Hong Lui Bun Jilid 05

Jilid 05

"Waktu itu Siaute seorang bekerja mencari kabar kemana- mana, tapi tiada yang tahu dimana jejak Liok-cianpwe, tanpa terasa setengah tahun telah berselang. dari mulut seseorang Siaute mendapat kabar bahwa Hwe-hun-bun-cia ciangbunjin Hwe-hun-bun telah menemukan ayahmu serta memukulnya sampai luka parah. orang yang memberitahu kepadaku itu mengaku bernama Suma Liang bergelar Tiong siau-kiam-khek. Waktu itu keadaannya amat lesu, loyo dan patah semangat, badannya penuh luka-luka, luka dalamnya lebih parah lagi, waktu kutemukan dia berada disebuah selokan gunung, buru- buru Siaute menolongnya dan memberi pengobatan.”

Sampai disini dia menoleh, dilihatnya pancaran cahaya mata Liok Kiam-ping lebih tajam lagi, didengarnya Liok Kiam- ping menggumam: "Suma Liang, Tiong-siau-kiam-khek, Suma Liang ? Suma Ling-khong..."

"Kau kenal dia ?" tarya Bu Wi-pin.

"Tidak " Kiam-ping menggeleng, tiba-tiba dia pegang lengan Wi-pin. "Akhirnya bagaimana ? Lanjutkan ceritamu..."

"Untuk membuktikan kebenaran cerita itu, Siaute pernah naik ke Bu-ling-san di Gikpak tapi penyelidikan nihil, tiada yang kuperoleh. Namun beberapa tahun yang lalu waktu Siaute hadir dalam perjamuan seorang sahabat tanpa sengaja kudengar bahwa pihak Hwe-hun-bun waktu mengudak Swan- hong-it-kiam dulu, katanya urusan itu menyangkut seorang gagah disekte utara yang bergelar Thi-ciang Lau  Koan-ni, yaitu pemilik atau penguasa Jian-liu-ceng sekarang Thi-ciang Lau-ngoya."

Sekilas dia melirik Kiam-ping lalu melanjutkan- "Lao Koan-ni pernah bertemu beberapa kali dengan Bu-jisiok. waktu itu dia sudah menjabat Tong-cu yang berkuasa disalah satu cabang Hwe-hun-bun di sekte utara. Maka setelah hal ini kulaporkan kehadapan Bu-jisiok, aku disuruh terus menyelidiki secara diam-diam, tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya yang buntung sebelah lengannya seorang diri meluruk ke Bu ling-san menantang Hwe-hun-cun-cia.

Ternyata perempuan setengah baya itu tak karuan parannya, tiada orang tahu nasibnya, tiba-tiba tersiar bahwa perempuan lengan buntung itu meluruk ke Bu-tong minta obat tapi gagal, celakanya dia terpukul luka parah oleh para Tosu Bu-tong, beruntung waktu itu seorang pemuda juga meluruk ke Bu-tong mengaku putera perempuan itu, seorang diri dia memukul jatuh Bu-tong Ciang bun, sebelum pergi secara demonstratip dia melancarkan Wi-liong-sin kang yang pernah menggetarkan Kangouw..."

Melihat Liok Kiam-ping mendengar kisahnya penuh perhatian, Bu Wi-pin batuk-batuk lalu melanjutkan: ”Keadaan waktu itu, karena Liok-lote sendiri juga mengalami tentu kau lebih jelas dari Siaute. Tapi satu hal mungkin Liok-lote tidak tahu, yaitu sejak Bu-tong-ciangbun mengeluarkan perintah menangkap Pat-pi-kim-liong, demikian pula Han-ping-kiong dilaut utara juga mengeluarkan Han-giok-licng untuk meringkus Pat-pi-kim-licng juga, ternyata Lau-ngoya kelihatan sibuk, beberapa hari ini dia menyebar juga undangan untuk merayakan limapuluh tahun hari lahirnya, orang-orang Kangouw tidak sedikit yang diundang, aku yakin dibelakang pesta ulang tahunnya itu ada tersembunyi hal-hal yang patut dicurigai..."

Bu-jisiok juga menerima undangannya, Diam-diam beliau sudah berkeputusan untuk menepati undangan itu, tanpa masuk kesarang harimau mana bisa mencari tahu seluk beluk musuh, maka dua hari yang lalu beliau sudah berangkat ke Jian-liu-ceng, Selama beberapa tahun ini hubungan beliau dengan Lau-ngoya cukup baik, keluar masuk Jian liu-ceng leluasa, tiada orang yang merintangi penyelidikannya secara diam-diam ternyata memperoleh hasil, beliau mendapatkan suatu rahasia.."

Sampai disini Bu Wi-pin tutup mulut, karena dilihatnya tak jauh disebelah depan dijalan raya muncul beberapa bayangan orang yang menuju kemari.

Thi-jiau-kim-pian yang diam saja sejak tadi tiba-tiba mengayun cemeti membedal keledai lebih cepat, dengan gagang cemetinya dia menyendal kerai yang tersingkap sehingga tertutup,

Lekas sekali beberapa penunggang kuda telah dibedal lewat disamping kereta, debu tebal beterbangan memenuhi udara. Sekilas Liok Kiam-ping menangkap bayangan mereka, yaitu kawanan ceng-tiok-pang yang bentrok dengan dirinya dikota tadi, agaknya mcreka juga melihat Liok Kiam-ping, dua orang bersuara kaget dan heran, tapi cepat sekali mereka sudah lewat kebelakang dan pergi jauh.

"Waktu amat mendesak. biarlah Siaute meringkas ceritanya." Demikian ujar Bu Wi-pin setelah penunggang kuda itu pergi jauh. "Waktu itu Siaute juga pernah masuk ke Jian- liu-ceng, Ngo-jiau-eng Ling Kong-hiap congkoan dari perkampungan itu adalah kenalan baikku, maka akupun bisa keluar masuk secara bebas. Begitu Bu-jisiok mendapat bukti surat-surat hubungan rahasia pihak Hwe-hun-cun-cia dengan Thi-ciang Lau-ngoya, secara diam-diam Siaute lantas di suruh pergi ke ouw-lam menemui Sun-supek menjelaskan perihal itu... ”

”Waktu itu aku sudah meninggalkan ow-lam, maka Wi-pin tidak menemukan aku" Thi-jiau-kim-pian yang berdiam sejak tadi tiba-tiba menimbrung lagi, ”Tadi baru Wi-pin pulang dan bertemu di Eng-hiong-kip. dia jelaskan semua persoalannya kepadaku, Karena daerah ini termasuk kekuasaan Thi-ciang Lau Koan-ni, maka sepak terjang kita harus hati-hati, Sekarang aku sendiri akan pergi ke Jian-liu-ceng, bila perlu bisa membantu Bu Kim. Kiam-ping Hiantit, satu hal perlu aku berpesan kepadamu, keadaannya sekarang belum jelas, musuh ditempat gelap kita ditempat terang, segala  sesuatunya tidak boleh gegabah, setelah waktunya baru kita boleh unjuk diri, dendam sakit hati orang tuamu, kau sendiri yang harus membalasnya."

Lalu dia menerawang keadaan sekelilingnya serta menambahkan kepada Bu Wi-pin, "Wi-pin, Sesuai apa yang pagi tadi kukatakan kepadamu, hati-hatilah kau melindungi Lan-ci dan Lan-khing ke barat bersama Kiam-ping, pergilah ke Heng-kik menemui cong-piau-thau Wi-wan Piaukiok Thi-ji- beng Pui Thian-tek setelah urusan di sini beres, segera aku menyusul kalian ke sana, urusan cukup genting, sekarang juga kalian harus berangkat."

Kebetulan tiba di persimpangan jalan tiga, dia belokkan kereta kekiri lalu menghentikan kereta, katanya kepada Kiam- ping: "Kiam-ping barang-barangmu yang kau tinggal dihotel biar aku yang mengurusnya, patuhi pesanku, lindungi kedua saudaramu dan langsung ke Heng-kik menemui Thi-ji-beng (elang sayap besi), karena putra Pui Thian-tek yang bernama Pui kin-wi, adalah calon suami Lan-ci, sejak kecil waktu masih dalam kandungan mereka sudah merangkap jodoh- Baiklah, kita berpisah disini."

Lalu dia serahkan cemeti kepada Bu Wi-pin, setelah menepuk pundaknya terus melompat turun.

”Paman..”seru Liok Kiam-ping.

"Ada apa?" tanya Thi-jiau-kim-pian sambil membalik tubuh, dilihatnya mata Liok Kiam-ping merah dan mewek-mewek hendak menangis.

Sampai di sini dia merandek menelan air liur, ”Dendam orang tua terukir dalam sanubariku, sebagai seorang putra yang memikul tugas mulia ini, mana dapat hidup tentram sebelum sakit hati ini terbalas, untuk itu tak perlu aku takut- takut dan bertindak main sembunyi, paman dan para saudara sudah giat bekerja dan susah payah ikut membantu betapapun Kiam-ping tidak boleh berpeluk tangan saja, Kiam- ping bertekad membunuh musuh dengan kedua tangan sendiri, betapapun paman jangan menempuh bahaya seorang diri."

Tegak alis Thi-jiau-kim-pian, katanya dengan nada serius: " Kiam-ping, pandanglah pamanmu, apakah aku ini orang yang takut mati ? Bukan begitu maksudku menyuruh kau pergi, soalnya saatnya belum matang, sebelum terbukti bahwa Thi- ciang Lau Koan-ni ada hubungan dengan Hwe-hun-cun-cia sehingga Swan-bong-it- kiam celaka ditangan mereka, betapapun kita tidak boleh bertindak sembarang. Kau baru berkecimpung di Kangouw pengalaman cetek. walau kau membakal Wi-liong-sin-kang, betapapun harus bertindak hati- hati. orang-orang jahat kaum persilatan serba licik dan licin, kau jelas takkan kuasa menghadapi keganasan mereka, mengingat betapa berat dan penting tanggung jawab mu, maka tak boleh sembarang menyerempet bahaya, kalau kau mengalami sesuatu sebelum berhasil, apakah kau mampu bertanggung jawab kepada kedua orang tuamu di alam baka

?"

Melihat Kiam-ping tertunduk dengan air mata berkaca-kaca, setelah berhenti sejenak dia menambahkan dengan nada agak kalem:

”Memikirkan kepentinganmu, kuharap kau tidak lupa dendam orang tua, bakarlah semangatmu, arahkan kecerdikanmu, tiba saatnya akan kuberi kesempatan kau turun tangan sendiri. Dan lagi hubungan kami dengan Lau-ngoya masih baik, kehadiranku di Jian-liu-ceng yakin tidak akan berbahaya. Bila paman dan Bu-jisiok berhasil mendapatkan buktinya, belum terlambat kubeber persoalan ini. Ooh, ya, hampir lupa aku memberitahu kepadamu, guru Thi-ciang Lau Koan-ni ber-nama It-hou-cu adalah Susiok ayahmu, waktu Lau Koan-ni berkelana di daerah utara pernah berkenalan dan punya hubungan baik dengan putra kedua Hwe-hun-cun-cia yang bernama Leng Pwe-kiat, sudah cukup sekian saja, waktu sudah mendesak. lekas kalian berangkat."

Sambil melambai tangan Thi-jiau-kim-pian Sun Bing-ci segera putar tubuh tinggal pergi.

Liok Kiam-ping menggigit bibir, setelah tarik napas dia membusungkan dada. Pemuda brewok Wi-pin mengayun cemetinya, "Tar..." keretapun bergerak berlari kedepan, meninggalkan debu kuning yang beterbangan ditiup angin lalu. Agak basah juga kelopak mata laki-laki muka kuning alias Thi-jiau-kim-pian Sun Bing-ci, pelan dia turunkan tangan sambil menghela napas, setelah membetulkan pakaiannya tiba-tiba dia menjejak tanah, tubuhnya meluncur kencang kedepan-

Sekejap setelah bayangannya lenyap.

