Hong Lui Bun Jilid 04

Jilid 04

Ruang besar itu menjadi sepi kecuali pelayan yang menggerutu membersihkan lantai membetulkan meja kursi yang porak poranda. Ping-ji orang terakhir yang meninggalkan ruang itu, sambil menghela napas dia melangkah kebelakang menuju kekamarnya.

"Engkoh cilik," sebuah suara berkumandang dibelakang, tunggu sebentar." Waktu Ping-ji berpaling dilihatnya laki-laki kampungan berdiri didepan pintu serta menggapai tangan kearahnya dengan wajah tersenyum ramah.

Sejenak Ping-ji berdiri tertegun, akhirnya dia melangkah menghampiri, laki-laki kampungan mundur sambil melebarkan pintu menyilakan Ping-ji masuk serta menutup daun pintunya.

Berada didalam rumah, hawa terasa hangat, ditengah ruang terdapat sebuah meja, dipinggir meja terdapat anglo yang sedang membara apinya.

"Silakan duduk engkoh cilik." Laki-laki kampungan menyilahkan duduk, sekedar basa basi Ping-ji lalu duduk dipinggir meja. Dengan sorot mata penuh tanda tanya dia pandang laki-laki kampungan, orang itu tersenyum lebar serta berkata pula: "Engkoh cilik, tahukah kau, apa maksudku mengundangmu kemari ?"

Ping-ji melongo, pikirnya: "Ada-ada saja pertanyaanmu, sebelum ini aku belum mengenalmu, mana tahu apa maksudmu mengundangku kemari ?" Tapi lahirnya dia bersikap wajar, sahutnya: "Sudah tentu Wanpwe tidak tahu harap Lopek (paman) sudi menjelaskan-"

Laki-laki kampungan muka kuning mengelus jenggot kambing dibawah dagunya, katanya gelak tertawa: "Ah. mana berani aku berlaku kurang hormat. Bukankah engkoh cilik she Liok?"

Ping-ji tertegun, pelan-pelan dia menggeleng.

Laki-laki kampungan itu ikut melongo, mulutnya mendesis: "Lalu... tolong tanya siapa she engkoh cilik ?"

Sekali pandang Ping-ji sudah yakin bahwa laki-laki kampungan muka kuning adalah seorang tokoh aneh yang menyembunyikan asal usul sendiri. beberapa kejadian didalam rumah tadi lebih meyakinkan bahwa dia seorang kosen yang lihay, maka dia maklum bahwa orang pasti punya sesuatu maksud sehingga mencari tahu asal usul dirinya, namun dia sendiri jadi bingung dan tak tahu bagaimana harus menjawab, padahal kejadian serupa sudah beberapa kali dia alami. Sebetulnya secara ngawur bisa dia menyebutkan she apa, namun melihat sorot mata orang begitu tulus dan betul-betul mengharap jawaban sejujurnya, karuan dia melenggong dan geleng-geleng kepala.

Melihat dia bimbang lalu geleng-geleng kepala, laki-laki muka kuning kira dia tidak mau memberi tahu, maka dia menghela napas kecewa, katanya rawan: "Terus terang saja engkoh cilik, Ditengah jalan raya tadi, begitu melihat kau aku sudah tahu bahwa kau membekal Kungfu tinggi, hawa sedingin itu kau hanya berpakaian tipis, maka aku melirik dua kali kepadamu, tapi sekilas pandang tadi terasa pula wajahmu seperti sudah amat kukenal, mirip sekali dengan seorang sahabatku she Liok diwaktu muda dulu, maka aku memberanikan diri mengundangmu kemari, ternyata dugaanku meleset... "

Kaget Ping-ji setelah mendengar penjelasannya, katanya gugup: ”jangan salah paham, terus terang, Wanpwe punya kesukaran pribadi yang tidak mungkin kujelaskan- jadi bukan tidak sudi memberi keterangan kepada paman- Bicara sejujurnya, Wanpwe sendiri sejauh ini tidak tahu riwayat hidupku... "

Bersinar bola mata taki-laki muka kuning, katanya: "o, jadi Lohu yang banyak curiga malah, harap engkoh cilik tidak kecil hati."

Lama dia melamun mengawasi bara yang menyala diatas tungku, setelah menarik napas panjang dia berkata pula dengan nada rawan: "Tigapuluh tahun yang lalu, Lohu pertama kali berkecimpung di kalangan Kangouw, dengan sebatang Kiu-coan-kim-pian (ruyung emas sembilan putaran) dan ilmu pukulan Le-hun-jiau (cakar pemisah sukma) aku diagulkan dengan julukan Thi-jiu-kim-pian (cakar besi ruyung emas), waktu itu diutara dan selatan sungai besar siapa tidak akan mengacung kan jempol setiap kali mendengar julukan Thia-jiau-kim-pian Sun-Bing-ci. "

Dia seperti tenggelam dalam kenangan lama, seperti menggumam pula mengisahkan masa lalunya kepada Ping-ji: "Tapi kala itu ada pula seorang jago muda yang bernama It- tio-liong Bu Kim menjagoi utara sungai konon usianya, masih muda, tapi pipa cangklongnya yang dia gunakan sebagai gaman ternyata memiliki permainan luar biasa, namanya sudah dikagumi dan diagulkan oleh kalangan orang-orang gagah. Maklum masih berdarah panas, Lohu lantas meluruk keutara menantang It-tio-liong (seekor naga). Maklum masih sama-sama muda, berdarah panas, karena tidak cocok dalam pembicaraan begitu ketemu kami lantas saling labrak. bertarung dengan seru: Boleh di kata kita ketemu lawan setanding, setelah bertempur tiga ratus jurus lebih tetap seri. Pertempuran berakhir pada jurus tiga ratus dua puluh, dengan Le-hun jiau aku berhasil mencomot pakaiannya dan meninggalkan lima jalur cakaran jariku didepan dadanya, tapi pipa cangklongnya juga berhasil mengetuk kepalaku sehingga abu rokoknya mengotori rambut kepalaku.

"Akhir pertempuran itu boleh dikata seri alias setanding, tiada pihak yang kalah, dari bertarung itulah timbul rasa simpati kami masing-masing, maka sejak itu kami terikat sebagai sahabat baik "

"Sejak kejadian itu, ke utara atau di selatan sungai besar, di mana ada jejakku, kesitu pula dia pergi, selama beberapa waktu kita tak pernah berpisah, dengan sebatang ruyung emas dan pipa cangklongnya, tidak sedikit kita membuat pahala besar bagi kaum yang tertindas .. " Seperti melupakan kehadiran Ping-ji saja Thia-jiau-kim-pian Sun Bing-ci meneruskan kisahnya, tapi pandangannya tetap terlongong kearah tungku yang masih menyala baranya "Pada suatu kesempatan yang kebetulan, aku bersama It-tio-liong menghadiri suatu pertemuan besar kaum Bulim di Ui-san, yang bergelar Swan-bong- it-kia m (pedang angin lesus Liok Hoat-liong betul-betul membuat aku dan It-tio- liong amat kagum, Waktu itu dengan sebatang pedangnya, beruntun dia menjatuhkan Kun-lun-sam-kiam dan jago-jago kosen dari Tiang-pek-pay yang terkenal dengan cap-ji-lian-hoan-kiam, sehingga dia di sanjung puji seluruh hadirin, ketambah sikapnya yang ramah dan sopan sehingga menarik perhatian banyak orang. Maka setelah pertemuan itu usai, aku dan It- tio- liong mencarinya, setelah bicara semalam, suntuk kita sama merasa cocok satu dengan yang lain, maka malam itu juga kita bertiga angkat saudara... "

Makin besar semangat Thi-jiau-kim-pian menceritakan kisah masa lalu, baru sekarang dia angkat kepala memandang Ping- ji, melihat sikap Ping-ji hambar dan bingung, seperti prihatin akan ceritanya, maka dia batuk-batuk lalu meneruskan kisahnya: "Karena usiaku paling tua maka aku sebagai Toako, Swan-bong-it-kiam genap berusia dua puluh, paling muda, jadi sebagai Losam. Seperti harimau tumbuh sayap saja, kami bertiga malang melintang di kalangan Kangouw mendarma baktikan diri untuk insan persilatan-.. "

Mendengar kisah Swan-bong-it-kiam Liok Hoat-liong, hati Ping-ji sudah tidak karuan rasanya, batinnya: "Siapakah Liok hoat- liong itu ? Apakah ada hubungan dengan aku sehingga tadi dia tanya apakah aku she Liok? Liok Hoat-liong... Liok Hoat-liong.. .” Meski hatinya gundah, namun dia diam saja mendengarkan kisah Thi-jiau-kim-pian-

"Kira- kira lima tahun kemudian, Liok-laote kita itu sudah menikah. isterinya bernama Bun Wi-lan, putri tunggal Lui- tang-ban-li Bun Gan-pek Bun-loyacu, pesta pernikahannya boleh di kata menggemparkan dunia persilatan, karena mempelai laki-laki adalah Swan-bong-it-kiam Liok Hoat-liong yang gagah dan cakap, sementara isterinya adalah putri kesayangan sesepuh persilatan yang cantik, cerdik dan anggun-

"Masih segar dalam ingatanku, pada malam pengantennya itu, aku dan Bu Kim secara diam-diam menyeret Liok-laote kesebuah warung arak yang letaknya tiga puluh li dari rumahnya, maklum selanjutnya dia akan bebas dari perserikatan kita bertiga sebagai perjaka, oh ya, hampir lupa aku memberitahu kepadamu, waktu itu aku dan it-tio-liong belum menikah. Pada hal Liok-laote sudah mabuk. tapi dia masih memeluk guci arak. dengan air mata bercucuran dia bilang tidak mau menikah... hahaha."

---ooo0dw0ooo---

Seolah-olah dia berada dalam pesta perjamuan di masa lampau dulu, wajahnya yang semula kuning tampak merah menyala penuh semangat, sorot matanyapun mencorong terang. "Selamanya takkan pernah terlupakan olehku, betapa senang dan gembira hati kami, bahwasanya Liok-laote sudah lupa bahwa malam itu adalah malam pertama pernikahannya, kami juga berlaku egois tetap menahannya sehingga dia tidak bisa pulang, entah sudah berapa guci arak kita habiskan bersama, tapi kami masing-masing tetap memeluk satu guci, pada hal arak yang wangi dan keras telah membakar kerongkongan, tapi kami seperti kuatir selanjutnya takkan punya kesempatan berbincang-bincang lagi, seperti berlomba saja kita terus mgomong panjang- lebar, bicara tentang pengalaman kita bertiga dan banyak lain-.. entah berapa lama kami ngomong, tiba giliran Liok-laote mengisahkan pengalamannya betapa dengan sebelah tangannya dia membelah roboh Tiam-jong-it-koay, ternyata telapak tangannya menabok batok kepalaku. "Pada hal aku sendiri juga sedang membual tentang pengalamanku seorang diri berhasil menggenjot mampus Hek- cui-sin-kiau, tinjuku telak menggasak perutnya. Sehingga meja terbalik hidangan berantakan, Liok-laote juga tumpah-tumpah mengotori seluruh badanku. Pada saat yang sama It-tio-liong juga membual bagaimana dengan sepasang tinjunya berhasil menundukkan Soat-san-siang-koay, saking senang dan bangga kedua tangannya menindih.

'Maka kepalaku dan kepala Liok-laote diadunya, kami bertiga sama-sama roboh terjungkal, It-tio- liong malah menindih diatas kami berdua .Jikalau pelayan tidak membangunkan aku, entah sampai kapan aku akan lelap dalam buaian mimpi, tapi waktu aku bangun sudah hari kedua menjelang lohor.

"Betapapun takkan kulupakan, waktu dia siuman, It-tio- liong masih menggeros, kepalanya tertutup panci, sisa kuah yang terisi didalam baskom berbunyi kelutukan setiap kali napasnya keluar masuk. Demikian pula Liok-laote yang jadi penganten juga nyenyak memeluk nampan, paha ayam masih terkulum dalam mulutnya, waktu aku memukulnya bangun, mulutnya masih mengigau minta cium, apapun tidak mau bangun-.. kejadian itu sungguh amat menyenangkan, lucu dan kocak."

