Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 21

Jilid 21

"ltulah ilmu pedang Hui-kui  cici,  atau  Lalat  mengikuti tulang!" 

"Benar!" kata Sin Houw. "Kau sudah mengenal namanya, pasti sudah pula mempelajarinya." 

Kiang Yan Bu berusaha menguasai diri. Perlahan-lahan ia menegakkan kepalanya , kemudian menyahut: 

"Marilah mengadu pedang  dengan  cara  yang  wajar, ilmumu terlalu campur aduk!" 

"Campur aduk bagaimana?" Sin Houw heran. "Yang kupergunakan adalah ilmu pedang Hoa-san pay yang asli. Baiklah, kalau kau belum puas. Lihat, akulah yang kini akan menyerang. Coba kau pertahankan !" 

Sin Houw benar-benar menyerang perlahan caranya, dan  Yan Bu segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis - setelah itu dengan suatu kecepatan ia hendak  melakukan serangan balasan. Tetapi pada saat itu mendadak saja Sin Houw menekan pedangnya. Cepat-cepat  ia  menarik pedangnya. Heran! pedangnya seperti melekat kuat sekali. ia jadi sibuk. 

Melihat Kiang Yan Bu sibuk dalam usaha hendak menarik pedangnya, Sin Houw tersenyum. Dua kali ia memutar pedangnya. Dan pergelangan tangan Yan Bu ikut terputar dua kali pula. sekarang  ia  menariknya  dengan  mengerahkan tenaga dalam tujuh bagian, dan pedang Yan Bu kena direnggutnya dan dilemparkan keatas lantai. 

"Bagaimana? Apakah kau masih mau mencoba lagi?" kata Sin Houw sabar. 

Rasa penasaran Kiang Yan Bu makin hebat.  ia  sekarang jadi nekad. Dengan membungkam mulut ia menyambar sebatang pedang lagi dari atas meja, Kemudian menyerang pundak kiri Sin Houw, ia menikam dengan cara yang lain, pedangnya ditusukkan dan ditarik silih  berganti  dengan cepat, ia sadar, dalam hal mengadu tenaga dalam merasa ia kalah. 

Sin Houwpun tidak memutar pedangnya lagi, setelah mengelakkan beberapa tikaman,  ia  menikam  dada  sibandel itu, itulah serangan yang hebat sekali. Mau tak mau Yan Bu harus menangkis. Trang! Dan untuk kesekian kalinya pedang Yan Bu terlepas dari tangannya. Kali ini  sampai mental tinggi ke udara hampir mencapai langit-langit. 

Kiang Yan Bu semakin kalap, Tak sudi ia menunggu pedangnya turun dari udara. Dengan sekali lompat ia menyambar sebatang pedang baru lagi, Kemu-dian maju lagi hendak menyerang. 

"Apakah benar-benar kau tak sudi menyerah?" bentak Sin Houw, ia lantas membolang-balingkan pedangnya, mematikan daerah gerak Yan Bu. Dan diancam secara demikian, Yan Bu terpaksa membatalkan maksudnya. Namun masih saja ia mencoba membebaskan diri. ia mengelak sambil menarik  tubuhnya ke belakang. 

Menyaksikan kebandelannya, Sin  Houw  jadi  mendongkol. ia menggertak sambil menyambar kaki sibandel itu. Dan tubuh Kiang Yan Bu terangkat naik lalu  roboh  terbanting  diatas lantai. Kemudian Sin Houw mengancamkan ujung pedangnya pada tenggorokan. Menegas: 

"Benar-benar kau tak mau menyerah?" 

Selama hidupnya, belum pernah  Kiang Yan  Bu terhina seperti itu, ia mendongkol, gusar dan  malu  bukan  main, Karena tak dapat menguasai diri, maka akhirnya ia jatuh pingsan. 

Sie Liu Hwa lompat ke dalam arena karena melihat kakak seperguruannya rebah tak berkutik, segera ia menyerang kalang-kabutan, sambil berteriak: 

"Kalau kau bunuh dia, bunuhlah  kami  berdua  juga!" Tergetar hati Sin Houw mendengar teriakan Sie Liu Hwa 

dan melihat keadaan Kiang Yan Bu yang pucat  wajahnya, kedua matanya melotot menatap  langit langit. Kedua biji matanya sama sekali  tak bergerak .  Tubuhnya  tak  berkutik pula. Benar-benarkah ia mati karena penasarannya? ia lantas membungkuk hendak  memeriksa  pernapasannya.  Pada  saat itu, ia melihat berkelebatnya kedua tangan Sie  Liu Hwa menyerang dirinya,  Tak sudi ia mengelak atau mencoba melawannya. Ia hanya mengerahkan himpunan  tenaga dalamnya kuat-kuat, sambil membenturkan baju mustikanya yang tak mempan senjata tajam. 

"Jangan khawatir! Kakakmu belum mati." kata Sin Houw setelah memeriksa pernapasannya. Tetapi Sie Liu Hwa sudah kalap. Kedua tangannya terus memukul punggung Sin Houw asal jadi saja, setiap kali membal, ia menambah tenaga pukulannya. Keruan saja Nie Sun Kiong yang berada diluar gelanggang terkejut menyaksikan isterinya memukuli paman gurunya. Terus saja ia melompat dan menarik tubuh Sie Liu Hwa.  "Lepas! Biarkan aku ikut mati..l" seru pendekar wanita itu, "Eh, lepas bagaimana? Kau tak boleh ikut mati. Bukankah 

kau adalah isteriku dan aku suamimu? Kau baru boleh mati manakala akulah yang mati!" ujar Nie Sun  Kiong melawak. Rupanya dengan cara begitulah ia harus melayani  watak isterinya yang angin-anginan itu. 

Tetapi Sie Liu Hwa tetap membandel . ia menjagangkan kedua kakinya karena tak sudi di tarik. Dan kedua tangannya masih saja memukuli Sin Houw, meskipun agak ringan. Maka terpaksalah Nie Sun  Kiong mengerahkan tenaganya untuk menarik mundur.  

Karena masing-masing saling berkutat,  akhirnya  mereka jadi saling tarik sendiri. sebenarnya itulah pemandangan yang lucu sekali . Tetapi mengingat tabiat Sie Liu Hwa yang garang dan ganas, tiada seorangpun yang berani tertawa. 

"Eh, kau bandel sekali !"  seru Nie Sun  Kiong geram. "Bukankah aku suamiku ?" 

Giok Cu yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua, perlahan lahan datang mendekati. Berkata menawarkan jasa: 

"Biarlah kutolong, Akan kugigit pantatnya!" 

Mendongkol hati sie Liu Hwa mendengar  ancaman  Giok Cu. Tapi teringat-lah dia, bahwa pemuda itu benci kepadanya. Bagaimana kalau dia benar-benar membuktikan ancamannya. Kalau pantatnya sampai digigit  seorang pemuda di depan umum bisa runyam. oleh karena itu, ia segera menjatuhkan diri duduk dilantai, kemudian menangis karena mendongkol. 

"Hey, kenapa menangis? Bukankah aku belum menggigit pantatmu?" Giok Cu berteriak. 

Sebenarnya Nie Sun Kiong  tersinggung,  Betapapun,  Sie Liu Hwa adalah isterinya, Bagaimana ia bisa  membiarkan pantat isterinya dibicarakan oleh seorang pemuda didepan umum? Tapi mengingat pemuda itu adalah sahabat paman gurunya, terpaksa ia menelan rasa kehormatannya . sekonyong-konyong, diluar  dugaan Sie Liu Hwa melompat  bangun dan menggempur  pundaknya  Giok  Cu,  itulah serangan yang terjadi sangat cepat dan tiba-tiba, Giok Cu tak sempat mengelak atau menangkis. sedang Sin Houw tak mau merintangi, Maka pundak Giok Cu benar-benar kena di pukul. 

Giok Cu kaget sampai berteriak tertahan, Akan tetapi pada saat itu juga. 

Sie Liu  Hwa memekik tinggi. Kemudian duduk dilantai sambil memijit-mijit kedua tangannya. pekiknya. 

"Aduh, tanganku! Tanganku!" 

"Kenapa tanganmu?" tanya suaminya gugup,  ia  kaget tatkala melihat  tangan Sie Liu  Hwa bengkak kemerahan, sekejap itu pula tahulah ia, bahwa hal itu telah terjadi akibat kena pantulan ilmu tenaga dalam Sin Houw, Pantas saja Sin Houw tak mau menangkis atau mencoba merintangi ketika Sie Liu Hwa menyerang Giok Cu, sebaliknya rombongan murid murid Sim Pek Eng, mengira bahwa bengkaknya  tangan  Sie Liu Hwa adalah akibat menyerang Giok Cu.  Karena  Giok Cu tadi diperkenalkan sebagai putera  Lim Beng Cin, mereka percaya bahwa pemuda itu berkepandaian tinggi! 

Oleh pekik Liu Hwa, maka Kiang  Yan  Bu tersadar.  segera ia berdiri dan memberi hormat kepada Sin Houw, Katanya: 

"Susiok, Benar-benar aku menyesal, aku  seorang keponakan yang tak tahu diri. sekarang sudilah  susiok menolong Sie sumoay?" 

Sikap Sin Houw berbeda dengan tadi, ia bersikap kaku dan berwibawa sama sekali ia  tidak  mendengarkan  permintaan Yan Bu, sahutnya pendek: 

"Apakah kau menyadari kesalahanmu ?" 

Tak berani  Yan Bu berkeras kepala seperti tadi. ia menundukkan kepala. 

"Ya, susiok. Aku salah." sahutnya 

"Aku telah merobek surat kesaksian Sim tayhiap, juga tidak seharusnya aku membantu The sie Ban."  Sin Houw menarik napas. Katanya memberi nasihat: "Memang, Aku sangat menyesal, apa sebab kau merobek 

surat kesaksian itu, Hampir saja kau  menimbulkan  korban entah berapa puluh orang. Karena itu kau harus bisa berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, Tentang sikapmu membantu The tayhiap, sama sekali tidak  salah.  itulah perbuatan setia kawan yang sejati . Karena itu, kau  bahkan harus dipuji.  Hanya saja kau belum tahu kedudukan  The tayhiap sebenarnya."  

Kiang Yan Bu heran, Bertanya: "Bukankah The Sie Ban seorang pendekar yang kenamaan? Apa maksud susiok menyangsikan kejujurannya?" 

The Sie Ban yang ikut mendengarkan pembicaraan itu, merasa tersinggung . Katanya: 

"Apakah aku seorang penjahat?"  Mendengar  seruan  The Sie Ban, cepat cepat Sin Houw menjawab: 

"The tayhiap, janganlah salah paham. Bukan  kau  yang kami maksudkan." 

"Lantas siapa?" The Sie Ban menegas . 

Thio Sin Houw menyapu hadirin dengan pandang matanya yang tajam, Kemudian berhenti kepada Tan Hok Cin dan Khu Cing San  yang nampak duduk meringkas  diantara  para tetamu. Tatkala Sin Houw hendak  membuka  mulutnya,  tiba  tiba masuklah beberapa orang muridnya Sim Pek Eng, yang mengiringi dua orang yang berpakaian sebagai orang dusun. 

