Hong Lui Bun Jilid 11

Jilid 11

Dengan menghela napas Liok Kiam-ping berkata: "Lembah buntu ini ternyata dibangun semegah ini, betapa mengagumkan proyek besar ini, pasti banyak mengorbankan banyak keringat dan tenaga, beruntung kita lolos dari bahaya, tak nyana terkurung pula dilembah mati ini, burungpun takkan bisa keluar dari sini.' Lantas dia membatin.

"Dalam istana marmer itu mungkin ada pintu rahasia untuk keluar, kalau tidak mana mungkin pembuat lembah buntu ini keluar masuk."

Suma Ling-khong yang selama ini tidak berkomentar mendadak bicara: "Daripada terkurung di sini, marilah kita maju lebih jauh kedalam istana itu."

Maka berendeng mereka melangkah masuk kedalam pintu gerbang istana yang megah itu, mereka masuk dari kanan kiri. istana ini dibangun diperut gunung pula, jelas tiada celah lobang sedikitpun, pintunya tertutup rapat, suasana sunyi tak terdengar suara apapun,

begitu sepi dan lengang sehingga menimbulkan rasa curiga dan was-was.

Tiba-tiha Suma Ling-khong bersuara kaget, serunya: "Ping- ko, coba kau kemari, lihat apa ini?' ,

Lekas Kiam-ping memburu datang dan memeriksa, pada dinding kanan terukir pula seekor naga, besar kecil dan gayanya mirip dengan ukiran naga di batu karang diluar tadi. Tanpa banyakpikir dengan gagang pedang Kiam-ping memukul badan naga, suaranya mendengung jelas dibalik dinding adalah tempat kosong. Bila gagang pedangnya mengetuk cakar naga serta menekannya sedikit, dinding itu mendadak melesat ke dalam, maka terdengarlah suara gemuruh, pintu gerbang istana pelan-pelan terpentang ke kanan kiri. Sebat sekali mereka lantas melompat masuk kedalam' baru beberara langkah mereka beranjak terasa angin ribut dibelakang dan ...'Blam." pintu gerbang raksasa itu menutup rapat pula.

Dalam istana terang benderang oleh cahaya mutiara diatas dinding dan langit-langit, menakjubkan adalah adanya mutiara itu terpadu dalam beberapa warna, merah, hijau, kuning, biru, dan jambon sehingga menciptakan panorama yang indah didalam ruang istana ini.

Bentuk ruang istana ini memanjang kedalam. Tepat ditengah pada ujung ruangan mepet dinding sana terdapat sebuah pembaringan batu marmer, diatas pembaringan duduk bersimpuh seorang lelaki tua berwajah bersih berjubah kuning, alisnya memutih turun menjulai panjang, jenggot panjang menyentuh dada, kedua matanya terpejam mirip padri sakti sedang bertapa.

Kiam-ping batuk-batuk kering dua kali lalu melangkah mendekat, serunya sambil menjura: "Generasi muda angkatan baru Liok Kiam-ping bersama adik angkat Suma Ling-khong menyampaikan sembah sujud kepada Lotiang yang mulia." habis bicara dia menyingkir kesamping berdiri tegak menunggu jawaban-

Tunggu punya tunggu orang tua itu tetap duduk diam tidak bergerak seperti tidak mendengar atau melihat kehadiran mereka. Maka dia ulangi lagi sampai tiga kali. Tetap tidak melihat reaksi slorang tua maka dalam hati Kiam-ping menggerutu. Akhirnya dia memberanikan diri melangkah dekat serta ulur tangannya menyentuhnya, jubah kuning itu lantas rontok menjadi abu dan kelihatanlah kulit badannya yang sudah mengering, ternyata orang tua ini sudah lama meninggal, mungkin sudah banyak tahun sehingga pakaiannyapun luruh di makan waktu. Disamping pembaringan terdapat sebuah meja batu, diatas meja ditaruh sebuah kotak besi dan sebuah botol porselin, kotak besi ini tertutup rapat tiada lobang kuncinya jadi susah untuk membukanya, tapi Kiam-ping tidak kalah akal, dia keluarkan cui-le-kiam lalu mengirisnya satu lingkaran, sekali ketuk pula kotak besi itu eg era menjeblak terbuka.

Didalamnya berisi sejilid buku hersampul biru terbuat dari kulit kambing, tepat di tengah sebelah atasnya berjajar empat huruf "Thian-gwa-cin-king" dalam gaya tulisan kuno. Dibawah buku terta ruh pula selembar kain sutra tipis, diatas kain padat tulisan-tulisan huruf kecil yang berbunyi: "Aku adalah Sute ciang-kiam-kim-ling bernama In-liong-kiu-sian Tio Thian-hou, kami mendapat pendidikan perguruan bersama, karena memperebutkan kedudukan ciangbun, maka kami bertanding dan aku dikalahkan, membawa adat kemauan sendiri, aku mencuri lambang kebesaran perguruan, sehingga menimbulkan bencana dunia persilatan, berbagai perguruan silat saling berebutan karenanya, sejak kejadian yang harus d isesalkan itu, meski lambang kebesaran perguruan sudah dikembalikan, namun ciangbun Suheng ciang-kiam-kim-ling sudah keburu menjadi korban pengeroyokan kawanan penjahat di Tay-pa-san. Sejak itu Wi-liong-pit-sin dan Hiat- liong-giok- ling juga lenyap di kalangan Kangouw. Bencana gara-gara perbuatanku yang brutal sehingga perguruan kita runtuh total, sungguh sesal kesalahanku tak terampun lagi, maka aku bersumpah untuk bertobat ditempat ini, selama hidup takkan berkecimpung lagi di Kangouw. Kiu-yap-cilan dan Thian-gwa-cin-king yang kuperoleh setelah hari tuaku kutinggaikan di sini untuk kuberikan kepada sesama perguruan yang punya jodoh sebagai penebus dosa-dosaku di masa lalu.

”Thian-gwa-cin-king adalah ciptaan Thian-gwa-sin-mo yang hidup dua ratus tahun yang lalu hasil kombinasi yang dia himpun dari inti sari berbagai perguruan silat tinggi baik aliran putih maupun golongan hitam.

Apa yang termuat dalam buku pelajaran ini merupakan ilmu sakti mandraguna yang tiada taranya. Semoga ilmu sakti ini berguna untuk menunjang kebenaran memberantas kejahatan, pelaj arilah secara lurus dan murni.

"Gambar ukiran diatas dinding adalah Ling-hi-poa-hoat, untuk meyakinkan Ginkang ini harus memiliki pupuk dasar pergantian napas ditengah udara, ketambah makan Kiu-yap- ci-lan baru akan berhasil mencapai taraf yang paling tup, dalamjangka dua bulan harus berhasil secara meyakinkan-

"Pintu batu sudah tertutup, tiada jalan keluar, dua bulan kemudian boleh menggeser batu raksasa dibela kang dinding ranjang batu ini. dan keluar dari lorong rahasia. Pil obat didalam botol dan sari batu yang yang terdapat dilekuk meja dapat dimakan dan di minum sebagai penahan lapar. obat- obatan di botol-botol kecil merupakan obat mujarab untuk menyembuhkan segala luka dalam dan peranti pemunah racun, boleh digunakan bila perlu.

"Bagi slapa yang berjodoh memperoleh semua peninggalanku ini harus bekerja demi kepentingan perguruan serta mengembang luaskannya. Dilarang berbuat jahat, lalim dan tamak, apalagi mencontoh perbuatan dosaku masa lalu. Jenazahku boleh dikebumikan dibawah ranjang batu ini Tertanda murid Hong- lui- bun yang berdosa Tio Thian-hou."

Setelah tahu orang tua ini adalah angkatan tua perguruan sendiri. lekas Liok Kiam-ping taruh buku dan lempitan kain itu serta berlutut dan menyembah hormat, serunya:

"cianpwe sudah menyesali kesalahan dan menebus dosa- dosa masa lalu. tiada alasan untuk bertobat dan menyalahkan diri sendiri pula. Boleh silakan istirahat dengan tenang dialam baka, Kiam-ping mewakili seluruh pimpinan dan anggota Hong-lui-bun menghaturkan terima kasih dan menerima peninggalan cianpwe yang tak ternilai harganya ini. Kami bersumpah untuk mengembang luas kan kebesaran dan kejayaan perguruan, yakin tidak akan menelantarkan harapan cianpwe serta para leluhur kita. Meski harus hancur leburjuga kami tidak akan mundur." Lalu Kiam-ping dan Suma Ling- khong bekerja sama menggeser ranjang batu serta membuka papan batu dibawahnya, ternyata disitu sudah digali sebuah liang lahat yang terbuat dari batu marmer sedalam lima kaki, pelan-pelan mereka memasukkan tulang belulang In-hong-kiu- sian Tio Thian-hou kedalam lobang, setelah ditutupnya pula mereka berlutut dan menyembah pula sebagai penghormatan terakhir lalu menggeser balik ranjang batu ketempat semula.

Setelah beristirahat sejenak Kiam-ping mulai membalik halaman Thian-gwa-sin-kang.

Bab pertama adalah pelajaran Kiam-hoat seluruhnya ada dua belas jurus, setiap jurus mengandung tiga gaya gerakan-

Bab kedua pelajaran Ginkang, terbagi pula dua pelajaran A dan B.

Bab ketiga mengajarkan Pek-kut-im-kang, untuk mempelajari ilmu ini diharuskan menyerap tulang sumsum mayat manusia untuk menambah kemurnian tenaga dalam sendiri, setiap kali telapak tangan mengenai tubuh lawan, isi perut orang akan digetar hancur dan membusuk. ilmu ini teramat ganas dan jahat, bila ilmu berhasil diyakinkan mencapai taraf paling tinggi, pukulan Pek-kut-im- kang dapat menghancurkan pertahanan Kim-kong-put-hoay-sin-kang atau hawa pelindung badan yang sakti sekalipun. Beberapa lembar di bawahnya lagi ternyata sobek dan lenyap. mungkin karena ilmu pelajarannya teramat jahat maka orang sengaja membuangnya.

Bab keempat adalah cara penggunaan racun. Bab kelima adalah ilmu pengobatan,

Kiam-ping memilih ilmu pengobatan ini sebagai bekal dalam menunaikan tugas berat sebagai ciangbunjin yang harus dipikulnya. Sementara ilmu pedang dan Ginkang dia anjurkan kepada Suma Ling-khong untuk mempelajarinya.

Sejak itu mereka berada didalam istana tertutup itu. Sesuai petunjuk Kiam-ping berdua menemukan jalan sempit diujung ruang yang menjurus kebelakang istana. Di sana terdapat sebuah air terjun yang lebar dua tombak, deras airnya yang mengerojok ke bawah sungguh amat dahsyat, air seperti dituang dari langit masuk kedalam sebuah selokan buatan manusia mengalir kebawah kamar batu. tidak heran semburan air dibawah kamar batu tadi begitu keras. Tak jauh dipinggir empang dibawah air terjun tumbuh sepucuk pohon didalam sebuah pot besar, bentjuk pohon ini mirip kembang anggrek tapi bukan anggrek, warnanya ungu tua. terdapat sembilan daun, jadi inilah kiu-yap-ci-lan yang sukar diperoleh karena seribu tahun baru tumbuh sekali. Pohon kecil ungu sembilan daun itu seperti dibungkus asap hijau, selintas pandang bentuknya mirip batu pualam. Bau harum merangsang hidung, jelas sudah hampir tiba saatnya pohon ini akan masak dan rontok daunnya.

