Elang Terbang di Dataran Luas BAB 12. MISTERI DALAM RUMAH BURUNG

 
BAB 12. MISTERI DALAM RUMAH BURUNG

Dia telah membuat persiapan, persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, termasuk sergapan kilat yang dilancarkan secara tiba-tiba.

Ia sama sekali tidak bergerak, ia merasa orang ini bukan seseorang yang berbahaya.

"Akulah Siau-hong, aku telah datang," ujarnya kemudian.

Orang itu belum juga berpaling, sampai lama kemudian perlahan-lahan baru mengangkat tangan kanannya, menunjuk meja di depannya dan menyahut lirih, "Duduk!"

Suaranya lemah dan lirih, tangannya dibalut kain putih, bahkan lamat-lamat masih kelihatan darah yang meleleh.

Tak disangkal lagi orang ini terluka, bahkan tidak ringan luka yang dideritanya.

Siau-hong semakin yakin kalau dia tak pernah kenal orang ini, namun pemuda itu tetap berjalan menghampirinya. Jelas orang ini bukan tandingannya, serta-merta kesiagaannya menghadapi bahaya pun berangsur mengendor.

Setelah melewati meja pendek, ia berjalan menuju ke hadapan orang itu.

Sesaat setelah dia menjumpai wajah orang itu, tiba-tiba saja perasaannya serasa tenggelam, rasa dingin yang menggidikkan tiba-tiba tenggelam hingga merasuk ke dasar telapak kakinya.

Ternyata Siau-hong pernah bertemu orang ini, tentu saja kenal pula orang ini.

Sekalipun orang ini adalah musuh tangguh Siau-hong, namun andaikata dia ingin menganggap dia sebagai sahabatnya, Siau-hong pun pasti tak akan menolak.

Ada semacam manusia memang selalu berada pada posisi antara teman dan musuh, seorang musuh yang patut dihormati, bahkan terkadang jauh lebih sulit diperoleh daripada menemukan seorang sahabat sejati.

Siau-hong selalu menghormati manusia semacam ini.

Tadi dia tak dapat mengenali orang ini karena orang itu telah mengalami perubahan total, berubah jadi amat memilukan tapi sangat menakutkan.

Seorang wanita yang maha cantik tiba-tiba berubah jadi nenek jelek, sebilah senjata mestika mendadak berubah jadi besi rongsokan.

Sekalipun kehendak takdir sukar diramalkan, walaupun kejadian di dunia mudah berubah, namun perubahan yang terjadi atas diri orang ini tak urung menimbulkan juga perasaan sedih dan iba yang mendalam. Siau-hong sama sekali tak mengira seorang jago pedang yang luar biasa, kini telah berubah jadi begini rupa.

Ternyata orang ini tak lain adalah Tokko Ci. Siau-hong betul-betul menjadi setengah gila.

Bukan gila karena pedang, tapi gila oleh gejolak perasaan.

Seorang yang gila pedang selamanya tak akan bisa memahami kepedihan yang dialami seorang gila karena perasaan, tapi seorang yang betul-betul gila karena perasaan pasti dapat memahami penderitaan karena kesepian, kesendirian yang dialami seorang yang gila pedang.

Seorang jago pedang tak ternama karena dia sudah tergila-gila oleh pedang, bila seorang gila pedang tiba-tiba kehilangan pedangnya, bagaimana tersiksa dan menderitanya perasaan orang itu?

Bila dia telah kehilangan pedang yang digenggamnya, perasaan apa pula yang mencekam hatinya saat itu?

Akhirnya Siau-hong mengambil tempat duduk. "Rupanya kau!" ia berbisik.

"Ya, memang aku," jawaban Tokko Ci tenang tapi lemah, "Kau tentu tak menyangka bukan kalau aku yang datang mencarimu.”

“Benar, aku sama sekali tak menyangka."

"Aku mencarimu karena aku tak punya teman. Meskipun kau pun bukan temanku, namun aku tahu kau pasti akan datang." Siau-hong tidak berkata lagi.

Ada banyak persoalan dapat dia tahan untuk tidak ditanyakan, namun dia tak dapat mengendalikan keinginannya untuk memandang tangannya. Tangan yang selama ini hanya digunakan untuk menggenggam pedang, kini sudah berubah menjadi sebuah tangan yang dibalut dengan kain putih.

