Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 03

Jilid 03

Masing-masing pihak hanya memiliki sepertiga ilmu kesaktian berdasarkan kitab Kui-yang cin-keng, namun masing-masing pihak mempunyai keistimewaannya sendiri.  Kini ketiga sisa muridnya Tie-kong  tiangloo  mengerti, bahwa sang guru mengharap dengan ilmu Kui- yang cin-kang yang lengkap, nyawa Sin Houw akan dapat  ditolong,  Akan tetapi selama dua tahun  akhir-akhir ini, mungkin karena terjadinya peristiwa binasanya Thio Kim San - perhubungan antara Siauw-lim dan Boe-tong telah menjadi retak. sebagai seorang guru besar dari sebuah partai ternama, perginya Tie- kong tiangloo ke kuil Siauw-lim  sie  untuk  meminta pertolongan, menurunkan derajat Boe-tong pay - akan tetapi, demi cinta yang tidak mengenal batas terhadap diri Thio Sin Houw, guru besar itu telah menyampingkan segala nama kosong.  

Sesudah tertegun, semua muridnya menghela napas,karena rasa kagum akan kebesaran jiwa sang guru. 

pihak Go-bie pay yang memiliki sepertiga bagian ilmu Kiu- yang Cin-kang, ternyata Ceng-in suthay yang menjadi ciangbunjin sungkan menemui orang  luar,  Beberapa  kali sudah Tie-kong tiangloo pernah memerintahkan Koan Siok Hu membawa suratnya ke gunung Go-bie  san,  tapi  pendeta wanita itu tidak menggubris dan mengembalikan surat-surat itu tanpa dibuka, Maka itulah, jalan satu-satunya yang masih terbuka adalah minta pertolongan Siauw-lim sie. 

Tie-kong tiangloo menyadari bahwa apabila ia  mengutus saja murid-muridnya ke Siauw-lim sie, Cie-beng taysu  pasti tidak akan melayani. Oleh karena itu ia mengambil keputusan untuk pergi sendiri. 

Sekalian muridnya  Tie-kong Tiangloo mengerti, bahwa dalam keadaan terpaksa dan  demi mempertahankan  anak keturunan Thio Kim San,  gurunya  rela  turun  gunung,  Orang tua itu berharap pihak Siauw-lim sie mau menambahi kelengkapan ilmu sakti Kiu-yang Cin-kang.  

Kalau hal itu terjadi, gurunya akan memiliki dua-pertiga bagian, dan dengan modal itu ia  berharap  akan  dapat menolong jiwa Thio Sin Houw, Jadi alangkah besar pengorbanan orang tua itu, untuk menyelamatkan anak keturunan Thio Kim San satu-satunya.  Semenjak terjadi perpecahan antara  ketiga pihak itu, masing-masing tidak pernah berhubungan demi mempertahankan kehormatan diri. Malahan masing-masing saling bersaing, Kini terjadilah suatu peristiwa pengeroyokan terhadap Thio Kim San , dan dalam hal ini pihak murid-murid Go-bie pay dan Siauw-lim pay ikut campur pula. 

Walaupun mereka tidak melakukan pembunuhan secara langsung, Hubungan ketiga aliran itu sudah tentu kian menjadi retak, tidak lagi hanya bersaing  tetapi benar-benar saling mendendam suatu permusuhan. 

Tie-kong tiangloo menyadari akan hal  itu, inilah pokok sengketa apa sebabnya Thio Kim San dituduh yang bukan- bukan, seakan-akan ia menyembunyikan golok Sun-lui  to. Namun suatu hal  yang tidak diketahui  oleh orang tua  itu, adalah ulah Lim Tiauw Kie  yang sampai saat  itu  tiada beritanya. 

Walaupun demikian, Tie-kong tiangloo kini mau juga merendahkan diri dan bersikap mengalah dengan memohon bantuan kepada pihak Boe-tong pay dan Siauw-lim pay, Tegasnya ia rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi , demi anak keturunan Thio Kim San. 

 (Oo-dwkz-oO) 

PADA ESOK PAGINYA  Tie-kong  tiangloo  berangkat dengan mengajak Thio Sin Houw, diantar oleh murid-muridnya sampai di kaki gunung. Cia Sun Bie dan dua adik seperguruannya sebenarnya ingin mengikut, tetapi dilarang karena Tie-kong tiangloo khawatir kedatangannya banyak orang akan menimbulkan kecurigaan pihak Siauw-lim sie. 

Dengan masing-masing menunggang keledai,  si kakek dan si bocah menuju ke arah utara, jarak antara Siauw-lim dan Boe-tong tidak terlalu jauh, Dari Boe-tong san yang letaknya di Ouw-pak utara, ke Siong-san di Holam barat  hanya  memerlukan perjalanan beberapa hari, setelah menyeberangi Sungai Han Sui di Loo-ho kouw, mereka tiba di  Lam-yang, terus menuju ke utara sampai di Nie-coe dan mulailah mereka  memasuki daerah  pegunungan  yang  berhutan  lebat. Menghirup udara segar, tergetarlah hati Thio Sin Houw, 

Teringatlah dia, tatkala ayah dan ibunya membawa  lari  dari satu tempat ke tempat lainnya sambil menggebu musuh, seringkali dibawa mendaki gunung dan  menuruni jurang, kadang-kadang menyeberangi sungai-sungai yang  berarus besar dan memasuki hutan lebat yang penuh binatang buas maupun binatang berbisa. 

Sepuluh hari kemudian,  gunung  Siong-san  nampak  tegak di depan. Tie-kong tiangloo menambatkan keledainya pada sebatang pohon, kemudian dengan menggandeng tangan Sin Houw, mulailah dia mendaki gunung itu, Dibalik bukit yang berada didepan, tergelarlah suatu lembah yang sangat indah, hijau daun bersemarak memenuhi  persada bumi -  angin meniup lembut dan segar, 

"Dibalik bukit itulah, kita nanti melihat kuil Siauw-lim sie..." kata Tie-kong tiangloo. "Kau harus belajar sungguh-sungguh, agar bisa menolong dirimu sendiri." 

Thio Sin Houw mengangguk. 

"Kau berjanji , bukan?" Tie-kong tiangloo menegas. Kembali Sin Houw manggut. 

"Bagus, Dengan begitu , kau tidak akan sia-siakan harapan 

orang tuamu." 

"Benar, Tetapi diantara musuh-musuh yang mengepung ayah, katanya ada juga dari murid-murid Siauw Lim-pay." kata Sin Houw tiba-tiba. 

"Akh, cucuku, Untuk tujuan besar, kau harus belajar kesampingkan hal-hal kecil, Ingatlah, seringkali tujuan besar  bisa tergelincir oleh sebuah kerikil belaka, Aku mengharapkan kau kelak menjadi manusia yang berlapang hati." 

Thio Sin Houv mengangguk lagi untuk yang ketiga kalinya, sementara itu, bukit yang berada di sebelah depan tadi sudah terlampaui, Dan didepannya tergelar suatu pemandangan  yang menggairahkan. 

Tetapi di depan penglihatan, berjajarlah tiga bukit yang sedang tingginya,  samar-samar nampak  sebuah bangunan tinggi yang berpagar dinding batu pegunungan. 

Bentuk bangunan itu adalah sebuah kuil yang  besar,  luas dan bertingkat. 

"ltulah kuil Siauw-lim sie yang kenamaan diseluruh jagat," kata Tie-kong tiangloo memberitahukan, selagi Thio Sin Houw mengawasi bangunan itu dengan perasaan takjub. 

Tie-kong tiangloo adalah ciangbunjin Boe-tong pay, Kedudukannya sama tingginya dengan Cie Beng taysu yang menjadi ketua partai Siauw-lim pay. walaupun  demikian,  ia  mau bersikap merendahkan diri, Dengan  membimbing   Thio Sin Houw, perlahan-lahan  ia menuju ke  gardu  penjagaan untuk minta dilaporkan tentang kunjungannya. 

Gardu penjagaan itu mirip sebuah biara kecil, di atas atap terpancang suatu papan dengan tulisan kuil Siauw lim sie, Di dalam gardu itu Tie-kong tiangloo  bertemu dengan sebelas orang penjaga yang muda-muda, mengenakan  pakaian seragam seperti seorang calon pendeta. 

Dilain pihak, melihat  pakaian yang dikenakan Tie-kong tiangloo dan Thio Sin Hoirw yang sangat kasar, dan nampak kotor penuh debu bercampur keringat - para penjaga itu lantas bersikap tawar. Mereka tidak mempersilahkan masuk selagi menyambut kedatangan Tie-kong tiangloo berdua Sin Houw 

Tie-kong tiangloo adalah seorang pendeta golongan Boe- tong yang sudah bisa melonggarkan diri dari semua bentuk ikatan dunia, ia tidak memperdulikan sikap dan  pandang mereka. Dengan tetap berdiri ia minta disampaikan kepada Hong-thio taysoe (kepala kuil) , tentang kedatangannya. 

Mendengar perkataan Tie-kong tiangloo,  kembali para penjaga itu nampak terkejut. Benarkah orang tua itu Ciang- bunjin dari Boe-tong pay? Mengapa orang dan  pakaiannya nampak demikian kotor dan datang tanpa pengawal ?  Pribadi Tie-kong tiangloo memang sangat sederhana, Kecuali itu, ia seorang pendeta, ia tak menyukai pada segala tata-cara yang berlebihan. ia memandangnya tak lebih seperti para pelawak. itulah sebabnya,  pakaian yang berupa  jubah yang dikenakannya, terlalu sederhana bagi seorang dengan kedudukan seperti dia. 

"Tie-kong tiangloo adalah seorang Ciang-bunjin Boe-tong pay, apakah betul-betul Totiang adalah Tie-kong Tiang loo?" tanya salah seorang dari para penjaga itu. 

Mendengar pertanyaan orang  itu,  Tie-kong  tiangloo menjadi tertawa. 

"Apakah ada Tie-kong tiangloo yang palsu?" ia balik menanya. 

Mendengar jawaban itu , penjaga yang lain ikut bicara: "Apakah Tiangloo tidak sedang bergurau?" 

Tie-kong tiangloo kembali tertawa. 

"Apakah Tie-kong tiangloo memang sedemikian agungnya,sehingga ada orang yang sudi memalsukan?" 

Dengan penuh keraguan, dua  orang pendeta muda itu berlari-lari ke arah kuil untuk memberikan laporan, sesudah lewat sekian lamanya, pintu di tengah kuil terbuka dan Hong- thio Cie Beng taysu nampak bersama-sama Cie Keng dan Cie Goan taysu, Di belakang  mereka  mengikuti  lima  orang pendeta tua yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning. 

Tie-kong tiangloo mengetahui bahwa mereka adalah para anggauta dari Tat-mo-ih, dan tingkatan mereka mungkin lebih tinggi dari Cie Beng taysu yang menjabat  sebagai ketua pengurus kuil, Mereka itu biasanya menyendiri di dalam kuil untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat Siauw-lim pay. 

Setiap anggauta Tat-mo ih tidak  pernah   mencampuri segala urusan lain tetapi  sekarang,  agaknya karena mendengar tentang kedatangan  orang-orang  Boe-tong  pay, Cie Beng merasa perlu mengajak mereka.  Tie-kong tiangloo memberi hormat sambil berkata:  "Siauwtoo merasa berat untuk  menerima sambutan dari 

para taysu," 

 (Siauwtoo = Aku si imam kecil). 

Cie Beng Taysu dan  yang lainnya segera  merangkap tangan mereka. 

"Kedatangan Tie-kong tiangloo di luar dugaan siauw-ceng, apakah maksud kedatangan Tiangloo?" 

Tie-kong tiangloo tertawa. 

"Ke datangan siauwtoo adalah untuk minta pertolongan Taysu," jawabnya.. 

"Silahkan duduk." mengundang Cie Beng Taysu. 

Setelah duduk di ruangan pendopo  dan  di  suguhkan  air teh, di dalam hati Tie-kong tianglo merasa mendongkol. 

Setidaknya ia adalah seorang guru besar  dari  sebuah partai persilatan, tingkatannya bahkan lebih  tinggi  daripada, Cie Beng taysu. Adalah selayaknya ia diundang  masuk  ke dalam kuil, bukan hanya di terima di ruangan pendopo seperti para tamu biasa umumnya. 

Akan tetapi sebagai seorang insan yang sederhana dan berjiwa luhur, Tie-kong tianglo  dapat  menguasai  diri, pikirannya dan  hatinya sekaligus menjadi jernih   kembali  seperti permukaan sebuah telaga di  atas  gunung  yang  sunyi itu. 

Dilain pihak Cie Beng taysu dan yang lainnya seringkali merasa mendongkol, karena di kalangan   rimba  persilatan nama Boe-tong pay sudah sejajar dengan  Siauw-lim pay. Padahal menurut anggapan Cie Beng  taysu  dan  yang  lain,  ilmu silat Boe-tong pay dahulunya bersumber dari hasil curian milik Siauw-lim pay. 

Kunjungan Tie-kong tianglo hari itu dianggapnya bertujuan untuk membalas sakit hati Thio Kim San, disamping masih ada  hal-hal lainnya yang sedang dirisaukan oleh pihak  Siauw-lim pay. 

