Golok Hallintar (Thio Sin Houw) Jilid 01

Jilid 01
TAHUN ITU adalah tahun  kedua dari Kerajaan Goan, sementara runtuhnya kerajaan Song sudah genap mencapai enam-puluh tahun. 

Di suatu musim semi pada bulan ke tujuh, penduduk kota KangIam waktu.itu sedang menikmati keindahan pohon-pohon bunga yang sedang bersemi. 

"Cuaca sudah mulai gelap ketika seorang laki-laki muda perkasa, berusia kira tiga puluh tahun, memakai baju biru dan  sepatu rumput, nampak sedang berjalan di jalannya dengan tindakan kaki lebar,  di sepanjang kedua tepi  jalan  raya  itu, buah tho yang merah merekah serta bunga-bunga  liu  yang hijau nampak indah semarak namun laki-laki muda perkasa itu sama sekali tidak memberikan perhatiannya. 

Laki-laki muda perkasa itu adalah Lim Tiauw  Kie, yang rnemiliki kepandaian ilmu silat sudah mencapai batas kemampuannya, ia sedang  melakukan perjalananan mengamalkan ilmu kepandaiannya dan baru saja membinasakan seorang penjahat besar di propinsi Hok-kian, yang mengganas di kalangan rakyat jelata, penjahat itu tidak hanya memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, tetapi juga sangat licin luar biasa sehingga setelah  melakukan  penyelidikan selama kira-kira dua bulan lamanya, barulah Lim Tiauw Kie berhasil mencari tempat  permukiman  penjahat  itu,  Dalam suatu pertempuran  yang sangat hebat, ia telah berhasil mengalahkan dan membinasakan penjahat itu, kemudian ia bermaksud kembali ke tempat kediamannya di kota Leng-lam. 

Sementara itu jalan yang sedang  ditempuhnya ternyata kian lama menjadi semakin berkurang lebarnya, sedangkan di sisi sebelah kanan jalan raya itu kini berdampingan dengan pantai laut. Tiba-tiba ia melihat  tanah datar  nampak licin mengkilat bagaikan  kaca, dan  dibagi  menjadi   petak-petak yang luasnya kira-kira tujuh-delapan tombak persegi. 

Sebagai seorang yang telah seringkali  melakukan perjalanan di sebelah utara dan selatan Sungai Besar, Lim Tiauw Kie mempunyai banyak pengalaman, namun ia belum pernah melihat tanah yang licin mengkilat dan  yang dianggapnya sangat luar biasa. Setelah ia menanya kepada seorang penduduk setempat yang kebenaran  berpapasan, maka tahulah dia bahwa petak-petak itu merupakan ladang garam. 

Untuk membuat garam, penduduk  setempat  memasukkan air laut ke dalam  petak-petak ladang itu, Setelah  dijemur kerinq, mereka mengumpulkan pasir yang mengandung garam dan dijemur lagi sampai menjadi  garam yang putih bersih  sekali. 

Perhatian Lim Tiauw  Kie  menjadi  amat tertarik, karena sesungguhnya selama hidupnya ia belum pernah melihat dan mengetahui tentang cara-cara membuat garam. 

Konon selagi ia tertegun menyaksikan petak-petak ladang garam itu, mendadak  ia melihat ada  serombongan orang sebanyak kira-kira dua puluh lebih, sedang memikul barang bawaan dengan menggunakan pikulan. Mereka sedang mendatangi dengan cepat dari jalan kecil sebelah barat, semuanya memakai pakaian yang seragam bentuknya, baju dengan celana pendek warna hijau dan kepala ditutup dengan tudung lebar, sepintas lalu, dapat Lim Tiauw Kte menduga bahwa yang mereka sedang bawa adalah garam hasil buatan mereka. 

Lim Tiauw Kie memang mengetahui bahwa pada waktu itu pemerintah penjajah  memungut cukai garam terlalu tinggi. Mereka biasanya bertindak kejam terhadap rakyat jelata dan menentukan hukuman yang berat bagi para pedagang garam yang coba-coba tidak memenuhi peraturan  membayar  pajak, itu sebabnya walaupun rakyat setempat merupakan penghuni dekat pantai laut, namun mereka tak sanggup membeli garam yang harganya menjadi terlalu mahal. 

Selama memperhatikan para pemikul garam itu, Lim Tiauw Kie yakin bahwa yang mereka angkut itu merupakan garam gelap dalam artikata tidak membayar pajak, Dan yang lebih menarik perhatiannya adalah  pikulan  yang  digunakan  oleh para pemikul garam Itu. Nampaknya pikulan itu  bukan  dibuat dari bahan kayu ataupun bambu, tetapi dari benda logam yang berat dan berwarna hitam. Beban yang mereka pikul masing- masing tidak kurang dari tiga ratus kati beratnya, namun mereka dapat berjalan dengan cepat bagaikan sedang mengangkut beban ringan, dan dalam waktu  yang singkat mereka telah melewati tempat Lim Tiaw Ki berdiri mengawasi. 

Jelas mereka semuanya memiliki tenaga besar, bahkan rata-rata mempunyai kepandaian ilmu silat dan ringan  tubuh yang mahir. Terbukti dengan cara mereka ber jalan yang cepat  luar biasa, tampak ringan meskipun mereka membawa beban pikulan yang berat. 

Pada waktu itu di daerah Kanglam memang telah didengar oleh Lim Tiauw Kie, tentang adanya perkumpulan Hay-see pay (Persekutuan Pasir Laut) yang biasa melakukan perdagangan garam gelap.  Mereka  mempunyai  pengaruh yang  cukup besar di kalangan masyarakat  setempat,  sedangkan  para anggotanya memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.  

Namun demikian merupakan kejadian  yang luar biasa, apabila rombongan lebih dari dua puluh orang anggauta itu beramai-ramai melakukan perjalanan sambil memikul garam gelap. Jelas merupakan suatu  tantangan  terhadap  para petugas atau tentara penjajah, karena mereka tidak takut akan diperiksa dan di tangkap. 

Selama melakukan petualangannya di kalangan rimba persilatan, Lim Tiauw Kie memang terkenal gemar melakukan penyelidikan terhadap kawanan penjahat yang kemudian dibasminya, Akan  tetapi oleh karena waktu itu ia sedang tergesa-gesa melakukan perjalanan pulang, maka ia bergegas meneruskan perjalanan dan sengaja dengan cepat  ia melombai rombongan pemikul garam itu yang berbalik menjadi heran menyaksikan gerak tubuh Lim Tiauw Kie yang sangat ringan dan  pesat sehingga  mereka mau tak mau menjadi curiga. 

Mendekati waktu magrib Lim Tiauw Kie tiba di sebuah kota kecil yang cukup- ramai, yakni kota Am-tong tin di wilayah Gie- yauw koan. Oari kota kecil itu, setelah menyeberang sungai Cian-tong kwan ia akan tiba di kota Lim-an dengan mengambil arah sebelah barat laut, Sesudah melewati propinsi Kany-say dan Ouw-lam, barulah ia tiba di kota Leng-lam, 

Di kota kecil Am-tong tin itu Lim Tiauw Kie memilih tempat bermalam di sebuah rumah penginapan yang cukup ramai . Sesudah makan malam dan selagi  Lim Tiauw Kie hendak beristirahat dan tidur, ttba-tiba ia mendengar suara dari beberapa orang yang ingin menyewa kamar, Mendengar lidah Ciat-kang Timur dan suara orang-orang itu yang nyaring luar  biasa, maka Lim Tiauw Kie  membuka pintu kamarnya  dan melihat ke luar. Ternyata orang-orang itu bukan lain dari para pemikul garam siang tadi. 

Lim Tiauw Kie menutup lagi pintu  kamarnya,  dan beristirahat tanpa menghiraukan para tamu  tadi  yang melakukan pembicaraan dengan suara bising. Tetapi ditengah malam dan selagi  suasana sunyi senyap, mendadak ia mendengar suara yang tidak wajar  di  luar  kamar-nya. Menyusul kemudian  terdengar suara  dari  beberapa  orang yang melakukan pembicaraan dengan suara perlahan: 

"Awas, kita jangan membuat kaget tamu yang di kamar sebelah, sehingga mengakibatkan terjadi banyak urusan." 

Pintu kamar di sebelah kemudian terdengar ditutup orang, dan sejumlah orang-orang itu terdengar keluar menuju pekarangan rumah penginapan, Lim Tiauw Kie merasa penasaran dan curiga, lalu mengintai lewat jendela kamarnya, Sempat dilihatnya rombongan pemikul  garam  itu  sedang keluar dengan melompati tembok pekarangan. Anehnya, di tengah malam buta mereka pergi dengan melewati tembok namun tetap membawa-bawa beban yang mereka pikul . 

Untuk sesaat Lim Tiauw Kie terdiam  mengawasi  dengan hati kian bertambah curiga,  "Entah   perbuatan  apa  yang hendak mereka lakukan, dan apakah beban yang mereka pikul memang berupa garam?" pikirnya didalam hati. 

Karena merasa curiga, maka Lim Tiauw Kie segera membekal senjatanya yang berupa sebuah golok dan tak lupa membawa bekal kantong senjata rahasia, Setelah itu ia keluar lewat jendela kamar, untuk kemudian melompati tembok pekarangan seperti yang di lakukan oleh rombongan penjual garam gelap tadi. 

Setelah berada di luar rumah penginapan, Lim Tiauw Kie mendengar suara langkah kaki yang  menuju  kearah  Timur laut. Tanpa ragu-ragu Lim Tiauw Kie lalu bergegas menyusul, dengan mengerahkan ilmu ringan tubuhnya yang  telah mencapai batas kemampuannya.  Suasana  malam  nampak hitam  kelam,  karena  tiada bintang bahkan tertutup awan tebal. Lim Tiauw  Kie meneruskan pengejarannya sampai kemudian ia melihat rombongan orang-orang itu yang bergerak cepat dan ringan, meskipun mereka tetap memikul beban yang nampak berat.  

Mungkinkah mereka benar-benar penjual garam gelap, ataukah mereka merupakan rombongan  kawanan  penjahat yang bermaksud merampok? Karena rasa curiganya itu, maka Lim Tiauw Kie semakin bertekad  hendak  mengetahui  entah apa yang hendak dilakukan oleh rombongan orang-orang itu. 

Hampir setengah jam lamanya mereka  melakukan perjalanan tanpa Lim Tiauw  Kie  mengetahui entah kemana tujuan mereka, sementara orang-orang yang berlari-lari  di sebelah depannya, tidak menyadari adanya seseorang yang sedang membayangi perjalanan mereka.  

Pada kesempatan berikutnya mereka tiba di sebuah jalan yang berdampingan dengan pantai laut, di mana gelombang terdengar menderu-deru mendampar pantai. Kemudian secara mendadak pemimpin rombongan  orang-orang  yang  bergerak di sebelah depan Lim Tiauw  Kie  nampak  menghentikan langkah kakinya, lalu secara tiba-tiba pula ia bersuara membentak: 

"Siapakah itu yang sedang bersembunyi ?" 

"Apakah kalian dari Hay-see pay?" balas tanya suara seseorang yang berlindung ditempat gelap. 

"Benar! siapakah anda?" sahut pemimpin rombongan yang mengaku dari Hay see pay itu. 

"Sebaiknya kalian jangan mencampuri urusan golok Soen- lui to!" kata orang yang berlindung di tempat geIap. Suaranya mengandung nada memperingatkan secara menghina. 

 (Soen-lui to - Golok haliIintar). 

Pemimpin rombongan Hay-see pay itu nampak terkejut, tetapi ia berusaha tenangkan diri dan bertanya lagi:  "Apakah anda juga datang untuk urusan golok itu?" 

Orang itu tertawa mengejek, ia tidak memberikan jawaban. 

Mendengar suara tawa itu, diam-diam Lim Ttauw  Kie menjadi sangat terkejut, Suara itu sukar  dilukiskan,  namun yang jelas sangat menusuk telinga. Tanpa terasa  Lim  Tiauw Kie semakin maju mendekati, ingin melihat lebih tegas  meskipun secara bersembunyi. 

Dengan matanya  yang terlatih di tempat  gelap,  maka disaat berikutnya ia melihat bahwa laki-laki yang  menghadang itu memiliki potongan tubuh kecil dan kurus. Muka orang itu tak dapat ia lihat karena sedang menghadap ke arah lain, dan laki- Iaki itu dilihatnya memegang sebatang  tongkat. pakaiannya terdapat bintik-bintik terang karena agaknya  pakaian  itu sengaja di hias dengan sulaman dan kancing kancing yang mengkilat. 

