Elang Terbang di Dataran Luas BAB 39. GERAK LANGKAH KEDUA

BAB 39. GERAK LANGKAH KEDUA

Begitu fajar menyingsing, Sah Peng telah membawa ketiga jenazah itu ke toko peti mati Thio-ki, dengan biaya dua kali lipat lebih mahal, dia membeli tiga buah peti mati milik orang lain yang terbuat dari kayu berkwalitas tinggi.

Setelah itu dia pun langsung mengawasi sendiri para pegawai Thio-ki memasukkan ketiga sosok jenazah itu ke dalam peti mati, walaupun telah menggunakan rempah- rempah harum anti pembusukan, dia melarang siapa pun untuk menyentuh mayat mereka, bahkan pakaian yang dikenakan pun sama sekali tidak diganti.

Kemudian dia pun membawa sendiri ketiga buah peti mati itu menuju ke kompleks pemakaman terbesar di kaki bukit luar kota, dengan mengajak seorang Suhu Hong-sui terkenal, ia memilih sebidang tanah kubur.

Tanah yang dipilih berada di kaki bukit, sedang petugas yang menggali kubur pun orang-orang yang  berpengalaman, tak sampai satu jam kemudian, semua peti mati sudah masuk ke tanah. Dalam satu jam batu nisan telah selesai dibuat, bahkan tertera dengan jelas nama Oh Toa-leng, Tu Yong, serta Lim Ceng-hiong.

Setelah itu Sah Peng mengawasi sendiri pemasangan batu nisan, bahkan membakar uang kertas sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Ia berdiri cukup lama di depan kubur sebelum pergi, meneguk tiga cawan arak dan kelihatannya meneteskan air mata.

Ketika meninggalkan kompleks tanah pekuburan itu, tengah hari pun belum menjelang.

Semua yang dia lakukan sangat wajar, semuanya merupakan pekerjaan yang dilakukan demi seorang sahabat yang telah meninggal, sedikit hal yang mencurigakan pun tidak ada.

Tapi tengah hari baru lewat, Lu-sam telah menyaksikan ketiga sosok mayat Oh Toa-leng.

Ooo)d*w(ooO

Dengan sikap yang sangat tenang Pancapanah mendengarkan laporan anak mudanya, setelah termenung cukup lama ia baru mengangkat wajah dan bertanya kepada Siau-hong yang duduk di hadapannya, "Kalau memang Lu- sam mengutus tiga orang untuk membunuhmu, mengapa ia tidak membiarkan mereka turun tangan bersama?"

"Sebetulnya aku sendiri pun tidak paham," jawab Siau- hong, "Tapi sekarang aku sudah memahami niatnya.”

“Coba kau jelaskan."

"Pertama, jagoan lihai anak buah Lu-sam amat banyak jumlahnya, ketiga orang itu bukan kekuatan utama untuk melakukan penyerangan, mati-hidup mereka sama sekali tak dipedulikan Lu-sam."

"Betul."

"Kedua, sekalipun mereka bertiga turun tangan bersama, belum tentu mereka dapat membunuhku, apalagi kemungkinan aku pun mempunyai teman yang membantu."

"Betul," Pancapanah mengangguk, "Dalam hal ini aku yakin Lu-sam pun pasti dapat melihat dengan jelas, selama ini dia enggan melancarkan serangan total kepada kita lantaran dia tak pernah bisa menilai kekuatan kita sebenarnya, apalagi sama sekali tak mampu menemukan aku."

Pancapanah memang bagaikan segulung angin, jejaknya jauh lebih sukar dilacak ketimbang Lu-sam.

"Walaupun sasaran utama Lu-sam adalah aku, bukan kau," ujar Pancapanah lebih jauh, "Tapi sekarang dia pasti menduga kau adalah penyerang utama yang kuandalkan, oleh sebab itu dia harus menyelidiki dulu kemampuan ilmu silat yang kau miliki."

"Betul, tujuannya mengutus ketiga orang itu pasti bermaksud hendak menyelidiki kemampuan ilmu silatku."

Kemudian ia menambahkan, "Aliran ilmu pedang yang dimiliki ketiga orang itu berbeda, cara mereka membunuh pun berbeda."

"Dia sengaja mengutus mereka, tujuannya tak lain adalah ingin melihat dengan cara apa kau menghabisi nyawa mereka, dari caramu bertindak akan ketahuan aliran ilmu pedang yang kau miliki."

