Elang Terbang di Dataran Luas BAB 25. BERPUTRA, SEMUA KEBUTUHAN TERPENUHI

BAB 25. BERPUTRA, SEMUA KEBUTUHAN TERPENUHI

Bocah-bocah dengan pakaian barunya sedang berlari di atas permukaan salju, ucapan "Kiong-hi" berkumandang dari sana-sini. Penjaja mainan anak-anak telah menyiapkan barang dagangannya, siap menuai uang simpanan sang nenek yang dibagikan kepada cucunya.

Hari ini, bulan satu tanggal satu, langit amat cerah. Sudah cukup lama Siau-hong menelusuri jalan bersalju,

garis merah di balik matanya telah berkurang mabuk yang

dialaminya sejak semalam kini pun makin mendusin.

Di tempat ini tak ada tepi telaga dengan pohon Liu yang melambai, tiada pula hembusan angin sepoi dengan rembulan yang indah.

Sewaktu mendusin dari mabuknya, ia menjumpai dirinya sedang berdiri di depan sebuah penjaja kaki lima yang menjual mainan, menyaksikan seorang bapak kurus pendek dengan membawa ketiga bocah gemuk membeli boneka tanah liat.

Menyaksikan wajah riang anak-anaknya, sang ayah yang sepanjang tahun irit makan irit membeli pakaian jadi ikut bangga, senyum keriangan menghiasi wajah kurusnya yang kekurangan gizi.

"Berputra, semua kebutuhan terpenuhi", inilah ciri utama orang Cina, justru karena itu pula orang Cina selamanya berkembang.

Mendadak Siau-hong merasakan matanya agak basah.

Sekarang dia pun telah berputra, dia pun seperti orang lain, segera akan menjadi seorang ayah.

Sewaktu pertama kali mendengar kabar itu, dia memang sempat terperanjat, terperangah, tapi sekarang lambat-laun dia merasa kejadian semacam ini sesungguhnya bukan satu kejadian aneh....

Setelah ia dapat menyadari hal ini, urusan lain pun berubah seakan sama sekali tak penting lagi.

Dia pun membeli sebuah boneka tanah liat, boneka berbaju merah yang sewaktu tertawa mirip Mi-lek-hud, Buddha tertawa.

Namun ketika teringat anaknya belum lahir, entah harus menunggu berapa lama lagi sebelum bisa bermain dengan boneka itu, dia pun tertawa, tertawa geli.

Ia putuskan akan menceritakan kejadian ini kepada Soso, bagaimana pun juga dia harus merawat baik-baik anak mereka.

Anak itu harus dilahirkan, kehidupannya harus dilindungi, dia harus hidup seperti manusia lain. Dalam perjalanan kembali ke rumah, berjalan sambil membawa boneka yang baru dibelinya, Siau-hong merasakan hatinya begitu cerah dan riang belum pernah ia merasakan gembira seperti hari ini.

Tapi sayang ketika tiba di rumah, suasana dalam ruangan kacau-balau tak keruan, poci arak, mangkuk sayur semuanya hancur berantakan, serpihan mangkuk, tumpahan sayur berhamburan di mana-mana, angsio daging, ceceran saus berceceran membasahi dinding dan lantai, seperti darah yang baru saja bercucuran.

Hati Siau-hong ikut berdarah, perasaannya seperti disayat-sayat.

Di tangannya masih menggenggam kencang boneka tanah liat itu, seperti seorang ibu sedang menggendong bayinya yang baru lahir.

"Prang!", boneka tanah liat dalam genggamannya hancur berkeping.

Harapan, cita-cita, perencanaan, semuanya serasa hancur-lebur, seperti boneka yang hancur berkeping.

Kini apa yang harus dilakukan Siau-hong?

Pergi mencari Lu-sam? Tapi ke mana harus mencarinya?

Ibunya, sahabatnya, kekasihnya, putranya, kini mereka telah terjatuh ke tangan Lu-sam.

Sekalipun berhasil menemukan Lu-sam, lalu apa yang bisa dia lakukan?

Dengan sangat lamban, sangat perlahan Siau-hong duduk, duduk di tanah di mana semula ia berdiri, duduk di atas ceceran daging, kuah dan serpihan mangkuk.

Pecahan mangkuk yang tajam bagai mata golok menusuk dan menembus tubuhnya. Namun dia seakan tak merasakan, seolah tak peduli.

