Elang Terbang di Dataran Luas BAB 36. SAATNYA MASUK NERAKA

BAB 36. SAATNYA MASUK NERAKA

"Karena racun semacam ini memang ditularkan melalui mata, asal kau memandangnya sekejap, maka kau pun ikut tertular," kata Pancapanah, "Di kolong langit masih terdapat banyak macam racun penyakit (virus) yang dapat menyebar dan menular pada orang lain. Asalkan kau  berada dalam satu ruangan dengan sang penderita, maka besar kemungkinan kau bakal tertular juga penyakit yang sama."

Penjelasannya amat teliti dan jelas.

"Bila ada orang mampu menggunakan racun penyakit itu dan menciptakannya menjadi semacam obat racun, maka cukup kau pandang sekejap pun, dirimu sudah ikut keracunan."

Kembali Pancapanah berkata, "Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang gampang dilakukan, tapi aku tahu memang ada orang yang telah berhasil menciptakan obat racun semacam ini."

Akhirnya Siau-hong mengerti.

Dia pernah menyaksikan orang-orang yang mati dalam keadaan berlutut, sampai ajalnya tiba pun mereka masih belum tahu bagaimana dirinya bisa keracunan.

Sebelum mendengar penjelasan dari Pancapanah, dia pun seperti mereka, mimpi pun tak pernah menyangka kalau di kolong langit bisa terdapat obat beracun yang begitu menakutkan.

Mendadak Pancapanah bertanya lagi kepadanya, "Kau masih ingat bocah perempuan yang senang membopong anjing putih kecilnya?" Tentu saja Siau-hong masih ingat.

"Dialah yang bersembunyi di dalam patung lilin itu," Pancapanah menerangkan, "Oleh sebab itu, walaupun kau hanya memandangnya sekejap, namun sudah terkena racunnya. Racun jahat tak berwarna, tak berwujud, dan tak berbau."

"Karena itu siapa pun yang berani memasuki pintu kantor dagang Eng-ki, mereka segera mati secara mengerikan?”

“Benar."

Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Pancapanah berkata pula, "Semua itu bukan ilmu sihir, bukan ilmu tenung, tapi racun jahat yang berhasil diramu setelah melakukan penelitian dan percobaan yang berat dan sulit, untuk menghindari keracunan saja sudah teramat sulit, apalagi berusaha memunahkannya."

"Tapi pada akhirnya kau berhasil juga mematahkan serangan itu."

"Aku pun harus berpikir cukup lama, merencanakannya cukup lama."

"Cara apa yang kau gunakan?"

"Menyerang dengan api!" kata Pancapanah, "Hanya menyerang dengan api, mereka baru bisa dimusnahkan."

Kembali ia menjelaskan, "Aku sengaja merontokkan kapak terbang Lo-ji karena kuatir kehadiran mereka akan mempengaruhi rencanaku, tapi aku tidak menyangka kalau kau akan menyerbu masuk tanpa memikirkan resikonya."

Ditatapnya Siau-hong sekejap.

"Semula kusangka kau adalah seorang yang tenang dan pandai mengendalikan diri." Siau-hong tertawa getir.

Sebetulnya dia sendiri pun mengira dirinya begitu.

Sekarang, tentu saja Siau-hong sudah mengerti, kobaran api di dalam neraka yang dilihatnya bukan sebuah ilusi, bukan sebuah khayalan.

Jilatan api telah melelehkan patung-patung lilin, menghancurkan bangunan rumah, orang yang bersembunyi di dalam patung lilin pun terpaksa harus melarikan diri.

Asal mereka kabur dari balik patung lilin, siapa pun jangan harap bisa lolos dari bidikan panah sakti panca bunga.

"Aku masih mempunyai satu persoalan lagi yang tak kupahami," tiba-tiba Siau-hong berkata lagi.

"Masalah apa?"

"Kalau kau memang sudah tahu di balik patung lilin ada orang, mengapa kau tidak langsung menggunakan panahmu untuk membidik mati mereka?"

Pancapanah menatap wajah Siau-hong, sinar matanya dipenuhi cemoohan dan sindiran, tanyanya dingin, "Tahukah kau siapa saja yang bersembunyi di balik patung lilin itu?"

"Aku tidak tahu."

"Aku sendiri pun tidak tahu, oleh karena itu aku tak berani berbuat begitu," kata Pancapanah, "Seandainya aku melakukannya, bukan saja sepanjang hidup bakal menyesal, kau pun akan membenciku sepanjang hidup."