"Karena dia memang ingin sekali membunuhku dengan tangan sendiri," kata Siau-hong sambil tertawa getir, "Agar tercapai tujuannya ini, mengorbankan tiga nyawa tentu bukan masalah besar baginya."

"Bila dia benar-benar bertujuan begitu, berarti dalam setengah hari dia sudah harus dapat melihat jenazah mereka bertiga."

"Kenapa?"

"Sebab dia harus memeriksa mulut luka yang mematikan itu, dari sana baru bisa memahami caramu turun tangan," Pancapanah menerangkan, "Apabila selisih waktunya kelewat lama, mulut luka itu tentu akan menyusut hingga berubah bentuk."

"Aku pun telah berpikir begitu," kata Siau-hong "Ketika tempo hari Pek-hun-shiacu Yap Koh-seng mematas kutung setangkai bunga, dari bekas sayatan pada tangkai bunga itu Sebun Jui-soat dapat meraba tinggi-rendahnya ilmu pedang yang dia miliki."

"Cerita semacam ini bukan dongeng, bukan cerita menjelang tidur, seorang jago yang benar-benar sempurna ilmu pedangnya, dia pasti dapat melakukan hal semacam ini."

"Aku percaya, tapi aku tak percaya ilmu pedang yang dimiliki Lu-sam telah mencapai tingkat kesempurnaan seperti ini."

"Bukankah kau sendiri pun pernah berkata, jagoan yang menjadi anak buahnya banyak tak terhingga, sekalipun dia sendiri belum mampu, di sampingnya pasti ada jagoan yang sanggup berbuat begitu."

Siau-hong termenung sejenak, kemudian katanya, "Sekarang aku jadi semakin tak mengerti."

"Apa yang tidak kau mengerti?" "Kalau memang Lu-sam terburu-buru ingin melihat mulut luka yang mematikan di tubuh ketiga sosok mayat itu, mengapa salah satu anak buahnya justru terburu-buru ingin mengubur jenazah mereka?"

Sebuah persoalan yang penting sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijelaskan.

Namun Pancapanah seolah sudah mengetahui jawabannya.

Tiba-tiba ia berpaling ke arah orang yang barusan memberi laporan itu, kemudian bertanya, "Ketiga sosok mayat itu dikubur di mana?"

"Di kaki bukit di luar kota."

"Siapa yang memilihkan bidang tanah kubur itu?” “Seorang Suhu Hongsui, dia she Liu bernama Liu Sam-

gan.”

“Di hari biasa apa kesenangan orang ini?"

"Suka berjudi, dia selalu menganggap dirinya bukan saja getol berjudi bahkan bisa menghitung secara tepat, tapi sayangnya dari sepuluh kali main judi, sembilan kali di antaranya kalah total."

"Apakah dia selalu butuh banyak uang?" "Benar."

Pancapanah segera tertawa dingin, mendadak ujarnya kepada Siau-hong seraya berpaling, "Beranikah kau bertaruh denganku?”

“Bertaruh apa?"

"Aku berani bertaruh, saat ini manusia yang bernama Liu Sam-gan itu pasti sudah mati." Pancapanah belum pernah bertemu dengan Liu Sam- gan, bahkan baru pertama kali ini mendengar namanya disebut orang.

Tapi ia berani bertaruh, bukan saja saat ini orang itu sudah mati, bahkan ia berani bertaruh orang ini tewas pada satu jam berselang.

Dia mengajak Siau-hong bertaruh apa saja, bahkan caranya bertaruh pun sangat ngawur.

Namun Siau-hong menolak untuk bertaruh.

Biarpun Siau-hong tak tahu dengan cara apa dia bisa mengetahui Liu Sam-gan telah tewas, tapi ia tahu, belum pernah Pancapanah melakukan pekerjaan yang tidak diyakininya.

Siau-hong percaya, bila Pancapanah berani bertaruh dengan orang lain, dia pasti tak bakal kalah.

Ternyata tak salah, Pancapanah memang tidak kalah.

Liu Sam-gan betul-betul sudah mati, mati di atas pembaringan sendiri.

Tidak sampai setengah jam, orang yang diutus untuk melakukan penyelidikan telah kembali, membuktikan kebenaran peristiwa itu.

