Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 06

Jilid 06

"Oh! Kalau begitu, manusia hidup di dunia ini sebaiknya menjadi seorang penurut," ujar Thio Sin Houw sambil tertawa, "Tetapi, bagaimana cara cici mencelakakan dia? Benar-benar luar biasa! sampai sekarang aku belum bisa menduga." 

Gadis itu tidak segera  menjawab.  sejenak  kemudian barulah ia berkata:  "Baiklah, biarlah rahasia ini kukatakan kepadamu, Apa kau melihat kembang putih kecil yang berada di ruang tengah?" 

Thio Sin Houw mengernyitkan dahinya, ia mengingat-ingat kembali keadaan ruang tengah di rumah Lie Hong Kiauw, Memang, disamping meja makan, terdapat sebuah meja kecil. Dan diatas  meja kecil itulah, terdapat jambangan kembang dengan sekuntum kembang putih. Karena kembang itu tidak menyolok mata - ia menganggap hanya sebagai  perhiasan belaka. 

"Orang menamakan kembang itu, kembang Layar Mega." kata Lie Hong-Kiauw, "Kembang itu dapat membikin mabuk orang, karena baunya yang sangat harum, Barang  siapa mengisap harum bau nya, pasti akan roboh dengan tanda- tanda seperti orang mabuk minuman keras. Aku telah mencampurkan obat pemunahnya didalam air  teh dan  nasi putih yang aku hidangkan untuk kalian." 

Mendengar keterangan Lie Hong Kiauw, Thio Sin Houw menjadi kagum berbareng  takut. Biasanya,  seseorang yang hendak meracuni seseorang lainnya akan menaruh racunnya didalam minuman atau mengaduknya dalam makanan yang disajikan, Akan tetapi cara gadis itu diluar  dugaan  siapapun juga, sehingga Cie siang Gie yang senantiasa bersikap waspada masih kena dirobohkan oleh gadis dusun itu! 

"Tetapi kau tak usah cemas, adik, Begitu pulang, aku akan memberi obat pemunahnya," ujar Lie Hong  Kiauw  dengan  suara menghibur. 

Mendengar ujar Lie Hong Kiauw tiba-tiba timbullah suatu pikiran di dalam hati Thio Sin Houw: 

"Kalau begitu, kecuali pandai menggunakan  racun - ia pandai pula mengobati orang yang keracunan. Apakah kesembuhanku dengan mendadak ini  oleh  pertolongannya pula? jika benar demikian, maka tak usah lagi aku bersusah payah menemui sinshe Ouw Gie Coen."  

Memperoleh pikiran demikian, lantas  saja ia bertanya mencoba:  "Hong cici, dapatkah kau menyembuhkan orang yang kena racun dingin Hian-beng sin-ciang?" 

"Hmm," dengus gadis itu. "Hal itu rasanya sulit kukatakan." 

Mendengar jawaban Lie Hong Kiauw, maka Thio Sin Houw tak berani mendesak lagi. jelas sangat besar kepercayaannya, bahwa kesembuhannya ini  hanya untuk sementara  saja, sambil berjalan mengikuti, ia kini memperhatikan hal-hal yang luar biasa baginya, Tubuh Lie  Hong Kiauw kurus kering, meskipun demikian dengan langkah kaki yang ringan sekali ia berjalan sambil memikul keranjangnya,  sedangkan gerakan gerakan tubuhnya bukan berdasarkan ilmu sakti. 

Dengan sekejap mata saja, mereka  berdua  telah melampaui tujuh  kilometer lebih. Arah perjalanan mereka mengarah ke timur dan bukan ke jurusan  lembah  Ouw-tiap kok, Mendadak saja, suatu ingatan menusuk ke dalam benak Thio Sin Houw, Lantas saja ia menanya: 

"Hong cici, bolehkah aku menanyakan  satu  pertanyaan lagi? Petang tadi tatkala aku dan Cie  toako hendak ke Ouw- tiap kok, kau berkata bahwa lebih baik  kami berdua  mengarah ke timur laut, Ternyata  kau menyesatkan perjalanan kami, sehingga kami harus berjalan memutar. Artinya kami terpaksa melampaui jarak perjalanan dua puluh kilometer lebih jauh, Kenapa kau berbuat begitu? Aku masih  belum  mengerti maksudmu." 

Mendengar pertanyaan Thio Sin Houw itu, Lie Hong Kiauw tertawa geli, jawabnya: 

"Sudahlah! janganlah kau bertanya melit-melit, Kau ingin berkata bahwa rumah Ouw sinshe terletak  di barat  daya, sedang kita berdua kini mengarah-ke timur. Bukankah perjalanan ini yang membuatmu bertanya demikian?" 

Keadaan hati Thio Sin Houw kena tebak gadis itu, dan mukanya lantas saja bersemu merah. untunglah pada saat itu malam hari, sehingga perubahan air muka itu tak nampak si gadis - sahutnya dengan suara perlahan:  "Benar! Kau menebak tepat sekali." 

"Jalan yang kita lalui ini, bukan mengarah ke  tempatnya Ouw sinshe. Karena kitapun tidak bermaksud menemui Ouw sinshe." kata Lie Hong Kiauw. 

Thio Sin Houw terkejut, karena jawaban gadis itu diluar dugaan. Tak terasa ia berseru tertahan: 

"Akh!" 

"Apakah kau tahu apa sebab siang tadi aku minta kepadamu, untuk menyiram tanaman bungaku?" tiba-tiba Lie Hong Kiauw berkata, "Sesungguhnya aku lagi menguji kepadamu, Pertama, ingin aku mengetahui nilai hati kalian berdua, Kedua, aku sengaja memperlambat perjalanan kalian dan sengaja pula aku menyesatkan kalian. Dengan mengarah ke timur-laut, jarak perjalanan kalian menjadi bertambah. Dengan sengaja aku hendak memperlambat perjalanan kalian agar kalian tiba di Ouw-tiap kok pada waktu malam hari." 

"Kenapa begitu?" Thio  Sin  Houw  minta  keterangan. "Karena  pohon-pohon  merah  itulah!   Pohon-pohon merah 

itu   yang    memagari   rumahnya   Ouw   sinshe,   kurang   daya 

racunnya pada waktu malam hari, Dengan  demikian,  bunga  biru yang kuberikan ke pada kalian masih sanggup melawan." 

Mendengar keterangan  Lie Hong Kiauw, bukan main kagumnya Thio Sin Houw, sekarang ia merasa  takluk berbareng terima kasih kepada gadis dusun itu, Ternyata Lie Hong Kiauw bermaksud menolong dirinya dengan sesungguh hati  - kini  hatinya  yakin sepenuhnya, maka tanpa berkata lagi  ia mengikuti terus perjalanan Lie Hong Kiauw dengan hati mantap. 

Setelah berjalan lebih lama lagi, mereka masuk ke dalam hutan yang lebat, tiba-tiba Lie Hong Kiauw berkata: 

"Nah, sekarang kita sudah sampai. Tetapi ternyata mereka belum datang, Biarlah  kita menunggu  disini,  Maukah kau menolong meletakkan keranjang ini  dibawah  pohon  itu?" sambil berkata demikian, ia menuding sebuah pohon besar,  Thio Sin Houw lantas saja mengerjakan  apa   yang  dipinta gadis itu. 

Setelah Thio Sin Houw meletakkan keranjang  dibawah pohon, Lie Hong Kiao menghampiri semak belukar yang berumput tinggi, terpisah kira-kira lima belas langkah jauhnya, Kemudian berkata sambil memasuki belukar itu: 

"Tolong, bawakan keranjang yang satu kemari!" 

Tanpa berkata sepatah katapun, Thio Sin Houw membawa keranjang lainnya ke dalam belukar menyusul Lie Hong Kiauw. 

Ia mendongak menatap udara, dan mengamat-amati bulan yang kini sudah doyong ke barat. Teranglah sudah, bahwa hari telah larut  malam. Keadaan hutan itu sunyi senyap, yang terdengar hanyalah suara margasatwa dengan bunyi burung hantu sebagai selingan. 

Kemudian Lie Hong Kiauw memberi sebutir obat pulung sebesar telur burung, sambil berbisik: 

"Kulum ini, tapi  jangan kau telan  !" 

Tanpa ragu-ragu Thio Sin Houw memasukkan obat itu ke dalam mulutnya, Rasanya sangat pahit. 

Dengan menahan napas mereka menunggu. Hanya entah apa yang sedang di tunggu, Thio Sin Houw sama sekali tidak mengetahui dan tidak dapat menduga-duga. Alangkah ajaib pengalamannya, se lama berada dipinggang gunung Ouw-tiap san.  

Hanya dalam waktu satu hari satu malam saja, ia memperoleh pengalaman-pengalaman luar biasa. Dalam kesunyian itu, teringatlah ia kepada  Ciu  Sin  Lan  yang mengikuti kakek gurunya, Tanpa terasa ia menghela napas. Katanya di dalam hati: 

"Aku mendaki gunung Ouw-tiap san, karena mengikuti Cie toako. Dan sementara itu ia ikut Thay-suhu kembali ke  Boe- tong san, Akh! pada saat inir entah apa kira-kira yang sedang dilakukan ?"  Memperoleh pikiran demikian, tanpa  disadari ia memasukkan tangannya, kedalam saku  meraba-raba saputangan yang bersulamkan bunga  melati  sebagai pemberian dari Ciu Sin Lan. 

Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba Lie Hong Kiauw menarik ujung baju Thio Sin Houw, ia menuding kearah barat laut, serentak Thio Sin Houw berpaling kearah itu, dan di kejauhan ia melihat sinar lentera. Aneh warna sinar lentera itu, Biasanya sinar lentera berwarna kuning  kemerah-merahan, tetapi kali ini tidak. sinarnya hijau. 

Lentera itu bergerak cepat sekali, dalam sekejap saja telah berada belasan langkah didepannya, oleh pantulan cahaya rembulan dan sinar lentera itu, Thio Sin Houw dapat melihat dengan jelas bahwa pembawanya seorang wanita bongkok, jalannya terpincang-pincang dan diikuti seorang laki-laki dibelakangnya. Dan melihat mereka, hati Thio Sin  Houw memukul keras. Teringatlah dia, Ouw-tiap kok terletak di barat- daya, Dan mereka berdua datang dari barat-daya pula, Maka kuat dugaannya, mereka ini adalah  suami-isteri  Ouw  Gie Coen! 

Oleh dugaan itu, Thio Sin Houw berpaling kepada Lie Hong Kiauw untuk memperoleh keyakinan. Akan  tetapi  di  malam hari, tak dapat ia melihat kesan wajah Lie Hong Kiauw dengan jelas. Apa yang dilihat  hanyalah sepasang mata Lie  Hong Kiauw tiba-tiba nampak berkilat-kilat.  Dengan  penuh  perhatian ia mengawasi kedatangan kedua orang itu. 

Terasa sekali hatinya menjadi tegang. 

Menyaksikan hal itu, timbullah rasa ksatria dihati Thio Sin Houw, Meskipun hanya memiliki kepandaian yang dangkal namun hatinya berkata: 

"Jika Ouw sinshe sampai  mengganggu Hong  cici, meskipun harus mati aku akan menolong sedapat-dapatnya!" 

Kedua orang itu berjalan semakin dekat. sekarang jelaslah, walaupun wanita itu bercacad, namun parasnya cantik. Tetapi laki-laki yang berada  dibelakangnya, beroman buruk dan  agaknya bersifat ganas. Usia mereka sebaya kira-kira empat puluh tahun. 

Oleh pengalaman hidupnya belum pernah Thio Sin Houw berdebar hatinya menghadapi segala hal yang mengancam dirinya. Akan tetapi menghadapi mereka berdua, entah apa sebabnya tiba-tiba hatinya  menjadi  ciut,  jantungnya berdebaran dan hatinya ikut terasa berguncang,  Nalurinya berkata bahwa dia lagi menghadapi sepasang suami  isteri yang aneh dan gerak-gerik mereka sukar diduga-duga, Kurang lebih delapan langkah didepan persembunyian  Lie   Hong Kiauw, tiba-tiba mereka berdua membelok kekiri dan berjalan lagi belasan langkah  jauhnya.  Kemudian berulah mereka menghentikan langkah kakinya. 

Laki-laki yang  berada di belakang  wanita  bongkok  itu, lantas berseru dengan suara nyaring: 

"Bu toako! Menurut suratmu, kami suami-isteri pada malam ini harus datang ke sini untuk berjumpa denganmu. Hayolah keluar!" 

Seruan itu tak memperoleh jawaban - karena itu beberapa saat kemudian wanita bongkok itu berseru nyaring pula: 

"Bu toako! Jika kau tak sudi ke luar, terpaksa kami berlaku kurang ajar terhadapmu!" juga kali ini tak mendapat jawaban. 

Mendengar seruan yang tak berjawab itu, hati Thio  Sin Houw menjadi geli sendirinya, Katanya didalam hati: 

"Nah, rasakan sekarang! inilah yang dinamakan balas membalas. Tadi kau tidak melayani aku, sekarang kau tak digubris oleh orang yang kau panggil !" 

Mereka berdua menunggu kira-kira seperempat jam lagi. wanita bongkok itu meraba sakunya, kemudian mengeluarkan seikat rumput yang segera di nyalakan dengan api lentera. Dalam sekejap mata saja, sekeliling tempat itu penuh dengan asap putih yang menebarkan bau wangi. 