Sampai di sini wajahnya yang semula berseri berobah makin buram, mata berkaca-kaca dan suaranyapun serak:"... sejak hari itu kamipun berpisah. Seorang saudara sepupuku yang berdagang kulit ternak diluar perbatasan terbunuh oleh sekawanan perampok setelah barang-barangnya dirampas. begitu mendengar berita buruk ini aku segera menyusul keluar perbatasan, setelah aku berhasil menuntut balas, itu sudah tiga tahun kemudian aku membawa sepasang putra putri saudara sepupuku, yaitu muda mudi yang kau lihat tadi, kembali ke sini.' Baru sekarang Ping-ji tahu bahwa nona berkuncir dan pemuda tanggung itu ternyata adalah keponakan laki-laki kampungan muka kuning berjuluk Thia-jiau-kim-pian ini.

Dengan suara serak Thia-jiau-kim-pian meneruskan kisahnya: 'Tapi sejak itu aku putus hubungan dengan Swan- hong-it-kiam. Di San-say, dari seorang teman aku mendengar, sejak aku berada diluar perbatasan, It tio-liong pernah bertanding dengan seorang gembong iblis yang datang dari luar perbatasan dan kalah satu jurus, sesuai perjanjian, setelah kalah dia mengundurkan diri selanjutnya tidak akan mempelajari ilmu silat lagi, maka waktu aku menyusulnya kemari, ternyata dia sudah membuka rumah makan Eng- hiong-kip ini, dengan rasa sedih kami berbincang tentang pengalaman hidup sejak berpisah... kusinggung tentang berita Swan-hong-it-kiam, ternyata Bu-jite tidak tahu menahu jejaknya, cuma setahun setelah aku keluar perbatasan, katanya mereka pernah bertemu sekali, katanya Liok-laote amat lesu dan patah semangat. tutur katanya tidak seriang dan segagah dulu, sejak berpisah tak pernah mendengar kabar beritanya pula...

Mendengar kisah suka duka masa lalu orang tua ini, Ping-ji ikut merasakan betapa riang gembira dan pahit getir kehidupan mereka. Tapi kehidupan didunia ini memang tidak abadi, kalau dulu mereka hidup senang namun sekarang mereka sama menghadapi nasib hidup sendiri-sendiri. Terhadap It-tio-liong yang sekarang jadi pemilik Eng-hiong-kip ini, diam-diam diapun merasa kagum dan simpati terhadap nasib hidupnya.

"Maka aku pulang kekampung halaman membawa kedua keponakanku di ouw-lam, di sana aku mencari suatu tempat yang aman dan dan mengasingkan diri..." Demikian laki-laki muka kuning meneruskan kisahnya. " karena pengalaman masa lalu yang menyedihkan sungguh terlalu dalam menggores sanubariku dan saudara sepupuku itu mati karena dia pandai main silat, maka saking putus asa, aku tidak pernah menyinggung ilmu silat kepada kedua keponakanku, akupun larang mereka belajar silat. kami hidup bercocok tanam, semula aku sudah berpendirian biar hidup tentram sebagai petani sampai mati, biarlah kedua keponakanku menjadi manusia awam yang hidup bersahaja, bebas dari keruwetan hidup insan persilatan."

Sampai disini dia menambah arang diatas tungku sehingga api meletik, lekas sekali bara api menyala makin mencorong sehingga wajahnya yang kekuningan tampak berminyak mengkilap. sorot matanya seperti memancarkan cahaya aneh, suaranya terdengar berat: "Tapi urusan justeru tidak semudah yang kuidamkan. Tidak lama setelah aku hidup tentram, kudengar berita yang tersiar luas di Kangouw bahwa pihak Hwe-hun-bun telah menyebar "Twe-hun-leng memerintahkan semua anggota Hwe-hun-bun untuk mencari jejak Swan-hong- it-kiam Liok Hoat liong, karena Swan-hong-it-kiam Liok Hoat- liong membunuh Biat-biau-kiam-khek Leng Pwe-kiat putra kesayangan Hwe-hun-cun-cia. ciangbunjin Hwe-hun-bun, maka hatiku yang semula sudah tentram mulai bergolak pula, buru-buru aku membereskan keperluan anak-anak terus menemui It-tio-liong tapi It-tio- liong juga tidak tahu duduk persoalannya... "

Kembali tergerak hati Ping-ji waktu mendengar Hwe-hun- bun, pikirnya: "Bukankah laki-laki kekar tadijuga bilang dirinya ada hubungan dengan Hwe-hun-bun ?"

Karena Thia-jiu-kim-pian meneruskan ceriteranya, maka dia pun tidak menyela: "Aku sibuk mencari berita dari berbagai pihak. namun hasilnya nihil, sementara Hwe-hun-bun sendiri juga gagal menemukan jejak Swan-bong-it-kiam, entah Liok Hoat-liong sembunyi dimana, karena dirumah masih ada urusan, terpaksa aku kembali ke ouw-lam. Sejak itu, tak pernah aku mendengar berita Liok-laote lagi. "Tapi suatu hari, kejadian kira-kira tahun lalu dimusim dingin menjelang lohor, untuk menyambut tahun baru, aku perlu kekota Tiang-san membeli barang-barang keperluan- Dijalan raya aku bertemu dengan seorang perempuan setengah baya dengan pakaian kotor koyak-koyak, lengannya buntung sebelah dan bicaranya tidak genah, langkahnya gentayangan, mulutnya yang mengoceh tidak berhenti menimbulkan perhatian serombongan anak-anak nakal yang menggodanya karena ingin tahu segera aku menghampiri setelah dekat baru kukenali, perempuan ini bukan lain adalah isteri Liok-loate yang tak karuan kabar beritanya yaitu Bun Wi- lan-.. '

Waktu mendengar Thia-jiu-kim-pia n mengatakan perempuan buntung lengannya, darah terasa mendidih didada Ping-ji, mata mendelik, dengan tangan gemetar dia pegang pergelangan tangan Thi-jiau-kim-pian, tanyanya gugup: 'Apakah perempuan buntung lengan kiri, ada sepasang lesung pipit dikedua pipinya, berusia empat puluhan?'

Bercahaya bola mata Thi-jiau-kim-pian- Dilihatnya mata Ping-ji terbelalak. Berkaca-kaca menatapnya penuh harap. karuan sesaat diapun tertegun, akhirnya dia manggut dan bertanya heran: 'Kau... dari mana kau tahu ? Dimana kau pernah melihatnya ?'

Pecah tangis Ping-ji, air mata bercucuran, rasa duka tak terbendung lagi sehingga dia menangis gerung-gerung. Thi- jiau-kim-pian jadi diam saja membiarkan dia menangis sampai puas dan reda baru tanya duduk persoalannya. Dengan menekan rasa duka, maka Ping-ji ceritakan riwayat hidupnya, bagaimana sejak kecil dia hidup di Kui-hun-ceng, belakangan karena disiksa oleh Ti Thian-bin dia minggat dari kampung halamannya, terus diceritakan sampai sekarang dirinya berada di hotel ini.

Akhirnya mereka berpandangan menghela napas panjang bersama. Tanpa mereka sadari cuaca yang semula gelap kini sudah benderang, sinar mentari telah menerobos dari celah- celah jendela, diluar sadar mereka hari sudah terang tanah.

Menyongsong datangnya sang fajar Ping-ji mondar mandir di pekarangan, cahaya mentari makin panas, salju yang bergantungan dipucuk pohon mulai lumer dan menetes jadi air, Ping-ji tidak pedulikan pakaian, rambut dan sepatunya basah, dengan menggendong kedua tangan dia terus jalan bolak balik, otaknya terus bekerja: " Dalam usiaku yang delapan belas ini, aku sudah kenyang menghadapi ujian hidup, diriku sudah tergembleng seumpama otot kawat tulang besi. Ada kalanya keadaanku sudah mirip rumput kering yang terinjak roboh, tapi syukurlah aku masih tetap kuat bertahan dan berdiri pula. Seperti juga kembang sakura ini, meski di musim dingin dia tetap bertahan kokoh dan berkembang semerbak kuharap akupun akan sekokoh kembang sakura, mengembangkan kekuatan kedua tanganku, menyambut ujian, derita hidup yang bakal kuhadapi pula... " Sambil menunduk dia seka air yang menetes dijidatnya serta melangkah beberapa tindak seperti apa yang di katakan paman Sun apa yang harus kucari sudah jelang, sudah pergi dan tak mungkin kugapai pula, syukurlah aku dapat menemukan paman Sun, saudara angkat paling dekat orang tuaku, di bawah bimbingan dan asuhannya, aku akan memperoleh tumpuan cinta kasih seperti rumput yang mendapat rabuk sehingga dia mendapat tunjangan hidup melawan derita, dendam kesumat orang tua tidak boleh kulupakan, tugas berat masih harus kupikul, merebut balik Wi- liong-pit-sin dan menegakkan kembali kejayaan Hong- lui- bun-..

Tanpa terasa dia merogoh keluar Hiat-liong-ling yang tergantung dilehernya, dengan mendelong ia awasi garis naga yang membuka mulut mengulur cakar, didalam mainan kalungnya itu, mulutnya kembali menggumam: "Tugas berat ini harus kuat kupikul, Hong-lui-bun akan kudirikan dan kutegakkan bagai kilat menyamber guntur menggelegar menyapu jagat menjagoi Bulim, akan kubuat mereka tahu bahwa dikalangan Kangouw telah muncul seorang jago bernama Liok Kiam-ping.

"Tapi hal ini akan terlaksana bila aku berhasil merebut Wi- liong-pit-sin. Ya, aku harus selekasnya menemukan Wi-liong- pit-sin lebih dulu." Setelah mengebas lengan baju, langsung dia beranjak kedalam kamar tidurnya.

---ooo0dw0ooo---

Hari masih pagi, setelah ganti pakaian Ping-ji beranjak keluar menyusuri jalan raya yang penuh sesak.

Lok-yang pernah menjadi ibu kota dari beberapa dynasti kerajaan dulu, maka kota ini cakup makmur, taraf kehidupan penduduk cukup baik, deretan gedung-gedung sepanjang jalan raya yang beralas balok-balok batu ini cukup mewah dan megah, bangunannya serba kuno dan mentereng lagi, Lokyang merupakan pusat perdagangan pula, maka begitu fajar menyingsing, kaum pedagang sudah sibuk bekerja mencari nafkah dan keuntungan sebanyak mungkin, ada jamak kalau lalu lintaspun ramai berlalu lalang.

Mengikuti arus lalu lintas yang padat dijalan raya Liok Kiam-ping Pendekar muda kita ini berjalan kedepan tanpa tujuan. Meski sebesar ini tapi Kiam-ping sudah biasa hidup menderita dalam kemiskinan, berada di kota makmur seramai ini, matanya jadi jelilatan tak ubahnya orang desa masuk kota segala sesuatu menjadi perhatiannya, begitulah sambil berlenggang, mirip orang pelancongan saja, dia terus berjalan kedepan sambil celingukan kekanan kiri.

Tiba-tiba dirasakan ada orang menginjak kakinya, begitu dia menoleh, tampak seorang laki-laki setengah umur bertopi kain berdandan mirip Busu tengah menoleh juga kearahnya sambil mengangguk dan tersenyum minta maaf, Kiam-ping pikir, mungkin orang tahu salah menginjak kakinya, maka diapun tidak ambil peduli.

Kiam-ping masih meneruskan perjalanannya ditengah kerumunan orang-orang yang simpang siur. Tiba-tiba diapun merasakan dirinya menginjak sesuatu, keadaan cukup dimakluminya maka dia tidak sempat menunduk. karena dia tahu tanpa sengaja diapun menginjak kaki orang. lekas dia berpaling, didapatinya seorang pemuda berdandan pekerja tengah tersenyum ramah kepadanya, Liok Kiam-ping tersenyum sambil mengangguk. Mendadak arus manusia berdesakan dari arah belakang, pemuda itu ditumbuk dari belakang hingga menerjang kedepan dan keduanya kembali bertubrukan, tanpa berjanji mereka saling minta maaf.

