Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 05

Jilid 05

Sekujur badan Tian Pek bergetar keras, ia tersadar kembali dari pengaruh suara seruling, dengan ter-mangu2 dipandangnya dara baju hitam itu, untuk sesaat ia seperti tidak tahu apa yang baru terjadi atas dirinya?

Rupanya ketika mendorong tubuh pemuda itu, diam2 Buyung Hong telah menotok Ce tay hiat dan Ki hu hiat di dada Tian Pek, getaran itu seketika menyadarkan anak muda itu dari pengaruh irama seruling.

Melihat pemuda itu sudah mendusin. Buyung Hong berseru lagi dengan lantang: "Gin-siau-toh-hun-ciang locianpwe akan menggunakan ilmu seruling im-mo-toh-hun siau-hoat untuk beradu kepandaian denganmu, kau merasa punya kemampuan untuk menerimanya tidak? Kalau tahu kekuatan sendiri belum memadai, lebih baik janganlah mencari penyakit."

Buyung Hoog kuatir kalau Tian Pek tak sanggup menahan serangan orang sehingga terluka, dengan ucapan tersebut ia sengaja memperingatkannya betapa lihay dan ampuhnya ilmu seruling “im-mo-toh-hun-siau-hoat” Ciang Su-peng itu, maksudnya agar TIan Pek jangan terlalu memaksa diri, kalau ia tidak terima tantangan tersebut, dengan kedudukan Ciang Su-peng dalam dunia persilatan tentu tak akan turun tangan untuk membinasakan seorang angkatan muda tanpa perlawanan.

Sayangnya Tian Pek telah salah artikan maksud baik dara baju hitam itu. Terpengaruh oleh irama Seruling yang ampuh, pemuda itu terjerumus dalam kesedihan yang luar biasa, rasa sedih yang kelewat batas membuat ia putus asa dan kecewa, hampir saja hawa murninya buyar dan tubuhnya menjadi cacat.

Seandainya Buyung Hong tidak pandai melihat gelagat dan segera menghentikan permainan seruling “im-mo-toh- hun-siau-hoat” Ciang Su-peng tadi niscaya Tian Pek sudah terluka oleh irama “iblis pembetot sukma" tersebut.

Walaupun sepintas lalu keadaan tidak kelihatan berbahaya, tapi sebenarnya Tian Pek seperti baru saja berputar sekeliling di pintu neraka.

Setelah Tian Pek sadar dari pengaruh seruling dan mendengar ucapan Buyung Hong , ia salah paham dan mengira gadis itu memandang enteng padarnya, dengan alis berkerut ia berkata: "Aku orang she Tian tidak lebih hanya angkatan muda di dunia persilatan, bisa mendapat kehormatan untuk mencoba keampuhan ilmu seriling “im- mo-toh-hun-siau-hoat” dari Ciang-cianpwe, hal ini merupakan sartu kebanggaan bagiku, kendati aku bukan tandingannya, sekalipun mati juga mati dengan bangga"

Rupanya anak muda itu salah mengartikan maksud Buyung Hong, setelah medusin dari sadihnya, diam ia menegur diri sendiri: "Tian Pek, wahai Tian Pek! Lebih baik kau mati daripada merusak nama baik keluarga, betapa gagah perwiranya ayahmu sewaktu malang-melintang di utara dan selatan sungai dengan kesaktian pedang hijaunya? Sekalipun tak dapat meniru kegagahan ayahmu, paling sedikit jangan mandah dihina orang!"

Dua puluh tahun yang lalu Gin-siau-toh-hun Ciang Su- peng pernah merobohkan Tionggoan-sam-lo tiga pemimpin dunia. persilatan di puncak Hoasan, sejak Itu namanya tersohor di-mana2. dia di segani dan semua orang menaruh hormat kepadanya.

Tian Pek sendiri bukannya tak tahu kelihayan orang, tapi ia bertekad untuk mengadu jiwa, ia merasa lebih berharga mati di tangan seorang kenamaan daripada mandah dihina, karena itu tanpa ragu ia sambut tantangan jago lihay itu. "Bagus! Sungguh mengagumkan!" puji Ciang Su-peng dengan muka berseri, "jika demikian, silahkan engkoh cilik menikmati sebuah laguku lagi"

Dengan santai jago tua itu lantas duduk di atas sepotong batu, ditatapnya pemuda itu sekejap sambil tersenyum, lalu ia tempelkan serulingnya dibibir dan mulai memainkan "irama pembetot sukma”. .

Dengan gemas Buyung Hong molotot orang tua itu sekejap, sia2 ia gelisah, namun tdk mampu mencegah.

Semua orang telah mundur jauh ke sana, dengan prihatin mereka berharap akan menyaksikan pertunjukan irama maut itu. Irama seruling mulai berkumandang. Kali ini iramanya tidak sesedih tadi.

Irama yang dimainkan sekarang bernada gembira dan lincah, ibarat bunga berkembang di musim semi membuat hati orang jadi lega dan bersukaria, seakan2 ada seorang pemuda yang menanti kekasih nya di taman bunga, lalu mereka menari, bernyanyi bersama dengan riang gembira, kemudian mereka saling berpelukan dengan mesra, penuh kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan.

Kali ini Tian Pek sudah siap sedia, ia pusatkan pikirannya, sambil duduk bersila ia jalankan latihan seperti yang diajarkan dalam kitab pusaka “So kut siau hun thian- hud pit-kip”.

Ilmu yang tercantum dalam kitab itu memang hebat, hanya sebentar saja Tian Pek sudah berada dalam keadaan lupa akan segala2nya, tentu saja irama seruling itu tidak mempengaruhi pikirannya.

Berbeda dengan orang2 yang menyaksikan pertarungan itu dari samping, walaupun telinga mereka tersumbat dengan kain, namun irama seruling masih sempat menyusup ke dalam telinga, beberapa orang yang cetek tenaga dalamnya mulai tak. Tahan bahkan mulai berjoget dan menari seperti orang gila.

Buyung Hong sendiri juga terpengaruh oleh Irama seruling itu, mukanya tampak berseri2 hampir saja ia tak mampu mengendalikan diri. Irama seruling terus mengalun, tapi Tian Pek tetap tenang, sedikitpun tidak terpengaruh.

Diam2 “seruling perak pembetot sukma" Ciang Su peng merasa heran, dilihatnya pemuda itu tetap duduk tenang di atas tanah rumput tanpa terpengaruh oleh irama serulingnya, dalam hati ia berpikir: "Walaupun bocah ini berbakat bagus, namun ilmu silatnya jelas tidak begitu tinggi, tapi aneh kenapa dia memiliki dasar tenaga dalam yang begini kuat dan tidak terpengaruh oleh irama serulingku'?"

Permainan serulingnya segera berubah, dari irama gembira kini berubah menjadi irama yang sedih, penuh duh nestapa, perubahan tersebut ibarat bunga mekar di musim semi tiba2 terlanda badai salju yang dingin dan membeku, bunga berguguran, suasana yang riang gembira telah lalu yang tersiksa hanya kesedihan dan kedukaan.

Seolah2 mendadak ditinggal pergi kekasih yang tercinta, dunia terasa hampa, semua harapan musnah, tiada gairah untuk hidup lagi, putus asa, kecewa, dan kegelapan belaka.

Sampai detik itu Leng-hong Kougku, si Tocu buta, kakek berkepala botak dan sekalian jago lihay yang lain masih belum terpengaruh, sebab bukan saja tenaga dalam mereka sempurna, jaraknya juga agak jauh.

Lain halnya dengan keenam laki2 kekar di belakang majikannya, dasar Lwekang mereka sangat cetek, mengikuti perubahan irama tersebut dari gerak menari yang menggila kemudian mereka jadi lesu, bermuram durja dan duduk tepekur air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.

Dasar Lwekang yang dimiliki Buyung Hong sebetulnya terhitung tinggi tapi karena ia bediri disamping Tian Pek, maka pengaruh irama seruling yang menyerangnya jauh lebih hebat dari yang lain.

mula2 mukanya bersenyum gembira, setelah mengikuti perubahan irama seruling kini muka menjadi murung dan diliputi kesedihan, air mata pun mulai membasahi pipinya.

Tian Pek sendiri tetap duduk bersila ditempat semula, dia sama sekali tidak terpengaruh meski nada Irama seruling semakin memuncak.

Ciang Su peng semakin terperanjat, irama lagu “hangatnya sang surya dan musim semi” serta “beku salju dimusim dingin” telah dimainkan, ternyata pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh, ia jadi penasaran.

Sekali lagi irama seruling berubah dari nada “beku salju dimusim semi” kali ia mainkan nada “angin musim gugur tajam bagaikan golok”. Dari irama sedih kini berubah menjadi tinggi melengking dan penuh bernada hawa nafsu membunuh.

lrama itu kian meninggi, kian memburu ibaratnya pasukan berkuda yang menyerbu datang dengan ganasnya, bumi se-olah 2 berguncang dan langit serasa ambruk. Seperti bunyi senjata tajam saling beradu dengan ramainya. Mengikuti perubahan irama itu, enam orang yang berada di belakang Leng Hong Kongcu tadi mulai lolos senjata dan saling bacok membacok dengan sengitnya.

Darah segar berhamburan, kuntungan lengan, kutungan senjata berserakan, bagaikan sudah kalap keenam orang itu saling bacok membacok, saling bunuh membunuh dengan ganasnya. dalam waktu singkat empat di antaranya sudah terluka parah.

Berulang kali Leng Hong Kongcu menghardik, namun bentakan itu tak mampu menghentikan perbuatan nekat keenam anak buahnya, mereka tetap saling membacok dan saling membunuh dengan ganasnya, menyaksikan kejadian itu, kakek botak itu berkerut kenning, ia segera tutuk jalan darah keenam orang itu hingga tak dapat berkutik lagi, walaupun begitu mereka tetap saling melotot dengan gusarnya, hawa nafsu membunuh masih  menyelimuti wajah mereka, walau darah sudah berceceran dan tubuh sudah terluka, namun mereka tetap garang dan siap menerjang

Buyung Hong sendiripun terpengaruh oleh irama tersebut, hawa nafsu membunuh yang tebal terlintas di wajahnya. Namun sambil mengertak gigi sekuatnya ia coba bertahan. Keringat mulai membasahi jidatnya, terlihat gadis itu suara hatinya yang mulai tidak terkendali.

