Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 07

Jilid 07

Mati Anehnya, walaupun kakek bersama keledainya hilang

tak berbekas, akan tetapi pedang pusaka hijau itu kelihatan tergantung di atas sebuah dahan pohon siong yang tinggi. Hampir saja Tian Pek tidak percaya pada pandangan sendiri, masa barang yang telah hilang dan dikejar setengah mati, tahu2 tergantung di atas pohon dengan begitu saja.

Tapi kenyataan memang begitu, pedang yang dibawa lari itu jelas2 berada di atas pohon.

Tian Pek masih juga sangsi, ia kucek-kucek matanya dan menengadah lagi, ternyata pedang mestika itu memang benar2 tergantung di dahan pohon.

Pedang itu tergantung pada ketinggian kurang lebih empat tombak dari permukaan tanah, keadaan ini persis seperti kejadian tempo hari di mana Hui It-tong juga menggantungkan kantong-kosongnya di pucuk pohon yang tinggi, malahan sekarang pedang, tergantung terlebih tinggi.

Tapi Tian Pek sama sekali tidak berpikir, begitu melihat pedang tcrgantung di dahan, dia segera meloncat ke atas.

Dengan gaya "capung hinggsp di tiang", ia jumpalitan di udara kemudian ia sambar gagang pedang tersebut, lalu melayang turun kembali ke permukaan tanah.

"Gerakan yang indah!" mendadak seoraug memuji dari belakang.

Terperanjat Tian Pek mendengar suara itu, ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas kehebatan Ginkangoya sendiri, yang diperhatikan hanyalah pedang mestika itu, tak heran kalau kehadiran orang itu tidak diketahuinya.

Sudah dua kali pedang mestika itu dirampas orang, pengaaman pahit membuat anak muda ini bertindak lebih waspada, dia kuatir pedang yang baru saja diperoleb kembali akan dirampas orang lagi, maka begitu mencapai permukaan tanah dia lantas melolos pedang itu. "Cring", diiringi dentingan nyaring, cahaya hijau terpancar, begitu pedang itu tercabut keluar, dia memutar pedangoya ke belakang dengan gerak Ya cian-pat-hong (pertempuran malam di delapan penjuru), setelah membentuk satu lingkaran baru pemuda itu megawasi sekitarnya dengan seksama.

Tapi apa yang kemudian terlihat olehnya hampir saja membuat anak muda itu terkesiap, bulu romanya pada berdiri.

Kiranya dua orang manusia yang berdiri di belakang Tian Pek ini adalah makhluk aneh yang bermuka pucat seperti mayat, mereka mengenakan baju kain belacu warna putih dengan ikat pinggang tali rami, rambutnya panjang terurai, mukanya kaku tanpa emosi.

Kemunculan mereka sama sekali tidak menimbulkan suara, se-akan2 arwah gentayangan, tidak cuma begitu saja, dari tubuh kedua orang makhluk aneh itupun menyiarkan hawa seram dan membuat orang jadi ngeri dan takut.

Sekalipun tatkala mana sang surya mencorong terang di langit, tak urung Tian Pek merasa seram juga.

Yang lebih aneh lagi, muka kedua manusia ini ibarat pinang dibelah dua, boleh dibilang sama sekali tak ada bedanya, bentuk pakaian yang mereka kenakan juga sama, bila mereka muncul satu persatu tentu orang tak bisa menebak mana si A dan mana si B.

Sementara Tian Pek masih berdiri terkesima, salah seorang dari manusia aneh itu menyangir seram, mimik wajahnya sangat mengerikan, dikala tertawa kulit pipinya sama sekali tak bergoyang hingga yang kelihatan hanyalah dua baris giginya yang putih. "Hayo bawa kemari!" seru manusia aneh itu sambil menjulurkan tangannya ke depan.

Tian Pek mundur selangkah dan melintangkan pedang di depan dada, kali ini ia sudah bulatkan tekad, betapapun juga pedang mestika itu tak boleh direbut orang lagi, sekalipun untuk itu dia harud mengorbankan jiwanya.

"Aku tidak kenal dengan kalian berdua, apa yang kalian minta?" seru Tian Pek. "Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu!"

'Hehehe . . hihihi !" kedua makhluk aneh itu tertawa

aneh, seram suara tertawanya hingga membuat siapa saja ysmg mendengar jadi bergidik-

Sesaat kemudian, salah seorang aneh itu menjawab: "Pertama, serahkan pedang itu! Kedua, serahkan jiwamu. Untuk sederhanakan pekerjaan kami, lebih baik serahkan dulu pedangmu, dengan demikian jika kau mati nanti kami tak perlu bersusah payah untuk berjongkok menjemput pedang."

Hawa amarah membakar dada Tian Pek, alis matanya bekernyit dan mukanya merah padam karena emosi, perkataan orang dirasakannya terlalu latah, masa dirinya diremehkan secara begini?

Sungguh anak muda itu sangat mendongkol tanpa menghiraukan mati-hidupnya lagi ia tertawa-katanya: "Sombong amat perkataan kalian berdua. Jangan dikira aku Tian Pek jeri pada mu? Hm, sebutkan dulu siapa nama kalian, selamanva aku tak pernah membunuh manusia tak bernama!"

Mendengar nama anak muda itu, mereka berdua saling berpandangan, air mukanya yang kaku sedikit berubah, kemudian hampir berbareng mereka berkata: "O. kau juga she Tian? Tidak bohong?"

"Sialan, memangnya aku suka memakai she orang lain?" Tian Pek membatin di dalam hati.

Ia lantas mendengus, dengan angkuh menjawab: "Mungkin kalian berdua sering memalsukan nama orang lain, makanya sekarang mcncurigai orang lainpun menggunakan nama palsu."

Rupanya perkataan itu sangat menusuk perasaan kedua makhluk aneh ini. satu diantaranya segera memperkenalkan diri: "Aku adalah Hoat-si-jin (orang mati hidup)!"

"Dan aku Si-hoat-jin (orang hidup mati)!" sambung yang lain dengan cepat.

Kemudian hampir secara bersama kedua orang itu melanjutkan kata2nya: "Kami berdua memang tak punya nama yang_asli, tapi bila nama julukan kami sudah disebut, maka tiba pula saat ajalmu."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mereka terus menerjang maju, telapak tangan dan cakar yang dahsyat segera menyambar kepala Tian Pek.

Tian Pek terperanjat, cepat ia putar pedangnya melakukan perlawanan, untuk mendesak mundur terjangan kedua orang aneh itu terpak&a dia harus melancarkan lima enam jurus serangan dengan gencar.

Akhir2 ini sudah banyak jurus serangan ampuh yang dilihat Tian Pek dari berbagai jago kosen, namun belum pernah ia jumpai serangan yang aneh dan sakti seperti sekarang.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu tampaknya lambat, tapi ternyata cepat luar biasa, sewaktu bergerak telapak tangan kelihatan lambat, tapi sampai setengah jalan segera tubuh lawan di-cecar dengan serangan gencar. Sebaliknya serangan itu bisa secepat kilat, tetapi sewaktu tiba di depan musuh, mendadak berubah lagi menjadi lambat sekali.

Lambat atau cepatnya serangan mereka, Tian Pek tetap kewalahan, dia harus menggunakan tiga sampai lima jurus untuk bisa memunahkan ancaman yang datang, karena itulah baru dua-tiga gebrakan pertarungan itu berlangsung, Tian Pek sudah dibikin kalang kabut dan terdesak hebat.

Ketenangan yang dimiliki anak muda itu kini jadi lenyap, ia tak dapat melayani musuhnya seperti waktu berlangsungnya pertarungan melawan Tok kah-hui-mo, iapun tak dapat menyadap jurus serangan lawan sebab serangan yang dipakai kedua lawan-tidak teratur.

Bahwasanya ilmu silat yang dipelajari Tian Pek memang campur-aduk, ia pernah melatih ilmu silat— nya sendiri selama belasan tahun dengan tekun, tapi tiada guru pandai yang memberi petunjuk, karenanya jurus serangan yang dipelajari waktu itupun beraneka ragam dan cuma iimu silat kembangan belaka.

Kemudian ia belajar Sim hoat (tenaga dalam) menurut catatan dalam kitab Thian-hud-pit-kip, tenaga dalamnya memang mendapat kemajuan pesat, matanya makin tajam dan pendengarannya hebat, bahkan boleh dikatakan mendekati puncak kesempurnaan, tapi sayang dia kurang praktek dan tidak tahu cara penggunaannya.

Sesudah beruntun melakukan pertarungan sengit melawan beberapa jago lihay, hasil dari penyadapan tersebut dapatlah ia menggunakan beberapa jurus serangan.

Tapi sekarang Tian Pek menghadapi kedua orang aneh yang kosen jelas dia masih ketinggalan jauh sekali. Belasan gebrakan baru lewat, Tian Pek lantas tercecar, setiap kali pedangnya bermaksnd mengancam tubuh musuh, setiap kali pula ia harus menarik kembali serangannya karena terdesak oleh angin pukulan musuh yang ampuh.

Lambat laun Tian Pek mulai kewalahan, ia tambah terperanjat melihat kelihayan lawan, dalam waktu singkat dia merasa bayangan putih memenuhi sekitarnya, serangan musuh se-olah2 datang dari segenap penjuru, ini membuat matanya jadi ber-kunang2 dan kepala mulai pusing tujuh keliling.

Baik eepat atau lambat, serangan itu membawa desiran angin tajam, angin pukulan itu dingin merasuk tulang. di manapun dia berpaling di situ terdapat bavangan putih.

Tian Pek merasa disekitarnya dipenuhi bayangan musuh, makin lama bayangan itu makin banyak, hanya sekejap mata kemudian seluruh gelanggang telah dipenuhi bayangan musuh.