"Kenapa?" Pancapanah tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia balik bertanya, "Tahukah kau siapa yang telah bersembunyi di balik patung lilinnya Soso?"

"Tidak tahu."

"Orang itu adalah dia sendiri," Pancapanah menjelaskan, "Lu-sam telah menyembunyikan dia beserta anaknya di dalam patung lilin dia sendiri, tujuannya agar kita membunuh mereka."

Kembali dia bertanya kepada Siau-hong, "Waktu itu kau masih belum tahu apakah bocah ini anakmu atau bukan, bila aku membunuh mereka ibu beranak dengan panahku, apa yang bakal kau lakukan?"

Siau-hong melengak, tertegun, kaki dan tangannya terasa dingin membeku.

Sebenarnya dia selalu menganggap dirinya telah belajar banyak, sekarang ia baru tahu bahwa dirinya masih harus belajar lebih banyak lagi.

Ia menatap orang di hadapannya yang hangat tapi kasar, kejam, dan penuh persahabatan itu, tiba-tiba muncul perasaan kagum dan hormat yang sebelumnya tak pernah timbul dalam hatinya.

Pancapanah berkata lagi, "Jauh-jauh Lu-sam mengundang kehadiran Longhud Leadkin untuk membuat patung-patung lilin itu, tujuannya bukan saja ingin memancing dan membunuh kita, Lu-sam pun tahu, kita bukan orang yang gampang masuk perangkapnya."

"Jadi dia masih mempunyai tujuan lain?"

"Tentu saja," Pancapanah tertawa dingin, "Dia ingin menciptakan kesalah-pahaman dan dendam kesumat di antara kita." Siau-hong tutup mulut, menunggu dia melanjutkan perkataannya.

"Po Eng adalah manusia hebat," ucap Pancapanah lebih jauh, "Ilmu silatnya, kecerdasan otak, serta kemampuannya mengendalikan anak buah, belum pernah tertandingi oleh siapa pun, tapi secara tiba-tiba dia diserang orang hingga mengalami kekalahan dan kehancuran, bukankah orang lain mengira dia telah dikhianati, dijual oleh rekannya?"

"Benar!" Siau-hong mengakui.

"Orang lain pasti berpendapat, orang yang bisa mengkhianatinya pastilah sahabatnya terdekat."

Pancapanah kembali meneguk arak.

"Padahal selama puluhan tahun terakhir, akulah satu- satunya sahabatnya yang paling dekat."

Kembali Siau-hong tutup mulut rapat rapat.

"Mungkin termasuk kau sendiri pun menaruh curiga kalau akulah yang telah mengkhianatinya," ujar Pancapanah lebih jauh, "Ada banyak jejak dan gejala yang membuat kau berpikir begitu, yang lebih penting lagi tentu menyangkut emas murni itu."

Siau-hong termenung, tidak menjawab.

Harus diakui, dia memang pernah berpikir begitu, hanya tiga orang yang mengetahui tempat persembunyian emas murni itu, kini emas itu lenyap, sementara dia sendiri belum pernah menyentuh emas itu, sedang Po Eng pun tak nanti akan mencuri emas milik sendiri, tentu saja orang yang paling mencurigakan adalah Pancapanah.

"Andaikata Po Eng masih hidup, bisa jadi dia sendiri pun berpendapat begitu," ujar Pancapanah, "Bila ada kesempatan, mungkin saja dia akan membunuhku di ujung pedangnya."

Sekali lagi dia mengangkat cawannya ke arah Siau-hong dan berkata lebih jauh, "Sekalipun dia percaya kepadaku, kau pun akan berpikir demikian, ketika kau menyaksikan patung-patung lilin itu, mungkin kau sudah berpikir akan hal ini."

Siau-hong tak dapat menyangkal.

Sewaktu melihat patung lilin Po Eng yang sedang menusuk patung lilin Pancapanah, bukan saja ia berpendapat demikian, bahkan menaruh curiga bahwa patung-patung lilin itu merupakan perencanaan Po Eng, rencana untuk memancing kedatangan Pancapanah.

Pada saat yang bersamaan, dia pun pernah menaruh curiga bahwa hal ini merupakan bagian dari perencanaan Pancapanah untuk memancing kehadiran Po Eng, lalu membunuhnya.

Sebuah senja yang tenang dan indah, sebuah bilik ruangan yang tenang dan senyap, dua orang perempuan cantik, seorang bocah yang baru tertidur, dua buah lentera yang baru disulut, sekantung arak yang hampir habis, sebuah rahasia yang mengejutkan, semua ini menciptakan suasana yang tak mungkin bisa diterima dan dipahami orang lain.

