Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 16

Jilid 16

"Blang!" di tengah beoturan keras, kursi berodanya berputar dan hampir saja tercebur ke dalam sungai.

Untung banyak sekali jago2 pengawal berada di belakang kursi beroda ltu, cepat mereka menahan kursi tersebut, sekalipun demikian, akibat guncangan hebat perahu itu lantas terdorong meninggalkan pantai.

Betapa gusar dan kejut Cing-hu-sin Kim Kiu setelah menyaksikan rahasianya terbongkar, dengan suara keras ia berteriak: "Cepat bekuk mereka, satupun jangan terlepas, bunuh tanpa perkara!"

Rupanya ia tidak tahu banyak musuh yang datang, maka dia memberi perintah begitu.

Diam2 Tian Pek menyesal karena terburu napsu, kini Cing-hu-sin telah kabur ke tengah sungai, tak mungkin lagi baginya untuk menyeraog lagi.

Dalam pada itu belasan laki2 kekar tadi telah menurunkan peti mereka serta mengepungnya.

Dengan tubuh hanya dibungkus dengan robekan kain selimut, Tian Pek tidak gentar menghadapi musuh.

Sementara itu kawanan Busu ( jago silat ) teiah mengepung maju, setelah tahu bahwa lawan hanya Tian Pek seorang, keberanian mereka bertambah besar, diiringi suara bentakan, empat pengawal berbaju perang segera putar pedang dan menusuk anak muda itu.

Dengan gesit Tian Pek putar badan menghindari serangan itu, telapak tangannya menyapu ke depan kontan empat pengawal itu menjerit dan mencelat.

Terkejut kawanan Busu lainnya, serentak mereka menghentikan gerak majunya, nyata mereka menjadi jeri oleh perbawa Tian Pek yang sekali serang merobohkan empat orang itu.

Tiba2 terdengar siulan nyaring, sesosok bayangan hitam melambung ke udara, sesudah berputar satu lingkaran mendadak menukik dan menerkam Tian Pek laksana burung rajawali menerkam mangsanya.

Dari gaya serangannya segera Tian Pek mengenali orang ini adalah Tiat-ih-hui-peng (rajawali sakti bersayap baja) Pah Thian-bo, salah seorang di antara "sepasang pengawal baja".

Semenjak mendapat ajaran ilmu sakti seratus hari dari Sin-lu-tiat-tan, kepandaian Tian Pek sudah maju pesat, makin besar juga ia percaya pada diri sendiri, kendatipun tahu bahwa Tiat-ih-hui-peng adalah jago utama istana keluarga Kim, pula mempunvai "baju sakti bersayap baja" yang dapat membantunya melambung ke udara, namun Tian Pek sama sekali tak gentar,

Ketika musuh menubruk turun. bukannya berkelit atau menghindar, Tiap Pek malahan menyongsong ancaman tersebut dengan suatu pukulan dahsyat.

Dua kekuatan kebentur dan menerbitkan suara gemuruh.

Tian Pek tidak tergetar oleh benturan tersebut dan tetap berdiri di tempat, sebaliknya Tiat-ih-hui-peng yang berada di udara terpental dan berjumpalitan beberapa kali, lalu ia kuncupkan sayap dan melayang turun.

Kejadian ini sangat mengejutkan kawanan jago istana Kim yang hadir di sekitar tempat itu, mereka tahu ilmu silat Tiat-ih-hui-peng sangat tangguh, jarang ada kekuatan yang mampu menahan gempurannya, tapi kini jago mereka ternyata menelan pil pahit yang mengenaskan. Setiba di permukaan tanah, Tiat-ih-hui-peng mengebas sayap bajabya, dalam kegelapan tak kelihatan bagaimana air mukanyu, tapi dapat diduga ia pun terkejut, ia sedang mengatur pernapasan untuk mempersiapkan serangan kedua.

Berpuluh lentera mendadak menyala di atas sampan, cahaya yang terang itu menyorot ke arah Tian Pek.

Di bawah cahaya lampu, semua orang dapat melihat jelas dandanan Tian Pek yang lucu itu, tubuhnya hanya dibungkus dengan robekan selimut, ikat pinggangnya cuma beberapa helai kain baju, bukan &aja tanpa bersepatu. malahan sebagian tubuhnya juga telanjang. Akan tetapi wajahnya yang cakap kelihatan kereng.

Sebagian besar jago istana Kim kenal siapa dia, hampir semuanya bersuara heran: "He, dia ..."

Cing-hu-sin Kim Kiu yang berada di perahunya dan berteriak lantang: "Tangkap bangsat cilik itu, jangan sampai kabur, tangkap dia!"

Berpuluh orang dengan senjata terhunus segera bergerak maju, dalam waktu singkat Tian Pek terkepung rapat, namun tak seorangpun yang berani

turun tangan lebih dahulu.

Terdengar gelak tertawa menggema, seorang kakek bungkuk tampil ke depan. Inilah dia Tiat-pi to hong Kongsun Coh.

Ia menghampiri Tian Pek, tegurnya: "Hahaha, saudara cilik. hanya beberapa hari tak bertemu, rupanya ilmu silatmu telah mendapat kemajuan lagi. Haha, ada satu persoalan ingin kutanyakan padamu apakah kau bersedia memberi jawaban?" Selama berada di istana keluarga Kim, beberapa kali Tian Pek mendapat bantuan dari kakek bungkuk ini, dengan sendirinya ia pun bcrkesan baik padanya.

Maka dengan menahan rasa dendam yang berkobar ia menjawab: "Persoalan apa yang hendak Kongsun cianpwe bicarakan?"

“Istana keluarga Kim menerima dirimu sebagai tamu terhormat, apa sebabnya saudara malahan memusuhi kami?"

"Kongsun-cianpwe mungkin tidak tabu. Ayah-ku dibunuh oleh Cing-hu-sin Kim Kiu, dia adalah musuhku, dengan sendirinya aku ingin menur.tut balas, walau begitu aku masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, barang siapa tidak tersangkut dalam peristiwa itu, akupun tak ingin memusuhi dia, Kongsun-cianpwe, bila engkau bersedia cuci tangan di dalam persoalan ini, aku Tian Pek niscaya takkan memusuhi dirimu!"

"Apakah aku boleh tahu siapakah mendiang ayahmu?" tanya Kongsuo Coh dengan melengak.

"Tidak pantas seorang anak menyebut nama ayahnya, tapi kalau Cianpwe ingin tahu, terpaksa kukatakan, mendiang ayahku tak lain adalah Pek lek-kiam Tian In- thian!"

"O, maaf. maaf, kiranya saudara cilik ini keturunan Tian- tayhiap ..."

Di tengah kegelapan terdengar tuara dayung membelah air, Tian Pek kuatir Cing-hu-sin Kim Kiu kabur, cepat dia berseru: ' Perkataanku sudah cukup jelas, Kongsun-cianpwe tentunya bersedia untuk cuci tangan di dalam persoalan ini bukan?" Tiat pi-to liong mengunjuk wajah serta salah, ia menjadi ragu2.

Sementara itu Tian Pek dapat menangkap suara dayung yang kian menjauh, tapi cahaya lampu yang menyorot terang itu membuatnya silau sehingga sukar melihat keadaan sana, segera ia membentak keras: "Bangsat tua Kim Kiu, jangan coba kabur. "

Dengan cepat dia menubruk ke tepi sungai.

Tiat-pi-to-liong adalah jago yang mengutamakan setia kawan serta kebenaran, tentu saja iapun tabu siapa Pek lek- kiam Tian In-thian, sejak anak muda itu menyebutkan asal- usulnya, ia sudab mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari persoalan ini. Tapi dia bekerja dan terima upah, dia harus tahu kewajiban, maka ia menjadi ragu, melihat Tian Pek hendak bertindak pula, cepat ia berseru: "Nanti dulu, saudara cilik, dengar dulu perkataanku"

Berbareng itu cepat ia mencengkeram ke arah Tian Pek. Tian Pek mengira Tiat-pi-to-liong sengaja me-

nyerangnya, sedang musuh tampak akan kabur, tanpa pikir ia lantas menghantam.

Tiat-pi-to-liong tidak menduga Tian Pek akan melancarkan serangan balasan, iapun tak menyangka anak muda itu memiliki gerakan tubub secepat itu, sedikit meleng jari tangan Tian Pek tahu2 sudah mengancam Kwan-goan- hiat sikunya.

Kwan-goan-hiat adalah Hiat-to penting, kalau kena tertutuk, lengan itu akan lumpuh dan tak bisa digunakan lagi, ia jadi terkejut bercampur gusar.

Dia terkejut lantaran usia Tian Pek begitu muda ternyata memiliki ilmu silat sehliay itu, dia marah karena maksud baiknya malahan dibalas pemuda itu dengan serangan mematikan.

Sebagai seorang jago tua yang tinggi hati, tentu saja ia marah diperlakukan macam begitu, dia anggap lawan menghinanya, karena gusar dan mendongkolnya, mendadak ia balas menghantam punggung Tian Pek.

Serangan yang dibalas dengan serangan ini merupakan pertarungan adu jiwa, bila Tian Pek tidak segera membatalkan ancamannya, sekalipun dia berhasil merusak lengan kanan Tiat-pi-to-liong, akan tetapi punggungnya juga akan termakan oleh pukulan maut musuh dan jiwanya pasti akan melayang.

Tian Pek tahu bahaya ancaman maut itu, ia tidak bermaksud mengadu jiwa dengan kakek bungkuk itu, pada saat terakhir tiba2 ia tarik kembali serangannya, lalu melaysng jauh ke samping.

Tiat-pi-to-liong semakin gusar, teriaknya dengan marah: "Saudara cilik, begini pongah sikapmu, apakah kau merasa ilmu silatmu teramat tinggi, ingin kucoba beberapa jurus seranganmu!"

Sepuluh jari tangannya lantas dipentang lebar2, secepat kilat ia menubruk maju pula.

Tian Pek terkesiap, dia tak berani menyambut serangan itu dengan keras lawan keras, segera ia melayang ke samping untuk menghindar.