Lambat laun suasana mulai kritis, tosu buta ini pun mulai menyadari betapa gawat keadaan saat itu. Ia pun tahu “Irama Pembetot Sukma” rekannya sama sekali tidak terpengaruh bagi pemuda itu.

Akhirnya dengan ilmu gelombang suara ia mulai berbisik pada temannya itu: “ Ciang heng, kukira pemuda itu agak aneh, kalau ingin menaklukkan dia lebih baik kita pindah lain tempat saja, jangan sampai permainan mu mengganggu ketenangan loya”

Karena bisikan ini dikirim dengan gelombang suara, orang lain hanya melihat bibirnya bergerak, tapi tidak tahu apa yang dibicarakan tapi ciang su peng dapat mendengar dengan jelas sekali. Namun bukan nya berhenti, ucapan ini segera membangkitkan rasa ingin menang dalam hati jago sakti  ini, ia jadi malu bercampur gusar karena irama maut “Im- mo-toh-hun-siau-hoat” yang sangat diandalkan ternyata tidak mampu merobohkan pemuda ingusan, kalau berita ini tersiar di luaran, bagaimana jadinya nanti ? Karena itulah bukannya berhenti, ia malahan mainkan irama mautnya semakin bernafsu.

Sekali kali lagi irama serulingnya berubah. Namun bagaimanapun dia ganti irama serulingnya, Tian Pek tetap tenang saja, dia telah mainkan irama seruling nya yang membawakan perasaaan gembira, marah, sedih, takut, benci dan nafsu berahi, semuanya tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Tian Pek masih tettap duduk bersila di atas tanah berumput, matanya terpejam rapat, pikirannya terpusat menjadi satu, sekalipun langit ambruk di sampingnya tetap tak diperdulikannya.

Semula Gin-siau toh- hun mengira cukup dengan irama “irama musim semi" dan "musim dingin", si anak muda itu sudah bisa ditaklukkan, terutama mengingat ilmu seruling yang dimilikinya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat jika dibandingkan dengan belasan tahun berselang. Dahulu Tiong goan-sam-lo yang tersohor juga bisa ditundukkan apalagi Tian Pek yang dihadapinya kini tak lebih cuma seorang pemuda ingusan?

Siapa tahu, sekalipun lalu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin telah dimainkan seluruhnya (hanya musim duren aja belum dimainkan, gagagak), kemudian juga menggunakan irama perasaan manusia untuk menggoda ketenangan pemuda itu, ternyata Tian Pek masih tetap tidak terpengaruh.

Hal ini sangat menggelisahkan Gin-siau toh-hun disamping rasa gusar yang berkobar, akhirnya dia mengeluarkan jurus terampuh dari irama mautnya yakni "Toh-bun-siau-boat" (seruling sakti pembetot sukma), untuk merobohkan anak muda itu.

Watak manusia memang suka menang demikian pula dengan si seruling perak pembetot sukma ketika dilihatnya Irama maut yang sangat terkenal di kolong langit ini sama sekali tak mampu merobohkan seorang pemuda ingusan. tentu saja ia

Jadi penasaran, dalam keadaan demikian maka semua kepandaian yang dimilikinya segera dikerahkan dengan sepenuh tenaga.

Namun Tian Pek tetap tidak terpengaruh, diam2 Gin- siau-toh-hun Ciang Su peng merasa heran, pikirnya: “Ah, masa kemampuan anak muda ini bisa lebih hebat dari Tionggoan-sam-lo?"

Tentu saja mimpipun dia tak menduga kalau ilmu yang digunakan Tian Pek untuk menanding irama mautnya bukan lain adalah Sim hoat ( ilmu batin) yang paling top di dunia persilatan yang tercantum dalam kitab pusaka So kut- siau hun thian- hud-pit- kip, sejak tergoda oleh Thian-sian- mo-li (Iblis wanita bidadari dari langit) serta terperosot dalam ilmu Ni-li mi-hun-toa-hoat (gadis pemikat sukma ), Ciah gan-long kun telah menciptakan semacam Sim Hoat untuk melawan pengaruh iblis tersebut. apa yang diciptakan olehnya kemudian dicatat dalam kitab pusaka "So-kut-siau- hun-thian hud pit- kip", maka dapat dibayangkan setelah Tian Pek menguasai ilmu sakti itu, mungkinkah ia terpengaruh oleh irama maut Ciang Su-peng? Padahal irama maut itu belum apa2 kalau dibandingkan kelihaian Thian-sian- mo-li (Iblis wanita bidadari dari langit)

Walau begitu, sudah tentu Gin siau-toh-hun sendiri tak mau menyerah dengan begitu saja. dengan muka merah padam karena menahan emosi dan sinar mata berkilat, ia mainkan irama im mo hoan keng (irama maut pembawa ke alam khayal) yang merupakan tingkat paling hebat dari ilmu serulingnya.

Dalam waktu singkat iramanya yang merdu merayu membubung tinggi, menembus segala rintangan, emaspun rasanya tertembus oleh getaran irama itu, ketika membubung tinggi ke angkasa, tiba2 merendah kembali ke bawah.

Satu irama seketika terpecah menjadi bermacam2 seperti bidadari menabur bunga lagi menari dengan indahnya, seperti

Air muka Leng Hong Kongcu berubah hebat rupanya iapun mulai terpengaruh oleh irama maut itu, tubuhnya menggigil...

Melihat keadaan majikannya, kakek botak itu sangat terkejut, ia cengkeram lengan pemuda itu dan berseru “Cepat mundur kebelakang” berbareng ia melompat mundur beberapa tombak dengan menyeret Leng Hong Kongcu.

Agaknya si Tosu buta juga tahu Gin siau-toh-hun sudah mulai kalap, sambil menghela napas dan menggeleng kepala, ia pun melayang mundur kebelakang untuk melindungi Leng Hong Kongcu.

Irama seruling yang menggema ke empat penjuru mulai berubah lagi, ibarat berpuluh2 gadis cantik dalam keadaan telanjang bulat sedang menari, mereka tersenyum dan merangsang nafsu birahi.

Kaum pria mulai membayangkan gadis2 cantik yang mengerumuninya dalam keadaan polos, dalam khayalnya rasanya ia adalah pemuda yang tampan di dunia. Bagi kaum wanita, mereka merasa se-akan2 tubuhnya dipeluk jejaka tampan dan sedang dibelai dengan penuh kasih sayang. diraba dan diusap dengan mesra, membuat berahinya terasa kian berkobar.

Bagi kaum hamba yang kemaruk harta, alam pikiran mereka terseret ke dalam khayala yang lebih hebat, se-olah2 ada segudang emas, segudang intan permata dan segala mutu manikam berserakan di hadapannya.

Setiap orang terbayang pada apa yang dikhayalkan siapa yang bisa melawan hawa napsu diri sendiri? Siapa yang sanggup membendung hasrat pribadi?

Namun Tian Pek tetap tak terpengaruh, ia tetap duduk tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun. Namun Buyung Hong, kakak perempuan Leng Hong Kongcu, puteri sulung si "Tangan sakti pemetik bintang" Buyung Ham, tampak sudah mulai kehilangan kesadarannya.

Tubuhnya yang ramping dan indah mulai gemetar, kulit mukanya yang putih bersih bagaikan salju kini bersemu merah, alisnya bekernyit, tampaknya ia sedang menahan penderitaan yang hebat, biji matanya yang bening mengerling ke sana kemari dengan genitnya, muka yang semu merah dihiasi senyum yang menawan, seolah-olah sedang mengharapkan sesuatu.

Api nafsu birahi yang membakar tubuh Buyung Hong makin berkobar, akhirnya dara cantik itu tak mampu menguasai diri lagi, ia mulai melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya.

Bibir yang mungil bagai delima merekah, hidung mancung, parasnya yang cantik jelita benar2 merupakan suatu perpaduan yang serasi. Buyung Hong, puteri sulung Buyung Ham memang tak malu yang disebut sebagai gadis yang cantik bagai bidadari. Muka Buyung Hong tampak makin merah membara, sikap angkuh dan dingin yang selalu menghiasi wajahnya kini sudah lenyap tak berbekas, yang tertinggal adalah kegenitan dan pancaran mata yang penuh dengan nafsu birahi.

Irama seruling makin menggila, dara baju hitam itu semakin tak kuasa mengendalikan diri, akhirnya dengan langkah gemulai ia menghampiri Tian Pek.

“Oo…oo…sayang sudah lama ku menantikan kau………..Ooooooo. betaaapa rindu ku padamu.. engkoh sayang. tahukah kau, betapa cintaku padamu ., . sayaug

... aku ingin

Karena dorongan nafsu berahi yang membara, dengan bibir setengah merekah, mata setengah terpejam dan keluhan yang berharap, gadis itu menjatuhkan dirinya ke dalam pangkuan Tian Pek, ia rangkul pemuda itu penuh kemesraan, lalu membelai wajahnya dengan penuh kasih sayang.

Tian Pek. merinding ketika mendadak terasa pipinya gatal2 geli karena tersentuh sesuatu, perlahan ia membuka mata, tahu2 seorang gadis cantik berada dalam rangkulannya, seketika jantungnya berdebar keras segulung hawa panas memancar keluar dan pusarnya dan menerjang ke arah selangkangan, konsentrasinya menjadi goyah dan api birahi terasa membakar.