Dia hanya merasakan sepasang kakinya mendadak berubah jadi lemah, lemah sekali, seluruh kekuatan dan tenaga yang dimiliki seakan sudah terhisap habis, seolah dia tak pernah mampu bangkit lagi untuk selamanya.

Pada saat itulah dia mendengar pemilik losmen yang baik hati sedang menyampaikan selamat kepadanya, "Selamat tahun baru, semoga selamat sepanjang tahun dan terkabul semua keinginanmu."

Siau-hong tertawa, tertawanya seperti senyum orang idiot.

Hilang senyuman pemilik losmen setelah melihat keadaan dalam ruangan, melihat tampang mukanya yang kehilangan semangat, mana mungkin pemilik losmen itu dapat tertawa lagi?

Tampaknya dia seperti mengucapkan lagi beberapa kata hiburan, sayang tak sepotong perkataan pun yang terdengar oleh Siau-hong.

Siau-hong sedang berkata kepada diri sendiri, tiada hentinya mengingatkan diri sendiri.

Kau harus tetap sadar, pikiranmu harus tetap jernih, tetap sabar dan pandai mengendalikan diri.

Tapi entah sejak kapan, tiba-tiba ia menjumpai dirinya sedang minum arak, minum tiada hentinya.

Hanya seseorang yang kehidupannya betul-betul sudah hancur dan musnah, baru tahu bahwa saat sadar  merupakan saat yang begitu menderita dan menakutkan. Dia tahu minum arak tak akan menyelesaikan masalah, mabuk tak mungkin bisa menghilangkan penderitaannya. Namun di saat sadar, ia merasa jauh lebih menderita, begitu tersiksa hingga setiap saat bisa gila.

Selama ini dia tak pernah berusaha melarikan diri dari kenyataan, pukulan batin seberat apa pun selalu dihadapi dengan gagah, tak pernah sudi menghindar, tapi sekarang... ia sudah terpojok, sudah tak punya pilihan lain lagi yang bisa dilalui.

Saat itu dia mabuk dan mabuk terus, mabuk sampai tak punya uang membayar ongkos arak dan akhirnya dihajar oleh pemilik sebuah warung arak hingga patah dua kerat tulang iganya dan dilemparkan ke dalam sebuah selokan kotor.

Namun ketika tersadar, tubuhnya sudah tak berada dalam selokan yang kotor.

Ketika tersadar dari mabuknya, Siau-hong menemukan tubuhnya sedang berbaring di atas sebuah ranjang.

Ranjang yang besar, lebar dan nyaman dengan seprei putih bersih, sebersih kulit seorang gadis yang baru selesai mandi.

Seorang gadis bertubuh halus dan lembut bagai kain sutera sedang berbaring di sisi tubuhnya, menggunakan semua cara rangsangan yang bisa digunakan seorang wanita untuk membangkitkan napsu birahi lelaki, sedang berusaha menggodanya.

Di saat seorang pemabuk belum seratus persen sadar, saat itulah merupakan puncak dari napsu birahinya, lelaki mana yang sanggup menghadapi godaan dan rangsangan semacam ini?

Siau-hong adalah manusia, tentu saja dia pun tak  mampu menahan rangsangan itu. Akhirnya dia melakukan perbuatan yang dirinya sendiri pun tak dapat memaafkan, dia bahkan tidak tahu siapakah perempuan yang telah disetubuhinya.

Tapi tak lama meniduri gadis itu, dia sudah mulai muntah.

Menanti ia selesai muntah, Siau-hong baru bertanya kepada gadis itu, "Siapa kau? Mengapa tidur di sampingku?"

"Aku bernama Bun-ciok."

Tampaknya perempuan itu tak peduli pemuda itu sedang muntah, sikap serta penampilannya masih tetap lembut dan hangat.

"Temanmu yang minta aku datang menemanimu," katanya lebih jauh.

Temannya?

Apakah saat ini dia masih punya teman? "Siapakah temanku?"

"Lu-sam-ya!"

Hampir saja Siau-hong tak kuasa menahan rasa mualnya dan nyaris muntah lagi.

Tapi dia tak sampai muntah, karena sudah tak ada lagi yang bisa dimuntahkan dari lambungnya.

Bun-ciok kembali mulai dengan gerakannya, hanya seorang pelacur berpengalaman yang mampu melakukan gerak erotik semacam ini.

"Tempat ini adalah rumah milikku, semua ongkos dan tagihan telah dibayar lunas."

