Elang Terbang di Dataran Luas BAB 14. CINTA BENCI HANYA TERPISAH SATU GARIS

 
BAB 14. CINTA BENCI HANYA TERPISAH SATU GARIS

Pova menatapnya lekat-lekat.

"Kau mau membunuhku boleh saja, tidak membunuhku juga boleh, aku tak akan memaksa dirimu," katanya, "Namun ada satu hal perlu kuingatkan dulu kepadamu."

"Soal apa?"

"Jika kau tak membunuhku, bakal ada orang akan membunuhmu. Bila aku tak mati, setelah kau berjalan keluar dari ruangan ini, nyawamu pasti akan tercabut di ujung pedang Galun."

"Aku tahu," sahut Siau-hong.

Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa berpaling lagi dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Antara cinta dan benci, antara benar dan salah, antara hidup dan mati, sesungguhnya bagaikan golok bermata dua, perbedaan di antara mereka hanya dipisahkan oleh sebuah garis yang tipis.

Baru keluar dari dalam ruangan, Siau-hong telah melihat Galun Lhama sedang menunggunya di tengah halaman kecil.

Matahari sudah semakin redup, angin yang berhembus terasa makin dingin dan menggigilkan.

Galun Lhama berdiri di bawah sebatang pohon kuno, hembusan angin menggoyangkan dahan dan ranting, namun jagat raya sama sekali tak bergerak.

Pendeta agung ini pun sama sekali tak bergerak. Walaupun dia nampak begitu kurus kering dan lemah,

namun kesabarannya sudah melampaui ketenangan yang mencekam jagat raya.

Satu-satunya perubahan yang terjadi hanyalah di saat ia bertemu Siau-hong, dari balik matanya seolah terlintas selapis perasaan pedih dan iba.

Apakah hal ini dikarenakan dia telah menduga sejak awal kalau Siau-hong tak bakal melakukan pembunuhan?

Dalam genggaman Siau-hong masih ada pedang, cahaya pedang tetap memancarkan sinar kehijauan.

Galun Lhama memandang sekejap pedang di tangannya, lalu berkata hambar, "Pedang mustika bagaikan kuda jempolan, kuda jempolan memilih majikan yang saleh, begitu pula dengan pedang, bila kau tak dapat mempergunakannya maka senjata itu bukan milikmu."

"Pedang ini memang sebenarnya bukan milikku, milikmu," kata Siau-hong.

"Kalau bukan milikmu, cepat kembalikan kepadaku," ujar Galun Lhama sambil mengulurkan tangan. Tanpa ragu sedikit pun Siau-hong segera mengembalikan pedang itu ke tangannya.

Ketajaman pedang ini jauh berada di luar dugaan siapa pun, seandainya dia menggenggam senjata ampuh  semacam ini, belum tentu Galun Lhama bisa menandinginya dengan mudah.

Namun dia seakan sama sekali tidak berpikir ke situ, sama sekali tidak punya pikiran kalau Galun minta dia menyerahkan kembali pedang itu karena pendeta itu akan menggunakan senjata itu untuk membunuhnya.

Dia pun tidak....

Matahari senja telah bersembunyi di belakang bangunan istana yang tinggi megah, yang tersisa kini hanya kilatan cahaya pedang berwarna hijau yang berkilauan di tengah remang-remangnya cuaca.

Tiba-tiba Galun Lhama menghela napas panjang sambil berkata, "Sebetulnya kau pun seorang pemuda yang hebat dan mengesankan, seperti Bu-siong, tapi sayang sekarang kau pun telah mati. Sekalipun aku tidak membunuhmu, kau pun tak jauh berbeda dengan orang mati."

Ia mendongakkan kepala menatap Siau-hong, kemudian terusnya, "Sekarang apa lagi yang ingin kau katakan?"

"Ada!" jawab Siau-hong segera, "Masih ada yang akan kukatakan, ada satu persoalan ingin kutanyakan kepadamu."

"Soal apa?"

Siau-hong menatapnya tajam, kemudian sepatah demi sepatah ujarnya, "Kau membenci Pova, membenci dia telah menghancurkan orang yang paling kau kasihi, kau pun membenci diri sendiri, karena kau sama sekali tak sanggup mencegah terjadinya peristiwa ini."

Tiba-tiba dia mempertinggi suaranya dan bertanya lebih jauh dengan nada keras, "Mengapa kau tidak berusaha mencegah mereka? Mengapa membiarkan dia tetap tinggal di sini? Mengapa tidak kau bunuh dengan tanganmu sendiri? Sebenarnya apa yang kau takuti?"

Galun Lhama tidak menjawab, sama sekali tak membuka suara, sementara cahaya pedang dalam genggamannya bergetar semakin hebat.