Tanpa disadarinya daya pertahanannya menjadi buyar, saat itulah pengaruh irama maut seruling mulai menyusup ke dalam tubuhnya. Tian Pek tak dapat menguasai din lagi la merentang tangannya dan memeluk gadis baju hitam itu erat2. Dari kejauhkan Leng hong Kongcu dapat menyaksikan semua adegan mesra itu dengan jelas. Malu dan gusarnya tidak kepalang, segera ia membentak: "Cukup!"

Bentakan itu dilancarkan Leng hong Kongcu dengan segenap tenaga dalamnya, suara menggelegar itu membuat si "Seruling perak pembetot sukma” jadi melengak dan tanpa terasa menghentikan permainan serulingnya.

Ditengah bentakannya secepat kilat Leng Hong Kongcu lantas menerjang ke depan Tian Pek serta Buyung Hong, ia tarik encinya dari rangkulan anak muda itu, kemudian telapak tangannya diayukan dan menghajar dada Tian Pek.

'"Duuk!"' Tian Pek tidak tahu berkelit, dadanya terhantam telak oleh pukulan Leng hong Kongcu itu.

Tian Pek tergetar dengan hebatnya, namun ia tetap duduk tidak roboh. Pukulan dahsyat itu bagai martil ribuan kati menghatam dadanya, isi perut Tian Pek kontan bergetar, hawa murninya bergolak dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa seketika dia muntah darah.

"Plok!" sebuah tamparan keras tiba2 dilepaskan Buyung Hong dan telak bersarang di pipi Leng -hong Kongcu, dengan sempoyongan anak muda itu tergetar mundur beberapa langkah, hampir saja roboh terjengkang.

Lima jalur merah bekas jari menghiasi muka Leng Hong Kongcu yang tampan, bahkan pipinya agak bengkak, darah meleleh di ujung bibirnya. Memang cukup keras tamparan Buyung Hong itu, jangankan dipukul. sebesar ini belum pernah Leng-hong Kongcu dimaki atau diperlakukan sekasar ini, untuk sesaat ia jadi tertegun dan terpaku diam .

Setelah menampar, Buyung Hong tak lagi memandang adiknya, dengan pandangan mesra ia tatap wajah Tian pek bisiknya lagi dengan lembut: "0, Sakitkah kau? 0, kasihan. . . . . sayang . . coba kuperiksa lukamu . . !" dengan lemah gemulai ia menghampiri anak muda itu, membuka pakaiannya dan membesut darah di ujung bibirnya.

.

"Nona, pergilah dari sini! Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup menderita, luka sekecil itu takkan merengut nyawaku!' kata Tian Pek sambil menyingkirkan tangan

:anak dara itu, lalu bangkit berdiri dan melangka pergi dengan sempoyongan.

"Engkoh sayang, tunggu, adik akan turut bersamammu!" seru Buyung Hong sambil mengejar. Tapi Tian Pek tidak menggubrisnya ia melangkah terus dengan sempoyongan. Buyung Hong menjadi gelisah, dengan air mata bercucuran ia menyusul pemuda itu, merengek kepada anak muda itu agar membawa serta dirinya.

Leng-hong Kongcu berdiri mematung dengan terkejut, bukan terkejut karena pipinya digaplok, ia heran karena encinya yang selalu dingin, ketus dan jarang bicara, ternyata mengejar dan merengek2 pada seorang pemuda asing. Ia jadi melongo kesima hingga lupa rasa sakit dipipinya.

"Nona Hong!"

"Nona Buyung!" si Tosu buta, kakek botak serta sekalian jago yang ada di situ menghalangi jalan pergi gadis itu, mereka bermaksud menarik perhatiannya, dengan menyadarkan pikirannya agar menjaga harga diri.

Tidak tersangka Buyung Hong lantas melotot gusar, dengan marah ia menghardik: "Hey, kalian mau apa? Enyah dari sini!" Tosu buta maupun kakek botak merupakan jago persilatan yang berkedudukan tinggi, walaupun di dalam istana keluarga Buyung mereka hanya sebagai tamu, namun mereka selalu dihormati dan disegani orang. Sudah tentu bentakan Buyung Hong sangat mencengangkan mereka, sesaat mereka berdiri melongo.

Akhirnya kakek botak itu berkata dengan suara berat: "Nona Hong!, walau kau tidak pikirkan harga diri, !tapi tak kuizinkan kau berbuat seenaknya,"

"Betul nona!'" sambung si Tosu buta, "harus kau ingat pada kedudukan ayahmu, jangan1ah berbuat menuruti watakmu, ., . .."

Bukan diterima baik, Buyung Hong semakin marah, ia paksa mundur kedua orang dengan gerak "Ya-be hun cong" (kuda liar menyibak bulu suri), kemudian ia mengejar Tian Pek dan berseru: "00. engkoh sayang.. . . , !tunggu aku. . . . .

Bahwa Buyung Hong dapat menyerang mereka hal ini sama sekali di luar dugaan si Tosu buta dan si kakek botak, kontan mereka terdesak mundur dua langkah.

Merah padam wajah kedua orang itu, sekali berkelebat jalan Buyung Hong kembali teradang.

Dara baju hitam itu menangis seperti anak kecil,  serunya

: "jangan urusi diriku , biarkan aku pergi, biarkan aku

pergi” sambil berteriak dan menangis., tiba2 pakaian sendiri dirobek dan dilempaskan dari tubuhnya.

Cepat gerak tangan gadis itu, dalam waktu singkat pakaian sutra hitam sudah hancur ber-keping2 dan bertebaran, ia jadi bugil, seluruh anggota tubuh nya terpampang jelas.

Kakek botak itu kaget dan kelabakan, cepat ia menyurut mundur, walau pengalamannya luas dan banyak kejadian besar yang pernah dihadapinya, tapi selama hidup belum pernah mengalami kejadian seperti sekarang ini. Meski sepasang mata tosu buta, pendengaran nya sungguh tajam sekali, sekalipun semua kejadian tak dapat diikuti dengan mata, namun telinga bisa mengikuti peristiwa itu dengan jelas. Ia pun terkesiap dan menyurut mundur kebelakang, biji matanya yang putih mendelik, melongo dan untuk sesaat tidak mampu berbicara.

Lebih2 Leng Hong Kongcu yang angkuh, saking gusarnya ia pun kelabakan, mukanya pucat dan bergumam sendiri entah apa yang digerutunya. Sekalipun Buyung Hong adalah kakak kandungnya, ia tak berani mencegah karena nona itu dalam keadaan bugil, anak muda itu hanya bisa ber keok2 dan gelisah setengah mati.

Mendengar ribut2 itu Tian Pek berpaling, ketika dilihat tubuh anak dara itu yang telanjang bulat mulus itu, ia tertegun dan berdiri terkesima.

“jangan halangi aku, jangan urusi diriku, aku mencintai dia… ” jerit Buyung Hong seperti orang gila.

Setelah pakaiannya dirobeknva hancur dan telanjang, ia masih belum puas. Ia muali mencabuti tusuk kundainya, gelangnya, anting2 dan semua perhiasan yang menempel di tubuhnya, itu dibuang ke tanah.

Dalam waktu singkat ia berada dalam keadaan polos, kembali keasliannya yang murni, rambutnya yang hitam gombyok terurai, sambil merentangkan tangannya ia menubruk ke dalam pangkuan Tian Pek.

Pikiran aneh terlintas dalam pikiran anak muda itu, ia tidak menaruh prasangka jelek atas tubuh Buyung Hong yang telanjang, tiada nafsu birahi yang menguasai pikirannya. Ia malahan merasa manusia lebih wajar dalam keadaan bugil, sebab tanpa dibebani belenggu apapun, semua terbuka dan bebas, suci dan murni .

Pikiran itu mendorongnya untuk mencabik cabik pakaian sendiri, tapi sebelum celana yang terakhir sempat dilepaskan. Buyung Hong telah berada di depannya.

Memandang tubuh Tian Pek yang kekar dan berotot, sekilas cahaya aneh terpancar pada mata Buyung Hong, ia mengeluarkan suara keluhan gembira dan kepuasan, Tian Pek juga sudah berada dalam keadaan telanjang kecuali sebuah celana dalam yang masih menutupi bagian vitalnya, sesudah berhadapan Buyung Hong lantas menubruk kedalam pelukan pemuda itu, ia merangkul tubuhnya, ia berpekik gembira dan berlompatan seperti anak kecil, menari nari seperti orang gila.

la benar kalap, sudah gila karena kebebasannya. belum pernah ia rasakan kegembiraan seperti ini. kebebasan yang tak terbatas, kebahagiaan yang tanpa belenggu apapun.

Leng-hong Kongcu, Ciang Su-peng, si Tosu buta maupun kakek botak sama2 berdiri melongo, apa yang mereka lihat sungguh sukar dipercaya dan tidak pernah dibayangkan mereka.

Keenam pria kekar yang tertutuk jalan darahnya, walaupun tubuh mereka tak bisa bergerak, namun mata mereka tidak buta, merekapun tercengang menyaksikan kejadian yang luar biasa ini.

Di antara sekian banyak orang, Ciang Su peng yang paling sedih, sama sekali tak terduga olehnya bahwa permainan seruling maut nya bisa menimbulkan peristiwa seperti ini.

Semula Tian Pek juga sudah timbul rasa kegembiraan dan kebebasan seperti apa yang diperlihatkan Buyung Hong, ketika pakaiannya juga dirobek hingga akhirnya tinggal celana dalam saja, tiba2 tangannya menyentuh dua macam benda, kedua benda itu tidak dibuangnya, sebaliknya malah membuat anak muda itu segera tersadar kembali

kepada realita kehidupan ini.

Benda itu adalah kitab pusaka So kut-siau hun thian- hud-pit- kip, disinilah tumpahan semua harapannya, ia masih ingat ucapan paman Lui: "lImu silat tingkat tertinggi ini akan membuka masa depan mu yang cemerlang. akan menuntun kau menuju kehidupan yang lebih bahagia, menuntut balas bagi kematian ayahmu karena itu kitab ini tak dapat dibuang dengan begitu saja."

