Kemelut Di Ujung Ruyung Emas Jilid 01

Jilid 01

Benteng Thian-seng-po adalah benteng terbesar di dunia persilatan dewasa ini, bangunannya kukuh dan luas, boleh dibilang jarang ada dalam sejarah dunia persilatan. Benteng tersebut merupakan tempat yang misterius pula bagi pandangan orang-orang persilatan, banyak cerita tentang kemisteriusannya, tapi tak sebuah cerita pun yang dapat menunjukkkan sebab dari kemisteriusannya itu. Pemilik benteng Thian-seng-po bernama Thian-kang-te-sat-seng- gwat-kiam (pedang rembulan dan bintang) Oh Kay-gak, dia adalah seorang jago tangguh dunia persilatan yang terkenal berbudi luhur, nama besarnya temashur sampai keseluruh wilayah utara dan selatan sungai (Yangtze) dan ke luar perbatasan, dari semua ini dapat diketahui bahwa dia memang disegani banyak orang.

Sejak mendirikan benteng Thian-seng-po empat puluh tahun yang lalu, Thian-kang-te-sat-seng-gwat-kiam Oh Kay- gak selalu memimpin dunia persilatan, setiap orang akan acungkan jari jempol dan memuji tiada habisnya bila menyinggung nama besarnya.

Apabila di antara kalangan Hek-to atau Pek-to, kalangan lurus atau pun golongan jahat menghadapi persoalan yang pelik atau perselisihan yang tak terselesaikan, asal Oh Kay-gak tampil ke muka, maka urusan macam apa pun akan beres dengan sendirinya. Dalam menghadapi pelbagai masalah dan pertikaian, bukan saja ia selalu menunjukkan kebesaran jiwanya, kelembutan hatinya, iapun jujur, bijaksana dan adil, tak pernah berat sebelah atau condong pada salah satu pihak, hal ini membuat banyak orang merasa kagum dan rela tunduk pada perintahnya.

Meskipun ada juga di antara mereka yang membandel atau keras kepala, biasanya ia enggan menaklukkannya dengan kekerasan, ia selalu mempergunakan kata-kata halus dan lembut untuk menasihatinya sehingga para pembandel itu benar-benar takluk lahir batin, tidak heran kalau nama besarnya kian cemerlang, kedudukannya dalam dunia persilatanpun makin mantap, banyak jago persilatan takluk dan kagum kepadanya, bahkan secara sukarela mohon menjadi anggota Thian-seng-po.

Tapi, menghadapi kawanan jago yang secara sukarela ingin bergabung dengan Thian-seng-po ini, Seng-gwat-kiam Oh Kay-gak selalu mengadakaa seleksi yang ketat, malah lebih ketat daripada seorang guru yang mencari murid.

Barang siapa ingin menjadi anggota Thian-seng-po, syaratnya harus hidup tiga tahun di luar lingkungan benteng sebagai percobaan. Bila kemudian ia lulus dari masa percobaan tersebut, serta merta orang itupun akan diundang masuk ke Thian-seng-po.

Habis itu para jago yang mujur itu pun segera lenyap dari dunia persilatan dan tak pernah diketahui lagi jejaknya.

Apa yang dilakukan orang-orang itu di dalam Thian-seng- po? Masih hidupkah mereka atau mati? Tak ada yang tahu, bahkan mereka yang berkedudukan tinggi di dalam Thian- seng-po juga tak tahu, tentu saja kecuali Oh Kay-gak sendiri.

Andaikata ada di antara mereka yang kemudian melakukan perjalanan dalam dunia persilatan mengikuti anggota benteng lainnya maka orang itu seolah-olah telah berubah menjadi seorang yang lain, jangankan teman akrab, sanak keluarga sendiri pun tak dikenal lagi.

Inilah salah satu contoh di antara beratus-ratus masalah misterius lainnya yang terdapat di dalam Thian-seng-po. Otomatis kemisteriusan itu membuat rasa curiga para jago persilatan hingga jauh melebihi rasa kagum dan hormatnya.

Tentu saja ada pula kawanan jago yang diam-diam menyusup ke dalam benteng pada waktu malam untuk menyelidiki kemisteriusan benteng itu, tapi tak seorang pun di antara mereka yang bisa keluar lagi dari situ, kendatipun baik malam atau siang hari tak pernah benteng itu dijaga orang. Ini semua membuat Thian-seng-po yang luas dan besar itu bagaikan sebuah bangunan yang terbengkalai tanpa penghuni, hanya keheningan. yang mengerikan menyelimuti tempat itu. Tapi di balik keheningan justru terseliplah suatu badai pembunuh, keseraman dan kengerian yang bikin bulu kuduk orang berdiri…..

Walaupun demikian, para jago persilatan yang berdiam di perumahan sekeliling benteng dan secara sukarela melaksanakan masa percobaan selama tiga tahun agar diterima menjadi anggota pun jumlahnya masih diatas angka seribu.

Karena harus berdiam dalam jangka waktu sekian lama di sana, bangunan rumah di luar ben-teng didirikan dengan rapi dan teratur, membuat suasana di situ tak ubahnya seperti sebuah dusun kecil. Soal makan dan sandang bagi kawanan jago yang menerima masa percobaan selama tiga tahun itu boleh dibilang semuanya merupakan tanggungan Thian seng- pocu, Thian-kang-te-sat-kiam Oh Kay-gak.

Karenanya, ada pula di antara kawanan jago itu yang tadinya kaum gelandangan, mereka hanya berdiam saja di situ untuk menerima sandang dan makan selama tiga tahun, jadi hanya mendompleng hidup belaka.

Bisa dibayangkan betapa campur aduknya ka-wanan manusia yang hidup di sana, mereka berasal dari pelbagai lapisan masyarakat.

Begitulah tempat itu berubah menjadi sarang naga dan gua harimau bagi umat persilatan, artinya banyak juga terdapat orang pandai di tengah mereka.

oooOooo

Matahari telah condong ke barat, cahaya senja keemas- emasan memancar ke empat penjuru. Angkasa dihiasi oleh selarik bianglala yang beraneka warna… Belasan kaki di depan pintu gerbang Thian-seng-po adalah sebuah jembatan kayu yang besar dan lebar, di ujung jembatan, di atas tonggak kayu penyangganya terukir naga dan burung Hong yang menambah nilai artistik jembatan tersebut.

Di bawah jembatan terbentang sebuah parit yang panjang dengan penuh bunga teratai, kalau musim semi bunga itu mekar indah, maka pada musim gugur ini banyak teratai yang layu dan kehilangan kecantikannya, malah ada yang tinggal batangnya dan berdiri lunglai terhembus angin dingin. Pemandangan semacam ini hanya mendatangkan kemurungan, kesuraman dan kepedihaa bagi siapa pun yang melihatnya.

Sebelah kiri jembatan atau sebelah kanan pin-tu benteng, berderet tiga barak yang memanjang serta sebuah rumah kayu yang sederhana, tempat itu merupakan istal kuda Thian- seng-po.

Tanah kosong di sekeliling istal penuh tumbuh pohon bambu yang hijau dan segar, ketika bergoyang terhhembus angin tampak sangat indah dan menawan, tempat itu sedikit pun tidak mirip dengan kebanyakan istal kuda yang kotor dan berbau. Pada saat itulah dari bilik istal di deretan tengah barak itu pelahan berjalan keluar seorang pe-muda yang membawa dua tong besar berisi makanan kuda dan diletakkannya di sisi tong yang kosong.

Pemuda itu mengenakan baju warna hijau yang tipis dangan beberapa tambalan di sana sini, di te-ngah remang senja yang dingin ia tampak sedikit menggigil.

Ditinjau dari dandanannya, ia seperti seorang tukang perawat kuda di situ, tapi pemuda tersebut mempunyai perawakan badan yang tinggi kekar dengan wajah yang tampan, ia memiliki daya pikat seorang laki-laki, coba kalau kulit mukanya tidak penuh titik-titik hitam, dia pasti seorang laki-laki cakap yang ideal. Bagaimana tidak? Matanya jeli dengan alis lentik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis, semua itu merupakan ciri khas seorang pemuda tampan.

Kalau dilihat dari bibirnya, jelas dia adalah seorang pemuda yang keras dan angkuh, tapi mengapa ia bisa menjadi begitu? Kenapa rela menjadi seorang tukang kuda? Hal ini sungguh membuat orang tak mengerti. Apalagi bila melihat nafsu membunuh dan keketusan yang menyelimuti kerut alis matanya.

Kalau di dalam deretan rumah-rumah di luar Thian-seng-po sebelah parit tersebut terdapat pula jago persilatan yang misterius, maka dalam istal kuda sebelah sini ada pula yang terhitung misterius, dan pemuda inilah salah seorang di antaranya.

Dengan tcrmangu-mangu pemuda misterius itu memandang daun teratai di permukaan parit yang layu, lalu menghela napas sedih. Dari helaan napasnya itu dapat diketahui bahwa ia begitu menyendiri, begitu kesepian…….seakan-akan penuh diliputi kejadian yang menyedihkan pada masa lampau.

“Aih” kembali ia menghela napas lalu gumamnya geperti mengigau, “sudah dua tahun lebih sembilan bulan, sisa tiga bulan lagi tidak terhitung pendek, kalau aku gagal  menemukan Beng-yu-cin-keng (kitab pusaka neraka hitam), entah apa yang harus kulakukan dalam sisa perjalanan hidupku ini? Membalas dendam? Sampai kini belum kuketahui siapa musuh besarku, sekalipun musuh besar berhasil kutemukan, dengan tubuhku yang mengidap penyakit  mustahil harapanku bisa terkabul.”

“Hmm!” agak gemas atas ketidakadilan Thian, kembali gumamnya dengan sedih, “Aku menyesal telah belajar Jiat-im- siang-gi-keng, meskipun ilmuku sekarang tiada tandingan di dunia, tapi penyakit dalam tubuhku mulai menggerogoti nyawaku…..Tiga tahun sudah latihanku, selama tiga tahun tetap lemah tenaga. dalamku, tetap tak mampu menerima pukulan dahsyat seorang jago tangguh.

“Kini batas waktu tiga tahun sudah lalu, dua tahun lebih sembilan bulan, sisa waktu yang tersedia tinggal tiga bulan lagi….Seratus hari yang pendek akan lenyap dengan begitu saja, aku bakal berubah menjadi seonggokan tulang putih belaka…..O, dendam berdarah yang keji dan terkutuk…..musibah itu membuat aku malu terhadap orang….aku tak sanggup membalas dendam…”

Ketika bergumam sampai di sini, suaranya berubah menjadi parau dan lirih. Tidak! Ia tak berani bergumam lebih lanjut, karena musibah yang menimpa dirinya dianggap sebagai satu dosa yang tak terampunkan. Sesunguhnya ia malu untuk hidup lagi di dunia ini, adegan ibunya yang telanjang bulat serta darah yang berhamburan dimana-mana sukar terlupakan dalam benaknya, terutama pesan ibunya menjelang kematian yang disertai isak tangis itu.