Belum sempat Tian Pek berdiri tegak, desingan angin tajam menyambar pula dari belakang, ia tahu ada orang menyergap, ia tak sempat berpaling, cepat ia menangkis ke belakaug, "blang!" benturan keras terjadi, begitu dahsyatnya hingga lengan Tian Pek terasa kaku kesemutan, darah bergolak, ia tergentak mundur tiga langkah. "Kuat sekali tenaga pukulan orang ini, entah jago lihay darimana?" pikir Tian Pek.

Segera ia mengamati musuhnya, kiranya orang ini adalah Tiat ih-hui-peng, orang tua ini berdiri tegak di depanuya sambil melotot gusar.

Rupanya tatkala melancarkan sergapan dari udara pertama kali tadi, Tiat-ih-hui-peng hanya menggunakan enam bagian tenaga saktinya dan dia mcnderita kerugian, maka dalam sergapan yang kedua ini ia sertakan segenap kekuatannya.

Tian Pek sendiri karena harus menyambut pukulan itu dengan ter-gesa2, tentu saja hawa saktinya tak mampu digunakan sampai pada puncaknya, tidak heran kalau ia kalah kuat dalam adu tenaga ini.

Sementara Tian Pek terktjut, suara bentakan Tiat-pi-to- liong telah menggelegar lagi dari belakang, menyusul segulung angin pukulan mengancam tiba.

Gusar Tian Pek karena harus menghadapi sergapan maut dua jago ternama, ia tidak gentar, malahan semangat tempurnya semakin berkobar, menyaksikan datangnya ancaman itu dia tidak menghindar ataupun berkelit, dengan ilmu Hong-lui pat-kiam ajaran Sin-lu-tiat-tan, ia menggunakan telapak tangannya sebagai pengganti pedang, dia bacok musuh dengan jurus Sim-hong-ci-lui.

"Bluk!" pukulan maut Tian Pek bersarang telak di punggung musuhnya yang bungkuk

Kiranya Tiat-pi-to-liong telah dibikin gusar oleh Tian Pek, setelah serangan dengan jurus Ciong-liong-si-jiau (naga sakti unjuk cakar) berhasil di-hindari lawan, sebagai orang yang pemberang, kegusarannya makin memuncak, ketika dilihatnya pemuda itu sedang menyambut pukulan rekannya Tiat-ih-hui-peng, dengan keras lawan keras,  segera ia pun menghantam punggung Tian Pek dengan jurus Ciang-liong-tham-hay (naga selulup ke laut).

Maksudnya hendak mencengkeram punggung musuh, apa mau dikata gerakan Tian Pek terlampau cepat, bukan dia yang berhasil, bacokan lawan yang malahan bersarang di punggungnya yang bungkuk.

Sebagaimana julukannya, Tiat-pi to liong (naga bungkuk berpunggung baja) memiliki kekebalan pada punggungnya itu, dengan demikian sekalipun bacokan Tian Pek berhasil dengan telak tapi sama sekali ia tak terluka, malahan Tian Pek sendiri yang merasakan telapak tangannya jadi sakit.

Walaupun demikian Tiat pi-to liong sendiri pun terpental oleh tenaga pukulan itu, setelah sempoyongan beberapa puluh langkah dia baru berhasil mengembalikan keseimbangan badannya.

Dapat dibayangkan betapa gusarnya Tiat-pi to liong karena berulang kecundang, semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah ia menderita kekalahan sehebat ini, dalam gusarnya cepat ia menerkam ke depan pula, kakinya secepat kilat menendang lambung Tian Pek dengan jurus Liong-jut-jim tam (naga sakti muncul dari telaga).

Malahan telapak tangan kirinya segera pula hendak mencukil kedua mata pemuda itu dengan gerakan Siang liong-ciang-cu (sepasang naga berebut mutiara), satu gerakan dengan tiga serangan yang berbeda, benar2 ancaman yang mengerikan.

Tian Pek menghadapinya dengan tenang, ia keluarkan ilmu langkah Kiu-kiu-kui-goan untuk menghadapi musuh, gerakanoya seperti maju tapi tidak maju, mundur bukan mundur, namun serangan gencar musuh jangan harap akan menyentuh tubuhnya.

Ilmu langkah inipun ajaran oleh Sin-lu-tiat-tan khusus untuk mengalahkan Ni-gong-hoan-ing, ilmu khas andalan Sin-kau Tiat Leng dan ternyata kepandaian ini juga bermanfaat dipakai untuk menghindari tiga serangan berantai dari Tiat pi-to-liong barusan.

Setelah Tian Pek unjuk kepandaian tangguhnya, baru semua jago terkejut, semua orang heran dan terbelalak.

Tian Pek sendiri sama sekali tidak menggubris keheranan lawannya, dengan enteng bagaikan awan bergeirak diangkasa ia maju tiga langkah ke kiri, mundur tiga langkah ke kanan, tiap tiga langkah kali tiga langkah ia segera berputar kembali ke tempat semula, ternyata tubuhnya selalu berkisar di tempat semula, sekalipnn begitu semua serangan gencar yang dilancarkan musuh berhasil dihindar dengan manis.

Sekarang semua orang baru terbelalak dan melongo siapa yang tak heran melihat ketangguhan seorang pemuda macam Tian Pek?

Melihat temannya sudah sekian lama tak berdaya terhadap anak muda itu, segera Tiat-ih-hui-peng pentang sayap dan ikut terjun di tengah gelanggang.

Sstelah sepasang pengawal baja turun tangan bersama baru terlihat kekuatan mereka yang ampuh dan serangan mereka makin berbahaya, satu dari udara dan yang lain dari daratan, pukulan demi pukulan dilancarkan dengan gencar dan dahsyat.

Dalam keadaan begini Tian Pek terpaksa memberikan perlawanan dengan lebih gigih, kakinya bergerak dengan ilmu langkah Kiu-kiu-kui-goan, sementara tangannya memainkan jurus2 serangan Hong-lui-pat-kiam, meskipun tanpa menggunakan pedang, namun setiap bacokan telapak tangannya segera mematahkan setiap serangan musuh.

Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun keadaan tetap seimbang, siapapun tak berhasil mendesak mundur musuhnya.

Tian Pek pernah menyaksikan kerja sama dari kedua pengawal baja ini ketika mereka menghadapi barisan bambu hijau kaum pengemis di bukit "dua belas gua karang", sekarang setelah mengalami sendiri kerubutan tersebut baru ia mengakui betapa hebatnya kerja sama mereka ini.

Tiat-ih-hui-peng andalkan sayap bajanya selalu menerjang dan menubruk dari udara dengan pukulan beratnya, sementara Tiat-pi-to-liong yang berada d1 daratan melepaskan pukulan dan cakar mautnya dengan kekuatan mengerikan ditambah pula ilmu punggung bajanya yang tahan pukulan, terkadang Tian Pek tak mampu menghindarkan diri dan terpaksa harus melayani serangan keras lawan keras.

Dalam waktu singkat Tian Pek sudah terlibat dalam suatu pertempuran yang harus memeras tenaga, berbicara soal tenaga dalam. walaupun harus menghadapi kerubutan kedua pengawal baja, sekuatnya ia masih mampu bertahan sehingga tak sampai kalah, akan tetapi berhubung pakaian yang dikenakan hanya sobekan kain selimut yang dibalutkan, setelah tersampuk angin pukulan musuh kain selimut itu jadi terlepas dari ikatan hingga gerak geriknya jadi kurang leluasa, ia kuatir kain penutup tubuhnya terlepas hingga badannya jadi telanjang, hal ini bisa membuatnya runyam. Ia bermaksud kabur saja, apa mau dikata kalau selimut itu se-akan2 membelenggu kakinya, sergapan Tiat-ih-hui- peng dari atas juga selalu mengintai.

Lama2 Tian Pek jadi gelisah bercampur panik terpaksa dia harus menggigit bibir dan meneruskan perlawanannya dengan gigih.

Beberapa gebrakan kemudian, kain selimut pembalut tubuhnya sudah makin kendur, malahan separuh di antaranya telah merosot hingga di bawah perut, badan bagian atas jadi bugil, ini membuat gerak-geriknya semakin tidak leluasa tampaknya sebentar lagi ia bakal kalah ....

Pada saat yang gawat inilah tiba2 terdengar bentakan nyaring, sesosok bayangan manusia dengan disertai kilatan cahaya tajam membelah udara menyusup ke tengah gelanggang.

Tiat-ih hui-peng berpekik nyaring, bagaikan layang2 yang putus benangnya, tahu2 tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh di tempat lima-enam tombak jauhnya.

Setelah merangkak bangun Tiat-ih-hui-peng melihat sebelah baju ajaib yang menjadi sayapnya itu telah patah satu.

Pucat wajah orang tua itu, rasa kaget menghiasi mukanya, jelas ia merasa ngeri dan takut sebab sayap andalannya berhasil dipatahkan pendatang yang tak dikenal ini.

Waktu ia mengamati, seorang manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah dengan pedang terhunus berdiri angker di tengah gelanggang.

Bagi Tian Pek tentu saja kemunculan manusia aneh ini tidak mengherankan, berbeda dengan kawanan jago dari istana Kim, mereka sama terkesiap. Tiat-pi-to-liong melihat rekannya kehilangan sebelah sayap, dalam kejutnya ia jadi gusar, sambil membentak, segera ia menghantam manusia aneh itu.

Tenaga dalam Tiat-pi-to liong memarg lihay, ditambah pula serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan gusar, makin dahsyat hawa pukulan yang terpancar.

Seperti gulungan ombak samudera, angin pukulan itu langsung menerjang dada manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu.

Manusia aneh itu mendengus, dengan suatu gerakan enteng dia mengayunkan pula telapak tangannya untuk menangkis. "Blang!" Tiat-pi-to-liong tergetar sejauh lima langkah ke belakang.