Tangannya bergerak terus tiada hentinya. "Di sini pun tersedia aneka arak," ujar Bun-Ciok lebih jauh, "Ada arak Hoa-tiau, Mo-tay, Toa-ci, Tiok-yap-cing kau boleh minum sepuasnya, mau pilih arak apa pun tersedia, karena itu kau tak usah pergi dari sini."

Ternyata tempat itu merupakan dusun kelembutan, dusun kenikmatan.

Di tempat ini tersedia arak kwalitas paling bagus, tersedia perempuan paling hebat, semua yang tersedia di sana sekarang merupakan apa yang paling dia butuhkan saat ini.

Segala sesuatu yang tersedia di tempat ini, tak mungkin bisa dia peroleh begitu keluar dari tempat itu.

Luka di tubuh Siau-hong masih terasa sakit, begitu bergerak langsung sakitnya luar biasa.

Maka dia pun berbaring di situ tanpa bergerak.

"Aku tahu, kau tak bakal pergi dari sini," ujar Bun-ciok sambil tertawa, tawanya nampak begitu manis, "Lu-sam-ya pun tahu, kau tak bakal pergi dari sini, dia. ”

Ia tidak menyelesaikan perkataannya. Karena Siau-hong sudah melompat bangun dan menerjang keluar dari situ.

Kini dia telah dimusnahkan, sudah tenggelam ke lembah penderitaan, tapi dia masih memiliki harga diri, masih memiliki sehembus napas.

Matahari teramat terik.

Begitu teriknya sang surya bagaikan bara api dalam tungku, Siau-hong memang berada di tengah tungku yang panas.

Bibirnya telah merekah karena kering sakunya kosong melompong, kepalanya sakit bagai ditusuk jarum, lambungnya sakit bagai diremas-remas banyak tangan raksasa, bahkan tubuhnya sangat bau seperti bangkai ikan yang telah membusuk.

Bila seseorang berada dalam kondisi seperti ini, siapa yang sudi menerimanya? Siapa yang sudi menampungnya?

Siau-hong sendiri pun tak tahu harus ke mana pergi, namun dia berjalan dan berjalan terus. Kebab dia tak boleh berbaring di tanah, tak bisa berbaring seperti seekor anjing, tak boleh berbaring di tempat di mana sampai mati pun tak bakal ada yang mengurus. 

Dia ingin sekali membeli secawan arak. Siapa tahu baru saja akan memasuki sebuah kedai penjual arak, dia telah diusir keluar bagaikan seekor anjing liar.

Maka dia pun berkata kepada diri sendiri, "Siau-hong wahai Siau-hong, habis sudah riwayatmu, daripada hidup sia-sia mending pergi mampus saja."

Tapi dia pun tak rela berbuat begitu.

Pada saat itulah tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya dari arah belakang, sebuah tangan yang kuat dan bertenaga.

Begitu berpaling tak tahan dia pun berteriak, "Tio Kun!"

Ternyata orang yang menariknya dari belakang tak lain adalah Tio Kun, Tio Kun yang pergi tanpa kabar.

Soso adalah perempuan milik Tio Kun, kini Soso telah hamil, anak Soso adalah anaknya.

Hampir saja Siau-hong melarikan diri meninggalkan rekannya itu.

Tapi Tio Kun telah menariknya, sekarang dia tak akan membiarkan pemuda itu pergi dari situ. "Kau belum mati," seru Tio Kun terkejut bercampur gembira, "Sungguh tak disangka kita belum mati."

Suaranya jadi parau karena luapan emosi, karena  terkejut bercampur gembira, "Waktu itu aku termakan oleh bacokan goloknya, kusangka saat ajalku telah tiba, sungguh tak disangka bacokan itu ternyata tidak mengenai bagian tubuhku yang mematikan, namun di saat aku pergi mencari kakian, ternyata kalian berdua sudah tidak berada di sana."

Setelah itu dia baru bertanya kepada Siau-hong, mengajukan pertanyaan yang paling menakutkan bagi dirinya.

"Di mana Soso?" tanyanya, "mengapa Soso tidak berada bersamamu?"

Siau-hong tak dapat menjawab pertanyaan ini, dia pun tak bisa untuk tidak menjawab. Kalau sebelumnya dia ingin sekali menemukan Tio Kun, maka sekarang dia hanya berharap tidak pernah menjumpai orang ini untuk selamanya.

Dengan pandangan iba dan simpatik Tio Kun menatap wajahnya.

"Kau lelah, bahkan sepertinya sedang menderita sakit," katanya, "Selama berapa hari belakangan, pengalaman pahit yang kau alami pasti menakutkan dan menyedihkan."