“….Anak Sia, kau harus hidup, bagaimana pun kau harus tetap hidup, meskipun peristiwa ini adalah peristiwa yang paling keji dan mengenaskan, tapi kau harus tahu, itulah siasat bajingan-bajingan itu agar kita ibu dan anak tak punya muka untuk hidup lebih lanjut di dunia ini, mereka berharap agar kita bunuh diri karena malu, agar sakit hati kita tak terbalaskan”

“Brutal….sungguh brutal! walaupun persetubuhan yang kita lakukan merupa-kan suatu kenyataan. tapi kau harus melupakannya, anggap saja sebagai impian buruk, karena kau….kau telah makan obat perangsang yang sengaja diberikan bajingan-bajingan itu kepadamu, agar kesadaranmu lenyap…..”

“Oleh karena itu kau tidak berdosa, ibumu yang salah ketika itu…….aku tak rela menyaksikan kau mati karena pembuluh darahmu bisa pecah akibat nafsu berahimu yang memuncak…..kau harus tahu, demi menolong jiwamu, terpaksa kita lakukan persetubuhan yang tidak layak ini….”

“Anak Sia, sebelum mati kumohon kepadamu agar berani menghadapi kenyataan, berani hidup lebih jauh, kau tak boleh mati, keluarga Bok ha-nya ada keturunan kau seorang, biarlah tragedi yang memalukan ini kupikul sendiri, akan ibu bawa mati ke alam baka…..”

“Kini ibu hampir mati, jika kaupun ikut mati, maka dendam berdarah ayahmu serta peristiwa memalukan ini tak ada yang membalas…..cepat, cepatlah tinggalkan tempat ini…..bajingan- bajingan itu sebentar pasti akan kembali lagi…..anak Sia, kau……pergilah kau….”

Kenangan yang tragis bagaikan gelombang be-sar gunung- gemulung mendampar benaknya dan menghantam hatinya, akhirnya ia merintih dan lari ke rumah kayu sebelah sana, lalu mnenjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis tersedu- sedu…..

Isak tangis yang menyayat hati, membuat siapapun akan iba dan ikut melelehkan air mata. Ya… perisitiwa tragis yang menimpa pemuda itu memang amat memilukan hati.

Ayahnya tewas dibunuh musuh….dan dia dicekoki obat racun pembangkit berahi oleh musuhnya hingga dalam keadaan terangsang telah melakukan hubungan seks dengan ibunya sendiri.

Waktu itu, sebenarnya dia ingin mati, tapi atas permohonan ibunya menjelang kematiannya serta bara api dendam yang berkobar dalam dadanya, maka dengan menahan derita ia melanjutkan hidupnya di dunia ini…..

Dalam suatu kesempatan yang tak terduga, ia menemukan sejilid kitab pusaka Jiat-im-siang-gi-pit-keng dan mempelajari ilmu silat yang tercantum di dalamnya, tapi meskipun jurus- jurus silat itu semuanya ampuh dan hebat, mencakup pula inti jurus silat pelbagai perguruan, namun setiap jurus serangannya justru mengandung suatu cara penggunaan yang luar biasa yang membuat hawa murni hasil latihannya terhimpun ke dalam delapan urat nadi penting dan tak sanggup tersalur ke dalam telapak tangannya.

Sebab itulah dalam hal tenaga dalam, pada hakikatnya ia seperti juga kawanan jago silat lainnya, sama sekali tidak terhitung hebat.

Selain daripada itu, terdapat pula sebuah titik kelemahan lagi, yakni hawa murni yang terhimpun dalam delapan bagian urat nadi pentingnya itu akan meledak setelah tiga tahun, akibatnya tentu saja membawa maut baginya.

“Bok Ji-sia, sebelum berhasil membalas dendam, kau tak boleh mati, kitab Beng-yu-cin-keng harus kau dapatkan untuk membebaskan tenaga beku dalam urat-urat nadi pentingmu……”

“Kau tahu bahwa kitab pusaka Beng-yu-cin-keng berada dalam benteng Thian-seng-po, karenanya dengan cara apapun harus kaudapatkan…”

Gumaman itu sangat lirih, mungkin hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya.

“Hei, kenapa kau menangis lagi?” tiba-tiba seseorang menegurnya dengan suara yang merdu.

Bok Ji-sia terperanjat dan buru-buru mengusap air matanya, lalu berpaling dan paksakan diri uutuk bersenyum.

“Nona, kau sudah pulang?!” sapanya.

Entaih sejak kapan, seorang gadis cantik muda belia dengan topi rumput warna putih, kulit badan putih bersih bagaikan salju berdiri di depan pintu, dia adalah puteri tunggal Thian-seng-pocu dan bernama Oh Keng-kiau. Mendengar sapaan itu, Oh Keng-kiau berkerut kening, lalu menatap Bok Ji-sia sekejap dengan sinar mata lembut, katanya, “Setiap kali pulang berburu selalu kelihatan kau sedang menangis sendirian, hal sedih apakah yang menyelimuti hatimu?”

Suaranya lembut dan merdu seperti burung berkicau, membuat pikiran orang terasa segar. Sebagai puteri Thian- seng-pocu yang mempunyai kedudukan tinggi, tapi mau bercakap-cakap dengan seorang pelayan, hal ini sungguh kejadian yang langka.

Bok Ji-sia menjadi tak enak sendiri, jawabnya terbata-bata, “Nona, tidak…..tidak…….biarlah hamba segera urus kudamu……”

Dengan langkah cepat ia lewat sisi si nona dan menghampiri seekor kuda putih di tengah tanah lapang sana.

Oh Keng-kiau geleng kepala berulang kali, sambil mencibir serunya, “Hei…..”

“Ada urusan apa nona?” dengan terkejut Bok Ji-sia memutar badan.

“Apakah kau rasakan pekerjaan mengurusi ku-da terlalu berat?” tanya gadis itu lembut.

“Tidak, tidak berat!” Bok Ji-sia geleng kepala beberapa kali. “Sudah berapa lama kau kerja di sini?” tiba-tiba gadis itu

bertanya lagi.

“Hampir tiga bulan.”

Oh Keng-kiau geleng kepala pula, kembali ia tanya, “Kau benar-benar tak pandai ilmu silat?”

“Ai, justru karena tak pandai main silat, maka hamba kemari untuk mencari sesuap nasi.” Kiranya bagi orang-orang yang secara sukarela ingin menjadi anggota Thian-seng-po, bila dia seorang jago silat yang berilmu tinggi, maka mereka diberi hidup senang selama tiga tahun tanpa bekerja, sebaliknya bila dia tidak berilmu silat, segala urus-an tetek-bengek dalam benteng Thian-seng- po harus dikerjakannya.

Mereka yang tak berilmu mempunyai kesempatan juga untuk masuk benteng, tentu saja setelah menerima masa percobaan selama tiga tahun. Oh Keng-kiau menghela napas haru, katanya. “Ai….kau baru tiga bulan di sini, mana tak punya ilmu lagi, sekalipun aku menaruh simpati padamu juga tak dapat mengajakmu masuk benteng, karena peraturan tetap berlaku. Begini saja, coba katakan berapa banyak yang yang kau butuhkan? Nona akan membantumu untuk modal berdagang….”

Perkataan itu sangat menusuk perasaan Bok Ji-sia, coba kalau ia tidak perlu merahasiakan asal usulnya, sejak tadi pemuda itu sudah meraung gusar.

“Terima kasih atas kebaikan nona,” demikian jawabnya kemudian, “orang bilang manusia mati karena harta, burung mati karena makanan. Harta yang didapat tanpa kerja tak boleh kuterima.

“Apalagi harta hanya barang sampingan, waktu lahir tidak membawa, waktu matipun tak bisa dibawa, meskipun aku Cing-hok tak berkepandaian apa-apa, tapi selalu kuanggap harta sebagai kotoran manusia…..”

Diam-diam Oh Keng-kiau memuji wataknya yang terpuji itu, pikirnya, “Seandainya wajah orang ini tidak terlalu banyak bintik hitamnya sehingga coreng-moreng, hakikatnya dia seorang pemuda yang tampan, apalagi kalau melihat semangat serta wataknya yang luar biasa, dia tidak pantas men-jadi seorang pekerja kasar…..” Berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja pipinya menjadi merah jengah, dia sendiri tak tahu mengapa begitu memperhatikan anak muda itu, dengan termangu ia berdiri diam di situ.

Bok-Ji-sia menghela napas panjang, ujarnya, “Nona, hamba merasa amat berterima kasih atas perhatianmu, nasib Cing- hok memang jelek, sejak kecil sudah hidup luntang-lantung seorang diri, andaikata Pocu-loya tidak berbaik hati dengan menerimaku menetap di sini, aku entah saat ini telantar sampai di mana?”

“Kalau begitu berdiamlah selama tiga tahun di sini, kujamin kau pasti bisa masuk ke dalam benteng!”

Selesai berkata gadis itu menghampiri kuda putihnya, mengambil pedangnya yang tergantung di pelana, kantung anak panah serta ayam hutan hasil buruannya, lalu dengan langkah yang gemulai berjalan menuju ke dalam benteng Thian-seng-po yang megah dan kukuh itu.

Memandang bayangan punggung si nona, Bok Ji-sia menghela napas sedih….ia lantas menuntun kuda putih itu dan masuk ke dalam istal.

Ketika muncul kembali, dari rumah kayu tetangganya muncul seorang laki-laki setengah umur bertubuh ceking, sekalipun kulitnya hitam seperti pantat kuali tapi terhitung tampan juga.

“Cing-hok!” katanya sambil tertawa, nona Oh begitu memperhatikan dirimu, mengapa tidak kau terima pemberian uangnya untuk hidup senang? Aiii aku si muka monyet memang sial, tak ada yang sudi memberi uang kepadaku, coba kalau ada, pasti kucari seorang bini dan hidup bahagia.”

Ketika Bok Ji-sia datang kemari tiga bulan berselang, laki- laki hitam kurus itu sudah ada di situ dan bekerja sebagai penjaga kuda. Orang itu wataknya periang dan terbuka, seringkali Bok Ji-sia mengajaknya bergurau, sebaliknya dengan tiga orang pekerja lainnya, ia malah jarang berbicara. Sekalipun dia mengaku sebagai seorang pe-kerja yang tak berilmu, tapi Bok Ji-sia tahu orang itu sesungguhaya adalah seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, hanya tidak diketahuinya mengapa laki-laki itu sampai hidup mengasingkan diri.

“Siu-heng” kata Ji-sia sambil tertawa, “janganlah kau goda diriku, kita sudah ditakdirkan menjadi orang rendah sejak dilahirkan, mana ada hoki untuk hidup senang? Kalau aku sih sudah cukup hi-dup begini saja asal setiap hari ada nasi yang masuk ke perut.” 

Laki-laki ceking itu kembali tertawa, “Cing-hok, jangan berkata begitu, selama hidup aku sudah biasa mengembara ke mana-mana, akupun mengerti sedikit ilmu melihat raut wajah, maka kutahu kau pasti bukan seorang yang tak becus, kalau tidak percaya tunggu saja nanti!”

Diam-diam Bok Ji-sia terkejut mendengar perkataan itu pikirnya, “Jangan-jangan ia sudah mengetahui keadaanku yang sebsnarnya….”

Laki-laki ceking setengah umur itu bukan orang biasa  dalam dunia persilatan, sejak kemunculan Bok Ji-sia di situ, ia sudah merasa bahwa pemuda itu bukan sembarangan orang.