Tian Pek bukan orang bodoh, tentu saja dia paham darimana munculnya begitu banyak bayangan musuh, ia pun tahu bayangan itu hanya suatu tipuan belaka karena kecepatan gerak lawan, lama2 ia tak mampu lagi membedakan bayangan mana yang asli dan mana yang tipuan.

Hanya satu hal yang dapat dikerjakan olehnya ketika itu, yakni memutar pedang sedemikian rupa sebingga serangan musuh tak mampu menembus pertahanannya.

Ilmu pedang Sam-cay-kiam-hoat yang dipahami Tian Pek adalah ilmu pedang yang sangat umum, tapi di bawah permainan Tian Pek sekarang menjadi hebat luar biasa, hal ini pertama disebabkan karena pedang yang dipakainya adalah pedang mestika, kedua karena tenaga dalam yang dimilikinya sudah memperoleh kemajuan yang pesat.

Oleh sebab itulah ilmu pedang Sam-cay-kiam-hoat yang sebenarnya amat sederhana, dalam permainan anak muda itu menjadi hebat sekali, sinar tajam tampak menggulung kesana-kemari ibarat ombak di tengah samudra. hawa pedang yang dingin berembus menimbulkan suara mendengung bagaikan guntur menggelegar.

Betapapun dua orang manusia aneh itu jadi terperanjat, ilmu silat yang diyakinkan mereka adalah suatu ilmu pukulan yang dinamakan Tay-kek-ciang-gi-li hun-ciang (pukulan dua unsur pembetot nyawa), bukan saja hebat dalam serangan juga ampuh dalam kekuatan, jarang sekali orang bisa bertahan sebanyak sepulah gebrakan dengan mereka, tapi kenyataannya sekarang, bukan saja Tian Pek mampu bertahan sampai puluhan gebrakan, malahan untuk merobohkannya juga sukar rasanya.

Hanya sekejap lima enam gebrakan kembali telah lewat. "Orang mati bidup" masih bisa bersabar, sejurus demi

sejurus dia menyerang terus secara gencar. Sebaliknya "orang hidup mati" yang berangasan, lama2 menjadi habis sabarnya, ketika dilihatnya Tian Pek masih bertahan secara rapat dan meyakinkan, ia bersuit nyaring, tiba2 dengan jurus Im-yang gi-liok (jalan berbeda antara dunia dan akhirat) telapak tangan kirinya membabat ke depan, menyusul telapak tangan kanan membacok bagaikan kampak ke atas kepala musuh, dalam sekejap lima tempat jalan darah penting anak nmda itu sudah terkurung oleh bayangan pukulannya.

Serangan itu sungguh ampuh, kontan Tian Pek merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang- kunang, ia tak bisa membedakan lagi dar1 mana munculnya serangan ampuh kedua lawannya.

Dalam keadaan demikian terpaksa dia mengembangkan permainan pedangnya sedemikian rupa hingga jangankan angin pukulan, hujanpun mungkin tak akan menembus pertahanannya itu, kini ia lebih mementingkan keselamatan sendiri daripada melukai musuh, ia tidak memusingkan lagi serangan musuh yang gencar dan dahsyat itu.

Keadaan anak muda ini sekarang ibaratnya orang buta menunggang kuda, sekalipun kudanya sudah berada di tepi jurang, namun dia masih tidak menyadari akan bahaya yang sedang menanti.

Mendadak "orang msti hidup" melihat sesuatu untaian yang tergantung di gagang pedang mestika itu, hatinya tergetar, seperti tidak sengaja dia menarik tubuh rekannya kebelakang hingga serangan maut yang sebenarnya hampir bersarang di tubuh anak muda itu mengenai tempat kosong.

Selagi si "orang hidup mati" akan umbar rasa gusarnya, tahu2 si "orang mati hidup" dengan cepat meraih benda yang tergantung di gagang pedang tadi, menyusul ia lantas melompat mundur.

Tentu saja "orang hidup mati" tak tahu apa maksud rekannya, tapi ketika dilihatnya "orang mati hidup" melompat mundur dari gelanggang, meski dengan hati tak senang terpaksa iapun ikut melayang mundur dari situ.

Dengan mundurnya kedua orang itu, Tian Pek merasa daya tekanan yang mengurungnya lantas berkurang, akhirnya bayangan putih yang memenuhi sekitar gelanggangpun lenyap tak berbekas, dia tarik kembali pedangnya lalu berdiri dengan pedang melintang di depan dada. Dalam pada itu kantong kecil yang dirampas kedua orang aneh itu sudah dibuka. mereka ambil keluar secomot rambut manusia, lalu saling pandang sekejap kemudian rambut itu disodorkan ke depan Tian Pek sambil membentak: "Apakah ini?"

Ttntu saja Tian Pek tahu gumpalan rambut itu adalah barang tinggalan ayahnya, ia menjadi murka, dengan mata melotot dia melangkah muju seraya membentak: "Kembalikan kepadaku! Darimana kalian msndapatkan benda ini?"

Kedua orang aneh itu tertegun, mereka tak menyangka secara tiba2 anak muda itu bisa ber-ubah segalak itu, sambil mencibir mereka lantas buang gumpalan rambut itu ke arah Tian Pek.

"Huh, memangnya benda mestika apa, ambil kembali!" jengek kedua orang itu.

Lalu dari bungkusan itu mereka keluarkan pula seutas tali serat, mereka saling pandang lagi sekejap, tanpa bicara mereka berseru ke arah Tian Pek dan bertanya dengan sangsi: "Dan benda apa pula ini?"

"Tak usah banyak bicara, hayo kembalikan padaku!" teriak Tian Pek lagi dengan penasaran.

Rupanya anak muda itu tak menyangka  kalau bungkusan tersebut di peroleh "orang mati hidup" dari gagang pedangnya. dia cuma heran darimana kedua itu bisa mendapatkan barang peninggalan ayahnya itu, sebab dia masih ingat barang2 itu dulu dicecerkan di sepanjang jaian oleh Hui It-tong.

"Jangan kalian bongkar isi kantong itu!" kembali anak muda itu berteriak. "Semua itu milikku!" Kalau ucapan itu digubris masih mendingan bukannya menuruti permintaannya, kedua orang itu malahan makin cepat membongkar isi kantong itu, sehabis melempar seutas serat tadi, mereka melemparkan pula sebiji gotri baja dan sebiji kancing tembaga, semuanya dilemparkan kembali kepada Tian Pek.

Akhirnya kedua orang aneh itu ambil keluar sebiji mata uang tembaga dari kantong itu, tiba2 seperti kena dipagut ular berbisa mereka melonjak

kaget sambil meraung seperti orang kalap dan me-narik2 rambut sendiri.

Kedua orang itu benar2 seperti orang gila, menjerit dengan histeris, banyak rambut mereka yang rontok dan beterbangan di udara.

Sekali ini giliran Tian Pek yang terkejut, sudah tentu ia tak tahu apa sebabnya secara tiba2 kedua orang aneh itu menjadi gila.

Sesudah menjambak, mereka mulai memukuli dada sendiri, setelah itu menghajar pula kepala sendiri dengan keras, teriakan sedih menggema dari mulut kedua orang itu bagaikan lolongan serigala di tengah malam, kemudian mereka saling berpelukan. kepala mereka saling diadu dengan kerasnya sampai berbunyi: "Duuk-duuk", sekalipun sangat keras benturan itu, namun mereka tidak merasakan sakit.

Tian Pek berdiri melongo, kebinguugan oleh tingkah laku orang yang aneh itu, ia tak tahu sebab musababnya dan apa yang mesti dilakukannya.

Mendadak kedua orang aneh itu mendekatinya, yang satu pegang lengan kirinya dan yang lain pegang lengan kanannya. Tian Pek tidak menduga sama sekali, pula gerakan kedua orang aneh itu memang cepat luar biasa, tahu2 ia sudah terpegang kencang oleh mereka.

Sungguh luar biasa kaget anak muda itu, ia merasa tulangnya amat sakit seperti mau patah, tapi dia tetap membungkam, bertahan sekuatnya.

"Hayo jawab, apakah pedang ini Pedang Hijau Bu-ceng- pek-kiam?" teriak si "orang mati hidup" yang berada di sebelah kanan dengan nada pedih.

"Lepaskan aku!" bukan menjawab, Tian Pek malahan berteriak marah.

"Apakah kau keturunan Tian In Thian. Tian tayhiap?" kembali "orang hidup mati" yang ada di sebelah kiri menjerit dengan suara pilu.

Meskipun sedih dihati, Tian Pek tetap membungkam.

Tiba2 kedua orang itu lepaskan cengkeramannya dan serentak memberi hormat kepada Tian Pek.

"O Thian memang punya mata, akhirnya kutemukan juga keturunan In jin (tuan penolong)!" jerit "orang hidup mati" dengan berduka.

"O Thian tak punya mata, dendam kesumat Injin tetap tenggelam di lautan!" sambut si "orang hidup mati'" tak kalah sedihnya. "Kemana kami mencari pembunuh terkutuk itu?'

"Tidak!" tiba2 si "orang mati hidup" mendorong "orang hidup mati" sambil memperlihatkan mata uang tembaga itu, serunya. "Saudaraku, coba lihat apakah ini?"

"Orang hidup mati" memandang sekejap benda itu kemudian menangis ter-gerung2, suaranya memilukan membuat orang ikut iba hati. Selang sesaat kemudian, "orang hidup mati" berkeluh dengan sedihnya: "Karena kematian Injin yang tidak jelas dan untuk menyelidiki jejak pembunuhnya terpaksa kita hidup menderita lahir batin, kalau tak dapat membalas budi, lebih baik mati daripada hidup. Karena itu kita mengasingkan diri dan mengganti nama jadi Hoat-si jin dan Si-hoat jin. tapi kini setelah melihat benda ini. "

Sambil menuding mata uang tembaga di tangan si "orang mati hidup", kembali "orang hidup mati" melanjutkan kata2nya dengan air mata bercucuran: "Sekarang kita sudah tahu siapa pembunuhnya, sayang kita tak mampu balaskan dendam bagi Injin, coba kemana mesti ditaruh muka kita ini?"