Siau-hong tak dapat menyangkal.

"Bagaimana pun juga, semua kejadian itu kini sudah berlalu," sahutnya.

"Hari ini kebetulan aku telah mengundang banyak sekali teman, teman-temanku itu pasti kenal pula dirimu," ujar  Tio Kun. Kemudian tambahnya, "Temanku adalah temanmu juga, kau harus ikut aku ke sana."

Tempat itu merupakan sebuah kota kecil di pinggir perbatasan, padahal Tio Kun adalah seorang pelarian, sama sekali tak disangka ternyata dia masih mempunyai teman di tempat ini.

Yang lebih tak terduga lagi adalah teman-temannya ternyata merupakan jago-jago persilatan yang punya nama dan luas pergaulannya, beberapa orang di antaranya bahkan merupakan tokoh persilatan dari suatu wilayah tertentu, orang semacam ini seharusnya mustahil bisa muncul di kota kecil di pinggir perbatasan, tapi sekarang ternyata mereka bermunculan di situ.

Apakah mereka sedang merundingkan suatu masalah besar di tempat ini?

Siau-hong tidak banyak bertanya, sebab Tio Kun telah memperkenalkan dirinya kepada mereka.

"Kalian pasti pernah mendengar bukan bahwa di dunia persilatan terdapat seorang yang disebut Siau-hong yang tak punya nyawa."

Tampaknya Tio Kun ikut merasa bangga akan kehebatan sahabatnya itu, "Temanku ini tak lain adalah Siau-hong si tak punya nyawa, Siau-hong yang nekat!"

Kemudian sambil menepuk bahu Siau-hong, tambahnya, "Aku berani menjamin kepada kalian semua, dia adalah seorang sahabat sejati."

Ternyata reaksi para jago sangat antusias, serentak mereka menghampiri sambil menghormati Siau-hong dengan arak. Tentu saja Siau-hong tak bisa menampik, dia pun tak ingin menampik.

Dia telah meneguk arak cukup banyak, jauh lebih banyak daripada di hari-hari biasa, namun ia tak mabuk.

Tiba-tiba terdengar Tio Kun berkata lagi, "Sekarang tak ada salahnya kubeberkan identitas dia yang sebenarnya, akan kuberitahu seberapa baiknya sahabatku ini."

Perasaan Siau-hong mulai tenggelam, sebab dia sudah tahu apa yang hendak disampaikan Tio Kun.

Ternyata yang dikatakan Tio Kun adalah masalah Soso dan Yang-kong.

"Po Eng adalah sahabat karibnya, begitu pula denganku, kami pernah menyelamatkan dia," kata Tio Kun, "Kami semua percaya kepadanya, bahkan menyerahkan pula calon istri kami kepadanya."

Tiba-tiba suaranya berubah jadi sedih dan penuh amarah, "Tapi sekarang istriku telah hamil, mengandung benih anaknya."

Siau-hong hanya mendengarkan, sedikit pun tanpa reaksi, seperti sedang mendengarkan sebuah cerita yang sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Kembali dia minum banyak, minum sampai tubuhnya terasa kaku, kesemutan, dan mati rasa.

Tiba-tiba Tio Kun bertanya kepadanya, "Benarkah apa yang telah kukatakan?"

"Benar."

"Jadi kau mengakui?” “Aku mengakui." Siau-hong masih meneguk arak tiada hentinya, menghabiskan arak cawan demi cawan.

"Aku mengakui, aku mengakui. ”

Dia merasa seakan ada orang menyiramkan arak ke tubuhnya, ke wajahnya, ke atas kepalanya, tapi dia sama sekali sudah tidak merasakan lagi.

Tempat di mana mereka minum arak adalah di sebuah rumah makan yang cukup besar dan megah, araknya bagus, hidangannya lezat, perabotnya indah, bahkan pelayanan pun memuaskan.

Memang bukan sesuatu yang gampang untuk menemukan sebuah rumah makan semacam ini di sebuah kota kecil pinggir perbatasan.

Di dalam rumah makan itulah Siau-hong meneguk araknya, mabuk di hadapan Tio Kun.

Sewaktu tersadar dari mabuk, Siau-hong masih berada dalam rumah makan itu, Tio Kun masih berada di hadapannya, menatapnya dengan pandangan dingin.

Para jago telah bubar, lentera telah mengering. Namun wajah Tio Kun masih hitam kelabu, segelap cuaca di luar jendela sana.

