Elang Terbang di Dataran Luas BAB 22. LELAKI TERNAMA, ARAK MEMABUKKAN

BAB 22. LELAKI TERNAMA, ARAK MEMABUKKAN

"Memangnya bukan?"

"Tentu saja bukan," sahut Yang-kong, "Malah kusangka kau yang melakukan."

Siau-hong tambah terkesiap.

Tentu saja dia pun tahu kedua orang ini bukan mati di tangannya.

"Jadi bukan kau?" kembali Yang-kong bertanya. "Bukan."

"Kalau bukan kau, bukan pula aku, siapa yang melakukan?" Pertanyaan ini bukan mereka berdua yang mampu menjawabnya.

Wajah mayat-mayat itu bersemu hitam, tampaknya mereka tewas karena keracunan, tapi siapa yang melepaskan racun? Kapan mereka diracun? Kenapa mereka harus mati diracun? Apakah demi membantu Siau-hong dan Yang-kong untuk terlepas dari bencana? Kenapa dalam rombongan ini bisa terdapat antek mereka?

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan semacam ini pun tak mungkin bisa mereka jawab.

Sementara Siau-hong dan Yang-kong masih berdiri terperangah, tiba-tiba dari balik batu cadas di tepi  jalan telah bermunculan empat-lima puluh orang.

Empat-lima puluh orang yang dilengkapi dengan panah. Mereka terdiri dari berbagai jenis manusia, ada bangsa

Han, ada suku Tibet, ada suku Biau, panah yang dibawa

pun aneka macam, ada busur besar dengan panah panjang, ada pula panah otomatis yang berpegas tinggi, bahkan ada juga yang membawa tulup yang biasa dipakai suku Biau untuk berburu.

Siapa pun tak akan bisa membedakan begitu banyak jenis anak panah dalam sekali pandang, tapi siapa saja dapat melihat kalau setiap anak panah itu lebih dari cukup untuk menghabisi nyawa manusia.

Tempat ini merupakan bagian tanah perbukitan yang paling berbahaya, jika ada orang memberi perintah dan anak panah berhamburan, biar jagoan selihai Po Eng pun jangan harap bisa lolos dari sana dalam keadaan selamat.

Perasaan Siau-hong mulai tenggelam. Ia mengetahui akan hal itu, kesempatan hidup mereka berdua kali ini memang tidak besar.

Suasana amat hening, batu hitam tiada bersuara, panah pun tidak mendesing, bahkan orang-orang itu tak ada yang bersuara, mereka seakan sedang menunggu.

Tapi apa yang ditunggu?

Dengan jelas Siau-hong memperoleh jawaban atas pertanyaan ini.

Rupanya mereka sedang menunggu Hoapula.

Kini Siau-hong telah melihat kemunculan Hoapula.

Hoapula berdiri di atas sebuah batu karang yang berada di puncak paling tinggi, menggunakan sorot matanya yang dingin penuh ejekan sedang menatap mereka, seperti kucing yang sedang memperhatikan tikus di bawah cakarnya.

Dia pun tahu, kali ini mereka tak bakal bisa meloloskan diri.

Siau-hong hanya bisa tertawa getir.

Dia pun sama sekali tak menyangka kalau Hoapula adalah anak buah Lu-sam, padahal cara kerja Pancapanah selalu teliti dan penuh rahasia, mengapa sebelum ia berhasil mencari tahu asal-usul yang sebenarnya dari orang ini, telah mengantar mereka bergabung dengan rombongannya?

"Sekarang apa yang bisa kau katakan?" tiba-tiba tegur Hoapula.

"Tidak ada!"

"Kalau begitu lebih baik ikut aku pulang ke rumah, ikut tanpa melawan."

"Pulang ke rumah? Rumah siapa?" tak tahan Siau-hong bertanya. "Tentu saja rumahmu sendiri," suara tawa Hoapula penuh rasa puas dan bangga, "Sekarang kalian pasti sudah tahu bukan bahwa susah melakukan perjalanan di luar, lebih baik pulang saja ke rumah."

Siau-hong semakin terperangah.

Pada hakikatnya dia tak mengerti apa yang sedang dikatakan Hoapula, bukankah sekarang mereka sudah tak punya rumah.