"Benar, saudaraku," keluh "orang mati hidup" pula sambil menangis, "kita kehilangan muka, apalagi artinya hidup kita ini, lebih baik mati saja. !"

Kedua orang aneh itu lantas saling rangkul dan meng- gerung2, suaranya memilukan hati ....

Tian Pek berdiri tercengang, tak tersangka olehnya manusia aneh yang lihay bagaikan sukma gentayangan itu ternyata memiliki perasaan yang hangat dan simpati, bahkan meuurut pembicaraan mereka jelas kedua orang ini adalah sahabat karib mendiang ayahnya.

Rasa benci, dendam dan dongkol yang semula menyelimuti hatinya kini tersapu lenyap, sebaliknya malah timbul suatu perasaan aneh, perasaan akrab terhadap sanak keluarga sendiri.

Melihat mereka menangis sedih, serta merta Tian Pek menghiburnya dengan suara lembut: "Kalian tak usah bersedih. Sekalipun sekarang kita tak bisa membalas dendam, toh kesempatan di masa mendatang masih amat panjang. Kalian tentu pernah mendengar pepatah kuno yang mengatakan: Balas dendam bagi seorang kuncu, sepuluh tahun juga belum terhitung lambat. Asalkan kalian punya tekad yang bulat, maka aku Tian Pek dan juga arwah ayah di alam baka pun akan berterima kasih kepada kalian!"

Seandainya Tian Pek tidak menghibur, mungkin kedua orang aneh itu cuma menangis saja, sekarang mendadak mereka malah ber-teriak2 dengan air mata bercucuran: "O  .

. . .' kami malu terhadap sababat lama..kami malu terhadap sahabat lama !"

Sembari berteriak kalap, si "orang mati hidup" lari mendekati sebatang pobon yang cukup besar, kemudian membenturkan kepalanya pada batang pohon tersebut sekerasnya.

Rupanya saking berdukauya dia hendak bunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada pobon.

Tian Pek menjadi kelabakan, dia ingm mencegah perbuatan nekat orang itu, tapi di sebelah sini si "Manusia hidup mati" yang sedang menangis tiba2 juga menghampiri pohon yang lain terus menumbukkan kepalanya.

"Kraak! Kraak!" bukan mereka yang roboh karena benturan itu, sebaliknya pohon besar dan kuat itulah yang tertumbuk patah jadi dua bagian, daun berguguran, pasir beterbangan, tumbanglah pohon itu.

Sungguh lucu, kedua manusia aneh itu gagal membunuh diri, sebaliknya pohon yang diseruduknya malahan tumbang berantakan.

Diam2 Tian Pek menjulurkan lidahnya karena kagum bercampur kaget, bukan sembarangan orang dapat berbuat demikian jika mereka tidak mempunyai tenaga ribuan kati.

Kedua manusia aneh itu semakin penasaran, melihat maksud mereka untuk membunuh diri tidak berhasil, mereka lantas menumbuk-numbukkan lagi kepalanya pada pohon yang lain.

Gempuran keras menggelegar di sana-sini, suaranya memekak telinga, setiap kali mereka menumbuk batang pohon, maka pohon besar itupun tumbang, hanya sekejap saja sudah berpuluh batang pohon berserakan di tanah, keadaan jadi porak-poranda dan mendatangkan rasa ngeri bagi yang melihat.

Untung di sekitar tempat itu tak ada orang lewat, kalau tidak pasti mereka akan mengira di tempat itu baru terjadi gempa hebat, makanya pohon raksasa itu sama bertumbangan.

Lambat laun kedua manusia aneh itu mulai sadar, tak mungkin mereka bisa menghabisi jiwa sendiri dengan menumbukkan kepala pada batang pohon, akhirnya sambil menangis ter-gerung2 mereka kabur tinggalkan tempat itu.

Cepat nian gerak tubuh kedua orang aneh itu, hanya sekejap saja mereka sudah lenyap, hanya ter-dengar suara tangisan mereka yang memilukan hati menggema di angkasa.

Tian Pek berdiri ter-mangu2 mengawasi berlalunya kedua orang itu. Sama sekali tak terduga bahwa kedua orang aneh itu sangat perasa dan besar emosinya....

Tian Pek menghela napas, pikirnya: "Dari pembicaraan mereka, tampaknya kedua orang itu tahu siapa pembunuh ayabku, tapi kenapa mereka bilang tak sanggup membalaskan dendam kematian ayah .,..?"

Mendadak teringat akan sesuatu, anak muda itu membanting kaki dan berseru dengan gegetun: "Ai, aku memang tolol, kenapa tidak kutanyakan kepada mereka siapakah orangnya ?" “He, bocah, kau lupa tanya siapa?" tiba2 seseorang menanggapi dari belakang. "Memangnya kau sudah sinting, masa bicara sendirian di sini?"

Cepat Tian Pek berpaling, ia lihat orang itu tak lain adalah Lak jiu-tong-sin (tangan keji berhati bocah) Hui It- tong.

Terkesiap hati anak muda itu, dahinya langsung berkerut. ia tahu orang tua ini paling susah dilayani sebab dia tak kenal aturan baik dalam pembicaraan maupun dalam perbuatan.

Sementara itu Hui It tong sedang tertawa ter-bahak2 tampaknya dia sangat senang, sambil picingkan mata dia menggoda: "Eh, bocsh cilik, kenapa kau unjuk muka tak senang, kau tidak suka berjumpa dengan aku si orang tua?"

Tian Pek tidak menggubrisnya.

Kembali orang tua itu berseloroh: "Tapi kita justeru bertemu lagi, tampaknya kita memang ada jodoh, hibihi....

Coba lihat, bukankah kita bertemu lagi di tempat yang sama dulu?"

Tian Pek tertegun. ia jadi teringat kembali bahwa hutan ini memang tempat di mana ia berjumpa dengan Yan in ngo-pak-thian yang mau membegal barang kawalannya dahulu. Tempatnya masih seperti sediakala, tapi selama lebih sebulan ini entah sudah berapa banyak pengalaman aneh yang ditemuinya.

'Hihihi .. ..!" kembali Hui It-tong tertawa, "kalau memang kita ada jodoh, nah, serahkan saja padaku!"

"Ini dia, penyakitnya kumat lagi!" demikian pikir Tian Pek di dalam hati, cepat dia mundur selangkah sambil menyengir. "Locianpwe!" ucapnya, "belum cukupkah engkau menggoda diriku? barangku sudah kau cerai-beraikan di tanah, sekarang kau datang menggoda lagi. Katakanlah! Apa yang kau kehendaki? Aku sudah tak punya barang apa2 lagi”

"Hihihi.. jangan kuatir nak, aku tak bakal mengincar barang rongsokanmu itu, kali ini aku minta yang lain saja" sambil cekikikan Hui It-tong menunjuk pedang pusaka di tangan anak muda itu. Lalu menyambung: "Coba, pedang itu saja berikan kepadaku?"

Tian Pek naik darah, ia pikir: "Keparat, memangnya aku Tian Pek boleh diperlakukan sesukamu."

Dengan mata melotot ia lantas berkata: "Locianpwe, tentunya kau tahu pameo yang mengatakan: Senjata merupakan nyawa kedua bagi orang yang belajar silat. Apakah engkau tidak merasa permintaanmu itu kelewat batas"

Seketika air muka si kakek berhati bocah itu berubah, ia membentak: "Kurang ajar, tak usah banyak bicara, jawab saja, mau kau serahkan atau tidak?"

Tian Pek tertawa dingin: "Kalau tidak, lantas kau mau apa?" tantangnya dengan angkuh.

Hawa napsu membunuh terlintas di wajah Hui It-tong.

Tian Pek mengira orang akan rebut pedangnya, cepat iapun menghimpun tenaga dan bersiap siaga.

Tidak terduga setelah mengerling sekejap ke sana, tiba2 air muka kakek itu berubah menjadi lembut, dia memandang batang pohon yang berserakan itu. lalu sambil menuding batang pohon itu ia bertanya: "Bocah, apa yang terjadi di sini? Mengapa pepohonan itu pada tumbang begini?" Tian Peng sangat mendongkol, ia merasa di permainkan orang, setengah harian dia merasa tegang tak tahunya orang itu malah bertanya secara santai, ingatan lain cepat melintas dalam benaknya: "Kenapa aku mesti melayani orang tua ini dan buang waktu percuma?"

Maka cepat dia menjawab: "Kalau Cianpwe tertarik pada kejadian ini, silakan tetap tinggal d1 sini dan selidikilah sendiri, maaf aku tak bisa menemani lebih lama, aku harus pergi karena ada urusan penting lainnya, selamat tinggal. . .

. . !"

Seiesai bicara, anak muda itu lantas angkat kaki.

"Eh, bocah, kau ingin kabur begitu saja?" terdengar suara jengekan, tahu2 Hui It-tong mengadang lagi di depannya. "Lebih baik jangan main2 denganku, kalau masih nekat, hm, itu namanya cari penyakit sendiri!"

"Baik, kalau Ciaupwe ingin main kekerasan, hayo seranglab, akan kuhadapi sekarang," teriak Tian Pek ketus.

Hui It tong mendengus, lalu memandang lawannya dengan sikap menghina.

"Anak muda, apa kau bilang? Kau menantang aku untuk main kekerasan? Baik, kau memang bernyali!"

Tian Pek tak gentar. dia busungkan dada dan menjawab: "Kalau Locianpwe tidak keberatan, silakan beri petunjuk beberapa jurus kepadaku!"

Hui It tong tidak menanggapi, biji matanya mengerling liar dengan mimik yang sukar diraba.