Hadirin terkejut memperhatikan mereka. Yang berjalan disebelah kiri, seorang pria berusia kira-kira lima-puluh lima tahun. Dan yang berada  disampingnya,  seorang  wanita sebaya usianya, Dia menggendong seorang  anak  berumur dua atau tiga tahun. Pandang mereka tajam luar biasa. Dan tiba-tiba saja Sie Liu Hwa melompat bangun dan lari menyongsongnya sambil berseru: 

"Susiok dan subo!" Nie Sun Kiong dan Kiang Yan Bu ikut menyongsong. Maka sekarang tahulah hadirin, bahwa mereka  berdua adalah dua suami-isteri Sun Ho Liang. 

Sin Houw tak dapat berdiam diri  saja.  Mendengar  seruan Sie Liu Hwa, ia segera mengikuti Kiang Yan Bu dan Nie Sun Kiong menyongsong mereka. Dengan sekilas pandang ia menatap wajah kedua kakak seperguruannya itu.  

Sun Ho Liang nampak sederhana, sedang  sun-sie IKau isterinya berwajah galak. Kesannya tak beda dengan Sie Liu Hwa. 

Sie Liu  Hwa memperlihatkan kedua tangannya  kepada Sun-sie seperti hendak mengadu. Tatkala Sin Houw hendak memberi hormat, Sun-sie sedang menundukkan pandang kepada dua tangan Sie Liu Hwa yang bengkak. Kedua alisnya bergerak-gerak,sambil mengurut ia bertanya: 

"Kenapa?" 

Itulah pertanyaan yang di harapkan. Terus  saja  Sie  Liu Hwa berputar sambil menuding  Sin  Houw. Dengan  masih menahan rasa mendongkol dan penasaran-nya , ia menjawab: 

"Subo, dialah orangnya. Dia . mengaku sebagai   paman guru, Tapi ia melukai kedua tanganku  dan   mematahkan pedang pemberian subo." 

Sin Houw terkejut,  jawaban Sie  Liu Hwa benar-benar mengandung racun. iapun menyesal apa sebab sampai mematahkan pedang Sie Liu Hwa, Kalau saja ia tahu bahwa pedang itu pemberian kakaknya seperguruan, pastilah tidak akan berbuat begitu, Maka cepat-cepat dia  membungkuk hormat sambil berkata mohon maaf: 

"Sama sekali tak kuketahui  bahwa  pedang  itu pemberianmu. Maafkan kelancangan adikmu .,." 

"Adik? Adik dari mana?" dengus Sun-sie heran. pendekar wanita itu segera berpaling kepada suaminya. Mereka berdua saling pandang, Kata Sun-sie minta pembenaran: "Khabarnya, memang suhu mempunyai seorang murid muda belia. Apakah dia? Kalau benar dia, kenapa tak tahu diri?"  "Belum pernah aku bertemu dengan dia." sahut suaminya pendek. 

"Hm." dengus Sun-sie. "Meskipun andaikata dia mewarisi seluruh kepandaian guru, mestinya harus sadar dan tahu diri, Bahwasanya ilmu kepandaian itu  tiada  batasnya,  Kalau merasa diri sudah pandai, diatasnya masih  ada  dewa. Dewapun harus tahu diri pula, bahwa diatasnya masih ada Tuhan, Hm... baru saja memperoleh sekelumit kepandaian, lantas saja menghina yang lemah. pantaskah itu? seumpama Liu Hwa salah bukankah masih ada gurunya? Biarlah dia yang menegur. Kita berdua hanya bi sa memperingatkan saja," 

"Kiang suheng juga menerima penghinaan, subo." Liu Hwa mengadu. 

"Apa?" Sun-sie terperanjat sepasang alisnya  terbangun "Ha, kami berdualah yang wajib menghajarnya bila ia salah. Kenapa paman gurunya ikut campur ?" 

Sin Houw merasa diri bersalah lalu menjawab: "Kalau begitu maafkan kelancangan adikmu." 

"Kau telah mematahkan pedang pemberianku . Artinya kau 

sama sekali tidak menghargai kakakmu." kata Sun sie sengit. "Andaikata guru sangat sayang, kepadamu, tidak  sepatutnya kau lantas berlagak dan sama sekali tidak menghargai kakak seperguruanmu?" 

Sin Houw bungkam. Dan segenap  hadirin  jadi  tak  enak hati, Mereka melihat betapa galak pendekar wanita itu, kata- katanya makin lama makin sengit. Tanpa  mengusut latar belakangnya, lantas dia  menjatuhkan  palu  hukuman.  Sung guh keterlaluan! 

 (Oo-dwkz-oO) 

MURID-MURIDNYA Sim Pek Eng  gelisah bukan main. sebaliknya The Sie  Ban  dan  kawan-kawannya,  termasuk  Kiang Yan Bu, Nie Sun Kiong dan  Sie  Liu  Hwa  mendapat  angin baru, Mereka kini bisa menegakkan kepalanya kembali. Tak usah menunduk lagi karena merasa malu dan segan.  "Subo!" kata Sie  Liu  Hwa. "Setelah  mengaku sebagai paman guru, tiba-tiba diapun datang membawa-bawa nama Gin-coa long-kun." 

"Gin-coa Long-kun siapa?  Lim Beng Cin maksudnya?" potong Sun-sie sengit. 

"Benar! Dia selalu mengunggulkan, dan atas nama Gin-coa Long-kun pula ia merobohkan Kiang suheng dan Nie suheng." 

Mendengar perkataan itu, cuping hidung Sun-sie bergerak- gerak, suatu tanda, bahwa darahnya meluap. Dan  melihat hal itu, sin Houw tetap bersikap sabar dan mengalah. 

Sebenarnya tanpa disengaja suami-isteri itu datang ke tempat itu, sudah setahun lebih, mereka merantau untuk mencari obat bagi anaknya, itulah anak yang digendong Sun- sie. Menurut para ahli, anak itu  menderita  penyakit  dalam sejak didalam kandungan.   

Terjadi akibat goncangan hebat, tatkala ibunya berkelahi melawan seorang musuh tang-guh, Dan untuk bisa menyembuhkan penyakit  itu,  mereka  harus  menemukan sebutir atau dua butir buah mustika yang jarang sekali terdapat didalam dunia. 

Tetapi sebagai orang tua, mereka tidak mengenal lelah dan putus asa. Dari satu tempat ke tempat lainnya  mereka merantau . Tapi selama itu, anak mereka semakin kurus. Tak mengherankan, mereka jadi cemas dan gugup,  

Menuruti nasihat seorang tua, mereka mendaki gunung Bu- tong menemui Tie-kong tianglo - dan melihat penyakit anak itu, Tie-kong tianglo jadi teringat kepada Sin Houw,  Cucu- muridnya itupun dahulu menderita penyakit macam demikian, Entah bagaimana khabarnya, Tie-kong tiangloo tidak mendengar lagi. 

Dalam keadaan lesu suami isteri itu melanjutkan perjalanannya. Kalau Tie-kong Tianglo  saja tidak sanggup mengobati, siapa lagi yang  dapat  menolong?  Tatkala memasuki daerah itu mereka mendengar kabar, bahwa  muridnya berada ditempatnya The  Sie  Ban,  Teringatlah mereka bahwa muridnya  selalu  bersama Sie  Liu Hwa dan suaminya. Dia-pun banyak sahabatnya, Mungkin  sekali  dia bisa menolong. Maka berangkatlah mereka mencarinya. Dan demikianlah mereka tiba dirumah sim Pek Eng. 

Sun-sie memang seorang pendekar yang keras adatnya. Mudah sekali tersinggung hatinya. Apalagi pada waktu itu ia sedang bersedih hati memikirkan anaknya. Mendengar muridnya kena hina, ia bersakit hati. Hinaan itu sendiri seakan- akan penghinaan terhadap anaknya yang kurus kering seperti monyet kecil.  

Tadinya ia masih mau bersabar karena Sin Houw disebut paman guru oleh Liu  Hwa, Tetapi setelah mendengar pula bahwa Sin Houw datang dengan membawa-bawa nama Gin- coa Long-kun, ia merasa seperti ditantang, seketika itu juga ia berpaling kepada  suaminya dan minta keterangan dengan suara sengit: 

"Coba katakan padaku, apakah  Lim Beng Cin  masih hidup?" 

"Menurut khabar, ia sudah meninggal, Tetapi apakah benar demikian, hanya Tuhan yang tahu." jawab suaminya. 

Pendekar ini masih  bisa  bersikap  tenang,  meskipun hatinya berduka. 

Giok Cu mendongkol menyaksikan Sin Houw ditegur pulang-balik dengan kata-kata kasar. iapun mendengar  Sun- sie menyinggung-nyinggung nama ayahnya pula, Nada suaranya mengejek dan merendahkan.  Keruan  saja tak  dapat ia menahan diri, Terus saja membentak: 

"Kau bilang, diatas manusia masih ada dewa, Kenapa kau menghina orang?" 

"Kau  siapa?"  Sun-sie  membalas  membentak  dengan gusar. 

"Dialah anaknya Lim Beng Cin." Sie Liu Hwa memberi keterangan.  Mendengar keterangan Liu  Hwa,  sekonyong-konyong tangan Sun-sie bergerak. Diantara  sinar lampu, nampaklah sebuah benda berkeredep menyambar Giok Cu. Kaget  Sin Houw menyaksikan hal itu. Hendak ia mencegah, tetapi sudah tidak sempat lagi. Pada saat itu Giok Cu me-mekik, pundak kirinya kena terhajar pa ku Sin-liong teng, walaupun ia sudah mengelak, Oleh rasa kaget, Sin Houw melompat dan memegang pundak Giok Cu. Di lihatnya paku itu membenam dalam di pundak kiri. 

Giok Cu kesakitan. Tak dapat lagi ia menahan diri . Hendak  ia membalas menyerang, Cepat-cepat  Sin  Houw mencegahnya. Berkata membujuk: 

"Jangan bergerak. Biar aku menolong dahulu." 

Dengan dua jarinya, Sin Houw menjepit ujung paku itu. ia mencabut perlahan-lahan, setelah tercabut kira  kira tigaperempat bagian, ia mengerahkan tenaga dalamnya. Dan paku itu dapat di-cabutnya,  kemudian  dilemparkan  diatas lantai. 

Sim Cu Hwa mendekati dengan membawa saputangan. ia menyerahkan saputangan  itu kepada Sin Houw. Dengan saputangan itu Sin Houw menyusuti darahnya . setelah  bersih Cu Hwa menyerahkan saputangan lagi, dan Sin Houw membalut luka itu. 

"Dengarlah perkataanku," bisik  Sin  Houw  sambil membalut, "Jangan layani dia." 

"Kenapa?" Giok Cu bertanya dengan hati penasaran. 

"Kita berdua harus menghormati merekalah kakak seperguruanku. Karena itu tak dapat aku melawannya." 

Giok Cu menatap wajah Sin Houw melihat pemuda itu bersungguh sungguh, terpaksalah ia memanggut dengan lesu, Meskipun hatinya mendongkol dan penasaran   bukan  main, tapi ia terpaksa menahan diri. 