Apakah tangannya sedang gemetar? Persoalan apa di dunia ini yang dapat membuat pendeta agung ini  terperanjat hingga gemetaran?

Perkataan Siau-hong makin tajam dan memojokkan, katanya lagi, "Sudah jelas kau memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya peristiwa ini, bila kau sudah turun tangan sejak awal, tak mungkin Bu-siong menemui ajalnya. Dalam hatimu pasti terdapat rahasia besar yang takut diketahui orang, karena itu bukan saja kau tak berani membunuh Pova, bahkan bertemu muka dengannya pun tak berani."

"Apakah kau menginginkan aku pergi membunuhnya?" tiba-tiba Galun Lhama buka suara, "Bila aku ingin membunuhmu, apakah harus membunuhnya terlebih dahulu?"

"Benar!" jawaban Siau-hong langsung, jelas dan tegas.

Dia tak ingin Pova mati, tapi dia pun tak ingin dirinya mati, karena itu diajukan persoalan pelik untuk Galun.

Dia yakin dan percaya kalau Galun Lhama seperti dirinya, tak akan turun tangan terhadap Pova, sebab kalau bukan begitu, mungkin Pova sudah mati berulang kali. Tapi kali ini lagi-lagi dia salah menduga.

Bara saja kata "benar" meluncur dari mulutnya, tubuh Galun Lhama yang kurus kering telah menyelinap ke depan bagai hembusan segulung angin segar dan tahu-tahu telah menyusup masuk ke dalam ruangan.

Menanti dia ikut menyusul ke dalam, pedang di tangan Galun Lhama yang memancarkan sinar kehijauan itu telah menempel di atas tenggorokan Pova.

Cahaya pedang menyinari wajah Pova, paras gadis itu sama sekali tak nampak gugup, panik, atau ketakutan.

Dia tak percaya Galun berani turun tangan terhadapnya. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Pova hambar,

"Apakah kau ingin membunuhku? Apakah kau sudah lupa siapakah aku? Lupa dengan janji rahasia di antara kita berdua?"

"Aku tidak lupa."

"Kalau begitu kau seharusnya tahu, bila kau bunuh diriku, bukan saja bakal menyesal sepanjang masa, bahkan dosamu tak pernah bisa tercuci bersih selamanya."

Pova berbicara dengan yakin, begitu yakinnya hingga membuat orang mau tak mau merasa terperanjat.

Sebenarnya siapakah perempuan ini?

Antara seorang iblis wanita dengan seorang pendeta agung, sebenarnya telah terjalin janji rahasia apa? Mereka telah berjanji untuk apa? Untuk melakukan apa?

Siau-hong tidak habis mengerti, tapi dia pun tak bisa tidak untuk mempercayainya.

Galun Lhama sama sekali tidak menyangkal akan hal ini. "Aku tahu, aku memang tak dapat membunuhmu, tapi aku rela selamanya terjebak dalam neraka dan siksaan batin untuk tetap membunuhmu."

"Mengapa?"

"Karena Bu-siong adalah anakku, dua puluh delapan tahun berselang aku pun pernah bertemu seorang wanita seperti kau."

Berubah paras Pova.

Dia bukan terperanjat karena mendengar rahasia ini, melainkan karena dia tahu setelah Galun Lhama membeberkan semua rahasia kepadanya, hal ini menunjukkan ia telah bertekad akan menghabisi nyawanya.

Paras Siau-hong ikut berubah.

Dia pun telah menyadari akan hal ini. Bukan saja ia tercengang bahkan merasa menyesal, karena hawa napsu membunuh di hati Galun terpancing keluar gara-gara dipaksa olehnya.

Dia tak ingin menyaksikan Pova tewas gara-gara ulahnya.

Belum lagi pedang itu menusuk ke depan, Siau-hong telah menerkam ke depan, tangan kanannya langsung membacok belakang tengkuk Galun sementara tangan kirinya mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya yang menggenggam pedang. Galun Lhama sama sekali tak berpaling.

Dia alihkan pedangnya ke tangan kiri, sementara ruas tulang lengan kanannya tiba-tiba menekuk sambil berputar ke belakang, dia balas mengancam pinggang anak muda itu.

Siapa pun itu orangnya, tak nanti ada yang menduga kalau  lengan  seseorang  dapat  ditekuk  ke  belakang  dari posisi seperti itu, apalagi menyerang dari arah yang tak terduga.

Begitu juga dengan Siau-hong, dia pun tidak mengira. Baru saja ia saksikan Galun membalik lengan kanannya,

tahu-tahu dia sudah terhantam roboh.

Kini mata pedang sudah berada tak sampai dua inci dari tenggorokan Pova.