"Golok Soen-lui to adalah milik partai kami,  yang  telah hilang dicuri orang," kata lagi si pemimpin Hay-see pay. "OIeh karena itu, adalah wajar kalau kami berusaha untuk mendapatkannya kembali." 

Laki-laki kurus itu kembali tertawa secara menghina, dan tetap memegat di tengah jalan. 

Salah seorang anggauta rombongan  yang  berada di sebelah belakang si pemimpin, habis sabar dan membentak dengan suara keras: 

"Minggir! Dengan memegat rombongan kami, kau sengaja mencari " 

Akan tetapi belum lagi orang itu sempat menyelesaikan perkataannya mendadak ia berteriak secara menyayat  dan jatuh terjengkang ke sebelah belakang, Semua kawan- kawannya terkejut, namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu maka laki-laki yang memegat itu dengan pesat telah menghilang dari tempat itu yang gelap. 

Para anggauta Hay-see pay menjadi terkejut dan gusar, karena seorang kawannya yang jatuh tadi telah binasa dengan  tubuh meringkuk, Beberapa di antaranya segera melepaskan pikuIan mereka untuk mengejar si penyerang tadi, tetapi orang itu dengan gerakannya yang pesat telah menghilang di kegelapan malam. 

Lim Tiauw Kie  ikut merasa  terkejut dan  heran,  entah senjata rahasia jenis apa yang digunakan oleh  si  penyerang tadi yang dapat membunuh seseorang dengan tangan maupun tubuh tidak bergerak. 

"Aku berada cukup dekat tetapi tak melihat  orang itu bergerak, namun mangsanya roboh terjengkang dan binasa!" kata Lim Tiauw Kie didalam  hati,  ia terus bersembunyi  di tempatnya, di balik sebuah batu besar, selagi  orang orang Hay-see pay itu sedang marah-marah. 

"Untuk sementara waktu biarlah  kita  tinggalkan  saja jenazah Han Sin di sini, sebaiknya kita selesaikan dulu urusan kita yang lebih penting," akhirnya kata  si  pemimpin rombongan. "Kelak kita kembali ke sini untuk  mengurus jenasahnya, dan menyelidiki entah siapa gerangan musuh itu." 

Semua kawan-kawannya dengan terpaksa menyetujui usul itu, mereka memindahkan jenasah Han Sin ke tepi jalan lalu mereka meneruskan perjalanan sambil  memikul  barang bawaan mereka. 

Setelah rombongan itu pergi cukup jauh, Lim Tiauw Kie mendekati jenasah Han Sin, Dari  tanda-tanda  pada  tubuhnya, ia memperoleh kesimpulan bahwa Han Sin  binasa terkena sejenis racun yang dahsyat. Oleh karena itu  selama meneliti, Lim Tiauw Kie tidak berani menyentuh tubuh Han Sin supaya tidak terkena racun. 

Untuk sesaat ia terdiam berpikir, setelah  itu kembali ia mengejar rombongan orang-orang Hay-see pay,Setelah lewat beberapa li jauhnya, Lim Tiauw Kie berhasil mendekati lagi rombongan itu, namun secara mendadak dilihatnya mereka berpencar selagi  mendekati sebuah bangunan yang  cukup besar dan yang letaknya di sebelah timur Iaut. 

"Apakah golok halilintar yang mereka cari berada di dalam  rumah itu?" pikir Lim Tiauw Kie didalam hati. 

Diatas wuwungan bangunan rumah itu kelihatan ada cerobong asap, dimana asap hitam nampak mengepul keluar menandakan bahwa di rumah itu pasti ada penghuninya. 

Rombnngan orang-orang Hay-see pay  itu meletakkan pikulan mereka di tanah, lalu masing-masing mengeluarkan sendok kayu besar yang mereka gunakan untuk menyendok garam dari dalam keranjang bawaan  mereka, Garam itu kemudian mereka taburkan di sekeliling bangunan rumah itu, yang dari jauh nampak bagaikan tumpukan salju yang putih warnanya, jelas perbuatan mereka tidak dimengerti oleh Lim Tiauw Kie. Entah  apa  maksud mereka melaburkan garam seperti itu, bukankah harga  garam  yang  mahal  menjadi dibuang sia-sia belaka? 

Pada waktu  menyebarkan  garam,  orang-orang  Hay-see pay itu nampak sangat berhati-hati. Mereka agaknya seperti khawatir garam itu menyentuh tangan  dan  tubuh  mereka, sehingga sekilas terpikir oleh Lim Tiauw Kie kalau kalau garam itu mengancung racun.  

"Kalau benar garam itu mengandung  racun, jelas  akan membahayakan penghuni rumah itu," pikir Lim Tiauw Kie di dalam hati. Dan naluri hatinya tidak membenarkan perbuatan seseorang yang menggunakan racun, yang dianggapnya sebagai perbuatan kaum pengecut! 

Oleh karena berpikir demikian, maka Lim Tiauw   Kie  merasa perlu untuk memberitahukan  penghuni rumah itu, supaya mereka entah siapapun  adanya,  tidak terperangkap oleh perbuatan orang-orang Hay-see pay yang dianggapnya telah melakukan perbuatan pengecut. 

Dengan jalan memutar Lim Tiauw Kie menuju ke belakang bagian rumah, lalu dengan melompati tembok halaman ia memasuki pekarangan yang besar dan iuas, dimana terdapat lima bangunan lain karena ternyata rumah itu memiliki sangat banyak kamar-kamar, namun semuanya nampak  gelap dan sunyi, meskipun Lim Tiauw Kie merasa yakin ada  penghuninya, mengingat cerobong asap yang tetap kelihatan mengepul mengeluarkan asap hitam. 

Secara berhati-hati dan tanpa mengeluarkan suara, Lim Tiauw Kie mendekati bangunan  rumah  yang  terdapat cerobong asap, tetapi ketika ia tiba dibagian belakang pekarangan maka ia menjadi sangat  terkejut  karena menemukan dua mayat manusia yang menggeletak di tanah.  

Dua mayat itu merupakan laki-laki, yang seorang mengenakan pakaian imam, sedangkan yang satunya seperti seorang petani. Usia mereka sudah cukup lanjut, sudah lebih dari setengah abad. Wajah muka mereka kelihatan menyeramkan, seperti mengalami derita  sakit yang hebat sebelum mereka menemui ajal, Namun demikian pada tubuh mereka tiada nampak bekas bekas luka. 

Tanpa menyentuh kedua mayat itu, Lim Tiauw Kie memasang obor dan  mulai memasuki bagian dalam   yang gelap gulita, juga kamar-kamar tidak terdapat penerang sama sekali. Di dalam ruangan ini  kembali ia menemukan tidak kurang dari dua puluh orang yang telah menjadi mayat.  

Dilihat dari pakaian dan senjata-senjata yang berserakan di lantai, jelas bahwa mereka  semua  terdiri  dari  orang-orang yang pandai ilmu silat, tetapi pada semua mayat itu  tak  satu pun yang nampak cedera luka atau terkena sesuatu pukulan tenaga dalam. Besar kemungkinan mereka semua adalah korban keracunan yang ganas. perbuatan siapakah gerangan? 

Dengan langkah kaki yang semakin berhati-hati, Lim Tiauw Kie meneruskan lagi penyelidikannya memasuki ruangan lain, sampai tiba-tiba ia merasakan menyambarnya hawa yang sangat panas. 

Di bagian tengah dari ruangan itu ternyata terdapat sebuah tungku atau tempat perapian yang besar, dengan api yang berkobar-kobar menjilat-jilat ke sebelah atas dan menerbitkan suara yang cukup bising. Dekat tungku yang besar itu nampak tiga orang Iaki-laki yang sedang meniup api dengan mengerahkan tenaga dalam (lweekang) sedang diatas tunggu  menggeletak sebatang golok  yang  sedang  di  panggang. Karena amat panasnya tekanan suhu api, sinarnya 

nampak berubah-rubah antara  merah dan hijau, sedangkan sinar dari golok itu tetap nampak putih berkilat  menyatakan  tidak menjadi lumer terkena suhu api yang sedemikian besarnya, dan entah sudah berapa lama di panggang. Asap hitam yang nampak keluar dari cerobong rumah, jelas berasal dari tungku itu! 

Ketiga orang yang sedang meniup api yang berkobar-kobar itu, rata-rata berusia kurang lebih enampuluh  tahun   dan mereka semuanya memakai jubah warna hijau, Muka mereka penuh peluh bercampur debu, dan jubah mereka banyak yang berlubang akibat terkena percikan api, Diatas kepala mereka mengepul uap  putih  - selagi mereka meniup api  sambil mengerahkan tenaga dalam. Api itu menjilat  keatas  kira-kira lima kaki tingginya dan menggulung golok yang berkilauan itu . 

Lim Tiauw Kie menyadari bahwa ke tiga orang itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Dengan berdiri di  tempat yang cukup jauh terpisah dari tungku itu, ia sudah merasakan hebatnya hawa panas, sehingga dapatlah di bayangkan panasnya hawa yang menyambar ketiga laki-Iaki tua itu yang berdiri di dekat tungku. Tetapi anehnya biarpun digulung api yang bersinar hijau, golok itu masih tetap utuh dan warnanya tidak berubah sama sekaIi. 

Mendadak diatas genteng terdengar suara membentak: "Berhenti! Merusak golok mustika itu adalah merupakan 

dosa besar!" 

Lim Tiauw Kie menjadi sangat  terkejut,  karena  ia mengenali suara itu adalah suara orang yang tadi memegat rombongan orang-orang Hay-see pay dan yang telah membinasakan salah seorang diantaranya. 

Akan tetapi ketiga laki-laki yang sedang  meniup  api  itu tidak menghiraukan, mereka berlaku seperti tidak mendengar apa-apa bahkan mereka meniup api semakin cepat.  Kemudian, hampir berbareng dengan terdengarnya suara tertawa, suatu bayangan yang bersinar emas berkelebat dan dilain detik bagaikan  jatuhnya sehelai daun kering, laki-laki kurus yang pakaiannya penuh dengan kancing mengkilat telah berdiri ditengah ruangan itu. 

Dengan bantuan sinar api, Lim Tiauw Kie dapat melihat dengan nyata wajah  muka orang itu, Ternyata ia  adalah seorang pemuda berusia kurang lebih  duapuluh  tahun, bermuka tampan tapi agak pucat, sulaman benang emas di jubahnya yang  sangat  indah  merupakan  gambar-gambar singa, harimau dan bunga bunga. Dengan  sikapnya  yang tenang dan tanpa bersenjata, ia berkata dengan suara dingin: 

"Hing-san Sam-kiam, mengapa  kalian hendak merusak senjata mustika itu? Apa maksud perbuatan kalian?" 

Salah seorang dari ketiga Hing-san  Sam-kiam  atau  tiga jago pedang dari gunung Hing-san, mementang lima jari tangannya menyerang  muka pemuda pendatang baru  itu, Tetapi pemuda itu berkelit menghindar, dan kian maju untuk mendekati Si kakek yang berada di sebelah  timur  dengan cepat meraih sebuah palu yang terletak ditepi tungku, yang digunakan untuk menghantam kepala si pemuda.  

Tetapi gerakan pemuda itu amat gesit luar biasa, Dengan sekali miringkan badan, kembali ia berhasil menghindar dari serangan kedua. Palu itu menghantam tempat  kosong  dan  jatuh di lantai dengan menghamburkan lelatu  anak  api. Ternyata batu lantai merupakan batu gunung yang  sangat keras. 

Orang ketiga dari Hing-san Sam-kiam segera  ikut  menyerang dengan kedua tangan yang jari-jarinya dipentang seperti cakar ayam, ia menyerang  secara nekat  dengan  pukulan yang membinasakan,  membuat  Lim  Tiauw Kie menjadi heran, menganggap Hing-san Sam Kiam pasti menyimpan dendam membara terhadap pemuda pendatang baru itu, yang mengakibatkan tiga jago pedang dari gunung Hing-san itu bertindak kejam!  Tetapi kepandaian pemuda itu ternyata sangat luar biasa, walaupun di serang hebat, ia masih dapat bersenyum dan melayani dengan sikap acuh. setelah  bertempur beberapa jurus, si kakek yang bersenjata palu membentak: 

"Siapa tuan? Mengapa anda menghendaki golok mustika? Harap beritahukan nama anda!" 

