesaikan, tentu sa-ja pernah saling beradu kepandaian, cuma belum pernah ada orang yang melihatnya.”

“Kalau cuma mendengar cerita kosong saja, hmm, mana boleh sembarangan bicara?” Ji-sia ter-tawa dingin. “Ketahuilah bahwa Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay-gak adalah seorang gagah yang tiada tandingannya, baik kecerdasan maupun ilmu silat yang dimiliki, hampir semua inti ilmu dari pelbagai aliran yang ada dalam dunia persilatan dipahami olehnya, sedang Kiu-thian-mo-li dan Lam-kiong Hian tidak lebih cuma dari aliran sesat, se-kalipun berhasil mencapai kemajuan besar, mana mungkin bisa dibandingkan dengan kehebatan Oh Kay-gak Locianpwe.”

Lamkiong Giok maupun Kwanliong Cioeg-leng marasa gusar sekali mendengar ucapan lawan yang bernada angkuh, tapi sebagai oraag-orang yang licik mereka tidak perlihatkan kemarahan tersebut.

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng segera ter-tawa dan menyahut, “Bok-lote, kau begitu paham tentang keadaan Oh Kay-gak, rupanya punya hu-bungan yang erat dengannya? Oh Kay-gak memang menguasai ilmu silat aliran lurus dan sesat, yang di-pelajari maupun yang dibaca memang luas sekali, tapi bila bicara tentang kemampuannya pada de-lapan belas tahun yang lalu, ia memang selisih se-dikit dibandingkan lainnya, tapi dalam soal penge-tahuan yang luas ia lebih hebat daripada kedua orang itu, cuma sayang…..”

Jelas ia maksudkan sayang Oh Kay-gak telah tiada lagi,  tapi kata “sayang” itu justeru membuat Ku. Thian-gak, Bok Ji- sia dan Tong Yong-ling terperanjat. Lamkiong Giok merasa tidak puas mendengar Kwanliong Ciong-leng mengatakan ilmu silat Oh Kay-gak setelah delapan belas tahun akan melebihi ayahnya, segera ia menjengek.

“Sungguh ingin kulihat pertarungan antara ke-tiga orang itu setelah lewat delapan belas tahun, ingin kulihat kepandaian siapa yang sesungguhnya lebih hebat. Terus terang, kini ayahku telah ber-hasil dengan kedua belas bilah Hui-sian-hui- kiam (pedang terbang berputar), ingin kulihat siapakah dalam dunia ini yang sanggup menahan serangan-nya.”

“Bila ada kesempatan, aku ingin sekali mohon petunjuk beberapa orang Cianpwe ini,” kata Ji-sia tiba-tiba sambil tertawa dingin.

Ucapannya yang takabur ini disambut rasa kaget oleh semua orang, bukan hanya Lamkiong Giok sekalian yang berperasaan demikian, bahkan Ku Thian-gak dan Tong Yong- ling pun terkejut atas kejumawaan pemuda itu.

“Sikap gagah saudara Bok sungguh membuat orasg merasa kagum” kata Lamkiong Giok sambil tertawa, “tapi sebagai angkatan muda, rasanya ku-rang pantas membicarakan persoalan beberapa orang Cianpwe itu.”

Ji-sia mengira orang hendak menantangnya ber-tarung, dengan dingin segera tegurnya, “Apakah kau merasa lebih pantas berduel dengan diriku?”

Lamkiong Giok tertawa misterius, katanya, “Bila naga dan harimau berkelahi, akhirnya salah satu di antaranya akan terrluka, kehebatan saudara Bok cepat atau lambat pasti akan kucoba, tapi aku lebih suka lagi jika kita dapat bekerja sama untuk bersama-sama menjagoi dunia persilatan.

“Soal mestika yang kubicarakan malam ini ra-sanya saudara Bok sekalian juga telah mendengarnya, bila ada maksud, aku bersedia bekerja sama dengan kalian, kemudian kita berdua boleh berduel untuk menentukan mestika itu bakal menjadi milik siapa?”

Melihat Lamkiong Giok mengajak Ji-sia ber-tiga untuk berkomplot, Hek-to-su-koay merasa gu-sar sekali.

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong segera tertawa di-ngin, katanya dengan sinis, “Lamkiong Giok, tidak-kah kau rasakan tindakanmu itu tidak bersahabat?” Lamkiong Giok sama sekali tidak menggubris teguran Tok- sim Siu-su, dengan tersenyum ia masih menanti jawaban Bok Ji-sia.

Ji-sia berpikir sebentar, lalu jawabnya dengan dingin, “Soal pertarungan antara kita tak perlu di-putuskan karena mestika, lain hari boleh kau tetapkan waktunya saja, orang she Bok pasti akan melayanimu. Tentang kerja sama, maaf jika aku tak suka berkomplot dengan orang, jadi terpaksa harus mengecewakan harapanmu, kini aku ingin mohon diri lebia dulu.”

“Baiklah,” ujar Lamkiong Giok sambil tertawa, “setiap orang mempunyai pendirian sendiri, tak ingin kupaksa orang. Soal beradu kepandaian, lain waktu pasti akan kulayani kau.”

Ji-sia segera berpaling ke arah Ku Thian-gak sambil berkata, “Locianpwe, mari kita pergi!”

Sambil berkata, dengan langkah lebar ia ber-jalan mendekati kedua puluh empat orang laki-laki kekar itu……

Dengan pedang yang terhunus dan gemerlapan, kawanan laki-laki berbaju hitam itu tetap berada pada posisi masing- masing, tampaknya mereka tidak bermaksud menyingkir dan posisi mengepung itu.

“Saudara sekalian, beri hormat dan antar ta-mu!” tiba-tiba Lamkiong Giok memberi perintah.

“Terima perintah!” diiringi seruan tersebut, se-rentak kedua puluh empat orang laki-laki berbaju hitam itu menyarungkan pedangnya, di antara berkelebatnya bayangan manusia, dengan cepat mereka berbaris dan membungkukkan budan.

Diam-diam terkejut juga Ji-sia sekalian me-nyaksikan kejadian itu, Lamkiong Giok betul-betul berwibawa, setiap perintahnya tak ada yaog berani membangkang. Dengan langkah lebar Ji-sia, Ku Thian-gak dan Tong Yong-ling berlalu dari sana meauju ke arah tanah pekuburan di sebelah benteng Thian-seng-po.

Di tengah jalan, Ku Thian-gak menghela napas dan berkata, “Entah permainan apa yang sedang dilakukan Lamkiong Giok? Bila dilihat dari cara kerjanya yang keji, sebenarnya tak mungkin melepas-kan kita dengan begitu saja, Bok-lote, orang itu li-cik dan banyak tipu muslihatnya, ilmu silatnya pun sangat tinggi, di kemudian hari kau perlu hati-hati terhadap siasatnya.”

“Ku-cianpwe, mungkin Lamkiong Giok ter-kejut atas kehebatan ilmu silatnya, lantaran menyadari pertarungan lebih jauh tak akan menghasil-kan apa-apa, maka ia berlagak berjiwa besar,” ka-ta Tong Yong-ling sambil tertawa.

