Elang Terbang di Dataran Luas BAB 06. PEDANG PENEMBUS HATI

BAB 06. PEDANG PENEMBUS HATI

Ketika semuanya telah berlalu, dalam hatinya masih penuh dilimuti kehangatan dan kemesraan yang lebih manis dari madu.

Dia pernah memiliki perempuan, namun belum pernah merasakan suasana yang begitu nikmat seperti saat ini.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba perempuan itu berkata lirih, "Dia adalah ciciku!"

Ternyata Pova buka suara dan berbicara, namun perkataan itu kedengaran sangat aneh. "Siapakah cirimu?" tak tahan Siau-hong bertanya, "Apakah perempuan keji dan buas itu adalah cirimu?"

Pova manggut-manggut membenarkan.

"Sejak kecil aku sudah ikut dia, apa pun yang dia suruh aku lakukan, pasti akan kulakukan. ”

"Dan kau tak pernah membantah atau melawan?" "Belum pernah terpikir untuk berbuat begitu."

Bukan saja dia tak berani membangkang, bahkan berpikir pun tak berani, itulah sebabnya dia baru melakukan perbuatan semacam itu, akhirnya dia menceritakan semua kepedihan dan kesedihan yang mengganjal hatinya selama ini.

Persoalan apa pun tak perlu dijelaskan lagi, perkataan apa pun tak perlu disampaikan lagi.

Tiba-tiba saja Siau-hong merasa semua kedukaan, kemasgulan, dan semua kemurungan yang mengganjal dalam hatinya, lenyap bagaikan asap yang buyar di angkasa, tiada persoalan lagi di dunia ini yang pantas dia murungkan dan masgulkan lagi.

Dia memeluk tubuhnya erat-erat.

"Mulai hari ini, selama masih hidup, aku tak akan membiarkan kau dianiaya dan dipermainkan orang lain."

"Biarpun sekarang kau berkata begitu, tetapi...

bagaimana di kemudian hari?"

Penderitaan yang kelewat lama membuat perempuan itu seolah kehilangan rasa percaya diri.

"Siapa tahu kejadian apa yang bakal kita hadapi di kemudian hari? Siapa tahu saat itu kau pun akan berubah?" "Peduli peristiwa apa pun yang bakal terjadi di kemudian hari, aku tak bakal berubah, kau harus percaya padaku."

"Aku tak yakin," perempuan itu menempelkan pipinya di wajah pemuda itu, butiran air mata telah membasahi wajahnya, "Tapi aku percaya!"

Malam yang panjang belum juga lewat.

Cahaya lentera tampak bersinar terang-benderang dari balik tenda terbesar di tempat itu, Tong Leng telah mengumpulkan seluruh anggota keamanan yang dimilikinya, termasuk juga Siau-hong.

Saat itu selisih waktu dengan kematian Hong Hau sudah terpaut empat jam lebih.

Siau-hong telah tidur sejenak untuk melepaskan penat, namun orang lain tidak seberuntung dirinya, semua orang tampak lelah, penat, mengantuk, dan menderita.

Sepasang mata Tong Leng telah dipenuhi dengan jalur darah, namun sikapnya masih sangat tenang.

"Kita sudah mengirim beberapa rombongan untuk melakukan pelacakan di sekeliling tempat ini, dalam radius tiga puluh li tak nampak jejak seorang pun."

Keterangan itu disampaikan dengan penuh keyakinan, sebab dia tahu setiap orang yang diutusnya merupakan jago-jago yang sangat ahli dalam bidang ini, apabila mereka mengatakan dalam radius tiga puluh li tak ditemukan jejak manusia, siapa pun tak bakal menemukan seorang pun.

"Oleh sebab itu pembunuh yang telah menghabisi nyawa Hong Hau sekalian pasti masih berada dalam rombongan kita, sekarang dia pasti berada dalam kelompok ini, satu di antara kita semua." Setelah berhenti sejenak, dengan nada sedingin salju kembali Tong Leng berkata, "Tidak banyak jagoan dalam rombongan ini yang bisa membunuh mereka berlima sekaligus."

"Lima orang?" seru Siau-hong tanpa terasa.

"Betul, lima orang," jawab Tong Leng dingin, "Sewaktu kau tertidur tadi, kembali ada dua orang menemui ajalnya, kau pasti tertidur sangat nyenyak sehingga jeritan ngeri menjelang ajal mereka pun tak terdengar."

Siau-hong tidak bicara apa-apa, dia memang tak mampu berkata apa pun.

Kembali Tong Leng berkata, "Asal-usul mereka berlima tidak sama, aliran ilmu silat yang mereka miliki pun berbeda, jadi mustahil mereka bermusuhan dengan orang yang sama pada saat yang sama, maka kematian mereka sudah pasti bukan karena balas dendam."

Namun membunuh orang pasti ada alasannya, tentu ada sumber permasalahannya.

Biasanya sumber permasalahan yang membuat orang melakukan pembunuhan hanya ada dua jenis, karena harta atau perempuan.

"Mereka terbunuh pasti dikarenakan ada orang ingin merampok barang dagangan kita," kata Tong Leng lagi.

Si bongkok yang selama ini hanya membungkam, kini baru buka suara, katanya, "Barang dagangan sudah pernah dirampok, bahkan ada belasan bungkusan yang telah dibongkar orang, mungkin mereka ingin memeriksa dulu apakah barang dagangan yang kita bawa pantas untuk dirampok atau tidak." "Kalau menurut kau, apakah barang-barang itu berharga untuk dirampok?"

"Tentu saja berharga sekali."

"Walaupun barang dagangan ini tak mungkin bisa diangkut satu orang, namun jika ia dapat membantai kita satu per satu, pada akhirnya barang-barang ini akan menjadi miliknya."

Sorot mata Tong Leng selama ini menatap terus Siau- hong tanpa berkedip, lanjutnya, "Walaupun sekarang kita belum tahu siapakah orang itu, tapi kita pasti akan berhasil melacaknya, karena asal-usul setiap orang yang berada dalam rombongan ini telah kami selidiki hingga jelas."

Bukan mencakup setiap orang, masih ada seorang terkecuali. Siau-hong adalah satu-satunya orang yang terkecuali.

"Sebelum pembunuh itu berhasil kita lacak, sementara waktu kita akan tetap tinggal di sini, siapa pun dilarang meninggalkan barisan," kata Tong Leng lebih jauh.

Mendadak ia berpaling, ditatapnya Siau-hong dengan sepasang matanya yang memerah, kemudian ujarnya lebih jauh, "Khususnya kau, lebih baik untuk sementara waktu jangan meninggalkan tenda walau selangkah pun."

Siau-hong masih tetap tak mampu berbicara.

Semua peristiwa itu baru terjadi setelah keberadaannya di sini, tak heran bila semua orang menaruh curiga kepadanya.

Kini Tong Leng tidak menutupi lagi perasaan curiganya, dengan berterus terang ujarnya lagi, "Paling baik bila mulai sekarang kau sudah balik ke dalam tendamu." Baru saja Siau-hong akan beranjak pergi, tiba-tiba ada orang yang mewakilinya berbicara.

Selama ini Garda selalu ingin bicara, tapi dia tak berani buka suara, baru sekarang ia membesarkan nyali sambil berseru, "Bukan dia, bukan dia!"

"Bukan apa?"

"Bukan orang yang kalian maksudkan, aku bukan buta, bila ia membunuh orang, aku pasti melihatnya.”

“Kau pasti melihatnya?"

"Aku selalu mengikuti dia, dia pun selalu mengikuti aku, hubungan kami bagaikan manusia dan bayangan, kami selalu berada di tempat yang sama."

Tong Leng tertawa dingin.

"Ketika kau membopong jenazah Ma Sah sambil menangis, apakah kau melihat berada di manakah dirinya?" Garda tak sanggup bicara lagi.

Dia memang hanya memiliki satu jalur usus, satu jalur usus dari mulut hingga tembus ke ujung usus, kalau melihat dia akan mengatakan melihat, kalau tidak melihat dia akan mengatakan tidak.

Tong Leng menggunakan tangannya yang dipenuhi otot menonjol untuk mengusap matanya yang memerah, katanya lagi, "Perkataanku telah selesai kusampaikan, kalian tentu sudah memahami maksud hatiku."

Kemudian sambil mengulap tangan, dia menambahkan, "Sekarang kalian pergilah."

Semua orang pun beranjak pergi dari situ.

Siau-hong berjalan paling cepat, karena dia tahu ada orang sedang menunggunya, dapat menghibur hatinya. Baru saja dia memasuki tendanya, baru saja melihat Pova yang tidur melingkar di balik selimut bulu, tahu-tahu terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan.

Kali ini dia belum tertidur, kali ini ia mendengar dengan sangat jelas, suara jeritan ngeri yang memilukan itu berasal dari balik tenda dimana baru saja ia tinggalkan, bahkan itu adalah suara Tong Leng.

Tong Leng sudah mati, menanti mereka tiba kembali dalam tenda, Tong Leng telah tewas.

Sebilah pedang yang tajam berkilat telah menghujam masuk dari depan dadanya hingga tembus ke punggung.

Sebuah tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya.

Suasana dalam tenda masih terang benderang bermandikan cahaya.

Tapi serangan itu sangat mematikan, pedang yang menembus jantungnya dalam satu kali tusukan masih tetap tertinggal di atas jenazah Tong Leng.

Cahaya terang yang memantul dari badan pedang, seterang sepasang mata.

Mata seorang gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, mata kucing yang siap menangkap tikus, mata harimau kelaparan yang siap menerkam mangsanya, mata elang yang siap menerkam ayam, mata setan dalam impian buruk.

Bila kau dapat membayangkan bagaimana jadinya bila semua sinar mata itu bercampur-baur jadi satu, maka kau baru bisa membayangkan seperti apakah kilauan cahaya yang memantul dari tubuh pedang itu.

Dari permukaan tanah pun memantul cahaya terang. Bukan cahaya terang seperti cahaya pedang, tapi kerlipan cahaya tajam yang membawa semacam keremangan, keseraman, dan ketidak-pastian.

Cahaya kerdipan itu berasal dari tiga belas batang senjata besi yang memancarkan sinar kegelapan.

Dari semua orang yang dikumpulkan tadi, kini ada separoh sudah kembali, di antara mereka banyak yang memiliki ketajaman mata luar biasa.

Namun sayang, walaupun mereka dapat melihat benda apa yang memancarkan cahaya, namun tak dapat melihat dengan pasti bagaimana bentuknya.

Di antara mereka segera ada yang berjalan mendekat, mengambil sebatang di antaranya dan diperiksa dengan lebih seksama.

"Jangan disentuh, tak boleh disentuh!" tiba-tiba si bongkok membentak keras.

Sayang perkataan itu sedikit terlambat, sudah ada seorang yang memungutnya.

Baru saja benda itu dipungut dan dilihat sekejap, mendadak pupil matanya jadi suram, lalu buyar sinarnya. Diikuti parasnya mulai berubah, berubah amat suram, berubah jadi warna keabu-abuan yang menyeramkan, sekulum senyuman misterius yang aneh pun tersungging di ujung bibirnya.

Dengan perasaan terperanjat setiap orang mengawasi semua perubahan itu, dia sendiri seakan sama sekali tak merasakan perubahan itu.

Bahkan dia masih bertanya, "Kenapa kalian mengawasi aku?" Hanya perkataan itu yang mampu dia ucapkan, begitu selesai bicara mendadak parasnya berubah dan mulai mengejang keras, tubuhnya bagaikan sebuah bola yang tiba- tiba kehilangan udara, tahu-tahu kempis, layu, dan roboh terjungkal.

Sewaktu roboh ke tanah, parasnya telah berubah jadi hitam, hitam mati, meski senyuman aneh itu masih tersungging di wajahnya.

Dia telah mati, namun dia sendiri seolah tak tahu kalau dirinya telah mati.

Ia seakan masih merasa amat gembira.

Sementara orang lain telah bermandi keringat dingin, hawa dingin serasa merasuk dari ujung hidung hingga tembus ke hati, lalu dari hulu hati tembus hingga telapak kaki.

Bagi yang lebih luas pengetahuannya, mereka segera tahu kalau orang itu sudah keracunan hebat, namun sama sekali tak mengira kalau dia langsung keracunan begitu memungut sebuah benda dari tanah, bahkan racun itu bekerja begitu cepat dan ganas.

Hanya beberapa orang yang tahu kalau benda yang dipungut orang itu adalah senjata rahasia paling beracun dari keluarga Tong di wilayah Su-cwan, senjata mematikan yang selama ini menggetarkan kolong langit.

Apa yang diketahui Siau-hong jauh lebih banyak daripada orang lain.

Bukan saja dia mengetahui betapa menakutkannya senjata rahasia semacam ini, dia pun mengetahui asal-usul pedang itu. "Inilah Mo-gan (Mata iblis)!" Si bungkuk mencabut pedang yang menghujam di atas jenazah, tiada bekas darah di ujung pedang itu. Dari balik mata pedang yang bening bagai air di musim gugur, hanya terlihat setitik codet, codet yang berbentuk bagaikan sebuah mata.

"Mata iblis!"

Ada orang tak tahan untuk bertanya, "Apakah Mata iblis itu?"

"Pedang ini bernama Mo-gan, si Mata iblis, merupakan salah satu di antara tujuh bilah pedang tertajam di kolong langit dewasa ini."

Pedang mustika ibarat batu permata, tidak seharusnya terdapat cacat apalagi bekas codet.

Tapi terkecuali pedang ini, bekas cacat yang membekas di tubuh pedang malah menambah misterius dan menyeramkan dari pedang itu.

Dengan lembut si bongkok membelai mata pedang, dari balik matanya terbesit setitik cahaya berkilauan.

"Biarpun Tong Leng hanya murid tak resmi keluarga Tong di Su-cwan, namun dia masih terhitung salah satu jagoan paling tangguh di antara beberapa jago keluarga Tong lainnya. Bukan saja serangannya cepat dan tepat, bahkan pernah mempelajari ilmu pedang Sian-wan-kiam (Ilmu pedang dewa monyet) dari Go-bi-pay."

Pedang yang digunakan Tong Leng adalah sebilah pedang lemas, biasanya selalu dililitkan pada pinggang sebagai sabuk, kecepatannya mencabut pedang sama kilatnya seperti dia melepaskan senjata rahasia.

Tangannya selalu terkulai di samping pinggang, asal tangannya bergerak, pedang lemas yang melilit di pinggangnya segera akan menusuk ke depan bagaikan seekor ular berbisa.

Tapi kali ini jangankan melancarkan tusukan maut, kesempatan untuk melepaskan pedang pun tak ada, tahu- tahu pedang lawan telah menembus hulu hatinya.

Tusukan maut itu betul-betul kelewat sadis, kelewat cepat.

Semua orang yang hadir sadar dan mengerti, mereka tahu, tak seorang pun di antara kawanan jago yang ada dalam rombongan ini mampu menggunakan ilmu pedang setajam, seganas, dan secepat ini.

Bahkan dahulu pun mereka belum pernah melihat pedang setajam ini.

Lalu siapakah pembunuhnya? Pedang itu milik siapa? Tiba-tiba si bongkok berpaling, menatap tajam wajah

Siau-hong.

"Aku rasa kau pasti pernah mendengar asal-usul pedang ini, bukan?" katanya.

"Betul, aku pernah mendengarnya," Siau-hong mengakui.

"Benarkah pedang ini sudah terjatuh ke tangan seorang jago pedang muda dari marga Hong?"

"Benar!"

"Dan orang itu apakah bernama Hong Wi?” “Benar!"

Tiba-tiba mata tunggal si bongkok mengerut kencang, berubah bagaikan sebatang jarum, sebatang jarum yang menusuk mata. "Bukankah kau adalah Hong Wi?" sepatah demi sepatah ia bertanya.

"Betul!"

Begitu jawaban itu dilontarkan, pupil mata semua orang langsung berkerut kencang, detak jantung berdebar makin kencang, keringat dingin pun mulai membasahi telapak tangan.

Dalam waktu singkat hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh tenda.

Siau-hong masih tampil tenang, seakan tak pernah terjadi sesuatu. "Pedang itu memang milikku, seranganku tak pernah lambat, bukan masalah sulit bagiku untuk membunuh Tong Leng," katanya perlahan.

Debar jantung semakin kencang, ada beberapa tangan yang sudah basah oleh keringat dingin, secara diam-diam mulai menggenggam senjata masing-masing.

Siau-hong berlagak seolah tidak melihat, lanjutnya lagi dengan hambar, "Hanya saja bila kali ini akulah yang telah membunuh Tong Leng, mengapa kutinggalkan pedang itu? Memangnya aku gila? Kuatir orang lain tak tahu akulah yang telah membunuhnya?"

Setelah menghela napas lanjutnya, "Tidak mudah untuk mendapatkan pedang itu, tak nanti benda yang kuperoleh secara susah-payah kutinggalkan begitu saja untuk orang lain, terlepas orang itu sudah mati ataupun masih hidup."

"Masuk akal!" tiba-tiba si bungkuk berteriak.

Perlahan sorot matanya mulai bergeser dari wajah Siau- hong menatap wajah setiap orang anak buahnya, menatap mereka satu per satu. "Bila kalian memiliki sebilah pedang macam begini, selesai membunuh, apakah akan kalian tinggalkan senjatamu?"

Tak akan ada orang berbuat begitu, kendatipun baru pertama kali kau lakukan pembunuhan, tak mungkin orang akan bertindak begitu gegabah, bahkan goblok setengah mati.

Senjata yang pada mulanya sudah digenggam kencang, kini mulai dikendorkan kembali.

Siau-hong ikut menghembuskan napas lega, ia berpendapat si bongkok ini bukan saja amat tegas bahkan selalu berdiri di sisinya, selalu melindunginya secara diam- diam.

Kembali si bongkok berkata, "Tapi pembunuh itu pun pasti bukan anggota dari rombongan kita, di sini tak ada orang yang sanggup membunuh Tong Leng dengan sekali tusukan, juga tak ada orang yang sanggup merampas pedang itu dari tanganmu."

Siau-hong tertawa getir.

"Sudah hampir dua-tiga hari lamanya aku tak pernah melihat pedang itu lagi," katanya, "Seharusnya kau pun masih ingat, sewaktu pertama kali kau bertemu aku, pedang itu sudah tidak berada di tanganku lagi."

"Kenapa bisa tidak berada di tanganmu? Lantas di tangan siapa?" tanya si bongkok cepat.

Siau-hong tidak langsung menjawab.

Tiba-tiba ia teringat akan Wi Thian-bong, teringat Sui- gin, si Air raksa, teringat jago pedang tanpa nama yang menakutkan. Bahkan dia teringat pula Po Eng. Mereka kemungkinan besar adalah pembunuh Tong Leng, tapi kemungkinan itu pun seakan tak ada.

Di tengah gurun pasir yang nyaris tiada benda atau tumbuhan apa pun yang menghalangi, bukan pekerjaan gampang untuk menyelinap masuk ke dalam tenda secara diam-diam, lalu setelah membunuh mengeluyur pergi secara diam-diam, sesuatu kejadian yang mustahil.

Dia pun percaya dengan kemampuan yang dimiliki kelompok jagoan ini, bila ada orang mendekati tempat itu, tak mungkin mereka tidak mengetahuinya.

Kecuali sang pembunuh telah menyelinap masuk ke dalam rombongan itu, bahkan sama sekali tidak menimbulkan perhatian orang lain.

Tapi hampir semua anggota dalam rombongan ini saling mengenal bahkan berhubungan sangat akrab, rasanya tidak mungkin bagi orang luar untuk bisa menyelinap masuk tanpa mereka ketahui.

Siau-hong merasa tak sanggup menjelaskan semua urusan itu, karenanya terpaksa dia hanya tutup mulut.

Ternyata si bongkok tidak bertanya lebih lanjut, dia hanya memberi tahu padanya, "Sebelum pembunuh yang sebenarnya ketahuan, lebih baik kau jangan meninggalkan tempat ini, pedang ini pun tak bisa kau bawa pergi."

Kembali Siau-hong menghela napas panjang, sahurnya, "Sebelum berhasil melacak siapa pembunuh sebenarnya, biar ada orang mengusir aku pergi pun belum tentu aku mau pergi."

Dia memang bicara sejujurnya.

Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun dapat merasakan bahwa kematian beberapa orang itu sedikit banyak masih ada hubungan dan sangkut-paut dengan dirinya.

Dia pun ingin mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya.

Kembali si bongkok berpesan, "Besok kita tak akan pergi dari sini, siapa pun tak boleh meninggalkan rombongan, semua lelaki berusia di bawah tiga puluh lima tahun, peduli ia pernah belajar silat atau tidak, harus bergabung dalam pasukan keamanan."

Kemudian setelah menghela napas panjang, tambahnya, "Untung besok Pancapanah sudah kembali."

Malam panjang akhirnya telah tiba di ujungnya, secercah sinar terang mulai muncul dari luar tenda.

Pova masih seperti tadi, tidur meringkuk di sana, menggunakan selimut untuk menutupi kepalanya.

Kali ini dia benar-benar tertidur, bahkan tidur dengan begitu nyenyak.

Bagi seorang lelaki mana pun, ketika baru pulang setelah mengalami kejadian yang menakutkan, di saat melihat ada seorang wanita semacam itu sedang menanti kedatangannya, dia pasti merasakan kehangatan dan kelembutan cinta yang tebal.

Siau-hong telah duduk di sisinya, ingin sekali dia singkap selimut untuk melihat wajahnya, akan tetapi dia pun kuatir akan membangunkan perempuan itu, tapi pada akhirnya ia tak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangannya.

Pada saat itulah tiba-tiba Garda menyusup masuk ke dalam tendanya bagaikan seekor tikus tanah, tangannya menenteng sepasang sepatu laras terbuat dari kulit yang aneh sekali bentuknya. Dilihat mimik mukanya, ia tampak serius bahkan tegang, mendadak sambil menjatuhkan diri berlutut, ia persembahkan sepasang sepatu laras kulit itu kepada Siau- hong.

"Inilah Kapasa," katanya, "Aku hanya memiliki sepasang Kapasa, seperti kau hanya memiliki sebilah mata iblis."

Biarpun Siau-hong tidak paham apa artinya "Kapasa", namun ia dapat menduga kalau apa yang dimaksud Garda adalah sepasang sepatu bot itu.

Dia kurang begitu memahami kebudayaan serta adat orang Tibet, tapi ia tahu jelas, orang Tibet sangat menghargai sepasang kaki sendiri. Bila kau ingin mengetahui tingkat status mereka dari dandanan serta cara berpakaian orang Tibet, yang paling gampang adalah memperhatikan sepatu yang mereka kenakan, perbedaan status tinggi dan rendah tak akan terbayangkan oleh orang luar.

Biarpun Siau-hong tidak tahu kalau "Kapasa" merupakan jenis sepatu paling terhormat yang dikenakan orang Tibet, bahkan di wilayah Persia pun dianggap sangat terhormat, namun dia dapat melihat kalau Garda sangat menaruh hormat atas sepatunya itu, bahkan telah menjajarkan sepatunya dengan pedang kenamaan yang menggetarkan dunia persilatan.

Kembali Garda berkata, "Aku belum pernah mengenakan Kapasa itu, karena kakiku bau, keringat kakiku akan mengotori Kapasa, karenanya aku tak layak memakainya. Biarpun sebetulnya aku pun tak berniat menyerahkannya kepada orang lain, tetapi sekarang akan kupersembahkan untukmu." "Kenapa?" tanya Siau-hong keheranan. "Aku tidak bakal mempersembahkan pedang mata iblis kepadamu, kenapa kau harus mempersembahkan Kapasa milikmu kepadaku?"

"Karena kau akan pergi, pergi jauh, jauh sekali, harus pergi dengan cepat, cepat sekali, untuk itu kau butuh sepasang sepatu laras yang baik untuk melindungi kakimu."

"Kenapa aku harus pergi?"

"Karena Pancapanah segera akan kembali," sahut Garda cepat, "Orang lain tak berani mencurigaimu karena mereka tak berani mengusikmu, karena orang lain takut kepadamu, takut setengah mati."

Garda menyeka keringatnya dengan ujung baju, lalu terusnya, "Tapi Pancapanah tak bakal takut, Pancapanah tak pernah takut siapa pun, tak pernah jeri menghadapi siapa pun, begitu Pancapanah muncul, kau pasti akan mati, mati seperti Ma Sah."

Suaranya mulai gemetar karena perasaan ngeri dan takut yang luar biasa, sungguh aneh, seorang prajurit tempur macam dia, mengapa bisa menaruh perasaan takut yang begitu luar biasa terhadap seseorang?

Tak tahan Siau-hong bertanya lagi, "Pancapanah adalah..."

Belum selesai dia bertanya, tiba-tiba Pova tersentak bangun dari tidurnya, tiba-tiba ia menerobos keluar dari balik selimut dan memandangnya dengan perasaan terkesiap.

"Apa yang baru saja kau katakan?"

"Pancapanah," sahut Siau-hong cepat, "Aku baru saja akan bertanya pada sahabatku ini, manusia macam apakah Pancapanah itu?" Tiba-tiba saja tubuh Pova mulai gemetar keras, dilihat dari mimik mukanya, perempuan ini tampak jauh lebih ketakutan daripada Garda.

Mendadak dia peluk tubuh Siau-hong erat-erat dan berbisik, "Apakah Pancapanah benar-benar akan datang? Kalau begitu kau harus segera kabur, cepat lari dari sini."

"Kenapa?"

"Tahukahkah kau siapakah ksatria nomor wahid di puncak Cu-mu-lang-ma? Pernahkah kau mendengar Ngo- hoa-sin-cian (Dewa panah panca bunga)?" suara Pova kedengaran makin serak dan gemetar, "Pancapanah tak lain adalah Dewa panah panca bunga."

Ooo)d*w(ooO

Di tengah gurun pasir yang panas bagaikan tungku api, dari dalam ruangan yang begitu panas hingga susah untuk bernapas, kau masih dapat menyaksikan lapisan salju yang putih nun jauh di puncak gunung yang tinggi di depan sana.

Di saat kau sudah hampir mati karena kepanasan, puncak salju di tempat kejauhan masih dapat kau saksikan dengan jelas.

Hanya dari tempat inilah kau bisa menyaksikan pemandangan aneh semacam ini, maka sekalipun kau bukan orang Tibet, seharusnya kau akan mengerti mengapa jalan pikiran orang Tibet selalu begitu romantis, begitu misterius, begitu penuh khayal.

Pikiran semacam ini tak mungkin bisa terwujud hanya dalam sehari semalam, tapi sesudah melewati penghidupan indah yang begitu romantis dan penuh misterius selama hampir berabad-abad lamanya, tentu saja dari balik semua itu akan muncul banyak sekali dongeng yang menawan hati.

Di antara sekian banyak dongeng yang paling romantis, paling misterius, paling indah, salah satunya adalah cerita tentang Dewa panah lima bunga.

Dalam bahasa Tibet, Dewa panah lima bunga disebut Pancapanah.

Menurut catatan kuno yang tercantum dalam kitab suci kaum Tibet, catatan paling purba yang pernah ditemukan, panah dari Pancapanah adalah "Sebuah panah yang tak pernah meleset, panah yang tajam luar biasa, di balik bulu panah terkandung perasaan yang penuh penderitaan, ujung panah yang mengandung perasaan rindu akan seseorang, sebuah panah yang langsung menembus hulu hati".

Pancapanah mengendalikan kekuatan di alam jagat yang susah dilawan, kekuatan cinta dan napsu.

Pedangnya penuh dihiasi bunga segar, gendawanya adalah serat dari madu.

Dia selalu muda dan tampan.

Dia adalah seorang pemuda paling tampan, paling gagah yang pernah ada di kolong langit.

Ia memiliki lima batang anak panah yang tajam, sebatang panah keras bagai emas, sebatang panah lembut bagai musim semi, sebatang panah yang manja dan genit bagai bunga, sebatang panah yang panas bagai bara api dan sebatang panah yang tajam bagai gurdi.

Tiada seorang pun mampu melawan kekuatannya.

Tentu saja Pancapanah yang dimaksud Pova serta Garda bukan dewa, melainkan seorang, seorang pejuang, seorang ksatria yang sangat dihormati dalam pandangan mereka, seseorang yang memiliki kekuatan melebihi dewa, kekuatan yang tak bisa dilawan siapa pun.

Sayangnya, walaupun Siau-hong ingin  mengikuti nasehat mereka dan pergi meninggalkan tempat itu pun keadaan sudah terlambat.

Tiba-tiba dari luar tenda terdengar suara orang berteriak penuh kegirangan, "Pancapanah telah kembali, Pancapanah telah kembali!"

Pancapanah dengan menuntun kuda putihnya yang tinggi besar telah berdiri di depan tenda, berdiri tenang sambil menerima sorak-sorai memuji dari kaumnya.

Dia sudah tiga hari meninggalkan rombongannya, melewati kehidupan yang sepi penuh penderitaan di tengah dataran luas yang tak berperasaan, namun sorot matahari yang terik, hembusan pasir yang kencang serta rasa lelah yang luar biasa sama sekali tak mampu mengubah sikap maupun penampilan dirinya.

Pakaian yang dikenakan masih tampak bersih dan indah, dia tetap tampil gagah dan penuh wibawa, lebih gagah dari matahari di langit.

Tak seorang pun, tak sebuah persoalan pun yang dapat merobohkan Pancapanah, tak ada pula kesulitan serta mara bahaya yang tak bisa dia taklukkan.

Selamanya tak pernah.

Suasana di dalam tenda gelap dan tenang, tempik-sorak di luar sana telah lama berhenti, bahkan kuda serta onta pun sudah berhenti meringkik.

Karena Pancapanah butuh istirahat, butuh ketenangan. Biarpun seringkali ia memperoleh pujian dan tempik- sorak dari orang lain, namun dia selalu lebih suka berbaring seorang diri dalam kegelapan.

Sejak dilahirkan dia suka hidup menyendiri, dia suka hidup seorang diri, tidak seperti orang lain, suka kemegahan, kekayaan, dan kehormatan.

Dengan tenang ia membaringkan diri di tengah kegelapan, kini tiada orang lain yang bisa melihatnya lagi.

Parasnya yang semula tampan bercahaya, tiba-tiba berubah begitu pucat, begitu lelah, kepucatan yang tak terlukiskan dengan perkataan.

Namun bila ada seorang asing muncul di hadapannya, maka cahaya terang seketika akan mulai membara lagi dari balik mukanya.

Dia tak akan membiarkan kaumnya kecewa, dia tak ingin anggota sukunya kecewa atas penampilannya.

Karena dia seorang bangsa Tibet.

Walaupun dia sudah berulang kali memasuki daratan Tionggoan, di daratan, di Hui-im, bahkan di wilayah mana pun dalam daratan Tionggoan, ia pernah hidup dan tinggal cukup lama di sana, bahkan utara selatan sungai besar pun pernah dijelajahi dan dijamah olehnya.

Namun dia tetap orang Tibet, mengenakan pakaian orang Tibet, makan minum dengan hidangan bangsa Tibet, bahkan sangat menyukai arak dan teh lemak buatan orang Tibet.

Dia selalu bangga karena dilahirkan sebagai orang Tibet.

Kaumnya pun selalu merasa bangga karena memiliki seorang pemimpin semacam dia.

Kini ia sedang menanti kedatangan Siau-hong. Semua peristiwa yang terjadi dalam dua hari belakangan telah diketahui olehnya, secara ringkas si bongkok telah melaporkan semua kejadian itu kepadanya.

Dugaan dan kesimpulan yang dia ambil pun tak jauh berbeda dengan kesimpulan orang lain, satu-satunya orang yang paling mencurigakan hanya Siau-hong seorang.

Pedang "Mata iblis" telah berada dalam genggamannya, dia telah mencabutnya. Sambil membelai mata pedang yang tajam tiba-tiba ia bertanya, "Pedang ini milikmu? Kau adalah Siau-hong si pencabut nyawa?"

Ia belum sempat melihat wajah Siau-hong, tapi dia tahu ada orang telah muncul di depan tendanya dan dia yakin orang itu pastilah Siau-hong.

Orang yang sepanjang tahun hidup dalam mara bahaya, meski seringkali' memiliki reaksi aneh yang melebihi reaksi seekor binatang buas, namun reaksi dan insting yang dimilikinya tak disangkal jauh lebih tajam dari siapa pun.

"Betul, pedang itu memang milikku," jawab Siau-hong sambil melangkah masuk, "Akulah Siau-hong si pencabut nyawa."

Pancapanah yang semula masih berbaring tenang, tiba- tiba melompat bangun dan berdiri tegak persis di hadapannya bagaikan sebuah tiang bendera, sorot matanya yang dingin terasa berkilat dari balik kegelapan.

"Konon di saat orang lain masih ingusan, kau sudah mulai mengucurkan darah segar?"

"Biasanya darah yang mengucur bukan darah yang berasal dari tubuhku."

"Bila ingin orang lain mengucurkan darah, diri sendiri harus mengucurkan darah terlebih dulu," suara Pancapanah kedengaran teramat lembut dan hangat, "Kini darah Tong Leng telah dingin membeku, bagaimana dengan dirimu?"

"Darahku masih mengalir, setiap saat telah siap untuk mengucur keluar."

"Bagus sekali," suara Pancapanah kedengaran lebih lembut dan hangat, "Siapa yang telah membunuh, dia harus mati. Dengan darah membayar darah."

Suaranya kedengaran lebih lembut bagai hembusan angin di musim semi, namun suara Siau-hong pun tak kalah tenangnya.

"Sayang sekali orang yang tidak membunuh pun terkadang bisa mati," ucap Siau-hong, "Bila aku harus mati, sang pembunuh yang sesungguhnya bakal hidup sentosa sepanjang masa."

"Jadi bukan kau yang melakukan pembunuhan itu?" "Bukan, kali ini bukan," Siau-hong menggeleng.

Pancapanah memandangnya sampai lama sekali, memandang dengan penuh ketenangan.

"Kau belum melarikan diri, juga tak ingin melarikan diri, sikapmu begitu tenang dan tenteram, dengus napasmu pun lembut dan teratur, kau memang tak mirip seorang yang telah melakukan perbuatan dosa."

Dia seakan sedang menghela napas panjang.

"Ai, hanya sayang dengan mengandalkan gejala semacam itu masih belum cukup untuk membuktikan kalau kau tidak berdosa."

"Lalu bagaimana baru bisa membuktikan?" Siau-hong segera bertanya.

Ooo)d*w(ooO