Benda kedua adalah kantung kecil yang diterima dari mendiang ayahnya, dari situlah dia akan melacak jejak pembunuh ayahnya. Dua benda inilah yang menyadarkan kembali anak muda itu dari alam khayalnya, sekalipun Buyung Hong yang bugil dan cantik masih merangkul tubuhnya, mencium tubuhnya dengan hangat, ia tak peduli yang terpikir kini cuma melepaskan diri dari godaan orang2 itu untuk memperdalam ilmu dan mencari pembunuh ayahnya dan membalas dendam.

Dengusan seorang tiba berkumandang memecah kesunyian, menyusul serentetan teguran ketus menggema: "hm! Manusia2 yang tak berguna! Cepat seret dia dari situ, bikin malu saja!"

"Anak Hong, kenapa kau? Anak Hong, kenapa kau?" jerit seorang perempuan dengan suara melengking.

Suara langkah orang banyak hiruk-plkuk berkumandangg dari kejauhan Tian Pek terperanjat dan tersadar, ia menengadah, dilihatnya belasan orang telah muncul di depannya. Seorang lelaki tinggi kekar, bermuka merah, berusia lima puluhan dan berdandan perlente berjalan paling depan, orang itu memakai baju yang gemerlapan, matanya besar dan mulutnya lebar, siapapun yang memandangnya pasti akan terkesima oleh wibawanya yang besar. Nyonya cantik yang telah beberapa kali ditemuinya juga berada di samping pria kekar itu.

Tiga puluhan orang lain menyusul di belakang, rata2 mereka bertubuh tegap, rupanya sekawanan jago persilatan yang berilmu tinggi.

Dari dandanannya yang agung Tian Pek menduga orang ini tentu adalah Loya yang pernah disebut 2 sebagai suami nyonya cantik itu.

Wajah pria perlente itu tampak sangat marah, sedang si nyonya tercengang bercampur keheranan, ketika mereka tiba di situ Leng-hong Kongcu dan

lain2 sama kebat-kebit dan menahan napas. empat orang dayang baju hijau segera menghampiri Buyung Hong, mereka melepaskan baju luar masing2 untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, lalu mereka hendak mengiring pulang si nona.

"Aku tak mau . . aku tak mau pergi” jerit Buyung Hong dengan kalap, tapi keempat dayang itu terus menggiringnya pergi dari situ, walau kesadarannya belum pulih, agaknya Buyung Hang tek berani membantah perintah ayahnya, sementara Buyung Hong digiring pergi, satu ingatan berkelebat dalam benak Tian Pek, ia susupkan kitab dalam kantong kecil itu ke dalam celananya, celana dalamnya sangat ketat sehingga. benda2 tak mungkin terjatuh.

"Berikan pakaian kepadanya, suruh dia ikut padaku" kembali lelaki agung tadi memerintah. Seorang pria bergolok segera melepaskan mantelnya dan dilemparkan ke arah Tian Pok, mantel itu terbuat dari sutra hitam lemas, namun sewaktu meluncur ke arah Tian Pek ternyata berubah menjadi kaku bagaikan toya diiringi desing angin langsung menerjang dada anak muda itu, agaknya pria bersenjata itu hendak pamer kekuatannya dan kalau bisa membunuh anak muda itu sekalian.

Tian Pek tersenyum, dia salurkan hawa murninya pada jari tangan, sekali remas dan sekali menyendal, seketika tenaga dalam musuh itu dipunahkan, malahan mantel hltam itu lantas dikenakan dibadannya.

Demonstrasi kepandaian ini sebenarnya sangat mengagumkan, akan tetapi pria agung itu tak memandang barang sekejappun, ia segera putar badan dan berlalu. Agaknya lelaki itu yakin kalau Tian Pek tak berani membangkang perintahnya dan tentu turut pergi bersama dia.

.Sikap angkuh lelaki tersebut menimbulkan anti pati dalam hati kecil Tian Pek, namun dilihatnya kawanan jago yang hadir disitu sedang melotot gusar padanya. Tian Pek menyadari kepandaiannya masih bukan tandingan lawan2 itu, dilihatnya juga nyonya cantik itu sedang memandang kepadanya dengan sorot mata penuh kasih sayang, pikirnya

:” ah, kenapa kuurusi orang2 ini? peduli amat apa yang kalian lakukan kepada ku, biarlah kuikuti kemana pergi kalian”

Tapi pada saat dia mulai melangkah ia merasa seperti tawanan yang sedang digiring ketiang gantung, hatinya berontak, pikirnya didalam hati “ Tian Pek dimana keberanianmu ? apa kau mandah digebuk dan disiksa orang tanpa melawan? Apakah kau hendak menyerah sebagai seorang pengecut? Walau hatinya panas dan ingin berontak namun anak muda itu sadar kekuatan lawan, sudah pasti ilmu silatnya bukan tandingan orang, ia tak ingin mati konyol, apalagi ia harus menunaikan tugas lain yang lebih penting.

Karena itulah Tian Pek menahan diri, diam2 dia ambil keputusan bilamana tidak terpaksa ia tak ingin mengorbankan jiwanya dengan sia2.

Meskipun malu dan menyesal dalam hati,Tian Pek tetap membungkam, ia meneruskan langkahnya dengan kepala tertunduk.

Ia iihat mantel hitam yang dikenakannya terbuat dari bahan sutera yang halus, di dada sebelah kiri bersulamkan seekor macan tutul yang indah dan garang.

Selama ini ia memang mengherankan asal-usul si nyonya cantik, Buyung Hong dan Leng-hong Kongcu tapi sekarang, lambang macan tutul di dada kiri mantel hitam ini telah mengingatkan dia akan suatu nama yang cemerlang di kolong langit.

"Pa-to-san-ceng!" pikir Tian Pek. "Kalau tebakanku tak keliru, orang tua yang berbaju perlente itu pastilah ketua perkampungan Harimau Tutul (Pah to-san-ceng) yang berjuluk Ti-seng-jiu (Tangan sakti pemetik bintang) Buyung Ham!"

Berpikir demikian, ia segera menengadah ke depan, ia ingin tahu keistimewaan apakah yang di miliki Ti-seng-jiu Buyung Ham, dan keampuhan apakah yang dimiliki jago kosen itu sehingga disegani jago2 dari kalangan putih maupun golongan hitam.

Pria agung itu berjalan di depan, tiga puluhan orang jago persilatan mengikut di belakangnya, di antara mereka termasuk pula Leng-hong Kongcu Tosu buta, kakek botak, Gin-siau-toh-hun serta enam orang kekar yang saling bacok membacok tadi.

Sementara itu jenazah Tan Cing serta Tan Ping telah diangkut pergi dari situ, terhadap kematian anak buahnya, pria perlente itu sama sekali tidak menegur atau bertanya, se-akan2 kematian hanyalah suatu kejadian yang biasa di situ.

Di antara deretan orang yang begitu banyak Tian Pek hanya sempat menyaksikan bayangan punggungnya dari kejauhan, ia lihat pakaian perlente yang bukan sutera dan bukan satin yang dikenakan orang itu gemerlapan ketika tersorot cahaya sang surya.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Tian Pek, ia merasa bahan pakaian yang dikenakan orang ini sangat istimewa.

Di antara puluhan orang yang membuntuti di belakangnya banyak pula yang mengenakan pakaian perlente, bahkan para centeng dan dayangpun mengenakan pakaian dari bahan nomor satu di pasaran. tapi kalau dibandingkan dengan bahan pakaian yang dikenakan orang tua itu, nyata benar perbedaannya.

Tian Pek segera teringat pada cabikan kain yang ada di kantong kecil peninggalan ayahnya: "'Hah?! Bukankab bahan pakaian yang dia kenakan itu persis sama seperti cabikan kain itu? "

Penemuan yang sama sekali di luar dugaan ini menggetar hati Tian Pek, seperti tersambar geledek, hampir saja ia tak mampu mengendalikan diri, darah panas bergolak dalam dadanya, hampir saja ia menerjang maju untuk mengadu jiwa. Tapi sedapatnya ia berusaha untuk menguasai diri, ia mengertak gigi dan menahan emosi, pikirnya: "Mungkin bangsat tua inilah pembunuh ayahku”

Tapi ia lantas berpikir lebih jauh: "Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, ayah menyerahkan kantong kecil itu kepadaku, isi kantong itu adalah secomot rambut, seutas serat, sebiji gotri baja, sebiji kancing tembaga, sebiji mata uang tembaga dan secabik kain sutera yang jelas berasal dari robekan pakaian, walaupun aku tak tahu apa arti dari benda2 tersebut, yang pasti bahan pakaian itu persis bahan pakaian yang dikenakan keparat tadi. sekalipun dia bukan pembunuh ayahku, paling sedikit dari dialah akan kudapatkan titik terang yang bisa kugunakan untuk melakukan penyelidikan

..."

Dengan pikiran yang kalut Tian Pek melelanjutkan perjalanannya, entah sudah berapa jauh mereka berjalan, entah berapa banyak pintu mereka lewati, akhirnya tanpa ditanyai atau diperiksa anak muda itu terus dijebloskan ke dalam sebuah penjara batu yang sangat kuat.

Tian Pek merasa kuatir dan tak tenang ketika dijebloskan ke dalam penjara, sebab ia tak tahu apa yang hendak diperbuat Buyung Ham atas dirinya, tapi setelah dipikir lebih jauh, iapun dapat berlega hati. untuk sementara ia harus bersabar, dia menggunakan kesempatan yang baik itu untuk berlatih tekun serta memperdalam ilmu yang dipelajarinya dari kitab pusaka So kut-siau-hun-thian-hud- pit kip.

