Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 22 (Tamat)

Jilid 22 (Tamat)

Ceng Go tentu saja tak tinggal diam, Begitu melihat Gochinta terpental mundul dalam  satu  gebrakan  saja,  segera ia melesat ke gelenggang dan menghantam Sim Pek Eng dengan pukulan yang menerbitkan deru angin dahsyat. 

Thia Sin Houw segera mengenal pukulan yang lihay itu, Diam-diam hatinya cemas. 

Sim Pek Eng tak berani ayal lagi. Cepat-cepat ia mengerahkan ilmu saktinya, Maka begitu keduanya saling bentur, baik Ceng Go maupun Sim Pek Eng terhuyung satu langkah. 

Ceng Go terkejut, suatu hawa yang sangat dingin menembus urat pergelangan dan menusuk sampai ke ketiak, sebaliknya Sim Pek Eng  kena  terserang  hawa  panas, sehingga darahnya bergolak dalam rongga dadanya.  

Ia terperanjat dan menentang lawannya dengan pandang tajam, sekilas pandang, ia melihat betapa pucat wajah  Ceng Go. Biji matanya menjadi  merah. itulah suatu tanda  bahwa lawan itu sedang menderita hebat. Menyaksikan hal itu, diam- diam ia bergirang hati. 

Segera ia mengambil keputusan untuk mendahului menyerang. ia maju selangkah dan menghantam lagi. Tenaga sambarannya bergelombang  memenuhi  empat  penjuru. Dengan demikian, tak dapat Ceng Go mengelak. Mau tak  mau  ia harus membendung gelombang pukulan  itu dengan ilmu saktinya sendiri. 

Disudut lain, Thio Hian Cong sedang  menghadapi keroyokan Gochinta dan anak buahnya yang bernama Muchxnka, Ke duanya bersenjata pedang panjang, karena itu Thio Hian Cong terpaksa pula, melawan mereka dengan pedangnya. Meski dikepung dua orang, dia nampak  tangguh dan dapat berkelahi dengan tabah. 

Dengan rasa cemas, Ku Cie Tat mengikuti pertempuran Ceng Go dengan Sim Pek Eng, sebagai  salah  seorang anggauta Cio-liang pay, Ceng Go memiliki  tenaga  pukulan yang dahsyat luar biasa. Jago itu sudah  terkenal  namanya sejak puluhan tahun yang lalu, Kenapa kali ini ia tak dapat bertahan menghadapi adu tenaga dengan lawannya?  

Napasnya sudah mulai  memburu, keadaannya nampak payah sekali. Cie Tat kenal watak dan perangai keluarga Cio- liang pay. Biasanya tak sudi memperoleh bantuan. Tetapi dia sedang menghadapi kekalahan, apakah akan dibiarkan saja? 

Ku Cie Tat  kemudian  mencabut  pedangnya  dan menyerang Sim Pek Eng, Hebat jurus serangannya.  Begitu pedangnya berkelebat,  Sim Pek Eng terpaksa melompat mundur. Dan Ceng Go dapat bernapas lega, Mereka berdua kemudian mendesak Sim Pek Eng dengan hebatnya. 

Setelah Sim Pek Eng dan Thio Hian Cong turun tangan, sebenarnya Giok Cu ingin segera melarikan  diri,  Tetapi  ia kena dipegat Kiang Yan Bu yang menyerang dengan pedangnya. Dalam mengadu ilmu pedang, Giok Cu  bukan lawan Kiang Yan  Bu?  Dalam keadaan  terdesak, gadis  itu melepaskan pukulan-pukulan aneh yang diperolehnya   dari kitab warisan ayahnya.   Ia mempelajari pukulan pukulan itu apabila sedang beristirahat manakala kurang jelas, ia memperoleh keterangan dari Sin  Houw, walaupun  belum pernah  berlatih dengan sungguh hati, namun pukulan-pukulan ayahnya memang aneh sifatnya dan dahsyat luar biasa.  

Bagaikan kilat ia melepaskan tiga pukulan berantai, itulah pukulan-pukulan yang dicangkok ayahnya dari  sari  ilmu pedang berbagai aliran yang di gabung menjadi satu. 

Kiang Yan Bu terperanjat bukan kepalang,  oleh kaget, hampir-hampir dia tak dapat menangkis. Untung, ia memiliki gerakan yang cepat luar  biasa  dengan  menjejakkan  kakinya, ia melompat mundur. Kemudian melesat maju dari samping sambil menyandarkan pedangnya.  

Ong-ya yang selama itu memperhatikan jalannya pertempuran ikut menarik pedangnya, Melihat Kiang Yan Bu terdesak mundur, ia segera melompat membantu,  Dengan demikian Giok Cu kena dikepung dua lawan! 

Semuanya itu tak lepas dari pengamatan Sin  Houw, segera ia hendak menolong Giok Cu. Akan tetapi tiba-tiba  ia mendengar suara Bhok-siang Tojin yang muncul diatas pagar tembok. sambil mulutnya menggeragoti paha ayam,  orang tua itu berteriak nyaring: 

"Hey! Kau mundur saja, inilah pertempuran antara laki-laki dan laki laki, kau sendiri nanti saja bertempur dengan Sin  Houw!" 

jelas teriak suaranya ditujukan kepada Giok  Cu,  dan  Giok Cu memberikan jawaban: 

"Baik! Manusia ini mengaku jadi murid Hoa-san pay. Tetapi nyatanya ia menjadi  budaknya  bangsa asing, Karena  itu, meskipun aku seorang perempuan, ingin menghajarnya. Kau tolonglah me-wakilkan aku!" 

Pembicaraan mereka itu sudah tentu  tidak lepas dari pendengaran Ong-ya  yang  segera  memerintahkan pasukannya untuk mencegat gerakan maju Bhok-siang Tojin  yang masih bercokol diatas pagar dinding.  

Akan tetapi Bhok-siang Tojin bukan manusia lumrah. Kepandaiannya setaraf dengan Bok Jin Ceng, selagi pasukannya Ong-ya bersiaga dibawah  pagar  dinding,  tiba-tiba ia menimpukkan tulang paha ayamnya. Hebat akibatnya.  

Meskipun hanya tulang paha ayam, akan tetapi disertai tenaga dalam. Dan dengan suara mengaung, tulang itu menyambar kearah Ong-ya! 

Orang Mongolia itu seperti terpaku, tatkala melihat tulang paha ayam mengarah padanya. Tapi karena belum takdirnya mati, seseorang mengulurkan tangan  untuk  menolongnya. itulah Cie Tat. 

Jago muda ini memang memiliki rasa tajam dan kecerdikan yang mengagumkan. Begitu mendengar pembicaraan Giok Cu dan Bhok-siang Tojin, ia sudah dapat menduga.  Meskipun  yang menjadi sasaran adalah sang Ong-ya, akan tetapi dapat bergerak cepat, ia mendorong dengan menggunakan sedikit tenaganya, dan kena tenaga dorongnya, Ong-ya itu terpental mundur kebelakang.  

Dan tepat pada saat itu, tulang  paha  ayam  Bhok-siang Tojin menghantam tempat bekas Ong ya  itu berdiri.  Dan bagaikan kejapan kilat, Bhok-siang Tojin tahu-tahu sudah berada didepan Cie Tat, Betapa cepatnya ia mampu bergerak, sukar dilukiskan lagi. 

Keadaan menjadi kalut, dan kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Giok Cu, Gadis itu lantas saja kabur ke pekarangan, ia dikejar Kiang Yan Bu dan Gochinta. 

Giok Cu sudah hampir mencapai tujuan, tatkala tiba-tiba kakinya kena sambar tiga batang pedang. Hatinya  seakan- akan terbang, dan seluruh tubuhnya menjadi  dingin.  Ia tergencet dari belakang dan dari  depan. Dengan  mati-matian, ia berhasil mengelakkan dua pedang yang menyambar dari depan.  

Tetapi yang dari belakang tepat sekali menghantam  kakinya. untunglah,  pedang yang menghantam kakinya itu bukan bagian yang tajam. itulah gerakan pedang  yang membalik setelah luput dari sasaran. walaupun  demikian karena yang menghantam memiliki himpunan tenaga  dalam kuat luar biasa, ia roboh ditanah.  

Orang yang merobohkan Giok Cu adalah Kiang Yan Bu. Dalam keadaan kalut tak sudi ia melepaskan mangsanya. Melihat Giok Cu hendak kabur, ia melompat mengejar. Tatkala itu Gochinta dan Muchinka menghadang. itulah kesempatan yang bagus sekali. Begitu Giok Cu sibuk menangkis kedua pedang lawannya, ia menikam dari belakang.  sasarannya ternyata dapat dihindari.  

Namun dengan kecepatan kilat, ia menarik pedangnya kembali dan bagian  tumpulnya menghantam kaki Giok Cu. setelah itu maju selangkah dan  membalikkan pedangnya. Karena berniat hendak menangkap gadis itu hidup-hidup, ia menghantarkan hulu pedangnya . 