“Terima kasih atas pujian Siu-heng” kata Bok Ji-sia kemudian sambil tertawa, “Ai, sudah malam, aku ingin bersihkan badan dan tidur, maaf Siu-heng, aku tak dapat menemanimu lebih lama lagi.”

“Ah, benar! malam ini masih ada urusan yang belum diselesaikan, akupun harus tidur dulu!” sambung laki-laki ceking itu.

Selesai berkata ia masuk kembali ke dalam rumah kayu yang jelek dan sederhana itu. Mendengar perkataan orang yang terakhir itu, Bok Ji-sia jadi tertegun, pikirnya, “Bukankah perkataannya yang itu menunjukan bahwa malam ini aku hendak menyelidiki Thian- seng-po? Atau maksudnya dia sendiri? Wah, kalau orang itu adalah antek Thian-seng-po yang diutus untuk menyelidiki gerak-gerik orang persilatan secara diam-diam, celakalah  aku”.

“Hmm, peduli amat, jika dia terbukti cecunguk yang diutus Thian-seng po, segera akan kubinasakan dia. Bagaimanapun Beng-yu-cin-keng harus kudapatkan, kalau tidak bukankah sakit hatiku serta nyawaku bakal barakhir sanpai di sini saja?” demikian pikirnya pula.

Teringat akan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, segera matanya memancarkan sinar tajam, sebab bila ia berhasil mempelajari ilmu yang tercantum dalam kitab tersebut sehingga hawa murni beku da-lam urat nadi penting dapat dilenyapkan, ia akan menjadi tangguh dan tiada tandingannya lagi da-lam dunia persilatan.

Pelahan Ji-sia masuk kamarnya, setelah mengunci pintu, ia memasang lentera, sinar redup se-gera memancar pada wajahnya yang hitam itu. Ia mendekati rak baskom, dikeluarkannya se-buah botol kecil berisi bubuk kuning dari sakunya dan menaburkan sedikit ke dalam air, lalu mencuci muka dengan air obat tadi, segera wajah Bok Ji-sia berubah menjadi putih kemerah-merahan, sama sekali tidak nampak bercak hitam lagi.

Ternyata Bok Ji-sia pandai menyaru, dia tahu orang Thian- seng-po tidak sebaik apa yang tersiar di dunia persilatan, pula kedatangannya bermaksud mencuri kitab pusaka Beng-yu-cin- keng milik Thian-seng-pocu, daripada dicurigai orang, maka ia berusaha keras menyembunyikan wajah aslinya. Dengan cepat pemuda itu tukar seperangkat baju peranti berjalan malam, setelah memadamkan lampu, ia naik ke pembaringan untuk menanti tibanya kentongan pertama….. Ia coba memperhatikan keadaan laki-laki di kamar sebelah, kedengaran suara dengkurannya yang keras, orang itu sama sekali tidak menunjukkan gejala, mencurigakan.

Ia berpikir, “Peduli siapakah dia, akan ku hadapi dia bila terjadi apa-apa..”

Maka pemuda itupun duduk bersila dia pembaringan, dikeluarkannya sejilid kitab yang ti pis, lamat-lamat dapat terbaca tulisan pada sampul kitab itu, ‘Jiat-im-siang-gi-pit- keng’

Dengan sorot mata yang tajam ia menatap tu lisan serta lukisan dalam kitab itu, lalu mengapalkan di dalam hati, “Kiu- thian-hui-coan, Gi-khi-hui-thian, Seng-yau-hau-gwat, Ih-lwe- sin-gi.

Bok Ji-sia menghela napas panjang, pikirnya dengan alis bekernyit, “Konon bila keempat gerakan ini dilakukan secara bersungguh-sungguh maka pelahan bisa menyembuhkan hawa murni yang beku dalam urat nadi penting, tapi kulihat di dalam hal ini tentu ada sesuatu yang tidak betul, sebab selalu kurasakan adanya peredaran darah membalik dan menerjang jalan darahku setiap kali kulatih menurut cara tersebut, jelas itulah pertanda hawa murni mengalami pergolakan, atau mungkin aku sendiri yang telah melakukannya secara salah? Kalau tidak, buku inilah yang salah tulis!”

Berpikir sampai di sini, kembali anak muda itu melatih diri munurut apa yang diajarkan dalam kitab itu, ia angkat lengannya seperti kesurupan, melakukan gerakan yang sangat aneh, mula-mula berputar cepat seperti menari, kemudian makin lama makin lambat.

Asap mengepul dari ubun kepalanya, tapi wa jahnya mulai pucat seperti mayat, peluh dingin membasahi tubuhnya muka mengejang seolah-olah sedang menahan penderitaan yang luar biasa. “Ai” dengan sedih ia menghela napas dan menghentikan gerakannya, “Tidak bisa! Tidak bisa! Keempat gerakan itu tak mungkin bisa menyembuh kan hawa murniku dalam urat nadi penting, justeru sebaliknya malah menyiksa tubuh belaka, kenapa tokoh yang menulis kitab ini harus meninggalkan catatan semacam itu untuk mencelakai orang lain….?”

“Kalau ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Beng- yu-cin-keng juga kepandaian yang tak beres macam keempat gerakan ini, bukankah jiwaku akan melayang pula? O, Ibu! Lindungilah anakmu!”

Setiap kali teringat akan ibunya, air matapun bercucuran seperti air hujan, sebab peristiwa tragis itu membuatnya amat menderita, terutama ketika pisau belati yang menikam perut ibunya, darah yang bercucuran  serta  rintihan  yang  menyayat hati, semua itu membuat hatinya remuk rendam.

“Kreek!” terdengar suara yang amat pelahan….Selincah ular Bok Ji-sia segera menerobos keluar jendela

Ia mendongakkan kepala memandang langit yang kelabu, waktu itu tiada awan, udara bersih dengan rembulan yang bersinar lembut serta beribu bintang yang berkelip-kelip, angin berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan pohon liu dan menimbulkan suara gemericik yang mendatangkan perasaan nyaman.

Mendadak Bok Ji-sia melihat sesosok bayangan hitam muncul di antara bangunan di luar benteng bayangan itu bergerak cepat, dalam waktu singkat sudah berpuluh kaki jauhnya dan menerobos masuk ke dalam benteng Thian-seng po.

Ia terkesiap, pikirnya, “Kini waktu sudah menunjukkan permulaan kentongan kedua, masa ada orang Thian-seng-po yang keluar benteng untuk menyelidiki sesuatu? Atau mungkin ada jago persilatan yang berniat memeriksa keadaan Thian- seng-po? Rupanya di antara kawanan jago di luar benteng terdapat juga orang yang berpura-pura seperti diriku, orang itu tentu datang untuk urusan penting, sebab setiap orang tahu Thian-seng-po hanya bisa didatarngi dan tak bisa keluar lagi….

Sudah empat puluh tahun Thian-seng-po menggetarkan dunia persilatan, hampir semua jago persilatan menaruh hormat dan segan padanya, sedi-kit banyak gugup juga perasaan Bok Ji-sia ketika hendak melakukan penyelidikan untuk pertama kali selama hidupnya.

“Jangan-jangan aku akan binasa setelah ber ada di dalam benteng sana?” demikian pikirnya.

Tapi setelah sangsi sejenak, sambil menggigit bibir ia mendengus, “Hm, tenaga dalamku memang cetek, tapi jurus- jurus seranganku cukup tangguh untuk menghadapi musuh, lagipula ilmu meringankan tubuhku tidak terganggu oleh menggumpalnya hawa murni, dengan kemampuan yang melebihi jago jago biasa mungkini jiwaku tak sampai menja di korban.”

Ia tak ragu lagi, seperti seekor burung ia melejit tiga tombak ke udara, ia tertawa bangga di atas udara, tubuhnya lantas melengkung dan meletik ke depan tanpa menempel tanah, seperti seekor burung elang ia melayang dan hinggap pada dahan pohon liu di depan sana.

Ilmu meringankan tubuh Bok Ji-sia sudah terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, terutama gerakannya yang sangat aneh itu, boleh dibilang jarang ada bandingannya. Sesudah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, ia menarik napas dan melejit lagi ke udara, dalam dua kali lompatan saja ia telah bersembunyi di atas dinding kurung Thian-seng-po yang tingginya dua tombak lebih itu.

Baru saja Bok Ji-sia melompat pergi dari dahan pohon tadi, dari balik kegelapan pelahan muncul laki-laki kurus itu, ia menghela napas den bergumam, “Orang ini masih muda belia tapi memiliki kungfu selihai ini, sudah pasti dia adalah jago yang ampuh di antara angkatan muda dunia persilatan, tak heran ia begitu berani menyelidiki Thian-seng-po. Tapi kalau dia hendak melawan orang Thian-senng-po dengan tenaga dalamnya tentu masih selisih jauh sekali, ibaratnya telur diadu dengan batu, tak ada gunanya kalau sampai mengantar  nyawa percuma. Aku Ku Thian-gak juga ingin menyelidiki mati-hidup adik angkatku, sekarang aku harus bertindak  juga.”

Dunia persilatan memang penuh bahaya dan banyak tipu muslihat, siapa yang menyangka laki-laki kurus yang berwajah tidak menyolok ini sesungguhnya adalah seorang pendekar aneh dari dunia persilatan yang bernama Siau-yau-soan-hong- khek (jago angin puyuh yang suka bebas) Ku Thian-gak.

Sambil bertiarap di atas dinding, Bok Ji-sia mengamati daerah sekeliling tempat itu, ia lihat bangunan rumah, halaman, loteng, semuanya tanpa penjaga, cahaya lampu pun tidak nampak, seakan- akan benteng Thian-seng-po yang terkenal itu sama sekali tiada penjagaan.

Sekalipun demikian, bagi orang yang berpengalaman akan tahu bahwa keadaan tenang semacam ini menunjukkan tempat ini sesungguhnya lebih berbahaya dan menyeramkan. Dengan enteng Ji-sia melompat turun ke bawah, ia tak berani ayal, serta merta ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan untuk melompat ke gedung di depan sana.

Ia melejit lagi ke udara dan melayang turun persis hinggap di wuwungan rumah. Menurut perkiraannya semula, walaupun Thian-seng-po yang tersohor ini kelihatannya tanpa penjagaan, tapi persiapan yang sesungguhnya tentu tiada ubahnya sarang naga dan gua harimau, jika di tempat pertama tiada penjagaan, maka pada halaman kedua pasti ada penjaganya. Maka begitu berada di atas atap rumah, Bok Ji-sia lantas bersembunyi di belakang bangunan itu dan melongok ke bawah, di luar dugaan, halaman kedua pun tanpa penjagaan.

Angin malam menhembus membawa bau harum bunga yang semerbak, ternyata di halaman kedua ini penuh tumbuh aneka warna bunga yang sedang mekar.

Sudah lama pemuda itu bersembunyi, akan tetapi tak seorang pun yang menampakkan diri, tanpa terasa ia lantas berpikir, “Aku sudah masuk kemari, kenapa mesti ragu-ragu lagi?”