"Liu Sam-gan tewas ditusuk tenggorokannya dengan sebatang sumpit, orang yang membunuhnya bertindak bersih tanpa meninggalkan jejak atau bekas apa pun, malah orang yang berada di seputar sana sama sekali tak mendengar suara gaduh."

Pancapanah sedikit pun tidak merasa heran, semua kejadian sudah berada dalam dugaannya.

Yang keheranan justru Siau-hong. Tak tahan dia pun bertanya kepada Pancapanah, "Dari mana kau bisa tahu kalau dia pasti sudah mati?"

Pancapanah tidak menjawab, dia hanya tertawa hambar. "Masih ada satu hal lagi yang ingin kupertaruhkan

denganmu, mau bertaruh apa saja tak masalah," katanya.

"Kali ini persoalan apa yang ingin kau pertaruhkan?" "Aku berani bertaruh ketiga buah peti mati Oh Toa-leng

dan kawan-kawan saat ini sudah tidak berada di dalam liang kuburnya."

Sambil berpaling ke arah Siau-hong, tambahnya, "Percayakah kau?"

Siau-hong tidak percaya.

Orang mati sudah dimasukkan ke dalam peti mati, peti mati pun sudah masuk ke liang kubur, bagaimana mungkin secara tiba-tiba bisa menghilang?

Atas dasar apa Pancapanah berani menantangnya bertaruh? Hampir saja Siau-hong tak kuasa menahan diri dan menerima tantangannya itu.

Masih untung ia dapat menguasai diri.

Sebab kalau dia benar-benar bertaruh maka dia segera akan menderita kekalahan, berapa pun yang dia pertaruhkan bakal habis.

Ternyata peti mati Oh Toa-leng bertiga benar-benar sudah tidak berada di dalam liang kubur mereka.

Liang kubur itu dalam keadaan kosong.

Tiga buah peti mati yang terbuat dari kayu berkwalitas tinggi tentu saja lenyap dari tempat itu.

Lalu ke mana perginya ketiga buah peti mati itu? Banyak kejadian aneh di dunia ini yang tampaknya rumit dan membingungkan, padahal jawabannya terkadang justru sangat sederhana.

Begitu pula dalam kejadian ini.

Ternyata peti mati itu sudah diangkut orang melalui lorong bawah tanah.

Di bawah tanah kubur di kaki bukit itu rupanya sudah disiapkan lorong bawah tanah yang amat panjang.

Terdengar Pancapanah bertanya lagi kepada Siau-hong, "Sekarang tentunya kau sudah paham bukan, mengapa aku berani memastikan Liu Sam-gan telah mati?"

Siau-hong membungkam, sama sekali tak bersuara. Sekalipun dia sudah mengerti pun tak bakal buka suara.

Karena dia menyadari sesuatu, selama berada di hadapan

Pancapanah lebih baik dia tutup mulut rapat-rapat.

Karena itu terpaksa Pancapanah memberi penjelasan sendiri.

"Orang yang bertugas mengubur ketiga peti mati itu bernama Sah Peng, biarpun dia tak ternama dalam dunia persilatan, namun orang itu justru salah satu pembantu yang paling diandalkan Lu-sam."

Siau-hong telah mengetahui hal ini.

"Sejak awal dia telah menyiapkan tanah pekuburan itu, di bawahnya telah digali lorong bawah tanah yang sangat panjang," kembali Pancapanah menjelaskan, "Untuk menghindari agar kita tidak dicuriga, maka dicarinya Liu Sam-gan sebagai tameng."

Ia berhenti sejenak, kemudian tambahnya, "Saat ini Liu Sam-gan sedang butuh uang, maka Sah Peng pun membelinya dengan sejumlah uang, tentu saja setelah urusan beres, dia pun dibunuh untuk menutup mulut."

Menggunakan sebatang sumpit untuk membunuh seseorang tanpa menimbulkan suara gaduh, tak diragukan cara Sah Peng turun tangan jauh lebih tepat sasaran, jauh lebih keji daripada cara Masa melancarkan serangan.

"Akan tetapi kecerdasan otaknya jauh lebih menakutkan daripada caranya melakukan pembunuhan," ujar Pancapanah lagi, "Karena dia mampu menemukan cara seperti ini."

Cara ini tak disangkal merupakan satu-satunya cara untuk meloloskan diri dari pelacakan dan pengejaran anak buah Pancapanah. Dan hanya dengan cara ini pula, ketiga sosok mayat itu dapat diantar ke tempat tinggal Lu-sam dalam waktu yang paling singkat.