Tian Pek tahu Lak-ji-tong-sim Hui It-tong ini meski kelihatan angin2an, tapi hatinya sangat keji dan banyak tipu akalnya, ia kuatir oring mendadak menyerangnya maka diam2 ia bersiap menghadapi segala kemungkinan. Lak-jiu-tong-sim memang aneh orangnya. dikala ketegangan sudah mencapai puncaknya dan pertaruanan segera akan berlangsung, tiba2 ia kendurkan kembali sikap tegangnya, dia berpaling dan mengamati sesuatu di sana, se-olah2 dia telah lupa pada Tian Pek yang menantangnya bertempur barusan.

Segera ia melangkah kesana sambil bergumam-"Aneh. sungguh aneh, siapa yang menulis di atas tanah ini?"

Sikap si kakek yang sebentar keras dan sebentar lunak itu membuat Tian Pek juga sebentar tegang dan sebentar kendur, anak muda itu menjadi serba runyam.

Tian Pek tidak lagi gubris apa yang membuat heran Hui It-tong, sambil menjinjing pedang dia terus berlalu keluar hutan dengan langkah lebar.

Diam2 Tian Pek sudah ambil keputusan apabila Hui It- tong berani mengalangi jalan perginya lagi, maka dia akan lancarkan tusukan maut ke dada lawan andaikan dada kakek itu harus ditembus ujung pedang juga ia takkan menyesal.

Di luar dugaan meski tahu kepergian anak muda itu, ternyata si kakek tidak bagi mengalanginya. Malahan terdengar ia sedang membaca tulisan yang tertera di atas tanah, cuma tulisan itu dibaca dengan ter-putus2 hingga sukar dirangkai menjadi suatu kalimat yang utuh.

"Pembunuh..   ayah.   ,   .   ,   berdiam   ..   .   Kimleng   .

.kekuasaannya. . kolong langit..jangan bertindak gegabah. .

. . . Lu. . Tan. . " demikian terdengar Hui It tong sedang membaca tulisan itu.

Sampai berepa kali tulisan itu dibaca ulang. tapi tetap kabur artinya, lama2 kakek itu jadi jengkel dan mencak- mencak gusar: "Sialan, tulisan apa ini tak keruan seperti

kentut anjing . . kunyuk !"

Tian Pek terkesiap mendengar ocehan itu pikirnya: "Ai, bukankah tulisan itu ditulis oleh si kakek penunggang keledai? Dia tentu bsrmaksud memberi petunjuk kepadaku tentang jejak pembunuh ayahku?"

Cepat anak muda itu putar balik dan lari menghampiri Hui It-tong, tapi sayang, kedatangannya terlambat sejenak. sambil mencaci maki kalang kabut kakek itu telah menghapus tulisan di tanah itu dengan telapak kakinya. "Locianpwe, jangan kau hapus tulisan itu!'' pinta Tian Pek dengan gelisah sambil memburu ke sana.

Tapi Hui It-tong telah menghapus semua tulisan tadi rata dengan tanah, kemudian dengan mata mendelik ia tatap anak muda itu.

"Anak muda, kau mau apa?" teriaknya dengan marah. "Apakah kau yang tinggalkan tulisan ini? Sungguh tak  becus kau menulis, kalau dilihat kau

sudah dewasa, tak tahunya baru belajar menulis sekarang ini makanya tulisan di tanah tadi sukar dibaca, corat-coret seperti cakar ayam!"

Tian Pek tak berminat melayani ocehan orang, cepat dia periksa permukaan tanah, tapi tulisan di situ sudah lenyap.

Sungguh tidak kepalang menyesal Tian Pek, sambil banting kaki ia berseru: "Ai, Locianpwe, kenapa kau selalu memusuhi aku? Apa kau tidak merasa perbuatanmu itu kebangetan. "

Lak jiu-tong-sim berkeplok senang karena melihat anak muda itu menggerutu kalang kabut. Dongkol sekali Tian Pek. dia menghela napas dan berpikir: "Kenapa aku mesti layani si tua gila ini? Lebih baik cepat kutinggalkan tempat ini. Ai, tampaknya kakek penunggang keledai itu memang berhasrat membantu aku, kalau tidak, tak nanti ia tinggalkan pedangku dan meninggalkan tulisan, sayang tulisannya sudah dihapus si tua gila itu. Tapi meski begitu, dari apa yang dibaca si gila tadi, dari kata Kim-leng agaknya pembunuh ayahku berdiam di kota Lam-keng, apa salahnya kalau kukunjungi kota tersebut sekalian mencari berita? Siapa tahu kalau aku akan temukan sesuatu petunjuk yang penting artinya,

Berpikir sampai di sini, dia lantas putar badan dan hendak berltalu.

Tak terduga, Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong kembali mengadang pula jalan perginya.

"Hei, bocah busuk, mau ke mana kau?" teriaknya dengan marah, "Pedang itu kan belum kau tinggalkan? Memangnya kau anggap gampang untuk kabur dari sini?"

Hati Tian Pek menjadi panas, dia tak mau banyak bicara lagi, begitu orang itu mengadang, dengan jurus Kiam-ci- thian-larn (pedang menunjuk langit selatan ), langsung dia menusuk jalan darah Bi-sim-hiat di dahi kakek she Hui itu.

"Bagus!!" teriak Hui It-tong.

Ia mengegos ke samping untuk menghindarkan ujung pedang anak muda itu, kemudian ia mendesak maju ke depan, tangan kiri menjulur untuk mencengkeraram urat nadi tangan kanan Tian Pek, gerakan yang dipakai adalah ilmu "merampas senjata dengan bertangan kosong,"

Tidak sampai di situ saja. berbareng tangan kanannya membabat dada kiri si anak muda. Lak-jiu-tong-sim memang lihay, nama-besarnya bukan omong kosong belaka, meski baru satu gebrakan, jurus serangan yang dipakai ternyata tangguh dan sukar diraba ke mana arahnya.

Terperanjat Tian Pek, tak disangkanya kalau ilmu tangan kosong Hui It-tong sanggup digunakan untuk melayani serangan pedangnya malah orang tua itu terus mendesak.

Tian Pek jadi panik, sebab serangannya sudah dilancarkan setengah jalan, untuk ditarik kembali jelas tak mungkin, padahal ancaman musuh telah di depan mata. Cepat pcrgelangan tangan kanannya ditekan ke bawah, menyusul ia mengipatkan tangannya ke samping.

Serangan tepat memang bisa dihindarkan, namun terserempet juga pergelangan tangannya dan sakitnya tidak kepalang, separoh badannya kesemutan dan hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman.

Untung cengkeraman musuh tak kena telak namun pukulan lain yang dilancarkan Hui It-tog mengarah dadanya telah tiba pula, kali ini Tian Pek tak bisa berkelit lagi.

Dalam keadaan kepepet, mau-tak-mau Tian Pek menangkis dengan tangan kirinya, "plak", benturan keras terjadi, kedua orang sama2 tergetar mundur beberapa langkah.

Walaupun pertarungan berlangsung dari jarak dekat dan keduanya tidak memakai tenaga penuh. akan tetapi siapapnn tidak memperoleh sesuatu keuntungan.

Bagi Tian Pek kejadian yang berlangsung barusan tidak terasa seberapa hebat, tapi bagi Lak-jiu-iong-sim yang angkuh, ia tercengang melihat anak muda itu sanggup menerima serangannya dengan keras-lawan-keras, iapun heran karena pemuda yang diketahui lemah pada sebulan yang lalu tahu-tahu muncul kembali dengan kekuatan yang luar biasa, kejadian ini dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

"Bocah keparat, engkau memang hebat, tak ku-sangka kau masih punya ilmu simpanan!" teriak Hui It-tong dengan mata melotot dan alis bekernyit. "Sambut lagi pukulan ini!"

Habis ucapannya telapak tangannya lantas menyodok ke depan dengan mengerahkan delapan bagian tenaga saktinya.

Nama besar Lak-jiu-tong-sim memang bukan nama kosong, angin pukulan yang terpancar dari telapak tangannya sangat mengejutkan.

Tian Pek semakin yakin pada kekuatan sendiri setelah berhasil mengimbangi kekuatan lawan dalam bentrokan pertama tadi, tatkala dilihatnya Hui It tong menyerang lagi dengen dahsyat, cepat ia pindahkan pedang ke tangan kiri, lalu dengan telapak tangan kanan dia sambut pukulan lawan dengan keras lawan keras.

"Blang!!" benturan dahsyat tak dapat dicegah lagi, debu pasir beterbangan. suasana terasa mengerikan sekali.

Kali ini Tian Pek cuma merasakan tubuhnya bergetar keras, sedang badan sama sekali tak bergeser dari tempat semula. Sebaliknya Lak-jiu-tong-sim Hui It-tong beruntun tergetar mundur lima-enam langkah dengan sempoyongan, habis itu baru bisa berdiri tegak.

Betapa kejut Hui It-tong menyaksikan kedahsyatan tenaga anak muda itu, sudah belasan tahun dia mengembara di dunia persilatan tanpa tandingan, siapa tahu kali ini dia mesti menelan pil pahit di tangan seorang pemuda ingusan, bukan saja pukulannya tak mempan, malahan ia sendiri yang kena tergetar ke belakang, kalau tidak mengalaminya sendiri munkin sampai matipun dia tak percaya.

Bukankah satu bulan yang lalu merekapun bertemu di sini? Ia masih ingat ilmu silat pemuda itu biasa2 saja kalau tak mau dikatakan rendah sekali tapi apa yang terjadi sekarang? Bukan saja ilmu silat-nya jadi lihay, malahan Lwekangnya mendadak menjadi kuat berpuluh kali lipat.

Watak Hui It-tong memang tinggi hati dan suka meremehkan orang lain, bahwa dia sampai tergetar mundur oleh seorang pemuda ingusan, bila berita ini tersiar, maka nananya pasti akan runtuh habis2an.

Terbayang hal itu, Hui It-tong marah bercampur kaget, matanya melotot, rambut yang putih pada berdiri seperti landak, nyata tenaga dalamnya memang luar biasa.