Selama dua tahun, akibat gara-gara  "urusan"  Thio  Kim San, pihak Siauw-lim pay  seringkali  menerima  kedatangan para tamu yang menanyakan perihal Golok Halilintar  dan perihal hilangnya Lim Tiauw Kie. Ada sementara pihak yang menganggap pihak Siauw-lim telah "menyingkirkan" Lim Tiauw Kie dan merebut Golok Halilintar dari tangan murid Go-bie itu, sehingga mereka menuduh pihak Siauw-lim ingin menguasai sendiri golok mustika itu yang mengakibatkan mereka menjadi marah-marah dan sering terjadi pertempuran. Pihak para tamu memang banyak yang binasa atau terluka, tetapi pihak  Siauw- lim pay juga tidak bebas dari kerusakan. Dalam anggapan Cie Beng taysu dan rekan-rekan separtainya, jelas yang menanam bibit penyakit adalah pihak Boe-tong pay! 

Kini secara diluar dugaan Tie-kong tianglo datang mengunjungi kuil Siauw-lim, jelas pihak Cie Beng  taysu  tak ingin sia-siakan kesempatan itu untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. 

Dengan geram maka Cie  Beng  taysu  lalu  berkata: "Silahkan tianglo jelaskan maksud kedatangan tianglo hari 

ini." 

Tie-kong tianglo tertawa perlahan,  tetapi  secara  berhati- hati dia menceritakan maksud kedatangannya, dimulai dengan peristiwa terbunuhnya  Thio Kim San  suami-isteri, sampai kemudian Thio Sin Houw menderita luka berat didalam tubuhnya. Dengan rendah hati dan kesabaran yang luar biasa Tie-kong tianglo menguraikan semua kisah itu, dan akhirnya dengan suara memohon ia menambahkan perkataannya: 

"Samwie adalah para pendeta suci yang selalu mempunyai rasa belas kasihan terhadap sesama umat  manusia,  dan nyawa anak ini sangat bergantung akan belas kasihan dari samwie. Maka itu dengan tidak melupakan welas-asih Sang Budha, siauwto memohon pertolongan, dan untuk itu siauwto sangat berterima kasih sekali."  Cie-keng taysu yang berada di samping  kiri  Cie-beng taysu, tertawa dingin dan berkata: 

"Benar, seseorang yang beribadat memang harus memiliki rasa belas kasihan terhadap sesama umat manusia, Tetapi tahukah tianglo, sudah berapa banyak murid-murid Siauw-lim yang binasa ditangan Thio Kim San dan isterinya? Bahkan setelah mereka binasa, terjadilah fitnah terhadap pihak kami mengenai urusan Golok Halilintar -orang-orang gagah dari berbagai partai dan golongan menuduh pihak kami yang telah menyerakahi benda  keparat  itu  sehingga  tak  sudahnya mereka mengganggu kami dan terjadi peristiwa saling bunuh.  

Namun demikian pihak kami tidak mau menarik panjang urusan itu karena ingin menghindarkan terjadinya bentrokkan antara pihak kami dengan pihak tianglo. Kalau  kami berpendirian hutang nyawa harus dibayar dengan  nyawa, sudah pasti kami akan meminta pertanggungan jawab kepada tianglo karena pihak murid-murid Boe-tong justeru yang telah membuat ulah sehingga terjadinya peristiwa berdarah ini!" 

Thio Sin Houw yang sejak  tadi  mendampingi  kakek gurunya dan ikut mendengarkan percakapan itu, bukan main mendongkolnya dan tak dapat menguasai diri  lagi.  Apalagi ketika ia mendengar nama ayah dan ibunya juga telah diungkat-ungkat bahkan dianggap sebagai salah seorang pembawa bencana, maka tak sanggup lagi ia membungkam terus. Lalu ia berkata dengan suara keras: 

"Sucouw! Para pendeta ini justeru telah membuat ayah-ibu mati dengan penasaran, Tetapi mereka seakan-akan memikulkan seluruh tanggung jawabnya kepada ayah dan ibu. Aku tahu sendiri, baik ayah maupun ibu tak habis mengerti apa sebab menjadi kejaran terus-menerus. Karena  itu  lebih  baik aku mati daripada memohon-mohon pertolongan mereka. Marilah kita pulang saja, sucouw!" 

"Akh, Sin Houw," Tie-kong tianglo  mengeluh."Kematian ayah dan ibumu, sebenarnya tiada sangkut-pautnya dengan para taysu ini."  Mendengar ucapan kakek gurunya, 

Thio Sin Houw tercengang  karena bingung, berbareng mendongkol dan marah. 

Karena gejolak perasaannya yang tak  menentu  itu, mulutnya jadi tergugu, 

Akan tetapi didalam hatinya telah timbul keputusannya, tak sudi ia menerima belas kasihan dari para pendeta itu. Katanya didalam hati: 

"Meskipun sucouw berhasil membujuk mereka untuk menurunkan ilmu sakti yang berada diperguruan Siauw-lim ini, aku tak sudi mempelajarinya.  Aku  memilih  mati  kering daripada menerima budi-baik dari musuh ayah-bundaku .." 

Sementara itu Tie-kong tianglo tak bosan-bosan berusaha membujuk dan membuat  para pendeta Siauw-lim mengerti tanpa menyinggung persoalan Thio Sin Houw, Berjam-jam ia berbicara sampai mulutnya terasa kering dan para pendeta itupun tak bosan-bosan menolak segala  bentuk permohonannya. 

Selagi mereka masih meneruskan pembicaraan, sekonyong-konyong terdengarlah  derap  kuda  mendatangi gardu penjagaan. Kemudian tampaklah lima penunggang kuda muncul diantara debu jalan yang berada di sebelah depan seorang laki-laki berperawakan kekar, gagah perkasa,  Ketika tiba didepan gardu penjagaan  ia menahan kudanya sambil berseru bagaikan guntur: 

"Nah, kita sudah tiba, Kebetulan - inilah orangnya!" Mendengar suaranya yang keras bagaikan guntur, semua 

orang terkejut dan  berlari keluar dari ruangan pendopo, sementara itu, laki-laki berperawakan gagah tersebut sudah turun dari atas kuda sambil menebarkan penglihatannya, kemudian berkata kepada Cie-beng taysu: 

"Aku adalah Fhang Kui  Ceng,  utusan dari persekutuan Heng-san pang. Datang dengan  maksud  menghadap  Cie- beng taysu dari kuil Siauw-lim sie, harap anda sudi  mengantarkan kami." 

Agaknya laki-laki itu belum pernah bertemu muka dengan Cie-beng taysu, sehingga mengira dirinya sedang berhadapan dengan salah seorang pendeta pengurus kuil. 

Dalam pada itu, mereka yang mendengar suara Phang Kui Ceng menjadi pengang telinganya. Orang itu wajar saja ketika berbicara, akan tetapi suaranya bukan main kerasnya. itulah suatu tanda, bahwa dia memiliki himpunan tenaga sakti yang dahsyat sekali . Merekapun terperanjat pula dengan -- disebutnya nama persekutuan Heng-san-pang yang bermukim diatas- gunung Heng san, dibelahan  sebelah  barat  negeri Cina. Tak jelas bagaimana sepak terjang  perkumpulan  itu, akan tetapi menurut khabar mereka jarang sekali berhubungan dengan orang luar apabila tidak sangat penting. Gerak-gerik mereka sangat sukar diamat-amati,  namun mereka merajai wilayah mereka yang mempunyai sumber hidup makmur, Mereka yang memasuki daerahnya atau melintasi, harus membayar upeti, Dengan demikian, cara hidup mereka  tak beda dengan tata-tertib seorang raja memerintah  daerah kerajaannya. 

Thio Sin Houw lantas saja teringat kepada peristiwa dua  tahun yang lampau, Ayah dan ibunya  sangat  segan menghadapi menghadapi dua tokoh dari sekian banyak pengejarnya, Mereka bernama Bu Seng Kok dan Su Tay Kim - dua orang itu menyebut diri mereka sebagai orang-orang dari kelompok Heng-san pang, Tatkala kedua orang itu mendadak memasuki gelanggang pertempuran , ayah dan ibunya kena dilukai, akan tetapi merekapun menderita luka yang tak ringan pula. Tak mengherankan bahwa mereka berdua berden-dam terhadap keluarganya. 

Thio Sin Houw telah mengukir wajah dua orang musuh itu yang tak mungkin terlupakan  selama hidupnya, dan kini ia melihat seorang tokoh lain yang gagah perkasa dan garang. 

Diam-diam hatinya meringkas, terus saja ia bersembunyi dibelakang punggung kakek gurunya.  Dalam pada itu Cie-beng taysu berkerut keningnya, dan berpikir di dalam hati: 

"Akh, kembali lagi ada orang yang ingin mengusut perkara Golok Halilintar, Benar-benar anak murid Tie-kong tianglo ini membuat susah saja " 

"Kau mencari ketua kami, apakah sangat penting?" Cie- keng taysu menyelak bicara. 

Dengan membungkuk hormat, Phang Kui Ceng menjawab: 

"Sebenarnya kami tak berani mengganggu  ketua anda, cukuplah asal kami diberitahukan.  Di manakah sebenarnya Golok Halilintar itu berada?" 

"Kami disini  adalah  sekumpulan  tulang-belulang  yang hanya pandai bersemedhi atau berdoa, karena itu sama sekali kami tidak  mengerti tentang  peristiwa yang terjadi diluar pertapaan, silahkan anda pergi saja!" kata Cie-keng taysu mengekang marah. 

Mendongkol hati Phang Kui Ceng diusir dengan cara demikian, ia menyahut agak keras: 

"Sebenarnya siapakah anda sampai berani mewakili suara golongan Siauw-lim?" 

Cie-keng taysu pun sudah tak kuasa lagi  mengekang marah, sahutnya pedas: 

"Akh, nama hanya semacam sebutan  bentuk  luar.   Apa perlu kami perkenalkan?" 

Keruan saja hati Phang Kui Ceng kian mendongkol, kini kedua alisnya berkerut-kerut. Lalu membentak: 

"Hm! Selagi mohon mendengar nama anda  yang  agung saja tidak berhasil, apalagi mengharapkan yang bukan-bukan. Apakah kedatanganku kemari sia-sia belaka?" 

"ltupun belun tentu!" tiba-tiba muncul suatu pikiran lain di dalam hati Cie-keng taysu, "Bukankah anda  datang  kemari untuk mengusut rahasia Golok Halilintar?"  "Akh, benar!" seru Phang Kui Ceng, "Jika anda sudi memberitahukan, alangkah besar rasa terima kasih kami - golongan kami akan bersedia  bersahabat sepanjang  masa dengan golongan anda." 

"Benarkah begitu?" Cie-keng taysu  tertawa  terbahak- bahak. Kunjungan anda hari ini benar-benar merupakan suatu karunia Tuhan. Coba, seumpama lambat sehari saja atau mendahului satu hari, maka akan sia-sia." 

"Mengapa demikian?" tanya Phang Kui Ceng heran. Tapi pada wajahnya terbentang rasa syukur yang meluap, Keempat temannya segera menghaturkan rasa  terima  kasih berulangkali, sebagai penyambut kesediaan pihak  Siauw  lim pay. 

"Mengapa demikian? Karena satu-satunya orang yang mengetahui dimanakah beradanya Golok  mustika  itu, sekarang ada disini, itulah dia, putera Thio Kim San!" kata Cie- keng taysu. 

Sambil menuding kearah Thio Sin Houw yang bersembunyi dibelakang Tie-kong tianglo. 

Keruan saja hati Thio Sin  Houw tercekat. Akan   tetapi begitu mendengar nama ayahnya disinggung, serentak timbul rasa jantannya. Teringat betapa ayah-bundanya mati dengan penasaran, terus saja ia maju sambil membentak: 

"Kedua rekanmu Bu Seng Kok dan Su Tay  Kim  dengan tidak menghiraukan harga diri, ikut mengeroyok  ayah  dan ibuku, Hari ini aku akan membuat perhitungan...!" 

Perkataan anak sekecil  Thio  Sin  Houw  itu  mengejutkan dan menggelikan hati, Mereka semua  berpaling kepadanya seakan-akan berjanji, Melihat wajahnya yang pucat lesi, sepantasnya ia harus dikasihani. Akan tetapi ternyata anak itu mempunyai kegarangan hati yang berlebih-lebihan. Mana mungkin ia bisa membuat perhitungan terhadap Phang  Kui Ceng, seorang laki-laki berkesan begitu perkasa? 

"Akh, anak kecil! Mulutmu kenapa gampang bocor?  Apakah kau bosan hidup ?" bentak Phang Kui Ceng dengan suara menggeledek 

Dibentak dengan suara yang  keras  bagaikan  suara halilintar itu, betapapun juga hati Thio Sin  Houw menjadi meringkas, Tetapi dia seorang anak yang keras hati, maka dengan mati-matian ia mencoba menghimpun semua keberaniannya, Lalu membalas bentak dengan suara sekeras- kerasnya: 

"Dua tahun yang lalu, golonganmu pernah ikut mengeroyok ayah bundaku, Yang menjadi pemimpin dua orang, mereka bernama Bu Seng Kok dan  Su Tay Kim. Kedua-duanya bagaikan hantu haus darah, tetapi beraninya hanya main keroyok, Apakah kau tak malu?" 