Kiam-ping tidak ayal lagi, lekas dia ulur tangan memetiknya terus dijejaikan kedalam mulut. Segera dia bersimpuh bersamadi, maka terasa segulung hawa panas seperti bara yang menyala didalam pusar menerjang seperti lahar dahsyatnya keseluruh urat nadi dalam tubuhnya. Begitu panasnya sampai uap mengepul diatas kepalanya, mukanya merah seperti darah. arus panas dalam tubuhnya terus mengalir keseluruh sendi tulang dan menguap keluar lewat pori-pori kulit badannya menjadi keringat merah, sekuatnya Kiam-ping bertahan diri akan siksa yang hebat ini.

Beberapa jam kemudian baru arus panas dalam tubuhnya mulai menurun dan berputar balik kedalam pusar pula danterbaur dengan hawa murni dalam tubuhnya kembali mengalir satu putaran menembus dua belas pintu penghalang dan begitulah seterusnya dia lupa akan dirinya.

Entah berapa kejap kemudian, waktu dia siuman membuka mata, terasa sekujur badannya segar dan nyaman sekali. bergegas dia melompat berdiri, ternyata tubuhnya mencelat mumbul seenteng kapas mencapai sepuluh tombak. jelas Ginkangnya telah mencelat maju berlipat ganda dibanding sebelum ini.

Di luar kesadaran Liok Kiam-ping sendiri semadinya itu telah makan waktu tujuh hari lamanya, Kui-yap-ci-lan yang ditelannya benar-benar sudah meresap didalam tubuh dan menjadikan Lwekangnya bertambah pula satu kali lipat.

Setelah dia berdiri tegak dan mengenang kembali apa yang telah dialaminya, mendadak didengarnya suara Suma Ling khong berseru girang dibela kang: "Ping-ko, sekali duduk satu minggu kau tidak sadarkan diri, Siaute sampai gelisah mati."

"Hiante," ujar Kiam-ping, "syukur kau tidak mengusik aku, Baiklah setelah dasarmu terpupuk baik, akan kubantu kau samadi rnenembus Hiat-to penghalang."

Mulai hari kedelapan dibawah bimbingan Kiam-ping, Suma Ling-khong mulai mempelajari teori dan mempraktekkan ajarah ilmu pedang, terasa beberapa jurus ilmu pedang itu teramat ganjil dan sukar untuk dikembangkan- meski Kiam- ping memberi petunjuk dan contoh dari samping, tapi dia hanya berhasil menghapalkan satu gerakan, karuan hatinya jadi risau.

Malamnya sesuai teori Lwekang yang diajarkan Kiam-ping dia mulai bersamadi dan mengatur pernapasan- Sementara Liok Kiam-ping sendiri tenggelam dalam keasyikannya mempelajari Ling-hi-pou-hoat yang terukir diatas dinding. Pada hal Lwekang dan kecerdikan otaknya sudah merupakan bekal baik, tapi ternyata dia harus memeras keringat juga, cukup lama baru mulai berhasil dia selami.

Ilmu pengobatan baru pertama kali dipelajari, maka dia merasa perlu mulai mempelajari tentang Ko-king-pat-meh.

Kim-kang-put-hoay-sin-kang adalah ilmu sakti puncak tinggi dari aliran Hud, ilmu yang paling sukar dipelajari dan dipahami, tapi sejak Kiam-ping menelan Kiu-yap-cilan, Lwekangnya sekarang setarap dengan jago kosen yang pernah meyakinkan Lwekang selama seratus tahun, didalam samadinya itu secara diam-diam dia berhasil menyelaminya secara tuntas, maka kemajuan yang dicapainyapun teramat pesat dan menyeluruh. sebulan telah menjelang Sembilan jurus ilmu pedang telah berhasil dipelajari oleh Suma Ling-khong, namun jurus kesepuluh terasa tenaga tidak memadai, berulang kali dia mengulang dan diulang lagi selalu gagal, saking jengkel akhirnya dia buang pedang membanting kaki sambil berkeluh kesah. Saatnya memang sudah tiba. disamping Kiam-ping tahu landasan Lwekang Suma Ling- khong memang masih terlalu cetek, maka dia keluarkan selembar kelopak Soat-lian diserahkan kepada Suma Ling- khong, katanya.: "Lekas telan, lalu samadi sesuai ajaran Sim- hoat yang kuajarkan'

Soat-lian merupakan obat mujarab yang selalu diimpikan oleh setiap insan persilatan, khasiatnya dapat menambah Lwekang dan menyembuhkan luka memunahkan racun pula, bagi kaum persilatan yang makan kelopak kembang saiju akan dapat membantu memperlancar ilmu yang dipelajari serta menambah kekuatan-

Begitu kelopak kembang saiju masuk mulut Suma Ling- khong rasakan tenggorokan menjadi dingin harum, liurnya tertelan masuk keperut lantas menjadi manis dan hangat, langsung berkembang keseluruh badan.

Kiam-ping tekan kedua telapak tangannya di Bing-bun-hiat serta membentak: "Awas Hiante, kosentrasi dan alirkan hawa murni " lekas sekali segulung arus panas merembes dari telapak tangannya masuk ke badan Suma Ling-khong mendorong khasiat Soat-lian untuk bekerja lebih menyeluruh keseluruh tubuh menembus semua Hiat-to yang menghambat kemajuan Lwekangnya.

Suma Ling-khong memang agak tersiksa karena terasa seluruh urat nadi dalam tubuhnya seperti mendadak melar  dan hampir meledak. darah seperti mendidih, laksana lahar gunung berapi melanda kesetiap pelosok tubuhnya, hingga keringat gemerobyos membasahi seluruh badan, mendadak tubuhnya makin keras dan menggigil hampir roboh. Pada saat-saat kritis itulah mendadak Liok Kiam-ping membentak enteng: "Hati-hati Hiante, tahanlah sedikit."

Mencelos hati Suma Ling-kong, namun dengan ketahanan luar biasa sekuatnya dia bertahan diri untuk menekan gejolak arus panas dalam badannya, berkat bakat dan pembawaan tulangnya yang luar biasa serta ketenangan dan kemantapan hatinya, tak lama kemudian gejolak arus panas itu mulai mereda, arus panas itu seperti kuncup saja mengalir balik kedalam pusar, setelah penuh lalu melanda pula dengan gelombang yang lebih besar menjebol Seng-si-hian-koan sehingga seluruh Hiat- to dalam tubuhnya berjalan lancar.

Liok Kiam-ping tampak tersenyum simpul, pelan-pelan dia menarik tenaga serta menurunkan kedua tangan, wajahnya tampak sedikit pucat.

Suma Ling-khong tahu kakak angkatnya telah membantu dirinya menjebol Jin-tlok-ji-meh dengan mengorbankan tidak sedikit tenaga murni sendiri, sudah tentu bukan kepalang rasa haru dan terima kasihnya. Setelah melihat Kiam-ping membuka kedua mata, lekas dia memburu maju serta berseru: "Ping-ko...'

'Tidak apa-apa, Hiante, lekas teruskan latihanmu ' ucap Liok Kiam-ping tersenyum.

Maka kedua orang lebih giat dan rajin berlatih, karena Lwekang keduanya maju pesat, maka latihan selebihnya ternyata lebih lancar dan kemajuan yang dicapainyapun sungguh diluar dugaan- Dalam lembah seperti ini tak bisa membedakan siang dan malam, tanpa terasa sudah dua bulan mereka meyakinkan ilmu sakti dilembah buntu itu.

Setelah membenahi segala sesuatu yang perlu dibawa mereka kembali kedalam istana dan berlutut mohon restu kepada arwah ln-liong-kin-sian Tio Than-hou. Kejap lain mereka sudah berada dipinggir rawa dibawah air terjun. Dengan kekuatan raksasa mereka berdua tidak banyak makan tenaga merobohkan batu raksasa yang berada dipinggir rawa. Dengan mengeluarkan suara gemuruh batu raksasa itu menggelundung kedalam rawa, sementara air langsung dituang lewat lobang besar, dibawah batu raksasa mengalit keluar.

Kiam-ping berdua segera menerobos keluar dan meluncur turun dibawah sebuah pohon besar. Selepas mata memandang, sang surya masih berada ditengah angkasa, sungguh tak kepalang rasa lega hati mereka. Hembusan angin sepoi nan sejuk menambah kobaran semangat. 

Mengingat dendam perguruan dan keluarga selama beberapa tahun, dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, Kiam-ping bertekad menuntut batas, semang at j uang mendadak menggelora dirongga dada, tanpa merasa dia mendongak serta menggembor sekeras guntur menggelegar, suaranya mengalun tinggi mendatar rendah dilembah pegunungan bergema d ia la m semesta. Laksana anak panah dua bayangan orang meluncur secepat kilat menuju kearah kota Tayli.

---ooo0dw0ooo---

Lima hari kemudian-

Sepasang kuda dilarikan berendeng menuju kearah Kwiciu, hari itu mereka tiba di Poh-an dan tak jauh kedepanpula mereka sudah akan tiba di Sa-cu-nia.

Mendadak dari arah hutan didepan sana kumandang benturan senjata keras serta bentakan orang yang lagi berhantam. Kedua penunggang kuda itu tetap mempertahankan laju kuda mereka langsung menuju kedalam hutan- Tampak empat orang lagi bertempur saling tubruk dan terjang. Tiga lelaki berwajah bengis tengah mengeroyok seorang lelaki tua berambut uban, mulut ketiga lelaki bengis itu terus mengoceh meledek dan menghina: "Setan tua, tak kira kau akan mengalami nasib jelek seperti hari ini bukan ? Diakherat nanti tolong sampaikan salam kami kepada saudara kelima kami ya."

"Haya, sayang luput. Eh, kenapa tidak kau angkat sedikit telapak tanganmu, memangnya sudah tak mampu bergerak ?"

”Jian-li-tok-heng (berjalan sendiri seribu li) hari ini bakal selangkahpun takkan mampu berjalan lagi. hehe."

Seperti kucing mempermainkan tikus mangsanya saja ketiga lelaki bengis itu mencemooh kakek ubanan yang bermuka pucat. gerak g eriknya tampak lamban dan langkahpun limbung, setiap gerak serangannya selalu kandas ditengah jalan seperti dia tidak kuat lagi mengeluarkan tenaga, gelagatnya mirip seorang yang terkena racun dan tak mampu menyalurkan Lwekang pula. Agaknya kakek beruban ini berdarah panas, meski keadaan sudah payah, tapi matanya tampak mencorong gusar, mendadak dia tarik napas serta menerjang dengan dua jurus serangan. Ketiga lawannya sedang kesenangan menggoda dan meledek, sehingga tak bersiaga bahwa kakek yang sudah keracunan ini mampu balas menyerang secara keji.