Pada saat itu tiba-tiba pedang Gochinta berkelebat menangkis gagang pedang Kiang Yan Bu. Dan  berbareng dengan itu, nampaklah sesosok bayangan melesat keluar dari dinding pagar dengan kecepatan yang sukar dilukiskan. 

Kiang Yan Bu berpaling kepada Gochinta, dan membentak dengan suara marah: 

"Mengapa kau membiarkan dia kabur dan  menangkis pedangku?" 

"Menangkis?" Gochinta melotot. 

"Bukankah kau yang memukul balik gagang pedangku? Kenapa...?" 

"Jangan bergurau! Ayo, kejar!" 

Mereka segera memburu keluar.  Di  samping  pintu gerbang, mereka bertemu dengan seorang tentara yang patah kakinya sehingga tak dapat berdiri lagi. segera mereka menghampiri dan berta-nyalah Gochinta:  "Mana dia?" 

"Siapa?" tentara itu terbelalak. 

"Perempuan tadi, yang lari melintasi pagar tembok." "Perempuan yang  mana? Kami tidak melihat seorang 

manusiapun." tentara itu heran. 

Gochinta gusar bukan main, ia membentak: 

"Apa kau buta? Kalau kau tidak bertemu dengan manusia, kenapa kakimu patah? Setan kau! Jelas sekali perempuan itu melintasi pagar tembok. Kenapa matamu tak melihat?" 

Seorang tentara lain datang menghampiri, lalu membangunkan rekannya. 

"Tay-ya, yang melompat melintasi pagar tembok adalah temanku ini, Aku ikut jadi saksinya, bahwa tiada seorang  lain yang lari keluar tangsi ini " kata tentara yang baru datang. 

"Kenapa kau melompati pagar?" Gochinta menanya lagi, berobah sabar. 

Dengan gugup dan menahan rasa sakit, tentara itu menjawab: 

"Aku ... aku ... kena ditangkap dan dilemparkan keluar." 

"Siapa yang melemparkan?" 

"Entah, Tadi Tay-ya membicarakan, tentang perempuan. Kalau dia yang lari keluar, maka dia pula yang telah melemparkan diriku sehingga kakiku patah." 

Tak dapat Gochinta mengumbar rasa marahnya. Dia menghadapi suatu kenyataan  Tentara itu patah  sebelah kakinya, pasti bukan akibat dipatahkan dengan tangannya sendiri. Teringat  akan teguran Kiang Yan Bu, ia  menoleh kepada jago muda itu dan bertanya minta keterangan: 

"Mengapa kau tadi memukul pedangku? Apa maksudmu? jangan kau coba mempermainkan kami!" 

Kiang Yan Bu meluap darahnya. Namun karena merasa  diri berada dibawah perintah, ia menahan  darahnya yang bergolak, jawabnya: 

"Sebenarnya bukan aku yang memukul pedangmu. Tapi justru kaulah yang menangkis pedangku ketika aku hendak memukul kepala perempuan itu." 

"Omong kosong!" bentak  Gochinta.  "Apa  perlu  aku memukul gagang pedangmu...?" sejak tadi Gochinta berkesan kurang baik terhadap Kiang Yan Bu. Kalau saja Cie Tat  tadi tidak mencegahnya, ujung  pedangnya sudah  menikam perutnya jago muda dari Hoa-san pay itu.  

Oleh karena itu, ia menyudahi perkataannya dengan membabatkan pedangnya dengan  sungguh-sungguh.  Kiang Yan Bu segera menangkis tanpa segan-segan lagi, Begitu kedua pedang itu saling  bentur, mereka berdua mundur selangkah.  

Kiang Yan Bu terkejut, tangannya tergetar  dan  panas. Sama sekali tak diduganya bahwa orang Mongolia itu,mempunyai himpunan tenaga dalam yang kuat,  Bahkan lebih unggul dari tenaganya sendiri. sebaliknya Gochinta tak kurang pula rasa terkejutnya. Lengannya mendadak terasa pegal, pikirnya didalam hati: 

"Pantaslah Cie Tat mengharapkan tenaga bantuannya, Dia memiliki tenaga yang luar biasa hebatnya." Setelah berpikir demikian, ia membentak kalap: 

"Kau berani melawanku? sebenarnya  kau  hendak membantu kami atau seorang mata-mata?" 

Gochinta hendak mengulangi serangannya. Tiba-tiba sesosok bayangan menangkis pedangnya. Gochinta menoleh. Dan melihat Cie Tat berada di depannya sambil berkata: 

"Gochinta! Sabar dulu!" 

"Ha, Cie Tat! Coba adili peristiwa ini!" teriak Gochinta. Cie Tat mengalihkan pembicaraan. Bertanya: 

"Ke mana larinya perempuan tadi?"   "Ha, justru itulah soalnya." sahut Gochinta, "Dialah yang melepaskan." 

"Aku?" bentak Kiang Yan Bu. "Apa keuntunganku melepaskan dia?" 

Selagi mereka bertengkar, Bhok-siang Tojin, Sim Pek Eng dan Thio Hian Cong sudah tiada  nampak  batang  hidungnya lagi, Melihat Giok Cu terbebas dari kepungan tentara, mereka bertiga jadi berlega hati, sambil tertawa mereka menyerang secara mengamuk dengan sepenuh  tenaga.  Setelah  itu dengan berbareng mereka keluar pagar tembok. Dan sebentar saja tubuh mereka lenyap dari penglihatan. 

YANG MENOLONG Giok Cu dari ancaman bahaya adalah Thio Sin Houw, sejak tadi, pemuda ini memperhatikan pertempuran antara Giok Cu dan para pengepungnya dengan rasa cemas. Menuruti kata hati, ingin ia segera muncul dan melabrak kaki-tanqan kaum penjajah itu, akan tetapi suatu perhitungan lain menusuk benaknya. 

"Cie Lan dan Giok Cu  benar-benar  dalam  bahaya," pikirnya, "Mereka terancam kehormatan dirinya.  Mereka bahkan akan dirusak dahulu kehormatannya, sebelum dibinasakan..." 

Oleh pikiran itu, segera ia melesat turun dan mendorong pedang Gochinta agar memukul  gagang  pedang  Kiang  Yan Bu. Tenaga saktinya pada waktu itu sudah mencapai tingkat yang tinggi luar biasa, sehingga  dapat digunakan  sesuka hatinya. sifatnya halus dan dahsyat.  

Kiang Yan Bu dan Gochinta yang berkepandaian tinggi sampai dapat di kelabuhi tanpa merasa, setelah pedang mereka saling bentur,  masing-masing saling  menuduh  dan menyalahkan. 

Sin Houw tidak sia-siakan kesempatan itu, sebelum para penjaga sadar akan bahaya, cepat luar biasa ia menyambar seorang tentara dan  dilemparkan keluar pagar tembok.  Dia sendiri lantas melesat keluar pintu gerbang dengan menggendong Giok Cu.  Setelah berada  ditengah  perjalanan,  barulah  ia menurunkan dan membiarkan Giok Cu berlari-lari disebelah depannya sampai ke tempat penginapan. 

Sin Houw kemudian  meninggalkan  Giok Cu, karena ia bermaksud menolong Cie Lan yang katanya ditahan di  Sun- hin. 

Perjalanannya mengarah ke barat, tak lama kemudian ia menemukan tanda-tanda jejak sepatu, Niscaya bekas jejak tentara penjajah.  Tatkala tiba di Sun-hin,  fajar  hari telah menyingsing.  

"Pasti Cie Lan berada dalam penjagaan kuat," pikirnya didalam hati, setelah makan pagi, segera ia  mencari  tempat yang disebutkan Cie Tat, Ternyata merupakan sebuah gedung milik seorang hartawan. Mungkin sekali pemiliknya ditangkap atau diancam demikian rupa, sehingga terpaksa menyerahkan kediamannya yang serba mewah. 

Dengan sekali pukul saja, daun pintu gedung itu  terbang dan menimpa dua jambangan  emas  yang  hancur  berderai. Hati Sin Houw pagi itu memang sedang mendidih. ia merasa dipermainkan dan jijik terhadap Kiang Yan Bu yang mengaku telah membunuh gurunya sendiri. 

Walaupun belum pernah berjumpa dengan Jie-suhengnya, akan tetapi sebagai salah seorang adik seperguruannya sudah sewajarnya wajib menuntut balas, Alangkah  keji  murid  hianat itu, Karena itu, ia bertekad hendak mengadu kepandaian serta melampiaskan hawa marahnya, bagaimana akibatnya ia tak memperdulikan lagi. 

Dengan langkah lebar ia berteriak keras-keras: 

"Hei orang-orang jahanam! suruhlah  Cie Tat  dan  Kiang Yan Bu keluar menemui aku!" 

Tiba-tiba belasan orang datang  berlarian  dari  dalam sebuah kamar. Ketika itu hari masih terlalu pagi. Kebanyakan diantara mereka masih menikmati tidurnya. Tahu-tahu mereka terkejut, tatkala mendengar hancurnya pintu dan dua  jambangan ikan, Dengan serentak mereka keluar. Melihat datangnya Sin Houw, segera mereka bersiaga." 