Teringat akan kata-kata: "terpaksalah kami berkurang ajar", maka Thio Sin Houw segera menyadari  bahwa  asap itu  tentulah asap beracun. iapun mengerti pula, apabila tidak memperoleh obat pemunah racun dari Lie  Hong Kiauw, tentulah ia kena akibatnya, ia mengerling kepada Lie Hong Kiauw yang  kebetulan  sedang  mengerling  pula  kepadanya, Sin Houw sangat berterima kasih  kepadanya,  ia  bersenyum dan memanggut beberapa kali. sebaliknya  pandang   mata gadis itu berkesan mengandung rasa cemas. 

Semakin lama asap itu semakin tebal, sekonyong-konyong terdengarlah seseorang bersin dari arah bawah pohon besar, atau tepatnya dari dalam keranjang.  Mendengar  suara  bersin itu, hati Thio Sin Houw terkesiap, Barulah ia tahu, bahwa isi keranjang tersebut adalah orang hidup. Bahwasanya ia tidak mengerti soal racun adalah wajar, akan tetapi ia tetap tak mengerti bahwa di dalam keranjang itu tersekap seseorang - benar-benar mengherankan dirinya sendiri. sekian lamanya ia berjalan mengikuti gadis itu, mengapa ia tak mendengar pernapasannya sama sekali. 

Sementara itu orang yang berada  di  dalam  keranjang bersin beberapa kali lagi, kemudian tutup keranjang itu terbuka dan keluarlah orang itu. Ternyata dia seorang laki-laki mengenakan jubah panjang  serta berikat kepala, umurnya kurang-lebih limapuluh tahun. Dan dialah orang  tua  yang terlihat oleh Cie siang Gie berdua Thio Sin Houw sedang memacul ditengah tegalan. 

Begitu kakinya menginjak bumi,  dengan  pandang  melotot, ia menatap suami-isteri itu, Bentaknya mengguruh: 

"Bagus! Kiranya kau, Kim Sun Bo dan Kim  Popo,  Telah lama kita tak bertemu, kiranya tanganmu makin lama makin kejam !" 

Suami-isteri itu mengawasi si orang tua yang  berpakaian tak rapih dan berikat kepala miring. 

"Bu toako! Kau menuduh kami sangat  kejam,"  kata  Kim Sun Bo dengan suara dingin. "Siapa tahu, kau justru bersembunyi di dalam keranjang, Bu toako." 

Baru saja ia berkata demikian, laki-laki yang disebut "Bu  toako" mengendus-endus udara beberapa kali. 

Kemudian dengan wajah berubah buru-buru ia mengeluarkan sebutir obat ramuan yang lalu dikulumnya. Kim Popo, wanita bongkok itu, lalu memadamkan rumput beracunnya, yang lantas dimasukkan kedalam  sakunya kembali. Katanya: 

"Sayang tak ... tak  keburu lagi, Sudah terlambat " 

Wajah "Bu toako" atau yang sebenarnya bernama Bu Teng Kun, lantas nampak pucat bagaikan mayat. Tiba-tiba ia lalu duduk di tanah dan  beberapa saat berselang,  barulah ia berkata: 

"Baiklah, aku kalah. Mulai sekarang tak  lagi  aku membuntuti kalian berdua." 

Kim Sun Bo, laki-laki yang beroman sangat jelek itu segera mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna merah. ia mengangsurkan botol kecil itu seraya katanya: 

"lnilah obat pemunah  racun rumput Cin-su cay, Anakku telah kau celakakan dengan racunmu, maka dari itu kalau kau menghendaki bebas  dari  akibat  racunku,  berilah  obat pemunah racunmu pula, Tegasnya, marilah kita  saling menukar obat pemunah!" 

"Fitnah!"  bentak Bu Teng Kun. 

"Kau maksudkan aku meracuni anakmu Kim Cin  Nio? Sudah lima-enam belas tahun aku tak bertemu dengan dia, jangan memfitnah sembarangan!" 

Wanita  bongkok itu terbatuk-batuk berkata dengan suara 

gusar: 

"Jadi kau meminta kami menemui " 

hanya untuk mendengarkan ocehanmu itu saja?" setelah berkata demikian, ia berpaling kepada suaminya, Berkata lagi: 

"Sun Bo! Hayolah kita pulang saja!" berbareng dengan perkataannya ia memutar badan dan segera hendak berlalu  dari tempat itu. 

Akan tetapi Kim Sun Bo tidak bergerak dari tempatnya, ia masih nampak bersangi-sangsi. Katanya tak jelas: 

"Tetapi ... Cin Nio Cin Nio bagaimana?" 

Wanita bongkok itu menghentikan langkahnya, menengok sambil menyahut: 

"Bu toako sangat membenci kita berdua, dia agaknya lebih suka mati daripada mengampuni Cin Nio, Apakah kau belum sadar juga akan hal itu?" 

Masih juga Kim Sun Bo belum bergerak dari tempatnya, ia menatap BuTeng  Kun  beberapa saat lamanya,  Kemudian berkata setengah membujuk: 

"Bu toako! Duapuluh tahun lamanya, kita saling mendendam. Apakah sekarang belum tiba waktunya untuk melenyapkan permusuhan ini? Aku ingin mengajukan sebuah usul kepadamu, marilah kita saling  menukar  obat  pemunah dan menyudahi permusuhan ini." 

Kata-katanya itu diucapkan dengan penuh perasaan, sehingga rasa hati Bu Teng Kun terpengaruh juga, Katanya dengan suara sabar: 

"Kim sute, sebenarnya Cin Nio kena racun apakah?" Mendengar ucapannya,  Kim Popo jadi tertawa dingin. 

sahutnya mendongkol: 

"Bu toako! sampai pada saat ini kau masih  berpura-pura saja, Baiklah dengan ini kami berdua menghaturkan selamat atas berhasilnya toako menanam bunga Pek-hu cu-hwa " 

"Siapa yang menanam Pek hu cu-hwa? teriak Bu Teng Kun tersinggung. Tiba-tiba meledak: "Apakah Cin Nio kena racun Pek-hu cu-hwa? Kalau begitu bukan aku!  Tentu  saja  bukan aku! Benar sungguh mati bukan aku!" ia  berteriak  dengan suara tinggi. Dan wajahnya mendadak  bertambah  pucat. jelaslah sudah, ia terserang rasa takut. Akan tetapi, Kim Popo seolah-olah tidak  menghiraukan keadaan dirinya, Katanya,  dengan suara mengejek: 

"Sudahlah, Bu toako! Tak usahlah  kita  membicarakan  hal itu lagi! Hanya satu hal yang ingin kutanyakan padamu: untuk apa kau minta kami datang ke mari?". 

"Aku meminta kalian datang kemari,.?" teriak Bu Teng Kun keheran-heranan, "Tidak!  Sama  sekali aku  tak  pernah meminta kalian datang kemari. Tuduhanmu ini benar-benar tak ku mengerti! Bahkan kalian berdualah yang  membawaku kemari. Apa sebab kau malah memutar  balikkan  kenyataan ini?"  

Tadi-nya ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengesankan bahwa dalam hal ini, bukan dia yang meminta mereka berdua datang ke  tempat  itu,  setelah  selesai berbicara, tiba-tiba ia  menjadi  gusar  dan  menendang keranjang bamtu itu yang lantas saja terpental beberapa langkah jauhnya. 

"Huuh" dengus Kim Popo dengan suara menyimpan dendam, "Apakah surat ini bukan kau tulis dengan tanganmu sendiri? Akh, Bu toako. Mataku belum lamur! Aku masih cukup awas untuk mengenal kembali gaya  tulisanmu!"  setelah berkata demikian, ia meraba sakunya  dan   mengeluarkan sehelai kertas yang diangsurkan kepada Bu Teng Kun. 

Bu Teng Kun segera mengulurkan ia  punya  tangan, hendak menyambuti kertas itu, Tiba-tiba suatu ingatan menyadarkannya. segera ia mengebas dengan telapakan tangannya, dan kertas itu terpental tinggi melayang-layang di udara, Hampir berbareng dengan itu pun jari-jarinya menyentil sebatang paku, Dan Paku itu menyambar serta memakunya kertas itu pada sebatang pohon. 

Menyaksikan adegan itu, hati Thio Sin Houw tergoncang. Katanya di dalam hati: 

"Sungguh berbahaya! Berlawan-lawanan dengan orang- orang semacam mereka ini, setiap detik kita harus berhati-hati dan berwaspada, orang tua itu tidak berani menyambuti kertas pemberian Kim Popo, ia khawatir kalau ada ramuan racunnya.  Kim Popo kemudian mengangkat lenteranya  tinggi-tinggi, dan diatas kertas terlihat  beberapa deret  huruf-huruf besar yang berbunyi: 

"Dua saudara seperguruanku, Kim Sun  Bo  dan  isteri. Haraplah kalian datang di hutan Ouw-tiap kok setelah jam tiga menjelang subuh, aku ingin mendamaikan suatu perkara yang maha penting." 

Huruf-huruf itu berbentuk  panjang kurus sedikit, melengkung, sehingga mirip perawakan tubuh Bu Teng Kun, Dan melihat huruf-huruf itu, Bu Teng Kun berteriak heran: 

"He-he-he! Kau kenapa?" ejek Kim Sun Bo dengan suara mendongkol. 

"ltu bukan tulisanku!" seru Bu Teng Kun, 

Kedua suami-isteri itu saling memandang dan mencibirkan bibirnya, Berkata dengan berbareng: 

"Apa kau bilang?" 

"Heran, sungguh-sungguh  heran!" kata Bu Teng  Kun dengan suara sungguh-sungguh, "Bentuk buruf-hurufnya memang mirip dengan tulisanku, Akan tetapi. " Bu Teng 

Kun mengusap-usap jenggotnya dan tiba-tiba saja ia berteriak dengan suara kalap: "Binatang! Sama  sekali  tak  kuduga bahwa sampai pada saat ini, kalian masih main fitnah saja kepadaku. Dengan maksud apa kalian memasukkan aku ke dalam keranjang, dan membawa kemari? Aku sudah bersumpah, bahwa selama hidupku tak sudi aku melihat kalian lagi!" 

"Sudahlah, jangan berpura-pura!" bentak  Kim Popo si wanita bongkok itu, "Cin Nio kena racun Pek-hu cu-hwa. Katakan saja, kau mau memberi obat pemunahnya  atau tidak?" 

"Apakah   kau   tahu   dengan pasti   bahwa anakmu,  Cin 

Nio...  kena racun   Pek-hu  cu-hwa?"  tanya   Bu  Teng  Kun 

dengan suara terputus-putus. Tatkala mengucapkan kalimat Pek-hu cu-hwa suaranya bergemetaran seperti ketakutan.  Lambat laun Thio Sin  Houw mengerti  duduk  persoalannya, ia menduga bahwa seorang berkepandaian tinggi memegang peranan dalam peristiwa ini, Tetapi siapakah orang itu? Tanpa dikehendaki sendiri, ia mengerling kepada Lie Hong Kiauw, Mungkinkah gadis kurus kering ini  yang  mengatur  peristiwa itu? 

Selagi Thio Sin Houw berbimbang-bimbang,  sekonyong- konyong terdengar suara bentakan: 

"Uuh !" 

Suara itu terdengar aneh dan menyeramkan hati. Dengan meremang Thio Sin Houw menoleh. Ternyata suara tersebut keluar dari mulut Kim Sun Bo dan Kim Popo,  serta Bu Teng Kun.  

Ketiga-tiganya mendorongkan kedua belah tangannya masing-masing kedepan, Dalam sekejab saja, malam yang sunyi senyap menjadi semakin hening. Tiada sesuatu yang terdengar, kecuali suara "uuhh... uuhh ... uuhh. " yang tiada 

henti-hentinya. 

Mendadak saja suara "uh-uh" itu berhenti, kemudian berkejaplah secercah sinar dingin dan lentera hijau itu padam seketika. 

Thio Sin Houw tahu, bahwa padamnya lentera itu adalah akibat paku Bu Teng Kun yang dilepaskan dengan mendadak, beberapa saat kemudian, terdengar suara meremang, itulah suara erangan Kim Sun Bo, karena rupanya ia kena serangan paku dari Bu Teng  Kun,  Alangkah  menyeramkan  suasana pada malam hari itu, udara dan bumi seolah-olah terancam suatu bahaya maut. 

Dan menyaksikan hal itu, darah ksatria Thio Sin Houw meluap dengan tak dikehendaki sendiri. ia  memegang tangan Lie Hong Kiauw dan ditariknya ke belakang, ia sendiri lantas bersedia berkorban untuk melindungi jiwa  gadis  kurus-kering itu. 

Begitu suara rintih dan erangan lenyap, keadaan sekitar  hutan itu lantas menjadi sunyi senyap kembali. Yang terdengar hanyalah bunyi margasatwa dan burung-burung hantu dikejauhan. 

Tiba-tiba terasa ada tangan kecil halus memegang tangan Thio Sin Houw dan bocah itu terkejut sekali, tangan kecil yang minta perlindungan. Tadi ia menduga bahwa yang mendalangi peristiwa mereka bertiga adalah ide Hong Kiauw - akan tetapi setelah Lie Hong Kiauw memegang tangannya, tahulah dia bahwa gadis itupun berada dalam ketakutan. 

Ditengah kesunyian itu, sekonyong-konyong muncul  dua gulung asap, Yang satu berasap putih, dan yang lain berasap abu-abu, seperti dua ekor ular,  kedua gumpalan   asap  itu saling menyambar. Munculnya kedua gumpalan  asap itu tersusul suara orang seperti meniup api. 