Pemuda itu tidak  memberikan jawaban, sebaliknya ia tertawa secara menghina,  Tubuhnya tiba-tiba berputar dan segera terdengar suara "krak-krek" dan si  kakek  yang disebelah timur terbang ke atas,  menghantam  dan menjebolkan atap rumah sedangkan si kakek jatuh di pekarangan luar! 

Kakek yang bersenjata palu menyadari  lawan  mereka sangat tangguh, ia meraih sebuah jepitan api  yang tadi digunakan untuk  menjepit  golok Soen-lui  to yang sedang dipanggang, ia menunggu kesempatan untuk menimpuk pemuda itu, yang sedang diserang oleh rekannya. 

Akan tetapi gerak  pemuda itu sangat  gesit,  Ketika melihat si kakek mengangkat jepitan api yang ingin di lontarkan, maka dengan suatu lompatan  ia  berhasil  menendang  lengan  si kakek dan merebut jepitan yang terlepas dari tangan si kakek, Dengan jepitan itu kemudian ia menjepit golok  Soen-lui  to  yang sedang di panggang. 

Si kakek menjadi sangat terkejut, secara nekat ia merebut dengan meraih gagang golok yang sangat panas itu. 

Begitu tangan si kakek mencekal, uap  putih  mengepul keatas dan semua orang menciup bau daging terbakar. Tapi kakek itu bagaikan  tidak merasakan sakit maupun  pedih, dengan sepasang mata membelalak ia tetap   memegang gagang golok Soen-lui to yang sangat panas bekas di panggang.  

Kemudian dengan suatu gerak yang ringan ia lompat ke sebelah belakang, berusaha kabur meninggalkan ruangan itu dengan membawa golok Soen-lui to!  Pemuda yang menjadi lawannya kembali perdengarkan suara tawa menghina, sambil ikut bergerak dengan  suatu lompatan hendak meraih punggung si kakek. 

Orang tua itu membalik tubuh  dan  mengangkat golok Soen-lui to, membuat hawa yang sangat panas mendahului menyambar si pemuda yang menjadi sangat terkejut, Tetapi kedua tangannya kemudian mendorong si kakek, membuat tubuh si kakek bagaikan terbang kearah mulut tungku yang apinya masih menyala! 

Lim Tiauw Kie  yang sejak tadi mengawasi perkelahian mereka, sebenarnya tak ingin mencampuri. Tetapi akhirnya ia tak sampai hati membiarkan si kakek terbakar hidup-hidup didalam tungku, Oleh karena itu dengan suatu lompatan yang indah, yakni dengan menggunakan ilmu "Tee-in ciong" atau lompatan awan tangga, maka ia berhasil meraih rambut  si kakek yang kemudian diangkatnya dan hinggap di lantai. 

Akan tetapi si kakek yang tetap memegang golok yang  panas, mendadak memutar tubuh lalu menyerang  Lim  Tiauw Kie yang sama sekali tidak menduga. Untuk menolong diri, cepat-cepat Lim Tiauw Kie lompat ke atas, sedangkan si kakek menggunakan kesempatan itu untuk lari ke sebelah belakang, sambil memutar-mutarkan golok  Soen-lui to dan  berteriak seperti orang gila! 

Dua kakek yang lainnya, demikian pula pemuda yang menjadi lawan mereka, tak berani merintangi dengan  kekerasan- menyisi membiarkan si kakek  yang  membawa golok melarikan diri, akan tetapi kemudian mereka mengejar sambil berteriak. 

Lim Tiauw Kie  ikut mengejar  dan  ia bahkan  berhasil mendahului ketiga orang itu, akan tetapi si kakek yang mengetahui dirinya dikejar, mendadak berteriak secara histeris lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk lompat ke luar dari pintu depan.  

Akan tetapi ketika sepasang kakinya menyentuh tanah di halaman luar,  maka secara mendadak  ia roboh terguling  sambil berteriak  kesakitan  bagaikan  menderita  luka  parah. Dua kakek yang ikut mengejar bersama si pemuda tadi, 

ikut lompat ke luar halaman dan mereka pun segera roboh terguling-guling sambil perdengarkan teriak  suara  kesakitan, Si pemuda yang nampaknya memiliki ilmu lebih tinggi, masih mampu lompat dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu, membiarkan ketiga kakek itu masih bergulingan tak mampu bangun lagi. 

Menyaksikan kejadian  yang sangat luar biasa itu,  Lim Tiauw Kie  bermaksud memberikan pertolongan Akan tetapi mendadak ia teringat dengan garam  mengandung  racun  yang di sebarkan oleh orang-orang Hay-see pay, dan menyadari racun itu pasti hebat luar biasa.  Ia  tahu  bahwa   disekitar gedung itu telah dikurung dengan garam yang mengandung- racun, sehingga ia sendiripun tak tahu bagaimana harus meIoloskan diri. 

Untuk sesaat ia berdiri diam dan berpikir, kemudian ia meIihat adanya dua kursi tinggi di samping pintu. ia memperoleh pikiran untuk menggunakan kedua kursi itu sebagai landasan. Dengan cara itu ia berhasil menjambret punggung si kakek yang memegang golok Soen-lui to, untuk kemudian ia lompat sambil menjinjing si kakek dan melarikan diri secepatnya ke jurusan timur. 

(Oo-dwkz-oO)  SENJA HARI itu nampak guram dan lembab. Hujan rintik- rintik turun sejak pagi, sementara angin meniup cukup keras kemudian naik turun  bagaikan gelombang pasang. Tanah lembab yang tergeliat di depan gunung Boe-tong san sunyi senyap. perkampungan mati tiada bernapas. Penduduk tiada seorang pun yang nampak keluar dari rumah mereka. 

Dalam keadaan demikian, nampaklah  lima  penunggang kuda berlari-Iari menyeberangi sungai berlumpur. Mereka tidak menghiraukan licinnya jalan, dinginnya cuaca maupun  hujan yang turun rintik-rintik. Kuda yang berada paling depan  membawa seorang kanak-kanak berusia kira-kira sepuIuh tahun. Ia berpakaian serba ringkas, pada pelana kudanya tampak tergantung sebatang pedang pendek. 

Yang berada di belakangnya adalah seoranq gadis remaja berusia kira-kira Iimabelas tahun. Mukanya cantik, tubuhnya nampak Iangsing  walaupun ia sedang  menunggang kuda. Namun demikian wajah yang cantik itu bermuram duka  dan kuyu. Jelas sekaIi ia menderita suatu keletihan luar biasa.  

Rambutnya kusut setengah terurai, pakaiannya  yang di- kenakannya basah kuyup dan  bercampur  lumpur.  Lengan kirinya terbaIut dengan sehelai kain sutera yang ditembusi darah kentaI. 

Penunggang kuda yang ke tiga tidak  jelas  jenis pakaiannya, karena penuh Iumpur melebihi  keadaan gadis remaja yang berada di sebelah depannya.  Ia merupakan seorang pemuda yang gagah dan tampan, usianya kira-kira sudah mencapai dua puluh tahun. Pandangan sepasang matanya, memancarkan suatu keberanian tersembunyi. 

Terpisah agak jauh di sebelah belakang mereka, berderap dua ekor kuda yang saling susul . Yang  pertama ditunggangi oleh seorang wanita setengah baya. Alis matanya melengkung melindungi sepasang matanya yang tajam. Pandang wajahnya muram luar biasa penuh duka yang berlarat. Lehernya terbungkus sehelai kain sutera berwarna kelabu, sementara darah nampak menembusi lipatan  pembalutnya  yang  tebal, jelas bahwa ia baru saja menderita lupa yang agak parah. 

Kudanya dijajari oleh seorang laki laki berusia limapuluh tahun lebih. Laki-Iaki ini  bertubuh singsat dan  cekatan, ia membekal sebilah pedang terhunus dan kerapkali menoleh ke sebelah belakang, seperti khawatir dengan adanya seseorang yang mengejar atau mengikuti perjalanan mereka. 

Kadangkala ia melambatkan kudanya sambil menebarkan pengIihatannya. Ia memiliki sedikit jenggot pendek, dan rambutnya yang tidak teratur  nampak  sudah  beruban, walaupun demikian, jika dibanding dengan keempat  penunggang kuda yang lainnya, dialah yang nampak gesit dan segar bugar.  

Pandang matanya tajam luar biasa, tetapi mengandung air mata yang membasahi kelopak, Kedua belah pipinya tergores empat luka memanjang, dua diantaranya adalah goresan luka baru. 

Dari cara mereka berlima melarikan kuda mereka, mudah ditebak bahwa mereka sedang  melarikan diri dari suatu peristiwa. Kuda tunggang merekapun nampak letih sekali. 

Sementara itu cuaca senjahari itu makin mendekati petang yang muram dan hujan rintik-rintik kian menjadi deras, mereka cepat-cepat menikungi jalan pegunungan,  seberang- menyerang jalan itu nampak menghadang jurang yang daIam dan banyak tanaman Iiar. 

Laki-laki beruban yang berada di sebelah   belakang  tiba- tiba menghentak tali kendali sehingga kudanya terkejut berjingkrak, Lallu menyusul kuda wanita setengah baya yang sedikit berada di sebelah depannya ikut  menghentikan kudanya. 

"Lan-moay. Kalau terus-terusan kita melakukan perjalanan seperti ini, maka kita akan mati kecapaian. Memang tak apa kalau kita mati di tengah perjalanan, tetapi bagaimana dengan ketiga anak-anak kita? Marilah kita beristirahat sebentar!" kata laki-laki itu kepada yang wanita.  

"Nanti malam kita melanjutkan perjalanan, dan selanjutnya kita serahkan nasib kita kepada Tuhan. Bagaimana lukamu?" 

 (Lan-moay = adik Lan). 

Sehabis berkata demikian, kedua kelopak mata laki-laki itu basah dengan air mata. ia sangat berduka, hatinya bagaikan tersayat-sayat. Lalu ia menangis terisak, Untung angin meniup kencang, sehingga suara tangisnya terendap dari pengamatan pendengaran. 

Lie Lan Hwa, wanita setengah umur yang  bermuka muram itu atau istri dari laki-laki yang beruban, berusaha untuk  bersenyum, sahutnya lembut: 

"Tidak apa-apa, kau tak perlu resah hati, inilah luka ringan yang tiada artinya sama sekali. Kulitku hanya lecet  sedikit, Hanya ... yang kucemaskan adalah luka... eh, lengah Siu Lan. Nampaknya ia menderita luka  berat.  Lengannya  seperti terkulai " 

Tetapi luka yang diderita oleh Lie Lan Hwa sebenarnya parah. Senjata yang melukai lehernya  tidak  hanya  melecet kulit belaka, tetapi menembus hampir satu senti. Urat nadinya nyaris terancam, seseorang yang menderita luka seperti itu, sebetulnya tidak boleh bergerak terlalu banyak,  sebaliknya senjahari itu ia berada di atas kudanya  mengarungi  badai hujan tiada hentinya. 

Thio Siu Lan, anak gadis mereka yang berada di sebelah depan, agaknya mendengar keluh kesah ibunya, ia berpaling, Katanya dengan nada riang: 

"Ayah, jangan dengarkan ibu. Lenganku tak kurang suatu apa." ia tersenyum, namun dua tetes air mata jatuh ke pelana kudanya, Jelas, ia bersama ibunya  sedang  berusaha menghibur dan membesarkan hati laki-laki beruban itu. 

"Siu Lan, janganlah kau membohongi ayahmu! Lukamu itu 

..." laki-laki beruban itu tak dapat menyelesaikan kata-katanya, karena Siu kan telah berkata lagi: 

"Ayah! Benar-benar aku tak kurang  suatu  apa,  Lihatlah  ! " ia menunda bicara dan mengertak gigi, kemudian mengangkat lengannya yang tadi nampak terkulai, Katanya  nyaring: "Sekarang sama sekali tak terasa sakit." 

Akan tetapi begitu tangannya terangkat,  suatu  rasa  nyeri luar biasa menggigit jantungnya. Peluh dingin membasahi jidat dan tengkuk Siu Lan. Cepat-cepat ia membuang mukanya, lalu memacu kudanya sambil menurunkan lengannya dengan hati- hati. 

