Hong Lui Bun Jilid 07

Jilid 07

Badan mereka maju mundur bersama, gerak gerik mereka mirip manusia aneh yang punya dua tangan empat kaki, bila Kim-gin-sa-ciang digabung perbawanya ternyata bukan olah- olah hebatnya. Deru keras pukulan mereka seperti memenuhi lembah, tawon beracun yang beterbangan diudara makin sedikit jumlahnya, paduan suara sayap tawon yang mendengung itu makin ke lelap ditindih gelak tawa kedua kakek beruban itu. Baru sekarang Liok Kiam-ping bisa menyaksikan perbawa pukulan Kim-sa-ciang dan Gin-sa-ciang, batinnya: "Dengan tangan bergandeng tangan seperti ini, kekuatan mereka jauh lebih besar dari pada mengeroyok secara individu, apalagi tenaga kedua orang dapat saling isi dan membantu, menambal kekuatan kawannya... “

Ngo-tok-koay-mo mendadak menjengek:

”Jangan takabur, nih masih ada." kedua tangan meraih ke punggung menurunkan sebuah bumbung lagi terus diketok perlahan dua kali, maka berlompatan keluar beberapa ekor kodok puru, semua mengeluarkan suara "kok kok," menubruk kearah Kim-gin-hu-hoat.

Beruntun Kim-gin-hu-hoat melontarkan beberapa pukulan terus melambung keatas, bersalto dua kali langsung menubruk kearah Ngo-tok-koay-mo, segulung angin kencang yang terlontar dari sepasang tangan mereka menyibak mega sehingga sinar mentari menyorot masuk.

Angin pukulan dahsyat itu menggulung bunga salju menerjang kearah Ngo-tok-koay-mo. Karuan Ngo-tok-koay-mo kaget sekali, lekas dia ayun tangan, beberapa ekor ular kecil warna emas berhamburan dari lengan bajunya menubruk kearah Kim-gin-hu-hoat yang masih terapung diudara.

Kembali Kim-gin-hu-hoat menyampuk dengan kekuatan pukulan- tidak terpikir oleh mereka bahwa empat ekor ular emas ini dapat menekuk badan dan melenting, dengan lincah mereka menyelinap lewat dari deru pukulan dahsyat itu, laksana anak panah masih terus melesat kedepan. "Hiaaat." berbareng mereka menghardik, dua telapak tangan terangkap "Plok" seekor ular emas yang melesat paling depan kena tergencet gepeng dan lebur oleh kedua telapak tangan mereka.

Bau darah ular yang amis menyebabkan kawanan ular emas yang lain melorotkan badan jatuh ditanah terus meringkel menegakkan kepala sambil menjulurkan lidah kearah Kim-gin-hu-hoat.

Gin-ji-tay-beng tertawa gelak-gelak. serunya: "Keparat, jangan harap caramu ini..." belum habis dia bicara, katak- katak puru yang mendekam ditanah itu mendadak sama bersuara aneh terus menyemburkan cairan putih dari benjol- benjol daging punggungnya, semua menyembur kearah mereka,

Kim-ji tay-beng tetap waspada, bentaknya: "Giok-te, awas." seiring bentakannya, tangan kirinya mengeluarkan tenaga hingga Gin-jay-beng diseretnya mumbul keudara. Tapijarak mereka dengan kawanan katak puru terlalu dekat, walau  cepat gerakan mereka, tapi paha Gin-ji-tay-beng telah kesemprot cairan putih itu. Terdengar bunyi lirih celana di pahanya seketika bolong-bolong dan kulit pahanya seketika menjadi hitam. rasanya panas seperti dibakar api, tiada banyak waktu langsung dia merogoh keluar sebatang badik mengkilap. cepat dia gores dan iris kulit daging pahanya yang sudah menghitam hangus.

Liok Kiam-ping melompat maju seraya membentak, ditengah udara dan ulur tangan kepunggung, Liat-jit-kiam telah dicabutnnya maka mencoronglah sinarnya yang gemerdep melesat terbang diudara.

Begitu sinar pedang berkelebat, terdengarlah pekik aneh dari mulut kawanan binatang beracun ditanah, semua berusaha melarikan dirl dengan ketakutan-

Karuan Ngo-tok-koay-mo terperanjat, tiba-tiba dia bersiul memberi aba-aba, maksudnya menganjurkan binatang beracun peliharaannya maju menyerang pula, tak nyana binatang peliharaannya itu ternyata tidak dengar perlntah lagi, semua berusaha menyelamatkan jiwa sendiri tanpa tunduk akan perintahnya pula. Kiam-ping tarikan pedangnya kian kemari, katak-katak puru yang berlompatan itu semua ditabasnya mampus cabaya pedang seperti lidah api mencorong sejauh tiga kaki ditambah panjang pedang ada tiga kaki enam dim, sehingga jarak yang dicapai cukupjauh, maka binatang binatang beracun itu dengan mudah dibunuhnya satu persatu. Darah berceceran diatas saiju bau amis memenuhi lembah, sisa dua ekor ular emas sempat melesat ketangan Ngo-tok-koay-mo.

Terbelalak besar mata Ngo-tok-koay-mo sungguh tak berani dia percaya bahwa binatang beracun peliharaannya lari ketakutan berhadapan dengan Liok Kiam-ping. Dengan tangan kanan dia comot kalajengking biru yang merambat dipundaknya terus dibuang ke tanah didepannya, berbareng mulutnya mendesis-desis beberapa kali. Kalajengking biru besar itu pelan-pelan merambat kedepan, ekornya yang panjang seketika tegak membengkok dan bergerak-gerak.

Liok Kiam-ping menjengek hidung, ujung pedang turun miring kebawah, kedua matanya menatap tajam kearah kalajengking biru yang merambat makin dekat. Seluruh perhatian yang hadir dalam lembah inipun tertuju kearah kalajengking biru besar itu, namun serlng pula melirik kearah pedang di tangan Liok Kiam-ping, terutama sebutir mutiara diatas pedang.

Mendadak Ngo-tok-koay-mo berceloteh, seiring dengan suaranya, kalajengking itu mencelat mumbul beberapa kaki menubruk kearah muka Liok Kiam-ping. Ekornya yang panjang dan mempunyai capit itu mematuk ke Thian-toh-hiat ditenggorokan Liok Kiam-ping, betapa tepat sasarannya ternyata tidak kalah liehay dari serangan seorang jago silat.

Tubrukan kalajengking biru ini sungguh teramat cepat, Liok Kiam-ping baru saja merasa pandangannya kabur, dan amis sudah menyerang hidung, lekas dia menjengkang badan kebelakang, cahaya pedangnya bertaburan mirip jala, cahaya membabat kalajengking itu. Tak nyana kalajengking itu bisa menurunkan badannya menghindar tabasan pedang jatuh didepan kakinya.

Jin-tiok-ji-meh Liok Kiam-ping memang belum tembus, sehingga hawa murni dalam tubuhnya tidak bisa disalurkan secara kontinyu hingga tenaga murni juga susah dikembangkan keluar, maka tak sempat dia berkelit, tahu-tahu kalajengking sudah menubruk tiba didepan mukanya.

Kim-ji-tay-beng berteriak kaget, dari jarak tiga tombak dia datang, kelima jarinya terkembang hendak mencengkram kalajengking itu sementara Ngo-tok-koay-mo tertawa riang dan bangga, serunya: "Hehehe, kali ini pasti mampus... " tak tahunya belum lenyap suaranya, kalajengking yang merayap dikaki Liok Kiam-ping mendadak memekik aneh terus terguling jatuh, perut menghadap ke langit tak bergerak lagi, jiwanya melayang.

Tawa cerah di muka Ngo tok- Koay-mo seketika kuncup, kedua bola matanya membundar besar, serunya kaget: "Kau memiliki Hiong-ui-cu ribuan tahun ?”

Liok Kiam-ping sendiri juga melenggong sebelum dia menjawab Kim-ji-tay-beng sudah melompat datang, tanyanya "ciangbun, kau tidak apa-apa ?"

Liok Kiam-ping geleng-geleng, bahwasanya dia sendiri juga bingung kenapa dirinya membuat kawanan binatang beracun itu larl ketakutan, demikian pula kalajengking ini mati secara tiba-tiba tanpa sebab. Namun dia tidak sempat pikir apa sebabnya, matanya menatap Ngo-tok-koay-mo serta menghampirinya.

Mendadak rasa dingin menggelitik sanubarinya, dari tatapan mata orang yang marah membuat Ngo-tok-koay-mo bergidik ketakutan, lekas dia melengos kelain arah. Akan tetapi rasa gengsi yang tebal melembari sanubarinya  membuat dia berani menoleh lagi, sekuatnya dia tenangkan dirl lalu ulur tangan kepunggung menurunkan dua bumbung bambu yang masih ada, batinnya: "Aku percaya tidak mungkin dia memiliki Hiong-ui-cu ribuan tahun atau Su-liong-po-giok. .

.

Menepuk- menepuk bumbung, maka merayap keluar seekor kelabang merah panjang satu kaki, tepat diatas kepala kelabang terdapat sebuah tanda hitam yang menonjol.

Kim-ji-tay-beng terperanjat, serunya:

"Kim-hun-ou-jit, inilah kelabang sakti yang khusus dipelihara oleh Tok-sin-kiong-bing, ciangbun, kau harus lebih hati-hati."

Selama hidup kapan Liok Kiam-ping pernah melihat kelabang sebesar ini, hatinya juga kebat kebit, namun dia tidak merasa jerl, karena yakin Liat-jit-kiam-hoat cukup ampuh untuk menabas hancur kelabang raksasa ini. Lekas dia menghimpun hawa murni pedang bersatu padu dengan jiwa raga, pelanpelan dia mulai bergaya pembukaan dari ilmu pedang Liat-jit-kiam-hoat.

Ngo-tok-koay-mo terkekeh dingin, perlahan dia memberi aba-aba, ratusan kaki kelabang itu seketika bergerak seperti tumbuh sayap saja tiba-tiba melesat kedepan kearah Liok Kiam-ping.

Pedang panjang ditangan Liok Kiamping terayun, cahaya pedang serapat kitiran sekaligus melancarkan jurus jit-lun-kut- seng, mutiara diatas pedangnya seketika memancarkan cahaya mencorong bagai matahari, cahaya terang bergerak mengikuti gerakan tubuh menyongsong kedepan. Semula kelabang itu menyerang dengan nafsu kebinatangannya, tak nyana begitu Liok Kiam-ping balas memapak ditengah udara tubuhnya mendadak melengkung terus meletik mundur kebelakang malah.

Padahal daya tubruk Liok Kiam-ping dengan sambaran pedangnya secepat meteor jatuh di mana cahaya pedang menggarls lewat, bayangan kelabang sudah tertelan didalam libatan cahaya pedang. "cras, eras... " setelah sebuah pekik keras disusul desis suara yang beruntun, disusul darah muncrat bau amis merangsang hidung, tahu-tahu kelabang raksasa itu telah terpotong-potong menjadi beberapa keping jatuh berserakan diatas salju.

Tanpa merobah gerakan daya kekuatan tubrukan Liok Kiam-ping masih laju dengan kecepatan yang sama, langsung menubruk kearah Ngo-tok-koay-mo, pedangnyapun menabas.