"Siapa kau?" bentak mereka. 

Sin Houw tak sudi membuang waktu lagi, ia mendorongkan tenaga saktinya dan  bagaikan  rumput  kering,  belasan  orang itu terpental membentur dinding dan jendela. Kemudian Sin Houw lompat menghampiri pintu  tengah. Dan begitu pintu tengah itu hancur berderai, nampaklah Cie Tat dan Kiang  Yan Bu sedang makan minum dengan gembira. 

Ku Cie Tat dan Kiang Yan Bu  sebenarnya  mendengar suara ribut di serambi depan.  Mereka  memerintahkan  Ceng Go untuk menyelidiki, tetapi Sin Houw sudah tiba didepan mereka. Dengan sekali sambar, Sin Houw melemparkan Ceng Go yang hendak mencapai pintu tengah ke dalam. 

Cie Tat cepat melompat sambil membentangkan kedua tangannya. Tangkapannya tepat. Meskipun demikian ia terhuyung beberapa langkah. Dan menyaksikan hal itu, tokoh- tokoh Rimba persilatan yang hadir menjadi terkejut, Mereka tahu, Ceng Go bukan orang sembarangan, sedang Cie Tat adalah pemimpin mereka. Namun dalam satu gebrakan saja sudahlah jelas siapa yang lebih unggul diantara mereka. 

Tetapi Sin Houw terkejut juga, ia sudah menggunakan hampir seluruh himpunan tenaga dalamnya. Namun mereka berdua bisa mempertahankan diri tak kurang suatu apa, itulah suatu tanda bahwa kesaktian Cie Tat tidak boleh dipandang ringan, selagi terkejut, Sin Houw girang  pula,  ia  melihat  Cie  Lan dari jauh, duduk disebelah kiri Kiang Yan Bu, sejenak ia tertegun melihat Cie Lan. sebaliknya Cie Lan berseru girang sekali: 

"Sin koko!" 

Dengan serentak, Cie Lan bangkit dari tempat duduknya. Tiba-tiba ia merasakan gemetaran dan roboh di atas kursinya kembali. Tahulah Sin  Houw, bahwa  Cie Lan kena siksa tertentu.  Dengan hati panas ia lompat hendak menolong. Tiba-tiba punggungnya terasa kena  pukulan Kiang  Yan  Bu  dan Gochinta yang dilontarkan dengan berbareng. 

Tetapi Sin Houw tidak menghiraukan. Kesaktiannya cukup kuat menahan pukulan mereka. Tangannya terus menyambar, dan sebentar saja Cie Lan sudah berada dalam pelukannya. Dengan menjejakkan kakinya, ia membawa Cie Lan terbang melintasi meja perjamuan. 

Tentu saja anak buah Cie Tat tidak tinggal diam, Dengan serentak mereka bergerak mengepung. Tetapi Sin Houw tidak sudi memberi kesempatan. Dengan sebelah tangannya menggempur sambil lompat mundur. 

"Cie Lan, apakah kau bisa bergerak?" bisiknya. "Kedua kakiku terasa lumpuh." jawab gadis itu. 

Teringatlah Sin  Houw kepada sepak terjang gadis  itu tatkala dahulu melawan pihak Cio-liang pay. sekarang  ia nampak tak berdaya. Maka tak usah dijelaskan lagi, bahwa ia lumpuh akibat siksa Cie Tat dan kawan-kawannya. 

"Biarlah kakimu kupijat." kata Sin Houw, "Apakah kau sudi kupanggul di-atas pundakku?" 

Belum lagi gadis itu menjawab paras  muka  Sin   Houw terasa panas sendiri . Meskipun bermaksud baik, tetapi sangat tidak sedap dipandang  mata, Apa lagi  dihadapan  orang banyak. Maka ia mengurungkan niatnya. Bisiknya: 

"Sebentar lagi aku akan melompat mundur.  carilah pegangan kuat-kuat agar tidak terlempar. Apakah kedua tanganmu dapat bergerak dengan bebas?" 

"Dapat." sahut gadis itu, 

Lega hati Sin Houw, Tanpa siasia-kan waktu, ia mendorongkan tenaga sak-tinya, Lalu pada saat itu pula, ia berjungkir balik tinggi diudara dan melesat keluar pintu. seperti kelelawar ia terbang melintas. Tatkala anak buahnya Cie Tat memburu dengan berteriak, tubuhnya lenyap dari penglihatan.  Dengan berlari-larian kencang Sin Houw memanggul Cie  Lan, Kira-kira menjelang tengah hari, ia sudah berada di penginapan. Tatkala memasuki kamarnya Giok Cu, gadis itu tiada nampak batang hidungnya. 

Setelah merebahkan Cie Lan diatas  ranjang, Sin Houw menemukan sepucuk surat dari Giok Cu.  Ternyata   isinya hanya coretan yang mirip peta penunjuk. Dibawahnya terdapat suatu keterangan: 

"Telah kuselidiki rumah ini,  Kutemukan  peta  ini,  Aslinya ada padaku. Kalau tetap pada rencana semula - susullah aku, Kalau hatimu berada pada kekasihmu itu, jangan mencoba menemui aku lagi." 

Sin Houw terpaksa tersenyum pahit dan entah apa sebabnya, hatinya tiba tiba terasa sakit dan iba. Pikirnya: 

"Latar belakang penculikan Cie Lan rasanya  tidak  sederhana, Kalau aku jadi  terlibat,  akan  sia-siakan harapannya Giok Cu. Cie Lan memang temanku sejak kanak- kanak. ibunya sangat baik kepadaku, dan akupun berhutang budi. . sebaliknya, Giok Cu adalah puteri  tunggal Gin-coa Long-kun. seumpama tidak mewarisi kepandaian ayahnya, jiwaku sudah lama melayang. Dia kini  menjadi   anak  yatim pula, Akh, tak boleh aku membiarkan dia pergi seorang diri." 

Memperoleh pikiran demikian, per-lahan-lahan ia memasukkan surat Giok Cu kedalam sakunya. Kemudian bergegas ia menjenguk Cie Lan yang masih saja belum dapat bergerak. 

Sin Houw memeriksanya. setelah  bermenung sejenak, berkatalah ia kepada gadis itu: 

"Lan-moay, di kota ini ada sahabatku.  Bagaimana  kalau kau kuserahkan kepadanya?" 

Cie Lan manggut menyetujui. Dan Sin  Houw kemudian membawa gadis itu ke rumah Sim Pek Eng, setelah itu segera ia menyusul kepergiannya Giok Cu. 

 (Oo-dwkz-oO)  DUA HARI dua malam Thio Sin Houw melakukan perjalanan. Dan pada hari ke tiga  sampailah  ia  disebuah telaga yang jernih airnya, segera ia berhenti dan duduk diatas batu yang mencongak ditebingnya. udara kala itu biru jernih - matahari bersinar cerah namun tidak menyakiti tubuh karena tertahan lapisan hawa gunung yang sejuk. 

Sekarang, ia merasa agak lelah maka ia mencari suatu keteduhan dan membaringkan diri diatas rumput yang hijau muda, Tak terasa ia tertidur dan tatkala menyenakkan mata, matahari sudah condong kebarat, sekarang ia  merasa  lapar dan dahaga.  

Dilayangkan pandangnya  mencari sebuah  kedai, Tetapi dusun itu terlalu miskin, sama sekali tiada terdapat seorang penduduk yang berjualan, Bahkan penduduknya seperti bersembunyi didalam rumahnya masing-masing. 

"Aneh," pikir Sin Houw di dalam hati, "Dusun ini seperti berada dalam  keadaan perang. sunyi sepi. Terlalu sunyi, malah." 

Ia berjalan lagi sampai melalui dua petak  sawah,  masih saja ia belum  melihat seorang  penduduk  yang  dapat  di ajaknya berbicara. Leher dan perutnya mulai mengganggu. ia layangkan matanya kekanan dan kekiri, siapa tahu, mungkin diantara rumah penduduk yang terlindung oleh kerindangan pohon pohon terselip sebuah kedai  penjual minuman. Syukurlah setelah  melampaui sepetak  sawah lagi, samar- samar nampaklah sebuah kedai yang berada  ditepi  jalan, Kedai itu berbentuk seperti paseban seorang pegawai istana, Atapnya dari jerami kering dan dindingnya terbuat dari bambu ian setengah papan. Penunggu seorang wanita tua berumur kira-kira tujuh puluh tahun. Dan  melihat  semuanya,  legalah  hati Sin Houw. 

Sin Houw segera singgah.  Di depan halaman terdapat sebuah pasu air, dan ia mencuci mukanya. Dan terdengarlah perempuan tua itu berteriak ke dalam rumah: 

"Kouw-kouw, ada tamuuuu !" Dari dalam rumah muncul  seorang gadis kira-kira berusia tujuh belas tahun. ia datang dengan membawa sebuah nampan berisi air  teh berikut penganan yang seakan-akan sudah disediakan jauh sebelumnya. Dan dengan tersenyum  pendek,  ia meletakkannya didepan meja Sin Houw. 