Kedua orang tuanya bermata  tajam  dan  berperasaan halus, dengan sekilas pandang tahulah mereka, bahwa  putrinya sedang menanggung suatu derita yang mengancam. Apabila lengan yang terluka itu tidak segera memperoleh perawatan yang baik, Siu Lan bisa cacat seumur hidupnya. Karena sangat berduka, laki-laki beruban itu mendongak ke udara suram, lalu berkata seorang diri: 

"Hm. Kata orang, aku Thio Kim San adalah seorang ahli pedang murid ke-tiga Tie Kong Tianglo dari Boe tong pay, selamanya tak pernah aku merasa malu terhadap bumi dan Iangit yang melindungi diriku. Melihat ke kiri aku berbesar hati, melihat ke kanan aku berbangga hati. Memandang ke depan tiada rasa segan, menoleh ke belakang tiada rasa kecewa.  

Kenapa kini ... Ya, Tuhan mengapa  kini kami sampai menjadi begini ? Kenapa  aku harus membuat anak-istriku tersangkut dalam urusan hidupku sehingga mereka harus pula mengikuti kesengsaraanku  yang  terpaksa  merantau  dari tempat ke tempat sekian bulan lamanya? Ya, Tuhan. Berilah kami cerahMu..." 

Lan Hwa menahan kendali kudanya, mendekati suaminya, Setelah lari berjajar, ia menekap  lengan  kirinya.  Katanya secara lembut: 

"Suamiku, janganlah kau terlalu berduka memikirkan kami. Manusia yang suci bersih pasti akan  memperoleh  berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, Memang keluargamu lagi menjadi korban suatu fitnah, kabut gelap  menutupi  penglihatannya Akan tetapi sebentar atau lambat laun latar belakang  peristiwa ini pasti akan tersingkap, Sabarlah untuk beberapa hari lagi, apabila kita telah  bertemu dengan Tay-soehoe,  semuanya pasti akan menjadi beres seperti sediakala." 

Thio Kim San menggeleng-gelengkan kepalanya, Dengan sedih ia berkata: 

"Hari ini genap sudah seratus enampuluh hari kita melintasi air, menerobos rimba dan  ladang belukar serta mendaki gunung. Tetapi tetap saja kita dikejar-kejar . Selama seratus enam puluh hari, belum pernah  kita  beristirahat  barang sekejab, Alangkah sakit dan pedihnya hatiku, Lan-moay. Tak  usahlah engkau menutupi kenyataan! Segenap lapisan orang- orang gagah di kalangan rimba persilatan  ingin  membekuk aku, berikut kau dan ketiga anak kita, Hidup ataupun mati. Kalau hal itu sudah terlaksana, barulah  mereka  mau menyudahi segalanya, walaupun  aku  memiliki  lidah,  namun sulit bagiku untuk memberikan penjelasan kepada mereka." 

"San-ko, janganlah kau terlalu bersedih hati.  Salah paham ini pasti ada akhirnya,  Tuhan Maha Adil, dan masih cukup panjang waktunya, Tak perlu kita tergesa-gesa." 

 (San-ko = kakak San). 

Thio Kim San menatap muka istri-nya, ia melihat   kain sutera yang melihat di leher istrinya itu, yang sekarang semua lipatannya telah menjadi  merah. Suatu  bukti bahwa  darah masih saja mengalir keluar, sehingga Thio Kim San menjadi malu kepada dirinya sendiri. Dia yang terkenal sebagai seorang pendekar pedang,  ternyata  kini  tak  mampu melindungi istrinya sendiri! 

"Kita telah berlari-lari sepanjang malam sampai sekarang," katanya sambil menarik napas,  "Sebaiknya  kita beristirahat sebentar, Aku mengharap kita dapat mencapai tujuan besok pagi." 

Dengan lemah Lan Hwa manggut dan berkata: 

"Benar, Kita perlu memulihkan tenaga. Kurasa nanti malam kita tidak mempunyai kesempatan untuk beristirahat selain itu kita perlu merawat lukanya Siu Lan. Akh,  kasihan  anak-anak kita yang tidak berdosa dan yang tidak tahu-menahu tentang peristiwa ini. Mereka ikut menanggung derita." 

Bukan main sedihnya Thio Kim San  yang  diingatkan perkara itu, dengan hati bergetar ia berkata: 

"Lan-moay. Kini aku menyadari  bahwa aku tak pantas menjadi suami dan ayah dari ketiga anak-anak kita, Aku tak sanggup memberikan perlindungan kepada kalian." 

"Jangan kau menyesali  diri sendiri,  San-ko."  bujuk  Lan Hwa. "Siapa saja pasti tak akan sanggup menghadapi lawan  yang jumlahnya sekian banyaknya. Mereka dapat bertempur secara bergantian, sebaliknya engkau? sebenarnya, akulah yang mengakibatkan terjadinya peristiwa ini. Aku istrimu yang telah membuka suatu rahasia, karena kebodohan dan kecerobohan, sebetulnya akulah yang harus mati!" 

Sekali lagi Thio Kim San mendongak ke udara, dan sekali lagi ia menarik napas  panjang, Lalu melepaskan pandang jauh ke sebelah sana, dan tiba-tiba berkata setengah berseru: 

"Hey! Bukankah itu sebuah rumah? Mari kita ke sana untuk beristirahat sebentar, Kita perlu  berteduh,  agar  tidak kemasukan angin jahat dan terhindar dari dingin hujan!" 

Setelah berkata demikian, Thio Kim San memacu kudanya.  ia mendahului dan memimpin rombongannya  menuju  ke rumah itu. istrinya segera mengikuti dengan memacu kudanya pula, disusul oleh ke tiga anak-anak mereka yang berada di sebelah belakang. 

Rumah yang berada di sebelah depan mereka sebenarnya bukan rumah tinggal seseorang, melainkan  tempat penyimpanan padi yang kebenaran kosong tiada isinya, Pasti milik seorang berada, biasanya seorang kepala desa atau mungkin pula milik seorang Tuan tanah (okpa). 

Ketika telah mendekati rumah itu, hujan terasa kian bertambah deras, Mereka tak menghiraukan derasnya hujan, sebaliknya yang mereka takuti justru adalah angin jahat yang menyusup ke dalam tubuh mereka. 

Rumah yang ternyata  merupakan  tempat  penyimpanan padi itu itu, berukuran kecil namun cukup bersih, Dindingnya yang dibuat dari bahan bambu  cukup  rapat,   suatu  tanda bahwa pemiliknya masih menggunakan tempat itu. 

Thio Kim San segera lompat turun  dari kudanya,  lalu mendekati istrinya hendak  membantu turun,  Akan  tetapi istrinya malahan  melompat turun dari sisi lainnya, sambiI bersenyum dan berkata: 

"San-ko, tak usah kau terlalu memperhatikan aku,  sebaiknya kau bantu anak kita, Siu Lan." 

Akan tetapi pada waktu itu Siu Lan telah melompat turun tanpa bantuan siapapun  juga. ia bahkan  lari menghampiri ibunya, ketika melihat ayahnya sedang mendekati si  bungsu Sin Houw. 

Thio Sin Houw belum genap sepuluh  tahun   umurnya, masih merupakan seorang bocah namun ikut menderita bersama ayah dan ibunya merantau dari  satu  tempat  ke tempat lainnya, Kehidupan demikian membuat dirinya lekas masak dan  berkepribadian, penuh, wajahnya tidak nampak sinar berseri, karena kegembiraan masa  kanak-kanaknya lenyap sehingga ia lebih mirip dengan seorang pemuda tanggung yang hendak menanjak dewasa. 

Sementara itu Siu  Lan telah  ikut mendekati adiknya, Dengan sabar dan lembut ia berkata: 

"Sin Houw, kau sedang memikirkan apa?  Lihatlah,  hujan kian deras." 

Seperti orang yang tersentak, Sin Houw mengawasi kakak perempuannya, lalu ia menerima uluran tangan sang kakak sambil perlihatkan sedikit senyumnya, sahutnya ringan: 

"Apa  yang kupikirkan? Bukankah  ayah  hendak beristirahat?" 

Siu Lan tertawa sedih. Katanya sekedar penghibur diri: "Benar, Kuda kita sudah lelah, Sehari semalam kita berlari-

lari terus tiada hentinya. Kitapun agaknya perlu beristirahat juga." 

Sambil berkata demikian, Siu  Lan  mengamat-amati adiknya. Adik ini sudah setinggi pundaknya, Dahulu, dia masih perlu didukung secara bergantian Kini sudah mirip seorang pemuda tanggung. 

Sementara itu Sin  Houw juga sedang menatap  wajah kakaknya. Seperti  berjanji,  iapun  sedang  menaksir-naksir tinggi badannya, Lalu berkata:  "Cici, Satu atau dua tahun  lagi, tinggi tubuhku akan melampaui tinggimu." 

Siu Lan tertawa tawar. Sahutnya: 

"Benar, adikku. Kau  akan lebih tinggi dari aku. Setiap matahari terbit di langit, tinggi tubuhmu selalu bertambah dan bertambah, jangan jangan tinggi tubuhmu kelak akan sama seperti Kwan Kong!" 

Sin Houw ikut tertawa, sementara  kakaknya  yang  lelaki, Sin Han, ikut mendekati Dia seorang pemuda  berusia mendekati duapuluh tahun. Dengan tiba-tiba ia menyambar tali kendali kuda Sin Houw, sambil menyertai tawa ramah ia berkata: 

"Hey! Apakah kalian hendak mandi hujan? Beristirahatlah bersama ayah dan ibu, mereka telah berada di dalam sedang menyalakan api." 

Siu Lan bersenyum seperti lupa derita, dengan lembut dan penuh perasaan ia berkata: 

"Justru kau yang paling lelah kali ini. Kita berdua dapat beristirahat dengan perlahan-lahan." 

Sekali lagi Sin Han tertawa perlahan. Memang benar perkataan adiknya  yang perempuan itu, diantara anggauta keluarga dialah satu-satunya yang pakaiannya penuh lumpur sehingga warna pakaiannya tak dikenal lagi warnanya. ia tidak dapat membantah perkataan adiknya, dari itu tanpa mengucap apa-apa ia membawa kelima ekor kuda ke ladang rumput yang berada di sebelah selatan.  

Dan kuda-kuda itu nampak dengan lahap melalap rumput- rumput itu, sedangkan Sin Han menemani tanpa menghiraukan derasnya curahan air hujan. 

Kim San muncul di ambang  pintu sambil menggeribiki pakaiannya. Melihat  putra sulungnya  menunggu  kuda-kuda mereka yang sedang makan rumput, ia lantas saja berseru: 

"Sin Han! Tinggalkan saja kuda-kuda itu, kau perlu  beristirahat!" 

"Sebentar, ayah. Lebih baik ayah memeriksa luka Siu Lan dan ibu, aku dapat mengurus diriku sendiri," sahut Sin Han. 

Kim San terdiam sejenak dan berpikir, kemudian memutar tubuh sambil menarik napas,  Perlahan-lahan  ia memasuki tempat penyimpanan padi untuk mendekati istri dan kedua anaknya. 

Memang sudah terbiasa, bahwa  setiap kali mempunyai kesempatan untuk beristirahat selalu Sin Han yang mengurus kuda-kuda mereka, Karena kuda-kuda itu merupakan kaki dan tuIang-punggung keluarga,  untuk  dapat  meneruskan perjalanan mereka.  

Kalau sampai terjadi sesuatu,  semuanya  akan  lumpuh. Dan kelumpuhan berarti suatu ancaman bahaya sendiri. itulah sebabnya, selama menempuh perjalanan tak pernah Sin Han melupakan kewajibannya yang satu itu. Malahan kuda-kuda itu baginya jauh lebih berharga dari pada jiwanya sendiri. 

Sementara itu Kim San duduk di sisi istrinya, di atas lantai papan tempat penampung padi. perlahan-lahan ia melepaskan bungkusan yang selalu menggemblok  di  punggungnya,  dan dari dalam bungkusan itu ia mengeluarkan makanan kering berikut bakpao dan lain sebagainya. 

"Anak-anak, mari kita makan," katanya. "Kali ini mungkin merupakan perjalanan kita yang terakhir, Karena setelah kita bertemu dengan paman-gurumu Cia Sun Bie, kemudian kakek-gurumu, Tie Kong Tianglo, selanjutnya tiada lagi yang akan mengganggu kita." 