Sun-sie menunggu  sampai Sin Houw selesai membalut luka Giok Cu. sebagai seorang yang termasuk golongan  pendekar besar, perlu ia membawa sikapnya demikian. Kemudian berkata dengan mencibirkan bibir: 

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan pendekar yang menamakan dirinya Gin-coa Long-kun. Kabarnya ia  seorang sakti dan berkepandaian sangat  tinggi,   sampai kemasyurannya menggetarkan  jagad.  Tetapi,  ternyata anaknya tak dapat mengelakkan sambaran pakuku saja, Padahal, aku hanya mencoba-coba, Kalau begitu, apakah Gin- coa Long-kun hanya bernama kosong belaka?" 

Giok Cu melemparkan pandang kepada Sin Houw, Kalau menuruti kata hatinya, ingin  ia  membalas mendamprat. Tetapi ia sudah berjanji kepada Sin Houw, tidak akan melayani Sun- sie. sebaliknya pada saat itu, Sin  Houw tertegun  seperti kehilangan pegangan. Di dalam hati pemuda itu berpikir: 

"Sucie benar-benar berada dalam kesalah-pahaman yang hebat, Jika aku bantah, pastilah ia merasa kutentang, Rasa marahnya akan menghebat jadinya. Biarlah aku berdiam diri saja," 

Rupanya Sun-sie bisa menebak kesulitan Sin Houw, Lalu berkata memutuskan: 

"Kau membungkam mulut. Apakah karena kau segan berbicara dihadapan hadirin? Atau kau sengaja mengesankan bahwa kau benar-benar anggauta Hoa-san pay sehingga demi menjaga pamor rumah perguruan tak sudi bertengkar dengan kami? Baiklah, tak jauh dari sini terdapat sebuah bangunan rusak. itulah bangunan tangsi kaum penjajah yang  telah ditinggalkan Nah, aku harap kau besok hari datang  menemui aku menjelang matahari tenggelam, Kami ingin mencoba kepandaianmu, apakah benar-benar kau adalah adik seperguruan kami." 

Semua orang tahu, meskipun Sun sie seolah-olah sudah setengah mengakui bahwa Sin Houw adalah adik seperguruannya dan walaupun maksudnya hanya untuk mencari keyakinan dengan jalan menguji kepandaian pemuda itu, sebenarnya merupakan tantangan belaka. Tak  mengherankan, Sim Pek Eng yang merasa berhutang nyawa terhadap Sin Houw jadi sibuk dan berkhawatir. Cepat-cepat ia berdiri. Dan setelah memberi hormat de ngan merangkapkan kedua tangan didepan dadanya, ia berkata dengan suara rendah : 

"Kalian berdua adalah sepasang pendekar besar pada zaman ini. Lie hiap  termashur  sebagai  seorang  sakti bertangan kilat, maka bukan kepalang girang hati kami atas kedatangan kalian berdua . Mengundang saja,  sebenarnya tiada keberanianku Maka .. ," 

"Hm." Sun-sie memotong dengan mengejek, ia menoleh pada suaminya. Tapi  suaminya  nampak  gelisah  karena merasa tak enak sendiri memperoleh penghormatan berlebih- lebihan, mengingat usia Sim Pek Eng sebaya dengan usianya sendiri. Bahkan Sim Pek Eng lebih tua kedudukannya sebagai pemimpin laskar pejuang yang menentang kaum penjajah. 

"Thio siauwhiap datang kesini bukan bertujuan untuk membuat malu murid kalian berdua." Sim Pek Eng mencoba menjelaskan. "Dia datang karena mendengar aku dalam kesulitan dan bermaksud mendamaikan suatu persengkataan, Keti-ga murid kalian mengetahui sendiri dengan jelas. Karena itu, perkenankanlah aku esok pagi menyelenggarakan suatu pesta tersendiri untuk menyambut kedatangan kalian berdua. Juga sebagai pernyataan  syukur  dan gembira  atas bertemunya kalian dengan adik seperguruan" 

Tetapi Sun-sie tidak merasukkan perkataan Sim Pek Eng didalam pendengarannya . Dia bahkan membuang mukanya - tatkala Sim Pek  Eng  menyinggung  istilah  adik seperguruannya, ia seperti diingatkan. Terus saja berkata menegas kepada Sin Houw: 

"Bagaimana? Kau berani datang?" 

"Dimanakah aku harus menemui suci dan suheng berdua? Meskipun suci dan suheng hendak melukai aku, takkan berani aku mengelak." sahut Sin Houw. 

"Hm, siapa yang mengijinkan kau memanggil aku suci?"  dengus Sun-sie "Palsu atau tidaknya tentang dirimu, harus kubuktikan dahulu. jangan panggil suci dahulu kepadaku, juga aku melarang kau memanggil suheng terhadap suamiku . Tunggu sampai aku mengujimu dan baru kita membicarakan tengang panggi lan itu, Mari!" 

Sun-sie menarik tangan Liu Hwa dan mendahului berjalan meninggalkan pesta perjamuan. Baik Sin Houw maupun sim Pek Eng tak berani mencegahnya.  Mereka tertegun tatkala mengikuti kepergian mereka dengan pandang matanya. Tiba- tiba Sin Houw melihat sesuatu yang bergerak diantara hadirin. Tentu saja ia lari melesat sambil berteriak: 

"Hey, tunggu!" 

Sejak tadi Sin Houw telah membagi pandang dan perhatiannya kepada Tan Hok Cin dan Khu Cing San yang nampak duduk diantara  hadirin, Disampingnya duduk pula seorang berkumis dan bercambang tebal   dengan perawakannya yang tinggi besar, Sin Houw belum kenal siapa dia.  

Tapi melihat keakrabannya, pastilah ia termasuk sekutu mereka berdua. Kesan orang itu gagah, pandangnya berpengaruh Dikemudian hari ia memperkenalkan diri sebagai seorang pendekar golongan Siauw-lim bukan pendeta. Orang mengenalnya dengan nama Lo Han Bok. 

Selagi Sim Pek Eng  memperlihatkan dua  helai surat kesaksian, Tan Hok Cin berdua Khu Cing San mulai gelisah. Mereka berdua saling membisik dengan wajah berubah. Kemudian Sin Houw menyinggung tentang kawanan penjahat. syukur suami-isteri Sun Ho Liang datang, sewaktu Sin Houw mengarahkan pandangnya kepada mereka berdua. sekarang yakin-lah mereka, bahwa anak muda itulah sebenarnya yang mencuri surat perintah dan dua helai surat kesaksian kemarin malam, segera mereka berbisik kepada Lo Han Bok agar meninggalkan tempat itu saja. Tetapi Lo Han Bok tak mau bergerak dari  tempat  duduknya.  Katanya memberikan jawaban:  "Tunggu sampai saatnya." 

Mereka berdua menghela napas, namun mereka nampak tunduk. Maka jelaslah , bahwa Lo Han Bok berpengaruh besar terhadap mereka berdua. Dan tatkala menyaksikan betapa Sin Houw menjadi jinak menghadapi suami-isteri Sun Ho Liang, mereka berdua diam-diam ikut bersyukur dan girang. Mereka memuji 

kebesaran Tuhan, justru pada  saat  itu,  Lo  Han  Bok berkata: 

"Sekarang saatnya yang baik, Nan-ti, bila suami-isteri itu meninggalkan tempat, kita bertiga mengikuti seakan-akan pengiringnya, Kalian berdua  menyusup diantara rombongan Hoa-san pay. Kukira, Sin Houw takkan berani berbuat  apa- apa." 

Tan Hok Cin dan Khu  Cing San  girang mendengar saran  itu, Maka begitu Sun-sie memutar tubuh hendak meninggalkan tempat itu, cepat-cepat mereka berdua hendak mendekati rombongan murid. Dan apabila rombongan murid  mulai bergerak hendak mengikuti Sun Ho Liang dan isterinya, cepat- cepat mereka mendahului .  

Akan tetapi pandang mata Sin Houw benar-benar tajam. Gerak-gerik mereka tak luput dari pengamatannya  meskipun lagi menghadapi kesulitan. 

Sebaliknya Sun-sie salah paham, ia mengira Sin  Houw hendak mencegah kepergiannya  atau merintangi, sebagai seorang pendekar yang merasa berkedudukan tinggi,  tak senang ia diperlakukan demikian. semua ucapan dan gerakannya merupakan undang-undang yang tiada batal oleh alasan apapun, Maka bentaknya: 

"Benar-benar kau manusia busuk tak tahu diri! Kau berani mengganggu aku!" 

Membentak demikian, ia memutar tubuhnya seraya melayangkan tangannya. Arah sasarannya kepala, itulah salah satu macam serangan yang biasanya tak pernah gagal. ia  melatihnya terus menerus  selama  tigapuluh  tahun lebih dengan suaminya. Pernah  ia meruntuhkan tujuhbelas ekor burung yang sedang terbang dengan serangannya itu, Bisa di bayangkan betapa cepat dan bahayanya. 

Hati Sin Houw tercekat. Cepat ia  mengelak.  Tangan  Sun- sie lewat diatas  pundaknya dan menyerempet selintasan, Meskipun demikian, ia merasa pedas sekali.  Insaflah   ia, bahwa kakak seperguruan itu benar-benar tinggi ilmu kepandaiannya . sebaliknya, Sun-sie terperanjat heran. ia jadi penasaran. cepat ia membalikkan tangan dan membabat pinggang, Kali ini ia mengerahkan tenaganya . 

Menghadapi serangan ini, Sin Houw  merasa  wajib menahan diri, ia menjejakkan kakinya dan melompat mundur melintasi meja dan kursi. Dengan demikian, dua kali berturut- turut Sun-sie gagal serangannya. Karena masih menggendong anaknya, tak dapat ia bergerak dengan leluasa. Teringat pula bahwa ia telah memutuskan untuk mengadu kepandaian esok petang, terpaksa ia menelan rasa mendongkol dan penasaran. Dan ia meneruskan berjalan dengan membimbing tangan Liu Hwa. 

Tan Hok Cin dan  Khu  Cing San  tak sudi kehilangan kesempatan yang bagus itu, juga Lo Han Bok yang berada dibelakangnya, Mereka lantas menerobos keluar  rombongan dan lari secepatnya. 

"Hey, mau lari kemana? Berhenti!" seru Sin Houw, Karena terpaksa melompat mundur untuk  menghindarkan serangan Sun-sie, jaraknya kini kian menjauh dari mereka  bertiga. Namun Sin Houw tidak mau kehilangan mangsanya. Tak ubah seekor burung, ia  terbang  melintasi  kursi  dan meja, Tangannya berkelebat dan menyambar Lo Han Bok, yang segera roboh kena cengkeraman. 

Dalam pada itu Tan Hok Cin dan Khu Cing San sudah berhasil lolos dari pintu gerbang. waktu itu bulan sipit nampak remang-remang. suasana malam gelap pekat, Benar-benar Tuhan melindungi mereka berdua.  Begitu  melintasi  tirai malam, tubuh mereka tiada  nampak lagi. Mereka seperti  hilang teraling iblis. 

Sin Houw tak berani mengejar. ia tahu,  mereka berdua termasuk jago  yang  mempunyai  kepandaian  tinggi.  Kalau tidak, masakan pantas menjadi sahabat Sim Pek Eng yang dihormati dan disegani itu, Dalam malam gelap, mereka bisa menyerang balik. 