Thio Sin Houw membuka matanya lebar-lebar untuk memperoleh penglihatan yang lebih jelas lagi, samar-samar ia melihat dua  sinar api  berada di sebelah  kiri dan kanan. Dibelakang sinar api  duduk Bu Teng Kun, sedangkan di belakang sinar api yang lain, Kim Popo bersila dan membungkukkan badannya ke tanah.  

Ternyata mereka berdua sedang berusaha meniup titik-api yang segera meruapkan asap, Tahulah Thio Sin Houw kini, bahwa mereka berdua  tengah menggunakan  senjata  asap beracun untuk merobohkan. 

Kira-kira seperempat jam kemudian sekitar hutan itu sudah penuh dengan asap beracun. Thio Sin Houw menekapkan pergelangan tangan Lie Hong Kiauw erat-erat, dan tangan Lie Hong Kiauw terasa bergemetaran,  Mendadak dari sebuah pohon terdengar suara aneh. Cepat Thio Sin Houw berpaling, dan mengawasi pohon itu, itulah pohon tempat  menancap kertas Kim Popo yang terpantek  paku  beracun  Bu Teng Kun. ia terkesiap karena kertas itu mendadak saja menyinarkan cahaya terang.  

Dan dengan pertolongan sinar tersebut, kelihatanlah beberapa deretan huruf. Melihat hal itu, Bu Teng Kun dan Kim  Popo berpaling  berbareng.  Dengan  sendirinya  mereka berhenti meniup api beracun, dan dengan terlongong-longong mengamati huruf-huruf yang mendadak muncul dengan tegar. Hampir berbareng mereka berdua membaca: 

"Surat ini kualamatkan kepada ke tiga muridku: Bu  Teng Kun, Kim Sun Bo dan isterinya     

Dengan melupakan ikatan rasa cinta kasih antara sesama saudara seperguruan,  kalian bertiga saling mencelakakan, peristiwa ini benar-benar  sangat menyedihkan  hatiku, itulah sebabnya mulai saat ini aku mengharap dengan sangat agar kalian bertiga cepat-cepat memperbaiki pekerti yang sesat, Dan hendaklah  kalian bertiga menuntut penghidupan yang sesuai dengan cita-citaku. Segala sesuatu mengenai kepulanganku ke alam baka, kalian  bertiga  bisa  mengetahui  dari muridku yang bungsu, Lie Hong Kiauw, inilah  pesanku yang terakhir gurumu: 

Ting-kek le-sian Ouw Gie Coen. 

Setelah membaca bunyi surat itu, Bu Teng Kun dan Kim Popo berseru kaget, dengan serentak mereka berseru berbareng: 

"Apakah guru sudah wafat?  Lie Hong Kiauw sumoay! Dimana kau?" 

Perlahan-lahan Lie  Hong Kiauw menarik tangannya dari genggaman Thio Sin Houw, lalu ia menyalakan sebatang lilin. Kemudian berjalan dengan tenang menghampiri  mereka bertiga. 

Melihat Lie Hong Kiauw muncul, Bu Teng Kun dan  Kim Popo berubah wajahnya. Dengan  serentak  mereka membentak: 

"Sumoay! Apakah kau  menyimpan  kitab  peninggalan suhu? Ya, pastilah himpunan ilmu ketabiban guru diwariskan kepadamu. sekarang dimana kau simpan?" 

"Suheng dan suci!" kata Lie Hong Kiauw dengan sabar. "Kalian berdua benar-benar tidak mempunyai perasaan.  Nilai budi kalian berdua sungguh mengecewakan suhu, Dengan susah payah almarhum mengasuh, merawat dan mendidik kita. Budi sedemikian besarnya, bagaimana kalian hendak membalasnya? 

Sebaliknya, kalian tidak pernah memperhatikan kesejahteraan suhu, Bahkan hidup-matinya suhupun luput dari perhatian kalian, yang kalian ingat hanya buku warisannya belaka, Benar-benar sangat mengecewakan Jie-suheng, bagaimana menurut pendapatmu?" kalimat  yang  terakhir  itu,  Lie Hong Kiauw tujukan kepada Kim Sun Bo sebagak kakak seperguruannya yang kedua. 

Kim Sun Bo yang rebah ditanah  karena terkena paku beracun dari Bu Teng Kun, menegakkan kepalanya   dan berteriak dengan suara gusar: 

"Janganlah kau  mengoceh  dan berkothbah  sepergi pendeta. Hayo, kau perlihatkan kitab warisan itu secepat mungkin kepada  kami!  Bukankah Cin Nio  kau yang  lukai? Ya 

,.,  ya  ...  tak  bisa  salah lagi semua  perisitiwa  yang  terjadi 

pada malam ini, tentu hasil pekerjaanmu pula!" 

Dengan menutup  mulut, Lie Hong Kiauw menyiratkan pandang kepada ketiga kakak seperguruannya. 

"Benar-benar suhu pilih kasih!" teriak Bu Teng Kun dengan hati dengki. "Sudah pasti bahwa suhu menyerahkan kitab sakti itu kepadanya " 

"Sumoay! Coba kau perlihatkan kitab itu kepada  kami," bujuk Kim popo dengan suara halus. "Marilah kita beramai- ramai mempelajarinya!" 

Dengan pandang mata tajam, Lie Hong  Kiauw menatap mereka bertiga. Kemudian berkata: 

"Benar! Memang benar suhu mewariskan kitab saktinya kepadaku." setelah berkata demikian, ia menggerayangi sakunya dan berkata lagi: "Lihatlah! inilah wasiat suhu, bacalah!" 

Setelah berkata demikian, ia segera mengangsurkan  selembar kertas kepada Kim Popo. 

Mereka bertiga jadi kecewa, Tadinya mereka mengira Lie Hong Kiauw hendak memperlihatkan buku warisan dari guru mereka. Tak tahunya, yang diperlihatkan hanya sehelai kertas dan di angsurkan kepada Kim Popo, Tatkala Kim Popo hendak menerimanya, tiba-tiba Kim  Sun  Bo  berteriak memperingatkan: 

"Awassss!" 

Dan oleh peringatan itu, sadarlah Kim Popo akan kesemberonoannya, Dengan cepat  ia  melompat  mundur sambil menunjuk ke arah pohon. 

Menyaksikan pekerti ketiga kakak seperguruannya,  Lie Hong Kiauw menghela napas. Dengan  berdiam diri  ia mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari bahan perak, ia menusuk kertas itu dan dengan sekali mengayun tangannya, tertancap pada pohon. 

Thio Sin Houw kagum menyaksikan timpukan itu, Katanya didalam hati: 

"Benar-benar tak terduga, bahwa gadis dusun yang kurus kering ini mempunyai kepandaian tinggi." 

Ia ikut memperhatikan kertas yang tertancap  pada  pohon itu. Dan dengan bantuan sinar lilin Lie Hong Kiauw mereka semua dapat membaca tulisannya dengan jelas. Bunyinya: 

"Surat pusaka ini kutulis untuk muridku: Lie Hong Kiauw, Anakku, 

setelah aku meninggal dunia kau  boleh  menceritakan semua peristiwa yang terjadi kepada ketiga kakak seperguruanmu. Kau kuijinkan memperlihatkan kitab himpunanku kepada salah seorangnya, yang benar-benar memperlihatkan rasa cinta kasihnya kepadaku, 

Siapa saja diantara mereka bertiga yang tidak memperlihatkan rasa duka-cita dan rasa  kasih sayang kepadaku sebagai murid maka perhubungan di antara guru  dan murid, terputuslah. 

inilah pesanku kepadamu. Surat terakhir dari gurumu: 

Tiap-kok Ie-sian Ouw Gie Coen. 

setelah membaca surat itu, Kim Sun Bo dan isterinya serta Bu Teng Kun saling memandang dengan mulut terbuka. Tak dapat mereka mengingkari bahwa sepak terjang mereka tadi benar-benar keterlaluan, dan tidak pantas sebagai murid terhadap gurunya. Betapa tidak? setelah mengetahui gurunya wafat, sedikitpun mereka tidak mengatakan kata-kata  duka cita, Bahkan yang mereka tanyakan adalah kitab warisannya. Untuk beberapa saat lamanya mereka terbengong  seperti kehilangan diri. 

Tiba-tiba seperti saling berjanji mereka berteriak dan menerjang dengan serentak. 

"Hong cici, awas!" seru Thio Sin Houw  sambil  melompat dari persembunyiannya. 

 (Oo-dwkz-oO) 

PADA SAAT ITU kedua tangan Kim Popo menyambar Lie Hong Kiauw, Menyaksikan ancaman bahaya itu, kembali lagi Thio Sin Houw berteriak memperingatkan gadis dusun itu: 

"Hong cici, awas!" 

Dan dengan cepat bagaikan kilat ia menangkis dengan sebelah tangannya: 

"Paakkk!" 

seperti diketahui, Thio Sin  Houw mewarisi ilmu sakti Si Tangan Geledek Lie Sun  Pin, kakeknya sendiri.  ilmu sakti Tangan Geledek itu diwariskan kepada  anak  perempuannya, Lie Lan Hwa, isterinya Thio Kim San - dan kemudian diajarkan sejurus dua jurus kepada Thio Sin  Houw, ilmu itu pernah mengejutkan Tie-kong tianglo, sebab cara mengatur tata pernapasan dan tata  peredaran darah sangat bertentangan  dengan ajaran Boe-tong pay. 

Apa yang diwarisi Thio Sin Houw itu sebenarnya termasuk golongan ilmu sakti yang luar biasa dahsyatnya, akan tetapi sangat memakan tenaga sehingga aliran itu termasuk aliran sesat. seseorang yang dapat mewarisi ilmu sakti Tangan Geledek , akan menjadi orang yang  mempunyai  tenaga sehebat raksasa, Karena itu Thio  Sin  Houw,  meskipun umurnya baru belasan tahun sudah memiliki pukulan  sakti yang hebat pula dayanya. 

Maka begitu kena tangkisan tangan Thio Sin Houw, Kim  Popo terpental dengan menjerit keras! 

Begitu berhasil. Thio Sin  Houw  membalikkan  tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Kim Sun  Po. Kemudian dengan menggunakan pukulan  ilmu sakti warisan kakeknya, ia mendorong dengan meminjam tenaga lawan.  

Tubuh Kim Sun Bo yang tinggi besar - Akan tetapi kena- pukulan sakti warisan Si Tangan Geledek Lie Sun Pin, lantas saja terpental tujuh langkah dan roboh terguling diatas tanah. Maka tahulah Thio Sin Houw kini, bahwa kedua suami-isteri itu memang ahli dalam menggunakan  racun  akan  tetapi  dalam hal tata berkelahi, mereka tidak mempunyai kepandaian yang berarti. 

Dengan hati mantap, ia kemudian memutar badannya menghadapi Bu Teng Kun, Akan tetapi belum lagi ia bergerak, mendadak saja orang itu bergoyang goyang tubuhnya, kemudian roboh sendirinya. Aneh sekali,  begitu  roboh badannya lantas saja tak bergerak sama sekali. 

"Sumoay," kata Kim Popo dengan meringis menahan rasa nyeri. "Benar-benar hebat kawanmu ini! Dia  masih  kanak- kanak yang belum pandai bertarung, akan tetapi pukulannya bukan main hebatnya. siapa dia?" 

"Namaku Thio Sin Houw!" sahut Sin Houw cepat dengan suara nyaring, mendahului Lie Hong Kiauw, "Jika kalian suami isteri merasa penasaran, carilah aku saja."  sebenarnya Thio Sin  Houw hanya menirukan cara para pendekar menantang lawannya, sama sekali ia  tidak memikirkan akibatnya di kemudian hari. sebaliknya Lie Hong Kiauw lantas saja membentak dengan suara penuh sesal: 

"Sudah! Mengapa kau usilan?" sambil berkata demikian, gadis itu membanting-banting kakinya. 

HERAN DAN TERKEJUT Thio Sin  Houw menyaksikan pekerti Lie Hong Kiauw sehingga ia merasa tergugu. Meskipun cerdas, pada saat itu tak dapat ia menebak pekerti Lie Hong Kiauw yang membanting-banting kakinya. 

Dalam pada itu Kim Sun Bo dan kiri Popo sudah dapat bangkit kembali. dengan pandang berkilat-kilat, mereka menatap wajah Thio Sin Houw. Kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah panjang. 

Dengan membungkam mulut, Lie  Hong Kiauw meniup lilinnya, Lalu dimasukkan kembali ke dalam  sakunya.  Pada saat itu, Thio  Sin Houw  minta  keterangan  kepadanya. Katanya: 

"Hong cici, kenapa Bu Teng Kun roboh sendiri?" 

Lie Hong Kiauw menggerendang, ia tak segera menjawab, hanya berkali-kali ia mendengus. Thio Sin Houw hatinya menjadi tak enak sendiri. Beberapa  waktu  kemudian,  ia berkata dengan perlahan: 

"Hong cici, kau tak menjawab pertanyaanku . Mengapa? Apakah cici tidak senang lagi kepadaku?" 

Mendengar perkataan Thio Sin Houw - Lie Hong Kiauw mengangkat kepalanya, Dengan suara menyesal ia menyahut: 

"Mengapa kau tidak menepati janji...? Bukankah kau telah berjanji tiga hal kepadaku, sebelum ikut kemari? Kenapa kau langgar semuanya?" 

Diingatkan tentang janjinya, Thio  Sin  Houw  menjadi terkejut, Benar! ia telah melanggar semua janjinya. pertama ia  tidak boleh bicara, akan tetapi nyatanya ia telah bicara juga, Kedua, ia tak boleh bertempur atau melepaskan  senjata rahasia apapun juga atau melukai siapa saja, juga janji yang kedua ini dilanggarnya, Dan ketiga,  ia  tidak  boleh  berpisah lebih dari tiga langkah dari Lie Hong Kiauw, nyatanya karena bertempur - ia tidak hanya berpisah tiga langkah  jauhnya,  tetapi malam lebih dari sepuluh langkah! itulah sebabnya Thio Sin Houw menjadi  tertegun. Dengan perasaan malu,  ia berkata memohon belas kasihan:  

"Hong cici, kau benar. Aku telah melanggar semua janjiku, maukah engkau memaafkan kesalahanku ini? Karena melihat kau dalam bahaya semata-mata hatiku  tak tahan lagi.  Aku takut, kau akan kena dilukai mereka, Karena di dalam diriku ini telah penuh racun mati dan hidup belum memperoleh kepas- tian, maka lebih baik aku yang menerima pukulan mereka dari pada kau, Dengan begitu, kau memperoleh kesempatan untuk melarikan diri, Tetapi agaknya aku telah salah terhadapmu, karena itu maafkanlah semua kecerobohanku ini." 

"Hmmm!" dengus Lie Hong Kiauw. Tetapi kali ini ia tertawa. "Kalau begitu , semua yang kau lakukan tadi semata-mata karena kau mencemaskan diriku. pandai benar kau mencari- cari alasan, 

Kau yang salah, akan tetapi akibatnya nanti kau bebankan diatas pundakku, Kau tak  percaya?  Coba  jawab  pertanyaan  ku: Apa sebab kau menyebutkan namamu kepada mereka? Tentu saja mereka sangat dendam kepadamu, tak mungkin mereka melupakan dendam ini. Pada suatu hari, mereka pasti akan mencarimu Dalam hal ilmu silat, mereka mungkin tidak akan menang. Tetapi dalam menggunakan  racun, apa   kau bisa menjaga diri ? Karena itu, mulai sekarang hendaklah 

kau selalu waspada dan berhati-hati!" 

Setelah berkata demikian, tiba-tiba sikap Lie Hong Kiauw menjadi lemah  lembut. Dan suaranya yang paling akhir diucapkan dengan penuh kecemasan atas keselamatan  Thio Sin Houw. 

Mendengar keterangannya  Lie Hong Kiauw, entah apa  sebabnya bulu roma Thio Sin Houw terbangun serentak. Akan tetapi dia anak seorang pendekar  berjiwa  ksatrya, oleh karena itu ia segera dapat menetapkan hatinya, Dan pada saat itu, Lie Hong Kiauw berkata lagi: 

"Kenapa tadi kau menyebutkan namamu kepada mereka?" 

Thio Sin Houw menjawab pertanyaan Lie  Hong  Kiauw hanya dengan tertawa, sehingga Lie Kong Kiauw  yang kemudian berkata lagi: 

"Akh, adik yang baik! Rupanya kau tidak juga menyadari, adanya ancaman bahaya dikemudian hari, sebaliknya kau bersikap seperti seorang pahlawan hendak melindungi diriku, kenapa kau begitu baik kepadaku?" 

Ucapan Lie Hong Kiauw yang terakhir itu  dinyatakan dengan penuh perasaan, sehingga hati Thio Sin Houw terpengaruh karenanya. Halus budi pekerti gadis dusun ini, pikirnya, oleh pikiran itu, ia menyahut  dengan  penuh  rasa terima kasih: 

"Hong cici. Bukan aku yang  memperhatikan  keselamatanmu tetapi sebaliknya justru  adalah  kau  yang sangat memperhatikan keselamatanku, sehingga  kau siap melindungiku sejak tadi." ia berhenti sebentar untuk mengesankan kata-katanya itu, Kemudian melanjutkan lagi: "Berkat perlindunganmu, aku lepas  dari  bahaya.  Ayah- bundaku selalu berkata kepadaku bahwa kebajikan  kita sebagai anak manusia, harus baik kepada orang yang berbuat kebaikan kepada kita, Karena itu sudah sewajarnya, kalau aku memandangmu sebagai sehabat sejati." 

Mendengar perkataan Thio Sin Houw itu, Lie Hong Kiauw nampak girang bukan main, Katanya menegas: 

"Benarkah kau sudi menganggapku sebagai sahabatmu?" lalu ia tertawa manis.  Manis  sekali.  Meneruskan:  "Kalau begitu, biarlah aku menolong selembar jiwamu terlebih dahulu 

..." 

"Apa?" Thio Sin Houw heran menebak-nebak .  "Coba kau nyalakan dulu lentera itu," perintah Lie Hong Kiauw. Kemudian ia mengawasi kesekelilingnya dan bertanya: "Hai mana lentera yang tadi...?" ia membungkuk mencari-cari lentera Kim Popo yang ketinggalan, tetapi karena gelap tak dapat ia menemukannya. 

"Bukankah dalam sakumu masih ada lilin?" Thio Sin Houw mengingatkan. 

"Apakah kau mau mati?" kata Lie  Hong Kiauw sambil tertawa, serta masih tetap membungkuk-bungkuk mencari lentera Kim Popo, Lalu berkata meneruskan: "Lilin itu  kubuat dari bahan kembang Pek-hu cu-hwa...  Haa!  Eh,  inilah  dia!" oleh ketekunannya, akhirnya ia dapat menemukan juga lentera itu yang segera dinyalakan. 

Setelah mendengar pembicaraan antara suami isteri  Kim  Sun Bo dan Kim Popo dengan Bu Teng Kun, maka Thio Sin Houw mengetahui bahwa  kembang Pek-hu cu-hwa pastilah merupakan kembang beracun yang sangat dahsyat. Pada saat itu oleh cahaya lentera, Thio Sin Houw melihat Bu Teng Kun masih menggeletak diatas tanah seperti mayat. Dan melihat keadaan Bu Teng Kun, tiba-tiba Thio Sin  Houw menjadi mengerti sebab sebabnya, Terus saja ia berseru tertahan: 

"Akh, sekarang barulah aku mengerti. Jika aku tadi tidak semberono menerjang keluar, pastilah  suami  isteri  Kim  Sun  Bo dan Kim Popo akan dapat kau taklukkan pula " 

Lie Hong Kiauw tersenyum, Agaknya ia puas mendengar perkataan Thio Sin Houw, katanya: 

"Tetapi kelakuanmu tadi karena terdorong oleh  maksud yang  sangat  baik biar bagaimanapun juga, aku merasa 

berhutang budi kepadamu!" 

Thio Sin Houw menatap gadis dusun yang bertubuh kurus kering itu dengan perasaan kagum berbareng malu, pikirnya didalam hati: 

"Umurnya, paling banyak terpaut  lima tahun  denganku, akan tetapi otaknya yang penuh tipu-tipu daya, seratus kali  lipat dari pada aku, Kukira aku sudah berotak lumayan, tak tahunya dia jauh melebihi aku..." 

Walaupun merasa tidak  berarti  apabila  dibandingkan dengan kecerdasan gadis itu, tetapi sesungguhnya Thio Sin Houw sendiri memiliki otak yang cemerlang   pula.  Dengan sekali melihat ia dapat menebak  sebab-sebabnya  Bu  Teng Kun jatuh tak berkutik diatas tanah . Hal itu disebabkan karena sesungguhnya lilin yang dinyalakan Lie  Hong Kiauw tadi mengandung racun yang hebat - asapnya tidak  berbau  dan tidak berwarna, hal itu membuktikan betapa pandai Lie Hong Kiauw mengelabui orang, jangan lagi manusia  biasa, sedangkan suami-isteri Kim Sun Bo dan Kim popo  serta  Bu Teng Kun yang terkenal sebagai biang racun, masih dapat diingusi terang-terangan,  

Dengan demikian, apabila Thio Sin  Houw berlaku tidak semberono, dalam waktu  yang cepat kedua suami-isteri itu beserta Bu Teng Kun akan roboh tak  berkutik  dengan sendirinya . Akan tetapi sebelum suami isteri Kim Sun Bo  dan Kim Popo dirobohkan dengan hawa beracun itu, mereka tadi sudah menyerang dengan pukulan-pukulan kilat yang sangat hebat.  

Maka kemungkinan besar sebelum mereka   roboh,  Lie Hong Kiauw akan kena malapetaka terlebih  dahulu.  oleh pertimbangan itu, Thio Sin Houw tidak  mau  terlalu menyalahkan dirinya sendiri. 

Akan tetapi Lie Hong Kiauw  rupanya  dapat  menebak pikiran Thio Sin Houw, katanya sabar: 

"Adik yang baik, coba kau pukul pundakku dengan tanganmu!" 

Thio Sin Houw tak mengerti maksud gadis dusun itu, akan tetapi karena percaya bahwa gadis itu mempunyai rencana tertentu yang berada diluar dugaannya sendiri,  segera ia memukul pundak Lie Hong Kiauw dengan jari tangannya. Dan begitu jari tangannya menyentuh pundak gadis  itu,  maka  jari- jari tangan Thio Sin Houw mendadak  terasa panas seperti  terkena bara. Diluar kehendaknya sendiri,  Thio Sin  Houw melompat mundur menjauhi beberapa langkah . 

Lie Hong Kiauw tertawa geli, katanya: 

"Nah, kau rasakan sekarang, Begitulah, apabila  mereka menghantam diriku dengan sekuat tenaga, mereka akan roboh begitu menyentuh pakaianku!" 

"Benar-benar hebat dan berbahaya!" kata Thio Sin Houw kagum sambil memijit-mijit jari  tangannya,   "Racun  apakah yang kau gunakan?" 

"Sebenarnya bukan racun luar biasa, hanya campuran bubuk ular hijau dan  ular belang yang  kucampur  dengan bubuk kadal biru." jawab Lie Hong Kiauw dengan sederhana. 

Dengan pertolongan sinar lentera, Thio Sin Houw melihat betapa jari-jari  tangannya  melepuh dengan  mendadak. Katanya: 

"Akh, masih untung aku tadi tidak menyentuh pakaianmu!" "Adik yang  baik," kata Lie Hong Kiauw dengan suara 

mohon maaf. "Aku bukan bermaksud hendak menyakiti dirimu, maksudku hanyalah agar kau selalu berhati-hati dan waspada menghadapi saudara-saudara  seperguruanku  di  kemudian hari, Dalam ilmu silat,mereka dapat ketinggalan darimu, akan tetapi lihatlah telapak tanganmu yang tadi kau gunakan untuk menangkis pukulan mereka!" 

Thio Sin Houw lalu memperhatikan tangan kirinya, akan tetapi ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa. 

"Coba, dekatkan kemari!" kata Lie  Hong Kiauw sambil mengangsurkan lenteranya. 

Begitu mendekatkan tangannya  pada lentera, Thio Sin Houw terkejut, Pada saat itu ia melihat telapakan tangannya bergaris-garis hitam, serunya tak mengerti: 

"Apa ini? Apakah aku terkena racun ?" "Hmm!" dengus Lie Hong Kiauw.  "Apakah kau anggap murid-muridnya Tiap kok ie-sian tidak mempunyai ilmu pukulan beracun?" 

"Akh!" Thio Sin Houw terkejut berbareng heran. "Kalau begitu kalian adalah murid-muridnya si Tabib Sakti Ouw Gie Coen, Ouw Sinshe, Tetapi mengapa kalian saudara-saudara seperguruan saling bertengkar?" 

Lie Hong Kiauw tidak menjawab. ia  hanya  menghela napas, kemudian mencabut tusuk sanggulnya yang tadi digunakan untuk memantek kertas tulisan Ouw Sinshe yang mengandung bisa racun Pek-hu cu-hwa dipohon, Kemudian ia memasukkan kedua benda itu kedalam sakunya dan waktu itu huruf-huruf yang bercahaya pada surat pertama sudah lenyap seketika. 

"Apakah cici yang menulis semua surat-surat itu?"  tanya Thio Sin Houw. 

"Benar!" sahut Lie Hong Kiauw. "Suhu nampaknya sayang benar kepada toa-suheng Bu Teng Kun pada  masa mudanya, hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan-tulisan toa-suheng yang terdapat dalam kumpulan naskah dalam peti peninggalan suhu. Umpamanya catatan-catatan mengenai nama-nama bunga, tetumbuhan dan ramuannya, Dengan demikian aku paham benar akan bentuk tulisannya, itulah  sebabnya  dapat aku meniru bentuk-bentuk hurufnya. Akan tetapi aku belum berhasil dengan sempurna , karena melupakan pengucapan hatinya." 

"Tentu saja cici tidak dapat menirukan dengan sempurna, karena beda watak cici dengan wataknya." potong Thio Sin Houw cepat. "Cici adalah seorang yang jujur dan bersih hati, sebaliknya toa-suhengmu penuh dengan fitnah, kekejian dan kelicikan kelicikan." 

Lie Hong Lian tidak membenarkan ataupun membantah, ia berdiam sejenak. setelah itu meneruskan lagi: 

"Surat wasiat suhu ditulis dengan larutan  tawas.  orang harus memanggang terlebih dahulu di  atas  api,  apabila hendak membacanya. Kemudian setelah aku melakukan  percobaan-percobaan, aku mengaduknya  dengan sumsum harimau dan berbagai campuran lainnya. Karena itu apabila surat itu berada ditempat gelap akan menyala sendirinya. Kau lihatlah!"  

Setelah berkata demikian ia memadamkan lenteranya, dan benar saja tulisan yang berada di atas kertas lantas bercahaya mengkilat, Dan begitu lentera dinyalakan  kembali sehingga kegelapan malam dikalahkan oleh cahaya lentera, maka nyala huruf-huruf itu lantas lenyap tak kelihatan lagi.  

Dengan demikian, pada kertas itu terdapat  dua  bentuk tulisan. Yang pertama tulisan Lie Hong Kiauw yang terbaca apabila keadaan terang, dan yang kedua tulisan Sinshe  Ouw Gie Goen yang terbaca apabila keadaan gelap pekat. 

Setelah mengetahui latar belakangnya, Thio Sin Houw ikut bergembira dan bersyukur, seakan-akan iapun ikut senang dalam persoalan ini, sebaliknya Lie Hong Kiauw heran menyaksikan kegirangan Thio Sin Houw, tanyanya menegas: 

"Kenapa kau begitu girang? Bukankah tanganmu terkena racun jahat kakak seperguruanku?" 

"Cici tadi berjanji hendak menyembuhkan aku!" sahut Thio Sin Houw cerdik. "Dan aku tahu, cici adalah seorang bidadari yang jujur, Kukira duduk dekat murid terkasih Ouw sinshe, seorang tabib maha sakti tak ubah malaikat. Karena itu meskipun andaikata aku kena pukulan dewa maut, muridnya Ouw Sinshe pasti sanggup menolong jiwaku, Jadi, aku tidak perlu takut!" 

Mendengar perkataan Thio Sin  Houw yang kekanak- kanakan, Lie Hong Kiauw tertawa geli, Tiba-tiba  ia memadamkan lenteranya, kemudian terdengar suara gemeresek dari tempat keranjang ditempatkan, Tak lama lagi lentera dinyalakan lagi, dan ternyata Lie Hong Kiauw telah berganti pakaian. 

"Lihatlah! sekarang aku berganti  pakaian  baru,  kau  tak perlu takut lagi akan racun yang kulumurkan  di  pakaianku tadi." kata Lie Hong Kiauw sambil tertawa lebar.  "Hong cici! Kau  dapat memikirkan segala  sesuatunya dengan cermat terlebih dahulu sebelum bertindak. Apabila aku dapat mewarisi sepersepuluh bagian saja  dari  kepandaianmu ini, aku sudah bersyukur..." kata Thio Sin Houw bersungguh sungguh . 

Mendengar perkataan Thio Sin Houw, mendadak Lie Hong Kiauw berkilat-kilat kedua  matanya,   dengan  suara mengandung penuh penyesalan ia berkata: 

"Apa katamu tadi?  Apakah kau bisa menjadi  manusia bahagia apabila mengenal racun? Huh! Orang yang mengenal racun, akan selalu tergoda oleh pikirannya  sendiri terus menerus untuk mengadakan percobaan-percobaan penebaran racun-racunnya. setiap detik yang di pikirkan hanyalah bagaimana dapat membuat racun sehebat-hebatnya melebihi yang sudah-sudah, lihatlah aku ini setiap saat mana-kala aku bangun tidur sampai nanti  menjelang tidur kembali, dalam hatiku terus menerus bergumul satu perjoangan hebat antara hawa-napsuku sendiri.  

Karena itu apabila  dapat, aku memohon kepada  Tuhan agar di lahirkan kembali sebagai manusia biasa seperti dirimu, Alangkah bahagianya!" 

Setelah berkata demikian, ia lalu menghela napas berulangkali. Kemudian menarik lengan Thio Sin Houw, dan segera menusuk jari-jari Thio Sin Houw dengan tusuk sanggulnya, Kemudian  mengurut  sehingga  tak  lama kemudian, darah ungu meleleh keluar. 

Thio Sin Houw yang sejak tadi membiarkan tangannya ditarik dan di tusuk dengan tusuk sanggul  perak Lie  Hong Kiauw, menjadi heran karena tusukan itu sama sekali tidak terasa sakit, bahkan tatkala darah ungu meleleh keluar, ia merasakan suatu hawa yang nyaman sekali meresap kedalam peredaran darahnya. ia jadi kagum luar biasa pada saat itu mendadak saja ia  mendengar  suara Bu Teng Kun  menggeliat, ia terperanjat dan lantas berseru: 

"Heil Dia tersadar!"  "Tak mungkin!" sahut Lie Hong Kiauw yakin. "Paling cepat, tiga jam lagi !" 

Memperhatikan keadaan Bu Teng Kun, Thio Sin Houw menjadi teringat kepada pengalamannya tadi, Terus saja ia minta keterangan: 

"Tadi ketika aku mengangkat keranjang, sama sekali  dia tidak bergerak sehingga aku  tidak  tahu  bahwa  dalam keranjang itu ada manusianya     

Akh! benar-benar aku tolol sekali." 

Lie Hong Kiauw tersenyum lebar, Menjawab: 

"Hemm! orang yang menyatakan dirinya tolol, biasanya justru orang pintar luar biasa!" 

Thio Sin Houw tidak menjawab, ia hanya tertawa.  Akan tetapi dalam hatinya ia merasa puas, dan sesaat kemudian ia berkata lagi: 

"Eh, mereka tadi memperebutkan kitab sakti warisan gurumu, apakah mengenai ilmu pengetahuan ketabiban atau sarwa racun?" 

"Dugaanmu tepat sekali," jawab Lie Hong Kiauw senang, "ltulah jerih payah almarhum suhu, semuanya ada dua buku, Yang satu tentang ilmu ketabiban,  dan yang lain  tentang rahasia ramuan sarwa racun. Apa engkau ingin melihatnya?" 

Heran Thio Sin Houw  mendengar  tawaran  itu.  Bukankah dia tadi menolak keinginan  ketiga  kakak  seperguruannya untuk membaca kitab warisan gurunya barang sebentar saja? Melihat Lie  Hong Kiauw mengeluarkan  sebuah   bungkusan kain putih yang disimpan dalam sakunya Thio Sin Houw jadi 

terharu. Dalam bungkusan kain putih itu  terdapat  lain bungkusan kertas minyak. setelah kertas minyak itu dibuka, terlihatlah dua jilid kitab kuning dan hitam yang panjangnya enam senti dan lebar empat senti. 

Dengan menggunakan tusuk sanggulnya, Lie Hong Kiauw membalik balik halaman kitab yang penuh tulisan huruf huruf  indah. Tak usah dikatakan lagi,  bahwa  setiap halaman kertas itu pastilah sangat beracun. orang akan celaka apabila berani dengan sembarangan menyentuh atau membalik-balik dengan tangannya. 

Memperoleh kepercayaan dari Lie Hong Kiauw yang begitu besar terhadap dirinya, Thio Sin Houw merasa bersyukur dan girang bukan kepalang. Dengan mengangguk,  ia memberi isyarat bahwa sudahlah cukup ia melihat buku  warisan  Tiap- kok ie-sian Ouw Goe Coen itu. Maka Lie Hong Kiauw kembali membungkusnya rapih-rapih,  dan dimasukkannya ke dalam saku. 

Kemudian ia mengeluarkan sebotol  bubuk  berwarna  ungu, ia menuangkan diatas telapak tangan dan memborehkan pada telapak tangan Thio Sin Houw yang tadi ditusuknya  dengan tusuk sanggul perak, sebentar ia mengurut-urut jari-jari itu, dan tak lama kemudian bubuk berwarna ungu tadi lantas  saja terhisap masuk melalui lubang-lubang bekas tusukan Lie Hong Kiauw. 

"Benar-benar hebat kau, cici!" 

Thio Sin Houw memuji  dengan  setulus hati,  "Seumur hidupku, belum pernah aku menyaksikan seorang tabib seperti dirimu!" 

"Kepandaianku ini tidak ada artinya, apabila dibandingkan dengan kepandaian guruku," sahut Lie Hong Kiauw merendah. "Suhu pandai membedah perut dan dada, serta ahli menyambung tulang, apabila kau telah menyaksikan kepandaiannya, barulah kau pantas kagum benar-benar." 

"Benar!"" kata Thio Sin  Houw memuji.  "Gurumu mahir menggunakan racun, pasti ahli pula dalam menyembuhkan penyakit, Pantaslah, kakek-guruku pernah  memuji  gurumu setinggi langit." 

"Siapakah kakek gurumu itu?"  tanya Lie  Hong  Kiauw penuh perhatian. 

"Thay-suhu bermukim diatas gunung Boe-tong, namanya  Tie-kong tianglo.,." jawab Thio Sin Houw, 

Mendengar jawaban Thio Sin  Houw, Lie  Hong  Kiauw nampak terperanjat. jelas ia sering mendengar nama Tie-kong tianglo yang termashur itu, terus saja ia berseru girang: 

"Akh! Jika suhu masih hidup dan mendengar pujianmu ini, pastilah beliau akan girang bukan kepalang, Hanya sayang, beliau sekarang sudah tiada didunia ini " perkataannya yang 

terakhir itu diucapkan dengan nada penuh duka. 

"Kakak seperguruanmu tadi,  Kim-Popo berkata, bahwa gurumu pilih kasih, beliau agaknya hanya sayang kepada cici belaka," kata Thio Sin  Houw. "Kurasa kata-katanya benar belaka, Tetapi hal itu terjadi karena kaupun mencintai gurumu dengan sepenuh hati, Dengan demikian terjadi  timbal-balik yang sewajarnya." 

Lie Hong Kiauw tertawa melalui dadanya, ia menundukkan kepala, Dan beberapa saat kemudian baru ia berkata: 

"Suhu mempunyai empat orang murid, semuanya  sudah kau ketahui. Yang tertua adalah Bu Teng Kun, kemudian Kim Sun Bu dan isterinya, Kim popo sedangkan aku adalah yang termuda, sebenarnya  setelah mempunyai tiga orang murid, suhu tidak ingin menerima murid lagi, akan  tetapi  melihat ketiga kakak seperguruanku itu saling bermusuhan dan saling dendam, suhu menjadi cemas juga.  

Kalau nanti suhu telah meninggal dunia, siapa yang dapat menguasai mereka bertiga? Maka dalam usianya yang lanjut, beliau menerima aku sebagai muridnya yang termuda." 

Lie Hong Kiauw berdiam sejenak kemudian meneruskan 

sambil menatap wajah Thio Sin Houw: 

"Mereka bertiga sebenarnya bukanlah  orang-orang yang jahat. permusuhan itu terjadi semata-mata karena Kim popo menikah dengan Kim Sun Bo, dan Bu Teng Teng Kun menjadi sakit hati, Dan sejak itu mereka saling  bermusuhan  sehingga tak dapat didamaikan lagi." 

Thio Sin Houw memanggut manggutkan kepalanya,  tanyanya: 

"Toa-suhengmu, Bu Teng Kun pasti mencintai Kim Popo, Kukira demikian bukan ?" 

"Bagaimana kisah asmara itu terjadih, sesungguhnya aku tidak mengetahui.  sebab pada saat itu mungkin sekali aku belum lagi dilahirkan di dunia ini." sahut Lie  Hong  Kiauw dengan tertawa manis. "Aku  hanya mengetahui dari suhu, bahwa toa-suheng  Bu Teng Kun  dahulu sudah  beristeri, padahal rupanya Kim Popo diam-diam mencintai toa-suheng, Pada suatu hari,  Kim popo meracuni isterinya toa-suheng sehingga mati." 

Mendengar sepak terjang Kim Popo yang sampai hati meracuni isterinya Bu Teng Kun, bulu roma Thio Sin Houw terbangun. Terasa dalam hatinya, bahwa orang yang pandai menggunakan racun, pasti kejam  pula  hatinya,  sehingga apabila ada persoalan kecil saja, mereka lantas main bunuh dengan racunnya itu. 

Sementara itu Lie Hong Kiauw meneruskan perkataannya : 

"Karena gusar, toa-suheng Bu Teng Kun lantas membalas meracuni Kim Popo sehingga ia  menjadi  cacad seumur  hidup, ia menjadi wanita bongkok dan kakinya pincang pula. 

"Akan tetapi, Kim Sun Bo yang menyintai  Kim  Popo dengan segenap hati, tidak berobah cinta kasihnya meskipun Kim Popo telah cacad tubuhnya, Maka mereka berdua lantas kawin. Entah bagaimana alasannya, setelah Kim  Popo menikah dengan Kim Sun Bo, mendadak Bu Teng Kun teringat akan hubungannya pada masa lampau. ia kembali berbaik hati kepada Kim Popo dan mulai mengganggu cinta-kasih mereka berdua.  

Dengan demikian, kalau tadinya Kim Popo yang salah, kini toa-suheng Bu Teng Kun yang tercela. Sebab yang membuktikan cinta-kasih sejati adalah  Jie suheng Kim Sun  Bo. 

"Menyaksikan peristiwa itu, suhu menjadi jengkel. Berulangkali  suhu   itu  mencoba  menasehati  mereka  bertiga  agar teringat akan nilai-nilai budi pekerti - akan tetapi nasehatnya sama sekali tiada guna. Mereka menganggap seperti segumpal awan berserakan ditengah  udara,   makin lama permusuhan mereka makin hebat, Masing-masing mempersiapkan kubu-kubu pertahanan.  

Jie-suheng Kim Sun Bo yang sangat mencintai Kim Popo membangun sebuah  rumah dari besi,  bentuknya   setengah bulat seperti bola, Rumah itu dilumuri  racun penyepuh, ia menanam pula pohon-pohon mengandung  racun disekitar rumahnya. semula rumah itu dimaksudkan sebagai kubu pertahanan menghadapi Toa-suheng Bu Teng Kun,  tetapi karena merasa diri terancam bahaya terus-menerus akhirnya mereka bertempat tinggal dalam rumah tersebut. 

Hanya sekali-kali mereka mengadakan perjalanan  untuk mengintai dimana Toa-suheng Bu Teng Kun berada. Demikian pula yang dilakukan Toa-suheng Bu Teng  Kun  terhadap mereka berdua. Dengan demikian, karena mereka bertiga menggunakan nama suhu, masyarakat dibuat bingung oleh munculnya tiga tokoh  yang  berbeda  perawakan  tubuhnya tetapi nama yang dikenakan sama, Maka banyaklah cerita dan kisah mengenai diri pribadi guruku, Ouw Sinshe.  

Penduduk disebelah selatan yakin, bahwa Ouw Shinshe adalah seorang laki-laki berjubah seperti pendeta. sedangkan sebenarnya dialah Toa-suheng Bu Teng Kun, sebaliknya penduduk yang bermukim disebelah barat   berkata,  bahwa Ouw Sinshe sebenarnya seorang perempuan, sementara penduduk sebelah timur mengabarkan bahwa  Ouw Sinshe adalah seorang laki-laki berperawakan kasar dan  nampak dungu. itulah kedua kakak seperguruanku  Kim  Sun  Bo  dan Kim Popo." 

"Oh, begitu?" kata Thio Sin  Houw sambil manggutkan kepalanya. "Tetapi sebenarnya diantara mereka bertiga, siapakah yang berhak memakai nama Ouw Sinshe?" 

"Aku sendiri tidak tahu," jawab Lie Hong Kiauw,  "Tetapi satu hal yang pasti, betapapun alasan mereka bertiga - suhu tidak merestui, Hal itu disebahkan karena permintaan racun  mereka. Apa yang mereka lakukan benar-benar bertentangan dengan panggilan hidup suhu, Berulangkali suhu berkata kepadaku , begini: 

"Aku mempelajari sarwa racun demi untuk  menolong sesama hidup, sekarang kakakmu bertiga menyematkan namaku untuk melampiaskan  dendamnya masing-masing, Tidak segan-segan mereka membunuh sesama umat dengan menggunakan bisa racun. walaupun  aku sama sekali  tidak melakukan hal itu, akan tetapi karena mereka murid-muridku, maka kesalahan itu akan ditimpakan di atas pundakku juga,  

Apakah kau mengira bahwa pendiri aliran kita ini tadinya seorang biadab yang senang membunuh  sesama  hidup? Tidak, anakku! ilmu pengetahuanku ini kuperoleh untuk tujuan maha mulia dan bijaksana, setiap saat yang  perlu  dipikirkan ialah bagaimana menolong orang dari lembah kesengsaraan hidup     

"Akan tetapi racun kami  memang  sangat  dahsyat, sehingga tiada seorang saktipun didunia ini yang sanggup menghadapinya, sayang sekali,  ketiga  kakak  seperguruanku itu meracuni orang dengan sembarangan saja, Tidak jarang mereka meracuni orang baik-baik, Karena mereka murid-murid suhu, maka nama Ouw Gie Coen menjadi bulan-bulanan dan setiap orang mengutuki serta menyumpahi sampai langit ketujuh, Akh!"  Benar-benar menyedihkan  sekali.  Adik  yang baik, bagaimana menurut pendapatmu?" 

Thio sin Houw menghela napas. sebagai anak yang baru berumur belasan tahun, belum  dapat  ia  membuat pertimbangan Tetapi secara naluriah ia tahu pekerti baik dan buruk, maka ia menjawab: 

"Sepak terjang kakakmu bertiga memang keterlaluan, pastilah orang akan segera teringat pada gurumu manakala mereka meracuni orang. Apalagi tadi kau berkata bahwa orang-orang di sekitar sini salaf tafsir  dan  salah  terka mengenai pribadi gurumu, Mereka menyangka bahwa ketiga kakak seperguruanku itu adalah Ouw Sinshe. Herannya, apa sebab gurumu tidak turun gunung untuk membereskan dan  membersihkan namanya?" 

"Hal itu mudah dikatakan, tetapi sukar dilakukan." sahut Lie HongKiauw, "Apabila suhu sampai turun gunung maka salah pengertian akan jadi semakin parah sekali " 

Gadis itu lantas  menghela  napas dalam, ia memeriksa luka-luka Thio Sin Houw sekali lagi, Kemudian menyatakan bahwa racun telah larut sirna, lalu ia bangkit berdiri  dan berkata lagi: 

"Malam ini aku masih harus menyelesaikan dua tugas lagi, Yang pertama, kita harus mengambil obat pemunah racun rumput Cin-su cay. Dan yang kedua mengobati Kim Cin Nio, puteri Jie-su-heng Kim Suii Bo, Apabila tidak. " 

Ia  tersenyum dan tidak menyelesaikan perkataannya. "Semua ini terjadi karena kesemberonoanku semata," Thio 

Sin Houw menghela napas pula, "Jika aku tadi tidak mencampuri urusanmu, pastilah kau  telah  dapat membereskan mereka... Bukankah kau ingin berkata demikian?" 

"Ya," jawab Lie Hong Kiauw dengan tegas, "Bagusilah, jika kau tahu, "Marilah kita berangkat sekarang!" 

"Apalkah dia dimasukkan ke dalam keranjang lagi?" tanya Thio Sin Houw sambil menunjuk Bu Teng Kun yang masih menggeletak di atas tanah. 

"Benar! Kau tolonglah." ujar Lie Hong Kiauw. 

Thio Sin Hauw menghampiri Bu Teng Kun dan mencoba mengangkatnya, Tentu saja tak dapat ia mengangkat tubuh Bu Teng Kun dengan seorang diri, maka Lie Hong Kiauw membantunya. Dengan tenaga mereka berdua, tubuh Bu Teng Kun terangkat dengan mudah dan dimasukkannya ke dalam keranjang kembali. Lie Hong Kiauw kemudian mencari pikulannya, setelah diketemukan, seperti  tadi  ia  memikul kedua keranjangnya dan berjalan mengarah ke jurusan barat- daya.   Berjalan kira-kira beberapa lie, tibalah mereka di sebuah rumah gubuk. Lie Hong Kiauw lalu berteriak: 

"Kiang susiok, hayolah!" pintu terbuka, dan  muncullah seorang laki-laki hitam legam memikul beban pula. Pandang matanya berkilat-kilat, Dengan tak mengeluarkan sepatah katapun, ia segera mengikuti Lie Hong Kiauw. 

 (Oo-dwkz-oO) 

MELIHAT munculnya orang hitam legam itu, meremanglah bulu-roma Thio Sin Houw. pikirnya didalam hati: 

"Lagi-lagi orang aneh !" 

Akan tetapi melihat kesungguh-sungguhannya dan Lie Hong Kiauw menanggapi dengan sikap wajar pula, tak berani Thio Sin Houw minta keterangan kepadanya. iapun segera mengikuti Lie Hong Kiauw dalam jarak tiga  langkah.  Empat- lima kali Lie  Hong Kiauw menengok  dan   menghadiahkan suara tertawa manis, itulah suatu tanda bahwa kini ia merasa puas terhadap sang adik yang patuh. 

Dari rumah gubuk orang hitam itu, Lie Hong Kiauw terus berjalan mengarah ke utara.  Dan selama berjalan mereka bertiga membisu, Kira-kira jam empat pagi, tibalah mereka di depan rumah aneh yang bentuknya seperti topi  di tengkurupkan, itulah rumah suami isteri Kim Sun Bo dan Kim Popo. 

Lie Hong Kiauw kemudian mengeluarkan tiga  ikat  bunga biru dari dalam keranjang. yang seikat diberikannya  kepada Thio Sin Houw, yang lain di berikan kepada  orang hitam tersebut dan sisanya dipegangnya sendiri. setelah melompati pagar pohon rumput Cin-su cay, ia berteriak nyaring: 

"Jie-ko dan sam-sucie! Apakah kalian berdua sudi membukakan pintu bagiku?" 

Tiga kali ia berseru, akan tetapi sama  sekali  tak memperoleh jawaban. 

Setelah menunggu beberapa saat lamanya, Lie Hong  Kiauw memberi isyarat anggukan kepada orang yang disebutnya. 

Kiang susiok. Orang  hitam  itu  segera  meletakkan  bebannya kaatas tanah, dan mengeluarkan alat-alat besi - dari sebuah alat penyemprot api tungku dapur, bubuk  besi,  timah dan perabot pengebur. ia membuat api dan mulai melumerkan bubuk besinya. setelah  bubuk besi lumer, ia lalu memateri bagian bagian yang renggang dari rumah aneh itu.  

Thio Sin Houw yang selama ini  mengikuti  gerak-gerik orang hitam itu segera mengetahui,  bahwa  dia  sedang menutup pintu-pintu dan jendela-jendela rumah besi Kim Sun Bo suami-isteri, Rupanya  karena merasa diri tidak  dapat mengatasi kepandaian adik seperguruannya,  mereka  berdua tak berani perlihatkan diri.  

Tak ubah seperti kura-kura sembunyikan kepala, mereka lantas saja menutup semua pintu dan jendelanya, Dengan demikian, seperti halnya yang dilihat  oleh Thio Sin Houw, rumahnya yang aneh itu  nampak  seperti  tidak  berpintu maupun jendela. 

Setelah semua lubang ditutup rapat, Lie  Hong Kiauw menggapai Thio Sin Houw, Dengan isyarat mata, gadis  itu memberi perintah agar Sin Houw mengikutinya, Dia berjalan mendahului dan  melompati  barisan  pagar  pohon-pohon rumput Cin-su cay.  

Arahnya ke jurusan barat-laut dan setiap kali mengalahkan kakinya, ia selalu menghitung dengan cermat. setelah berjalan beberapa puluh langkah, ia membelok ke timur  lima  langkah lagi dan kekiri empat langkah.  Kemudian  berkata memutuskan: 

"Disinilah!" 

Lalu ia menyalakan lilinnya, Dengan matanya yang tajam Thio Sin Houw mengamat-amati dua batu besar yang berada didepannya, ternyata diantara  dua  batu  besar  tersebut terdapat sebuah lubang kira-kira sebesar piring dan teraling sebuah batu.  "lnilah lubang tempat mereka bernapas." kata Lie  Hong Kiauw sambil terus berjongkok. "Mereka tak dapat ke luar lagi dari rumah itu, karena semua lubang angin maupun pintu dan jendelanya sudah tertutup rapat, Maka sebentar lagi pastilah mereka akan menghampiri lubang ini." 

Lilin yang telah dinyalakan tadi diletakkan ke mulut lubang dan dengan bantuan angin perlahan-lahan asapnya masuk ke dalam. 

Menyaksikan tindakan Lie Hong Kiauw yang dianggapnya sangat kejam Thio Sin Houw jadi bergidik. Tiba-tiba saja ia jadi merasa iba terhadap  orang orang yang terkurung didalam rumah besi tersebut. Apakah perbuatan begini dapat dibenarkan? 

Beberapa saat kemudian, Lie Hong Kiauw bahkan mengeluarkan kipas bambunya. Dan dengan kipas itu ia mulai me-ngipasi asap lilin ke dalam lubang  pernapasan,  dan  Thio Sin Houw tak dapat bersabar lagi, Dengan berdiri tegak ia berkata menegur: 

"Hong cici! Apakah kau sangat berdendam terhadap kedua kakak seperguruannya itu? Tak dapatkah kau mencari jalan damai lain lagi?" 

"Tidakl" jawab Lie Hong Kiauw  dengan  suara tawar. "Apakah   gurumu  memberi  perintah  kepadamu,   agar kau 

membersihkan    rumah     perguruanmu?"     Thio    Sin    Houw 

menegas. 

"Belum sampai begitu jauh, hanya mirip saja." sahut Lie Hong Kiauw acuh tak acuh. 

"Tapi ... tapi " kata Thio Sin Houw terputus-putus. Tak 

tahulah ia bagaimana hendak menyatakan perasaan hatinya, sedangkan Lie  Hong Kiauw mendongak mengawasi lalu berkata dengan suara tawar dingin: 

"Kenapa kau jadi begitu bingung?"  

"Jika kedua kakak seperguruanmu itu mempunyai  kedosaan yang sangat besar,  biarlah  kali  ini  diberi kesempatan agar mereka dapat  merobah  sepak-terjang mereka yang telah  lampau  untuk  menebus  dosa-dosanya." ujar Thio Sin Houw dengan suara setengah memohon. 

"Ya!" sahut Lie Hong Kiauw. "Guruku pun pernah berkata begitu," ia berdiam sejenak, lalu berkata lagi: "Sayang sekali, guruku kini sudah berada di alam baka,  Jika  beliau  masih hidup, pasti beliau  merasa cocok dengan cara berpikirmu." sedang mulutnya berkata  demikian,  tangannya  tetap mengipasi asap lilin yang makin lama makin banyak masuk ke dalam lobang, Thio Sin  Houw menggaruk-garuk kepalanya dengan menuding lilin berasap itu ia berkata: 

"Bukankah asap beracun itu dapat membunuh manusia?" "Oh! Kalau begitu, hatimu yang mulia ini menyangka aku 

hendak mengambil jiwa mereka?" seru ide   Hong  Kiauw dengan tersenyum. 

Wajah muka Thio Sin Houw lantas saja menjadi merah, sebab oleh jawaban itu Lie Hong Kiauw hendak meyakinkan kepada Thio Sin Houw, bahwa ia tidak bermaksud hendak membunuh kakak seperguruannya.  Maka Sin Houw jadi merasa malu sendiri. 

Lie Hong Kiauw sendiri tidak menghiraukan keadaan hati Thio Sin Houw - dengan kukunya ia menggores lilinnya sambil berkata: 

"Adikku Sin Houw! Tolonglah kau menggantikan aku, tetapi hati-hati jangan sampai lilin ini  padam.  Kau  boleh memadamkan lilin ini, apabila apinya sudah membakar sampai digoresan ini!" 

Segera ia menyerahkan kipas bambunya kepada Thio Sin Houw, dan  kemudian bangkit berdiri sambil menebarkan penglihatannya ke sekitar rumah aneh itu serta memasang telinga. Tanpa berkata sepatah katapun lagi, Thio Sin Houw lantas saja melakukan perintahnya tadi. 

Apabila keadaan disekitar rumah aneh itu tetap sunyi  senyap dan tiada terjadi sesuatu diluar perhitungannya, Lie Hong Kiauw lantas duduk di atas sebuah  batu  besar  dekat  Thio Sin Houw. 

"Orang berkuda yang menghancurkan kebun bungaku, adalahKim Cin Nio, puterinya Kim Sun  Bo." kata ide Hong Kiauw tiba-tiba. 

"Aneh!" Thio Sin Houw berseru heran. "Bukankah yang melakukannya bukan seorang laki-laki?" 

"Apakah seorang perempuan tidak bisa menyamar sebagai laki-laki?" sahut Lie Hong Kiauw membalas  pertanyaan  Thio Sin Houw dengan pertanyaan pula. 

Thio Sin Houw tergugu sejenak lalu minta keterangan: "Apakah diapun berada dalam rumah ini?" 

"Benar," jawab Lie Hong Kiauw dengan tertawa lebar. "Apa 

yang kita lakukan sekarang ini, justru untuk menolong dia. Kita harus merobohkan kedua  kakak  seperguruanku  terlebih dahulu, agar mereka berdua tidak  menghalangi  pekerjaanku ini." 

Sekali lagi Thio Sin Houw berseru tertahan. Didalam hati ia berkata: 

"Benar-benar diluar dugaanku  semua perbuatannya, ia membakar lilin yang samar akan tetapi ia tidak bermaksud membunuh orang, sebaliknya malah menolong. Sepak- terjangnya ini yang sukar diduga. Hanya setan dan iblis yang bisa menebaknya!" 

"Sebenarnya jie-suheng dan sam-sucie  mempunyai seorang musuh bernama Ang Sin Kong." ujar Lie Hong Kiauw. 

"Ang Sin Kong sudah berada di tempat ini  kira-kira setengah tahun yang lalu, akan tetapi masih belum mampu ia menerjang rumahnya jie-suheng yang istimewa ini. itulah disebabkan karena pohon rumput Cin-siu cay yang sangat mengandung racun. Di dunia ini tak ada orang yang mampu melawan racun dahsyatnya, hanya bunga biru itulah satu- satunya pemunah racun rumput Cin-siu cay.  

Mula-mula jie-suheng dan sam-suci tidak mengetahui khasiat bunga biruku, akan tetapi begitu kuberikan kepadamu berdua, mereka lantas tersadar.  Dapat  dibayangkan betapa terkejutnya mereka berdua, begitu menyaksikan kalian dapat melawan pohon-pohon beracunnya," 

"Benar!" Thio Sin Houw memotong. "Tatkala aku dan Cie toako datang ke mari, lapat-lapat aku  mendengar  suara mereka, kaget berbareng gusar dari dalam rumah ini." 

Lie Hong Kiauw mengangguk dan ber kata meneruskan: "Seperti kataku tadi,  racun Cin-siu cay sebenarnya tak 

dapat dipunahkan oleh ramuan pemunah  yang  terdapat  di dunia ini, sebaliknya orang bisa kebal terhadap  racunnya, apabila sering makan buahnya. Untunglah, meskipun besar bahayanya, tanda-tanda Cin-siu cay sebenarnya mudah sekali dikenali. Jika pohon itu tumbuh di suatu tempat, disekitarnya dalam jarak sepuluh atau duapuluh  meter tiada  terdapat seekor semut atau sebatang rumputpun." 

"Benar katamu!" kata Thio Sin Houw, "Tadinya aku heran sekali melihat disekitar rumah ini, sama sekali tiada terdapat tetumbuhan apapun juga. Akh, jika aku tidak   kau  berikan bunga birumu itu " berkata sampai disitu, Thio Sin Houw 

bergidik dengan sendiri-nya, karena teringat  pengalamannya yang seram bersama Cie Siang Gie. 

"Bunga biru itu baru saja berhasil aku tanam." Lie Hong Kiauw memberi keterangan.  "Aku merasa syukur terhadap kalian berdua, yang bisa menghargai jerih payahku, Mengapa tidak kau lemparkan saja ditengah jalan?" 

"Bunga itu sangat indah!" sahut Thio Sin Houw. 

"Hemm karena indah, maka kau tidak membuangnya, 

bukan?" Lie Hong Kiauw menegas. 

Thio Sin Houw tergugu,  ia mendeham beberapa  kali, karena tak tahu bagaimana  harus menjawabnya, Berkata didalam hati:  "Benar, Jika bunga itu tidak indah, barangkali tak sudi aku menyimpan nya didalam saku. Dengan begitu yang menolong aku berdua Cie toako sesungguhnya adalah keindahannya." 

Selagi ia mendengarkan kata hatinya sendiri, angin mendadak meniup keras, sehingga memadamkan nyala lilin. 

Thio Sin Houw terperanjat bukan main sampai setengah berteriak: 

"Hai! Bagaimana ini?" 

"Sudahlah!  Kira-kira sudah cukup! " kata Lie Hong Kiauw 

menghibur. 

Hati Thio Sin Houw tercekat mendengar suara Lie Hong Kiauw agak kurang senang, ia jadi malu sendiri karena segala yang diminta Lie Hong Kiauw berakhir dengan  kejadian- kejadian yang tidak memuaskan hati. Maka segera ia berdiri dengan membungkuk penuh sesal. Katanya. 

"Maaf, Hong cici. Entah sudah berapa kali aku  meminta maaf kepadamu. Entah kenapa, malam ini pikiranku menjadi kalut begini " 

Lie Hong Kiauw tidak menyahut. Karena itu Thio Sin Houw meneruskan: 

"Aku tadi sedang berpikir, tiba-tiba angin kencang meniup. Tatkala kau menghadiahi aku bunga biru itu, sama sekali tak kuketahui bahwa bunga itu menolong jiwaku. Meskipun demikian aku tetap menyimpannya, karena aku pikir segala hadiah dari seseorang itu harus dan wajib disimpan dengan sebaik-baiknya." 

sekali lagi Lie Hong Kiauw membungkam mulut, ia hanya mendengus beberapa kali, Dan hati Thio Sin Houw jadi pedih. Beberapa saat kemudian, ia mencoba berkata lagi: 

"Belum lagi umurku mencapai sepuluh tahun, aku sudah tiada berayah bunda lagi, jarang sekali orang menghadiahkan sesuatu kepadaku " 

"Akupun begitu," tiba-tiba Lie Hong Kiauw memotong.  "Akan tetapi semua orang dewasa di dunia ini berasal dari bocah yang belum pandai beringus. Lambat-laun, seseorang akan bisa menjadi dewasa..." sambil berkata demikian ia turun dari batu. ia menyerahkan lilinnya  kembali  dan   mencari sebuah batu, Kemudian ditutupkan ke lubang pernapasan rumah aneh itu, dan dengan menghela  napas ia berkata memerintah: 

"Hayooolah!" 

ia mendahului berjalan dan  Thio Sin  Houw mengikukt dengan membungkam mulut. Anak itu tak berani lagi mengumbar pikirannya yang ternyata  selalu salah. Sebab ternyata tatkala mereka tiba-di rumah Kim Sun Bo suami isteri,  si tukang besi "Kiang susiok" itu sedang duduk diatas tanah. 

"Kiang susiok! Tolong sekarang  buka kembali semua!" perintah Lie Hong Kiauw sambil menunjuk bagian rumah yang tadi dipateri. 

Tanpa berkata sepatah katapun  juga, tukang besi  itu segera mengambil alat-alatnya. Lalu melakukan perintah Lie Hong Kiauw dengan sungguh-sungguh. Kira-kira seperempat jam kemudian, semua pateri tadi selesai dibuka kembali. 

"Sekarang bongkarlah pintunya susiok!" perintah Lie Hong Kiauw. 

Kiang susiok itu segera bekerja, setelah mengetuk-ngetuk beberapa kali, ia kemudian menyentak dengan palunya Dan dengan suara berkerontangan, sepotong papan besi jatuh kebawah dan berbukalah sebuah pintu yang tingginya enam kaki dan lebarnya tiga kaki. 

Thio Sin Houw heran menyaksikan cara kerja tukang besi itu, ia benar-benar paham akan pekerjaannya, perlengkapan rumah dikenalnya dengan baik - dengan cekatan ia menarik sebuah tombol yang ada dibalik  pintu,  lalu  muncullah sepasang tangga kecil. 

"Sekarang buang lah  semua bunga biru""  perintah  Lie Hong Kiauw, ia mendahului melaksanakan perintahnya - mendadak menoleh yang segera diikuti oleh "Kiang susiok dan Thio Sin Houw, Tatkala hendak  mendaki tangga  penghubung, ia menebarkan penciumannya.  Mendadak menoleh  kepada Thio Sin Houw dan berkata. 

"Adik, didalam sakumu masih tersimpan bunga biru pemberianku jangan kau bawa masuk." 

"Akh!" seru Ohio Sin Houw heran sambil menggerayangi sakunya, lalu mengeluarkan sebuah  bungkusan kain dan dibukanya. Katanya lagi: 

"Penciumanmu benar-benar tajaml Meskipun didalam bungkusan, masih saja tercium olehmu " 

Thio Sin Houw membungkus bunga biru tersebut dalam saputangan pemberian Ciu Sin Lan.. Bunga itu ternyata telah layu. Dengan hati-hati ia menaruhnya di luar pintu. 

Melihat cara menaruh dan  menyimpan, terharu hati Lie Hong Kiauw, Benar benar Thio Sin Houw menghargai bunga pemberiannya. Tadi ia tidak yakin akan kejujuran bocah  ini, akan tetapi kini hatinya menjadi girang dan  bersyukur, ia berpaling menatap wajah Thio Sin Houw dan memberi hadiah senyum, Kemudian katanya: 

"Adik yang baik, kau benar tidak berdusta." 

Thio Sin Houw tak mengerti, apa sebab Lie Hong Kiauw berkata demikian. serunya tersinggung: 

"Dusta? Kenapa aku berdusta kepadamu ?" 

Lie Hong Kiauw tidak menjawab. ia  melangkahkan kakinya ke ambang pintu sambil berkata: 

"Mereka yang berada didalam tak tahan terhadap bunga biruku, karena mereka biasa makan buah pohon Cin-siu cay." setelah berkata demikian ia meneruskan perjalanan memasuki rumah aneh itu, dengan merribawa lenteranya. 

Thio Sin Houw dan Kiang susiok segera mengikuti dibelakang.  Tiba dikaki tangga terakhir mereka berada  di sebuah terowongan yang sangat sempit. setelah  membiluk  dua  kali, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan kecil berdinding penuh lukisan dan perabut rumah tangga dari  bambu,  Menyaksikan hal itu diam-diam Thio Sin Houw heran didalam hatinya.  

Sama sekali diluar dugaan, bahwa Kim Sun  Bo dan isterinya yang nampaknya begitu kasar mempunyai perasaan halus sampai dapat menghiasi rumahnya dengan lukisan lukisan serta perabot meja kursi yang sedap dipandang mata. 

Lie Hong Kiauw berjalan tanpa membuka mulut, beberapa saat kemudian mereka bertiga tiba dibagian dapur, Dan apa yang terjadi didapur itu sangat mengejutkan Thio Sin Houw. 

Kim yun Bo dan Kim Popo nampak menggeletak di  atas lantai. Mereka berdua tidak berkutik, entah mati entah masih hidup. Akan tetapi, bukan keadaan mereka itulah yang mengherankan Thio Sin Houw, ia tahu, mereka roboh akibat racun bunga Pek-hu cuhwa, Apa yang mengherankan hatinya adalah, ia melihat seorang dewasa berada didalam  sebuah kuali besar, sedang air di dalam kuali  itu  nampak mengepulkan uap  walaupun belum mendidih, akan  tetapi sudah pasti panas sekali.  

Melihat hal itu secara naluriah  Thio  Sin  Houw mempercepat langkahnya, ia bergegas mendahulup Lie Hong Kiauw yang berjalan didepannya, Maksudnya sudah terang hendak menolong orang itu, yang tersiksa  digodbk  dalam kuali. Dia menduga bahwa  orang itu terjatuh  dalam  kuali tatkala pingsan, akibat asap beracun kembang Pek-hu cu-hwa memasuki lubang pernapasan. 

"Hei, kau mau kemana?" tegur Lie Hong Kiauw sambil menarik lengan baju Thio Sin Houw, "Cobalah lihat, dia lelaki atau perempuan?" 

"Dia laki-laki atau perempuan bukan soal!" sahut Ihio Sin 

Houw dengan suara bergemetaran. 