Siau-hong membuka matanya, dia seakan ingin melihat jelas wajahnya, siapa sangka ia tetap tak dapat melihatnya dengan jelas.

Mengapa orang ini belum pergi? Mau apa dia tetap tinggal di sini?

Apabila ingin balas dendam, mengapa dia tidak menghadiahkan sebuah bacokan golok ke tubuhnya? Siau-hong meronta untuk duduk, meski sudah terduduk namun posisinya masih setengah lebih rendah daripada Tio Kun.

Ada sementara orang memang selalu lebih pendek daripada sementara orang.

Meskipun kota kecil ini terletak di pinggir perbatasan, namun masih terhitung sebuah kota yang ramai dan makmur, tentu saja rumah makan itu berada di tepi jalan teramai di kota itu.

Meskipun cuaca di luar jendela gelap kelabu, saat ini masih tengah hari, saat orang bersantap siang. Betapa pun jeleknya usaha dagang sebuah rumah makan, paling tidak tentu ada beberapa orang tamu yang datang bertandang.

Rumah makan ini bukanlah rumah makan yang jelek usaha dagangnya, semisal sepi langganan, mungkin sejak dulu usaha rumah makan itu sudah gulung tikar.

Tapi kini di dalam rumah makan itu hanya ada mereka berdua.

Siau-hong menatap Tio Kun, Tio Kun pun menatap Siau-hong, mereka berdua saling berpandangan, kecuali kedua orang itu, siapa pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan.

Kedua orang itu sama-sama membungkam, begitu hening dan sepinya suasana sehingga dalam rumah makan itu tak terdengar sedikit suara pun.

Yang terdengar hanya suara yang berasal dari jalan raya di luar sana, ada suara manusia, suara kereta, suara ringkik kuda, ada pula suara penjaja kaki lima yang sedang menawarkan barang dagangannya. Akhirnya Tio Kun buka suara, mengutarakan semua persoalan yang mengganjal hatinya selama ini.

Tanyanya kepada Siau-hong, "Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?"

"Tidak."

"Tidak?" tanya Tio Kun tercengang.

"Bukan aku yang ingin mengatakan sesuatu kepadamu," tukas Siau-hong, "Seharusnya kaulah yang ingin mengucapkan sesuatu kepadaku."

"O, ya?"

"Ada suatu persoalan yang telah kau beritahukan kepadaku sejak awal."

"Oh?"

"Masih ingat dengan penyanyi berbaju putih yang minum arak sambil membawakan lagu sedih?" tanya Siau- hong.

"Aku masih ingat," sahut Tio Kun, "Tentu saja aku masih ingat."

"Ketika kami selesai mengubur jenazahnya, di saat Soso sedang mengobati luka Yang-kong, ketika masih berada di atas bukit, bukankah kau pernah berkata ada satu rahasia besar yang hendak kau beritahukan kepadaku."

"Benar."

"Tapi hingga sekarang kau belum memberitahukan kepadaku."

"Memang belum," Tio Kun manggut-manggut, "Aku memang tak punya kesempatan untuk memberitahukan kepadamu." "Bagaimana kalau sekarang?" dengan tatapan aneh Siau- hong memandangnya.

"Sekarang. "

Sebelum Tio Kun melanjutkan perkataannya, Siau-hong kembali menukas, "Sekarang kau sudah tak perlu mengatakan lagi”

“Kenapa?"

"Karena aku sudah tahu apa yang hendak kau katakan." Bukan hanya tatapan mata Siau-hong yang aneh,

suaranya pun terdengar aneh sekali.

"Karena sekarang aku sudah tahu siapakah dirimu." "Kau mengetahui siapakah aku?" Tio Kun balik bertanya

sambil tertawa, suara tawanya pun sama anehnya, "Coba katakan, siapakah aku?"

Jawaban Siau-hong dapat membuat setiap orang terperanjat, terperangah, paling tidak, kecuali mereka berdua, setiap orang lain yang mendengar tentu akan sangat terperanjat.

"Kau adalah Lu-sam," ujar Siau-hong. Kembali Tio Kun tertawa.

Ternyata dia tidak berusaha menyangkal, keinginan untuk menyangkal pun tak ada, hanya tanyanya kepada Siau-hong, "Dari mana kau bisa tahu kalau aku adalah Lu- sam?"

Pertanyaan itu sebenarnya merupakan jawaban, karena dengan mengajukan pertanyaan semacam itu, sama halnya dia telah mengakui bahwa dirinya adalah Lu-sam.

Maka dia pun menjawab sendiri pertanyaan itu, "Padahal aku pun tahu, cepat atau lambat kau pasti akan menduga ke situ, kau bukan termasuk orang bodoh dan sekarang pun sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui rahasia ini."

Ada banyak kejadian, ada banyak persoalan yang tak mungkin bisa diperoleh jawaban yang pas andaikata dia bukan Lu-sam.

"Betul, aku memang Lu-sam." Ternyata dia segera mengakuinya.

"Kau seharusnya sudah menduga sejak awal bahwa Tio Kun adalah sebuah nama palsu, wajah ini pun wajah palsu, oleh sebab itu meski sekarang kau tahu kalau aku adalah Lu-sam, namun di saat bertemu Lu-sam lagi di kemudian hari, belum tentu kau dapat mengenalinya."

"Apakah masih ada lain waktu?" tanya Siau-hong dingin, "Bukankah kali ini merupakan terakhir kalinya?”

“Tidak, belum terakhir kalinya."

"Apakah kau tak ingin melihat aku mati kelewat cepat?” “Benar," Lu-sam tersenyum, "Dari dulu hingga

sekarang, kematian hanya akan dialami satu kali, jadi siapa pun tak ingin mati. Hanya saja terkadang hidup jauh lebih sengsara daripada mati."

Dengan kematian maka semua urusan akan terselesaikan, orang hidup baru akan merasakan penderitaan dan siksaan.

"Aku percaya kau pasti mengetahui pula teori ini," kembali Lu-sam bertanya, "Tahukah kau mengapa aku sengaja meninggalkan Soso untuk menemanimu?"

Kembali dia menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan itu, jawaban yang membuat siapa pun mendengarnya akan merasa tersiksa dan menderita batinnya. "Karena kau telah membunuh putraku, maka aku pun ingin kau mengembalikan seorang putra untukku, mengembalikan dengan putra kandungmu sendiri."

Terkadang ada kalanya seseorang dapat berubah jadi kosong tubuh, otak, peredaran darah, semuanya berubah jadi kosong, bahkan pikiran, perasaan, semangat, dan tenaga pun hilang.

Bagi seseorang yang belum pernah mengalami kejadian semacam ini, dia pasti tak akan percaya bila seseorang betul-betul dapat berubah jadi begini rupa.

Tapi Siau-hong percaya, kini Siau-hong sedang mengalami gejala semacam ini.

Dalam waktu singkat dia seolah jadi kosong, seolah semua penderitaan dan siksaan hanya sebuah kenangan.

Terkadang waktu yang sesaat itu akan berubah jadi abadi.

Siau-hong seolah sedang mendengar Lu-sam berkata, "Kau sudah habis, betul-betul sudah tamat riwayatmu."

Kelembutan dan kehangatan suara Lu-sam begitu memuakkan, begitu menjijikkan, membuat ia jadi mual dan ingin muntah.

"Nama baikmu dalam dunia persilatan telah habis, ibumu, sahabatmu, kekasihmu, putramu, semuanya sudah terjatuh ke tanganku. Asal aku senang, setiap saat aku dapat menggunakan berbagai cara untuk menyiksa mereka, membuat mereka menderita."

Ia tertawa tergelak, "Sebaliknya kau... selama hidup jangan harap bisa menduga cara apa yang akan kulakukan terhadap mereka, oleh karena itu kau hanya bisa berpikir ke arah yang paling buruk, semakin dipikir semakin menderita, tidak dipikir pun tidak bisa. ”

Apa yang dia katakan memang benar dan nyata.

Tak seorang pun dapat mengendalikan jalan pikiran sendiri, persoalan yang semakin tak ingin dipikir, biasanya masalah itu akan semakin memenuhi benaknya.

Penderitaan dan siksaan semacam ini pada dasarnya merupakan penderitaan yang paling menyiksa umat manusia.

Kembali Siau-hong mendengar seolah ia sedang berkata, "Paling tidak aku belum mati, aku masih bisa bernapas."

"Kau belum mati, tak lain karena aku merasa kau sudah tak perlu dibunuh lagi," kata Lu-sam dengan nada mengejek, "Karena kehidupanmu sekarang jauh lebih menderita dan tersiksa daripada mati."

Dengan senyuman yang lebih lembut dan hangat, terusnya, "Bila kau mengira karena masih bisa bernapas, maka mampu adu nyawa denganku, dugaanmu itu keliru besar."