"Biarlah untuk sementara mereka kabur. Aku telah berhasil menangkap seorang kawannya. pastilah aku dapat memperoleh keterangan dari mulutnya." pikir Sin Houw, ia lantas memutar tubuhnya hendak balik kembali memasuki gerbang, sekonyong-konyong ia mendengar suara seseorang berseru padanya: 

"Hey, sahabat kecil! Baru sepuluh tahun aku tidak bertemu denganmu. Dan kepandaianmu sudah maju begitu pesat! selamat! selamat!" 

Goncang hati Sin Houw mendengar suara itu, itulah suara yang pernah dikenalnya dan selalu meresap didalam hatinya, segera ia menoleh dan melihat seorang  tua  mengempit  Tan Hok Cin dan Khu Cing San. orang itu berkumis dan berjenggot sudah putih semua, siapa lagi kalau bukan Bok-siang  tojin, yang dahulu mewarisi ilmu ringan tubuh kepada Sin Houw. 

"Suhu!" seru Sin Houw girang. Terus saja  ia  lari menghampiri dan berlutut. 

Bok-siang tojin tertawa berkakakan. sahutnya: 

"Eh, sejak kapan perutmu berubah? Dahulu kau tak sudi menyebutku suhu. Akupun tak sudi kau sebut sebagai gurumu 

. Kau berlutut pula padaku. Apa-apaan, Hey, coba lihat,  siapa dia yang berada dibelakangku!" 

Sin Houw mengalihkan pandang. ia melihat seorang  laki- laki berusia kurang lebih empatpuluh delapan  tahun. Rambutnya sudah setengah beruban. wajahnya menceritakan pengalaman yang matang. Dan melihat orang  itu,  Sin  Houw  kian menjadi girang.  

Dialah Thio Hian Cong yang dahulu melindungi mati  matian sampai nyaris mengorbankan jiwanya sendiri. cepat ia lari menghampiri dan merangkulnya erat-erat. 

"Susiok!" serunya penuh haru."Susiok cepat menjadi tua." Thio Hian Cong tertawa senang. ia tidak menjadi 

tersinggung dengan pertanyaan Sin Houw, Sahutnya: 

"inilah penanggungan orang yang hidup dalam kancah perjuangan. perhatian hidup terlalu terbagi-bagi." 

Sin Houw memeluknya kian  erat,  Keadaannya  jauh berbeda dengan Bok-siang tojin, Meskipun usia orang tua itu sudah lanjut, namun raut wajahnya nampak segar bugar. 

"Tapi susiok tak kurang suatu apa,  bukan?"  tanya  Sin Houw. 

"Seperti kau lihat, hidungku tetap satu, Tiada yang kurang." sahut Thio Hian Cong. 

Mereka berdua lalu berjalan bergandengan tangan. Hati mereka berdua terharu tergoncang pertemuan itu, Kalau saja tidak mendengar suara The Sie  Ban, mereka tidak akan tersadar. 

"Hey!" seru jago itu, "Tan Hok Cin dan Khu  Cing  San adalah tamu undanganku, Kenapa kau perlakukan demikian?" 

Sin Houw seolah-olah tidak menggubris seruan The Sie Ban. ia menghadap kepada Sim Pek Eng. Kemudian pada hadirin, Memperkenalkan mereka berdua yang baru datang. 

"lnilah Bok-siang tojin, salah seorang guruku. Dan ini  adalah Thio Hian Cong, salah seorang pembantu panglima Lie Hui Houw, Dia seorang ahli ilmu silat tangan  kosong,  dan dialah guruku yang pertama." 

Semua hadirin menjadi terkejut mendengar nama Bhok- siang tojin, Nama itu tidak asing bagi mereka, namun  jago  tua itu tak berketentuan tempat-tinggalnya. ia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya tak ubah iblis. Namun ilmu kepandaiannya sangat tinggi, termasuk golongan angkatan tua yang sejajar dengan guru mereka semua. Karena itu, serentak  mereka memberi hormat. 

"Sudahlah! jangan menghormati aku seperti malaikat!" kata Bhok-siang to-jin, "Aku adalah manusia yang sebenarnya tidak berguna. Kerjaku hanya makan nasi atau  menabuh  khim. Sama sekali tiada perhatian terhadap masalah penghidupan yang hanya meruwetkan hati melulu. Tapi pada suatu hari aku mendengar beberapa orang saling membisik hendak menjual jasa terhadap  kaum penjajah, Nah, inilah lain! orang  boleh jahat, boleh jadi maling, Tapi kalau sampai mau menjual bangsa dan negara kepada orang asing adalah keterlaluan. Maka tak dapat lagi aku tinggal berpeluk tangan. segera aku menyusul kemari, kudengar malam ini, para pejuang kesejahteraan bangsa dan  negara  sedang berkumpul, Nah, hendak kulaporkan para penghianat itu kemari..." 

"Siapakah yang berhianat?" The Sie  Ban  tersinggung. sebab dia merasa sibuk melahirkan suatu persekutuan balas dendam akhir-akhir ini. "Apakah mereka bertiga?  Mereka adalah jago-jago kenamaan sejak belasan tahun yang lalu.,." 

"Benar. Diantaranya, mereka bertiga inilah." jawab Bhok- siang tojin. 

 (Oo-dwkz-oO) 

KAGET DAN HERAN, The Sie Ban mendengar jawaban Bhok-siang tojin, Membela: 

"Tidak mungkin! Mereka bertiga adalah sahabatku sejak belasan tahun yang lalu, Akh, janganlah memfitnah demikian. Fitnah lebih jahat dari pada pembunuhan!" 

Bhok-siang tojin tersenyum lebar, sambil membanting Tan Hok Cin dan Khu Cing San diatas lantai, ia menjawab: 

"Aku adalah orang baik, Belum pernah  aku  memfitnah orang, mendendam atau mencampuri masalah penghidupan. secara kebetulan sekali, tatkala aku hendak mencuri ayam di kota, kudengar mereka saling  membisik. Mereka berada ditangsi tentara penjajah, Dan merencanakan hendak menghancurkan laskar perjuangan Thio Su Seng, Maka kuikuti  mereka dan kuperhatikan sepak terjangnya, Kenapa  aku memfitnah?" 

THE SIE BAN  adalah  seorang  pendekar  yang  kenamaan. ia jadi tersinggung - tanyanya dengan suara tegas: 

"Apakah lo-cianpwee mempunyai bukti?" Bhok-siang tojin tertawa. jawabnya. 

"Bukti? Apakah aku perlu mempunyai bukti untukmu? 

ucapan Bhok-siang tojin sudah menjadi  jaminan.  Apa yang kukatakan, itulah undang-undang yang berlaku. 

"Tentu saja, siapapun tak dapat menerima alasan itu." The Sie Ban jadi panas hati. Berkata tak senang: 

"Apakah alasannya untuk bisa mempercayai setiap patah perkataan lo-cian pwee?" 

Sekarang Bhok-siang tojin yang merasa tersinggung.  ia membentak: 

"Gurumu sendiri tak berani mengucap demikian terhadapku, Kenapa kau berani begitu?" 

Sementara itu sin Houw cepat cepat bertindak. ia kenal perangai dan tabiat gurunya, Kalau sampai kalap, akan jadi kacau-balau, segera ia memperlihatkan dua helai surat, dan berkata kepada The Sie Ban: 

"The tayhiap, tolong kau baca sendiri surat ini, agar hadirin dapat mendengar dan mengadili." 

Dua kali sudah The Sie Ban  dikacaukan oleh lembaran surat, Yang pertama surat kesaksian, dan yang kedua adalah surat ini, yang kini berada di  tangannya. Dengan  hati berdebar, ia membaca. Dan baru membaca beberapa baris kalimat, ia kaget sampai berjingkrak. itulah surat perintah dari pejabat pemerintah penjajah terhadap Tan Hok Cin dan Khu Cing San. surat perintah untuk  mengadu domba para pendekar  dan laskar pejuang bangsa agar saling bunuh-membunuh.  

Dan mereka berdua di bantu oleh seorang kepercayaan  pejabat pemerintah penjajah yang bernama Ku Cie Tat. Surat perintah itu diperkuat oleh dua tanda tangan dan dua cap jabatan. 

Setelah The Sie  Ban selesai membaca surat itu,  para hadirin gempar. Pian-cong tojin lompat mendekati Lo Han Bok, membentak. 

"Benarkah kau anak murid Siauw lim pay?" 

"Benar! Akulah bawahan Ku Cie Tat!" sahut Lo Han  Bok yang merasa terpojok dan menjadi nekad. 

"Kalau begitu, kau pengacau jahanam, Ku Cie Tat sudah lama meninggalkan rumah perguruan. Dia seorang penghianat terkutuk. Kau menyebut namanya. Bagus!" bentak Pian-cong tojin sengit. Tangannya melayang dan Lo Han Bok terhajar pulang pergi sampai kedua pipinya babak belur. 

"Kau menghajar orang yang tidak berdaya. Apakah tidak malu?" teriak Lo Han Bok. "Aku memang pengikut Ku Cie  Tat. Dia memang seorang pendekar yang mengerti  kehendak jaman. Kaum pe-ngacau harus dibasmi, karena itu Ku Cie Tat bergabung dengan tentara Monggolia, Bukan sebagai penghianat, tetapi justru hendak mengamankan negara dari kekacauan " 

Belum lagi selesai Lo  Han  Bok  mengucapkan perkataannya, tinju  Pian  Cong  tojin  sudah  mendarat didadanya Dan kena pukulan itu, Lo Han Bok roboh tak 

sadarkan diri. Menyaksikan hal itu,semua hadirin puas. Tetapi Tan Hok Cin dan Khu Cing San terbang semangatnya. Mereka sadar akan bahaya yang mengancam dirinya. Mereka jadi berputus asa. 

Pian-cong tojin masih hendak memukul lagi untuk membinasakan Lo Han Bok, akan tetapi Sin Houw mencegah: 

"Biarlah dia memberi keterangan  yang lebih jelas lagi tentang mata rantai penghianatannya. Kukira akan sangat berguna bagi kelanjutan perjuangan kita." 

Thio Sin houw sesungguhnya mempunyai alasan sendiri.  Mendengar Lo Han Bok menyebut seorang bernama  Ku  Cie Tat teringatlah dia kepada  pengalamannya,  sepuluh  tahun yang lalu tatkala dia datang ke rumah perguruan Siauw-lim Sie bersama Tie-kong Tianglo.  

Dialah dahulu seorang anak yang memiliki-otak sangat cerdas, sampai Tie-kong Tianglo ikut mengaguminya, Kalau sekarang dia dinyatakan sebagai seoranq penghianat, pastilah tidak bekerja seorang diri. ia percaya,  bahwa  mata rantai penghianatan itu pasti tersebar sangat luas. 

Saran sin Houw disetujui hadirin. 

Murid-muridnya Sim Pek Enq lalu menggusur Lo Han  Bok ke dalam kamar tahanan, Dan karena sudah  larut   malam pesta perjamuan ditutup. Dan pada saat itu The Sie Ban mendekati Sim Pek Eng, ia menyesal bukan main atas kebodohannya.  