Mula2 karena Tian Pek ingin cepat menguasi ilmu sakti, ia berlatih dengan amat tekun, setiap kesempatan ia gunakan untuk memperdalam ilmunya, di siang hari ia membuka kitab itu, tapi lukisan percnipuan bugil yang merangsang napsu lantas mengobarkan perasaannya, mcmbuat pemuda itu tak mampu memusatkan perhatian untuk berlatih, apalagi ia telah lihat keindahan tubuh Buyung Hong yang telanjang, seringkali dia jadi melamun dan mengkhayalkan hal2 yang bukan2, membuat jantungnya berdebar dan napsu berahi berkobar.

Tapi kemudian Tian Pek sadar mendadak akan kesalahannya itu, ia tabu kalau cara begini berlanjut terus, akhirnya dia akan mengalami kesesatan dalam ilmu yang dilatihnya dan mungkin sekali akan cacat selamanya.

Maka pemuda itu lantas kembali ke sistim lama seperti yang dilakukannya di gua itu, ia meraba isi kitab tersebut dengan mata terpejam, untung cara ini sudah terbiasa baginya, maka tiada banyak kesulitan yang ditemui.

Dengan begitu maka pemuda itu tenggelam kembali dalam kesibukannya untuk melatih ilmu, ia lupa waktu, lupa makan bahkan lupa kalau dirinya sedang disekap dalam sebuah penjara . . .

*o* *o* *o* *o* *o*

Setelah menjebloskan Tian Pek ke dalam penjara, Ti- seng-jiu Buyung Ham tak pernah memikirkan lagi pemuda yang tiada artinya itu.

Lain halnya dengan peristiwa yang memalukan bagi keluarganya itu, ia jadi marah oleh perbuatan puterinya, ia menganggap kejadian itu menodai nama baik keluarganya, merusak kehormatannya selaku pemimpm dunia persilatan di lima propinsi utara.

Bersama dengan isterinya, mereka sekap Buyung Hong di sebuah ruang rahasia, ia paksa puterinya mengaku, sebab apa ia melakukan perbuatan yang memalukan itu?

Tapi Buyung Hong cuma menangis, sama sekali ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Buyung Ham semakin gusar, akhirnya ia menggebrak meja hingga meja itu hancur ber-keping2, kemudian ia cabut keluar sebilah pedang pendek.

"Kau telah memalukan nama keluarga, kau menodai namaku! Lebih baik kau mampus saja daripada membuat malu!" teriaknya sambil melemparkan pedang itu ke depan kaki puterinya, kemudian ia banting daun pintu dan tinggal pergi.

Air mata jatuh berderai membasahi seluruh wajah Buyung-Hong, tanpa berkata diambilnya pedang pendek itu terus menggorok leher sendiri.

Untung si nyonya cantik itu bertindak cepat, ia rampas pedang itu dan memeluk puterinya erat2.

"Anak Hong, jangan nekat         jangan bunuh diri"  ratap

sang ibu dengan air mata bercucuran. "Kemarahan ayahmu hanya berlangsung sebentar saja. nanti dia akan baik lagi . .

.'.

"Oo ibu!" seru Buyung Hong sambil memeluk ibunya

dan menangis sedih. xxxx

Dengan penuh kemarahan Ti-seng-jiu Buyung Ham menuju ke ruang dalam sebelah timur, dia hendak mengumbar kegusarannya pada Buyung Seng-yap. Ketika seorang kacung agak lambat membukakan pintu, dengan marah Buyung Ham menendangnya hingga daun pintu mencelat dan hancur.

Cepat si kacung melongok keluar, dia ingin tahu apa yang terjadi, apa lacur sebuah pukulan mendadak bersarang di batok kepalanya, tak sempat menjerit kacung itu roboh binasa dengan kepala pecah. Betapa kaget dan takutnya kawanan pelayan dan dayang lainnya menyaksikan kejadian itu, dengan ketakutan mereka bersembunyi di ujung ruangan, jangankan bicara, bernapas keras2pun tak berani.

Kebetulan Leng-hong Kongcu tak ada di ka-mar, kemarahan Ti-seng-jiu makin menjadi, karena tiada sasaran pelampias hawa amarahnya, dengan kalap dia hancurkan barang antik yang berjajar di dalam kamar.

Dalam waktu singkat suara hiruk pikuk memecahkan kesunyian, semua benda hancur ber-keping2, ruangan jadi kacau balau.

Para pelayan semakin ketakutan, diam2 mereka mcngeluh dan serba salah, mau melarang perbuatan Tuan Besar mereka jelas tak berani, kalau tidak melarang, padahal barang2 antik itu adalah barang kesayangan Kongcu mereka, dengan perangai Kongcu mereka yang lebih berangasan dan tak kenal perasaan. pasti dia akan marah besar kepada para pelayan itu, sskaiipun diberi penjelasan belum tentu dia mau terima.

Bisa dibayangkan betapa takut dan ngerinya kawanan pelayan yang bertugas di kamar tidur Leng-hong Kongcu, mereka mengkeret dengan tubuh meggigil, muka pucat dan mulut tatap membungkam.

"Kongcu pergi kemana?" hardik Buyung-cengcu sambil melangkah keluar.

Para pelayan ketakutan setengah mati, tak seorangpun berani menjawab.

"Kalian bisu semua? Kenapa tidak jawab pertanyaanku?!" kembali Buyung-cengcu membentak.

Jangankan sedang marah2, pada hari2 biasapun para anggota keluarga Buyung tak ada yang berani membangkang perintah Buyung-cengcu dan sangat takut padanya, mereka memandang majikannya bagaikan malaikat dari khayangan.

"Kongcuya berada di ruang depan......." akhirnya  seorang babu cilik berusia belasan tahunan memberanikan diri untuk menjawab.

Buyung cengcu mendengus terus berlalu dari situ. Setelah   bavangan   tubuhnya   lenyap   dari  pandangan,

kawanan  pelayan  itu  baru  menghembuskan  napas  lega,

mereka merasa se-olah2 nyawanya baru lolos dari pintu neraka.

Ketika Ti seng-jiu Buyung Ham tinggalkan kamar puteranya menuju ke ruang depan dengan uring2-an, hari sudah gelap, cahaya lampu terpancar dari setiap rumah perkampungan Pah-to-san-ceng

Setiap halaman, setiap tikungan atau persimpangan jalan, para peronda dan penjaga sama memberi hormat kepada sang Cengcu.

Ti seng jiu tidak mengacuhkan mereka, dengan langkah lebar ia lanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Ketika melewati taman yang luas dengan pepohonan yang lebat, tiba2 tiga sosok bayangan hitam secepat kilat berkelebat lewat.

"Siapa itu?" bentak Ti-seng-jiu dengan curiga.

Meskipun cuaca telah gelap, namun dengan ketajaman mata Buyung Ham ia sempat menangkap berkelebatnya bayangan orang.

Angin mendesir, ketiga orang pejalan malam berkedok hitam itu melayang ke depan Ti-seng-jiu dengan pedang terhunus. Buyung Ham melengak heran, sama sekali  tak diduganya ada Ya-heng-jin (orang yang berjalan malam) yang berhasii menyusup ke dalam perkampungan Pah to san-ceng yang angker dan dijaga ketat itu.

"Sungguh besar amat nyali orang2 ini! Apa mereka tak tahu siapakah aku?" pikir Buyung Ham.

Semula dia mengira ketiga bayangan orang itu adalah jagoan dari perkampungan sendiri, setelah mereka muncul dengan senjata terhunus, barulah ia merasa tercengang bercampur kaget.

Ia pun heran darimana mereka bisa masuk ke dalam perkampungannya tanpa dipergoki oleh para penjaganya?

"Sahabat dari mana?" kembali Buyung Ham menegur. "Ada urusan apa malam2 berkunjung ke Pah-to-san-ceng?'"

Buyung Ham memang tak malu sebagai seorang jago kawakan yang punya nama besar di dunia per-silatan, walau berada dalam keadaan gusar, ia tak mau kehilangan pamornya sebagai seorang tokoh terhormat dihadapan kawan persilatan.

"Siapa lagi? Kalau sudah berkunjung ke perkampunganmu, tentu saja adalah sahabat baik!" jawab Ya-heng-jin yang berdiri di tengah dengan lantang.

Berbareng dengan ucapan tersebut, dua orang berkerudung hitam yang berada di sisinya segera melancarkan tusukan kilat maha dahsyat ke kiri kanan tubuh Ti-seng-jiu.

Sungguh lihay ilmu silat kedua orang tamu tak diundang ini, terutama sekali kerja sama mereka yang rapat. Dari gaya serangan mereka ini jelas mereka berasal dari Bu tong- pay. Buyung Ham tetap tenang, ia menunggu ujung pedang lawan hampir mengenai tubuhnya. mendadak ia mendengus, dua jari tangan kirinya menyelentik pada batang pedang lawan.

"Tring! Tring!" di tengah dentingan nyaring, kedua pedang lawan tergetar hingga terpental beberapa senti ke samping.

Kedua orang berkerudung itu merasakan telapak tangan jadi kesemutan, hampir saja pedang terlepas dari tangannya.

Menyadari keadaan tidak menguntungkan, segera mereka hendak tarik kembali senjatanya dan berganti serangan. Tapi Ti-seng-jiu bertindak lebih cepat, setelah menyingkirkan ancaman tadi, telapak tangan kanannya berputar setengah lingkaran, kemudian diiringi deru angin kuat ia menghantam ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat langsung menekan dada kedua orang berkerudung itu, untuk menghindar sudah tak mungkin lagi. "Dak! Duk!" benturan dahsyat bersarang telak di dada mereka.

Bagaikan digodam, kedua orang berkerudung itu mencelat sejauh beberapa tombak, muntah darah dan binasa.

Melihat rekannya mampus, orang ketiga menjadi panik, segera ia hendak angkat langkah seribu.

Namun sudah terlambat, baru saja dia bergerak, tahu2 pergelangan tangan kirinya sudah di-pencet oleh Ti-seng-jiu.