---ooo0dw0ooo---

"Bluk" seorang kena digenjot secara telak hingga mencelat terbang setombak lebih dengan muntah darah, terguling beberapa kali lantas tidak bergerak, jelas tertuka parah. Maklum si kakek meski terluka namun menyerang dengan seluruh sisa tenaga, lawan berhasil dirobohkan, namun Lwekang sendirijuga bobol dan pertahanan menjadi buyar, mata seketika berkunang hampir saja diapunjatuh semaput. Dua lelaki yang lain melihat saudara mereka roboh terluka parah, karuan naik pitam dan dendam, serempak mereka menubruk maju dengan niatjahat. bentaknya bersama: "Setan keparat, masih berani mengganas." empat j alur tenaga angin dahsyat memberondong kearah kakek tua ubanan.

Sementara itu si kakek sendirijuga sudah limbung, mana mampu balas menyerang pada detik-detikjiwanya hampir terenggut elmaut itulah mendadak seseorang menghardik sekeras guntur: 'Kawanan kunyuk berani mengganas." . ditengah hardikan tampak bayanganputih melesat seorang pemuda jubah putih tahu-tahu sudah berdiri ditengah.

Ternyata Liok-Kiamping Ling khong sudah menonton sejak tadi di luar arena, melihat ketiga orang itu mempermainkan sikakek mereka sudah merasa keki, kini bertindak keji lagi, maka Kiam-ping segera bertindak. Waktu dia meraba pernapasan orang, ternyata desau napasnya sudah makin berat. jelas sudah keracunan cukup parah, maka lekas dia menggerakkan jari tangan sekaligus menutuk tiga puluh enam Hiat-to, sementara dia cegah

kadar racun merembes kejantung. Dengan tertawa dingin dia mendengus:. "Sahabat, membunuh orang sekali penggal batok kepala jatuh ketanah. Umpama dendam kalian setinggi gunung, pada hald ia sudah keracunan separah ini, sepantasnya tak perlu kalian mempermainkan begitu rupa. kalau tahu diri lekas kalian enyah dari hadapanku."

Kedua orang itu kaget akan gerak ketangkasan Kiam-ping, tapi melihat usianya masih begini muda, apapun tak mungkin memiliki Kungfu tinggi maklum mereka tidak tahu bahwa Liok Kiam-ping sudah berhasil menyempurnakan bekal kepandaiannya.

Yang paling tua segera menyeringai, jeng ekny a: "Kenapa tidak kau cari tahu lebih dulu, dengan siapa kau berhadapan, setiap persoalan yang telah ditangani Ki-bun-sam-kiat, siapapun dilarang mencampuri." "Aku tidak perduli siapa kalian, yang terang bertindak adil membela kebenaran adalah makna hidupku, sebagai kaum persilatan sepatutnya aku membela yang lemah menindas yang lalim, Bahwa kalian begini pongah, biarlah rasakan beberapa jurus pukulanku." habis bicara, dia menggendong tangan sambil menengadah dengan sikap santai, bahwasanya dia tidak pandang sebelah mata kepada kedua orang ini.

Dalam wilayah ini Ki-bun-sam-kiat termasukjagoan yang disegani, biasanya orang lain menunduk-nunduk terhadap mereka, kapanpernah dihina begini rupa, saking gusar otot hijau sampai merongkol dijidat mereka, bola matapun mendelik seperti ingin menelan bulat-bulat lawannya.

Liok Kiam-ping justru sengaja mengejek dengan tertawa pongah: "Bagaimana ? silahkan mulai, Tuan mudamu tidak sabar menunggu lagi."

Kedua orang saling memberi tanda kedipan mata, tanpa bicara mereka menubruk dari kiri kanan masing-masing melancarkan enam pukulan ganas yang mematikan, Liok Kiam-ping bergerak dengan Ling- hi-pou-hoat tampakjubah putihnya berkibar, selincah naga menari selulup timbul diantara bayangan pukulan kedua lawan, mumpung ada kesempatan, sengaja dia mau menjajal dan mempraktekkan langkah ajaib yang baru dipelajarinya.

Kedua orang itu mengerahkan segala kemampuan serta tenaga sekuatnya menyerang dengan sengit, tiga puluh jurus telah berlalu, jangan kata melukai lawan, ujung baju lawanpun tak mampu disentuhnya, baru sekarang mereka insyaf hari ini betul-betul ketemu batunya.

Jika la u pertempuran terus dilanjutkan seperti ini, umpama lawan tidak balas menyerang pihak sendiri akhirnya juga pasti jatuh lemas Kehabisan tenaga, padahal keringat dingin sudah membasahi tubuh, segera mereka menarik diri mundur serta berdiri tegak sambil mengawasi Liok Kiam-ping dengan mendelong, katanya dengan tergagap: "Siapa kau sebenarnya

?"

Liok Kiam-ping tertawa lebar, katanya menuding tiga batang pedang dipunggung: "Memangnya kalian tidak tahu apa artinya ?"

Seketika kedua orang itu bergidik, serunya: "Kau pat-pi- kim- liong ?'

'Takut ya ? Nah kalian potong sendiri kuping sebelah kiri, tuan mudamu ampuni jiwa kalian- Kalau membandeljangan harap bisa pergi dengan tetap bernyawa."

Bahwa Liok Kiam-ping menjatuhkan ceng-san-biau-khek, sekali pukul melukai Hwi-bing, pedangnyapun membelah Tay- hun, pertempurannya melawan Tok-sin Klong-bing sudah menggetarkan seluruh Bulim, golongan hitam maupun aliran putih siapa tidak jeri padanya.

Karuan kedua orang itu serasa terbang arwahnya, melawan jelas bukan tandingan dan tak berani lagi. larijuga takkan bisa lolos, akhirnya mereka saling pandang, seorang lelaki harus pandai melihat gelagat, selama dada masih bernapas. kapan saja masih ada kesempatan mencari balas, yah apa boleh buat, akhirnya mereka kertak gigi, secara kekerasan mereka tarik protol kuping masing-masing, saking kesakitan mereka gemetar, lekas mereka bimbing saudara yang terluka terus ngacir tanpa bercuit lagi.

Lekas Liok Kiam-ping papah kakek ubanan terus diangkat naik kepunggung kuda di bawa lari kekota menginap disebuah hotel.

Dalam pada itu rona muka si kakek dari hijau sudah berobah hitam, tubuhnya meringkel seperti menyusut, desau napasnya juga tinggal satu-satu, jelas racun sudah terlalu merasuk tubuhnya. Liok Kiam-ping keluarkan sebuah botol porselin kecil mengeluarkan tiga pil warna merah, sekali pencet dia buka geraham si kakek terus jejaikan tiga butir pil obat ke dalam mulutnya. Beruntun dia menutukpula beberapa hiat-to dileher dan didada orang.

Kira-kira semasakan air kemudian, tubuh si kakek tampak bergetar, setelah menggeliat dia mulai merintih, mendadak badannya mengejang sekali terus membalik badan dan tumpah-tumpah mengeluarkan gumpalan darah kental hitam, matapun terbuka, namun tubuh masih lunglai rebah dipinggir ranjang sesaat dia awasi kedua pemuda didepan ranjang. "Lotiang sudah merasa lega bukan?" ujar Liok Kiam-ping.

Kakek itu menghela napas, katanya tersendat haru: "Losiu terkena Toan-hun-san .. .. kecuali... Jinsom... atau Soat-lian... " belum habis bicara mendadak dia terkulai pingsan

Kiam-ping teringat akan Soat-lian yang disimpan dalam sakunya, kejadian memang teramat kebetulan atau mungkinjuga ada jodoh dan nasib si kakek ubanan memang mujur dan belum saatnya ajal. Setelah menelan sekelopak Soat-lian, Kiam-ping papah si kakek duduk bersimpuh, dia sendiri duduk dibela kang orang menyalurkan tenaga lewat telapak tangan yang menempel dipunggungnya, bantu memperlancar bekerjanya khasiat obat.

Terasa dalam tubuh si kakek timbul segulung hawa dingin seperti gumpalan es yang melawan saluran tenaganya, lekas dia kerahkan setaker tenaganya secara kekerasan dia berusaha menjebol dan melumerkan hawa dingin itu.

Lekas sekali wajah pucat si kakek makin bersemu merah, tiba-tiba perutnya berbunyi berkerutuk seperti suara katak berkotek, kontan mulutnya terpentang dan menyemburlah cairan hitam yang berbau amis. Setelah muntah kedua  kalinya, orang nyapun sudah sadar.  Uap putih tampak mengepul diatas kepala Liok Kiam-ping, keringat juga membasahi wajahnya mengalir turun Keleher, jelas keadaannya cukup payah juga dalam mengerahkan Lwekang membantu penyembuhan si kakek, setelah orang sadar dia turunkan ke dua tangan serta bersamadi.

Beruntun si kakek tidur pulas dua hari satu malam, hari ketiga baru dia siuman- Dia maklum pemuda didepannya ini yang telah menyelamatkanjiwanya, bergegas dia turun dari pembaringan hendak menghaturkan terima kasih.

Lekas Liok Kiam-ping menekan pundaknya, katanya: "Lotiang masih lemah, badan belum sehat, tidak boleh sembarang bergerak."

"Pertolongan Siauhiap sungguh setinggi gunung, meski Losiu harus hancur lebur juga. tak setimpal untuk membalas budi pertolonganmu."

"Urusan sekecil ini kenapa dibuat kapiran, Lotiang jangan pikirkan soal budi segala. Entah bagaimana Lotiang bermusuhan dengan ketiga penjahat itu, racun yang di gunakan juga begitu ganas ?' Kakek itu menghela napas panjang.

Baiklah kami perkenalkan, kakek ini adalah begal tunggal yang berjiwa pendekar Jian-li-tok-hengJin Hou yang kenamaan di daerah barat laut, Sian-tian-ciang-hoat dan Thi-lian-cu merupakan bekal kepandaiannya yang lihay, selama tiga puluh tahun belum pernah ketemu tandingan.

Tapi wataknya teramat angkuh dan memandang kejahatan sebagai musuh utama, penjahat yang terjatuh ditang a nnya tiada yang pernah diberi ampun, terutama kaum penjahat pasti ciut nyalinya bila berhadapan dengan dia, maka musuhnya boleh dikata tersebar luas. 

Sepuluh tahun yang lalu waktu dia lewat Kian-yang, kebetulan Ki bun-sam-hong sedang melakukan kejahatan dan kepergok olehnya maka dia turun tangan menghajar mereka. Beberapa hari yang lalu mereka kepergok d id a la m kota, diluar tahunya dia dikuntit dan diincar oleh Ki-bun-sam-hong, direstoran minuman teh yang ditenggaknya secara diam-diam telah dicampur racun Toan-hun-san, sayang dia sadar setelah terlambat, dengan gusar dia labrak ketiga lawan ini, sayang racun sudah bekerja akhirnya dia sendiri yang terkepung dan hampir saja binasa secara konyol, untung Liok-Kiam-ping kebetulan lewat serta menolongnya, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang.