Tokko Ci sendiri pun tidak berkata apa-apa, tiba-tiba saja dia melepas kain putih yang membalut tangannya.

Tulang tangannya telah hancur hingga berubah bentuk, nyaris setiap kerat tulangnya telah retak atau hancur.

Padahal pedang adalah nyawanya dan sekarang dia telah kehilangan tangan yang menggenggam pedang itu... ibarat penyair kehilangan kata indah, wanita cantik berubah tinggal kerangka, kuda jempolan tak mampu lari dan pedang emas terkubur dalam tanah.

Tiba-tiba saja muncul perasaan kecut di hati kecil Siau- hong, suatu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, semacam rasa linu karena tusukan jarum yang menyentuh hingga ke tulang.

Tokko Ci telah berubah, berubah jadi begitu lemah dan layu, berubah jadi tak bersinar, berubah begitu mengenaskan hingga membuat yang melihat jadi iba dan sedih.

Hanya ada satu hal yang sama sekali tak berubah.

Dia masih sangat tenang, tenteram, tenang bagai batu karang, tenteram bagai jagat raya.

Jago pedang tak berperasaan, jago pedang tak ternama, jago pedang pun tak akan meneteskan air mata.

Bahkan sorot mata Tokko Ci sama sekali tiada perubahan perasaan atau emosi, dia hanya mengawasi tangannya yang telah hancur itu dengan pandangan tenang. "Kau seharusnya dapat melihat, bukan? Tulang tanganku telah hancur," katanya, "Hanya satu orang yang dapat menghancurkan tanganku."

Hanya satu orang, memang hanya ada satu orang, Siau- hong percaya akan hal itu, Siau-hong pun tahu siapa orang yang dimaksud. Tokko Ci sadar pemuda itu pun tahu.

"Po Eng bukan jago pedang, bukan pendekar, juga bukan seorang Enghiong, sama sekali bukan."

"Lantas siapakah dia?" tanya Siau-hong.

"Po Eng adalah manusia luar biasa," sikap Tokko Ci tetap sangat tenang, "Dalam hatinya hanya ada kemenangan, tak ada kalah, hanya boleh menang, tak boleh kalah. Untuk memperoleh kemenangan, dia tak segan mengorbankan segalanya."

Siau-hong mengakui hal ini, mau tak mau harus mengakui.

"Dia sendiri pun tahu dirinya bukan tandinganku," ujar Tokko Ci lebih lanjut, "Sewaktu dia datang menantangku berduel pun, aku juga tahu dia pasti kalah."

"Tapi kenyataan dia tidak kalah."

"Dia tidak kalah, meskipun tidak menang, namun dia pun tidak kalah, manusia semacam dia selamanya memang tak bakal kalah," sekali lagi Tokko Ci mengulangi kata- katanya, "Karena dia tak segan untuk mengorbankan segalanya."

"Apa yang dia korbankan?" mau tak mau Siau-hong bertanya, "Bagaimana caranya berkorban?"

"Dia sengaja membiarkan aku menusuk dadanya," Tokko Ci menerangkan, "Di saat ujung pedangku menusuk dadanya itulah tiba-tiba ia mencengkeram tanganku, menghancurkan tulang tanganku ini."

Ternyata suaranya masih sangat tenang, "Waktu itu aku yakin pasti menang, kenyataan memang menang. Saat itu seluruh pikiran dan ujung pedangku telah terjadi kontak langsung dengan darah dagingnya, hawa pedangku telah melemah, pedang pun telah terhadang oleh darah dagingnya, saat seperti ini merupakan saat paling lemah bagiku."

Siau-hong mendengarkan dengan tenang, mau tak mau harus mendengar, dia pun tak berpikir untuk tidak mendengar.

Tokko Ci jarang sekali berbicara selama ini, mendengarkan perkataannya seperti mendengar seorang pelacur kenamaan sedang membicarakan soal cinta, seperti seorang pendeta agung sedang membicarakan keagamaan.

"Semuanya hanya terjadi dalam sekejap, tahukah kau berapa lama waktu sekejap itu?" tiba-tiba Tokko Ci bertanya.

Tentu saja Siau-hong mengerti.

Dia tahu, waktu "sekejap" itu sangat pendek, dibandingkan "berkelebatnya kuda jempolan" jauh lebih pendek lagi.