Dalam keadaan panik, pedang orang itu ber-putar lalu membabat lengan Ti-seng-jiu, maksudnya hendak paksa lawan melepaskan cekalannya. Ti-seng jiu mendengus, bentaknya: "Robohlah kau!"

Jalan darah Seng gi hiat di pinggang orang itu mendadak jadi kesemutan, tak bisa dicegah lagi pedangnya terlepas dari genggaman dan tubuhnya terjungkal ke tanah.

Ti seng jiu memang tidak malu menjadi pemimpin dunia persilatan untuk lima propinsi di utara sungai, hanya sekali gebrak saja tiga orang Ya-heng jin yang rata2 berilmu tinggi itu telah dibikin keok semua, dua mati satu teitawan.

Suara bentakan serta bentrokan senjata yang hiruk-pikuk dengan cepat mengejutkan para peronda di sekitar tempat itu, enam-tujuh orang berpakaian ringkas berlari datang. Demi mengetahui Cengcu mereka telah turun tangan sendiri membereskan tamu2 yang tak diundang ini, mereka jadi

ketakutan hingga muka berubah menjadi pucat seperti mayat.

Sementara itu Ti-seng jiu telah menarik kain kerudung hitam yang menutupi wajah Ya heng-jin tadi, ternyata orang itu masih muda, baru berusia likuran dan sama sekali tak dikenal.

Ia mendengus, sebelum menegur tiba2 ia lihat gambar binatang Kilin yang tersulam di kerah baju pemuda itu, air mukanya berubah seketika, segera tegurnya: "Lambang Hoan Hui! Apakah kau anak buah Hoan Hui?"

Belum lagi pemuda itu menjawab, Buyung-cengcu telah membanting tubuh orang ke depan para penjaga yang berdiri melengong di samping. "Ikat dia!" perintahnya.

Sambil berseru segera ia melayang pergi. Kiranya lapat2 terdengar suara bentrokan senjata yang ramai di halaman depan, itu menandakan tak sedikit jumlah musuh yang menyatroni perkampungannya. Dengan hati kebat-kebit karena takut, beberapa orang kekar tadi segera meringkus pemuda itu erat2, kemudian menjebloskannya ke dalam penjara.

Waktu itu Tian Pek yang berada dalam penjara sedang berlatih ilmu saktinya menurut catatan dalam kitab So-kut- siau-hun-thian pit-kip, ia merasa sekujur tubuhnya amat segar pikiran jadi terang dan hawa murninya beredar.

Tiba2 terdengar pintu besi dibuka orang dan "Blak!"

sesosok tubuh manusia dilempar ke dalam penjara, Tian Pek yang berada di tempat gelap ternyata dapat menyaksikan semua itu dengan jelas.

"Ah! Aku bisa melihat di tengah kegelapan......" seru pemuda itu di dalam hati dengan kegirangan.

Kiranya hampir saja Tian Pek mengalami celaka sewaktu ia sedang melawan pengaruh irama maut im-mo-siau-hoat dari Ciang Su-peng karena mendadak tubuhnya dirangkul Buyung Hong. Untung perbuatan Buyung Hong yang mesra dan hangat itu telah membangkitkan amarah Leng-hong Kongcu sehingga menghadiahkan pukulan dahsyat ke dadanya.

Pukulan itu bukan saja tidak menyebabkan Tian Pek terluka, sebaliknya malahan urat nadinya yang tersumbat jadi tergetar dan beredar kembali dengan lancar, darah yang menyumbat dadapun bisa dimuntahkan keluar.

Yang lebih menguntungkan lagi, ternyata akibat guncangan keras yang sama sekali tak terduga itu, urat penting "Jin tok" dalam perutnya jadi tertembus, padahal kedua buah urat penting itu paling sukar ditembusi bagi sebagian besar orang yang belajar Lwekang. Begitulah, karena bencana Tian Pek malahan mendapat rejeki, dalam suatu penderitaan yang paling hebat, akhirnya kedua nadi penting itu tertembus.

Sampai detik itu Tian Pek sendiri tak tahu kalau kedua urat pentingnya sudah tertembus, dan untuk mencapai taraf ilmu silat yang lebih tinggi bukan suatu masalah yang sulit lagi baginya.

Walau begitu, semua itu hanya dapat dikatakan sebagai suatu kebetulan saja, andaikata urat nadi di tubuhnya terhantam oleh Leng-hong Kongcu, namun ia tidak bargerak lagi atau tetap duduk, tubuhnya niscava akan jadi lumpuh dan selanjutnya tak mampu bergerak.

Kebetulan Buyung-cengcu tiba pula tepat pada waktunya dan membawa dia ke perkampnngan, perjalanan yang cukup jauh itu membuat seluruh otot tubuhnya bergerak dengan lancar.

Kalau hanya sampai di situ saja kejadiannya, Tian Pek belum dapat dikatakan lolos dari ancaman lumpuh dan lemah badan, sebab setelah urat nadi dalam tubuhnya lancar kembali, maka seseorang masih membutuhkan waktu beristirahat dan mengatur kembali pernapasannya.

Dasar nasib Tian Pek memang lagi mujur, setibanya dalam perkampungan ternyata Buyung-cengcu lantas menjebloskan dia ke dalam penjara, dengan begitu tersedialah waktu yang cukup baginya untuk istirahat dan atur pernapasan.

Berbicara sesungguhnya, kejadian yang sangat "kebetulan" itu memang sukar terjadi secara beruntun, tapi rupanya Thian memang menghendaki Tian Pek tetap hidup di dunia dan tumbuh menjadi seorang tokoh luar biasa dalam dunia persilatan, bukan saja kejadian2 yang "kebetulan" itu telah di-alaminya secara beruntun, bahkan kekuatan dalam tubuhnya kian lama kian bertambah tangguh.

Kim Tian Pek tidak saja dapat melihat sesuatu di tempat gelap, bahkan tenaga dalamnya sudah bertambah lipat ganda, cuma hal ini tidak disadarinya, bilamana diketahuinya kelak, mungkin saat itu dia sudah tiada tandingannya di dunia ini.

Mula2 Tian Pek tidak percaya pada matanya sendiri, diamatinya cuaca di luar terali besi, ketika dilihatnya udara sudah gelap dan bintang bertaburan di angkasa ia gigit jari sendiri dan terasa sakit, ia baru yakin bukan sedang mimpi, dengan kegirangan segera diamatinya kawan senasib yang baru dijebloskan ke dalam penjara ini.

Orang ini mengenakan pakaian malam yang ringkas, tubuhnya diringkus oleh tali yang sangat kuat, mukanya bersih dan tampan, bibirnya merah dan giginya rata putih, sungguh wajah yang cakap.

Entah kenapa, Tian Pek merasakan sesuatu keanehan ketika memandang orang itu, ia merasa ada jodoh dengan orang dan timbul perasaan karib yang sukar dijelaskan, tanpa terasa ia bersenyum padanya.

Tapi orang itu malah menengadah memandang langit2 penjara, jangankan membalas senyumnya, menggubris pun tidak.

Semula Tian Pek tertegun, kemudian ia tahu sebab musababnya. Pikirnya: "Sekarang sudah malam dan gelap, dalam penjara tiada penerangan, aku dapat melihat dia, tapi orang mungkin tidak tahu akan diriku."

Berpikir demikian, ia lantas menegur: "Saudara, kenapa kau dijebloskan ke dalam penjara?" "Siapa di situ? Siapa kau?" dengan terperanjat dan bingung orang itu menengadah dan memandang ke sana kemari.

"Aku bernama Tian Pek, boleh kutahu namamu?"

Orang itu berpikir sejenak, ia merasa di dunia persilatan tiada orang yang bernama Tian Pek, tampaknya ia merasa lega.

Setelah menghela napas, orang itu menjawab: "Ai, aku sudah menjadi tawanan orang, apa gunanya menyebut nama Sahabat, bicara terus terang, kita sudah terjeblos di kubangan naga dan sarang harimau, yang bisa kita lakukan hanya menunggu tibanya kematian, apa gunanya saling memperkenalkan diri?"

Habis berkata ia kembali menghela napas panjang.

Tian Pek tersenyum, katanya: "Mati atau hidup sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, apa yang perlu kita sedihkan? Kita dilahirkan dengan gembira; kenapa mesti mati dengan sedih? Asal semua perbuatan dan tindak tanduk kita tak melanggar hati nuraci sendiri, sekalipun ujung golok mengancam di depan mata juga tidak perlu takut? Selain itu, kita kan masih dapat berusaha untuk hidup dengan kecerdasan serta kekuatan kita sendiri? Kalau akhirnya kematian tak dapat dihindari, sedikitnya hati akan sedikit terhibur bila sebelum mati bisa bersahabat lebih dulu!"

Mendengar uraian Tian Pek yang panjang lebar ini, pemuda itu merasa teman baru ini mempunyai pengetahuan yang tinggi, maka rasa murung dan kesalnya yang mengganjal dalam hati banyak berkurang. Segera ia menjawab: "Terima kasih atas petunjukmu, aku bernama Hoan Soh.....", sebelum kata lain diucapkan, tiba2 pemuda itu teringat urusan rahasia pribadinya, seketika tutup mulut dan tidak menyambung.

Tian Pek mengira pemuda itu bernama "Hoan Soh", tanpa pikir ia berkata: "Oh, rupanya saudara Hoan Soh! Tunggu sebentar, akan kulepaskan tali pengikat tubuhmu."

— Seraya berkata ia hampiri Hoan Soh dan melepaskan tali yang meringkus tubuh orang itu.

Agaknya orang itu tak menyangka kalau Tian Pek akan menyentuh tubuhnya, ingin menghindarpun sudah tak keburu.

Muka orang itu jadi merah, teringat selama hidupnya yang senantiasa tinggi hati dan angkuh, tak tersangka sekarang diperlakukan sekehendak orang tanpa bisa melawan, hatinya sakit seperti di-iris2, air matapun lantas bercucuran.