Sin Houw memperhatikan gadis itu. 

Dia tidak  begitu cantik, akan tetapi serasi dan lembut. Pakaian yang dikenakan dari bahan kasar. Berbaju merah dan rambutnya dikuncir dua. Kulitnya putih halus. jelaslah sudah, bahwa dia bukan keturunan seorang penduduk asli,  Paling  tidak ia berdarah bangsawan. Apalagi gerak-geriknya lembut dan sopan . 

Setelah menyajikan hidangan itu, dia kembali masuk ke dalam, Diam-diam Sin Houw melongokkan matanya. Ternyata gadis itu sedang duduk menyulam sepunting bunga. 

Teringat akan kemungkinan gadis  itu anak keturunan bangsawan, maka Sin  Houw mencoba mengajak berbicara dengan nenek penunggu kedai. Kemudian bertanya: 

"Sebenarnya bagaimana aku  harus  memanggilmu, naynay?" 

Nenek itu tertawa, Menjawab: 

"Aku tidak mempunyai nama, orang-orang kampung menyebutku naynay, Nah, panggil saja aku nenek tua." 

Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah Sin Houw bahwa nenek itu tak  senang  memperkenalkan  namanya. segera ia mengalihkan pembicaraan dan  sama sekali tak menyinggung lagi soal nama. 

Selagi demikian, datanglah ampat  orang  menunggang kuda. Mereka bertubuh kasar. Gerak-geriknya seperti bajingan murahan. Dengan berbareng mereka  lompat  dari  atas kudanya, dan langsung mendekati si nenek. Kata  seorang yang bertubuh kekar: 

"Hey, nenek! Apakah kau kemarin melihat  ada seorang  gadis menunggang kuda lewat disini?" 

Nenek itu memiringkan kepalanya, menyahut: "Kau berkata apa?" 

Orang itu nampak mendongkol. Lalu membentak: 

"Aku bertanya padamu, apakah kau kemarin  melihat seorang gadis menunggang kuda lewat disini?" 

Nenek itu tertawa  geli  sambil  ia  menggelengkan kepalanya. Dan sin Houw terkesiap hatinya. pikirnya : 

"Apakah bukan Giok Cu yang dimaksud ?" 

Memperoleh dugaan demikian, Sin Houw memperhatikan mereka berampat, Melihat dandanannya seperti anak buahnya The Sie Ban, Mengapa mereka mengejar Giok Cu? 

"Bagaimana? Kau lihat tidak?" bentak orang itu. Nenek itu masih saja tertawa, jawabnya : 

"Telingaku memang aneh. Kalau di ajak bicara  perlahan,  bisa mendengar, Tetapi kalau mendengar suara kasar malah buntu." 

Sin Houw tahu, bahwa nenek itu hanya berpura-pura tuli, Maka tahu pula dia, bahwa nenek itu menggenggam suatu rahasia. sebaliknya empat orang itu jadi tidak sabar lagi. Kata yang bertubuh besar: 

"Gadis itu merampok rumah kami" ia membongkar sumur, kemudian minggat. setelah kami periksa sumur itu, belasan batang panah beracun terlontar dari dalam, Dua orang teman kami mati sekaligus . Karena itu kami datang hendak menangkapnya. Taruhkata kau tuli, pasti matamu dapat melihatnya." 

Tetapi nenek itu masih saja tertawa, Dan orang bertubuh kekar itu kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba saja ia maju dan hendak menghantam nenek itu, Menyaksikan  hal   itu,  Sin Houw tidak tinggal diam. ia melompat dan meng-halangkan tangannya, suatu benturan tak dapat dihindarkan lagi, dan  orang itu mundur sempoyongan dengan mata terbelalak. "Siapa kau?" bentaknya. 

"Nenek itu kurang pendengarannya, kenapa kau hendak main pukul?" Sin Houw balas membentak. "Lagi pula bagaimana kalian tahu, bahwa gadis yang kalian cari itu lewat disini?" 

"Gadis itu meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan kemana dia hendak  pergi.  Karena  itu kami mengejarnya." sahut orang bertubuh kekar itu. Tapi karena tadi merasakan kehebatan tenaga Sin  Houw, ia lantas  membalik  tubuh. Dengan suatu isyarat mata, ia mengajak  ketiga temannya meninggalkan kedai minum itu. 

"Hey!" tiba-tiba si nenek tua itu memanggil. "Kau tadi bertanya apa? sudah kukatakan, telingaku ini aneh, Ka-lau diajak bicara keras, tidak mendengar.  Terlalu  perlahan,  juga  tuli. sebaliknya kalau sedang, pandai ia mengangkat tiap patah perkataanmu. Coba ulangi pertanyaanmu dan  berbicaralah dengan suara sedang," 

Orang bertubuh kekar itu membalikkan badannya. Berkata dengan suara sedang: 

"Kami mencari seorang gadis menunggang kuda. Apakah kau melihat dia lewat disini?" 

"Oh, gadis cantik menunggang kuda ,,.?" ulang nenek itu, "Benar, Kemarin kulihat dia pada waktu begini. Dia malahan singgah disini, Dia berpesan  padaku,  bila  ada  yang mencarinya diharapkan menyusul ke telaga Thay-ouw." 

Hati Sin Houw tergetar. Tiada lagi ia bersangi bahwa gadis itu pasti Giok Cu. ia meninggalkan pesan untuk dirinya, Dan orang bertubuh kekar itu lantas  melompat keatas pelana kudanya, Kemudian dengan berderap, ia membawa ketiga temannya mengarah ke timur. 

"Kouw-kouw, catat!" seru si nenek kepada gadis  yang sedang menyulam.  "Sudah, Nih, lihat!" sahut gadis itu sambil memperlihatkan sulamannya, Ternyata jumlah bunga sulamannya sudah tujuh. siapa yang dua orang lagi? pikir Sin Houw. 

Pemuda itu menjadi sibuk sendiri. Dalam hatinya ia merasa heran. pastilah gadis dan nenek itu bukan sembarang orang. Akan tetapi ia tidak takut, ia percaya pada kepandaiannya sendiri. Andaikata mereka berdua musuh dalam selimut yang akan merugikan dirinya, rasanya ia tak perlu gentar menghadapinya. 

"Sebenarnya siapakah gadis yang dicarinya itu?" ia mulai bertanya. 

Nenek tua itu tertawa ramah. sahutnya : 

"Anak muda! Kau seorang baik hati, biarlah aku memberi keterangan kepadamu . Gadis itu tidak  memperkenalkan namanya. ia cantik, tapi sepak terjangnya kejam, Kemarin ia melukai dua orang tamu." 

"Salahnya sendiri." sambung gadis itu, "Mereka mengganggu, Malahan tidak tahu diri. Merekalah  yang mencoba mengganggu, dan gadis  itu  lalu  menghajarnya. Hebat caranya. Dengan sekali gerak, kedua musuhnya kena dilukai. Kemudian berkata: Kalau masih ingin menuntut balas, carilah aku disekitar telaga Thay-ouw!" 

Heran Sin Houw mendengar keterangan gadis itu, pikirnya: 

"Giok Cu hendak membongkar harta karun atas petunjuk peta ayahnya. seharusnya dilakukan dengan diam-diam, tapi apa sebab ia justru menghendaki agar diikuti orang?" 

Sin Houw mencoba memahami, tetapi tetap tak mengerti maksudnya, ia tahu, Giok Cu jauh berpengalaman dalam masalah hidup liar dari pada dirinya. Ia pun cerdik pula, Gerak- geriknya sulit diduga dan  seringkali  mengandung   maksud yang dalam. 

"Baiklah, nek, Akupun  akan segera pergi." akhirnya ia berkata.  Nenek itu memanggut.  ia  mengerlingkan  matanya kedalam, Sin Houw mengikuti pandang nenek itu dengan diam-diam, sekarang jumlah bunga itu menjadi  delapan. Tahulah dia, bahwa dirinya sudah tercatat pula. 

Ia lantas berangkat. setelah meninggalkan  dusun  itu, segera ia berlari mengarah ke timur. Memang,  dalam perjalanan jarak jauh,  menunggang  kuda lebih menguntungkan. Tetapi kuda tidak  dapat  diajak  menerobos atau memotong jalan melewati jurang  atau  hutan  belantara yang padat.  

Sebaliknya, Thio Sin Houw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, dapat dengan leluasa memotong arah  perjalanan, Dengan ilmu saktinya, dapat ia melompati jurang dan mendaki bukit dengan cepat. ia tak merasa canggung, karena  sudah biasa hidup di atas gunung, dan  sebentar  saja  telaga  Thay- ouw sudah nampak didepan matanya. 

Ia beristirahat sejenak ditepi telaga memperhatikan pemandangan sekitarnya. Pada waktu itu telaga Thay ouw masih tertutup rimbun belukar. Disana sini masih terdapat gugusan gugusan air yang liar sehingga, kesannya menyeramkan. Hutan padat memagarinya, dan  sekali-kali terdengar aum binatang buas yang mencari mangsa. 