Tanpa sengaja waktu Liok Kiam-ping berpaling, didapatinya tidak jauh diantara kerumunan orang banyak yang simpang siur, ada sepasang mata tajam tengah memperhatikan dirinya, waktu dia menegasi. kiranya laki-laki setengah umur yang tadi menginjak kakinya, tampak tulang pipinya menonjol sepasang matanya seperti mata burung elang, memancarkan sinar terang.

Bimbang dan curiga Kiam-ping dibuatnya, pelan-pelan dia memutar kepala tiba-tiba dilihatnya tak jauh dibelakang laki- laki setengah umur itu berdiri pula seorang Hwesio kurus yang ngantuk, orang banyak berdesakan sehingga dia tidak sempat perhatikan dandanannya, tapi kepalanya yang gundul kelihatan kelimis mengkilap. tapi kepalanya tumbuh banyak borok yang bernanah. Hwesio ini kelihatannya Jenaka, matanya kelihatan seperti beberapa hari tidak tidur, hidungnya besar, dengan cengar cengir Hweslo itu meram melek memperlihatkan muka jeleknya seperti sengaja menggoda dirinya.

Liok Kiam-ping tidak tahu, gaya lucunya itu ditujukan kepada siapa, maka dia hanya manggut beberapa kali terus melengos kearah lain, kebetulan arus manusia berdesakan pula makin padat, maka dia tidak ambil perduli kepada kedua orang itu, semula dia kira laki-laki setengah umur dengan hwesio kudisan itu sehaluan, tetapi beberapa langkah kemudian, waktu dia menoleh pula, kedua orang itu sudah tidak kelihatan- Dengan perasaan was-was lekas Kiam-ping mendesak keluar dari arus orang banyak membelok kesebuah gang kecil, diujung gang berdekatan dengan jalan raya terdapat sebuah restoran kecil berloteng, kain panjang yang bergantung diatas tinggi bertuliskan cong-goan-lau tiga huruf besar warna merah.

Seorang pelayan berdiri dimuka rumah sedang tarik suara menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang supaya mampir sarapan pagi, dipujikan masakan lezat dari koki ternama dengan sajian- arak tulen paling harum.

Pagi ini Liok Kiam-ping memang belum sarapan, perut lagi lapar, maka tanpa pikir segera dia melangkah masuk. pelayan segera menyambut mencarikan meja diatas loteng tingkat kedua. Diatas loteng ada delapan meja, jendela berkaca, keadaan rapi bersih. dibagian luar dibawah jendela yang mengarah kejalan raya dipetak menjadi beberapa bilik ditutupi gordyn- Kiam-ping menempati salah satu bilik serta memesan beberapa masakan, Gordyn disingkap kesamping.

Sambil menunggu masakan yang dipesan Liok Kiam-ping mencicipi secangkir arak yang disuguhkan, arak yang masih hangat, rasanya memang harum dan sedap. tanpa sadar dia memuji: "Arak bagus."

Tiba-tiba didengarnya suara seorang menggerutu: "Maknya, kurcaci itu memang pantas mampus, siapa bilang tidak bagus, goblok, sontoloyo, arak simpanan beberapa tahun begini kok tidak bagus, cek. cek cek aduh wanginya, maknya." Suara orang ini tidak begitu genah, agaknya mulutnya sedang mengulum sesuatu hingga bicaranya kurang lancar.

Liok Kiam-ping kaget mendengar suara gerutu ini, dengan tangan dia menyingkap gordyn dan melongok keluar, dilihatnya beberapa meja dibagian ruang tengah duduk beberapa orang tamu, mereka sedang sibuk makan sarapan yang dipesannya, jelas mereka tidak pernah bicara, maka dengan curiga dia mengamati sekelilingnya.

"Maknya, maling cilik ini langak-longok entah mencari apa, awak sendiri terancam bahaya masih perhatikan orang lain, memangnya mengincar panggang bebekku ini" Aduh mak. panggang bebekku bisa terbang, hanya kaulah jiwa hidupku, jangan pergi, maknya.”

Kain gordyn dlseberang kebetulan tersingkap oleh hembusan angin lalu, mata Kiam-ping cukup tajam, sekilas dilihatnya seorang Hwesio kurus dengan kepala kelimis penuh borok bernanah tengah meringkuk memeluk guci arak. jubahnya yang kotor terbuat sari kain blaco banyak tambalan lagi, diatas meja bertumpuk beberapa guci kosong, meja didepannya juga penuh piring mangkok yang terbalik, jelas hidangan semeja penuh itu terus dikuras bersih kedalam perutnya .

Tampak oleh Liok Kiam-ping hwesio itu sudah mendengkur memeluk guci tengkurap dimeja, sekerat tulang ayam masih terkulum dalam mulutnya, seiring dengan dengkurnya, tulang ayam itu keluar masuk mulut nya. Kiam-ping geli, geleng- geleng kepala, kebetulan gordyn tersingkap pula, dilihatnya muka si Hwesio berkerut-kerut, seperti tertawa tidak tertawa tulang pipinya seperti lebih menonjol lagi, Sambil menggeros mulutnya mengigau pula: "Maknya. jaman memang sudah terbalik, orang tidurpun tidak bisa tenteram lagi, maknya, aku toh bukan penganten, kepala gundulku memang bercambang, tapi mukaku sudah kisut, apanya yang bagus dipandang, memang seperti kepala gundulku ini menjadi malu rasanya, kalau bisa aku ingin sembunyi kedalam guci saja... aduh mak."

Merah muka Kiam-ping, waktu dia berpaling, beberapa tamu dimeja lain agaknya ketarik juga oleh omelan si Hweslo, semua  menoleh  kearah  sana,  maka  Kiam-ping  membatin: "Hwesio lusuh ini pasti seorang kosen aneh, jangan kira dia memejam mata, tapi segala gerak-gerik diriku ternyata tidak lepas dari pengamatannya."

Tengah dia menepekur, tiba-tiba didengarnya dibawah loteng ada suara ribut, tamu-tamu diatas loteng sama kaget, yang duduk dipinggir jendela sama melongok kebawah, ada pula yang berlari kebawah. Kiam-ping juga melongok kebawah lewat jendela.

Tampak seorang pengemis cilik dengan pakaian rombeng berdiri dekat pintu, usianya sekitar lima belasan. Seorang laki- laki gendut berdandan ciangkui tampak berdiri tolak pinggang sedang memaki: "Pengemis mampus, kenapa kau tidak berkaca dengan air kencingmu, dengan tampang dan dandananmu berani masuk ke restoranku. Bah. ayoh enyah, jangan mengotori permadaniku yang mahal ini."

Pengemis itu bermuka kuning pucat, agaknya kurang makan tidak cukup vitamin, perawakannya juga terlalu kecil, jelas pertumbuhannya kurang normal tidak sepadan dengan usianya, mukanya berlepotan lumpur dan hangus, tapi gerak- geriknya ternyata lincah dan cekatan, meski dimaki dia tetap tenang-tenang malah membuat muka setan meledek si ciangkui, secara tak acuh dia menggentak-gentak kaki, sehingga lumpur yang melekat disepatu bututnya rontok mengotori lantai marmer yang bersih mengkilap.

Karuan ciangkui makin gusar, tubuhnya yang gendut tampak gemetar menahan amarah namun melihat tamu tamu melongok kearahnya, kuatir membuat takut para tamu dan merugikan dagangan sendiri ciangkui tidak berani bertindak kasar, lekas dia masuk mengambil tiga biji bakpao, dengan rasa berat dia sodorkan tiga bakpao itu sambil memaki: "Maknya, bajingan tengik pengemis sebal, bakpao buatan restoran kami bukan saja enak juga mahal, anggaplah aku yang sial hari ini harus kehilangan duit bakpao ini. Hayo ambil dan lekas enyah, supaya tuan-tuan tamu tidak muak melihat tampangmu."

Pengemis cilik menjengkit bibir, tangannya diulur menerima dengan sikap tak acuh bakpao yang diberikan si ciangkui.

"Aduh, maknya, sudah diberi bakpao masih mengotori dan menyakiti tangan tuan besarmu. cuh, kurang ajar, pengemis mau mampus." Ternyata waktu menerima bakpao sipengemis sengaja mencakar dengan jari-jarinya yang kotor dipunggung tangan si ciangkui hingga meninggalkan bekas jalur merah.

Saking gusar sambil membanting kaki hampir saja dia terpeleset jatuh.

Liok Kiam-ping tertawa geli, baru saja dia menyingkap gordyn, dan mau melangkah kebawah loteng, tiba-tiba didengarnya suara gerutu tadi: "Maknya, arak bagus, arak bagus, sungguh sedap dan nikmat. Ai, uruslah dirimu sendiri, jangan hiraukan persoalan orang lain, salah-salah bisa celaka nanti. Maknya, kenapa perutku keroncongan lagi.""

Waktu Liok Kiam-ping berpaling, gordyn diseberang tersingkap lebar menyangkut di atas meja persegi, diatas meja tahu-tahu bertambah pula sebuah guci, Hwesio kurus itu tengah duduk tegak sambil memeluk guci menuang arak kedalam mulut, sebelah tangan masih memegang paha bebek panggang, piring mangkok yang kosong tadi sudah tersingkir kesamping, sementara hidangan baru berserakan pula didepan mejanya.

Karuan Liok Kiam-ping melongo, batinnya: ”Darimana dia memperoleh hidangan sebanyak itu, seakan akan tiada habis- habisnya, dia gegares masakan-masakan lezat di restoran ini?" Tapi waktu dia menoleh keluar, seketika dia tertawa geli di tahan-tahan, ternyata hidangan orang lain yang tamu- tamunya berlari turuh kebawah melihat keributan sekarang sudah disikatnya semua. Didengarnya Hwesio itu mengoceh pula: "Makanya, bocah bodoh jangan heran, kitakan gegares dengan gratis tapi bapakmu ini tetap yang rugi. Nah, biarlah kuberi bagian kepadamu. cuh." Daging paha ayam yang terkulum dimulutnya tiba-tiba disembur keluar. Tangan kanan diulur mencopot sepatu dengan telapak sepatu kotornya itu dia menyeka mulut, lalu dengan jari-jarinya yang berminyak dia garuk-garuk jari-jari kakinya yang gatal, bau kurang sedap segera merangsang hidung. Hampir saja Liok Kiam-ping muntah saking mual, tapi dilihatnya Hwesio itu kelihatan nyaman dan kenikmatan, mulutnya tertawa lebar, akhirnya dia angkat tangannya yang dibuat menggaruk jari-jari kakinya terus dicium sekeras-kerasnya entah karena gatal lekas jari- jari tangan berminyak itu menggaruk pula kepala gundul yang berbungah borok-borok bernanah, mulutnya berceloteh pula: "Aduh mak, nikmat sekali."

Sambil mengoceh lekas dia angkat pula guci arak terus dituang kedalam mulut.

Karuan Liok Kiam-ping berdiri terbelalak. karena dengan jelas dia mengikuti segala gerak gerik si Hweslo, waktu tangannya menggaruk kepala, kotoran borok dan sindap kepalanya sama rontok dan berjatuhan kedalam guci araknya. Karuan Liok Kiam-ping merinding dan jijik.

"Pengemis keparat, ingin mampus kau, biar kuhajar kau." Suara ciangkui yang mencak-mencak makin keras dibawah loteng, maka terdengar pula suara salak anjing. Lekas Kiam- ping putar badan melongok kebawah, dilihatnya ciangkui sedang menuding dan memaki kepada pengemis cilik. Lekas dia beranjak.

Waktu itu pengemis cilik masih pegang bakpao dan sedang bermain-main dengan seekor anjing buduk. mulutnya berkaok-kaok:

”Hayolah sayang, lekas makan, biar lekas gemuk." Sembari bicara dia melempar secuil bakpao keudara, anjing buduk kecil itu menyalak terus melompat menyambar bakpao itu serta di kunyah dengan lahap. ekornya bergoyang-goyang kesenangan-

Sudah diberi bakpao tidak mau pergi mengabaikan peringatannya pula, karuan si ciangkui murka seperti kebakaran jenggot, sambil menggerung dia angkat tinjunya sambil memburu hendak menjatuhkan bogem mentah diatas kepala si pengemis.

Mendadak ada menepuk pundak serta berseru: "Sabar."