Akhirnya Siau-hong buka suara, ujarnya, "Bagaimana pun juga, ketiga buah peti mati yang berisikan tiga sosok mayat itu tak mungkin terbang sendiri, mau dikirim ke mana pun ketiga buah peti mati itu pasti ada orang yang menggotongnya."

"Betul."

"Untuk menggotong tiga buah peti mati yang begitu berat, mau menuju ke mana pun, sedikit banyak mereka pasti akan meninggalkan jejak."

• "Menurut akal sehat seharusnya memang demikian." "Mengapa kita tidak melakukan pengejaran berdasarkan

jejak yang ditinggalkan?"

"Bila kau ingin melakukan pengejaran, kami segera akan berangkat," kata Pancapanah, "Hanya saja aku tetap ingin menantangmu untuk bertaruh satu kali." "Bertaruh apa?"

"Aku berani bertaruh mereka pasti tak akan berhasil melacak jejak ketiga peti mati itu."

Kali ini Siau-hong masih tetap menolak untuk bertaruh.

Kalau kuburan itu terletak di sebelah selatan kompleks tanah pekuburan, maka jalan keluar dari lorong rahasia itu berada di sisi utara bukit.

Di seputar mulut gua tentu saja tertinggal banyak jejak. Karena di sekitar tempat itu baik berupa tanah berumput atau tanah lumpur, untuk mengangkut tiga buah peti mati yang berat pasti akan meninggalkan banyak jejak di atas permukaan tanah.

Terlepas mereka mau digotong oleh manusia maupun diangkut dengan kereta.

Akan tetapi bila kali ini Siau-hong menerima tantangan Pancapanah untuk bertaruh, maka Siau-hong tetap bakal kalah.

Sebab tak jauh dari pintu lorong itu terdapat sebuah sungai kecil, meskipun arus airnya tidak begitu deras, namun tidak sulit untuk mengangkut ketiga buah peti mati itu dengan menggunakan rakit yang terbuat dari kulit kambing.

Mau air sungai, air telaga ataupun air laut, di atas air tak mungkin akan meninggalkan jejak apa pun.

Seseorang yang sedang dikejar, asal dia terjun ke dalam air maka biar dilacak anjing pemburu yang paling hebat, memperoleh pendidikan paling disiplin pun, jangan harap jejaknya akan terendus lagi. Langit nan biru, pegunungan nan hijau, aliran sungai dengan arus yang perlahan, ada sederet daun kering mulai berguguran dari sebatang pohon besar.

Di bawah pohon berkerumun manusia, manusia dalam jumlah banyak... hanya ada manusia, tak ada peti mati.

Ketika Siau-hong dan Pancapanah baru berjalan keluar dari lorong bawah tanah, seseorang segera datang menghampiri mereka.

Seseorang yang amat tahu aturan, caranya berjalan amat beraturan, pakaiannya beraturan, lagak maupun caranya berbicara sangat beraturan, pekerjaan dan perbuatan apa pun yang dilakukan, tak pernah meninggalkan kesan berlebihan.

Dahulu Siau-hong pernah bertemu dengan manusia semacam ini, tapi dia sama sekali tak menyangka akan bertemu lagi dengan manusia semacam ini di tempat seperti ini pula.

Congkoan atau pegawai suatu keluarga persilatan kenamaan, Ciangkwe sebuah rumah makan yang tersohor dan bersejarah, seringkali merupakan orang-orang semacam ini.

Karena biasanya mereka berasal dari seorang kacung kecil, sejak masih kecil sudah mendapat pendidikan yang luar biasa disiplin dan ketatnya, harus berjuang dan bersusah payah merangkak sebelum akhirnya berhasil mencapai posisi semacam ini sekarang.

Maka dari itu mereka tak akan melakukan perbuatan yang melampaui aturan, tak akan membuat siapa pun merasa muak dan benci.

Manusia semacam ini mengapa bisa muncul di tempat seperti ini? Kini orang itu telah berjalan mendekat, sambil tersenyum memberi hormat kepada Siau-hong dan Pancapanah.

"Hamba Lu Kiong," katanya, "Lu dari huruf mulut yang ditumpuk dan Kiong yang berarti menghormati."

Meskipun senyuman dan sikapnya sangat menghormat, namun memberi kesan sedikit tengik.

"Sam-ya secara khusus mengutus hamba untuk menanti kedatangan kalian berdua.”

“Sam-ya?" tanya Siau-hong, "Lu-sam maksudmu?” “Benar."

"Kau tahu siapakah kami?” “Hamba tahu."

"Mau apa dia perintahkan kau menunggu kami di sini?" kembali Siau-hong bertanya, "Apakah ingin mengajak kami pergi menemuinya?"

"Terus terang, biarpun hamba sudah bertahun-tahun mengikuti Sam-ya, namun hamba belum pernah tahu dengan jelas di mana Sam-ya berada."

Ia berbicara dengan tulus dan jujur, sekalipun seorang wanita yang besar rasa curiganya pun pasti akan beranggapan bahwa dia bukan sedang bicara bohong.

Yang lebih aneh lagi, perempuan yang banyak curiga terkadang justru merupakan orang pertama yang mempercayai persoalan yang tidak dipercayai orang lain, mempercayai masalah yang tak bisa dipertanggung- jawabkan kebenarannya.

Siau-hong maupun Pancapanah tidak mengidap penyakit banyak curiga.

Mereka bukan kaum wanita. Tapi mereka percaya semua perkataan yang diucapkan Lu Kiong bukan kata-kata bohong sebab orang yang berbohong di hadapan mereka segera akan ketahuan.

Karena itu kembali Siau-hong bertanya, "Ada urusan apa Lu-sam minta kau datang mencari kami?"

"Sudah cukup lama Sam-ya beradu kemampuan dengan kalian berdua, telah lama beliau tak pernah saling bersua dengan kalian," kata Lu Kiong, "Oleh sebab itu, dia sengaja mengutus hamba untuk menunggu kedatangan kalian berdua di sini dan secara khusus mengundang kalian untuk bersantap."

"Dia mengundang kami bersantap?"

"Benar, hanya sebuah undangan makan biasa, sebagai pertanda rasa hormat kami."

Mengapa Lu-sam mengundang makan Pancapanah dan Siau-hong?

Mungkinkah langkah yang diambil pun merupakan sebuah perangkap?

Apakah di dalam hidangan telah mereka campuri dengan racun jahat tanpa wujud, tanpa bentuk, tanpa bau?

Siau-hong memandang ke arah Pancapanah, Pancapanah pun memandang ke arah Siau-hong.

"Pergi ke sana?"

"Aku akan pergi, aku pasti akan ke sana," jawab Pancapanah. "Kenapa?"

"Karena sudah lama aku tak pernah diundang orang makan."

Lu Kiong tidak berbohong, Lu-sam memang mengundang Siau-hong dan Pancapanah untuk bersantap. Tapi ditinjau dari sudut pandang lain, undangan makanan ini justru sangat istimewa.

Pancapanah adalah seseorang yang sangat istimewa, dia suka menyendiri, suka berkelana.

Selama ini dia sudah terbiasa hidup seorang diri di tengah gurun yang sepi, kejam dan tak berperasaan, dengan jagat raya sebagai selimut, tanah dataran sebagai ranjang, asal bisa digunakan untuk menangsal perut, dia akan melahap semuanya.

Karena dia harus melanjutkan hidup.

Tapi yang paling dia sukai bukanlah daging, rangsum kering atau kue dan sebangsanya.

Dia paling suka dengan bawang, sejenis bawang yang punya rasa khas, bawang sebagai teman nasi, khususnya nasi putih yang baru keluar dari kuali.

Bagi seseorang yang sepanjang tahun hidup bergelandangan di tengah gurun, nasi putih merupakan hidangan paling istimewa yang dirindukan.

Hidangan yang disiapkan Lu Kiong atas perintah Lu- sam tak lain adalah nasi putih dan bawang.

Siau-hong pun seorang pengembara.

Seorang pengembara yang tak punya akar seperti daun yang berguguran terhembus angin, seperti enceng gondok yang terapung di atas permukaan air.

Tapi setiap kali tersadar dari mabuk di tengah malam buta, di saat ia tak bisa memejamkan mata, yang paling dipikirkan saat itu adalah rumahnya, ibunya.

Dia pun pernah punya rumah. Rumahnya sederhana dan miskin, nyaris sulit baginya untuk hidup menikmati daging. Tapi cinta kasih seorang ibu terhadap putra tunggalnya selalu tak pernah akan berubah walau dikarenakan alasan apa pun.

Ibunya seperti ibu-ibu yang lain, selalu berharap putranya dapat tumbuh tinggi besar, sehat, dan kuat.

Oleh sebab itu asal ada kesempatan, ibunya selalu akan membuatkan hidangan kecil yang lezat dan bergizi untuk dirinya.

Orak-arik telur, daging cacah masak Pek-cay, oseng- oseng kecap pedas, telur asin daging kukus.

Semua hidangan itu hanya hidangan kecil yang amat sederhana di wilayah Kang-lam, tapi merupakan hidangan yang paling disukai Siau-hong semasa kecil dulu.

Ternyata Lu-sam memerintahkan Lu Kiong untuk menyiapkan hidangan itu.

Selain daripada itu, tentu saja Lu-sam pun menyiapkan arak untuk mereka berdua.

Walaupun setiap peminum arak mempunyai kegemaran dan minuman favorit yang berbeda, tapi arak yang benar- benar jempolan pasti akan disukai setiap orang.

Arak yang disiapkan Lu-sam untuk mereka berdua benar-benar semacam arak yang berkwalitas tinggi, asal kau seorang peminum, pasti akan suka arak wangi ini.

Pancapanah meneguk dulu satu cawan, kemudian baru bertanya kepada Lu Kiong yang melayani di sisinya, "Apakah kau merasa keheranan?"

"Heran soal apa?"

"Heran, karena aku tak kuatir arak ini sudah dicampuri racun jahat?" "Hamba tidak merasa heran," jawab Lu Kiong, "Sebab jika Sam-ya mencampurkan racun dalam arak hanya untuk membokong panah sakti panca bunga, bukankah perbuatannya itu sama artinya dengan memandang diri sendiri kelewat rendah?"

"Tepat sekali," kembali Pancapanah meneguk secawan arak, "Kau memang tak malu mengikuti Lu-sam selama banyak tahun, hanya saja kau masih tetap salah mengartikan satu hal."

"Soal apa?"

"Kau sangka Lu-sam benar-benar ingin mengundang kami untuk bersantap?"

"Memangnya bukan?"

"Tentu saja bukan!" tegas Pancapanah, "Dia mengundang kami bersantap tak lain agar kami memahami satu hal, yakni dia sangat mengetahui segala sesuatu tentang kami, bahkan hidangan dan kesukaan kami pun dia ketahui dengan sejelas-jelasnya."

Setelah menghela napas, tambahnya, "Orang lain mengatakan Po Eng adalah seorang jagoan hebat, padahal Lu-sam pun sama saja."

"Bagaimana dengan kau sendiri?" mendadak Siau-hong bertanya.

"Aku?" sekali lagi Pancapanah menghela napas, "Bila kau bertanya manusia macam apakah diriku, maka kau telah salah bertanya."

"Kenapa?"

"Karena aku sendiri pun tak pernah bisa memahami tentang diriku sendiri." Pancapanah tidak membiarkan Siau-hong bertanya lebih lanjut, balik tanyanya, "Bagaimana dengan kau sendiri? Tahukah kau manusia macam apakah dirimu sendiri?"

Siau-hong tidak menjawab, Pancapanah telah mewakilinya menjawab, "Kau adalah manusia aneh, seorang yang sangat aneh."

"O, ya?"

"Kau adalah orang Kangouw, seorang pengembara, sering kali harus mengadu nyawa dan bercucuran darah hanya gara-gara urusan orang lain."

Siau-hong mengakui akan hal itu.

"Kau suka minum arak, suka perempuan, supel, emosional," ujar Pancapanah lebih lanjut, "Tapi barusan aku tiga kali menantangmu bertaruh, tak sekalipun kau terima tantanganku itu."

"Aku tak suka bertaruh."

"Justru karena kau tak suka bertaruh, maka aku baru heran," sela Pancapanah, "Padahal tak seorang pun di antara manusia macam kau yang tidak suka bertaruh."

"Sebenarnya aku pun senang bertaruh, hanya saja aku bertaruh dengan semacam manusia."

"Sahabatmu?"

"Salah! Aku hanya minum arak bersama temanku.” “Lalu dengan manusia macam apa kau bertaruh?” “Musuhku!"

"Apa yang sering kalian pertaruhkan?” “Bertaruh nyawa." Pancapanah tertawa lebar. "Aku memahami maksudmu, tapi belum paham benar manusia macam apa dirimu itu," katanya.

"Memangnya aku masih memiliki sesuatu yang aneh?" tanya Siau-hong.

"Tentu saja ada," jawab Pancapanah, "Ada banyak lelaki yang selalu memandang penting kaum wanita daripada teman, tapi kau berbeda."

"O, ya?"

"Sikapmu terhadap sahabatmu memang selalu hebat, tapi sikapmu terhadap perempuanmu sangat jelek, peduli perempuan itu kau sukai atau tidak, semuanya sama saja."

"O, ya?"

"Semisal Yang-kong. Dia seharusnya terhitung sahabatmu." Siau-hong mengakui.

"Tapi selama dua hari ini, kau selalu berusaha menghindari pertemuan dengannya," kata Pancapanah, "Hal ini dikarenakan dia adalah seorang wanita, bahkan sedikit banyak kau agak menyukainya."

Siau-hong tidak menyangkal.

"Ada lagi Soso," ujar Pancapanah lebih jauh, "Terlepas perempuan macam apakah dia, yang pasti dia telah melahirkan anak untukmu, terlepas dia datang karena apa, sekarang dia toh sudah datang."

Dia pun bertanya kepada Siau-hong, "Tapi bagaimana sikapmu terhadapnya? Kau bertemu dia seakan bertemu setan hidup saja, asal kau lihat dia datang menghampirimu, kau pun langsung melarikan diri."

Siau-hong terbungkam, tidak menjawab. Tapi ia tidak menutup mulutnya rapat-rapat, karena dia meneguk araknya cawan demi cawan, orang yang menutup mulut rapat-rapat tentu saja tak bisa minum arak.

"Masih ada Che Siau-yan," untuk kesekian kalinya Pancapanah berkata, "Bagaimana pun juga, aku rasa sikapnya terhadapmu cukup baik, tapi bagaimana sikapmu terhadapnya?"

Setelah menghela napas, lanjutnya, "Ketika ia pergi, kau sama sekali tidak menegur atau bertanya apa-apa kepadanya, kau seolah sama sekali tak menaruh perhatian, tak peduli ke mana dia mau pergi, tak peduli mati- hidupnya."

Tiba-tiba Siau-hong meletakkan cawan araknya, kemudian sambil menatap tajam wajah Pancapanah, katanya, "Sekalipun aku perhatikan mereka, lalu apa gunanya? Apa yang bisa kukatakan kepada mereka? Dapat melakukan apa untuk mereka?"

"Tapi paling tidak kau seharusnya memberikan sedikit pernyataan atau perhatian? Pernyataan kalau kau kuatir dan perhatian terhadap mereka."

"Dengan cara apa aku harus memberikan pernyataan itu?" kembali Siau-hong memenuhi cawannya dengan arak, "Kau minta aku berlutut, berlutut di hadapan mereka, mohon mereka memaafkan aku atau menumbukkan kepalaku ke tembok, menumbukkan kepalaku hingga berdarah-darah?"

Pancapanah tak mampu berbicara lagi. Kelihatannya Siau-hong sudah mulai mabuk.

"Sekalipun aku melakukan semua itu, lalu kelakuanku itu bisa menandakan apa?" Kepada Pancapanah tanyanya lebih jauh, "Apakah aku harus berbuat begitu baru dapat dianggap sebagai suatu pernyataan cintaku kepada mereka?"

Pancapanah tak sanggup menjawab.

Kembali Siau-hong bertanya, "Bila kau jadi aku, apakah kau akan berbuat begitu?"

"Tidak!" akhirnya Pancapanah menghela napas panjang, "Aku tak akan melakukan hal itu."

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku pun akan seperti dirimu, apa pun tidak kulakukan," Pancapanah memenuhi juga cawannya dengan arak, "Bila tiba saat terdesak, mungkin kita akan pergi mati demi mereka, tapi dalam keadaan sekarang, kita memang tak perlu melakukan apa pun."

Mimik wajahnya berubah berat dan serius, terusnya, "Seorang lelaki, seorang yang benar-benar lelaki, terkadang urusan apa pun akan dia lakukan, tapi terkadang terhadap urusan apa pun dia tak akan melakukannya."

"Betul, memang begitulah."

Pancapanah kembali menghela napas panjang, dia mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya.

"Mungkin inilah kepedihan yang harus dialami oleh manusia macam kita."

Lu kiong yang selama ini berdiri melayani mereka tiba- tiba ikut menghela napas panjang.

"Padahal setiap orang tentu memiliki kepedihan," katanya, "Seperti contohnya manusia macam hamba, walaupun kami harus menumpang hidup dan setiap saat jiwa kami akan melayang, namun kami pun memiliki kepedihan yang mengganjal hati." "Kalau begitu tak ada salahnya kau katakan." "Hamba tak dapat mengatakannya." "Kenapa?"

"Karena manusia macam hamba, melakukan perbuatan apa pun selalu tak bebas, biarpun dalam hati merasa sedih, perasaan itu hanya boleh tersimpan dalam hati dan tak boleh diungkap," kata Lu Kiong "Mungkin inilah kesedihan terbesar bagi manusia macam kami."

Tiba-tiba parasnya memperlihatkan perubahan yang sangat aneh, seolah-olah dia telah mengambil keputusan.

"Tapi biarpun orang semacam itu suatu ketika dapat melakukan satu-dua macam perbuatan yang dia sendiri pun tak habis mengerti, mengucapkan beberapa kata yang mungkin dia sendiri kebingungan, meski setelah mengatakannya jelas dia akan menyesal, namun dia tetap akan mengutarakannya."

"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Siau-hong. "Barusan apakah kalian berdua menyinggung soal nona

Che?"

"Benar."

"Nona Che Siau-yan yang kalian maksudkan apakah dahulu lebih suka berdandan menjadi anak lelaki?”

“Benar."

"Bila dia yang kalian maksudkan, maka mulai sekarang kalian tak perlu menguatirkan keselamatan jiwanya lagi.”

“Kenapa?" tanya Siau-hong lagi.

"Karena saat ini dia hidup berkecukupan," kata Lu Kiong sambil tertawa, tertawa yang sangat dipaksakan, "Mungkin jauh lebih baik daripada apa yang kalian bayangkan."

Siau-hong menatapnya, lewat lama baru bertanya, "Tahukah kau di mana dia sekarang?"

"Hamba tahu." "Bisa dikatakan?"

Kembali Lu Kiong termenung cukup lama, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Sebetulnya hamba tak ingin mengatakannya, tapi sekarang rasanya aku harus mengatakannya."

Katanya lebih jauh, "Nona Che telah diterima Sam-ya menjadi adik angkatnya, bahkan Sam-ya telah menjadi walinya untuk mencarikan dia jodoh yang cocok."

Paras Siau-hong sama sekali tak berubah, bahkan reaksi sedikit pun tak ada, dia hanya menghabiskan tiga cawan arak, meneguk dengan sangat cepat.

"Mau tunangan?" sehabis meneguk tiga cawan arak, Siau-hong baru bertanya, "Dia tunangan dengan siapa?"

"Hamba pun kurang jelas," sahut Lu Kiong, "Hamba hanya tahu calon suaminya adalah seorang jago pedang ilmu pedangnya sangat hebat, konon sudah menjadi jago pedang nomor wahid di kolong langit."

"Triiiing!", cawan arak di tangan Siau-hong hancur berkeping.

"Tokko Ci?" tanyanya, "Apakah orang yang kau maksud adalah Tokko Ci?"

"Rasanya memang dia."

Siau-hong tidak bertanya lagi, dia pun tidak buka suara lagi. Mulutnya seolah-olah telah dibekap oleh sebuah tangan yang tak berwujud, dijahit dengan jarum yang tak terlihat, bukan saja tidak bicara lagi, arak pun tidak diminum lagi.

Sementara Pancapanah tak tahan, segera berseru, "Jadi sekarang Tokko Ci berada bersama Lu-sam?"

"Mereka memang sahabat karib, selama ini Sam-ya selalu menaruh hormat kepadanya."

Kemudian setelah berpikir sejenak, ujarnya lagi, "Tokko- sianseng memang manusia aneh, sekembalinya kali ini dia seperti berubah semakin aneh, setiap hari dari pagi hingga malam dia selalu duduk kaku di situ, sepatah kata pun tak pernah bicara, hingga melihat kemunculan nona Che, keadaannya baru sedikit mendingan."

Pancapanah tertawa dingin, sambil berpaling ke arah Siau-hong, katanya, "Sekarang aku baru paham."

"O, ya?"

Ooo)d*w(ooO