Ku Thian-gak termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Mungkin betul apa yang didu-ga nona Tong, cuma bicara soal kepandaian silat Lamkiong Giok, sulit rasanya jago kenamaan dunia persilatan dewasa ini dapat menangkan dia, bukan-kah kalian sudah menyaksikan keempat bilah pedang terbang Hui-sian-hui-kiamnya tadi? Sungguh tak tersangka ilmu andalan Lamkiong Hian pun sudah di-kuasainya.”

Ji-sia menghela napas sedih, katanya, “’Kesem-purnaan tenaga dalam Lamkiong Giok agaknya ma-sih berada di atas kita semua, orang ini benar-be-nar sukar diraba, lagipula kungfu Bu-sian Gisu pasti juga sangat tinggi, Ai….ilmu silat memang tidak ada batasnya, sekalipun sepanjang hidup kita menyelidikinya, yang diperoleh pun hanya sedikit dan tidak berarti, rasanya tak salah apa yang dikatakan Suhu kepadaku…..”

Sekali lagi dia menghela napas sedih…..

“Bok-siangkong,” Tong Yong-ling berkata sambil tertawa, “kawanan jago persilatan dewasa ini telah berdatangan semua ke tanah pekuburan ini un-tuk mencari pusaka tinggalan Hian- ki-hian-cing, se-karang kau sudah memiliki peta rahasia, kenapa tidak capat-cepat kau selidiki tanah pekuburan ter-sebut?”

Seperti baru mendusin Ji-sia segera berseru, “Ya, hampir saja aku lupa, konon Lamkiong Giok punya peta pula, entah benar entah tidak? Kalau benar, kita mesti mendahuluinya!”

“Orang persilatan itu licik dan mau untung sendiri, tanpa jejak yang pasti, tak nanti mereka berdatangan kemari, kita tak boleh menunda waktu lagi, cepat keluarkan peta itu dan kita bahas ber-sama.”

Ji-sia merogoh sakunya dan mengeluarkan kain kumal tersebut, lalu direntangkan di atas sebuah batu nisan. Langit sangat gelap, tiada bintang tiada rem-bulan, inilah saat menjelang tibanya fajar. Ku Thian-gak mengeluarkan bahan api dan mem-buat obor, sinar terang segera memancar menerangi kain kumal tersebut…..

Di atas kain tertera tulisan “timur-barat-utara-selatan”, melukiskan titik-titik yang merupakan ta-nah pekuburan, sedang di tanah pekuburan antara selatan dan  barat dilukiskan sebuah bangunan aneh yang mirip kuil tapi bukan kuil, sebuah anak pa-nah menunjuk langsung bangunan bagian tengah dengan tulisan: “Tempat penyimpan harta.”

“Ah, rupanya bangunan itu!” Ji-sia dan Yong-ling segera berseru tertahan.

“Kalian sudah berkunjung ke sana?” tanya Ku Thian-gak dengan tertawa, dari sikap mereka dapat diketahuinya mereka tentu tahu tempatnya.

“Ketika keluar dari Thian-seng-po, justeru ka-mi keluar dari liang kubur kuno di samping bangun-an aneh itu, tapi lantaran perut terasa lapar sekali, kami tak memperhatikan keadaan di sekeliling sana,” tutur Ji-sia dengan tersenyum, “tempat yang dimak-sudkan peta ini jelas adalah bangunan tersebut, ruangan tengah dari bangunan yang berbentuk kuil tapi bukan kuil ini mungkin saja adalah sebuah ku-buran besar, dan kuburan itu mungkin adalah tem-pat menyimpan harta.”

Ku Thian-gak menjadi sangat gembira, seru-nya, “Bagus sekali kalau begitu, cepat kita ke sana, segera kusiapkan makanan dan menyusul ke sana! Meskipun Lamkiong Giok sekalian berjanji besok malam baru akan bekerja, namun belum tentu demi-kian, apalagi di sekitar tanah pekuburan itu sudah berada dalam pengawasan kawanan jago dari pelbagai aliran, bila kita mujur dan berhasil mendapat-kan mestika itu, tak bisa dihindari lagi suatu per-tarungan sengit pasti akan terjadi, karena itulah harus kusiapkan sedikit rangsum.”

“Ku-cianpwe harus cepat datang memberi bantuan!” seru Tong Yong-ling.

“Urusan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, be-rangkatlah kalian berdua, tapi kalian mesti hati-hati, setengah jam lagi pasti kususul ke sana.”

Dengan suatu gerakan cepat, Ku Thian-gak melompat ke udara dan lenyap dibalik kegelapan yang mencekam tanah pekuburan tersebut.

Ji-sia menyimpan kembali kain kumal itu dan bangkit berdiri, tapi sewaktu mereka menengadah, dengan terkesiap mereka mundur tiga-empat langkah. Ternyata di atas sebuah kuburan tidak jauh di depan berdiri kaku sesosok bayangan manusia……

Kemunculan yang secara tiba-tiba di tanah kuburan yang menyeramkan menjelang fajar ini se-perti  kemunculan sesosok mayat hidup saja, apalagi saat itu suasana begitu hening dan seram, orang itu berdiri kaku bagaikan sebuah patung.

“Siapa kau?” Ji-sia segera membentak.

Tong Yong-ling dan Bok Ji-sia terkejut, sebab ilmu meringankan tubuh orang benar2 luar biasa, padahal mereka memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, nyatanya orang sudah dekat be-lum juga diketahui, siapa yang tidak terperanjat atas kajadian ini?

Orang itu menyandang sebilah pedang antik di punggungnya, ketika mendengar teguran Ji-sia, dia tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya, la-lu melayang maju ke hadapan kedua muda-mudi itu, “Akulah Oh Kay-thian,” ia memperkenalkan diri, “ingin kutanya apakah kalian ini Bok Ji- sia, murid kakakku Oh Kay-gak serta Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling murid Han-bwe-kokcu Bwe-hiang-sian-ki?”

Suaranya ringan dan santai, tapi dalam pen-dengaran Ji-sia dan Yong-ling cukup membuat air muka mereka berubah hebat.

Tiba-tiba Ji-sia seperti mendengar pula suara seorang yang mengenaskan bergema di sisi telinga-nya, “……Bok Ji-sia, Samteku Oh Kay-thian ada-lah manusia paling licik, dia berilmu tinggi. Kung-fumu sekarang bisa dijejajarkan dengan jago silat nomor satu dewasa ini, bila kau bertemu dengan dia, lebih baik kau hindari saja, kalau tidak…..”

Ji-sia terkesiap dan berpikir, “Habislah sudah, kalau dia berniat untuk merampas ruyung Jian-kim-si-hun-pian, sudah pasti kami berdua bukan tandingannya, apalagi  kepandaiannya menggunakan racun….”

Meski takut, Ji-sia tidak perlihatkan pada wa-jahnya, ia tetap bersikap dingin dan bertanya dengan ketus, “Ada urusan apa kau menghadang jalan kami?”