"Hehe boleh juga kau, sambut pula pukulanku ini!" teriaknya dengan gusar.

Kali ini dia tidak langsung menerjang, tapi maju beberapa langkah ke depan dan pasang kuda2nya, setelah itu dia pejamkan mata dan meluruskan tangan ke muka sambil menyalurkan tenaga dalamnya, lalu telapak tangan ditarik kembali pelahan dan disilangkan di depan dada.

Dengan gerakan itu, hawa murninya menyebar ke seluruh tubuhnya, otot dagingnya mengeras dan membesar, sementara ruas tulangnya gemertuk keras, tampangnya beringas.

Keadaan kakek itu ibarat seekor ayam jago yang siap diadu, semua tenaganya terhimpun, lalu dengan mata melotot dia berputar pelahan mencari kesempatan untuk menubruk. Diam2 Tian Pek terkejut. ia menyadari betapa gawatnya keadaan.

"Tampaknya tua bangka ini sudah nekat sehingga siap melakukan pertarungan dengan sepenuh tenaga," demikian pikirnya. "Apa salahnya kalau akupun manfaatkan kesempatan ini untuk mengukur sampai dimanakah tarap tenaga dalam yang kumiliki?"

Pedang mestikanya lantas dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung, kemudian setelah pasang kuda2 dan memusatkan tenaga, pelahan ilmu sakti "Thian hud-sin- kang" di kerahkan sepenuhnya.

Dalam pada itu Hui It-tong sudah selesai  mempersiapkan diri, dia membuka matanya, sinar mata yang tajam segera menyorot dengan seramnya,

"Anak muda, sudah siap kau?” tegur Hui It-tong dengan tertawa demi melihat anak muda itu sedang menghimpun tenaga.

"Locianpwe tak perlu sungkan, silakan turun tangan!" jawab Tian Pek.

Baru habis ucapannya, secepat kilat Hui It-tong melepaskan pukulannya yang dahsyat.

Hui It-tong memang licik, ia sengaja mengajak bicara anak muda itu hingga hawa murni yang terhimpun jadi buyar, pada kesempatan itu pukulan dahsyat lantas dilontarkan.

Tian Pek terkejut, cepat ia tutup mulut dan menggunakan sisa kekuatan yang masih tertinggal untuk menyambut datangnya serangan.

"Blang", benturan dahsyat tak dapat dihindarkan, benturan hebat, Tian Pek merasakan telinganya mendengung keras, matanya ber-kunang2 dan dadanya jadi sesak, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak.

Malahan daya tekanan lawan yang maha kuat masih terus mengalir tiba tiada habisnya bagaikan arus sungai Tiangkang yang tak ter-putus2. Tian Pek menyadari keadaan yang berbahaya itu, bila dia tidak bertahan sekuatnya, niscaya jiwanya akan amblas.

Tian Pek memang pemuda yang ulet, segera ia pusatkan tenaga dan memantek kakinya di atas tanah, secepatnya tenaga yang masih ada dihimpun

pada kedua tangan, sambil mengertak gigi dia bertahan sekuat tenaga.

Pada mulanya Lak jiu tong-sim memang pandang enteng musuhnya, malah boleh dibilang Tian Pek tak dipandang sebelah mata olehnya, tapi setelah terjadi dua kali adu kekerasan, pikiran itu segera berubah, dia menyadari akan kemampuan yang di-miliki lawannya dan tak berani pandang enteng lagi.

Maka untuk ketiga kalinya mereka beradu pukulan, ia bertindak licik, terlebih dahulu dipancing-nya Tian Pek bersuara sehingga hawa murninya buyar, setelah itu dia nenyerang dengan sekuat tenaga, ia pikir serangan ini pasti berhasil membunuh anak muda itu atau paling sedikit melukainya, dengan begitu nama baiknya dapat dipertahankan.

Maka segenap Lwekangnya yang dilatihnya selama puluhan tahun sekaligus dilontarkan, katika dilihatnya Tian Pek sambut serangan itu dengan kekerasan, diam2 ia bergirang di dalam hati.

"Bocah keparat, mampus kau kali ini," demikian ia membatin. Siapa tahu tenaga pukulan Tian Pek mendadak terpancar tiba pula dan bahkan balas mendesaknya.

Hui It-tong terperanjat, cepat ia pusatkan kembali pikirannya. sisa kekuatan yang belum terpakai buru2 dikerahkan pula pada telapak tangannya.

Tian Pek tidak mau kalah, makin besar pihak lawan menekan, semakin keras pula anak muda itu memberikan perlawanannya.

Suatu pertarungan adu tenaga dalampun ber-langsung dengan serunya, kedua pihak sama2 bertahan dengan gigih, siapapun tak mau menyerah kalah dengan begitu saja,

Jarak kedua orang itu cuma lima kaki. kuda2 mereka setengah berjongkok dengan tangan lurus ke depan, empat telapak tangan saling menempel, bila orang yang tak tahu duduknya perkara mungkin akan mengira kedua orang itu sedang bermain sesuatu.

Tapi jika orang menghampiri tempat kejadian itu, maka terlihatlah betapa tegangnya wajah kedua orang itu. Yang tua berdiri dengan mata melotot, rambut sama berdiri seperti duri landak dan otot daging sama ber-kerut2.

Sebaliknya yang muda berdiri dengan muka merah dan mata melotot, bibir terkatup rapat dan dengusan napas amat berat.

Tentu saja bagi jago silat yang berpengalaman segera akan tahu bahwa mereka sedang saling adu tenaga dalam, suatu pertarungan yang paling berbahaya di dunia persilatan.

Dalam keadaan mengadu tenaga dalam begitu tiada soal untung2an lagi, apabila salah satu pihak kehabisan tenaga celakalah dia, bisa binasa seketika. Tapi kalau tenaga mereka seimbang, maka kedua pihak akan saling bertahan hingga tenaga masing2 sama terkuras habis. waktu itulah kedua pihak akan ambruk dan sama2 terluka parah.

Karena bahaya dan risiko yang harus di hadapi, maka jarang ada jago persilatan yang mau adu tenaga dalam jika hal ini tidak terpaksa,

Begitulah, tidak lama kemudian uap putih sudah mulai mengepul keluar dari ubun kedua orang itu, dalam waktu singkat uap putih itu menggumpal jadi kabut tebal, keadaan mereka semakin payah, sepatu yang mereka kenakan mulai merekah dan pecah, sementara kakinya terbenam satu-dua inci ke dalam tanah,

Secara akal, sepantasnya Tian Pek yang masih muda belia tak mungkin bisa menandingi kelihayan Hui It tong yang sudah berlatih empat lima puluh tahunan lamanya sudah pasti Lwekang yang dimilikinya telan mendekati puncak kesempurnaan.

Apa mau dikata Tian Pek telah mempelajari Sim-hoat yang tercantum dalam Soh-hun-siau-kut-thian-hud pit-kip, suatu kitab ilmu silat paling aneh di kolong langit ini, kitab ciptaan Ciah-gan long-kun, seorang jago silat luar biasa.

Bukan begitu saja, malahan dari gemblengan irama seruling Im-mo-toa-hoat dari Ciang Su-peng serta gebukan Leng-hong Kongcu telah mengakibatkan dua urat penting dalam tubuhnya berhasil ditembusi.

Kesemuanya itu membuat tenaga dalam Tian Pek melampui batas kemampuan seorang pemuda seusia dia, bukan saja dalam sebulan terakhir ini dia bertambah kosen. tenaga dalam yang dia miliki-pun mencapai taraf latihan enam-puluhan tahun. Oleh sebab itulah, meski berbeda menyolok dalam usia, dalam kenyataan tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu tidak jauh berbeda.

Pada permulaan terjadi bentrokan tadi, keadaan Tian Pek memang sangat payah, bahkan boleh dibilang hampir saja mati konyol hal itu disebabkan karena siasat busuk Hui It tiong, tapi setelah hawa murni beredar kembali dalam pusarnya, ia merasa daya tekanan kakek itu kian berkurang, sementara hawa murni miliknya mengalir makin deras, hatinya jadi tenang dan makin bersemangat melakukan perlawanan.

Lambat-laun kedudukannya bertambah kuat, dan kini dia telah menambah kekuatannya dua bagian lebih besar, seketika itu juga tenaga tekanan dari Hui-It-tong dapat ditolak balik,

Bagi Hui It tong sendiri, ia memang menang posisi ketika serangan pertama dilancarkan tadi, namun lambat laun ia merasa tenaga tekanannya makin terdesak kembali, iapun tak menyangka anak muda itu sanggup mempertahankan diri dalam keadaan gawat.

Tidak lama kemudian. suasana amat sunyi dalam hutan itu, sang surya telah mendoyong ke barat, angin berembus sepoi2, dalam keheningan hanya kicauan burung yang terdengar nun di pucuk pohon. Siapa tahu di balik kesunyian ini tersembunyi suatu pertarungan sengit, pertarungan yang mempertaruhkan jiwa.

Setelah posisi Tian Pek bertambah kuat, ia mulai tenang, dalam kesunyian itulah terlintas satu ingatan dalam benaknya.

Teringat olehnya akan dua kata sandi yang tercantum dalam kitab Thian-hud-pit-kip. kata2 itu berbunyi "Kosong tapi tidak kosong, lemah sebetulnya bukan lemah". Kata sandi itu jelas menerangkan tcntang suatu taktik ilmu Lwekang, suatu taktik mengenai daya hisap".

Diam2 Tian Psk berpikir: "Aku harus segera berangkatke kota Lam-keng untuk selidiki pembunuh ayahku, kenapa aku buang2 waktu percuma di sini?"

Begitu timbul pikiran ini, dia lantas tarik napas panjang dan memakai taktik mengisap untuk melepaskan diri dari godaan kakek sialan itu.