Tentu Tian Pek tak tahu perasaan orang, selesai melepaskan tali pengikat, ketika dilihatnya orang malah mengucurkan air mata, ia lantas menghiburnya: "Hoan- heng, kenapa kau kesal hanya karena terikat sedikit saja7 Anggaplah kejadian ini sebagai pengalaman."

Kemudian iapun menceritakan pengalaman sendiri tentang penderitaannya serta penghinaan yang pernah dialaminya selama ini.

Mendengar ceritanya, Hoan Soh sangat terharu, iapun berterima kasih atas simpati oraug, tanpa terasa timbul kesan baiknya terhadap diri Tian Pek.

Setelah tali belenggunya terlepas, ternyata Hoan Soh belum juga mampu bergerak, Tian Pek baru tahu kalau jalan darahnya tertutuk, ia hendak meng-urut Hiat-to yang tertutuk itu, namun bagaimana pun juga Hoan Soh  menolak bantuan tersebut. Meski merasa heran. apalagi dilihatnya air muka  pemuda itu berubah menjadi merah, tapi Tian Pek adalah pemuda yang masih polos dan bersih, tak pernah terpikir olehnya akan hal2 lain.

Karena bantuannya selalu ditolak, akhirnya ia gunakan "Leng gong hut hiat" (Membebaskan jalan darah dengan kebutan dari jauh) untuk membebaskan jalan darah Hoan Soh yang tertutuk.

Kepandaian sakti ini baru berhasil dipelajari oleh Tian Pek dari kitab pusaka So-kut siau hun-thian hut-pit-kip, ia hanya melakukan gerakan seperti apa yang tercatat dalam kitab itu, ia tak menyangka kalau kepandaian tersebut mempunyai daya guna sehebat ini.

Diam2 Hoan Soh terperanjat, ia tak menyangka dalam penjara ini terdapat seorang jago persilatan yang berilmu silat tinggi.

Pada saat itu, tiba2 cahaya api berkilau di luar jendela, menyusul terdengar suara bentakan serta suara bentrokan senjata yang ramai berkumandang semakin dekat ...

Mereka tertegun, belum lagi sempat berpikir, terdengar suara benda berat jatuh ke lantai di luar penjara, agaknya ada orang roboh tertutuk.

Menyusul mana pintu penjara dibuka orang dan sesosok bayangan muncul di depan pintu. "Cepat lari!" orang itu berseru.

Sekilas pandang Tian Pek mengenali orang sebagai paman Lui yang berambut awut2an.

Sebelum pemuda itu sempat berbicara, paman Lui telah lari kembali ke sana. Tanpa pikir Tian Pek tarik tangan Hoan Soh dan lari keluar penjara. "Heyo kabur!" serunya. Dengan cepat mereka kabur keluar penjara, sementara cahaya api telah men-jilat2 ruang serambi sekitar penjara, sinar golok dan bayangan pedang berkelebat di udara, puluhan orang sedang terlibat dalam pertarungan yang sengit di sana.

Suara bentrokan senjata, bentakan menggelegar memecahkan kesunyiao malam, pertarungan berlangsung dengan sengitnya. Korban sudah banyak yang berjatuhan, suara rintihan dan jerit kesakitan berkumandang silih berganti, kutungan badan dan ceceran darah membuat suasana amat mengerikan.

Tian Pek celingukan kesana kemari berusaha mencari jejak paman Lui, namun tak nampak lagi bayangan orang tua itu.

Hoan Soh sendiri kelihatan gelisah, sebab ia lihat orang dari pihaknya sudah banyak jatuh korban, sambil bertempur sembari mundur, tampaknya keadaan mereka sudah payah sekali.

Sebaliknya orang2 Pah-to-san-ceng makin lama semakin gagah berani. terutama seorang Tosu buta, ilmu pukulannya sangat dahsyat dan sukar dilawan.

Hoan Soh tak kenal siapa Tosu buta itu. Dilihatnya Tosu itu dikerubut tiga orang yaitu kedua saudara Kim dari Peng- gu-san serta kakak kedua-nya Tui-hong-kiam ( pedang pengejar angin ) Hoan Kiat, namun Tosu buta itu masih dapat bertempur dengan gagah berani, pedang ketiga orang ternyata tak mampu mendekati si Tosu buta, sebaliknya mereka malah tercecar oleh pukulan si Tosu yang dahsyat.

Suatu ketika, tiba2 Tui hong-kiam Hoan Kiat mengeluarkan jurus serangan yang ampuh Ki-hong-can- ceng-cu (Angin puyuh menyapu rumput kering), sekaligus ia menusuk tiga Hiat-to. yaitu Sam-kiat, Hong wan serta Sin-tong di punggung Tosu buta itu.

Pada waktu itu si Tosu buta sedang mencengkeram  muka Lotoa keluarga Kim dengan jarinya yang terpentang lebar, sedang tabasan telapak tangan kanannya membacok Kim-loji.

Kedua saudara keluarga Kim itu segera merasakan daya tekanan yang maha dahsyat menyerang tubuh mereka. Dalam keadaan demikian, uatuk menghindar sudah tak sempat lagi, tampaknya mereka segera akan roboh ditangan Tosu buta itu.

Untung serangan Tui-hong-kiam tiba tepat pada saat yang gawat itu, ujung pedang secepat kilat mengancam tiga Hiat-to di punggung Tosu buta itu.

Meskipun matanya buta, namun Tosu itu cukup tangguh, punggungnya se-olah2 mempunyai mata cadangan, ketika ujung pedang Tui-hong-kiam hampir "mencium" punggungnya. tiba2 ia putar badan sambil bergeser.

Dengan gerakan tersebut tusukan Tui-hong-kiam jadi meleset.

"Kena!" hardik Tosu buta itu sambil mendelik, secepat kilat ia tabas tubuh Tui-hong-kiam Hoan-kiat.

Pada serangan tadi Tui hong-kiam telah mengerahkan segenap kekuatannya, menurut perkiraannya serangan tersebut pasti akan bersarang telak di punggung musuh. Siapa tahu Tosu buta itu mahir mendengar angin membedakan arah, ketajaman pendengarannya melebihi ketajaman matanya, bukan saja serangan maut Hoan Kiat berhasil dihindarkan, malahan menghadiahkan pula sebuah pukulan maut. Terkesiap Tui hong kiam Hoan kiat, padahal tubuhnya masih terapung di udara, jelas tak mungkin berpindah keduduknn lagi, keluhnya di dalam hati: "Mati aku!"

Keadaan amat gawat. tampaknya Tui-hong kiam bakal mampus di bawah pukulan lawan, mendadak sesosok bayangan melesat tiba dan menangkis serangan ampuh si Tosu dengan keras lawan keras.

"Bluk!" benturan keras menggelegar, jiwa Hoan Kiat dapat diselamatkan.

Tui-hong-kiam buru2 melayang turun ke tanah. dan menyingkir jauh2.

Karena adu pukulan dahsyat tadi, tubuh penolong itupun mencelat sejauh dua tombak, setelah berjumpalitan di udara, ia baru hinggap ke bawah, itupun harus mundur sempoyongan lagi keberapa langkah.

Tian Pek dapat mengikuti semua kejadian itu dengan jelas, iapun melihat orang yang berhasil menolong jiwa Tui- hong-kiam Hoan Kiat tak lain tak bukan adalah Hoan Soh yang tadi berdiri di sampingnya.

Setelah lolos dari kematian, rasa kaget dan ngeri masih terbayang di wajah Hoan Kiat, pcluh dingin membasahi badan, sambil silangkan pedang di depan dada ia berdiri tertegun.

Hoan Soh sendiri merasa lengannya jadi kesemutan, darah bergolak di dalam dadanya, meekipun tak sampai roboh terjungkal, darah hampir menyembur keluar dari tenggorokannya, sinar matanya pudar, mukanya yang tampan menjadi pucat.

"Hahaha, anak hebat!" teriak si Tosu buta sambil tertawa keras. 'Berapa banyak komplotan kalian? Hayo  maju semua! Akan Toya antar kalian ke surga." Di mulut ia bicara, tangannya juga tidak menganggur, telapak tangan kirinya kembali didorong ke muka melancarkan satu pukulan yang dahsyat ke arah kedua Kim bersaudara serta Hoan Kiat, sementara tangan kanannya diangkat tinggi2, ketika bergoyang tulangnya berbunyi gemerutuk, telapak tangan itu segera berubah semu hijau, lalu dengan gerakan menabok ia hantam batok kepala Hoan Soh.

Rupanya Tosu buta itu penasaran dan marah karena Hoan Soh mengalangi serangannya tadi, maka sekarang ia hendak mencabut nyawanya, pukulan ini dilancarkan dengan sepenuh tenaga.

Hoan Soh terperanjat, ia lihat angin pukulan yang dilancarkan Tosu buta itu ibarat gulungan ombak samudera, uutuk menghindar jelas tak mungkin lagi, terpaksa sambil mengertak gigi Hoan Soh kerahkan segenap tenaga untuk menangkis hantaman lawan dengan gerakan Pak-ong-ki teng (Raja lalim mengangkat wajan).

Pukulan dahsyat yang mengincar kedua Kim bersaudara dan Hoan Kiat tadi membuat mereka ngeri, ketiga orang cepat melompat mundur ke belakang.

Sewaktu menangkis serangan pertama tadi Hoan Soh telah menderita luka dalam yang cukup parah, dalam keadaan begini mana sanggup ia terima serangan kedua yang maha dahsyat ini? Sekuatnya ia menangkis pula, segera dirasakan daya tekanan maha dahsyat mendadak menekan tubuhnya, kontan ia merasakan pandangannya menjadi gelap, darah segar tertumpah, tubuhpun roboh terkapar.

"Tahan! Lihat serangan!" bentak Tian Pek sambil menerjang maju. Dengan cepat ia tonjok dada Tosu buta itu. Merasakan datangnya serangan dari depan, Tosu buta itu menjadi murka, napsu membunuh menyelimuti wajahnya.