Sin Houw kemudian membuat sebuah rakit.  setelah selesai, ia naik diatas  rakitnya dan mengayuhnya tak ubah sebuah perahu, Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang gemerlap tergantung di atas sebatang pohon, Apa itu? Bergegas dia membawa rakitnya menepi dan diperhatikannya. Ternyata sebuah kunci terbuat dari emas murni! 

"Kunci apakah ini?" pikir Sin Houw heran. 

Setelah diteliti dan diciumnya, ia kaget karena  mengenali bau Giok Cu, segera ia yakin gadis itu niscaya tak jauh dari tempat itu pula. 

Tatkala hendak melangkahkan kaki-nya, ia melihat suatu coretan di atas sebuah batu:  Di telaga Thay-ouw. Di atas gunung Bu-tong Dengan kunci emas Mencari harta leluhur..." 

Sin Houw menjadi  kian heran,  Jelas Giok Cu sengaja memancing kedatangan orang, Entah apa maksudnya. 

Tak usah disangsikan lagi, bahwa harta karun itu berada diatas gunung, Akan tetapi dimana letaknya? Gunung Bu tong termasuk gunung raksasa. Bukankah  dirinya  tak  ubah  sebatang jarum diatas permukaan laut? 

Sin Houw kemudian naik kerakitnya lagi, Dalam  hal  ini,  ia tak boleh gegabah . pasti ada liku-likunya yang pelik  . siapa tahu, kalau dirinya sedang diintai seseorang! 

Hawa gunung luar biasa dinginnya.  untunglah, tadi ia membekal pengenan dari kedai si nenek. Dan sambil makan penganan, ia memperhatikan alam sekitarnya. 

Ketika matahari sepenggalah tingginya,  ia mendarat dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian tibalah ia disebuah ketinggian. 

Dengan berlari-lari ia mendaki bukit itu, Begitu  tiba diatasnya, ia heran . Dibawah sana tergelar petak sawah yang indah. Nampak pula taman bunga yang teratur. Harumnya semerbak. 

"Milik siapakah sawah dan taman bunga itu?" ia menebak didalam hati, "Apakah seorang petapa?" 

Ia menuruni bukit, sambil berjalan ia mencoba memikirkan, sampai kemudian ia bertemu dengan seorang tua. 

Orang tua itu sudah tua usianya, Rambut dan jenggotnya telah memutih. Dandanannya  mirip seorang petani,  tetapi wajah dan pandang matanya jernih. Maka tahulah Sin Houw, bahwa orang itu niscaya memiliki kepandaian sakti. 

"Apakah siauw-ya datang  untuk  ber-pesiar?"  tanya  orang tua itu yang tidak secara langsung memberikan keterangan . 

"Benar." sahut Sin Houw singkat.  "Gunung Bu-tong san adalah gunung bersejarah sejak dahulu kala, Tidak akan selesai jika hanya dikagumi. Juga sawah ladangnya indah permai, takkan dapat menghilangkan duka cita, Kecuali bila siauw-ya berada di gunung ini beberapa hari lamanya." kata orang tua itu dengan ramah. 

Sin Houw merasakan keramahan  itu,  Nampaknya  dia sopan pula, Maka tanyanya dengan hormat: 

"Bolehkah aku mengetahui nama lo-cianpwee?" 

"Akh, namaku tak ada artinya. Lebih baik kita saling meng- engkau, Dengan demikian, perasaan kita jadi lebih bebas, dan pergaulan kita akan jadi akrab." 

Sin Houw menyetujui saran itu jawabnya: "Benar." 

"Selama hidupku, aku berdiam di atas gunung ini." kata 

orang tua itu, "Dusun tempat kediamanku disebut orang Kam- sie cun. Bila siauw-ya hendak menginap  beberapa hari di gunung ini, silahkan menginap di rumahku." 

"Kau baik sekali, lo-cianpwee. Te-rima kasih. Hanya  saja, aku khawatir akan menganggu lo-cianpwee." 

Orang tua itu tertawa lebar, sahutnya: 

"Kenapa siauw-ya berkata begitu? inilah peristiwa yang sederhana saja, Siauw-ya datang ke sini untuk berpesiar, kebetulan sekali aku mempunyai sebuah  gubuk.  Lalu,  siauw- ya berkenan menginap di gubukku, Bila cocok,   kita  berdua akan jadi sahabat. Bila tidak, siauw-ya dapat pergi  dengan bebas merdeka. Apakah yang mengganggu diriku?" 

Sin Houw heran dan  girang  mendengar  perkataan  orang tua itu, Tak usah disangsikan lagi, bahwa ia seorang terpelajar atau berpendidikan. Maka segera ia menghampiri dan membungkuk hormat, ia merasa puas  dapat  berkenalan dengan dia. Memang, didalam hatinya ia bermaksud mencari seseorang yang dapat menemani atau memberi petunjuk yang berharga dalam pencarian harta warisan Gin-coa Long-kun,  Syukurlah, bila bisa memberi kabar  tentang  beradanya  Giok Cu. 

Orang tua itu menunjuk ke arah lereng  gunung, sambil berkata: 

"Desa Kam-sie cun terletak dilereng gunung  itu.  Disana tidak terdapat sesuatu yang berharga,  kecuali  sayur-mayur  dan sekedar ikan kering, Bila siauw-ya hendak berpesiar, silahkan dahulu. sebentar malam hendaklah kau singgah di gubukku, Kami akan berusaha menyediakan ikan segar dan minuman hangat. Mungkin sekali kita dapat bicara berkepanjangan." 

"Terima kasih." sahut Sin Houw, yang kemudian mendaki gunung, Kelakuannya  seperti  benar-benar  sedang  pesiar, tetapi sesungguhnya ia selalu memasang mata. 

Sampai tengah hari ia berjalan kadang-kadang melihat seorang petani sedang  menggarap  sawah  dan   beberapa orang penebang pohon. Ketika matahari telah  tenggelam, segera ia kembali ke rumah orang tua itu  hendak  menetapi janji. Ternyata rumah orang tua itu seperti rumah seorang kepala kampung, serambi depannya lebar dan luas. Berpagar batu dan berpintu gerbang. 

Begitu tiba didepan pintu gerbang, seorang gadis  yang cantik luar biasa membuka pintu. Pandang matanya bersinar tajam, Kulit wajahnya putih halus, dan perawakan tubuhnya padat semampai. Sin Houw hendak membuka mulutnya atau gadis itu telah mendahului. Dia tertawa manis sekali sambil berkata: 

"Apakah siauw-ya yang datang ke mari untuk berpesiar? Ayahku telah membicarakannya tadi " 

Sin Houw mengucapkan terima kasih, lalu  mengikuti gadis itu masuk kedalam. pekarangan rumah yang dilaluinya, penuh bunga aneka warna yang semerbak harumnya, Bila pemilik rumah tidak berpendidikan,  mustahil dapat mengatur taman yang seindah itu, Rasanya tidak kalah dengan taman bunga di kota besar.  Ayah gadis itu ternyata sudah menunggu diserambi depan dengan tertawa ramah. Diatas meja benar-benar telah tersedia beberapa guci tempat arak dan beberapa mangkok makanan. 

"Bagaimana kesan siauw-ya tentang  telaga Thay-ouw kami?" 

"Benar hebat dan agung." jawab Sin Houw dengan sesungguhnya. "Keindahannya lebih menarik dari telaga Cui- ouw." 

"Apakah siauw-ya pernah melihat telaga Cui-ouw juga?" "Secara     kebetulan     aku     lewat     dan   berkesempatan 

menikmati  keindahannya,"  ujar  Sin  Houw,  dan  orang  tua  itu 

tertawa lebar. Katanya: 

"Hanya sayang sekali. seseorang jarang  sekali dapat menghargai keindahan gunung dan telaganya, Mereka lebih tertarik kepada jabatan tinggi dan  logam  yang  berwarna kuning. sayang, bukan?" 

Mendengar perkataan itu, Sin Houw terperanjat  pikirnya didalam hati: 

"la menyebut logam kuning. Bukankah emas yang dimaksud? Apakah ia sudah dapat menduga maksud kedatanganku ke sini? Akh, aku terlalu curiga " 

Memperoleh pertimbangan demikian, hatinya jadi tenteram kembali. Tatkala tuan rumah mempersilahkan meneguk minuman keras, ia dapat melayani dengan baik dan wajar. Kemudian bicara tentang kesenian, kebudayaan dan  lain sebagainya. Dengan demikian mereka berbicara seperti dua sahabat yang akrab. Hanya saja masing-masing tidak menanyakan nama dan  asal usul  masing-masing,  seakan- akan suatu pantangan. 

Setelah meneguk beberapa cawan arak, orang tua itu nampak menjadi pusing. Dengan tertawa  mohon  maaf. Katanya: 

"Tenagaku tidaklah  sekuat seperti dulu, kepalaku sudah  pusing. Perkenankan aku mendahului  beristirahat pemandangan sekitar dusun ini sangat indah diwaktu bulan purnama, Bila siauw-ya ingin menikmati, silahkan." 

Sin Houw mengucap terima kasih. Dan tatkala orang tua itu mengundurkan diri, anak gadisnya segera mengantarkan Sin Houw ke kamarnya untuk beristirahat. 

Tengah malam Sin Houw siuman dan mendekati jendela, Bulan nampak bersinar terang,  hatinya tertarik. segera ia mengerubungi dirinya dengan pakaian tebal, kemudian keluar halaman mereguk keindahan malam. 

Ia mendengar desah gelombang telaga Thay-ouw, lalu berjalan mendaki bukit dan berdiri dekat batu telaga yang kena pantulan sinar bulan. 

Selagi ia tertawan keindahan telaga itu, tiba-tiba ia mendengar suara seorang gadis bersenandung,  segera Sin Houw mendekati. Tatkala berada didepannya sekira lima langkah, berkatalah gadis itu: 

"Apakah siauw-ya bercita-cita hendak menghancurkan angkara murka?" 

"Tak tahulah aku," sahut Sin Houw. "Tapi kukira, bila laki- laki itu sudah menjatuhkan pilihannya, tidak  akan mengundurkan diri, Kata pepatah, lebih baik hidup satu hari menjadi harimau dari pada satu tahun  menjadi  kambing sembelih." 

Gadis itu tertawa dingin, lalu ia berkata lagi: 

"Siauw-ya datang kemari hendak mencari harta,  bukan? janganlah bermimpi yang bukan-bukan!" 

Dan secara tiba-tiba gadis itu menghunus pedang pendek yang bersinar hijau, kemudian menikam Sin Houw dengan gerakan cepat luar biasa. sudah barang tentu Sin Houw kaget bukan main, ia mengelak cepat pula, menegas: 

"Hey, kenapa...?" 

Gadis itu tidak menyahut. ia menikam, Kali ini sangat gesit,  Karena bersungguh-sungguh,  tak berani  Sin  Houw semberono. segera ia mengimbangi dengan gesit pula, hanya saja ia tidak melakukan perlawanan. setiap kali ditikam, ia melompat mundur. Karena  itu ia terdesak sampai berada ditengah kubu batu. 

"Tahan! Berilah aku kesempatan bicara. Dengarkan dulu 

..." 

Belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, muncullah 

beberapa orang dari balik batu, Diantara mereka  nampak orang tua pemilik rumah. ia bersenjata Tiat-kauw, gaitan besi. Tatkala lompat keatas batu, dengan ganas ia menyerang Sin Houw. 

"Lo-cianpwee!" seru Sin Houw, "Sebenarnya  apa  yang telah terjadi? Kenapa sikapmu mendadak berubah?" 

"Hm!" dengus orang tua itu, "Apakah kau tidak merasa sendiri? Mulanya kusangka kau tamu terhormat. Tak  tahunya kau seorang penjahat yang gila harta !" 

Karena dirinya telah terkepung oleh sekian banyaknya lawan, maka terpaksa ia mengadakan perlawanan.  Dengan sekali hunus, pedang Gin-coa kiam  berkelebat,  dan   dua senjata lawan ter-kutung dengan mudah. 

Sudah barang tentu para pengepungnya terperanjat, sehingga mundur tergesa-gesa . syukur, Sin Houw tidak mengejar, serunya: "Tahan!" 

"Apa yang harus ditahan?" orang tua itu  berteriak. "Walaupun kau memiliki pedang mustika, tetapi kami sudah mengurungmu. Percayalah,  tidak akan dapat kau berbuat banyak." 

Sin Houw biasa bergaul dengan  orang-orang  tua  yang aneh tabiatnya seperti gurunya sendiri, dan Bhok siang tojin, selamanya ia menghormati dengan hati tulus. Juga kali ini. Meskipun di serang bertubi-tubi, tak mau ia membalas atau mendesaknya. Arah sasarannya kepada orang lain. 

Akan tetapi gerakan mereka gesit dan aneh luar biasa.  Kalau diserang ia mundur. Dan yang lain menggantikan. Te- gasnya, mereka menyerang dan mundur dengan bergantian.Merekapun tidak sudi membiarkan senjatanya kena bentur pedang mustika Sin  Houw yang  tajam  luar  biasa, Karena itu, lambat laun Sin Houw mendongkol juga. 

Sekarang ia memperhatikan kesepuluh lawannya, Kecuali orang tua dan gadis itu, kepandaian kedelapan orang lainnya tidaklah seberapa. Hanya  karena  mereka  maju  mundur dengan bergantian, tidak pernah seorangpun kena dilukai. 

"Coba, kuarahkan seorang saja ingin kutahu, bagaimana cara mereka mempertahankan diri." pikir Sin Houw. 

Memperoleh pikiran itu, Sin Houw segera  mendesak seorang lawan yang segera berlari-larian sekeliling batu, Lalu lenyap, sebagai gantinya, gadis anaknya pemilik rumah menyerang dengan pedang pendeknya, selagi Sin Houw menghadapi gadis itu dengan ragu-ragu,  ia diserang dari belakang dan samping cepat ia mendesak dan  menyerang  gadis itu dengan gesit. Mereka semua   menghilang   dibalik batu, sebagai gantinya adalah orang tua pemilik rumah. 

Sin Houw segera memperhatikan dan mencari keyakinan mengenai cara bertempur para pengepungnya. setelah yakin benar, segera ia bersiul nyaring, pedangnya berkelebat ke berbagai penjuru, sekali bergerak, sasarannya  tiga  tempat, dan mereka lantas saja menjadi gempar dan terkejut. 

Sebenarnya, bila mau Sin Houw  dapat  merobohkan mereka dengan mudah. Akan tetapi ia tak sampai hati melukai mereka. Tujuannya kini hanya hendak menerobos keluar dari kepungan, ujung pedangnya bergerak tiada hentinya.  

Dan ia menyerang tiga sasaran sekaligus malahan pada suatu kali, ia menyerang tujuh sasaran dengan berantai. seketika itu juga, garis pertahanan mereka kacau balau. 

Sin Houw sengaja mengarah  kepada gadis  itu, Dengan gesit ia memburu, setiap kali  memunahkan  serangan  yang lain, sebentar saja gadis itu terdesak sampai dipintu luar. ia memekik ketakutan Dan mendengar pekiknya, Sin Houw  menghentikan serangannya. 

itulah suatu kesalahan besar bagi Sin Houw, Hal itu diketahuinya benar. 

Sebab ia takut melukai gadis itu, justru pada saat itu bumi yang diinjaknya amblas.  Gadis  itu  membarengi  dengan pekikan tinggi. 

Sin Houw kaget, ia kaget  karena  tubuhnya  tercebur kedalam lubang. iapun tertegun sejenak mendengar pekikan gadis itu untuk yang kedua kalinya 

Kenapa? Pada detik itu, ia membagi  perhatian.  Kepada bumi yang diinjak dan gadis itu, Tahu-tahu tubuhnya telah terbanting masuk ke dalam lubang. 

sekarang barulah ia  teringat  untuk  menolong  dirinya sendiri. Tetapi telah terlambat, walaupun  mempunyai kepandaian  tinggi,  tetapi  karena  gerakannya  terhenti, membuat dirinya kehilangan pegangan, Tak keburu lagi, ia menolong dirinya sendiri. 

Satu-satunya  perbuatan  yang  dapat  dilakukannya, hanyalah mencoba menghambat lajunya, ia kemudian berjungkir balik, Tatkala kedua kakinya meraba dasar tanah, ternyata lembab seperti berlumpur.  

Tahulah ia kini, bahwa dirinya jatuh kedalam sumur yang sangat dalam, sumur itu gelap gelita sehingga penglihatannya tak dapat melihat kedua tangannya, Teringatlah dia, bahwa di dalam sakunya tersimpan sebuah  batu letikan. Maka ia menyalakannya. Dan dengan bantuan letikan  batu api itu, dapatlah ia melihat sekelilingnya. 

Ia merobek lengan bajunya dan membakarnya. Api lantas menyala. Tapi baunya sangat tajam serta nyaris menyesakkan napas. Selintasan, ia melihat  betapa dalam  dasar sumur  yang di injaknya. Tiada harapan untuk dapat merayap keatas. Dasar tanahnya pun tidak rata. Untunglah, didepan matanya terlihat sebuah lubang. 

Karena mempunyai penerangan istimewa, ia lantas  memasuki terusan itu. Ternyata sebuah  terowongan  mirip lorong dibawah tanah. selangkah demi selangkah ia maju, akhirnya tibalah dia kepada dinding batu buntu. 

Sin Houw menghela  napas panjang, Tak disangkanya, bahwa disinilah ajalnya sampai. semua orang memang harus mati, tetapi ia akan mati kecewa karena tersekap didalam lubang sumur di-atas gunung Bu-tong! 