Dasar masih muda dan berdarah panas, Tian Pek tidak mempertimbangkan lagi apakah cara itu akan membahayakan diri sendiri atau tidak, begitu berpikir dia lantas bertindak,

Hawa murni yang sedang dikerahkan itu cepat ditarik kembali, tapi serentak iapun merasakan tenaga dalam Hui It-tong membanjir ke tubuhnya ibarat tanggul yang dadal, begitu dahsyat dan kuatnya tenaga itu hingga membuat anak muda itu amat terkejut.

Betapa girangnya Hui It-tong, begitu merasa tenaga tekanan musuhnya lenyap, dia mengira Tian Pek sudah tak sanggup melawan lagi, dia lantas membentak keras: "Roboh"

Kata telanjutnya tak sempat dilanjutkan sebab mendadak dia merasa tenaga Tian Pek menggetar balik, seketika Hui It-toug merasakan daya tckanan yang dahsyat, ia merasa pandangan matanya jadi gelap. telinga mendengung dan pertahanannya runtuh.

Terdengar jeritan mengerikan, Hui It-tong mencelat jauh dan terkapar tak bsrkutik lagi.

Rupanya dikala Tian Pek merasa gelagat tidak menguntungkan sesudah ia memakai taktik "meng-isap dari Lwekangnya, cepat ia ubah menjadi taktik "memantul", yang di dalam pelajaran disebut "Yang nyata adalah kenyataan, yang-kau adalah kekuatan,"

Taktik yang tercantum dalam kitab "Thian-hud-pit-kip" ini memang sangat dahsyat, begitu termakan tenaga pantulan tersebut, langsung saja Lak-jiu-tong-sim mencelat ke belakang.

Untuk sejenak anak muda itu berdiri sambil atur pernapasan, ketika dilihatnya Hui It-tong tidak bangkit berdiri, dia menghampiri kakek itu.

Sungguh sukar dipercaya bahwa Lak-jiu-tong-sim yang perkasa kini terkapar dalam keadaan mengenaskan, darah mengalir keluar dari lubang hidung, mulut, mata dan telinganya, jago lihay itu sudah menemui ajalnya secara konyol.

Baru pertama kali ini Tian Pek membunuh orang sakti, meskipun sudah lama ia berkelana, akan tetapi di masa lalu ia tak berkekuatan apa2, tentu saja tak mampu mencelakai jiwa orang. Melihat darah yang mengalir serta mata si kakek yang melotot penasaran, diam2 anak muda itu bergidik sendiri.

Timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya, berdiri di depan jenazah Hui It-tong diam2 Tian Pek berdoa: "Locianpwe, kalau engkau tidak selalu mencari gara2 padaku, tak nanti kucelakai jiwamu, itupun kulakukan tidak sengaja. Ai, aku tak menduga kalau tenaga pukulanku tadi dapat menewaskan kau, benstirahatlah dengan tenang di alam baka dan maafkanlah perbuatanku ini .

Menyusul anak muida itu berpikir lebih jauh 'Aku sudah salah mencelakai jiwanya, sepantasnya kukubur jenasahnya. Ai, kalau sampai dimakan serigala atau elang, hatiku pasti akan bertambah menyesal ..." Maka dicabutnya pedang mestikanya dan menggali sebuah liang kubur di hutan itu.

Belum sempat dia masukkan jenasah Hui lt-tong ke dalam liang kubur, tiba2 dari luar hutan melayang datang tiga sosok bayangan, cepat sekali gerak tubuh mereka ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya.

"Bagus, bagus sekali perbuatanmu!" segera seorang laki2 barmata besar menegur. "Setelah membunuh orang di siang hari bolong, rupanya kau-hendak lenyapkan bukti. Hehehe, anak muda, jangan harap kau bisa cuci tangan dari tanggung-jawab ini!"

Tian Pek melengak, sebelum ia sempat berkata, laki2 lain yang bermuka kereng segera menambahkan sambi tertawa seram: "Hehehe. sahabat, kau berasal dari garis mana? Masa kau akan mengangkangi sendiri hasil pendapatanmu?"

"Betul!" sambung lelaki ketiga yang bermuka pucat, "siapa yang melihat, siapa dapat bagian. Yang besar mendapat emas, yang kecil mendapat perak, masa kami tidak diberi bagian?"

Tian Pek dapat menangkap arti kata istilah2 golongon hitam yang diucapkan beberapa orang itu sekalipun belum beberapa lama ia berkelana di dunia persilatan.

Betapa dongkol perasaan Tian Pek ketika mendengar ketiga orang itu menganggap dia sebagai pembegal yang baru mendapat hasil begalan.

Segera ia menjawab dengan kata2 rahasia yang setengah mentah: "O, rupanya kalian bertiga berasal dari satu garis, sayang sasarannya tak tepat dan di sini tak ada apa2 yang bisa dibagi, ketahuilah yang mati adaleh seorang rekanku yang sakit di tengah jalan, karena jauh dari kota maka aku ber-maksud menguhurnya di sini!"

Rupanya ketiga orang itu kurang percaya, mereka menghampiri untuk memeriksa sendiri Demi melihat keadaan kematian Hui It-tong, tentu saja orang2 itu tidak percaya.

Si muka pucat kembali menegur: "'Sahabat, jangan main bohong di depan rekan sendiri, masa temanmu ini mati karena sakit?"

Tian Pek ingin msmberi penjelasan, tapi sebelum buka suara, laki2 bermuka pucat itu lantas menjerit kaget: "He, bukankah yang mati ini Lak-jiu-tong-sim Hui locianpwe?"

Kedua orang lain terbelalak, mereka mengamati lagi jenasah itu, setelah yakin korban itu adalah Lak-jiu-tong- sim Hui It-tong, cepat mereka menyurut mundur dan melolos senjata masing2.

Dengan golok terhunus, ketiga orang itu mengurung Tian Pek di tengah.

"Hei bocah, hayo ngaku! Kenapa kau bunuh Hui- locianpwe?" bentak laki2 bermata besar dengan melotot.

"Lotoa, buat apa banyak bertanya?" sambung kedua orang temannya. "Hajar saja keparat itu sampai mampus! Kita harus membalaskan dendam kematian Hui- locianpwe!"

Dengan garang mereka terus menerjang dan membacok. "Eeh eeh, nanti dulu, nanti dulu " seru Tian Pek. "Secara

tidak sengaja kucelakai jiwa Hui-locianpwe, kami sedang bertanding. tak tahunya aku salah turun tangan hingga terjadi kecelakaan ini" "Huh, omong kosong!" bentak laki2 bermuka pucat dengan seram. "Sekalipun kau membantah sampai lidahmu putus juga aku tak percaya. Huh, memangnya kau bisa menandingi Hui-locianpwe jika bertempur secara terbuka? Pasti kau pakai tipu muslihat untuk menyergap Hui- locianpwe!"

"Keparat, tak usah banyak omong, serahkan jiwamu!" teriak laki2 yang lain dengan marah.

Secepat kilat ia menerkam ke depan, golok langsung membacok kepala Tian Pek.

Dengan cekatan anak muda itu mengegos ke samping, kedua orang yang berada di sisi kiri-kanannya segera juga bertindak, golok merekapun menabas iga dan punggung Tian Pek dengan suatu gerakan serentak.

Cepat Tian Pek putar badan dan balas menyerang, ia hindarkan bacokan dari belakang itu, pukulan dahsyatnya membuat golok yang mengancam iganya tersingkir ke samping.

Gagal dalam serangan pertama, ketiga orang itu serentak menerjang maju pula.

Hebat juga serangan golok ketiga orang itu, Tian Pek merasa sukar untuk memberi penjelasan, cepat ia melompat ke atas, kesempatan mana digunakan mencabut pedang mestika yang terselip di punggung-

Seketika terdengar suara mendenging, cahaya hijau menyilaukau mata terpancar di angkasa, begitu pedang lolos dari sarungnya, anak muda itu terus membabat dengan gerakan Heng sau-jian kun ( menyapu bersih beribu perajurit ).

"Traang! Traaang!" benturan nyaring terjadi, mana mungkin golok lawan mampu menahan ketajaman Pedang Hijau yang luar biasa? Tak ampun lagi dua bilah golok terpapas kutung.

Tiga orang itu menjerit kaget dan cepat melompat mundur, mereka mengawasi anak muda itu dengan sorot mata heran.

Setelah kejadian tersebut, mereka tak berani lagi pandang enteng lawannya, terutama sekali senjata mestika yang amat tajam itu. Mendadak kedua orang yang goloknya tertabas kutung meraung sambil menyambitkan kutungan golok kearah Tian Pek.

"Criiit! Crnit!" dengan membawa desiran angin tajam, kutungan golok itu meluncur ke muka serta dada anak muda itu.

Serangan itu cukup keras, Tian Pek tak berani menangkap kutungan golok itu, cepat dia merendahkan tubuh ke bawah, dengan gerak Pek-lon oh po (burung kuntul menyambar ombak) dia hindarkan sambitan itu.

Baru saja Tian Pek mendak ke bawah, laki2 ketiga segera mengunakan kesempatan itu, ia angkat goloknya dan membacok Tian Pek dengan gerakan Hian-niau-hua-seh (burung merah menyapu pasir).

Ketiga orang itu memang sangat ulet, sekali-pun sudah kalah mereka tak mau menyerah begitu saja, hal ini tak terduga oleb Tian Pek.

Ketika ia melihat bacokan datang lagi, dengan ujung pedang Tian Pek menutul permukaan tanah, lalu ia melayang ke atas dan sebelah kakinya sempat mendepak pinggang orang itu, kontan orang itu mengerang kesakitan dan mencelat jauh ke sana, lama sekali dia baru sanggup berdiri kembali. Dengan kekalahan yang mengenaskan ini, pucatlah muka ketiga orang itu, tampaknya mereka kuatir kalau2 anak muda itu menerjang maju lagi dan membinasakan mereka.