"Waktu sekejap adalah ungkapan kaum Buddha," Tokko Ci menerangkan, "Waktu dalam satu sentilan jari itu berarti enam puluh tahun."

Perlahan-lahan dia melanjutkan, "Saat itu adalah saat penentuan antara hidup dan mati, menang dan kalah. Pada hakikatnya memang hanya bisa dilukiskan sebagai waktu sekejap, Po Eng memanfaatkan baik-baik waktu sekejap itu, karenanya dia tak akan terkalahkan!" Dalam waktu sekejap itulah mati hidup, menang kalah telah ditentukan, dalam waktu sekejap itu pula nasib kehidupan seseorang akan berubah, berubah untuk selamanya.

Waktu yang sekejap itu benar-benar menakutkan, menggetarkan sukma dan mengerikan!

Akan tetapi Tokko Ci masih tetap menjaga ketenangannya sewaktu membicarakan soal waktu sekejap, dia masih dapat mempertahankan ketenteraman hatinya.

Dalam hal ini mau tak mau Siau-hong harus mengaguminya.

Tokko Ci bukan pelacur kenamaan, bukan pendeta agung, yang dibicarakan bukan masalah cinta, juga bukan masalah agama.

Yang dia singgung adalah masalah pedang, teori ilmu pedang.

Namun yang dikagumi Siau-hong bukan hal itu, Tokko Ci memang seharusnya berbicara soal pedang, karena dia sudah dibuat tergila-gila karena pedang. Yang dikagumi Siau-hong adalah ketenangan hatinya.

Jarang sekali ada orang yang masih dapat menjaga ketenangan hatinya dalam situasi seperti ini, termasuk Siau- hong sendiri.

Kelihatannya Tokko Ci dapat menembusi jalan pikirannya.

"Aku telah mempersembahkan seluruh hidupku demi pedang, tapi mulai sekarang kemungkinan besar aku sudah tak dapat menggenggam pedang lagi, tapi aku tak menjadi gila karena kejadian ini, semangatku pun tak akan runtuh karena hal ini." Kemudian ia bertanya kepada Siau-hong, "Apakah kau merasa sangat heran?"

Mau tak mau Siau-hong harus mengakuinya.

Kembali Tokko Ci bertanya, "Inginkah kau mengetahui apa sebabnya aku masih belum roboh?"

Tanpa menunggu jawaban Siau-hong, dia telah mengatakan sendiri jawabannya.

"Karena Po Eng meski berhasil menghancurkan tangan yang kugunakan untuk menggenggam pedang, namun dia tak pernah mampu menghancurkan niat pedang yang tertanam di hatiku. Sekalipun dalam tanganku sudah tiada pedang, akan tetapi dalam hatiku masih terdapat sebilah pedang."

"Pedang dalam hati?"

"Betul, pedang dalam hati itu tidak kosong, bukan semu, dan bukan ilusi."

Sikap dan suaranya tiba-tiba berubah jadi serius dan bersungguh-sungguh.

"Biarpun dalam genggamanmu terdapat pedang tajam yang mampu memutus bulu dan rambut, namun selama di hatimu tiada pedang, maka pedang yang berada dalam genggamanmu tak lebih hanya sebilah pedang rongsok, sebilah pedang yang sama sekali tak berguna, selama hidup kau tak pernah akan mampu menjadi seorang pendekar pedang sejati."

Dengan hati menggerakkan pedang, dengan niat melukai musuh, inilah teori ilmu pedang tingkat tinggi.

Walaupun Siau-hong belum dapat memahami inti perkataan itu, namun dia sendiri pun tahu, untuk menjadi seorang jago pedang sejati, hati dan pedang harus dapat dilebur menjadi satu.

Bila hati dan pedang telah terlebur menjadi satu, mengendalikan gerak pedang dengan pikiran pun bukan suatu dongeng belaka.

Melebur pedang dengan hati merupakan tingkat paling tinggi yang harus bisa dicapai setiap jago pedang. Kalau tidak, pada hakikatnya dia tak pernah akan mampu menjadi seorang jago pedang sejati.

Kembali Tokko Ci berkata, "Biarpun Po Eng tidak kalah, namun dia pun tidak menang. Sekalipun dia berhasil menghancurkan tanganku, meski dia berhasil memaksa aku tak bisa menggenggam pedang lagi, namun aku masih tetap bisa membunuhnya, membunuhnya di ujung pedangku."

"Lantas mengapa kau tidak membunuhnya?"

"Karena dalam hatiku tetap masih ada pedang, aku pun seperti dia, di dalam hati kami tiada kata mati atau hidup, yang ada hanya menang atau kalah. Yang kami perjuangkan bukanlah kehidupan melainkan kemenangan, benar-benar mengalahkan dia, menghancurkan dirinya."

Siau-hong memandang tangannya sekejap, kemudian bertanya, "Jadi kau masih mempunyai kesempatan untuk mengalahkan dirinya?"

"Aku pasti dapat mengalahkan dia!" jawaban Tokko Ci penuh dengan niat serta rasa percaya diri.

Akhirnya Siau-hong mengerti, justru karena dia masih memiliki niat dan rasa percaya diri, maka sikapnya masih dapat tenang dan tenteram. Kembali Tokko Ci berkata, "Oleh karena aku harus dapat mengalahkan dia, maka kucari dirimu. Aku tak dapat mencari orang lain, karenanya terpaksa mencarimu."

Setelah menatap tajam Siau-hong, kembali terusnya, "Inilah rahasia di antara kita berdua, kau tak boleh membocorkan rahasiaku ini, kalau tidak, aku pasti mati."

"Kau pasti mati? Kau anggap Po Eng bakal datang membunuhmu?"

"Bukan Po Eng, melainkan Wi Thian-bong sekalian." Setelah menatap sekejap tangan sendiri, kembali Tokko

Ci meneruskan, "Mereka menganggap aku adalah orang cacat yang tak berguna. Asal mengetahui jejakku, mereka pasti tak akan melepaskan aku, karena rahasia yang kuketahui kelewat banyak, bahkan belum pernah memandang sebelah mata terhadap mereka."

"Oleh sebab itu mereka membencimu?" kata Siau-hong, "Aku pun dapat melihat semua membencimu, selain benci juga takut, sekarang kau sudah tidak memiliki kemampuan yang bisa membuat mereka takut, tentu saja mereka akan datang membunuhmu."

"Itulah sebabnya aku mencarimu," sela Tokko Ci, "Aku berharap kau dapat melakukan dua hal untukku."

"Katakan."

"Aku butuh uang, setiap sepuluh hari satu kali kau bawakan dua ratus tahil perak untukku, sewaktu kemari jangan sampai jejakmu ketahuan oleh siapa pun."

Tokko Ci tidak menjelaskan untuk apa uang sebanyak itu, Siau-hong sendiri pun tidak bertanya.

"Aku pun minta kau membantuku pergi membunuh seseorang." Ternyata dia minta Siau-hong mewakilinya membunuh seseorang!

"Kita bukan teman. Sebagai jago pedang, bukan saja tiada perasaan, tiada nama, tiada air mata, juga tiada sahabat," ucap Tokko Ci, "Sejak dilahirkan, kita sudah ditakdirkan bermusuhan, karena kau pun belajar pedang, aku pun ingin mengalahkan kau, terlepas apa pun yang pernah kau lakukan untukku. Aku tetap akan mengalahkan kau."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya, "Kau pun seharusnya tahu, bila kalah di ujung pedangku berarti mati."

Tentu saja Siau-hong tahu.

"Oleh sebab itu kau boleh menampik permintaanku dan aku tak akan membencimu," kata Tokko Ci lagi, "Apalagi pekerjaan yang ingin kuserahkan kepadamu bukanlah pekerjaan gampang."

Kedua permintaannya memang bukan pekerjaan gampang.

Setiap sepuluh hari mengirim dua ratus tahil perak, sebuah jumlah yang tidak terhitung kecil, Siau-hong bukan orang berduit, kenyataan saat ini dia memang sama sekali tak berduit, kantongnya bersih bagaikan baru keluar dari cucian.

Siau-hong terlebih tak ingin sembarangan membunuh orang.

Dia seharusnya menampik permintaan Tokko Ci, karena pada hakikatnya mereka bukan sahabat, melainkan musuh.

Kemungkinan besar suatu saat nanti dia bakal mati di ujung pedang Tokko Ci. Sejak perjumpaan pertama, dia sudah merasakan semacam firasat yang tidak menguntungkan.

Namun dia tak dapat menampik permintaannya.

Dia tak bisa menampik permintaan dari seorang musuh yang masih mempercayainya seratus persen kendati dia sedang menghadapi ancaman bahaya.

"Boleh saja aku menerima permintaanmu," kata Siau- hong, "Namun aku harus bertanya lebih dulu tentang dua hal itu."

Pertanyaan pertama yang ingin dia tanyakan adalah, "Kau yakin orang lain tak bakal menemukan tempat ini?"

Meskipun tempat itu sangat rahasia letaknya, bukan berarti tempat yang susah untuk ditemukan.

Jawaban Tokko Ci ternyata sangat meyakinkan, "Dulu tempat ini ditinggali seorang pertapa, dia pun seorang jago pedang, semua anggota sukunya sangat menaruh hormat kepadanya, belum pernah ada orang berani datang mengusiknya. Jadi orang lain tak akan menyangka kalau aku pun bisa datang ke tempat ini."

"Kenapa?"

"Karena jago pedang itu sudah mati di ujung pedangku," ucap Tokko Ci, "Dua bulan berselang, aku baru tiba di sini dan membunuhnya di bawah pohon kuno di luar sana."

Siau-hong menarik napas dalam, lalu menghembuskan perlahan-lahan, tanyanya kemudian, "Apakah bocah itu adalah putranya?"

"Benar!"

"Kau telah membunuh ayahnya, bersembunyi di sini, dan  minta  dia  menampungmu,  menjaga  rahasia untukmu ” "Aku tahu dia pasti akan menyimpan rahasia untukku, karena dia ingin balas dendam, karena itu dia tak akan membiarkan aku mati di tangan orang lain, di kolong langit saat ini, hanya aku yang bisa mengajarkan ilmu pedang kepadanya, ilmu pedang yang mampu mengalahkan aku."

"Kau bersedia mewariskan ilmu pedang kepadanya?" "Aku telah menyanggupi permintaannya," kata Tokko Ci

hambar, "Aku berharap dia pun dapat membalas dendam

ayahnya, mencabut nyawaku di ujung pedangnya." Siau-hong merasakan jari tangannya dingin kaku.

Dia bukannya tak dapat memahami perasaan semacam ini, di balik watak manusia, sesungguhnya memang dipenuhi pertentangan batin yang memilukan, justru karena dia memahami perasaan semacam ini maka hatinya merasa amat ketakutan.

Tokko Ci pasti akan pegang janji, di kemudian hari besar kemungkinan bocah itu akan berubah menjadi seorang jago pedang yang lebih tak berperasaan, cepat atau lambat, suatu saat dia pun akan membunuh Tokko Ci, kemudian menunggu kedatangan jago pedang tak berperasaan lain yang akan mengakhiri hidupnya.

Bagi orang-orang semacam mereka, kehidupan tidaklah terlalu penting, baik kehidupan orang lain maupun kehidupan diri sendiri, bagi mereka hal itu sama saja.

Mereka hidup karena untuk menyelesaikan sebuah persoalan, mencapai sebuah tujuan tertentu, di luar itu semua, tak satu pun masalah yang akan mereka pikirkan.

Cahaya matahari di luar pintu telah menyinari seluruh permukaan bumi, kicau burung di bawah wuwungan rumah pun terdengar riuh dan berisik. Padahal kehidupan itu sangat indah dan menawan, mengapa justru ada manusia yang memandang ringan hal itu, menganggap suatu kehidupan begitu tak berharga.

Perlahan-lahan Siau-hong bangkit, kini dia tinggal mempunyai satu pertanyaan yang ingin ditanyakan, satu pertanyaan untuk dua persoalan.

"Mengapa kau minta aku pergi membunuh seseorang?" tanyanya, "Siapa yang harus kubunuh?"

"Karena kalau dia tidak mati duluan, maka selamanya aku tak pernah dapat melakukan pekerjaan yang ingin kulakukan," Tokko Ci menjawab pertanyaannya pertama, "Hanya Po Eng yang dapat menghancurkan tanganku yang menggenggam pedang, tapi orang ini dapat mematahkan pedang yang berada dalam hatiku."

Dalam hati sebetulnya tak ada pedang, kalau pedang berada di dalam hati, siapa yang dapat mematahkannya?

Bila ingin mematahkan pedang dalam hati seseorang, dia harus menghancurkan hati orang itu terlebih dulu, mana mungkin seorang jago pedang yang tak berperasaan, tak ternama, tak punya air mata bisa hancur perasaannya?

Dari balik mata Tokko Ci yang dingin dan hambar tiba- tiba terjadi perubahan yang sangat aneh, seakan sebilah senjata tajam yang telah berulang kali membunuh orang tiba-tiba diceburkan kembali ke dalam kobaran api yang membara.

Siapa pun tak menyangka kalau dari balik matanya bisa muncul perubahan mimik muka yang begitu menderita dan tersiksa.

"Dia adalah seorang wanita, seorang iblis wanita, setiap kali bertemu dengannya, aku tak sanggup mengendalikan diriku. Biarpun aku tahu perempuan macam apakah dirinya, namun tak mampu melepaskan diri dari jeratnya. Selama dia belum mati, sepanjang hidup aku harus tersiksa, menjadi budaknya, menjadi pelayannya."

Siau-hong tidak bertanya siapakah perempuan itu.

Dia tak berani bertanya. Tiba-tiba dari dasar hati kecilnya muncul sebuah pikiran yang membuat dia sendiri pun merasa ketakutan setengah mati.

Tiba-tiba saja dia teringat lukisan dinding yang  dilihatnya dalam kuil kuno, wajah perempuan iblis yang sedang mengisap otak seseorang, wajahnya yang jelek, buas dan menakutkan seakan-akan berubah secara tiba-tiba menjadi selembar wajah perempuan.

Sebuah wajah perempuan yang amat cantik.

Tokko Ci berkata lebih lanjut, "Aku tahu, dia pasti berada pula di Lhasa, sebab dia tak akan melepaskan Po Eng, juga tak akan melepaskan diriku."

"Kenapa?" tanya Siau-hong.

"Karena Po Eng adalah begal kucing, dialah si begal kucing," kata Tokko Ci, "Dia pasti mengikuti Po Eng datang ke Lhasa, dia pun memiliki sebuah tempat persembunyian yang amat rahasia di kota Lhasa ini."

"Di mana?"

"Di pusat istana Potala, di sisi istana merah, tempat Dalai Lhama melewatkan musim dinginnya, dalam sebuah ruang pendeta yang amat kecil dan sempit," kata Tokko ci, "Hanya dia yang sanggup menyusup ke pusat istana Potala, karena Lhama pun lelaki, tak ada lelaki yang bisa menolak permintaannya."

Siau-hong tidak menunggu lebih lama, dia sudah berjalan keluar dari tempat itu. Dia tak ingin mendengarnya lagi, tak ingin mendengar Tokko Ci menyebut nama perempuan itu.

Tapi Tokko Ci telah menyebut nama perempuan itu. "Dia bernama Pova," suaranya dipenuhi penderitaan dan

siksaan, "Karena kau telah menyanggupi permintaanku, sekarang pergilah mencari dia, bunuhlah dia mewakili aku."

Di luar pintu rumah, cahaya matahari masih memancar menyinari seluruh jagat, burung masih berkicau dari bawah wuwungan rumah, tapi bagaimana dengan kehidupan?

Benarkah kehidupan itu begitu indah dan menawan? Mengapa di dalam perjalanan hidup selalu muncul begitu banyak penderitaan dan pertentangan batin yang sulit dihindari?

Perlahan-lahan Siau-hong berjalan keluar.

Bocah itu masih berdiri di bawah wuwungan rumah, berdiri kesemsem sambil mengawasi sebuah sangkar dengan seekor burung, entah burung jalak atau burung huabi?

"Dia adalah sahabatku," bocah itu berkata tanpa berpaling, tapi jelas perkataan itu ditujukan kepada Siau- hong.

"Aku tahu," jawab Siau-hong, "Mereka adalah sahabatmu."

Tiba-tiba bocah itu menghela napas panjang, dari balik matanya yang bening tiba-tiba terlintas perasaan murung yang sangat mendalam, perasaan murung seorang dewasa.

"Tapi aku merasa bersalah terhadap mereka." "Kenapa?"

"Karena aku tahu, cepat atau lambat, suatu hari nanti mereka pasti akan tewas di ujung pedang Tokko Ci," kata bocah itu perlahan, "Asal tangannya mampu menggenggam pedang, dia pasti akan menggunakan mereka sebagai sasaran pedangnya."