Keberaniannya timbul kembali, ia segara melompat ke bawah dan berkelebat maju ke depan dengan menelusuri jalan setapak yang berlapiskan batu putih. Bok Ji-sia mana tahu kalau jejaknya sudah konangan sejak kemunculannya tadi baru saja ia melangkah masuk halaman pertama, dua sosok bayangan orang tanpa menimbulkan suara sedikit pun telak melayang turun juga dari atas pohon.

Tapi baru saja mereka berdua menginjakkan kaki ke tanah, “Sreet!” tahu-tahu desing angin tajam menyambar mereka, tanpa menimbulkan suara kedua orang itu segera menggeletak dan mati secara mengenaskan, kemudian di samping kedua mayat itu berdirilah laki-laki ceking itu, Siau- yau-soan-hong-khek Ku Thian-gak.

Setelah melakukan perjalanan tak lama di antara bangunan sana, sekarang Ji-sia sudah berada jauh dalam benteng Thian- seng-po, dan diliputi perasaan gelisah. Maklum, bangunan dalam Thian-seng-po beratus jumlahnya, ke mana ia harus mencari tempat penyimpanan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng?

Konon semua harta kekayaan dan kitab pusaka benteng Thian-seng-po disimpan di dalam sebuah bangunan berloteng, tapi di manakah letak bangunan berloteng penyimpan harta pusaka itu? Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Bok Ji-sia, pikirnya, “Loteng penyimpan harta pusaka pasti terletak di bangunan yang paling tinggi, apa salahnya kalau kucari bangunan tersebut untuk melakukan pemeriksaan?”

Berpikir demikian, pemuda itu lantas melompat lagi ke atas dan hinggap pada sebuah wuwungan rumah, dari situ dengan tatapan tajam mengawasi sekeliling tempat itu, di tengah kegelapan rasanya sulit untuk menentukan arah di antara sekian banyak bangunan, apalagi loteng penyimpan pusaka harus dicari di antara tiga-empai puluh bangunan lainnya yang tersebar di mana-mana, tentu saja hal ini terasa sulit sekali.

Pemuda itu agak kecewa, pikirnya, “Lebih baik aku berteriak-teriak saja agar semua penghuni benteng menjadi kaget, lalu ku bekuk seorang di antaranya dan memaksanya untuk memberitahukan letak loteng itu!”

Tiba-tiba berhembus angin malam yang kencang, di tengah keheningan yang mencekam bangunan rumah yang berlapis- lapis itu, mendadak ia mendengar jeritan kesakitan yang memilukan hati…..

Jeritan melengking dan tak sedap didengar, membuat siapapun yang mendengar sama berdiri bulu kuduknya. Setelah jeritan tadi, suasana di sekeliling tempat itu dicekam pula dalam keheningan yang menyeramkan.

Air muka Bok Ji-sia agak berubah, pikirnya: “Mungkin jeritan itu berasal dari Ya-heng-jin (orang berjalan malam) yang kulihat tadi, kalau benar, tampaknya harapanku untuk mencuri kitab pusaka Beng-yu-cin-keng tipis sekali, belum tentu berhasil dan jiwa malah akan melayang. Sebab ilmu meringankan tnbuh Ya-heng-jin tadi lihay sekali dan tidak selisih banyak daripadaku, mumpung aku belum menemui rintangan, lebih baik cepat-cepat saja kumundur dari sini”

Angin berhembus semakin kencang di tengah kegelapan malam itu dari menggoyangkan pepohonan hingga menimbulkan suara yang menyeramkan. Semuanya itu menambah rasa ngeri bagi Bok Ji-sia, niatnya untuk mundur dari situ pun semakin mantap.

Tapi suatu perasaan malu tiba tiba muncul dalam hatinya, diam-diam ia mendamprat diri sendiri “Bok Ji-sia,sebagai seorang lelaki sejati, lebih baik tubuh hancur daripada mundur ketakutan, apalagi kitab pusaka Beng-yu-cin-keng menyangkut masa depan dirimu, kalau kau gagal menemukan kitab tersebut, seratus hari kemudian niscaya jiwamu akan melayang….”

Ketika tragedi masa silam terkenang kembali dalam benaknya, tanpa terasa dua titik air mata jatuh membasahi pipinya. Tiba-tiba Ji-sia mengerahkan ilmu meringanan tubuhnya dan secepat, kilat meluncur ke arah suara jeritan ngeri tadi….

Dalam waktu singkat ia telah tiba di depan sebuah bangunan bertingkat lima. Pada saat itulah tiba-tiba kedengaran suara tertawa aneh berkumandang memecah keheningan…, suara tertawa melengking dan tak sedap di dengar, di tengah keheningan malam yang gelap dan sepi, suaranya terasa makin menyeramkan.

Ketika suara tertawanya sirap, kedengaran seorang menegur dengan dingin dan kaku, “Siapa kau? Kenapa hanya tertawa melulu? Ayo unjukkan dirimu!”

Dari teguran tadi, Bok Ji-sia baru tahu jejaknya belum ketahuan orang, buru-buru ia mendekam dalam kegelapan untuk melakukan pengintaian. Baru saja ia bersembunyi, segera segulung angin menyambar turun ke halaman di depan bangunan loteng itu, dia adalah seorang anak dara berbaju hitam dan membawa pedang, dengan sorot mata yang tajam ia sedang mengawasi ke arah suara tertawa itu.

Dari balik kegelapan rumah sebelah kiri pelahan muncul seorang kakek kurus yang berwajah jelek. Dengan matanya yang tajam kakek kurus itu mengamati si nona baju hitam sekejap, kemudian sambil tertawa dingin tegurnya, “Nona, besar amat minatmu, sampai-sampai tengah malam buta pun berkunjung ke benteng kami. Cuma, hehehe….sewaktu datang tadi memang ada pintu yang tersedia, tapi untuk pergi tak ada jalan yang terbuka, apalagi kau telah melukai seorang kawan kami, hehehe, cepat katakan namamu untuk menerima kematian”

Nona berbaju hitam itu mendengus, “Hmm..Namanya saja tersohor sampai kemana-mana, padahal Thian-seng-po tak lebih hanya tempat segerombolan bajingan yang kerjanya melulu membunuh dan membakar. Terus terang kuberitahukan padamu, orang lain mungkin bisa disusahkan Thian-seng-po, tapi jangan harap bisa menyulitkan nonamu.”

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, “Kalau kuperhatikan tampangmu, jelas kau bukan orang baik-baik, maka kaupun akan menerima kematian, buat apa tanya sama nonamu?”

Agak berubah air muka kakek kurus itu, katanya dengan suara parau, “Kau budak busuk yang masih berbau popok, sombong betul perkataanmu, aku Im-hong-so (kakek angin dingin) Kui Kok-ho ingin coba sampai di mana kelihaian ilmu silatmu?”

Terkesiap hati Bok Ji-sia di tempat sembunyinya demi mendengar bahwa kakek aneh itu adalah Im-hong-so Kui Kok- ho yang terhitung jago lihai dalam dunia persilatan, sekarang dia baru tahu bahwa Thian-seng-po betul-betul adalah sarang naga dan gua harimau.

“Huh, rupanya kau termasuk seorang jagoan juga,” ejek si nona baju hitam sambil tertawa dingin, “cuma. kukuatir kepandaianmu masih belum cukup untuk menandingi nonamu.” Im-hong-so Kui Kok-ho cukup tahu kungfu gadis itu sangat lihai, katanya dengan nada menyeramkan, “Barang siapa berani memasuki Thian-seng-po tanpa izin, dia mesti mati, begitu pula halnya dengan dirimu, Tapi sebelumnya aku ingin tahu dulu apa maksudmu mendatangi benteng ini?”

“Kalau tiada urusan tentu tak akan berkunjung, tentu saja aku ada urusan penting, cuma dengan kedudukanmu yang rendah masih belum berhak untuk mengetahui maksud kedatanganku in.”

“Kalau begitu tolong tanya siapa yang mempunyai hak tanya itu?”

“Tentu saja Thian-seng-pocu pribadi, Thian-keng-te-sat- seng-gwat-kiam Oh Kay-gak!”

Air muka Im-hong-sio Kui Kok-ho kembali berubah, sekarang dia tahu bahwa gadis itu mempunyai asal-usul yang cukup terkenal.

“Hehehe, bagius, bagus sekali,” katanya kemudian sambil tertawa seram, “asal kau mampu menangkan aku, kedatanganmu tentu kulaporkan langsung kepada Pocu.”

“Huh, dalam dunia persilatan Im-hong-so memang terhitung seorang jagoan, tapi di hadapanku tak lebih kau cuma kaum keroco, baiklah kuberi keuntungan bagimu, jika dalam lima gebrakan aku gagal mengalahkan dirimu, maka aku akan segera angkat kaki dari sini” 

Bok Ji-sia yang ikut mendengarkan pembicaraan itu agak bimbang, ia merasa gadis berbaju hitam itu terlalu jumawa.

Im-hong-so Kui Kok-ho bergelak tertawa saking dongkolnya demi mendengar penghinaan itu, katanya, “Bagus! Kalau begitu boleh lancarkan seranganmu!”

“Kalau aku yang menyerang duluan, dalam tiga jurus kau akan keok!” kata si nona. Pada hari-hari biasa, Im-hong-so Kui Kok-ho tersohor sebagai seorang gembong iblis golongan hitam, penghinaan itu kontan saja mengobarkan amarahnya, ia tertawa seram, teriaknya, “Tampaknya kau sudah bosan hidup!”

Begitu selesai berkata, seperti badan halus saja ia melayang ke depan nona berbaju hitam itu, tangan kirinya segera mandoroog sementara tangan kanan dengan lima jari yang dipentangkan membacok muka musuh.

Nona berbaju hitam itu segera mengayunkan tangannya hendak menutuk jalan darah Gi-ti-hiat di lengan kiri Im-hong- so.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa dan tepat, memaksa Im-hong-so harus menarik kembali kedua serangannya dan menyurut mundur. Tapi begitu mundur, Kui Kok-ho melompat maju lagi, tangan kanan terus membacok muka nona berbaju hitam itu.

Gadis berbaju hitam itu tertawa dingin, dengan enteng tangan kirinya melepaskan pukulan ke depan. Kedua gulung angin pukulan saling bentur, terjadi pusaran angin yang kencang, batu pasir sama beterbangan.

Im-hong-so Kui Kok-ho mendengus, mendadak tubuhnya bergoncang dan sempoyongan, hal ini amat mengejutkan, ia tidak mengira tenaga dalam gadis tersebut begitu hebat hingga pukulan yang dilancarkan dengan tujuh bagian tenaganya dapat ditahannya. Sambil membentak kembali ia maju tiga langkah, tangan kiri dengan jurus Jiu-po-ngo-hian (tangan memetik alat musik), ia melancarkan dua serangan berbareng dengan tenaga yang berbeda, kalau tangan kiri mengutamakan kelincahan, maka tangan kanan lebih mengutamakan kekuatan.

Jurus serangan itu dilancarkan dengan keji dan mematikan.

Meskipun kelihatannya wajah si nona baju hitam itu dingin dan angkuh, sesungguhnya ia terperanjat juga menghadapi ketangguhan jago Thian-seng-po ini, maka tangan kirinya dengan jurus Sing-hong-po-long (menumpang angin memecah ombak) dia punahkan daya serang tangan kanan Im-hong-so, sementara tangan kanan dengan jurus Hun-hoa-hut-liu (memisah bunga menyampuk pohon) sekaligus memunahkan jurus Jiu-po-ngo-hian lawan.

Pada saat yang singkat itulah kedua tangan nona itu. berputar lalu didorong ke muka, segulung angin pukulan ibaratnya gelombang besar mendampar menggulung tubuh Im-hong-so. Bok Ji-sia yang bermata tajam dapat menyaksikan bayangan yang berbentuk sekuntum bunga Bwe diantara putaran tangan gadis itu.

Air muka Im-hong-so Kui Kok-ho agak berubah melihat gerak pukulan nona itu, tiba-tiba ia melompat ke samping, tapi damparan angin pukulan yang sangat kuat tetap mendorongnya mundur sejauh beberapa tombak dan membuatnya muntah darah, kulit mukanya mengejang seperti menahan rasa sakit yang luar biasa.

“Ap….apa hubunganmu dengan Bwe-hiang-sian-ki dari lembah Han-bwe-kok?” tanyanya dengan suara gemetar.

Air muka nona berbaju hitam itu tidak memperlihatkan sesuatu emosi, jawabnya dingin, “Kau sudah terkena pukulan Bwe-sat-ciang, kalau tidak segera mencari Oh Kay-gak untuk memperoleh pengobatan, dalam tiga jam nyawamu akan melayang, katakan kepadanya bahwa murid Bwe-hian sian-ki, Bwe hoa-sian-kiam (Dewi pedang bunga sakura) Tong Yong- ling datang dengan membawa perintah gurunya.”

Bok Ji-sia terkesiap juga sesudah mengetahui gadis itu adalah anak murid Han-bwe-kokcu, Bwe-hian-sian-ki, pikirnya, “Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, konon Bwe-hiang-sian-ki si iblis perempuan itu berhati kejam tanpa kenal peri kemanusiaan, ia gemar membunuh dan ganas, kalau melihat kekejaman gadis ini rasanya tak salah lagi, lebih baik aku menyingkir saja daripada berjumpa dengan dia hingga mendatangkan banyak kesulitan bagiku.

Sementara ia masih berpikir, Im-hong-so Kui Kok-ho telah berkata, “NonaTong, kekejamanmu ternyata melebihi gurumu, baiklah, anggap saja malam, ini aku orang she Kui lagi apes. Nah, ikutlah diriku!”

“Nonamu masih ingin pesiar menikmati pemandangan malam di benteng ini, lebih baik kau suruh Oh Kay-gak datang sendiri mencariku.”

“Baik, kalau begitu berhati-hatilah!” sehabis berkata Im- hong-so Kui Kok-ho segera melompat pergi dan lenyap di balik kegelapan sana.

“Berhenti!” mendadak Bwe-boa-sian-kiam Tong Yong-ling membentak.

Rupanya Bok Ji-sia hendak menggunakan kesempatan itu untuk kabur, dengan jantung berdebar terpaksa ia hentikan gerak tubuhnya. Tong Yong-ling memang bernyali besar, selangkah demi selangkah ia mendekati pemuda itu, kurang lebih tiga-emnpah langkah di depan lawannya ia baru berhenti.

“Apakah kau anggota benteng?” tegurnya. “Bukan!” Ji-sia menggeleng.

Setelah melihat jelas muka Bok Ji-sia yang tampan, tiba- tiba gadis itu tersenyum.

“Kalau bukan anggota Thian-seng-po, kenapa begitu berani kau masuk ke benteng ini? Hm, lebih baik jangan berbohong di hadapanku!”

Agak gusar Ji-sia mendengar kebinalan gadis tersebut, semprotnya, “Kau anggap cuma kau sendiri yang berani menyatroni Thian-seng-po? Kenapa aku harus berbohong padamu?” Ganti Tong Yong-ling yang dibikin tertegun oleh dampratan itu, pikirnya “Nama besar Thian-seng-po telah menggetarkan dunia persilatan, setiap orang tahu bahwa masuk ke benteng Thian-seng-po hanya ada jalan kematian…..”

Berpikir sampai di sini ia lantas berkata dengan dingin, “Kau mengaku bukan anggota Thian-seng-po, lantas ada urusan apa kaudatang kemari?”

“Kita tak saling mengenal, tiada permusuhan atau perselisihan antara kita, dan lagi kedua pihak pun tak ada hubungan, lebih baik kita kerjakan urusan masing-masing saja.

“Sekalipun kita tiada hubungan apa-apa, masa kau tidak sayang lagi pada nyawa sendiri? Aku hanya memperingatkanmu secara baik-baik, kalau tak ada urusan penting leoih baik mundur saja dari neraka ini,”

Ji-sia tersenyum, katanya, “Siapa yang tidak sayang akan nyawa sendiri? Tiada urusan tak mungkin malam-malam nona kemari, demikian pula dengan diriku, kalau tak ada urusan penting tak nanti kukunjungi benteng ini di tengah malam buta..

Tong Yong-ling tertawa dingin, selanya, “Selama hidup belum pernah kuucapkan begini banyak kata yang tak  berguna dengan orang lain, malam ini aku telah melanggar kebiasaanku itu. Jika kau tak mau mundur dari sini, bagimu tiada manfaat, sebaliknya hanya kerugian yang akan kau terima, kau tahu Thian-seng-po adalah tempat yang berbahaya, usiamu masih muda dan tidak cukup berpengalaman, maka sengaja kunasihati dirimu, mau terima atau tidak terserah padamu sendiri,”

“Terima kasih atas maksud baik nona, biar kuterima di hati saja! Mati-hidup seseorang berada di tangan Thian, maaf kalau aku tak dapat menemani kau lebih lama lagi.” Habis berkata ia lantas putar badan dan hendak berlalu dari situ.

“Berhenti!” tiba-tiba Tong Yong-ling membentak lagi. Mencorong sinar mata Bok Ji-sia, ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat, kemudian tegurnya ketus, “nona, sesungguhnya apa maksudmu menahanku agar tetap tinggal di sini?”

Rupanya Tong Yong-ling tidak mengira orang bakal mengajukan pertanyaan seperti ini, setelah tertegun sejenak, katanya, “Kenapa kau engan menuruti perkataanku?”

Melihat perkataan nona itu makin lama semakin berlagak, kemarahan di dalam hati Ji-sia berkobar, serunya dengan gusar, “Kau juga tiada hubungan apa-apa denganku, kenapa aku mesti mendengarkan nasihatmu? Huh, perempuan yang tak tahu malu!”

Gemetar sekujur tubuh Tong Yong-ling oleh perkataan itu, ia tampak seperti marah, seperti juga tersinggung, teriaknya, “Kau…., kau berani memakiku..?”

Melihat wajah gemas si gadis, Ji-sia kembali berpikir, “Bagaimanapun juga aku adalah seorang lelaki, kenapa harus melukai hati seorang gadis? Ai, lebih baik tidak kugubris dia lagi ,…”

Dengan pandangan tajam Tong Yong-ling menatap wajah pemuda itu, sampai lama sekali, tiba-tiba ia berkata sambil tersenyum, “Mungkin kau tidak tahu siapa diriku, maka kau berani mendampratku dengan kata-kata yang tak sedap.”

“Hm, siapa yang tak tahu kau adalah murid iblis perempuan Bwe-hiang-sian-ki?” seru Ji-sia dengan kemarahan yang berkobar lagi, “Terus terang kuberitahukan padamu, lebih baik jangan kau anggap dirimu hebat dan luar biasa.”

Sambil tertawa Tong Yong-ling geleng kepala berulang kali, “Kau memang benar seorang yang tak tahu tinggmya langit dan tebalnya bumi, untung Suhuku tidak ikut datang malam ini, coba kalau tidak, hm, sekalipun kau punya sepuluh buah kepala juga tak akan berani kurang ajar kepadaku, karena sejak kutahu urusan, belum pernah ada orang yang kurang ajar kepadaku, kau adalah orang pertama yang telah memakiku!”

Bok Ji-sia tertawa dingin, “Seorang lelaki sejati tak akan bercekcok dengan seorang gadis, ogah kuurusi pertikaian yang tak berguna ini….”

Dengan sekali lompat anak muda itu melayang ke atas rumah dan buru-buru berlalu dari situ. Tapi baru saja ia melewati sebuah halaman dan melayang turun ke bawah, mendadak didengarnya seseorang tertawa dingin.

“Hmm, Mengakunya saja seorang laki-laki sejati, tahunya cuma seorang pengecut yang kabur pada saat orang tak bersiap, tidakkah kau merasa malu pada perbuatanmu ini?”

Ji-sia coba mengamati arah suara teguran itu, betapa terkejutnya setelah mengetahui Tong Yong-ling sedang menghampirinya dari depan.

“Heran, ia putar dari arah mana? Kenapa begitu cepat sampai di situ..?” demikian ia pikir.

Dengan gusar ia lantas membentak, “Nona, sebetulnya ada urusan apa kau halangi jalan pergiku? Kalau tidak kau terangkan alasanmu yang tepat, jangan salahkan aku akan bertindak kasar kepadamu.”

Perlu diterangkan, Bwe-hoa-sian-kiam Tong Yong-ling adalah gadis yang terkenal tidak pakai aturan dan sukar dilayani, meski wajahnya cantik dan ilmu silatnya lihai, tapi ia berhati kejam dan tak kenal ampun, apalagi ia pun murid Bwe-hiang-sian-ki, iblis perempuan yang membunuh orang tanpa berkedip. Setiap jago persilatan selalu was-was setelah mengetahui asal usulnya, hal ini membuatnya semakin sombong dan tinggi hati.

Setelah mengetahui Bak Ji-sia enggan menerima kebaikannya, selapis hawa nafsu membunuh segera menyelimuti wajahnya, sambil tertawa dingin ia berkata, “Sudah berulang kali ku melanggar kebiasaan dengan mengalah kepadamu, tapi kau terus menerus tak tahu diri, malah tak mau mengalah padaku, Baiklah, kalau kau ingin berselisih denganku, akan kulihat apa yang kau andalkan sehingga tak pandang sebelah mata kepadaku?”

Ji-sia benar-benar tidak menyangka gadis itu begitu bandel dan tak tahu aturan, ia tak dapat mengendalikan marahnya lagi, dengan alis bekernyit dan mulut mencibir, pemuda itu mendengus, “Hm, rupanya sebelum pertarungan kita berlangsung malam ini, urusan tak akan beres dengan begitu saja!”

Tampaknya Tong Yong-ling tidak percaya pemuda itu berani melawannya, sambil senyum tak senyum ia mengejek, “Kau benar hendak memusuhi diriku?”

Ji-sia tertegun dan merenung sejenak, pikirnya, “Gadis ini berilmu tinggi, padahal maksud kedatanganku malam ini adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, kalau sampai bertarung dengan dia hingga makan waktu, sedangkan tenaga murniku sukar tersalur ke lengan, betapapun sukar kurobohkan dia, ai…..”

Setelah menghela napas sedih, katanya, “Nona, asal kau tidak mendesakku terus menerus, tak nanti aku berselisih paham denganmu!”

Senyuman yang semula menghiasi wajah Tong Yoog-liang seketika lenyap, dengan dingin katanya, “Kalau kau enggan berselisih denganku, maka aku justru ingin berselisih denganmu, mau apa kau?” Ji-sia maju beberapa langkah, katanya: “Kalau nona bersikeras akan berbuat demikian, tentu saja akan kupertaruhkan nyawaku untuk melayani!”

“Kalau demikian, hati-hatilah, sebab aku tak akan sungkan- sungkan lagi dalam seranganku nanti.”

“Tak usah banyak bicara, keluarkan semua kepandaianmu!” bentak Ji-sia dengan gusar.

Hawa nafsu membunuh seketika menyelimuti wajah Tong Yong-ling, segera ia menubruk maju, dengan suatu gerakan ringan ia lancarkan serangan yang cepat dan aneh. Ji-sia tidak panik, ia rendahkan badan sambil berkelit, dengan jurus aneh juga ia membendung serangan berantai lawan.

“Hehe, rupanya boleh juga kau ini!” ejek si gadis dengan tertawa dingin.

Dengan tubuh miring ia melangkah ke depan, telapak tangan kirinya langsung membacok ke da-da lawan. Angin serangan menderu-deru, jurus pukulan menyambar-nyambar, sungguh serangan yang keji dan tak kenal ampun…..

Ji-sia tak berani menyambut dengan keras, tiba-tiba ia melayang ke samping. Pada kesempatan itu Tong Yong-ling menubruk pula ke depan, kembali ia memancarkan serangkaian serangan berantai, di antara berkelebatnya bayangan tangan, dalam waktu singkat ia telah menyerang 24 kali pukulan.

Semua serangan tersebut dilancarkan dengari kecepatan bagaikan kilat, semuanya gerakan yang ampuh dan di luar dugaan. Tapi jurus serangan yang digunakan Ji-sia lebih aneh lagi, bagaimanapun lihainya serangan Tong Yong-ling, semuanya terbendung olehnya, malah terkadang dari sudut yang aneh telapak tangannya menerobos masuk bagaiksn ular berbisa dan balas mengancam bagian mematikan di tubuhnya, hal ini memaksa Bwe-hoa-sian-kiam mesti urungkan serangannya dan melompat mundur ke belakang. Sebagaimana diketahui, Bok Ji-sia telah berhasil mempelajari seluruh ilmu silat yang tercantum dalam kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng, dalam soal jurus serangan jarang ada yang mampu menandinginya. Sayang tenaga dalamnya menggumpal dalam urat nadi hingga tak sanggup tersalur pada telapak tangan untuk melukai orang, kalau tidak, hanya beberapa orang saja dalam dunia persilatan yang sanggup mengalahkan dia.

Begitulah, sambil menyambut serangan musuh, ia berpikir, “Kini aku sudah di atas angin, kalau tidak kutarik semua jurus seranganku, bila ia jadi nekat dan menyerang dengan tenaga dalam, akulah yang bakal dibikin malu….”

Tiba-tiba ia menarik diri dari serangkaian pukulan Tong Yong-ling yang hebat itu seraya membentak, “Harap berhenti dulu nona, kita tak pernah bermusuhan, apa gunanya bertarung mati-matian begini?”

Setelah menyaksikan jurus serangan aneh lawannya, Tong Yong-ling merasa terkesiap, tapi hal itu justeru membangkitkan pula rasa ingin menangnya, sebab sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah ada orang yang mampu menerima dua puluh jurus serangannya.

Tapi pemuda itu bukan saja dapat menyambut dua puluh jurus serangannya dengan baik bahkan kadangkala ia sendiri terdesak oleh serangan lawan yang aneh, hal membuatnya penasaran. Selain itu ada satu hal yang menimbulkan pula kecurigaannya, yakni tenaga yang dipancarkan oleh serangan Ji-sia selalu lemah, terkadang sudah jelas tubuhnya bakal terhajar telak oleh serangan lawan tapi nyatanya pemuda itu tidak menyerang lebih jauh, menurut sangkaan gadis itu, pastilah Bok Ji-sia sengaja mengalah kepadanya.

Tong Yong-ling berwatak angkuh dan tinggi hati, ia tambaih dongkol menghadapi kejadian itu. “Sambut lagi beberapa jurus seranganku!” bentaknya dan suatu pukulan segera dilontarkan ke depan.

Dengan kening berkerut Ji-sia menangkis dan mendesak mundur ancaman tersebut, tapi ia tetap tidak membalas.

Bwe-hoa-sian-kiam lantas membentak nyaring, serangannya bertambah gencar. Ji-sia melayani serangan musuh dengan memotong nadi dan menutuk menurut ajaran dalam kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng, sering gadis itu harus menarik kembali serangannya di tengah jalan, tapi ia sendiri tak pernah melancarkan serangan balasan.

Setelah dua puluh serangan lebih dengan kecepatan tinggi, Tong – Yong-ling merasa bertambah takut, sambil menghentikan serangannya ia mundur ke belakang, lalu katanya dengan dingin, “Hei, kenapa kau tidak membalas seranganku?”

Kiranya ia telah merasakan jurus serangan yang digunakan Bok Ji-sia untuk memunahkan serangannya itu hampir semuanya merupakan jurus-jurus ampuh yang jarang ditemui, malah hampir seluruhnya merupakan jurus serangan mematikan walau setiap kali ia sempat menarik kembali serangannya tepat pada detik terakhir, tapi bagaimanapun Tong Yong-ling tetap waspada terhadap serangan mematikan yang mungkin dilancarkan secara mendadak.

Dengan, hambar Ji-sia berkata, “Sudah kuterangkan tadi, bahwa kita tak pernah bermusuhan, kenapa mesti bertarung hingga akibatnya kedua pihak akan sama-sama terluka?”

Tong Yong-ling mendengus, “Hmmm, kau anggap nona ini siapa? Memangnya aku sudi menerima kebaikan Bubeng-siau- cut (manusia tanpa nama) seperti dirimu? Ayo lancarkan seluruh seranganmu! Kalau tidak, jangan katakan aku keji bila sampai terbunuh olehku!” “Sialan kau!” maki Ji-sia di dalam hati, “untung tenaga dalamku tak dapat disalurkan pada tangan, kalau tidak, sejak tadi tentu kau sudah keok.”

Tiba-t:ba Tong Yong-ling mengayunkan tangan kirinya ke depan, dengan kelima jari tangan ia cengkeram dada Bok Ji- sia. Tenaga berbentuk bunga Bwe segera menyambar ke depan. Rupanya ia telah keluarkan ilmu pukulan Bwe-sat-ciang yang sangat beracun itu. Ji-sia merasakan hawa dingin serta bau : harum bunga Bwe di antara cengkeraman kelima jari lawan, dengan terkesiap cepat ia menyingkir ke samping.

Tong-Yong-ling tertawa dingin, tangan kanan segera menyusul pula mencengkeram. Serangannya kali ini ternyata jauh lebih ganas daripada serangan pertama kali tadi. Ji-sia tahu gadis itu telah sertakan tenaga yang hebat dalam pukulan Bwe-sat-ciang itu, jika ia berani menangkis dengan kekerasan, akibatnya dia akan celaka sendiri.

Terpaksa kaki kiri bergeser, tubuh berputar kencang dan sekali lagi menghindarkan diri dari serangannya yang kedua. Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah Tong Yong-ling menjumpai orang yang sanggup menghindari pukulan Bwe-sat-ciang nya yang kedua, rasa ingin menang tambah berkobar, hawa napsu membunuh pun semakin membakar, ia lantas membentak…..

Kedua telapak tangannya bergerak berulang kali, bayangan jari memenuhi udara, disertai desing angin dingin serangan maut menyambar ke depan. Mengejang kulit wajah Bok Ji-sia, terasa hawa dingin yang terpancar keluar dari serangan lawan membuat ia sukar mempertahankan diri, sambil membentak kedua telapak tangannya kembali di ayunkan ke muka dengan gerakan yang sangat aneh…..

Tubuhnya seperti bayangan setan bergerak ke sebelah kiri Tong Yong-ling, walaupun tangan kanan berhasil menekan bahu kiri si nona, namun tekanan tersebut sama sekali tak bertenaga. Tong Yong-ling sangat terkejut, buru-buru dia ayun telapak tangannya ke depan. Suara dengusan tertahan terdengar, segulung angin pukulan yang kuat menerjang tubuh Bok Ji-sia dan membuatnya mencelat sejauh satu tombak lebih.

Walaupun demikian, Tong Yong-ling merasakan pula tangannya menjadi kaku oleh tenaga pantulan yang aneh, tubuhnya tergetar mundur juga berapa langkah. Air muka Ji- sia pucat seperti mayat, bibirnya hijau gemetar, keadaannya persis seorang yang menggigil kedinginan baru keluar dari gudang es.

Ia muntah darah, dengan perasaan dendam ia berkata, “Sakit hati ini akan kuingat selalu di dalam hati!”

Habis berkata dengan tubuh sempoyongan Ji- sia melompat ke atas atap rumah lalu dalam beberapa kali kelebatan saja sudah lenyap dari pandangan.

Tong Yong-ling menghela napas pelahan demi mendengar perkataan itu, timbul perasaan murung dalam hatinya, ia pikir, “Orang ini betul-betul aneh sekali, sudah terang ilmu silatnya sangat lihay, kenapa ia tak kuat menyambut seranganku, bahkan berjanji hendak membalas dendam? Ya, aku toh tiada permusuhan dengan dia, kenapa aku tidak menyusul dan punahkah racun dingin Bwe-sat-ciang itu?”

Seperti anak panah yang terlepas dari busurnya segera ia melompat ke atas rumah.

Tapi bayangan tubuh Bok Ji-sia sudah lenyap tak berbekas, pikirnya dengan kaget, “Heran, kenapa ia bisa kabur secepat ini meski sudah kena pukulan Bwe-sat-ciang yang tidak ringan?”

Sejak terjun ke dalam dunta persilatan, tak sedikit orang yang dibunuhnya, belum pernah terlintas rasa menyesal atas perbuatannya, tapi sekarang, setelah memukul Bok Ji-sia, entah mengapa timbul perasaan yang amat menyesal dalam hatinya. Bok Ji-sia benar-benar gusar sekali, sambil menahan perasaan ia melompati beberapa buah rumah, ia benci kepada langit mengapa memberi jurus serangan yang aneh tanpa tenaga dalam yang sempurna, apalagi teringat kalau seratus hari lagi urat nadinya akan pecah dan ia bakal mati, hatinya benar-benar merasa sedih sekali.

Tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan bersuit nyaring, suaranya tinggi melengking dan amat menusuk telinga. Di balik suara suitan itu seakan-akan mengandung perasaan murung dan marah yang hebat, terselip juga rasa sedih, seolah-olah sedang bertanya kepada Thian. mengapa dalam kehidupannya ini harus mengalami percobaan seberat ini.

Seperti orang gila Ji-sia berteriak-teriak keras, “Aku hendak menantang maut, aku tak mau mati, aku ingin membalas dendam. Ia membayangkan kematian yang akan menimpanya seratus hari kemudian serta pengalamannya yang tragis, hatinya sungguh amat sedih, sambil memukul dada dan mendepak-depak tanah, seperti orang gila ia berteriak-teriak sendiri.

Mendadak dari belakang sebatang pohon di depan sana berkumandang suara tertawa dingin, lalu seseorang menegur, “Kau laki-iaki gila, lebih baik dendammu kau balas pada penitisan yang akan datang saja. Hehehehe”

Bersama dengan menggemanya gelak tertawa seram, desing angin menyambar lewat, tahu-tahu tiga orang laki-laki berbaju perlente yang botak se perti Hwesio dan bermuka putih seperti salju telah berdiri di depannya. Ketiga orang itu adalah Sam-lo-han berbaju perlente dari Thian-seng-po, kungfunya tinggi, wataknya buas, kebanyakan jago silat yang menyusup ke dalam Thian-seng-po tewas di tangan mereka.

Terkesiap hati Bok Ji-sia setelah melihat sinar mata buas yang terpancar dari enam buah mata ketiga orang itu, tapi di luarnya ia tetap tenang, katanya dengan angkuh, “Kuharap kalian bertiga segera menyingkir dari sini, kalau tidak maka kalian bakal mampu?!”

Kim-kong-lo-han yang ada di tengah tertawa dingin, “Hmm, barang siapa sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, rasanya pasti tahu peraturan benteng Thian-seng- po, waktu datang memang gampang, tapi sulit untuk meninggalkan tempat ini..”

Ji-sia mendongakkan kepalanya sambil tertawa, tukasnya, “Sebelum tujuanku tercapai, aku masih belum berniat meninggalkan tempat ini!”

“Hmm, kalau kau berani menyatroni Thian-seng-po di tengah malam buta, aku yakin kepandaianmu pasti hebat sekali,” kata Hu-hou-lo-han yang berada di sebelah kiri sambil tertawa seram, “tapi jalan pemikiranmu keliru besar, jumlah jago silat dalam Thian-seng-po yang berilmu tinggi semacam kau banyaknya tak terhitung jumlahnya…..”

Ternyata ketiga Lo-han berbaju perlente ini telah dibikin keder oleh keangkuhan Bok Ji-sia, kalau tidak, dengan kekejaman mereka pada hari-hari biasa, tak mungkin mereka mau bicara sebanyak itu.

Ji-sia tidak menganggap mereka sebagai suatu ancaman, katanya dengan dingin, “Apa lagi yang kalian tunggu? Cayhe siap menemani kalian untuk bermain beberapa jurus!”

“Sebetulnya urusan sih gampang sekali,” demikian Kim- kong-lo-han berkata, “kalau kau yakin mampu membobol hadangan orang Thian-seng-po, silahkan saja untuk menerjangnya, tapi kalau merasa tak mampu menandingi kami, hendaknya menyerah saja dan ikut kami menghadap serta menerima hukuman dari Sin-tong-tongcu, siapa tahu kalau nyawamu masih ada harapan untuk diselamatkan.”

Ji-sia berkerut dahi, lalu tertawa dingin, katanya, “Kalau aku berani memasuki benteng, itu berarti mati hidupku sudah tidak kupikirkan lagi, aku yakin diriku masih mempunyai kemampuan untuk pergi datang sekehendak hatiku”

Walaupun berkata demikian, padahal rasa cemas dalam hatinya sukar dilukiskan, sebab Thian-seng-po yang tampaknya tenang dan sepi seolah-olah tanpa penjaga ternyata ada penjagaan yang ketat membuat siapapun yang memasuki benteng itu sulit untuk terlepas dari pengamatan mereka. Mendadak Tok-sim-lo-han (lohan berhati kejam) yang ada disebelah kanan tertawa aneh, sedikit bahunya bergerak, tahu-tahu tangan kirinya membacok dari samping, sementara tangan kanannya mencolok ke depan dengan jurus Siang- liong- cian-cu (sepasang naga berebut mutiara)..

Melihat keanehan dan kelihaian jurus serangan orang aneh ini, Ji-sia terperanjat, pikirnya, “Tampaknya kepandaian andalan ketiga orang aneh ini adalah ilmu Gwa-kang, padahal aku tak bertenaga, bagaimanapun lincah dan hebatnya jurus seranganku, sulit rasanya untuk melukai mereka.”

Segera ia mengegos ke samping, tangan kanan diangkat dan membiarkan tangan kiri lawan bergerak lewat, kemudian mendadak ia sambar pergelangan tangan kanan lawan.

Jurus serangan itu tepat sekali penggunaannya, suatu serangan balasan yang berhasil merebut posisi di atas angin, tapi anak muda itu tidak mengejar lebih lanjut. Tok-sim-lo-han tidak tahu Bok Ji-sia tak bertenaga dalam, melihat kelihaian jurus serangannya, dengan terkejut ia menyurut mundur.

Ketiga orang gundul itu sama terkejut, pikirnya, “Hebat benar orang ini, jurus serangannya kenapa begitu lincah dan aneh?!”

Lain pula jalan pikiran Bok Ji-sia, diam-diam ia berpikir, “Kalau aku berdiri terus di sini tanpa menyerang mereka, rasanya hal ini pun bukan cara yang baik ,..”

Berpikir demikian, ia lantas membuka kembali serangkaian serangan gencar, bukan saja gencar, jurus yang dipakai juga aneh dan sukar diraba arah tujuannya. Dalam waktu singkat ia telah melancarkan tujuh kali serangan dan empat kali tendangan. Tok-sim-lohan terdesak mundur berulang kali dengan ketakutan, sebab setiap jurus serangan itu mengarah bagian tubuhnya yang mematikan dan tidak memberi kesempatan baginya untuk melancarkan serangan balasan,

Ia tidak tahu bahwa sekalipun terkena pukulan Bok Ji-sia, nyawanya tidak berbahaya, dengan mundur ke belakang justeru termakan oleh siasat Bok Ji-sia.

Setelah melancarkan serangkaian serangan gencar, Ji-sia menarik kembali serangannya, lalu berkata dengan dingin. “Lebih baik kalian tahu diri dan segera mengundurkan diri dari sini, kalau tidak hanya kematian yang bakal kalian terima.”

Ketiga Lo-han berbaju perlente adalah manusia buas yang kejam dan tak kenal takut, sampai mati pun mereka tak akan kabur apalagi cuma dibikin kaget saja oleh serangkaian serangan gencar tersebut. Kim-hong-lo-han tertawa seram, tubuhnya yang tinggi besar secepat angin bergerak ke muka, telapak tangannya juga melancarkan serangkaian pukulan berantai, sebentar pukulan kepalan, sebentar lagi pukulan telapak tangan semuanya pukulan keras.

Angin pukulan menderu-deru, bayangan pukulan sambar menyambar dengan dahsyat. Kendatipun Bok Ji-sia memiliki jurus serangan tangguh, apa lacur tak bertenaga untuk melukai orang, di bawah tekanan pukulan musuh yang begitu kuat dan gencar, ia terdesak sehingga mesti berkelit ke kiri dan mengegos ke kanan serta mundur berulang kali.

Rupanya Kim-hong-lohan sudah mulai merasakan pukulan Bok Ji-sia lembek sekali, ia tertawa seram dan berteriak, “Saudara berdua, rupanya dia cuma laki-laki yang tak  berguna. Ayo kita binasakan dia!”

Di tengah teriakan tersebut, kedengaran deru keras menyapu ke depan. Dua pukulan Kim-kong-lohan yang kuat itu memaksa Bok Ji-sia mundur beberapa kaki. Hu-hou (penakluk harimau) dan Tok-sim (berhati keji) Lo-han serentak membentak, serangan mereka pun mengancam bagian yang mematikan di tubuh anak muda itu. Gusar Ji-sia, ia berpekik nyaring, telapak tangannya dari sudut yang tak terduga menyongsong datangnya serangan kedua Lohan itu.

“Blang!” benturan keras menggelegar…..

Bagaimanapun kekuatan Bok Ji-sia sekarang bukan tandingan orang, lengannya tergetar linu, dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah. Kim-kong-lo-han segera menubruk maju dan melancarkan pula pukulan berantai, segulung angin pukulan yang keras segera menyapu datang.

Ketika merasakan ancaman pukulan yang dahsyat, ia kaget dan buru-buru melompat mundur. Sekalipun gerakannya berkelit cukup cepat, toh ia termakan juga oleh sisa tenaga pukulan Kim-kong-lo-han, sewaktu melayang turun kakinya tak mampu berdiri tegak, beruntun dia tergetar mundur lima- enam langkah sebelum berhasil berdiri tegak. Darah dalam rongga dada bergolak keras, kepala terasa pusing tujuh keliling.

Sambil tertawa dingin, ketiga Lohan berbaju perlente itu menerjang lagi ke muka seperti setan iblis. Enam telapak tangan diayunkan berbareng, hawa pukulan yang maha dahsyat disertai deru tajam langsung menyambar tubuh Bok Ji-sia dari delapan penjuru.

“Blang!” terdengar suara keras.

Di tengahi dengus gakit tertahan, tubuh Bok Ji-sia seperti layang-layang putus mencelat ke belakang dan jatuh terduduk di atas tanah.

Sebaliknya ketiga orang Lohan berbaju perlente pun sama mundur dua langkah dengari sempoyongan, hal ini membuat mereka terkejut sekali, pikirnya, “Sepintas lalu bocah ini seperti orang yang tak bertenaga dalam kenapa sesudah terkena pukulan masih muncul juga tenaga pantulan yang halus tapi kuat? Orang ini masih muda belia, tapi ilmu silatnya sudah selihai ini, lewat beberapa tahun lagi niscaya sulit ada tandingannya di dunia ini, yang menakutkan lagi adalah jurus serangannya yang aneh, hampir semua intisari ilmu silat pelbagai perguruan tercakup di dalamnya….”

Berpikir sampai di sini, makin besar tekad ketiga orang Lohan berbaju perlente ini hendak melenyapkan Bok Ji-sia dari muka bumi ini, serentak ketiga orang itu berteriak aneh, enam telapak tangan bekerja berbareng lagi, dan secepat kilat menubruk pula ke depan.

Tiba-tiba berkumandang suara pekik keras yang penuh kesedihan dan memilukan…..

Bok Ji-sia yang duduk bersila tahu-tahu sudah melompat bangun dengan kecepatan luar biasa. Kini genggamannya telah bertambah dengan sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar keemasan, ruyung itu penuh dengan kaitan tajam, di iringi pekik keras yang membetot sukma, Ji- sia memutar ruyung emas itu menjadi tiga jalur cahaya emas dan segera menggulung ke arah ketiga orang itu.

Perubahan ini berlangsung secara tiba-tiba dan terjadi dalam waktu singkat. Mimpipun ketiga orang Lohan berbaju perlente itu tidak mengira Bok Ji-sia masih memiliki tenaga dalam sehebat ini dalam keadaan terluka parah, sementara mereka terkesiap, serangan maut ruyung Ji-sia telah menyapu tiba dengan kecepatan yang luar biasa…..

Tiga kali jerit melengking yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa…..

Batok kepala gundul ketiga orang Lo-han itu hancur remuk dengan darah berhamburan, wajahnya rusak sama sekali, setelah terhuyung-huyung mereka lantas roboh terjungkal. Sementara itu Bok Ji-sia tetap memegang ruyung aneh itu dan berduduk di antara ketiga korbannya, kulit mukanya mengejang keras menahan penderitaan yang hebat, dengan sinar mata menyeramkan ia awasi wajah ketiga sosok mayat yang bermandikan darah itu.

Pelahan wajahnya yang dingin itu tersungging sekulum senyuman puas, namun rasa hampa, sedih dan benci juga menyelimuti wajahnya.

Bibirnya bergetar pelahan dan gumamnya, “Hanya satu jurus Jian-kim-si-hun-pian (cambuk emas perenggut nyawa) inikah yang diberikan Thian kepadaku? Ai……mungkin ajalku sudah tak jauh lagi, barusan aku telah melakukan serangan dengan menyerempet kemungkinan bahaya pecahnya urat nadi dalam tubuhku sekalipun hawa murni itu dapat menhembus ke ujung cambuk dan membinasakan mereka, tapi dengan demikian semakin cepat pula ajalku akan tiba…..”

Supaya diketahui, seluruh tenaga murni yang berada dalam tubuh Bok Ji-sia telah terhimpun dalam delapan urat nadi penting, hal ini membuat tubuhnya seakan-akan penuh terisi tenaga yang tak berwujud, setiap kekuatan dari luar yang menghantam tubuhnya akan menimbulkan tenaga pantulan, kalau bukan begitu, sejak tadi Bok Ji-sia tentu sudah tewas oleh pukulan Bwe-sat-ciang yang dilancarkan Bwe-hoa-sian- kiam Tong Yong-ling.

Selain itu, beberapa kali tenaga serangan gabungan ketiga Lohan itupun kena dipunahkan oleh tenaga pantulan yang muncul dari dalam badan, tapi luka yang dideritanya juga makin parah, dalam serangan gabungan terakhir ketiga Lohan itu. kemungkinan besar nyawanya akan terenggut.

Karena sedih dan menyesal yang luar biasa Bok Ji-sia telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk membunuh orang orang itu dengan ilmu ruyung yang maha sakti, sekalipun tujuannya berhasil, tapi keadaan tubuh sendiri sekarang sangat lemas, sebab dada terasa sakit seperti diiris-iris dan darah bergolak dengan hebatnya.

Menghadapi keadaan seperti ini, Ji-sia tahu bahwa akibat menggunakan hawa murni secara paksa itu terlalu berat baginya, umurnya kini tak akan melebihi tujuh hari lagi,  tatkala mana urat nadinya akan meledak dan jiwanya akan melayang.

Di dalam kitab pusaka Jiat-im-siang-gi-pit-keng sudah diterangkan, barang siapa berani mengerahkan tenaga dalam secara paksa sebelum himpunan hawa murni dalam urat nadinya terthembus, maka akibatnya nadi itu bisa pecah dan mati lebih cepat daripada hari yang ditentukan.

Timbul pula rasa pedih pada wajah Ji-sia, kembali ia bergumam, “Mampus biarlah mampus, bagaimanapun juga kalau kitab Beng-yu-cin-keng tak dapat kutemukan pada malam ini, seratus hari kemudian akupun akan meninggalkan dunia ini, ai ,…”

Diiringi helaan napas sedih, air mata lantai jatuh bercucuran bagaikan hujan. Rupanya ia teringat lagi pada keadaan ibunya yang mengenaskan menjelang kematiannya. Dengan sedih Ji-sia kembali bergumam, ‘O, ibu! Aku tak punya muka untuk bertemu lagi denganmu, kini dendam berdarah belum terbalas, tapi aku segera akan menyusulmu ke alam baka……”

Ia tak punya keberanian untuk melanjutkan perkataanya, meski kematian bukan hal yang mengerikan baginya, tapi bila terbayang akan perbuatannya yang telah “mengawini” ibunya sendiri, ia merasa malu untuk hidup lebih lanjut di dunia ini, ia merasa dosanya itu pantas ditebus dengan kematian.

Pemuda itu mengerti bila ia lebih cepat meninggalkan dunia fana ini berarti lebih cepat pula mengurangi siksaan batinnya, tapi bila terbayang kembali pesan ibunya sebelum mati, keinginannya untuk hidup terus menjadi teguh kembali, sebab ia dapat merasakan betapa mulia hati ibunya, bagaimanapun dia harus menyayangi kehidupannya, karena itulah satu- satunya pengharapan ibunya, ia merasa sukmanya akan malu untuk bertemu dengan arwah ibunya di alam baka bila sakit hati itu belum terbalas.

Perlu diterangkan di sini bahwa ibu Bok Ji-sia sesungguhnya belum mati, ketika si anak muda itu pergi meninggalkannya, karena kuatir anaknya secara diam-diam akan bunuh diri akibat perbuatannya yang memalukan itu sehingga sakit hatinya tak terbalas, maka niatnya untuk mati segera berubah, setelah mengalami pelbagai penderitaan akhirnya ia berhasil mempertahankan hidupnya. Ia akan muncul kembali pada bagian lain dalam cerita ini.

Sementara. Ji-sia masih: melamun, tiba-tiba ia lihat munculnya sesosok bayangan yang panjang seperti sukma gentayangan di depan sana, di bawah pohon…..

“Sia….siapa kau?” dengan terkejut ia menegur. Bayangan itu bergeser dari tempatnya semula, namun tidak memberi jawaban, tubuh itu seakan-akan enteng seperti kapas dan kedua kakinya hampir tidak menempel tanah, sewaktu bergerak ke muka sama sekali tidak menimbulkan suara apa- apa.

Ternyata orang itu adalah seorang kakek berwajah bulat, beralis mata panjang, berjenggot sebatas dada, menyandang pedang dan berwajah penuh wibawa.

Melihat orang membungkam terus, dengan rada gemetar Ji-sia menegur pula “Apa…..apakah kau Thian-kang-te-sat- seng-gwat-kiamn Oh Kay-gak?” Sekarang Ji-sia benar-benar merasakan ngerinya kematian, ia merasa bila orang itu adalah Oh Kay-gak sendiri atau jago lihay dari Thian-seng-po, boleh jadi ajalnya tinggal beberapa menit saja.

Sementara itu, si kakek berwajah kereng dan berwibawa itu sudah berada beberapa kaki di hadapan Ji- sia, dia mengebutkan lengan bajunya dan berkata, “Kau mengira aku Thian-seng-pocu, si pedang rembulan dan bintang Oh Kay- gak?”

Ji-sia coba mengamati wajah kakek itu dengan lebih teliti, ia lihat alis matanya yang putih panjang hampir menutupi kelopak matanya, senyuman menghias bibirnya, tanpa terasa timbul rasa kagumnya. “Kalau begitu Locianpwe adalah orang luar benteng?” sapanya pula dengan suara lirih.

“Hahaha, kembali salah tebakanmu,” jawab kakek itu sambil tertawa bergelak, “aku adalah kakak Oh Kay-gak yang bernama Thian-kang-kiam (pedang bintang utara) Oh Ku- gwat! Ruyung yang kau pegang itu apakah benar ruyung Jian- kim-si-hun-pian yang kau peroleh dari Ban-pian-sin-kun (malaikat suci selaksa ruyung) Auyang Seng berikut sejilid kitab Jiat-im-siang-gi-pit-keng?”

Ji-sia sangat terperanjat, ia merasa pengetahuan kakek itu luas sekali sehingga asal-usul senjata andalan juga diketahuinya dengan jelas.

Belum sempat ia menjawab, didengarnya Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menghela napas sedih, katanya, “Bu-lim-jit-coat (tujuh jagoan tangguh dunia persilatan) yang tersohor di masa lalu, secara beruntun sudah ada beberapa orang yang meninggalkan dunia ini. Aii, Adikku Oh Kay-gak juga sudah hampir mati secara mengenaskan, begitu pula aku….”

“Oh cianpwe, apa yang kau katakan?” tanya Ji-sia dengan bingung.

Dengan sinar mata tajam Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menatap wajah pemuda itu lekat lekat, cukup lama ia baru kerkata, “Kalau dilihat kenekatanmu memasuki Thian-seng-po, sudah pasti kedatanganmu membawa amanat tertentu, apakah tujuanmu itu?”

Waktu itu Bok Ji-sia seolah-olah sudah lupa jiwanya terancam, ia tertawa angkuh, “Wanpwe tak berani membohongi Cianpwe, terus terang, maksud kedatanganku adalah ingin mencuri kitab pusaka Beng-yu-cin-keng milik adikmu.”

“Ya, kutahu kau telah melatih silat dari kitab Jiat-im-siang- git-pit-keng yang mengakibatkan hawa murnimu membeku dalam urat nadi, keadaan semacam itu memang harus cepat ditanggulangi dengan ilmu yang termuat dalam kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, dengan demikian hawa murni yang membeku itu pelahan bisa dicairkan kembali, cuma kitab tersebut tidak berada di tangan adikku Oh Kay-gak, cuma dia tahu kitab pusaka itu berada di tangan siapa.

Tadi kudengar kau bilang bahwa tujuh hari lagi nyawamu akan melayang akibat pengerahan tenaga dalam secara  paksa, keadaan semacam itu sudah terlampau parah, sekalipun kau dapatkan Beng-yu-cin-keng juga belum tentu nyawamu bisa diselamatkan”

Perkataan ini benar-benar membuyarkan harapan Bok Ji-sia untuk melanjutkan hidup, ia menjadi putus asa dan menghela napas sedih, butiran air mata pun jatuh bercucuran pula.

Sementara itu Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat berkata lagi sesudah berhenti sebentar, “Tapi, menurut apa yang kuketahui, di dunia dewasa ini masih ada satu orang yang bisa memperpanjang umurmu, bila kau berhasil mendapatkan kitab pusaka Beng-yu-cin-keng, maka semua cacat yang kau derita akan sembuh sama sekali,”

“Di manakah orang itu sekarang?” tanya Ji sia dengan mata terbelalak, “apakah Locianpwe bersedia memberi petunjuk kepadaku..?”

Keseriusan menyelimuti wajah Oh Ku-gwat yang lembut dan penuh welas asih itu, katanya setelah menghela napas panjang, “Orang itu bukan lain adalah adikku yang kedua yang sudah hampir mati, si pedang bintang dan rembulan Oh Kay- gak, ia gagah dan berjiwa ksatria….Ai, kasihan nasibnya yang buruk, oleh Samte (adik ketiga) ia disekap selama delapan belas tahun, sekalipun aku yang menjadi kakaknya tak mempunyai kekuatan untuk menentang Samte, tapi  kini sudah waktunya bagiku untuk menolong Jite (adik kedua)

“Ah, kalau begitu Pocu dari Thian-seng-po bukan si pedang bintang dan rembulan Oh Kay-gak?” tanya Ji-sia dengan kaget, ia betul-betul bingung dan tak habis mengerti.

“Bukan!” Thian-kang-kiam Oh Ku-gwat menggeleng, “sejak delapan belas tahun yang silam Thian-seng-pocu sudah dijabat oleh Samteku, Seng-gwat-kiam Oh Kay-thian. Ai, budi dan dendam di balik peristiwa ini memang rumit sekali, semua itu adalah hasil karya Samteku yang licik kejam dan banvak tipu muslihatnya itu. Sayang kami…..ai, lebih baik tidak kukatakan saja.”