Fajar sudah mulai menyingsing di ufuk timur, di antara remang cuaca, Bok Ji-sia dapat me-lihat jelas tampang Oh Kay-thian, dia mengenakan jubah panjang berwarna biru, mengenakan ikat ke-pala, muka putih dan mata memancarkan sinar tajam.

Sayang alis matanya tebal seram, bibir tipis melambangkan kelicikan dan kemunafikan, sekulum senyuman selalu menghiasi ujung bibirnya, senyum-an yang berbahaya, membuat orang sukar menduga isi hatinya.

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tertawa ringan, lalu sahutnya, “Hah, tampaknya, kakakku memang pintar mencari seorang ahli waris semacam dirimu, ia betul-betul bisa mati dengan hati tenteram. Se-karang sengaja kudatang kemari untuk mengajakmu merundingkan suatu persoalan.”

Meskipun Bok Ji-sia sangat membencinya dan ingin membunuhnya, tapi sebagai seorang yang cer-dik iapun tahu bahwa kepandaian sendiri masih bukan tandingannya, apalagi Oh Kay-gak almarhum berulang kali telah berpesan agar ia waspada, ma-ka sedapatnya anak muda ini menahan rasa den-damnya.

“Persoalan apa yang hendak dirundingkan?” tanyanya dengan dingin.

“Hendak kurundingkan soal ruyung emas Jian-kim-si-hun- pian,” sahut Oh Kay-thian sambil ter-senyum, “ketahuilah, ruyung itu mempunyai per-soalan besar dan bisa membikin celaka dirimu, aku tidak menakuti kau, bahwa dengan susah payah kakakku Oh Kay-gak telah mendidikmu, bila kau ter-timpa bencana akibat ruyung tersebut, bukankah hal ini sama artinya dengan menyia-nyiakan keinginan dan susah payah kakakku? Maka hendak kurundingkan persoalan ini, bagaimana kalau ruyung ini diserahkan saja kepadaku?”

Ji-sia tertawa hambar, “Sewaktu Suhuku Oh Kay-gak menghadiahkan ruyung ini kepadaku, ber-ulang kali beliau telah berpesan agar tidak mem-pergunakannya secara sembarangan kecuali pada waktu membalas dendam, jadi tak mungkin soal munculnya kembali ruyung dalam dunia persilatan bisa tersiar, apalagi Suhu pun berpesan bahwa ruyung ini merupakan jiwanya yang kedua, ia minta kapadaku untuk menjaga ruyung ini sama penting-nya seperti menjaga nyawa sendiri.” Tiba-tiba Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian meng-hela napas panjang, “Bok Ji-sia, tahukah kau asal-usul ruyung ini?”

“Tidak tahu, tapi bila kau mau memberitahu-kan padaku, tentu saja akan kuperhatikan baik-baik.”

Sekali lagi Oh Kay-thian menghela napas pan-jang, katanya kemudian, “Tahukah kau, mengapa kakakku Oh Kay-gak sampai menyekap diri selama delapan belas tahun dalam ruangan yang terpencil dan mati dalam kepedihan? Kau pasti mengira aku tak punya rasa persaudaraan dan mencelakai kakak sendiri bukan? Padahal bukan begitu hal yang sebenarnya….”

“Sebagaimana kau ketahui, kakakku Oh Kay-gak adalah seorang manusia cerdik berbakat alam, ilmu silatnya tinggi dan berbudi luhur, umat per-silatan sama menaruh hormat kepadanya, siapa sangka dia justeru menjadi celaka dan mati lanta-ran ruyung ini.”

Ucapannya kedengaran menarik, andaikata Ji-sia dan Tong Yong-ling tidak menyaksikan sendiri kekejaman yang telah dilakukan olehnya, niscaya kedua orang itu akan termakan oleh perkataannya dan menaruh simpati padanya.

“Hmm, rupanya kau seorang yang baik hati” ejek Ji-sia, “semua perbuatan dan tingkah lakumu sudah cukup jelas, memangnya bisa palsu? Tentang guruku, bila ada kesempatan di kemudian hari pas-ti akan kuselidiki hingga jelas, pada waktunya nanti pembalasan dendam tentu tak terhindar. Bi-la sekarang kau ingin membunuh orang untuk me-lenyapkan saksi dan merampas ruyung Jian-kim-si-hun-pian, kami berdua siap menghadapimu.”

Oh Kay-thian sedikitpun tidak gusar oleh sin-diran tersebut, justru di sinilah letak kelihayannya.

“Kau jangan salah paham,” katanya lembut, “aku hanya mengajakmu berunding dan sengaja kubeberkan tentang untung-ruginya menyimpan ru-yung tersebut, soal akan kau serahkan kepadaku atau tidak, terserah padamu sendiri, kau harus tahu ruyung ini menyangkut suatu pembunuhan ber-darah yang keji, bila senjata ini sampai muncul kembali dalam dunia persilatan, pergolakan besar pasti akan terjadi, apalagi bila diketahui ruyung ini berasal dari tangan kakakku, nama baiknya di masa lalu pasti akan menjadi rusak sama sekali.”

Ji-sia terkejut mendengar perkataan itu, pikir-nya, “Bila dilihat dari ungkapan perasaan menjelang kematian Suhuku, tampaknya rasa dendam yang mencekam perasaannya selama ini memang me-nyangkut ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian ini, kalau begitu peristiwa tersebut memang betul da-pat mempengaruhi nama baiknya……”

Karena Ji-sia merasa berhutang budi kepada Oh Kay-gak, ia tak rela membiarkan nama baik-nya menjadi rusak akibat ruyung ini.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak-nya, kembali ia berpikir, “Bila Suhu beranggapan ruyung ini bisa mempengaruhi nama baiknya, ke-napa beliau meminta aku melindungi ruyung ini dengan segenap jiwa raga? Konon ruyung ini menyangkut sejumlah mestika yang menggetarkan hati setiap orang persilatan, aku harus waspada, dan jangan sampai kena ditipu bajingan ini

Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Aku berhutang budi setinggi bukit kepada Suhu, setelah ia menghadiahkan ruyung kepadaku berarti segala akibatnya telah diperhitungkannya, jika seperti apa yang kau ucapkan, ruyung ini menyangkut urusan guruku, maka sekalipun harus menyeberangi lautan api akan kutanggung segalanya, tapi kalau menyu-ruh kuserahkan ruyung ini kepada orang lain, tak mungkin kulakukan.”

Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian tidak terpengaruh oleh perkataan itu, katanya lagi sambil tertawa, “Baiklah, kalau kau tidak percaya akupun tak bi-sa berbuat apa-apa, aku tak ingin mengganggu le-bih lanjut, semoga saja ruyung itu bisa kau simpan baik-baik dan jangan biarkan orang persilatan me-ngetahui hal ini, kalau tidak, bencana besar pasti berada di ambang pintu. Nah, mohon diri dulu.”

Habis berkata Oh Kay-thian memutar tubuh dan berlalu dari situ, sekejap saja ia telah lenyap di balik remang pagi. Tindakan Oh Kay-thian yang pergi tanpa me-lakukan sesuatu tindakan membuat tertegun Bok Ji-sia dan Tong Yong-ling.

Terbayang kembali apa yang dialaminya selama beberapa bulan ini, sungguh seperti mimpi saja, ter-utama perjumpaannya dengan Oh Kay-thian hari ini, ucapan serta tingkahnya menimbulkan macam-macam pikiran dalam benaknya.

Padahal, mereka tidak tahu sebabnya Oh Kay-thian tidak turun tangan keji kepada mereka hari ini adalah karena ilmu jahat yang sedang dilatih-nya belakang ini belum mencapai kesempurnaan. Selain itu, dia tak pandang sebelah mata kepa-da Bok Ji-sia, ia yakin ruyung emas Jian-kim-si-hun-pian akhirnya akan jatuh ke tangannya, maka ia tidak melakukan tindakan apa-apa hari ini.

Tong Yong-ling menghela napas memecahkan pergolakan pikiran Ji-sia, ujarnya, “Bok-siangkong, tak perlu kita pikir lagi, mari berangkat ke ba-ngunan itu.”

Ji-sia menghela napas sedih, gumamnya, “Du-nia persilatan memang arena adu kelicikan dan ke-pandaian, semua hal sukar untuk diduga.”

Setelah menghela uapas, kedua orang itu me-ngerahkan ilmu meringankan tubuh dan cepat ber-angkat ke bangunan aneh di barat-daya itu. Tak lama kemudian, Ji-sia berdua tiba di tem-pat tujuan, tapi apa yang terlihat membuat mereka tertegun.

Ternyata berpuluh orang jago persilatan dari empat  penjuru telah berkumpul di situ. Apalagi setelah menyaksikan kawanan jago yang berada di sekeliling tempat itu, dadanya serasa dipukul oleh martil, bukan karena takut kepada kawanan jago itu, tapi ia bergidik atas bahayanya dunia persilatan serta cepatnya berita itu tersiar.

Di sebelah barat, tampak rombongan Thian-seng-po dipimpin langsung oleh Thian-seng-kiam Oh Ku-gwat, ia berdiri didampingi Im-hong-siu (kakek angin dingin) Kui Kok- hou, Mo-in-jiu (tangan sakti peraba awan) Kok Siau-thian, juga si kakek berwajah seram dan sekawanan laki-laki berbaju ringkas.

Di sebelah selatan, tampak rombongan Kiam-hong-ceng yang dipimpin oleh Huan-in-kiam Lam-kiong Giok didampingi Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng, Hek-to-su-koay beserta kedua puluh empat laki-laki dari Kiam-hong-ceng serta kawanan jago golongan hitam anak buah keempat manusia aneh itu.

Di sebelah timur, tampak sekawanan jago per-silatan yang terdiri dari aneka macam manusia, ada jago dari golongan putih ada pula jago-jago dari Bu-lim-su-toa-to, tapi pimpinan keempat pulau be-sar sendiri tak nampak batang hidungnya. Kawanan jago persilatan itu biasanya sangat jarang bertemu satu sama lain, masing-masing pun menjagoi daerahnya sendiri-sendiri, mereka berkum-pul semua di sini sekarang, tapi tak seorang pun di antara mereka yang berbicara.

Dangan langkah perlahan Ji-sia dan Yong-ling maju ke depan melalui arah selatan di mana ka-wanan jago Kiam- hong-ceng berada.

Melihat kemunculan kedua orang ini, Huan-in-kiam Lamkiong Giok terbahak-bahak, “Hahaha, saudara Bok, nona Tong, rupanya kalian juga ikut meramaikan suasana di sini? Hahaha, sungguh tak terduga! Sungguh tak terduga semua orang akan menghadiri pertemuan besar ini.”

Oh Ku-gwat dari Thian-seng-po merasa terke-jut setelah menyaksikan kemunculan muda-mudi itu, tapi dia adalah seorang yang licin, sambil tertawa katanya, “Bok-siauhiap, nona Tong, sejak kapan kalian datang kemari? Hahaha, kalian benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa, sungguh mem-buat orang kagum.”

Selapis hawa membunuh segera menyelimuti wajah Bok Ji- sia berdua begitu berjumpa dengan Thian-kang-kiam Oh Ku- gwat

“Oh Ku-gwat,” kata Ji-sia dengan geram, “se-bentar kalian akan tahu bahwa pembalasan keji segera akan tiba, sekarang kuberi kesempatan lagi kepadamu untuk hidup beberapa waktu lagi.”

Oh Ku-gwat tersenyum, katanya “Bok-siau-hiap, kita adalah sahabat lama, masa baru berte-mu lagi sudah kau lontarkan kata-kata tak sedap seperti itu?”

Betapa senangnya Lamkiong Giok demi mengetahui kedua orang itu mempunyai perselisihan dengan pihak Thian-seng- po, pikirnya, “Tampaknya kedua orang tenaga pembantu yang berharga ini akan menjadi milikku, hahaha, kalau begitu, posisiku hari ini jelas akan mengalami perubahan…..”

Berpikir demikian, ia lantas menghampiri anak muda itu, sambil menjura dan tertawa katanya: “Saudara Bok, bila kalian berdua bersedia membantu kami, ucapan semalam pasti akan kami laksanakan menurut janji!”

Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat terkesiap mellhat Lamkiong Giok menarik kedua orang itu ke pihak-nya, ia tahu kelihaian kedua orang muda mudi itu, jika sampai berpihak kepada lawan, itu berarti pi-hak sendiri akan terancam.

Cepat ia tertawa, serunya, “Lamkiong Giok, sekalipun kau peroleh bantuan mereka berdua juga percuma, ketahuilah Thian-seng-po letaknya hanya beberapa jengkal dari sini, sebagian besar jago kamipun belum dikirim kemari, hahaha, kalian orang Kiam-hong-ceng sudah ditakdirkan akan tertumpas hari ini.” Yang dikuatirkan Lamkiong Giok selama ini justeru letak Thian-seng-po yang dekat dari situ, kalau tidak, posisinya sekarang jelas sudah lebih unggul dari pihak mana pun. Sekalipun terkesiap di dalam hati, tapi dasar licin, ia tidak memperlihatkannya, sambil tertawa katanya, “Ah, cepat atau lambat pertarungan seru akan terjadi juga antara Thian-seng- po dengan Kiam-hong-ceng.”

“Tak kusangka di wilayah kekuasaan Thian-seng-po ada orang yang berani demikian takabur. Hm, tidakkah orang Kiam-hong-ceng terlampau jumawa?” ujar Oh Ku-gwat dengan tersenyum.

Tok-sim Siu-su Bu Yang-hong tertawa dingin, sindirnya tiba-tiba, “Memangnya tanah pekuburan umum ini adalah tempat khusus untuk mengubur orang-orang Thian-seng-po.”

“Bu Yan-hong!” kakek di belakang Oh Ku-gwat berseru dengan suara yang menyeramkan, “bila kalian ingin terkubur di sini, dengan senang hati orang Thian-seng-po akan mengalah untukmu.”