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Karena ayahku memelihara burung-burung ini untuk digunakan sebagai sasaran pedangnya," ujar bocah itu lagi, "Suatu kali dia pernah membunuh tiga belas ekor burung dalam sekali tebasan pedang. Tapi malamnya dia sendiri tewas di ujung pedang Tokko Ci."

Biarpun dia hanya seorang bocah, namun suaranya menampilkan semacam perasaan sedih dan tak berdaya yang sangat mendalam.

Apakah hal ini dikarenakan ia sudah paham bahwa dengan kematian segala permasalahan akan berakhir?

Puncak gunung kadangkala merupakan titik akhir dari sebuah perjalanan, ketika seorang jago pedang telah mencapai puncaknya, seringkali kehidupannya akan ikut berakhir pula.

Apakah hal ini merupakan keberuntungannya ataukah justru merupakan ketidak beruntungannya?

Angin berhembus menggoyangkan ranting pohon, manusia itu masih berdiri di bawah pohon.

Sampai lama sekali Siau-hong termenung, kemudian baru perlahan-lahan berkata, "Walaupun mereka adalah sahabatmu, kemungkinan besar suatu ketika nanti kau pun akan menggunakan mereka sebagai sasaran pedangmu."

Bocah itu termenung cukup lama, ternyata dia mengangguk juga perlahan, "Betul, kemungkinan besar aku pun akan menggunakan mereka sebagai sasaran pedangku." "Dengan mata kepala sendiri kau saksikan dia telah membunuh ayahmu, tapi kau tetap menerima dan menampungnya."

"Karena aku pun ingin menjadi seorang jago pedang seperti mereka."

"Suatu hari kelak, kau pun pasti akan menjadi seorang jago pedang seperti mereka."

"Bagaimana dengan kau sendiri?" tiba-tiba bocah itu berpaling dan menatap Siau-hong lekat-lekat.

Siau-hong tidak menjawab.

Dia telah berjalan keluar dari rimbunnya dedaunan dan berjalan menuju ke bawah sinar sang surya, dia berjalan terus ke depan, berjalan tanpa berpaling lagi, karena pada hakikatnya dia sendiri pun tak mampu menjawab pertanyaan itu.

Di sepanjang jalan raya Pat-ka-ke di luar biara Ta-cau-si berderet aneka macam pertokoan.

Di dalam toko-toko yang sudah gelap karena lama terkena uap minyak, bertumpuk aneka macam barang dagangan yang berasal dari empat penjuru.

Kulit macan tutul, kulit harimau, kulit macan kumbang, kulit kucing hutan, aneka warna "Kari" dan kain sutera tergantung berjajar di atas rak tinggi, permadani dan kain yang berasal dari negeri Persia atau negeri Thian-tok (india) memenuhi seluruh rak dalam ruangan.

Daun teh yang datang dari Da-cin bertumpuk bagai bukit, dupa wangi yang datang dari timur Tibet, bahan penyedap, batu manik, mutiara, perkakas tembaga yang datang dari Nepal, barang porselen, batu Manau, sulaman, beras yang datang dari dataran Tionggoan, bahan kulit yang datang dari Mongol, hampir semuanya tersedia di tempat itu.

Tak dapat disangkal toko "Eng-Ki" merupakan kantor perdagangan terbesar di tempat itu.

Benarkah Po Eng adalah begal kucing? Sudah pasti betul.

Pova adalah iblis wanita! Belum pernah ada seorang lelaki pun yang menolak permintaannya!

Kalau kau sudah menyanggupi permintaanku, sekarang pergi dan bunuhlah dia!

Siau-hong tak mau berpikir, sama sekali tak ingin berpikir.

Dia tak dapat menanyakan persoalan ini kepada Po Eng, juga tak tahu harus menggunakan cara apa untuk memasuki istana merah, istana musim dingin Dalai Lhama yang berada di pusat istana Potala.

Dalam keadaan begini terpaksa dia harus balik dulu ke "Eng-Ki", dia ingin meminjam tiga ratus tahil perak dari Cu Im.

Dia percaya Cu Im tak akan menampik permintaannya.

Namun sebelum dia sempat buka suara, Cu Im sudah berkata lebih dulu, "Ada seseorang sedang menunggumu, sudah menunggu lama sekali."