Kakek ini berwatak tegas dan berpendirian teguh, budi dan dendam digaris bawahi dengan jelas, selama hidup tak pernah dia mau menerima budi kebaikan orang lain, kali ini berkat pertolongan Kiam-ping, sehingga jiwanya yang sudah terenggut elmaut berhasil ditarik balik, apapun dia rela mendampinginya dan sudi merendahkan diri sebagai pembantu.

Liok Kiam-ping menggoyang tangan, katanya: ”Jangan Lotiang berpikir demikian tekadmu akan menyiksa batinku saja. Syukurlah bila kau sudi mendarma baktikan tenaga untuk kepentingan perguaua n kita saja, kami pun sudah amat berterima kasih."

"Boleh, cuma Losiu ada satu permintaan yaitu jangan memanggil Lotiang padaku, sementara ini boleh kita saling membahasakan sebagai saudara seangkatan saja. Kalau kau kukuh pendapat Losiujuga tidak mau terima."

"Untuk menghormat lebih baik menurut perintah. Lo-koko, biar kita istirahat beberapa hari, tiga hari lagi boleh kita melanjutkan perjalanan ketimur."

Musim semi lebih dini datangnya di Kanglam, saat mana cuaca baik, hawa segar, alam semesta seperti dilembari kehidupan baru.

Dijalan raya yang menuju ke kota Tin-wan, tampak tiga ekor kuda dicongklang dalam kecepatan sedang, Mereka bukan lain adalah Liok Kiam-ping bertiga yang tengah menempuh perjalanan pulang kemarkas pusat Hong- lui- bun yang telah berdiri di Kui-hun-ceng.

Liok Kiam-ping kuatir markas pusat yang kosong tanpa penjagaanjago kosen, bila diserbu musuh, keadaan pasti kocar kacir, celaka kalau sampai terebut oleh musuh, maka rasa gugupnya seperti ingin baru- buru menolong kebakaran, sepanjang jalan tiada hasrat menikmati panorama daerah Kang lam nan permai.

Setelah melampaui sebuah bukit, jalan pegunungan semakin buruk dan sukar dilewati, maka mereka memperlambat lari kuda.

Mendadak dari arah belakang terdengar seekor kuda dibedal kencang mendatangi membawa kepulan debu kuning yang membumbung keangkasa, penunggang kuda berpakaian ringkas mendekam dipunggung kuda cepat sekali kuda itu melesat lewat disamping mereka, topi rumput diatas kepalanya ditarik rendah hingga hanya kelihatan hidung dan mulutnya saja.

Padahal jalan pegunungan sejelek itu, tapi kuda itu dapat dilarikan sekencang angin, jelas lelaki itu memang akhli menunggang kuda, tunggangan itujuga sudah biasa dan hapal akanjalan dan keadaan disekitar gunung ini. Kira-kira lima tombakjauhnya mendadak penunggang kuda itu menoleh serta melotot kearah Liok Kiam-ping bertiga namun lari kudanya tidak menjadi lambat.

Jian-li-tok-heng seorang kawakan Kangouw, pengalamannya luas, segera dia menjengek: 'Kawanan iblis akan datang mengantar kematian. Hayo kejar.' lalu dia mendahului keprak kudanya mengudak dengan kencang. Tapi setelah meegitari perut gunung dalam waktu sekejap saja mereka hanya mengejar kepulan debu yang masih membumbung dludara, jejak lelaki berkuda itu sudah lenyap tak karuan paran. Tapi mereka bertiga masih terus larikan kudanya dengan kencang, tak lama kemudian mereka sudah takjauh dari kota Tin-wan, setelah masuk kota perut terasa lapar maka mereka memasuki sebuah restoran bermerk Ki-eng-lau. Setelah memilih tempat memesan masakan, mereka tidak banyak berbincang, begitu hidangan tiba lantas digares dengan lahap. restoran itu penuh sesak. pelayan tampak sibuk. Takjauh disebrang sana beberapa orang persilatan sambil makan sedang mengobrol panjang lebar, suaranya keras dan satu sama lain seperti berlomba bicara maka tanpa pasang kuping juga dapat dengar pembicaraan mereka.

Seorang lelaki bersuara serak sedang berkata: "Bicara terus terang, Ham-glok-ling Ham s im-leng-mo Lo-cianpwe memang sudah menggetar B ulim sejak puluhan tahun yang lalu, sungguh tak nyana kali ini terjungkal ditangan Pat-pi-kim- liong, ceng-san-biaukhekpun ajal ditangannya. Betapa takkan bikin marah beliau?" .

"Dengan gusar dia hijrah keselatan, seluruh kekuatan Ham- peng-klong dikerahkan, jelas Kui-hun-Ceng pasti sukar mempertahankan lagi, yakin pasti tertumpas rata dengan bumi.

Diam-diam Liok Kiam-ping mengeluh dalam hati, dengan tenaga Gin-jay-beng dan sibocah gede Siang Wi, betapapun mereka bukan tandingan iblis tua itu. Sekilas dia melirik kesana, dilihatnya dimeja sebelah kanan duduk empat lelaki berpakaian ringkas. dandanan mereka menunjukkan sebagai kawanan Piausu.

"Konon Tang ling Kongeujuga ingin menuntut balas sekali pukulan, sejauh ini dia juga sedang kerahkan tenaga menyelidik jejak musuh."

Pihak Hwe-hun-bunjuga punya permusuhan setinggi langit, secara diam-diam mereka berintrik dengan pihak Tang- ling untuk mengganyang musuh." Terhadap beberapa orang diatas loteng ini Liok Kiam-ping tidak perlu gentar, namun dia menguatirkan keadaan markas pusat, musuh teramat tangguh, maka hatinya jadi gelisah, maka selera makannya jadi menurun-

Tengah dia kebingungan, didengarnya derap seorang yang menaiki tangga loteng maka muncullah seorang lelaki perawakan tinggi bercaping rumput, langkahnya lebar menaiki loteng. Begitu tiba diatas loteng, melihat kehadiran Liok Kiam- ping bertiga, seketika berobah air mukanya, langsung putar tubuh lari kebawah.

Laki-laki itu bukan lain yang tadi mereka kejar ditanah pegunungan- Liok Kiam-ping sudah berdiri. LekasJian-li-tok- heng menekan tangannya serta berbisik: "Biarkan dia pergi disini banyak orang, biar nanti kita kerjain didepan."

Setelah kenyang mereka membayar rekening terus turun dan naik kuda melanjutkan kearah timur. Menjelang magrib mereka sudah memasuki perbatasan Siang-kin dan tiba di Ban-san. Dikatakan Ban-san selaksa gunung memang tidak berkelebihan, karena daerah disini merupakan gunung gemunung yang belukar dan jarang dijelajah manusia. Setiba dibalik gunung mereka mulai memasuki sebuah selat sempit.

Selat ini dipagari tembok karang yang menjulang tinggi tegak selicin kaca, puncaknya ditelan mega, ditengah merupakan selat sempit yang berkelok-kelok yang harus jalan beriring satu-satu, bagi siapa saja yang pertama kali lewatjalan ini pasti merinding dan was- was.

Karena kejadian siang tadi cukup mencurigakan, maka Jian- tok-heng bersiaga dan hentikan kuda serta menerawang pegunungan ini. Sang surya memancarkan sinarnya yang terakhir, hingga bayangan gunung sebelah kiii tamrak benderang, tampak bayangan kepala beberapa orang bergerak diatas sana, jelas musuh telah mengaturjebakan d id a la m selat sana, maka dia suruh Kiam-ping berdua berhenti untuk menempuh jalan putar saja. Berkepandaian tinggi maka nyali Liok Kiam-ping amat besar, dia yakin kemampuan diri sendiri, kalau hanya dinding securam itu masih belum mempersulit dirinya, sekilas dia menerawang, maka timbul akal dalam benaknya, katanya lirih: "Lo-koko dan Hian-te silahkan naik keatas puncak dari kiri kanan.' Lalu dia tuntun kedua ekor kuda mereka dikeprak masuk kedalam selat.

Jian-li-tok-heng tidak menduga dan tak sempat mencegah. Terpaksa dia membagi arah dengan Suma Ling khong seperti berlomba saja mereka melompat dan memanjat naik keatas puncak.

Seorang diri dengan tiga ekor kuda Liok Kiam-ping terus congklang kudanya maju lebih jauh. Kira-kira tiga puluh tombak jauhnya, didengarnya suara sempritan saling bersahutan disebelah atas. Kejap lain didengarnya suara gemuruh seperti ada gempa hebat meruntuhkan puncak gunung. Waktu dia mendongak dilihatnya belasan Batu-batu besar bergelundungan dari atas bersama taburan karung- karung kapur dan balok-balok kayu raksasa, laksana hujan saja berjatunan dari atas menyumbat selat sempit ini.

Kiam-ping lompat turun dari punggung kuda terus mengembangkan Ginkang, secara lincah dan enteng dia berlompatan klan ke mari menghindarkan diri dari hujan batu dan karung-karung kapur yang beterbangan. Sementara kedua tangan menepuk dan terayun, tenaga angin dahsyat dari kedua tangannya di sapunya minggir terpental jauh beterbangan. cukup payah juga usaha menyelamatkan diri dari hujan batu dan kapur serta balok-balok kayu, namun Kiam-ping terus maju kedepan. Tiba-tiba didengarnya ringkik kuda dibelakang, tiga ekor kuda itu akhirnya binasa oleh hujan batu dan terpendam tanpa bisa berkutik lagi karena tubuhnya hancur lebur. Pada hal panjang selat ini tidak terukur ujungnya, mau tidak mau gelisah juga hati Kiam-ping. Kiam-ping maklum kalau kejadian berlanjut sedikit lama, tentu tenaga sendiri akhirnya terkuras habis, dan jiwa terancam elmaut, nasibnya akan seperti ketiga ekor kuda itu, mati dengan badan hancur ketiban batu- batu raksasa.

Mendadak kumandang gelak tawa ramai diatas puncak. seorang berseru lantang: "Pat-pi-kim- liong, dalam selat itulah tempat liang kuburmu."

Seorarg lagi berteriak: "Kalau mau hidup lekas serahkan barang milikmu yang paling berharga, jiwamu nanti boleh diampuni. melihat depan atau belakang sudah tersumbat, umpama Kungfumu setinggi langitjuga harus binasa didalam selat ini.' lalu terdengar pula gelak tawa ramai bergema di angkasa.

Liok Kiam-ping cukup cerdik, diatahuhujan kapur itu hanya untuk menutupi pandangannya supaya dirinya susah maju lebih lanjut, kalau suara gemuruh hujan batu masih berlangsung disebelah depan, tapi dibela kang keadaan sudah hening.