Kalau saja Thio Sin  Houw tidak mencampuri peristiwa persengketaan itu, pastilah perbuatannya akan menimbulkan bencana besar bagi perjuangan bangsa. Alangkah besar dosanya. Dosa yang tak terampuni lagi. Karena itu, ia minta maaf kepada Sim Pek Eng  dan  menyatakan terima kasih kepada Sin Houw, Katanya lagi: 

"Thio hiantee! Rasa terima kasihku tak terhingga. Mataku benar-benar lamur sampai tidak mengerti diriku menjadi kuda tolol. inilah akibatnya kalau bertindak terburu napsu.  Yang hanya menuruti gejolak napsu pribadi. 

Andaikata hiantee tidak membukakan kedua mataku, dosa yang bakal kuderita tiada lagi memperoleh keampunan." 

"Akh, siapapun akan berbuat demikian dan sesaat karena tidak menyadari.  Tayhiap berani mengakui kesalahan itulah suatu bukti, bahwa tayhiap sesungguhnya seorang ksatria. Kalau aku mengetahui siapakah Tan Hok Cin dan Khu  Cing San, itulah suatu kebetulan belaka." Sin Houw  membesarkan hati, Kemudian ia menceritakan betapa surat perintah  itu diperolehnya.  Lega hati The Sie Ban mendengar perkataan Sin Houw. segera ia mengajak rombongannya pulang. sementara tetamu-tetamu lainnya bubaran pula, Sim Pek Eng memasukkan Tan Hok Cin dan Khu Cing San ke dalam kamar tahanan, ia berjanji kepada Sin Houw hendak mencari keterangan sebanyak-banyaknya dari mulut mereka berdua. 

Sekarang sunyi lah suasana serambi rumah Sim Pek Eng, Tuan rumah itu mengajak Thio Hian Cong beristirahat di kamar sebelah, sedang Giok Cu tetap mendampingi Sin Houw yang duduk berbicara dengan Bhok-siang tojin. 

"Kau bawa saja dia kekamarmu " ujar Bhok-siang tojin kepada Cu Hwa. 

Sudah tentu wajah Cu Hwa berubah hebat, karena ia disuruh membawa seorang pemuda  kedalam  kamarnya, Karena tidak berani membantah perintah Bhok-siang tojin, ia hanya berpura-pura tidak mendengar. 

Bhok-siang tojin tertawa. ia dapat membaca keadaan hati gadis itu dan berkata: 

"Kouwnio! Diapun seperti kau. Apa kah kau tidak mengetahui?" 

Giok Cu terbelalak. Masih ia tak percaya. Menoleh kepada  Sin Houw dan minta penjelasan: 

"Apakah dia..." 

"Ya." Sin Houw mengangguk dengan tertawa, Lalu berkata kepada Giok Cu: 

"Perananmu sudah cukup, pakaianmu bukankah menyiksamu?" 

Luka dipundak  mengganggu  ketegaran  Giok  Cu,  ia nampak letih dan kesakitan, sahutnya malas: 

"Pakaianku dirumah penginapan. Kalau aku merasa terbelenggu, tinggal  membuka penutup kepala  ini, Kenapa susah payah?"  Sin Houw kenal tabiatnya, Gadis itu tidak boleh dipaksa. Maka ia mengalihkan pembicaraan kepada Bhok-siang tojin: 

"Bagaimana suhu bisa segera tahu,  bahwa  dia seorang wanita?" 

"Namanyapun kukenal juga. Bukankah dia Lim Giok Cu?" sahut Bhok-siang tojin. 

"Hey! Dari siapa suhu mengetahui namanya?" Sin Houw heran. 

"Dari mulutmu." jawab Bhok-siang tojin. 

Sin Houw saling pandang dengan Giok Cu. Tatkala hendak minta keterangan , Bhok-siang tojin berkata: 

"Sebenarnya sudah lima hari ini aku dan susiokmu mengikutimu dengan diam-diam. Kalau aku lantas mengetahui temanmu berjalan itu, sudahlah pantas. Aku senang, karena ternyata kau seorang ksatria benar. sama sekali tidak mengganggunya. Lagi pula ilmu kepandaianmu maju sangat jauh, Meskipun belum tentu dapat menjajari gurumu, akan tetapi aku sudah bukan tandingmu lagi." 

"Suhu terlalu memuji." kata Sin Houw dengan muka merah. "Umpama benar, itu adalah berkat ajaran suhu dulu." 

"Aku membicarakan keadaanmu sekarang, Bukan dulu!" Bhok-siang tojin membantah. 

Sementara itu Cu Hwa sibuk mengambilkan arak untuk menyuguhi Bhok-siang tojin, sehingga jago tua itu menjadi girang bukan kepalang. Terus saja ia meneguk araknya, lalu bicara terus seakan-akan tak dapat lagi menguasai mulutnya. Akhirnya katanya: 

"Kalau kau ingin mengetahui persekutuan penghianatan pergilah sekarang juga, Aku sendiri sudah mempunyai kawan berbicara cawan-cawan arakku 

"Sucouw " tiba-tiba Giok Cu ikut bicara. 

"Sucouw?" Bhok-siang tojin membelalakkan matanya. "Kau  adalah sahabat muridku, karena itu panggillah aku susiok. Lagipula aku tidak sudi dipanggil sebagai kakek." 

Giok Cu tertawa, Lucu, guru Sin Houw yang satu ini. Lalu memperbaiki diri. Katanya: 

"Baiklah, Mulai saat ini aku akan menyebut susiok. Tadi susiok berkata bahwa susiok sudah mengikuti kami berdua selama lima hari yang lalu, Kalau begitu pasti tahu pula sepak terjang-nya kakak seperguruan Sin-ko. Bagaimana pendapat susiok?" 

"Mereka memang keterlaluan. Maksudku siperempuan itu!" sahut Bhok-siang tojin sambil menyentil  cawan araknya. "Biarlah besok aku membantumu." 

"Tapi sebenarnya tak ingin aku berlawanan  dengan mereka." ujar Sin Houw, "Apakah suhu sudi mendamaikan?" 

"Apa yang kau takutkan?" suara Bhok-siang tojin meninggi. "Hajar saja perempuan galak itu! seumpama gurumu menegurmu, katakan saja bahwa  akulah  yang memerintahmu." 

Sin Houw kenal adat Bhok siang tojin yang angin-anginan itu, Tak dapat jago tua itu diajak  berbicara  berkepanjangan.  Tapi mendengar dia sanggup membantu, hatinya terhibur. Dan karena melihat Bhok-siang tojin terbenam dalam minuman keras, Sin Houw mengajak Giok Cu kembali ke tempat penginapan. 

 (Oo-dwkz-oO) 

WAKTU ITU kira-kira pukul tiga menjelang pagi hari, selagi Sin Houw dan Giok Cu berjalan keluar rumah Sim Pek Eng. Mereka berjalan bergandengan, karena malam hari sangat pekat, Dunia agaknya terancam hujan lebat. 

"Bagaimana? Apakah kita kembali ke rumah penginapan?" Giok Cu menanya. 

"Hari sudah larut  malam. penjaga penginapan mungkin sedang tidur lelap, Bagaimana kalau kita melihat-lihat rumah  peninggalan The sie Ban?" Sin Houw usul. 

"Bagus? Tapi kurasa tidak  perlu  tergesa-gesa,  Bukankah dia berjanji dengan segera hendak meninggalkan  rumah kediamannya itu? Lebih baik kita berjalan mengadakan penyelidikan. Bukankah gurumu tadi mengatakan, bahwa bila ingin menyaksikan persekutuan penghianatan sebaiknya kita cepat-cepat berangkat?" 

Sin Houw seperti diingatkan. Terus saja ia membawa Giok Cu berjalan cepat. Tetapi dimana dia harus pergi? Tiba-tiba teringatlah dia kepada tempat pertemuannya dengan kedua kakak seperguruannya besok petang. 

"Mari kita meninjau bangunan bekas tangsi penjajah  itu, ingin kutahu apa sebab Sucie memilih tempat itu." ajak Sin Houw. 

Giok Cu manggut, sambil menahan  rasa nyerinya, ia mencoba mengikuti Sin Houw yang berjalan  cepat. Sebenarnya, rasa kantuk dan lukanya mengganggu ketegaran tubuhnya. Tapi entah  apa  sebabnya, rasa gairah hidupnya selalu bersedia  berada didamping Sin  Houw. Rasa enggan sekali, bila berpisah daripadanya. walaupun demikian,  luka tetap luka.  

Lambat laun pundak dan lengannya terasa menjadi kaku juga, Tak dapat lagi ia menggerakkan tangannya dengan 1leluasa. Diam-diam ia  mengeluh.  Tatkala  hendak menyatakan rasa gangguan itu, terdengar Sin Houw berkata: 

"Giok-moay, sifat sucie menyerupai Sie Liu Hwa. Kedua- duanya senang bersenjata pedang, Apakah mereka berdua memang guru dan murid? Menilik Sie Liu Hwa memperoleh pedang dari sucie, mungkin dia muridnya.   Bukankah  Kiang Yan Bu menyebut sucie sebagai gurunya pula, meskipun dia adalah muridnya Jie suheng " 

Giok Cu tertawa melalui hidungnya, menjawab: 

"Kau selalu  memikirkan mereka dan sama sekali tidak memikirkan diriku." Ditegur demikian, barulah Sin Houw  teringat akan luka yang dideritanya, pikirnya: "Aku mempunyai himpunan tenaga sakti pelindung  jasmani.  sebaliknya  dia tidak. Akh, benar-benar aku tak memperhatikan lukanya " 

Memperoleh pikiran demikian, dengan suara  minta  maaf dia menyahut: 

"Lukamu tidak begitu membahayakan Giok-moay. Tapi memang lebih baik beristirahat dari pada tidak. Coba kuperiksanya " 

Sin Houw hendak meraih lengannya, Mendadak ia melihat berkelebatnya tiga bayangan melintasi ketinggian. Cepat Sin Houw membawa Giok Cu bersembunyi di balik batu, Kurang lebih berjarak seratus meter, pandang mata Sin  Houw mengenali bayangan yang berada di depan. 

"Hey!" bisiknya terkejut "Itulah Kiang Yan Bu! Dia tadi berangkat bersama rombongannya Sam suheng, kenapa dia berada disini?" 

"Hentikan mereka!" sahut Giok Cu. "Untuk apa?" 

"Gurumu    tadi     mengatakan,    bahwa    ada   persekutuan 

penghianatan. Kalau ingin mengetahui,  kita harus segera berangkat     Dia  murid  kakakmu  yang  kedua,  tetapi mengapa 

dia juga menjadi muridnya kakakmu yang ketiga?  Hal ini mencurigakan." 

Dalam hati Sin Houw membenarkan perkataan Giok Cu. Terus saja ia melemparkan pandangnya kepada tiga sosok bayangan yang masih berlari-lari, sekarang ia melihat suatu keanehan karena Kiang Yan Bu seperti dikejar oleh dua orang. siapakah mereka? 

"Cepat hentikan!" Giok Cu mendesak. 