Waktu dia menoleh, ternyata pemuda baju putih yang duduk dimeja kelas satu diatas loteng, segera dia turunkan tangan serta menjura dengan muka berseri: "oh, kau tuan, maaf bikin kaget kau saja."

”Hm, tidak apa-apa semua kerugianmu boleh hitung dalam rekeningku, jangan kau membuat keributan lagi dengan engkoh cilik ini." Demikian ujar Liok Kiam-ping. "Ah, mana, mana, sungguh kurang enak. kenapa tuan yang harus merogoh kantong. Dengan sikap munafik si ciangkui munduk- munduk.

Liok Kiam-ping ulapkan tangan lalu berkata sambil menjura kepada pengemis cilik itu: "Saudara ini, kalau mau boleh silahkan masuk makan minum bersamaku, bagaimana"

Bahwa Liok Kiam-ping melerai sehingga keributan tidak makin besar, sudah tentu si ciangkui menjadi rikuh sendiri, tak tahunya Liok Kiam-ping malah undang pengemis kotor itu kedalam restoran, karuan dia berdiri terbeliak. dengan wajah cemberut dia awasi sepatu si pengemis yang berlumpur.

Dengan tak acuh dan lirikan hina si pengemis melirik kepada si ciangkui, lalu katanya tertawa kepada Liok Kiam ping: "Apa betul ? Kau mau teraktir aku makan minum ?'

Melihat orang tertawa seketika Liok Kiam-ping tertegun, meski mukanya kotor, tapi gigi pengemis cilik ini ternyata putih rata, kalau tertawa wajahnya kelihatan molek, maka dia tersipu-sipu menjawab: "Betul, kalau kau sudi dan aku mendapat kehormatan-"

Sejak kecil kiam-ping alias Ping ji sudah kenyang dihina dan menderita, di waktu berkelana di kangouw diapun sudah sering di hina dan di caci maki, maka dia sudah meresap bagaimana keadaan orang yang dipandang rendah dan diabaikan orang lain, tapi belum pernah dia menyerah pada keadaan, maka dikala dia melihat pengemis cilik ini ternyata bersikap tak acuh dan tidak rendah diri meski dicaci dan di hina, wataknya mirip dirinya, hatinya amat kagum dan terkesan pada pengemis cilik ini, sehingga dengan rendah hati dia mengundangnya makan minum bersama.

Sudah tentu ciangkui gendut itu yang gugup, katanya munduk sambil bersungut "Tuan ini harap. "

Liok Kiam-ping berpaling sambil mengerut alis, katanya "Apa pula yang kau ributkan, lekaslah siapkan hidangannya. "Lalu dia silakan pengemis cilik, "hayolah saudara, silakan masuk."

Pengemis cilik manggut2, kembali dia tertawa manis, setelah tepuk2 tangan membersihkan tangan membetulkan pakaian segera dia beranjak masuk dengan langkah lebar.

Bahwa pemuda baju putih berperawakan gagah ini ternyata berlaku hormat kepada pegemis dekil ini, karuan si ciangkui penasaan dan mewek2, tapi dia tidak berani bertingkah lagi, dengan langkah gedebukan dia mengintil dibelakang.

Liok Kiam-ping iringi pengemis cilik naik keloteng, dia silakan pengemis cilik memilih tempat duduknya dulu, lalu dia duduk dan berkata: "saudara ingin masakan apa boleh silakan pesan saja, tidak usah rikuh."

Jelilatan bola mata si pengemis cilik, tanyanya: "Apa betul kau suruh aku memesan apa saja yang kuinginkan ?" "Betul, boleh kaupesan apa saja yang kau inginkan- Hai, pelayan dengarkan dan catat apa yang dipesan Kongcu ini"

Pelayan jadi geli karena Liok Kiam ping membahasakan Kongcu kepada pengemis cilik ini, dengan menggiakan dia menekap mulut.

Pengemis cilik kontan melerok. dengusnya: "Apa yang kau tertawakan, menghina aku ya. Memangnya kau kira aku tidak sesuai makan direstoran ini." "

Pelayan tidak berani tertawa lagi, tapi dia tidak mau kalah, katanya: "Asal tuan bisa menyebutkan apa yang ingin kaupesan, restoran kami tanggung bisa menyediakan-

"Baik, Dengarkan, siapkan empat porsi itik mandarin digoreng telor, daging kelinci saos brambang, telapak biruang masak jahe dan kuah lidah ayam." Sipengemis cilik menoleh kearah Kiam-ping tersenyum bangga.

Ternyata pelayan berdiri gemetar dengan muka meringis kecut, matanya terbelalak bingung. Padahal Liok Kiam ping pernah menjadi pembantu di restoran di waktu berkelana, belum pernah dia mendengar nama-nama masakan seperti yang di pesan pengemis cilik ini,

Melihat mimik pelayan hatinyapun geli, dia tahu bahwa koki restoran pasti takkan mampu menyiapkan pesanan ini, maka segera dia berkata: "Pergilah sampaikan kepada ciangkui, sedapat mungkin, usahakanapa yang dipesan, masa kota sebesar ini tak mampu membeli bahan-bahan yang diperlukan itu."

Lalu Kiam-ping membujuk sipengemis, ”saudara tunggu saja dengan sabar. Silahkan minum."

Tengah mereka bicara, atas dan bawah restoran ini tiba- tiba sama geger, para tamu berteriak-teriak heran dan marah- marah, seorang tamu diatas loteng mengumpat: "Maknya, ciangkui, hai pelayan, kemana hidanganku yang dimeja tadi." ”Brak” tiba-tiba seorang lagi menggebrak meja serta memaki:

"Kuntilanak. ciangkui keparat, mana udang basah dan ayam gorengku, kenapa lenyap?"

Ternyata setelah keributan dibawah usai, para tamu yang melihat keramaian ini putar balik kemeja masing-masing, ternyata masakan yang mereka pesan telah lenyap tanpa karuan paran, maka beramai-ramai mereka berkaok-kaok hingga disana sini terjadi keributan pula..

Suara berat berkumandang ditang galoteng, ciangkui memburu naik keatas dengan napas ngos-ngosan, dengan muka cemberut dia berteriak: "Aduh mak. celaka aku

..habislah sudah."

Kedatangannya amat kebetulan bagi tamu-tamu yang kehilangan hidangan diatas loteng, seorang tamu kepala gede dekat tangga segera menjambret bajunya serta membentak:

"Kebetulan kau kemari ciangkui keparat, coba jawab, mana hidangan semeja yang kupesan tadi?"

Ciangkui mengerling kemeja, dilihatnya piring mangkok telah kosong sisa kuahnya saja sedikit, sekilas melongo segera dia membentak: "Lho, bukankah sudah... sudah habis kau makan-"

"Kepalamu botak." Maki tamu kepala besar sambil mengetuk batok kepala ciangkui "Setan alas, tadi masih ada setengah ayam panggang, dua hati-ampla, sepoci arak. hanya kutinggal sebentar melihat keributan dibawah eh tahu-tahu terbang tak karuan paran, kau pemi1ik restoran masih pura- pura pikun, maknya, memangnya restoranmu ini gelap ?

"Betul. Hajar saja, ganyang ciangkui." Tamu-tamu yang penasaran merubung maju main jotos dan tinju Karuan ciangkui menjerit-jerit minta tolong seperti babi hendak disembelih. Liok Kiam-ping tidak tega, lekas dia maju melerai, waktu naik ke loteng tadi, ciangkui juga sudah sesambatan, maka segera dia keluar dan bertanya: "Ada apa ciangkui”

Melihat Liok Kiam-ping seperti mendapat pertolongan sambil memeluk kepala ciangkui sembunyi kebelakangnya, serunya:

”Kongcuya, nenek moyangku tujuh turunan, aku tidak ingin hidup lagi, biarlah aku lompat dari atas loteng biar mati saja.'

Melihat muka orang benjut dan matang biru, air mata bercucuran lagi Liok Kiam-ping jadi memelas. Mendadak didengarnya suara gerutu serak itu pula: 'Aduh mak neneknya tujuh turunan, kepala gundul ini juga tidak ingin hidup, biar aku masuk ke dalam guci, masih sepagi ini tidak bisa tidur maknya, biar aku mampus saja."

Lekas Liok Kiam-ping menoleh ke sana, dilihatnya ciangkui gendut sudah memburu ke sana serta menyingkap gordyn. kontan dia berteriak-teriak sesambatan: "oh, Thian, bangsat keparat ini, biarlah aku mati saja. Hwesio busuk, pendeta bau, anjing kurap pencuri kudisan- Biar aku adu jiwa dengan kau."

Ternyata diatas meja didepan si Hwesio bertumpuk sedikitnya ada sepuluh guci arak tapi guci-guci arak itu sudah kosong, mejanya penuh piring mangkok dan tulang-tulang ayam serta kuah yang berceceran tidak karuan, Hwesio butut itu sedang duduk ungkang-ungkang sambil memeluk guci arak. matanya merem melek. sebelah tangan menggaruk jari kaki, tangan yang lain menggaruk kepala. Dengan menyeringai lebar dia berkata kepada ciangkui: "oho, ciangkui yang terhormat kau juga tidak ingin hidup, bagus sekali biar Pinceng sejalan ke akhirat bersamamu. Tapi belum sempurna aku menikmati duniawi ini marilah kau ikut mencicipi, supaya kau bisa bawa oleh-oleh untuk dihaturkan kepada Ji-lay-hud." Habis bicara dia tarik tangannya yang menggaruk sela-sela jari kaki serta dicelumnya terus disodorkan kemuka ciaugkui pula.

Sungguh hampir pecah perut Liok Kiam-ping saking geli, tapi dia tahan rasa gelinya melihat ciangkui sudah melotot dengan beringas seperti hendak melabrak si Hwesio lekas dia melangkah maju, katanya: "ciang kui, jangan kurang ajar terhadap Taysu ini, ada urusan baiknya dibicarakan secara damai"

Ternyata ciangkui masih mau menurut, katanya dengan air mata meleleh: "Tuan muda, kau tidak tahu, Hwesio busuk yang pantas mampus ini entah berapa kali sudah makan minum direstoran kecilku ini. Pertama kali dia datang, pelayanku melarang dia masuk, tapi dia keluarkan lima tahil perak. seperti tuan besar naik keloteng serta minta makan minum seharga lima ketip. sisanya dititipkan kepada kas, maka kami melayani sewajarnya, tak nyana beberapa kali dia datang pula sampai belasan bon bertumpuk. makin lama hidangan yang dipesan makin banyak. habis makan cukup teken bon terus tinggal pergi sambil tepuk pantat. Kalau kami tidak menyambutnya, kuatir bon-bon yang terdahulu tidak dibayar, kalau dilayani hutangnya semakin menumpuk. celakanya setiap kali makan dia selalu garuk kaki dan kepalanya yang borokan, baunya cukup bikin orang muntah- muntah, hingga tidak sedikit tamu-tamu kami yang terusir olehnya. Sering terjadi dia minta dua guci arak, tapi dia mungkir katanya cuma minum satu guci, kenyataan memang hanya satu guci kosong di atas meja, tak tahunya belakangan waktu pelayan membersihkan loteng ini menemukan beberapa guci kosong yang ditumpuk dibelakang gordyn.

"Itu belum selesai, restoranku ada menyimpan  puluhan guci arak yang paling baik kwalitetnya, tadi karena Kongcu datang dan minta arak bagus maka kusuruh orang turun kebawah tanah mengambil arak simparan itu, ternyata gucinya kosong araknya habis. Nah, kau lihat belasan guci bertumpuk di sini, bukankah Hwesio busuk ini yang mencurinya, manusia jahat, oh terkutuk kau. oh Thian, bagaimana aku harus hidup selanjutnya."

Baru sekarang Liok Kam-ping jelas duduk persoalannya, pikirnya: "Tak heran Hwesio ini terus tenggak arak tak habis- habis, perbuatannya juga terlalu, arak simpanan ternyata di kuras seluruhnya." Diam-diam dia merasa keki dan kurang simpati kepada Hwesio ini, apalagi dia juga tahu hidangan tamu-tamu lain juga dia yang nyikat maka dia tarik ciangkui dan berkata: "Sudahlah, jangan ribut, berapa rekening Taysu ini, nanti biar aku yang melunasi."

Ciangkui terbelalak girang, katanya sambil menyeka air mata: "Dan bon kedua dia mulai hutang enam ketip, bon ketiga tujuh ketip. bon keempat delapan ketip dan seterusnya makin bertambah dengan beberapa guci arak, tiga ayam panggang, empat kati daging sapi, kesembilan teken bon enam tahil... "

"Sudah, sudah, tak usah diuraikan satu persatu, total jendral berapa rekeningnya ?", tukas Liok Kiam-ping tidak sabar.

"Sampai hari ini dia sudah makan tiga belas kali dan belum pernah bayar, maka jumlah seluruhnya adalah dua puluh sembilan ketip, belum lagi lima belas guci arak empat guci harganya empat ketip. dua guci lima ketip dan tiga guci enam ketip jadi seluruhnya seharga tiga puluh empat tahil tiga ketip."

"Maknya kurcaci, Ciangkui jangan kau menggorok leher orang, memangnya ada orang mau bayar lantas kau ngoceli seenak udelmu sendiri". Hanya sebelas kali aku makan di sini, rekeningnya juga tidak lebih dari enam belas tahil lima ketip. Lima belas guci arakmu itu juga belum jadi, banyak tercampur air lagi, hanya dua guci yang boleh disebut arak tulen, berani kau membual menguras kantong orang, memangnya urusan semudah itu diselesaikan?" Demikian umpat si Hwesio sambit menegakkan leher dengan gaya duduk tetap tidak berobah.

"Sudah, sudah, anggap saja beres Ciang kui, lekas siapkan hidangan pesananku, temanku sudah tidak sabar menunggu, berapa rekening yang ada nanti kubayar seluruhnya” lalu Kiam-ping tepuk-tepuk pundak Ciangkui mendorongnya turun loteng, lekas dia putar balik serta memberi hormat kepada si Hwesio: "Taysu mengutamakan kebajikan dan cinta kasih, harap tidak lagi membuat perkara dengan orang-orang awam, kalau sadi boleh silakan duduk semeja dan makan minum lagi."

Hwesio kurus melerok kearah Ciangkui yang mulai turun loteng serta berteriak:

"Neneknya si gendut, jangan-jangan matamu tumbuh dileher, menghina orang beribadat, memangnya Pinceng tidak punya uang. Nah, berapa hutangku kulunasi seluruhnya, sisanya boleh kau bagi rata kepada para pelayan, tidak usah dikembalikan." Sembari bicara dia merogoh kelengan baju mengeluarkan segelondong besar uang perak ditaruh dimeja, lalu menoleh kearah Kiam-ping serta tertawa lebar, katanya: "Buyung kau mau mentraktir aku makan minum, bagus, sekali, tapi aku punya semacam penyakit, yaitu tidak suka bercampur dengan orang yang bersuara sumbang, manusia tengik yang tinggi mata... nya, apalagi badannya yang berbau busuk aku juga tidak mau dekat-dekat maka kupikir batal saja. Buyung, bulu kambing tumbuh dibadan kambing, ulat arak dalam perutku kembali menagih hutang. Hai, pelayan, ciangkui gendut, bawakan dua guci lagi." Demikian si Hwesio ngoceh sambil garuk-garuk kepala terus duduk menggelendot dinding, lekas sekali sudah menggeros.

Sungguh tak kira bahwa Hwesio ini bertabiat aneh dan kasar, sesaat Liok Kiam-ping berdiri melongo, akhirnya dia putar balik ketempatnya, katanya tertawa kepada pengemis cilik: "Maaf, bikin saudara menunggu terlalu lama." Setelah tertawa pengemis cilik berkata:

"orang lain benci melihat tampangku, kenapa kau masih mau mengundangku makan minum ?"

Liok Kiam-ping melenggong, dengan lekat-lekat dia tatap orang dilihatnya pengemis cilik juga menatapnya dengan seksama, wajahnya meski kotor tapi kelihatan Jenaka dan molek, pipinya yang agak kurus, dengan sepasang bola mata yang jeli dan bening, mulutnya kecil mungil kelihatan memonyong memperlihatkan wataknya yang keras, ternyata hidungnya juga mancung. Dari wajah pengemis cilik Liok Kiam-ping memperoleh suatu firasat, yaitu hubungannya dengan pengemis cilik ini harus blak-blakan, terus terang dan tidak perlu sembunyi-sembunyi, apalagi munafik, karena sorot mata orang sudah memberikan jaminan kepadanya bahwa pengemis ini dapat dipercaya. Maka tanpa banyak pikir dia berkata: "Aku justru tidak benci, maka aku undang kau kemari, peduli amat dengan pandangan orang lain terhadapmu."

Pengemis cilik tertawa, katanya: "Kau tidak takut orang menggodamu sebagai anak bodoh, mentah-mentah ditipu sehingga mentraktir aku makan minum."

"Ah, Siaute tak pernah punya pikiran demikian, apalagi aku sendiri yang mengundang kau makan minum." Demikian jawab Liok Kiam-ping lantang.

Tengah bicara tiba-tiba langkah orang yang berat berderap di tangga loteng, Liok Kiam-ping menoleh bersama pengemis cilik. Tampak serombongan orang telah naik keloteng yang terdepan adalah seorang kakek berjenggot Panjang menyentuh dada, meski rambut dan jenggot sudah ubanan, tapi sorot matanya tajam, selintas pandang siapapun tahu bahwa kakek ini seorang jago silat tinggi membekal lwekang tangguh, tampak dia mengenakan pakaian kasar, sepatu rumput, dandanannya mirip seorang nelayan- orang-orang yang dibelakangnya terdiri beraneka orang ada yang bercambang bauk. ada busu muda, beramai-ramai mereka menduduki beberapa meja, suasana jadi ramai  karena teriakan mereka yang memesan makanan-

Dari sela-sela gordyn Liok Kiam-ping mengintip keluar, tiba- tiba gordyn tersingkap seorang pelayan masuk sambil membawa nampan disusul dua pelayan lagi, masing-masing membawa hidangan yang dipesannya tadi, setelah menata hidangan diatas meja pelayan yang tertua menjelaskan: "Tuan, hampir seketika kita jelajah baru berhasil menyiapkan hidangan istimewa ini."

Liok Kiam-ping mengulap tangan suruh mereka lekas keluar, lalu poci diangkatnya mengisi cangkir arak si pengemis cilik, katanya tertawa: "Mari kita habiskan lagi secangkir ini."

"Ah, Siaute betul-betul tak berani minum banyak, harap saudara memberi maaf." Tapi karena Kiam-ping sudah angkat cangkir nya, terpaksa diapun ambil cangkir araknya serta menghirupnya seteguk -saja. Katanya tertawa:

"Nah, mari kita cicipi masakan pesananku, koki restoran ini entah pandai tidak menyesuaikan seleraku."

Liok Kiam-ping segera angkat sumpitnya serta mangisi mangkoknya, katanya memuji:

"Hidangan ini memang istimewa, rasanya juga enak. bicara terus terang baru pertama kali ini Siaute selama hidup merasakan masakan masakan ini. Mari kusuguh secangkir lagi.'

Karena dipuji pengemis cilik tertawa riang, katanya perlahan: 'Apa betul kau suka makan hidangan ini ?"

"Ya, betul." sahut Liok Kiam-ping.

"Kalau kau suka, kelak bila ada kesempatan biar kumasak untukmu, mau ?". Liok Kiam-ping melongo, katanya girang: "Sudah tentu mau. Maaf ya, Siaute sampai lupa tanya siapa nama saudara dan tinggal di mina ?"

Tiba-tiba merah mata pengemis cilik, katanya menggeleng: "Rumahku jauh sekali akupun tak ingin pulang. Tentang namaku, boleh kau panggil aku Pin-ji saja.'

Liok Kiam-ping heran, tanyanya, "Pin-heng, mana ada orang punya rumah tidak mau pulang."

Tiba-tiba pengemis cilik tertawa lebar katanya: "Wah, sayurnya sudah dingin. hayolah sikat, hidangan ini biasanya paling suka kumakan-"

Melihat orang sengaja mengalihkan persoalan- Kiam-ping tahu orang sengaja tidak mau membicarakan tentang dirinya maka dengan tersenyum segera dia angkat sumpitnya serta mulai makan dengan lahapnya.

Sementara itu orang-orang ditengah ruang masih ribut berkelakar, tiba-tiba seorang bergelak tawa, suara serak keras seperti gembreng pecah berkata: "Hahaha, orang she Ci memang beruntung, ditempat ini dapat bertemu dengan Han- kang-ih-un Kongsun-loyacu marilah biar Cayhe menghatur secangkir arak kepada kongsun-cianpwe."

Hadirin lantas tertawa berderai, lalu terdengar suara orang tua serak berkumandang: "Mana berani, mana berani, lohu mana boleh menerima penghargaan ini, terima kasih akan penghargaan hadirin, baiklah secangkir ini kuhaturkan pula kepada kalian-

Dari gordyn yang sedikit tersingkap Kiam-ping melihat keluar, dilihatnya dimeja tengah ruang laki laki tua berdandan nelayan tadi tengah angkat cawan berputar memberi hormat kepada hadirin dengan tawa lebar, ternyata meja yang tersebar di dalam ruang besar itu sudah dikumpulkan menjadi satu baris ditengah ruang, hadirin beramai-ramai angkat cangkir masing-masing serta tenggak habis bersama. "Biasanya Kongsun cianpwe umpama burung bangau yang tidak menentu dimana hinggap hidup bebas laksana dewa, kali ini entah gerangan apa yang menyebabkan kau orang tua terjun keduniawi, apakah kau orang tua juga menerima surat undangan Thi-kiam Lau-ongya, maka jauh-jauh memburu datang kemari ?" demikian tanya seorang laki-laki muka kelam berjubah kuning.

"Benar, biasanya Lohu hidup bebas tidak terkendali, mana boleh dibanding Jiheng yang masih muda dan banyak berjasa, sejak berpisah dengan Lau-lote, sudah puluhan tahun, air gelombang sungai yang dibelakang memang mendorong yang didepan, yang hadir sekarang semua masih muda gagah perkasa lagi, angkatan setua Lohu memang pantas cuci tangan mengundurkan diri saja dari percaturan dunia Kangouw." demikian ujar Han-kang-ih-un Kongsun Jin ong sambil mengelus jenggot, sambil tertawa lebar dia berpaling kearah seorang muda dengan ikat kepala dari kain hitam berwajah bersih, tanyanya: "Bun hiantit, apakah ayahmu selama ini baik-baik saja? Sudah sekian tahun tidak berjumpa, sungguh kangen sekali."

"Berkat doa Cianpwe, selama ini ayah sehat walafiat, kali ini ayah sedang sibuk oleh suatu pekerjaan, maka Siautit yang diutus untuk menghadiri pesta ulang tahun Lau loyacu, disamping untuk mencari pengalaman, beliaupun ada titip sepucuk surat untuk disampaikan kepada Lau-loyacu..." demikian jawab pemuda itu berdiri sambil menjura.

"Hahaha, ayah Ibun-heng adalah Seng-jiu-tok-liong (tangan suci membunuh naga), biasanya suka keliaran entah karena pusaka apa yang menyibukkan dia, kali ini dia tidak mau meluangkan waktunya kesini." kata seorang laki-laki setengah umur.

"Betul Ibun-loyacu punya hobby mengoleksi benda-benda antik dan barang pusaka, dahulu seorang diri diapun meluruk ke Jik-liong-tong membunuh Tok-kak-liong didasar laut sehingga namanya terkenal di Kangouw. Bukan mustahil kali ini dimana muncul pula binatang raksasa yang mengandung mestika telah diluruknya pula, untuk ini sudilah Ibun-heng suka menerangkan-" demikian ujar seorang laki-laki mata siwer duduk disamping pemuda she Ibun itu.