Mendadak Liok Kiam-ping membentak gusar: "Kawanan tikus yang tidak tahu malu muslihat keji, kalian jangan harap dapat membunuhku, hari ini tuan muda akan memberi keadilan kepada kalian-"

Lenyap suaranya mendadak dia mengenjot kaki, tubuhnya melenting keatas, mengembangkan Ling-hi-pou-hoat seperti naga terbang saja tubuhnya legat-legot mumbul puluhan tombak^ dikala luncuran tubuhnya mengendor, dia menekuk punggung menggeliat pinggang, berbareng kaki menancap dinding karang sehingga tubuhnya meluncur pula lebih tinggi, untung selat ini tegak lurus lebarnya juga kurang setombak, hal ini membantu Liok Kiam-ping untuk menjejakkan kakinya dikiri kanan dinding gunung sehingga tubuh-lebih pesat meluncur lebih tinggi keatas. Dalam sekejap seratus tombak telah dicapainya. Dalam pada ituJian-li-tok-heng meloncat keatas lewat sisi kiri, didepan dia dihadang sebuah jurang, terpaksa dia harus berlari-lari mengitari bibir jurang menuju ke arah sebrang, kira-kira setanakan nasi baru dia tiba dimulut jurang sebrang, sekali menghirup napas dia kerahkan tenaga dipusar terus melambung jauh kedepan, karena menguatirkan keselamatan adik angkatnya, sedetikpun tak boleh terbuang, maka tanpa berhenti dia masih terus tancap gas berlari bagai terbang diatas pegunungan berbatu.

Sementara itu Suma Ling-khong yang belum punya pengalaman Kangouw juga sudah melampaui dua puncak. setiba diatas dia jadi kehilangan arah, apalagi pegunungan batu ini tidak rata setelah berputar klan kemari dia merasa semakin jauh meninggaikan suara gaduh dari batu-batu yang dihamburkan kedalam selat, gema suaranya mengalun diudara susah dibedakan dari mana arahnya.

Sejenak dia tenangkan hati lalu melompat kepucuk sebuah pohon, kebetulan dilihatnya asap tebal mengepul dari dasar selat, api berkobar amat besar disebelah bawah, lekas dia melompat turun terus memburu ke sana.

Dalam pada itu secara beruntun sembilan kali Liok Kiam- ping secara zig-zag menjejakkan kedua kakinya sambil mengembangkan Ginkang sudah hampir mencapai puncak, sayang hawa murni dalam tubuhnya mendadak mengendap. sehingga tubuh yang terapung itupun seperti direm secara mendadak. Karuan jantungnya melonjak kaget, sehingga menambah cepat tubuhnya anjlok ke bawah.

Lekas dia konsentrasikan pikiran, kebetulan disebelah bawah dilihatnya dinding karang sebelah kiri ada bagian melekuk, di mana kebetulan ada tempat untuk berpijak, lekas dia menggeliat pinggang bersalto ke samping kiri dan secara tepat kakinya berhasil hinggap di lekuk karang itu. Dari ketinggian seratusan tombak dia memandang kebawah, tampak jago merah membara dengan asap tebal yang bergulung-gulung ke angkasa, meski membekal ilmu sakti tak urung ciut juga nyali Liok Kiam-ping, terlambat sedikit tentu dirinya sudah terbakar hangus didasar selat, perasaan menjadi berat.

Dari kejauhan Jian-li-tok-heng juga mendengar suara gemuruh bagai guntur menggelegar, hatinya semakin gugup maka langkahnya lebih cepat lagi melayang kemulut selat diatas puncak. cepat sekali dilihatnya puluhan lelaki seragam hitam sedang sibuk bekerja melempar batu, karung kapur dan belirang serta balok-balok kayu kedalam selat.

Amarahnya tak tertahan lagi, dengan mempercepat langkah cukup beberapa kali lompatan, laksana elang dia menubruk keatas. Belasan lelaki yang sibuk menghujani batu dan balok kedalam selat itu mimpipun tidak pernah duga banwa elmaut bakal merenggut jiwa mereka.

Begitu menubruk tiba kontan Jian-li tok-heng menggenjot dengan kedua tangannya berbareng kedua kakipun menendang, empat lelaki seketika dipukul dan ditendangnya roboh, dua terjungkal kedalam selat dengan jiwa melayang seketika. Seperti harimau mengamuk ditengah gerombolan kambing saja Jian-li-tok-heng mengganyang belasan lelaki yang terhenyak kaget, maka terdengar jeritan-jeritan ngeri saling susul, sebagian besar dari belasan lelaki itu dipukul jatuh kedalam selat yang curam dan dalam ditelan lautan api. '

Beruntung bagi yang berdiri sedikit jauh melihat gelagat jelek lekas mereka lempar karung dan meletakkan batu terus ngacir menyelamatkan diri. Dalam sekejap seanua sudah kabur tak kelihatan bayangannya pula.

Suma Ling-khong mengembangkan Ginkang berlomparan dipucukpohon, tubuhnya meluncur secepat anak panah, beberapa kali lompatan sudah mencapai puncak sebelah kanan, bentaknya keras: "Bangsat kurcaci, serahkan jiwa kalian." Sebelum dia turun tangan, mendadak bayangan hitam berkelebat, didepannya menghadang seorang kakek baju hitam, hidung elang pipi panjang dagupendek. kedua sorot matanya mencorong terang, kedua pelipisnya menonjol, jelas Lwekangnya amat tangguh.

Melihat yang datang pemuda berusia belum genap dua puluh tahun, kakek baju hitam, lantas menyeringai hina, bibirnya juga mengejek: "Bocah yang masih bau tetek. memangnya kau sudah bosan hidup, Biar Lohu antar kau pulang kedalam pelukan nenekmu dialam baka." setelah lawan buka suara kedua tangannya sudah melingkar terus didorong menerbitkan segumpal angin tenaga.

Baru pertama kali ini Suma Ling-khong bergairah melawan musuh, jelas pengalamannya masih cetek. mendadak dirasakan angin deras menampar dirinya, untuk menangkis jelas dia terlambat, lekas dia berkelit mundur lima kaki,  untung masih sempat meluputkan diri. Namun darah panasnya terbakarjuga, segera dia kerahkan tenaga dikedua tangan, sekali menyedot napas dia salurkan hawa murni dari pusar terus memukul sekuatnya.

Melihat lawan berkelit kakek baju hitam makin takabur. seenaknya saja dia menggerakkan tangan menangkis. Kejadian sungguh d ilua r perhitungannya, begitu tenaga pukulan saling bentrok, "Blang", kakek baju hitam tergetar mundur lima langkah, darah hampir menyembur dari dada, roman mukanya seketika pucat, jelas dia sudah terluka dalam, untung Lwekangnya cukup tangguh. maka dia masih mampu mengendalikan hawa murni melindungi badan.

Memang diluar tahunya bahwa Jin-tlok-ji-meh Suma Ling- khong telah tembus. Lwekangnya sekarang setaraf denganjago kosen kelas wahid, hanya pengalamannya saja yang masih terlalu cetek. Melihat pukulannya berhasil memukul mundur lawan, tambah tabah hati Suma Ling-khong, lekas dia mendesak maju seraya melontarkan enam pukulan secara beruntun.

Dengan mantap kakek baju hitam melayani serangannya dengan gerak langkah dan tipu-tipu yang lihay, dalam suatu peluang dia malah balas menyerang tiga jurus,  maka terjadilah perang tanding secara seru, kedua lawan setanding sama kuat.

Sementara itu kawanan penjahat yang menjatuhkan batu dan balok kedasar selat sedang disikat oleh Jian-li-tok-heng diseberang sana, dalam sekejap kawanan penjahat itu sudah lenyap tak karuan parannya Karuan kakek baju hitam menjadi gugup, Tahu gelagat tidak menguntungkan, lekas dia lancarkan dua kali pukulan mendesak mundur lawan, disaat Suma Ling-khong terhuyung dia membungkuk membusung dada, hawa murni telah dikerahkan, maka telapak tangannya yang putih pelan-pelan berobah hijau, uap hitampun tampak mengepul dengan baunya yang amis memualkan-

Suma Ling-khong sedang tidak karuan perasaannya, mendadak hidungnya mencium bau amis seperti busuknya bangkai, seketika kepala pusing hampir pingsan-

sementara kakek baju hitain sudah siap turun tangan. Mendadak didengarnya sebuah bentakan sekeras guntur: "Bedebah masih berani mengganas." suara belum lenyap orangnya sudah menubruk tiba, segulung tenaga laksana amukan badai tahu-tahu telah menindih tiba. Sebelum tahu apa yang telah terjadi, kakek baju hitam mencelat terbang dengan jeritan keras, tubuhnya melayang tiga tombak menumbuk batu. kepala pecah tubuh remuk.

Sudah dituturkan disebelah depan bahwa Liok Kiam-ping terhenti dilekuk dinding, tak lama kemudian batu kapur dan balok yang berjatuhan dari atas terhenti, disusul suara jeritan- jeritan keras serta tampak beberapa sosok tubuh orang melayang jatuh dengan jeritan ngeri. Dalam hati dia menduga bahwa Suma Ling-khong dan Jian-li-tok-heng tengah beraksi disebelah atas. Sementara dia sudah memulihkan pula tenaganya, setelah menghimpun tenaga sambil bersuit dia menjejak kaki dan kaki tangan bekerja sama seperti lutung manjat pohon saja. jari-jari tangannya sekeras baja mencakar dinding terus melambung keatas, setelah bersalto dua kali dengan sigap tubuhnya sudah mencapai bibir jurang.

Dikala kakinya hinggap diatas puncak kebetulan dilihatnya kakek baju hitam sedang menghimpun tenaga hendak melancarkan Hek sat-ciang, maka sambil membentak dia menerkam lebih dulu, syukur lawan berhasil dipukulnya mampus. Kim-kong-put-hoay-sin-kang yang diyakinkan sekarang sudah mencapai puncaknya, maka dia tidak kuatir menyedot hawa beracun dari asap hitam itu. sedikir menutul kaki dia memburu maju sambil ulur tangan memapah Suma Ling-khong, tanyanya kuatir: "Kenapa kau Hian-te "

Suma Ling khong sudah dalam keadaan setengah sadar, meski pernah menelan Soat-lia n, maka pikirannya sedikit jernih, dengan lemah dia menjawab: "Bau busuk memualkan, kepala pening membuat badan terasa enteng." habis bicara diapun sudah pulas.

Kiam ping tahu adik angkatnya keracunan enteng, beruntun dia menutuk urat nadi supaya hawa racun tidak menjalar. suma Ling-kong lantas dipanggulnya dibawa lari kebibir jurang.

Waktu itu magrib telah mendatang, tebir malam mulai menyelimuti jagat raya, Liok Kiam-ping memanggul Suma Ling-khong bersamaJian-li-tok-heng baru keluar dari selat yang lain-

Supaya tidak terlambat memberipertoltongan, mereka berusaha mencari tempat, tapi diatas pegunungan ini tiadajejak manusia, terpaksa mereka mencari gua untuk menetap sementara. Gua itu cetek luasnya tidak ada setombak, untuk menjaga segala kemungkinan Jian-li-tok- heng terpaksa berjaga diluar dan sembunyi dibelakang sebuah batu besar dipinggir gua.

Malam semakin berlarut, mendadak melengking sebuah siulan keras menggetar malam sunyi, tiga bayangan orang tampak meluncur turun dari puncak sebrang. sambil maju mereka seperti mencari-cari apa. Terdengar seorang tua serak berkata: "Lohu datang terlambat hingga setan cilik itu sempat melarikan diri. Menurut laporan barusan ketiga orang itu masih berada disekitar sini, kenapa jejak mereka tidak kelihatan ?"

Seorang lain menanggapi: "Sepuluh li di sekitar pegunungan ini Sudah kami geledah, memangnya bocah itu sudah jadi setan dan bisa menghilang."

"Kalian harus hati-hati." seorang pemuda berkata sinis, "setan cilik itu bertangan gapah, Lwekangnya tinggi betapapun tidak boleh teledor."

Suara serak itu tertawa g elak-gelak. katanya: "Kenapa Kengcu makin takut menghadapi urusan, dia sudah dalam kepungan kita, tumbuh sayapjuga jangan harap dapat melarikan diri,"

"Bukan aku takut urusan, namun sebelum ayah datang, apapun kita harus berhati-hati. "

Jian-li-tok heng yang sembunyi dibelakang batu maklum bahwa mereka bertiga sudah terkepung dan selalu dalam pengawasan musuh, kedua saudara mudanya sedang samadi, apapun tak boleh terganggu diam-diam dia berdosa supaya ketiga orang ini lekas menyingkir ketempat lain- Dengan mengerut alis dia celingukan menerawang keadaan sekitarnya

Mendadak dia merunduk pergi beberapa tombak- sengaja melangkah dengan memberatkan kaki sehingga mengeluarkan sedikit suara terus berlari daerah timur. Maka didengarnya suara lambaian pakaian beberapa orang berkibar dibelakang, waktu dia menoleh tiga bayangan orang tampak mengudak kearahnya. karuan hatinya senang. Ginkangnva memang cukup hebat, kalau dia mau mengempos seluruh tenaga, ketiga orang itu jelas takkan bisa menyandak, tapi kuatir ketiga orang itu kehilangan jejaknya lalu putar balik maka dia berlari dalam kecepatan ssdang saja, mengingat situasi cukup gawat bagi keselamatan kedua saudaranya. sengaja lari ketimur lalu belok keselatan, paling hanya puluhan tombak jauhnya dari letak gua itu.

Cukup lama juga jian-li-tok-heng putar kayuh, dari selatan mutar kebarat terus belok keutara, secara diam-diam dia menyelinap masuk ke hutan terus menyelundup balik kemuka gua. Tampak Kiam-ping berdua sudah terbungkus oleh uap putih tebal, diam-diam dia girang bahwa usahanya berhasil mengulur waktu ”setengah jam lagi pasti usaha Kiam-ping menolong Suma Ling-khong akan berhasil, biarlah kawanan iblis itu nanti merasakan kelihayan kami bertiga.”

Sementara itu tiga orang yang mengudak itu akhirnya kebingungan diluar hutan, sejenak mereka celingukan lalu kasak kusuk akhirnya diputuskan untuk membagi diri menggeledah ketiga jurusan, mereka sadar bahwa musuh sengaja mempermainkan, maka sambil mengumpat caci mereka terus menggeledah hutan-

Caci mereka kedengaran semakin dekat, Diam-diam Jian li- tok-heng merasa gelisah, kali ini jelas pasti kepergok. maka dia membatin: "Satu lawan dua, sekuatnya aku masih bisa menandingi mereka, bila tiga orang mengeroyokku, jelas aku tidak akan bisa menang, padahal keadaan cukup kritis bagi kedua saudaranya, meski harus berkorbanjiwa, betapapun dia harus berusaha membendung mereka jauh diluar gua. Untung pengalamannya cukup luas, akhirnya terpikir sebuah akal untuk menghadapi musuh, paling tidak masih bisa bertahan beberapa kejap lagi. Langkah orang semakin dekat, tiga tombak. dua tombak. akhirnya hanya setombak, mendadak berhenti. Suara serak tua itu berkata: "Gua ini letaknya cukup tersembunyi, kenapa tadi tidak ditemukan, bukan mustahil bocah keparat itu sembunyi didalam sedang menyembuhkan luka,"

"Benar, aku yakin dugaanmu tidak meleset. Mari kita geledah kedalam." seorang tua yang lain berkata. Maka mereka beranjak maju kedepan gua. ternyata mereka semua berpakaian hitam. dua tua satu muda, d ibawah sinar rembulan, kelihatan wajah mereka seburuk setan-

Sekonyong-konyong serangkum angin pukulan dahsyat laksana kilat menyerbu dari samping gua, tiga orang itu dipaksa mandek dan menyurut mundur, Tahu-tahu bayangan seorang sudah menghadang dimulut gua, jengeknya dingin: "Badut kurcaci dari mana yang tidak tahu diri berani mengoceh membuat ribut disini, Lohu sedang enak tidur sampai terjaga kaget, kalau tahu diri lekas mencawat ekor enyah dari sini." "Anjing tua, j angan pura-pura pikun, malam ini jiwa mupun tak diberi ampun." "Boleh buktikan jiwa siapa yang tidak terampun, kalau berani sebutkan dulu namamu."

"Tuan mudamu ini datang dari Tang-ling kedua orang ini adalah Kik-bun-toh-pek dua rasul kami."

"oooh, kiranya kawanan setan dari akherat biarlah Lohu kirim kalian pulang ketempat asal kalian-"

Suara serak itu mendengus: ”Jangan bersilat lidah, sambut dulu pukulan Lohu." lakilaki tua baju hitam di sibelah kanan menggerakan tangan- segulung hawa dingin segera menerjang kedepan, begitu hebat tekanan hawa dingin ini hingga napasnya terasa sesak.

Jian-li-tok-heng tahu lawan me lancarkan jenis pukulan jahat, beracun, karuan amarahnya memuncak. kedua tangan segera bergerak diapun lontarkan serangkum angin pukulan keras. "Pyaar." ledakan terjadi.

Mungkin karena kedudukan lelaki tua berada disebelah bawah hingga dia harus menyongsong pukulan lawan dari atas, maka dia terg entak mundur lima langkah, darah terasa mendidih didalam tubuhnya. Sementara Jian-li-tok-heng hanya tergeliat sedikit, wajahnya tersenyum simpul, jelas dia berada diatas angin.

Pemuda dan seorang tua yang lain seketika berobah air mukanya, sekilas mereka saling pandang, mendadak menyergap daridua sayap. empat telapak tangan melontarkan deru angin dahsyat.

Jian-li-tok-heng melompat keatas menghindar pukulan dahsyat, ditengah udara tubuhnya bersalto lalu menukik dengan kaki diatas, kepala dibawah, meminjam daya luncuran tubuh dari atas kedua tangannya menampar dari kanan kiri, dua arus hawa panas laksana kilat meluncur kedua musuh.

Posisinya memang unggul karena disebelah atas hingga kekuatan tamparan tangan nya bertambah hebat, kedua musuh tua dan muda terpukul mundur dua langkah, Sementara itu lelaki tua ditengah sejenak melenggong, tapi lekas sekali dia sudah menubruk maju pula. Kini tiga orang bergerak secara ketat dan menyerang seperti berlomba saja dengan pukulan kencang.

Jian-li-tok-heng dipaksa untuk mengembangkan Sian-tian- ciang-hoat (pukulan halilintar) perguruannya, badannya selalu berlompatan naik turun dludara sehingga menaburkan hawa panas yang berarus tinggi, sepenuh tenaga dan perhatian dia layani keroyokan ketiga musuh.

Sebagai rasul kedua lelaki tua itu juga membekal kepandaian tinggi, kalau satu lawan satu mungkin Jian-li-tok- heng masih mampu merobohkan mereka dalam lima puluh jurus, tapi dikeroyok tiga, betapapun tinggi ilmu silatnya akhirnya terdesak dibawah angin- Tiga puluh jurus kemudian Jian-li-tok-heng sudah mandi keringat, dia sudah amat payah, kaki tangan sudah terasa berat hingga gerak geriknya juga lamban.

Pemuda jubah hitam berhati lebih culas banyak akal  liciknya pula. melihat suatu kesempatan sambil membentak mendadak dia tambah daya serangannya. Maklum dirinya menghadapi bahaya lekas Jian-li-tok-heng menyurut mundur, berbareng kedua tangan terpentang, segenggam Thi-lian-cu (biji teratai besi) dengan gaya Boan-thian-hoa-hi (hujan kembang diang kas a) dia taburkan kepada ketiga lawan, sudah puluhan tahun dia memperdalam ilmu Am-ginya ini, gaya dan gerakan serangannyaJauh berbeda dengan serangan senjata rahasia umumnya, setiap serangan Am-ginya tak pernah percuma. kini menyadari awak sendiri terdesak dibawah angin terpaksa dia gunakan kemahiran sendiri untuk mempertahankan diri.

Kakek tua suara serak itu berada paling dekat, sedikit lena, dia terlambat berkelit, pundaknya terkena timpukan biji teratai besi, saking kesakitan dia menjerit kesakitan, darah sudah meleleh didada dan punggung.

Karuan pemuda dan seorang tua yang lain amat murka, serempak mereka menggerung sambil menerkam bersama, secara aneh mereka menggerakkan kedua tangan, hingga telapak tangan mereka menghitam legam mengeluarkan asap hitam pula.

Jian-li-tok-heng sudah siap dan hendak menyerang. Mendadak didengarnya Kiam-ping berteriak gugup: "Lo-koko lekas mundur, itulah Hekssat-tok-ciang" berbareng angin deras laksana gugur gunung memberondong dari dalam gua.

Uap hitam itu seperti dilanda badai saja tertiup buyar beberapa tombakjauhnya dan sirna dialam pegunungan, Berbareng sesosok bayangan orang telah mencelat keluar dari dalam gua. Tampak Kiam-ping berdiri dipinggir Jian-li-tok- heng dengan tatapan tajam kearah Yu-ling Kongcu dan kedua lelaki tua bermuka bengis itu. Dengan tersenyum ejek dia berkata:

"Kukira siapa, kiranya kawaran tikus dari Tang- ling yang pandai main keroyok”

Yu-ling Kongcu menyeringai sinis, katanya: "Hadiah sekali pukulanmu di Kwi-hun-ceng tempo hari masih belum kulupakan- Daerah seluas dua puluh li dipegunungan ini sudah terjaga ketat oleh kekuatan kita. Anjing cilik, lekas menyerah atau bunuh diri -saja, cepat atau lambat kau akan mampus juga."

Sikap Kiam-ping tetap wajar dan adem ayem, tanpa bicara dia tatap satu persatu ketiga lawanya lalu mengerling kekanan kiri, memang bayangan orang tampak bergerak dari berbagai penjuru, jelas tempat ini sudah terkepung secara ketat. Tapi alisnya malah berdiri, katanya lantang: 'Sepak terjang kalian tiada yang perlu dibuat kaget, Yu-ling-toa-tin juga hanya begitu saja. tempo hari cayhe sudah merasakan sendiri, untung jiwamu lolos dari telapak tanganku.

Nanti pasti tidak akan kubiarkan kau kecewa seperti dulu." nadanya mencemooh dan menghina. '

Mengejang muka Yu-ling Kongcu, mendadak dia mengeluarkan sebuah pelor api terus ditimpuk ketengah udara. Dengan desis suara nyaring lalu meledaklah diudara dan kembang api warna warnipun berpijar menghias angkasa kelam.

Maka timbul berbagai suitan dan sempritan dari berbagai penjuru, semua meluruk kearah sini.

Lick Kiamping maklum bahwa pihak Tang- ling- klong sudah memboyong seluruh kekuatannya, situasi jelas cukup gawat, kawanan penjahat ini bertangan gapah dan telengas, akal lick dan busuk apa saja beramai mereka lakukan, teringat jiwanya hampir saja amblas ditengah selat sempit, seketika amarahnya mendidih pula, lekas dia merogoh keluar dua kelopak Soat-lian dan Pi-hwe-cu diserahkan kepada Jian-li-tok-heng, katanya" Mengulum Soat-lian dapat menolak hawa racun, Pi-hwe-cu adalah mestika penunduk iblis. didalam Yu-ling toa-tin yakin aku tidak kurang suatu apa, baiklah kita bekerja secara terpencar, ganyang habis kawanan kurcaci itu."

Sebelum mereka bertindak sebuah pekik nyaring panjang sepertijeritan setan memecah udara malam. orang-orang Tang-ling itu seketika unjuk rasa senang. Mungkin senang bahwa bala bantuan tangguh segera akan tiba musuh sudah terkepung seumpama semut didalam kuali, maka mereka menanti dengan penuh siaga.

Pekik suara itu makin keras dan dekat, terasa menusuk telinga. Begitu pekik suara itu lenyap Tang- ling- g ia m- lo tahu-tahu sudah berdiri ditengah arena, Dibelakangnya meluncur datang pula dua lelaki tua berjubah hitam putih.

Dengan menyeringai lebar Tang-ling-giam lo berkata: "Ikan yang lolos dari jaring di Kwi-hun-ceng, siapa nyana sembunyi didaerah belukar ini, hingga lohu susah payah mencari. Setan cilik, punya pesan apa lekas katakan mumpung jiwamu belum amblas.”

Berhadapan dengan musuh bebuyutan, saking gusar Liok Kiamping malah tertawa:

”Jangan menyepuh emas dimukamu sendiri, kalian kawanan kurcaci yang hina dina, tukang keroyok pandai memungut keuntungan, hari ini belum pasti kalian bisa menang, tadi kau menyinggung Kwi-hun-ceng memangnya ada apa ?' '

"Biarlah kujelaskan kepadamu, supaya di alam baka kau tidak terperanjat bertemu dengan para begundalmu. Markas besar Honglui-bun yang kau bangun di Kwi-hun-ceng sekarang sudah kurebut dan kududuki. Gin-jay-beng dan lain-lain terluka parah, sekarang mungkin sudah menunggu kalian dipintu akherat' Dendam lama dan sakit hati baru saling menggejolak dalam hati perasaan Liok Kiam-ping amat terpukul oleh berita buruk ini, matanya seketika menyala gusar. Bentaknya: ”Setan tua, segala dendam kesumatku biar sekarang kutuntut kepadamu untuk melunasinya.” lalu dia pasang kuda-kuda dan siap tempur.

Lelaki jubah putih yang berbadan sedikit gemuk dipinggir Tang-ling-giam-lo tampil selangkah, katanya dengan tertawa kasar: "Anak muda. kau punya kepandaian apa, berani bermulut besar, biarlah aku Pekhoan Kek Eng memberi hajaran kepadamu." Melihat lawannya masih muda, dia yakin Lwekangnya juga pasti terbatas, pihak sendiri banyak jago- jago kos en sudah kumpul, keinginan untuk pamer kepandaian terlalu merasuk hatinya, maka dia merasa perlu tampil lebih dulu. Tampak dia menggeser ke samping begitu tubuhnya berputar tangannya tahu-tahu sudah memegang sebilah badik pendek.

Liok Kiam-ping berdiri santai sambil menggendong kedua tangan- sikapnya tak acuh seperti meremehkan lawan, katanya:

"Baiklah, cayhe akan layani dengan tangan kosong beberapa jurus.”

Bahwa Liok Kiam-ping hendak melawan dengan tangan kosong, karuan Pek-boan Kek Eng naik pitam, serunya: "Anak jadah, jangan takabur, rasakan ketajaman badikku"

Liok Kiam-ping tertawa angkuh, jengeknya: "Boleh silakan mulai, jangan cerewet -saja."

Lwekang Pek-boan Kek Eng dikalangan Tan -ling-klong hanya disebelah bawah Giamlo-sin-kun, selama hidupnya terlalu jumawa dan mengagulkan kemampuan sendiri, kapan pernah dihina seperti ini dihadapan umum. Mukanya yang gembrot putih itu seketika merah melar, sambil memekik setan, badik ditangannya mendadak menikam enam Hiat-to dibagian atas tubuh Liok Kiam-ping.. Gepakannya cepat tanpa membawa deru angin, jurus tipunya juga aneh dan susah diraba. Begitu berkelebat badiknya seperti hampir menghunjam ditubuh lawan-

Liok Kiam-ping kembangkan kelincahan gerak tubuhnya, gerak g eriknya bagai naga menari dengan tangkas dia naik turun selulup diantara samberan sinar badik lawan- Bukan saja lincah dan tangkas, badannyapun gemulai seperti senam irama saja.

Keruan makin memuncak amarah Pek-boan Kek Eng, badik ditangan dia tarikan sekencang kitiran, tabir cahaya serapatjala mengurung sekujur badan Liok Kiam-ping, sayup- sayup terdengar suara gemuruh seperti gelegar guntur ditempatjauh.

Dengan gerakan yang mengaburkan pandangan secepat kilat Liok Kiam-ping seperti menari saja berlompatan kian kemari selicin belut selincah kera kadang-kadang dia malah balas menyerang, Dalam sekejap kedua orang sudah bergebrak tiga puluh jurus.

Mendadak Liok Kiam-ping menghardik sekali, jurus Liong- kiap-sin-gan tiba-tiba menyelonong. Tampak bayangan  telapak tangan berlapis-lapis sedahsyat s a mb era n halilintar menepuk tiba.

Pek-boan Kek Eng mendelong, sedikit lena itu jiwanya sudah terancam elmaut.

Untunglah pada detik yang menentukan itu, sebuah tawa dingin berkumandang, sejalur tenaga pukulan deras telah mengancam Liok Kiam-ping dari belakang. Tapi satu kaki menjelang menyentuh badan Liok Kiam-ping terasa daya pukulan itu seperti membentur tembok kokoh yang tidak kelihatan dan 'Wut' tenaga itu tercerai berai tak karuan paran

Kim-kong-put-hoay-sin-kang Liok Kiamping sudah diyakinkan seirama dengan jalan pikiran hatinya, begitu merasa disergap dari belakang, kewaspadaan lantas timbul, sementara secara reflek ilmu sakti itupun telah berkembang. setelah memunahkan sergapan dari belakang lekas dia membalik dengan gerakan langkah kesamping, kedua tangan terus memukul kearah pembokong.

Pembokongnya ternyata lelaki tua berjubah hitam bertubuh kurus tinggi, yaitu Hek-boan Toan Seng. Bahwa sergapannya tidak berhasil, dilihatnya lawan tidak merasa apa-apa, malah tenaga pukulannya sirna seperti batu kecemplung laut, baru saja dia melenggong. Mendadak dilihatnya sinar putih berkelebat, bayangan orang sudah menubruk kearahnya.

Karena lawan membokong secara keji Kiam-ping  marah dan timbul nafsunya membunuh maka pukulannya itu dilandasi tenaga keras dan berat. Lekas Hek-boan angkat kedua tangannya pula tapi sabelum dia kerahkan tenaga, s eg ulung tenaga laksana gugur gunung telan menindih tiba, Blang" dada seperti digodam, mulutnya setengah merintih tahu-tahu badannya mencelat tiga tombak jauhnya, roboh tak bangun lagi.

Kawanan penjahat diluar arena sama berteriak-tertak siap bertindak Jian-li-tok-heng amat senang bahwa kekuatan Kiam- ping bukan saja hebat tapi lihay, malam ini tak perlu gentar, maka hati sendiripun bertambah tabah dan mantap.

Tang-ling-giam-lo sebaliknya berobah rona mukanya, hatinya berpikir: "Baru berpisah dua bulan, Lwekang bocah ini sudah maju sepesat ini, kalau hari ini tidak ditumpas, kelak aku pasti takkan mampu mengalahkan dia." mendadak bola matanya mendelik, serunya dengan galak tawa keras: "Anjing cilik bertangan gapah, hatimu sekejam binatang. Tempo hari Lohu menaruh belas kasihan kepadamu, kalau tidak memangnya kau bisa hidup sampai sekarang.'

Menyinggung pertempuran tempo hari, seketika mengobarkan dendam Liok Kiam-ping, bentaknya: "Baiklah dendam lama sakit hati baru dibereskan sekarang saja ?" Suasana menjadi tegang, hawa udara seperti membeku, perasaan siapa takkan tercekam menghadapi pertempuran dahsyat yang bakal beriangsung.Jantung Jian-li-tok-heng berdebar keras, dia kuatir Kiam-ping masih muda bertindak kurang perhitungan bagaimana sampai bermusuhan dengan gembong iblis besar ini, bila lena sedikit, dirinya jelas takkan mampu memberi bantuan.

Celaka adalah Peksboan Kek Eng yang masih harus melayani gempuran Jian-li-tok-heng, melihat pihak sendiri sudah jatuh banyak korban, sementara Tang- ling-sin-kun dan anaknya juga sudah mencawat ekor pada hal betapa besar kesetiaan dirinya kepada pimpinan itu, dalam keadaan gawat dirinya ditinggal sendirian dimedan laga, sungguh bukan kepalang sedih hatinya, selama puluhan tahun entah betapa besar jasa dirinya untuk pihak Tang- ling-klong, hari ini harus mati konyol ditangan musuh, namun demi jiwa sendiri terpaksa dia tetap bertahan mati-matian, meski dia insyaf dirinya tak ubahnya binatang yang sudah masuk perangkap. namun matipun dia tidak mau menyerah,

Karena gejolak perasaan menyebabkan konsentransinya menjadi buyar, sedikit lena saja, badik ditangannya sudah terpukul terbang oleh Jian-li-tok-heng. Tapi  wataknya memang keras, selama ini dia malang melintang tiada tandingan, bertempur dengan senjata juga baru kali ini, sekarang dirinya jelas sudah dikalahkan, maka dia menghela napas panjang, kedua tangan diluruskan sambil memejam mata menunggu ajal, sikapnya yang gagah sungguh patut dipuji, meski kalah sebagai seorang ksatria boleh dibunuh pantang dihina.

Mendadak timbul rasa hormat dan simpati Kiam-ping kepada orang tua ini, lekas dia berseru: "Ampuni dia Lo-koko." belum habis dia bicara orangnya sudah menyelinap maju ketengah kedua orang. Katanya dengan sikap kereng: "Kejadian hari ini patut disesaikan, aku tahu tuan menjalankan tugas, pada hal satu dengan yang lain tiada permusuhan pribadi, maka boleh kau pergi secara bebas, cuma kuharap selanjutnya sudi bekerja demi kepentingan kaum Bulim yang tertindas, membela yang benar dan menindas yang lalim.”