Tusukan yang dilakukan Galun Lhama saat ini sangat lambat, perasaan yang sudah banyak tahun terkekang, rasa cinta yang sudah lama terkendali, tiba-tiba saja dilampiaskan semua, rasa benci dan dendamnya terhadap Pova jauh lebih dalam dari siapa pun.

Dia ingin menyaksikan iblis wanita yang telah menghancurkan hidup putranya ini perlahan-lahan mati di ujung pedangnya.

Sekarang sudah tak ada orang lagi yang dapat menyelamatkan jiwa Pova.

Siau-hong nyaris tak tega menyaksikan lebih lanjut. Sungguh tak disangka pada detik itulah mendadak terlihat lagi ada sekilas cahaya pedang menyambar secepat kilat, langsung mengancam nadi besar di belakang tengkuk Galun Lhama.

Tusukan pedang itu datang amat cepat, arah yang diincar pun sangat tepat.

Dalam keadaan begini, mau tak mau Galun Lhama harus berusaha menyelamatkan diri.

Pedangnya segera diayun ke belakang menyongsong datangnya cahaya pedang yang terbang melintas di tengah udara. "Traang!", sepasang pedang saling beradu, terjadilah suara benturan yang memekakkan telinga, percikan bunga api berhamburan ke mana-mana, seperti percikan api mercon di tengah kegelapan malam.

Menyusul "Traak!", sebilah pedang mencelat ke udara dan menancap di atas tiang ruangan.

Tak ada pedang, tak ada manusia.

Ternyata pedang itu dilontarkan orang dari luar ruangan, sementara sang pelempar masih berada di luar kamar. Kalau lontaran pedangnya saja bisa menimbulkan kekuatan dan kecepatan sehebat ini, bisa dibayangkan betapa ampuhnya kungfu yang dimiliki orang itu.

Biarpun Galun Lhama belum sempat bertemu orang itu, rupanya dia sudah tahu orang ini sangat menakutkan.

Siau-hong segera dapat menduga siapa gerangan orang ini. Meskipun dia tak mengira orang itu bisa datang menyelamatkan Pova, namun dia kenal betul pedang itu.

Ternyata pedang yang menancap di atas tiang penglari itu tak lain adalah pedang Mo-gan, si mata iblis miliknya.

Ruangan yang redup, kertas jendela yang putih, daun jendela berada dalam keadaan setengah terbuka, sementara itu pedang meluncur masuk dari luar jendela, tapi mana orangnya?

Sewaktu pedang Mata iblis terpantek di atas tiang, Galun Lhama telah menerobos keluar lewat jendela, Siau-hong hanya menyaksikan sekilas cahaya pedang berwarna kehijauan melesat keluar dari jendela bagaikan kilatan bianglala.

Tahu-tahu bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan. Tubuhnya yang kurus kering telah melebur di balik cahaya pedang, tubuh dan pedangnya telah bersatu-padu, nyaris mendekati "tubuh pedang melebur jadi satu" seperti sering disebut dalam legenda.

Ci-siong, pedang mestika yang berada dalam genggamannya termasuk juga sebuah senjata langka.

Seandainya Po Eng masih berada di luar ruangan, dengan cara apa dia akan membendung datangnya serangan maut itu?

Tiba-tiba Siau-hong melompat naik ke atas wuwungan rumah, dia berniat mencabut pedang miliknya dan berharap segera dapat menyerahkan senjata itu ke tangan Po Eng.

Belum sempat tangannya diulur, mendadak atap ruangan hancur dan berserakan ke bawah lantai, kemudian terlihat sebuah tangan menerobos masuk melalui lubang itu dan menyambar pedang itu.

Sebuah tangan yang kurus tapi sangat kuat, tangan dengan jari yang panjang dan kuku yang terawat sangat bersih dan rapi.

Siau-hong segera mengenali tangan itu, dia pun pernah berjabatan tangan dengan tangan itu.

Ternyata orang yang muncul tak lain adalah Po Eng.

Mengapa Po Eng datang menolong Pova? Apakah karena Siau-hong ataukah dikarenakan sebuah alasan yang hingga kini belum diketahui oleh siapa pun?

Belum Siau-hong menemukan alasannya, dari luar ruangan telah berkumandang lagi suara pekikan naga yang amat nyaring. Sekali lagi pedang Ci-siong saling bentur dengan pedang Mo-gan, belum habis suara dengungan bergema, Siau-hong pun telah menyusul keluar ruangan.

Waktu itu senja sudah kelam, kegelapan mulai menyelimuti angkasa.

Siau-hong tak dapat melihat jelas tubuh Po Eng, dia pun tidak melihat Galun, yang terlihat hanya dua kilatan cahaya pedang yang saling menggulung dan saling berputar di udara, di tengah hawa pedang yang menggidikkan, terlihat daun dan ranting berguguran, bahkan ujung baju yang dikenakan Siau-hong pun ikut berkibar.