Setelah melemparkan kelabangnya, sempat Ngo-tok-koay- mo tertawa senang, namun begitu melihat samberan pedang melanda dirinya, sementara Kim-hun-ou-jit milik gurunya telah lebur pula, karuan kagetnya seperti arwahnya copot kekahyangan, belum sempat dia pikirkan bagaimana memberlkan reaksi, segulung cahaya merah laksana mentari terbit membuat kedua matanya silau dan tak bisa melek. Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, kontan dia memekik:

"Liat-jit-ki-kiam." Sembarl memekik sepuluh jarlnya menjentik bersama, segulung asap tipis tanpa bersuara melesat keluar, namun pada saat itu pula lengan kirinya sudah tercincang oleh pedang lawan-

Sejalur darah membeku dibatang pedang jelas dia tidak kuasa menghindar diri dari tabasan pedang lawan- Tapi disaat kritis itulah, sebatang pedang aneh mirip ular mendadak menyelonong keluar dari samping tubuhnya mengancam ciat- bun, Ki-bun dan Bit-kian-hiat ditubuh Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping tahu meski tabasan pedangnya berhasil mengutung lengan lawan, jiwa sendirljuga susah diselamatkan- Tiada persoalan untuk dipertimbangkan, sebat sekali dia memutar badannya, seperti angin lesus saja badan miring, berbareng jurus Liat-jit-yam-yam terlontar dari gerak pedangnya. Melihat Ngo-tok-koay-mo kembali kehilangan binatang andalannya, Beng Hing juga keheranan, mendadak dilihatnya pedang panjang lencir Liok Kiam-ping mengancam Ngotok- koay-mo. Tanpa pikir pedang ularnya langsung bergerak. dia tahu taraf kepandaiannya kira-kira setingkat dengan Ngo-tok- koay-mo, namun baru dia bergerak pedang lawan tabu-tahu sudah mengancam leher, kesempatan untuk berkelit sudah tidak sempat lagi. Saking kejutnya lekas dia gerakkan pedang dengan jurus Ling-coa-hoan-hu balas menyerang, bila perlu biar gugur bersama, jelas ujung pedangnya telah mengancam ketiak lawan, mendadak cahaya benderang seperti mentari terbit dipagi hari menyilaukan matanya, hati seperti terbakar, seluruh tubuh seperti dipanggang didalam tungku. Dalam detik kritis ini baru dia teringat nasehat gurunya, kontan dia memekik: "Liat-jit-kiam-hoat." Namun pekikannya seperti jeritan Ngo-tok-koay-mo suaranya ditelan gelombang hawa pedang yang menderu hingga orang lain tiada yang mendengar.

---ooo0dw0ooo---

"Sret" suara perlahan, Liat-jit-kiam Liok Kiam-ping sudah menabas putus pedang ular itu menjadi tiga potong, di mana cahayanya berkelebat lewat disamping kuping Beng Hing sebuah kuping berlepotan darah tertoblos di ujung pedang, sigap sekali Liok Kiam-ping sudan melejit mundur dua tombak.

Ling-coa-kiam Beng Hing begitu melihat pedang lawan, seketika dia menjerlt ngeri, serta merta sebelah tangannya mendekap teliinga kirl, tapi yang terasa adalah lepotan darah. seketika dia meratap sedih: "Kuping... kupingku... “

Dengan dingin Ngo-tok-koay-mo juga mengatasi luka  dalam dua dim diatas lengannya, dengan kertak gigi dia melangkah maju dua tindak. Matanya menatap Liok Kiam- ping, serunya: "Apakah kau memiliki Hiat-liong-po giok.” Baru saja Liok Kiam-ping hendak bersuara, mendadak dirasakan pandangannya gelap, kepala pening perutpun sakit, lekas dia pejam mata serta menarlk napas dalam, mengerahkan seluruh kekuatannya supaya bertahan berdiri.

Setelah berhasil menahan rasa sakit di perutnya, baru dia membuka mata, jengeknya: "Perduli aku punya Hiat-liong-po- giok atau tidak ?”

Ngo-liong-koay-mo terkekeh dingin, katanya: "orang she Liok. kau, sudah terkena Bui-ing-ci-tok. paling bisa hidup,.. " matanya menggerling, ”beberapa hari, jikalau kau tidak serahkan Liat-jit-kiam untuk menukar obat penawarnya, maka..."

Degan rasa tidak percaya Liok Kiam-ping pandang Ngo-tok- koay-mo, namun dia rasakan perutnya seperti dirangsang hawa dingin, seperti ada ulat yang menggerogoti ususnya.

Gin-ji-tay-beng sudah membalut pahanya, dengan gugup dia bertanya: "ciangbun, kau..."

Ngo-tok-koay-mo tertawa besar, katanya:

"Coba kalian lihat apakah terdapat segaris hitam ditengah kedua alisnya ?"

Waktu Gin-ji-tay-beng memerlksa benar ada garis gelap ditengah kedua alis Liok Kiam-ping, karuan kagetnya merobah rona muka, serunya kuatir: "ciangbun...”

Liok Kiam-ping menarik muka, hawa nafsu sudah merangsang hati, sekilas dia memandang bayangan gelap dibelakang batu-batu yang berserakan sana, bayangan dia berkecamuk dalam benaknya. Entah darimana datangnya rasa duka mendadak Liok Kiam-ping mendongak mengeluarkan pekik panjang. Sebelum gema pekik suaranya lenyap didalam lembah dia sudah melangkah maju dua tindak. katanya, "Bila aku hendak mati, aku pasti bunuh kalian lebih dulu." dia mencegah Kim-gin-hu-hoat bicara lalu menambahkan: “Kalian percaya tidak, cukup tiga jurus saja.” pedang berdiri tegak, sikapnya serius mata memandang ujung padang, cahaya pedang menemong sejauh tiga dim, menambah perbawa hawa nafsunya.

Melihat keadaan Liok Kiam-ping, Ngo-tok-koay-mo mengerut alis. Dia tahu ciang-kiam-kim-ling punya hubungan asmara dengan Tokko cu sehingga tiga batang pedang mestika warisan ciangbunjin Hong-lui-bun diserahkan kepada Tokko cu. Hari itu waktu Liok-toa-thian-cu termasuk Suhunya mengeroyok ciang-kiam-ling-cu dengan berbagai ilmu sakti masing-masing baru berhasil menandingi Wi- liong- ciang, musuhnya di tay-pa-san, dengan racun tanpa bayangan gurunya baru berhasil mengalahkan ciang-kiam-kim-ling serta memukulnya jatuh kejurang.

Kini dengan mata kepalanya sendiri dia saksikan Liok Kiam- ping masih muda ini mampu mematahkan serangan binatang beracunnya, Liat-jit-kiam-hoat lawan yang tiada taranya jelas takkan mampu dilawannya.

Dasar licik dan banyak akal mendadak dia tertawa, hatinya mendapat akal, katanya: “Tuan sebagai ciangbun dari suatu aliran, mengandal pedang pusaka lagi, umpama dapat mengalahkan kami bertiga, memangnya harus dibuat bangga

?”

”Kau kira aku menang karena pedang mestika ini ?” jengek Kiam-ping.

“Kalau kau punya isi, boleh bertanding pedang denganku tanpa menggunakan pedang mestika.” pedang kutung diacungkan, matanya mendelik dendam, rasanya ingin menelan Kiam-ping bulat bulat.

Liok Kiam-ping paling benci orang munafik. Tindakanku selamanya juga blak-blakan, ini supaya aku mati dengan embel-embel nama jelek. ”Hah, baiklah dengan tangan kosong aku lawan beberapa jurus " Kim-gin-hu-hoat kaget, memburu maju, serunya: "ciangbun, mereka sengaja membakar kau. Mari kau ikut kami keluar lembah, akan kucari Sau-ban-khong untuk menawarkan racun dalam tubuhmu...”

Liok Kiam-ping geleng-geleng, perlahan dia memasukkan pedang kedalam sarungnya: mendongak dia berseru lantang: “Nona, tahukah kau, demi dirimu Liok Kiam-ping siap menaburkan darahnya di dalam Te-sat-kok ? Kuharap sebelum aku mati sudi kau keluar supaya aku dapat melihatmu sekali lagi, nona coba jawab apakah kau mengabulkan permintaanku?"

Lembab nan sunyi hanya terdengar deru angin dan gema suaranya yang memilukan, kecuali itu tiada reaksi atau suara lainnya.

Berlinang air mata Liok Kiam-ping, gumamnya perlahan: "Begitupun baiklah."

Ngo-tok-koay-mo menyerlngai sadis, katanya: "Kita mulai mengadu Lwekang, karena adu kekuatan sekaligus dapat membedakan siapa unggul mana asor, jikalau kau dapat mengalahkan aku, maka obat penawarnya akan kuserahkan padamu, atau sebaliknya kau serahkan Liat-jit-kiam kepadaku."

Gin-ji-tay-beng gusar, katanya: "Agaknya kalian sudah mengatur tipu daya..."

"Pertandingan dibatasi semasakan air, dalam jangka waktu sependek ini racun dalam tubuhnya tidak akan kumat. Hehehe, kalau mengulur waktu, obat penawarku juga tidak berkasiat lagi, sekarang boleh aku serahkan setengah pil obat penawarku dulu .."

Liok Kiam-ping mengangguk, katanya:

"Coba jelaskan bagaimana harus bertanding?" dia terima setengah pil obat penawar orang, tanpa ragu terus ditelannya. "Kita adu telapak tangan dengan tenaga dalam saling gempur, tubuh siapa terdorong roboh kebelakang dialah yang kalah."

Segera Ngo-tok-koay-mo mendahului duduk bersila, serta ulur kedua telapak tangannya, tertawa lebar kearah Liok Kiam- ping.

Tampak oleh Liok Kiam-ping, kedua telapak tangan lawan putih bagai batu jade mirip tangan perempuan pingitan yang tidak pernah kerja kasar, sambil mendengus segera diapun duduk bersimpuh, tangan diulur menempel telapak tangan orang.

Baru saja kedua tangannya terjulur, mendadak didengarnya Ki-ling-sin si gede raksasa berterlak: "Bocah cilik, kau..."

Waktu dia menoleh dilihatnya Ling-coa-kiam-khek melotot gusar kepada Siang Wi, sementara Siang Wi geleng-geleng sambil tertawa apa boleh buat, katanya: “Tidak... tidak apa- apa." Lalu bibirnya bergerak lagi. "Bocah cilik, hati-hati kau."

Tengah Liok Kiam-ping bimbang, Ngo-tok-koay-mo berkata: "Kenapa sih ? Tidak berani ?”

Liok Kiam-ping mendelik: "Kalau aku menang, kaupun harus memotong sebelah lenganmu.” Tangan diulur lurus menempel telapak tangan lawan-

Ngo-tok-koay-mo tertawa dingin, batinnya: “Telapak tanganku ini menyakinkan Ngo-tok kui- goan-ciang, biar kau merasakan Siang-tok-ih-deh, mati setelah tersiksa racun." Tenaga keras mendampar dari telapak tangan lawan, lekas dia menurunkan tenaga dipusar, pelan-pelan dia mulai salurkan kekuatannya balas menyerang. Ternyata telapak tangannya semakin putih, makin lama makin bening seperti tembus cahaya, hingga urat syaraf dan tulang telapak tangannya kelihatan jelas, namun pada saat itulah tampak Liok Kiam-ping mulai gemetar. Walau telah menelan setengah obat penawar lawan, tapi obat itu tidak banyak membantu karena lawan menipunya dengan obat yang hanya dapat menahan rasa sakit belaka. Begitu dia kerahkan tenaga sekujur badan menjadi tidak enak. rasanya seperti habis digebuki, hawa murni mulai merembes naik dariBwe-kek-hiat, lekas sekali telah merembes ke Pau- hong dan Sim-pi dua Hiat-to yang merupakan sentral darijalan darah dibagian iga.