Selangkah demi selangkah mereka mundur ke belakang, tapi tak seorangpun yang berani mendahului kabur dari situ, kemudian setelah yakin Tian Pek tidak bermaksud mengejar dan membunuh mereka, barulah laki2 bermuka pucat itu berseru dengau garang di luar tapi takut di dalam: "Kawan, kalau engkau memang jantan, hayo sebutkan namamu!"

Diam2 bergembira Tian Pek setelah menyadari ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang pesat, dia bangga dan berbesar hati. Mendengar pertanyaan lawan segera ia menyahut: "Aku Tian Pek! Apa yang hendak kalian lakukan lagi?"

"Hm, jangan kau jumawa dulu," seru laki2 kekar tadi dengan mendongkol. "Hari ini kami bertiga memang kalah di tanganmu, tapi lihat saja nanti! Tunggulah pembalasan kami . . " — Habis berkata mereka terus berlalu dengan penasaran.

Memandangi kepergian ketiga orang itu, Tian Pek tertawa geli, pikirnya: "Sekarang tibalah saatnya bagiku untuk melampiaskan penderitaan yang pernah kualami di masa lalu "

Setelah mengubur jenazah Hui It-tong, dia melanjutkan perjalanannya mcnuju ke kota Lam-keng.

Ketika malam tiba ia berada di sebuah kota besar, Tian Pek tak tahu kota apakah ini, yang jelas lampu di dalam kota terang benderang, banyak orang berlalu lalang di jalan, ramai benar kota ini. Dengan perut lapar Tian Pek masuk ke dalam kota dan celingukan ke sana kemari mencari hotel, maksudnya hendak menangsal perut lalu beristirahat, besok perjalanan baru akan dilanjutkan lagi.

Sepanjang jalan dia celingukan ke sana kemari, mencari rumah makan, ia tak menyangka kalau banyak lelaki kekar berpakaian ringkas cekak juga sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Entah berapa jauh dia sudah berjalan, akhir ia lihat sebuah rumah makan yang memakai merek "Kim eng ciu lau" (rumah makan berkumpulnya orang gagah), tulisan papan merek itu berwarna emas, ruangan atas maupun ruangan bawah terang benderang bermandikan cahaya, banyak tamu yang berlalu lalang di sana, bau harum arak dan masakan yang lezat teruar sampai jauh, tak tahan anak muda itu, ia menelan liur dan menghampiri rumah makan itu.

Baru melangkah masuk pintu depan, seorang laki2 berpakaian ringkas memapak kedatangannya dan mengadang di depan anak muda itu, tegurnya: "Kau hendak bersantap atau ingin menginap?"

Meskipun sangsi karena tampang orang itu tidak mirip dengan pelayan, namun Tian Pek menjawab juga dengan jujur: "Aku hendak mengisi perut dan juga hendak menginap."

Dengan seksama orang itu mengamati anak muda kita dari atas sampai ke bawah, kemudian sahutnya dengan dingin: "Maaf saudara, rumah makan kami sudah penuh dan tidak terima tamu lagi, silakan mencari rumah penginapan yang lain saja!"

Beberapa pelayan tampak berdiri jauh di dekat meja kasir sana dengan muka takut2, mereka tak berani menghampiri anak muda ini melainkan cuma memandang saja dari kejauhan.

Walaupun curiga, Tian Pek tidak mau rewel. jika orang bilang kamar penuh, tentu saja dia harus percaya, terpaksa ia mengundurkan diri dari sana.

Siapa tahu, kejadisn serupa tidak cuma dialami di satu tempat saja, secara beruntun ia memasuki lima-enam buah restoran merangkap penginapan tapi apa yang dialami tidak jauh berbeda, semua rumah makan itu dijaga orang yang berpakaian ringkas cekak dan menolak kehadirannya.

Akhirnya sampailah pemuda itu di rumah makan yang terakhir, tempat itu letaknya di ujung kota, suasana di situ remang2 tidak seterang tempat2 tadi, ke depan lagi jelas tiada rumah penduduk pula, sekarang kecurigaan dalam hati Tian Pek makin menjadi. ia rada dongkol, pikirnya: "Masa kedatanganku ini sedemikian kebetulan, semua rumah makan dan penginapan yang ada di kota ini penuh? Jelas di balik hal ini ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya dengan seksama!"

Dengan penasaran anak muda itu menghampiri rumah makan yang terakhir.

Kali ini ia bertindak lebih cerdik, bukan langsung memasuki rumah makan itu sebaliknya dia mengintip dulu lewat jendela, dilihatnya ruang yang luas hanya dua tiga meja yang berisi tamu, selebih-nya dalam keadaan kosong, setelah yakin penglihatannya tak keliru, barulah dia masuk ke sana.

Tapi baru dia melangkah masuk, seorang laki2 berpakaian ringkas segera mengadangnya.

"Sahabat, mau apa kau kemari?" tegurnya dengan lantang. Tiba2 timbul akalnya, ia lantas menjawab: "Aku mencari orang!"

Ia tahu kalau mengatakan hendak makan atau menginap dia pasti dilarang masuk, maka dia menggunakan alasan lain untuk membohongi orang.

Tapi orang itu tidsk melepaskan dia masuk begitu saja dan tetap mengadang di depan anak muda itu "Siapa yang kau can?" kembali ia menegur.

"Ah, masa aku harus laporkan juga siapa yang kucari?" kata Tian Pek dengan lagak bingung.

"Hehe, memangnya kenapa?" kata laki2 itu sambil tertawa dingin, "kaiau kau ingin cari orang, sebutkan dulu namanya dan aku akan panggilkan orang itu keluar ke sini, pokoknya kau tak boleh sembarangan masuk."

"Peraturan apa ini?" pikir Tian Pek, tapi sekarang ia sudah tahu, rupanya orang2 itu memang sengaja hendak mencari perkara.

Maka iapun berlagak blo'on dan menyahut: "Aku mencari pelayan rumah makan ini!"

Kali ini orang itulah yang tertegun, rupanya ia tak menyangka. Tian Pek akan menjawab begini-Tapi sepera orang itu menyadari telah dipermainkan Tian Pek, dengan mata melotot kembali ia membentak: "Mau apa kau cari pelayan?"

“Mau apa lagi?" jawab Tian Pek "tentu saja mau pesan makanan dan mau menginap!"

Laki2 berpakaian ringkas itu tertawa dingin "Hehehe, sahabat, terus terang kuberitahu padamu, tak ada makanan bagimu di sini, juga tak ada tempat tidur bagimu untuk menginap, kulihat iebih baik kau pindah saja ke tempat lain!"

Dasar perutnya sudah keruyukan, Tian Pek menjadi gusar, segera iapun balas menjengek: "Kenapa aku mesti cari tempat lain? Aku bayar makanan yang kumakan, kubayar juga tempat penginapan yang kupakai, kenapa kau ikut campur urusan pribadiku?'

Sehabis berkata, tanpa menggubris lagi dia masuk ke dalam dengan mcngitari laki2 yang mengadangnva ini.

"Hei," bentak orang itu dengan marah, "sudah kukatakan tak boleh masuk kalau kau memaksa berarti kau cari penyakit sendiri!"

Dengan suatu gerakan kasar, bagaikan burung elang menyambar kelinci, dia terus cengkeram bahu Tian Pek.

Tapi Tian Pek mana bisa disentuh lagi, dengan mudah saja ia berkelit ke samping.

Orang itu makin penasaran, kembali tangan kanannya diayun menghajar dada anak muda itu.

Cepat sekal gerak serangan itu dan keras pula pukulannya.

Tian Pek menunggu ketika kepala musuh hampir menyentuh dadanya, mendadak tangan kirinya berputar keatas dan mencengkeram pergelangan tangan lawan, kemudian sekali betot ia lemparkan tubuh orang.

"Enyah kau keluar!" bentaknya. Kontan orang itu menggelinding keluar ruangan itu.

Cepat orang itu merangkak bangun, sambil menuding Tian Pek ia mencaci maki kalang kabut: "Anak jadah, jika berani kau jangan lari! Tunggu saja di sini" — Dengan ter- birit2 dia terus ngacir dari situ. Tian Pek tertawa hambar, ia melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu mencari tempat duduk di ujung ruangan sana.

Suasana dalam rumah makan amat sepi tak ada yang buka suara. malahan tamu yang sedang bersantap sama memandang Tian Pek dengan ter-belalak, sedangkan pelayannya berdiri jauh di sudut ruangan dengan takut2.

Melihat pelayan tidak meladeni dirinya. Tian Pek berteriak keras: "He, bawakan arak dan daharan!"

Para pelayan dan kasir berpandangan sekejap, akhirnya salah seorang di antaranya dengan takut2 menghampiri Tian Pek seraya memohon "Tuan silahkan pindah ke tempat lain saja, rumah makan kami benar2 tak berani melayani kehendak tuan, hamba mohon sudilah tuan pergi dari sini."

"Kalian tak usah kuatir!" kata Tian Pek, "hidangkan saja makanan dan arak! Kalau ada yang berani mencari perkara, akan kuhadapi dia, tanggung kalian tak akan memikul akibatnya!"

"Tuan, betul juga katamu!" sahut si pelayan sambil menyengir, "tapi kalau kami layani engkau bersantap di sini, maka selanjutnya jangan harap rumah makan ini bisa dibuka lagi."

"Apa kerjanya bangsat tadi? Kenapa kalian takut kepadanya? Apa hukum negara tidak berlaku di sini?" tanya Tian Pek.

"Hukum negara memang ada, tapi pernahkah tuan mendengar istilah An-lok hong lin (An-lok yang romantis)?"

Tian Pek terkesiap segera ia paham persoalan yang sebenarnya, pikirnya: "Tak heran kalau orang2 di sini pada ketakutan, rupanya keparat tadi adalah anak buah An-lok Kongcu!" Menyusul ia lantas berpikir lebih jauh: "Sebulan yang lalu aku berjumpa dengan An-lok Kongcu, kalau melihat gerak-gerik dan tingkah lakunya jelas dia sangat gagah dan berbudi, masa anak buahnya berani berbuat se-wenang2  dan bikin onar di sini?