Sin Houw percaya kawan seperjalanannya itu  sangat cerdas. Pasti ia mempunyai alasan apa sebab memerintahkan menahan Kiang Yan Bu. Maka cepat-cepat  ia  memungut sebutir batu,  kemudian di timpukkan, Tepat timpukannya.  Kiang Yan Bu roboh terjungkal, dan dua orang pengejarnya segera menangkapnya, 

"Kiang Yan Bu, kau bodoh!" bentak laki-laki yang bertubuh sedang. 

"Hemm!" Kiang Yan Bu menggerendeng, "Ku Cie Tat, kau boleh membunuh aku, tetapi jangan mencoba menghina!" 

"Siapa yang menghina?" Ku Cie Tat tertawa, "Sejak dahulu aku sudah berusaha  membantumu.  Tidak  hanya  untuk merebut kedudukan mulia, tapipun calon isteri yang cantik." 

Hati Sin  Houw tergetar, itulah  lagu suara yang paling berkesan didalam hatinya, Suara seorang yang sudah tidak asing lagi baginya, yang dahulu  pernah  menipu  kakek gurunya, Tie-kong Tianglo.  

Dialah murid Siauw-lim, yang dahulu  hanya  berupa  seorang kacung kecil. Dan dalam  detik itu juga, SinHouw teringat kepada  pengalamannya  yang pahit. Hampir saja ia mati kena tangan jahat seorang pendeta yang bernama  Cie kong Taysu! 

"Agaknya Kiang Yan Bu menghadapi kesukaran," pikirnya didalam hati. Dan ia bermaksud hendak menolongnya. 

Oleh pikiran itu, tangannya meraba dan  mengambil segumpal tanah, Tiba-tiba Giok Cu menyentuh tangannya, Berbisik: 

"Sabar, Dia menyebut tentang kedudukan dan isteri yang cantik, Apakah kau tidak tertarik?" 

Sementara itu Kiang Yan Bu seperti  mati kutu dihadapan  Ku Cie Tat. ia nampak gelisah, Namun keberanian serta sifat bandelnya, tiada sama sekali sehingga Sin Houw heran benar. Apakah dia takut menghadapi dua orang lawan?  

"Aku salah seorang murid Hoa-san pay, tak boleh aku bergaul dengan orang jahat..." terdengar Kiang Yan Bu memberikan jawaban. 

Ku Cie Tat tertawa, dan memotong perkataan Kiang Yan  Bu: 

"Mengenai kau murid kaum Hoa-san pay, aku sudah mengetahui sejak dahulu, kenapa? Apakah kau tidak tertarik lagi? Baiklah, kalau begitu calon isteri mu kuambil sendiri. Kau tak perlu lagi berhubungan denganku. Bukankah aku ini orang jahat?" 

Kiang Yan Bu hendak membuka mulut lagi, tiba-tiba orang yang berada disamping Ku Cie Tat menyambung: 

"Kau belum memberi laporan kepada kami, lalu berusaha kabur ditengah malam. Apakah kau menghendaki kami membongkar rahasiamu dihadapan kakek gurumu? Kuingin lihat, apakah kau masih berani mengaku sebagai murid Hoa- san pay." 

Terkejut hati Sin Houw mendengar orang itu menyinggung- nyinggung gurunya, Bok Jin Ceng, Apa maksudnya dengan kata-kata membongkar rahasia? ia melihat Kiang Yan  Bu gelisah bukan main setelah mendengar ancaman itu. pastilah rahasia yang sangat menententukan, pikir Sin Houw. 

"Aku bukan kabur, tapi aku tak mau berbicara disini." kata Kiang Yan Bu dengan suara bergetar. 

"Selamanya aku baik terhadapmu, tapi kau selalu menyusahkan aku. ingat pula kedudukanku, aku berjanggung jawab langsung  kepada pemerintah," sahut Ku Cie Tat, Kemudian berkata kepada temannya: "Gochinta, kau jelaskan kepadanya, apa sebab kita mencarinya." 

Kini tahulah Sin Houw siapa orang itu,  Menilik  namanya, dia orang Mongolia, Kata Gochinta kepada Kiang Yan Bu: 

"Siauw ongya sudah berkenan menerimamu, Beliau telah percaya pula  kepadamu,  sehingga  kau  diberinya  tugas penting, Kau ditugaskan untuk meracuni orang-orang gagah yang sedang berkumpul disini, kenapa tak kau lakukan?" 

"Tak dapat aku berbuat begitu... selain  tidak  berdaya, guruku tiba-tiba datang pula." jawab Kiang Yan Bu.  "Gurumu! selalu  kau menyebut gurumu untuk menyusahkan kami berdua, pada hal guru  yang mana lagi?"  Ku Cie Tat menggerutu. "Apakah kau hendak membangkang perintah Siauw ongya? Kau  tahu sendiri, apa  hukumannya terhadap seorang kepercayaannya yang menghianati"  

"Bunuhlah aku!" tantang Kiang  Yan  Bu  cepat,  "Memang aku tak pantas lagi hidup didunia, Aku seorang yang berdosa besar. setiap kali memejamkan mata-ku, bayangan guruku selalu berada didepanku " 

"Berkali-kali kau menyebut guru, Guru yang mana?" potong Ku Cie Tat. 

"Guruku yang pertama. Pui Tong Kim." sahut Kiang Yan Bu dengan suara menggeletar, "Karena  itu, aku akan sangat berterima kasih bila kau mau membunuhku." 

"Baik!" bentak Gochinta. Orang itu mencabut pedang panjangnya dan menga-yunkan tangannya. 

"Tahan!" cegah Ku Cie Tat, "Gochinta, bila dia tetap membangkang tak perlu kita  sendiri  yang  membunuhnya biarlah dia mempertanggung jawabkan kesalahannya sendiri. Nah, kita bebaskan saja dia!" 

"Membebaskan? Lantas,  bagaimana  kita  bertanggung jawab terhadap atasan ?" seru Gochinta tak mengerti. 

"Dia membunuh gurunya sendiri, Pui  Tong Kim,  Dia berdosa terhadap diri sendiri dan  rumah  perguruannya.  pastilah dia akan dibunuh oleh kaumnya sendiri. Apa perlu kita bersusah payah?" 

Perkataan Ku Cie Tat itu  tak  ubah  halilintar  menyambar hati Sin Houw tatkala mengadu kepandaian dengan Kiang Yan Bu, ia melihat  kebandalan dan kekurang ajaran keponakan murid itu. walaupun Nie Sun Kiong sudah memperingatkan, namun tetap ngotot.  

Rupanya dia bermaksud  membunuhnya  benar-benar dengan  mengerahkan  seluruh  kepandaiannya     hal  itu masih 

dapat  dimengerti,  karena terdorong oleh rasa  penasaran  Akan  tetapi bila dia sampai hati  pula  membunuh  gurunya  sendiri? Ha! Mimpipun rasanya takkan pernah terjadi!" 

"Kenapa dia sampai membunuh gurunya?" pikir Sin Houw pada detik itu. Dan kenapa  pula Jie suhengnya  bisa di- bunuhnya? walaupun  Kiang Yan  Bu memiliki ilmu pedang ajaran Sun  Ho  Liang suami-isteri, rasanya belum  cukup sebagai bekal membunuhnya! 

Mendadak terlintaslah  bayangan cerita ibunya Giok Cu, tentang teraniayanya Gin-coa  Long-kun.  Apakah  Jie suhengnya juga kena racun sebelum terbunuh ? 

"Ku Cie Tat!" kata Kiang Yan Bu, dengan suara gemetar. "Kau sudah bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini, kenapa kau membuka mulut?" 

Ku Cie Tat tertawa. sahutnya: 

"Kau hanya ingat sumpahku saja, tetapi lupa kepada sumpah sendiri. Kau bersumpah padaku,  bahwa  mulai  waktu itu kau akan patuh kepadaku. Sekarang, katakan terus terang, kau atau aku yang melanggar sumpah? Kalau kini  aku membuka rahasia, adalah didepan orang kita sendiri. Gochinta akan menutup mulut, selama kau tidak membangkang perintahku" 

"Baik, Tapi betapapun juga aku tak akan mau mengulangi sejarah dengan meracuni orang-orang gagah sebelum membunuhnya. Bukannya takut kepada mereka, tetapi karena aku jelek-jelek orang ksatrya juga, Apalagi kau  menghendaki aku membunuh semua orang-orang gagah, termasuk kakek guru dan guruku. Tak dapat aku berbuat demikian."  sahut Kiang Yan Bu. 

Mendengar perkataan Kiang Yan Bu, benarlah dugaan Sin Houw, Kakak seperguruannya mati terbunuh oleh racun dan dibunuh setelah punah tenaganya. Pada  saat  itu,  ia  mendengar Ku Cie Tat tertawa lagi, Kata orang itu: 

"Kiang toako, siapakah yang tidak mengetahui bahwa kau seorang ksatrya, bukannya aku memerintahkan kau  membunuh mereka dengan racuh jahat. Aku  hanya menghendaki supaya mereka lumpuh kemudian kita tangkap. Sekarang, marilah kita rundingkan ditempat kediaman Ong-ya. Disana, kawan-kawan telah berkumpul." 

"Kenapa kesana?" tanya Kiang Yan Bu heran. 

"Kau hendak bertemu dengan Cie Lan gadismu itu, atau tidak?" sahut Ku Cie Tat menyertai tawa lagi. 

"Baik,  mari kita pergi " kata Kiang Yan Bu. "Sebenarnya, 

bagaimana Cie Lan sampai bisa berada dalam tanganmu ?" 

"ltulah berkat pertolongan Gochin-ta." jawab Ku Cie Tat. ia berpaling kepada Gochinta dan mengejapkan matanya.  "Ha,  baru kali ini  aku memberitahukan kepadamu. Dia seorang perwira yang besar kekuasaannya, Meskipun begitu, dia bersedia mengalah terhadapku. selagi dia  makan minum disebuah kedai arak, ia melihat  tiga orang yang menarik perhatiannya. setelah diselidiki, ternyata mereka merupakan orang-orang yang ada  harganya untuk diambil. Gochinta membiarkan yang tua tak terusik, Tetapi yang dua orang ha-

ha-ha! Tetapi kau tak usah cemas. Legakan hatimu karena calon isterimu yang cantik, kami perlakukan sebagai  tamu terhormat." 

Sin Houw mengeluh. Tiga orang yang disebutkan itu, siapa lagi kalau bukan Lauw Tong Seng, Cie Lan dan Ciu San Bin? Teringat akan perbekalan  laskar perjuangan, ia jadi sibuk. pikirnya : 

"Dengan susah-payah, Toa suheng merebut uang perbekelan kembali dari pihak  Cio-liang  pay,  sekarang  Ciu San Bin tertawan. Jangan-jangan perbekalan itu ada padanya. Jika sampai kena dirampas oleh pihak penjajah, kesulitannya untuk merampas kembali sepuluh kali lipat jadinya " 

Memperoleh pikiran demikian, segera ia menajamkan telinganya. ia yakin kakak seperguruannya  itu tidak  bakal tinggal diam, Apalagi bila perbekalan itu sampai dirampas. Dia pasti  bersedia  mengorbankan  jiwanya.  Tetapi      baik  Cie  Tat 

maupun  Gochinta,  tidak  menyinggung  lagi  soal penangkapan  itu. Keruan saja ia jadi bingung. 

"Kiang toako!" kata Cie Tat sambil menyarungkan pedangnya, "Bila kau sudah berhasil  melumpuhkah orang- orang gagah itu, kau akan menambah kekuatan kita, Apalagi kalau pihak Hoa-san pay sudah dapat kukuasai. Hem, kita tinggal menggertak saja kepada pihak penjajah, untuk minta sebidang tanah sebagai imbalan kita!" 

Ku Cie Tat menyudahi perkataannya  dengan  mengajak Kiang Yan Bu dan Go-chinta untuk meninggalkan tempat itu. 

Kini Sin Houw mengetahui apa sebab keponakan muridnya itu bersedia  jadi pembantu ku Cie Tat. Kecuali tergila-gila terhadap Cie Lan, dia merasa berdosa karena  telah membunuh gurunya sendiri. Benar-benar manusia pengecut dan berbahaya! Sin Houw belum pernah bertemu dengan Jie suhengnya, akan tetapi ia merasa diri wajib menuntut  ba-las, Dan tiba-tiba saja ia bergerak hendak mengejar silaknat itu. 

Giok Cu agaknya sudah dapat menebak  hatinya. Cepat menyanggah: 

"Jangan! Kau tak akan dapat berbuat seorang diri.  Kalau kau dapat mengetahui penghianatannya, hanyalah karena kebetulan saja. Dapatkah kau memaksa gurumu dan semua saudara seperguruanmu mempercayai laporanmu? Kedudukanmu pada saat ini tidak  menguntungkan,  Kedua kakak seperguruanmu curiga  padamu.   Bila  mereka mendengar matinya susiok Pui Tong Kim lewat mulutmu justru kaulah yang mula-mula akan ditangkapnya.  

Sebab, siapapun tak akan percaya,  Pui  susiok  mati ditangan muridnya  . Akupun  tidak, seumpama aku salah seorang murid gurumu. Apa arti  kepandaian  Kiang  Yan  Bu, bila dibandingkan dengan gurunya? Apalagi jika  kau membunuh Kiang Yan Bu pula. Karena itu, paling tidak, kita harus mencari saksi dan  saksi itu kecuali kedua kakak seperguruanku yang mencurigaimu, setidaknya seorang pendekar tua seperti Bhok-siang Tojin." 

Sin Houw tersadar dari tidur lelap, Tak dapat ia  membantah pendapat Giok Cu.  Bahkan  diam-diam  ia  heran apa sebab kali ini Giok Cu bisa berbicara begitu panjang dan matang. Perlahan-lahan ia memperhatikan  wajahnya, kemudian berkata terharu: 

"Benar, Hatiku kusut sehingga  pikiranku tidak  bekerja, Coba katakan padaku , apakah yang harus kulakukan?" 

Giok Cu tersenyum, sahutnya: 

"Mereka akan berunding di tempat kaum penjajah.  Kalau kau ingin mengetahui corak persekutuan itu lebih luas lagi, barangkatlah sekarang. Aku sendiri akan mencoba mencari saksi." 

"Siapa?" 

"Bhok-siang Tojin dan Sim susiok. Tapi awas! Kalau kau ingin melihat Cie Lan, jangan tinggalkan aku!" sahut  gadis manja itu. 

Sin Houw terbawa geli, selagi ia hendak membuka mulut, Giok Cu berkata lagi: 

"Kau cukup  meninggalkan  tanda-tanda  tertentu disepanjang jalan. Dan aku akan segera menyusulmu." 

Giok Cu tidak menunggu persetujuan Sin Houw. setelah berkata demikian, ia pergi. Sin Houw tertegun. Aneh, perasaannya. Dahulu, ia dapat pergi atau berpisah tanpa kesan, Sekarang, begitu gadis itu meninggalkannya, ia merasa seperti kehilangan.  Dengan pandang  kosong ia mengikuti kepergian Giok Cu sampai bayangannya hilang  di  gelap malam . 

Sin Houw kemudian memilih arah yang diambil oleh Ku Cie Tat bertiga. Baru saja ia sampai di perbatasan kota, tiba-tiba muncullah seseorang dari gerombolan  rumput, Orang itu  muncul sambil menarik goloknya. Cepat Sin Houw melompat, Bagaikan anak panah, tubuhnya berkelebat melewatinya, 

Orang itu heran, apakah ia salah melihat? Bukankah tadi dilihatnya sesosok tubuh berkelebat mendatanginya. Kenapa  tiba-tiba lenyap? 

Hampir satu jam Sin Houw berlari kesana-kemari, tetapi masih belum memperoleh petunjuk.  Tiba-tiba  ia  melihat sebuah bangunan yang menarik perhatiannya. Bangunan itu nampak berdiri sangat tinggi dan dilindungi pagar tembok yang sangat kuat, Dan melihat bangunan itu, Sin Houw berpikir: 

"Apakah ini yang digunakan sebagai tempatnya  Siau ongya?" 

Samar-samar ia melihat sinar api, Dan melihat sinar api itu,  ia menjadi yakin bahwa bangunan itu yang dikatakan Cie Tat sebagai tempat pertemuan. 

Selagi ia berpikir, tiba-tiba melesatlah sesosok bayangan keluar dari sebuah jendela. Gerakan orang itu cepat  luar  biasa. Dan dalam  sekejab mata saja lenyap dikegelapan malam, sekiranya bukan Sin Houw yang bermata tajam, berkelebatnya bayangan itu tak akan dapat tertangkap oleh penglihatan.  

Tak usah dikatakan lagi, bahwa  orang  itu  memiliki  ilmu yang sangat tinggi. Dengan hati bertanya-tanya, Sin Houw lari mendekati bangunan itu. 

Setibanya disamping bangunan, dengan menjejakkan kakinya Sin Houw melesat keatas tembok  pagar.  Tiba-tiba hatinya tergetar. ia mendengar suara orang yang sangat dikenalnya. itulah suara Ceng Go, salah seorang anggauta Cio-liang pay yang berangasan. Dia bicara dengan Gochinta dibawah rindang sebatang pohon. Kata Ceng Go: 

"Cie Tat benar-benar seorang yang tak tahu diri. Dia bukan wakil pemerintah penjajah,  bukan pula ketua aliran. Tapi lagaknya seperti seorang pembesar. Malam sudah mendekati pagi, kenapa kita harus berkumpul lagi?" 

Gochinta mendeham, Lalu menjawab: 

"Tetapi betapapun juga, dia seorang yang tinggi akalnya. oleh petunjuknya aku dapat membekuk dua  orang penting. Yang perempuan dibawanya ke Sun-hin,  dan  yang laki-laki  disekap disini." 

"Hm apanya yang hebat?" dengus Ceng Go. "Anak tolol 

itu pernah kami tangkap ditempat kami." 

Girang hati Sin Houw mendengar pembicaraan itu,  siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan Cie Lan dan Ciu San Bin. Hati-hati ia mendekati jendela dan mengintai  kedalam, Ternyata pertemuan itu dilangsungkan di sebuah  pendopo dalam yang tertutup oleh suatu bangunan tinggi. 

Ceng Go dan Gochinta mencampurkan diri diantara hadirin yang berjumlah kira-kira enampuluh orang, seorang Mongolia berpakaian militer, duduk  di  sebuah kursi. Cie Tat  yang  berdiri di depannya berkata nyaring: 

"Kiang toako sudah sadar kembali. Dia adalah murid tertua aliran Hoa-san pay angkatan kedua. Bila situa Bok Jin Ceng, kurasa dialah yang bakal menggantikan kedudukannya." 

"Dan gurunya?" tanya orang Mongolia itu. "Bukankah gurunya sudah mati?" 

"Oh, ya, Ha-ha-ha!" orang Mongolia itu tertawa. "Bukankah dia mati karena racun?" 

"Benar,  itulah berkat jasanya dia Ong-ya." kata Cie Tat, 

sekarang tahulah Sin Houw, bahwa  orang  Mongolia  itulah yang disebut-sebut sebagai Ong-ya. 

Kiang Yan Bu nampak mendongkol  mendengar pembicaraan itu, ia mengerlingkan matanya kepada Cie Tat, Kata-nya dengan suara terpaksa: 

"Hal itu karena demi membalas budi saudara Cie Tat, Aku sangat kagum dan rela mengabdi padanya." 

Ku Cie Tat tertawa menang. Katanya: 

"Kiang toako! Semua yang hadir disini, adalah  teman- teman sendiri. Toa-ko tak perlu segan lagi. Katakanlah secara terus terang." ia berhenti, kemudian berkata kepada orang Mongolia,  "Gadis tawanan kita yang bernama Cie Lan, sebenarnya merupakan kekasihnya Kiang toako. Mereka berdua  telah berjanji kelak akan hidup sebagai suami isteri. Diluar dugaan gadis itu kemudian jatuh hati kepada  seorang  pemuda  lain yang bernama Thio Sin Houw eh, bukankah begitu, Dia 

dirampas oleh pemuda itu !" "Dimana?" tanya Ong-ya itu. 

"Menurut kabar, mereka berdua pernah berkenalan tatkala masih kanak-kanak, Kemudian mereka bertemu kembali dirumah keluarga Cio-liang pay. salah seorang anggauta keluarga Cio liang pay  hadir disini, Dia  bersedia  menjadi saksi." kata Cie Tati "Ha, itulah dia teman seperjuangan kita 

yang baru, saudara Ceng Go." 

Ceng Go yang berdiri disamping Gochinta, manggutkan kepalanya. Dan melihat anggukan Ceng  Go,  si  Ong-ya nampak puas. ia mengalihkan  pandangnya  lagi  kepada  Cie Tat yang belum selesai bicara. Kata pemuda itu: 

"Karena marah, Kiang toako minta bantuanku, Aku bersumpah hendak memberikan bantuan, Dan rupanya Tuhan membantu maksud kita yang baik, secara kebetulan, dia bisa kita tangkap bersama si tolol." 

Mendongkol Sin Houw mendengar perkataan  Cie  Tat, Jelas sekali banyak bohongnya,  Akan  tetapi hadirin seperti kena sihirnya, Mereka menelan saja semua perkataannya. 

Orang Mongolia itu tertawa, lalu berkata: 

"Aku tidak bisa menyalahkan  atau mencela kelemahan saudara Kiang, sejak dahulu orang bersedia mati demi calon isterinya yang cantik jelita, Bila mereka berdua kelak terangkat jodohnya, siapapun akan merasa iri hati " 

Ku Cie Tat ikut tertawa, lalu ia berkata lagi: 

"Gadis itu kami tangkap  dengan si  tolol.  Kabarnya  dia murid paman guru Kiang toako yang bernama  Lauw  Tong  Seng yang bersahabat erat dengan si pemberontak Thio Su Seng, Bahkan menurut kata saudara Ceng Go, dia pula yang  membawa perbekalan laskar pemberontak!" 

Orang Mongolia itu seperti merasa diingatkan.  segera memberi perintah: 

"Coba bawa masuk tawanan itu!" 