Mendadak dari luar halaman berkumandang suara gelak tertawa macam gembreng pecah yang keras, menyusul sesosok bayangan bagaikan setan gentayangan bergerak datang dari arah timur.

Orang itu berperawakan tubuh tinggi besar de-ngan dada yang bidang dan pinggang yang kasar, rambutnya terurai sepanjang bahu terikat dengan sebuah gelang emas, wajahnya bercambang hingga terbentuk kuncir-kuncir kecil, ditambah matanya besar dan mulutnya lebar hingga kelihatan angker dan mengerikan.

Rombongan orang di sebelah timur yang se-mula terkulai lemas segera bersemangat kembali se-telah kemunculan orang ini, sebaliknya air muka rombongan Lamkiong Giok dan Oh Ku-gwat sa-ma-sama berubah hebat. Sambil tertawa Bu- sian Gisu Kwanliong Ciong-leng segera memberi hormat kepada orang itu sam-bil berseru, “Saudara In, baik-baikkah selama ini? Masa dari pihak keempat pulau besar hanya kau saja yang datang?”

Ternyata manusia aneh yang bertubuh kekar ini tak lain adalah salah satu di antara keempat pemilik pulau terbesar yang termashur di dunia per-silatan, Cian-ciau-tocu, Ciu-siu- thi-say (singa baja bercambang) In Ceng-bu adanya.

Cian-ciau Tocu, Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu de-ngan matanya yang besar dan memancarkan sinar tajam memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil tertawa katanya, “Ada apa? Jadi kalian menyambut dengan hormat kedatanganku? Hahaha, saudara Kwanliong, perhitunganmu jangan cuma mau untung sendiri, walaupun dari empat pulau besar hanya diriku seorang yang datang, ini saja sudah lebih dari cukup.”

Sejak tadi Bok Ji-sia sudah tak sabar mende-ngarkan pembicaraan yang tiada hentinya itu, ka-tanya segera, “Nona Tong, mari kita ke sana!”

Dengan langkah lebar pemuda itu berjalan masuk ke bangunan yang kuil bukan kuil itu, ter-nyata di dalam adalah sebuah kuburan kuno yang terbuat dari batu hijau.

Ketika Lamkiong Giok melihat Bok Ji-sia ma-suk ke situ, tiba-tiba ia memberi komando, “Bok-siauhiap sudah tak sabar menunggu, ayo lekas ka-lian turun tangan membongkar kuburan itu!”

Empat orang laki-laki berbaju hitam segera muncul dengan membawa alat cangkul, dengan en-teng mereka berkelebat menuju ke ruang dalam…..

Ciu-siu-thi-say adalah seorang laki-laki kasar yang tinggi hati, ketika dilihatnya Bok Ji-sia bersikap angkuh dan tak pandaag sebelah mata ke-padanya, bahkan masuk ke ruang tengah tanpa menggubris yang lain, dengan gusar segera mem-bentak, “Bocah cilik, besar amat nyalimu, ayo ber-henti!” Tubuhnya yang tinggi besar itu secepat kilat menerjang ke belakang Bok Ji-sia…..

Terhadap tubrukan tersebut, Ji-sia sama sekali tak peduli, ia tunggu Ciu-siu-thi-say sudah dekat di belakang baru membentak, “Mundur kau!”

Dengan, suatu gerakan indah ia memutar tubuh sambil melancarkan bacokan dengan tangan kanan……

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu sudah terbiasa meng-umbar kebengisannya, hakikatnya ia tak pandang sebelah mata terhadap Ji-sia, maka sama sekali ti-ada persiapan dalam serangannya.

Ketika dirasakan ada sesuatu tak beres dari serangan lawan, keadaan sudah terlambat, seketika tubuhnya yang tinggi besar termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu, kontan ia tergetar mundur tujuh delapan langkah. Belum pernah Ciu-siu-thi-say dipecundangi orang di muka umum, apalagi dipaksa mundur oleh se-orang pemuda tak ternama, meski hal ini disebab-kan kurang waspada, tapi karena malu dan gusarnya gembong iblis itu segera membentak, sambil melompat ke muka, telapak tangan kanannya segera melancarkan bacokan…..

Tiba-tiba bergema empat kali jeritan ngeri. Kiranya pada waktu keempat orang berbaju hitam dan Kiam-hong-ceng hendak mencangkul batu nisan kuburan, mendadak terhembus keluar segulung angin pukulan berhawa dingin yang sangat aneh, keempat orang itu terpental keluar dari ruang tengah, bah-kan menghancurkan tulang dada mereka, darah berhamburan, kematiannya sangat mengerikan sekali.

Kejadian mendadak ini mengejutkan kawanan jago lainnya, serentak mereka mengerubung ke de-pan. Tapi di sana hanya terdapat sebuah kuburan kuno yang amat besar, tidak tampak tempat sem-bunyi lain. Lamkiong Giok berkerut dahi, serunya, “Jago lihai darimanakah yang bersembunyi di situ dan me-lukai orang, kenapa tidak unjukkan dirimu?”

Kawanan jago yang berkumpul tak ada yang menyangka angin pukulan aneh tersebut memang berasal dari dalam kuburan itu. Ketika bentakan Lamkiong Giok reda, suasana dalam ruangan masih tetap hening….

Puluhan pasang sinar mata tajam dari kawan-an jago persilatan itu sama-sama berpindah ke se-keliling ruang tengah, tapi di sana tiada suatu tem-pat pun yang bisa digunakan orang untuk bersem-bunyi, malah ruangannya kosong, tak tampak se-sosok bayangan pun.

Sambil tertawa dingin Lamkiong Giok kembali membentak, “Kalau kau adalah manusia yang pu-nya kepala dan muka, seharusnya tampilkan diri-mu, buat apa main sembunyi sambil melukai orang?”

Suasana dalam ruangan masih tetap hening dan menyeramkan. Tampaknya kemarahan, Lamkiong Giok sukar dibendung lagi, tapi dasar wataknya licik, tak per-nah perasaan tersebut ia ungkapkan, mendadak pe-rintahnya kepada anak buahnya, “Kirim empat orang lagi untuk membongkar kuburan itu!”

Keempat orang segera tampil ke depan dan mengambil alih alat cangkul dari tangan keempat rekannya yang telah tewas, kemudian pelahan me-reka naik ke atas undak-undakan batu dan masuk ke ruang tengah yang mengerikan itu. Sekalipun sikap keempat orang itu menampil-kan keberanian, sesungguhnya dalam hati mereka tercekam pula oleh perasaan ngeri, tapi peraturan Kiam-hong-ceng sangat keras, hal mana membuat mereka mau-tak-mau harus melaksanakan perintah.

Dalam pada itu, kawanan jago persilatan yang berkumpul di luar ruangan telah membentangkan mata lebar-lebar, mereka awasi gerak-gerik keempat orang yang memasuki ruangan dan berhenti di de-pan kuburan tersebut, namun suasana di sana tetap hening, tak terdengar sedikit, suara pun.