Siau-hong sedang tertawa dingin, semacam tertawa dingin yang dirinya sendiri pun dapat merasakan kalau suara tawa itu penuh kepalsuan.

"Kau tidak percaya?" ejek Lu-sam, "Kalau begitu tak ada salahnya kalau kuberi kesempatan kepadamu untuk mencoba."

Dia segera mengulap tangan, tiba-tiba dari sisi tubuhnya muncul seorang asing.

Orang itu bertubuh pendek, kecil, dan mengenakan baju warna hitam. Padahal di dalam rumah makan itu tak ada manusia semacam dia, tapi begitu Lu-sam mengulap tangan, tahu- tahu orang itu sudah muncul, bahkan Siau-hong sendiri pun tak tahu dari mana munculnya orang itu.

Di tangan orang itu menggenggam sebilah pedang, pedang yang sudah dilolos dari sarung, hawa pedang terasa dingin menyayat, cahaya senjata bening seperti bermata satu.

Pedang mata iblis!

"Ini pedang milikmu," Lu-sam melempar pedang itu ke samping kaki Siau-hong, "Pedang itu sebetulnya milikku juga, sekarang kukembalikan kepadamu. Kalau memang kau anggap masih punya napas, gunakan pedang itu untuk bertarung melawanku."

Siau-hong sama sekali tak bergerak.

Cahaya pedang masih berkilat, "Mata iblis" seolah sedang main mata dengannya, namun dia sama sekali tak bergerak.

Mengapa dia tidak menggerakkan tangannya untuk mengambil pedang itu?

Lu-sam sedang memperhatikan tangan sendiri.

Tangan Lu-sam kering, bersih dan mantap, sementara tangan Siau-hong gemetar, kukunya telah berubah jadi hitam.

Dengan sepasang tangan semacam ini, mana pantas dia memegang pedang sebagus itu?

Kembali Lu-sam menghela napas.

"Padahal sudah kuduga, kau tak bakal meraih pedang itu," katanya, "Karena kau sendiri pun tahu, asal kau raih pedang itu maka nyawamu pasti melayang." Suara helaan napasnya terdengar begitu memuakkan, nyaris membuat orang muntah saking mualnya.

"Kini meski kau hidup dalam penderitaan, sayangnya kau pun justru tak ingin mati," kata Lu-sam, "Bila kau mati maka segala sesuatunya akan tamat, sekarang paling tidak kau masih memiliki setitik harapan."

Masih ada harapan? Setelah seseorang terjerumus dalam keadaan seperti ini, harapan apa lagi yang masih tersisa?

Kembali Lu-sam berkata, "Dalam hati kecilmu mungkin kau masih berharap, siapa tahu Po Eng, Pancapanah, atau jago lain bakal muncul di sini dan menyelamatkan jiwamu."

Setelah menghela napas, lanjutnya, "Sayang sekali, sekalipun mereka benar-benar datang pun tetap tak ada gunanya."

Tiba-tiba ia berpaling ke arah manusia berbaju hitam yang membawa pedang tadi, katanya sambil tertawa, "Tak ada salahnya beritahu kepadanya, siapakah kau?"

Wajah manusia berbaju hitam itu mirip seekor burung, bukan sebangsa burung elang atau rajawali.

Wajahnya kelihatan seperti seekor burung gereja yang telah diolesi minyak dan kecap, lalu dipanggang hingga kering.

Dengan sangat tenang dia mengawasi Siau-hong, menggunakan suara yang mendirikan bulu kuduk siapa pun yang mendengar, dia berkata, "Aku bukan manusia, aku hanya seekor burung."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, "Namaku Ma-ciok, si Burung gereja."

Jelas burung gereja bukan termasuk burung yang menakutkan. Bila orang ini benar-benar hanya seekor burung, maka dia sama sekali tidak menakutkan.

Peduli dia tampak seperti apa, peduli dia mengatakan dirinya seperti apa, yang pasti dia adalah seorang.

Bila orang ini bernama Ma-ciok, si Burung gereja, maka orang ini bisa dipastikan adalah seorang yang sangat menakutkan.

Banyak jago hebat dalam dunia persilatan yang menggunakan nama unggas sebagai julukannya, seperti Kim-ci-toa-bong (Rajawali raksasa bersayap emas), Tui- hun-yan-cu (Burung walet pengejar sukma), Eng-jiau-ong (si Raja kuku garuda). Mereka dapat dipastikan merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan.