Inilah untuk pertama kalinya Siau-hong menyaksikan ilmu pedang yang dimiliki Po Eng.

Sudah belasan tahun lamanya ia berlatih pedang, tapi baru hari ini dia sadar bahwa ilmu pedang ternyata merupakan sebuah pelajaran yang memiliki jangkauan begitu luas dan besar.

Ditatapnya pertarungan yang sedang berlangsung sengit itu dengan termangu, bukan saja tangan dan kakinya terasa dingin, perasaannya pun ikut dingin, begitu dinginnya hingga merasuk ke sampai ujung kaki.

Siapa yang akan memenangkan pertarungan ini?

Hawa pedang berwarna hijau kelihatannya jauh lebih cemerlang daripada hawa dingin "Mata iblis". Gerakan berputar dan beterbangan pun seakan jauh lebih lincah dan gesit.

Tapi secara tiba-tiba Siau-hong dapat merasakan bahwa sang pemenang pastilah Po Eng. Sebab biarpun hawa pedang "Ci-siong" lebih cemerlang, namun jelas memperlihatkan pertanda terburu napsu dan gelisah.

Siapa yang bernapsu dan gelisah pasti tak akan bertahan lama.

Ternyata apa yang dilihatnya tidak salah, meskipun cahaya yang terpancar dari pedang "Ci-siong" lebih segar dan cemerlang, namun hawa pedang yang terpancar sudah tidak memiliki hawa pembunuhan yang dahsyat dan menakutkan.

"Trang...!", mendadak terdengar lagi suara dentingan nyaring, untuk ketiga kalinya sepasang pedang itu saling bentur.

Bersamaan dengan lenyapnya suara dentingan, cahaya pedang yang menyelimuti angkasa pun tiba-tiba lenyap, kini dedaunan di atas pohon telah berguguran, suasana di tengah halaman pun tiba-tiba berubah jadi sunyi senyap.

Entah sejak kapan Galun Lhama sudah duduk bersila di tengah guguran dedaunan, di tengah remangnya cuaca, dia nampak begitu tenang, begitu lemah, seperti apa yang dilihat Siau-hong pertama kali tadi.

Sementara itu pedang "Ci-siong" sudah tak berada di tangannya lagi.

Dalam genggamannya tak ada pedang, di hati pun tiada pedang.

Kini dia sudah bukan jago pedang yang garang, jago pedang yang mampu membunuh musuhnya dalam sekejap.

Di saat dia meletakkan pedang, tubuhnya telah melangkah masuk ke tengah halaman, tapi sekarang dia tampil sebagai seorang pendeta agung yang hatinya lebih tenang dari air.

Semua hawa kebengisan dan napsu membunuh, cinta dan dendam, sayang dan benci mengikuti buyarnya hawa pedang yang mulai sirna dan punah, tingkat kesuciannya telah mengalami kemajuan satu tingkat.

Dengan tenang Po Eng berdiri di hadapannya, memandang wajahnya dengan tenang, sikapnya serius penuh hormat, sorot matanya memancarkan sinar kagum, tiba-tiba ujarnya sambil merangkap tangan memberi hormat, "Kiong-hi Taysu!"

"Kiong-hi apa? Kegembiraan apa yang kuperoleh?" "Taysu   telah   memahami   teori   tingkat   tinggi   ilmu

pedang," kata Po Eng, "Kiong-hi juga kepada Taysu karena

hasil latihanmu kembali memperoleh kemajuan."

Galun Lhama tersenyum, perlahan-lahan dia pejamkan matanya.

"Kau baik, kau sangat baik," kemudian sambil mengulap tangan ia menambahkan, "Kau pergilah!"

Po Eng belum beranjak pergi, tiba-tiba Galun Lhama membuka mata kembali sambil meraung sangat keras.

"Kenapa minta kau yang pergi? Kenapa bukan aku yang pergi?"

Seusai mengucapkan perkataan itu, dari balik wajahnya yang semu gelap terlintas selapis hawa kelembutan dan ramah.

Sekali lagi Po Eng merangkap tangan memberi hormat.

Dengan langkah yang lambat Galun Lhama berjalan melewati tumpukan daun di tanah dan menuju ke balik kegelapan malam. Dari tengah kegelapan malam yang mencekam, terlihat bintang bertaburan di angkasa.

"Ci-siong" masih tertinggal di tanah, mata pedang yang berwarna hijau kini telah berubah busam tak bercahaya.

Pedang kenamaan seperti jago pedang, sama saja tak boleh kalah.

Mengawasi bayangan punggung Galun Lhama hingga lenyap dari pandangan, tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang.

"Dia tidak kalah, sekalipun dianggap kalah pun bukan kalah oleh permainan pedangku."

"Bukan?"

"Pasti bukan," Po Eng menggeleng, "Dia kalah karena dia sama sekali tak punya niat membunuhku, dia hanya ingin menggunakan aku untuk melampiaskan hawa pedangnya, melampiaskan semua hawa sesat dan napsu membunuh yang mengeram di hatinya."

Sesudah berhenti sejenak, perlahan-lahan terusnya, "Kalau dia sama sekali tak berniat mengungguli diriku, bagaimana mungkin bisa dianggap kalah?"

Siau-hong memahami maksudnya.

Seorang pendeta agung yang sudah banyak tahun menahan diri, bila secara tiba-tiba timbul gejolak perasaan yang sukar dikendalikan, terkadang dalam waktu sekejap akan menggiringnya terjerumus ke dalam bencana iblis.

Karena jarak antara "iblis" dan "kebenaran" sesungguhnya seperti selisih antara cinta dan benci, hanya terbatas satu benang tipis.

Kini jago pedang telah kalah, namun pendeta agung telah menyadari akan kekhilafannya. Po Eng menatap Siau-hong, sinar matanya kembali memancarkan rasa gembira dan terhibur, dia sudah tahu pemuda itu telah memahami maksudnya.

Padahal waktu itu pikiran Siau-hong sangat kalut.

Ada banyak persoalan yang dia ingin tanyakan kepada Po Eng, dia sudah merasakan adanya hubungan istimewa antara Pova dan Po Eng, suatu hubungan rahasia yang hingga kini belum pernah diketahui siapa pun.

Dia tidak bertanya karena dia tak tahu bagaimana harus bertanya.

Po Eng pun tidak berbicara, apakah karena dia pun tak tahu bagaimana harus berkata?

Daun jendela yang setengah terbuka kini telah tertutup rapat, tiada cahaya lentera di dalam ruangan, juga tak ada suara, hanya Pova seorang diri yang duduk tenang di balik kegelapan.

Mengapa dia masih tetap tinggal di sini?

Perlahan-lahan Po Eng membalikkan badan, menghadap ke angkasa dengan bintang yang gemerlapan dan berdiri termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya, "Aku tahu, masih terdapat sebuah simpul mati yang belum dapat kau lepas dalam hatimu."

Siau-hong tidak menyangkal.

Kembali Po Eng termenung cukup lama.

"Bila kau benar-benar ingin mengetahui rahasia di balik semua ini, ikutlah aku, tapi kunasehati dirimu, ada beberapa masalah memang lebih baik tidak tahu."

Kali ini Siau-hong tidak menerima nasehat Po Eng. Dia pergi mengikuti Po Eng, berjalan menuju ke rumah kecil yang berada di sebelah timur.

Cahaya bintang terlihat jauh lebih benderang di tengah gurun, mereka sudah tiga hari lamanya berjalan di tengah gurun pasir.

Siau-hong tidak mengerti apa sebabnya Po Eng lagi-lagi membawanya menyusuri gurun pasir, namun dia pun tidak bertanya.

Ia percaya kali ini Po Eng pasti akan memberi sebuah jawaban yang gamblang dan jelas, jawaban yang dapat mengurai simpul mati dalam hatinya.

Mereka melakukan perjalanan dengan menunggang kuda, sepanjang hari nyaris kuda dilarikan tanpa berhenti, waktu beristirahat sangat sedikit.

Perjalanan yang mereka tempuh selama tiga hari ini lebih jauh daripada perjalanan biasa yang dilakukan selama sepuluh hari.

Gurun pasir yang tak berperasaan sama tak berperasaan, pada senja hari ketiga mereka telah balik kembali ke tebing karang yang terbentuk dari hembusan angin.

Selamanya Siau-hong tak akan melupakan tempat ini, sebab di tempat inilah untuk pertama kalinya ia berjumpa Pova, di sini pula Wi Thian-bong sekalian mendirikan perkemahannya.

Kini walaupun perkemahan itu entah sudah lenyap ke mana, namun seluruh peristiwa yang pernah terjadi dalam perkemahan itu, tak pernah akan dilupakan Siau-hong untuk selamanya.

Po Eng telah turun dari kudanya, bersama Siau-hong menikmati sepotong daging sapi dan sekantung arak susu. Selama tiga hari perjalanan, mereka jarang sekali buka suara, namun setiap kali selesai meneguk arak, Siau-hong tentu akan mendengar ia mendendangkan lagu yang amat pedih.

Lagu yang menggambarkan perasaan cinta seorang lelaki, perasaan yang membawa kesedihan, kesendirian yang memabukkan, jauh lebih memabukkan daripada arak yang diteguk.