Kembali mereka semua terkejut mendengar  ucapan  Thio  Sin Houw, Benar-benar mereka tidak menyangka, bahwa anak kecil itu mempunyai keberanian yang luar biasa, sebaliknya Phang Kui Ceng dan keempat kawannya gusar bukan main, karena kena ditelanjangi oleh seorang anak kemarin sore dihadapan sekian banyaknya orang gagah. Lantaran sangat malu, tanpa berpikir panjang lagi Phang Kui Ceng melompat maju menggampar kearah muka Thio Sin  Houw, Namun demikian, ia menyadari dirinya bertenaga kuat, Khawatir kalau tenaganya dapat memecah kepala si bocah, Phang Kui Ceng hanya menggunakan tenaga satu bagian saja. walaupun demikian apabila mendarat pada sasarannya, Thio Sin Houw akan bisa dibuatnya jungkir-balik dengan muka bengap. 

Melihat berkelebatnya tangan, Thio Sih  Houw hendak melompat mundur dengan segera. Akan tetapi  tangan  Phang Kui Ceng terlalu cepat baginya, ia merasa diri seakan-akan kena kurung sangat rapat. Tiada jalan lain kecuali menangkis. Maka secara nekad, ia mengangkat kedua tangannya untuk melindungi mukanya, Dan pada saat itu mendadak  suatu tenaga yang halus dan  hangat  terasa  memasuki punggungnya, dan terus berkumpul pada telapak tangannya. 

"Blesss!"  Gamparan Phang Kui Ceng kena di-tangkis kedua tangan Thio Sin Houw, Hanya saja bukan Thio Sin  Houw yang terpental, melainkan Phang Kui Ceng yang gagah perkasa terhuyung mundur beberapa langkah.  

Tatkala terasa kakinya hendak tergeser lagi, cepat-cepat ia mempertahankan diri. Sebab tumitnya sudah meraba tangga gardu penjagaan, kalau mundur setengah langkah   saja  ia akan rebah terjengkang. 

Akan tetapi maksud itu tidaklah mudah, ia menjadi kelabakan ketika tubuhnya terdoyong kebelakang, setelah dengan mati-matian menghimpun tenaga saktinya, barulah ia dapat berdiri tegak. Akan tetapi wajahnya merah padam oleh rasa malu, sedangkan rasa hatinya runyam tak keruan. 

Dengan mata melotot ia mengawasi Thio Sin  Houw, sementara didalam hati ia heran bukan kepalang. pikirnya: 

"Bu Seng Kok dan Su Tay Kim memuji  ilmu  kepandaian Thio Kim San setinggi langit, agaknya bukan bualan kosong, Anaknya saja sudah memiliki tenaga lumayan sampai bisa mengundurkan tenaga pukulanku " 

Phang Kui Ceng tidak menyadari apa sebab  ia  sampai kena terpukul mundur. ia  menyangka  bocah  itu  tidak bertenaga, mengingat wajahnya pucat dan tubuhnya kurus kering. Maka ia hanya menggunakan tenaga sebagian  kecil saja, Diluar dugaan, bocah itu ternyata memiliki tenaga dalam yang tak boleh dipandang ringan. 

Sebaliknya Cie-beng taysu dan rekan-rekannya mempunyai penglihatan  lain. Dengan matanya  yang tajam, mereka tahu apa sebab Phang Kui  Ceng kena  terpukul mundur oleh tangan Thio Sin Houw. itulah  disebabkan  Tie- kong tianglo berada dibelakang punggung sibocah. Dengan menyalurkan tenaga dalamnya, Tie-kong tianglo menggempur tenaga pukulan Phang Kui Ceng lewat punggung Thio Sin Houw, Dengan  demikian, kedua tangan Thio Sin  Houw sebenarnya hanya merupakan sepasang "alat" belaka. 

Sebaliknya Phang Kui Ceng yang kurang waspada, hanya  menuruti gejolak hatinya yang mendongkol. pikirnya didalam hati, ia terpukul mundur karena kebodohannya sendiri.  Coba tadi ia menggunakan tenaga penuh, tak usah ia menanggung rasa malu dihadapan para pendeta  Siauw-lim sie. Kini ia bermaksud memperlihatkan gigi agar pamor Heng-san pang tidak menjadi suram. 

Ia bermaksud pula dapat mengetahui dimana beradanya Golok Halilintar lewat mulut Thio  Sin  Houw.  Kalau  perlu  ia akan menggempur si bocah itu sampai mampus.  Apa  boleh buat! 

Setelah memperoleh keputusan demikian, Phang Kui Ceng tertawa penuh ancaman sambil mendekati Thio Sin Houw dan membentak: 

"Monyet cacingan! Kau terimalah lagi pukulanku!" 

ia melompat dan terus menghantam dada Thio Sin Houw, dan kali ini ia tak segan-segan lagi. Tenaga dalamnya yang digunakan, penuh-penuh. Tak mengherankan, belum lagi pukulannya mendarat pada sasarannya, angin dahsyat sudah tiba bergulungan, Lengan baju para pendeta Siauw-lim berkibaran, dan gardu penjagaan nampak bergetar. 

Hati Tie-kong tianglo jadi tergoncang, ketika menyaksikan hebatnya tenaga pukulan yang digunakan  oleh Phang  Kui Ceng. Pada detik itu, orang tua ini berpikir sengit didalam hati: 

"Akh, kenapa untuk melampiaskan rasa mendongkol  saja kau menggunakan tenaga begini dahsyat terhadap  seorang anak kecil?" 

Karena sengit, Tie-kong tianglo  tidak lagi menyalurkan tenaga sakti kedalam urat nadi Thio Sin Houw, tetapi  langsung ia menggunakan intisari ilmu sakti "Kiu-im Cin-kang" yang pernah dipergunakan untuk  merebut nyawa Thio Sin Houw dahulu, ilmu itu merupakan titik tolak ilmu sakti Kiu-im Cin- keng, yang bersandar pada tenaga murni. 

Tie-kong tianglo selama hidupnya  belum  pernah melakukan hubungan badaniah dengan wanita, karena itu  tenaganya murninya masih penuh dan suci bersih. Dan tenaga murni ini dituangkan habis-habis kedalam urat nadi Thio Sin Houw untuk melindungi, dan akibatnya hebat sekali. 

Begitu dua  tenaga raksasa berbenturan, genting  gardu penjagaan rontok berhamburan,  dan  suatu  debu  tebal meledak dan  melambung keudara lalu terdengarlah suara gemeretakan. 

Ternyata gardu penjagaan  yang berada didepan  pagar biara, ambruk kena tubuh Phang Kui Ceng yang terpental  akibat gempuran tenaga  sakti  "Kiu-im  Cin-kang".  Karena Phang Kui Ceng memiliki tubuh yang kebal  dari  senjata,  ia bisa merobohkan gardu penjagaan yang terbuat dari  bahan batu pegunungan.  

Begitu ambruk, tubuhnya terus melayang terbang bagaikan bola kena pukulan keras. Tahu-tahu tubuhnya terkait pada sebatang dahan pohon cemara yang berada ditepi jurang. 

Phang Kui Ceng kaget bukan kepalang. Karena terdorong rasa kaget, ia sampai berteriak-teriak, sedangkan  kedua kakinya bergelantungan di udara dalam usahanya melepaskan diri dari dahan pohon yang menggaetnya. 

Untunglah, tenaga sakti yang di pergunakan  Tie-kong tianglo memunahkan tenaga sakti Phang Kui  Ceng  yang kejam, adalah himpunan tenaga sakti yang murni, walaupun dahsyat luar biasa, namun sifatnya lurus dan halus. 

Tenaga itu tidak untuk merusak,  akan  tetapi  hanya menolak. itulah sebabnya tubuh Phang Kui Ceng sama sekali tidak terluka, seumpama Phang Kui  Ceng sempurna ilmu saktinya, tak sampai ia terkait pada dahan pohon,  sebaliknya kini, apabila  sampai terlepas dari kaitan itu malah  besar bahayanya, Dia bisa terjatuh ke dalam jurang yang penuh dengan batu-batu tajam, Sadar akan hal itu, dengan menahan napas ia memutar tubuhnya menghadap pangkal pohon, lalu memeluknya erat-erat. 

Benar-benar suatu kejadian lucu mengharukan .  Menyaksikan kejadian itu, semua orang terkejut, heran dan geli. sedangkan dua orang bawahan Phang Kui Ceng segera menghunus golok mereka, lalu  mereka  melompat  dan berusaha mematahkan dahan pohon dengan golok mereka, Tetapi dahan pohon itu terlalu tinggi ,  golok  mereka  tak sampai. 

Maka dengan berjumpalitan mereka turun ketanah, Setelah menyimpan golok mereka, keduanya  lalu memanjat  pohon tanpa memperdulikan senyum simpul para pendeta Siauw-lim yang menyaksikan kelakuan mereka. 

sementara itu Tie-kong tianglo  lalu membisiki Thio Sin Houw,Bocah itu nampak memanggut,  lalu ia membungkuk memungut sebutir batu kecil. 

Setelah diincar baik-baik, segera jari-jarinya  menyentil. Dengan suara bersuling, batu itu menyambar dahan pohon. 

"Krakkk!" dahan itu patah dan runtuh ketanah berikut tubuh Phang Kui Ceng yang memeluk erat-erat. Kedua pembantunya kaget. Seperti berjanji, mereka berdua melompat dengan berbareng. Tangan mereka menyambar dalam usahanya menghindarkan Phang Kui Ceng jatuh kedalam jurang, Tapi celakalah mereka, Kena daya tekan tubuh Phang  Kui  Ceng yang terbanting dengan tiba-tiba dari atas udara. 

Mereka berdua malahan kena tindih. Dan dengan suara berkedubrakan, ketiga-tiganya terbanting diatas tanah saling tindih! 

Kejadian inipun mengherankan semua orang yang menyaksikan. Mereka tak pernah  menduga,  bahwa   sebutir batu kecil dapat mematahkan dahan pohon cemara  yang  cukup besar dengan suatu sentilan dari jauh, Selagi mereka termangu keheranan, kembali  lagi  Tiekong  tianglo menunjukkan kepandaiannya. Tiba-tiba tangan Thio Sin Houw terangkat, dan suatu kesiur angin dahsyat bergelungan menyendok tanah tempat Phang Kui Ceng bertiga jatuh saling tindih, Tahu-tahu tubuh mereka terangkat naik keudara dan terlempar balik. Dengan demikian, mereka bebas dari  ancaman tebing jurang yang meluruk  berguguran  kena benturan berat badan mereka. 

Walaupun demikian Phang Kui Ceng bertiga tidak kurang kagetnya, tatkala tubuh mereka kena terangkat naik. 

Mereka bertiga mengira, bahwa Thio Sin  Houw hendak menceburkannya ke dalam jurang, mengingat kedua orang tua anak itu mati kena keroyok, walaupun yang membunuh Thio Kim San tidak hanya golongan mereka  sendiri,  namun  oleh rasa dendam anak itu bisa kalap. 

Diluar dugaan, mereka justeru berada dalam sebaliknya, Setelah dapat menancapkan kaki, ternyata   mereka  berada agak jauh dari tebing jurang yang  sedang  berguguran. Kemudian suatu hawa  hangat  yang  nikmat  luar  biasa merayapi seluruh tubuh mereka, "Akh, anak itu  bermaksud mulia sekali," pikir mereka, Mungkinkah anak itu menghendaki kepergian mereka? Tiba-  tiba mereka pun  teringat,   bahwa para pendeta Siauw-lim sie ikut pula memikul tanggung jawab atas binasanya Thio Kim San, Memperoleh pikiran demikian. 

"Anak muda, kami benar-benar kagum, sungguh kagum!" kata mereka dengan membungkuk hormat. Setelah itu dengan isyarat mata, Phang Kui Ceng menghampiri kudanya dan mendahului turun gunung. Dan keempat pembantunya segera menyusul cepat-cepat, 

Mereka belum juga menyadari, bahwa semuanya itu tadi adalah berkat ilmu sakti Tie-kong tianglu yang tersalur pada tubuh Thio Sin  Houw, Anak itu hanya merupakan sebuah boneka belaka, sebaliknya para pendeta Siauw lim sie yang bermata lebih tajam, kagum luar biasa terhadap Tie-kong tianglo. Pikir mereka: 

"Pada jaman ini, orang memashurkan nama  Tie-kong tianglo, sebagai seorang mahaguru nomor satu tiada bandingnya. Setelah menyaksikan sekelumit kepandaiannya, ternyata kepandaian orang tua itu melebihi kabar berita orang, Akh, kalau begitu - ilmu saktinya  cukup  berharga untuk dipelajari."  Sebenarnya pihak Cie-beng taysu sudah mengambil keputusan tidak sudi saling menukar ilmu sakti dengan  Tie- kong tianglo untuk  kepentingan  menolong nyawa Thio Sin Houv, akan tetapi setelah menyaksikan kepandaian Tie-kong tianglo, mereka jadi sibuk menimbang-nimbang, pikir mereka lagi: 

Sekalipun aku berlatih  lima- puluh tahun  lagi, takkan mampu aku mencapai tingkatan kepandaian setinggi dia. ini suatu bukti, bahwa himpunan tenaga sakti kaum Boe-tong pay memiliki keistimewaannya sendiri. Karena itu, apabila aku bersedia menukar rahasia ilmu sakti Boe-tong, rasanya tidak akan rugi." 

Memperoleh pertimbangan demikian,  Cie-beng  taysu lantas berkata dengan suara agak sabar: 

"Apakah ilmu sakti tadi anda peroleh dari rahasia ilmu Kiu- im Cinkeng?" 

"Bukan." sahut Tie-kong tianglo. 

"kepandaian itu siauwto ciptakan sendiri, namanya  Thay- kek Koen Hoat, Namun demikian siauwto akui, ilmu itu bersumber kepada rahasia titik  tolak ilmu Kiu-in  Cin-keng. Apabila para taysu disini bersedia menolong nyawa cucuku ini, tak berani siauwto menyimpan semua  kepandaian  yang siauwto miliki. semuanya akan siauwto papar-kan kepada para taysu yang sudi mempelajari " 

Sungguh menarik tawaran Tie-kong tianglo, Meskipun demikian, Cie-beng taysu belum berani mengambil keputusan. Sebab ia mengira, bahwa yang tertarik hanya dia seorang diri. Maka ia melemparkan pandang kepada Cie-keng taysu dan Cie-goan taysu. Setelah kedua saudara seperguruannya itu memanggut pendek, segera ia berkata: 

"Baiklah. Kami akan mengajarkan rahasia ilmu sakti yang diperlukan untuk menolong nyawa bocah itu,  tetapi  Tianglo harus berjanji bahwa yang berhak mempelajari seorang saja, Dialah sibocah itu, Selain dia, tidak kami perkenankan. Sebab ilmu ini kami relakan kepadanya, semata-mata untuk  menyembuhkan penyakitnya.  

Dengan begitu, diapun tidak  kami  perkenankan mengajarkan kepada orang lain. Juga tidak kami perkenankan menggunakan ilmu sakti ajaran kami  untuk bermusuhan dengan murid-murid Siauw-lim pay. Syarat ini  berlaku   di bawah sumpah nah, bagaimana?" 

Bukan main girang hati Tie-kong tianglo. Sahutnya cepat: "Samwie taysu,  Akulah  yang  menjadi saksinya, bahwa  dia 

menerima  dua  syarat   tersebut.   Yang   pertama  tidak boleh 

mengajarkan kepada  orang lain, yang kedua tidak boleh menggunakan ilmu sakti tersebut untuk bermusuhan dengan pihak  Siauw-lim  pay.  Nah, Sin Houw! cepatlah kau bersumpah 

." 

Diluar dugaan, Thio Cin Houw menggelengkan kepalanya. Katanya dengan suara tegas: 

"Tidak! Tak sudi aku bersumpah, karena akupun tak sudi mempelajari ilmu kepandaian mereka." 

Tie-kong tianglo tercengang, Tak segera ia memaklumi keadaan Thio Sin Houw yang terlalu  sedih memikirkan kematian ayah dan ibunya, Di sepanjang jalan, tidak henti- hentinya ia memberikan pengertian yang mendalam dan mencoba membimbingnya kearah penglihatan yang lebih luas. Akan tetapi watak Thio Sin Houw terlalu keras tidak mudah dia menyerah, Malahan  lebih baik mati tak berkalang tanah daripada menerima belas kasih lawan! 

Teringat hal itu, cepat cepat Tie kong tianglo keluar  dari ruang pendopo, Kemudian berkata dengan suara perlahan: 

"Sin Houw, Ketika kubawa kau kemari, bukankah kau telah setuju untuk mohon belajar ilmu sakti kepada para pendeta Siauw-lim sie?, Kenapa kau kini mengingkari kesanggupanmu sendiri?" 

"Aku harus bersumpah  tidak boleh menggunakan   ilmu ajaran mereka untuk  bermusuhan  dengan pihak  mereka," jawab Thio Sin Houw dengan suara menggeletak "bagaimana  mungkin, sucouw? Bagaimana Mungkin? Bukankah  mereka ikut serta membunuh ayah-bunda dan sekalian saudaraku?" 

"Benar." sahut Tie-kong tianglo dengan menghela napas. "Tetapi kalau kau kini menolak ajaran mereka,  dalam  waktu satu tahun jiwamu akan melayang. Lantas bagaimana caramu untuk membalaskan dendam orang tua dan saudaramu yang mati penasaran? Karena itu yang paling  penting sekarang, adalah menyelamatkan jiwamu dahulu. 

Kemudian engkau berlatih ilmu sakti  yang  banyak ragamnya di dunia ini. 

Masakan kau tak sanggup mengalahkan musuh-musuhmu dengan ilmu sakti yang lain? Kenapa kau hanya menganggap hanya ilmu sakti Siauw-lim pay saja yang bisa mengalahkan mereka?" 

Suatu cahaya berkelebat di dalam benak Thio Sin Houw, samar-samar ia seperti mengerti, apa sebab kakek-gurunya bersikap mengalah dan  sama sekali  tak mau menyinggung kematian muridnya, Mungkin sekali, inilah  perhitungannya, Yang penting: menyelamatkan jiwanya dahulu,  setelah itu perkara penuntutan dendam dapat dilaksanakan dengan perlahan-lahan. sepuluh tahun lagi, rasanya belum kasep. Dan memperoleh pengertian demikian, lantas saja ia menjawab: 

"Baiklah, sucouw, Cucu muridmu ini patuh kepada kebijaksanaanmu," 

"Bagus!" kata Tie-kong tianglo setengah berseru, "Kau mengerti maksud kakekmu ini, bukan? sekarang  cepat- cepatlah kau berlutut  dihadapan mereka, sebelum mereka berubah pendirian. Kau bersumpahlah akan menepati Janji." 

Tie-kong tianglo kemudian  membawa Thio Sin  Houw memasuki ruang pendopo kembali. Waktu itu Cie-beng Taysu dan yang lainnya sudah berdiri   tegak  menunggu keputusannya, Dengan pandang berkilat-kilat mereka menatap wajah Thio Sin  Houw yang pucat dan perawakannya  yang kurus kering.  "Bagaimana?" tanya Cie-beng Taysu dengan suara tak sabar. 

Thio Sin Houw kemudian membungkuk hormat. 

(Oo-dwkz-oO) 

DENGAN BERDIRI berjajar, Cie-beng Taysu dan rekan- rekan seperguruannya menatap Thio Sin Houw seakan-akan dewa sakti turun dari langit hendak menebarkan  maut. Kemudian berkata memutuskan: 

"Kalau begitu, mari kita masuk." 

setelah berkata demikian,  ia  mendahului  berjalan memasuki ruang kuil Siauw-lim sie, tanpa  memperdulikan tetamunya. Dan Tie-kong tianglo  yang sudah bebas  dari semua bentuk ikatan tata-tertib keduniawian dengan  tak merasa tersinggung membimbing tangan Thio Sin Houw mengikuti mereka. 

sebaliknya hati Thio Sin Houw semakin menjadi mendongkol, namun melihat kakek gurunya  bersikap  sabar dan tenang, lambat-laun ia menjadi tenang pula. 

Diserambi depan Thio Sin Houw diharuskan bersumpah. ia berlutut di hadapan Cie-beng Taysu, kemudian bersumpah: 

"Aku, Thio Sin Houw, berkat  kemurahan  dan  keluhuran budi para pendeta kuil Siauw-liin sie menerima petunjuk- petunjuk ilmu sakti pada hari ini. ilmu sakti ini bertujuan untuk menyembuhkan tubuhku yang menderita sakit. Karena itu, aku tidak akan mengajarkan ilmu sakti ini kepada siapapun  juga, dan tidak akan menggunakan  untuk memusuhi murid-murid pihak Siauw-lim pay. Jika sampai aku melanggar sumpah ini, biarlah aku terajang seperti ayah-ibuku." 

Tatkala mengucapkan perkataan ayah dan ibunya, hatinya tergetar. 

Hampir saja ia mengucurkan air mata. 

Dengan sekuat tenaga  ia menahan perasaannya yang bergolak itu, akan tetapi mendadak ia jadi sakit hati,  Dan tercetuslah sumpahnya didalam hatinya: Ayah dan ibu mati kena keroyok mereka, dikemudian hari masakan  aku takkan mampu membalas dengan menggunakan  ilmu sakti lainnya, Hm .. mudah-mudahan kalian masih hidup, agar kelak dapat merasakan betapa besar rasa dendamku ini. 

Sudah tentu pihak Cie-beng Taysu dan kawan-kawannya tidak mendengar gelora hati Thio Sin  Houw, setelah dapat menerima bunyi sumpah Thio Sin Houw, ia berpaling kepada Tie-kong tianglo, Berkata Cie-beng  Taysu dengan suara merasa menang: 

"Baiklah, sekarang juga kami akan membawa anak  ini masuk ke dalam pertapaan, Dia akan memperoleh petunjuk petunjuk rahasia ilmu sakti kita dari seorang yang kami wajibkan menurunkan ilmu warisan kami. Tetapi  ilmu  sakti yang anda janjikan tadi " 

"Pinjamkan siauwto alat tulis," potong Tie-kong tianglo. "Sekarang juga siauwto pun hendak menulis seluruh rahasia ilmu sakti yang dimaksud. Nah, biarlah aku menulis didalam gardu penjagaan saja." 

"Baiklah," sahut Cie-beng Taysu. "Kalau begitu, silahkan tianglo menunggu digardu penjagaan, sementara kami menyediakan alat tulis dan beberapa hidangan sederhana." 

Thio Sin Houw waktu itu sudah berdiri. Mendengar maksud kakek gurunya hendak menulis pula ilmu sakti ciptaannya, menjadi penasaran sekali. 

Akan tetapi pada waktu itu ia tidak berdaya menentang, maka ia hanya patuh saja ketika diperintahkan  mengikuti seorang pendeta memasuki ruang pertapaan. 

Kuil Siauw-lim sie bersandar pada sebuah pinggang bukit yang mempunyai penglihatan sangat luas, tempatnya  tenang dan berhawa  bersih. Dibandingkan dengan tempat bersemayam Tie-kong tianglo di atas gunung Boe-tong san, keindahannya menang beberapa kali lipat. 

Halamannya luas dan ditanami dengan berbagai macam  pohon bunga. Maka sambil berjalan, hidung Thio Sin Houw menghirup udara semerbak wangi.  Sesungguhnya  hal  itu dapat menyegarkan perasaan, akan tetapi Thio  Sin   Houw dalam keadaan murung.  ia  mengikuti  Cie-goan  Taysu, pendeta yang mengantarnya dengan kepala kosong. 

Setelah berjalan serintasan mulailah dia dibawa menyeberangi lapangan rumput. Kemudian memasuki petak hutan yang tampaknya sengaja ditanam, Apabila semak  belukar yang berada didepannya tersibakkan, maka tampaklah batu yang berbentuk panjang. 

Bangunan itu mempunyai beberapa jalan batu yang bersih, "sementara di sebelah kiri dan kanannya sunyi  lenggang.  Tiada sebatang hidungpun yang nampak, akan tetapi Thio Sin Houw sudah terbiasa dibawa serta orang tuanya menyingkiri puluhan bentuk bahaya,  ia  memiliki  pancaindera  yang  tajam. ia merasa dirinya selalu diikuti suatu pandang mata yang bersembunyi entah dimana, sehingga bulu kuduknya meremang. 

Ketika telah berada di dalam kuil, Cie-goan Taysu mengantarkan Sin Houw ke sebuah kamar kecil. 

"Siauw siecu, kau beristirahatlah  disini,"  katanya,  "Aku akan segera mengirim orang untuk mengajarkan ilmu kepadamu." 

Setelah berkata begitu, ia mengebas dengan  lengan jubahnya dan jalan darah "Swee-hiat" (jalan darah yang jika tertotok menyebabkan orang tertidur  pulas)  Sin  Houw, sehingga Sin Houw segera tertotok. 

Cie -goan Taysu adalah termasuk salah seorang pendeta pimpinan Siauw-lim sie. Tak usah dikatakan lagi, ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi sehingga setelah tertotok jalan darahnya, Sin Houw segera pulas tertidur dan menurut perhitungan ia baru akan tersadar  empat  Jam  kemudian. Tetapi Cie-goan Taysu tidak mengetahui  bahwa  anak itu memiliki Lweekang atau tenaga sakti luar biasa, dan karena adanya tenaga sakti itu maka kedudukan jalan darahnya bisa  berpindah-pindah. Oleh karena itu, baru pulas beberapa  saat - ia sudah tersadar kembali. 

setelah ingatannya pulih, Thio Sin Houv mendengar suara Cie-goan Tay su yang berkata: 

"Tie-kong tianglo adalah seorang guru besar dari sebuah partai,sehingga kalau dia telah menyanggupi, ilmu yang ditulisnya pasti tidak palsu. Andaikata ia sengaja tidak menulis terang, sesudah mempelajarinya aku merasa pasti kita akan mengerti. 

Segera Sin Houw menjadi curiga, ia khawatir kalau-kalau pendeta itu akan berlaku curang. Oleh karenanya sengaja ia meramkan sepasang matanya berpura-pura  berada dalam pengaruh totokan Cie-goan taysu. 

"Thay-kek koen hoat yang ditulis  oleh  Tie-kong  tianglo dapat dipastikan tidak palsu, tetapi kita sendiri belum pernah mempelajari Siauw-lim Kiu-yang kang, Apakah  untuk kepentingan orang luar,  kita  harus  memohon-mohon dihadapan Cie-kong taysu?" terdengar suara seseorang memberikan jawaban, seseorang yang entah siapa gerangan, karena baru sekali itu Sin Houw mendengar suaranya. 

Sementara itu Cie-goan taysu sudah berkata pula: 

"Karena perintah datangnya dari Ciang-bun Hong-thio (pemimpin partai dan pemimpin kuil), maka aku  yakin  Cie- kong taysu tidak akan membantah." 

Seseorang itu terdengar menghela napas, tetapi kemudian berkata: 

"Sam-sute, pergilah kau membawa Sek-thungku (tongkat timah) dan memberi perintah  kepada  Cie-kong  taysu,  supaya ia menurunkan ilmu Kiu- yang-kang kepada anak she Thio itu." 

"Baiklah." jawab Cie-goan taysu. 

Terdengar suara langkah  kaki Cie goan Taysu yang meninggalkan ruangan itu, tetapi tidak melewati tempat Sin Houw rebah pura-pura pulas tertidur. Cukup lama, kemudian  terdengar Cie-goan taysu kembali dan berkata: 

"Cie-kong sungguh aneh, Dia mengatakan bahwa setelah mengabdi kepada Sang Budha, ia tidak mau bertemu dengan orang luar. Tetapi karena Hongthio telah   memerintahkan, maka dia bersedia untuk mengajarkan ilmu itu dengan cara Kay-tiang Coan-tang (Me-ngajar ilmu dengan teraling tirai). 

"Ikuti lah kehendaknya," sahut seseorang yang tadi, "Sebaiknya sute bawa anak itu kepada Cie Kong, setelah itu perintahkan pengurus dapur mengantarkan hidangan ke ruang Lip-soat teng, Biar bagaimanapun, Tie-kong tianglo  adalah seorang pemimpin dari sebuah partai besar, dan kita tidak  boleh tidak berlaku hormat." 

Sementara itu Thio Sin Houw terus berlagak pulas. setelah lewat sekian lama barulah datang seorang pendeta kecil yang membawakan makanan dan setelah  selesai  bersantap, pendeta kecil itu lalu berkata: 

"Siauw-sicu, ikutlah  aku." "Ke mana?" tanya Sin Houw. 

"Hong-thio memerintahkan aku membawamu kepada 

seseorang." jawabnya. 

"Kepada siapa?" tanya lagi Sin Houw. 

"Hong-thio memesan supaya aku jangan banyak bicara." Thio  Sin  Houw  mengeluarkan  suara  dihidung, Diam-diam 

dia  mentertawai  Cie-goan  Taysu,  karena  diluar  tahu pendeta 

itu ia telah mengetahui bakal dibawa kepada Cie-kong. 

Tanpa mengajukan pertanyaan lain Sin Houw  lalu mengikuti pendeta kecil itu. Sesudah melewati  belasan bangunan dan pekarangan, akhirnya mereka tiba disebuah bangunan kecil yang dikurung dengan pohon-pohon Siong dan Pek. Sambil berdiri didepan  tirai pintu, pendeta  kecil itu berseru: 

"Siauw-sicu telah tiba!"  "Masuk!" terdengar suara seseorang memberikan jawaban. Thio Sin Houw lalu mendorong daun pintu dan bertindak 

masuk, sedang si pendeta kecil mengunci pintu itu. 

Thio Sin Houw mengawasi kesekitarnya,  Kamar  itu ternyata sebuah kamar kosong, kecuali terdapat sehelai tikar ditengah-tengah, tidak terdapat apapun juga. 

Sesudah mendengar bahwa Cie-kong Taysu akan memberikan pelajaran secara "Kay-tiang Coan-tang," ia menduga bahwa didalam kamar itu dipasang semacam tirai. Diluar dugaan, kamar itu bukan hanya kosong tiada isi, tetapi juga tidak mempunyai lain pintu. 

Sehingga tak dapat diduga entah dari mana datangnya suara manusia yang tadi mengundang masuk. Tetapi selagi ia sedang merasa heran, tiba-tiba terdengar lagi suara itu: 

"Duduk! Dengarkan aku menghafal  Siauw-lim  Kiu-yang kang, Aku hanya menghafal satu kali, Terserah kepadamu, berapa banyak yang dapat diingat olehmu. Hong-thio telah memerintahkan aku memberi pelajaran itu kepadamu dan aku menurut perintahnya, Tetapi apakah kau mengerti atau tidak adalah urusanmu sendiri." 

Thio Sin Houw memasang telinga, Kini barulah ia mengetahui, bahwa suara itu datang dari tembok sebelah dan Cie-kong taysu berdiam di kamar sebelah. Pada hakekatnya, mengirim suara dari alingan tembok bukan kepandaian luar biasa, siapapun juga dapat melakukannya,  Apa  yang  luar biasa adalah suara Cie-kong Taysu terdengar  tegas sekali, seperti juga ia bicara saling berhadapan. 

"Tenaga dalam pendeta itu sungguh dahsyat," kata Sin Houw di dalam hati. 

Sesaat kemudian, orang itu  berkata  dengan  suara perlahan: 

"Tubuh berdiri tegak, kedua tangan dirangkapkan dan di tempatkan di dada, Hawa tenang, semangat dipusatkan. Hati tenteram, paras muka mengunjuk sikap menghormat. inilah  jurus pertama yang dinamakan Wie-hok Yan-couw, ingatlah baik-baik!" 

 (Wie-hok Yan-couw = Wie-hok mempersembahkan gada). Orang itu berdiam sejenak, kemudian berkata pula: 

"Kedua tumit kaki ditancapkan di atas bumi,  kedua  tangan di rentangkan keluar  dengan,  rata,  Hati  tenang,  hawa tenteram, Mata membelalak mengawasi ke depan, mulut terbuka, ini jurus kedua, Hoen-tan Hang-mo  couw,  Kau  ingatlah baik-baik!" 

 (Hoen-tan Hang-mo couw ~ Memikul gada untuk menaluki siluman). 

Seterusnya  ia  menghafal jurus  ke tiga, keempat, kelima    

sampai pada jurus kedua belas. Mengenai jurus  ke dua belas itu ia berkata: 

"Jurus  ini dinamakan  Tiauw-wie  Yauw-tauw(Mengibas ekor, menggoyang kepala), dengan Kouw-koat seperti berikut: Iutut lurus, lengan  dilonjorkan, Mendorong  dengan  tangan sehingga menjadi kena bumi, Mata membelalak, menggoyangkan kepala, semangat perlu dipusatkan sehingga menjadi satu. Sesudah itu, luruskan tubuh dan menjejak tanah dengan kaki, mengendurkan bahu, memanjangkan lengan, Menyabat tujuh kali kekiri-kanan dan selesai. ilmu Kiu-yang le- kin,di kolong langit tiada tandingannya." 

Hampir berbareng dengan perkataan "dikolong langit tiada tandingannya, ia membentak: 

"Siapa mencuri mendengar diluar? Masuk!" "Brakkk!" 

Pintu terpental dan sesosok tubuh terlempar jatuh masuk. Orang itu ternyata adalah si pendeta kecil yang tadi mengantar Sin Houw ke kamar itu. Dia terjatuh  meringkuk,  kedua matanya meram dan pada mukanya terlihat rasa sakit yang hebat. Sin Houw terkejut, cepat-cepat ia mendekati untuk mem-bangunkannya.  "Kau urus saja dirimu sendiri," kata orang dikamar sebelah. "Sekarang kau memerlukan semua kemampuan otakmu untuk menghafal Kouw-koat yang baru  saja  kuberitahukan  tadi  , tidak dapat kau memecah perhatianmu." 

"Ke-duabelas jurus itu sudah di ingat olehku seluruhnya," sahut Sin Houw. 

"Benarkah begitu, coba kau sebutkan." kata Cie-kong taysu disebelah sana, Di dengar dari nada  suaranya,  ia  merasa heran sekali. 

Thio Sin Houw lantas menghafal  Kouv-koat  yang dimaksud, dari jurus pertama sampai pada jurus yang kedua belas, tak satupun yang salah. 

Untuk sesaat Cie-kong taysu di tembok sebelah tak dapat mengeluarkan suara apa-apa, Ketika menerima perintah dari Cie-goan taysu untuk mengajarkan Kiu-yang kang kepada orang luar, ia mendongkol dan kalau boleh ia tentu sudah menolak. Akan  tetapi peraturan didalam kuil Siauw-lim  sie selalu dipegang teguh dan perintah seorang Hong-thio merangkap Ciang- bunjin tak boleh dilanggar, Disamping itu, perintah Cie-goan Taysu hanya mengatakan "mengajar  anak itu" dan bukan "mengajar  anak itu  sampai  paham".  Oleh karena itu, menurut anggapannya apabila ia menghafal Kouw- koat cepat-cepat, paling banyak si bocah akan ingat satu-dua perkataan. 

Tetapi diluar perhitungannya, ternyata Thio Sin  Houw berhasil memasukkan Kouw-koat selengkapnya  ke dalam otaknya, ia merasa kagum bukan main,  karena  kecerdasan dan bakat yang begitu luar biasa sungguh jarang  terdapat dalam dunia ini. 

Sementara itu, melihat si pendeta kecil terus meringkuk di lantai, Sin Houw merasa tidak tega dan lalu bertanya: 

"Siansu, dosa apakah yang telah dilakukan oleh siauw-  suhu ini?" 

"Dia mencuri dengar pelajaran tadi dari luar pintu,"  jawabnya dengan suara tawar. "Aku telah menggunakan Kim- kong Sian-ciang untuk  menghajar adat kepadanya,  jangan kuatir, dalam beberapa saat ia akan sembuh kembali." ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi: 

"Aku tak tahu,  mengapa Hong-thio memerintahkan aku memberikan pelajaran  Kiu-yang  Sin-kang  kepadamu.  Aku tidak tahu siapa namamu dan kaupun tak usah menanyakan namaku, Aku tidak tahu,  ilmu apa yang telah atau pernah dipelajari olehmu, akan tetapi aku merasa kagum akan kecerdasanmu. Dikemudian hari,  kau mempunyai  harapan yang tidak terbatas. Maka itu, aku bermaksud membantu kau untuk membuka Kie-keng  Pat-meh (pembuluh  darah)  di seluruh tubuhmu, supaya kalau nanti kau berlatih dengan Kiu- yang  Sin-kang- kau tidak  perlu  mengalami banyak kesukaran." 

Sebelum Thio Sin Houw memberikan jawaban, mendadak tembok  berlubang  dan  dua  lengan  muncul  dari  lubang  itu   ! 

Sin Houw kaget bukan kepalang,  ia mencelat dari tempat duduknya dan berseru dengan suara tertahan : 

"Kau ... kau !" itulah kenyataan yang terlalu mustahil! 

Tetapi dengan matanya sendiri ia menyaksikan bahwa tembok yang "tebal itu sudah berlubang karena sodokan tangan Cie- kong Taysu, seakan-akan tembok itu tidak lebih daripada tahu yang lunak. 

Sementara itu Cie-kong Taysu telah berkata kepada Sin Houw: 

"Tempelkan kedua telapak tanganmu dengan telapak tanganku, Aku tidak  mengetahui she dan namamu,   akupun tidak tahu kau muridnya siapa, Hari ini kita bertemu dan jodoh kita akan habis sampai disini." 

Melihat maksud orang yang sangat baik,  pandangan  Thio Sin Houw terhadap Cie Kong Taysu segera berubah: 

"Terima kasih atas bantuan Sian-su," katanya sambil meluruskan kedua tangannya dan menempelkan telapakannya ke tangan pendeta yang di anggap-nya aneh itu.  "Kendurkan tulang-tulang dan otot-otot didalam tubuhmu,  dan bebaskan pikiranmu dari segala ingatan," kata pula Cie- kong Taysu, 

"Baiklah," sahut Sin Houw. 

Sesaat kemudian dari kedua telapak tangan  Cie-kong Taysu keluar semacam hawa hangat yang terus menembus kedalam telapak tangan Sin Houw, terus naik ke lengan dan bahu. Hawa itu halus bagaikan sutera, tetapi terasa  nyata sekali dan perlahan-lahan hawa itu masuk ke dalam pembuluh darah. 

Apabila menemui rintangan dan tidak dapat segera menembus, hawa itu berubah panas  dan  menerjang berulangkali sehingga rintangan dapat ditembus, sesudah delapan pembuluh darah besar ditembuskan, hawa itu jadi semakin cepat jalannya sehingga Sin Houw merasakan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing sehingga ia bagaikan mau jatuh terguling. 

Akan tetapi dari telapak tangan pendeta aneh itu keluar semacam tenaga menyedot, sehingga telapak  tangan  Sin Houv melekat keras yang membuat Thio Sin  Houw tidak sampai terjatuh, Dilain  saat, Sin  Houw merasakan seluruh badannya seperti dibakar. Kalau mungkin, ia tentu sudah lari keluar dan membuka baju untuk terjun  ke dalam   telaga, setelah lewat sekian lamanya, hawa panas itu meninggalkan tubuhnya dan kembali ke telapak tangan Cie-kong Taysu. 

Sesudah menarik pulang kedua lengannya dari lubang itu, Cie-kong Taysu berkata dengan suara dingin: 

"Kau pergilah!" 

Thio Sin Houw menjenguk ke lubang itu, tetapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Mengingat  budi pendeta yang dianggapnya aneh itu, ia lantas saja berkata: 

"Terima kasih banyak  atas budi siansu yang  sangat besar." 

Setelah berkata demikian, ia berlutut. Tetapi mendadak lengan    Cie-kong   Taysu   muncul   lagi    di    lubang   itu   dan  mengibasnya, Hampir berbareng, tubuh  Sin  Houw  terpental dan jatuh di luar pintu. Pendeta yang dianggapnya aneh itu ternyata tak ingin menerima kehormatan tadi. . 

"Pergi kau beritahukan,.  kepada Hong-thio,  bahwa pelajaran Kiu-yang Sin-kang telah diturunkan semua kepada Siauwsiecu, juga bahwa Siauw siecu memiliki daya ingat yang sangat kuat dan semua pelajaran itu telah di ingat dengan baik olehnya." 

"baiklah," sahut si pendeta kecil yang telah tersadar dari pingsannya. 

Thio Sin Houw kemudian mengikuti, dan pendeta kecil itu mengantarkan ke ruangan Lip~soat teng, di mana Tie-kong tianglo telah menulis tiga puluh halaman lebih, tetapi masih kelihatan terus menulis dengan tekun. 

Melihat kerelaan dan pengorbanan kakek guru itu, Thio Sin Houw merasa sangat terharu,  dengan butir-butir air  mata berlinang ia berseru: 

"Thay-suhu! Kiu-yang  Sin-kang  telah   seluruhnya diturunkan kepadaku oleh siansu. " 

Sang kakek guru girang. 

"Bagus!" katanya dengan menyertai tawa. 

Tie-kong tiangLo kemudian menulis lagi sampai beberapa saat kemudian ia telah menyelesaikan pekerjaannya. 

Hasil tulisannya itu  kemudian  diserahkan  kepada  si pendeta kecil yang mengantarkan Thio Sin  Houw  dengan pesan untuk disampaikan kepada Cie-beng Taysu yang menunggu di ruangan lain, 

Disepanjang perjalanannya pendeta kecil itu  memeriksa  dan membaca tulisan Tie-kong tianglo, sementara Tie-kong tianglo yang mengetahui  kejadian itu tidak  menghiraukan. Karena menurut jalan  pikirannya,  ia  telah  menyerahkan rahasia ilmu sakti miliknya kepada pihak Siauw-lim secara sukarela sebagai "penukar" nyawa Thio Siu  Houw. Dari itu  siapa saja yang membacanya, baginya sama saja. 

Ketika telah berada dihadapan Cie beng Taysu,  pendeta kecil itu menyerahkan naskah tulisan Tie-kong tianglo sambil berkata: 

"Susiok, ilmu kepandaian sakti yang dikatakan milik Tay- suhu dari Boe-tong pay itu, sebenarnya adalah asli kepunyaan golongan Siauw-lim. Apa yang ditulis oleh Tay-suhu itu, sudah pernah siauwtit pelajari." 

"Omong kosong!" bentak Cie-beng Taysu, "Thay-kek Koen- hoat adalah ilmu yang digubah oleh Tie-kong tianglo sendiri, bagaimana mungkin kau mengatakan sudah pernah  belajar ilmu itu?" 

Tetapi wajah muka pendeta kecil itu tenang-tenang saja, sambil menuding kepada  tumpukan naskah yang dipegang oleh Cie-beng Taysu ia berkata lagi: 

"Jika susiok tidak percaya kepada siauwtit, silahkan paman memeriksa bunyi naskah itu, dan siauwtit akan mengucapkannya secara di luar kepala." 

Setelah berkata demikian, pendeta kecil yang bernama Ku Cie Tat itu terus mengucapkan bunyi naskah Tie-kong tianglo diluar kepala, Mula-mula Cie-beng Taysu yang  tetap didampingi oleh Cie-keng dan Cie-goan Taysu bersikap dingin terhadap perkataan Ku Cie Tat, tetapi setelah  mendengar pendeta kecil itu dapat mengucapkan kata-kata bunyi naskah Tie-kong tianglo pada halaman satu dan dua dengan lancar, tertariklah mereka, Terus saja mereka seakan-akan berebutan membalik-balik halaman-halaman  naskah, untuk kemudian saling mengangsurkan, memeriksa dan membaca secara bergantian serta mencocokkan dengan ucapan-ucapan Ku Cie Tat diluar kepala, sejenak kemudian Cie-keng Taysu berkata kepada Cie-beng Taysu: 

"Benar , benar!" katanya. "Memang apa yang ditulis oleh Tie-kong tianglo adalah kalimat-kalimat yang terdapat didalam Kiu-im Cin-keng,"  Tidaklah mudah Cie-beng Taysu mempercayai pernyataan itu. Akan tetapi Ku Cie Tat dapat membuktikan, dan apa yang diucapkannya diluar kepala, sepatah kata saja  tiada  yang salah atau terlampaui, Mau tak mau ia harus percaya penuh. setelah menimbang-nimbang  sebentar,  kemudian  ia mengambil keputusan untuk menemui Tie-kong tianglo. 

Setelah berhadapan dengan pemimpin golongan Boe-tong pay itu, maka Cie-beng Taysu yang membuka bicara: 

"Ilmu silat Boe-tong bersumber dari Siauw-lim, benar saja, apa yang ditulis oleh Tianglo tidak banyak  bedanya  dari ilmu silat kami." dan Cie-beng Taysu menyudahi perkataannya sambil mengembalikan naskah hasil tulisan Tie-kong tianglo. 

Tie-kong tianglo tertawa. 

"Apa yang telah ditulis oleh siauwto, sedikitpun aku tidak merasa menyesal," katanya, "Aku mengerti bahwa ilmuku itu sangat cetek dan  tidak berharga, Apabila samwie tidak memer-lukannya, sebaiknya dibuang  saja,"  Ia  tidak menyambuti tumpukan kertas yang diangsurkan kepadanya. 

"Dari kata-katamu, Tianglo. Agak-nya kau tidak  percaya akan pengutaraan kami itu," kata Cie-keng ynng ikut bi-cara, Lalu ia berpaling kepada Cie Tat dan menyambung perkataannya: "Cie Tat - coba kau hafal  isi  kitab  Kiu-im cinkeng yang pernah kau pelajari." 

"Baiklah," jawab pendeta kecil itu  yang  lantas  saja membaca di luar kepala, semua hasil tulisan Tie-kong tianglo yang dilihatnya tadi. 

Tiba-tiba Thio Sin Houw menyelak bicara: 

"Thay-suhu, orang itu menghafal dengan membaca hasil tulisan dari Thay suhu, dan sekarang mereka mengatakan ilmu itu tiada berbeda dengan ilmu mereka, sungguh tak mengenal malu!" 

Tie-kong tianglo juga menyadari hal itu, ia tertawa sambil mengawasi pendeta kecil itu. Lalu berkata :  "Selagi pinto minta bantuanmu mengantarkan naskah itu untuk di sampaikan kepada Cie-beng Taysu, siauw suhu pasti sudah menghafalkan hasil  tulisan pinto itu, Kepintaran dan kecerdasanmu itu tidak  dimiliki oleh pinto, bolehkah pinto mengetahui she dan namamu?" 

"Thay-suhu jangan memuji begitu tinggi," jawab pendeta kecil itu, yang kemudian menambahkan lagi: "Boanpwee  she Ku, bernama Cie Tat." 

"Ku siauwtit," kata pula guru besar itu dengan suara sungguh-sungguh2. 

"Dengan kecerdasanmu, apapun juga yang dipelajari olehmu pasti akan berhasil. 

Pinto hanya mengharap, kau jangan mengambil jalan yang salah, Dengan  mempergunakan kesempatan ini, pinto ingin mempersembahkan  kata-kata  seperti  berikut:  Dengan kejujuran memperlakukan orang lain, dengan kerendahan hati membatasi diri." 

Melihat sinar mata guru benar itu yang tajam bagaikan pisau, Ku Cie Tat bergidik. Tetapi dengan hati mendongkol ia berkata: 

"Terima kasih atas petunjuk Thay suhu, tetapi boanpwee adalah murid Siauw-lim, dan mempunyai supeh, suhu, dan susiok untuk mendidik boanpwee." 

"Benar," kata Tie-kong tianglo sambil  tertawa.  "memang  aku si orang tua terlalu rewel." 

Waktu itu Cie-keng Taysu telah mengangsurkan lagi tumpukan kertas yang ditulisnya tadi. Kali ini Tie-kong tianglo menyambut sambil mengirim tenaga  dalam   dengan perantaraan kertas itu, Hampir berbareng sipendeta terhuyung dan Ku Cie Tat yang berdiri di sampingnya, segera berusaha memeluknya tetapi tenaga bertahan Cie-keng Tay-su besar sekali dan pendeta kecil yang kena didorong, lantas  saja terpental keluar ruangan dan jatuh di tanah. 

Ketika mengirim tenaga dalamnya itu, Tie-kong tianglo  hanya menggunakan sebagian tenaganya  dan ia  memang tidak bermaksud jahat. Maka itu, begitu mengerahkan tenaga dalam kebagian kakinya, Cie-keng Taysu sudah bisa berdiri tegak. Sambil bersenyum maka ia berkata: 

"Itu tadi adalah salah-satu jurus dari ilmu Thay-kek Koen- hoat, dan kini terbukti bahwa meskipun kalian berdua paham akan ilmu itu - tetapi kalian belum mempunyai kesempatan untuk berlatih. Selamat tinggal!" 

Dengan sekali mengibas tangan diudara berterbanganlah kepingan-kepingan kertas yang halus. Kertas berisi ilmu Thay- kek Koen-hoat yang ditulisnya tadi, Sambil menuntun sebelah tangan Sin Houw, tanpa menoleh lagi Tie-kong tianglo meninggalkan gunung Siauw-sit san. 

Pihak Cie-beng  Taysu saling mengawasi  dengan mulut terbentang. Mereka merasa kagum  dan  takluk  akan kepandaian orang tua-itu. Disamping itu, merekapun merasa agak menyesal. 

"llmu itu sangat lihay," kata Cie-keng Taysu didalam hati, "Apakah Cie Tat sudah  menghafalkan  seluruhnya?  Apabila satu huruf saja yang terlupa, Siauw-lim akan menderita kerugian besar " 

 (Oo-dwkz-oO) 

DALAM PADA ITU, Tie-kong tianglo berdua Thio Sin Houw telah meninggalkan gunung Siauw-sit  san.  Setelah memperoleh tempat penginapan, Tie-kong tianglo segera memerintahkan Sin Houw melatih diri menurut ajaran-ajaran  ilmu sakti yang diperolehnya dari Cie-kong Taysu di kuil Siauw-lim sie. 

Karena tak ingin melihat gaya latihan Thio Sin Houw yang bersumber dari  rumah  perguruan  lain,  sengaja Tie-kong tianglo mengambil dua kamar yang letaknya   berpisahan. Namun demikian, karena ilmu sakti Tie-kong tianglo  telah mencapai puncaknya walaupun tidak mendengar isti.lah- istilahnya akan tetapi dengan melihat cara duduk  Thio  Sin Houw dan cara mengatur pernapasannya, dengan sendirinya  ia dapat menangkap inti rahasianya, Apalagi dia melihat pula caranya menjalankan peredaran darahnya. inilah yang tidak dikehendakinya. sebagai seorang yang memegang tampuk pimpinan suatu aliran tersendiri, tak boleh ia berbuat demikian. itulah sebabnya pula, betapa cara Thio Sin Houw memperoleh kemajuan melalui ajaran Cie-kong Taysu,  tak  pernah ditanyakan pula. 

Tie-kong tianglo memang seorang petapa yang saleh dan jujur hati, Karena kejujurannya, ia mengukur keadaan   hati orang lain dengan keadaan hatinya sendiri. Maka ia percaya benar kepada para pendeta pemimpin kuil Siauw-lim sie, ia yakin, mereka pasti memegang janji. walaupun mereka agak sempit pikiran dalam menghadapi persoalan harga diri mengenai rumah perguruannya - akan tetapi, betapapun juga mereka adalah tokoh-tokoh tertinggi dari suatu partai yang tertinggi pula.  

Kata-katanya seumpama undang-undang. Karena itu, apa yang mereka katakan tentulah dapat dipercaya, Kalau sudah berjanji mengajarkan ilmu kepada Thio Sin Houw, pasti pula tidak akan melakukan tipu muslihat atau berdusta. 

Tie-kong tianglo menjadi girang tatkala disepanjang jalan ia melihat wajah Thio Sin Houw makin hari semakin cerah dan bersemu merah. itulah suatu tanda bahwa  bocah itu telah memperoleh kemajuan. Diam-diam ia berpikir , bila Thio Sin Houw telah mendapat ajaran asli dari ilmu golongan Boe-tong dan Siauw-lim sehingga bisa saling mengisi kekurangannya masing-masing, tentu  daya gunanya dikemudian hari akan banyak bertambah. 

Dengan berbekal dua bagian ilmu  sakti  Kiu-im  Cin-kang dan Kiu-yang Cin-kang, pastilah racun Hian-beng  Sin-ciang  yang mengeram didalam sungsumnya akan bisa  terhapus sirna. 

Di hari keempat mereka telah tiba ditepi sungai Han-sui. Untuk mengurangi lelah, mereka menumpang sebuah perahu dagang, sedang kuda mereka dijual sebagai penambah bekal.  Disepanjang perjalanan itu  Tie-kong  tianglo  terkenang pada masa mudanya ketika ia masih merupakan seorang pendekar, seringkali ia dikejar kejar lawan, dan kebanyakan tertolong oleh perahu-perahu yang berada  ditepi  sungai. Tatkala itu ia masih muda belia,  dan  sama sekali tidak  pernah di duganya sendiri - bahwa pada hari itu ia  menjadi  tokoh  utama dari golongan Boe-tong yang derajatnya  sama  besar dan sama tinggi dengan golongan Siauw-lim-pay. sedangkan pada hari ini Thio Sin Houw malah sudah berhasil merangkap ilmu kepandaian dua golongan itu. Maka sudah dapat dibayangkan, bahwa masa depan bocah itu pasti akan lebih gemilang daripada  dirinya sendiri. Oleh rasa puas itu, ia mengelus-elus jenggotnya yang telah putih seluruhnya. 

Selagi ia mengelus-elus jenggotnya  sambil tersenyum sendiri,tiba-tiba Thio Sin Houw berteriak  dengan  suara gemetar: 

"Thay-suhu ... aku ... aku " 

Dan wajah muka-anak itu berubah hebat. Merah membara seperti dibakar. Dan diantara warna merah membakar tersembullah warna hijau semu pula. 

Rasa terkejut Tie-kong tianglo tidak terkirakan, setengah menjerit ia bertanya: 

"Kau.   kenapa?" 

"Aduh  ...  aduh  ...  sakit!  Tak tahan aku " sahut Thio Sin 

Houw dengan tubuh menggigil. setelah  berkata demikian, tubuhnya bergeliat dan terlempar lah ia keluar perahu. 

Cepat-cepat Tie-kong tianglo mengulurkan tangan kirinya menyambar pergelangan tangan Sin Houw, sedangkan tangan kanannya terus menahan  punggungnya. segera  ia menyalurkan tenaga dalamnya membantu Thio Sin  Houw, melawan hawa berbisa yang mengamuk di dalam tubuh. 

Tak disangka tenaga sakti Tiekong tianglo yang disalurkan lewat punggungnya, ternyata menembus seluruh bagian urat nadi pada detik itu juga sehingga Thio Sin Houw menjerit  tinggi dan jatuh pingsan. 

Tie-kong tianglo menjadi sangat terkejut tidak kepalang, Dengan cepat kesepuluh jari-jari tangannya bekerja menutup aliran darah yang penting, Di dalam hati ia menjadi heran, Pikirnya: 

"Mengapa seluruh urat nadinya dapat kutembus dengan mendadak, padahal seluruh tubuhnya terkena gumpalan gumpalan hawa berbisa yang luar biasa dahsyatnya, Betapa mungkin urat nadinya yang penting-penting dapat tertembus dengan sekaligus! Kalau urat-urat nadinya menjadi  begini lancar, hawa berbisa yang mengeram dalam sumsumnya akan segera merangsang jantung. Hai,sekarang dan untuk selama- lamanya hawa berbisa yang sudah  meruap  begini  hebat terang sekali tidak dapat dihilangkan lagi". 

Menghadapi keadaan demikian, walaupun Tie-kong tianglo sudah berusia sembilanpuluh  tahun lebih, kesadaran dan ketenangannya sudah terlatih sampai ke puncaknya, namun tidak urung ia merasa bingung juga hingga keringat dingin membasahi jidatnya,  Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa ilmu sakti Kiu-yang Cin-kie dari Siauw-lim pay begitu hebat luar biasa. 

Tak pernah pula diduganya bahwa seseorang  yang  baru  saja terlatih beberapa hari saja sudah dapat terbuka  seluruh urat nadinya,  Menurut pendapatnya, hal  itu tidak mungkin terjadi. sedangkan murid-muridnya sendiri yang sudah berlatih belasan tahun lamanya, belum tentu dapat  juga  menembus urat nadinya sampai aliran darahnya menjadi lancar. Masakan ilmu sakti pihak Siauw lirn lebih mujijat  daripada  ilmu  sakti  milik Boe-tong? 

Harus diketahui, apabila Tie-kong tianglo mau membantu dengan tenaga saktinya kepada murid-muridnya, sudah tentu bukan soal sulit untuk menembus seluruh urat nadi peredaran darah mereka. Tetapi tenaga bantuan  yang  datangnya  dari luar, betapa baikpun tidaklah sebaik dan sesempurna tenaga yang timbul dari badan sendiri yang sesungguhnya jauh lebih kuat, jauh lebih murni dan dapat diandalkan, itulah sebabnya  Tie-kong tianglo tak mau membantu murid-muridnya menghimpun tenaga saktinya. ia  berharap  murid  muridnya akan mencapai kemajuannya sendiri, setindak demi setindak dengan berbekal  kemauannya  masing-masing,  walaupun  hal itu terjadi sangat lambat. 

Tatkala itu perahu mereka telah melaju sampai ditengah sungai.Baik arus maupun gelombangnya tidak terlalu keras. Meskipun demikian perahu kecil mereka tetap  tergoyang- goyang. sebaliknya  hati Tie-kong tianglo  tergon-cang  jauh lebih hebat, daripada ombak-ombak kecil yang menggoncangkan perahunya. 

Setelah lewat beberapa waktu, perlahan-lahan Thio Sin Houw memperoleh kesadarannya  kembali.  Kedua  belas tempat peredaran darahnya sudah tertutup. Hawa berbisa Hian-beng Sin-ciang untuk  sementara  dapat  tertahan, sehingga tidak sampai menjalar ke jantung, Tetapi tangan dan kaki Thio Sin Houw tak bisa berkutik lagi,dalam keadaan demikian Tie-kong tianglo tak perduli lagi akan pandang orang. ia pun tidak menghiraukan bahwa gerak-gerik maupun perkataannya dapat  menimbulkan  kecurigaan  orang.  Segera  ia bertanya kepada Thio Sin Houw: 

"Sin Houw, ilmu yang kau peroleh dari kuil Siauw-lim itu, sesungguhnya, bagaimana macamnya? Apa sebab  seluruh urat nadimu dan  peredaran  darahmu  menjadi  lancar semuanya, seolah-olah ada tenaga besar yang telah menembusnya?" 

"Thay-suhu," sahut Thio Sin Houw, "Yang menembus jalan darahku itu adalah Cie-kong Taysu, Dia berkata akan dapat membantu aku mempercepat meyakinkan ilmu Kiu-yang  Cin- kie golongan Siauw-lim." 

"Bagaimana cara dia  menolongmu?"  Tie-kong  tianglo minta keterangan. 

Maka berceritalah Thio Sin Houw tentang semua pengalamannya di dalam pertapaan Siauw-lim sie. Bagaimana mula pertama ia dibawa sampai dia mengetahui nama  seorang sakti yang bersembunyi dibalik dinding. Menurut kata yang didengarnya, orang sakti itu bernama Cie-kong Taysu, Diterangkan pula bagaimana cara  Cie-kong  Taysu melancarkan seluruh peredaran darahnya. 

Mendengar keterangan  Thio Sin Houw beberapa saat lamanya Tie-kong tianglo  termangu-mangu.  setelah bermenung dia berkata: 

"Jika demikianlah syarat untuk mempercepat peresapan ilmu Kiu-yang Cin-khie, masakan aku tak bisa? sebenarnya menurut perasaanmu orang yang menamakan diri Cie-kong Taysu bermaksud baik atau buruk?" 

"Beberapa kali ia berkata kepadaku begini: Aku  tak  kenal kau bernama siapa" Thio Sin Houw memberikan keterangan . "Akupun tidak tahu kau datang dari aliran atau golongan apa. sebaliknya kaupun tak perlu mengetahui namaku, juga  tidak perlu mengenal wajahku! Akupun tidak  perlu  mengenal wajahmu pula." 

Tie-kong Tianglo menjadi heran mendengar penjelasan itu, sejenak kemudian ia bicara bagaikan pada dirinya sendiri : 

"Cie-kong Taysu! Cie-kong Taysu! Agaknya aku belum pernah mengenal nama seorang tokoh Siauw-lim seperti itu... dia mau menolong kau tanpa  mengenal namamu, tanpa mengetahui pula dari golongan atau aliran apa  kau  datang, Jika begini, rasanya ia  memang  tidak  mengetahui hubunganmu dengan aku. untuk menolong dirimu, dia harus mengorbankan tenaga murni yang di himpunnya paling tidak sepuluh sampai dua puluh tahun lamanya. Kalau pengorbanan ini tidak timbul dari hati  nuraninya  yang  bersih,  mustahil  dia rela berkorban?" 

Setelah itu Tie-kong tianglo minta kepada Thio Sin Houw agar mengucapkan kembali kalimat-kalimat sakti ilmu yang diperoleh Thio Sin Houw di dalam kuil Siauw-lim. 

Thio Sin Houw segera mengucapkan kalimat-kalimat sakti yang pertama sampai yang ketiga diluar kepala, sebagai seorang yang berkepandaian tinggi , dengan sekali  mendengar saja Tie-kong tianglo segera mengetahui betapa hebat intisari ilmu itu. Cepat-cepat ia memutus: 

"Sudahlah, tak usah kau teruskan. 

Maksudku tadi hanya ingin menguji  palsu  atau  tidaknya ilmu sakti yang diajarkan kepadamu, itulah  sebabnya  aku minta kau membacakannya, selanjutnya ilmu itu janganlah kau kabarkan kepada siapapun juga,  ingatlah  sumpah  yang pernah kau ucapkan. seorang  ksatria  sejati  pantang melanggar sumpah yang telah diucapkan!" 

"Ya,  Thay-suhu." sahut Thio Sin Houw. 

Ketika dilihatnya suara sang kakek guru agak bergemetar, apalagi kedua matanya basah berkaca-kaca, tahulah Thio Sin Houv menebak keadaan hati orang tua itu. ia  seorang  anak yang dianugerahi alam suatu kepintaran luar biasa, cerdik dan cerdas bukan main. 

Pada saat itu sadarlah dia, bahwa hidupnya hanya tinggal sisa waktu yang singkat saja, sehingga walaupun tidak mengucapkan sumpah kepada pihak para pendeta  Siauw-lim sie artinya sama saja. ia tidak mempunyai waktu lagi, untuk mengajarkan ilmu yang  diperolehnya  dari  kuil  Siauw-lim kepada orang lain, Sejenak kemudian  pikirannya  bergerak  , dan ia berkata kepada Tie-kong tianglo: 

"Thay-suhu, apakah jiwaku tidak dapat dipertahankan lagi, sampai aku bisa pulang ke Boe-tong san?" 

"Janganlah kau berkata seperti itu, Betapapun hebatnya lukamu, aku pasti berusaha menolongmu" sahut  Tie-kong tianglo yang berusaha membendung air matanya. 

"Sucouw, aku tidak mengharapkan apa-apa lagi, asal saja aku bisa melihat supeh Cia Sun Bie untuk sekali saja."  kata Thio Sin Houw. 

"Apa sebab?" tanya Tie-kong tiang lo heran. 

"Sucouw, Cia supeh adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa  aku masih mempunyai seorang kakak  perempuan. Aku ingin membeberkan rahasia ilmu sakti Kiu- yang Cin-kang golongan Siauw-lim  kepadanya  lewat  Cia supeh. 

Dengan berbekal ilmu kepandaian  ayah dan  dilengkapi dengan ilmu sakti Kiu-yang Sin-kang golongan Siauw-lim, dia akan menjadi seorang pendekar perempuan yang kelak dapat menuntut balas sakit hati ayah dan ibu. Aku sendiri, setelah mengabarkan ajaran ilmu sakti itu kepada Cia supeh, segera akan bunuh diri, Dengan demikian aku bertanggung  jawab  atas pelanggaran janjiku ini kepada pihak para pendeta Siauw- lim sie. Maka sedikit banyak aku tidak terlalu mengecewakan pesan ayah dan ibu." 