Kini tulang rusuknya juga mulai terasa linu dan kesemutan, sementara Khi-hay-hiat dibawah lambung juga mulai nyeri seperti ada ulat bergerak disana. Waktu yang sama terasa dari telapak tangan lawan mulai menerjang kekuatan aneh yang ganjil, sehingga jarinya ikut merasa pegal dan mati rasa, rasa pegal itu masih terus merambat pergelangan tangan-

Karuan hatinya kaget, tahu dia bahwa lawan juga meyakinkan pukulan beracun, waktu dia tatap lawan, tampak wajahnya mengulum senyum licik, lekas dia menarik napas panjang, mengerahkan segala kekuatannya mendesak balik kekuatan lawan-

Akan tetapi seluruh Hiat-to tubuhnya seperti tertutup, tenaganya sudah tidak mampu menembusnya, hawa dingin yang merembes ketulang rusuknya pun merambat keatas menembus Siau-yang-gi dan Koan-goan-gi. Tanpa kuasa sekujur badannya mulai menggigil. hawa murni yang terpusat dipusar juga tidak mampu dikendalikan lagi.

Bayangan kematian mulai merangsang hatinya, otaknya akan berhenti bekerja, sekarang dia hanya merasakan dirinya seperti melayang di awang- awang

Mendadak Kim-gin-hu-hoat bergelak tawa, kedua tangan saling menekan pundak pula terus duduk bersimpuh dibelakang Liok Kiam-ping, tanpa bicara mereka mengawasi wajah lawan yang dilembari senyum kemenangan Gin-ji-tay-beng ulur tangan kiri menekan Bing-bun-hiat dipunggung Liok Kiam-ping, sementara Kim-ji-tay-beng kerahkan Kim-sa-ciang, telapak tangannya terangkat di udara, telapak tangannya kelihatan kuning mengkilap memancarkan cahaya benderang.

Liok Kiam-ping sudah dalam keadaan setengah sadar, mendadak dari punggung merembes segulung tenaga hangat terus menerjang ke pusar, semangatnya seketika bergelora, lekas diapun himpun sisa tenaganya yang tercerai terus disalurkan kelengan batas menerjang tenaga lawan-

Ngo-tok-koay-mo sudah saksikan lawan sudah payah dan tinggal menunggu waktu saja untuk roboh pingsan, bila racun menyerang jantung jiwapun melayang, siapa tahu mendadak segulung tenaga raksasa laksana gugur gunung menerjang tiba. Sekujur badannya bergetar, terasa pukulan berbisa ditelapak tangannya malah merembes balik seperti arus  sungai yang bertolak belakang, karuan kejutnya bukan kepalang. karena dia tahu dua jenis racun telah terlebur menjadi satu. bila lawan kuat dan menolak balik pukulan racunnya, berarti dirinya bisa terpukul mampus dan keracunan. Sembari mengerahkan kekuatan melawan mulutpun berkaok minta bantuan, maksudnya supaya kedua temannya juga membantu.

Ling-coa-kiam terkekeh dingin. dia dorong Ki-ling-sin dan berkata: "Siang-heng, kau maju dulu, menurut cara yang kuberitahu kepadamu tadi. duduklah dibelakang Lim-heng, kerahkan seluruh kekuatanmu disalurkan ketubuh Lim-heng."

Ki-ling-sin Siang- Wi mengerut alis, katanya: "Beng-heng, kau suruh aku bertindak seperti itu, aku emoh... "

Beng Hing memaki: "Bukankah kau saksikan mereka bertiga mengeroyok Lim-heng? Keadaannya sudah begitu parah dan hampir mati. Bila dia mati, kau dan aku jangan harap bisa mendapatkan pedang mestika itu." Siang Wi cemberut, katanya: "Aku tidak suka adu tenaga dalam dengan orang, soalnya kurang menyenangkan, kalau mau berkelahi ya pakai pentung... “ kebetulan matanya melihat telapak tangan Kim-ji-tay-beng yang kemilau kuning itu, tanpa merasa dia bergidik merinding, katanya: "Baik, baiklah, biar aku adu kekuatan dengan dia." segera dia maju dan duduk dibelakang Ngo-tok-koay-mo, sejenak berpikir lalu berkata:

"Beng-heng. Bukan lantaran aku mendengar omonganmu, maksudku adalah ingin melawan kedua tua bangka ini... “

Beng Hing tidak sabar, katanya: "Baik, terserah kemauanmu. Lekas." kedua tangan menempel ciang-bun-hiat diatas kedua pundak Siang wi, sementara kedua telapak tangan Siang Wi juga menekan di ciang-bun-hiat dipundak Ngo-tok-koay-mo. Lwekang mereka tersalur menjadi segulung arus besar merembes ketubuh Ngo-tok-koay-mo, dimulai dari pusar lalu dari kedua tangan menggempur kearah Liok Kiam- ping.

Kim-gin-hu-hoat sudah terkenal puluhan tahun, Kim-sa- ciang dan Gin-sa-ciang merupakan ilmu mujijat dari ilmu pukulan tangan, terutama tenaga dalam merekapun teramat tangguh begitu mereka berhasil menyusun jembatan bumi langit kekuatan yang mendampar sungguh dahsyat sekali merembes ketubuh Liok Kiam-ping.

Sementara lawan mereka adalah murid didik Liok-toa-thian- cu yang sudah kenamaan puluhan tahun, latihan Lwekang merekapun mendalam, sekali mereka bergabung, kekuatan baru yang timbul ternyata juga kuat sekali.

Celaka adalah Liok Kiam-ping, disamping terkena racun tanpa bayangan dia terkena pula racun Ngo-tok-kui-goan- ciang, dua jenis racun jahat, terkena tekanan tenaga dalam sedahsyat itu pula, sehingga daya kerja racun lebih cepat dan hebat, seluruh urat nadinya sudah menjadi kejang, pertempuran kedua kadar racun itu hingga kini makin senyawa. Seluruh darah dalam tubuhnya seperti bergolak. Gumpalan racun itupun makin besar dan keras mengikuti dorongan kekuatan tenaga Kim-gun-hu-hoat mendesak ke Khi- bun-hiat.

Rasa gatal dan mual segera menggelitik teng gorokan, tak tertahan lagi Kiam-ping membuka mulut, "Huuuaaa" segumpal hitam besar darah menyembur keluar mengenai selebar muka Ngo-tok-koay-mo.

Setelah darah beracun tersembur keluar, seketika badan seperti hampa, pada saat itulah dua kekuatan yang tersalur dari luar tubuhnya membanjir masuk kedalam tubuhnya terus mengalir sederas air bah yang menerlang kesegala penjuru badannya, segulung tenaga gabungan yang dahsyat mendadak menerjang ke Jin-meh, lalu dengan kekuatan besar bagai guntur menggelegar kembali mengamuk ke Tiok meh, begitu Jik-hu-hian koan tembus, kekuatan didalam tubuhnya segera mirip air bah yang tak terbendung lagi luber ke mana- mana berputar keseluruh badan.

Setelah mengeluarkan kentut besar, seluruh badannya menjadi enteng dan melayang keudara, demikian pula kelima orang yang gandeng geret itu ikut terseret mumbul beberapa senti. Mendadak mendelik mata Liok Kiam-ping, mulutnya meraung keras, tenagapun dikerahkan ditelapak tangan terus digentak sekuatnya.

"Blang" Ngo-tok-koay-mo diterjang kekuatan dahsyat hingga tubuhnya mencelat tiga tombak jauhnya, begitu pantat menyentuh bumi, darah segar kontan menyembur dari mulutnya.

Ki-ling-sin juga menjerit keras, tubuhnya terguling-guling beberapa kali baru roboh setombak lebih karena jarak Liong- coa-kiam-khek paling jauh dari Liok Kiam-ping, maka tenaga yang menerjang dirinya juga jauh lebih kecil, dia hanya tertolak mundur beberapa kaki, tapi muka juga menyentuh bumi. Kim-gin-hu-hoat memang salurkan seluruh kekuatan Lwekang mereka disalurkan ketubuh Liok Kiam-ping, namun dalam jangka seperminuman teh, mendadak mereka menyadari tenaga dalam sendiri mendadak disedot oleh suatu kekuasan aneh ditubuh Kiam-ping hingga mereka tidak kuasa mengendalikan diri pula.

Dikala mereka merasa kaget dan heran, didengarnya Liok Kiam-ping berkentut besar, kejap lain terasa tenaga besar yang mereka salurkan sudah membantu memperlancar tenaga murni Kiam-ping tanpa rintangan. Hal ini merupakan tanda baik, baru saja mereka hendak bersorak girang, mendadak dari badan Kiam-ping menerjang balik suatu arus kekuatan yang dahsyat, belum lagi mereka sadar apa yang terjadi, kontan mereka mendehem keras, tubuh mareka tergetar mencelat beberapa kaki jauhnya.

Sigap sekali mereka sudah melompat bangun dan menyaksikan keadaan tiga lawan mereka yang runyam. Sementara Liok Kiamping juga membalik badan, katanya agak menyesal: "Kalian bagaimana... "

"Ciangbun,” lekas Gin-ji-tay-beng berkata, "apakah kau sudah berhasil menjebol Jin-tiok-ji-meh ?"

Liok Kiam-ping menjawab: "Ya,Jin-tiok-ji-meh dalam tubuhku sudah jebol, semua berkat... " belum habis dia bicara mendadak angin kencang menderu dibelakang secepat kilat menerjang Bing-bun-hiat dipunggungnya.

Kim-ji-tay-beng yang menghadap ke sana melihat lebih dulu, dia berseru memperlngatkan dan sudah siap bertindak tapi cahaya kemilau mendadak menyilau mata, desis hawa pedang setajam pisau maka terdengarlah jeritan menyayat hati, darah muncrat, daging tulang beterbangan.

Begitu sinar perak kuncup, pedang sudah kembali kesarung ditangan Liok Kiam-ping, dengan wajah membeku dia berdiri menyoreng pedang, setombak didepannya, Ngo-tok-koay-mo tampak kutung kedua tangannya, bau amis busuk dari darah hitam yang berceceran masih tampak mengucur keluar.

Ngo-tok-koay-mo menggeletak diantara batu-batu yang berserakan, seluruh tubuhnya berlepotan darah hitamnya sendiri, dia berusaha menggerakkan tangannya yang buntung, dengan suara serak setengah meratap dia berkata: ”kau punya Hiat-liong-po-giok (batu jade darah naga). bolehkah perlihatkan kepadaku? inilah permohonanku terakhir sebelum ajal... "

Sorot mata tajam Liok Kiam-ping yang berwibawa semakin sirna, kini tatapannya tak ubahnya seperti manusia biasa, katanya mengerut alis: "Kenapa kau membokong dari belakang?" tapi melihat sorot mata yang penuh permohonan, akhirnya dia menghela napas, dari lehernya dia keluarkan Hiat-liong-ling, lambang kebesaran dan kekuasaan Hong-lui bun.