"Siapa?" tanya Siau-hong, "Di mana?" "Ada di sini!"

Siau-hong pun segera melihat orang itu.

Seorang lelaki yang masih sangat muda, walaupun wajahnya nampak agak kusut namun dandanannya indah, mewah dan terhormat, sikapnya serius, tak dapat disangkal status sosialnya di antara kalangan etniknya jauh lebih tinggi dari siapa pun.

Dia adalah orang Tibet dengan logat bahasa Han yang kaku dan garing, setiap kali Siau-hong mengajukan satu pertanyaan, dia baru menjawab sepatah kata.

"Aku she Hong, akulah Siau-hong, apakah kau datang mencari aku?"

"Benar."

"Tapi aku tidak mengenalmu."

"Aku pun tidak mengenalmu," sahut orang itu sambil menatap tajam wajah Siau-hong.

"Kau pun tidak kenal padaku? Lalu mau apa kau datang mencariku?" tanya Siau-hong lagi.

Tiba-tiba orang itu bangkit dan berjalan keluar dari "Eng- Ki", setelah berada di luar pintu ia baru berpaling sembari berkata, "Bila ingin tahu mengapa aku datang mencarimu, ikutlah diriku."

Setelah ia bangkit, Siau-hong baru menemukan bahwa dia berperawakan tinggi besar, jauh lebih tinggi daripada kebanyakan orang.

Di luar pintu merupakan jalan raya paling ramai di kota Lhasa, berbagai lapisan masyarakat berlalu-lalang di sana.

Ketika berada di tengah jalan raya, orang itu ibarat seekor bangau yang berjalan di antara kerumunan ayam. Ada banyak orang setelah memandang ke arahnya, mimik muka mereka segera menunjukkan perubahan yang sangat aneh, bahkan segera membungkukkan badan memberi hormat.

Bahkan tak sedikit di antara mereka yang segera berlutut dan mencium kakinya. Orang itu sama sekali tidak bereaksi, seolah dia sudah terbiasa menerima penghormatan semacam ini dari orang lain.

Sebenarnya siapakah orang ini?

Siau-hong mengikut di belakangnya, baru saja ia tiba di depan warung penjual susu lemak, baru saja ia mengendus bau aneh yang entah harum atau bau, tapi yang pasti bau itu tak akan membangkitkan selera makan, sudah ada dua- tiga puluh jenis senjata rahasia yang dilontarkan ke arah bagian tubuhnya yang sangat mematikan!

Yang benar ada dua puluh enam jenis senjata rahasia, namun hanya terdengar sekali desingan angin tajam dan terlihat tiga kilatan cahaya berkilauan.

Dua puluh enam jenis senjata rahasia secara terpisah mengancam tiga bagian tubuh Siau-hong yang sangat mematikan, tenggorokan, hulu hati, dan ginjal.

Senjata rahasia yang amat beracun, serangan yang dilancarkan pun jauh lebih beracun.

Dua puluh enam jenis senjata rahasia datang dari satu arah yang sama, yaitu muncul dari hadapan Siau-hong, datang dari tangan pemuda berbaju anggun, perlente dan sangat dihormati setiap orang itu.

Seseorang dengan status sosial yang begitu tinggi dan terhormat, mengapa harus menggunakan cara yang begitu keji, begitu licik untuk membokong seorang asing yang sama sekali tak dikenalnya?

Siau-hong tidak bertanya, dia pun tidak roboh terkena sambitan senjata rahasia itu.

Sudah terlalu banyak ancaman bahaya yang pernah dia hadapi, sudah kelewat banyak senjata rahasia yang disambitkan ke arahnya, karena itu setiap saat dia harus selalu waspada, selalu meningkatkan kesiagaannya untuk menghadapi segala sesuatu.

Begitu senjata rahasia itu disambitkan ke arahnya, dengan cepat ia sudah menyambar selembar permadani Persia yang tergantung di depan sebuah toko.

Dua puluh enam jenis senjata rahasia hampir semuanya menancap di atas permadani yang terbuat dari sulaman halus itu, namun tak satu pun yang dapat menembusnya.

Pemuda yang berjalan di depan Siau-hong itu sama sekali tak berpaling, dia pun sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

Ooo)d*w(ooO