Tapi di antara semuanya itu hanya satu orang yang paling menakutkan, dia adalah Ma-ciok, si Burung gereja.

Karena si burung gereja ini bukan seekor burung, melainkan seorang, bukan saja ilmu meringankan tubuhnya sangat lihai, bahkan sangat pandai "mematuk" mata orang, mematuk hulu hati dan jantungnya.

Bukan mematuk dengan mulutnya, bukan pula dengan tangan, tapi menggunakan senjata andalannya, Kim-kong- ciok, patukan Kim-kong yang sangat menakutkan.

Bila seseorang dapat menciptakan sejenis senjata andalan, tak disangkal orang semacam ini tentu berotak encer.

Bila seseorang bukan saja berilmu silat tinggi bahkan berotak encer, maka tak disangkal orang ini pastilah seorang yang sangat menakutkan. Lu-sam menggunakan sorot mata kagum mengawasi wajah Ma-ciok yang sama sekali tak berharga untuk dikagumi itu.

Kemudian dengan sikap yang begitu lega dan seakan sudah tahu dengan pasti jawabannya, ia bertanya lagi kepada si burung gereja, "Apakah semua tugas yang kuserahkan kepadamu telah kau selesaikan semua?"

"Sudah."

Lu-sam tersenyum, ia berjalan menghampiri jendela kemudian baru berpaling dan ujarnya kepada Siau-hong, "Coba kau pun kemari, mari kita buktikan apa benar dia telah menyelesaikan tugasnya."

Sikapnya seperti seorang tuan rumah sedang mempersilakan tamunya untuk pergi menonton sebuah sandiwara yang menarik.

Tugas apa yang ia serahkan kepada Ma-ciok untuk dilaksanakan?

Di luar jendela merupakan jalan utama kota kecil itu, sepanjang jalan berjajar aneka toko dan warung, bukan saja ada toko besar, ada pula pedagang kaki lima serta aneka ragam manusia yang berlalu-lalang.

Seorang pedagang keliling sedang menggoyang keleningan di depan sebuah toko penjual kue, sementara seorang nenek berambut putih sedang berdiri di depan gerobak siap membeli jarum jahit.

Seorang nona kecil berambut kepang berdiri di belakang sang nenek sambil diam-diam memperhatikan minyak wangi dan bedak yang dijajakan di atas gerobak dorong. Seorang pelayan toko kue sedang berdiri pula di depan pintu tokonya sambil memperhatikan si nona kecil dengan pakaiannya yang ketat.

Di samping mereka adalah sebuah toko penjual kebutuhan tahun baru, karena perayaan tahun baru telah lewat, usaha dagangnya nampak sedikit sepi tanpa pengunjung.

Waktu itu Ciangkwe toko sedang terkantuk-kantuk di belakang meja kasirnya, ketika dikejutkan suara mercon yang dibunyikan toko cita di rumah sebelah, ia nampak agak marah dan siap keluar dari warungnya untuk mengumpat.

Seorang kakek penjual kacang goreng sedang ribut dengan seorang pemuda penjual kacang, tampaknya mereka ribut karena saingan dagang.

Di depan pintu warung arak di seberang jalan tergeletak seorang lelaki pemabuk yang berbaring sambil membawakan lagu rakyat.

Beberapa orang pengemis sedang mengerumuni seorang nyonya gemuk berbaju merah sambil minta sedekah.

Dua orang lelaki yang tampangnya sama sekali tak mirip dewa rezeki sedang mengantar dewa rezeki di depan sebuah tokoh penjual beras.

Di sebelah sana suara gembreng dan tambur dibunyikan keras-keras, serombongan pemain liong sedang menarikan naganya sambil berlenggak-lenggok.

Semua nyonya tua, nona kecil, nyonya gemuk, nona dewasa, hampir semuanya mengalihkan pandangan menonton datangnya keramaian permainan naga, menyaksikan pemuda-pemuda bertelanjang dada di musim salju yang begitu dingin sambil memamerkan otot-ototnya yang kekar.

Di saat mereka mengawasi, orang lain pun sedang mengawasi mereka, memperhatikan wajah si nona kecil, kaki gadis remaja, perhiasan nenek tua, dan pantat besar nyonya gemuk.

Bahkan ada beberapa orang pemuda yang tertawa terkekeh sambil menuding pantat besar si nyonya gemuk dan berbisik, "Wah, begitu gede pantatnya, mungkin cukup sebagai alas bermain kartu."

Ooo)d*w(ooO