Elang Terbang di Dataran Luas BAB 10. KEKALAHAN TRAGIS

BAB 10. KEKALAHAN TRAGIS

Tonjokan itu dilontarkan tanpa kembangan jurus apa pun, juga tidak disertai perubahan yang rumit, pukulan itu hanya memiliki tingkat kecepatan yang luar biasa.

Kecepatan yang menakutkan, sedemikian cepat hingga sukar ditangkap dengan nalar sehat, sedemikian cepat hingga menggidikkan.

Ketika tubuh Siu-hun-jiu roboh terkapar di atas tanah, besar kemungkinan dia sudah tak memiliki sebiji pun gigi yang masih utuh, tulang hidungnya yang retak telah bergeser posisi, darah kental bercucuran keluar dari bibirnya yang robek dan merekah, dia tak jauh berbeda seperti seekor babi yang siap dijagai.

Kecepatan merupakan kekuatan.

Paras setiap orang kembali berubah. Baru sekarang semua orang dapat melihat kekuatan tubuh Pancapanah yang sesungguhnya.

Dengan pandangan dingin, ditatapnya tubuh Siu-hun-jiu yang roboh terjengkang ke atas tanah, kemudian ia baru berkata, "Aku bukan murid perguruan kenamaan, aku pun tak pernah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi macam kalian, aku tak lebih hanya seorang suku Tibet yang kasar dan tak tahu diri. Dalam pandangan kalian, mungkin aku tak jauh berbeda dengan seekor binatang."

Setelah berhenti sejenak, terusnya, "Tapi apa yang telah kukatakan selalu akan kupegang teguh. ”

Siapa pun tak ada yang tahu perkataan apa yang hendak dia ucapkan, juga tak ada yang tahu mengapa dia mencegah Siu-hun-jiu mengungkap rahasia di balik tandu.

Hanya Po Eng seorang yang tahu dengan jelas.

"Apa yang telah dia katakan merupakan apa yang hendak kusampaikan," kata Po Eng kemudian, "Jadi,  semua perkataan yang dia sampaikan mempunyai kekuatan yang seperti ucapanku sendiri."

Mereka saling bertukar pandang sekejap, sorot mata kedua orang itu melukiskan betapa saling menghormat dan saling percayanya mereka berdua.

Perkataan yang kemudian diucapkan Pancapanah segera membuat orang terperangah, tercengang, dan keheranan.

"Kami tak ingin tahu apa isi tandu itu, tak mau mendengar, apalagi melihatnya!" Nada ucapannya dingin dan kaku, lebih dingin dari bongkahan es.

"Jika ada orang berani mengatakan apa isi dalam tandu itu, bila ada orang membiarkan aku menyaksikan apa yang berada dalam tandu itu, peduli siapa pun dia, aku pasti akan membunuhnya dengan segera!"

Siau-hong memandangnya dengan perasaan tercengang, dia ingin buka suara, namun akhirnya ditahan kembali. Siapa pun merasa tak habis mengerti mengapa dia harus berbuat begitu.

Dalam pada itu Pancapanah telah berpaling ke arah Wi Thian-bong dan berkata, "Kini pertempuran di antara kita berdua telah berakhir, kalian telah menderita kekalahan tragis. Berarti kau harus menerima semua syarat yang kami ajukan."

Kini ketenangan dan kemantapan Wi Thian-bong sudah tidak seteguh batu karang lagi.

Tangannya mulai gemetar, bibir pun ikut gemetar, lewat lama kemudian ia baru bertanya, "Apa syarat kalian?"

Pancapanah segera menutup mulut tak bicara lagi, dia mengundurkan diri ke belakang Po Eng.

Dia memiliki kekuatan, namun tak pernah diperlihatkan secara sembarangan, dia memiliki kekuasaan, namun dia pun tak pernah menggunakan secara semena-mena.

Di saat dia harus tutup mulut, belum pernah ia memaksakan diri untuk buka suara.

Berada di tempat mana pun, dalam organisasi macam apa pun, hanya satu orang yang berhak memberi komando. Sekarang dia telah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, kini dia seperti orang lain, menanti Po Eng menyampaikan perintahnya.

Sesaat kemudian Po Eng baru buka suara, ujarnya, "Kalian boleh membawa pergi tandu itu, tapi kalian tak bisa pergi begitu saja. ”

Dia pun mengemukakan persyaratannya, "Kalian semua, tak terkecuali, harus meninggalkan sedikit kenang-kenangan sebelum pergi dari sini."

"Kenang-kenangan apa yang harus kami tinggalkan?" sewaktu mengucapkan perkataan itu, suara Wi Thian-bong terdengar parau.

"Tinggalkan semacam barang kenangan yang bisa membuat kalian tak pernah melupakan selamanya, kenangan atas pelajaran pahit yang diterima hari ini!"

Tiba-tiba Po Eng berpaling ke arah Liu Hun-hun, tanyanya, "Menurut pendapatmu, benda kenangan apa yang harus mereka tinggalkan?"

Dia adalah pemegang komando, setiap kata-katanya yang disampaikan adalah perintah, tak seorang pun berani membangkang apalagi melawannya.

Lantas mengapa dia harus bertanya pada Liu Hun-hun? Mengapa tidak kepada orang lain? Hanya bertanya kepada Liu Hun-hun seorang?

Liu Hun-hun sendiri pun tampak tercengang, namun secercah cahaya terang segera memancar keluar dari balik matanya.

Tiba-tiba saja dia memahami maksud Po Eng.

Sewaktu dia memandang Po Eng, seperti seekor rase sedang mengawasi seekor burung elang yang berburu rase, walaupun merasa takut bercampur hormat, namun terselip pula semacam perasaan yang tak akan bisa dipahami orang lain kecuali oleh mereka berdua.

Ternyata mereka berdua sama-sama telah memahami keadaan lawannya.

Agaknya Po Eng pun sudah tahu kalau perempuan itu telah memahami maksud hatinya. Sambil mengalihkan tatapan matanya ke arah lain, ujarnya hambar, "Asal kau sebut, aku pasti akan mengabulkannya."

Liu Hun-hun kelihatan masih sedikit sangsi, tapi kemudian sambil menampilkan senyuman licik dan keji, ujarnya, "Kami datang bersama-sama, jadi apa yang akan kutinggalkan, mereka pun harus sama-sama meninggalkannya."

Perlahan-lahan dia melanjutkan, "Aku telah meninggalkan sebelah tanganku!"

Siau-hong pun mempunyai tangan, tangannya dingin dan kaku, sedingin bongkahan salju.

Kini dia pun sudah mengerti maksud Po Eng.

Tampaknya Po Eng telah menduga bahwa perempuan itu bakal berkata begitu, itulah sebabnya dia sengaja bertanya kepadanya.

Dia percaya, di saat ia harus melindungi diri sendiri, perempuan ini pasti tak segan untuk mengkhianati orang lain.

Paras Po Eng sama sekali tak nampak perubahan apa pun, dia tetap tampil kaku, tanpa perasaan.

"Kau sendiri yang berkata begitu," ucapnya dingin, "Apakah kau anggap cara seperti ini sangat adil?"

"Ya, adil sekali," jawab Liu Hun-hun segera. Po Eng tidak bicara lagi, dia pun tidak memandang lagi ke arahnya.

Sambil menjepit mata golok dengan kedua jari tangannya, perlahan-lahan ia sodorkan senjata yang berhasil direbutnya dari tangan Wi Thian-bong itu ke hadapan orang itu.

Kini dia tak usah berbicara lagi.

Dalam keadaan begini, apa pula yang bisa diucapkan Wi Thian-bong?

Dia sudah kalah total, menderita kekalahan secara tragis. Bagi seseorang yang telah menderita kekalahan secara tragis, selain cucuran air mata, hanya ceceran darah saja yang tersisa. Darah yang tak akan habis bercucuran!

Mata golok terasa dingin dan kaku, begitu pula dengan gagang golok.

Tapi tangannya terasa lebih dingin.

Menggunakan tangannya yang dingin kaku, Wi Thian- bong menerima golok itu, lalu mengawasinya dengan sorot mata murung. Golok itu adalah golok andalannya.

Dia pernah menggunakan golok itu untuk memenggal batok kepala orang, menggorok leher orang, dia pun pernah menggunakan golok itu untuk memotong tangan orang lain.

Tiba-tiba sikapnya berubah jadi tenang kembali, dia telah siap menerima kenyataan ini, karena ia tahu, dirinya tak mungkin lagi bisa menghindarkan diri dari kenyataan itu.

Kenyataan selalu memang keji dan tak berperasaan, tak seorang pun dapat menghindarinya.

Tiba-tiba Wi Thian-bong bertanya, "Kau menginginkan tanganku yang mana?" Dia pun tahu, Po Eng pasti menampik menjawab pertanyaan ini, maka dia menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam golok dan menjulurkan tangan kanannya.

"Inilah tangan yang kugunakan untuk menggenggam golok dan membunuh orang, akan kuberikan tangan ini kepadamu. Mulai saat ini, aku tak pernah akan menggunakan golok lagi."

Tidak menggunakan golok lagi bukan berarti tak akan membunuh orang lagi.

Sepatah demi sepatah kembali Wi Thian-bong melanjutkan, "Tapi selama aku belum mati, aku bersumpah pasti akan membunuhmu, peduli dengan cara apa pun aku tetap akan membunuhmu. Sekalipun kau telah mengurungi kedua belah tanganku, selama aku masih bisa bernapas, biar harus memakai mulut pun aku tetap akan berusaha menggigit putus lehermu dan mencicipi bagaimana rasanya darahmu!"

Suaranya begitu tenang, tapi setiap patah kata, setiap kalimat justru terkandung hawa kutukan yang menakutkan, seakan-akan kutukan keji yang datang dari neraka, membuat orang merasa bergidik.

Tiada perubahan mimik muka di wajah Po Eng.

"Bagus sekali," sahutnya hambar, "Aku pasti akan menghadiahkan obat luka terbaik untuk menyembuhkan lukamu itu, agar kau bisa hidup lebih jauh."

Tangan Wi Thian-bong yang menggenggam golok mulai gemetar keras, otot-otot hijau menonjol keluar, dia sudah siap mengurungi lengan sendiri.

"Tunggu sebentar!" mendadak Po Eng menghardik. "Apa lagi yang harus kutunggu?"

"Aku ingin kau menyaksikan sesuatu hal terlebih dulu," kata Po Eng, "Selesai melihat hal itu, kau baru akan tahu kalau kedatanganmu kali ini sesungguhnya merupakan suatu tindakan yang amat goblok!"

Po Eng segera mengulapkan tangan memberi perintah, seluruh barang dagangan pun segera ditumpuk di depan kemah, setiap buntalan, setiap bungkusan, hampir semuanya telah dibongkar dan dibuka. Tak ada emas murni di situ.

"Sesungguhnya di sini tak ada emas murni," kata Po Eng. "Jadi kau tidak seharusnya datang kemari. Perbuatan ini bukan saja kau lakukan dengan sangat goblok, bahkan sama sekali tak menguasai. Kau sendiri pun pasti akan menyesal sepanjang masa!"

Wi Thian-bong hanya mendengarkan dengan tenang, sama sekali tidak menunjukkan reaksi, menanti Po Eng menyelesaikan perkataannya, ia baru bertanya dingin, "Masih ada perkataan lain?"

"Tidak ada."

"Bagus sekali," tiba-tiba Wi Thian-bong tertawa dingin. "Padahal kau tak perlu menyampaikan perkataan semacam itu." Goloknya segera diayunkan ke bawah.

Di saat mata goloknya diayun ke bawah, tiba-tiba ketujuh puluh orang petarung yang berada di atas kuda menjerit kesakitan.

Tujuh puluh orang dengan tujuh puluh buah lengan telah dibabat kutung oleh orang yang berada di belakang mereka.

Mereka mengurungi tangan tangan itu dengan cara yang paling mustajab, sekali tebas langsung kutung. Sesungguhnya mereka adalah jago-jago tangguh yang sudah lama mendapat didikan ketat, bahkan berani mati dan kaya akan pengalaman pertarungan, tapi kali ini jangankan bertahan, kesempatan untuk melancarkan balasan pun tak ada.

Ringkik kuda bergema memecah keheningan, diiringi debu yang beterbangan rombongan jagoan itu telah kabur meninggalkan tanah perkemahan, tandu-tandu pun telah digotong pergi, tiga buah tandu telah digotong pergi meninggalkan tempat itu.

Makin lama suara derap kuda makin jauh, makin sirap, suara nyanyian tidak terdengar lagi, cahaya lentera yang menyinari tanah perkemahan pun telah padam.

Hari mulai terang tanah.

Sesaat menjelang tibanya sang fajar biasanya merupakan saat yang paling gelap, cahaya lentera masih memancar dengan terangnya dari dalam tenda.

Song-lohucu telah "mabuk", Gan-losianseng pun telah "lelah", mereka yang seharusnya pergi kini telah pergi semua.

Siau-hong belum pergi, dia masih tetap berada di sana.

Akan tetapi dia pun tidak duduk, selama ini anak muda itu hanya berdiri tenang di sana, seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan kepergian orang lain, dia pun seakan tidak memperhatikan kehadiran Po Eng dan Pancapanah di tempat itu.

Ada sementara orang, walaupun tubuhnya berada di sana namun dia seakan-akan berada di tempat yang sangat jauh, berada di sebuah tempat jauh yang begitu tenang, damai, tiada dendam, tiada sakit hati, tiada cinta, tiada perasaan. Perlahan-lahan Po Eng menatap wajah anak muda itu, tiba-tiba tanyanya, "Apakah kau menganggap aku tidak seharusnya bertindak sekeji ini?"

Tiada jawaban.

"Aku tak peduli bagaimana kau berpikir, asalkan satu hal harus kau pahami terlebih dulu," ujar Po Eng lebih jauh, "Hubungan kita dengan musuh ibarat kau berhadapan dengan mata golok, tiada perasaan tiada peluang. Seandainya aku yang menderita kekalahan, mungkin nasibku akan jauh lebih mengenaskan."

Kemudian setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan tambahnya, "Apalagi di dalam pertempuran kali ini, bukan kita yang mencari mereka, adalah mereka yang datang mencari kita. Dalam posisi seperti ini, mau tak mau kita harus bangkit untuk menghadapinya, kalau memang harus melawan maka kemenangan harus berada di pihak kita, terhadap pihak musuh pun tak boleh bersikap lemah dan penuh perasaan."

Teori semacam ini merupakan teori yang baku, teori yang tak dapat berubah, teori yang tak dapat dibantah siapa pun.

"Aku yakin kau pasti memahami teori itu," Po Eng menambahkan.

"Aku tidak paham!" tiba-tiba Siau-hong berteriak.

Dia seperti orang yang baru mendusin dari impian  buruk.

"Aku sama sekali tak paham dengan semua yang telah kalian lakukan!"

"Kau merasa tak paham mengapa kami bersikeras minta mereka menggotong pergi tandu ketiga?" tanya Pancapanah tiba-tiba, sekulum senyuman menghiasi paras tampannya yang pucat-pias dan lama tak tersentuh senyuman itu.

"Mengapa kalian harus berbuat begitu?" memang sudah sedari tadi Siau-hong ingin menanyakan persoalan ini.

Pancapanah tidak langsung menjawab pertanyaan itu. "Kau tidak akan mengerti karena ada banyak persoalan

yang tak pernah kau dengar, ada banyak persoalan yang tak

pernah kau lihat."

Dia tidak membiarkan Siau-hong buka suara, karena dia harus mengemukakan lebih dahulu perkataan yang harus dia sampaikan.

"Kau tidak mengerti karena usiamu masih muda, masih belum pernah mengalami pengalaman pahit, pengalaman tragis seperti apa yang telah kami jalankan selama ini," sikap Pancapanah berubah amat serius dan bersungguh- sungguh, "Bila kau pun seperti kami, pernah hidup sepuluh tahun di dataran yang luas ini, nyaris mati hampir dua puluhan kali, maka kau pun akan mendengar berbagai kejadian yang tak akan terdengar oleh orang lain, dapat melihat berbagai peristiwa yang tak mungkin terlihat orang lain."

Sikap dan penampilannya yang serius membuat Siau- hong mau tak mau harus menenangkan sikapnya.

"Masalah apa yang tak pernah kudengar?" tanya Siau- hong, "Apa pula yang telah kalian dengar? Kalian lihat?"

"Tandu ketiga jauh lebih berat daripada dua tandu sebelumnya," Pancapanah menerangkan, "Bahkan dari dalam tandu itu terdengar suara napas dua orang." Po Eng segera menambahkan, "Suara napas itu berasal dari napas dua orang perempuan, salah satu di antaranya bernapas dengan sangat lemah."

Siau-hong segera merasa, ternyata masih banyak ilmu yang harus dia pelajari, jauh lebih banyak daripada apa yang diduga dan dipikirkan sebelumnya.

"Dari mana kalian bisa tahu kalau dalam tandu itu berisi dua orang perempuan? Memangnya napas wanita berbeda dengan suara napas kaum lelaki?" desak Siau-hong kembali.

"Sama sekali tak ada bedanya," jawab Po Eng singkat.

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, "Kami tahu dalam tandu itu berisi dua orang wanita karena tandu itu sedikit lebih berat daripada bobot tandu yang diduduki Siu-hun-jiu."

"Kami dapat melihatnya dari bekas pasir yang ditinggalkan pemikul tandu itu," kali ini Pancapanah yang melanjutkan penjelasan itu, "Walaupun bahan dan bobot tandu-tandu itu sama."

Sesudah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan, "Siu-hun-jiu adalah jagoan yang berlatih Gwakang, biarpun tubuhnya kurus namun tulang badannya sangat berat, apalagi dia jangkung, paling tidak bobot badannya mencapai seratus dua puluhan kati."

Bobot kedua orang itu bila dijumlahkan, paling tidak hanya lebih berat dua-tiga puluh kati bila dibandingkan dia seorang.

Maka kembali Pancapanah memberikan kesimpulan yang sangat aneh, "Berat badan itu merupakan berat tubuh kedua orang perempuan dijumlahkan jadi satu." "Mereka adalah dua orang perempuan? Dua orang yang mana? Kau tahu kalau mereka berdua?" Siau-hong segera bertanya.

"Aku tahu!"

"Pova," kata Pancapanah lagi, "Salah satu di antaranya pasti Pova!"

Siau-hong belum pernah mendengar nama orang ini, maka segera tanyanya, "Pova? Siapakah orang itu?"

Tiba-tiba mimik muka Pancapanah berubah jadi sangat sedih.

"Bila kau ingin memahami tentang manusia yang bernama Pova, dengarkan dulu sebuah kisah yang tragis."

Ternyata kisah yang akan disampaikan adalah sebuah kisah tragis, kisah yang memedihkan hati.

Pova adalah seorang perempuan, ia dilahirkan di puncak bukit Cu-mu-lang-ma sebelah utara pada ratusan tahun berselang, dia merupakan seorang wanita suci yang disembah dan dipuja orang-orang suku Gurkha. Demi menyelamatkan etniknya, dia telah mengorbankan diri sendiri.

Ketika etnik Ni-co yang ganas, buas dan tak tahu malu menyerbu ke dalam desa etnik Gurkha, anggota sukunya tak mampu melawan serbuan itu hingga menderita kekalahan fatal.

Lambang suku Ni-co adalah "merah", "merah" yang membawa anyirnya darah, mereka memang menyukai anyirnya darah dan warna merahnya darah.

Kepala suku Ni-co berhasil menangkap Pova hidup- hidup, lalu merogolnya secara brutal. Perempuan itu tetap menahan diri, menerima setiap siksaan dan penderitaan yang menimpa dirinya, karena ia ingin balas dendam.

Dengan gigi membalas gigi, dengan darah membalas darah, suatu saat akhirnya ia berhasil mendapatkan kesempatan itu. Bukan saja berhasil menolong kepala suku yang tertawan, dia pun berhasil menyelamatkan seluruh anggota sukunya yang masih hidup.

Tetapi dia harus mengorbankan diri, menyumbangkan selembar jiwanya.

Menanti rakyat etniknya berhasil membawa pasukan besar dan menyerbu masuk ke perkemahan tempat tinggal kepala suku Ni-co, ia ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa.

Dia mati sebagai pahlawan, bukan hanya pahlawan etniknya, pahlawan bangsanya.

Di saat ajal menjelang tiba, dalam genggamannya dia masih memegang selembar kertas yang ditulisnya menjelang ajal untuk sang kekasih, sebuah bait lagu yang berjudul "Kokang".

"Kokang Yang kucinta, kau harus hidup terus. Kau harus hidup, harus waspada,

setiap saat waspada, selalu teringat, teringat orang-orang yang suka anyirnya darah.

Mereka gemar membunuh.

Jangan kau ampuni bila bertemu, usir mereka, usir mereka.

Usir sampai ujung samudra, usir sampai ujung gurun, bangunlah kembali negerimu tercinta Biarpun negeri sudah tenggelam, biar sawah ladang telantar.

Asal kau rajin berjuang, negeri kita pasti berjaya, sawah ladang kita pasti subur sentosa."

Kekasihnya tidak mengecewakan harapannya, seluruh anggota sukunya tak pernah mengecewakan dirinya.

Negeri yang nyaris musnah kembali berjaya, kembali sentosa, dan makin berkembang.

Untuk memperingatkan pengorbanannya, tulang- belulang serta kertas berisi bait lagu itu dikubur di kuil Pova, di bawah pagoda putih.

Arwahnya selalu dihormati orang, dipuja setiap orang, dan disanjung di mana-mana.

Kisah ini memang sebuah kisah yang tragis, bukan cerita heroik, sebuah cerita yang patut dikenang dan diingat generasi mendatang.

Setiap anak bangsa yang dilahirkan ribuan tahun kemudian, harus selalu ingat, mengenang, dan mewaspadai kisah tragisnya.

Sebab walaupun aturan selalu berlaku, walau kesetia- kawanan selalu timbul, namun dunia tak pernah akan terbebas dari manusia-manusia yang haus darah, setiap orang sudah seharusnya meniru cara Pova, tak segan mengorbankan diri demi melenyapkan mereka.

Kini Pancapanah telah menyelesaikan kisahnya. Siau-hong sama sekali tidak melelehkan air mata.

Bila darah panas telah bergelora di dalam dada seseorang, bagaimana mungkin dia akan melelehkan air mata? Namun dia tetap bertanya lagi, "Kalau memang tulang- belulangnya sudah terkubur di bawah pagoda putih, lalu siapa pula Pova yang kalian maksudkan sekarang?"

Jawaban Pancapanah kembali membuat tercengang, terperangah.

"Pova yang kami maksud tak lain adalah perempuan yang selama ini kau anggap sebagai Sui-gin si Air raksa."

Siau-hong tertegun.

Pancapanah tampak makin pedih dan berduka, katanya lebih jauh, "Dia adalah anggota suku kami, ia tahu selama ini Lu-sam berniat menindas kami, seperti suku Ni-co yang keji dan berlumuran darah ingin menindas suku Pova, oleh sebab itu dia tak segan untuk mengorbankan diri demi kesejahteraan sukunya."

Tiba-tiba Po Eng menyela, "Karena dia bukan saja merupakan anggota sukunya, bahkan merupakan kekasih hatinya, dia rela mengorbankan diri dengan menyusup masuk ke lingkungan musuh sebagai mata-mata, bahkan berusaha menyelidiki kekuatan musuh dan menyelidiki kabar tentang mereka."

Pancapanah segera menggenggam tangan Siau-hong erat-erat, katanya perlahan, "Aku pun tahu semua yang telah dia lakukan terhadap dirimu, tapi aku jamin dia pasti dipaksa untuk melakukan semua itu, demi aku, demi semua anggota suku kami, mau tak mau dia harus melakukannya."

Siau-hong dapat memahami hal itu, dia balas menggenggam tangan Pancapanah erat-erat dan berkata, "Aku tidak menyalahkan dia, seandainya aku jadi dia, aku pun akan melakukan hal yang sama."

"Tapi kini rahasianya sudah terbongkar, pihak lawan sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kukirim untuk menyusup ke sana," ujar Pancapanah lagi dengan tangan yang dingin bagaikan es.

"Oleh karena itu mereka mengirim seseorang untuk membawanya kemari," kembali Po Eng menambahkan, "Ia duduk di dalam tandu itu bersama seseorang, mereka berencana ketika sudah mencapai saat terakhir, dia akan dipergunakan untuk mengancam dan memaksa kita menuruti semua kemauannya."

"Namun mereka pun tidak menyangka bakal menderita kekalahan secepat itu, bahkan kalah secara tragis, oleh karena itu semua perubahan yang terjadi membuat mereka gelagapan dan untuk sesaat tak tahu harus berbuat bagaimana," ujar Pancapanah sambil menahan sedih dan emosi, "Sekalipun begitu, dia tetap merupakan senjata pamungkas mereka yang terakhir, maka aku tak boleh bertemu dengannya, aku tak boleh membiarkan mereka menggunakan dia sebagai barang ancaman kepadaku."

Itulah sebabnya terpaksa dia harus bertindak tegas, bertindak sebelum mereka sempat berbuat sesuatu!

Bila ada orang membiarkan dia bertemu dengan perempuan itu, dapat dipastikan dia akan membunuh orang itu! Dalam hal ini, semua orang yakin dan percaya bahwa dia tega untuk melakukannya.

"Mereka pun tak berani bertindak sembarangan, kemungkinan besar di kemudian hari mereka masih dapat memperalat dirinya, maka mereka pasti akan berusaha agar dia tetap hidup," ujar Pancapanah lebih jauh, "Oleh sebab itu pula, terpaksa aku pun membiarkan mereka menggotong pergi tandu itu secara utuh tanpa tersentuh."

Di dalam tandu itu masih duduk seorang wanita lain, dialah satu-satunya orang yang bisa membongkar rahasia ini. "Dia pun berada di dalam tandu itu," kata Po Eng kemudian, "Ia sadar, keselamatan jiwanya seratus persen terjamin, maka ia terlebih tak mau bertindak secara gegabah."

"Sejak semula aku sudah mengenalinya," ujar Pancapanah, "Tapi aku sama sekali tak mengira kalau dia adalah seorang wanita yang begitu menakutkan."

Tak ada yang menerangkan siapakah "dia" itu. Siau-hong pun tidak bertanya.

Dia tak ingin bertanya, tak berani bertanya dan tak usah bertanya.

Ia sadar, mereka tidak akan mengatakannya karena mereka tak bisa menyebut nama orang itu, tak tega mengatakannya dan tak perlu menyebut namanya.

Mereka tak ingin melukai perasaan Siau-hong.

Dalam hati mereka seolah terdapat sebuah "sumbatan leher", sebuah sumbatan yang sulit untuk ditembus dan dilalui.

Bila kau bersikeras ingin menembusnya, sudah pasti kau akan melukai perasaan orang itu.

Pova, benarkah kau adalah manusia semacam ini? Mengapa Pova harus mengorbankan diri?

Apa yang diperolehnya dengan pengorbanan yang begitu besar dan luar biasa?

Rahasia apa yang akan diselidikinya? Apakah ada hubungan dan sangkut-pautnya dengan emas murni yang hilang terbegal?

Rombongan ini sebetulnya merupakan rombongan saudagar biasa, belum pernah ada seorang pun di antara mereka yang memperlihatkan ilmu silat, mengapa dalam waktu singkat mereka sanggup menguasai tujuh puluh orang petarung yang kenyang akan pengalaman?

Song-lohucu serta Gan Tin-kong pun bukan jago-jago hebat berilmu tinggi, mengapa mereka harus menyembunyikan kepandaian kungfunya?

Sebenarnya bagaimana asal-usul mereka? Rahasia apa di balik semua itu?

Siau-hong tidak menanyakan semua persoalan itu, ia merasa apa yang diketahui sudah terlalu banyak.

Emas murni tidak berada di dalam bungkusan barang dagangan yang dibawa rombongan saudagar ini.

Sementara Po Eng adalah sahabatnya.

Baginya, urusan emas murni sama sekali tak penting, dia pun enggan menaruh perhatian pada masalah itu. Asal dia tahu ada orang telah menganggapnya sebagai sahabat, hal ini sudah lebih dari cukup.

Bagi seorang gelandangan macam dia, nilai seorang sahabat sejati tak tertandingi oleh benda apa pun.

Fajar telah menyingsing.

Matahari pagi telah muncul di ufuk timur, sejauh mata memandang hanya pasir berwarna keemas-emasan yang menyelimuti seluruh jagat.

Tanah dataran luas yang tak berperasaan, gersang, kejam, dingin yang menggigilkan, panas yang menyengat... meski begitu, di dataran luas yang tak berperasaan ini pun terdapat bagian yang menawan, seperti kehidupan manusia.

Walaupun dalam sejarah kehidupan manusia sering bertemu dengan peristiwa yang tak berkenan di hati, menghadapi   banyak   masalah   yang   susah   diurai   dan diselesaikan secara baik, namun kehidupan manusia tetap menawan.

Siau-hong dan Po Eng berdiri bersanding di depan perkemahan, mengawasi cahaya matahari yang sedang menyinari dataran luas.

Tiba-tiba Po Eng bertanya, "Apakah ada suatu tempat istimewa yang hendak kau datangi?"

"Tidak ada," Siau-hong menggeleng, "Aku bisa pergi ke tempat mana pun, aku pun bisa tidak pergi ke tempat mana pun."

"Pernah berkunjung ke tempat suci orang Tibet?" "Belum."

"Kau ingin ke sana?"

Jawaban Siau-hong segera memunculkan kembali senyuman di balik sorot mata Po Eng yang tajam.

"Aku bisa saja pergi ke tempat yang ingin kudatangi," ucap Siau-hong, "Aku pun bisa pergi ke tempat yang tidak ingin kudatangi."

"Semisal aku minta kau ke sana, apakah kau akan pergi?" "Ya, aku pasti pergi."

Rombongan besar pun kembali melanjutkan perjalanan. Jago-jago yang mampu menaklukkan musuh dalam waktu sekejap kini berubah lagi jadi para saudagar yang sangat sederhana dan bersahaja.

Di antara sepasang punuk onta yang tinggi terdapat sebuah pelana yang terbuat dari kulit kerbau, Po Eng duduk di atas pelana sambil mengawasi Siau-hong yang berada di punggung onta lain, katanya, "Setelah berjalan satu jam, kita akan tiba di tempat itu." "Tempat mana?" "Sumbatan leher!"

Tebing karang menjulang tinggi ke angkasa, dinding karang yang rata dan curam serasa menembus langit nan biru, jalan penghubung yang terbentang di antara sela karang terasa sempit dan kecil bagaikan usus kambing.

Di ujung jalan usus kambing yang sempit, menjulang tebing karang berbentuk aneh, seperti gigi taring seekor serigala lapar, ke arah tebing itulah jalanan sempit tadi terbentang.

Mereka telah tiba di sumbatan leher.

Rombongan bergerak makin lambat, mau tak mau mereka memang harus memperlambat gerakan, dinding karang yang curam, terjal dan menjulang tinggi ke angkasa seakan gerombolan serigala lapar yang siap menerkam mereka.

Siapa pun yang tiba di tempat ini, mereka pasti akan merasakan hatinya bergidik, jantungnya berdebar dan bulu kuduk berdiri.

Detak jatung Siau-hong pun seolah berdebar lebih keras dan cepat, sedemikian kerasnya hingga Po Eng seakan dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.

"Kini kau tentu sudah paham, bukan? Mengapa aku harus bertindak keji dan tegas," ujar Po Eng kemudian, "Bila aku tidak meminta sebelah tangan mereka, seandainya orang-orang itu balik lagi ke sini dan menghadang di tempat ini, maka jalanan ini akan menjadi jalan kematian buat kita, jalan menuju kematian buat orang-orang kita!"

Sumbatan leher, tanah kematian, jalan kematian! Tiba-tiba Siau-hong merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya.

"Dari mana kau tahu mereka tidak menyiapkan orang lain di tempat ini?" tanyanya.

"Tak mungkin mereka masih mempunyai kekuatan lain di tempat ini. Bukan pekerjaan mudah untuk mengumpulkan kekuatan di tengah gurun pasir, Pancapanah telah melacak dan menyelidiki dengan jelas semua gerak-gerik kekuatan mereka, apalagi. ”

Ia tidak menyelesaikan perkataan itu karena secara tiba- tiba ia merasa peluh dingin telah membasahi telapak tangannya.

Tampaknya dia mulai sadar, ternyata di sumbatan leher, di jalan menuju kematian, di tanah kematian ini masih ada orang lain sedang menanti kedatangan rombongan mereka.

Suatu kejadian yang mustahil terjadi, terkadang pun ada kemungkinan bisa terjadi.

Bila dalam hati muncul sumbatan, hati pun akan sedih....

Bila manusia berada di sumbatan, dia pun bakal merasa berduka.

Orang yang sedang berduka terkadang ingin mati, tapi orang yang telah mati tak bakal berduka lagi, hanya orang mati yang tak pernah akan berduka lagi.

Bila di tempat ini masih terdapat kekuatan lain yang tersembunyi, berarti rombongan mereka mirip seseorang yang telah dikalungi seutas tali simpul mati. Asal mereka muncul dari tempat persembunyian sambil melancarkan sergapan, mereka pun akan tergantung, terjirat lehernya dan mampus. Tengkuk akan patah, napas akan putus, nyawa pun bakal melayang... itulah sumbatan leher.

Di balik sumbatan leher dapat dipastikan ada orang sedang bersembunyi siap melancarkan sergapan, tak disangkal mereka telah menapak di jalan kematian, memasuki tanah kematian.

Po Eng yakin apa yang didengarnya tak bakal salah.

Pancapanah pun telah mendengar suara yang didengar rekannya.

Suara tarikan napas orang, detak jantungnya, dengus napas, dengus napas kuda. Suara mendesis....

Suara itu berasal dari tempat yang tak jauh di hadapan mereka.

Mungkin saja orang lain belum mendengarnya, tapi mereka telah mendengar dengan jelas.

Karena selama dua puluh tahun mereka telah berjuang untuk mempertahankan hidup di tengah gurun pasir yang tak punya perasaan, tak punya rasa iba, tak ada air, tiada kehidupan dan setiap saat dapat merenggut kehidupan mereka.

Bila mereka pun tak dapat mendengar suara yang tak bisa didengar orang lain, paling tidak mereka telah mati dua puluh kali.

Tak ada yang mampu mati sebanyak dua puluh kali, sama sekali tak ada.

Bagi seseorang, jangankan mati dua puluh kali, mati satu kali pun tak boleh.

Bila ada orang mengatakan cinta sejati hanya akan datang satu kali, tak mungkin ada keduanya, maka apa yang dikatakan sesungguhnya tak bisa dianggap perkataan yang benar.

Sebab sifat perasaan cinta itu mudah berubah, berubah jadi cinta seorang sahabat, cinta seorang sanak, berubah jadi manja, bahkan bisa berubah jadi benci dan dendam.

Apa yang dapat berubah tentu mudah untuk dilupakan. Ketika sifat cinta pertama mulai berubah dan memudar,

seringkali akan datang cinta kedua, kemudian cinta kedua

pun akan berubah seperti cinta pertama, cinta yang begitu tulus, begitu dalam, begitu manis dan begitu menderita.

Tapi kematian hanya satu kali, tak mungkin ada kedua kalinya.

Seluruh persoalan manusia baru akan berakhir setelah kematian menjelang tiba, karena dengan kematian tak akan muncul persoalan untuk kedua kalinya.

Manusia, kuda, onta, satu per satu berjalan menelusuri jalan setapak itu, mereka bergerak sangat lamban bagaikan seekor ular.

Posisi Pancapanah dalam rombongan ini persis merupakan posisi tujuh inci dari seekor ular, posisi yang paling strategis.

Po Eng dan Siau-hong bergerak paling belakang.

Ooo)d*w(ooO