Jago bungkuk itu melotot, ia tak menduga musuhnya akan begini tangguh, mukanya merah padam dan cambangnya pada berdiri kaku bagaikan duri landak, dia tambah murka. Setelah tertegun sejenak tiba2 ia membentak, seperti roda kereta, mendadak ia menyeruduk manusia aneh bermuka hijau itu dengan punggung bajanya yang keras.

“Kau cari mampus!" hardik manusia aneh bermuka hijau itu sambil tertawa. Baru habis ucapannya, Pedang Hijau di genggamannya tiba2 menusuk ke depan dan "Crasss", dengan telak pedang menikam punggung Tiat pi-to liong itu.

Jago bungkuk itu menjerit kesakitan, jeritan keras bagaikan longlong srigala di tengah malam buta, ia sempoyongan sejauh beberapa kaki sebelum berhasil berdiri tegak, darah segar bagaikan pancuran segera menyembur keluar dari punggungnya yang terluka itu.  Ilmu kebal Bang-yu-ceng-gi (hawa sakti kerbau dungu) yang dimiliki Tiat-pi-to-liong bukan saja membuat badannnya kebal senjata, terutama sekali punggungnya amat keras melebihi baja, siapa tahu hanya sekali tusuk semua kekebalan yang dimilikinya telah punah dengan begitu saja.

Jeritan melengking Tiat-pi-to-liong amat menyayatkac hati, seluruh kulit tubuhnya berkerut tanda rasa sakit yang tak terhingga, setelah ilmu kebalnya punah, maka peredaran darah dalam tubuhnya bergolak, penderitaannya jauh lebih mengerikan daripada orang biasa.

Para jago istana keluarga Kim sama ngeri dan jeri oleh peristiwa itu, kedua tokoh utama yang paling mereka andalkan kini dikalahkan secara mengerikan oleh seorang manusia aneh apa lagi yang mereka harapkan?

Dengan suatu gerakan secepat kilat. mendadak manusia aneh bermuka hijau itu meluncur ke depan, Pedang Hijaunya berkelebat kian kemari dengan cepatnya, darah segar berhamburan di sana-sini, beberapa orang ysng menjerit tadi seketika terkutung kepalanya dan mampus seketika.

"Hm, inilah contohnya bagi mereka yang berjiwa pengecut dan suka menjerit seperti setan!" seru manusia aneh bermuka hijau setelah membinasakan beberapa orang.

Jago istana keluarga Kim yang masih tertinggal di situ benar2 mati kutunya, mereka benar2 pecah nyalinya sampai bersuarapun tidnk berani, mata mereka terbelalak dan mulut melongo lebar, dengan muka pucat seperti mayat mereka berdiri seperti patung.

Alis Tian Pek berkerut, ia merasa tak tega menyaksikan pembantaian tersebut, ia tahu di balik topeng setan itu adalah seorang dara cantik bak bidadari dari kahyangan, namuu kekejamannya ternyata di luar dugaan.

Tian Pek segera kenali juga Pedang Hijau di-tangan si nona tak lain adalah Bu-cing-pek-kiam milik  sendiri, dengan langkah lebar ia lantas mendekatinya dan berseru: "Serahkan pedang pusaka itu kepadaku!"

"Eh, kenapa hatimu jadi lembek?" kata manusia aneh bermuka hijau itu seraya berpaling, "masa kau lupa cara bagaimana mereka mengerubuti dirimu barusan ini?”

Berbicara sampai di sini, mendadak ia membungkam dan tak melanjutkan.

Untung ia mengenakan topeng, kalau tidak niscaya Tian Pek dapat menyaksikan betapa merah wajah anak dara itu saking malunya.

Kiranya kain selimut yang menutupi tubuh Tian Pek telah merosot sampai pangkal paha sehingga bagian badannya yang harus dirahasiakan mulai meng-intip2.

Tapi anak muda itu masih belum berasa, ia malahan berseru: "Peduli amat, pokoknya aku tak ingin bertemu dengan kau, apalagi kau memakai pedangku untuk membantai orang, cepat serahkan pedang itu kepadaku!"

Manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu mendadak tertawa cekikikan seraya melengos ke arah lain, serunya: "Hai, lihatlah potongan-mu, lekas betulkan pakaianmu ...”

Tian Pek lantas menunduk kepala, ketika mengetahui keadaannya yang hampir2 polos, seketika mukanya merah panas, buru2 ia tarik naik kain

penutup badannya dan mengikatnya lagi. Sementara Tian Pek membereskan pakaiannya, beberapa jago istana keluarga Kim yang bernyali kecil diam2 hendak mengeluyur pergi.

Namun gerak-gerik mereka tak terlepas dari ketajaman mata manusia aneh bermuka hijau, baru saja mereka hendak kabur. segera ia meleset ke sana, di mana Pedang Hijau berkelebat, kepala bergelindingan pula di tanah dan darah segar bermuncratan.

Tian Pek tak tega, ia berseru: "Hai, kembalikan pedang itu kepadaku, jangan lakukan pembunuhan lagi, kalau tidak, terpaksa aku tidak sungkan2 lagi padamu!"

Kali ini manusia muka setan tidak membangkang, dia kembalikan pedang itu kepada Tian Pek sambil mengomel: "Namanya pedang tak berperasaan (Bu-ceng), hanya kugunakan untuk mencabut nyawa beberapa ekor tikus saja kenapa mesti ber-kaok2?”

Dengan mendongkol Tian Pek menerima pedang dan berkata: "Kenapa kau omong begitu, mereka kan orang tak berdosa."

"Huh, kan demi membela kau, maka kubunuh mereka," kata si nona.

Tanpa terasa nada ucapannya memperdengarkan nada seorang gadis, tapi lantaran mukanya memakai topeng sehingga kedengarannya menjadi janggal, hal ini menimbulkan perasaan heran dan sangsi dalam hati kawanan jago silat termasuk pula kedua pengawal baja yang terluka, mereka memandang wajah manusia aneh itu dengan melenggong.

"Aneh sekali!" pikir mereka, "manusia aneh ini jelas bermuka seram seperti iblis, kenapa suaranya seperti suara gadis. Sementara itu Tian Pek telah melangkah ke tepi sungai dengan pedang terhunus, tapi setibanya di pantai, yang tertampak hanya beberapa buah perahu kosong. sedangkan perahu yang ditumpangi Cing-hu sin Kim Kiu entah sudah kemana kabur-nya.

Peti2 tadi juga tidak tampak pula, rupanva di kala Tian Pek bertempur melawan kedua pengawal baja, Cing hu-sin Kim Kiu telah mengangkut peti2 itu dan kabur, sementara orang2 yang ditinggalkan itu dijadikan tumbal bagi keselamatannya.

Termangu Tian Pek memandangi air sungai, diam2 mansia aneh bermuka setan meadekatinya dan menegur: "Hei, apa yang kau cari?"

"Musuh besarku telah kabur, aku ingin menyeberangi sungai ini!"

"Kalau begitu, mengapa tidak naik ke atas perahu?" Tapi, aku tak bisa mendayung perahu!" kata Tian Pek.

"Kau tak bisa, aku bisa, tanggung kuantar sampai ke seberang!" seru manusia aneh itu sambil tertawa.

Apa yang dipikirkan Tian Pek sekarang adalah bagaimana caranya memburu jejak musuh, demi  mecdengar ucapan itu, tanpa pikir ia terus melompat ke atas perahu.

Selama hidup Tian Pek belum pernah naik perahu,  ketika melompat ke atas sampan yang sempit dan kecil itu, ia kehilangan imbangan badan karena berdiri terlalu ke samping, sampan oleng, buru2 ia menahan keseimbangan tubuhnya dengan kaki menolak tepi sampan. Apa mau dikata injakan tersebut kelewst keras, sampan tersebut segera oleng ke samping lain lagi dan membuat tubuh anak muda itu hampir saja terlempar ke dalam sungai.

"Aduh " Tian Pek menjerit kuatir.

Untung pada saat yang gawat itu tangannya ditangkap orang, habis itu sampan itu terus meluncur ke tengah sungai deagan cepat. Kembali Tian Pek kehilangan keseimbangan badan dan jatuh telentang, untung seorang lantas mendekapnya,

Orang yang menahan tubuh Tian Pek jelas ada gadis bertopeng itu, ia sangat menguasai kendaraan air karena sejak kecil dibesarkan di sebuah pulau, bermain perahu baginya selincah orang daratan menunggang kuda. Segera iapun melompat ke atas perahu setelah menolak perahu ke tengah sungai.

Karena itu, ketika Tian Pek jatuh ke belakang, segera ia merangkul tubuhnya, karena iapun tidak ber-jaga2 sebelumnya, keduanya lantas roboh bersama.

Mereka berbaring telentang, Tian Pek berada di atas dan gadis muka setan berada di bawah, untung perahu itu tak sampai terbalik akibat kejadian itu.

Sesaat kemudian mereka sama meronta bangun, tapi karena sempitnya ruang perahu untuk sementara waktu mereka sulit untuk berdiri.

Akhirnya Tian Pek membalik badan dan merangkak bangun sedang gadis muka setan melepaskan topengnya dan ikut bangun, serta merta kedua orang itu beradu pandang.

Di bawah cahaya rembulan, gadis itu bukan berwajah setan lagi, tapi tampak cantik mempesona, timbul perasaan aneh dalam benak Tian Pek. ia merasakan tubuh si gadis yang halus, empuk dan harum ... tangannya jadi lemas dan badan yang sudah setengah terangkat jatuh kembali menindihi tubuh gadis itu.

Sebenarnya gadis ini bukan Kui-bin kiau-wa (gadis cantik muka setan) yang tersohor akan kecabulannya, Kui bin- kiau-wa adalah seorang yang lain, tapi orang lain salah sangka padanya.

Gadis ini ibarat bunga yang baru mekar, dia adalah seorang gadis yang polos, karena tubuhnya ditindih seorang pemuda ganteng, kontan iapun merasa sekujur badan jadi lemas, suatu perasaan aneh segera menyelimuti perasaannya, belum pernah ia temui pengalaman semacam ini sepanjang hidupnya, jantungnya berdebar keras, tenaganya jadi lenyap, dengan napas terengah dia pejamkan matanya rapat2.

Untuk beberapa waktu lamanya, kedua orang sama2 diam saja. dibuai oleh perasaan yang aneh itu, perahu terhanyut seadiri terbawa oleh arus.

Sementara itu kawanan jago istana Kim dan kedua pengawal baja yang berada didaratan hanya berdiri termangu dengan rasa keheranan, melihat sampan yang memuat kedua orang itu lenyap di tengah sangai.

Bulan masih bulat meskipun malam itu tanggal tujuh belas, sinarnya tidak secerah malam tanggal lima belas, sampan itu bergerak mengikuti arus sungai, terombang- ambing tanpa tujuan memuat sepasang muda-mudi yang sedang mabuk oleh perasaan aneh

Malam amat sepi, udara dingin, tiada terdengar suara lain kecuali debaran jantung kedua muda-mudi yang saling tindih itu. Di teagah kcheningan itu, tiba2 si gadis menggeliatkan tubuhnya, entah karena merasa sakit lantaran tertindih seorang laki2 kekar ataukah karena lengannya yang kesemutan.

Tian Pek tersentak sadar, ia ingin merangkak bangun, tapi mendadak kedua tangan gadis itu mulai meraba punggungnya dengan perlahan.

Bagaikan kena aliran listrik, sekujur badan pemuda itu gemetar, ia merasa rabaaan gadis itu se-olah2 disertai aliran listrik yang menimbulkan hawa panas darah bergolak keras.

Waktu ia membuka mata, ia lihat gadis yang ditindihnya itu berada beberapa senti di depan matanya dengan bibirnya hampir menempel bibir, mata yang jeli setengah terpejam, mulut yang mungil setengah terbuka, dengus napas yang memburu mencerminkan sesuatu kehendak,  rangkulan pada Tian Pek tambah erat dan tiada berhenti merabanya.

Tian Pek memang tidak berpakaian, dengan sendirinya sentuhan langsung itu sangat merangsang dengan sendirinya pula pemuda itu balas memeluk gadis itu, diciumnya bibir yang mungil dengan ber-napsu, makin dicium semakin kalap.

Betapapun nona itu tidak tahan reaksi Tian Pek yang gila ini, napasnya terengah dan tiada hentinya merintih, bagaikan ular tubuhnya menggeliat ke sana kemari .

Tiba2 awan hitam menutupi rembulan yang menerangi jagat, pantulan sinar di permukaan air juga lenyap, suasana jadi gelap, sampan itupun berubah sesosok bayangan hitam yang samar2, tak jelas lagi pemandangan di atas perahu itu, sayup2 cuma terdengar suara air sungai yang beriak di bawah.

xxxx Fajar telah mulai menyingsing, sinar keemasan mulai mengintip di ufuk timur.

Sampan kecil yang terombang-ambing tanpa tujuan itu akhirnya terhanyut ke tepian dan "duuk", sampan menumbuk pantai pasir.

Guncangrm keras itu mengejutk<n dua orarg yarg lelap dimabuk cinta itu hingga mereka melompat bangun dengan gugup, pertama mereka saling pandsng sekejap, terbayang kembali apa yang mereka lakukan semalam, tak kuasa lagi merahlah muka mereka.

Dengan ter-sipu2 si nona memandang sekejap ke arah Tian Pek yang masih telanjang dan ber-kata: "Coba lihat ..."

Habis itu ia lantas melompat ke pantai, tapi entah mengapa, baru saja bergerak, mendadak nona itu menjerit tertahan, hampir saja ia kecebur ke sungai.

Cepat Tian Pek juga melayang sana dan menyambar tubuhnya, lalu ber-sama2 turun di permukaan tanah.

"Kenapa kau?" tanya Tian Pek dengan penuh perhatian. "Masa sejauh ini saja kau tak mampu menyeberanginya?"

"Hm, gara-garamu, semalam kau . . . . " tiba2 muka si nona jadi merah, dan mengerling genit.

Meskipun Tian Pek tidak paham apa yang di maksudkan, tapi ia dapat menangkap pandangan yang mesra, hatinya terasa manis dan hangat.

"Tidak mcngapa bukan ....?" ia bertanya pula dengan likat.

"Walaupun tidak akan mengganggu, akan tetapi latihanku menjadi berantakan, aku tak dapat mencapai tingkat kekebalan yang paling tinggi,"jawab si nona. "Akulah yang membikin susah padamu. Ai, tidak sepantasnya semalam aku "

"Ah, bukan salahmu semua!" sela si nona sambil teitawa, "aku sendiri pun bertanggung jawsb, bila aku tidak "

mendadak ia tidak melanjut-kan kata2nya,

"Eh, kenapa tidak kaulanjutkan?" Unye Tian Pek.

Gadis itu menghela napes. "Ai, ketika aku hendak datang ke Tionggoan sini, ayahku telah melarangnya, beliau bilang imanku kurang teguh dan mudah terjerumus ke jaringan cinta, tapi aku tak percaya, sebab tak seorang laki2pun di dunia ini yang kupandang sebelah mata. Karena itulah aku bersikeras untuk berangkat juga. Tak tersangka ternyata ucapan ayahku memang benar. setelah aku berjumpa dengan kau . . , "

"Setelah berjumpa dengan aku, kau lantas tak sanggup menguasai diri, begitu maksudmu?" sambung Tian Pek sambil tertawa.

Merah wajah gadis cantik itu, dia angkat tinju seraya mengomel: "Kau berani menterlawakan aku, kupukul kau!"

"Mana berani kutertawai dirimu," cepat Tian Pek berseru, "O, ya, tadi kau bilang ayahmu, siapakah ayahmu itu? Bukankah kau ini si tengkorak cantik gadis bermuka setan? Masa Tengkorak cantik gadis bermuka setan masih punya ayah?"

"Dari siapa kau tahu aku ini Tengkorak cantik gadis bermuka setan?" seru nona itu dengan heran-

"Siapa lagi selain pemuda berbaju putih itu? Terus terang, aku memang tidak percaya dengan perkataannya. Tengkorak cantik gadis bermuka setan adalah gembong iblis yang tersobor semenjak puluhan tahun berselang, masa usianya masih semuda kau?" 'Perkataannya memang tak keliru, akulah Tengkorak cantik gadis bermuka setanl" tiba2 gadis itu menyahut sambil tertawa misterius.

Tertegun Tian Pek mendengar perkataan ini, ditatapnya dara cantik itu dengan ter-mangu2, lalu serunya pula. "Jadi kau benar2 Tengkorak cantik bermuka setan?"

"Kenapa?" kata si nona sambil tertawa cekikikan, "kau jadi takut?"

Tian Pek temenung sejenak, kemudian menjawab: "Bila sebelum kajadian semalam, mungkin aku takut, tapi setelah hubungan semalam aku tak takut lagi. Bahkan kutahu kau cuma bergurau dengan aku, kau pasti bukanlah Tengkorak cantik gadis bermuka setan!"

"Seandainya aku betul adalah tengkorak cantik gadis bermuka setan?" nona itu menegas sambil menatap Tian Pek tajam2, "apakah kau tak mencintai aku lagi? Semua janji setia yang kau ucapkan semalam tak kan kau penuhi lagi?"

"Meski aku tidak percaya dengan perkataanmu, tapi andaikata kau benar2 adalah Tengkorak cantik gadis bermuka setan, aku tetap cinta padamu, sumpah setia yang telah kuucapkan semalam, sampai kiamat pun tak akan berubah!"

Betapa terharunya gadis itu setelah mendengar jawaban tersebut, ia putar badan sambil menjatuhkan diri ke dalam pelukan Tian Pek, diciumnya anak muda itu dengan mesra dan berseru: “sayang, engkau sangat baik"

Tiba2 gadis itu berseru tertahan, ia mendorong tubuh pemuda itu dan berkata lagi: "Coba lihat! Bicara terus tiada hentinya sampai lupa dengan keadaanmu. Hayo cepat berpakaian, kalau dilihat orang kan berabe” Tian Pek baru ingat kalau ia tak berpakaian, buru2 kain kumalnya diikat kencang2 pula, masih untung, tempat itu sepi dan jauh dari penduduk,

bila tidak, bagaimana orang akan tercengang menyaksikan seorang gadis cantik berada dalam pelukan seorang pemuda telanjang di dalam perahu.

"Wah, kita mesti cari baju yang baik!" serunya.

Gadis itu tertawa. Tian Pek lantas berkata lagi: "Berbicara dari kemarin sampai sekarang, belum juga kau katakan namamu dan juga nama ayahmu."

"Meskipun ayahku berdiam di luar lautan, tapi bila kusebutkan namanya, pasti kau tahu. Aku sendiri bernama Cui-cui."

"Nonaku yang baik, janganlah jual mahal, cepat katakanlah siapa gerangan ayahmu?'

"Gi-san-cu (kipas sakti perak) Liu Tiong-ho!"

"Lo jit (ke tujuh) dari Kanglam-jit-hiap dahulu?!" seru Tian Pek dengan kaget

"Benar!" gadis itu mengangguk.

Kontan perasaan Tian Pek jadi kalut dan sakit bagaikan di iris2 dengan pisau, sambil menengadah jeritnya dengan sedih: "O, Thian, mengapa selalu kubertemu dengan anak musuh-besarku? Wan-ji, Buyung Hong, Hoan Soh-ing, Kim Cay-hong semuanya adalah puteri musuh besarku, kini aku bertemu pula dengan kau, Liu Cui-cui! O, Cui-cui, semalam aku tak tahu kau she Liu, kenapa tidak kau katakan sejak mula?"

Teriakan Tian Pek mirip orang yang sudah sinting, tapi Liu Cui-cui. gsdis bertopeng setan itu masih tetap tenang saja. Tatkala kekalapan Tian Pek mereda dengan kalem ia menjawab: "Aku jauh lebih jelas mengenai peristiwa di masa lampau itu, ketahuilah, orang yang membunuh ayahmu hanyalah lima orang saja, ayahku sama sekali tidak ambil bagian, bahkan oleh karena ayahku tidak turut serta dalam peristiwa itu, beliau didesak sehingga tak sanggup tancap kaki di daratan Tionggoan, akhirnya ia membawa ibu dan aku menyingkir ke sebuah pulau terpencil di lautan!"

Sebenarnya Tian Pek tidak percaya, tapi dari sikap si nona yang ber-sunggub2 dan sama sekali tidak kelihatan berbohong, akhirnya dia bertanya lagi: 'Kalau begitu, tentunya kau tahu siapa diriku ini?"

"Kenapa aku tidak tahu? Engkau adalah Tian Pek, putera Tian In-thian, paman Tian, kekasihku pada saat ini dan suamiku di masa mendatang! Kau si tolol kecil ini, kaukira kesucianku sama sekali tak berharga sehingga boleh kuberikan kepada orang lain? Kalau aku tidak mengetahui asal usulmu, memangnya aku rela menyerabkau ke-per . . . keperawananku kepadamu?"

Sebagai gadis yang dtbesarkan di suatu pulau terpencil di luar lautan, Liu Cui-cui tak kenal adat istiadat yang kolot, ia sudah biasa hidup bebas dan suka terus terang, tapi ketika mengucapkan beberapa kata terakhir tadi tidak urung mukanya menjadi merah. 

"Aneh benar, sejak bertemu dengan kau, kecuali nama, rasanya aku tak pernah menceritakan asal-usulku kepadamu, darimana kau tahu semua ini dengan begitu jelas?" Tiba2 Cui-cui tertawa: "Coba tebak, siapakah yang telah melepaskan kawanan jago persilatan yang terjebak di dalam Sek-ki-tay-tin di gedung keluarga Kim?"

"Masa engkau?" tanya Tian Pek dengan terkejut.

Liu Cui-cui mengangguk: "Bukan saja aku yang melepaskan orang2 itu, seperti juga engkau, maksud kedatanganku ke daratan Tionggoan inipun hendak  mencari perkara dengan mereka berempat untuk membalas sakit hati orang tuaku!"

"Apakah ayahmu yang berada jauh di luar lautan juga dicelakai oleh mereka?" tanya Tian Pek terperanjat.

"Ai, tampaknya kau belum tahu jelas tentarg duduknya persoalan di masa lalu," kata Cui-cui sambil menghela napas, "menurut keterangan ayahku, dahulu ayahmu dan ayahku ditambah empat keluarga besar lain serta Hoan Hui adalah saudara angkat yang tergabung dalam Kanglam-jit- hiap "

"Soal itu aku sudah tahu!" kata Tian Pek.

"Kalau sudah tahu, sudahlah, aku takkan bercerita pula."

Tian Pek jadi gelisah, cepat katanya: "Aku cuma tahu sedikit saja, kejadian selanjutnya boleh dibilang tidak jelas, silakan kaulanjutkan ceritamu!"

"Kalau ingin tahu, janganlah memotong pembicaraanku!" omel Cui-cui, lalu ia mcmandang sekeliiing tempat itu, kemudian mcnunjuk ke suatu pohon yang rindang di tepi pantai dia berseru lagi: "Tempat itu nyaman dan juga bisa memandang sang surya akan terbit, hayo kita duduk di sana saja!" Maki berjalanlah kedua orang itu menuju ke sana dan duduk bersanding di bawah pohon yang rindang sambil ber- cakap2.

Kiranya dalam peristiwa yang dulu itu, setelah Pek-lek kiam Tian In-thian berhasil meminjam "mutiara penolak air", dia tidak terjun sendirian ke dasar telaga Tong ting-oh untuk mencari harta, melainkan ditemani oleh Gin-san cu Liu Tiong-ho, setelah berhasil masuk ke dalam gua dan menemukan harta karun yang jumlahnya terlalu banyak, terpaksa kedua orang itu mendarat lagi untuk merundingkan cara pengambilan harta tadi dengan kelima saudara yang lain.

Dalam perundingan Tian In-thian tetap bersikeras akan menggunakan harta karun itu guna menolong rakyat yang tertimpa bencana alam di sekitar Ouwlam dan Kwitang, Liu Tiong-ho sendiripun mendukung usul tersebut, tapi lima orang lainnya tidak setuju.

Sebagai pimpinan persaudaraan Tian In-thian tersohor karena ketegasannya, wataknya juga lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, ia tak peduli terhadap maksud kelima orang rekannya dan tetap melaksanakan apa yang telah direncanakan.

Kelima orang saudaranya tak berani membangkang, terpaksa mereka pura2 menyetujui, padahal secara diam2 mereka telah menyusun rencana untuk mencelakai Toako mereka.

Setelah semua harta kekayaan itu diangkat ke daratan, ternyata isinya bukan saja terdiri intan permata dan mutu manikam yang tak ternilai, terdapat pula tiga macam benda pusaka yang tiada taranya, yakni Pi-sui-giok-pik (batu kemala penolak air), pil Toa-lo-kim-wan serta kitab pusaka Bu-sia-cin-keng. Ketiga macam benda pusaka itu merupakan barang yang diincar oleh setiap umat persilatan, terdapatnya benda itu semakin mempertebal sifat tamak kelima bersaudara yang lain itu.

Maka pada saat Tian In thian bersiap untuk melakukan pencarian yang kedua kalinya ke dasar telaga, tiba2 kelima orang itu menyergap secara licik, begitu Cing-hu-sin berhasil melukai korbannya dengan senjata rahasia yang diandalkan, empat bersaudara lainnya segera melakukan serangan kilat, tak terhindar lagi matilah seorang pendekar besar di tangan saudara-angkatnya sendiri secara keji.

Waktu kelirna orang itu berhasil membinasakan Tian In- thian, kebetulan Gin-san-cu Liu Tiong-ho mendapat tugas di dasar telaga sehingga ia sama sekali tidak mengetahui terjadinya peristiwa tersebut-

Di kala Liu Tiong ho menyelesaikan tugasnya dan muncui kembali ke daratan, Tian In-thian telah terluka parah dan menemui ajalnya di tepi telaga itu.

Baru Liu Cui-cui bercerita sampai di sini, Tian Pek tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu, dengan air mata bercucuran ia berkata: "Ayahku tidak mati seketika, dengan membawa luka yang parah beliau sempat pulang ke rumah untuk berjumpa dengan ibu dan aku, setelah meninggalkan pesannva baru mengembuskan napas yang penghabisan!"

"Tentang soal ini, mungkin ayah sendiripun tak tahu," Cui-cui menerangkan, "ayahku cuma bilang bahwa akhirnya ia kehilangan jenazah ayahmu, malahan ayahku mengira jenazah ayahmu telah dikebumikan oleh kawan2 persilatan. sungguh tak nyana paman ternyata berhasil mencapai rumah dan bertemu dengan ibumu dan kau." "Ada suatu soal yang belum kupahami sampai sekarang, sesaat sebelum mcnemui ajalnya ayahku sempat menyerahkan Bu-ceng-pek-kiam untuk dipakai membalas dendam serta sebuah bungkusan lagi "

Sambil berkata dia hendak merogoh saku, tapi jelas tiada sesuatu yang dapat ditemukan lagi.

Sebaliknya dengan tertawa Cui-cui lantas mengeluarkan sesuatu dan bertanya: "Bukankah kau mencari keenam macam benda ini?

Setelah gadis itu mengeluarkan keenam macam benda yang dicari, Tian Pek baru tahu kalau semua barang miliknya telah diambil si nona tapi sekarang ia tak perlu panik lagi karena antara mereka berdua sudah tiada perbedaan milikmu dan milikku lagi.

"Betul, kecusli mata uang tembaga yang telah kuketahui sebagai Cing-hu-kim-ci-pau milik Kim Kiu, lima benda yang lain belum kuketahui asal-usulnya!"

"Kalau kau tak tahu, akan kuterangkan padamu!" sambil menuding sebuah benda di antaranya si nona melanjutkan: "Kain ini adalah robekan pakaian yang dikenakan Ti-seng- jiu Buyung Ham!"

"Soal inipuu aku tahu!" kata Tian Pek.

"Mutiara baja ini adalah senjata rahasia Pak-ong-pian Hoan Hui yang disebut Tan-ci-gin-wan (peluru psrak sentilan jari). Sedangkan kancing tembaga ini adalah kancing bajunya Kun-goan-ci Su-gong Cing, sementara tali serat ini milik Kian-kun ciang In Tiong-liong, malahan pernah digunakan untuk membelenggu tubuhku, sedangkan segumpal rambut ini tak lain adalah rambut kepalaku " Kejut Tian Pek mendengar keterangan terakhir ini, pada saat itulah mendadak terasa segulung angin tajam menyambar batok kepaia mereka, keruan mereka terkejut.

Tian Pek bermaksud menghindar, tapi Liu Cui-cui tanpa berpaling telah menggerakkan tangannya ke belakang, tahu2 sepotong sapu tangan sudah terjepit oleh jarinya.

Diam2 Tian Pek terkejut, ia heran jago darimanakah yang memiliki tenaga dalam selihay itu, sehingga selembar sapu tangan yang enteng bisa di gunakan sebagai senjata rehasia.

Dari angin tajam yang menyertai sambaran sapu tangan itu dapat diketahui ilmu silat yang dimiliki si penyergap pasti tinggi luar biasa.

Dengan terkejut cepat dia berpaling, tertampaklah Tian Wan-ji dengan wajah pucat dan sorot mata sedih berdiri di atas tanggul di tepi sungai dan sedang memandang ke arahnya dengan terkesima.

Sungguh di luar dugaan pertemuan ini, Tian Pek sendiripun merasa tercengang.

"He kau!" serumya tertahan. "Wan-ji, ada urusan apa kaudatang ke sini?"

Bibir Wan-ji terkatup kencang dan menahan gejolak emosi, mimik wajahnya jadi sangat aneh tertawa bukan tertawa, menangis tidak menangis, ketika mendapat pertanyaan tersebut, pandangannya semakin muram dan sedih.

"Bukit dan sungai toh bukan wilayah kekuasanmu, kalian boleh datang kemari, kenapa aku tidak boleh? Apakah kedatanganku telah mengganggu kesenangan kalian?" Jelas nadanya mengandung rasa cemburu, syukur Wan-ji masih dapat menguasai diri sehingga tak sampai mengutarakan kata2 yang tak sedap didengar.

Merah wajah Tian Pek, sahutnya tergagap. "Bu..bukankah kau terluka ketika berada di taman

keluarga Kim? Kenapa sekarang kau berada di sini ?"

Tian Pek adalah pemuda yang polos, tentu saja ia tak menduga bahwa pertanyaannya justeru malah menusuk perasaan si nona.

Mata Wan-ji lantas merah dan hampir menangis. ia berseru: "Aku terluka atau tidak peduli apa dengan kau?

Sekalipun aku mati juga kau tak perlu mengurusnya! "

Tiba2 ucapannya terputus dan wajahnya mengunjuk rasa heran sambil memandang ke belakang Tian Pek.

Tian Pek juga berpaling ke belakang, tampaklah Liu Cui- cui dengan topeng setannya sedang melangkah maju.

Hampir tak percaya Wan-ji pada matanya sendiri, dari bayangan punggungnya jelas terlihat Tian Pek sedang duduk di tepi sungai bersama seorang gadis, mengapa setelah berpaling berubah menjdi makhluk aneh yang bermuka buruk seperti setan.

Sementara itu Liu Cui-cui telah melayang maju sambil menegur: "Siapa dia ini?"

Liu Cui-cui bertopeng setan, gerak-geriknya jadi menyeramkan, suarapun ketus, dingin dan garang.

Tian Pek menatap wajah Liu Cui-cui yang jelek itu, ia merasa penyaruan gadis tersebut sedikitpun tak ada  celanya, bahkan orang akan mengira aslinya dia memang berwajah sejelek itu. Terbayang kembali kejadian mesra malam berselang, diam2 ia membatin: "Wah, kalau dia benar2 berwajah sejelek setan, aku jadi ragu apakah sanggup bermain cinta dengan dia?"

Sementara Tian Pek sedang melamun, Liu Cui-cui yang bertopeng setan itu tahu2 melayang tiba dan "cring", Pedang Hijau Bu-ceng-pek-kiam telah dicabutnya dari punggung anak muda itu.

Tian Pek terperanjat, ia jadi teringat pada keganasan Liu Cui-cui yang telah membunuh orang bagaikan membabat rumput kemarin.

Terbayang kejadian itu, dia kuatir kalau Wan-ji dilukainya, cepat serunya: "Mari, kuperkenalkan kalian, ini adalah nona Wan dan yang ini adalah. "

Belum habis ucapannya Liu Cui-cui telah menggetarkan bu-ceng-pek-kiam, dengan nada ketus ia bertanya: "Ah, kiranya kalian telah saling kenal! Hayo jawab, apa hubunganmu dengan dia?"

Tian Pek tak menyangka rasa cemburu Liu Cui-cui sedemikian besarnya, dia ingin menegur, tapi terasa sungkan, sebab bagaimanapun hubungannya

dengan nona itu sekarang telah meningkat menjadi hubungan yang luar biasa, namun iapun tak ingin Wan-ji terluka olehnya, maka cepat ia berkata: "0.. dia adalah adikku..”

"Aku tidak tanya padamu, jangan ikut bicara!" bentak Cui-cui. Lalu ia berkata pula kepada Wan-ji "He, tak perlu kau melongo seperti orang dungu, hayo mengakulah terus terang! Kalau tidak, jangan menyesal kalau aku bertindak tidak sungkan lagi padamu!" Wan js bukan gadis yang bodoh, pertama kali bertemu dengan Cui-cui yang bermuka jelek, ia masih mengira telah salah lihat. Akan tetapi setelah orang bersuara, meski nadanya di-bikin2, namun ia lantis menduga kejelekan wajah orang kemungkinan adalah hasil penyamaran, lalu iapun mendengar nada cemburu dibalik teguran lawan serta sikap kikuk Tian Pek, dengan segera duduknya perkara dapat dipahaminya.

Maka sambil mendengus Wan-ji balik menegur: "Apa hubunganmu dengan engkoh Tian? Berani benar kau bersikap galak padaku?"

"Aku adalah isterinya, kau? "

"Hehe, belum pernah kudengar engkoh Tian telah kawin, darimana muncul seorang bini macam kau, dan lagi hehehe…"

"Dan lagi apa?" bentak Cui-cui sambil menggetarkan Pedang Hijau.

"Dan lagi mengapa kau tidak bercermin dulu?" jengek Wan-ji sambil mencibir. "Kalau tak punya cermin, pergilah ke tepi sungai dan pandanglah dulu tampangmu, pantaskah menjadi bini engkoh Tian. .."

Bstapa gusar Cui-cui sukar dilukiskan pedang bergerak, secepat kilat ia menusuk ke dada Wan-ji.

Tinggi sekali ilmu silat Cui-cui, serangan itu dilancarkan dengan cepat luar biasa, di mana cahaya hijau berkelebat, hampir saja tak dapat diikuti dengan pandangan mata, tahu2 ujung senjata telah berada di depan dada Wan-ji.

Namun Wan-ji juga tidak lemah, dengan gerak langkah Ni-gong-hoai-ing yang telah mencapai puncak kesempurnaan, dia menggeser badannya ke-samping untuk berkelit, menyusul mana telapak tangannya segera didorong ke muka dengan satu pukulan dahsyat.

"Eeh eeh jangan berkelahi. .” teriak Tian Pek dengan

gelisah.

Ta menerobos maju dan berdiri di antara kedua gadis yang sedang bertarung maksudnya hendak mengalangi mereka agar tak bisa melanjutkan pertempurannya.

Apa mau dikata, ketika Tian Pek menerjang masuk ke dalam gelangang, kebetulan Wan-ji sedang melepaskan pukulan dahsyatnya, maka tak bisa di cegah lagi gulungan angin pukulan yang amat dahsyat itu langsung tertuju ke badan Tian Pek.

Mau berkelit tak sempat lagi, dalam keadaan terjepit mau-tak-mau Tian Pek harus menghimpun  tenaganya untuk menangkis pukulan itu.

"Blang!" dua gulung tenaga pukulan saling beradu, baik Wan-ji maupun Tian Pek sama2 tergetar mundur satu langkah.

Wan ji mengira Tian Pek sengaja membantu manusia aneh bermuka hijau itu, saking khekinya air matanya berlinang "Sebetulnya kau bantu siapa ..?" teriaknya dengan marah dan pucat wajahnya.

Tian Pek belum sempat menjawab dan Cui-cui telah membentak, tusukan kedua dilontarkan.

Tian Pek berpaling begitu mendengar desingan angin tajam dari belakang, dilihatnya Bu-ceng-pek-kiam disertai kilatan cahaya hijau menyambar ke depan.

Cepat ia menerjang maju seraya membentak: "Tahan!"

Karena Liu Cui-cui kelihatan tidak mau berhenti, dalam gugupnya dengan jurus Cia kwan-tiam goan ia meraih pergelangan tangan kanan Liu Cui-cui, maksud pemuda itu Bu-ceng-pek-kiam akan dirampas agar kedua nona itu tidak melanjutkan pertarungannya.

Dengan ilmu silat Liu Cui-cui, cukup dia berganti jurus dan niscaya lengan kanan Tian Pek akan dipapasnya, tapi nona itu tak ingin mencelakai anak muda itu, ia merasa jalan pedangnya teralang oleh tubuh Tian pek, terpaksa pedang tadi ditarik kembali kemudian menggeser ke samping.

Dipihak lain, Wan-ji pun gelisah bercampur gusar, ilmu Soh hun-ci yang maha sakti segera di-mainkan, dari jauh mendadak ia menutuk Sim-gi-hiat di tubuh Liu Cui-cui.

Cepat Tian Pek mengalangi pula serangan tersebut. Bagaimanapun gusarnya Wan ji iapun kuatir serangannya melukai Tian Pek, terpaksa ia tarik kembuli serangannya.

Begitulah, Tian Pek terpaksa harus berputar ke kiri dan mengadang ke kanan, mencegat ke depan dan membendung ke belakang, berulang kali ia berseru minta kedua nona itu menghentikan pertarungannya, tapi ia tak berhasil.

Untungnya baik Wan-ji maupun Liu Cui-cui sama2 tak ingin melukai Tien Pek, maka betapa kejinya serangan mereka, setiap kali diadang Tian Pek, buru2 serangan lantas ditarik kembali.

Jurus serangan yang digunakan kedua nona itu sama ganasnya, akan tetapi pertarungan itu sendiri tidak sengit, kendatipun demikian, Tian Pek jadi kerepotan, sebentar dia harus mengalangi Wan-ji sebentar lagi dia barus mengadang Lm Cu -cm, dalam sekcjap kedua nooa itu sudah saling bergebrak puluhan jurus.

Karena mesti bergerak cepat, lama2 robekan kain selimut yang menutupi tubuh Tian Pek mula mengendur lagi, ketika mendadak ia harus melompat ke sana, tahu2 tali pengikat putus dan kain penutup terlepas, keruan keadaannya yang "mulus" lantas terpampang di depan kedua nona.

Bagi Cui-cui yang sudah pernah tahu kemulusan tubuh pemuda itu tentu tak menjadi soal, apalagi ia memakai topeng. Sebaliknya Wan-ji masih suci murni, tentu saja wajahnya berubah menjadi merah.

Dalam keadaan begini, ia tak pikir lagi akan bertempur pula, ia melirik sekejap ke arah Tian Pek, lalu lari ter-birit2.

Melihat itu, Liu Cui-cui tertawa cekikik geli: "Hihihi kenapa kau kabur? Boleh kabur asalkan tinggalkan batok kepalamu di sini!" Sambil berkata ia lantas mengejar ke sana.

Tian Pek sendiripun malu sekali ketika pembalut tubuh terlepas hingga telanjang bulat, cepat dia menarik kembali kain rombengan itu dan mengikatnya lagi sambil memaki dirinya sendiri yang lagi sial.

Ketika ia selesai membetulkan, gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.

Tian Pek kuatir bila kedua nona itu bertempur kembali hingga terjadi korban, cepat dia mengejar ke sana, tapi sayang gerakan tubuh kedua nona itu terlalu cepat, sudah melewati dua lereng bukit dia tetap kehilangan jejak kedua nona itu.

Dengan gelisah Tian Pek melanjutkan pengejarannya ke depan, setelah melintasi sebuah bukit lagi akhirnya tibalah di depan sebuah lembah yang sempit.

Lembah tersebut diapit oleh dua dinding tebing yang curam, dipandang ke dalam selat sana tampaklah macam2 orang berkerumun, jumlahnya ratusan, mereka membentuk satu lingkaian, sayup2 terdengar deru angin pukulan dan gemerlap cahaya senjata bertebaran di kalangan, jelas di situ sedang terjadi pertarungan sengit.

Di antara jago2 yang berkumpul di sana, ia lihat Wan-ji serta Cui-cui juga berdesakan di antara rombongan jago silat itu, yang aneh ternyata mereka tidak saling labrak lagi, melainkan sedang mengikuti jalannya pertempuran di dalam gelanggang.

Heran Tian Pek, iapun memburu ke sana, apa yang kemudian dilihatnya membuat pemuda itu tertegun.

Kawanan jago yang berkumpul di situ kebanyakan adalah jago lihay dari keempat keluarga besar, malahan sebagian di antara mereka adalah orang2 yang pernah tcrjebak di dalam Sek-ki-tay-tin di gedung keluarga Kim beberapa hari yang lalu.

Tian Pek sudah tahu mereka terlepas ditolong oleh Cui- cui, yang aneh adalah semua orang memandang jalannya pertarungan di tengah gelanggang dengan terbelalak dan terkesima, terhadap musuh yang berada disekitarnya boleh dibilang sama sekali tak ambil peduli.

Ketika Tian Pek tiba di tempat itu, tak seorang-pun yang berpaling, mereka tetap mengikuti pertarungan di tengah kalangan dengan terkesima, se~akan2 pertarungan yang sedang berlangsung itu mempunyai daya tarik yang luar biasa besarnya.

Tian Pek ikut melongok ke tengah gelanggang, ia lihat enam orang sedang melangsungkan pertarungan dalam tiga partai.

Belasan sosok mayat sudah terkapar disekitarnya, mungkin mayat tersebut adalah korban yang terbunuh sebelumnya. Di antara para jago yang mengikuti jalannya pertarungan, banyak di antara mereka juga sudah terluka. ada yang kehilangan lengan, kehilangan kaki, darah segar membasahi sekujur tubuh mereka, tapi mereka tak ada yang berlalu dari situ, malahan setelah membalut lukanya terus menonton jalannya pertarungan dari samping gelanggang

Sekilas pandang Tian Pek kenal para korban yang mati dan teiluka itu kebanyakan adalah kawanan jago dari keempat keluarga besar, hal in1 membuat hatinya terkejut.

"Aneh, mengapa begitu banyak jago lihay yang jatuh korban? Jagoan darimanakah yang berilmu sehebat ini?" demikian pikirnya.

Ketika ia berpaling pula ke tengah kalangan, keenam orang itu masih bertempur dengun sengit. Tiga di antaranya berwajah asing baginya, belum pernah Tian Pek berjumpa dengan mereka, tapi dandanan mereka jelas bukan penduduk daratan Tionggoan.

Mereka terdiri dari seorang kakek berjenggot putih panjang sebatas perut, seorang perempuan tua bermuka jelek, wajah penuh keriput serta seorang paderi setengah baya berbadan pendek gemuk, berwajah seperti anak muda.

Sedangkan tiga orang yang berhadapan dengan mereka adalah Mo-in-sin-jiu Siang Cong-thian, Hiat-ciang hwe- liong (naga api telapakan darah) Yau Peng gun serta seorang jago lain yang belum pernah dijumpai Tian Pek. tapi pernah dengar namanya, yakni Tok-kiam leng coa (pedang racun ular sakti) Ji Hoau-lam.

Ketiganya dari perkampungan In-bong-san-ceng, merupakan jago andalan An-lok Kongcu. Ini menandakan pula kalau pertarungan yang berlangsung ditujukan untuk menghadapi anak buah An-lok Kongcu. Tian Pek segera alihkan pandangannya ke arah lain, ia lihat baik An-lok Kongcu maupun ayahnya Kian-kun-ciang In Tiong liong, hadir semua di situ, wajah mereka tampak tegang dan menatap ke tengah gelanggang tanpa berkedip, kalah-menangnya pertarungan ini menyangkut kehormatan mereka sepenuhnya.

Ketenangan yang biasanya selalu menghiasi wajah An- lok Kongcu kini lenyap tak berbekas, buku kumalnya dipegang kencang2, sementara butiran keringat sebesar kacang mengucur keluar tiada hentinya.

Di pihak lain berdirilah pemuda baju putih yang pernah dilihat Tian Pek di kelenteng bobrok itu, meskipun di musim dingin ia tetap menggoyangkan kipasoya, senyum bangga menghiasi wajahnya, ia kelihatan gembira sekali.

Tentu saja Tian Pek tak tahu apa sebabnya pemuda itu berseri, tapi ia tahu pastilah kebanggaannya itu berhubungan dengan pertarungan yang sedang berlangsung di tengah gelanggang.

Baik kakek berjenggot panjang maupun nenek berkeriput serta Hwesio berwajah kebocahan, semuanya telah menguasai gelanggang dan kemenangan jelas akan diraih oleh mereka.

Mc—in-sin jiu Siang Cong-thian bertempur sengit melawan si kakek berjenggot panjang, Hiat ciang-hwe-liong Yau Peng-gun bertarung melawan nenek keriputan, sedangkan Tok-kiam leng-coa bertempur melawan paderi setengah baya.

Di antara tiga partai yang bertarung ini ke adaan Mo-in- sin jiu Siang Cong-thian terhitung paling gawat, dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau ilmu silat si kakek berjenggot panjang itu betul2 lihay tidak kepalang Sebagaimana diketahui, Mo-in-sin-jiu Siang Cong-thian berilmu silat tinggi, baik keras maupun lembek dan kegesitan, semua dikuasainya dengan sempurna, bukan saja ia menempati kursi utama di perkampungan In-bong-san- ceng, di dunia persilatan pun iapun merupakan tokoh sakti yang maha lihay.

Rupanya jago ini sadar kalau musuh yang sedang dihadapinya terlalu kuat, bukan saja ilmu sakti Mo-in-sin- jiu yang membuatnya tersohor dimainkan dengan berbagai gerakan, menebas, menyodok dan memukul, bahkan telapak tangan lain juga memainkan golok Ci-kim-tian- kong-to, golok Ci-kim-tian-kong to ini tajam luar biasa, dengan sendirinya seperti harimau tumbuh sayap.

Sekalipun angin pukulan menderu dan cahaya golok berhamburan memenuhi angkasa, namun musuh memang jauh lebih tangguh, dengan telapak tangan kosong kakek berjenggot itu dapat mematahkan setiap serangan Siang Cong thian, malahan bagaimanapun dia terjang ke kiri maupun ke kanan tetap tak terlepas dari lingkaran pukulan si kakek.

Lama2 Siang Cong-thian makin keteter, napasnya jadi ter-sengal2 dan mandi keringat, jelas dia mulai kepayahan.

Sebaliknya si kakek berjenggot tetap tenang seperti bertempur seenaknya, baik bergerak ke kiri maupun bergerak ke kanan, semuanya dilakukan dengan enteng, walaupun begitu, Mo-in-sin-jiu sudah kewalahan dan terancam bahaya.

Di pihak lain, Hiat-cianghwe-liong Yau Peng gun yang bertempur melawan nenek keriputpun tidak lebih unggul.

Tian Pek pernah terluka di tangan Hiat-ciang-hwe-liong, sudah tentu ia tahu betapa hebatnya pukulan Ang-se-hiat- heng-ciang orang, tapi kini berhadapan dengan nenek keriput itu, bukan saja pukulan pasir merah berbisa itu tidak berfungsi lagi malahan serangan gencar yang dilancarkan dengan Sian-jin-ciang, senjata aneh yang jarang digunakan itupun tidak banyak memberi harapan baginya.

Sebaliknya Tok-kiam-leng-coa Ji Hoe-lam bersenjata pedang beracun Wi-tok-lam-kiam serta Tiat sian-leng-coa, dengan susah payah dapat memaksa paderi setengah baya itu untuk bertarung sama kuat, untuk sesaat sukar ditentukan siapa bakal menang dan siapa bakal kalah.

Di pihak jago pimpinan An-lok Kongcu sudah ada dua diantaranya yang jelas akan kalah, tidaklah heran bila rekan2nya merasa tegang.

Tian Pek merasa heran, biasanya jago2 ke-empat keluarga besar tak pernah berteman. Bukankah mereka selalu bermusuhan ibarat api dan air? Kenapa saait ini semna jago menguatirkan peitarungan itu?

Wan-ji dan Cui-cui yang kejar mengejar, sekarang juga melupakan pertikaian di antara mereka, malahan ber-sama2 mengikuti jalannya pertarungan tersebut, mungkinkah pertarungan yang sedang berlangsung ini mempunyai arti yang sangat penting?

Sementara Tian Pek masih termenurg, tiba2 terdengar nenek berkeriput itu berseru: “Tua bangka yang tak mampus, kalau kau sudah di atas angin, kenapa tidak cepat kau singkirkan bocah keparat itu? Coba lihatlah, di sekitar gelanggang masih hadir begitu banyak orang yang ingin mampus, lebih baik cepatlah selesaikan pertarungan ini agar bisa disusul dengan babak selanjutnya!"

"Perempuan bangsat! Jagoan di daratan Tionggoan sini kebanyakan cuma gentong nasi belaka, aku merasa bosan untuk bertempur lebih jauh!" jawab si kakek berjenggot panjang. Walaupun dia bicara dengan seenaknya, tapi kenyataan serangan yang dilancarkan makin dahsyat dan mematikan.

"Anak muka hitam!" ejeknya lagi, "bila kau mampus nanti, jangan kau dendam padaku, kalau ingin mengadu kepada Giam-lo-ong, lebih tepat kalau kau menuduh nenek busuk itu sebab dia yang suruh aku membinasakan kau!"

Sejak punya nama di dunia persilatan, Mo-in-sin jiu Siang Cong thian selalu disanjung dan di-hormati, belum pernah ia dihina oleh musuh seperti apa yang dialami sekarang.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya jago tua itu, meskipun dia tahu bahwa ilmu silatnya masih bukan tandingan musuh, namun matanya jadi melotot marah.

Mendadak ia membentak keras, golok Ci-kim-tian kong- to di tangan kanan berkilat melepaskan sebuah bacokan dengan jurus Long-cian liu-sah (pantai terkikis oleh gulungan ombak), sementara tangan kiri menghantam dengan jurus Loan sek-peng in (awan berguguran batu berserakan), satu gerakan dengan dua serangan.

Kakek berjenggot panjang itu tersenyum. telapak tangannya segera didorong ke depan. "Duuk!" Mo-in-sin-jiu yang ampuh tiba2 menjerit seperti babi dijagal, tubuhnya mancelat dua-tiga tombak jauhnya.

Entah bagaimana caranya, tahu2 golok Ci-kim-tian- kong-to menembus perutnya sendiri, darah segar berhamburan memenuhi permukaan tanah, dengan wajah pucat dia terkapar di tanah tanpa berkutik, sudah jelas jiwanya lebih banyak amblas daripada selamatnya.

Semua orang tadi terperanjat, belum pernah mereka dengar ataupun melihat, senjata yang jelas2 menyerang musuh, tahu2 malah menembus perut sendiri. "Perempuan bangsat!" terdengar kakek berjenggot tadi berseru sambil tertawa, "mangsaku telah kubereskan, sekarang ingin kulihat bagaimana dengan hasilmu!"

"Hehehe, tidak sampai tiga gebrakan, akan kukirim juga mangsaku ini ke akhirat" sahut nenek keriput itu sambil tertawa ter-kekeh2.

Hiat-ciang-hwe-liong sudah tersohor dengan wataknya yang berangasan, bisa dibayangkan betapa gusarnya mendengar cemoohan tersebut, teriaknya dengan gusar:

"Bangsat, jangan takabur dulu! Aku akan mengadu jiwa dengan kau!” Sambil membeatak telapak tangan kirinya di- gosok2 di depan dada, kemudian serentak ditolak ke depan, cahaya merah seketika membias pada telapak tangannya itu.

Ter-kekeh2 si nenek keriput itu, ejeknya malah: "Bocah bermuka merah, tak ada gunaoya kau gosok telapak tanganmu sampai keluar darahnya, nenek masih sanggup kirim kau pulang ke rumah nenekmu ”

Belum habis ucapannya, Hiat-ciang-hwe-liong telah membentak, dengan sepenuh tenaga dia menghantam dengan pukulan pasir merah.

Hawa panas menyengat segera membelah angkasa dan membanjir ke depan.

Nenek berkeriput itu mendengus, kedua telapak tangannya berputar dan juga menyodok ke depan, segulung kabut tebal disertai hawa dingin merasuk tulang segera menapak gulungan hawa panas itu.

Begitu kedua kekuatan bertemu, Hiat-ciang-hwe-liong menggigil dan bersin, mukanya yang merah berubah pucat seperti mayat. Semua orang ikut terperanjat, tak seorangpun yang tahu ilmu pukulan aneh apakah yang digunakan nenek itu sehingga tanpa menimbulkan sedikit suarapun pukulan pasir merah Ang-se-hiat-heng-ciang lawan berhasil dihancurkan.

Hiat-ciang-hwe-liong sendiripun terkesiap, dia sadar ilmu yang dilatihnya dengan susah payah selama enam puluhan tahun kini sudah musnah, betapa sedih hatinya air mata lantas bercucuran.

Tapi sesaat kemudian, dengan mengertak gigi se- konyong2 ia angkat senjata Sian-jin-ciang dengan tangan kanan yang gemetar.

Sian-jin-ciang atau daun katus merupakan senjata andalannya selama ini, sebelum terjadi benturan maut tadi, senjata ini masih dapat digunakan olehnya dengan enteng, tapi kini, kendatipun ia mengerahkan segenap kekuatannya senjata tersebut tetap sukar diangkatnva.

Ssdikit demi sedikit Sian-jin-ciang diangkat oleh Hiat- ciang-hwe-liong . . .

Melongo heran kawanan jago yang menonton itu, mereka tak mengerti apa sebabnya jago bermuka merah yang gagah perkasa itu sekarang jadi lemah dan tak bertenaga, malahan muka Hiat-ciang-hwe-liong 1antas berubah jadi pucat, air mata bercucuran dan sekujur badan gemetar keras, disangkanya jago itu kelewat sedihnya sampai meneteskan air mata.

Tersenyum si nenek keriput, katanya dengan menghina: "Bocah muka merah, bagaimana rasanya pukulanku ini? Hahaha, kau harus berterima kasih kepadaku sebab nenekmu telah sulap kau dari muka merah menjadi si muka putih..” "Perempuan  bangsat,  awas sergapan maut "

mendadak si kakek berjenggot panjang itu memperingatkan. Sambil berteriak dia lancarkan pula suatu pukulan.

Tapi serangan tersebut tetap terlambat satu tindak, sebelum pukulan dahsyat itu bersarang di tubuh Hiat-ciang- hwe-liong, senjata Sian-jin-ciang Hiat-ciang-hwe-liong sudah terangkat setinggi dada, begitu ibu jarinya menekan pegas, "cret!" segulung asap berwarna putih segera menyembur ke tubuh nenek berkeriput itu.

Sementara itu pukulan dahsyat si kakek berjenggot pun bersarang di badan Hiat-ciang-hwe-liong dan membuatnya mencelat jauh ke belakang.

Setelah mendapat peringatan dari rekannya, si nenek segera melancarkan pukulan kuat ke arah kabut putih.

"Cess!" cahaya berwarna biru bagaikan hujan tersebar keempat penjuru, kendatipun nenek keriput sudah berusaha menghindar dan membendung dengan angin pukulannya, tak urung ada pula beberapa titik cahaya yaug sempat menciprat pada rambutnya dan membakarnya. 

Betapa hebatnya pancaran cahaya api itu, bukan saja nenek itu menjadi sasaran, malahan kawanan jago persilatan yang nonton juga ada beberapa orang di antaranya terkena letikan api sehingga baju terbakar.

Jerit kaget berkumandang di sana sini, suasana jadi kalut, beberapa orang menjadi korban kebakaran buru2 menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan.

Nenek itu sendiri juga berusaha memadamkan kebakaran yang menimpa rambutnya, walaupun akhirnya api dapat dipadamkan, tak urung rambutnya sudah hampir kelimis terjilat api. Kemarahan nenek itu sukar dikendalikan lagi, ia meraung dan beruntun ia menutuk tiga kali ke tubuh Hiat- ciang-hwe-liong yang terkapar di tanah itu.

"Cret cret cret!" tiga lubang besar menghiasi tubuh Hiat- ciang-hwe-liong yang terluka parah, tanpa ampun isi perut dan darah berhamburan.

"Tlmu apa itu? Sungguh lihay?" pikiran ini melintas di benak setiap orang.

Wan-ji yang berada di samping gelanggang ikut terperanjat. tanpa terasa dia menjerit kaget: "Hah, ilmu jari Soh-hun-ci!"

Di antara sekian banyak jago persilatan yang hadir di sini hanya dia seorang yang kenal ilmu jari si nenek, sebab Sin- kau Tiat Leng mewariskan juga ilmu jari yang sama kepadanya. tentu saja kesempurnaannya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan permainan si nenek ini.

Mendengar seruan tersebut, nenek keriputan berpaling ke arah Wan-ji dan berkata sambil tertawa: "Tak tersangka kau si budak kecil ini mengetahui asal-usul ilmu jariku ... "

Gusar Wan-ji karena dirinya disebut "budak cilik" oleh nenek itu, kontan matanya mendelik.

Tapi sebelum ia sempat mengumbar amarahnya nenek keriput itu telah berpaling ke arah An-lok Kongcu dan berkata: "Bagaimana sekarang? In-bong-san-ceng kalian tentunya sudah menyerah bukan? Hayo lekas serahkan benda pusaka kepadaku!"

Meskipun murung wajahnya, An-lok Kongcu masih sempat tertawa angkuh: "Jangan ter-buru2, masih ada pertarungan babak terakhir." Si nenek lantas berpaling, dilihatnya pertempuran antara paderi gemuk melawan Tok-kiam-leng-coa masih berjalan dengan seimbang, untuk sesaat sulit menentukan menang dan kalah.

Memang tangguh ilmu silat paderi gemuk setengah baya itu, dengan bacokan, babatan, getaran, ketukan serta sodokan, setiap serangan cukup dahsyat, tapi dia jeri pada senjata Tok-kiam-leng coa yang berwujud pedang dan  rantai baja berbisa, oleh sebab itulah untuk sementara keadaan tetap berlangsung seimbang.

Tok-kiam-leng-coa Ji Hoa-lam putar kedua macam senjata beracunnya sedemikian rupa hingga menyerupai kitiran dan terus menyerang tanpa berhenti.

Rantai baja seperti ular hidup dengan gerak melingkar, memagut, melejit, sebentar berputar bagaikan ruyung, sebentar pula bagaikan tombak, semua ancaman tertuju bagian mematikan di tubuh lawan.

Sebalikuya pedang birunya yang beracun diputar menciptakan selapis dinding cahaya berwarna biru, dengan membawa desingan angin menderu dia kurung sekujur badan si hwesio.