Mendadak dua orang mengangkat martil besar dan dihantamkan pada batu nisan kuburan…..

Pada saat martil hampir menghantam di atas batu nisan itulah, mendadak terdengar lagi empat kali jeritan ngeri. Keempat laki-laki kekar yang berdiri di depan batu nisan itu mencelat keluar ruangan. Suasana menjadi gempar, kawanan jago per-silatan yang berkerumun serentak menyingkir.

“Brak! Brak!” seperti juga keempat orang tadi keempat orang ini menemui nasib yang sama dan tewas secara mengerikan……

Peristiwa ini membuat kaget kawanan jago persilatan lainnya, sebab kematian keempat orang ini persis seperti keempat korban pertama, padahal semua orang telah memperhatikan darimana arah da-tangnya serangan itu, tapi nyatanya tidak seorang pun yang tahu.

Pada hakikatnya serangan itu berhhembus datang tanpa bersuara, yang lebih mengerikan lagi adalah waktu, tempat, kekuatan serta ketepatan sasarannya tak berbeda sedikitpun dengan kematian yang me-nimpa keempat orang pertama tadi. Dari sini terbuktilah betapa tinggi dan lihainya ilmu silat orang itu, sudah barang tentu kawanan iblis dan jago silat yang hadir dapat merasakan pula.

Tiba-tiba Lamkiong Giok mendapat akal, sam-bil tertawa katanya, “Tadi kita masih saling mem-perebutkan pusaka Hian-ki-hian-cing, sekarang kita tak perlu saling berebut lagi, asal ada seorang di antara kita dapat menghancurkan batu nisan ini, maka mestika itu akan menjadi bagiannya, yang lain tidak diperkenankan merebutnya, entah bagai-mana pendapat kalian semua?” “Hahaha, usul yaog bagus!” seru Oh Ku-gwat dengan tergelak, “ucapan Lamkiong-lote memang cocok dengan suara hatiku!”

“Untuk mendapatkan harta pusaka Hian-ki-hian-cing, kurasa saudara semua pasti ingin cepat-cepat turun tangan bukan? Nah, demi kepentingan umum dan untuk menghindari perebutan yang tak berguna, pihakku bersedia mengalah lebih dahulu.”

“Lamkiong-lote” kata Oh Ku-gwat sambil tersenyum, “sedari kapan kau begitu sungkan? Kami terhitung tuan rumah di sini, sudah sepantasnya aku yang mengalah kepada kalian, kupikir lebih baik kalian saja menikmati hak untuk turun tangan le-bih dahulu!”

Sebagaimana diketahui, kawanan manusia per-silatan itu rata-rata adalah berhati licik yang berkumpul dari pelbagai daerah, setiap orang bertekad mendapatkan mestika tersebut, tentu saja tak ada yang rela membiarkan orang lain turun tangan duluan. Tapi setelah menyaksikan kematian kedelapan orang Kiam-hong-ceng, dalam hati mereka mulai menduga bahwa isi kuburan jangan-jangan sudah didapatkan orang lain lebih dulu.

Lamkiong Giok yang licik dan memang mu-suh bebuyutan Thian-seng-po segera mendapat akal untuk meminjam kekuatan manusia aneh itu untuk menumpas lawan-lawannya, habis ini baru ia akan turun tangan untuk membereskan yang lain.

Berpikir demikian, dengan tertawa dingin Lam-kiong Giok lantas berkata, “Oh Ku-gwat, jangan menyesal nanti, memangnya kau kira aku tak mampu membobol kuburan itu?”

Baru habis perkataannya, tiba-tiba terdengar lagi serentetan jeritan ngeri. Delapan sosok mayat kembali terlempar keluar dari dalam. Kiranya pada waktu mereka sedang berbicara orang Bu-lim-su-toa-to bermaksud menghancurkan kuburan itu, tapi alhasil mereka pun menemui kematian secara mengerikan.

Peristiwa ini semakin mengejutkan orang, se-bab kali ini ada delapan orang yang maju bersama tapi baru mendekati batu nisan mereka telah tewas secara aneh, bahkan kalau dilihat tanda kematian mereka ternyata berbeda dengan kedelapan orang Kiam-hong-ceng. Tubuh mereka sama sekali tidak berluka, hidung dan mulut pun tak berdarah, hanya wajah mayat itu berwarna pucat pasi.

Ji-sia dan Yong-ling tak kenal apa artinya ta-kut, tidak urung kali ini mereka pun terkesiap oleh kelihaian orang.

“Bok-siangkong,” kata Yong-ling, “apakah hhembusan angin pukulan yang aneh itu berasal dari da-lam kuburan?”

Ji-sia berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Kukira mestika dalam kuburan itu telah diambil orang, kalau tidak, masakah ada yang memiliki ilmu silat setinggi itu?”

“Bok-siangkong, maksudmu ilmu silat orang dalam kuburan itu sudah melebihi jago kelas satu mana pun di kolong langit?”

“Belum tentu demikian….” Ji-sia geleng ke-pala berulang kali.

Sebenarnya ia hendak mengatakan bahwa kung-fu Oh Kay- gak dapat menangkan ilmu silat orang dalam kuburan itu, tapi di antara kerumunan jago silat yang begitu banyak, ia menjadi waspada dan urung bicara.

Cian-ciau Tocu, Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu yang kena dipukul mundur beberapa langkah oleh Ji-sia tadi, hingga kini masih mendongkol, maka ketika mendengar perkataan tersebut, diliriknya sekejap anak muda itu dengan pandangan dingin, kemudian sindirnya, “Entah jagoan dari manakah saudara itu, sungguh luas pengetahuanmu, maaf jika aku bersi-kap kurang hormat.” Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling meliriknya, lalu mendengus, “Huh, padi sebukit tak bisa menindih mampus seekor tikus, sekalipun tubuhnya segede kerbau ta-pi otaknya bebal, apa gunanya…..?” ia memaki.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu adalah seorang Tocu kenamaan di dunia persilatan, tentu saja ia tak ta-han mendengar dampratan Tong Yong-ling itu, sambil meraung keras mendadak ia melancarkan puku-lan kosong dari kejauhan. Sungguh amat tepat pukulannya itu, segulung angin dahsyat langsung menghantam tubuh Tong Yong-ling.

Dari desing yang menyambar datang, Yong-ling tahu pukulan itu berkekuatan sangat besar, baru saja ia hendak berkelit, tiba- tiba Ji-sia mem-bentak keras, “Hm, mentang- mentag seorang laki-laki, beraninya cuma main sergap terhadap seorang peren puan, tak tahu malu…”

Dengan tangan kiri ia menarik lengan Tong Yong-ling, sambil bergeser ke samping, telapak ta-ngan kanannya melepaskan pukulan balasan. Semenjak memperoleh warisan tenaga Oh Kay-gak, tenaga dalam Bok Ji-sia kian hari kian ber-tambah maju, serangan itu membentur pukulan In Ceng- bu. Ketika kedua gulung tenaga pukulan yang kuat itu bertemu, timbul pusaran angin yang menerbang-kan debu pasir.

Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu mendengus, ia ter-getar mundur tiga langkah, sementara Ji-sia masih berdiri tegak di tempat semula. Adegan ini amat mengejutkan kawanan jago persilatan yang hadir, air mnka mereka berubah he-bat.

Kalau tadi In Ceng-bu terpukul mundur ka-rena kurang waspada, maka mundurnya kali ini akibat adu kekuatan, dari sini menunjukkan bahwa tenaga pukulannya masih kalah bila dibandingkan dengan Ji-sia.

Perlu diterangkan, bahwasanya In Ceng-bu ter-sohor dalam dunia persilatan karena pukulannya yang tangguh, tapi sekarang ia dipaksa mundur pukulan Ji-sia yang dilepaskan seenaknya, siapa yang tidak terkejut dibuatnya?

Lamkiong Giok berkerut kening dan memandang awan di angkasa, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

Betapa hangat dan mesranya perasaan Yong-ling melihat pemuda itu melindunginya, lebih ter-getar lagi hatinya ketika lengan kanannya ditarik, coba kalau di situ tidak banyak orang, tentu ia su-dah menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ji- sia.

Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong dari Hek-to-su-koay sangat dendam kepada Ji-sia, kalau bisa dia ingin menggunakan tenaga orang banyak untuk membinasakannya, ketika dilihatnya In Ceng-bu mengunjuk rasa jeri kepada pemuda tersebut, tiba-tiba ia melirik dan menyindir, “Saudara In, kulihat tenaga pukulanmu kian lama kian bertambah sempurna, sungguh mengagumkan sekali!”

Orang ini memang berakal busuk, ketika di-ketahui kawanan jago yang hadir sama bermusuhan, tampaknya pertarungan sengit sukar terelakkan, maka dicarilah  akal untuk mengobarkan api per-tarungan, agar orang lain bertempur dulu sampai lelah, kemudian dengan kekuatan sendiri yang ma-sih segar, berusaha merebut kemenangan terakhir.

Waktu itu Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu sedang gusar dan tak ada tempat penyaluran, mendengar ucapan Bu Yan-hong, dianggapnya orang sedang menyindirnya, kontan ia naik darah, “’Persoalannya dengan orang she In pasti akan kubikin beres nanti,” katanya dengan geram, “tapi cara saudara Bu bicara sungguh membuat orang tak tahan, ayolah unjukkan kebolehanmu, dengan taruhan nyawa pasti akan kuiringimu.”

Thian-kang kiam Oh Ku-gwat melihat ada kesempatan baik dan segera memanfaatkannya, da-sar licik, melihat dua jago lihai itu bercekcok, ce-pat-cepat ia menimbrung, “Kalau kalian berdua ingin berkelahi, cepatlah dilangsungkan, kuyakin perta-rungan isi pasti suatu pertunjukan yang mena-rik…”

“Mana, mana,” Tok-sim Siu-su Bu Yan-hong ter-senyum, “sekalipun saudara Oh berusaha menyiram minyak untuk mengobarkan api amarah juga per-cuma, tak nanti kau menjadi nelayan yang mujur.”

Muak rasa hati Ji-sia menyaksikan kelicikan orang-orang  itu, maka setelah memukul mundur In Ceng-bu, ia berpaling ke arah lain dan tak sudi memperhatikan orang-orang itu lagi.

Tiba-tiba Lamkiong Giok berseru lantang, “Se-karang lebih baik kalian jangan terlibat dalam per-sengketaan pribadi, selesaikan dulu masalah besar di depan mata, kemudian baru menyelesaikan ma-salah budi dan dendam.”

“Lamkiong Giok, masalah besar apa yang kau

-maksudkan?” tanya Tong Yong-ling lantang.

“Nona Tong, saudara Bok, kalian tentu tahu bahwa kungfu orang dalam kuburan itu lihai se-kali, kemungkinan besar kitab pusaka Tay-khek-hian-ki-hian-ceng serta pil mestika Ji-khi- kun-goan-sin-wan telah ditemukan orang itu. Jika manusia ini dibiarkan muncul ke dunia persilatan, sudah pasti kita akan mengalami banyak rintangan. Me-nurut dugaanku, orang itu pasti sedang berlatih suatu macam ilmu, mumpung ada kesempatan baik, mari kita beramai-ramai melenyapkan orang ini daripada meninggalkan bibit bencana di kemudian hari.”

Ji-sia sangat tidak setuju dengan usulnya yang keji dan jahat itu, pikirnya, “Mestika hanya dibe-rikan bagi mereka yang berjodoh, kalau memang mestika tersebut telah didapatkan orang itu lebih dulu, tidak sepantasnya kita merintangi pertapaan orang, apalagi melenyapkan orang tersebut….”

Bu-sian Gisu Kwanliong Ciong-leng terperanjat juga atas terjadinya perubahan yang tak terduga ini, betapa cerdiknya tak dapat menebak siapakah orang yang mujur tersebut? Pada dasarnya ia memang seorang manusia li-cik, bergelak tertawalah dia, katanya, “Saudara-saudara sekalian, apa yang diucapkan saudara Lam-kiong memang benar,  kedatangan kita sebenarnya adalah untuk mendapatkan kitab Hian-ki-hian- ceng, tapi sekarang telah ditemukan orang, terbukti ilmu silatnya memang tinggi dan tindak tanduknya ke-jam, siapa yang berani menjamin bahwa orang ini tak akan menekan kita di kemudian hari? Maka satu-satunya cara yang paling baik sekarang adalah harus kita bekerja sama untuk melenyapkan orang dalam kuburan ini dari muka bumi.”

Oh Ku-gwat tersenyum, tiba-tiba ia bertanya, “Apa yang diucapkan saudara Kwanliong memang benar, tapi bersediakah semua orang bekerja sama?”

Eng-jiau-jiu Hou Wi-kang dari Hek-to-su-koay tertawa terkekeh-kekeh, “Hehehe, paling-paling yang tak sudi bekerja sama adalah komplotan dari Thian-seng-po. Hm, terus terang, jika kalian enggan bekerja sama guna menghancurkan kuburan ini, maka pusaka yang akan diperoleh tiada bagian lagi untuk kalian.”

“Mana, mana!” Oh Ku-gwat tertawa, “perselisihan antara Thian-seng-po dan Kiam-hong-ceng disebabkan oleh urusan adikku Oh Kay-gak, dengan diriku sendiri sama sekali tiada sangkut paut apa-pun, kalau Lamkiong-siauya mau bekerja sama de-nganku, sudah barang tentu pucuk dicinta ulam ti-ba bagiku.”

Selesai berkata Oh Ku-gwat memimpin orang-orang Thian- seng-po segera bergerak dari sisi kiri menuju ke ruang tengah. Lamkiong Giok, Hek-to-su-koay dan Bu-sian Gisu sekalian orang-orang dari Kiam-hong-ceng pun dari sebelah kanan mendekati ruang itu. Sementara Ciu-siu-thi-say In Ceng-bu beserta sekalian anggota Su-toa-to dan jago persilatan tanpa kelompok bergerak dari arah tengah.