Setelah berkata demikian, Kim San membuka juga dua tempat air minum, ia mengangsurkan kepada istrinya, sambil berkata lagi: 

"lni merupakan suguhan terakhir bagimu, minumlah!" Perlahan suaranya seperti orang membisik, kemudian 

dengan pandang lembut ia menatap muka Siu Lan. Katanya:  "Coba. Kuingin melihat lukamu." 

"Akh, lukaku tidak parah," sahut Siu  Lan  cepat.  "Lukanya ibu yang perlu ayah periksa." 

Lan Hwa tertawa perlahan, dengan penuh kasih sayang ia berkata: 

"Lukaku? Apakah arti lukaku ini? Aku sudah berusia tua, umpama kata luka ini tidak memperoleh pengobatan dan akan meninggalkan cacat seumur hidup, tidak akan banyak artinya, sebaliknya kau! Kau masih  muda,  baru  belasan  tahun umurmu, kalau lenganmu sampai cacat, kau akan menyesal seumur hidupmu, Akupun ikut menderita pula, kalau sampai terjadi demikian." 

"Sudahlah! Kalian jangan saling bertengkar Obat lukaku cukup untuk menyembuhkan dua orang lagi." tukas Kim San. 

Setelah berkata demikian ia membuka  pembalut  luka istrinya di bagian leher, Luka itu  masih  mengeluarkan  darah, hal itu membuat hatinya tercekat, Katanya di dalam hati: 

"Hebat sabatan golok Cie-san Liong-ong Kwee Sun. Benar-benar ia merupakan musuh tangguh, sampai ia dapat melukai istriku, untunglah tidak sampai mengenai urat nadi " 

dan cepat-cepat ia menaburkan bubuk obat luka yang berwar kelabu. 

"Sekarang giliranmu, anakku." katanya kemudian. 

Siu Lan membuka pembalut  lukanya sendiri. Kemudian mengangsurkan lengannya kepada ayahnya. Luka itu dideritanya tiga hari yang lalu, karena kurang  rawatan  dan kena air hujan bercampur debu, kini nampak diselipi nanah. Melihat nanah itu, Kim San mengerutkan alis. Katanya sambil menghela napas: 

"Siu Lan, kalau terlambat dua hari lagi, pastilah lenganmu akan cacat. Kau... kau " 

Kim San tidak meneruskan perkataannya, sebenarnya ia ingin mengatakan supaya Siu Lan merawat lukanya dengan  cermat, akan tetapi akhirnya ia menyadari bahwa  selama beberapa hari ini, hampir-hampir mereka tidak  memperoleh kesempatan untuk beristirahat, apalagi untuk memeriksa dan mengobati luka, Musuh yang datang dari berbagai penjuru, menyerang secara bergelombang dan bergiliran.  itulah sebabnya dengan membungkam Kim San menuangkan  sisa obat bubuknya lalu membuang pembungkusnya di atas tanah. Kemudian ia berkata setengah berdoa: 

"Semoqa inilah perjalanan kita yang terakhir." 

Selagi Kim San  merenungi ucapannya  sendiri dengan wajah muram, tiba-tiba Sin  Houw menyelak bicara tanpa diduga-duga. Katanya: 

"Ayah, dapatkah aku minta suatu keterangan? Ada sesuatu yang tidak kumengerti." 

Kim San merasa terpukau. Segera ia berpaling  dan menatap muka anaknya yang bungsu itu, Wajah Sin Houw nampak muram dan setengah bergusar. Melihat kesan itu, ia menarik napas lagi dengan tak dikehendakinya,  sahutnya dengan suara perlahan : 

"Keterangan apa yang ingin kau tanyakan, anakku? Katakanlah, Sebenarnya, andaikata kau tidak  mengerti, akhirnya kau akan mengerti sendiri . Aku sendiri telah memutuskan hendak memberikan penjelasan  kepadamu, kukira umurmu kini sudah dapat  menangkap  suatu keterangan." 

Sin Houw juga mengerti, seIama ia belum   cukup  umur, tidak sewajarnya ia diajak  membicarakan  masalah  orang- orang tua. Akan tetapi ia adalah seorang anak yang dibentuk oleh keadaan, pertumbuhan akalnya lebih cepat dari pada nnak-anak lainnya, Dan setelah mendengar perkataaan ayahnya, maka ia berkata: 

"Ayah, seingat aku, eh teringat lah aku pada waktu itu. 

Kita semua berlari-larian sepanjang malam, melewati  gunung dan melintasi hutan. Aku "  "Eh, anakku !" potong ibunya dengan suara mengeIuh, ia 

Iantas memeluk lehernya dengan air mata mengalir deras. ia tidak meneruskan bicara sehingga ganti  Kim  San  yang berkata: 

"Biarkanlah ia bicara, Lan-moay..."  Dan  Sin  Houw kemudian berkata lagi: 

"Waktu itu aku telah melihat banyak gunung, hutan, jurang dan berbagai tempat belukar. Ayah mengajak aku merantaui padang luas, dan teringatlah aku, sering turun hujan deras dan angin meniup sangat gemuruh dan kadang-kadang kita berada ditengah terik matahari, kita lalu mencari mata air  untuk meneguk airnya yang bening, tetapi yang mengherankan aku, apa sebab ayah, ibu dan kedua kakak harus bertempur setiap kali bertemu dengan orang-orang yang berjumpa dengan kita? Apakah kita pernah menyalahi  mereka? Ataukah mereka memang orang-orang jahat yang memusuhi kita? Buktinya, suatu kali kita pernah melintasi kota dan pendesaan, dan ayah tak perlu menghunus pedang untuk menikam mereka. " 

Usia Sin Houw masih sangat muda, akan tetapi pengalamannya ternyata sangat dahsyat. Nalurinya membuat akalnya mulai  ingin mengerti semuanya, Ketika mula-mula melihat keluarganya bertarung dengan orang-orang tertentu, ia bersikap acuh tak acuh. Kemudian rasa takut mulai menggerayangi, lalu rasa  gusar  dan  girang  apabila keluarganya memperoleh kemenangan.  

Setelah itu ia mulai menebak-nebak  apa  sebab  terjadi suatu pertarungan adu jiwa, Dan pada  tiga  hari  yang  lalu, untuk yang pertama kalinya salah seorang anggauta keluarganya terluka, Dialah Siu Lan,  kakak  perempuannya. Dan hal itu membuat akalnya mulai bingung. 

SETELAH ITU ibunya kena babatan golok seorang musuh yang menamakan diri Cie-san Liong-ong Kwee Sun, si raja naga dari gunung Cie-san, Kalau begitu terjadi suatu suatu pertarungan itu, tidak dikehendaki oleh keluarganya sendiri. Terasa sekali, betapa ayah dan ibunya  terpaksa  melayani lawan untuk suatu pembelaan diri, tetapi mengapa ayah dan  ibunya dimusuhi oleh orang begitu banyak? Benar-benar ia tidak mengerti. 

Dan dalam tiga hari itu, ingin ia minta penjelasan,  Namun rasa lelahnya lebih menguasai dari pada perhatiannya itu, ia tertidur begitu menggeletakkan badan.  Kini ia kehujanan. Pakaiannya basah kuyup, inilah yang  membuat dirinya tak dapat tertidur dengan cepat, maka itu pulalah kesempatan baginya untuk minta keterangan kepada ayahnya. 

"Sin Houw! jangan membuat ayahmu berduka." ibunya   yang mendahului bicara. 

Mendengar perkataan ibunya, wajah  Sin Houw nampak muram luar biasa, ia menjadi  bingung, cemas dan  sesal, Akhirnya ia ingin menangis  dengan perasaan tak menentu. Sejenak kemudian ia mencari kesan wajah ayahnya. Berkata: 

"Benarkah ayah jadi berduka karena pertanyaanku tadi? Kalau begitu, patutlah aku ayah hukum." 

Kim San menoleh kepada istrinya, dan berkata: 

"Lan-moay, mengapa ia kau tegur demikian? Dalam hal ini bukan dia yang bersalah, Sebaliknya, akulah manusia  yang tiada gunanya hidup sebagai ayah dan suamimu..." ia berhenti menelan ludah, Kemudian meraih leher Sin Houw  dan membelai kepalanya dengan perasaan kasih sayang, Katanya lagi dengan suara agak parau: 

"Sin Houw, kau tidak bersalah, Sama sekali tak salah, Mengapa aku harus menghukummu? Selama ini ayahmu telah berusaha mengatasi kesulitan ini, untuk mengkikis suatu salah paham, Akan  tetapir ayahmu tidak berdaya sama sekali menghadapi lawan-lawan yang bersikap sangat ganas." 

Thio Sin Houw mengangkat kepalanya,  mengawasi ayahnya dan berkata seperti merajuk: 

"Ayah, dapatkah ayah menjelaskan tentang salah paham itu?" 

Kim San manggut seraya tertawa sedih, jawabnya dengan  suara tegas: 

"Tentu, Tentu saja. Saat ini justru saat kita yang terakhir. Sejak tadi ayah telah berkeputusan untuk menjeIaskan kepadamu, walaupun otakmu mungkin belum dapat mengerti persoalan latar beIakangnya, Kalau ayah tidak menjelaskan sekarang, kapan lagi ayahmu memperoleh kesempatan lagi? Kau duduklah  baik-baik. Kemudian dengarkan  setiap patah kata ayahmu, Sebab setelah ini, ayahmu tidak akan berkata kata lagi." 

Thio Siu Lan yang sejak tadi berdiam diri sambil membalut lukanya, menyambung: 

"Ayah, selama banyak tahun kita merantau,  baru  kaIi  ini kau membawa kami melarikan  diri,  Aku  tahu  sebenarnya, itulah lantaran aku dan ibu terluka, ibu mahir sekali menggunakan pedang, kakak Sin  Han semakin tangguh, akupun merasa memperoleh kemajuan pula, setelah lukaku sembuh, tak perlu lagi ayah membawa kami lari-lari begini. Hanya saja, ada satu hal yang tidak kumengerti. Ayah dilukai musuh, mengapa ayah tak mau membalas sedangkan sebenarnya ayah mampu berbuat begitu?" 

Sambil mengajukan pertanyaan itu, Siu  Lan  mengawasi luka ayahnya yang menggaris kedua belah pipinya. Sin Houw pun demikian pula, Lalu si bungsu berkata untuk menguatkan pertanyaan kakaknya: 

"Benar, ayah. Apa sebab ayah membiarkan musuh melukai pipi ayah?" 

"Sin Houw, jangan kurang ajar!" bentak ibunya. 

"Lan-moay, biarkanlah," kata Kim  San   setengah membujuk. Akan tetapi wajahnya nampak kian muram, walaupun demikian, pandang matanya tiba-tiba bersinar tajam, Dengan suara bernada menghibur ia berkada kepada kedua anaknya: 

"Tak dapat ayahmu melakukan kesalahan lagi, setelah pernah berbuat suatu kekeliruan sekarang ini ayahmu sudah  berusia cukup tua. Kalau hari ini harus mati, hati ayah benar- benar rela, akan tetapi, bagaimana  dengan  kalian...? Andaikata ayah menggali tanah lebih dalam  lagi, kalianlah yang akan memikul akibatnya, Dapatkah dibenarkan apabila seorang ayah  meninggalkan suatu  warisan  penderitaan kepada anak keturunannya? Tidak! Tak dapat  aku menanamkan bibit permusuhan yang berlarut tiada akhirnya untuk kalian." 

"Akh! Ayah terlalu bermurah hati kepada mereka," ujar Siu Lan. "Sebaliknya mereka tak mau tahu. Mereka mengejar kita terus-menerus tak hentinya, setiap gerakan senjata  mereka mengancam maut tak terampunkan. Selama ini entah sudah berapa kali ayah dan ibu menderita luka  ringan  dan  berat. Tetapi kerelaan ayah dan ibu menanggung  derita  itu,  tidak dapat merubah hati mereka. Bahkan mereka bertambah ganas dan kejam, sebaliknya  mengapa  semangat ayah tiba-tiba menurun?" 

Thio Kim San menggelengkan kepalanya sambil menarik napas, katanya perlahan: 

"Tidak, anakku, Tidak! Sama sekali  tidak!  semangatku bukan runtuh,  tetapi karena mempertimbangkan keadaan. Tegasnya, ayahmu ini dipaksa oleh keadaan. Memang, merubah sikap mereka kini sudah tiada harapan, Satu-satunya jalan hanyalah  membela diri mati-matian. Kita membunuh atau di bunuh. Akan tetapi, anakku, Musuh-musuh kita ini luar biasa banyaknya. Barangkali kau ingat, tatkala mula-mula kita meninggalkan rumah dan  melarikan diri ke barat,  sampai akhirnya kita tiba disini,  di  lembah  pegunungan  Boe-tong. Akan tetapi musuh-musuh kita tetap  mengejar  Setiap kali memasuki suatu wilayah, musuh-musuh  berganti  orang. Apakah kau mengetahui, siapakah musuh kita sebenarnya?" 