Karena ditanya pandangan seluruh hadirin tertuju kearah dirinya pula, terpaksa pemuda she Ibun tersenyum, sekilas dia menyapu pandang hadirin lalu mengawasi Ban-kang-ih-un, katanya dengan nada berat: "Yang hadir disini termasuk sesama kawan sehaluan, baiklah Ibun Kong memberanikan diri memberikan penjelasan, tapi apa yang Cayhe tahu sekarang juga tidak lengkap. mungkin belum memuaskan hadirin- Soalnya berita yang ayah terima juga simpang siur, kini sedang dicari kebenarannya..." dia batuk-batuk mengawasi hadirin lalu menyambung: "Hadirin adalah insan persilatan yang sudah berkecimpung di Kangouw, tentunya juga sering dengar bahwa setengah tahun ini dunia persilatan telah dibuat geger oleh munculnya Wi-liong-pit-sin-"

"Wi-liong-pit-sin ?" laki-laki muka kelam jubah kuning Ui in- bun berteriak kaget lebih dulu.

Melihat hadirin sama terbelalak dengan muka kaget dan curiga, pelan-pelan Ui bun Kong manggut-manggut, wajahnya kelihatan serius.

Sementara itu Liok Kiam-ping sedang menceritakan riwayat hidupnya, tiba-tiba di dengarnya orang-orang diluar membicarakan Wi-liong-pit-sin, seketika dia melenggong dan menghentikan kisahnya.

Pengemis cilik sedang asyik mendengarkan kisah hidupnya, mendadak orang menghentikan ceritanya, segera dia mengerling, di lihatnya Liok Kiam-ping sedang mengintip keluar dengan penuh perhatian-

"Kabarnya Wi-liong-pit-sin telah terebut oleh Ceng-san- biau-khek, apa betul?" "Di San-say aku juga mendengar kabar seorang yang berjuluk Pat-pi-kim- liong dengan Wi-liong-ciang telah memukul luka parah Ceng-san-biau-khek. Lain lagi, konon Pat- pi-kim- liong adalah ahli waris Kiu-thian-sinlicng, entah benar tidak ?'

Hadirin sama angkat bicara, yang dibicarakan menyangkut Wi-liong-pit sin dan Pat-pi-sin-liong.

Karena Liok Kiam-ping membelalakan mata mengintip keluar, maka pengemis cilik juga pasang kuping.

Terdengar Ui bun Kong menggoyang tangan dan tertawa, katanya: ”Harap tenang sebentar, dengarlah lebih lanjut apa yang kuketahui." Suara ribut lantas sirep. Ibun Kong menggosok telapak tangan, katanya pula:

"Menurut berita yang tersiar memang Wiliong-pit-sin terebut oleh Ceng-san-biau-khek, tapi tak lama ini seorang murid Bu-tong ada yang turun gunung, konon ada seorang pemuda berjubah hijau seorang diri meluruk ke atas gunung, dengan tangan kosong dia mengalahkan Ceng-ciok Tojin, Ciangbunjin yang berkuasa di Bu-tong-san sekarang, serta beberapa murid terbesar Bu-tong-pay, ilmu yang digunakan mengalahkan jago-jago Bu-tong kabarnya diperoleh dari Wi- liong-pit-sin, hal ini sudah cukup mengejutkan, lebih celaka lagi katanya pemuda ini mengaku sebagai ahli waris Kiu-thian- sin-liong, sudah tentu pihak Bu-tong gempar dan kaget setengah mati.

"Kebetulan, entah karena apa Ceng-san-biau khek juga menyelundup ke Bu-tong mencuri obat mujarab pelindung Bu- tong, entah karena apa pula dia bentrok dengan Pat-pi-kim- liong, Ceng-san-biau-khek yang berkepandaian tinggi ternyata dikalahkan dan lari dengan luka parah.”

Tiba-tiba pengemis cilik melihat mata Liok Kiam-ping memancarkan cahaya benderang, diam-diam dia kaget dan heran- Untung Liok Kiam-ping lekas sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan pengemis cilik, lekas dia membalik sambil tertawa, katanya angkat cangkir: "Ah, Pin-heng, maaf akan sikapku yang linglung, Mari kita habiskan hidangan ini. Wah sayang semua sudah dingin- Hai pelayan, hayo bawa kedapur panasi lagi hidangan ini."

Pengemis cilik tersenyum manis, katanya:

"Ehm ya, hidangan sudah dingin. Sudahlah, masakan yang terulang masaknya tidak enak rasanya. Pelayan, bikinkan lagi hidangan baru seperti ini."

Hadirin sedang asyik mendengarkan cerita ibun Kong tentang berita besar yang terjadi di Kangouw akhir-akhir ini, karena gangguan ini mereka sama menoleh kemari, tampak dua pelayan sedang menyelinap keluar membawa hidangan, tiba-tiba dari arah lain berkumandang pula sebuah suara ribut

"Maknya, neneknya, hai pelayan, apakah hidangan itu akan kalian buang. Lekas, lekas bawa kemari, kasihan kepada bapakmu gundul ini, dikelenteng aku memelihara anjing liar, sudah beberapa hari tidak diberi makan, biar hidangan itu kubawa pulang untuk makanan anjing."

Perhatian hadirin kembali ketarik kesana, tampak dibalik gordyn yang tersingkap seorang Hwesio kurus berjubah butut dengan kepala penuh borok tengah duduk ungkang-ungkang, jari tangannya tergigit, dengan matanya yang jelilatan mengawasi hidangan diatas nampan pelayan, air liurnya sampai bertetesan.

"Neneknya, hidangan yang dipesan si buyung memang sedap. dahulu waktu bapak gundul ini sembunyi didapur istana setengah bulan hidangan apa tak pernah kurasakan, mana lebih sedap dari hidangan yang empat macam ini, neneknya keparat, sungguh bapak gundul amat menyesal, kenapa dulu harus meyakinkan Tong-ci-kang segala, kalau tidak biar aku pelihara rambut menjadi preman, tanggung dapat bini melahirkan seorang nikoh cilik." Lalu terdengar mulutnya berkecek melalap hidangan yang diberikan pelayan suara ocehannya tak terdengar lagi.

Sudah tentu Liok Kiam-ping tertawa geli batinnya. "cianpwe ini memang Jenaka, tapi juga rusuh, sudah kuundang dia makan bersama tidak mau, sekarang pakai alasan memelihara anjing segala ? Hahaha." Makin dipikir tak tertahan dia tertawa bergelak. Melihat dia tertawa pengemis cilik ikut tertawa, matanya tetap mengawasi lekat-lekat. Tiba-tiba orang-orang diluar sama menjerit heran dan kaget, seorang berteriak:

"He, kemana Hwesio malas tadi? "Aah, baru saja masih makan hidangan yang akan diberikan pada anjing liar."

Lekas Kiam-ping menyingkap gordyn, dilihatnya hadirin sama melongok ketempat duduk si Hwesio, tapi kecuali tumpukan guci arak dan empat piring, di sana tidak kelihatan lagi bayangan si Hwesio, bayangan Hwesio malas itu ternyata telah lenyap.

Baru saja dia hendak berbangkit tiba-tiba terasa dibelakang ada angin kesiur di susul bau apek yang menyesak hidung, lekas Kiam-ping berpaling, tampak diatas jendela dipinggir meja duduk bertengger Hwesio malas itu, dengan memicing kedua matanya orang tengah tersenyum lebar kepadanya.

Lalu dengan mata berkedip Hwesio malas berkata kepada pengemis cilik: "Setan cerdik, jangan main gara-gara, buyung ingin aku tanya, apakah kau datang dari tempat yang hawa panas itu "

Agaknya pengemis cilik melengak. tapi dia pura-pura bodoh, tanyanya: "Hwesio gede, pakaianku yang tipis penuh tambalan lagi, di mana ada tempat panas, pengemis ini jadi ingin kesana supaya tidak kedinginan.”

Ternyata hwesio malas juga melengak. tapi tiba-tiba dia manggut-manggut seperti memahami sesuatu, katanya: "o, ya aku tahu, wah, bagus, legakan saja, tapi... " tiba-tiba dia berhenti sambil melongok keluar lalu berdiri dan berkata lirih dengan mata memicing: "Buyung, lain kali kalau ada hidangan sedap jangan lupa panggil aku, kalau tidak. hehe, awas ya." Dengan sikap misterius sengaja dia berkedip kepada Liok Kiam-ping tiba-tiba angin berkesiur, bayangannya tahu-tahu sudah lenyap.

Menyaksikan gerak gerik orang begitu gesit dan tangkas Liok Kiam-ping melongo sekian lamanya, akhirnya dia  pandang pengemis cilik penuh tanda tanya, karena dia tidak habis mengerti apa yang dibicarakan tadi, tapi pengemis cilik hanya tertawa manis saja.

Suara Ui bun Kong berkumandang pula dengan lantang: "Sudahlah cianpwe itu adalah orang kosen yang tidak sudi bercampur dengan kita orang-orang rendahan, kenapa di buat heran. oh, ya sampai di mana ceritaku tadi ?"

"Sampai ceng-san-biau-khek melarikan diri dengan luka parah," sambung seorang lain.

"Ya, betul betul, kalian tentu tidak menduga bukan. ceng- san-biau-khek ternyata adalah murid Ham-sin-leng-mo iblis tua dari Ham-ping-kiong di laut utara itu." demikian tutur Ibun Kong dengan bangga.

"Ham-sin-leng-mo ?" seorang tiba-tiba menjerit kaget. "Betul, bahwa muridnya terluka parah oleh murid Kiu-thian-

sin-liong. sudah tentu

Ham-sin-leng-mo mencak-mencak gusar, segera dia keluarkan Ham-giok-ling, sesumbar hendak meluruk ke Tionggoan menuntut balas kepada Pat-pi-kim-liong (naga emas delapan lengan)."

"Ya, hal ini telah menggemparkan kaum Bulim di enam propinsi utara. apakah Ham-sin-leng-mo sudah masuk keperbatasan- Waktu aku datang dari Kang-lam, aku mendengar berita ini, tapi apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan ayahmu?" tanya seorang hadirin- "Ah, kenapa Khong-ping-heng jadi gelisah. Persoalannya memang di sini. Sebelum Ham-sin-leng-mo memasuki Tionggoan, ayah sudah memperoleh kabar, katanya ceng-san- biau-khek mendapat perintah gurunya Ham sim-leng-mo akan meluruk ke Te-sat-kok yang berada dibelakang gunung Bu- tong mencari harta pusaka yang terpendam di sana."

"Te-sat-kok ? Apakah Te-sat-kok yang dijaga oleh Tokko cu itu?"

"Betul, menurut apa yang dikatakan pihak Bu-tong, Pat-pi- kim-liong juga pernah masuk Te-sat-kok. entah kenapa, dia bisa ke luar dengan hidup, Tentunya hadirin tahu bagaimana aturan busuk nenek tua yang aneh itu. Tak nyana ada kalanya larangannya terlanggar juga."

"Lalu siapa yang memperoleh harta pusaka dalam Te-sat- kok itu Pat-pi-kim- liong atau ceng-san-biau-khek ?"

"Menurut berita yang tersiar di Kangouw dalam lembah itu ada tersimpan tiga bilah pedang mestika dan buku pelajarannya, kecuali harta pusaka yang tak ternilai digagang pedang masing-masing dihiasi sebutir mutiara besar. Menurut hasil penyelidikan ayah, tidak pernah dipergoki ada orang keluar membawa harta pusaka, namun diperoleh suatu kejadian yang aneh... " sampai di sini nada suara Ibun Kong lebih berat dan tertekan, matanya menyapu seluruh hadirin, lalu meneruskan, "Ditengah perjalanan waktu ayah menuju ke ouw-pak. ternyata beliau menemukan Tokko cu yang belum pernah meninggalkan Te-sat-kok. entah karena apa tiba-tiba dia muncul disebuah penginapan di ow-pak."

"Hoo, apa benar ?" hadirin menjerit kaget dan heran.

Liok Kiam-ping mendengarkan juga berjingkat kaget, air mukanya berobah, matanya terbelalak. sungguh dia hampir tak kuasa mengendalikan gejolak perasaannya. karena sejauh ini dia masih menguatirkan luka-luka atau keselamatan orang baju hitam yang berwatak eksentrik itu. "Porsoalan bukan hanya itu saja. Konon pihak Hong-lui-bun di Thiam-lam juga mengutus orangnya ke Kanglam, tujuannya mencari Pat-pi-kim- liong, karena Wi-liong-pit-sin milik Kiu- thian-sin-liong itu adalah milik pihak Hong-lui-bun."