Ditempat di mana tadi dia berdiri tiba-tiba berkelebat bayangan satu orang, Tampak orang ini berjubah biru, mengenakan ikat pinggang kain merah. Sorot matanya tajam, Thay-yang-hiat di kedua pelipisnya tampak merongkol besar. Dengan bertolak pinggang dia mengawasi bayangan punggung Thi-jiau-kim-pian, tiba-tiba menyeringai sambil mendengus dingin, terkulum senyum sinis yang sadis diujung bibirnya, setelah membanting kaki cepat diapun mengudak ke sana.

Tak pernah terpikir olehnya, bahwa tak jauh dibelakang pohon dimana dia berdiri, ada sepasang mata jeli tajam tengah memperhatikan gerak geriknya pula, sepasang mata yang tersembunyi dibalik cadar hitam, tangan orang ini tampak memegang sebatang seruling putih panjang tiga kaki bentuknya agak aneh.

---ooo0dw0ooo---

Kereta keledai itu berlari dalam kecepatan sedang meninggalkan taburan debu yang membumbung di angkasa, meninggalkan dua jalur bekas roda di tanah kering yang berderu tebal. Pemuda brewok agaknya seorang periang yang pegang kendali sambil berdendang dan bernyanyi, tak pernah dia mau peduli akan kehidupan yang serba sulit ini.

Liok Kiam-ping duduk setengah tidur ditempat kusir, pandangannya lantang ketanah tegalan yang membentang luas tak tercapai ujung pangkalnya, sementara temannya masih terus tarik suara, dia melamun, pikirannya melayang jauh menyusuri pengalaman hidupnya selama ini. Pemuda sakit masih tidur nyenyak. nona kuncir juga duduk tenang didalam kereta memainkan kuncir panjang yang menjuntai di depan dada, kepala tertunduk wajah merah jengah, entah apa pula yang tengah dipikir dalam hatinya.

"Wi-pin-heng," tiba-tiba Liok Kiam-ping tersentak dari lamunannya, " ingin aku bicara dengan kau."

Tiba-tiba dari pinggir jalan sana terdengar pula seorang berdendang meniru nyanyian yang dibawakan si brewok.

"Ha, Wi-pin-heng," Kiam-ping berjingkrak berdiri, "Maaf, Siaute teringat suatu urusan penting. Boleh kalian berangkat dulu, segera aku menyusul kalian-.. " Sebelum mendapat jawaban dia melompat turun terus lari ketanah tegalan sana.

"Hai, hai, Liok-lote, kenapa kau ? Mau ke mana ?" teriak Wi-pin.

"Hai, Liok-toako... " nona berkuncir juga melongok keluar ikut memanggil dengan kedua mata berlinang air mata.

Tapi Kiam-ping seperti tidak mendengar suara mereka, dengan kencang dia lari ke sana,

"Lan-ci, biarlah dia pergi, kita lanjutkan perjalanan, Liok- tote mungkin ada urusan biar nanti dia menyusul didepan” demikian ujar Wi-pin lalu membedal keretanya pula.

"Hihi, hahaha... " debu masih bertaburan, entah dari mana tiba-tiba muncul seorang Hwesio berjubah dekil banyak tambalan, kepalanya yang gundul tumbuh borok, bernanah, tapi tepat diubun-ubun kepalanya berderet tiga baris sembilan titik hitam selomotan dupa. Memandang kearah Liok Kiam- ping yang berlari-lari ditengah tegalan dia melelet lidah serta membuat mimik setan, sambil menjinjing jubah pelan-pelan dia mengudak ke sana.

"Lho, kemana dia, aneh ?" sementara itu Kiam-ping tengah berdiri diatas gundukan tanah celingukan, hanya rumput bergerak tak kelihatan bayangan orang. Pada hal waktu dia duduk diatas kereta tadi, jelas dia melihat Hwesio tua pemalas yang membuat onar direstoran dikota Lokyang itu tengah tidur diatas batu ditanah tegalan ini, menirukan dendang si brewok menarik perhatiannya.

"Perduli pada dia, biar aku menyusul ke Jian-liu-ceng saja, supaya tidak terlambat menyusul mereka." demikian pikir Kiam-ping. Tapi begitu dia membalik sambil angkat kepala keanehan tiba-tiba muncul didepan matanya, hampir dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya, tapi ini kenyataan, tak jauh didepannya seorang tengah berlari-lari kecil sambil menjinjing jubahnya, siapa lagi kalau bukan Hwesio kurus pemalas tukang gares hidangan orang?

"Lo-cianpwe." serunya terus angkat langkah mengejar.

Tapi Hwesio tua itu seperti pikun tidak merdengar panggilannya. sambil kedua tangan menjinjing jubah kakinya berlari-lari enteng sejauh delapan tombak didepannya.

"Ha, dia sedang menguji aku." demikian pikir Liok Kiam- ping, bangkit semangatnya, segera dia tancap gas menjejak kedepan dengan luncuran kencang, langkahnya seperti air mengalir mega mengambang, tubuhnya melesat bagai anak panah.

Tapi, Hwesio tua didepannya tetap menjinjing jubah dan berlari-lari kecil, tidak kelihatan dia bergaya atau  mengerahkan tenaga, tapi jaraknya tetap delapan tombak di depan Kiam-ping.

"Ah, Ling-khong-lei-toh." . Serta merta langkah Kiam-ping agak mengendor, kiranya dia Hwesio Siau-lim-si." Akhirnya Kiam-ping berhenti.

"Hiiiihi, hahaha." Tahu-tahu Hwesio kurap didepan itupun berhenti dan tengah melambai tangan kepadanya, apa boleh buat Kiam-ping angkat pundak serta menghampiri. "Ha, buyung, tidak jelek. lekas beritahu kepada Hwesio rudin. Apakah ilmu yang kau yakinkan itu kau peroleh dari Sa Kiu si bocah itu?" setelah Kiam-ping didepannya Hwe sio- malas tertawa dan menegur.

"Siapa? Sa Kiu ? Siapa itu Sa Kiu?" Kiam-ping terbelalak heran.

"Siapa ? Bukankah kungfumu kau pelajari dari Kiu-thian- sin-liong Sa Kiu bocah itu ?" Hwesio malas bertanya dengan terbelalak.

"Kiu-thian-sin-liong? Bocah siapa ? heran-" Kiam-ping makin bingung.

"Sontoloyo. Dulu waktu Hwesio rudin ini masih kecil jadi kacung membawakan poci teh untuk cosuya, bocah itu masih ingusan dan suka ngompol dan bobrok. apa salahnya kalau aku anggap dia masih bocah ?" demikian omel si Hwesio sambil melorok.

”Jadi... kau... cianpwe... " Kiam-ping garuk-garuk kepala, mata terbeliak mengawasi Hwesio rudin, sungguh dia tak mau percaya bahwa Hwesio tua kurus Jenaka ini ternyata berusia lebih seabad.

"Hiihi." Hwesio malas tertawa menyengir sambil memicing mata, hidungnya yang besar merah mendengus- dengus seperti congor babi membuat gerakan dan mimik yang lucu, lalu dari kantongnya dia merogoh segelondong perak diangsurkan kepada Kiam-ping, katanya: "Nah, ini uangmu, sebagian kuambil untuk membayar rekening restoran- neneknya sesungguhnya aku harus terima kasih kepada maling cilik itu, kalau tidak karena dia, mana Hwesio rudin ini bisa makan gratis dari uangmu"

Kiam-ping tahu bahwa uang itu memang miliknya, maka tanpa sungkan dia menerima nya, dia maklum apa yang telah terjadi, maka tidak banyak bicara. "Anak muda berkeliaran di luar harus hati-hati, Jangan kau kira kau pandai main cakar ular lantas malang melintang di Kangouw, bila bertemu dengan maling neneknya, mungkin jiwa sendiri ambles juga tidak kau sadari" demikian Hwesio rudin memberi nasehat dengan nada sungguh-sungguh. "Mungkin maling cilik itu melihat tampangmu memang mirip manusia, maka sengaja menginjak kakimu. Begitu kau perhatikan senyumannya, tanpa kau sadari barangmu telah digerayangi. Hm, kalau Hwesio rudin ini tidak memergoki perbuatanmu, memangnya aku sudi turut campur."

Melihat mimik Kiam-ping meringis lucu hatinya jadi girang, serunya pula, "Buyung, tahukah kau bagaimana aku menghajar adat maling cilik itu? Haha haha."

Kiam-ping tahu 'maling cilik' yang di maksud adalah Biau- jiu-sip-coan, memang dia tidak habis mengerti cara bagaimana Hwesio rudin ini mempermainkan Biau-jiu-sip-coan sehingga maling jail ini tunduk dan patuh melihat si Hwesio seperti melihat nenek moyangnya.

Didengarnya Hwesio rudin bicara, ”Hm, melihat uang perak segede itu dirogoh dari kantongmu, aku si tua bangka ini menjadi mengiler. Padahal dahulu waktu Hwesio rudin sembunyi didalam Bu-lung-tiam cosuya mencuri makan manisan pun tidak buang tenaga sedikitpun, itupun belum apa-apa, cukup sebuah jari Hwesio rudin ini berputar, barang- barang simpanan dalam kantong maling cilik itu lantas pindah kekantong buanaku ini. Tapi berbuat jahat tidak bajik, betapapun Hwesio rudin ini harus menanam budi dan kenal kasihan, lencana kebesaranmu itu tetap kutinggal dalam kantongnya, sekalian aku tinggalkan juga kulit borok kepalaku didalam kantongnya, hahaha, coba pikir lucu tidak?” Lalu dia garuk-garuk pula kepalanya yang borokan-

Hampir Kiam-ping muntah saking mual tapi Hwesio rudin malah berteriak. 'Neneknya moyang, buyung. Kau berhasil menemukan pengemis cilik tidak?” ”Dia... ya, sekarang Wanpwe juga sedang mencarinya.” "Bohong, barusan kulihat kau main mata dengan cewek

dalam kereta itu.” Hwesio rudin pura-pura marah sambil menarik muka,

”Ah, mana... aku... " Kiam-ping gelagapan

"Kau apa ? Lekas pergi, carilah pengemis cilik itu dan serahkan kepada Hwesio rudin, ketahuilah cacing dalam perut Hwesio rudin sudah berontak. lekas cari dia."

"Lha, kemana Wanpwe harus mencarinya.?" Kiam-ping kebingungan-

"Goblok. tumpul, telur busuk. memangnya kau tidak bisa... oh" Setelah memaki kalang kabut Hwesio rudin sendiri juga kebingungan,” neneknya, kalau tidak pergilah cari laki-laki berjenggot baju kuning itu, hajar pantatnya, kalau dia tidak datang, pengemis cilik juga tidak akan lari. Maknya kurcaci."

"Bocah berjubah kuning berjenggot pendek, Siapa ?

Maksudmu Siang-ciu-king-thian ?"

"Betul, bocah keparat itu. Neneknya, melihat bulu kera disekitar mulutnya, aku jadi geli, nanti bila kepergok ditanganku, boleh kau cabut beberapa lembar bulu keranya itu.”

"Mencabut jenggotnya ? Wah.” Kiam-ping melotot mengawasi Hwesio rudin.