Berada dalam suasana seperti ini, Siau-hong sendiri pun tak tahu apakah dia sedang sadar atau mabuk? Sedang mabuk atau sadar?

Kembali Pancapanah bertanya kepadanya, "Sekarang apakah kau sudah mengerti?"

"Sudah." "Kau tahu, sekarang telah tiba saat apa?"

Siau-hong menggeleng, dia memang tak tahu, dia sama sekali tidak paham apa maksud Pancapanah itu.

Maka Pancapanah pun memberitahukan kepadanya, "Sekarang sudah saatnya untuk turun ke neraka."

"Turun ke neraka?" tanya Siau-hong, "Siapa yang akan turun ke neraka?"

"Kau!" Pancapanah meneguk habis tetesan terakhir arak dalam kantung, terusnya, "Kau yang akan turun ke neraka!"

Ooo)d*w(ooO

Malam semakin kelam, cahaya lentera makin terang malam semakin larut, sinar lentera semakin memancarkan sinarnya menerangi seluruh sudut ruangan.

Ada banyak kejadian di dunia seperti keadaan itu.

Pancapanah mengeluarkan selembar peta dan diletakkan di atas meja, selembar peta yang terbuat dari kulit kambing.

"Peta ini meliputi daerah Giok-bun-kwan dan sekitarnya, termasuk gurun Gobi hingga puncak suci kota Lhasa," Pancapanah menerangkan, "Peta ini meliputi sebuah wilayah yang sangat luas, kira-kira mencapai lima laksa, lima ribu li."

Kembali dia berkata, "Namun di wilayah yang amat luas ini, tidak banyak tempat yang berpenduduk dan ada kehidupan."

Lukisan peta itu tidak terlalu detil, tidak ada gambar sungai, telaga maupun pegunungan, yang ada hanya lingkaran tinta merah yang menunjukkan kota atau desa penting. Kembali Pancapanah bertanya kepada Siau-hong, "Coba kau hitung, ada berapa lingkaran merah yang terdapat di lembaran peta ini?"

Siau-hong telah menghitungnya, maka segera menjawab, "Semuanya berjumlah seratus sembilan puluh satu."

Pancapanah manggut-manggut tanda benar. Kemudian dia pun berkata lagi, "Keseratus sembilan puluh satu lingkaran itu merupakan sarang rahasia Lu-sam."

Kemudian tambahnya pula, "Hingga kini walaupun kita berhasil menemukan begitu banyak sarang rahasianya, tapi aku percaya meski Lu-sam masih memiliki kantor cabang atau sarang rahasia lainnya pun, jumlah itu sudah tidak banyak lagi!"

"Aku percaya akan hal itu."

Sekarang dia sudah percaya seratus persen dengan kemampuan yang dimiliki Pancapanah.

"Sekarang kita harus berhasil menemukan Lu-sam, persoalan apa pun baru bisa diselesaikan apabila berhasil menemukan dirinya."

"Betul!"

"Aku percaya kita pasti dapat menemukan dirinya di tempat-tempat itu."

Siau-hong pun percaya, sayang tempat yang harus mereka cari kelewat banyak.

"Tahukah kau, sebenarnya dia bersembunyi di sarang rahasianya yang mana?" tanya Siau-hong.

"Tidak tahu, tak seorang pun tahu," Pancapanah menggeleng. Siau-hong tertawa getir. Seratus sembilan puluh satu desa dan kota yang tersebar di wilayah begitu luas, bagaimana mungkin mereka dapat menemukannya?

"Walaupun kita telah berhasil menyelidiki tempat di mana Lu-sam mungkin bersembunyi, akan tetapi selama ini kami tak pernah turun tangan pergi mencarinya," kata Pancapanah.

"Kenapa?"

"Sebab kami tahu tak akan berhasil menemukan dirinya!"

Pancapanah menjelaskan, "Kita tidak memiliki kekuatan manusia sebanyak itu, kekuatan yang bisa terbagi menjadi seratus sembilan puluh satu rombongan dan secara terpisah pergi mencarinya, sekalipun kita berhasil menemukan jejaknya, kekuatannya saat itu pasti kecil sekali."

Siau-hong setuju dengan pendapat itu.