Apakah An-lok Kongcu tak pernah mengurusi anak buahnya?"

Berpikir sampai di sini, segera ia berkata: "Ana kaumaksudkan An-lok Kongcu? Jadi An-lok Kongcu berdiam di kota ini?"

Mendengar Tian Pek langsung menyebut nama An-lok Kongcu, pelayan itu cepat memberi hormst sambil menjawab: "Alangkah baiknya bila tuan kenal Kongcu, meski An-lok Kongcu tidak berdiam di sini, tapi sebagian besar kota ini adalah milik Kongcu, beliau yang memberi makan, pakaian serta tempat berteduh bagi kami rakyat kecil di sini, siapa yang tidak menghormati beliau "

Diam2 Tian Pek berpikir: "Kalau begitu kawanan orang berpakaian ringkas tadi pasti berbuat keonaran di sini dengan membonceng nama besar An-lok Kongcu, sayang An-lok Kongcu tidak tinggal di sini. sekalipun ada persoalan juga tidak bisa dibicarakan, biarpun kukatakan kukenal An-lok Kongcu tentu juga mereka tak percaya. Agaknya malam ini aku bisa kelaparan."

Tiba2 ia melihat di dapur sana tersedia ayam panggang, bebek, daging babi dan sebagainya, segera ia berkata: "Kalau memang begitu, akupun tak akan menyusahkan kalian, bungkuskan saja daging babi dan bakpao, akan kumakan nanti di tengah jalan!"

Kembali pelayan itu tertawa getir, dengan serba salah dia cuma membungkuk2 berulang kali. Lambat laun habis juga kesabaran Tian Pek, dia melotot, dengan suara keras ia membentak: "Sungguh keterlaluan, cepat siapkan makanan itu bagiku! Kalau tidak, hm, aku tak mau sungkan2 lagi...”

"Kalau tidak sungkan, lantas apa yang akan kau lakukan?" tiba2 seorang menanggapi dari belakang, menyusul mana lampu dalam ruangan itu hampir tersirap.

Ketika lampu terang kembali, tampaklah dalam ruangan telah bertambah dua orang laki2 berpakaian ringkas,

Mereka adalah seorang tua dan seorang muda, yang tua berusia enam puluhan, rambut beruban pendek seperti duri landak, mukanya merah bercahaya, alis tebal dan mata besar bersinar tajam, memakai jubah satin warna hijau pupus, sebuah senjata aneh berbentuk telapak tangan terselip di punggungnya, tali sutera dan gelang baja pada senjata itu gemerlapan menambah keangkeran orang tua ini.

Sedang yang muda berusia dua puluhan, mukanya tampan dan perawakan kekar, sayang agak pucat dan lagaknya tengik, iapun memakai baju ringkas ketat, pedang melintang di punggungnya dia mengawasi Tian Pek dengan pandangan menghina.

Kemunculan kedua orang ini mengakibatkan suasana dalam rumah makan menjadi kalut, dengan muka pucat pelayan kelihatan gemetar, sementara para tamu yang sedang bersantap juga cepat2 bangkit dan pergi.

Per-lahan2 Tian Pek berdiri, sebelum dia buka suara, kakek bermuka merah itu menegur: "Kau ini yang menyergap dan membunuh Lak jiu-tong sim Hui-it-tong?"

Sungguh lantang suara kakek ini, begitu keras sampai msndengung dan membikin anak telinga orang terasa sakit. Tian Pek sangat mendongkol, kematian Hui It-tong akibat beradu tenaga dalam dengannya, tapi orang justeru menuduh dia membunuh lawannya dengan cara licik.

Sambil tertawa getir sahutnya: "Kejadian itu hanya kesalah-pahaman belaka, masalah ini akan kujelaskan setelah bertemu dengan Kongcu kalian, kebetulan kukenal An-lok Kongcu "

'Huh! Omong kosong!" dengus pemuda angkuh itu. "Tak mungkin An-lok Kongcu punya kenalan seorang Bu-beng- siau cut (perajurit tak bernama) macam kau. Lebih baik tutup mulut dan bayar jiwamu bagi kematian Hui- locianpwe!"

Sambil bicara ia terus menerkam lawan, lima jari tangannya terpentang lebar langsung mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan Tian Pek-

Serangan itu cukup lihay, Tian Pek tak berani gegabah, cepat dia bergeser sambil putar badan dengan mudah ia hindarkan ancaman pemuda jumawa itu.

Melihat serangannya gagal, dari cengkeraman pemuda jumawa itu ganti serangannya menjadi pukulan telapak tangan, mengikuti perputaran tubuh lawan, dia menusuk iga Tian Pek dengan gerakan Kim-ca-jiu (tusukan tangan emas), berbareng itu juga dia maju selangkah dan memotong jalan darah Cian-keng-hiat di bahu lawan dengan telapak tangan kanannya.

Satu serangan dengan dua gerakan ini bukan saja dilakukan dengan cepat dan menimbulkan deru angin keras, dari sini dapat pula diketahui kehebatan tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu.

Bila peristiwa ini berlangsung pada dua bulan yang lalu tentu Tian Pek sudah kecundang, tapi Tian Pek sekarang bukan Tian Pek yang dulu, ketika merasakan datangnya serangan maut, cepat dia menyambut dengan kedua telapak tangannya.

"Duk! Duuk!" berbareng dengan benturan itu, tahu2 pergelangan tangan pemuda jumawa itu malah kena dicengkeram oleh Tian Pek.

Sedikit Tian Pek mengerahkan tenaga cengkeramannya, seketika keringat membasahi jidat pemuda jumawa itu, mukanya berubah menjadi pucat seperti mayat, saking sakitnya hampir saja ia menjerit.

Jurus aneh yang barusan digunakan oleh Tian Pek bernama Ciau-tau-siang-soh (membelenggu tangan dengan jitu), suatu jurus ampuh hasil sadapannya dari Tok-kah-hui- mo, mimpipun tak pcrnah disangka olehnya kalau hasil sadapannya ternyata sangat bermanfaat, bukan saja berhasil lolos dari serangan maut musuh, malahan lawan kena dibekuk olehnya.

Cengkeraman itu persis menjepit persendian tulang pergelangan pemuda jumawa itu, bisa dibayangkan betapa menderitanya pemuda jumawa itu, dalam keadaan demikian ia merasa tangannya kesakitan dan kaku, seluruh badanpun tak bisa berkutik.

Tian Pek tiada maksud mencelakai jiwa tawanannya, dia bermaksud melepaskan tawanannya setelah memberi peringatan seperlunya.

Siapa tahu sebelum ia bicara, tiba2 dari belakang menggulung datang angin pukulan yang keras.

"Lepaskan!" terdengar si kakek muka merah membentak.

Sudah tentu Tian Pek tahu dirinya sendiri sedang diserang si kakek muka merah, cepat ia lepaskan cengkeramannya   pada   pergelangan   tangan   lawan   dan dengan suatu gerakan enteng ia melayang jauh ke samping sana.

"Duuk!" tak sempat si kakek muka merah menarik kembali pukulannya yang dahsyat, sedangkan Tian Pek berkelit tepat pada waktunya, tanpa ampun lagi pukulan dahsyat itu menghajar pada dada pemuda jumawa itu dengan telak. Pemuda itu mencelat dan menumbuk dinding.

Terkapar pemuda yang jumawa itu dengan bermandikan darah dan tak berkutik lagi, tampaknya lebih banyak mampus daripada hidupnya

"Ada pembunuhan" segera ada orang menjerit, suasana rumah makan itu menjadi kacau balau, para tamu dan pelayan pada lari ter-birit2 dengan ketakutan.

Betapa gusarnya kakek muka merah itu, pukulannya tidak mengenai musuh, sebaliknya malahan membinasakan muridnya sendiri, dengan muka beringas, mata melotot dan mulut menyeringai, sekali lagi ia terjang Tian Pek.

Tian Pek sendiri tak menduga kalau kelitannya tadi akan mengakibatkan kematian pemuda jumawa tersebut, cepat ia berkelit pula ke samping tatkala pukulan gencar dan dahsyat si kakek muka merah itu menyambar tiba.

Kakek muka merah itu semakin kalap, ketika Tian Pek berkelit ke samping, bagaikan harimau gila dia meraung keras, kemudian menghajar lagi pinggang anak muda itu dengan tabasan telapak tangannya.

Ruangan itu tidak terlalu luas dan lagi dipenuhi dengan meja kursi, sementara pukulan yang dilancarkan kakek itu sangat cepat dan juga keras, dalam keadaan begini tak mungkin bagi Tian Pek untuk berkelit terus menerus, terpaksa ia harus menyambut serangan dahsyat itu dengan keras lawan keras.

"Duuk! Blang!" akibat benturan keras pukulan yang dahsyat, seketika meja kursi tergetar roboh, mangkuk piring berantakan memenuhi lantai

Hampir semua pelayan rumah makan dan tetamu sudah menyingkir jauh atau lari kcluar ruangan itu, sekalipun mereka lari dengan cepat, tapi ada pula beberapa orang di antaranya yang tersambar oleh angin pukulan atau pecahan mangkuk-piring hingga terluka, jerit panik dan teriakan kesakitan membuat suanana tambah kacau-balau tak keruan.

Sungguh dahsyat tenaga pukulan yang dipancarkan kakek muka merah itu, Tian Pek merasakan telapak tangannya jadi panas dan kesemutan, mata-nya berkunang, diam2 ia terkejut oleh kedahsyatan tenaga pukulan musuh.

Tiba2 dilihatnya pula rambut si kakek sama menegak dan mata melotot, biji matanya se-akan2 meloncat keluar, kedua telapak tangan yang diluruskan ke depan berubah menjadi merah membara, dengan wajah menyeramkan ia menubruk pula ke depan.