”Ya, cabut bulu keranya. Neneknya melihat bulu panjang itu Hwesio rudin jadi gatal, dulu disiniku juga tumbuh bulu halus, celakanya untuk makan minum aku jadi susah dan kerepotan- Neneknya, kalau bulu tidak basah kena kuah, nasi berhamburan mengotori jubahku, Eh, kau kan tahu biasanya aku orang tua paling suka kebersihan, maka saking gemas aku cabuti semua bulu keraku, heheheilahahaha.” demikian kelakar Hwesio rudin sambil meraba dagu sendiri sambil meram melek. "Wah lucu juga." ujar Kiam-ping geli, tapi alisnya bertaut. "Hahaha,... he, buyung, kenapa kau mengerut alis ? Apa

kau takut atau tidak mampu, kan gampang, nah, cukup begini dan begini haha, aku yakin kau pasti dapat mencabut beberapa lembar bulu keranya itu, ha haha." Lalu dia mendekat dan bisik-bisik dipinggir telinga Kiam-ping sambil kaki tangan bergerak-gerak. akhirnya dia tertawa besar dengan lantang.

Liok Kiam-ping mendengar dan asyik memperhatikan gerak-gerak si Hwesio, gerakan kocak tapi belum pernah dia melihatnya, sekilas dia melongo, tanpa sadar dia ikut bergelak meniru gerak-gerik orang.

"Betul, ya begitu, ha ha hi, lucu sekali bila bulu keranya tercabut habis, dia akan dinamakan kera plontos. Ha ha ha waduh perutku mules Hweshio rudin mau buang air besar, buyung, selamat bertemu... ha ha ha... "

Sambil memegang celana membuka kolor Hweshic rudin berlari kearah gerombolan rumput. Liok Kiam-ping masih mengerut kening membayangkan beberapa gerakan tadi kian dibayangkan makin aneh lucu tapi juga terasa lihay, sesaat dia melenggong sementara itu Hwesio rudin sudah menyelinap hilang tak kelihatan lagi bayangannya.

"Wah, betul-betul hebat... lucu .. dan menyenangkan- ha ha, bagus." Tanpa terasa Liok-kam-ping terkial-kial geli sambil tepuk tangan kegirangan- Ditengah gelak tawanya, badannya melesat kencang menuju ke Jian-liu-ceng.

Menjelang lohor, mentari bercokol ditengah angkasa, debu mengepul tinggi dijalan raya diluar kota Lokyang yang menuju kebarat. Beberapa penunggang kuda tampak membedal kudanya keluar kota.

Dua ekor kuda tampak berlari pesat ke arah barat, dua penunggangnya masih muda, terdengar seorang berkata: "Suheng, sudah hampir sampai bukan?" "Em, ya, tidakjauh lagi," sahut sang suheng.

"Suheng, nah lihat, bukankah itu Jian-liu-ceng?" yang bertanya ternyata seorang nona penunggang kuda hitam.

"Ya, betul." sahut sang Suheng dengan suara rendah.

Lekas sekali mereka sudah tiba di depan sebidang hutan pohon Liu yang rindang, lapat-lapat tampak tembok tinggi ditengah kerumunan-pepohonan lebat disebelah sana. Memasuki hutan jalanan disini mulai dilandasi batu-batu krikil yang lembut, dlujung jalan sana berdiri megah sebuah pintu gerbang perkampungan-

Pagar temboknya tinggi beberapa tombak. dibilangan luar pohon tumbuh subur dan rindang, rumah-rumah tampak dibangun berlapis-lapis di bagian dalam tembok.

Rumah-rumah di dalam tampak dipajang warna-warni, suasana riang gembira, jelas perkampungan sedang diliputi suasana ramai bahagia. Perkampungan ini bukan lain adalah Jian-liu-ceng atau perkampungan ribuan pohon liu yang terkenal di Kangpak.

Pintu gerbang perkampungan terbuka lebar, manusia tampak hilir mudik keluar masuk, puluhan centeng berseragam hijau berpakaian rapi berderet didepan pintu sambil membusung dada, mereka bertugas menyambut para tamu-tamu yang datang serta mengantar kedalam. 

Lekas sekali kedua penunggang kuda itu sudah membedal kuda mereka didepan pintu gerbang, mendadak tali kendali ditarik sehingga kuda meringkik sambil melonjak berdiri dengan kaki belakang.

"Haya, Lat-pa-kiu-king telah tiba, maaf tidak menyambut darijauh, silahkan, silahkan-" Seorang laki-laki berjubah biru yang berdiri didepan pintu segera menyapa sambil menjura, laki-laki ini bermulut besar berbibir tebal. Laki-laki gede penunggang kuda itu memang benar adalah Lat-pa-kiu-king (tenaga kasar menjunjung sembilan hiolo), sesuai perawakannya yang tegap dengan daging otot yang merongkol, suaranyapun rendah berat berisi, terasa betapa kuat tekanan kata-katanya "Aai mana berani, orang She Shin datang bersama Sumoay, mohon maaf." Setelah balas menyura dia menunjuk gadis penunggang kuda bersepatu tinggi dibelakangrya, " Inilah Sumoay ku Ang-ji-to sat ( dedemit sayap merah ), karena mengagumi kebesaran nama nama Lau-cengcu, sengaja ikut kemari akan menyampaikan sembah sujud."

Laksana segumpal api saja, gadis satu ini berpakaian serba merah menyala, pakaian sari yang membelit ketat tubuhnya yang ramping semampai, montok berisi lagi, kulit dagingnya begitu putih halus dan lembut bagai susu, matanya bundar, alisnya lentik, hidung tegak dan bibir merah sedikit menjengkit naik menandakan wataknya keras dan aleman- Berdiri didepan kuda sambil bertolak pinggang, bergaya lagi laksana bintang panggung layaknya.

"Haya, sungguh kurang hormat, nama besar Nona Cin sudah tersiar luas dikalangan

Kangow, sungguh beruntung orang She Li hari ini dapat menyambut kehadirannya disini, mari silahkan, silahkan masuk

." Demikian sambut laki-laki jubah biru sambil menyilakan tamunya masuk ke perkampungan, dua orang laki-laki sudah maju menerima kendali kuda serta menuntunnya ke samping. Setelah balas memberi hormat, Lat-pa-kiu-king bersama sang Sumoay beranjak masuk. Seorang centeng berjalan didepan menunjukkan jalan-

---ooo0dw0ooo---

Agaknya perjamuan sudah dimulai di balairung yang besar, para tamu sudah kumpul disana disambut tuan rumah, pestapun telah dimulai, suasana begitu ramai dan meriah, wajah setiap orang cerah dan gembira, orang orang Jian-liu- ceng tiada yang tidak repot semua berjalan lancar sesuai rencana.

Diujung serambi panjang disebelah timur balairung, tampak seorang laki-laki jubah biru tengah mondar mandir sambil menggendong tangan, ikat pinggang kain merah tampak menyolok, sikapnya yang gelisah tampaknya sedang menunggu sesuatu dengan tidak sabar, namun dia berusaha bersikap wajar seperti lagi iseng sambil longok-longok kesekitarnya. Tiba-tiba dia bergegas memapak maju serada menjura kepada seorang laki-laki muka kuning berdandan petani yang mendatangi, sapannya: "Hah, Thi-jiau-kim-pian, Sun-loyacu, cayhe Ngo-jiau-eng Ling Kong hiap adalah kenalan baik Wi-pin-heng, sudah lama kudengar nama besarmu, baru hari ini aku bersua disini, sungguh beruntung,"

Thi-jiu-kim-pian yang sedang menyusuri serambi panjang itu kelihatan melengak. tapi segera dia paham dan balas menjura, katanya tertawa: "Masa begitu. Ngojiu-eng juga telah ternama di kangou, mana berani Losiu mendapat penghormatan ini, beruntung juga losiu berkenalan dengan tuan ." Lalu dia tertawa lebar sambil menjura, dikala tubuhnya membungkuk itulah tiba-tiba dia berkata lirih "Ling-heng, barusan . , ."

Laki-laki kurus jubah biru segera menegakkan jarinya didepan mulut sambil mendesis, setelah celingukkan tidak nampak orang dia berkata gugup: "Rahasia It-tio-liong Bu-jiya sudah konangan, sekarang dia disekap dipenjara bawah tanah di belakang perkampungan..."

"Hah ?" laki-laki muka kuning berjingkrak kaget.

"Urusan amat mendesak. Lau-ngoya sekarang berada di balairung menyambut kedatangan murid terbesar Hwe hun- cun-cia Ang-hun-jit-sian (megah merah berkelebat tujuh kali) Leng Pwe-ing. Penjara bawah tanah kini hanya dijaga oleh Kiau Le dan Beng Liang, biar aku ketaman belakang menunggumu, disana kita berunding lagi dan bertindak melihat gelagat."

Habis berbisik laki-laki jubah biru menjura lagi lalu berkata keras: "Silahkan Sun-loyacu tunggu sejenak. setelah cayhe membereskan pekerjaan, pasti akan kutemani kau orang tua."

Sebelum dijawab Thi-jiau-kim-pian, buru-buru dia tinggal pergi dengan langkah lebar.

Laki-laki muka kuning melenggong beberapa kejap ditempatnya, mendadak matanya bersinar, tinjunya terkepal gemas dan gegetun, melihat sekelilingnya tiada orang, dilihatnya perjamuan sedang meriah dibalairung, bergegas dia meninggalkan tempat itu,

Begitu bayangannya lenyap dibalik tembok. dari belakang gunung-gunungan tak jauh dari serambi panjang itu tiba-tiba muncul dua orang, seperti laki-laki kurus tadi, merekapun berjubah biru dengan ikat pinggang kain merah. Kedua orang ini beranjak keluar dengan tertawa saling pandang, yang dikiri adalah laki-laki setengah umur dengan jenggot pendek. sambil menjengek dia berkata kepada temannya: "He, muslihat kita cukup lancar, inilah yang dinamakan tipu mengundang tuan masuk perangkap Hehehe."

"Betul, memang bagus, permainan sandiwara Hoan-thian-ju (tikus langit jumpalitan) memang mirip sekali. Tua bangka sebatang kara itu juga kena ditipunya, Haha."

Keduanya lalu tertawa latah dengan gembira, laki-laki jubah biru disebelah kanan membalik tubuh melangkah kepekarangan belakang, temannya yang berjenggot pendek berdiri diam mengawasi punggungnya sejenak. akhirnya dia melangkah kedalam balairung sambil menggendong tangan-

Ditengah balairung, seorang laki-laki tua muka merah tengah angkat sebuah medali perak berisi arak yang cukup besar, dengan senyum lebar ia berputar menyapu hadirin, dandanannya mirip seorang hartawan, jubahnya serba kuning emas, dibagian tengah tersulam sebuah huruf "Siu" atau panjang umur yang besar dengan dipelinti benang hijau pupus, mengenakan topi beludru segi empat, hingga rambut samping saja yang kelihatan sudah ubanan. Sambil bergelak tawa dia ajak hadirin menghabiskan arak masing-masing.

Serempak hadirin menyambut dengar riang dan gelak tawa terdengar riuh, beramai-ramai mereka menghaturkan ucapan selamat panjang umur, banyak rejeki, suasana makin gembira setelah sayur mayur mulai berdatangan disuguh, pesta porapun dimulai, dara-dara jelita mengantar makanan menuang arak satu lebih cantik dari yang lain, dandanannya yang menyolok, dengan tubuh semampai yang menggiurkan, alunan musik menambah semarak perjamuan bebas iri, hadirin tenggelam dalam suasana pesta gila-gilaan dua gadis cantik tampak bergaya dan menari gemulai dengan gerakan merangsang.

Tiada satupun hadirin yang tidak tertawa lebar dan pesona, arak terus dituang kedalam mulut, sebagian besar hadirin sudah setengah mabuk.