"Tempat persembunyian Lu-sam pasti dilengkapi dengan penjagaan yang amat ketat, biarpun ada orang kita berhasil menemukan jejaknya, belum tentu mereka sanggup memberi perlawanan," ujar Pancapanah lagi, "Sekali kita gagal menggropyoknya, jangan harap kita bisa menemukan lagi tempat persembunyiannya dengan gampang."

"Tepat sekali."

"Oleh karena itu kita tak boleh bertindak secara gegabah, apalagi menggebuk rumput mengejutkan ular, kita tak boleh melakukan perbuatan yang tidak yakin akan berhasil."

"Jadi sekarang kau sudah punya keyakinan?" tak tahan Siau-hong bertanya.

"Saat ini paling tidak aku telah menemukan sebuah cara untuk menghadapinya.”

“Cara apa?" "Sekarang walaupun kita masih belum berhasil menemukan dia, namun kita bisa menggiring orang itu agar menampakkan sendiri jejaknya."

"Kau benar-benar mempunyai keyakinan untuk melakukannya?" tak tahan kembali Siau-hong bertanya.

Pancapanah manggut-manggut, sinar mata setajam elang selicik rase segera terpancar dari tatapannya, dengan suara dalam ia bertanya, "Inginkah kau mendengarkan rencanaku?"

"Ingin, tentu saja ingin!" sahut Siau-hong.

"Pertama, kita harus menyiarkan berita agar Lu-sam tahu bahwa kita telah berhasil melacak keseratus sembilan puluh satu tempat persembunyiannya," kata Pancapanah, "Bahkan tak ada salahnya kita sebar-luaskan gambar peta ini, agar dia percaya bahwa kita benar-benar memiliki kemampuan itu."

"Yang kedua?"

"Setelah menderita kekalahan total kali ini, dia pasti tak akan berani memandang enteng kekuatan kita lagi."

"Aku percaya dia tak pernah memandang enteng dirimu," kata Siau-hong, "Siapa pun tak ada yang berani memandang enteng dirimu!"

"Ketika dia mengetahui kita sudah mulai bersiap melakukan pergerakan, dia pasti akan memperketat penjagaan," lanjut Pancapanah, "Peduli ke mana pun pergi, dia pasti akan segera menghimpun seluruh jagoan anak buahnya untuk mengintil di belakangnya."

Siau-hong segera memahami maksud tujuannya.... "Asalkan dia mulai menggerakkan anak buahnya, kita pun segera akan berhasil melacak berada di manakah dirinya."

"Betul," sambil tersenyum Pancapanah manggut- manggut, "Begitulah rencana yang kurancang."

Ditatapnya wajah Siau-hong lekat-lekat, kemudian katanya lagi, "Hanya saja, pergerakan kita kali ini sangat berbahaya, Lu-sam kaya raya dan luas pengaruhnya, jagoan yang menjadi anak buahnya juga banyak sekali, kita masih belum punya keyakinan untuk memenangkan pertarungan ini."

"Aku mengerti."

"Tapi kita tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini," kata Pancapanah lagi, "Mungkin inilah kesempatan kita untuk terakhir kalinya."

"Aku mengerti, walaupun tahu bakal masuk neraka, kita tetap harus berangkat!”

“Betul!"

"Tapi kau tak boleh pergi," ujar Siau-hong, "Kau masih ada tugas lain yang harus dikerjakan, kau tak boleh ikut menyerempet bahaya ini!"

"Benar," Pancapanah mengakui secara gamblang "Maka dari itu, aku hanya akan mengirim kau seorang."

Setelah menatap wajah Siau-hong lanjutnya, "Bila salah satu di antara kita berdua harus mati, terpaksa aku biarkan kau saja yang pergi mati."

Reaksi Siau-hong aneh sekali.

Dia tidak marah, tidak emosi, tidak pula membangkang, atau membantah, katanya hambar, "Baik! Aku yang pergi." Ooo)d*w(ooO

Bangunan rumah berwarna kuning emas, dinding berwarna kuning emas, lantai berwarna kuning emas, atap rumah berwarna kuning emas.

Hampir setiap benda yang berada dalam bangunan rumah itu berwarna kuning emas.

Kuningnya seratus persen kuning emas, sama dengan warna emas murni, dijamin tak ada bedanya.

Karena bangunan rumah itu beserta keempat dinding dan atapnya terbuat dari emas murni, permukaan tanah pun dilapisi batu bata terbuat dari emas murni. Setiap benda yang ada di sana, semuanya terbuat dari emas, bahkan meja kursi sampai jendela pun terbuat dari lapisan emas murni.

Karena pemilik rumah ini amat menyukai emas murni.

Setiap orang pasti menyukai emas, tapi sedikit sekali orang yang bisa bertempat tinggal di rumah seperti ini.

Biarpun emas murni itu menyenangkan, namun kelewat dingin, kelewat keras, kelewat tak berperasaan.

Kebanyakan orang lebih suka duduk di sebuah bangku biasa, duduk di samping jendela kayu sambil minum arak dengan cawan yang terbuat dari batu kristal.

Tapi tuan rumah pemilik bangunan ini amat menyukai emas murni.

Emas murni yang dimiliki pun paling banyak di kolong langit, belum ada orang kedua yang dapat menandingi jumlah emas miliknya.

Pemilik bangunan itu tak lain adalah Lu-sam. Bangku yang terbuat dari emas murni meski terasa dingin dan keras, namun Lu-sam duduk dengan begitu nyaman, jauh lebih nyaman daripada duduk di atas kasur.

Seorang diri duduk dalam bangunan itu, menyaksikan semua benda yang terbuat dari emas murni, melihat cahaya emas yang berkilauan, biasanya merupakan saat yang paling menggembirakan hatinya.

Dia suka sekali duduk seorang diri di sana, karena dia tak ingin orang lain ikut menikmati kegembiraannya, seperti dia tak ingin membagikan emas itu kepada siapa pun.

Maka teramat jarang ada orang berani memasuki rumah itu, tidak terkecuali orang yang paling dekat pun.

Tapi hari ini ada pengecualian.

Kadar emas dari cawannya jelas lebih kental daripada kadar alkohol dalam arak yang diteguknya.

Lu-sam perlahan-lahan meneguk arak dari cawannya, kemudian meletakkan sepasang kakinya yang bersih dengan kuku yang rapi di atas meja berlapiskan emas, ia membiarkan tubuhnya berbaring santai, membiarkan seluruh otot badannya mengendor.

Hanya di tempat ini dia baru bisa minum arak, karena hanya orang yang paling dipercaya mengetahui letak tempat ini, khususnya selagi minum arak, tak pernah ada orang yang berani mengusiknya.

Tapi hari ini, ketika dia siap meneguk arak untuk cawan kedua, tiba-tiba terdengar ada orang mengetuk pintu, bahkan tanpa menunggu izin darinya, ia sudah membuka pintu sambil melangkah masuk ke dalam.

Lu-sam amat tak suka, namun perasaan tak senangnya itu sama sekali tak diperlihatkan pada wajahnya. Hal ini bukan karena orang yang mengetuk pintu sambil melangkah masuk adalah orang kepercayaannya, Biau- swan.

Mimik mukanya sama sekali tak menunjukkan perubahan apa pun, hal ini dikarenakan dia memang bukan seseorang yang suka memperlihatkan rasa gusar, senang, atau sedihnya kepada orang lain, bahkan sewaktu mendapat kabar bahwa putra tunggalnya tewas di tangan Siau-hong pun, parasnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa sedih, gusar, maupun dendam.

Dia memang tidak seperti Pancapanah.

Paras Pancapanah selalu tampil sekeras batu granit, tak pernah memperlihatkan perasaan apa pun.

Wajah Lu-sam dihiasi perasaan, hanya saja perasaan yang tampil di wajahnya seringkali tidak sama dengan apa yang dipikirkan di dalam hati. Sekarang biarpun ia merasa tak suka, namun wajahnya masih dihiasi senyuman penuh kegembiraan.

Sambil tersenyum dia bertanya kepada Biau Swan, "Apakah kau pun ingin meneguk secawan arak? Ingin duduk dulu sambil menemani aku minum secawan?"

"Tidak ingin," jawab Biau Swan, "Tidak mau!"

Dia tidak seperti tuannya, apa yang dipikir dalam hati segera tampil dan tertera jelas di wajahnya.

Sekarang mimik mukanya seperti orang yang barusan mengalami musibah, seperti melihat rumahnya kebakaran.

"Aku tak ingin minum arak, aku pun tak ingin minum," sahutnya, "Aku bukan datang lantaran ingin minum arak."

Lu-sam tertawa. Dia suka orang yang polos dan selalu berterus terang, walaupun dia sendiri bukan manusia semacam itu, tapi dia suka dengan manusia seperti ini, karena dia selalu beranggapan, manusia semacam ini paling gampang dikendalikan.

Oleh karena dia sendiri bukan manusia seperti ini, maka dia angkat Biau Swan sebagai orang kepercayaan.

"Lalu karena urusan apa kau datang kemari?" tanyanya kemudian.

"Karena sebuah masalah besar," sahut Biau Swan, "Karena manusia yang bernama Pancapanah." Lu-sam masih tersenyum.

"Masalah yang menyangkut Pancapanah, tentulah masalah besar." Dia tuding bangku di hadapannya, "Duduklah dulu, bicaralah perlahan-lahan."

Kali ini Biau Swan tidak menuruti anjurannya, dia tidak duduk di bangku yang ditunjuk.

"Pancapanah telah berhasil melacak keseratus sembilan puluh satu kantor cabang kita, bahkan telah menurunkan perintah untuk menghimpun seluruh kekuatan dan mulai melancarkan serangan."

Bukan saja paras Lu-sam sama sekali tak berubah, gayanya sewaktu duduk pun tidak berubah, hanya tanyanya hambar, "Kapan dia siap melancarkan serangan?"

"Perintah Pancapanah selalu tersebar secepat angin!” kata Biau Swan, "Kini dia telah menurunkan perintah, berarti tak sampai sepuluh hari kemudian kita sudah akan memperoleh jawaban."

Lu-sam harus mengakui hal ini. "Benar, perintah dari orang ini bukan saja akan menyebar secepat angin, bahkan perintahnya berbobot melebihi bukit karang."

Kembali dia meneguk araknya, kemudian baru bertanya kepada Biau Swan, "Menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tanpa pikir panjang Biau Swan segera menjawab, "Sekarang kita harus segera mengumpulkan seluruh kekuatan yang dimiliki di tempat ini."

"O, ya?"

"Walaupun tak sedikit jagoan tangguh yang dimiliki Pancapanah, tapi dia harus memecahnya menjadi seratus sembilan puluh satu rombongan," kata Biau Swan, "Bila kita bisa mengumpulkan semua jagoan paling tangguh di tempat ini dan menanti kedatangan mereka, kali ini dia bakal mampus."

Ketika mengucapkan perkataan itu, tak kuasa wajahnya menampilkan perasaan bangga, karena dia beranggapan idenya sangat bagus, bahkan percaya idenya terbagus.

Jalan pikiran kebanyakan orang seperti yang dia pikirkan, semua orang pasti akan setuju dengan usulannya itu.

Lu-sam sama sekali tidak bereaksi.

Cahaya emas masih berkilauan, arak dalam cawan pun memantulkan cahaya keemasan, ia memandang sekejap cahaya emas dalam cawan araknya, lewat lama kemudian baru mengucapkan perkataan yang sangat aneh.

Tiba-tiba ia bertanya kepada Biau Swan, "Sudah berapa lama kau bekerja ikut aku?" "Sepuluh tahun," walaupun Biau Swan tidak mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba Lu-sam menanyakan masalah itu, namun dia menjawabnya juga dengan jujur, "Ya, genap sepuluh tahun!"

Mendadak ia mengangkat wajah menatap orang itu, mengawasi wajahnya yang jelek, polos, jujur, dan kaya akan perubahan mimik muka itu.

Setelah menatapnya cukup lama, Lu-sam baru berkata lagi, "Tidak benar."

"Tidak benar? Bagian mana yang tak benar?"

"Bukan sepuluh tahun," kata Lu-sam, "Seharusnya sembilan tahun sebelas bulan, harus menunggu sampai tanggal tiga belas bulan depan, kau baru genap sepuluh tahun."

Biau Swan menarik napas dingin, perasaan kagum tampil di wajahnya.

Dia tahu, daya ingat Lu-sam memang selalu hebat, namun dia tak menyangka kalau kehebatannya telah mencapai tingkatan yang begitu mengejutkan.

Lu-sam menggoyang perlahan arak yang masih tersisa dalam cawannya, membiarkan pantulan sinar emas lebih berkilauan.

"Peduli bagaimana pun, waktumu mengikuti aku sudah terhitung cukup lama," kata Lu-sam, "Sudah sepantasnya bila kau mengetahui manusia macam apakah diriku ini."

"Sedikit banyak aku memang tahu."

"Tahukah kau apa kelebihanku yang paling utama?" tanya Lu-sam lagi. Sementara Biau Swan masih mempertimbangkan, Lu- sam telah menjawab lebih dulu, "Kelebihanku yang paling utama adalah bersikap adil."

Kemudian katanya lagi, "Aku tak boleh bersikap tak adil, orang yang bekerja ikut aku paling tidak ada delapan- sembilan ribu orang, bila aku tak adil, bagaimana mungkin orang lain mau tunduk kepadaku?"

Biau Swan harus mengakui hal ini, Lu-sam memang orang yang sangat adil dalam melakukan pekerjaan apa pun. Bahkan dia selalu membedakan secara jelas siapa yang harus dihukum dan siapa yang harus mendapat penghargaan.

Tiba-tiba Lu-sam bertanya lagi, "Masih ingatkah kau apa yang pernah kukatakan sewaktu akan masuk kemari?"

"Kau mengatakan, siapa pun dilarang memasuki pintu rumah ini, peduli siapa pun orangnya."

"Apakah kau manusia atau bukan?" "Aku manusia."

"Sekarang apakah kau telah masuk kemari?"

"Aku beda," kata Biau Swan panik, "Aku harus menyampaikan urusan penting."

Lu-sam segera menarik wajahnya.

Di bawah pantulan cahaya keemasan, wajahnya seolah- olah berlapiskan juga emas murni.

"Aku hanya bertanya padamu, sekarang apakah kau telah masuk kemari?"

"Benar," biarpun dalam hati merasa tak puas, namun Biau Swan tak berani membantah. Kembali Lu-sam bertanya, "Tadi apakah aku menyuruh kau duduk menemani aku minum arak?"

"Benar."

"Apakah kau sudah duduk?” “Belum!"

"Sudah menemani aku minum arak?” “Belum!"

"Masih ingatkah aku pernah berkata, setiap perkataan yang kuucapkan merupakan perintah?”

“Aku masih ingat."

"Tentunya kau pun masih ingat bukan, apa yang harus dilakukan orang yang berani membangkang perintahku?"

Selesai mengucapkan perkataan itu, Lu-sam tak pernah lagi memandang wajah Biau Swan yang polos, jujur tapi jelek itu, seakan di dalam ruangan itu sudah tak ada lagi manusia yang bernama Biau Swan.

Waktu itu paras Biau Swan telah berubah lebih putih  dari kertas, dia mengepal sepasang tinjunya kencang- kencang hingga semua otot hijaunya menonjol, kalau dilihat dari tampangnya, kalau bisa dia ingin menonjok hidung Lu-sam hingga berdarah.

Tapi ia tidak berbuat begitu, dia tak berani. Dia tak berani bukan lantaran dia takut mati.

Dia tak berani karena sejak tiga tahun berselang dia telah beristri, kini istrinya telah melahirkan seorang putra untuknya. Seorang bocah yang putih, gemuk dan menyenangkan, pagi tadi pun baru saja belajar memanggil "ayah" kepadanya.

Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai bercucuran membasahi wajah Biau Swan.

Dia menggunakan tangannya yang berotot hijau untuk mencabut sebilah pisau belati dari sakunya, pisau yang tipis tapi tajam, kemudian menghujamkan pisau itu ke hulu hati sendiri.

Seandainya peristiwa ini terjadi pada tiga tahun berselang, dia pasti akan menggunakan pisau belati itu untuk menusuk hulu hati Lu-sam, terlepas akan berhasil atau tidak, ia tetap akan mencobanya.

Tapi sekarang ia tak berani, untuk mencoba pun tak berani.

Putranya yang menawan, senyumannya yang manis, suara panggilan "ayah" yang lucu dan menggelikan.

Mendadak Biau Swan menusukkan pisau belatinya, langsung menusuk hulu hati sendiri.

Ketika tubuhnya roboh terkapar, dalam pandangan matanya seolah muncul sebuah pemandangan yang sangat indah.

Dia seolah menyaksikan putranya menginjak dewasa, lalu tumbuh menjadi seorang pemuda yang sehat dan kekar.

Dia seolah menyaksikan istrinya yang meski tidak terlalu cantik, tapi sangat lemah lembut itu sedang memilih calon menantu untuk putra mereka.

Walaupun dia pun tahu, pemandangan semacam ini tak lebih hanya ilusi menjelang kematiannya, namun dia justru percaya bahwa apa yang dilihatnya bakal menjadi kenyataan.

Karena dia percaya "Lu-sam yang adil" pasti akan merawat dan memperhatikan kehidupan mereka berdua.

Dia percaya kematiannya tak akan sia-sia, dia pasti memperoleh imbalan yang setimpal.

Lu-sam masih belum mendongakkan kepala, bahkan dia sama sekali tidak menengok ke arah pembantunya yang setia.

Hingga darah di ujung pisau yang menancap di hulu hati Biau Swan mulai mengering, ia baru memanggil perlahan, "Sah Peng."