 (Oo-dwkz-oO) PENUTUP 

TETAPI Thio Sin Houw bukan seorang  pemuda  yang mudah putus  asa, sejak kanak-kanak ia pernah mengalami penderitaan hebat melebihi manusia lainnya. Begitu  ia  berputus asa, bangkitlah  rasa marahnya, Hal itu terjadi, karena ia merasa dipermainkan nasib.  Menurut  nasihat  orang-orang tua, ia wajib berhati mulia, sekarang ia korban dari kemuliaan hatinya sendiri.  

Andaikata tadi ia tidak mengenal rasa  iba  terhadap  gadis itu, tidakkan mungkin ia sampai terperosok kedalam sumur ! 

Tiba-tiba ia menghantam dinding yang menghalang didepannya. Kena hantamannya, dinding itu tergetar dan nampak bergerak-gerak. Melihat  hal itu sepercik  harapan timbul didalam hatinya. "Apakah ini dinding buatan?" serunya didalam hati. 

Oleh harapan itu segera ia bekerja, sekarang ia tidak menggunakan tinjunya. Akan tetapi pedang Gin-coa kiam yang tajam luar biasa. ia membongkar dan  mengorek-ngorek,  Dinding itu gempur sedikit demi sedikit dan meluruk kebawah. 

Sekarang ia yakin, dinding sumur itu benar-benar dinding buatan. Tambalan dan lapisannya selalu  bergerak  gerak. Maka harapannya kian menjadi besar, segera ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. lalu dilepaskan dengan dibarengi teriakan nyaring. inilah yang pertama kalinya, ia menggunakan seluruh himpunan tenaga saktinya, yang meledak bagaikan dinamit.   Dinding sumur itu ambruk dan ternyata  berlubang mirip terowongan. 

Tanpa sangsi lagi Sin Houw masuk. sebentar  saja sampailah ia di dalam ruang lain, Hatinya tergetar dan heran tatkala kedua matanya menjadi silau. 

Ia memejamkan matanya  sejenak.  Kemudian menyenakkan dengan perlahan lahan  beberapa  saat  lamanya ia membuat penelitian Diperhatikan apa yang membuat matanya menjadi silau,  setelah  memperoleh  penglihatan tegas, ia gembira bukan kepalang. 

Disana terdapat sebuah  terowongan,  dan  cahaya  itu datang dari terowongan tersebut. Bergegas ia memasuki terowongan itu yang tidak begitu panjang bila dibandingkan dengan terowongan yang telah dilaluinya, Tapi kembali lagi ia tiba pada dinding pembatas. ia memperhatikan sebentar. samar-samar ia melihat bentuk dinding itu seperti pintu. 

Pintu itu terbuat  dari batu pualam yang termashur liat,  Tajam senjata biasanya tak dapat merusaknya, Biasanya batu pualam berwarna hijau, Tapi pintu itu berwarna putih. Dengan demikian, termasuk batu pualam yang jarang terdapat didunia, Melihat bentuknya sangat luar biasa, maka harganya tidak ternilai. 

Sin Houw menyimpan pedang Gin-coa koam, Hati-hati ia meraba pintu pualam itu, Halus dan licin. ia meraba sampai akhirnya ditemukan lubang kunci. Melihat  lubang kunci itu, harapannya menjadi besar. Teringatlah dia kepada  kunci emas. Dengan berdoa ia mengeluarkan kunci emas dari dalam sakunya. 

Hati-hati ia memasukkannya. Ternyata tepat  sekali. Dan dengan bersorak gembira didalam hati, ia memutar. Klik! Pintu didorongnya terbuka, Dan begitu terbuka  kedua  matanya benar benar silau, Meskipun belum  dapat melihat  dengan tegas, namun hatinya sudah dapat menebak. itulah  harta karun, Harta warisan yang ditemukan Gin-coa Long-kun! 

Segera ia masuk dan menutup pintu nya kembali.  Kemudian, ia menyimpan kuncinya hati-hati didalam sakunya. sekarang ia membuka matanya lebar-lebar, Akh, benar! Didepannya terlihat timbunan permata dan emas tak ubah sebagai bukit.  

Meskipun ruang itu sebenarnya gelap gelita, tetapi bersinar terang benderang oleh pantulan cahayanya.  seketika itu juga, ia tertegun. 

Thio Sin Houw menghampiri dan mengaduknya. Tiba-tiba tangannya menyentuh suatu benda panjang, tatkala ditarik, ternyata sebatang golok  yang  tajam  luar  biasa,  Samar-samar ia melihat ukiran huruf yang berbunyi: 

"SUN LUI TO". 

 (Sun-lui to = Pedang Halilintar). 

Membaca bunyi huruf-huruf itu ia menjadi terkejut, namun kemudian tersenyum, Pengukir huruf ini terlalu rendah menilai budi manusia. Benarkah kehidupan manusia ini berada dalam pengaruh harta benda semata? Tetapi tatkala memutar-mutar hulunya, penutupnya  terlepas. Golok itu ternyata  berlubang seperti serubung, ia melongoknya dan menemukan segulung kulit kambing. 

Segera ia membebernya. Ternyata sebuah peta. Peta itu melukiskan tempat tempat dan gunung-gunung dengan jelas. Terdapat pula sungai-sungai dan letak tanah. Dan dibawahnya terdapat petunjuk-petunjuknya, bagaimana cara mempertahankan dan menyerang. 

Teringatlah Sin Houw, bahwa  itulah  peta peninggalan pahlawan Gak Hui. Tiba-tiba ia heran sendiri,  apa   sebab benda itu berada diantara tumpukan harta terpendam  yang ditemukan oleh Gin-coa Longkun? 

Tatkala pandang matanya sampai disudut peta, terukirlah huruf-huruf nama pahlawan bangsa itu. ia jadi bingung sendiri. Tiba-tiba teringatlah dia kepada ayah bundanya,  Bukankah keluarganya hancur akibat perebutan golok itu? Tak terasa ia mengucurkan air mata.  "Entah sudah berapa jiwa korban untuk memperoleh golok ini, Dan peta itu, apakah kegunaannya?" 

Ketika Sin Houw mengalihkan pandang, maka tiba-tiba ia menjadi terkejut, Ternyata pintu  yang tadi ditutupnya  kini terkancing rapat. ia mendekati dan meraba-raba, memasukkan kunci emasnya. Ternyata lubang kunci tidak cocok, sekarang tahulah dia, bahwa pintu itu mempunyai dua lubang  kunci. Kunci dari luar dan kunci dari dalam, itulah suatu hal yang tak- pernah terlintas dalam pikirannya. 

"Aduh, celaka!" ia mengeluh, Kali ini ia mengeluh hebat, Sebab pintu itu tak dapat digempurnya seperti pintu batu tadi. Didalam ruang memang tersedia permata, emas dan perak. Tetapi tiada sebutir beras dan seteguk air. Apakah  gunanya harta benda itu semua? 

Kini ia merasa terancam bahaya  kelaparan  dan  dahaga. Bila perut kosong dan tenggorokan kering, akan merupakan suatu siksa yang hebat luar biasa. Dalam kesedihan dan kepiluannya, ia jadi berputus asa. Katanya: 

"Akh, ternyata aku ditakdirkan mati di gunung Bu-tong. Di gunung Bu tong ini ayahku terdidik, Di gunung Bu-tong ini pula ayah bunda dan seklain saudaraku  mati  dengan  hati penasaran. Di gunung Bu-tong ini, aku menderita luka parah. Sekarang, akupun bakal mati di gunung Bu-tong juga, Mati ditengah harta benda dan sebatang golok pembawa bencana!" 

Menghadapi ancaman maut, secara naluriah Sin  Houw lantas berteriak-teriak, Harapannya, semoga  suaranya terdengar dari luar goa, sepuluh lima belas kali ia berteriak, sehingga telinganya terasa tuli akibat pantulan  suaranya sendiri. Namun hasilnya sia-sia. 

Akhirnya ia duduk bersimpuh didepan pintu pualam itu. Katanya kepada dirinya sendiri: 

"Kata orang, seseorang dapat bertahan seminggu dengan perut kosong tetapi aku sudah berlatih semedhi. Ba-rangkali masih dapat bertahan sampai sepuluh  hari,  selama  sepuluh hari itu, biarlah aku berusaha mencari jalan keluar . Siapa  tahu...?" 

Tentu saja perkataannya itu lebih condong kepada kata- kata hiburan untuk diri sendiri, walaupun  demikian,  hatinya agak tenteram, ia lantas bangkit dan berjalan perlahan-lahan menghampiri timbunan harta.  Pada  saat  itu  berbagai kenangan berkelebat  di benaknya.  Kepada kakek guru dan paman gurunya yang sayang  kepadanya, dan kepada  lain sebagainya. Dan yang terakhir Giok Cu. 

"Akh, Giok Cu. Tiada harapan kita akan dapat bertemu kembali..." keluhnya. 