"Justru itu yang hendak kutanya-kan," ujar Thio Siu Lan penuh perhatian. 

"Benar, ayah. Agar jelas bagi kita, siapa musuh-musuh kita itu," Sin Houw ikut bicara.  Thio Kim San menundukkan kepalanya . Setelah sejenak berpikir, dengan muka berkerut-kerut ia berkata: 

"Musuh kita adalah seluruh orang-orang gagah dari segala lapisan, baik golongan hitam maupun putih." 

Baik Sin  Houw maupun Siu  Lan jadi bergidik ketika mendengar keterangan ayah mereka. Siu Lan yang lebih tua umurnya dari adiknya, dapat berpikir  dan  menimbang- nimbang, Katanya lagi minta penjelasan: 

"Seluruh orang-orang gagah di dunia ini? Benarkah begitu, ayah? Apa sebabnya mereka memusuhi ayah? Apakah ayah pernah berbuat kesalahan terhadap mereka? Apakah ayah kenal mereka?" 

Kim San menggelengkan kepatanya, jawabnya: 

"Aku bahkan tidak mengenal mereka semuanya, hanya sebagian kecil yang kukenal." 

"Apa sebab mereka bersatu-padu memusuhi ayah?" tanya Siu Lan heran. 

"ltulah karena... karena..." sukar rasanya untuk Kim San memberikan penjelasan ia menimbang-nimbang sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan: 

"Mereka menuduhku sebagai seorang pencuri besar yang harus dibekuk hidup atau mati. Barangsiapa dapat menangkap ayahmu ini hidup-hidup, akan memperoleh tiga bagian mustika dunia sebaliknya apabila menangkapku mati, hanya memperoleh sebagian, Tetapi sebagian itu saja sudah cukup untuk membuat  manusia menjadi  kaya raya  dan  terkenal namanya di seluruh dunia. Karena benda yang mereka cari adalah sebatang golok Halilintar,   yang  menyimpan  rahasia ilmu sakti tertinggi di dunia, Dengan memiliki golok itu, siapa  saja pasti akan menjadi sakti ilmunya, dihormati dan dipuja sebagai malaikat!" 

"Apakah itu bukan kabar berlebih-lebihan saja?" gerutu Siu Lan, sedikitpun tak terpikir olehnya bahwa ayahnya pernah mencuri benda itu.  "Benar. itulah suatu dusta. Namun ayahmu tidak berdaya melawan anggapan demikian," kata ayahnya. 

"Jadi, mereka mengejar-ngejar  sampai di sini, semata- mata lantaran menginginkan benda itu dari ayah?" 

"Walaupun baik ayah maupun mereka tidak pernah saling mengenal?" Siu Lan meneruskan pertanyaannya. 

"Benar." jawab ayahnya singkat. 

"lnilah suatu kegilaan." Siu Lan menggerutu, "Ya , benar- benar gila." 

"Kau boleh berkata demikian, anakku, Tetapi buktinya, keluarga ayahmu menjadi buruan mereka. Cobalah pertimbangkan masak-masak, dapatkah ayahmu melawan demikian banyaknya musuh?" kata Kim San sambil menarik napas lagi. "ltulah sebabnya, tiada jalan lain kecuali melarikan diri, mencari kakek-gurumu dan... kalau Tuhan melindungi, kita akan berlindung kepada kakek gurumu, Tie Kong Tianglo. Ia adalah seorang guru besar yang dihormati dan disegani orang, setidak-tidaknya banyak para pendekar mengenal namanya karena itu, meskipun penderitaan  kita  berlarut-larut,  namun aku yakin bahwa suatu penderitaan akan ada akhirnya. Belum pernah manusia menyaksikan awan hitam menutupi langit cerah sepanjang masa, dan sebaliknya pula matahari yang perkasa terbatas pula kekuasaannya." 

Sementara itu Sin Houw  berkomat-kamit  seorang  diri,  lalu ia berkata kepada ayahnya: 

"Seluruh pendekar memusuhi ayah, semata-mata karena ingin memiliki golok Halilintar.  Tetapi apa sebab mereka menganggap golok itu ada pada  ayah  atau  menuduh  ayah yang mencurinya?" 

Thio Kim Sart tercengang mendengar pertanyaan putranya yang bungsu itu. Terus saja ia membelai kepaIa Sin Houw sambiI berkata perlahan: 

"Kau begitu cerdas. Kau  tumbuh terlalu cepat..."  dan hatinya lantas saja terasa pedih,  Lalu ia berpaling kepada  istrinya, dan berkata: 

"Lan-moay. Meskipun kita kini hampir memasuki wilayah perguruan, namun hidup atau mati belum dapat kita pastikan, Oleh karena itu, kalau kini aku tidak segera memberikan penjelasan kepada anak-anak kita, jangan-jangan aku tidak mempunyai kesempatan  Iagi. Bagaimana menurut pendapatmu?" 

Lie Lan Hwa menatap wajah suaminya, menjawab dengan sabar: 

"Kalau demikian pertimbanganmu, terserahlah." 

Segera Thio Kim San menghirup napas segar, ia melepaskan raihannya pada kepala putranya dan mengawasi wajah Sin Houw silih berganti dengan Siu Lan, lalu berkata hati-hati: 

"Anakku, inilah soal yang sukar untuk dimengerti dan dipahami." 

Pertama sekali karena umurmu belum cukup kuat untuk menanggapi, Terus terang saja, sampai kini ayahmupun tetap berada dalam suatu teka-teki pelik,  sebenarnya  bagaimana asal mulanya terjadinya suatu fitnah ini, masih kurang jelas bagiku.  

Hanya anehnya, mengapa mereka semua tahu tentang diri ayahmu yang difitnah sebagai si pencuri  ataupun  sebagai orang yang menyimpan golok Halilintar itu. Pastilah ada seseorang yang meniup-niupkan suatu kabar tentang diri ku. Benar dan tidak, bercampur aduk tidak keruan.  

Aku hanya mempunyai dugaan, tetapi tak dapat aku membuka mulutku, Akh, seumpama ayahmu tidak terlalu sibuk menghadapi orang-orang yang  datang  memusuhi  tanpa alasan permusuhan, siang-siang ayahmu pasti telah  dapat membekuk biang keladi yang menyebar fitnah itu." 

Sampai di sini Thio Kim San berhenti bicara, mulutnya membungkam secara mendadak. Giginya terdengar berbunyi berceratukan seakan-akan sedang  menggigit sesuatu yang  alot luar biasa . 

Siu Lan seorang gadis  perasa,  Terus  saja  ia  berkata: "Ayah sangat bersakit hati. Biar-lah ayah tak meneruskan 

saja keterangan tentang peristiwa yang memedihkan ini." 

"Tidak, anakku, Ayahmu harus berbicara terus, Hanya saja 

..." ia berhenti lagi, sekonyong-konyong berdiri dan berjalan ke luar, ke ambang pintu, Memanggil putera sulungnya: 

"Sin Han, kemarilah! Ayahmu hendak  berbicara dengan kalian semua!" 

Thio Sin Han masih mengawasi kelima ekor kuda mereka, Mendengar seruan ayahnya, segera ia menambatkan tali-tali kendali menjadi  seonggok, Kemudian bergegas memasuki tempat penyimpanan padi dan berkata : 

"Ayah hendak bicara mengenap apa?" 

"Kau duduklah dahulu diantara kedua adikmu!" perintah ayahnya. 

Sin Han menggeribiki pakaiannya, kemudian menghampiri kedua adiknya, ia tidak segera  duduk,  karena  pakaiannya yang basah kuyup dengan air hujan. 

"Baiklah, kau berdiri saja. Kau panaskan tangan dan badanmu, sambil mendengarkan." kata  Kim  San.  "Cobalah kau terka, apa sebab seluruh orang-orang gagah memusuhi ayahmu sekeluarga ?" 

Sin Han menatap muka ayahnya dengan hati tercekat, lalu menjawab perlahan: 

"Yang kuketahui, sepak terjang mereka  telah  membuat ayah sangat mendendam dan penasaran." 

"Yang kumaksud, sebab sebabnya!" tukas Kim San. 

Sin Han menimbang-nimbang, secara hati-hati kemudian ia menyebut: 

"Menurut yang kudengar, ayah di tuduh menyimpan  sebatang golok mustika dunia, Atau   setidak-tidaknya,  ayah tahu rahasianya dan  tahu pula di mana goIok mustika itu tersimpan." 

"Benar, sebatang golok Halilintar itulah gara-garanya. Tahukah engkau tentang golok yang dianggap benda mustika itu?" sang ayah balik menanya. 

Sebelum Thio Sin  Han menjawab pertanyaan ayahnya, tiba-tiba Sin Houw memotong dengan pertanyaan pula: 

"Koko, kenapa mereka mengira ayah yang  menyimpan golok itu?" 

 (Koko = kakak). 

Mendengar pertanyaan itu, Sin Han tercengang,  justru hal itu pulalah yang membuat dirinya terus berteka-teki. 

"Entahlah " jawabnya. "Aku sendiri kurang jelas." 

Setelah memberikan jawaban demikian, Sin Han berpaling kepada ayahnya dan meneruskan bicara: 

"Orang-orang yang datang mengejar kita  ini,  pada  suatu hari dipanggil oleh seseorang yang membawa warta tentang golok mustika itu. Mereka di kisiki  di  manakah  golok  mustika itu berada. Mereka diberikan penjelasan pula, bahwa  golok mustika itu tidaklah hanya menggenggam suatu rahasia ilmu sakti yang sangat tinggi, tetapipun menyimpan sebuah gunung emas dan berlian yang tak ternilai harganya.  

Pendek kata, barang siapa dapat  memperoleh  golok mustika itu, akan dapat memerintah dunia menjadi raja dari segala raja! Benar tidaknya, aku tak tahu.  Ayah, benarkah demikian?" 

Pandang mata Sin Houw berdua Siu Lan tertuju kepada ayahnya, Tetapi tiba-tiba mereka melihat kedua mata ibunya meneteskan air mata. Mereka jadi terkejut, dan Sin Houw segera meloncat dari duduknya,  ia memeluk ibunya dan berkata: 

"lbu, kalau keterangan ayah akan menyusahkan ibu,  biarlah ayah tidak usah menjawab pertanyaan koko."  Mendengar perkataan si bungsu, air mata Lan Hwa kian 

deras mengalir ke-Iuar. ia berpaling  kepada  suaminya kemudian ganti mengawasi kepala anaknya  yang bungsu. Katanya perlahan: 

"Sesungguhnya, semuanya ini ibu ikut bersalah. Bahkan ibumu lah yang menjadi bibit permusuhan ini " 

"Lan-moay, pengakuanmu tidak benar!" potong suaminya setengah membujuk  "Aku  sendiri  belum  memperoleh pegangan yang kuat." 

"Tidak! Selama ini engkau membungkam demi  untukku," ujar Lan Hwa dengan suara pahit. "Sekaranq tak boleh Iagi engkau memendam prasangkamu. Serapat-rapat  seseorang membungkus ikan busuk, akhirnya akan tercium juga.  Selama ini, jangan lagi engkau. Aku sendiri telah memperoleh tanda- tandanya, dialah " 

"Lan-moay!" potong suaminya dengan suara cukup keras, Tetapi berbareng dengan itu ia menghela napas. Dengan menundukkan kepala, ia berkata: 

"Baiklah, aku akan berbicara, Tetapi sama sekali  bukan menjadi maksudku untuk mencelamu, Bahkan selama ini, aku sangat berbahagia, Aku berhutang budi padamu, Lan-moay. Engkaulah pelita hidupku, mercu hidup anak-anakku yang lahir lewat rahimmu. Kalau malapetaka ini terjadi juga, bukankah sudah seharusnya aku menyadari jauh sebelumnya." 

Lie Lan Hwa mengusap air matanya, ia menatap wajah suaminya dengan pandang lembut. Kemudian selembut  itu juga ia berkata: 

"Katakan saja. Aku adalah  bagian dari hidupmu, tiada sesuatu kekuatan yang dapat memisahkan kita. KecuaIi.   

maut. Kau katakan saja, suamiku." 