Terbuka lebar mata Pek-boan Kek Eng, melihat pemuda ini bicara setulus hati segera dia tersenyum. katanya: "Kungfu Siauhiap teramat tinggi, sikapmu begini ramah dan welas asih pula, sungguh Lohu harus malu diri, selanjutnya aku akan mundur dari percaturan dunia persilatan, akan kucari suatu tempat diatas gunung untuk tetirah saja, kelak bila ada kesempatan ingin aku membalas budi kebaikanmu ini." setelah menjura badannya lantas melompat tinggi dan meluncurjauh kearah timur.

Waktu itu sudah menjelang fajar, puluhan mayat yang bergelimpangan sudah mencair oleh racun api kunang-kunang musuh, yang ketinggalan hanyalah tulang belulang dan pakaian serta rambut mereka saja, bau amis memualkan-

Kiam-ping menghela napas, katanya kepada Jian-li-tok- heng: "Lo-koko, jejak kita sudah konangan, harus secepatnya kembali kemarkaspusatpula, maka menurut pendapat Siaute, mari kita menempuh jalan putar yang sepi, meski agak jauh, yakin tiada rintangan lagi.""

Jian-li-tok-heng menepekur, katanya kemudian: "cara inijuga baik, tapi dinilai dari situasi didepan mata, kemungkinan besar Kui-hun-ceng sudah jatuh, kekuatan musuhpun begitu besar, padahal tenaga kita masih seminim ini, jelas tidak mudah melawan secara blak-blakan- Maka aku merasa perlu untuk pulang dulu ke Ki-bun, akan meminta bantuan Kim-bun-siang-hiap. di saat kau membuka lembaran baru berdirinya Hong-lui-bun, yakin aku sudah tiba juga di sana." "

Meski merasa berat berpisah, tapi mengingat urusan cukup genting, urusan tidak boleh ditunda dan mengulur waktu, maka dia menjura mohon berpisah setelah saling berpesan supaya hati-hati sepanjang perjalanan-

Setelah berpisah dengan Jian-li-tok-heng Kiam-ping dan Suma Ling-khong menempuh jalan pegunungan yang sepi dan belukar, untung Ginkang mereka sudah amat tinggi, semak belukar pegunungan tidak menjadi halangan buat perjalanan mereka. Pada hal hati mereka seperti dibakar, ingin cepat tiba di Kwi-hun-ceng, maka Kiam-ping gandeng Suma Ling-khong hingga mereka bisa menempuh perjalanan lebih cepat lagi. Lwekangnya memang sudah mencapai taraf tertinggi, setiap malam cukup istirahat duajam sudah pulih tenaganya dan melanjutkan perjalanan pula.

Hari itu, menjelang magrib. Mereka sudah menempuh perjalanan sehari penuh, terasa benar perlu mencari suatu tempat untuk istirahat. Tapi dialas pegunungan ditengah hutan lagi jauh dari kota dandesa, disaat mereka celingukan mencari tempat. Mendadak sebuah jengek tawa dingin berkumandang dari dalam hutan di samping sana, suaranya seperti sudah amat dikenal. Lalu tampak sesosok bayangan orang melesat laksana s a mb era n panah, sengaja orang itu menoleh sambil mengulum senyum tawa, badannya meluncurjauh kedepan seperti anak panah.

Pandangan Liok Kiam-ping amat tajam sekilas dia kenal bayangan itu adalah Tangling-lo-koay, karuan gemasnya bukan kepalang, sepanjang jalan musuh berusaha membokong dan menyergap dengan berbagai perangkap keji, hatinya teramat gusar dan dendam, kali ini dia bertekad menyandak musuh, betapapun lawan tidak boleh lolos lagi, maka dia berseru kepada Suma Lingkhong: "Hayo kejar." lalu dia mendahului melambung kedepan, tapi hanya dalam sekejap ini, orang itu sudah meluncur puluhan tombak, betapa tinggi Lwekang dan Ginkangnya, sungguh mengejutkan-

Kejar mengejarpun berlangsung dalam kecepatan tinggi, orang itu membelok kebawah lekuk gunung terus melambung kesebrang ternyata dibalik gunung sana terdapat sebuah perkampungan besar, perkampungan didirikran ditengah hutan lebat, maka kehadiran perkampungan ini mirip sebuah pulau ditengah samudra raya. Hutan belukar inijelas jarang dijelajah manusia, binatang buas juga jarang kelihatan di sini, maka perkampungan besar itu cukup menyolok.

Bayangan orang didepan terus menuju ke perkampungan, sekali berkelebat lantas lenyap dibalik tembok.

Tanpa pikir Kiam-ping berdua terus mengudak masuk. Perkampungan sebesar ini ternyata sepi hening, tidak kelihatan ada bayangan manusia. Mereka langsung masuk kependopo, ruang besar ini terawat baik dan bersih, perabotnya mentereng, jelas masih dihuni manusia. Mereka terus maju keluar d ari pintu samping menyelusuri serambi panjang, tiba-tiba terdengar gelak tawa orang kumandang dari kebon dibelakang.

Kebon kembang ini luas dan besar, pohon kembang yang tumbuh subur di sini semua dari jenis yang jarang didapat didunia ramai. bentuk bangunan di sinijuga serba antik dan mewah, meskijauh dari keramaian tapi terasa betapa angker keadaan rumah ini.

Kiam-ping terus maju ke sana memasuki sebuah kamar satu seluas beberapa tombak, gelak tawa berkumandang dari kamar batu ini. Menghadang pintu adalah sebuah meja panjang yang menjurus masuk kedalam, diujung meja sana duduk Hwe-ang-it-sian dan dua lelaki tua berusia enam puluhan- Seorang tua yang ditengah beraja h mirip burung kokok beluk, matanya juling, alisnya gombyok memutih, melihat kedatangan Liok Kiam-ping dia terloroh, serunya: "Siapa diantara kalian adalah Pat-pi-kim-llong?' begitu mendelik matanya, mencorong cahaya kilat.

Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya kalem: "Angkatan muda yang tidak bernama tak usah disinggung. Sebaliknya tuan tentu seorang tokoh kosen, coba sebutkanjulukanmu.' dalam hati dia memuji akan Lwekang orang tua ini  yang tinggi.

"Bagus, Lohu Tay-bok-it-siu, pejabatan cong-hu-hoat dari Ham-ping-klong. Anak muda, ceng-san-biau-kek punya permusuhan apa dengan kau, kau turun tangan keji membunuhnya ? Memangnya Ham-ping Lojin juga kau remehkan ?'

Kiam-ping belum banyak tahu tentang tokoh-tokoh persilatan masa lalu. Tay-bok-it siu sudah menggetarkan B ulim tiga puluh tahun yang lalu, bahwa orang menyinggung ceng-san-biau-kek, secara langsung membuat Liok Kiam-ping terbayang akan kematian ibunya yang mengenaskan, seketika berdiri alisnya, katanya: "Penjahat pembunuh dan pencuri siapapun patut mengganyangnya. ciangbunjin kami yang terdahulu ciang-kiam-kim-ling puluhan tahun yang lalu pernah di keroyok oleh Ham-ping Lojin hanya lantaran mereka tamak ingin merebut Wi-llong-pit-kip. tak segan mereka melanggar aturan Kangouw, meruntuhkan gengsi dan pamor mengeroyok beliau dengan enam pimpinan perguruan lain, sebagai penjabat ciangbun baru adalah menjadi kewajibanku untuk menuntut keadilan kepada mereka."

"Setan kecil. Tak usahjual lagak dihadapan Lohu. Hari ini kau pasti menebus segala dosamu. Selama hidup inijangan kau bermimpi untuk menemukan Ham-ping Lojin.' lalu berpaling kepada Ang-hun-jit-sian, 'Dendam ayahmu juga bisa kau tuntut sekarang juga, bukankah amat menyenangkan. Anak muda, kuanjurkan lebih baik kau bereskan diri sendiri saja, Lohu masih boleh bermurah hati takkan merusak mayatmu." "Memangnya aku ini penakut? Apa keherdakmu boleh silakan saja.' "Bagus, kau akan lebih menderita dari pada mati.' 'Memangnya kau yakin dapat mengalahkan aku?'

Agaknya Tay-bok-it-siu sudah memperoleh sedikit gambaran tentang Liok Kiam-ping, sekilas tampak dia melongo, dasar licik keraguan hatinya tidak dia tampilkan dirona mukanya malah dia lebih mantap bahwa rencananya pasti akan berhasil dengan baik, maka dia bergelak tawa, serunya:

'Anak muda, kau akan menerima ganjaranmu sendiri. Asal kau mampu menahan tiga kali pukulan Lohu, persoalan hari ini anggaplah tidak pernah terjadi, menepuk pantat Lohu akan segera pergi dari sini sejak itu namaku akan hapus dari percaturan Bulim.."

Kalau berani mari kau ikut Lohu.' tanpa menunggu jawaban, ketiga orang itu sudah mengundurkan diri.

Secara gamblang lawan sudah menantang sudah tentu Kiam-ping berdua pantang mundur, mengiakan bersama merekapun terus melayang masuk. Belum genap mereka maju lima langkah, "Blam" pintu dibelakang mereka menutup sendiri dengan suaranya yang keras gemuruh. Lekas mereka memburu ke ujung meja sana, meja kursi masih ditempat semula, keadaan sudah kosong melompong, ternyata ketiga iblis itu sudah merat lewat lorong rahasia.

Liok Kiam-ping berdua terkurung dalam kamar batu yang rapat dan tebal ini, menyesal juga sudah kasep akan kecerobohan sendiri, mesti membekal ilmu sakti, untuk lolos dari kamar batu inijuga sesukar memanjat kelangit. Tengah dia berdiri menjublek tiba-tiba didengarnya suara mendesis, dari celah-celah dinding batu dari berbagai penjuru menyembur asap putih yang berbau pedas dan busuk. lekas sekali asap putih, ini sudah memenuhi ruang batu.

Lekas Kiam-ping kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, tiga kaki seputar badannya seperti dilindungi papan baja, asap putih seperti tersibak ming gir bergulung keempat penjuru.

Untuk mengerahkan Kim-kung-put-hoaysin-kang terlalu memeras tenaga, bila berselfang cukup lama Kiam-ping sudah mulai mandi keringat, kepalanya juga mulai berdenyut merasa pusing. Tiba-tiba kumandang sebuah suara bisikan lirih dari luar pintu: "Lekas geser ke samping batu bundar dipinggir kursi d iba wah meja, dibawahnva ada lobang hawa rahasia, sementara kalian bisa menghirup hawa dan biarkan asap itu tersedot ke bawah, lalu duduklah mendekati pintu sini untuk mengatur tenaga."

Lekas Kiam-ping memapah suma Ling-khong mendekati meja, memang ditemukan sebuah batu bundar d iba wah meja terus di dorong kesamping, memang d iba wah meja terdapat sebuah lobang batu seluas satu kaki, dibawahnya adalah lobang gelap yang dalam asap itu lantas tersedot masuk kedalam lobang sehingga tawar.

Karena asap semakin menipis maka pertahanan Liok Kiam- ping ikut menjadi ringan pula, Jelas dia mundur kedekat pintu lalu duduk samadi, hanya sekejap kesadarannya sudah pulih, lalu diapun berbisik kearah pintu: 'Kawan mana yang memberi bantuan, sudilah memperkenalkan dirimu?'