Siau-hong tidak mengerti, Yang-kong pun tidak mengerti. Mereka berdua tak tahu bagaimana harus menjawab, karenanya hanya tetap membungkam.

Terkadang membungkam bisa diartikan "mengakui", bisa dimaksudkan "setuju", karena itu tawa Hoapula makin gembira.

"Aku tahu kalian tak bakal membangkang, hanya saja aku selalu melangkah hati-hati, terhadap kalian berdua, aku tetap merasa sedikit tak lega."

Hoapula sengaja berpikir sejenak, kemudian baru melanjutkan, "Bila kalian bersedia mengikat kaki dan tangan sendiri dengan tali, kemudian membuat tiga kali simpul mati, aku baru merasa lega."

Kemudian kembali dia menegaskan, "Jangan lupa, harus dibuat simpul mati, mataku istimewa bagus dan tajam, lebih baik kalian jangan mencoba mengelabui diriku."

"Kemudian?" sengaja Siau-hong bertanya.

"Kemudian? Tentu saja aku akan mengantar kalian pulang sampai ke rumah."

Mendadak Hoapula menarik wajah, "Kalau aku hitung sampai angka tiga dan kalian belum juga turun tangan, terpaksa aku hanya bisa mengirim pulang mayat-mayat kalian."

Hoapula benar-benar mulai menghitung.

Sekalipun wajahnya cemberut, sorot matanya justru dipenuhi senyuman keji, buas, dan penuh ejekan.

Siau-hong dapat melihat, orang itu bukan bersungguh hati akan turun tangan terhadap mereka berdua, terlebih bukan bersungguh hati akan mengantar mereka pulang ke rumah.

Ia sengaja berbuat begitu tak lebih untuk memberikan sebuah pertanggung jawaban terhadap seseorang.

Padahal sesungguhnya dia sangat berharap bisa menyaksikan lawannya mampus dibidik hujan panah, mampus dengan tubuh hancur-lebur, membiarkan setiap anak panah menembus setiap jengkal tubuhnya, menghancurkan setiap ruas tulang-belulangnya, kemudian mengantar mayat mereka yang telah hancur pulang ke rumah.

Hitungan dilakukan sangat lamban, sebab dia pun tahu, tak nanti mereka bersedia membelenggu kaki tangan sendiri.

Baru sampai hitung kedua, terdengar "Krak!", sudah ada serentetan anak panah meluncur tiba.

Sederet suara gendawa bergema di angkasa, tiga anak panah telah melesat membelah angkasa, namun bukan Yang-kong dan Siau-hong yang menjadi sasaran.

"Triing!", tiga batang anak panah itu bersama-sama menghajar di atas batu karang persis di hadapannya hingga menimbulkan percikan bunga api. Tiba-tiba seseorang terjatuh dari tengah udara, roboh terbanting di atas jalan setapak dengan batok kepala hancur, tiada jerit kesakitan di saat menyentuh tanah,  sebab sebelum terjatuh ke tanah ia sudah merenggang nyawa.

Suara aneh itu berkumandang setelah orang itu terbanting ke tanah, muncul dari mulut orang lain.

Mendadak sekilas cahaya pedang berkilauan tajam berkelewat dari atas batu karang.

Cahaya pedang beterbangan bagaikan sambaran petir, jeritan aneh pun bergema silih berganti, para pemanah yang bersembunyi di atas batu karang seorang demi seorang roboh terjungkal ke tanah.

"Pancapanah!" pekik Yang-kong kaget.

Tentu saja orang yang datang menyelamatkan mereka adalah Pancapanah, selain dia, siapa lagi yang bakal muncul di sana?

Berubah paras Hoapula, belum ia berbuat sesuatu, Siau- hong bagaikan segulung angin topan telah menerjang ke muka.

Hoapula membentak nyaring, dengan tangannya yang besar bagai kapak raksasa, ia melolos seutas cambuk berantai yang amat berat, lalu disertai deruan angin tajam menyapu ke depan.

Menghadapi ancaman sehebat ini, terpaksa Siau-hong harus mundur untuk menghindar.

Menggunakan peluang itu, cambuk besi di tangan Hoapula segera diayunkan berulang kali, bukan saja ia berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, bahkan berhasil pula menguasai keadaan. Pemanah yang berada di atas batu karang tampaknya belum terbantai habis, masih terlihat anak panah beterbangan... tampaknya Yang-kong terhajar sebatang anak panah.

Di saat Siau-hong menerjang maju untuk keempat kalinya, tiba-tiba cambuk baja yang berada di tangan Hoapula terkulai lemas, terkulai seperti seekor ular yang sudah mampus.

Menyusul tampak paras Hoapula mengejang keras, sinar matanya yang semula berkilat tiba-tiba berubah jadi kelabu, keadaannya persis ular berbisa yang tertangkap tubuh bagian tujuh incinya.

Kepalanya terkulai lemas, terkulai sambil mengawasi dada sendiri, sorot matanya yang kelabu dipenuhi perasaan ngeri, takut, kaget, dan tercengang.

Siau-hong ikut mengawasi dadanya, sinar terkejut dan keheranan pun terpancar dari balik matanya, sebab di atas dada Hoapula tiba-tiba muncul sebuah benda yang tembus dari punggungnya.

Semacam benda yang memancarkan sinar berkilauan, sebagian dari ujung pedang yang sangat tajam.

Pedang itu menusuk masuk dari punggung hingga tembus di dada, sebuah tusukan pedang yang langsung menembus hulu hatinya.

Tetesan darah segar masih meleleh di saat ujung pedang itu dicabut.

Namun tubuh Hoapula tidak roboh, dia masih berdiri kaku.

Seseorang berdiri di belakang Hoapula dengan pedang terhunus, orang itu adalah manusia yang berhasil merobohkan puluhan jago pemanah dalam waktu singkat, orang yang berhasil menyarangkan pedangnya di dada Hoapula, menusuk tembus hulu hatinya.

Ternyata orang itu bukan Pancapanah! Pedang yang berada dalam genggamannya pun ternyata pedang Mo-gan, si Mata iblis milik Siau-hong.

Siapakah orang ini?

Kecuali Pancapanah, siapa yang bakal datang menyelamatkan Siau-hong dan Yang-kong?

Mengapa dalam genggaman tangan orang itu bisa muncul pedang mata iblis milik Siau-hong?

Mungkinkah Po Eng? Mungkinkah pada akhirnya Po Eng telah muncul?

Sebelum melihat jelas tampang muka orang itu, Siau- hong memang sempat berpikir demikian, pemikiran itu membuat emosinya menggelora, membuat sekujur tubuhnya gemetar keras. Sayang lagi-lagi dugaannya keliru besar.

Orang itu bukan Pancapanah, bukan pula Po Eng, tapi seseorang yang mimpi pun tak pernah diduga, seseorang yang mustahil bisa muncul untuk menyelamatkan mereka berdua.

Ternyata orang itu adalah Tio Kun, orang yang begitu polos, begitu tahu aturan, bahkan sewaktu menyerahkan ongkos sebesar dua puluh lima tahil perak pun tangannya sempat gemetar lantaran tegang.

Kini tangannya justru lebih mantap daripada batu karang.

Dalam tangannya tergenggam sebilah pedang, ternyata pedang itu adalah "Mo-gan" si Mata iblis milik Siau-hong. Cahaya dingin yang aneh dan misterius masih terpancar dari pedang "Mo-gan", sorot mata orang itu pun membiaskan sinar tajam.

Kini dia sudah bukan lagi lelaki polos yang penuh sopan santun, hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuhnya bahkan jauh lebih menakutkan daripada hawa pembunuhan yang terpancar dari pedang mata iblis.

"Sebenarnya siapa kau?" tegur Siau-hong.

"Orang yang datang untuk membunuh, orang yang datang untuk menolong pula," jelas Tio Kun, "Orang lain yang akan kubunuh dan kau yang akan kutolong."

"Mengapa kau datang untuk menolongku?"

"Karena orang yang hendak mereka bunuh sebetulnya bukan kau, karena kau memang tidak sepantasnya mati."

"Lalu siapa yang hendak mereka bunuh?" kembali Siau- hong bertanya.

"Aku!"

Jawaban Tio Kun ini mau tak mau membuat orang tercengang, terperangah.

"Orang yang sebetulnya hendak mereka bunuh adalah aku!" ]

Siau-hong melongo, tertegun.

Sebetulnya masih ada banyak persoalan yang ingin dia tanyakan, namun Tio Kun telah membalikkan badan.

"Ikutlah aku!" ajaknya, "Aku akan mengajakmu minum arak, aku tahu arak yang dijual di tempat sekitar sini cukup lumayan." Walau Siau-hong merasa butuh secawan arak, tapi saat ini rasanya masih bukan waktu yang tepat untuk minum arak. "Sekarang adalah saat yang tepat.”

“Mengapa?"

"Karena ada banyak persoalan yang ingin kau tanyakan padaku, begitu pula aku."

Setelah berhenti sejenak, lanjut Tio Kun, "Tapi banyak persoalan yang ingin kusampaikan kepadamu, hanya bisa kuucapkan setelah kita minum arak nanti."

Setelah membelok tikungan bukit di depan sana, di balik lembah terdapat sebuah dusun kecil. Rakyat desa hidup ramah, penuh kedamaian, namun arak yang mereka buat dari sorgum terasa lebih panas dari sengatan api.

Tempat di mana mereka meneguk arak bukanlah dusun Sin-hoa-cun yang ditunjuk para penggembara, tapi sebuah rumah tukang kayu yang miskin dan hidup bersahaja, bila ada pelancong yang datang membeli arak kepada mereka, berarti pada tahun baru mendatang anak-anak mereka bakal memakai baju baru.

Tuan rumah menggunakan sepasang tangannya yang kasar berotot menyuguhkan sebuah teko yang terbuat dari tanah liat, menggunakan bahasa yang tak dipahami Siau- hong, mengucapkan beberapa patah kata kepada Tio Kun, kemudian dengan memboyong anak istrinya, ia berlalu dari sana, meninggalkan rumah batunya yang kecil untuk ditempati para tamu kehormatannya.

"Barusan apa yang dia katakan?" tak tahan Siau-hong bertanya.

"Dia menerangkan kalau arak ini bernama Hu-tau si Kampak, hanya lelaki sejati yang kuat meneguknya." Tio Kun tersenyum, lanjutnya, "Dia bilang, tampang kita berdua mirip lelaki sejati, karena itu dia menyuguhkan arak itu untuk kita berdua."

Lalu sambil tersenyum, kembali tanyanya pula, "Apakah kau memahami maksudnya?"

Tentu saja Siau-hong mengerti maksudnya, "Dia sengaja berkata begitu, karena berharap sewaktu membayar ongkosnya nanti, kita pun bersikap sebagai lelaki sejati."

Keempat dinding rumah itu terbuat dari batu cadas, di atas sebuah anglo yang besar, anglo yang terbuat dari batu cadas, terdapat sekuali daging kelinci, sebatang kayu bakar membara dengan menimbulkan suara gemeratak, seluruh ruangan dipenuhi bau harum daging dan arak.

Kaum wanita tidak berada di dalam rumah ini.

Yang-kong telah terpanah, panah itu menghujam di bagian tubuhnya yang tak boleh terlihat kaum lelaki.

Tio Oh-si telah membawanya menuju ke rumah kecil di bagian belakang, menggunakan arak keras yang diminum kaum lelaki untuk mencuci mulut lukanya.

Rasa sakit yang luar biasa membuat gadis itu bermandikan keringat dingin, namun dia sama sekali tak ketinggalan dengan setiap patah kata yang sedang dibicarakan kedua lelaki itu di ruang depan.

Ketika tiga cawan arak "kapak" telah mengalir ke dalam perut, pengaruh alkohol pun mulai menyelimuti benak mereka.

Siau-hong yang buka suara terlebih dulu, tanyanya kepada Tio Kun, "Kau bilang sebenarnya kaulah yang hendak mereka bunuh?"

"Benar!" "Tahukah kau, siapakah mereka?"

"Ada di antaranya anak buah Lu-sam," jawab Tio Kun segera, "Hoapula pun telah dibeli Lu-sam, karena itulah sejak pagi tadi ia sudah mengirim berita dan mengajak datang begundal Lu-sam."

"Datang untuk membunuhmu?" tanya Siau-hong, "Mengapa pula kau datang menolong kami?"

Jawaban Tio Kun sangat enteng, siapa pun yang telah meneguk arak semacam ini, caranya bicara tak akan ragu dan penuh kesangsian lagi.

"Karena aku sesungguhnya adalah anggota mereka, bahkan seseorang yang amat dipercaya olehnya," Tio Kun menerangkan, "Tapi aku telah membawa kabur seorang wanita yang paling disayang, paling dicintainya."

Lambat-laun akhirnya Siau-hong mengerti sudah.

Yang dimaksud "seorang wanita" tentulah Tio Oh-si, perempuan ini memang seorang makhluk langka yang sangat menawan, setiap saat Siau-hong dapat menemukan begitu banyak alasan mengapa Lu-sam merasa berat hati membiarkan perempuan semacam itu melarikan diri.

Tio Kun sendiri pun pasti mempunyai alasan yang cukup kuat untuk membawa kabur perempuan itu, apalagi kabur dengan mempertaruhkan keselamatan jiwanya. Siau-hong percaya masih ada banyak lelaki yang rela melakukan hal yang sama.

Apalagi mereka berdua memang jauh lebih sesuai, paling tidak bila dibandingkan perempuan itu dengan Lu-sam.

Dalam hal ini Siau-hong dapat memakluminya dan memaafkan mereka berdua. Tio Kun memandangnya dengan sinar mata minta maaf, "Sebenarnya aku tak ingin menyusahkan kalian berdua."

Dengan tulus dan jujur lanjutnya, "Tapi aku tahu Lu-sam telah membeli Hoapula, dia sudah menaruh curiga bahwa kemungkinan besar kami telah menyusup ke dalam rombongan pedagang."

"Oleh karena itu kau sengaja memasukkan Tangan emas itu ke dalam buntalan kami, agar Hoapula mencurigai kami?"

"Tapi aku benar-benar tak bermaksud mencelakai dirimu."

"Bukan?"

"Aku sengaja berbuat begitu tak lain karena ingin mengalihkan target orang-orang itu, agar mereka mengkonsentrasikan seluruh kekuatannya menghadapi kalian."

Setelah berhenti sejenak, lanjut Tio Kun, "Dengan berbuat begitu, aku baru memiliki cukup kesempatan untuk turun tangan."

Dalam hal ini mau tak mau Siau-hong harus mengakui, cara yang dilakukan Tio Kun memang merupakan sebuah langkah yang amat cerdas.

Kembali Tio Kun menerangkan, "Sejak permulaan aku sudah tak bermaksud mencelakai kalian, karena itulah kami telah membantumu membunuh Che Thong dan Che Beng."

"Che Thong? Che Beng?" tanya Siau-hong tercengang, "Apakah mereka adalah ayah beranak yang berada satu kereta denganku sore tadi?"

"Benar." Kembali Tio Kun berkata, "Mereka adalah anak buah Sam-po-tong, ayah beranak itu sangat mahir dalam senjata rahasia, bahkan senjata rahasia mereka sangat beracun, oleh karena itu kami pun harus menggunakan cara yang sama untuk menghadapi mereka."

"Menggunakan cara yang sama?" tanya Siau-hong, "Maksudmu menggunakan racun?"

"Dengan gigi membayar gigi, dengan racun menyerang racun," Tio Kun mengangguk, "Oleh karena mereka adalah manusia semacam itu, maka terpaksa Soso harus turun tangan."

Yang dimaksud "Soso" tentulah Tio Oh-si, Siau-hong sama sekali tak mengira perempuan inilah yang telah turun tangan sekeji ini.

Bisa meracuni sampai mati dua orang jago kawakan yang tersohor karena senjata rahasia beracunnya, bahkan sanggup meracun mati mereka tanpa disadari, sudah jelas hal semacam ini bukanlah perbuatan yang gampang dilakukan.

"Kapan dia meracuni mereka berdua?" tanya Siau-hong lagi, "Meracuni mereka dengan cara apa?"

"Di saat kami harus turun berganti kereta tengah hari tadi," jawab Tio Kun, "Waktu itu kami pun membagikan sedikit lauk kepada mereka, menyaksikan mereka melahapnya sampai habis."

Setelah tersenyum, terusnya, "Lauk yang kami siapkan sepanjang perjalanan ini memang beraneka ragam."

Racun dicampurkan ke dalam lauk, di saat tengah hari itulah Che Thong ayah beranak telah menyantap nasi dengan lauk beracun, menjelang magrib sang racun baru mulai bekerja. "Ia telah memperhitungkan secara tepat, orang-orang itu baru akan turun tangan setelah memasuki wilayah perbukitan, karena itu, dia pun telah memperhitungkan dengan tepat saat racun itu mulai bekerja."

Tak tahan Siau-hong menghela napas panjang.

"Ai, perhitungannya sungguh amat tepat," bisiknya.

"Di bidang ini dia memang harus diakui sebagai seorang jagoan yang sangat mahir."

Nada ucapan Tio Kun dipenuh perasaan bangga dan angkuh, "Padahal dalam bidang apa pun, dia bisa disebut sebagai seorang jagoan tangguh yang amat hebat."

Ia merasa bangga untuk kehebatan perempuannya, perempuan itu pun memang harus diakui sebagai seorang wanita yang pantas dibanggakan orang lain.

Tapi benarkah seorang pria betul-betul akan merasa bahagia setelah memiliki seorang wanita semacam ini?

Siau-hong berharap mereka bisa memperoleh kebahagiaan itu.

Peristiwa tragis yang berlangsung di dunia ini sudah kelewat banyak, apalagi mereka berdua termasuk orang yang saleh dan berhati mulia, dalam situasi seperti ini pun mereka enggan membiarkan orang lain ikut terluka dan menderita.

Siau-hong ingin sekali bertanya kepada mereka, ingin tahu siapakah orang ini?

Tapi akhirnya ia tidak bertanya.

"Mo-gan" tersoreng persis di sisi pinggang Tio Kun, dia pun tidak bertanya dari mana Tio Kun mendapatkan pedang itu. Dia bahkan melirik sekejap untuk melihat pun tidak.

Banyak tahun berselang, sewaktu ia baru mendapat pedang itu, seperti para pemuda lainnya yang belajar pedang, dia sempat memandang pedang itu lebih berharga daripada seorang kekasih, bahkan dia pun sempat punya angan-angan untuk mengukir beberapa tulisan pada gagang pedang itu.

"Pedang ada manusia hidup, pedang lenyap manusia mati".

Tapi kini perasaannya sama sekali telah berubah, lambat- laun ia mulai menjumpai bahwa masih terdapat lebih banyak masalah di dalam kehidupannya yang jauh lebih penting, jauh lebih berharga daripada sebilah pedang.

Dia sudah bukan lagi termasuk pemuda yang murung di saat masih belum tahu arti murung, tak mampu bicara apa pun setelah tahu apa arti murung", dia bukan lagi seseorang yang begitu bersemangat, ibarat seorang pendekar muda yang baru terjun ke dunia persilatan, begitu bertemu orang langsung hatinya menggebu-gebu ingin bertarung.

Saat ini dia hanya berharap bisa menemukan Po Eng, berharap bisa menyelesaikan semua budi dendamnya, berharap menjadi manusia biasa yang tidak berhutang kepada siapa pun.

Sekalipun rambutnya belum beruban, namun jalan pikirannya justru melampaui pemikiran seorang lelaki setengah umur.

Hawa mabuk sudah mulai menyelimuti pandangan mata Tio Kun, namun dia masih menatap Siau-hong tanpa berkedip.

"Aku tahu, nama aslimu pasti bukan Biau Chong, seperti kau pun tak tahu namaku yang sebenarnya bukan Tio Kun," katanya, "Tapi aku tak pernah bertanya langsung, siapakah kau."

"Aku pun tak pernah bertanya," jawab Siau-hong hambar, "Kita adalah manusia petualangan yang hidup di ujung dunia, bertemu tanpa sengaja, di mana besok masing- masing akan pergi ke arah yang berbeda, memang tak penting untuk mengetahui lebih banyak tentang orang lain."

"Apakah hal ini disebabkan dalam hatimu sudah terlampau banyak penderitaan dan rahasia yang tak ingin diketahui orang lain?" Siau-hong menampik untuk menjawab pertanyaan ini.

Mendadak Tio Kun menghela napas lagi.

"Padahal aku pun tahu bahwa apa yang kau katakan tidak salah, memang ada sementara persoalan yang lebih baik tak usah diketahui."

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya, "Tapi sayang, secara lamat-lamat aku sudah sedikit mengetahuinya."

"O, ya?"

"Ketika mereka menyergapmu di jalan perbukitan tadi,  di saat memaksa kau pulang ke rumah, seharusnya kalian bisa menduga orang-orang itu telah salah sasaran."

Kemudian tanyanya, "Mengapa kau tidak menjelaskan kepada mereka?"

Sebelum Siau-hong menjawab, dia telah menjawab, "Kau tidak berbicara karena kau pun merupakan target  yang sedang mereka cari."

Siau-hong terbungkam, tak mampu bicara. Dalam cawan masih ada arak, Tio Kun menghabiskan isinya lalu meletakkan kembali cawan itu perlahan-lahan, tiba-tiba ia mencabut pedangnya.

Hawa pedang yang dingin menggidikkan, "mata iblis" yang hanya satu itu seolah berkedip tiada hentinya, seakan- akan dia sudah mengenali bekas majikannya.

Dengan lemah-lembut penuh kasih-sayang, Tio Kun membelai mata pedang itu.

"Apakah kau pun berlatih pedang?" dia awasi sekejap pedang yang berada dalam genggamannya, "Kau seharusnya tahu pedang ini adalah sebilah pedang mestika."

"Benar, memang pedang mestika."

"Bukan hanya sebilah pedang mestika, bahkan sebilah pedang kenamaan," ujar Tio Kun lebih lanjut, "Pedang ini bernama Mo-gan, si Mata iblis."

"O, ya?"

"Sebetulnya pedang ini bukan milikku, lima hari berselang masih bukan."

Mendadak Tio Kun mendongakkan kepala, menatap tajam wajah Siau-hong, "Mengapa kau tidak bertanya kepadaku, dari mana kuperoleh pedang ini?"

Maka Siau-hong pun bertanya, "Dari mana kau peroleh pedang ini?"

"Dari tubuh sesosok mayat," sahut Tio Kun, "Mayat itu adalah pemilik lama pedang ini, dia she Hong, musuh bebuyutan Lu-sam, aku adalah salah satu di antara kawanan jago yang diutus Lu-sam untuk memburu dan membekuknya."

Kemudian perlahan-lahan dia melanjutkan, "Waktu itu aku telah berunding dengan Soso, kami gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri dari cengkeraman Lu- sam, karena itulah aku bawa pedang ini."

Siau-hong hanya mendengarkan dengan tenang, sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah persoalan ini sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Tio Kun masih menatapnya, sepasang mata mabuknya yang semula sudah layu dan nyaris meram tiba-tiba berubah jadi jernih dan sadar, mendadak tanyanya kepada Siau- hong, "Inginkah kukembalikan pedang ini kepadamu?"

"Kembalikan kepadaku?" tanya Siau-hong, "Kenapa harus dikembalikan kepadaku?"

"Karena aku tahu Siau-hong, si pemilik lama pedang ini belum mati," sahut Tio Kun, "Orang yang terpeleset jatuh ke dasar jurang itu bukan Siau-hong, melainkan orang lain."

"O, ya?"

"Karena di tangan orang itu tidak dijumpai bekas seseorang yang sudah lama berlatih pedang."

Setelah berhenti sejenak, terusnya, "Bukan aku saja yang dapat menemukan tanda ini, orang lain pun dapat menemukannya."

"O, ya?"

Mendadak Tio Kun mengayunkan pedangnya, mengarahkan ujung pedang ke tenggorokan Siau-hong, lalu sepatah demi sepatah kata ujarnya lebih jauh, "Kau adalah Siau-hong, aku tahu, kau pasti Siau-hong."

Mata pedang berada satu inci di depan tenggorokan, sedemikian dekatnya hingga hawa pedang yang menusuk serasa ujung jarum yang menembus pori-pori kulit.

Siau-hong masih tidak melakukan reaksi apa pun. Kulit wajahnya telah terbias oleh "cahaya terang", sama sekali tak nampak lagi perubahan mimik mukanya.

Jangankan paras, bahkan mata pun sama sekali tak berkedip.

"Hahaha, ternyata kau memang seorang Hohan!" puji Tio Kun tiba-tiba sambil tertawa tergelak.

Ia membalik pergelangan tangan dan "Criiinggg!", memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarung.

Kemudian dari pinggangnya dia melepaskan sarung pedang dan diangsurkan ke hadapan Siau-hong dengan kedua belah tangan.

"Mau kau adalah Siau-hong atau bukan, aku tetap akan menyerahkan pedang ini kepadamu."

"Kenapa?" akhirnya Siau-hong bertanya.