Untuk sesaat Thio Kim San menunda bicara, ia menambahkan kayu-kayu pada api yang menyala kemudian mengawasi ke arah pintu. Udara lembab gunung Boe-tong  telah menjadi guram. Dingin hawa-nya kian merayapi tubuh. Perlahan-lahan ia mengembarakan pandangannya, lalu 

berhenti pada wajah ketiga anaknya. Dan diantara gemericik hujan, mulailah ia berkata: 

 (Oo-dwkz-oO) 

"SEMASA kanak-kanak, aku hidup di wilayah ini, di wilayah Gunung Boe-tong san yang dianggap  keramat  oleh penduduk di sekitar tempat ini, Aku hidup di pinggang gunung sebelah timur laut, di atas gunung Boe-tong, di puncak Thian-coe hong yang tinggi menjulang ke angkasa, atau tepatnya di kuil Giok- hie kiong, adalah merupakan tempat bersemayannya Tie-kong Tianglo dan merupakan tempat aku belajar ilmu silat bersama empat saudara seperguruanku.  

Masing-masing adalah Cia Sun  Bie sebagai  murid pertama, Lim Tiauw Kie murid kedua, Hoan Siok Hu murid ketiga Tan Bun Kiat murid keempat dan aku sendiri sebagai murid kelima. 

Kami lima saudara seperguruan hidup sebagai keluarga sendiri. Saling menolong dan saling membantu, pendek kata saling bahu membahu.  

Setelah masing-masing mempunyai keluarga, lantas berpisah, Diantara kami ada dua orang yang belum menikah, mereka adalah pamanmu Cia Sun Bie dan Tan Bun Kiat. 

Sebagai Boe-tong Ngo-hiap atau lima pendekar dari Boe- tong san, kami berlima seringkali merantau dan menjelajah di kalangan rimba persilatan, Kadang-kadang secara berbareng kami melakukan perjalanan untuk menumpas berbagai macam kejahatan ataupun kelaliman, dan kadang-kadang pula kami melakukan perjalanan secara terpisah, artinya sendiri-sendiri. 

Demikianlah, pada suatu hari pamanmu yang kedua, Lim Tiauw Kie, melakukan perjalanan ke propinsi Hok-kian, karena di tempat itu sedang mengganas seorang penjahat yang tidak hanya memiliki kepandaian ilmu  silat  tinggi,  tetapi  juga terkenal sangat licin luar biasa. Sampai berbuIan-bulan  lamanya Lim Tiauw Kie pergi tanpa memberikan berita,  ia bahkan sampai lupa mengunjungi suhu pada hari ulang tahun beliau. 

Lim Tiauw Kie pergi dan terus menghilang tanpa meninggalkan jejak, sedangkam kami empat bersaudara seperguruan pernah berkali-kali mencari dan melakukan penyelidikan. Sampai kemudian kami memperoleh kabar angin yang mengatakan bahwa Lim Tiauw  Kie  telah memperoleh golok Sun Lui To yang direbutnya dari tangan Hing-san sam- kiam atau tiga jago pedang dari gunung Hing-san, setelah itu Lim Tiauw Kie menghilang tak berani pulang ke gunung Boe- tong san karena bermaksud memiliki golok mustika itu untuk dirinya sendiri..." 

"Jadi, apakah  sampai saat ini Lim susiok tak diketahui jejaknya?" tanya Thio Sin  Han selagi ayahnya   menunda bicara. 

Thio Kim San manggut dan berkata: 

"Orang-orang yang paling gigih mencari dan menyimpan dendam, sudah tentu adalah pihak murid-muridnya Hing san Sam-kiam, Tetapi yang lain-lainnya ikut mencari dan sudah tentu ingin merebut golok mustika itu, di antaranya adalah orang-orang Hay-see pay, Kun-lun pay dan lain sebagainya, secara berombongan maupun perorangan." 

"Kini dan setelah mereka tidak berhasil menemukan Lim susiok dan golok mustika itu, mengapa justru  mereka memfitnah dengan mengatakan golok mustika itu ada pada ayah?" ganti Siu Lan mengajukan pertanyaan. 

Sejenak Thio Kim San terdiam menundukkan kepala, lalu dengan suara perlahan ia memberikan jawaban: 

"Mungkin mereka mengetahui  bahwa aku adalah yang paling akrab berhubungan dengan Lim susiokmu, sehingga mereka menyangka golok mustika itu dititipkan kepadaku " 

Tiba-tiba Lie Lan Hwa memutus  perkataan  suaminya: "Tidak! Sampai di sini sebaiknya aku yang memberikan  keterangan kepada anak-anak kita, Aku tahu engkau seorang pendekar yang mengutamakan budi luhur, Demi kebajikan itu, engkau rela hancur lebur tanpa kubur, Akan tetapi, aku tidak! Sebab di sini kupertaruhkan kesucian hati ku, dan karena  aku tak rela engkau  mengalami malapetaka sebesar  ini. itulah karena gara-gara masa mudaku,  Engkau  khawatir menyinggung perasaanku , karena itu  kau  coba  menutupi tetapi justru demikian, aku jadi tersinggung, Sebab artinya kau mencurigai kesetiaan dan kesucianku." 

"Lan-moay, mengapa kau berkata begitu?  Demi  Tuhan, aku tak pernah  berkata yang bukan-bukan  terhadapmu," potong Kim San, melarang istrinya terus bicara. 

Sin Han bertiga merasa prihatin menyaksikan orang tua mereka bertengkar kata. inilah kejadian yang mereka saksikan untuk pertama kalinya, dan mereka menjadi terpaku membisu. 

Sementara itu Lan Hwa meneruskan bicara kepada anak- anaknya: 

"Baiklah, anak-anakku. Biarlah aku yang memberikan keterangan kepada kalian, Pada masa mudaku, aku seperti engkau, Siu Lan. Cukup menarik  dan  cukup  menawan perhatian  orang,  Ayah  bundaku  mempertunangkan  aku dengan seorang pemuda yang belum pernah kukenal, pemuda itu bernama Tan Kok Seng.  

Dia seorang yang berpengaruh, dan iimu kepandaiannya sangat tinggi. Menurut kata orang, tiada celanya, Akan tetapi setelah bertemu dengan ayahmu, aku jadi berkeputusan untuk membantah kehendak orang-tuaku, inilah jadinya, walaupun ayahmu tadi menyatakan masih bimbang, namun aku mengira bahwa semuanya ini adalah perbuatannya.  

Kalian ingatlah baik-baik, namanya Tan Kok Seng.  Aku mengharapkan agar dikemudian hari kalian bisa menyelidiki benar tidaknya." 

Sederhana keterangan Lan Hwa, akan tetapi cukup merangkum keseluruhannya. Dan mendengar cara sang ibu menekan setiap patah katanya, membuat hati mereka bertiga  bercekat. 

Mendadak pada saat itu, terdengarlah suara derap kuda di antara gemericik hujan, Wajah Thio Kim San berubah hebat. Serunya setengah mengeluh. 

"Akh! Benar-benar mereka tidak membiarkan kita untuk beristirahat sebentar Kalau begitu  anak-anakku, tiada   jalan lain kecuali kita harus meneruskan perjalanan kita." 

Mendengar perkataan suaminya, Lan Hwa mencelat ke ambang pintu dengan pedang siap di tangannya. 

"Aku akan mengambil kuda kita!" katanya. 

Sin Han mundur selangkah, ia berdiri tegak di depan kedua adiknya dengan memancarkan pandang berapi. 

"Sin Han, Siu Lan dan Sin Houw! Dengarkan! Siapa saja di antara kamu bertiga, harus dapat mencapai puncak Thian-coe hong untuk menemui kakek-gurumu, Tie-kong Tianglo, Jika harapan ayahmu ini terkabulkan, itulah sudah cukup,  Dialah yang kelak wajib menyambung asal keturunan keluarga  kita. Kau dengar?" kata Thio Kim San dengan suara gemetar. 

"Ya, ayah!" mereka bertiga memberikan jawaban serentak, walaupun dengan suara tertahan. 

"Akan tetapi apabila kita semua gugur sebelum mencapai tempat tujuan, ya sudahlah, itulah di luar kekuatan dan kekuasaan kita, Artinya, Tuhan memang  menghendaki demikian, walaupun  demikian, sampai detik  ini aku masih berdoa, semoga Tuhan memberkahi ayah-ibumu, dan semoga salah seorang diantara kalian bertiga dapat selamat sampai ke tempat tujuan.  

Kemudian, apabila Tuhan mengabulkan  sehingga  salah seorang di antara kalian berhasil bertemu dengan kakek-guru kalian, atau setidaknya paman-guru kalian Cia Sun Bie, maka kalian minta perlindungan... 

Thio Kim San menjadi gugup karena ia mendengar suara beradunya senjata, Alangkah cepatnya gerakan musuh itu,  pastilah dia bukan sembarangan orang. 

"Sin Han! Kau lepaskan panah berapi biru itu! Di sini dekat rumah perguruanku, mungkin salah seorang paman-gurumu melihat api tanda bahaya," kata Thio Kim San tergesa-gesa. Setelah itu ia lompat melesat keluar pintu. 

Setelah Thio Kim San hilang di kegelapan malam, Thio Sin Han menyambar lengan Sin Houw dan berkata dengan suara dalam: 

"Adikku, kau adalah satu-satunya harapan kita. Aku akan membawamu lari dan melindungimu sampai  mencapai jembatan penyeberangan jurang di sana yang curam dan panjang, Aku tahu di mana letak jembatan itu, karena ayah pernah menceritakan, Aku dan kakakmu Siu Lan, ayah dan ibu akan mempertaruhkan harapan kepadamu seorang.  

Engkaulah yang kelak harus dapat menyambung asal usul keluarga kita, dan kami mendoakan agar Tuhan mengabulkan permohonan keluargamu serta di kemudian hari engkau bisa mencuci bersih rasa penasaran keluargamu.  

Terutama rasa sakit hati ayah-bundamu yang pernah mendukungmu kesana kemari menempuh bahaya dan melindungi dirimu, Adikku, cepatlah  kau melompat di atas kudamu dan kaburlah dengan segera. Ke sana!" 

Setelah berkata demikian, dengan menghunus pedang Sin Han berjalan ke ambang pintu melindungi kedua adiknya. 

Ketika tiba di luar, Siu Lan  segera memberi contoh melompat ke atas kudanya dengan gesit sekali. Dan  setelah Sin Houw berada  pula di atas pelana kudanya, Sin Han menjajari dan menghentak kendalinya. 

"Mari!" ajaknya. 

Kira-kira lima puluh meter di depannya, ibunya sedang bertempur melawan seorang yang  mengenakan  pakaian seperti pendeta, Dialah Cie-san Liong-ong Kwee Sun, si biang naga dari gunung Cie-san, ia bersenjata sepasang golok, gerakannya gesit dan membawa angin bergulungan. Dengan  cepat Lan Hwa dapat di kurungnya rapat-rapat. 

Melihat ibunya terdesak,  Sin   Han  membatalkan maksudnya mengaburkan kudanya.  Teringatlah dia dengan pesan ayahnya, maka cepat-cepat ia menarik anak panah dan dinyalakan lalu dilepaskan ke udara, seketika itu juga terdengarlah suara bersuing di udara tinggi. Kemudian dengan suara ledakan kecil,  apinya yang biru pecah berantakan merayapi ke seluruh penjuru, indah sekali pemandangan itu di malam gelap gulita, akan tetapi mereka semua tiada kesempatan untuk menikmati keindahan itu. 

Setelah melepaskan anak panah, Sin Han  melompat dengan menyambarkan  pedangnya.  Tangan kirinya menggenggam pula sebilah belati tajam. Begitu  memasuki gelanggang, dengan mengerahkan tenaga ia menangkis golok Ciesan liong ong  Kwee  Sun,  berbareng  menikamkan  belatinya. 

Cie-san Liong-ong Kwee Sun kaget sampai mundur dua langkah ke belakang, Dan pada saat itu, mendadak Sin Houw melompat pula dari kudanya sambil menarik keluar pedang pendeknya yang selalu tergantung di pelana kudanya, 

"Hey! Kau hendak ke mana?" cegah Siu Lan. 