"Oh, begitu? coba lihat yang  jelas,  dia  memakai  celana atau tidak.,?" kata Lie Hong Kiauw dengan wajah merah.  "ldiiih! Masa orang itu tidak memakai pakaian ?" "Bungkukkan saja badanmu  dan mendekatlah ! Tolong 

tambah kayunya, agar airnya cepat mendidih!" 

Thio Sin Houw percaya akan kecerdasan otak gadis  itu, tetapi ia perlu meyakinkan diri, Tanyanya menegas: 

"Apakah dia Kim Cin Nio?" 

"Ya!" jawab Lie Hong Kiauw. Jie-suheng dan Sam-sucie ingin melarutkan racun yang berada dalam diri Cin Nio dengan jalan menggosoknya dalam kuali. Akan tetapi tanpa bantuan bubuk racun Pek-hu cu-hwa, jerih payahnya, tidak akan berhasil." 

Mendengar keterangan Lie Hong Kiauw, Thio Sin Houw menjadi berlega hati, Tanpa  ragu-ragu  lagi ia menambah beberapa potong kayu bakar ke dalam tungku  api,  Akan  tetapi ia tidak berani menambah terlalu banyak, karena khawatir Kim Cin Nio tidak akan tahan. Terdengar Lie Hong Kiauw berkata memerintah lagi: 

"Tambah lagi! Kenapa kau begini pelit?" 

THIO SlN HOUW merasa  bimbang  lalu  mendongak menatap wajah Lie Hong Kiauw dengan pandang menyelidik. 

Lie Hong Kiauw berkata meyakinkan: "Percayalah! Dia tidak akan mati." 

Dengan kepala penuh teka-teki  ia  menambah  empat potong kayu bakar lagi ke dalam tungku itu, kemudian mundur dengan tetap membungkuk. setelah mundur lima langkah, ia memutar badan menjauhi. Melihat  pekerti Thio Sin  Houw, maka Lie Hong  Kiauw tersenyum  dengan  muka  bersemu dadu. 

Tak lama kemudian, Lie Hong Kiauw menghampiri kuali besar itu, ia mencelupkan jari telunjuknya  untuk  mengukur suhu air yang nampak mulai mendidih. 

Ia menunggu kira-kira sepuluh menit lagi, lalu  mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi bubuk berwarna ungu. 

Itulah bubuk bunga biru, Pek-hu cu-hwa. ia menaburkan ke dalam air mendidih dan kemudian mengaduknya, setelah itu menghampiri Kim Sun Bo dan Kim Po-po. Dengan jari telunjuk  ia mengambil bubuk pemunah racun, kemudian diselomoti ke hidung mereka berdua. 

Dan begitu menyedot obat pemunah  racun  yang ditempelkan Lie Hong Kiauw, lantas saja mereka bersin, pada saat itu juga mereka menyenakkan mata. 

Dalam pada itu, Lie Hong Kiauw mulai bekerja,  ia menyenduk air mendidih dalam kuali besar tersebut dengan sebuah gayung.  Air mendidih itu dibuangnya dan  diganti dengan air dingin,  sambil menuang  air  dingin, tak lupa ia menaburkan bubuk bunga birunya. 

Menyaksikan hal itu, paras muka Kim Sun Bo dan isterinya yang tadinya guram lantas saja berugah girang, Mereka tahu, bahwa Lie Hong Kiauw sedang menolong puterinya, serentak mereka bangun berdiri mengawasi gerak-gerik adik seperguruan mereka itu dengan membungkam mulut. 

Thio Sin Houw menoleh dan  mengamat-amati wajah mereka, nampaknya masih berbimbang hati,  Hal itu bisa dimengerti, puteri mereka kena racun  adik  seperguruannya dan kini gadis yang meracuni datang menolongnya. inilah pekerti yang tak pernah terlintas dalam benak mereka. 

Kim Sun Bo dan Kim Popo tadi sudah berusaha mati- matian, untuk menolong jiwa  puteri mereka  itu dengan hati kurang yakin. Dan kini gadis yang meracuni  dapat memunahkan racun dengan cekatan dan pasti. Tentulah gadis itu sudah mewarisi seluruh kepandaian guru mereka.  

Menyadari hal  itu, mereka berdua  nampak jelus,  Akan tetapi mereka mati kutu, bukankah dalam waktu singkat saja mereka berdua dan kakak seperguruan mereka yang tertua roboh ditangan adik seperguruan yang termuda itu?  Lie Hong Kiauw tidak menghiraukan kesan mereka berdua, dia tetap bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh, seperti tadi, setiap kali air mendidih ia  menyendok  dengan  gayung dan membuangnya. Kemudian diganti dengan segayung air dingin. Direbus secara begitu, racun yang mengeram di dalam tubuh Cin Nio terhisap perlahan lahan oleh bubuk pemunah. setelah beberapa lama, Lie Hong Kiauw kemudian berpaling kepada si tukang besi dan berkata memerintah: 

"Kiang susiok! Hayolah turun  tangan. Tunggu sampai  kapan lagi? Bukan-kah sekarang saat yang sebaik-baiknya. 

"Baiklah!" sahut si tukang besi sambil mengambil sepotong kayu bakar. Dan selagi Thio Sin Houw sedang heran mengawasi, tiba-tiba tangan Kiang susiok yang menggenggam kayu bakar itu terayun memukul kepala Kim Sun Bo. 

"Hei, gila kau!" bentak Kim Sun Bo dengan suara gusar. segera ia hendak menggerakkan tangannya, tetapi isterinya mencegah: 

"Suko! Saat ini adik kita sedang menolong jiwa anak kita satu-satunya, Budi ini bukan main  besarnya.  Menerima pukulan beberapa kali tanpa membalas, rasanya bukan apa- apa. Kau terimalah, dengan hati ikhlas, orang itu hanya melaksanakan perintah adik kita." 

Mendengar kata-kata isterinya, Kim Sun Bo tercengang, akan tetapi kemudian ia menundukkan kepala. Lalu ia berkata dengan suara menahan gusar: 

"Baiklah!" 

Dan ia menyerahkan dirinya kepada si tukang besi, untuk membiarkan digebuk pulang-balik sampai babak belur! 

"Anjing!" teriak si tukang besi. 

"Kau sudah merampas sawah-ladangku... rumahku .. kau paksa pula aku membangun rumah besi ini, jangan lagi kau merasa hutang budi atau memberikan sekedar  upah kepadamu, sebaliknya kau bekuk aku sampai nyaris mampus. lihatlah, tulang igaku patah tiga!Dan  hampir setahun penuh  aku terpaksa rebah  tidak  berdaya.  Karena  sawah  dan ladangku kau injak-injak, rumahku kau rampas, aku terpaksa mengobati lukaku dengan sisa-sisa barangku yang masih ada, Anjing! Aku ini orang miskin... kenapa kau begitu kejam dan biadab? 

Apa aku pernah mengganggu  selembar rambutmu? Oh, Tuhan! Akhirnya pada hari ini aku bisa bertemu dengan kalian berdua ..," 

Sambil terus memaki-maki, tukang besi itu memukul, menghantam dan  menendang kalang-kabut  tubuh  Kim  Sun Bo. Meskipun tidak memiliki himpunan  tenaga sakti,  akan tetapi pukulannya cukup keras karena tangannya  terlatih sebagai tukang besi, Kayu pembakar yang digunakan sebagai alat penggebuk, patah tujuh-delapan kali sabetan saja. 

Dapat dibayangkan, bahwa Kim Sun Bo sangat menderita karenanya, Namun dengan mengertak gigi, ia menerima pukulan-pukulan tukang besi itu tanpa membalas atau mengelak. sekarang tubuh serta mukanya tidak hanya babak- belur, tetapi mulai mengeluarkan darah.  

Dalam pada itu Thio Sin Houw yang berotak cerdas, lantas saja dapat menebak latar belakang peristiwa itu. 

Tukang besi itu rupanya menyimpan dendam begitu rupa kepada suami isteri Kim Sun Bo. oleh pertolongan Lie Hong Kiauw, dapatlah ia melampiaskan dendamnya. Dia sendiri adalah seorang anak yang mendendam pula terhadap lawan- lawan ayah-bunda  dan  saudaranya  yang mati penasaran. Karena itu menyaksikan betapa si tukang besi dapat melampiaskan dendamnya, hatinya mendadak ikut bersyukur pula, Tak sekehendaknya sendiri, ia memanjatkan doa  syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Adil. 

Dalam waktu yang pendek saja, tiga potongan kayu bakar sudah patah untuk alat penggebuk. Muka dan seluruh  tubuh Kim Sun Bo berlumuran darah. 

Dan melihat seluruh tubuh Kim Sun Bo sudah berlumuran darah, tukang besi itu menghentikan gebukannya, Betapapun  juga, dia bukan manusia kejam. segera ia melemparkan kayu bakar keempat ke tanah, lalu menghadap Lie Hong Kiauw, sambil membungkuk hormat, ia berkata: 

"Lie kouwnio, pada hari ini  kau telah menolong aku melampiaskan dendamku. Budimu ini takkan kulupakan selama-lamanya. Entah dengan cara bagaimana, aku dapat membalas budimu!" 

"Kiang susiok! Tak usah kau berkata demikian." sahut Lie Hong Kiauw, Kemudian menoleh kepada Kim Popo, katanya: 

Sam-sucie, kembalikanlah sawah ladang dan   rumahnya. Aku mohon kepadamu, agar mulai saat ini kalian jangan membalas sakit  hati  kepadanya  lagi.Maukah  sam-sucie berdua jie-suheng berjanji?" 

"Selama hidupku, tak akan lagi menginjak  daerahnya," jawab Kim popo dengan angkuh, "Akan tetapi,  jangan  harap aku akan melupakan peristiwa hari ini..." 

"Baiklah!," sahut Lie Hong Kiauw  memaklumi.  "Kiang susiok, kau pulanglah dahulu, Disini tiada lagi sangkut-pautnya dengan urusanmu. semuanya sudah beres, bukan?" 

Dengan muka berseri-seri, tukang besi itu memungut beberapa potongan kayu bakar yang berlumuran darah, lalu berkata: 

"Orang itu sangat jahat, tetapi aku  telah  dapat melampiaskan dendamku, Perkenankan aku menyimpan alat pemukul pembalas dendam ini, sebagai kenang-kenangan, " 

Setelah berkata demikian, kembali ia membungkuk hormat kepada Lie Hong Kiauw, kemudian memutar badannya meninggalkan ruangan itu dengan langkah panjang. 

Melihat pandang mata tukang besi yang berseri-seri itu, jantung Thio Sin Houw tergoncang, itulah suatu keserian yang membersit dari rasa syukur luar biasa, ia jadi ingat dirinya sendiri. Apabila dikemudian  hari  ia  juga  berhasil melampiaskan dendamnya, pastilah akan segirang dia pula. Teringat pula ia kepada musuh-musuhnya yang kejam, dan  kekejaman mereka tiada beda  dengan  kebengisan  Kim  Sun Bo maupun Kim Popo.  Mengingat pekertinya  yang busuk, bukanlah suatu hal yang mustahil akan  mengejar  si  tukang besi untuk  menganiaya sekali lagi, begitu Lie Hong Kiauw meninggalkan rumahnya, Memperoleh  pikiran  demikian, segera Thio Sin Houw lari mengejar  si tukang besi sambil berseru. 

"Kiang susiok, menurut pendapatku  Kim Sun  Bo dan isterinya bukanlah manusia-manusia baik. Karena   itu,  lebih baik susiok mengungsi jauh-jauh. 

Sawah-ladang dan rumah susiok, segera dijual  saja! Dengan bekal uang hasil penjualan itu, hendaklah susiok mencari daerah yang jauh dan aman dari perbuatan mereka." 

Si tukang besi itu tercengang, sejenak kemudian ia terperanjat. Benar pikirnya, Mereka berdua, suami  isteri  Kim  Sun Bo adalah manusia-manusia  beracun.  Kemungkinan besar mereka akan datang kembali untuk menyakiti dirinya,  akan tetapi menjual sawah-ladang dan rumahnya yang telah didiami belasan tahun, alangkah sayang, Rasa cinta kepada kampung-halaman sudah demikian meresap didalam dirinya, maka berkatalah dia mencoba minta pertimbangan: 

"Tetapi, bukankah mereka berdua  sudah  berjanji  kepada Lie Kouwnio? masakan mereka akan melanggar janjinya sendiri?" 

Lie Hong Kiauw tadi menyesali Thio Sin Houw yang telah memperkenalkan namanya terhadap suami-isteri Kim Sun Bo. pastilah hal itu ada alasannya yang kuat, itulah sebabnya, begitu mendengar perkataan si tukang besi maka  Thio  Sin Houw lalu berkata meyakinkan: 

"Mereka berdua manusia-manusia beracun, apakah susiok percaya kepada orang semacam mereka berdua?" 

Si tukang besi seperti tersadar dari tidurnya, dengan suara mengeluh ia berkata: 

"Benar ... benar, Baiklah, kalau begitu aku harus  menyingkir jauh-jauh" sehabis berkata demikian, dengan bergegas ia menuju ke ambang pintu. 

Sekonyong-konyong pada waktu menginjak  tangga  kedua, ia berhenti lalu menoleh dan berkata kepada Thio Sin Houw: 

"Terima kasih, siauw siangkong siapakah namamu?" "Thio Sin Houw." jawab Sin Houw singkat. 

"Sin Houw! Alangkah hebat nama itu!" seru si tukang besi.