"Kapan kita akan meneruskan perjalanan ke depan sana?"

"Kita tak akan melanjutkan perjalanan lagi," jawab Po Eng, "Tempat inilah yang kita tuju."

"Buat apa kau mengajakku kemari?" kembali Siau-hong bertanya.

Kalau tempat ini adalah tujuan mereka, apakah semua jawaban dari pertanyaannya berada di sini?

Po Eng tidak memberi jawaban apa pun, dia mengeluarkan dua buah sekop dari dalam buntalannya dan melemparkan sebuah ke arah Siau-hong.

Dia minta Siau-hong mengikutinya menggali tanah di sana.

Apakah semua jawaban dari pertanyaannya terpendam di bawah sana?

Ooo)d*w(ooO

Malam semakin larut.

Tanah yang mereka gali pun makin lama semakin dalam, kini mereka telah menggali melewati lapisan pasir yang gembur, lalu melewati pula selapis batu cadas yang keras. Sekonyong-konyong "Tring!", Siau-hong merasa cangkulnya telah menyentuh sebuah benda logam yang keras.

Menyusul dia pun menyaksikan kilatan cahaya emas dari balik bebatuan.

Ternyata emas murni!

Ternyata di bawah bebatuan karang yang keras itu tertanam emas murni dalam jumlah yang sangat banyak.

Sambil membuang sekopnya, ujar Po Eng kepada Siau- hong, "Sekarang kau tentu sudah mengerti bukan, mengapa kuajak kau datang kemari."

Suaranya tetap tenang, "Tiga puluh laksa tahil emas murni milik Hok-kui-sin-sian Lu-sam yang hilang dirampok semuanya di sini.”

“Kau yang menguburnya di sini?” “Benar, akulah si begal kucing."

Walaupun sejak awal Siau-hong telah menduga, tak urung ia terperanjat juga dibuatnya.

Kembali Po Eng menatapnya lekat-lekat, kemudian melanjutkan dengan perlahan, "Setiap anggota rombongan kami adalah begal kucing, merekalah pejuang sebenarnya yang sudah lama mendapat pendidikan ketat dan bertarung dalam ratusan pertempuran. Bila anak buah Wi Thian-bong dibandingkan mereka, maka kemampuan orang-orang itu tak lebih hanya bocah yang baru belajar bermain pedang."

Nada bicaranya sama sekali tidak terselip nada ejekan atau memandang hina, karena apa yang dikatakan memang merupakan kenyataan. "Mimpi pun Wi Thian-bong tak akan menyangka kalau tumpukan emas murni ini sebetulnya belum pernah diangkut keluar meninggalkan gurun pasir."

"Selamanya tak akan diangkut keluar?" "Ya, selamanya!"

Jawaban Po Eng sangat tegas dan serius, tapi Siau-hong tetap tak habis pikir.

Dengan susah payah mereka merampok uang emas itu, tentunya perbuatan ini dilakukan karena nilai bongkahan emas murni itu.

Bila tumpukan emas murni itu bakal dipendam selamanya di sana, bukankah emas yang tak ternilai harganya itu akan berubah seperti pasir dan bebatuan, sama sekali tak ada nilainya?

Tidak menunggu Siau-hong menanyakan soal itu, Po Eng telah menjawab pertanyaan itu terlebih dulu.

"Sebetulnya tujuan kami bukan ingin memiliki emas murni itu," kata Po Eng, "Kami sengaja merampok emas itu karena kami tak akan membiarkan Lu-sam menggunakan emas murni itu untuk menghadapi orang lain."

"Orang lain?" tak tahan Siau-hong bertanya, "Siapa yang kau maksud sebagai orang lain?"

"Mereka adalah kawanan manusia yang selama dua hari belakangan hampir setiap hari kau jumpai, yakni Pova, Pancapanah, serta seluruh anggota sukunya."

"Mengapa Lu-sam ingin menghadapi mereka?" tanya Siau-hong lagi, "Ia berencana akan menghadapi mereka dengan cara apa?"

Po Eng minta Siau-hong membantunya mengubur kembali emas itu ke dalam tanah, kemudian baru mulai berkisah, "Dia ingin merombak ajaran agama orang Tibet yang telah dipuja selama hampir ratusan tahun, dia pun ingin membunuh Buddha Hidup yang dipuja-puja orang Tibet selama ini karena ingin mendirikan agamanya sendiri di sini."

"Jelas kejadian ini merupakan sebuah perencanaan yang sangat mengejutkan, siapa pun tak menyangka Lu-sam akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya, hal ini dikarenakan agama yang dipujanya adalah agama menyembah api, ayahnya adalah orang Persia, pengikut setia dari kaum pemuja api," ujar Po Eng lebih lanjut, "Oleh sebab itu, dia ingin menggantikan ajaran kaum Lhama di Tibet dengan ajaran menyembah api."

Dengan wajah serius terusnya, "Padahal agama kepercayaan yang dianut orang Tibet sudah begitu mengakar di hati sanubari masing-masing, karena itu seandainya rencana yang dilakukan Lu-sam benar-benar terwujud, dapat dipastikan wilayah Tibet tak pernah akan hidup dalam kedamaian dan ketenteraman."

"Oleh karena itu kalian tak bisa membiarkan rencananya itu terwujud?"

"Benar, tak boleh terwujud," kembali Po Eng menegaskan, "Untuk mencegah dirinya, terpaksa kami tak segan menghalalkan segala secara, bahkan bila perlu mengorbankan segala yang kami miliki."

Sementara Siau-hong masih termenung, kembali Po Eng berkata, "Orang pertama yang mengorbankan diri adalah Pova, dia pula pengorbanan paling besar."

"Jadi dia adalah perempuan yang dikatakan Pancapanah, demi kejayaan sukunya bersedia mengorbankan diri?" tanya Siau-hong, "Bahkan bersedia mengorbankan segala miliknya untuk menyusup ke dalam kubu Lu-sam dan menjadi mata-mata?"

"Benar, dialah orangnya."

Setelah berhenti sejenak, kembali Po Eng melanjutkan, "Kami tak akan membiarkan orang lain mengetahui rahasia ini, maka dari itu di kala masih berada dalam tenda berbulu hitam, terpaksa aku membiarkan kau menaruh kesalah pahaman terhadapnya, ketika berada di luar 'leher kematian' pun kami tak membiarkan dia muncul dari dalam tandu ketiga."

Lambat-laun Siau-hong mulai paham dengan peristiwa yang terjadi.

"Oleh karena itu Galun Lhama rela membiarkan dia tinggal dalam istana Potala, maka kau pun bersedia datang untuk menyelamatkan jiwanya."

"Karena aku tak akan membiarkan dia tewas di tangan Galun, juga tak akan membiarkan Galun menyesal sepanjang masa," kata Po Eng, "Demi agama yang dianut Galun, pengorbanan yang diberikan Pova sudah kelewat besar."

Tiba-tiba dengan nada penuh kesedihan dan kepedihan, kembali terusnya, "Bukan saja dia mengorbankan diri sendiri, bahkan tak segan mengorbankan orang yang dicintainya."

Siapakah orang yang paling dicintai Pova?

Siau-hong tidak bertanya, juga tak perlu bertanya.

Tentu saja Lu-sam akan membalaskan dendam atas kematian putra tunggalnya. Agar bisa memperoleh kepercayaan dari Lu-sam, terpaksa Pova harus mengorbankan Siau-hong, dia sendiri tak tega turun tangan, karena itu ia minta Bu-siong untuk membantunya melaksanakan tugas ini.

Seorang wanita, demi cintanya yang agung, demi kepercayaannya, ternyata tak segan mengorbankan lelaki yang paling dicintainya, sekalipun lelaki itu sebenarnya tak bersalah, namun dia tak sempat lagi mempedulikan hal ini.

Dengan apa yang telah ia lakukan, siapa yang dapat mengatakan kalau dia bersalah?

Siau-hong tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya membaringkan diri dengan perlahan, berbaring tenang di bawah cahaya bintang.

Cahaya bintang nun jauh di langit, malam yang dingin seolah menyelimuti seluruh gurun yang tak berperasaan, seandainya dia melelehkan air mata saat itu, bisa dipastikan air matanya akan membeku jadi bunga es.

Dia tidak melelehkan air mata, setelah mengalami peristiwa ini, mungkin sepanjang hidup dia tak akan melelehkan air mata lagi.

Po Eng sama sekali tidak memberi penjelasan mengapa dia harus memberitahukan rahasia ini kepadanya, "Karena kau adalah sahabat karibku!"

Perkataan semacam ini memang tak perlu diulang untuk kedua kalinya.

"Kini aku telah memberitahukan semua persoalan yang kuketahui kepadamu!" secara ringkas dan sederhana Po Eng menerangkan, "Kau boleh mempertimbangkan masak- masak, akan tetap tinggal untuk bergabung dengan kami atau pergi?"

"Aku pasti akan mempertimbangkannya," janji Siau- hong. "Terserah berapa lama kau akan mempertimbangkan masalah ini, tapi di saat kau telah mengambil keputusan, segeralah beritahu kepadaku."

Siau-hong menyanggupi.

Cahaya bintang terasa makin redup dan tawar, hawa dingin yang mencekam kegelapan malam terasa makin membekukan, mereka berdua sama-sama tak dapat melihat bagaimana perubahan mimik muka masing-masing.