Jantung Sin Houw berdetak keras. ia memutuskan hendak menolong pemuda itu, bila dia terancam bahaya, segera ia merangkak mendekati ruang pertemuan itu, 

Hampir berbareng dengan gerakannya, empat orang menggusur seorang tahanan  dari  dalam  kamar  sebelah. Dialah Ciu San Bin, Tangannya terikat, Meskipun demikian, nampak gagah dan tak kenal takut, Tatkala lewat didepan Ku Cie Tat, ia membuka mulutnya dan menyemburkan ludah, Cie Tat mengelak, tangannya melayang menampar pipi. Plok! Tak dapat San Bin menghindar. seketika itu juga pipinya membiru. 

"Binatang! Kau berlututlah  dide-pan  Ong-ya!"  bentak tentara yang mengawalnya. 

Ciu San Bin memang seorang pemuda yang bandel dan berani. Sama sekali ia tak mau berlutut. Bahkan dengan tiba- tiba ia menyemburkan ludahnya,  Karena  jaraknya  sangat dekat, ong-ya tak dapat mengelakkan. Kepalanya yang botak dihinggapi sebuah gumpalan ludah Ciu San Bin. 

Ku Cie Tat mendongkol bukan main, sekali lompat ia mengayunkan kakinya, Dan pemuda itu  roboh  terjungkal dilantai. 

"Bangsat! Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup?" makinya. 

Ciu San Bin lompat bangun. Garang ia membalas membentak: 

"Hm! Kau kira aku takut mati? Kau boleh membunuh aku sekarang juga, tapi jangan harap kau bisa mengorek mulutku 

Ku Cie Tat bisa menahan diri. Melihat Ong-ya menyusuti ludah Ciu San  Bin, perlu ia menaikkan derajat atasan itu dihadapan hadirin. Katanya nyaring dan gagah:  "Ong-ya! pemuda ini memang luar biasa. Kepandaiannya melebihi keempat murid Bok Jin Ceng, Karena itu, tidak boleh kita menganggap rendah padanya." 

"Betulkah itu?"  Ong-ya atau Raja muda Mongolia itu menyahut cepat, wajahnya yang suram agak menjadi jernih. "Bagaimana dengan gurunya sendiri? Apa dia lebih unggul?" 

"Murid Bok Jin Ceng ada beberapa orang, kecuali Thio Sin Houw, kalah dalam hal apa saja. Maka betapa penting arti dia, tak usah kita jelaskan lagi." 

Ceng Go dan Gochinta tercengang mendengar keterangan Cie Tat tentang kepandaian Ciu San Bin. sebab kedua-duanya pernah menyaksikan kepandaian murid Lauw Tong Seng itu, Tapi tak lama kemudian  tahulah  mereka,  apa  sebab  Ku  Cie Tat mengangkat-angkat kepandaian Ciu San Bin. Maksudnya untuk menolong muka Ong-ya yang kena ludah. 

"Oh, jadi dia muridnya Lauw Tong Seng? siapa namanya?" Ong-ya minta keterangan. 

"Ciu San Bin." jawab Cie Tat. 

"Jadi, dia  kemenakan murid berandal Thio Sin  Houw? Bagus! Benar-benar besar jasamu." Ong-ya menghadiahkan pujian dengan tertawa lebar. 

"Petang tadi, Thio Sin Houw meruntuhkan nama para jago secara beruntun. Mereka lantas menyatakan bersedia berada dibawah perintahnya. sekarang kita dapat membekuk salah seorang kemenakannya, Maka dapatlah dia kita jadikan semacam sandera, agar Thio Sin Houw menjadi jinak." 

Tercengang Sin Houw mendengarnya. 

Mereka bisa menyebut dan  membawa-bawa  namanya begitu lancar. Agaknya mereka sudah agak lama mengenal namanya. Mungkin sekali, namanya   sudah  dibuat pembicaraan mereka. 

"Binatang!" maki San  Bin, "Kau jangan bermimpi yang bukan-bukan! Pamanku itu hanya tunduk kepada kakek- guruku. Dia seorang yang gagah perkasa - biarpun kalian maju berbareng,  belum pantas  menandingi sepatunya saja " 

Ceng Go yang pernah merasakan ketangguhan Sin Houw, merah padam wajahnya. Tetapi Cie Tat yang pandai berpikir, tertawa terbahak-bahak. Katanya: 

"Ciu San Bin! Kau  memuji paman-gurumu terlalu tinggi. Karena itu, aku ingin sekali kami bertemu dan berkenalan Kebetulan sekali, kau sekarang berada  disini,  Biarlah  malam ini, kau ku sekap disini, Aku tanggung, paman gurumu itu akan datang menolongmu. Dan pada saat itu, kami semua muncul. Aku ingin tahu, dia dapat berbuat apa?" 

San Bin marah bukan main, itulah  suatu  perbuatan  licik dan terkutuk. ia lalu berseru: 

"Kalian seperti kura-kura, yang  hanya berani memperlihatkan punggungnya tetapi menyembunyikan kepalanya kalau kalian menganggap diri seorang pendekar, tantanglah pamanku itu secara berhadapan!" 

Ku Cie Tat tidak  bersakit hati kena dimaki,  ia  bahkan tertawa lagi, Katanya: 

"Akh, ternyata kau sayang kepada  paman gurumu itu, Agaknya harganya melebihi perbekalan laskar yang kau bawa, bukankah kau yang membawa perbekalan itu?" 

Ciu San Bin terkesiap. ia merasa terjebak. Namun ia tak merasa gentar. setelah berdiam diri sejenak, ia menjawab: 

"Benar. Memang aku yang membawa perbekalan itu!" "Ha, bagus! sekarang, dimana perbekalan laskar itu?" 

"Apakah kalian benar-benar menghendaki perbekalan itu?" 

Ciu San Bin menegaskan. ia sekarang hendak menggunakan kecerdikannya, dengan berpura-pura akan  menunjukkan dimana uang perbekalan itu berada. 

Akan tetapi Cie Tat bukanlah tandingannya dalam hal mengadu kepandaian maupun kecerdasan. ia seperti dapat membaca pikiran San Bin, sahutnya:  "Memang benar kami membutuhkan uang perbekalan itu. jumlahnya  cukup  lumayan  untuk menguburmu.  Bukankah uang perbekalan itu telah kau telan?" 

San Bin tertegun. Didalam hati ia mengutuk kalang-kabut, Dasar wataknya keras hati, ia lantas  mengikuti  jebakan  Cie Tat, Katanya: 

"Benar, Uang perbekalan  itu memang sudah kutelan. Lihatlah, perutku menjadi gendut!" 

"Oh, begitu?" Cie Tat tertawa. "Kalau begitu, biarlah kuperiksanya isi perutmu. Dengan begitu, aku dapat membuktikan kepada hadirin,  bahwa  perkataanmu  tidak dusta!" 

Cie Tat tidak hanya menggertak. Benar-benar ia hendak membuktikan perkataannya, ia menghunus pedangnya dan diancamkan ke perut San Bin, Katanya: 

"Coba, katakan sekali lagi bahwa  uang perbekalan itu berada didalam perutmu ! " 

"Kau tak percaya? Buktikanlah,.!" jawab San Bin berani. "Bukankah sudah kukatakan, bahwa kau boleh membunuhku dimana saja dan kapan saja. Tapi jangan harap dapat  mengorek mulutku!" 

Setelah berkata demikian, San Bin  menyemburkan ludahnya, Tetapi Cie Tat bisa mengelakkan semburan  itu.  Kali ini hatinya panas. Terus saja ia bergerak  hendak  menikam  perut San Bin, sekonyong-konyong melesatlah sesosok bayangan kedalam ruangan pertemuan itu sambil membentak: 

"lnilah Thio Sin Houw!" 

Ku Cie Tat memutar tubuhnya. Tangan kirinya menyambar kearah leher tapi dengan  gerakan  yang  sangat  indah, bayangan itu dapat mengelak. Ternyata bayangan itu seorang pemuda berwajah tampan,  dengan  mengenakan  pakaian serba ringkas dan tutup kepala warna hijau. 

Sin Houw tersirap darahnya. segera ia mengenali siapa  pemuda itu, Dialah Giok Cu yang menyamar sebagai seorang pemuda. Begitu  cepat ia datang, pikirnya, oleh  perasaan girang dan syukur, ia sampai berseru tertahan. untunglah pada saat itu, ruang pertemuan jadi sibuk. Semua  hadirin  lagi bersiaga bertempur. 

Mereka yang hadir pada pertemuan itu, belum mengenal Giok Cu. Kecuali Ceng Go dan Kiang Yan Bu. Mereka berdua mempunyai dendamnya masing masing, Kiang Yan Bu mendongkol karena Giok Cu adalah teman Sin Houw yang ikut menertawakan kekalahannya. Dan Ceng Go berdendam hati karena gadis itu anak musuh besarnya. Karena gara-garanya, keluarga Cio-liang pay sampai mengalami kekalahan.  

Karena itu, mereka berdua segera bergerak hendak maju, Tatkala itu terdengar Cie Tat membentak: 

"Sebenarnya siapa kau? pastilah kau bukannya Thio Sin Houw!" 

"Aku Thio Sin Houw, murid kelima Bok Jin Ceng." jawab Giok Cu, "Mengapa kau menangkap kemenakan muridku? Bebaskan dia! Dalam segala halnya, aku yang bertanggung jawab!" 

Pada saat itu tiba-tiba terdengar  suara  tawa  melalui hidung, Dialah Ceng Go. Kata jago yang berangasan itu: 

"Anak haram! Kau bisa mengelabuhi orang, tetapi mataku belum lamur, Mungkin sekali hadirin belum pernah melihat dan mengenal Thio Sin Houw, tetapi kau tahu sendiri bukan? Aku telah mengenal iblis itu dengan baik." ia kemudian berpaling kepada 0ng-ya. Berkata seperti mengadu: 

"Ong-ya! sebenarnya dia seorang perempuan. Dialah keponakanku. Namanya Giok Cu, Tatkala  meninggalkan rumah, ia berangkat bersama-sama dengan Thio  Sin  Houw dan Lauw Tong Seng, Karena itu, kita harus bersiap siaga!" 

Mendengar laporan Ceng Go, Ong-ya segera berteriak nyaring: 

"Gochinta! Bawa beberapa orang berjaga-jaga diluar  gedung, Hajar setiap musuh yang hendak mencoba masuk!" Gochinta memberi hormat, Dalam sekejap mata 

terdengarlah teriakan anak buahnya yang bersiap-siap menyambut kedatangan musuh. Menyaksikan hal  itu  wajah Giok Cu berubah. segera ia bertepuk tangan memberi tanda sandi, dan melompatlah dua orang melewati pagar tembok. Merekalah Sim Pek Eng dan Thio Hian Cong. 

"Tangkap mereka!" perintah Ku Cie Tat. 

Empat orang tentara segera  menerjang. Akan  tetapi mereka bukan tandingan Sim Pek Eng  berdua.  Dalam  tiga jurus saja, mereka  semua sudah terluka parah.  Gochinta cepat-cepat membantu dengan pedang panjang ditangan, Tetapi Thio Hian Cong yang berada di samping Sim Pek Eng melepaskan pukulan. Itulah pukulan  Hok-houw ciang  yang dahulu Sin Houw pernah belajar, seketika itu juga Gochinta terpental mundur.