Sekonyong-konyong suatu pekik mengeri menghentikan suasana riang gembira, entah siapa yang mendahului, tapi pandangan hadirin satu persatu menoleh kearah luar, tatapan mereka membayangkan rasa heran dan panik, jeritan gadis- gadis cantik menambah suasana menjadi gempar, musik berhenti, tarianpun terputus, perjamuan seperti beku, perhatian para hadirin tertuju kearah pintu besar, dimana tampak sesuatu mengalir dari atas, cairan merah kental - Darah, wanginya arak lenyap berganti bau anyir yang memualkan. Hadirin melotot, merinding dan bergidik seram.

Diambang pintu tampak berdiri seorang pemuda, jubah putih yang dipakainya tampak melambai ditiup angin, wajahnya yang cakap ganteng tampak beku dan sinis, hadirin merasakan ancaman serius dari tatapan mata dan ujung mulutnya yang menyengir sadis.

"Siapa yang bernama Lau Koan-ni ?" pertanyaan ini seperti pilar es yang dingin menusuk sanubari hadirin, sorot matanya yang dingin tajam seperti mengiris lubuk hati mereka.

Tiba-tiba seorang hadirin menjerit ngeri, disusul jeritan- jeritan lain yang ketakutan- Akhirnya tercetus sebuah pekik dari mulut seorang: "Pat-pi-kim-liong."

"Hah, apa? Pat-pi-kim- liong?" yang kenal dan tidak kenal ikut menjerit panik dan histeris.

”Jadi pemuda inilah Pat-pi-kim-liong" Berdebar jantung Lau Koan-ni, serta merta dia menoleh kearah darah yang meleleh dipintu, itulah darah yang mengalir dari tubuh puluhan laki-laki yang bertumpuk diluar pintu dekat dinding, para korban semua berseragam hitam. Darah mengalir dan berceceran dipekarangan luar. Lebih mengejutkan lagi adalah kejadian diluar hakikatnya tidak diketahui sama sekali.

"Siapa itu Thi-ciang Lau Koan-ni, silakan tampil kedepan." Suaranya dingin itu berkumandang ditengah balairung.

Thi-ciang Lau Koan-ni berdiri mematung kulit mukanya berkerut-kerut, sorot matanya memancar tajam, tiba-tiba dia bergelak tawa sambil menengadah. sambil angkat cangkir araknya dia melompat berdiri:" Ha ha ha, jago kosen dari mana telah tiba, hingga Lohu kurang hormat tidak menyambut maaf, maaf, silakan masuk. silakan masuk."

Ditengah gelak tawanya dengan langkah lebar dia beranjak kedepan menyongsong kedatangan Liok Kiam-ping.

Mendadak di hadapan Pat-pi-kim liong. ”Kau inikah Pat-pi- kim- liong ?" seorang muda dengan ikat kepala pelajar berwajah bersih tiba-tiba merebut maju diantara hadirin, menuding dan melotot kepada Liok Kiam-ping. Pat-pi-kim- liong hanya mendengus sambil melirik dingin, jengeknya: "Enyah kau."

"Haaah." Pekik pemuda itu, karena tak menduga akan reaksi Kiam-ping, sekilas melenggong, tiba-tiba bola matanya melotot, gusar memancarkan dendam membara, hardiknya: "Kunyuk pongah. Susah payah tuan besar mencarimu tidak ketemu, kebetulan kau muncul di sini, serahkan jiwamu."

Berdiri alis Pat-pi-kim-liong, jengeknya "Siapa kau ?"

"Ha, kau jeri ? Baik, biar kau tahu supaya maripun kau bisa meram. Tuan muda ini Adalah Bu-tong-ci-eng (tunas harapan Bu-tong) Ting ciau, guruku bergelar Lan- ciok, tentunya kau masih ingat siapa beliau ? Ha haha, setengah tahun ini tak pernah tuan mudamu ini melupakan dirimu, nah sekarang tiba saatnya aku menagih hutang kepadamu."

Bu-tong-ci-eng Ting ciau beringas dan kalap. suaranya bergetar, wajahnya yang ganteng pucat saking emosi.

Sekilas Pat-pi-kim- liong menerawang sekelilingnya, tampak Thi-ciang La u Koan-ni berdiri diam dengan wajah heran dan kaget, tapi sorot matanya menampilkan rasa syukur dan senyumannya kelihatan licik.

Setelah mendengus Pat-pi-kim- liong melirik Ting ciau, katanya keren: "Kalau sekarang kau mengundurkan diri masih ada kesempatan hidup,"

"Cuh, obrolanmu lebih merdu dari nyanyian, ketahuilah celurut, kematianmu sudah tergenggam ditanganku, serahkan jiwamu."

Berkelebat nafsu sadis diwajah Liok Kiam-ping, bola matanya benderang memancarkan cahaya kemilau,jengeknya: "Kaki kirimu sekarang sudah masuk ke dalam peti mati, jikalau membual lagi kau akan menyesal selama hidup."

Karuan makin berkobar amarah Bu-tong-ci-eng, desisnya dengan mengertak gigi: "Bagus, kunyuk busuk. kalau bukan kau biar aku yang mampus hari ini. Lihat pukulan-" Kedua tangan lurus kedepan, sekali menggaris terus berputar mundur serta didorong dengan gempuran angin dahsyat menindih kearah Liok Kiam- ping.

"He, he, berhenti. Saudara ini, ada persoalan apa boleh dibicarakan, jangan berkelahi." Sambil membuka kedua tangan Lau Koan-ni berteriak dari samping.

Pat-pi-kim-liong menggeram sekali, alisnya tegak. tidak kelihatan dia bergerak, tiba-tiba tubuhnya berkelit dua langkah ke samping, lengan bajunya mengebas.

Bu-tong-ci-eng Ting ciau rasakan napas sesak. pandangan kabur, lekas dia miringkan tubuh sambil mendongak kepala, ditengah gerungannya, kedua tangan bersilang. menambah dua bagian tenaga terus menggempur pula. Jurus ini dia menggunakan ilmu Bu-tong yang dibanggakan yaitu tipu Yau- mo-siu-mo (siluman iblis menyerang dibekuk). Tujuannya membendung serangan musuh serta balas menyerang mengincar Thay-yang dan Tay-im dua Hiat-to mematikan dikepala lawan-

Tapi segulung tenaga lunak yang kuat tiba-tiba menumbuk tabir pukulannya menindih langsung kedadanya. Bayangan kematian seketika menggejolak di sanubarinya, dengan pejam mata sekuatnya dia kerahkan tenaga menyongsong pukulan-

"Blang" ledakan keras menggelegar ditengah mereka, menimbulkan pusaran angin kencang ditengah jeritan panjang yang menyayat hati tampak Bu-tong-ci-eng tertolak mundur sempoyongan, wajahnya kelihatan panik dan ketakutan, darah meleleh diujung mulutnya, badannyapun menggigil. "Kau... kau... ini... menggunakan-.. Wi... liong .. ciang... "suaranya gemetar, darah menyembur makin banyak setiap kali mulutnya terbuka. "Bluk" akhirnya dia terkulai roboh, ternyata lengannya putus sebatas pundak. "Wi- liong- ciang." Hadirin ada yang memekik ngeri.

Liok Kiam-ping berdiri gagah dan angkuh, sorot matanya yang sadis ditarik dari wajah Ting-ciau yang mengejang kesakitan, satu persatu dia tatap wajah hadirin, akhirnya berhenti dimuka Thi-ciang Lau Koan-ni.

Lau Koan-ni tersentak seperti sadar dari lamunan, lekas dia melangkah maju dan berkata: "Ai, tidak nyana, kenapa kalian terus berkelahi. Apakah tidak merepotkan saja." Suaranya ramah dan simpatik, agaknya kasihan terhadap Ting ciau yang menjadi korban, tapi juga seperti memuji akan kepandaian hebat pemuda baju putih.

"Hm," Liok Kiam-ping tetap dingin dan kaku, ”ada satu hal ingin aku tanya padamu."

"Oh, tuan begini sungkan, sungguh merepotkan saja. Mari silahkan duduk di dalam, minum dulu dua cangkir, masih banyak waktu untuk bicara, sungguh beruntung Lohu dapat menyambut kehadiranmu. Hahaha.”

Bertaut alis Liok Kiam-ping, dia mendengus tidak sabar, akhirnya berkata dengan tertawa: " Kalau kau takut didengar orang lain, boleh kau mencari tempat lain." Lau Koan-ni melenggong, tapi dia lantas bergelak tertawa.

Tiba-tiba bayangan kelam berkelebat, sebuah suara kasar berkata: "Eh, kurcaci sombong dari mana berani kurang ajar kepada tuan rumah yang merayakan hari bahagia, memangnya sudah bosan hidup," Seorang laki-laki brewok tiba-tiba melompat berdiri di depan Kiam-ping, setelah menepuk dada dia menuding hidung Kiam-ping sambil menghardik pula, "Neneknya. pelajar kecut, gara-gara kau membuat onar, tangan bapakmu ini tak sempat memeluk si genit, kau ingin berkelahi, nah rasakan dulu bogem mentahku." Tinju hitam sebesar kepala tiba menggenjot mkuka Liok Kiam-ping. "Waaaah" Lolong mengerikan disertai semburan darah segar keluar dari mulutnya. badannya yang besar dan kasar rebah tak bergerak diatas lantai hijau, kepalanya pecah, darah tercampur otak berhamburan.

Mencorong bola mata Liok Kiam-ping, desisnya geram: "Aku paling benci manusia yang bermulut kotor, orang ini setimpal dibikin mampus."

Hadirin menjadi gempar, satu dengan yang lain berebut memaki, ada pula yang menganjurkan: "Ganyang saja, gasak manusia ganas yang tak berperi kemanusiaan ini."

"Hai, hai, nanti dulu sabar." Thi-ciang Lau Koan-ni menjerit- jerit menahan amarah hadirin, persoalan masih bisa dibicarakan, jangan membuat onar lebih besar."

Lalu dia menoleh kepada Liok Kiam-ping dan berkata. "Perbuatan tuan apakah tidak terlalu... terlalu... kejam. Tanpa sebab kau membunuh anak buahku, kini membunuh pula tamuku... apakah tidak keterlaluan ?"

Dengan gelak tawa dia mengakhiri perkataannya, lalu celingukan mengawasi para hadirin, melihat para tamunya semua bermuka gusar, ada pula yang kaget dan takut, tapi tidak sedikit yang mengertak gigi mengepal tinju, diam-diam dia tersenyum dalam hati, pancingannya agaknya berhasil.

Wajah Liok Kiam-ping dilembari hawa hijau, maju setapak dia tuding Lau Koan ni dan membentak bengis: Jawab pertanyaanku, apakah kau kenal Swan hong-it-kiam Liok Hoat- liong ?"

"Swan- hong-it-kiam Liok Hoat-liong." Terdengar seorang menjerit diantara hadirin-

"Siapakah yang gembar gembor di sini, mengganggu suasana saja." Sebuah suara berkumandang dari tempat duduk dipojok sana. Tegak pula alis Liok Kiam-ping dia menoleh kearah datangnya suara, tampak diatas meja di mana tadi Lau Koan- ni duduk. duduk seorang tua muka merah, perawakannya tinggi besar, berjubah sutra merah tua sorot matanya yang bengis tengah menatap dingin kearah Liok Kiam-ping. Disampingnya duduk seorang tua berjenggot panjang, hidung singa mata harimau Liok Kiam-ping kenal orang ini, dia bukan lain adalah laki-laki jubah kuning yang mengaku bergelar Siang-jiu-king-thian yang pernah dilihatnya di restoran di kota Lok yang itu.

Maka hidungnya mendengus hina jengeknya: "Siapa mengoceh tak karuan di sini mengganggu usahaku ?" "dengan nada sama dia balas bertanya.