Seperti diketahui batu jade ini ada jalur halus warna merah mirip naga kecil, membuka cakar dan mementang mulut sedang terbang, begitu hidup dan mirip sekali.

Wajah Ngo-tok-koay-mo sudah menggelap hitam, napasnya juga mendesau tinggal satu-satu, tapi sorot matanya penuh rasa kaget dan takjub mengawasi batu jade ditangan Liok Kiam-ping dengan susah dia bermohon: ”tolong kau balik muka yang lain, aku ingin melihat bagian belakang."

Setelah melihat gambar dibalik batu jade seketika dia menjerit sekali, mulutnya menggumam lirlh: ,Ngo-tok-seng-te (tempat suci panca bisa)"

Gin -ji-tay-beng yang mendekat juga melihat gambar itu melukiskan pemandangan gunung dan sungai, sebuah air terjun terjepit diantara dua puncak- gunung, didepan air terjun terdapat tiga gubuk. Dia maklum tempat itu mungkin tempat rahasia dimana menyimpan suatu partai harta pusaka, melihat Ngo-tok-koay-mo masih kempas kempis lekas dia membentak: "Katakan tempat apa itu?”

Ngo-tok-koay-mo menatapnya sejenak, katanya terengah payah: “Ngo... tok .. seng... to... di... Tay..." tiba-tiba kedua matanya terpejam, dua tetes air mata berlinang, jiwapun melayang.

"Tay ? Tay apa ? Lo-te, apa kau tahu apa yang dimaksud ?" tanya Gin-ji-tay-beng heran:

"Mungkin dia hendak mengatakan nama sebuah gunung atau suatu tempat. Tapi seingatku, di Sujwan ada Tay-pa-san, Tay-liang san, Ah-wi ada Tay-piat-san, Kiang-say ada Tay-ih- nia, Say-kong masih ada Tay-soat-san, tentang nama tempat banyak lagi, umpamanya Tayli di In lam..." demikian Kim-ji- tay-beng coba menarik kesimpulan-

Gin-ji-tay-beng tidak sabaran, tukasnya: "Lotoa, tak usah kau menyebut nama tempat, yang terang kita tidak perlu perduli apa itu Ngo-tok-seng-to segala, sekarang kita kemari hendak mengambil pusaka..."

Liok Kiam-ping juga sadar dari lamunannya, dengan kasihan dia memandang mayat yang mulai membusuk diatas saiju, setelah geleng kepala dia membatin: "Ganjaran setimpal bagi kejahatanmu sendiri, aku tidak bisa disalahkan-" Waktu dia angkat kepala dilihatnya pandangan Ki-ling-sin Siang Wi yang mendelong bodoh sementara Ling-coan-kiam-khek melotot gusar penuh dendam, katanya dengan tertawa tawar "Kalian boleh silahkan pulang.”

”Bocah cilik," ujar Ki-ling-sin, "Ilmu pedang mu sungguh lihay, mirip dengan Sumoayku, cukup sekali berkelebat jiwa orang telah dibunuhnya," tapi segera dia menghela napas, katanya pula: "Kukira lebih baik aku pulang saja, celaka kalau pantatku bolong tertusuk pedang lagi," ternyata pantatnya memang sering ditusuk pedang. "Gede cilik," seru Liok Kiam-ping, “pulanglah dan sampaikan kepada gurumu, bahwa ciangbunjin Hong-lui-bun Pat-pi-kim-liong Liok Kiam-ping dalam beberapa harl lagi akan bertandang ketempat kediamannya.”

Ki-ling-sin membuka lebar mulutnya katanya: "Bocah cilik, apa kau kenal juga guruku ? Wajahnya penuh brewok, galaknya setengah mati lho."

Liok Kiam-ping tertawa, katanya: "cukup asal kau bilang begitu kepadanya. o, ya, apakah dia sekarang masih berada di Lo-hu ?"

Ki-ling-sin manggut-manggut, setelah mengawasi Liok Kiam-ping baru berkata:

"Bocah cilik kau begini tampan dan gagah, Sumoayku juga ayu seperti bidadari Hohoho kalian betul... betul .. " lalu dia ketuk batok kepala sendiri serta bergoyang-goyang seperti pemain opera diatas panggung serta meneruskan,  "merupakan setimpal... "

Gin-ji-tay-beng mendelik, bentaknya: "Bocah pikun, kau cerewet apa."

"Kakek kecil, sebaliknya kau ribut apa ? Aku sedang memuji dia, berani kau ribut mulut? Bah, rasakan pentungku. " pentung besar warna ungu ditangannya kontan terayun dengan jurus Thay-san-ap-ting mengepruk batok kepala Gin- ji-tay-beng, pentung segede paha orang itu menderu keras menimbulkan pusaran angin deras mengepruk laksana guntur menggelegar.

Orang gede ini bersifat polos dan jujur jiwanya bersih tapi pikirannya agak minus, bilang berkelahi lantas mengemplang, tenaganya besar pula, sudah tentu Gin-ji-tay-beng tidak berani sembarangan- Deru angin pentung membuat jenggot rambutnya semrawut seperti diterjang badai, pakaiannyapun melambai, dengan lincah dia menyingkir beberapa kaki, berbareng Gin-sa-ciang terayun dengan jurus Liu-sa-loh-kim (pasir mengalir membawa emas) telapak tangannya mendesing menampar kepala Siang Wi.

Begitu pentungnya menyapu angin si gede meraung gusar sambil melangkah minggir dua tindak bongkot pentungnya menyontek keatas dengan jurus Liu-hun-ho-khong (mega mengembang rebah diudara), secara gesit, ternyata dia dapat berkelit dari tamparan Gin-ji-tay-beng.

Tangan Gin-ji-tay-beng menekan ujung tongkat lawan, tubuhnya lantas melayang mumbul, telapak tangan kiri tetap bergerak dengan gaya semula membelah batok kepala Siang wi.

"Plok" Gini-sa-ciang seperti memukul karang dingin yang sudah rlbuan tahun

Halaman 19 s/d 20 Hilang

akan ketempat kami ? Biar aku berltahu kepada Sumoay supaya dia menunggumu." "

Liok Kiam-ping angkat pundak. katanya apa boleh buat: "Dalam jangka tiga bulan, pasti aku datang ke Lo hu."

Siang Wi berjingkrak senang. serunya sambil melambai tangan: "Bocah cilik, selamat bertemu, aku tunggu kedatanganmu.”

Setelah bayangan gede lenyap diluar lembah, Gin-ji-tay- beng berludah sambil memaki: “Maknya, anak goblok."

Kim-ji-tay-beng tertawa, katanya: "Bocah bodoh ini memang menyenangkan- Bila sebelum ini ketemu tentu sudah kupungut dan menjadi murid."

Gin-ji tay-beng menimbrung: "Akupun berpikir demikian, maka tadi tidak menggunakan tenaga, sungguh tak nyana bocah bodoh itu ada meyakinkan kekuatan luar semacam Yu- cui-koan-ting yang keras. telapak tanganku kesemutan-" “

Liok Kiam-ping menghela napas, katanya: "Sayang gurunya adalah Lo-hu-sin-kun, kalau tidak aku ingin membawanya malah." lalu dia pandang mayat yang sudah menjadi cairan hitam yang menggenangi tulang belulang, diatas salju sana menggeletak sebuah kantong kulit hitam legam, kulit itu tampak bergerak. Segera dia melangkah ke sana, tangannya menggapai sekenanya, kantong kulit itu lantas mencelat terbang jatuh di tangannya.

Terbeliak mata Gin-ji-tay-beng, serunya:

"Ciangbunjin, memangnya kau pernah meyakinkan Hi- khong-ciap-in (terima kirim udara kosong) dari Hian-bun-sin- kang ?"

Liok Kiam-ping melengak malah, tanyanya: "Apa Hi-khong- ciap-in ? o, maksudmu dengan tangan menangkap benda seperti caraku tadi ?" dengan tertawa dia melanjutkan, aku sendiri juga merasa lucu, maka mengerahkan tenaga mencengkram dari kejauhan, sementara hawa murni dalam tubuhku bertolak belakang menembus empat Hiat-to, lalu  balik menerjang kedepan pula dengan cepat, tahu-tahu benda inipun sudah tertangkap ditangan."

"Bertolak belakang berarti mengalir balik Apa benar hawa murni bisa mengalir tertolak ? Latihan cara itu bisa mengakibatkan Jau-hwe-jip-mo lho." .

"Lo-toa," sela Gin-ji-tay-beng, "apa kau lupa ciangbun sudah berhasil menjebol Jin tlok-ji-meh ? Sungguh tidak nyana yang Maha Esa telah mengatur seaneh ini. Dikala ciangbun terancam bahaya dan dalam keadaan kritis itu malah memperoleh kesempatan baik... "

Liok Kiam-ping buka kantong kulit ditangannya, ternyata berisi seekor kucing kecil yang lembut bulunya, hidungnya putih memerah, cuma anehnya hidung kucing kecil ini ternyata lebih panjang dan menonjol ekornya pendek bundar seperti bola yang berbulu subur, kelihatannya amat lucu dan menyenangkan.

Tadi dia sempat mendengar Ngo-tok-koay-mo bilang kucingnya ini dapat disuruh melacak tempat penyimpanan pedang pusaka pasti binatang ini jarang ada dan sukar dicari. Teringat pedang lantas terbayang kepada Tokko cu, namun perasaan malu dan tersinggung lantas melembarl sanubarinya, dia pikir, setelah pernyataan hati sebelum ajal tadi dilontarkan, berarti dia sudah melimpahkan rasa cintanya secara terbuka. Tapi yang didapati hanyalah jawaban hembusan angin dingin, sebaliknya si "dia" sama sekali tidak menunjukkan rasa simpatiknya pada jerih payah dan darah asmaranya yang menindih. Maka dia mendengus sengit, pikirnya: "Kau meremehkan aku, memangnya aku harus mencintaimu ?" Tengah dia membatin Kim-ji-tay-beng sudah berseru lantang kedalam lembah:

"Tokko cu cianpwe, ciangbunjin Hong-lui-bun Pat-pi-kim- liong atas perintah warisan ciang-kiam-kim-ling sengaja datang untuk menerima Jit-jay, cui-le dua pedang pusaka mohon cianpwe mengunjukkan diri... "

Sebuah suara dingin berkumandang terbawa hembusan angin lalu: "Suruh ciang bunjin keluarkan Hiat-liong-ling... "

Liok Kiam-ping sudah menegak alis, selamanya belum pernah dia merasa dihina seperti ini, rasa gusar menggoncang perasaannya, serunya gusar: "Pat-pi-kim-liong disini Tokko cu memangnya kau sudah tidak mengenalku lagi ?"

Gin-ji-tay-beng melengak. dia menoleh kearah Kim-ji-tay- beng yang menjublek katanya: "Lapor ciangbunjin, Tokko cu adalah isteri ciangbunjin kita yang terdahulu, ciangbun, kau... "

Dari dalam terdengar jawaban Tokko cu yang dingin: "Boleh kau masuk kemari." Sudah tentu Kim-gin-hu-hoat kebingungan, selama puluhan tahun mereka berkecimpung di dunia persilatan, siapapun tahu Tokkocu berwatak eksentrik dan terkenal sebagai perempuan sebatang kara yang tidak kenal kehidupan umum, dari sekian banyak manusia yang pernah masuk kelembah ini, tiada satupun yang pernah keluar lagi.

Merekapun tahu jelas tentang hubungan dan pertikaian antara ciang-kiam kim-ling dengan Tokko cu, kini dari pecakapan barusan mereka merasakan nada kesedihan, hampir terasa oleh mereka bahwa Tokko cu yang berada didalam lernbah ini bukan lagi seorang nenek tua yang tinggal menunggu ajalnya, tapi adalah suara seorang gadis belia yang sedang dimabuk cinta.

Liok Kiam-ping segera berkata kepada Kim-gin-hu-hoat: "Baik, kalian jaga di sini, biar aku masuk sendiri." dengan langkah lebar dada membusung dia memasuki barisan batu.

Begitu dia tiba dipengkolan dibalik sebuah batu, cuaca di sini seketika menjadi gelap. hakikatnya tidak bisa lagi membedakan arah dan tak tahu kemana dia harus melangkah, maka dia membentak: "Aku sudah datang, untuk apa pula kau tetap pamer barisan batumu ini ?”

Baru selesai dia bicara, didengarnya suara lembut dan lemah terkiang dipinggir telinganya: "Buat apa kau ribut- ribut mengumbar adatmu ?”

Sigap dia membalik badan, dilihatnya Tokko cu sudah berdiri dibelakangnya, keadaan mendadak terang benderang. Tampak cadarnya sudah diturunkan, bulu matanya yang panjang melengkung kelihatan basah oleh air mata, matanya juga merah, wajahnya yang putih kelihatan menampilkan rasa duka, sikap dan gayanya yang serba kasihan siapapun akan terpesona melihatnya. Demikian pula keadaan Kiam-ping sekarang, lama dia melongo baru menggerakkan bibir: "Tadi apa kerjamu di sini ? Apa tidak mendengar suaraku ?” Dia menunduk. suaranya lirih: “Aku sudah dengar, tapi aku tak berani keluar menemuimu. "

“Kenapa ?" tanya Kiam-ping.

Pelan-pelan dia angkat kepalanya, katanya rawan- “Maukah kau tidak tanya lagi ?"

Kiam-ping melenggong, katanya setelah menghela napas: "Kau tidak tahu aku hampir mati Sungguh aku tidak paham kenapa kau bersikap begitu ? Seorang diri hidup merana dalam lembah sunyi ini, deru angin sedingin itu jelas tidak cocok untuk kehidupanmu.” Ia berherti sejenak lalu menyambung “Sejak kecil sampai sebesar ini, betapa siksa derita kehidupan yang pernah kuresapi, sering dihina, dicaci dan direndahkan, tapi tak pernah aku ingin meninggalkan kehidupan bermasyarakat, mengasingkan dirl disuatu tempat sepi, karena aku berpendirian bila seseorang dapat berbuat sesuai cita rasanya, masyarakat akan memberikan penilaian lain terhadapnya. Sekarang boleh aku beritahu kepadamu, tujuanku ialah supaya manusia dikolong langit ini mengerti, bahwa Liok Kiam-ping sekarang tidak mau lagi berada dibawah orang lain.”

Kedua matanya menatap si dia dengan lekat, katanya tulus: “Kita sama-sama hidup sengsara dan terasing sejak kecil, sekarang aku sadar seseorang perlu mendampingiku, memberi spirit dan dukungan mutlak. Apalagi bila kau hidup menyendiri dilembah mati ini, menyia-nyiakan masa remaja juga bukan suatu cara hidup yang baik, karena itu...

“Itu tidak mungkin-..” tukas dia menggeleng dengan nada sendu, ”aku pernah berjanji kepada Suhu, selama hidupku akan menunggui tulang belulang beliau, tidak akan meninggalkan lembah sambil menunggu Hong-lui-bun datang mengambil ketiga pedang pusaka itu... “

"Sekarang aku sudah tiba." Kiam-ping balas menukas, berarti tugasmujuga sudah berakhir, tentang tulang kerangka itu... " tiba-tiba hatinya terharu, serunya: "Belum pernah aku dengar ada nenek yang tidak tahu aturan begitu, dirinya sudah mati, orang lain harus mengorbankan masa remajanya, sehingga kesenangan, kebahagiaan orang ikut terpendam bersama kematiannya , .. "

"Tutup mulutmu." bentak si dia, ”tak boleh kau mencercah guruku, kan aku sendiri yang berjanji kepada beliau."

"Kau sendiri yang berjanji ? coba katakan, berapa usiamu waktu itu ?" sekilas dia melirik. lalu menjawab lirih. "Lima tahun."

"Hahahahaha, lima tahun." suaranya kaku, “mungkinkah seorang anak lima tahun bisa punya tekad ? coba kau renungkan, apakah sekarang kau tidak menyesal ?"

Dia menepekur, katanya perlahan: "Sejak aku tahu urusan sudah mendapat bimbingan dari Suhu, sering aku memergoki beliau menangis sendirian, maka sering aku bertanya kepada beliau, tapi tak pernah dia mau menjelaskan kepadaku. waktu itu kulihat beliau hidup kesepian, sebatang kara pula, maka aku berjanji selama hidup ini akan menemaninya sampai beliau meninggal... " dia memejam mata seperti mengenang masa lalu, lalu melanjutkan, "waktu itu beliau bilang takut hidup kesepian seorang diri, bila mati jasadnya pasti juga takut kesepian, maka beliau tanya apakah aku mau berdiam dilembah ini menemaninya, Beliau bilang manusia yang hidup didunia ramai semua jahat dan licik, laki-laki jahat dan busuk itu selalu berusaha menjebloskan perempuan ke dalam jebakan mereka, dari pada hidup diluar mending hidup kesepian dalam lembah ini. Waktu itu aku masih kecil tidak tahu utusan, maka aku berjanji kepada beliau untuk menemaninya dilembah ini."

Setelah mengusap air mata, dia berkata:

"Tadi waktu kau memanggilku, aku sudah dengar, tapi aku tak berani memberi jawaban, aku hanya berani sembunyi ditempat gelap ini, mengurung diriku dikamar batu ini”..." tiba- tiba pipinya merah, sikapnya tampak malu-malu katanya lebih lanjut: "Tapi suaramu selalu mendengung dalam telinga ku hingga aku tak tahan menutup diri dalam kamar, lama aku mondar mandir disini, Maksudku hendak mencegah kau masuk kemari..."

"Hm," Kiam-ping mendengus, "umpama dirintangi rlbuan tentara berkuda, aku juga akan terjang kemarl menemui kau."

Tampak sorot matanya bagai lampu mercu suar yang benderang dan menyilaukan dia merasa relung hatinyapun tembus oleh sorot mata yang dalam ini, hatinya tersirap. katanya: "Lwekangmu ternyata lebih tangguh lagi sebelum  ini

? Seolah-olah kau sudah mencapai taraf Hoan-boh-kui-cin (dari kasar kembali kemurni), apakah kau sudah menembus Seng-si-hian-koan ?"

Liok Kiam-ping mengangguk, katanya:

"Barusan aku terkena bisa Ngo-tok-koay-mo, hampir saja mati, untunglah disaat aku hampir pingsan, seolah-olah aku melihat dirimu terbayang olehku didunia ini hanya aku satu- satunya yang dapat menolong kau keluar dari lembah ini, betapapun aku tidak bisa membiarkan kau mendam masa remajamu dilembah mati ini, maka aku meronta sekuatnya, syukurlah tekadku yang membara ini masih kuasa mempertahankan diriku, sehingga gelombang kekuatan dari dua aliran yang berlawanan bergelut dalam tubuhku dan menerjang jebol Jin-tiok-ji-meh." Lalu jari-jarinya terkepal, desisnya dengan suara teguh: "Kali ini aku pasti akan membawamu pergi."

Si "dia" tersenyum, tanyanya: "Kenapa ? Bukankah si gede pikun tadi bilang punya seorang Sumoay cantik akan diperkenalkan padamu? Kaupun sudah berjanji... “

Merah jengah muka Liok Kiam-ping katanya: "Suhunya Lo- hu-sin-kun adalah musuh besar Hong-lui-bun kita, mana pernah aku berjanji kepadanya ? Apalagi aku belum pernah melihat perempuan itu, mana mungkin aku..." tiba-tiba dia mengipat tangan, "kau sudah tahu bagaimana maksud hatiku, kurasa tidak perlu aku banyak bicara lagi. sekarang serahkan dulu kedua bilah pedang mestika itu, lalu aku akan berusaha menghancurkan barisan batu diluar-itu, boleh kau tetap mengenakan cadar sebagai Tokko cu, kau melabrakku akupun menyerang kau, sudah tentu aku yang menang, setelah itu aku akan paksa Tokko cu berjanji membebaskan dirimu maka selanjutnya kau bebas ikut dengan aku"

Mendengar akal bulus ini dia tertawa geli, katanya: ”Jadi kau suruh aku menyamar suhu dan berjanji padamu untuk membebaskan aku ? Apa kau kira aku betul-betul mau ikut kau ? Apa lagi belum tentu kau dapat menghancurkan barisan batu. Itulah barisan teraneh ciptaan Suhu di hari tuanya”

Liok Kam-ping acungkan tinjunya, katanya: "Perduli barisan aneh segala, dengan Liat-jit-kiam pasti mudah aku menyapunya hancur lebur, bila perlu akan kulancarkan pula Wi-liong-ciang merobohkan batu-batu itu, tentang dirimu mau atau tidak ikut aku, itu sih soal kecil, karena kau hanya patuh atas perintah guru, bila guru suruh kau ikut padaku, maka kau harus pergi bersamaku," tak- kuasa "Kiam-ping menahan rasa geli sendiri, katanya tertawa: "coba beritahu kepadaku, siapa namamu"?"

Merah muka gadis itu, katanya: "Untuk apa kau tanya namaku ?" setelah berhenti dan bimbang sejenak lalu berkata pula: ”Aku bernama Le Bun " Kiam-ping memejam mata, desisnya:

"Le Bun? Emm, nama yang indah," lalu dengan tersenyum puas berkata pula, "Nanti bila aku menerjang masuk akan kukatakan kepada Tokko cu, supaya dia membebaskan Le Bun jikalau dia menantang, akan kuperseni dia sejurus Jit-lun-jut- seng. Aku yakin pasti dapat mengalahkan dia, maka dia akan mengabulkan permintaanku membawa Le Bun pergi, selanjutnya kau akan menanggalkan jubah hitam dan cadar penutup mukamu, ikut aku keluar, waktu itu kita berdua akan

..”

"Bagaimana kalau Suhu tidak mengabulkan ?” tanya Le Bun.

Kata Kiam-ping serius: ”Jikalau Tokko cu samaranmu tidak mengabulkan, maka aku pun tidak akan pergi dari sini, jabatan ciangbun segala juga akan kubuang, akan kutemani kau selama hidup dilembah ini." "

Sudah tentu perasaan Le Bun seperti dipukul palu, perkataannya yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, seperti mengebor kerelung hatinya sehingga dia berdiri menjublek. Lama matanya menatap lengang. sesaat lagi mendadak dia menjerit tangis menubruk ke  dalam pelukannya, katanya sesenggukan: "Kenapa kau begini baik? Kenapa ?"

Kedua tangan Kiam-ping memeluknya kencang, lembut dia mencium rambutnya, kau tanya setengah menggumam: "Bila jiwa kehidupan nan kosong memutih itu terisi rona jiwa nan semarak, kupikir aku pasti akan memegangnya kencang, karena aku berpendapat tanpa kau, hidupku ini akan hampa, tiada arti..."

Le Bun masih terisak-isak. menggelendot didalam pelukannya. Hembusan dingin dalam lembah sudah tidak terasa lagi oleh mereka, jantung mereka berdebar, badan hangat hati semanis madu.

Agak lama kemudian baru Le Bun angkat kepala dan berkata perlahan: ”Jikalau Tokko cu tetap menolak, cukup asal kau membuka cadarnya, menutuk Hiat-to pelemasnya lalu menggondolnya pergi, beres "

Liok Kiam-ping bertanya: ”Jikalau kau ini Tokko cu, kau mengabulkan permintaanku tidak ?" Le Bun mengangguk. sahutnya: "Pasti kukabulkan," segera dia meronta lepas dari pelukan serta membetulkan letak rambutnya. "Biar aku mengambil pedang kemari." Mengawasi bayangannya yang menghilang, Kiam-ping mengulum senyum lebar dan lega.

Entah kapan kembang salju telah berhamburan di angkasa, cepat sekali melayang turun dan berjatuhan diatas kepala dan badannya...

--ooo0dw0ooo-

Kota Un-ciu di propinsi ciat-kang. Selama beberapa hari ini kota besar ini turun hujan saiju terus menerus, sehingga banyak pedagang, pelancongan atau semua orang yang bepergian menahan diri dipenginapan, maka setiap hotel yang buka dikota ini terisi penuh.

Tengah hari itu hujan salju turun pula dengan lebat, kalau semua orang sama mendekam dalam selimut atau sembunyi dalam rumah. Tapi, ada empat ekor kuda gagah menarik sebuah kereta berlarl kencang dijalan raya yang penuh salju itu.

Dua jalur bekas roda membekas nyata diatas saiju, menyusul dua ekor kuda berlarl cepat pula lewat.

Penunggang kuda adalah dua lelaki tua beruban, jenggot panjang yang sudah memutih meng gontai tertiup angin, keduanya sama mengenakan jubah panjang di bungkus mantel beludru tebal, sepatunya juga berpunggung tinggi hampir menyentuh lutut, dandanan kedua kakek ini mirip satu dengan yang lain-

Yang berbeda hanyalah gelang yang mengikat rambut mereka, yang satu kuning emas, yang lain putih perak.

Mengelus jenggot panjang Gin-ji-tay-beng bergelak tawa, katanya: "Ha ha ha menyenangkan, menyenangkan sekali," lalu dia berpaling kepada Kim-ji-tay-beng, katanya, "Lotoa, apa masih ingat waktu tahun lalu hujan salju menutup gunung, kita hanya bisa mengunci diri diperut gunung, sibuk bermain catur melulu, hari itu syukur dapat menjumpai ciangbunjin, penasaran selama puluhan tahun sudah tiba saatnya untuk dilampiaskan, betapa hati ini takkan senang ?"

Kim-ji-tay-beng berkata: "ciangbunjin kita ternyata tidak kecil rejekinya, entah darimana dia mendapatkan bini secantik itu, hahaha, hari-hari buruk cuaca seperti ini, terasa jauh lebih menyegarkan dibanding tahun-tahun yang lalu,"

Melihat tembok kota sudah tak jauh didepan, dia lantas menyambung: "Loji, lekaslah kita jalan, kita carikan dulu penginapan untuk ciangbun, sekaligus mencari jejak Biau-jin- sip-coan bocah keparat itu apakah sudah tiba lebih dulu."

Kuda mereka segera dikeprak bagai terbang, lekas sekali mereka sudah melampaui kereta terus masuk kekota Un-ciu.

Sementara itu di dalam kereta Liok Kiam-ping masih belum selesai menceritakan pengalaman hidupnya selama ini. Katanya.".. maka sekarang aku harus pergi ke Kui-hun-ceng, Hun-bin-kiam-khek Ti-thian-bin harus kubunuh, dulu aku pernah bersumpah...”

Le Bun menyeka air mata diujung matanya, katanya setelah menghela napas: "Dalam dunia ini memang banyak persoalan tidak adil, dulu Suhu selalu menceritakan permusuhan kaum persilatan dan kehidupan Kangouw yang berbahaya, aku yakin katanya pasti benar, yang benar setiap manusia pasti punya rasa egois, karena mencemburui Siau Hong yang bersikap baik terhadapmu, sudah tentu..." tersenyum manis lalu bertanya: "Sekarang kau masih menyukai Siau Hong tidak ?"

Liok Kiam-ping, geleng kepala. Katanya:

"Waktu itu aku masih kecil, hakikatnya masih hijau tidak tahu apa-apa, kejadian sudah beberapa tahun berselang, siapa tahu bagaimana keadaannya sekarang, bila kupikir kejadian masa lalu, seperti kembang yang sudah layu dan luntur warnanya, tak bisa kuperoleh lagi baunya yang harum... "

Le Bun cekikik tawa, katanya: ”Jikalau Siau Hong sekarang merupakan gadis jelita secantik kembang dan wangi lagi ? Apakah setelah bertemu dengan dia kau tidak akan menyenanginya ? Sukar aku percaya hubungan laki perempuan sejak kecil bisa dilupakan begitu saja ?"

Liok Kiam-ping menghela napas, katanya: "Lebih baik tidak kukatakan, apapun yang kukatakan kau pasti takkan percaya, coba kau pikir, bocah berumur sepuluh tahun tahu apa? Apa lagi sekarang aku sudah memiliki kau, masa aku harus pikirkan lagi Siau Hong ?"

"Cis, siapa bilang aku ini milikmu."

"suhumu Tokko cu sudah mengabulkan lamaranku, menyuruh kau ikut aku selamanya. "

Terdengar sais kereta memberl aba-aba serta melecut cambuknya, pembicaraan merekapun putus sampai di sini, lekas Kiam-ping menyingkap kerai melongok keluar, katanya:

"Kota Un ciu sudah sampai, hujan salju sungguh lebat, sampai sekarang belum juga reda"

Le Bun juga memandang keluar, katanya: "Dulu setiap turun salju, bila angin dingin menghembus, hatikupun ikut menjadi dingin, malah bila musim dingin tiba, hatikupun membeku dan tak bisa cair, tapi sekarang bila aku melihat salju, ternyata terasa begitu indah dan menyenangkan-"

"Perasaan seseorang memang dapat mempengaruhi pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dilihatnya, sekarang pasti kau tidak menganggap hatimu beku begitu ?"

Kereta sudah berhenti. Kim-ji-tay-beng mengetuk pintu kereta dan berkata: "ciangbun sudah sampai ketempat tujuan- " Liok Kiam-ping membuka pintu, angin dingin membawa kembang salju lantas meniup masuk segera dia melangkah turun, katanya: "Apakah dihotel ini ? coh-huhoat apa kau sudah melihat mereka ?”

Kim-ji-tay-beng menjawab: “Mereka sudah menetap di Kui- hun-ceng, Biau-jiu-sip-coan bocah itu ternyata sudah menyediakan tempat bermalam, hujan salju beberapa hari ini memang teramat lebat, hotel sudah penuh dihuni orang, beberapa kamar ini sudah sejak beberapa harl yang lalu dicarter seluruhnya"

Liok Kiam-ping melangkah maju, dilihatnya hotel ini memang cukup besar. pekarangan didepan pintu saiju disapu bersih dua pelayan munduk-munduk menyambut kedatangannya, sapanya: "Kongcu, kau sudah datang, biar hamba membawa barang bawaanmu. “

"Kalian tidak perlu sibuk soal barang,” ujar Kiam-ping, "lekas siapkan dulu hidangan dan seduh teh wangi. Kuda-kuda itu harus diberl makan kenyang dan dimandikan ya, nanti ada persen-"

Kedua pelayan mengiakan terus mundur, perasaan Liok Kiam-ping agak mendelu mengawasi punggung kedua pelayan, terbayang dalam benaknya waktu dulu dirinya juga kerja menjadi pelayan hotel dan tukang mandikan kuda, sebagai kacung yang sering di maki dan dihina, tapi sekarang

? Akhirnya dia mengangguk. batinnya: "Kehidupan adalah perjuangan, nasib ditunjang oleh perjuangan, kesempatan akan selalu memberi peluang bagi siapapun untuk menjadi manusia... "

Dia berkata kepada Le Bun, “Keluarlah kau. Kita makan siang dulu, setelah istirahat nanti melanjutkan perjalanan pula.”

Memegang seruling pualamnya, Le Bun lompat turun serta tertawa kepada Liok Kiam ping, katanya tertawa manis: “Seolah-olah aku ini perempuan lemah yang takut ditiup angin saja, apa tidak menggelikan Kim-gin-hu-hoat saja.”

Gin--ji-tay-beng tertawa lebar, katanya:

"Ah, kenapa nona bilang begitu, Tokko cu cianpwe adalah orang yang kami kagumi, terbayang kejadian lima puluh tahun lalu, pernah kami memperoleh nasehat dan bimbingannya, berkat beliau pula aku diperkenalkan kepada Bing-tho Taysu di Thian-tiok hingga berhasil mempelajarl Gin sa-ciang, sekarang nona ngomong begini, apakah tidak menyiksa Lohu saja.”

“Nona boleh langsung menyebut julukan kami saja,” demikian sela Kim-ji-tay-beng atau nama kami juga boleh. Jangan panggil cianpwe segala aku jadi rikuh rasanya."

"Kau boleh memanggil coh-yu-hu-hoat saja." ujar Liok Kiam-ping.

Berempat mereka memasuki hotel, baru saja kaki melangkah masuk, terdengar suara gelak tawa ramai disebelah dalam, sebuah suara serak berisi berkata: "Sejak lama sudah kudengar bahwa daerah ciat-kang ini terkenal dengan cewek-cewek jelita, beberapa hari ini sungguh sebal terkurung dalam hotel belum pernah ada cewek ayu yang dapat menghibur diriku. Hahaha, sungguh tak nyana, entah angin apa yang membuka mataku harl ini. Hai, nona jelita yang membawa seruling, kemarilah kau layani bapak besar minum arak dan nyanyilah barang tiga lagu."

Berobah air muka Liok Kiam-ping, Gin-ji-tay-beng sudah membentak: "Keparat mana yang tidak punya mata di dalam? Hayo menggelinding keluar."

Maka terdengar suara kaok-kaok aneh di dalam sekeras guntur, mendadak "Blang" pintu besar diterjang jebol, sesosok bayangan merah tiba-tiba menggulung keluar, sebuah tangan gede berbulu mencengkram kearah muka Le Bun- Le Bun menghardik sekali, serulingnya terayun keatas, beruntun memantulkan beberapa bintik gemerdep. sekali gerak serudingnya mengancam ciang-bun, Ki-kiat, Kibun, tiga Hiat-to besar ditubuh penyerang,

Agaknya penyerang itu tidak menduga bila Le Bun pandai silat, melihat serangan secepat kilat yang mematikan ini,  Sebat sekali dia memutar badan, lengan bajunya yang panjang lebar berkibar laksana segumpal mega menggulung seruling Le Bun.

Seruling pualam ditangan Le Bun tertekan turun, membawa bunyi mendesing gerakannya berobah menjadi jurus Seng- gwa-hwi-hoa (kembang terbang diluar kota), penyerang itu dipatahkan cengkramannya sekaligus didesak mundur balik kedalam.