"Cici, jangan rintangi aku!" teriaknya seperti kalap, "Mereka sangat kejam dan  sama sekali tak sudi memberi ampun, Mereka selalu mengejar kita seperti barisan iblis,  Kalau  aku tidak ikut membasmi mereka, sampai kapan kita bisa hidup tenang? Aku harus membasmi mereka! Aku harus membantu ibu!" 

"Sin Houw, jangan menuruti  perasaanmu  sendiri!  Kau harus ingat dengan pesan koko. Cepat, pergilah! Lihat musuh semakin banyak! Aku yang akan membantu ayah dan  ibu menahan mereka, sementara kau pergi menjauhi!" 

Memang benar, pada waktu itu berdatangan belasan orang berkuda yang langsung mengepung Kim San dan Lan Hwa - tetapi nampaknya Kim San sama sekali tidak menjadi gentar. Seperti Sin Han, kedua tangannya menggenggam pedang dan  pisau belati yang berkilat-kilat  karena  tajamnya.  Dengan cepat ia mendampingi istrinya yang tak sudi mundur walaupun selangkah, Untuk sejenak mereka tak berdaya menghadapi perlawanan yang rapi itu. 

Thio Kim San dan istrinya merupakan sepasang pendekar semenjak memasuki jenjang pernikahan. Di kalangan rimba- persilatan nama mereka terkenal  sebagai  "Kim-siang  yan" atau sepasang burung walet  emas yang  gagah  perkasa, karena mereka bisa bekerja sama dengan sangat  baik. sekarang mereka berdua ditambah dengan pengalamannya yang pahit dan  berbahaya selama bertahun-tahun - tak mengherankan, pembelaan diri mereka rapi dan  rapat. walaupun kena dikepung belasan orang, namun gerak-gerik mereka tidak kacau. 

Di lain pihak, Siu Lan menjadi sibuk sendiri. Tak dapat ia membiarkan kedua orang tuanya dikepung oleh sedemikian banyaknya musuh, perlahan lahan ia mengeluarkan pedang lemas yang membelit pinggangnya.  

Pedang itu terbuat dari emas murni,  sifatnya  lemas  dan ulat, Begitu ditarik, pedang itu lencang  seperti  mengandung per. Tepat pada saat itu kilat menyambar, dan sinar kilat itu memantul pada pedang emas itu sehingga menimbulkan sinar berkilau. 

Thio Sin Han yang sedang bertempur dengan  musuh, menjadi terkejut melihat  kilauan  sinar itu. Dengan menjejak tanah ia mundur jumpalitan sambil berteriak: 

"Moay-moay, kau tak perlu maju! Bawalah Sin  Houw menjauh cepat-cepat, kalau tidak  kita bakal  menggagalkan pesan ayah!" 

Thio Siu Lan tertegun, ia menjadi bingung, Dengan muka penuh pertanyaan ia mengawasi kakaknya. 

"Kau mau pergi atau tidak?" bentak Sin Han. 

Selama hidupnya, belum pernah kakaknya membentak dengan suara demikian. Hatinya yang lembut terhentak kaget,  Dengan suara gugup ia minta penjelasan: "Sebenarnya koko mau apa?" 

"Aku mau apa?" bentak Sin Han, lalu memberikan penjelasan, "Belum pernah aku berbicara dengan cara begini kepadamu, bukan?  Tapi sekarang sekarang lain! Siapa  di antara kalian berdua tidak  mau  mendengarkan  perkataanku, tak kuakui sebagai saudaraku lagi, Kalian dengar? Nah, sekarang kalian pergilah, ingatlah pesanku tadi. !" 

Dengan air mata mengalir deras keluar, Siu Lan berusaha meyakinkan: 

"Koko, kau keliru, Pesan ayah sebenarnya ditujukan kepadamu dan adik Sin Houw, karena kalian berdua  adalah anak laki-laki. Ayah mengharapkan keturunamnu untuk menyambung asal-usul keluarga, bukan aku! Aku seorang perempuan. Biarkanlah aku yang maju  membantu  ayah  dan ibu. Ingatlah, koko. aku seorang perempuan, tanggung jawab 

untuk melaksanakan pesan ayah tidak  mungkin dapat ku Iaksanakan.  

Andaikata aku selamat, apakah yang dapat  kulakukan  ? Dari itu maafkan adikmu ini, biarlah aku yang membantu ayah dan ibu, sebaliknya  kau dan  adik Sin  Houw yang harus memikul tugas berat untuk mencuci bersih  nama  keluarga  kita di kemudian hari." 

"Tutup mulutmu!" bentak Sin Han. 

"Kau hendak membantu ayah dan ibu  apakah kepandaianmu meIebihi aku?" 

"Tentu saja kepandaian koko berada di atasku." sahut Siu Lan. 

"Jika begitu, kau mengerti maksudku," kata Sin  Han. "Belasan musuh yang mengejar kita kali ini, nampaknya bukan sembarang musuh, Mereka tahu, jika terlambat sedikit, ayah dan ibu serta kita semua akan selamat, Karena sudah hampir mencapai tempat perguruan ayah, maka itulah  sebabnya mereka mengerahkan jago-jago kelas satu. Walaupun  tubuhmu bakal hancur luluh, tiada gunanya  sama sekali.  Kau tak bisa menolong ayah dan ibu, maka itu cepatlah kau pergi membawa adik Sin Houw mendahului kami. Percayalah, kami akan segera menyusul!" 

Keras kata-kata Sin Han sehingga suaranya agak menggeletar, tetapi kedua matanya penuh genangan air mata, jelas bahwa ia berbicara demikian, untuk membesarkan hati kedua adiknya. 

Siu Lan adalah seorang gadis yang lembut perasaan dan cerdas, ia dapat menebak maksud kakaknya itu. lantas saja ia menangis sedih. Katanya mencoba: 

"Koko, tak dapatkah engkau berangkat bersama kami?" "Tidak!" bentak Sin Han. "Kau mau mendengarkan 

perkataanku atau tidak?" 

Siu Lan mendengar suara bengis kakaknya, tapipun berbareng melihat  kedua mata kakaknya mengalirkan  air- mata, Hatinya segera menjadi lemah dan perlahan-lahan ia melibatkan lagi pedangnya pada pinggangnya yang ramping. 

"Baiklah, koko ... baiklah..." katanya perlahan  di antara suara isak tangisnya. 

Thio Sin Han tersenyum lebar, tetapi mengandung rasa  sedih yang tidak terhingga, sahutnya senang: 

"Nah, begitulah baru seorang adik yang baik, Akh, adikku yang manis, kau lindungilah adikmu itu. Tak usah  kau menunggu ayah, ibu dan aku. Kau dengar  perkataanku  ini? Nah, cepatlah kau larikan kudamu.  Tuhan  akan melindungi kalian berdua  dan  akan memberkahi kita semua.  Selamat jalan, adikku, Semoga kalian  berdua  dapat  mencapai tempatnya Tay-suhu.." 

Bertepatan pada saat itu terdengarlah  pekik  suara  Thio Kim San mengandung kemarahan: 

"Akh! Kalian keterlaluan, Mengapa  kalian begini ganas? Baiklah, aku Thio Kim San malam ini kau paksa melakukan  pembunuhan  besar-besaran!  Lihat saja!" 

Dapat dikatakan belum  selesai ia bicara, atau di sana terdengar pekik teriak menyayatkan hati. 

Memang, Thio Kim San terkenal sebagai   salah  seorang dari Boe-tong Ngo-hiap atau lima pendekar dari Boe-tong pay. Dia sangat mahir dalam ilmu silat pedang yang khas dari golongan Boe-tong pay, tetapi selama  memupuk  keluarga demi tercapainya hidup tenteram  hampir  dapat  dikatakan jarang sekali ia menggunakan ilmu pedang simpanannya.  

Tapi malam itu merupakan malam pertaruhan antara hidup dan mati, Apalagi ia merasa dipaksakan oleh keganasan pihak lawan, Maka tanpa segan-segan ia menerjang dengan ilmu pedang simpanannya itu. 

Sebagai akibat, seorang musuh roboh binasa, dan rekan- rekannya yang lain menjadi  gusar, Lantas  saja kelihatan berbagai senjata berkeredepan  dan sambil berteriak-teriak mereka meluruk untuk mengepung Thio Kim San dan istrinya. 

"Berangkatlah, moay-moay!" kata Thio Sin Han  yang sekilas sempat melihat keadaan ayah dan ibunya. 

Thio Siu Lan  mengertak gigi menguatkan hati,  Rasa penasarannya jatuh  kepada kudanya  Thio  Sin  Houw, Mengapa semua ini harus  terjadi? Dan dengan sekuat tenaga  ia menghantam kuda Thio Sin Houw. 

Kuda yang tak mengerti keadaan dan kesalahannya itu, kaget berjingkrak, lantas saja melesat maju dengan berderap, Untung Thio Sin Houw sudah terbiasa naik kuda. Meskipun tubuhnya bergoyang ketika kudanya melompat maju, tetapi beberapa detik kemudian ia  sudah  dapat  menguasai.  Tatkala ia menoleh ke sebelah belakang, dilihatnya kakak perempuannya telah berada di dekatnya dengan menghunus pedang emasnya. 

Thio Sin Han mengikuti kepergian kedua adiknya dengan pandang matanya. Setelah mereka lenyap dibalik  tikungan bukit, ia berputar tubuh lalu berteriak keras:  "lbu! silahkan istirahat sebentar, biarlah aku yang maju!" 

Hal 50/51 Hilang 

dapat mengusir musuh dengan mudah, sebentar  lagi mereka akan menyusul kita 

Tetapi kata-kata itu hanya di mulutnya saja, sedangkan hatinya khawatir bukan main. ia menyadari, ayah-ibunya telah terluka, juga kakaknya, sedangkan musuh-musuh yang mengepung sangat banyak dan semuanya tangguh. 

Thio Sin Han menengadah,  mengawasi  udara  guram gelap, Seorang diri ia berkata: 

"Ayah nampaknya mempunyai kesulitannya sendiri,  yang  tak dapat dikatakan di hadapan  kita semua. Tadi ia mau membuka mulut, setelah mendapat idzin dari ibu. Benarkah begitu, cici?" 

Setelah berkata demikian, ia mengawasi Siu  Lan.  ia percaya, kakak perempuannya itu pasti mengetahui persoalan yang sebenarnya. 

Siu Lan  dapat menebak apa  yang tersimpan  di  hati adiknya, Tetapi cepat-cepat ia mengalihkan perhatian: 

"Lihatlah ke depan! Menurut keterangan ayah, dibalik bukit itulah terbentang jembatan penyeberangan yang amat berbahaya karena dibuat dari bahan rotan semacam tali, dan yang sangat panjang namun  kecil ukurannya,  sedangkan  jauh di sebelah bawahnya, terbentang jurang yang amat dalam dan curam serta penuh batu-batu cadas.  

Dapat dibayangkan apabila seseorang terjatuh ke dalam jurang itu, pasti tidak ada kesempatan untuk selamat, Tetapi dengan kehendak Tuhan, mudah-mudahan engkau akan selamat tiba di seberangnya. Mari! Mari kita ke sana!" 

Selama ia bicara, pandang mata Siu Lan mengawasi  ke arah lain supaya tidak bertemu  pandang  dengan  mata adiknya. Karena di dalam hati kecilnya, ia meragukan perkataannya tadi. Benarkah Tuhan  akan melindungi, akan  memberikan 

Hal 54/55 Hilang 

Thio Siu Lan mengawasi wajah adiknya, kemudian menjawab dengan suara tegas: 

"Ayah adalah seorang yang jujur, ia seorang ksatria sejati. Maka aku percaya dengan segala perkataannya Ya, hanya 

karena golok Halilintar! Hanya saja, disamping itu masih ada suatu hal  yang menyulitkan ayah, Beliau tadi mencoba membicarakan, akan tetapi tidak jelas. " 

Thio Sin Han  termenung. Kemudian  menengadah  ke udara, Teringatlah ia tadi, ibunya selalu mengucurkan airmata apabila ayahnya nampak sulit berbicara, Maka bertanyalah dia dengan suara tegas: 

"Cici, bagaimana dengan ibu. ? Maksudku, apakah ibu 

yang salah?" 

Sejenak Siu Lan nampak bimbang, lalu menjawab: 

"Samar-samar  pernah  kudengar  hal  itu tetapi aku tak 

yakin, Ayah sendiri tadi, juga tidak merasa yakin dalam hal ibu yang membuat bibit permusuhan." 

Sin Houw menarik napas, lalu berkata lagi: