Elang Terbang di Dataran Luas BAB 07. PANAH SAKTI DEWA PANAH

BAB 07. PANAH SAKTI DEWA PANAH

Pancapanah termenung tanpa bicara, sampai lama kemudian perlahan-lahan ia baru berkata, "Aku adalah orang Tibet, orang Tibet biasanya sangat takhayul. Kami selalu percaya orang yang tidak melakukan kesalahan, dia tak bakal mati terbunuh secara penasaran." 

Kini fajar telah menjelang tiba, secercah cahaya terang mulai memancar masuk ke dalam tenda, kini dapat terlihat dengan jelas gendewa serta sekantung anak panahnya.

Tiba-tiba dia mengambil gendawa dan anak panahnya sambil berjalan keluar dari dalam tenda.

"Kau pun ikut keluar!" katanya.

Sewaktu Siau-hong berjalan keluar dari dalam tenda, ia jumpai di luar sana telah berkumpul banyak orang.

Setiap orang berdiri tenang di sana bagaikan sebuah patung batu, menunggu jagoan mereka menyelesaikan persoalan ini.

Dengan gendawanya, Pancapanah menuding ke arah sebuah tenda lebih kurang lima tombak di hadapannya.

"Sekarang kau berdirilah di sana baru aku mulai menghitung, bila telah mencapai angka lima, aku baru akan mulai turun tangan. Hitunganku tak bakal terlalu cepat, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki, tatkala aku selesai menghitung hingga angka lima, kau pasti sudah pergi sangat jauh dari sini."

Kemudian sambil menepuk kantung panah yang tergantung di pinggangnya, ia menambahkan, "Aku hanya memiliki lima batang panah, bila kau benar-benar tidak melakukan kesalahan, dapat dipastikan tak sebatang panah pun akan berhasil melukaimu."

Tiba-tiba Siau-hong tertawa.

"Dewa panah lima bunga yang tak pernah meleset bidikannya, ternyata ingin menggunakan cara begini untuk membuktikan salah benarnya seseorang, hahaha... sebuah ide yang sangat bagus," katanya.

Pancapanah  tidak  tertawa,  ia  balik  bertanya,  "Bila kau menganggap cara ini tidak bagus, masih tersedia sebuah cara lain lagi.”

“Apa caramu itu?"

Sebelah tangan Pancapanah masih menenteng pedang mata iblis milik Siau-hong, tiba-tiba ia menghujamkan pedang itu di atas pasir, tepat di hadapan anak muda itu.

"Gunakan pedang ini untuk membunuhku," ujarnya hambar, "Asal kau dapat membunuhku, maka tak perlu lagi dibuktikan benar salahnya dirimu. Asal kau dapat membunuhku, peduli perbuatan apa pun yang pernah kau lakukan, tak bakal ada orang yang akan menanyakannya lagi."

Fajar telah menyingsing, cahaya matahari memancarkan sinarnya menyinari seluruh jagat.

Mata pedang memantulkan cahaya terang ketika terkena sinar mentari pagi, begitu juga dengan sepasang mata Pancapanah.

Dia adalah manusia, bukan dewa yang selalu awet muda, kerutan sudah mulai nampak di sudut matanya.

Namun di bawah cahaya sang surya yang baru terbit, dia masih nampak bagaikan dewa.

Siau-hong sangat mempercayai perkataannya. Orang-orang dari sukunya maupun anak buahnya masih tetap berdiri tenang di sana, peduli apa pun yang dia katakan, mereka selalu taat dan melaksanakannya tanpa membantah.

Mencabut pedang membunuh orang bukanlah satu pekerjaan yang susah.

Selama ini Siau-hong selalu yakin dan percaya dengan kemampuan ilmu pedang miliknya, di saat harus mencabut pedang, dia tak pernah akan mundur apalagi menghindar.

Terdengar Pancapanah kembali bertanya, "Dari dua cara yang tersedia, cara mana yang kau pilih?"

Siau-hong tidak menjawab, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mulai bergerak ke depan, berjalan menuju ke depan tenda, lebih kurang lima tombak di hadapannya dan berhenti di situ.

Dia telah menggunakan gerakan tubuh untuk menjawab.

Setelah membalikkan badan, ujarnya kepada Pancapanah, "Sekarang kau sudah boleh mulai  menghitung, lebih baik hitung agak cepatan, aku paling takut menunggu terlalu lama.”

“Baik!" jawab Pancapanah singkat.

Semua yang hadir mulai memencarkan diri, meninggalkan sebuah lapangan kosong untuk mereka berdua. "Satu, dua, tiga, empat. ”

Perlahan-lahan Dewa panah lima bunga mencabut anak panahnya yang pertama, gagang panah berwarna kuning emas dengan mata panah berwarna kuning juga.

Bidikan yang tak pernah meleset, panah sakti yang langsung menembus hulu hati, lembut bagaikan angin musim semi, indah bagai sekuntum bunga, panas bagai bara api, tajam bagai ujung gurdi, kokoh bagai emas.

Hitungannya tidak terlampau cepat, tapi akhirnya ia telah menghitung hingga genap angka lima.

Ternyata Siau-hong masih tetap berdiri di tempat, sama sekali tidak bergerak.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, secepat apa pun Pancapanah menghitung, ketika mencapai angka lima, paling tidak ia telah berada belasan tombak dari tempat semula.

Namun ia sama sekali tak bergerak, jangankan beberapa puluh tombak, seinci pun ia tak bergerak.

"Lima!"

Begitu hitungan terakhir diucapkan, semua orang pun mendengar suara desingan angin tajam menderu di tengah angkasa, suara itu begitu tinggi dan tajam bagaikan pekikan serombongan setan iblis.

Setiap orang dapat melihat dengan jelas ketika Pancapanah mencabut anak panahnya yang  pertama, secara tiba-tiba kotak panahnya telah kosong.

Ternyata pada saat yang hampir bersamaan, kelima batang anak panahnya telah dibidikkan bersama-sama. Siau-hong masih tetap tak bergerak.

Desingan angin tajam yang membelah angkasa kini telah berhenti bergema, kelima batang anak panah berwarna keemasan itu telah menancap berjajar di bawah kakinya.

Pada hakikatnya dia sama sekali tidak berkelit.

Entah apakah karena sudah diduga olehnya kalau Pancapanah hanya berniat menjajalnya, maka dia merasa tak perlu untuk menghindar atau karena dia tahu semisal ingin berkelit pun, belum tentu ia dapat meloloskan diri.

Terlepas apa pun yang dia pikirkan, kali ini lagi-lagi dia gunakan nyawa sendiri sebagai barang taruhan.

Dan dalam taruhan kali ini pun dia telah menang.

Akan tetapi bila seseorang tidak memiliki keyakinan dan rasa percaya diri yang begitu membaja, siapa pula yang berani bertaruh macam dia?

Tiba-tiba meledaklah tempik-sorak yang gegap-gempita dari kerumunan orang banyak, dengan cepat Garda menerjang keluar dari balik kerumunan orang, menjatuhkan diri berlutut dan mulai menciumi kakinya.

Dari balik mata Pancapanah yang dingin dan kesepian pun terlintas secercah senyuman.

"Sekarang kau tentu percaya bukan, seseorang yang tak bersalah tak nanti akan mati terbunuh. Asal kau tak melakukan kesalahan, kelima batang anak panah itu tak bakal menembus tubuhmu, terlepas aku adalah Dewa panah lima bunga atau bukan."

Sudah jelas hal semacam ini bukan termasuk takhayul tapi suatu ujian yang amat cerdas, hanya orang yang tak bersalah baru berani menerima ujian semacam ini.

Hanya Siau-hong sendiri yang tahu, seluruh pakaian yang ia kenakan saat ini nyaris sudah basah kuyup.

Hingga kini keringat dingin masih bercucuran tiada hentinya.

Dengan langkah lebar Pancapanah berjalan mendekat sambil menepuk bahunya, dengan cepat tangannya menyentuh peluh dingin yang membasahi punggungnya.

"Hahaha, ternyata kau pun sedikit ketakutan." "Bukan hanya sedikit rasa takutku," sahut Siau-hong sambil menghela napas, "Aku ketakutan setengah mati!"

Pancapanah tertawa terbahak-bahak, semua anggota sukunya, semua anak buahnya ikut tertawa. Sudah terlalu lama mereka tak pernah melihat senyuman menghiasi wajahnya.

Di saat semua orang sedang tertawa dengan penuh keriangan itulah mendadak terdengar lagi suara jeritan yang memilukan, setiap orang dapat mengenali jeritan ngeri itu berasal dari si bongkok.

Tumpukan barang dagangan yang semula tersusun sangat rapi, kini telah berubah sangat kacau, banyak bungkusan yang telah dirobek orang sehingga isinya berupa bahan obat-obatan yang mahal harganya berserakan di mana-mana.

Yang tampak hanya barang dagangan dan bahan obat- obatan, sama sekali tak ada lantakan emas murni.

Siau-hong telah memperhatikan kejadian ini, mungkinkah orang yang merobek dan membongkar bungkusan barang dagangan itu bertujuan untuk menyelidiki dan membuktikan sesuatu?

Mungkinkah Wi Thian-bong sekalian telah muncul di seputar sini?

Si bongkok tergeletak di samping sebungkus bahan wangi-wangian, pakaiannya telah berubah jadi merah karena cucuran darah segar, tentu saja darah itu berasal dari darah tubuhnya serta darah rekannya.

Luka tusukan yang mematikan berada tepat di atas dadanya, senjata yang digunakan pun sebilah pedang. Seketika itu juga Siau-hong teringat si jago pedang tanpa nama tanpa perasaan itu.

Ilmu silat yang dimiliki si bongkok bukan saja sangat tinggi, dari bekas luka yang begitu banyak membekas di tubuhnya, dapat diketahui dia adalah seorang jago berpengalaman yang pernah bertarung ratusan kali. Lalu siapa yang telah membunuhnya?

Kecuali jago pedang tanpa nama, siapa pula yang sanggup menghujamkan pedangnya dalam sekali tusukan tepat di atas dadanya?

Walaupun tusukan pedang itu sangat mematikan, ternyata si bongkok belum menghembuskan napasnya yang terakhir.

Manusia semacam dia bukan saja kekuatan hidupnya jauh lebih kuat dari orang lain, niat dan keinginannya untuk berjuang hidup pun melebihi siapa pun.

Si bongkok termasuk jenis manusia semacam ini.

Dia masih terengah-engah, meronta, meronta untuk kehidupan sendiri, raut mukanya mengejang karena rasa sakit yang luar biasa dan rasa takut yang mencekam.

Namun dari balik sorot matanya justru memancar perasaan lain, semacam perasaan kaget, curiga, dan keheranan yang bercampur aduk.

Hanya seseorang yang telah menyaksikan suatu kejadian yang dia anggap tak pernah dan tak mungkin terjadilah yang bakal menunjukkan sorot mata semacam ini.

Lalu apa yang telah dia saksikan?

Pancapanah telah membongkokkan tubuh, menjejalkan lemak yang oleh bangsa Tibet dianggap sebagai obat yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit ke dalam mulutnya.

"Aku tahu, kau pasti ada perkataan yang ingin disampaikan kepadaku," ujar Pancapanah sambil menepuk wajahnya, dia ingin menggunakan tepukan itu untuk membangkitkan semangat hidupnya, "Kau harus mengatakannya, katakan segera kepadaku!"

Kelopak mata si bongkok mulai berdenyut, mulai bergetar, akhirnya dia mengucapkan beberapa patah kata.

"Sungguh tak disangka... sungguh tak disangka ”

"Apa yang tak kau sangka?" tanya Pancapanah cepat. "Tak kusangka ternyata dialah yang telah membunuh

orang."

"Siapakah dia? Di mana ia sekarang?"

Dengus napas si bongkok makin memburu, ia sudah tak sanggup mengeluarkan suara lagi, tak mampu menyelesaikan perkataannya.

Hanya mata sebelahnya yang masih bereaksi, terkadang pandangan mata pun bisa berbicara.

Sorot matanya telah dialihkan ke tempat jauh, memandang sebuah tenda yang terletak paling jauh dari sana.

Sebuah tenda dengan bulu elang berwarna hitam tergantung di sudut atasnya, bulu elang berwarna hitam pekat, hitam perlambang penyakit, musibah, dan kematian.

Penghuni tenda itu kebanyakan adalah orang-orang yang sudah sakit parah, terluka parah atau mereka yang sudah sekarat, mendekati saat ajalnya. Kecuali tabib yang bertanggung jawab menyembuhkan mereka, siapa pun enggan memasuki tenda laknat itu.

Mungkinkah sang pembunuh telah melarikan diri masuk ke dalam tenda itu?

Pancapanah tidak bertanya lagi, dia memang tak perlu bertanya, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya dia telah meluncur ke depan.

Siau-hong segera menyusul dari belakang.

Mereka memasuki tenda itu hampir bersamaan waktu, pada saat yang sama pula mereka jumpai dua orang.

Mimpi pun Siau-hong tak pernah menyangka kalau dia bakal menyaksikan kedua orang itu di dalam tenda.

Bahkan nyaris dia tak mempercayai apa yang telah dilihat sepasang matanya.

Ternyata orang pertama yang dia saksikan adalah Pova, Pova yang seharusnya menunggu kedatangannya di dalam tenda.

Orang kedua yang dijumpainya tak lain adalah Po Eng!

Po Eng berdiri di sana dengan tenang, sikapnya masih dingin, kaku dan sadis, pakaian yang dikenakan masih berwarna putih salju.

Pova tertelungkup setengah melingkar di hadapannya, sinar kaget, ngeri, takut dan horor yang luar biasa terpancar dari balik matanya yang indah.

Kedua orang itu tidak seharusnya berada di dalam tenda, namun kenyataan mereka berada di sana.

Sang pembunuh telah melarikan diri masuk ke dalam tenda ini, sedang tenda itu tiada jalan mundur yang lain, berarti salah satu di antara mereka berdua pastilah si pembunuh itu.

Lalu siapakah di antara mereka berdua yang telah membunuh orang?

Dengan pandangan dingin Siau-hong menatap Po Eng sekejap, kemudian setelah menghela napas panjang ujarnya, "Aku pun tak menyangka akan dirimu, selama ini aku selalu menganggap kau benar-benar tak pernah membunuh orang."

"Di dunia yang luas ini memang banyak terdapat kejadian yang sama sekali tak terduga," jawab Po Eng tanpa perubahan mimik wajah, "Lantakan emas murni memang dapat membuat orang melakukan tindakan yang dia sendiri pun tak pernah menyangka.”

“Aku tahu, kau pun sedang mencari tumpukan emas itu, tapi kau ..” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Saat itu Pova telah menubruk ke dalam pelukannya, dengan air mata berderai dia berbisik, "Bawa aku pergi, kumohon, bawalah aku pergi dari sini!"

"Aku pasti akan membawamu pergi, kau tidak seharusnya datang ke tempat ini," sahut Siau-hong sambil membelai rambutnya yang lembut.

Tapi sayang ia telah datang, datang ke tempat itu. "Mengapa kau bisa muncul di sini?" mau tak mau Siau- hong harus bertanya.

"Aku tak tahu," dengan air mata belinang Pova menggeleng, "Aku benar-benar tak tahu, aku hanya ingin secepatnya pergi dari sini." "Kau tak boleh pergi!" tiba-tiba Pancapanah buka suara, kini suaranya tidak selembut tadi, "Siapa pun tak boleh membawanya pergi."

"Kenapa?" tanya Siau-hong.

"Karena orang yang menginginkan orang lain mengucurkan darah segar, dia sendiri pun harus bermandi darah."

"Siapa membunuh, dia harus mati, dengan darah membayar darah!" Begitulah peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, terlepas kau berada di daratan Tionggoan, di wilayah Kang-lam atau pun berada di tengah gurun pasir, peraturan tetap peraturan dan harus ditaati.

Siau-hong menggenggam tangan Pova erat-erat, serunya, "Kau seharusnya dapat melihat, bukan dia pembunuhnya!"

"Kau dapat melihatnya?" Pancapanah balik bertanya, "Apa yang telah kau lihat?"

Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan, katanya lagi, "Semua orang, semua barang dagangan yang berada di sini berasal dari satu perusahaan dagang."

"Perusahaan dagang mana?" "Eng-ki!"

"Eng-ki?" sepasang tangan Siau-hong mulai terasa dingin, "Eng dari kata hui-eng, Elang terbang?"

Eng dari hui-eng si elang terbang tak lain adalah Eng dari nama Po Eng.

Dengan pandangan terkesiap dia menatap wajah Po Eng, tegurnya, "Jadi kau adalah Tongcu mereka?"

"Betul, dia adalah majikan yang menyewa kami!" sahut Pancapanah, "Kami bersedia menampungmu pun tak lain gara-gara dia. Kalau tidak, kemungkinan besar tadi kau sudah mati di ujung anak panahku."

Sekujur badan Siau-hong terasa dingin membeku, untung saja tak sampai menggigil.

Kembali Pancapanah berkata, "Sekalipun ingin menelusuri jejak emas murni itu, tak nanti ia akan menggeledah barang bawaan rombongan sendiri, sekalipun barang bawaan sendiri mau digeledah, rasanya dia tak perlu membunuh orang."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya dengan dingin, "Sekarang seharusnya kau sudah tahu bukan siapa yang telah melakukan pembunuhan ini?"

Tangan Pova terasa jauh lebih dingin dari tangan Siau- hong, bahkan air matanya terasa jauh lebih dingin dari tangannya.

Dia peluk tubuh Siau-hong erat-erat, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Padahal perempuan ini begitu lemah lembut, begitu pasrah, mungkinkah gadis semacam dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin?

Siau-hong tidak percaya.

Biar sampai mati pun Siau-hong tak bakal mempercayai akan kenyataan ini.

"Aku hanya tahu orang yang melakukan pembunuhan itu pasti bukan dia!" kata Siau-hong sambil memeluk tubuh gadis itu makin kencang, "Apalagi tak ada yang menyaksikan sendiri dia melakukan pembunuhan itu."

"Jadi kau baru mau percaya bila sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri?" tanya Pancapanah. Tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang, selanya, "Kendatipun kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri pun tak bakal percaya."

Bila Siau-hong adalah seseorang yang memakai akal sehat, bila dia seorang yang bisa memilah masalah dan mengambil kesimpulan secara sehat, sekarang seharusnya semua masalah sudah jelas.

Kenyataan dengan jelas, sudah terpampang di depan mata.

Wi Thian-bong sekalian sejak awal rupanya sudah tahu kalau Po Eng adalah majikan rombongan saudagar ini, dia selalu mencurigai Po Eng menggunakan rombongan saudagar ini sebagai kamuflase untuk mengelabui niatnya mengangkut emas lantakan sebesar tiga puluh laksa tahil yang telah dirampok.

Namun mereka tak berani mengganggu rombongan besar ini.

Hampir semua orang persilatan tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Po Eng tiada taranya, bahkan selama ini belum pernah ada orang yang mampu mengalahkannya.

Sedangkan Dewa panah lima bunga Pancapanah adalah jago nomor wahid yang telah menggetarkan luar perbatasan, ksatria sejati idola bangsa Tibet.

Wi Thian-bong bukan saja menaruh perasaan jeri dan takut menghadapi kedua orang ini, bahkan dia pun harus meningkatkan kewaspadaannya menghadapi setiap orang dalam rombongan ini.

Sebab kemungkinan besar setiap orang yang berada dalam rombongan ini adalah begal kucing, jika benar-benar terjadi pertarungan sengit, sudah pasti mereka tak punya keyakinan untuk meraih kemenangan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terpaksa mereka melakukan penyelidikan secara diam- diam, mereka ingin mencari tahu apakah emas murni itu berada di dalam bungkusan barang dagangan yang dibawa rombongan ini.

Sebetulnya mereka ingin memperalat Siau-hong untuk melakukan tugas ini.

Siapa tahu Siau-hong justru merupakan seorang yang tak sayang dengan nyawa sendiri, karenanya terpaksa mereka harus mencari akal lain.

Untuk melacak apakah emas murni itu benar-benar berada dalam bungkusan barang dagangan itu, mereka harus mengirim seseorang untuk menyelinap dan membaur ke dalam rombongan ini.

Orang itu harus seseorang yang tak gampang menarik perhatian, seseorang yang tak gampang menimbulkan kecurigaan orang lain.

Selain harus pandai berkamuflase hingga sukar terlacak orang, dia harus memiliki gerakan tubuh selincah kuning, seganas patukan ular berbisa, semantap seekor gajah raksasa, selain harus memiliki kecantikan yang lebih manis dari madu, memiliki kelembutan melebihi air dan sanggup menaklukkan hati Siau-hong.

Karena Siau-hong satu-satunya jembatan penghubung untuk bisa menyusup masuk ke dalam rombongan ini.

Ternyata mereka berhasil menemukan manusia semacam ini.

Pova! Bila Siau-hong masih memiliki sedikit kesadaran, sekarang dia seharusnya sudah dapat melihat duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi sayangnya Siau-hong bukan jenis manusia semacam itu.

Dia bukannya tak memiliki otak dan kecerdasan, hanya saja kecerdasan otaknya kerap kali terhanyut dan tenggelam oleh perasaan emosi.

Dia bukannya tak bisa menduga sampai ke situ, hanya saja pada hakikatnya dia menampik untuk berpikir begitu.

Pada dasarnya dia menampik untuk mengakui bahwa Pova sang pembunuh.

Tentu saja Pancapanah pun dapat melihat akan hal ini. "Tak ada orang melihat dia melakukan pembunuhan, tak

ada orang yang bisa jadi saksi untuk membuktikan dia telah

membunuh orang," kata Pancapanah perlahan, "Akan tetapi kau pun sama saja tak bisa membuktikan kalau dia itu tidak bersalah."

Siau-hong segera memahami maksud hatinya, "Apakah kau ingin menggunakan cara tadi untuk membuktikan benar salahnya dia?" ia bertanya.

"Benar," Pancapanah membenarkan, "Anak panah dari dewa lima bunga tak bakal melukai orang yang tidak bersalah."

Siau-hong segera tertawa dingin.

"Sayangnya kau sama sekali bukan Dewa panah lima bunga yang sesungguhnya, kau tak lebih hanya manusia, pikiran dan hatimulah yang memutuskan apakah dia berdosa atau tidak." "Untuk kejadian kali ini, apakah kau mempunyai cara lain yang jauh lebih baik?" tanya Pancapanah.

Tentu saja Siau-hong tidak memiliki cara lain yang lebih baik.

Di dunia ini sudah tak ada orang lagi yang bisa memikirkan cara apa pun untuk membuktikan kalau perempuan itu tidak bersalah.

Tiba-tiba Pova meronta lepas dari pelukan Siau-hong, katanya dengan air mata bercucuran, "Walaupun kau pernah berkata, selama dirimu masih hidup maka tak akan kau biarkan orang lain menganiayaku, namun sejak awal pun aku tahu bahwa janjimu itu tak mungkin bisa kau lakukan, setiap persoalan dapat berubah, setiap orang pun dapat berubah."

Kemudian sambil menyeka air mata yang berlinang, lanjutnya, "Oleh sebab itu mulai sekarang kau sudah dapat melupakan semua janjimu itu, biarkan mereka membunuhku, biarkan aku mati!"

Dia masih tetap begitu lembut dan lemah, begitu penurut, dia masih menggantungkan keselamatannya pada perlindungan Siau-hong.

Kini dia telah menyerahkan seluruh hidupnya, tubuhnya kepada Siau-hong, ia rela mati karena tak ingin menyusahkan Siau-hong.

Biarpun tak seorang pun yang menyaksikan dia telah melakukan pembunuhan, namun setiap orang yang hadir dengan jelas mengetahui akan apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba terdengar Po Eng menghela napas panjang. "Biarkan dia pergi!" katanya. "Kau akan melepaskan dia begitu saja?" tanya Pancapanah amat tercengang.

"Bukan hanya membebaskan dia begitu saja," terus Po Eng dengan nada dingin, "Kau pun harus memberinya sekantung air, sekantung rangsum, dan seekor kuda."

Kemudian dengan hambar tambahnya, "Berikan seekor kuda tercepat untuknya, aku ingin dia pergi dari sini secepatnya, makin cepat semakin baik."

Pancapanah tidak bicara apa-apa lagi.

Dia memang selalu tunduk kepada Po Eng, seperti orang lain tunduk kepadanya.

Siau-hong pun tidak bicara lagi, setiap tindakan yang dilakukan Po Eng selalu membuat dia tak mampu bicara apa-apa lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menarik tangan Pova dan membalikkan badan.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi, "Biarkan dia pergi, kau tetap tinggal di sini."

"Aku tetap tinggal di sini?" Siau-hong berpaling, "Kau minta aku tetap tinggal di sini?"

"Bila kau ingin aku membebaskan dia, maka kau harus tetap tinggal di sini!"

"Inikah syaratmu?"

"Benar!" jawaban Po Eng singkat tapi tegas, hal ini sudah merupakan keputusannya yang paling akhir, tak seorang pun dapat mengubah keputusannya itu.

Siau-hong sangat memahami keadaan itu, maka dia pun melepas genggaman Pova. "Asal aku tidak mati, suatu ketika pasti akan datang mencarimu, aku pasti dapat menemukan dirimu."

Itulah perkataan terakhir yang dia sampaikan kepada Pova, kecuali ucapan itu, apa lagi yang bisa dia katakan?

Pova tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan mulut membungkam ia berlalu dari sana.

Dia tidak berkata apa-apa lagi, pergi dengan mulut membisu.

Siau-hong pun tidak bergerak, dia hanya mengawasi perempuan itu keluar dari sana, mengawasi bayangan punggungnya yang ramping dan lemah lembut dengan pandangan tak berkedip.

Dia berharap perempuan itu berpaling lagi memandangnya, tapi dia pun takut melihat perempuan itu berpaling.

Seandainya ia berpaling, kemungkinan besar dia akan menerjang keluar, tanpa mempedulikan apa pun yang bakal terjadi, dia ikut pergi dari situ bersamanya.

Sayang sekali ia tidak berpaling.

Pancapanah pun telah pergi dari situ, sesaat sebelum meninggalkan tempat itu tiba-tiba dia menyampaikan sepatah kata yang bermakna sangat mendalam kepada Siau- hong, "Bila aku jadi kau, aku pun akan melakukan hal yang sama." Perkataannya sama sekali tidak mengandung nada sindiran atau ejekan, "Perempuan semacam dia memang tak banyak jumlahnya."

Ketika hampir keluar dari dalam tenda, kembali dia berpaling sambil menambahkan, "Tapi bila aku adalah kau, di kemudian hari aku tak bakal mau bertemu lagi dengannya." Sepasang tangan Siau-hong yang mengepal kencang perlahan-lahan mengendor kembali, kemudian dengan gerakan lamban dia membalikkan badan, berhadapan dengan Po Eng.

Dia ingin bertanya kepada orang itu, "Kalau memang kau bersedia membebaskan dia, kenapa pula harus menahan diriku?"

Namun pertanyaan itu tak sampai diutarakan.

Sepeninggal Pova dan Pancapanah, sikap Po Eng pun tiba-tiba berubah sama sekali.

Tatkala Siau-hong berhadapan dengannya, ia telah roboh terkapar di atas tanah, terkapar di atas kasur empuk yang berlapiskan kulit. Belum pernah Siau-hong menyaksikan dia begitu lelah dan lemah.

Parasnya pucat-pias tanpa rona darah, namun di atas pakaiannya yang berwarna putih salju telah dibasahi darah segar, noda darah mengotori seluruh dadanya, hanya selisih beberapa inci dari hulu hatinya.

"Kau terluka?" teriak Siau-hong, "Mengapa kau bisa terluka?"

Po Eng tertawa getir, "Asal dia manusia, tentu saja dapat terluka, jika ada sebilah pedang tajam menghujam dadamu, siapa pun pasti akan menderita luka cukup parah."

Siau-hong semakin terkesiap.

"Orang persilatan mengatakan bahwa kau tak pernah terkalahkan, aku pun tahu, kau memiliki beratus kali pengalaman pertarungan sengit, namun belum pernah kalah walau satu kali pun."

"Setiap masalah, setiap persoalan pasti ada kesatu." "Siapa yang telah melukaimu?" Sebelum Po Eng sempat menjawab, Siau-hong telah teringat akan seseorang, bilamana ada orang yang sanggup melukai Po Eng, sudah pasti manusia itulah orangnya.

Jago pedang tanpa nama, pedang tanpa perasaan.

"Jadi kau telah bertarung melawannya?" Siau-hong segera bertanya.

Lama sekali Po Eng termenung, kemudian perlahan- lahan ia berkata, "Aku pernah bertemu dengan tujuh jago pedang paling tersohor di kolong langit, meskipun belum pernah bertarung dengan mereka, namun aku pernah menyaksikan ilmu pedang yang mereka miliki."

Setelah menghela napas panjang, terusnya, "Di antara mereka, ada yang sudah tua, ada yang hidup terlalu royal, ada yang ilmu pedangnya sudah mundur, tujuh orang jago pedang yang paling tersohor waktu itu, kini kehebatannya telah memudar, sudah menjadi masa lampau, oleh sebab itu aku tak pernah bertarung melawan mereka, karena aku tahu, kemampuanku pasti dapat mengalahkan mereka."

Perkataannya itu bukan sebuah jawaban, maka Siau- hong kembali bertanya, "Bagaimana dengan dia?"

Tentu saja Po Eng juga tahu siapa yang dimaksud "dia" oleh Siau-hong.

"Aku telah bertarung melawannya," akhirnya Po Eng menjawab, "Aku berani jamin, di antara tujuh jago pedang paling tersohor, tak satu pun sanggup menghadapi sebuah tusukannya ”

Tak disangkal, tusukan itulah yang telah melukai Po Eng...

"Selama hidup belum pernah kujumpai ilmu pedang semacam ini, bahkan membayangkan pun belum pernah," perlahan-lahan Po Eng melanjutkan, "Aku hanya bisa melukiskan tusukan pedangnya itu dengan beberapa patah kata. ”

"Perkataan apa?"

"Pasti membunuh! Pasti menang! Pasti mati!"

"Tetapi kau belum mati," Siau-hong berusaha menghiburnya, seakan juga sedang menghibur diri sendiri, "Aku dapat melihat, kau tak bakal mati!"

Po Eng tertawa, di balik suara tawanya penuh mengandung nada ejekan dan sindiran, katanya, "Mungkin saja aku menahanmu karena aku ingin kau menemaniku di sini, melihat aku mati, karena aku pun pernah berada di sampingmu, menunggu saat kematianmu."

Terkadang sindiran pun merupakan semacam kepedihan, suatu kepedihan hanya bisa disampaikan dengan nada sindiran.

Siau-hong sangat memahami hal itu.

Kecuali terhadap perasaan sendiri, biasanya dia gampang memahami persoalan lain.

Perlahan-lahan dia duduk, duduk di samping Po Eng. "Aku akan menunggu," katanya, "Bukan menunggu saat

kematianmu tapi menunggu saat kau berdiri."

Matahari yang terik kembali muncul di tengah angkasa, namun suasana dalam tenda justru gelap dan dingin.

Sudah cukup lama Po Eng berbaring sambil memejamkan mata, entah dia sudah tertidur atau tidak, sampai lama kemudian ia baru membuka kembali matanya, menatap Siau-hong dan berkata, "Ada dua hal aku harus memberitahukan kepadamu." "Katakan!"

"Si jago pedang tanpa nama itu sesungguhnya bukan tak bernama, dia bermarga Tokko bernama Tokko Ci, bukan Ci tergila-gila karena cinta, tapi tergila-gila pada pedang," ujar Po Eng sambil menghela napas, "Oleh karena itu kau tak boleh bertarung melawannya, orang yang tergila-gila karena cinta pasti akan mati di ujung pedang orang yang tergila- gila karena pedang. Dalam hal ini, kau tak bisa tidak harus mempercayainya."

"Apa masalah yang kedua?" Siau-hong kembali bertanya.

Kembali Po Eng termenung sampai lama sekali sebelum menjawab, "Kau adalah seorang gelandangan, ada gelandangan yang punya banyak emas, ada gelandangan yang banyak bercinta, ada gelandangan yang suka tertawa, ada pula gelandangan yang suka menangis, walaupun begitu, ada satu kemiripan yang dimiliki setiap gelandangan."

"Kemiripan apa?"

"Perasaan hampa," sahut Po Eng, "Hidup menyendiri, kesepian, dan kehampaan."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya lagi, "Oleh karena itu, bila seorang gelandangan dapat menemukan seseorang yang dianggap dapat membuat dirinya tidak merasa kesepian lagi, maka keadaan itu ibarat seseorang yang tenggelam dalam air tiba-tiba berhasil memegang sebatang balok kayu, biar sampai mati pun enggan lepas tangan. Sementara apakah balok kayu itu dapat membawanya kembali ke tepian atau tidak, baginya tak peduli, karena dalam hatinya sudah keburu muncul suatu perasaan aman dan tenteram, bagi kaum gelandangan, perasaan tenteram semacam ini sudah lebih dari cukup." Tentu saja Siau-hong memahami maksudnya.

Apa yang dia katakan tak lain adalah penderitaan Siau- hong yang selama ini selalu tersembunyi di dasar hatinya, penderitaan yang tak pernah berani disentuh olehnya.

Seorang diri dengan sebilah pedang berkelana dalam dunia persilatan, kebebasan hidup seorang gelandangan tampak begitu menggairahkan, begitu mengundang decak kagum banyak orang.

Karena selamanya orang lain tak bakal tahu kalau perasaan mereka yang sesungguhnya adalah kehampaan dan penderitaan.

Kembali terdengar Po Eng berkata, "Akan tetapi balok kayu yang berhasil kau tangkap itu terkadang bukan saja tak dapat membawamu menuju ke tepian, sebaliknya malah bisa membuat kau tenggelam makin cepat, oleh sebab itu di saat harus lepas tangan, kau harus segera melepasnya."

Sepasang kepalan Siau-hong yang semula menggenggam kencang perlahan-lahan mengendor kembali.

"Mengapa kau harus menyampaikan kata-kata semacam itu kepadaku?" tanyanya.

"Karena kau adalah sahabatku." Sahabat? Ya, sahabat!

Mendengar perkataan semacam itu muncul dari mulut Po Eng, Siau-hong betul-betul merasa terkesiap, bahkan jauh lebih terkesiap dibandingkan ketika ia melihat noda darah di pakaiannya yang berwarna putih bersih, seketika itu juga ia merasakan darah panas menggelora dalam dadanya, menyumbat tenggorokannya, membuat dia tak sanggup berkata-kata. Po Eng telah duduk, dari sebuah kantung kulit kambing yang tergeletak di samping tubuhnya dia mengeluarkan sebotol arak tawar yang kecut tapi terasa pedas.

"Inilah arak Ku-shia-sau dari jalan utara menuju gunung Thian-san," katanya, "Arak semacam ini jauh lebih keras dan memabukkan dibandingkan arak yang terbuat dari sorgum."

Diteguknya dulu satu tegukan, kemudian ia serahkan kantung kulit kambing itu ke tangan Siau-hong.

"Apakah kau takut mabuk?" tantangnya.

"Hahaha, kalau mati pun tak takut, kenapa mesti takut mabuk?" Secercah senyuman terlintas dari balik mata Po Eng yang tajam, tiba-tiba saja ia mulai bersenandung:

"... lelaki harus ternama, Arak harus memabukkan. Berbincang setelah mabuk, Isi hati pun semua terpampang."

Ooo)d*w(ooO