Ia paling benci terhadap segala macam main kerubut dan main sergap, sebab matanya menjadi buta justeru akibat dikerubut dan disergap oleh musuh yang berjumlah banyak. Setelah menjadi buta ia tidak putus asa, dengan tekad yang teguh ia memperdalam ilmu silatnya semakin tinggi.

Tiga puluh tahun lamanya ia mengasingkan diri di gunung yang sepi, ketika kepandaian silatnya sudah berhasil mencapai apa yang dinamakan menggunakan telinga menggantikan mata, ia baru terjun kembali ke dunia persilatan, tentu saja ilmu silatnya kini entah berapa kali lipat lebih tangguh daripada tiga puluh tahun yang lalu.

Waktu ia terjun lagi ke dunia persilatan, suasana Kangouw sudah banyak mengalami perubahan, musuh yang pernah mengerubutnya sudah banyak yang mati, sisanya telah dibunuh pula olehnva, dalam keadaan terluntang-lantung tanpa tujuan akhirnya ia diserap masuk ke Pah to-san-ceng dan

jadilah salah satu di antara sepuluh jago tertangguh di bawah pimpinan Ti seng jiu Buvung Ham.

Malam ini Pah-to-san-ceng diserbu musuh, untuk membalas budi kebaikan yang diterima dari Buyung-cengcu selama ini, Biau-bok Tojin atau si Tosu buta bertempur mati2an dengan ilmu silatnya yang tinggi, hanya beberapa gebrak saja banyak musuh yang dibinasakan olehnya.

Melihat ketangguhan lawan, Tui-hong-kiam Hoan Kiat yang berkedudukan nomor dua di antara urutan Hoan-bun- sam-kiat ( tiga orang gagah dari keluarga Hoan ) segera menghadapi musuhnya, tapi ia memang bukan tandingan Biau-bok Tojin, hanya beberapa gebrakan saja ia sudah terdesak. Melihat majikan mudanya terdesak, kedua Kim bcrsauda dari Peng-gu-san segera ikut mengerubut. Justeru kerubutan inilah menimbulkan dendam si Tojin buta, ia melancarkan pukulan maut "Hek-sat-ciang" yang terkenal, setelah ketiga orang itu melompat mundur, mendadak sasaran pukulannya beralih pada Hoan Soh.

Dalam keadaan payah, mana Hoan Soh mampu menahan pukulan itu? Seketika matanya menjadi gelap dan muntah darah terus terkapar di tanah. Si Tosu buta itu masih penasaran, dia menghantam pula, bila pukulan ini kena pada sasarannya, mustahil badan Hoan Soh tidak hancur lebur.

Syukurlah Tian Pek cepat bertindak, sambil membentak ia menerjang maju menyambut pukulan itu, meski tidak pakai jurus serangan, tetapi tenaga murni yang dimilikinya telah dikerahkan sepenuhnya. "Blang!" benturan keras menggeletar pukulan Tian Pek dan si Tosu buta yang sama2 tangguhnya saling membentur. pancaran angin keras tersebar keempat penjuru, batu dan pasir beterbangan, suasana sungguh sangat mengerikan.

Tergentar pukulan Hek-sat-ciang yang ampuh, beruntun Tian Pek menyurut mundur lima enam langkah, pandangannya menjadi gelap, telinganya mendengung, diam2 ia mengakui betapa lihaynya pukulan lawan.

Ia tidak tahu bahwa berkat ilmu dari "Thian-hud pit-kip" yang dilatihnya itulah dia mampu menahan serangan si Tosu, andainya peristiwa ini terjadi sebelum ia berlatih ilmu itu, jangankan melawan mungkin sedari tadi jiwanya sudah melayang.

Si Tosu buta itupun tersentak mundur dengan sempoyongan, jubah yang dikenakan menggelembung, diam2 ia merasa terperanjat. "Sungguh kuat tenaga pukulannya, rasanya mengandung daya pukulan dari kalangan Budha, entah siapakah orang ini? Belum pernah kujumpai manusia setangguh ini!" demikian pikir Biau bok Tojin.

Di tengah bentakan Tui-hong-kiam serta kedua Kim bersaudara dari Peng-gu-san serentak mereka menyergap maju pula, tiga pedang sekaligus menusuk tubuh si Tosu.

Akibat getaran tenaga pukulan si Tosu buta, Tian Pek merasa kepalanya pening, sesaat lamanya ia baru pulih kembali, segera dilihatnya Hoan Soh terkapar ditanah dengan muka pucat seperti mayat, darah merembes di ujung bibirnya. Lalu dilihatnya Tui-hong-kiam serta kedua Kim bersaudara sedang bertempur pula. Tian Pek tidak ingin terlibat dalam pertempuran lagi, segera ia merangkul tubuh Hoan Soh dan dibawa kabur ke tempat gelap.

"Keparat! Jangan kabur!" terdengar bentakan nyaring menggema di udara. Berbareng sesosok bayangan meluncur tiba, sewaktu masih di udara, telapak tangannya terus melepaskan satu pukulan dahsyat.

Posisi Tian Pek tidak menguntungkan karana dia membawa seorang, ia merasakan dahsyatnya ancaman, ia tak berani menyambut secara gegabah, cepat ia meluncur kembali ke bawah.

Gesit sekali gerak tubuh pendatang itu, sambil menyerang dari jauh secepat terbang iapun melayang tiba di atas kepala Tian Pek, jari tangannya seperti cakar, dengan gaya In-liong-hian-jiau (Naga sakti unjuk cakar dan balik awan ), ia mencengkeram kepala Tian Pek.

Cepat sekali serangan itu, jarak lingkupnya juga cukup luas, kemanapun musuhnya mau kabur, pasti tak dapat lolos dari ancaman tersebut. Dalam keadaan begini tak mungkin bagi Tian Pek untuk berkelit, mau menangkis juga tiada tenaga yang cukup, apalagi dia tak ingin Hoan Soh yang ada dalam rangkulannya itu terluka oleh serangan musuh.

Sedikit dia ragu, desiran angin tajam sudah menyambar tiba, rasa sakit menyengat kulit kepala dan tenaga dahsyat menekan.

"Celaka. " keluh Tian Pek di dalam hati-

Syukurlah pada saat terakhir sesosok bayangan kembali meluncur tiba, gerak tubuh orang ini jauh lebih cepat, setelah meluncur tiba dan berputar setengah lingkaran di udara, lalu mcnerjang bayangan orang yang sedang menyerang Tian Pek itu.

"Bluk!" benturan nyaring terjadi, dengan cepat kedua sosok bayangan itu melayang tuiun ke samping.

Bayangan orang pertama yang melancarkan serangan maut itu kiranya si kakek botak adanya, sedang bayangan yang muncul kemudian bukan lain adalah paman Lui yang berambut awut2an.

Dengan muka hijau pucat si kakek botak melototi paman Lui, teriaknya kemudian: "Lui Ceng-wan! Kau 'pagar makan tanaman’ bukan bantu rekan sejawat malahan membantu orang luar?"

"Suma Keng! Kau jangan ngaco belo. kau anggap aku orang she Lui ini manusia rendah begitu?" bentak paman Lui dengan murka.

Tian Pek terkesiap, baru sekarang ia tahu kakek botak itu adalah Tui-hun-leng (genta pengejar sukma) Suma Keng yang tersohor dua puluhan tahun yang lalu. Dahulu Tui-hun-leng Suma Keng adalah seorang iblis kenamaan di Wilayah barat-laut, bersama Tok kka-hui-mo (kaki tunggal iblis terbang) Li Ki disebut sebagai Say-gwa- siang-jan (dua manusia cacat dan luar perbatasan). Bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, hatipun keji, tindak tanduknya aneh sekali, bila seseorang sampai terikat sengketa dengan dia, sebelum dia berhasil membinasakan lawannya, persoalan takkan disudahi.

Karena wataknya yang aneh itu, kebanyakan jago silat baik dari kalangan putih maupun dari golongan hitam sama jeri kepadanya, memandang kedua orang itu sebagai ular berbisa, binatang beracun, siapapun tak berani cari sctori pada mereka.

Entah mengapa, ternyata tokoh sakti yang berwatak aneh inipun dapat ditarik oleh Buyung-cengcu untuk mengabdi kepadanya.

Begitulah Tui-hun leng Suma Keng telah ber-seru dengan suara ketus: "Kalau kau bukan 'pagar makan tanaman', kenapa kau alangi aku membekuk buronan dari perkampungan kita ini?"

"Mungkin Suma-heng salah lihat orang. pemuda ini adalah seorang angkatan muda kerabatku, masa dia jadi buronan?"

"Hehehe, aku dan Cengcu sendiri yang membekuk bangsat itu dan menjebloskannya ke penjara, masa bisa salah lihat?" teriak Suma Keng sambil tertawa dingin. "Lui Ceng-wan, kulihat kau ini memang 'pagar makan tanaman', tak tahu balas budi "

"Tutup mulutmu!" bentak paman Lui dengan gusar, "Andaikan aku Lui Ceng-wan betul2 'pagar makan tanaman', apa sangkut pautnya dengan kau? Berdasar apa kau setan botak ini berani urus diriku?" Tui hun-leug Suma Keng paling benci katau orang mencemoohkan dia sebagai setan botak, mendengar makian tersebut, mukanya menjadi beringas, dengan sinar mata garang ia berteriak lantang "Lui gila, orang kira mungkin jeri kepadamu, tapi aku Suma Keng tak nanti gentar padamu. Hm, jangan kau kira iimu pukulanmu Jit-cap ji- hok-thian-hud-ciang (tujuh puluh dua jalan pukulan Budha langit) tiada tandingannya dikolong langit ini, padahal bagiku tidak lebih hanya permainan anak kecil saja."

"Bagus. kalau kau tidak percaya, hayo majulah! Kita buktikan saja siapa lebih unggul!" tantang paman Lui sambil pasang kuda2.