"Karena kau adalah seorang Hohan," jawab Tio Kun, "Hanya Enghiong Hohan macam kau yang pantas menggembol pedang ini."

Sikapnya tulus dan terbuka, dia benar-benar berniat menghadiahkan pedang itu untuk Siau-hong, namun Siau- hong sama sekali tidak menerimanya.

Walaupun perasaannya sudah terhanyut oleh ketulusan dan kesetia kawanan orang ini, namun dia tetap enggan menerimanya.

"Mau diriku Siau-hong atau bukan, aku tak bisa menerima pemberian pedangmu ini."

"Kenapa?"

Alasan Siau-hong amat tegas, "Sebab bila aku adalah Siau-hong, pedang ini pasti akan kuhadiahkan kepadamu, sekalipun kau kembalikan kepadaku, aku tetap akan memberikan lagi untukmu."

Kemudian ia menambahkan, "Buat apa kita harus saling menghadiahkan pedang ini?"

"Apabila kau bukan Siau-hong?"

Siau-hong segera tertawa, "Bila aku bukan Siau-hong, atas dasar apa kau menghadiahkan pedang setajam itu untukku?"

Tio Kun ikut tertawa, "Kau memang manusia aneh, anehnya setengah mati!"

Ia meletakkan pedang itu di meja, kemudian sambil mengangkat cawan arak katanya lagi, "Kuhormati secawan arak untukmu."

Siau-hong tidak mengangkat cawan araknya, tiba-tiba parasnya berubah.

Sewaktu ujung pedang menempel di tenggorokannya tadi, dia sama sekali tak berkedip.

Tapi sekarang parasnya yang oleh rembesan "cahaya terang" telah berubah bentuk, seolah telah tertembus tenggorokannya oleh sebatang pedang tajam yang meski tak nampak bentuknya, namun lebih tajam daripada "Mo-gan", tertusuk telak di hulu hatinya.

Karena secara tiba-tiba ia mendengar suara senandung nyanyian, lagu yang entah berapa banyak pernah diulang olehnya:

Seorang lelaki harus ternama. Minum arak harus mabuk.

Penuturan di saat mabuk, itulah suara hati yang sesungguhnya.... Di balik suara nyanyian itu terkandung kedukaan seorang lelaki yang tak berdaya, penuh terkandung semangat jantan yang menggelorakan darah di dada. Suara nyanyian itu terdengar begitu sendu, khususnya di tengah kegelapan malam yang dingin, di tengah dusun terpencil nun jauh dari kehidupan.

Tiba-tiba Siau-hong membuang cawan araknya dan menerjang keluar dengan kecepatan luar biasa.

Berada dimana pun, kapan pun, terlepas apa yang  sedang dia lakukan, asal mendengar suara nyanyian itu, dia akan meninggalkan segalanya dan menyerbu keluar dengan kecepatan tinggi.

Lembah yang dingin, dusun nan sunyi, bangunan rumah yang terbuat dari batu cadas, terhanyut dalam keheningan dan kesepian, tiada cahaya lentera yang tampak, kecuali secercah kerdipan api nun jauh di atas bukit.

Dari atas bukit itulah suara nyanyian itu berasal.

Di atas bukit terdapat sebuah batu cadas yang amat besar, di atas batu cadas terdapat seonggok api unggun, kayu dan ranting kering yang terlalap api menimbulkan suara gemeratak yang nyaring, seolah irama musik yang mengiringi suara nyanyian itu.

Seseorang duduk sendiri di tepi api unggun, tangannya memegang kantung kulit kambing yang telah kosong, suara nyanyiannya makin lama semakin rendah sebelum lenyap.

Memandang onggokan api unggun itu, menjumpai manusia itu, perasaan Siau-hong seolah berubah seperti sebatang kayu kering yang dilalap oleh jilatan api.

Manusia belum mabuk, arak telah habis, bagaimana mungkin malam yang panjang dapat dilampaui? Sudah banyak tahun Siau-hong tak pernah melelehkan air mata, namun detik itu dia merasa air mata panas nyaris melompat keluar dari balik kelopak matanya, nyaris meleleh membasahi pipinya.

Yang-kong ikut mengejar ke sana, menggenggam tangannya erat-erat.

"Dia?" bisik nona itu dengan suara gemetar, "Benarkah dia?"