Tiba-tiba terasa bayangan merah berkelebat, kesiur angin lesus yang berat menindih datang, waktu dia angkat kepala ujung mulutnya menyeringai ejek. sedikitpun dia tidak bergeming. Ternyata laki-laki jubah merah telah melayang kedepan bersama meja yang dia duduki, lima kaki didepan Liok Kiam-ping. wajahnya seperti dilapisi salju, dengan gusar dia melotot kepada Liok Kiam-ping, bentaknya: "Kau ini barang apa ?"

"Kau juga barang apa ?" Liok Kiam-ping balas menjengek tak kalah angkuhnya.

"Wut" bersama meja yang diduduki tiba- tiba tua jubah merah melejit keatas terus mengepruk kepala Liok Kiam-ping.

"Bagus." seru Liok Kiam-ping, sebelah kakinya menggeser setelah langkah, kedua telapak tangan tiba-tiba terangkat ditengah berputar membuat satu lingkaran terus didorong kedepan, jurus Liong-kiap-sin-gan dilancarkan-

Ditengah deru angin yang berseliweran tampak bayangan merah berkelebat kian kemari. bersama meja dibawah pantatnya, laki-laki jubah merah bersalto beberapa kali ditengah udara lalu melayang turun enteng. Tampak wajahnya kelam, sorot matanya kaget dan heran, sekian saat dia melotot mengawasi Liok Kiam-ping.

"Kau ini barang apa. hanya begini saja. Hm” Jengek Pat-pi- kim-liong Liok Kiam-ping, padahal hatinya juga kaget "Siapa dia? Pukulanku tak mampu merobohkan dia ?" pikiran lain segera berkelebat dibenaknya, mendadak dia maju selangkah seraya membentak: "Kau... kaukah Hwe-hun-cun-cia ?"

Bercahaya mata laki-laki jubah merah. Tapi laki-laki jubah kuning Siang-jiu-king-thian sudah membentak sekali seraya melompat keluar. Bentaknya: "Bocah kurang ajar, tidak tahu aturan, biar lohu menghajar adat kepadamu." Ditengah udara tubuhnya miring terus menindih turun, angin pukulannya menindih Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping tidak gentar, telapak tangan terangkat. secepat kilat dia melancarkan serangan balasan, ditengah taburan telapak tangannya, tubuhnya sudah terbungkus rapat dari sarangan lawan, sementara tangan kiri-balas mengancam ketiak kiri laki-laki jubah kuning.

Tahu ketiaknya terancam lekas laki-laki jubah kuning menegakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari rapat membelah turun terus menepis miring, pergelangan tangan Liok Kiam-ping dibabatnya.

Liok Kiam-ping tertawa dingin, tangan kiri ditarik ganti telapak tangan kanan yang menggempur dengan gerakan melingkar memapak telapak tangan kanan laki-laki jubah kuning. "Plak" begitu tangan kedua orang beradu keduanya bergetar, Liok Kiam-ping limbung beberapa kali, laki-laki jubah kuning jungkir balik beberapa kali baru melayang turun, tapi juga sempoyongan pula beberapa langkah.

Matanya terbeliak mengawasi Liok Kiam-ping, rasa ngeri menghantui nalurinya, walau dirinya berada diudara mengadu pukulan, posisinya lebih rugi, tapi selama puluhan tahun dia malang melintang di Kangouw dengan tangan tunggal, tak nyata hari ini tak mampu menandingi pukulan dahsyat anak muda ini, untung dia membekal Lwekang tangguh, kalau tidak jelas dirinya kecundang habis-habisan.

Liok Kiam-ping juga mencelos hatinya, pikirnya: ”Tangan tunggal menyanggah langit memang tidak bernama kosong, kekuatan pukulannya ternyata tidak asor dibanding kawanan Tosu busuk Bu-tong-pay. Tapi jurus permainannya tadi mirip ilmu pukulan Siau-lim-pay, kenapa dia bergaul bersama orang- orang jahat ini ?" ujung mulutnya menjengkit, maju selangkah dia berkata: "Kupandang muka Pin-te (pengemis cilik), hari ini aku tidak mengulur panjang urusan dengan kau. Tapi seorang cianpwe minta aku menghajar adat kepadamu, karena kau menyebabkan Pin-te melarikan diri."

"Ha, apa ?" teriak laki-laki jubah kuning dengan terbeliak, "Apa Pin-te? Pin-ji ?"

Laki-laki jubah merah kini telah mendongakan tubuhnya, dengan melotot dia menatap Liok Kiam-ping lalu menoleh kearah laki-laki jubah kuning Siang-jiu-king-thian-

"Em, ya, Pin-ji. Bocah ini adalah pelajar yang pagi itu bersama Pin-ji direstoran.”

Laki-laki jubah kuning mengangguk kepada laki-laki jubah merah.

Liok Kiam-ping maju selangkah pula, bantaknya sambil mengawasi laki-laki jubah merah: ”Siapa kau sebenarnya?”

Sebelum laki-laki jubah merah bersuara Thi-ciang Lau Koan-ni tampil kedepan, katanya menjura: ”Jangan kurang ajar. Inilah Ang-hun-jit-sian Leng Pwe-ing Leng-toa-tongcu Siau-ciang-hun Hwe-hun-bun. inilah Siang-jiu-king-thian Tan Sik-san Tan loyacu congkoan sekte utara dari Hwe-hun-bun kita. Hm, masih jauh kau untuk menandingi mereka."

Setelah menunjuk laki-laki jubah merah lalu Sang-jiu-king- thian- "Apa ?Jadi kau adalah putra Hwe-hun-cun-cia ? Hm." Dingin setajam sembilu sorot mata Liok Kiam-ping, hadirin merasakan betapa kaku dan dingin tatapan matanya, penuh dendam dan kebencian- ”Jelaskan, dimana Hwe-hun iblis tua bangka itu?" setengah memekik teriakan Liok Kiam-ping.

"Hus, anak kurang ajar, jangan bertingkah." Hardik Thi- ciang Lau Koan-ni.

Bola mata Liok Kiam-ping membara merah, desisnya dengan mengertak gigi: "jangan harap kalian bisa hidup lagi."

Ditengah gerungan sengit, kedua tangan menghantam ke arah Ang-hun-jit-sian Leng Pwe-ing.

Ang-hun-jit-sian mengeluarkan suara auman rendah, "Wut" bersama meja tubuhnya mencelat terbang, ditengah udara dia menekuk pinggang berputar dua kali, dengan gaya tidak berobah secara lurus dia mengepruk batok kepala Liok Kiam- ping.

Liok Kiam-ping mendak tubuh sambil berkisar kedua tangan ditekuk kedalam satu melingkar yang lain mulur kedepan, dilandasi kekuatan dahsyat jurus Liong-kiap-sin-gan membelah kearah Ang-hun-jit-sian-

"Pyaaar." Ditengah ledakan dahsyat bayangan merah mencelat tinggi melayang turun setombak jauhnya. Meja cendana yang tebal dan besar itu sudah hancur berhamburan-

Liok Kiam-ping berdiri gagah, dengan sedikit memicing dia awasi Ang-hun-jit-sian tanpa berkedip, raut mukanya kencang kedua tangan lurus bersilang didepan dada.

Melihat gaya pertahanan Liok Kiam-ping mencelos juga hati Ang-hun-jit-sian, kedua pipinya tampak gemetar, biji matanya membulat menatap lawan tanpa berkedip. Diam-diam hatinya mengumpat, sungguh dia tidak habis mengerti bagaimana mungkin pemuda didepan matanya ini memiliki Kungfu setinggi dan setangguh ini, kalau benar berita yang didengarnya, lawan menggunakan Wi-liong-sin-kang nya.

Dalam segebrak tadi lawan hanya menggerakkan kedua tangannya secara berganti, tapi tenaga yang timbul ternyata sedahsyat itu menyampuk muka. jikalau dia tidak menyergap memungut keuntungan dari posisi sendiri dan begitu merasa kurang sip terus menekuk pinggang jelas sekarang dirinya sudah kecundang.

Sungguh dia tidak habis mengerti, ditengah amarahnya, kekuatan lawan ternyata mengandung wibawa yang tak kuasa dibendung dan ditandingi, bukan saja aneh, kokoh dan tebal.

Padahal dia sudah bergerak cukup tangkas, namun dirinya masih keserempet oleh angin pukulan, untung hanya meja itu yang hancur. Bibirnya terkatup kencang, giginya gemeretak menandakan betapa geram hatinya.

Tiba-tiba berkerut alis-Liok Kiam-ping.

mendadak dia menghardik keras, tubuhnya melambung, ditengah deru keras, lengan bajunya yang juga merah menggulung sekencang hujan badai yang mengamuk, tubuhnya dibungkus bayangan merah yang kokoh dan kuat membendung rangs akan pukulan Liok Kiam-ping.

Maka terdengarlah suara rplak, plok" yang ramai dan beruntun, angin membubung tinggi menyentuh langit-langit, bayangan merah mulur keatas turun kebawah pula bagai sebatang tonggak baja, ledakan telapak tangan makin keras menggoncangkan bumi..

Dalam sekejap Liok Kiam-ping sudah mengadu dua belas pukulan tangan dengan Ang-hun-jit-sian, deru angin kencang terus menyambar keempat penjuru sehingga hadirin tardesak mundur sungsang sumbel.

Dalam baku hantam yang sengit ini, Ang hun-jit-sian memutar otaknya, dia maklum sang waktu berjalan tanpa kenal kasihan, manusia setua dirinya agaknya dilarang menjagoi dunia. secara langsung dia telah meresapi lawannya yang muda berpakaian serba putih ini bergerak selincah naga menari, secepat kilat menyambar, kegagahannya selama ini seperti runtuh seketika, keperkasaan lawan mirip bayangan dirinya dikala muda dulu, diam-diam dia mengeluh akan ciptaan alam yang tidak adil, kenapa manusia yang berusia lanjut harus semakin lemah tenaganya, kenapa orang yang sudah berumur pantang menjagoi dunia dan berkuasa dimaya pada ini.

Dari tatapan mata pemuda lawannya ini, dia melihat setitik harapan, harapan bersimaharaja didunia ini, harapan balas dendam kesumat. Dia maklum pemuda lawannya ini membenci dirinya, karena ayahnya membunuh ayah sipemuda, tapi apakah dia dapat memaklumi sebab musabab dari pertikaian ini? Mungkinkah dia memberi penjelasan dan dapat dimaklumi lawan?

Mau tidak mau hatinya agak grogi, kalau lawan pasti akan menuntut balas kematian ayahnya, lalu bagaimana dengan kematian adiknya ? Adik sepupunya Biau-hun-kiam-khek mati terbunuh oleh Swan hong-it-kiam Liok Hoat-liong.

Bila terbayang keadaan ayahnya yang kehilangan kesadarannya, syarafnya terganggu sehingga mirip orang gila dan kini jejaknya tidak diketahui parannya, yaitu Hwe-hun-bun ciang bun Hwe-hun-cun-cia, hatinya makin kuatir, apalagi terbayang pula putrinya yang binal dan minggat dari rumah, hatinya menjadi lemah, semangatnya luluh.

Dari sorot mata lawan Liok Kiam-ping merasakan kesedihan seorang gapah yang menemui jalan buntu, walau menyadari kepandaian lawan amat tangguh, tapi diapun meresapinya secara loyo dan menunjukkan ketuaannya yang mulai kropos, Dendam kebencian sedang menyala dalam relung hatinya, ingin rasanya dia mengganyang seluruh musuh-musuhnya, tapi apakah dirinya mampu ? Laki laki tua yang sebelum ini kelihatan garang dan gagahpun sudah patah semangat.. tatapan matanya bukan lagi mohon belas kasihan, akan tetapi...