Bayangan merah melompat keluar, seorang Lama besar mengawasi Le Bun dengan pandangan takjub, katanya: "Nona manis. Kaupun pandai main silat. Hahahaha, kita Toa-hud-ya memang paling senang dilayani cewek-cewek sepintar kau .. "

Liok Kiam-ping membesi muka, katanya dingin: “Kau kepala gundul ini apakah datang dari Pakhia.”

"Betul." sahut Lama itu, Aku ini Keting salah satu dari sepuluh Huhoat dibawah Toa-hud-ya, memang kami datang dari Pakkhia."

Dari dalam rumah berkelebat pula keluar sebuah bayangan merah, seorang Lama setengah umur keluar, dengan heran dia pandang Keting sekejap lalu alihkan pandangan nya kepada Le Bun, segera dia membuka tawa lebar kurang ajar, katanya: "Hehehe. aku ini Keting Hud-ya, juga salah satu dari sepuluh Huhoat Toa-hud-ya. Nona manis apakah kau ikut membaca mantra hiburan bersama Hud-ya "

Gin-ji-tay-beng pernah hidup beberapa tahun di Thian-tiok belajar Kungfu dengan Bing-tho Taysu, maka dia tahu apa arti mantra hiburan yang dimaksud, karuan marahnya luar biasa, bentaknya: "Kalian dua keparat ini pasti mampus hari ini.”

Baru lenyap suaranya, dari dalam rumah kembali terdengar seorang membentak: “Keparat tidak tahu aturan dari mana berani mengancam Hud-ya kita ? Kukira kaulah yang sudah bosan hidup." Seorang lelaki muka kurus bentuknya seperti tikus berlenggang keluar dengan wajah menyeringai, katanya pula sambil tepuk dada sendiri: "Tuan besar mu adalah Pek- can-wan Hou Ngo Tay-wi kelas satu dari istana raja, kalian beberapa keparat ini kecuali gadis jelita ini, siapapun pantas digorok lehernya."

Gin-ji-tay-beng melangkah setapak, katanya: "Bedebah, kau tahu siapa kami ? Hehe, biar kau tidak penasaran sebelum mampus. Inilah ciangbunjin Hong-lui bun kita Pat-pi-kim-liong, inilah Glok-koan im dan ini Kim ji tay-beng.” lalu menuding hidung sendiri memperkenalkan, dan aku adalah Gin-ji-tay- beng Kongsun Giok.” sebelum Pek-sanwan (lutung gunung nutih) bersuara, telapak tangannya sudah bergerak. sinar perak berkelebat membawa desis tajam menabas keteng gorokan Hou Ngo.

Sebagai seorang Taywi kelas dua sudah tentu Hou Ngo tahu dikalangan Kangouw ada seorang yang yang bergelar Pat-pi-kim-liong sungguh tak pernah dimimpikan bahwa pemuda didepan matanya ini adalah ciangbunjin Hong-lui-bun. Dikala dia tersirap kaget, kupingnya mendengar samberan angin tajam dtsusul sinar perak berkelebat, telapak tangan kemilau tahu-tahu sudah mengancam leher, karuan dia menjerit kaget: "Gin-sa-ciang." angin pukulan yang menyesak napas tiba-tiba menindih muka, lekas dia menekuk lutut sekaligus sebelah kakinya menendang sementara tubuhnya menjengkang tangan memukul dengan jurus Sam-yang-kay- thay.

Gin-ji tay-beng terkekeh dingin, katanya: "Kiranya kau dari Tiang-pek-pay." tangan kanan merogoh, telapak tangan kiri diturunkan beberapa senti membelah kepundak Hou Ngo. "Pletak" terdengar suara tulang patah dan remuk. Disusul dengan jeritan Hou Ngo yang mengerikan: “Tolong Hud-ya."

Wajah Gin-ji tay-beng dilembari nafsu membunuh, jengeknya dingin: “Rajamu datang juga takkan bisa menyelamatkan jiwamu”

Kaki mendesak maju telapak tangan membalik, dengan mudah dia tangkap kaki kanan lawan yang menendang, berbareng telapak tangan menutuk kedadanya pula. “Pergilah.” bentaknya. Kembali Hou Ngo menjerit keras. tubuhnya mencelat jungkir balik darah menyembur dari mulutnya menumbuk Keling.

Karuan Keling mencak-mencak gusar, bentaknya: “Pernah apa kau dengan Boktan Hwesio?

Gin-ji tay-beng tertawa gelak-gelak. katanya: "Dia suteku. kepala gundul kematianmu didepan mata, masih banyak tingkah "

Keling menyeringai ejek: "Kukira belum tentu." dia mendesak lima kaki, kedua lengan saling tindih terus bergerak dengan jurus Thian-liong-siau-ho.

Gin ji tay-beng membentak: "Kiranya kau dari Thian-liong- pay dari Tibet luar, pernah apa kau dengan Thian-liong Taysu

? mulut bicara tapi kedua tangan tetap bekerja tampak dia memiring tubuh tangan kiri bergerak setengah lingkar terus menepis miring mematahkan gerakan kedua tangan lawan.

Keling berkata: “Thian- liong Taysu adalah guruku, kau keparat ini tahu dari mana ?"

Gin ji tay-beng tertawa gelak-gelak, katanya: "Apa kau kenal Se-gwa-tho-hiap (pendekar bungkuk luar perbatasan)? Dia pernah minta kepadaku supaya membunuh seorang kepala gundul yang didepan dadanya tumbuh uci-uci, apakah ditubuhmu ada uci-uci ?” Mendengar nama Se-gwa-tho-hiap seketika berobah air muka Keling, segera mulutnya nyerocos kepada Keting dalam bahasa Tibet, begitu mutar badan lantas lari.

Gin-ji tay-beng berkata kepada Kim ji tay-beng: "Kepala gundul ini adalah perampok bangsat yang memperkosa nyonya tua itu, tolong kau membelahnya " ditengah bentakannya. mendadak dia menerjang kedalam.

Sebat sekali Kim-ji-tay-beng juga mengudak kearah Keting. ""Blang" daun jendela diterjang semplak, bagai anak panah tubuh Keling menerobos keluar hinggap diatas genteng begitu dia mengebas lengan bajunya ke belakang, terbitlah segumpal angin kencang menindih Gin-ji tay-beng yang sedang terapung hingga terdesak turun kebawah.

Sambil berkakakan kakinya menjejak. tubuhnya mencelat kedepan pula secepat terbang, tak duga baru dua kali dia melompat deru kencang mengudak dari belakang, selarik bayangan orang seperti meteor saja melesat lewat disamping tubuhnya. Begitu pandangan terasa kabur secara reflek kedua tangannya menggempur kedepan, sementara setangkas  bajing loncat dia sudah melejit minggir terus lari kearah lain-

Gerungan dingin seperti benda raksasa memukul genderang telinganya, disaat dia tersirap dan belum sempat timbul pikirannya, "cret" didengarnya suara perlahan, sebuah bola bundar benderang laksana mentari yang baru keluar dari peraduannya menyilaukan mata hingga tak kuasa melihat apa- apa. Dimana selarik sinar pedang laksana lembayung berkelebat, hawa pedangpun memenuhi angkasa, "cras" Liat- jit-kiam ditangan Liok Kiam-ping sudah menabas putar balik empat kali.

Jeritan keras putus ditengah jalan, darah dan daging orang tampak muncrat dan terpental berjatuhan, kaki tangan protol, di mana sinar kilat itu menyambar pula tubuh Keling sudah tertabas menjadi tiga potong, darah berceceran diatas genteng yang bersalju, jenazah Keling yang tidak utuh itu terbanting jatuh diatas tanah.

Gerakan Liok Kiam-ping sungguh secepat kilat, tanpa berhenti dengan gaya pedang yang sama dia melompat tinggi enam kaki. seperti malaikat yang turun dari langit, dengan jurus Jit-lun-jut-seng begitu pedang menyamber batok kepala Keting seketika mencelat terbang keudara. Dalam waktu yang sama "Bluk" dadanya juga terkena sekali pukulan Kim-sa-ciang yang dilancarkan Kim-ji-tay-beng. Darah kembali menyembur berceceran, dari wuwuugan tubuh besar tanpa kepala itu menggelundung jatuh dipekarangan-

---ooo0dw0ooo---

Magrib telah tiba. Bulan sebelas didaerah Kanglam sudah mulai dingin juga. Hari itu hujan salju cukup lebat sehingga alam semesta seperti dibungkus warna putih melulu.

Liok Kiam-ping berempat naik kuda di tengah hujan lebat itu. Dia tetap mengenakan pakaian serba putih, hawa sedingin ini namun dia hanya mengenakan pakaian tipis dan leher dibalut syal berbulu, dengan tertawa dia berkata kepada Le Bun: "Le Bun, ternyata kau juga pandai menunggang kuda."

Gadis jelita berpakaian hitam menunggang kuda bulu merah tertawa, katanya:. "Memangnya kau saja yang mahir naik kuda?"

Gin-ji-tay-beng yang mencongklang kuda disebelah belakang segera menimbrung dengan tertawa: "Le-kohnio adalah murid kesayangan Tokko cu cianpwe, sudah tentu serba bisa"

Sudah sepuluh tahun Le Bun biasa berpakaian hitam- dalam waktu dekat susah dia merobah kebiasaan ini, tapi lantaran Liok Kiam-ping, di bagian luar jubahnya dia mengenakan mantel berbulu. Rambut panjangnya yang mayang terurai lembut di atas pundaknya, wajahnya yang dulu kaku dingin kini selalu mengulum senyum bahagia, sorot matanya juga tampak lincah jenaka, pipinya yang merah menampilkan jiwa raganya yang lagi mekar bak kembang segar.

Sambil menjalankan kuda sering dia menoleh mengawasi Liok Kiam-ping, pandangan mesra. Sementara Liok Kiam-ping memandang jauh kedepan, sebuah pohon cemara besar tinggi sudah kelihatan dikejauhan seperti kakek tua yang bungkuk, karena terlalu berat dibebani hidup sengsara hingga punggungnya semakin bengkok.

Melihat pohon cemara bengkok yang diselimuti salju, terbayang dalam benak Kiam-ping waktu dirinya bermain petak dibawah pohon itu dengan Siau Hong dulu, tapi setelah Ti Thian-bin berkuasa di Kui-hun-ceng, sering dia di ancam dan dihajar karena tidak boleh bermain dan bergaul dengan nona cilik itu.

Kejadian masih segera dalam ingatannya, hari itu cuaca cerah ceria, membawa buku dia belajar membaca dipinggir sungai, belakangan Siau Hong juga datang mengajaknya bermain, sayang cuaca mendadak berubah buruk. hujan turun cukup lebat, mereka berlari-lari mencari tempat teduh dibawah cemara itu. Pada hari itulah Ti Thian-bin menutuk Hiat-to-nya hingga dia bergulingan ditanah becek mengerang kesakitan, siksa derlta karena otot serasa dibetot dan daging diiris .. " dengan kertak gigi dia membatin. "Akan kucincang dia dan kupotong-potong hingga ajalnya."

Lekas sekali mereka sudah berada dibawah cemara besar itu, sungai kecil tak jauh dibawah pohon sudah mengeras, batu besar dipinggir sungai juga ditutupi salju yang telah mengeras.