Dalam waktu singkat, segenap jago yang hadir telah bergerak maju mendekati kuburan kuno di te-ngah ruangan, suasana menjadi tegang, hanya Ji-sia dan Yong-ling berdua masih tetap berdiri di tempatnya semula.

Sekejap kemudian semua orang sudah naik anak tangga batu dan berhenti lebih kurang tiga tombak di depan kuburan kuno itu. Tampaknya semua orang masih merasa jeri terhadap ilmu silat manusia aneh dalam kuburan, semua orang tak ingin turun tangan secara gegabah dan menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya.

Dengan suara lantang Lamkionig Giok berseru ke arah kuburan kuno itu, “Siapakah yang berada di dalam kuburan? Bila tak mau unjuk diri lagi, jangan salahkan kami yang hendak menghancurkan kuburan ini.”

Suasana tetap hening, dari balik kuburan ku-no itu belum juga kedengaran suara apapun. Mendadak Lamkiong Giok mengayun tangan kanan dan melepaskan pukulan dari jarak jauh. Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat sege-ra menerjang ke arah batu nisan. Baru saja angin pukulan yang dahsyat itu hendak menghantam batu nisan, mendadak Lamkiong Giok melompat ke samping.

Pada saat itulah dua orang laki-laki berbaju hitam yang berdiri di belakang Lamkiong Giok sa-ma menjerit dan roboh binasa…..

Kejadian ini disambut dengan gempar oleh kawanan jago persilatan yang berada di sekeliling ruangan itu, dalam keadaan kacau serentak mereka mengundurkan diri dari sana.

Lamkiong Giok melirik sekejap kedua sosok mayat yang menggeletak di tanah itu, pikirnya, “Sungguh berbahaya!”

Kiranya sewaktu pukulannya hampir menghan-tam pada batu nisan tadi, mendadak terasa ada desing angin yang sangat kuat menhembusi telapak tangannya. Sebagai seorang yang cerdik, buru-buru ia menghindar ke samping sementara kedua orang anak buahnya harus berkorban sebagai tumbal. Sekalipun diam-diam ia terkejut oleh kehebat-an ilmu silat orang, tapi hawa amarah yang ber-kobar pun tak terkendalikan, sambil tertawa dingin, sekali lagi ia melepaskan pukulan dahsyat ke arah batu nisan. Kali ini bukan cuma dia seorang yang melancar-kan serangan, hampir bersamaan waktunya Hek-to-su-koay, Ciu-siu-thi-say, Oh Ku-gwat, Im- hong-siu dan Me-in-jiu belasan orang sekaligus ikut melepas-kan pukulan dahsyat ke arah batu nisan yang be-sar itu.

Sungguh hebat tenaga gabungan orang banyak itu, angin pukulan yang dahsyat serentak menggu-lung ke depan dan menghantam batu nisan.

“Brang!” batu nisan itu hancur berkeping-keping. Pada saat itulah dari balik kuburan tiba-tiba berkumandang suara tertawa seram menggidikkan, suara itu seperti suara perempuan tua yang me-nangis, seperti juga jerit monyet yang memilukan hati…….

Setelah jeritan aneh tadi sirap, suasana pulih kembali  dalam keheningan. Kini batu nisan telah hancur, keadaan dalam kuburan itu tampak remang gelap, sekalipun pada pagi hari, tetap sukar melihat keadaan dalam liang kubur itu. Tiba- tiba terdengar bentakan keras, serentak kawanan jago persilatan itu berebut melompat ma-suk ke dalam liang kubur itu….

Tapi menyusul serentetan jeritan ngeri lantas bergema. Puluhan jago persilatan yang berada paling de-pan, seperti daun kering yang terhhembus angin mu-sim gugur, satu persatu rontok ke atas tanah.

Perubahan mendadak di luar dugaan ini se-ketika membuat kawanan jago persilatan yang lain menjadi tertegun dan berdiri terbelalak. Suasana di ruangan itu seakan-akan menjadi beku, tegang dan berat, seperti ada sehelai jaring tak berwujud pelahan menyelimuti sekeliling tem-pat itu, wajah semua orang sama mengejang dan kaku oleh karena rasa ngeri yang kelewat batas.

Lamkiong Giok masih berdiri sekukuh bukit karang, sekalipun kaget dan ngeri oleh kejadian aneh tersebut, tapi pengalaman serta latihannya yang dilakukan setiap hari, membuat wajahnya tetap te-nang.

“Wahai jago lihai dalam kuburan, mengapa tidak menampilkan dirimu?” bentak Oh Ku-gwat, “jika kau lukai orang dari tempat kegelapan dan tidak bersuara lagi, jangan menyesal jika kami tidak sungkan-sungkan lagi.”

Suasana dalam kuburan masih tetap hening, hal mana segera membangkitkan kemarahan orang banyak, sambil membentak bayangan manu-sia berkelebat lewat…..

Puluhan sosok bayangan itu bersama-sama melompat ke arah kuburan, tapi sebelum mereka sem-pat melancarkan serangan, mendadak dari balik ku-buran kembali berhhembus keluar segulung angin di-ngin yang menusuk tulang. Serentetan jeritan menyayat hati kembali ber-kumandang. Dua puluhan orang segera mengeletak mati.

Ji-sia maupun Yong-ling yang berada di luar ruangan dapat menyaksikan kejadian tersebut, di-am-diam mereka pun ngeri, sebab ilmu silat orang itu betul-betul luar biasa. Terdorong oleh rasa ingin tahu, kedua orang itu ikut melompat ke atas undakan batu dan ber-diri diantara kerumunan manusia. Sampai waktu itu, sudah ada lima puluhan orang yang tewas di bawah serangan angin dingin tersebut, korban terdiri dari orang yang berasal da-ri ketiga kelompok.

Tiba-tiba dari balik kuburan berkumandang serentetan suara perempuan yang dingin, “Pusaka Hian-ki-hian-cing serta pil Ji-khi-kun goan-sin-wan telah kudapatkan dua tahun yang lalu, bila kalian menghancurkan kuburan ini, maka semua orang yang hadir di sini jangan harap akan bisa pulang dengan hidup.” Semua orang tidak menyangka manusia aneh penghuni kuburan adalah seorang perempuan, tapi ketakaburan perempuan itu segera membangkitkan kemarahan kawanan jago itu.

Lamkiong Giok segera tertawa dingin, katanya, “Sudah banyak orang yang kau bunuh, utang da-rah ini tak bisa diputuskan dengan begitu saja. Hmm, hari ini kami harus membinasakan dirimu di dalam kuburan ini.”

Perempuan dalam kuburan itu sama sekali tak bersuara, suasana kembali hening.

“Hei, apakah kau malu bertemu dengan ma-nusia?” Lamkiong Giok menjengek pula, “kalau ti-dak, kenapa tidak berani unjukkan dirimu agar kami bisa melihat apakah kau berkepala tiga dan ber-tangan enam?”