"Huh." Mandadak dia sadar dari lamunannya, dengan heran dan kaget diapun mendapati lawannya tengah menjublek. entah karena apa pertempuran berhenti sejenak. Lawanpun mengawasi dirinya dengan tatapan melenggong.

Mendadak terasa dua sorot mata licik dan telengas memancar kearah dirinya, sorot mata sadis yang penuh muslihat keji membuat hatinya tersirap. ujung matanya menangkap gerakan sebuah telapak tangan gede hitam menyelonong keluar dari lengan baju kuning.

Sebuah hardikan disusul damparan kencang melanda dada. Hadirin sama menjerit kaget, sigap sekali Liok Kiam-ping menyadari elmaut mengancam jiwanya, tubuhnya menjengkang mundur kebelakang terus jungkir balik.

Hadirin menjerit takjub dan kaget pula melihat betapa cepat reaksi Liok Kiam-ping yang lihay dan cekatan-

Gerak tubuh Liok Kiam-ping bukan saja cepat juga enteng, sambil jungkir balik kedua lengan bajunya tidak berhenti bekerja, Liok-hwi-kiu- thian tiba-tiba menerbitkan tabir telapak tangan yang berlapis-lapis menjaring kearah Thi-ciang Lau Koan-ni yang menyeringai sadis.

Bahwa pukulannya luput sudah membuat Thi-ciang Lau Koan-ni kaget, tahu-tahu tabir telapak tangan lawan memberondong dirinya, karuan bukan kepalang kagetnya, sekejap itu sinar buas terpancar disorot matanya, alisnya berkerut menampilkan kekejian hatinya, tenggorokannya menggeram berat, sedikit menggeser kesamping dia pasang kuda-kuda, begitu dia membalikkan kedua telapak tangan, gumpalan hawa hitam yang kencang laksana gugur gunung menerpa kearab Liok Kiam-ping yang masih terapung ditengah udara.

---ooo0dw0ooo---

"Daar " Ledakan hebat menimbulkan damparan angin bergolak. Thi-ciang Lau Koan-ni mengerang rendah. matanya melotot merah, kulit mukanya berkerut merut, beruntun dia tertolak tiga langkah.

Darah segar yang panas terasa mengalir turun membasahi mukanya, darahnya betul-betul tersirap. tapi waktu tak memberi kesempatan dia menyadari apa yang terjadi, karena pandangannya terasa pusing berkunangkunang, darah bergolak dalam tubuhnya, teng gorokan sudah sesak dan terasa amis.

Sementara itu Liok Kiam-ping bersalto dua kali baru melayang turun- "duk" dia tersurut selangkah baru berdiri tegak. bola matanya beringas, darah tampak meleleh diujung bibir, noda darah tampak juga mengotori jubah putih didepan dadanya. Amarah tampak membakar hatinya, sorotmatanya yang menyala dingin menatap Lau Koan-ni yang berdiri menjublek. sambil menggerung dia kertak gigi seraya mengerjakan kedua tangan, pukulan Wi- liong- ciang yang digdaya dilontarkan sekuat tenaga.

"Huaaa..." jeritan terlontar dari mulut Lau Koan- ni, jeritan putus asa yang menyedihkan-

"Uaaaaah," Hadirin pun ikut menjerit panik.

Liok Kiam-ping betul-betul sudah dirasuk setan, dengan gregetan serangannya semakin sengit dan deras, setiap kali langan bajunya bergerak dimana bayangan putih berkelebat, jeritan mengerikan bergema, darahpun berhamburan- Lau Koan-ni rebah dalam pelukan Siang-jiu-king-thian yang berusaha memapahnya berduduk. sambil mendengus, sebat sekali dia sudah melejit disamping laki-laki jubah kuning. Karuan Siang-ji-king-thian menjerit kaget, serta merta dia angkat sebelah tangan nya menyampuk. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan jeritan kaget, dengan heran matanya jelalatan karena bayangan lawan tahu-tahu lenyap dia merasa dagunya kesakitan luar biasa, tanpa kuasa dia menjerit sejadi-jadinya sambil terhuyung mundur, perasaan kaget dan panik melembari wajahnya, dengan suara gemetar dia menuding Liok Kiam-ping" "Kau... kau... apakah ini..."

Pelan-pelan Liok Kiam-ping angkat tangan kiri, dimana jari- jarinya terbuka, secomot jenggot putih beterbangan ditiup angin lalu. Matanya yang bercahaya seperti mata harimau menyapu pandang mayat-mayat disekelilingnya, serta hadirin yang pucat, ngerti dan ketakutan, lalu berputar menghadapi Siang- jiu-king-thian Tan Sik-san.

"Membantu kejahatan melakukan kekejaman, sepantasnya kucabut nyawamu. Tapi mengingat kau murid didik Siau-lim- pay, hari ini kuampuni jiwamu, kelak perguruan sendiri yang akan menghukummu. Hm," lalu dia maju selangkah menuding Lau Koan-ni yang rebah dilantai, bentaknya dengan kertak gigi: "Kau main licik dengan muslihat kejam, melukai orang secara membokong, sepantasnya kucabut nyawamu sekarang juga, tapi keadaan sekarang tidak akan menguntungkan kau, akan kubuat kau mencicipi betapa nikmatnya seluruh tubuh digigiti semut, biar kau rasakan betapa derita bila otot mengejang daging meng kerut, tapi semua itu dapat kutunda bila kau menjawab pertanyaanku, bagaimana kematian ayahku ? Katakan"

Suaranya bukan saja gusar dilembari rasa dendam dan kebencian, maklum sakit hati telah menjalari sanubarinya, hakikatnya Kiam-ping sendiri sudah tidak mampu membendung emosinya. Lalu dia menghardik pula: Thi-jiau- kim-pian dan It-to-liong kau kurung dimana ? Bagaimana keadaannya ? Lekas katakan-“

Lau Koan-ni memejam mata, rambutnya awut-awutan, rebah dilantai tanpa bergerak, kedua lengannya putus sebatas sikut, betapa sedih dan pilu hatinya, rasanya ingin bunuh diri saja, tapi dendam menggejolak hatinya, betapapun dia tidak boleh mati, sudah menjadi wataknya selama hidup apa yang dirugikan harus dibalas, maka dia bertekad untuk bertahan hidup, berusaha menuntut balas.

Karena watak yang tidak mau kalah itulah, dia pernah menjual jiwa teman baiknya Swan-hong-it-kiam, sehingga sekarang dia memperoleh kedudukan tinggi, nama mulia dan disanjung bawahannya, kapan jiwanya masih hidup, wataknya itu takkan pernah pudar. Maka dia memejam mata, beristirahat menghimpun kekuatan, tidak hiraukan pertanyaan Liok Kiam-ping

Sudah tentu Liok Kiam-ping naik pitam, tangannya terangkat seraya membentak: 'Masih bungkam, jangan menyesal, bila kau merasakan siksaanku.”

Lau Koan-ni tetap diam sambil memejam mata, maka tangan Liok Kiam-ping terayun- Pada saat itulah seekor kuda meringkik keras berhenti didepan balairung, hadirin menoleh dengan kaget, tampak seekor kuda putih langsung menerjang kedalam balairung. “Ha, Seng-jiu-tok-liong Ibun-loyacu," Diantara hadirin ada yang berteriak. "Haya, ayah." Seorang berteriak pula.

Kuda itu berhenti ditengah ruangan terus angkat kepala meringkik sekali, diatas punggungnya tengkurap seseorang yang berlepotan darah.

"Ayah." bayangan orang bergerak. tiba-tiba Ibun Kong menerobos keluar dari gerombolan orang banyak langsung memburu kesamping kuda serta memapah turun Seng-jiu-tok- liong Ibun Kiong, ayahnya. Terpejam mata Ibun Kiong, bibir gemetar, darah masih meleleh, jubahnya pecah berlepotan darah. "Ayah. ayah." Ibun Kong menjerit-jerit serta merebahkan ayahnya di atas lantai.

Kuda putih itu seperti tahu keadaan majikannya tiba-tiba dia berbenger dan geleng-geleng kepala lalu mengeluh rendah.

Tangan Liok Kiam-ping masih terangkat, tapi tanpa kuasa dia menoleh mengawasi kuda yang muncul membawa Seng- jiu-tok- liong yang luka-luka. Waktu di cong-goan-lau dia dengar Ibun hong menceritakan jejak ayahnya yang pergi ke ow-pak untuk menyelidiki sesuatu mengenai rahasia Te-sat- kok, kenapa sekarang tiba-tiba muncul disini dalam keadaan yang mengenaskan?

Karena digoncang-goncang tubuhnya oleh ratap-tangis Ibun Kong, pelan-pelan Seng-jiu-tok- liong membuka mata, tatapannya kaku, mukanya bergidik, bibir gemetar, akhirnya dengan tergagap dia berkata: "Pedang... pedang... Liat-jit... ki-kiam... di .direbut... ceng-san... biau..." karena ganti napas suaranya terputus, tubuhnya mengejang dan berkelejetan.

"Hah ceng san-biau-khek." Seorang di samping berteriak. "Hm, lagi-lagi ceng-san-biau-khek." Desis Liok Kiam-ping. "

Lekas katakan, dimana ceng-san-biau-khek sekarang." Serunya keras sambil menyibak orang banyak yang merubung maju.

Agaknya keadaan Seng-jiu-tok-liong sudah teramat payah, seperti dian yang sudah kehabisan minyak. pelan-pelan dia memejam mata dan kepalanyapun terkulai miring.

"Haya, ayah. Keparat kau, serahkan jiwamu." Mendadak Ibun Kong berjingkrak kalap terus menampar kearah Pat-pi- kim- liong. Otak Liok Kiam-ping sedang memikirkan Wi-liong-pit-sin dan ceng-san-biau-khek, mulutnya mengigau, hakikatnya tidak sadar akan serangan Ibun Kong, tapi secara reftek lengannya menyampuk. Kontan Ibun Kong menjerit kesakitan-

”Ceng-san-biau khek. Hm, dimanapun kau berada, aku pasti dapat menemukan jejakmu, buktikan saja." Demikian teriak Liok Kiam-ping seraya melangkah keluar pintu. Dari kejauhan terdengar suaranya berkumandang :

"Lau Koan-ni, batok kepalamu sementara kutitipkan diatas lehermu, bila Thi-jiau-kim-pian dan It-tio-liong kau ganggu seujung rambutnya, kau akan mampus konyol ditanganku, tubuhmu akan kusobek menjadi abon"

Tiba-tiba hadirin ada yang berteriakpula: "Hah, Biau-jiu-sip- coan." Disusul pula teriakan kaget yang lain: "Ho, Kim-gin- hou-hoat."

"He, itu kan cap-pwe-ang-kin dari Hong- lui- bun-" Teriakan kaget saling bersahutan menyambut kedatangan beberapa orang.

Terdengar Biau-jiu-sip-coan berteriak di luar rumah: "Hai, ciangbun, tunggu sebentar."

"Ha, masa iya, dia Hong-lui ciangbunn?" hadirin terbelalak kaget.

"Ooooh, ayah..." Ibun Kong menjerit dan menubruk jenazah ayahnya, menangis menggerung- gerung, tiba-tiba dia mendongak. alisnya tegak matanya tegang, tinjunya terkepal, mulutnya mendesis: "Ceng-san-biaukhek. aku bersumpah takkan sejajar dengan kau didunia ini." Demikian dia bersumpah sambil memegang lengannya yang kesakitan karena disampuk Liok Kiam-ping tadi.

Liok Kiam-ping sedang berlari-lari ditanah gersang yang berdebu, jalan raya ini kalau hujan becek. bila kering berdebu tebal. Otaknya masih diliputi rasa dendam. perkataan seng-jiu- tok- liong sebelum ajal masih terngiang ditelinganya, dengan gemas dia mengepal tinju dan mendesis:: "Bila kepergok lagi. pasti tak kan kubiarkan dia lari.