"Hah... " hadirin kembali berseru kaget.

Wajah Liok Kiam-ping pucat pasi, keringat dingin menghiasi jidatnya, kedua tangannya meraba-raba mainan kalung didepan dadanya. Sudah tentu pengemis kecil yang duduk didepannya makin melongo, karena kaget dan takjub, Tanyanya: "Apa yang kaurogoh didada mu?"

Liok Kiam-ping tertawa getir, geleng-geleng tidak menjawab, ternyata mendengar pihak Hong-lui bun mengutus orang hendak mencari dirinya, tiba-tiba dia tertawa riang, tangannya lantas mengelus mainan kalung atau Hiat- liong- ling, lencana kebesaran yang dipegang ciangbunjin Hong-lui- bun.

Tak nyana tiba-tiba tawanya beku, jari-jari tangannya gemetar, matanya terbeliak karena Hiat- liong- ling mainan kalung yang tergantung didapan dadanya entah mengapa mendadak lenyap. masih segar ingatannya, waktu dihotel tadi dia masih keluarkan mainan kalung serta diperiksanya dengan seksama. Tapi kenyataan sekarang Hiat- liong- ling telah lenyap. karuan hatinya ciut, jantung berdebar-debar.

Dikala ia melenggong itulah tangga loteng kembali bergetar, maka hadirin kembali menjadi ramai saling sapa: "Ha, Biau-jiu-sip-coan, angin apa yang meniupmu kemari ?"

Tergerak hati Liok Kiam-ping, dari celah-celah gordyn dia melongok keluar tampak diatas loteng bertambah seorang laki-laki setengah umur, tulang pipi menonjol, muka kurus dengan kepala diikat kain Busu matanya menyapu pandang hadirin- ternyata dia tidak hiraukan tegoran orang banyak.

"Biau-jiu-sip-coan, Biau-jiu-sip-coan (Sip coan si tangan jail)? Ah, ya, pasti dia." Melihat laki-laki bertulang pipi tinggi ini bernama Biau-jiu- Sip coan, dia bukan lain adalah laki-laki yang tadi menginjak kakinya dijalan raya tadi, begitu mendengar nama Julukan Biau-jiu (tanganjail) lantas Kiamping ingat siapa orang ini. seketika amarah membakar dada, bergegas dia berdiri, tapi mendadak didengarnya suara Hwesio malas menggerutu pula: "Maknya, anjing kurap. baru sekarang kau kemari... hidangan lezat yang kusediakan untukmu sudah kuganyang habis... maknya kurcaci, anjing kurap. wah, sedaaap."

Mendengar suara ini Biau-jiu Sip coan kontan berubah pucat, seperti melihat setan dia gemetar ketakutan, dengan langkah lebar dia memburu kearah datangnya suara. Begitu menyingkap gordyn melihat Hwesio malas duduk ungkang- ungkang sambil menggeros lekas dia tekuk lutut terus menyembah, serunya: "Hamba punya mata tidak tahu tingginya gunung, berbuat salah terhadap Sian-su, mohon Sian-su memberi ampun, ampun.' Lalu dia menyembah pula berulang-ulang sampai jidatnya membentur lantai.

Sudah tentu hadirin sama kaget dan berjingkrak berdiri, betapapun mereka tidak percaya bahwa Sip coan si tangan jail ternyata terlutut dan menyembah minta ampun kepada Hwesio kurus Celutak yang suka gegares ini.

Ditengah tatapan heran orang banyak tiba-tiba Hwesio  dekil itu mernbalik tubuh sambil menggeliat, mulutnya mengigau: 'Neneknya anjing, sia-sia kau punya mata anjing, melihat orang juga tidak kenal orang sendiri.'

Karuan Biau-jiu Sip coan melenggong lekas dia berpaling, dilihatnya tak jauh dibelakangnya seorang pemuda jubah putih, perawakan kekar gagah, dengan tatapan tajam orang tengah mengawasi dengan sorot marah sekilas dia tertegun, burn-buru dia merangkak maju serta menubruk kedepan kaki orang kini dia berlutut didepan Liok Kiam-ping wajahnya pucat berobah merah, hitam lalu pucat lagi, sesaat lamanya mulutnya megap-megap tak mampu bicara, setelah tenangkan diri baru dia bersuara gemetar: 'Siang Bu-thian alias Sip coan murid Hong-lui-bun generasi kedelapan menyampaikan sembah hormat kepada ciangbun, mohon ampun akan kekurang ajaran tadi, mohon ampun."

Begitu merasakan Hiat- liong- ling yang selalu tergantung didadanya lenyap dicuri orang, Liok Kiam-ping sudah gusar bukan main, kini melihat laki-laki setengah umur bermata elang yang menginjak kakinya dijalan raya tadi muncul, dia lantas tahu bahwa barang miliknya pasti dicuri orang ini, tak nyana tahu-tahu orang berlutut didepannya minta ampun dan mengaku murid Hong-lui-bun pula, karuan Kiam-ping berdiri melenggong rasa gusar lenyap seketika, akhirnya dia mengulap tangan dan berkata: "Baiklah, kau boleh berdiri, aku tidak mengusut kesalahanmu."

Mendengar kesalahannya tidak diusut dan diampuni dosa- dosanya, bukan kepalang senang hati Biau-jiu-sip-coan, lekas dia melompat berdiri, merogoh kantong mengeluarkan suatu benda, dengan kedua tangan dia haturkan benda itu kepada Kiam-ping, serunya: "Inilah .. inilah medali emas milikmu ciangbun."

Kiam-ping menerima benda itu, memang betul adalah Hiat- liong-ling miliknya, sedikit manggut terus disimpan dalam bajunya.

"Hah, Hong-lui ciangbun.” tiba-tiba seseorang berteriak. hadirinpun ikut gempar.

Derap langkah kembali berdentam ditangga loteng, lekas sekali muncul seorang laki-laki tua setengah berlari, mukanya merah berjubah kuning dengan ikat pinggang merah. "He, Sang-jiu-king-thian (tangan tunggal menyanggah langit) Tan- loyacu." seorang laki-laki berpakaian kembang lantas mengenali laki-laki tua yang baru datang,

"Hahaha, selamat bertemu, selamat bertemu. Tak nyana begini banyak orang berkumpul di sini. Tolong tanya kepada hadirin apakah kalian pernah melihat pengemis cilik berpakaian compang camping ?" setelah bergelak tawa laki- laki tua jubah kuning menjura kepada hadirin.

Pengemis cilik. Hal ini lantas berkelebat dalam benak Kiam- ping.

"Tan-losiok-siok. Apa kau orang tua mencari aku?" Entah kapan pengemis cilik berdiri dibelakang Kiam-ping dan bersuara sambil tersenyum kepada laki-laki tua jubah kuning.

Tahu-tahu laki-laki tua jubah kuning berkelebat, serunya dengan tawa riang: "Haha, betapa susah aku mencari kau. Anak sayang. keponakan perempuan sayang...”

"Paman-marilah pergi." Lekas tukas pengemis cilik.

"Aduh. Sayang mau kemana kau. Hai." Teriak laki-laki jubah kuning sambil memburu kearah jendela terus melompat turun mengejar pengemis cilik.

"Pin-heng, kemana kau. Hai tunggu." Melihat pengemis cilik tiba-tiba menerobos jendela tinggal pergi, buru-buru Kiam- ping berteriak memanggil, lekas diapun menyeplos keluar lewat jendela.

Seorang laki-laki bengis mencoba menghadang, namun Kiam-ping hanya menggetarkan sedikit tangan kanannya kedepan, serangkum angin kuat menerpa laki-laki bengis itu.

Karuan pecah nyalinya, buru-buru dia menunduk sambil mengayun balik tangan menyerang dengan cambuk. tapi mulutnya seketika menjerit ngeri, tubuhnya tersungkur kedepan dengan batok kepala pecah, darah muncrat menyiram jalan raya, tubuhnya rebah didepan kudanya sendiri.

Liok Kiam-ping menyeringai dingin, setelah mengebas lengan baju dia siap beranjak pergi.. Sementara itu manusia berjubel dipinggir jalan, tiba-tiba banyak orang menjerit kaget sambil memandang kuatir kearah dirinya, sekilas Kiam-ping melenggong, di dengarnya kuda dilarikan kencang mendatangi dari jalan raya didepan sana. cepat sekali muncul beberapa orang menunggang kuda. Kiam-ping mendengus hidung dan berdiri tegah menanti.

Segera rombongan berkuda itu sudah dekat, penunggangnya berseragam coklat berlompatan turun, satu diantaranya yang berjenggot pendek agaknya pemimpin mereka, maju beberapa langkah dia menjura serta menegor Liok Kiam-ping: "Siapa tuan ini ? Kenapa kau membunuh anggota Pang kita?"

Tampak oleh Liok Kiam-ping tampang orang-orang itu bengis dan garang, selembar daon bambu tampak terselip diatas ikat kepala laki- laki jenggot pendek sebagai tanda pimpinan rombongan, dengan menyeringai dingin Kiam-ping balas bertanya: "Tuan sendiri siapa ? Kenapa anak buahmu diumbar melukai orang seenak udelnya sendiri ?"

Pertanyaannya meniru nada ucapan orang namun suaranya lebih dingin dan ketus. Agaknya laki-laki itu tidak menyangka bakal balas ditanya serupa itu, sesaat dia berdiri bingung. sekilas dia menoleh mengawasi teman-temannya lalu memandang kedua teman yang menggeletak binasa ditengah jalan- Agaknya tahu diri bahwa pihak sendiri yang salah, maka dengan mengerut alis dia menjura pula kepada Liok Kiam- ping, katanya

"cayhe Pek-pou-yu-hun (sukma gentayangan seratus langkah) ong Lui, anak buah Seng-lotangkeh dari ceng-tiok- pang yang berkuasa didaerah San-say, atas perintah kami menunaikan suatu tugas di selatan, bahwa anak buahku kesalahan tangan melukai orang, pasti akan dihukum sesuai undang-undang perserikatan kami, tapi tuan sendiri turun tangan membunuh mereka, untuk ini sudilah tuan memberi keadilan-"

---ooo0dw0ooo--- Tegak alis Liok Kiam-ping, dengusnya:

”Jangan tuan anggap remeh perbuatan anak buahmu, sewenang-wenang membunuh orang dosanya pantas dihukum mati, tidak mendengar nasehat lagi, turun tangan hendak membunuhku pula. Bahwa kematiannya itu cukup setimpal"

Pek-pou-yu-hun ong Lui naik pitam, alis tebalnya berkerut, katanya sambil mengacung cemeti ditangan: "Bagus, tuan juga bertindak seenak udelmu sendiri, biarlah aku yang rendah menyaksikan sampai dimana kepandaianmu, bicara begitu takabur."

Tiba-tiba tangannya meuyendal cemeti panjang ditangannya melingkar-lingkar diatas kepalanya, tenaga sudah dikerahkan akan mengayun cemeti, namun mendadak dia tarik kembali tenaga serta berteriak: "Tunggu sebentar."

Lalu dia berpaling kebelakang dan berkata pada salah seorang anak buahnya: ”Li Yan gak. bawa para saudara dan antarkan Kimling itu ke Jian-lui-ceng langsung diserahkan kepada Lau-ongya, sesuai pesan Tang keh, sampaikan omonganya. Sebentar aku akan menyusul ke sana. Lekas berangkat"

Laki-laki bernama Li Yan-gak mengiakan serta memberi aba-aba kepada teman-temannya, semua cemplak kepunggung kuda siap pergi.

”Tunggu dulu." Bentak Liok Kiam-ping, mendengar ong Lui suruh anak buahnya menyerahkan Kim-ling (lencana emas) kepihak Jian-liu-ceng, tergerak hati Liok Kiam-ping, maka dia berseru mencegah.

Orang-orang yang sudah bercokol dipunggung kuda serempak menoleh Pek-pou-yu-hun ong Lui pun berdiri melongo, dengan siaga dia menarik muka, katanva: "Mau apa kau?" "Aku ingin tanya, barang apa yang akan kalian antar ke Jian-liu-ceng ?"