Boleh dikatakan belum lama berselang  ia  berkenalan dengan Giok Cu. Dalam kebanyakan hal, ia selalu berselisih pendapat, Dia berhati keras dan bengis, Akan tetapi kadang- kadang menjadi lemah lembut. Teringat akan nasibnya yang sama dengan dirinya, ia jadi tertarik. Malah merasa  diri senasib sepenanggungan. 

Sekarang dia bakal hidup sebatang kara benar. Tiada ayah bunda, dan tiada saudara. Mungkin sekali ia akan berusaha mencarimu, tetapi dimanakah dia  akan  mencari  diriku?" pikirnya lagi. justru ia berpikir demikian, teringatlah dia kepada gadis puteri pemilik rumah. 

Sifat gadis itu lain lagi. Dia seorang  yang  lemah  lembut, akan tetapi berani bertanggung jawab. pikirnya lagi  didalam hati: 

"Bila kedua sifat itu bergabung menjadi satu, aku akan mempunyai seorang gadis yang sempurna  wataknya,  apalagi bila ditambah dengan sifat-sifat  Cie  Lan.  Barangkali di  dunia ini tiada bandingnya  

 (Oo-dwkz-oO) 

Terkurung didalam goa itu, perasaan Sin Houw tergoncang sehingga bersifat liar. ia jadi mengada-ada, sadar akan hal itu,  ia mencoba mengatasi. Digerayanginya golok Halilintar yang berada di tangannya. Tiba-tiba ia menyentuh sebongkah lembaran kulit lagi. Kali ini sudah tersulam rapi, sehingga  berbentuk sebuah kitab. 

"Hey, kitab apakah ini?" ia tertarik. 

Ia hendak membalik-balik lembarannya. Tiba-tiba ia tertarik kepada setumpuk kertas minyak. setelah  dibaca ternyata meriwayatkan perjalanan dan perjuangan pahlawan Gak Hui. Tentu saja, ia tak merasa berkepentingan. sebab isinya hanya urusan peperangan. 

Kemudian ia menekuni kitab itu judulnya: Rahasia ilmu Kiu- im Cin-keng... ia membalik-balik lembarannya yang pertama. Kemudian membacanya, Begini-lah bunyi tulisan itu: 

"Hidup ini bergerak. Rasa itu tenteram. Angan-angan itu kebijaksanaan, Budi seumpama aliran, dan pekerti merupakan saluran." 

"Apakah artinya ini?" ia berpikir, ia seolah-olah pernah menyentuh pengertian  demikian. Maka ia membaca terus. Lambat-laun ia tertarik. setelah selesai, ia menarik napas dalam. Berkata kepada diri sendiri: 

"Akh, barulah kini aku mengenal  diriku  sendiri, Dibandingkan dengan penulis kitab ini, diriku tak  lebih  dari  pada cahaya kunang-kunang," 

Tertarik oleh tulisan itu, ia mengulangi   membaca  lagi. sedikit demi sedikit ia mencoba mendalami dan memahami. Ternyata isinya  melingkupi seluruh ilmu jasmani dan  ilmu sakti, Keruan saja ia girang bukan kepalang. serunya didalam hati: 

"Bila aku memahami isi kitab ini, maka aku akan mengerti dan mengetahui seluruh inti ilmu-ilmu sakti dari berbagai  aliran di dunia ini..." 

Sekarang, samar-samar ia mulai  mengerti apa  sebab tokoh-tokoh sakti memperebutkan golok Halilintar itu ternyata isinya luar biasa dahsyat dan luas. semua sarwa sakti yang terdapat di dunia ini terhirup dan tercakup didalamnya. 

Tetapi tiba-tiba teringatlah dia, bahwa dirinya kini terkurung  di dalam sebuah goa yang dindingnya  tak  dapat  tertembus oleh senjata tajam apapun juga, semangatnya  jadi runtuh. Namun Sin Houw seperti sudah  terlatih.  semasa  kanak-kanak ia senantiasa terancam bahaya maut.  

Didalam rasa putus harapan, masih bisa ia tertawa, Maka kali inipun begitu juga. walaupun  tiada  gambaran  dan pegangan bagaimana caranya dapat  keluar  dari  kurungan  goa, perasaannya menyuruhnya agar membaca dan menekuni kitab tersebut. Katanya kepada dirinya sendiri: 

"Dahulu aku hidup dengan tak setahuku.  Mengapa sekarang aku harus memikirkan cara matiku?" 

Ibarat pelita yang  hendak  padam  karena  kehabisan minyak, tiba-tiba ia memperoleh percikan minyak, seketika itu juga, dia jadi acuh tak acuh terhadap dirinya sendiri seperti dahulu semasa kanak-kanak. ia lantas membaca  dan membaca. 

Mula-mula rasa lapar dan dahaga mengganggu dirinya. Lambat-laun perasaan itu menipis dan menipis, Tahu tahu ia tertidur nyenyak sekali. Tatkala terbangun,  tak  tahulah  ia sudah berapa jam tertidur  demikian. Bukit permata yang didepannya tetap menyala terang benderang seperti tadi. 

"Sekarang aku akan mencoba berlatih mengikuti petunjuk- petunjuk kitab ini." katanya kepada diri sendiri. 

Ia lantas membaca bagian pekerti yang mengutamakan tenaga himpunan. setelah menarik  napas  panjang,  ia mendekati dinding goa, Kemudian tenaga himpunan itu dilepaskan. Diluar dugaan, dinding batu itu rontok beberapa bongkah. Menyaksikan hal itu, ia jadi gembira. 

"Tenaga bertambah. Tapi aku masih merasakan suatu kekurangan. Apakah aku harus bergerak dengan  hati tenteram?" pikirnya. 

Memperoleh pikiran demikian, segera ia melakukan, Dipusatkan seluruh tenaganya. Kemudian dilepaskan dengan hati tenang, Dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Dinding  yang terbuat dari batu pualam itu rompal sebagian. 

Puas hati pemuda itu, ia  yakin  bila  rahasia  pengendapan itu sudah dapat dikuasai, pasti akan dapat merobohkan batu pualam itu, Akan tetapi hebatnya adalah soal rasa dahaga. Dengan mengeluarkan tenaga dalamnya, keringatnya terhisap keluar. ia jadi merasa  dahaga  sehingga  tenggorokannya terasa kering, Menahan rasa lapar, rasanya ia masih sanggup untuk satu dua hari lagi. Tetapi menahan rasa dahaga kesulitannya sekian kali lipat. 

Memang, menurut  pengalaman,  seseorang  dapat menahan lapar sampai seminggu lamanya.  Kemudian baru mati, sebaliknya orang tak dapat menahan rasa dahaga lebih dari tiga hari. ia akan mati dengan  tiba-tiba, sekarang ia mencoba menahan rasa lapar dan dahaga hebatnya tak terkatakan.  

Untuk sekedar melupakan, ia kembali menekuni kitabnya, kemudian tertidur dengan tak setahunya, Tatkala terbangun, kembali ia menghafal, Dan pada saat itu ia dapat membaca bunyi kitab itu diluar kepala, pikirnya didalam hati: 

" ilmu sakti warisan Gin-coa Long-kun sudah hebat luar biasa. Tetapi bila dibandingkan dengan isi kitab ini, rasanya hanya sebesar biji asam, sayang... walaupun hebat luar biasa, tak dapat aku memperlihatkannya kepada para ahli. 

Selagi berpikir demikian, tiba-tiba telinganya yang kini menjadi tajam luar biasa menangkap bunyi. terlalu perlahan bunyi itu, setelah diperhatikan, rasanya seperti seseorang sedang menggali tanah diluar dinding. 

"Siapa di luar?" ia berseru gembira. ia yakin, orang itu pasti mendengar suaranya, mengingat dirinya  pun  dapat menangkap suara dari luar, Hal itu berkat dinding pualam yang telah rompal sebagian.  Tetapi ia lupa, bahwa pendengaran orang itu kini berbeda dengan pendengarannya,  meskipun telinga seorang pendekar. 

"Siapa diluar?" ia mengulang seruannya .  Tetap saja tiada jawaban. sekarang ia yakin benar, bahwa orang itu sedang membongkar dinding bagian luar, Dengan bernapsu ia mengerahkan tenaganya dan menggempur pintu, Kali ini pintu batu pualam sama sekali tak bergeming, Bahkan tangannya menjadi sakit dan nyeri. 

"Akh, ya " ia menyadari kesalahannya , "Aku terlalu 

bernapsu sehingga hanya bersumber  pada  kekuatan jasmaniah, sebaliknya kalau aku berlaku tenang, sumbernya berada pada HIDUP yang tak terbatas. 

ia hendak mengulangi, akan tetapi takut kehilangan tenaga terlalu banyak maka ia mencoba berseru untuk yang ketiga kalinya. Tetapi tetap saja hening tak terjawab. 

Sampai disini selesai sudah kisah Thio Sin Houw  dalam judul GOLOK HALILINTAR. Bagi para pembaca yang ingin mengetahui kisah selanjutnya pemuda yang perkasa itu, nantikanlah cerita berikutnya. 

TAMAT