Lewat beberapa saat kemudian dari luar pintu baru terdengar seseorang menyahut, "Sah Peng menanti perintah."

Biarpun jawabannya tidak terlalu cepat, juga tidak terhitung lambat, sekalipun pintu dalam keadaan terbuka, namun dia tak pernah melangkah masuk ke dalam.

Karena dia bukan Biau Swan.

Dibandingkan Biau Swan, dia adalah manusia yang berbeda, setiap perkataan yang pernah diucapkan Lu-sam, dia belum pernah melupakan sepatah kata pun, tak pernah melupakan satu kali pun.

Sebelum Lu-sam memberi perintah kepadanya untuk masuk, sampai mati pun dia tak bakal memasuki pintu ruangan itu.

Setiap orang menganggap ilmu silatnya tak mampu menandingi kemampuan Biau Swan, dia pun tampak tidak secerdas Biau Swan, perbuatan dan pekerjaan apa pun yang dia lakukan juga tidak segairah, tidak sesetia Biau Swan. Tapi dia selalu percaya, dirinya pasti dapat hidup lebih lama ketimbang Biau Swan.

Tahun ini Sah Peng berusia empat puluh delapan tahun, perawakan tubuhnya kecil kurus, wajahnya biasa saja, dalam dunia persilatan pun sama sekali tak punya nama.

Karena pada hakikatnya dia memang tidak menginginkan nama kosong dalam dunia persilatan, dia selalu berpendapat "nama besar" hanya mendatangkan kesulitan dan kemasgulan.

Ia tidak minum arak, tidak berjudi, hidangannya sehari- hari sangat sederhana, pakaian yang dikenakan pun amat bersahaja.

Tapi dia mempunyai uang deposito sebesar lima puluh laksa tahil yang disimpan di rumah uang Su-toa-che-ceng di wilayah Sam-say.

Walaupun semua orang menganggap ilmu silatnya tak mampu melebihi Biau Swan, namun Lu-sam tahu tenaga dalam, ilmu pukulan maupun senjata rahasia yang dimiliki orang ini sedikit pun tidak berada di bawah kemampuan seorang jago kenamaan.

Hingga kini dia masih hidup membujang.

Karena dia berpendapat, sekalipun seorang tiap hari harus makan telur ayam, bukan berarti di rumah harus memelihara ayam sendiri.

Menanti Lu-sam memberikan perintah, Sah Peng baru melangkah masuk ke dalam ruangan, langkahnya tidak terlampau cepat, namun langkah kakinya tak bisa dianggap sangat lambat.

Setiap kali Lu-sam bertemu dengannya, dari balik tatapan matanya selalu terlintas perasaan puas. Siapa pun itu orangnya, bila memperoleh seorang anak buah semacam ini, mau tak mau pasti akan merasa puas sekali.

Mereka sama sekali tidak menyinggung kematian Biau Swan, seakan-akan di dunia ini sesungguhnya tak pernah ada manusia semacam ini yang pernah hidup di situ.

Kembali Lu-sam bertanya kepada Sah Peng, "Tahukah kau Pancapanah telah menurunkan perintah untuk menyerang kita?"

"Aku tahu."

"Tahukah kau sekarang apa yang harus kita lakukan?” “Tidak tahu."

Persoalan yang dia harus tahu, Sah Peng tak pernah mengatakan tak tahu, persoalan yang tidak seharusnya diketahui, dia pun tak akan mengatakan tahu.

Berada di hadapan Lu-sam, lebih baik jangan bersikap kelewat bodoh, tapi jangan pula memperlihatkan amat cerdas.

"Apakah sekarang kita harus mengumpulkan semua orang kita kemari?" lagi-lagi Lu-sam bertanya.

"Tidak!" jawab Sah Peng. "Kenapa?"

"Sebab hingga sekarang Pancapanah masih belum tahu di mana kau berada," sahut Sah Peng, "Bila kita tidak memberitahukan kepadanya, selama hidup jangan harap dia bisa tahu."

Kemudian tambahnya lagi, "Bila kita berbuat begitu, sama artinya kita telah memberitahukan kepadanya."

Lu-sam tersenyum. "Kalau soal semacam ini pun telah kau pahami, seharusnya tahu juga bukan apa yang harus kita lakukan sekarang."

"Aku tidak tahu," jawab Sah Peng "Aku telah berpikir, tapi aku tak tahu harus berbuat apa agar tepat."

Ooo)d*w(ooO