Sampai lama kemudian Siau-hong baru berkata, "Kau selalu bekerja cermat dan berhati-hati, tapi kali ini kau kelewat sembrono.”

“Sembrono?"

"Kau tidak kuatir ada orang menguntit kita sampai di sini? Tidak kuatir orang lain mengetahui kalau di sini terdapat emas dalam jumlah yang sangat besar?"

Po Eng tidak menjawab, tapi dari balik kegelapan segera terdengar seseorang menyahut sambil tertawa, "Dia tak perlu kuatir ada orang lain menguntitnya karena ia tahu sepanjang jalan aku pasti berada di sekitar kalian berdua, sekalipun terdapat beberapa ekor rase yang ingin mengintil, aku pasti membekuknya dan mengulitinya."

Ternyata suara Pancapanah.

Ketika Siau-hong melompat bangun, Pancapanah telah berdiri di hadapannya, hanya selisih jarak lima kaki.

Sepak terjang orang ini jauh lebih sukar terlacak ketimbang rase gurun pasir yang paling gesit, gerakan tubuhnya lebih cepat daripada hembusan angin, sorot matanya pun lebih pekat daripada kegelapan malam, saat ini dia sedang mengawasi Siau-hong. "Tentu saja dia pun tidak kuatir kau bakal membocorkan rahasianya," ujar Pancapanah hambar, "Belum pernah ada orang yang dapat membocorkan rahasia kami."

Dia sedang tertawa, namun senyumannya begitu misterius, dingin, tak berperasaan seperti suasana malam buta di tengah gurun pasir.

Ketika mereka kembali ke kota Lhasa, pagi hari yang cerah, kehidupan yang berdenyut serta "cahaya matahari biru" yang indah dan cantik sedang menanti kedatangan mereka.

Kembali Po Eng menyerahkan Siau-hong kepada gadis itu.

"Ke mana pun dia ingin pergi, ajaklah dia ke sana," pesan Po Eng, "Apa pun yang dia minta, berikan semua kepadanya."

Ketika mendengar perkataan itu, sewaktu membayangkan kembali senyuman Pancapanah yang dingin tanpa perasaan, orang dengan mudah akan terbayang suasana di saat seorang narapidana sedang menghadapi detik-detik terakhir menjelang dihukum gantung, karena pada saat terakhir, apa pun permintaan yang diajukan pasti akan dikabulkan.

Dia telah membocorkan rahasia yang seharusnya tak boleh diketahui siapa pun kepada Siau-hong, dipandang dari sudut tertentu tak disangkal dia telah memutuskan hukuman mati untuk anak muda itu.

Namun Siau-hong tidak berpendapat demikian, dia seolah tidak membayangkan apa pun.

"Sinar matahari" masih tertawa begitu cerah dan gembira, dia sama sekali tidak bertanya kemana perginya selama beberapa hari ini, hanya tanyanya, "Apa yang kau inginkan? Ingin aku menemanimu pergi ke mana?"

Tiga hari kemudian Siau-hong baru menjawab pertanyaannya itu.

"Aku minta sepuluh ribu tahil perak," katanya, "Aku ingin pergi ke suatu tempat yang tak mungkin bisa kau temani."

Dalam tiga hari ini mereka nyaris berkumpul setiap saat, ia telah menemani Siau-hong melakukan semua pekerjaan kaum lelaki yang tak mungkin mau dilakukan oleh perempuan lain.

Ia menemaninya main judi, menemaninya minum arak, terkadang sewaktu minum sampai mabuk, mereka bahkan tidur bersama.

Suatu hari ketika Siau-hong mabuk, tiba-tiba ia temukan gadis itu sedang tertidur di sampingnya.

Sewaktu tidur, nona ini tampak lebih lembut, lebih cantik, lebih mirip seorang wanita ketimbang sewaktu dia mendusin. Perawakan tubuhnya yang langsing, lembut, putih bersih, terendus bau harum yang merangsang.

Napsu birahi yang membakar dadanya ketika mendusin dari mabuknya, hampir saja membuat Siau-hong tak kuasa menahan diri, nyaris dia menggagahi gadis muda itu.

Untung saja ia mampu mengendalikan diri, dengan air dingin ia guyur badannya hampir setengah jam lamanya, hingga kini hubungan mereka berdua masih tetap bersih dan suci.

Sayang sekali kesucian mereka bukan saja tidak diketahui siapa pun, mungkin tak seorang pun akan mempercayainya. Tapi Yang-kong tak peduli, terserah apa pun pikiran orang lain terhadap mereka berdua, dia sama sekali tak peduli.

Ooo)d*w(ooO