Kiam-ping lompat turun dari atas kuda menghampiri batu, dengan tangannya dia mengusap salju diatas batu, ternyata tangannya tidak merasa dingin sedikitpun, rasa hangat malah meresap ke sanubarinya.

Kiam-ping melamun meresapi kehidupan yang tidak abadi ini. Sebuah tangan lembut mendadak terulur dari belakang menindih punggung tangannya, waktu dia menoleh, tampak Le Bun tengah mengawasinya dengan mesra.

Senyum manis nan cerah menambah lega hatinya, katanya dengan tertawa: "Dulu sering aku bermalas-malasan diatas batu ini menyaksikan gumpalan mega diangkasa, banyak persoalan aneh-aneh kupikirkan, tapi tak pernah terpikir olehku, hari ini aku akan kembali kemari bersama kau." dengan kencang dia genggam tangannya, pandangannya lekat menyapu lembut wajah nan jelita.

Dari bola mata beningnya, Le Bun merasakan sentuhan jiwa yang murni, dengan puas dia menghela napas memandang bunga.

Salju yang beterbangan diangkasa, katanya perlahan: "Seumpama kembang salju yang melayang diangkasa, begitulah nasib kehidupan manusia, akan jatuh ketempat yang berbeda lingkungan dan keadaannya, bila dua kembang salju bersentuhan diangkasa, sungguh menakjupkan kejadiannya. Demikian pula manusia yang sebelumnya tidak tahu akan nasib sendiri, bilamana suatu ketika dia bertemu dengan lawan jenis yang dicintainya, maka dia akan menyadari bahwa kehidupan masa lalu jauh hanya merupakan lembaran putih yang kosong... "

Liok Kiam-ping mengangguk tanpa bersuara, terasa jiwanya dilembari semangat juang perkasa, pelan-pelan dia berdiri, katanya sambil menuding: "Dibelakang lereng gunung itulah letak Kui-hun-ceng, hari ini aku pasti meratakan perkampungan itu." lalu dia menoleh, serunya: "coh-hucat, apakah Ang-kin-cap-pwe-ki seluruhnya sudah masuk perkampungan ?" "Beberara harl Kui-hun-ceng ada menyebar undangan mengumpulkan tokoh-tokoh kosen daerah Kang lam dari golongan hitam maupun aliran putih, seperti sedang merayakan suatu perjamuan- Biau-jiu-sip-coan sudah berhasil menyelundup kedalam perkampungan, dalam waktu dekat mungkin sudah berhasil mendapat laporannya." demikian sahut Kim- ji-tay-beng.

Liok Kiam-ping menyeringai, katanya:

"Beberapa tahun ini tampang Ti Thian-bin tidak pernah lepas dari ingatanku, biar dia mengundang bantuan kaum Bulim sejagat, juga pasti akan kubunuh dia. Hal ini tidak perlu dipertimbangkan lagi,” segera dia naik kepunggung kudanya lagi, katanya "Hayo masuk perkampungan-”

Berempat kuda mereka melewati sungai yang sudah membeku permukaannya langsung memanjat kelereng gunung terus dicongklangkan kebawah sana dimana Kui-hun- ceng berada. Tembok tinggi warna kuning mengelilingi perkampungan itu, jembatan gantung diturunkan semua, sinar lampu yang benderang, berwarna warni lagi, sehingga kelihatan seperti bintang yang bertaburan.

Wajah Liok Kiam-ping tetap dingin, dia mendahului keprak kudanya tiba didepan jembatan gantung dan tanpa sangsi terus larikan kudanya masuk kedalam.

Dua orang cengting berjaga didepan pintu bersenjata tombak masih ada lagi seorang lelaki setengah baya seperti congkoan dari perkampungan ini juga berdiri didepan pintu sambil pasang mata. Begitu Liok Kiam-ping keprak kudanya mendekat, lelaki setengah baya ini lantas menyapa dengan tertawa: "Siauhiap ini adalah..."

Liok Kiam-ping diam saja, tapi Gin-ji tay beng sudah berseru dibelakang,: "dari Hay-lam."

Seketika laki-laki itu mengunjuk heran, katanya bersoja "cayhe Siu-san-long cin Hiong sebagai congkoan bagian barat perkampungan ini, ternyata kalian utusan Gohu-cu cianpwe, mohon maaf tidak menyambut dari jauh, harap dimaklumi, biar cayhe segera memberl laporan kepada cengcu ..”

Kim-ji-tay-beng membentak: "Cin- toacongkoan, tidak usah merepotkan kau. Kami datang bersama ceng-san-biau-khek. ditengah jalan dia kebentur urusan, mungkin terlambat kemari atau mungkin juga sudah berada di sini ?"

Sia-san-long melenggong, katanya: "cengsan-biau-khek ?

Diapun akan kemarl ? Hoho, agaknya cengcu kami..."

"Cerewet apa lagi ?" bentak Gin-ji-tay-beng. "Bocah, perut kami sudah keroncongan, lekas carikan makanan dan minuman, memangnya kami harus mengisi perut dengan angin?"

Cin Hiong tepuk kepala, katanya: "Betul, silahkan kalian masuk."

Liok Kiam-ping masuk keperkampungan, Cin Hiong menunjukkan jalan akhirnya mereka tiba disebuah bangunan gedung besar dan tinggi, waktu dia mendongak tampak sebuah pigura besar yang tergantung diatas pintu bertulisan Ki-ing-lau tiga huruf besar.

"Silahkan kalian istirahat di dalam, makan malam segera akan diantar kekamar, cayhe masih harus bertugas dipintu besar menyambut para tamu yang lain," disaat dia beranjak keluar dengan langkah buru-buru itulah seseorang juga tergopoh menerobos masuk, hingga keduanya saling tumbukan-

Cin Hiong miringkan badan sambil ulur tangan kiri menahan dada, sekali Cengkram dia pegang tangan kanan lawan- Tak nyana baru saja tangannya menyentuh pergelangan lawan, mendadak terdengar suara mengeluh, dimana lawan  membalik telapak tangan kelima jarinya malah mencengkram tangan sendiri terus digentak pula. Baru saja dia hendak gunakan tenaga, mendadak dirasakan dadanya kesemutan, ada sesuatu benda yang menyelinap masuk kedalam baju dan terasa sakit sekali seperti digigit.

Kejap lain pegangan tangan lawan juga telah dilepas dan mundur, setelah melihat jelas lawannya, dia menjerlt kaget, badannya roboh terus binasa.

Seekor ular kecil warna merah menyelinap keluar dari balik bajunya, setelah ulur lidahnya beberapa kali terus merayap masuk kedalam kotak hitam yang dipegang orang itu.

Tampak oleh Kiam-ping sekujur badan Siu-san-long Cin Hiong dalam sekejap itu telah berobah hitam, jelas jiwanya melayang karena keracunan, maka tanyanya dengan mengerut kening: "darimana kau peroleh binatang berbisa itu? Kenapa pula kau bunuh orang ini?”

Gin ji-tay-beng juga tertawa gelak-gelak. katanya: "Biau- jiu-sip-coan, kau bocah ini seperti punya banyak tangan saja, kurasa tanganmu perlu dipotong, kalau tidak dari mana kau curi ular-merah beracun ini "

---ooo0dw0ooo---

Orang yang menerobos masuk itu kiranya Biau-jiu-sip-coan, kotak hitam dia tutup dan disimpan baru memberi hormat kepada Liok Kiam-ping, katanya: "ciangbunjin, kau sudah tiba, hamba sudah mencari tahu, beberapa hari ini Ti Thian-bin akan melangsungkan pernikahannya dengan nona yang kau katakan bernama Siau Hong itu. Malah gurunya Tok-sin-kiong- bing juga mengutus Hwi-hong-cu dari Ko-lok-kok untuk menghadiri pesta pernikahannya... "

"Apa ?Jadi dia murid Tok-sin ? Sejak kapan dia menjadi murid Tok sin ?'

Biau-jiu-sip-coan berkata:" Beberapa tahun yang lalu dia bertemu dengan Hwi-hong-cu, dialah yang menariknya menjadi murid Tok-sin, malah diapun murid angkat Khong- tong-koay-kiam... "

"Perduli dia murid siapa, aku tetap akan membunuhnya." desis Liok Kiam-ping, "Sekarang jelaskan di mana sekarang Siau Hong berada ?"

"Dia memang pernah bertemu denganku tapi aku tidak berani memberitahu bahwa ciangbun sudah tiba di sini.”

"Kenapa ?"

"Soalnya .. " Biau-jiu-sip-coan ragu-ragu, matanya melirik kepada Le Bun.

Le Bun tertawa, katanya: "Apakah nona Siau Hong masih merindukan dia ?" ucap Le Bun tersenyum ramah, ”dan minta kau membawanya menemui ciangbunjin ?'

'Ya... ya benar, dia memang bilang begitu." kikuk sikap Biau-jiu-sip-coan.

"Sejak kecil kuanggap dia sebagai adik, memberitahu kepadanya bahwa aku sudah berada di sini, malam ini pasti kutolong dia." demikian kata Liok Kiam-ping. Biau-jiu-sip-coan mengangguk, katanya:

"Mereka sudah menyelundup ke perkampungan, bila ciangbun melepas bom udara mereka segera akan bergerak."

"Baiklah." Kiam-ping mengulap tangan, 'bersihkan jenazah ini.'

Biau-jiu-sip-coan segera jinjing jenazah cin Hiong dibawa kebelakang rumah, hanya sekejap bayangannya telah lenyap.

Liok Kiam-ping berkata: ”Jiwi Huhoat, bagaimana pendapat kaliap ?"

"Semua terserah kepada kebijaksanaan ciangbun.' sahut Kim-ji-tay-beng. "Baik aku akan ke ruang besar, kalian boleh tunggu di sini saja." waktu Kiam-ping menyingkap jubah putihnya, tampak dikanan kiri ketiaknya masing-masing bergantung sebatang pedang, dari tangan Kim-ji-tay-beng dia menerima sebuah gulungan kain panjang katanya: "Pedang cui-le besar ini mungkin hanya satu-satunya didunia ini, Lwekang yang kumiliki sekarangpun belum cukup kuat untuk mengembangkan tiga jurus sakti yang tertera digagang pedang.”

"cui-le-ki-kiam dahulu oleh ciangbun generasi kedua Ki- kiam-wi-liong untuk membunuh Thian-gwat-sin-liong. Hanya sejurus gaya pedangnya masih terasa mengekang hawa udara sehingga sebuah batu karang yang menonjol diatas ngarai ikut terbelah hancur. Pada waktu itu diatas Tiang-jin-hong, dipuncak Thay-san masih juga dihadiri Siau-lim, Kun-lun dan Gobi yang mengutus jago pedang mereka, tapi mereka tiada yang mampu menandingi kehebatan cui-le-ki kiam yang digjaya, karena itu kami harap ciangbun dapat memanfaatkan kesaktiannya, hingga membawa nama besar Hong-lui-bun menggetar Kangouw."

Liok Kiam-ping membungkuk sambi bersoja, katanya: "Kiam-ping terima nasehat.' "

Kim-ji-tay-beng tersipu-sipu, katanya:

"Jangan begitu ciangbun, mana berani aku terima."

"Aku akan berusaha sekuat tenaga meyakinkan ilmu pedang itu sampai berhasil, demi mengembangkan kebesaran dan kejayaan perguruan kita."