”Awas kau ceng-san-biau-khek." Tiba-tiba bayangannya meluncur secepat anak panah.

Beberapa jurus permainan Hwesio rudin itu ternyata memang lihay dan lucu, gayanya seperti wataknya yang Jenaka, tapi kenyataan lihaynya luar biasa, Demikian Liok Kiam-ping membatin setulus hati dia memuji dan memuja Hwesio rudin yang malas dan Jenaka itu, kenyataan beberapa jurus gerakan yang diajarkan kepadanya itu ternyata adalah ilmu mujijat yang tiada taranya. Dia tidak tahu ilmu sakti itu dari aliran mana dan apa namanya, tapi waktu dia kembangkan ilmu aneh itu di Jian-liu-ceng, kenyataan jenggot Siang- jiu-king-thian berhasil dicabutnya hanya dalam segebrakan saja.

"Entah dari mana Biau-jiu-sip-coan menemukan Kim-gin- hou-hoat dan cap-pwe-ang-kin segala ?" Demikian batin Liok Kiam-ping, pula sembari mengayun langkahnya, mungkin dia pulang ke sarang Hong-Lui-Bun, dan tadi baru menyusul tiba ke Jian-liu-ceng" Waktu dia keluar tadi ada melihat serombongan orang menunggang kuda, Biau-jiu-sip-coan diantara mereka kuda yang dinaiki berkembang putih hitam, dibelakangnya dua orang laki-laki tua bermuka merah dengan rambut ubanan dan serombongan orang berkuda putih berjubah biru laut, kepala diikat kain merah, karena buru-buru dia tidak perhatikan mereka, sebab tujuannya ingin selekasnya menemukan ceng-san-biau-khek merebut balik Wi-liong-pit- sin.

---ooo0dw0ooo--- Cuaca cerah, angin meniup semilir, rambutnya terurai, pakaiannya melambai, Liok Kiam-ping terus mengayun langkah berlari-lari dijalan besar kearah selatan- Di persimpangan jalan dia berhenti sejenak menerawang sekelilingnya, dari bekas tapak kuda yang membekas ditanah jalanan, sukar dia membedakan dari arah mana kedatangan Seng-jiu-tok- liong, kali ini dia perlu bertindak cermat, supaya tidak mengabaikan suatu kesempatan baik.

Sesaat dia berdiri kebingungan, matanya masih menjelajah sekelilingnya, tiba-tiba dia tersentak girang, dilihatnya tetesan darah diantara batu-batu krikil, mengikuti arah jalur tetesan darah dia terus, melangkah maju kearah timur, tetesan darah masih belum kering seluruhnya dengan mudah dia ikuti terus jejaknya. Dengan lega akhirnya dia mengepal tinju pula, entah dari mana datangnya perasaan lega, tiba-tiba dia mendongak terus menggembor sekuat-kuatnya.

Mendadak beberapa suara bentakan dingin disertai suara yang amat dikenalnya berkumandang disebelah sana. "Heh, suara siapa itu, seperti amat kukenal." Sekilas melengak. lekas dia menjejak kaki meluncur kearah datangnya suara. Setelah melampaui gundukan tanah panjang seperti tanggul dia dihadang sederetan pohon yang telah gundul dedaonannya.

Ditengah hutan yang pohon-pohonnya sudah gundul sana tampak dua orang lagi bertarung sengit, deru angin pukulan yang keras, menyebabkan debu pasir dan daon-daon kering bertaburan, beberapa pucuk pohon yang kering telah tumpang kesapu pukulan-

Tubuh ramping yang dibungkusjubah hitam dengan cadar hitam pula, bergaman seruling putih, ternyata sudah amat dikenalnva, karena dia bukan lain adalah Tokko cu penghuni Te-sat-kok dan lawannya bukan lain adalah ceng-san-biau- khek yang sedang diubernya.

Didengarnya ceng-san-biau-khek menggembor pendek. tiba-tiba tangannya memancarkan lembayung perak mengetuk seruling putih ditangan Tokko cu, berbareng tangan kiri terayun memukul lambung kanan Tok ko cu.

Seketika pandangan Liok Kiam-ping terbeliak terang, jelas dilihatnya ceng-san-biau khek bersenjata pedang tajam yang kemilau selintas pandang senjata itu tak ubahnya seperti pedang besi umumnya. Badan pedangnya lebih lencir dari pedang biasanya, tapi lebih panjang, memancarkan cahaya kemilau yang dingin menyilaukan mata, setiap ditarik, menimbulkan desir angin pedang yang tajam.

"Ya,. mungkin itulah Ki-kiam seperti yang dikatakan Seng- jlu-tok-liong, apakah Tokko cu... "

Waktu dia menerawang di lihatnya Tokko cu mendengus dingin sambil mendak kebawah terus selulup kepinggir, jubah hitamnya yang lebar tampak berkibar, namun seruling putih ditangannya laksana lidah ular mematuk dan menjodoh, gerakannya aneh dan secara licin menghindar dari serangan pedang ceng-san-biau-khek. Ternyata lengan baju kirinya sempat mengebas menggulung pergelangan tangan ceng-san- biau-khek. seruling ditangan kanan serong mengincar Sin- hong, Yu-bun, Siang-kik Ling-hi danSin-ciang hiat-to penting ditubuh lawan-

Gerakan ceng-san-biau-khek sedikit merandek seperti mengerem serangan, agaknya dia tidak menduga akan serangan Tokko cu yang ganas. secara kekerasan dia berusaha mengendorkan gerakannya serta menyurut dua kaki, sementara pedang panjang ditangannya menutup  jalan tengah dengan membundar sertajuri tangan kiri menjentik, ditengah dering suara nyaring, dia menarik napas serta menghardik, tangannya terayun balik sambil menggentak pedang panjang.

”Cring” getaran kencang menimbulkan cahaya perak melambung laksana gugusan gunung, dari jalur-jalur pedang berobah menjadi ceplok-ceplok sinar kembang membawa desis angin kencang meluruk kemuka Tokko cu. Ternyata Tokko cu tidak kalah lihay, sambil mendengus lengan bajunya mengebas kaki minggir setengah langkah, seruling di tangan kanan terulur keatas, ujung serulingnya bergetar menimbulkan irama tajam langsung menusuk keta bir sinar pedang ceng-san-biau-khek.

Dalam sibuknya lekas ceng-san-biau-khek menutul beberapa kali dengan ujung pedang, terus mengiris kepergelangan tangan- Tangan Tokko cu yang memegang seruling

”.Sret, sret, sret" menyusul dia menabas dan membalas tiga kali sambil melompat ke samping lima langkah, baru sekarang dia sempat menghela napas lega.

Sepasang mata jeli bundar dibalik cadar, kelihatan mendelik gusar, menandakan hatinya amat penasaran dan marah. Setelah ganti napas, baru saja ceng-san-biau-khek mau buka suara tiba-tiba dilihatnya bayangan Tokko cu dengan jubah kedodoran lebar itu melambung tinggi keudara, laksana burung rajawali dengan tekanan dahsyat laksana kilat menyambar, serulingnya menukik turun berubah selarik bianglala mengepruk batok kepala lawan-

Begitu dia angkat kepala matanya jadi silau oleh pantulan cahaya seruling lawan, kiranya sang surya kebetulan terbit memancarkan cahayanya yang cemerlang, secara reflek cahaya surya memantul balik dari seruling pualam menyoroti matanya sehingga silau. Untunglah begitu menyadari situasi tidak menguntungkan selekasnya dia menggentak pedang tegak lurus didepan dada terus di angkat keatas sementara tangan kiri menekan batang pedang ikut melandasi posisi tegak pedangnya hingga lebih kokoh, syukur keprukan seruling Tokko cu berhasil digagalkan kepalanya selamat dari samberan elmaut.

Begitu Tokko cu melayang turun belum lagi lawan berdiri tegak sambil menggerung mendadak dia sampukan pedangnya, begitu ujung pedang tertuju lurus kedepan, gerakan dia robah menjadi tusukan kemuka Tokko cu baru setengah jalan, kembalipergelangantangan menggentak sehingga timbullah taburan jalur sinar kemilau yang berkembang lebar mengurung gerakan lawan.

Bahwa serangannya hampir melukai lawan dan ternyata gagal, kini terasa sinar pedang lawan balas mengincar jiwanya saking kaget, tahu-tahu sinar pedang telah menyilaukan mata ujung pedang panjang cengsan-biau-khek telah mengancam hidung. Sungguh tak pernah terpikir bahwa perobahan secepat dan segawat ini bahna gugupnya menggeram sekali, tangan kiri melindungi muka, berbareng tubuhnya mencelat mundur beberapa langkah.

"Cret" tiba-tiba terasa pundaknya dingin ternyata ujung pedang ceng-san-biau-khek berhasil menusuk bolong jubah dipundaknya, sekaligus menyontek lepas cadar hitam yang menutupi kepalanya.

"Hah." Kontan ceng-san-biau-khek menjerit kaget, matanya terbeliak pula, ternyata lawan yang berdiri didepannya bukan nenek reyot yang ubanan, tapi seraut wajah molek jelita berkulit putih halus, cantiknya bukan kepalang. Bola matanya yang bening mendelik tajam membuat jantungnya berdebar. sesaat lamanya dia menjublek mengawasi bibir lembut yang mungil. ceng-san-biau-khek benar-benar terpesona akan keayuan dara manis ini sehingga sesaat lamanya dia melenggong, tak tahu apa yang harus dia lakukan-

Darah tampak merembes membasahi pundak. ternyata si "dia” juga berdiri terlongong namun hanya sedetik, tiba-tiba dia membentak nyaring terus menubruk sengit, kembali serulingnya menarik sinar putih mengeluarkan suitan nyaring pula menutuk ke Thian-toh-hiat ceng-san-biau-khek, begitu gemasnya sehingga serangannya ini seperti hendak membinasakan lawan-

Tak nyana begitu dia bergerak pundak kirinya terasa kesakitan luar biasa sehingga tubuhnya bergetar, ternyata tenaga tidak mampu dikerahkan lagi. Tanpa sadar dia menjerit kesakitan, darah tampak membanjir lebih banyak dari luka- lukanya.

Ceng-san-biau-khek memang terpesona oleh kecantikan orang hingga menjublek seperti kehabisan akal, kini melihat keadaan lawan, tahulah dia bahwa pedang ditangannya memang tajam luar biasa, kemungkinau tulang pundak lawanjuga tergores luka, maka dia tertawa riang, katanya: "Ah, maaf cianpwe... " lalu dia menekan berat suaranya, sebetulnya aku tidak bermaksud Melukai lenganmu yang seputih saiju... " sembari bicara kakinya menghampiri kearah Tok Ko cu.

Tak nyana belum habis dia bicara, dari belakang mendadak menggelegar sebuah bentakan segulung tenaga pukulan berat tiba-tiba menerjang punggung. begitu dahsyat pukulan ini sehingga hawa terasa menderu dengan suaranva yang aneh.

Karuan bukan main rasa kagetnya, air muka berobah hebat, lekas dia mengegos minggir tiga kaki kesamping, untung s empat- ugadia hindarkan terjangan pukulan dahsyat ini. Begitu kaki menyentuh tanah sigap sekali dia membalik tubuh seraya balik menggempur, pedang ditangannya menggaris melintang melindungi dada. Tampak yang menyerang dirinya adalah seorang pemuda gagah jubah putih, alisnya tegak mata melotot, wajahnya tampak gusar, dengan bertolak pinggang orang sudah berdiri dipinggir Tokko cu. Begitu melihat jelas lawan seketika dia menjerit kaget: "Ha, kau ? Pat-pi-kim- liong?”