”Hm, apakah tuan tidak keterlaluan, jangan kau mencampuri urusan kami.” Demikian ancaman Ong Lui.

"Memang nya kau tahu persoalan tiada sangkut pautnya dengan aku, kenapa aku tidak boleh turut campur ?" Kiam- ping balas menjengek.

"Kau... " Ong Lui tergagap karena tidak menduga akan jawaban Kiam-ping, air mukanya berobah, "Siapa kau sebenarnya, berani mempermainkan aku ?"

"Aku adalah aku. Setelah kau menjelaskan hal itu pasti kujelaskan siapa aku," Demikian ujar Kiam-ping dengan tatapan tajam.

Sesaat lamanya Pek-pou-yu-hun berdiri melenggong, akhirnya dia batuk-batuk dan berkata: "Baiklah, hal ini memang tidak perlu dirahasiakan- Nah dengarkan- Permulaan bulan ini markas pusat Pang kita di san-say menerima Ham- giok-ling dari Ham-sin-leng-mo di Ham-ping-kiong dilaut utara, perintah menyatakan kami harus mencurahkan seluruh kekuatan kaum Liok-lim (kaum begal) di enam propensi utara untuk menemukan jejak Pat-pi-kim-liong yang pernah melukai ceng-san-biau-khek. seluruh golongan kita perintahkan pula untuk siap-siap membuka jalan, bukan saja Ham-sin-leng-mo sendiri yang akan hijrah ke selatan, sekaligus beliau pun menantang kepada Kiu-thian-sin-liong.

Begitu menerima perintah ceng-tiok-pang kita segera bekerja keras, mengingat Jian-liu-ceng yang dikuasai Lau- ngoyacu disini adalah markas cabang Hwe-hun-bun sekte utara, Lau-ngoyacu berpengalaman dan punya hubungan luas, maka kami diperintahkan kemari menyampaikan Ham-giok- ling. Nah sekian saja keteranganku, sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku." Liok Kiam-ping tersenyum, katanya kalem: "Lho, bukankah aku sudah menjawab?'

”Kau... " Pek-pon-yu-hun garuk-garuk kepala kebingungan, mendadak dia tersentak kaget serunya dengan mata terbeliak: "Kau inilah Pat-pi-kim- liong ?"

"Hehehe, banyak terima kasih, terserah bagaimana kalian akan menjuluki diriku, biarlah anggap sebagai kehormatan-" ujar Liok Kiam-ping mengebas lengan baju terus bersoja.

Anak buah Ong Lui sama menjerit kaget dan jeri, ada yang hampir jatuh dari punggung kuda. Lekas ong Lui menjura dengan muka serius "Nama besar tuan memang sudah menggoncangkan Kangouw, mehon maaf bahwa tadi kami berlaku kurang hormat. Sebagai seorang laki-laki pantang menjilat ludahnya sendiri, tantangan sudah kuajukan meski bukan tandingan aku tak pernah mengerut alis, mohon tuan sudi memberi pelajaran-"

Bahwa lawan masih berani ajak bertanding setelah tahu asal usul dirinya, diam-diam Liok Kiam-ping memuji keberaniannya dengan tersenyum dia menggeleng, katanya:

"Lekas kalian pergi saja, Aku tidak akan mencari setori dengan kalian- cuma sampaikan pesanku, suruh mereka menyampaikan tantanganku kepada iblis tua dari laut utara itu, kapan saja dia datang pasti akan kusambut dengan  tangan terbuka. Demikian pula kepada ceng-san-biau-khek, katakan bahwa Pat-pi-kim- liong akan menuntut balik barang yang telah dicurinya."

Orang-orang ceng-tiok-pang melongo sekian lamanya, akhirnya Pekpou-yu-hun ong Lui mengangguk seperti menyadari suatu hal dia menjura, anak buahnya di suruh mengangkut dua mayat saudara mereka terus tinggal pergi tanpa banyak bicara lagi.

Kiam-ping tunggu setelah rombongan itu pergi jauh baru beranjak pelan-pelan, dalam hati dia membatin: "Ha, kapan aku pernah bermimpi, suatu ketika aku bakal diberi julukan, banyak orang terkejut mendengar jukanku. Hm, Ham-sin-leng- mo, ceng-san-biau-khek, marilah kemari, akan kuganyang mereka satu persatu." Belum pernah dia merasa hatinya seriang ini, tanpa sadar ingin dia menggerak lengan bersuit panjang. Untung lekas dia sadar akan keadaan sekelilingnya, lekas sekali jalan raya ini kembali ramai sebagaimana biasanya, orang-orang yang teriuka ketumbuk kuda tadipun sudah ditolong orang, maka pelan-pelan Kiam-ping putar badan tinggal pergi tanpa hiraukan orang-orang yang memandangnya dengan kagum.

Pandangan Kiam-ping sendiri tidak lepas menyelidik kearah orang banyak mencari jejak pengemis cilik atau laki-laki tua jubah kuning, tapi dia kecewa karena yang diharapkan tidak tercapai. "He, kenapa aku jadi ketarik pada pengemis cilik itu?" Siapa dia? Siapa pula laki-laki tua jubah kuning yarg bergelar Siang-jiu-king-thian ?" Kiam-ping bingung, dia tidak mengerti kenapa amat simpati terhadap pengemis cilik itu. mungkin karena riwayat pengemis hampir mirip dengan penderitaan hidupnya, demikian pikirnya.

Kiam-ping langsung kembali ke Eng hiong kip, dia merasa perlu tanya kepada Thi-jiau-kim-pian tentang asal usul Thi- ciang Lau-ngoya, baru akan bertindak apa yang harus dia lakukan- "Siapakah Hwesio malas itu ? Yakin dia seorang kosen aneh. Agaknya Biau-jiu-sip-coan juga punya nama di Kangoaw, dia mengaku sebagai anggota Hong-lui-bun. Haha, lucu, murid Hong- lui- bun ternyata berani mencuri lencana kebesaran ciangbun Hong-lui-bun-" Tanpa merasa Liok Kiam- ping tertawa sendiri. Maka dia berkeputusan setelah menemui Thi-jiau kim-pian dan diajak meluruk ke Jian-liu-ceng.

"Akan kuproklamirkan dihadapan mereka bahwa Pat-pi-kim liong adalah Ciangbunjin Hong-lui-bun." Demikian batin Kiam- ping pula sambil beranjak cepat-cepat. Tiba-tiba dari arah depan mendatang sebuah kereta ditarik tiga ekor keledai, yang menjadi kusir kereta bukan lain adalah paman angkatnya Thi-jiau-kim-piam Sun Bing-ci, tapi disampingnya duduk pula seorang laki-laki brewok.

Agaknya Sun Bing-cijuga sudah melihat dirinya, lekas dia menarik kendali menghentikan kereta, "Lekas naik." Baru saja Liok Kiam-ping menjura dan menyapa Sun Bing-ci telah mendesaknya, walau merasa heran, tanpa banyak bicara Liok Kiam-ping terus melompat keatas kereta.

"Tar." Sun Bing-ci ayun cemeti membedal keledainya, kereta meluncur cepat ke depan-Roda mengeluarkan suara ramai di jalan raya yang berbalok batu berpadu dengan tapal keledai sehingga kedengaran nyaring. orang-orang yang jalan ditengah jalan sama menyingkir kepinggir, tidak sedikit yang memperhatikan tiga laki laki menunggang kereta yang berbeda dandanan ini. Seorang laki-laki setengah bungkuk berwajah kuning seperti petani, laki-laki brewok yang bertubuh tegar bermuka kereng dan pemuda sekolahan baju putih.

Sepanjang jalan mereka tiada yang bicara beberapa kali Kiam-ping ingin bertanya, tapi melihat sikat Sun Bing-ci yang serius seperti kuatir dan prihatin, dia urungkan niatnya.

Lekas sekali kereta sudah keluar kota, Lok-yang jauh ketinggalan dibelakang.

"Kiam-ping." Akhirnya Sun Bing-ci bersuara, "tahukah kau kenapa sejak tadi aku tidak bicara denganmu"?"

Kiam-ping melongo, geleng-geleng kepala,

"Biar kuberitahu, saudara ini adalah keponakan Bu-jipekmu, dikalangan Kangouw di juluki Lik-su-cui Bu Wi-pin, kalian  boleh berkenalan, kelak satu sama lain harus saling membantu," demikian ujar Sun Bing-ci menuding laki-laki brewok lalu menyambung, "Bu-hiantit, pagi tadi sudah kujelaskan kepadamu, tidak perlu kubicarakan lagi.” Laki-laki brewok tertawa lebar kepada Kiam-ping, sapanya ramah: "Liok-heng masih muda sudah berjasa besar, Siaute sungguh amat kagum." Lalu dia menjura.

"Ah, mana, selanjutnya mohon Bu-heng suka memberi petunjuk." Ujar Kiam-ping. Laki-laki brewok ternyata ramah dan periang, Kiam-ping merasa cocok dan simpati padanya.

Thi-jiau-kim-pian celingukan sebentar, melihat tiada orang dia berpaling menyingkap kerai bertanya kedalam kabin kereta "Lan-ci, bagaimana keadaan adikmu?"

Kiam-ping ikut berpaling, dilihatnya pemuda yang dihajar babak belur itu rebah didalam kereta. kepalanya masih dibalut, mukanya juga benjol-benjol biru, matanya terpejam, agaknya sedang pulas. Nona berkuncir duduk disamping, sahutnya sambil angkat kepala, ”Khing-te barusan tidur paman-" Sahut gadis itu. Tanpa sengaja pandangannya bentrok dengan tatapan Kiam-ping, lekas dia melengos dengan muka merah.

"Lan-ci, nama yang indah. Jadi nona berkuncir ini bernama Sun Lan-ci." Demikian batin Liok Kiam-ping.

"Kiam-ping, apa yang kau lamunkan?" tiba-tiba Sun Bing-ci menegor.

"Ha, tidak apa-apa." Kiam-ping tergagap.

"Hm," Sun Bing-ci geleng-geleng tidak mengerti, lalu berkata kepada laki-laki brewok: "Wi-pin, sekarang boleh kau ceritakan secara ringkas tentang persoalan pamanmu kepada Kiam-ping." lalu dia menggeser tempat duduknya bertukar arah dengan Bu Wi-pin.

Liok Kiam-ping hanya mengawasi mereka berdua dan bingung.

Setelah batuk-batuk Bu Wi-pin tersenyum, katanya "Saudara Kiam-ping, yakin kau merasa heran akan sikap kami barusan, biarlah Siaute jelaskan-" Berhenti lalu celingukan, "sejak kecil ayah bundaku sudah meninggal. maka aku dibesarkan oleh It-tio-liong Bu-jisiok, karena seorang diri susah mengurus aku, maka Bu-jisiok mengirim aku ke Kun-lun san, waktu aku turun gunung, kebetulan Bu-jisiok kalah bertanding melawan seorang iblis dari luar perbatasan, sehingga beliau mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan- Sejak itu Ji-siok suruh aku mengembara mencari pengalaman, syukurlah aku tidak menyia-nyiakan pendidikan perguruan, dengan sebatang palu godam aku malang melintang di enam propinsi utara, akhir kali aku menjatuhkan Kim-to Pang Mo, tidak sedikit pula gembong penjahat ditujuh propinsi selatan yang kukalahkan, termasuk Hian-thian-kaucu Bun Hoan-gay sehingga aku di juluki Lik-su-cui (Martil raksasa), tapi dibanding kau saudara Kiam-ping kemampuan dan apa yang kucapai bukan apa-apa." Lalu dia tertawa bingar sambil mengawasi Liok Kiam-ping.

"Laki- laki jujur dan sahaja," demikian batin Liok Kiam-ping, kesannya lebih baik.

"Tahun itu aku pulang untuk merayakan tahun baru dirumah Ji-siok, atas petunjuk Ji-siok aku disuruh menyelundup ke Hwe-hun bun mencari tahu berita Swan- hong-it-kiam, yaitu ayahmu, entah bagaimana nasibnya, karena waktu itu pihak Hwe-hun-bun mengerahkan anak muridnya mencari jejak ayahmu."

Karena menyinggung ayahnya Kiam-ping mendengarkan penuh perhatian, matanya mendelik terang.