Mendengar perkataan Thio Sin  Houw, Tie-kong tianglo terperanjat bukan kepalang. Kemudian kagum dan terharu. Sama sekali tak terlintas dalam benaknya, bahwa anak sekecil itu ternyata sudah pandai menjangkau hari depan begitu jauh, oleh rasa kagetnya, kagum dan terharu, maka Tie-kong tianglo menyahut sejadi-jadinya. Katanya: 

"Sin Houw, janganlah kau berkata yang bukan-bukan." "Tay-sucouw,  tiap  kali  aku  membuka  mata  dan setiap kali 

aku tertidur  lelah, serasa aku mendengar suara  ayah  dan  ibu 

yang selalu memperingatkan aku agar aku menuntut balas kepada lawan sebenarnya, Juga aku selalu  mendengar teriakan koko Sin Han yang begitu menyayatkan hati, ketika ia mati terjungkal ke dalam jurang entah berapa ribu meter dalamnya." kata Thio Sin Houw dengan suara gemetar. 

Perkataan Thio Sin Houv itu membuat hati Tie-kong tianglo terasa hancur luluh. Tanpa dikehendakinya sendiri, maka terbayanglah wajah muka Thio Kim San, almarhum ayahnya Thio Sin Houw. 

Untuk urusannya Lim Tiauw Kie yang menghilang tanpa jejak,pada suatu hari pernah Tie-kong tianglo memerintahkan melakukan perjalanan ke Kanglam guna mengadakan penyelidikan. 

Sebelum berangkat, pada malam harinya Thio Kim San  keluar dari kamarnya dengan hati gelisah, Ketika tiba  di ruangan tempat berlatih ilmu silat, dari jauh ia melihat kehadirannya gurunya, Untuk sesaat Thio Kim San  berdiri dibelakang suatu tiang  tanpa bergerak, sampai tiba-tiba ia melihat gurunya mengangkat tangan kanannya dan menulis huruf-huruf ditengah udara. 

Dengan memperhatikan gerakan tangan gurunya, Thio Kim mengetahui bahwa yang ditulis gurunya adalah dua huruf "Songloan" ( = kesedihan , kekalutan) . setelah mengulangnya beberapa kali, guru itu menulis dua huruf lain, yakni "To tok" (- penganiayaan hebat, melakukan pengrusakan). Segera  Thio Kim San menyadari, bahwa gurunya sedang menulis "Song- loan tiap" dari Ong Hie Cie, 

Tetap sambil bersembunyi di belakang tiang, Thio Kim San terus memperhatikan gerakan tangan gurunya yang menulis seperti berikut: 

"Hie Cie toen-sioe, song-loan oie kek3 sian-bok aay-lie to tok3 toei-wie kouv seng, " 

 (= Hie Cie memberi hormat , kesedihan dan kekalutan melampaui batas. Kuburan leluhur diubrak-abrik, kalau diingat sungguh hebat perasaan duka.) 

Lewat beberapa saat, Thio Kim San merasakan bahwa setiap coretan yang dibuat oleh  gurunya  mengandung kedukaan dan secara mendadak, ia berhasil menyelami perasaan Ong Cie Hie sendiri pada waktu menulis Song-loan tiap itu. 

Ong Hie Cie adalah seorang sasterawan  besar  pada zaman kerajaan Cin Timur, Pada waktu itu, negara Cina kacau balau dan bangsa asing menentang kekuasaannya, Dalam kesedihan dan kekalutan hebat (song-loan), murid-murid Ong Hie Cie telah melarikan diri ke wilayah Cina sebelah selatan. Bukan saja manusia, tetapi makam-makam pun turut dirusak sehingga dapatlah dibayangkan, kedukaan dan  kegusaran rakyat yang sangat menghormati makam leluhur mereka, penderitaan yang hebat itu, semuanya dilukiskan dalam Song- ioan tiap itu. 

Dalam keadaan biasa selagi diliputi suasana gembira, Thio Kim San tak bisa memahami maksud yang sebenarnya  dari "tiap" itu. Tetapi kini selagi ia sendiri dalam keadaan duka berhubung ulah Liam  Tiauw  Kie yang  bahkan  telah menghilang tanpa meninggalkan  jejak,   maka  secara mendadak ia dapat menyelami arti "Song-loan" dan "To-tok". 

Sementara itu setelah  menulis beberapa kali, Tie-kong tianglo menarik napas panjang lalu masuk ke ruangan tengah dimana ia duduk termenung  beberapa  saat lamanya,  Tiba-tiba ia mengangkat pula tangan kanannya dan menulis huruf-huruf ditengah udara. Kali ini huruf-huruf itu berbeda dengan huruf- huruf Song-loan tiap, Huruf-huruf pertama adalah "Boe" sedangkan yang kedua "Lim" (Boe-lim = Rimba persilatan). ia menulis terus sampai mencapai duapuluh empat huruf. 

Dengan memperhatikan gerakan tangan gurunya, Thio Kim San mengetahui bahwa yang ditulisnya adalah Boe-lim aie- ooen, po-sun... 

Tiba-tiba Thio Kim San menyadari bahwa apa yang sedang ditulis oleh gurunya itu, sebenarnya beliau  sedang memahamkan serupa ilmu silat yang  sangat  tinggi.  Setiap huruf yang ditulisnya, berarti  setiap pukulan yang sangat dahsyat! 

Thio Kim San yang bersembunyi di balik tiang, menjadi semakin tertarik perhatiannya dan memusatkan segala kemampuannya untuk diam-diam menghafal  semua gerakan yang dilakukan oleh gurunya. Hampir dua jam lamanya  Tie- kong tianglo berlatih terus,  sampai  kemudian  ia  bersiul nyaring. Telapak tangannya menyabat dari atas ke bawah. 

Bagaikan menyambarnya sehelai sinar pedang. Sabetan yang dahsyat itu merupakan coretan terakhir dari huruf yang ditulisnya. 

Sehabis menyabat, guru itu menoleh kearah Kim San dan berkata:  "Kim San, bagaimana  pendapatmu mengenai   Soe-hoat ini?" 

 (Soe-hoat = seni menulis huruf indah). 

Thio Kim San terkejut. Tidak disangkanya bahwa kehadirannya telah diketahui oleh gurunya, Cepat-cepat ia mendekati sambil menjawab: 

"Hari ini teecu bernasib baik karena sempat melihat  ilmu silat suhu yang luar biasa, apakah  boleh teecu memanggil Toa-suko dan yang lainnya supaya merekapun bisa ikut menyaksikan?" 

Tie-kong tianglo menggelengkan kepalanya, Katanya : "Kegembiraanku  telah  sirna,  sehingga  mungkin  sekali aku 

tak dapat menulis lagi, Disamping itu mereka tidak menyukai sastra, belum  tentu  mereka  bisa menarik banyak manfaatnya." 

Setelah berkata demikian, sambil mengibaskan lengan bajunya Tie-kong tianglo berjalan masuk ke ruangan dalam. 

Thio Kim San tak berani tidur karena khawatir ia akan melupakan ilmu silat itu, Oleh karenanya segera ia bersilat dan menjernihkan pikirannya, untuk mengingat-ingat setiap coretan yang baru saja dilihatnya, Entah berapa lamanya ia berlatih  terus dengan amat tekunnya, sampai akhirnya ia berhasil menguasai seluruh ilmu silat itu yang digubah berdasarkan huruf-huruf yang dibuat oleh gurunya tadi. 

 (Oo-dwkz-oO) 

TERINGAT dengan kenangan lama tanpa terasa air mata Tie-kong tianglo berlinang keluar dan  membasahi mukanya bahkan terus menetes jatuh ke jubahnya.  Cepat-cepat  orang tua itu memutar tubuh supaya jangan terlihat oleh Thio Sin Houw, dan ia membentak dengan suara parau: 

"Sin Houw, Tak boleh lagi kau berpikir yang bukan-bukan!" Orang tua itu kemudian berusaha tenangkan diri, setelah 

berhasil memperoleh ketenangannya, kembali  ia  memutar tubuh menghadapi Sin Houw dan berkata :  "Seorang ksatria sejati, harus bersih hati dan  jujur kepada diri sendiri, ia harus memperlihatkan dadanya pada saat apa saja, dimanapun ia  berada dan  dalam  keadaan  betapa sulitpun juga, Kau telah berjanji kepada para pendeta Siau-lim, bahwa kau tidak bakal mengajarkan ilmu yang diberikannya kepadamu pada lain orang. Maka sejak saat  itu  pula,  kau harus dapat memegang teguh  janjimu sendiri sampai detik terakhir. Sebab saksinya adalah hidupmu sendiri!" 

Kata-kata Tie-kong tianglo terdengar penuh semangat dan berwibawa, sehingga Thio Sin Houw menjadi tertegun, Tanpa merasa ia mengangguk. 

Sebenarnya semenjak ia sadar hidup diantara ayah-bunda dan kedua saudaranya,  ia terlatih  menjadi  seorang ksatria sejati. Namun didalam pengalaman hidupnya akhir-akhir ini, iamenghadapi manusia-manusia licik yang  demi  tujuan mereka banyak menggunakan  berbagai tipu-daya licik yang bertentangan dengan angan-angan jiwa  ksatria, janji  belum tentu harus ditepati, semuanya tergantung pada keadaan.  

Baru setelah berada di kuil Boe-tong pay, semua paman- paman gurunya memberikan contoh bagaimana sepak-terjang seorang ksatria sejati. Dan bahwasanya janji bagi seorang ksatria harus dipegang teguh sampai mati barulah untuk yang pertama kalinya didengarnya lewat mulut kakek gurunya. 

Walaupun demikian, kata-kata Thio Sin  Houw itu telah menusuk kalbu Tie-kong tianglo. Pikir orang tua itu di dalam hatinya: 

"Anak ini tahu bahwa beberapa hari lagi, jiwanya akan melayang, Akan tetapi sama sekali ia tak gentar atau menjadi kecil hati, malahan lantas teringat  dengan pesan ayah- bundanya bahwa ia harus bisa membalas dendam terhadap musuhnya yang benar. Demi baktinya kepada  ayah-bundanya, ia rela membunuh diri setelah mengalihkan rahasia suatu ilmu sakti yang dianggapnya bisa mencapai angan-angannya itu kepada Cia Sun Bie, agar  Cia  Sun  Bie  diharapkan meneruskan kepada kakaknya perempuan.   Kalau dipertimbangkan, sesungguhnya hal itu  sesuai dengan panggilan jiwa ksatria, Akh, mengapa  Tuhan tidak melindungi seorang yang memiliki jiwa demikian besar ini?" 

Selagi orang tua ini memuji jiwa Thio  Sin  Houw  didalam hati, tiba-tiba terdengarlah  suatu  kumandang  suara  di kejauhan sana. Nyaring benar suara itu terdengarnya: 

"Heeeeyyy! Kau serahkan saja bocah itu! Dan  kau  akan kami ampuni...  kalau membangkang, janganlah  mengutuk kami dengan mengatakan kami seorang makhluk yang kejam dan bengis!" 

Suara itu terbawa oleh angin, tiap patah kata-katanya terdengar sangat jelas, itulah suatu tanda,  bahwa  pemilik suara itu pastilah  memiliki tenaga dalam yang tinggi. Dan mendengar bunyi kata-kata itu,  Tie-kong  tianglo  tertawa didalam hati, Katanya kepada dirinya sendiri: 

"Entah siapa dia, sampai berani memerintah aku agar menyerahkan bocah ini kepadanya " 

Kata-kata itu diucapkan sangat perlahan, sehingga telinga Thio Sin Houw tidak mendengar. Dengan perlahan-lahan ia memutar badannya, Dan pada saat itu ia  melihat   sebuah perahu kecil tengah meluncur sangat deras. Penumpangnya seorang laki-laki berberewok lebat,  usianya kira-kira baru mencapai duapuluh tahunan. ia berada diantara dua kanak- kanak yang melindungi diri didepan dadanya, sedang pemuda berberewok lebat itu, dengan semangat menyala-nyala mendayung perahu kecilnya bagaikan kalap. 

Hebat perawakan  pemuda  berberewok  itu.  Tubuhnya tegap, dadanya bidang sehingga dapat melindungi dua bocah yang bersembunyi di depannya. Tie-kong tianglo segera memperhatikan dua bocah itu, yang  satu  laki-laki  dan  yang lain seorang perempuan berwajah cantik mungil. 

Perahu yang ditumpangi Tie-kong tianglo  berada  diluar tikungan,sehingga setiap perahu yang datang harus muncul terlebih dahulu dari balik tikungan .  Demikianlah  setelah perahu pemuda berberewok lebat itu masuk ke dalam  tikungan, muncullah sebuah perahu lagi.  

Perahu yang memasuki tikungan  ini berukuran besar, sehingga jalannya agak lambat. Penumpangnya berjumlah delapan orang, mereka mengenakan pakaian seragam tentara Mongol, perahu ini  agaknya  hendak mengejar  perahu  si berewok. 

Dengan berteriak-teriak nyaring, seorang laki-laki yang berada di depan mengancam dan  memperingatkan.   Akan tetapi pemuda berberewok itu tidak mengindahkan. Dengan suatu tenaga yang luar biasa kuatnya, ia menggayuh cepat sekali, sebentar saja, perahunya  sudah  hampir  melewati perahu Tie-kong tianglo. 

Melihat perahu pemuda itu semakin lama makin menjadi jauh, pengejarnya lantas menghujani anak panah. Diantara puluhan anak  panah  yang  menyambar  pemuda  berberewok itu, terdengarlah sebatang  yang  mendesing  sangat  tajam itulah suatu tanda, bahwa pembidiknya bertenaga kuat.