Diam-diam ceng-san-biau-khek mengkirik, sungguh tak pernah diduga bahwa Pat-pi-kim- liong yang selalu mempersulit dirinya mampu menarik balik tenaga gempuran sedahsyat itu secara mentah-mentah, taraf Lwekang setangguh ini jelas tidak mungkin dapat dilakukan dirinya. Maklumlah ajaran Lwekang mengutamakan pengendalian napas, kalau latihan sudah mencapai puncaknya orang dapat mengatur hawa murni sesuka jalan pikirannya, sehingga suatu gempuran dahsyat mungkin saja direm atau ditarik balik, namun tenaga ribuan kati ada kalanya bisa dirobah menjadi kekuatan ratusan kati, itu pertanda bahwa latihan Lwekangnya belum sempurna.

Adalah jamak kalau sekarang ceng-san-biau-khek amat kaget, pikirnya pula: 'Dalam jangka pendek aku berpisah dengan dia, dari mana dia bisa memperoleh tambahan ilmu dan Lwekang setangguh ini ?' Mau tidak mau semangat tempurnya menjadi goyah, tapi bila dia melihat pedang pusaka ditangan, keangkuhan menjalari sanubarinya, pikirnya pula: 'Dia ingin cari gara-gara padaku. biar kupersen dia dengan jurus Jit-lun-jut-seng (sang surya baru terbit).'

Kembali berhadapan dengan raut wajah jelita yang pernah menggetar sanubarinya dulu, Kiam-ping benar-benar dag dig dug, kini dilihatnya tubuh orang limbung dan lemas lunglai, rasa iba merasuk hatinya, natmun rasa gusar lebih merangsang emosinya, sehingga dia lebih banyak menaruh perhatian kepada ceng-san-biau-khek dengan tatapan gusar.

Tiba-tiba didengarnya Tokko cu merintih kesakitan, lekas Liok Kiam-ping berpaling, tampak wajah orang yang jelita dihiasi butiran keringat dingin, darah yang merembes membasahi jubah hitamnya yang lengket dengan badan. Terpaksa dia bertanya dengan suara kuatir: 'Kau... bagaimana kau .. '

Tokko cu menegakkan badan, bibirnya gemetar, sahutnya dengan tertawa meringis:

'Hati-hatilah terhadap pedangnya itu, mengandung racun api, seluruh tubuhku sekarang seperti terbakar, terutama luka luka ku seperti dipanggang diatas tungku.'

Lekas Kiam-ping mengeluarkan sebuah kotak persegi dari batu pualam, seluruh pil obat yang ada dia tuang semua seraya berkata: 'Nah, ambillah, semua ditelan-' Setelah menyerahkan obat dia membalik badan terus menubruk maju seraya membentak.

Sejak tadi ceng-san-biau-khek berdiri mematung disamping, agaknya dia amat menyesal melukai lawan, atau mungkin terlalu kesengsem akan kecantikan lawannya, maka matanya nanar tak berkedip.

Tatapan dan tubrukan Liok Kiam-ping baru mengejutkan dirinya. tahu-tahu bayangan tangan pukulan telah memburu sekencang kitiran kepada dirinya, hawa sekeliling tubuhnya seperti bergolak oleh gencetan keras dari berbagai penjuru. Sekali dia melesat minggir, tangan yang pegang pedang teracung miring mencipta kanta bir sinar pedang, menyusup diantara bayangan telapak tangan lawan, batang pedangnya yang lencir panjang dengan leluasa menyelonong maju mengincar Hoan-bun, Siang-ki, Kiksti tiga Hiat-to besar, cepat lagi jitu, serangan pedang yang ganas sekali.

Melihat pedang lawan bergerak mengeluarkan suara mendengung seperti bunyi ribuan tawon, Liok Kiam-ping menghardik sekali, pukulan membalik, tubuh berputar, beruntun dia berpindah dua posisi, sekonyong-konyong menarik serangan sambil mendakpasang kuda-kuda terus memberondong dengan jurus Licng-kiap-sin-gan, serangannya berobah menjadi bayangan telapak tangan yang tak terhitung jumlahnya menyodok iga kiri lawan-

Pakaian ceng-san-biau-khek tampak berkibar, begitu serangan luput, pedang sudah ditarik mundur melindungi tubuh, cukup sigap memang perobahan permainannya, tak nyana begitu pedangnya mengiris miring, tahu-tahu gerakannya sudah terkunci oleh serangan lawan hingga pedangnya seperti tak mampu bergerak lagi. Sungguh tak terpikir bahwa gerakan lawan secepat ini, dalam gugupnya lekas dia mengkeret tubuh menarik telapak tangan kiri, tubuhnya setengah berputar, seluruh kekuatan dia kerahkan ditelapak tangan terus menepuk denganpukulan Hian-ping- ciang.

Hawa seketika menjadi dingin dengan desis suaranya yang mengeluarkan uap putih segulung kekuatan dingin kontan melanda kearah Liok Kiam-ping.

"Pyaaar." Dua kekuatan beradu ditengah udara, hawa dingin yang membekukan kontan terpencar cerai berai, kekuatan dahsyat bagai gugur gunung betul-betul membuat ceng-san-biau-khek mengerang tertahan, tubuhnya tergentak tujuh langkah.

Liok Kiam-ping menghardik keras, tubuhnya melejit tinggi tiga tombak ditengah udara tubuhnya melompatjauh kesana menyusuli dengan gempuran lebih dahsyat, hakikatnya dia tidak memberi peluang kepada musuh untuk mempersiapkan diri. Dua langkah kakinya beranjak ditengah udara, kedua tangan bersilang beruntun dia menjotos dua puluh satu pukulan, jalur-jalur angin kencang yang situ lebih keras dari yang lain, semua menggulung kearah ceng-sin-biau-khek.

Pakaian ceng-sin-biau-khek seperti ditiup angin badai, "Bret" jubah bagian dadanya tersampuk sobek sebagian besar, keadaannya sekarang tak ubahnya seperti berada di tengah kepungan pasukan berlaksa jumlahnya padahal dia itu hanya mampu bertahan dengan serangan balasan sejurus saja, yaitu membendung tenaga raksasa yang menindih dari atas. Kedua kakinya berdiri kokoh seperti berakar dibumi, pedangnya teracung miring keatas menyongsong pukulan telapak tangan lawan yang mengepruk turun.Jurus ini dinamakan Pat-kak- ham-sing (bintang dingin delapan sudut) salah satu jurus petilan dari ilmu Pak-hay-pay yang sakti, gerakannya kelihatannya sederhana, tapi didalamnya mengandung daya tahan dan serangan dengan perobahan yang sukar diraba, besar manfaatnya untuk membobol serangan tenaga ribuan kati. Bahwasanya keistimewaan ilmu yang diyakinkan ceng-san- biau-khek selama ini adalah Ginkang dan pukulan telapak tangan, kini dia menggunakan ilmu pedang yang tidak begitu dikuasainya melawan Wi-liong-ciang yang sudah diyakinkan sempurna oleh Liok Kiam-ping, jelas perbandingannya terlampau jauh dan tidak sebanding, adalah jamak kalau dia memperoleh kerugian besar.

Sayang kesempatan mendahului telah lenyap pula, karena terdesak oleh kekuatan tindihan lawan, terpaksa dia hanya bisa memperkokoh kedudukan sekuat tenaga menghadapi rangsakan musuh, sekali-kali dia tak berani berganti posisi atau menggeser kedudukan sehingga memperlemah pertahanan sendiri hingga termakan oleh gempuran lawan-

Bagai malaikat yang turun dari langit Liok Kiam-ping membentak sambil melontarkan pukulannya yang hebat, kekuatan pukulan yang dilontarkan dari telapak tangannya membikin sekujur tubuh ceng-san-biau-khek makin amblas kebumi, pedang ditangannya pun melengkung mengeluarkan dengung suara keras.

Secara gencar Liok Kiam-ping melontarkan tiga puluh pukulan ditengah udara, kaki ceng-san-biau-khek pun makin amblas kedalam bumi sampai menyentuh lutut.

Keringat tampak gemerobyos diwajahnya, sorot matanya yang panik dan tegang jelas kelihatan, maklum sebesar ini belum pernah merasakan betapa ngerinya seseorang menghadapi kematian, arwah seakan telah direnggut oleh elmaut. Dadanya sesak. darah mendidih, seluruh urat nadinya berdenyut keras, syarafnya seperti hampir pecah, sekuatnya dia telan kembali darah yang sudah menerjang keteng gorokan-

Tapi. akhir tiga puluh serangan Liok Kiam-ping, ceng-san- biau-khek pun tak kuasa bertahan lagi, darah menyembur sebanyak-banyaknya. Untunglah pada saat-saat kritis itu pula, hawa murni Liok Kiam-ping juga tak mampu diganti pula sehingga tubuhnya anjlok kebawah, begitu dia menarik napas panjang, tangannya sudah siap menggempur pula kearah ceng-san-biau-khek.

Begitu merasakan tindihan ribuan kati dari atas mengendor, ceng-san-biau-khek pun meronta sekuatnya seraya memekik keras, kedua lututnya tertekuk ketanah, dengan sisa tenaganya sekuatnya dia melontarkan serangannya lebih dulu, tapi tangannya gemetar dan berat sekali seperti diganduli barang ribuan kati, selebar mukanya merah padam.

Liok Kiam-ping sedang meluncur turun, tahu-tahu sinar gemerdep telah melandai, pedang panjang tajam beracun itu telah menggaris tiba, seketika timbul secercah cahaya benderang laksana pancaran sang surya yang cemerlang, cahaya gemerdep yang benderang itu betul-betul membuat matanya silau seperti ditabiri warna serba merah menyala, bayangan lawan pun lenyap ditelan tabir merah menyala itu, sehingga gerakan ceng-sanbiau-khekjuga tidak kelihatan-

Pada hal pikirannya masih jernih dan segar, dia tahu waktu itu sudah menjelang magrib, pancaran sinar surya tidak mungkin secemerlang ini, tabir merah itu sungguh amat menyakiti bola matanya tanpa kuasa dia memejam mata. Tapi pada detik-detik krisis itulah tiba-tiba terasa Thian toh-hiat dibagian lehernya seperti dituding ujung pedang yang runcing dingin, jaraknya tinggal beberapa dim saja hampir menyentuh kulit.

Mau tidak mau Kiam-ping kaget dan tersirap oleh perobahan yang tak terduga ini, hakikatnya dia tidak menyadari akan anceaman ujung pedang yang sudah mengincar tenggorokan ini. Untunglah pada saat-saat gawat itu mendadak didengarnya sebuah pekik peringatan: 'Hai lekas berkelit.' Itulah pekik suara perempuan yang penuh prihatin dan panik serta gugup,

Secara reflek tanpa pikir Liok Kiam-ping menggembor bagai guntur menggelegar, tubuh bagian atas secara reflek menj engkang mundur tiga dim, berbareng telapak- tangan kiri terangkat menyampuk sementara kelima jari tangan kanan menceng kram pula. Gerakkannya ini adalah jurus Liong-jit- cing-thian, jurus ketiga dari Wi- liong- ciang.

Baru sekali ini pula ceng-san-biau-khek melontarkan jurus Jit-lun-jut-seng ilmu pedang yang berhasil dia pelajari dari catatan yang terukir digagang pedang, mutiara sakti Liat-jit (matahari) yang terpasang diatas pedang memancarkan cahaya kemilau yang dapat membikin sila u pandangan mata lawan, begitu gaya pedang dilancarkan, selarik sinar pedang bergerak tenggorokan lawan akan menjadi sasaran tusukan pedang panas itu.