Elang Terbang di Dataran Luas BAB 02. PANAH AMARAH

BAB 02. PANAH AMARAH

"Benar!" Siau-hong manggut-manggut.

"Po-toakongcu sekali keluar uang, ribuan tahil bisa melayang, selama ini memandang harta bagaikan tahi kerbau, kalau bukan lantaran seringkali memperoleh tambahan dari luar. Dari mana dia peroleh begitu banyak uang yang bisa dihamburkan semau sendiri?"

"Benar," sekali lagi Siau-hong mengangguk, namun setelah dipikir sejenak, tiba-tiba ujarnya, "Hanya ada satu hal yang kurang tepat."

"Hal apa?"

"Seberapa banyak uang emas tiga puluh laksa tahil? Aku tak tahu karena belum pernah kulihat emas sebanyak itu, aku hanya tahu sekalipun ada orang menghadiahkan emas sebanyak tiga puluh laksa tahil kepadaku pun belum tentu aku sanggup mengangkutnya."

Kemudian setelah tertawa, kembali ujarnya, "Kau anggap Po-toakongcu seorang diri sanggup mengangkut emas sebesar tiga puluh laksa tahil?"

"Dari mana kau tahu kalau dia hanya sendirian?" jengek Wi Thian-bong dingin.

"Aku memang datang lantaran persoalan ini!" tiba-tiba Po Eng buka suara. Sekali lagi biji mata Wi Thian-bong berkerut kencang.

"Pengeluaranku memang amat besar," kembali Po Eng berkata, "Jadi emas itu memang tepat untuk menutup semua ongkos dan pengeluaranku."

"Tiga puluh laksa tahil emas bukan jumlah yang sedikit," seru Wi Thian-bong.

Ternyata Po Eng tidak menyangkal, "Betul, memang bukan jumlah yang kecil."

"Oleh karena itu uang emas sebanyak itu teramat susah disembunyikan walau terjatuh ke tangan siapa pun."

"Memang susah sekali."

"Kalau memang susah disembunyikan, berarti lebih susah lagi untuk mengangkutnya pergi."

Tiga hari setelah kejadian perampokan itu, seluruh kawasan di seputar sana telah dikelilingi para pemburu emas, memang tidak mudah untuk mengangkut tiga puluh laksa tahil emas dari tempat itu tanpa diketahui orang lain.

Wi Thian-bong menatap tajam wajah Po Eng, katanya lagi dengan ketus, "Oleh karena itu kuanjurkan, lebih baik serahkan semua emas itu kepadaku."

Tiba-tiba Po Eng menutup wajahnya dengan topi yang dikenakan, sama sekali tak menggubris dirinya lagi.

"Dari mana kau bisa tahu kalau emas itu jatuh ke tangannya?" tak tahan Siau-hong bertanya lagi.

"Jago yang mengawal emas murni itu adalah Thiat Gi." "Thiat-tan-sin-jiong (Peluru baja tombak sakti) Thiat Gi?"

Wi Thian-bong manggut-manggut, balik tanyanya, "Ada berapa banyak jago dalam dunia persilatan yang mampu membunuhnya?" "Tidak banyak."

"Tahukah kau, di saat emas itu dirampok, Thiat Gi beserta ketiga puluh enam jago thiat-hiatnya mati dalam keadaan mengenaskan?”

“Tidak tahu."

"Dari mana Po-toakongcu bisa tahu?" Siau-hong tidak bicara lagi.

Wi Thian-bong dengan tangan sebelah memegang busur, tangan yang lain sudah mulai menggenggam gagang golok yang tersoreng di pinggangnya.

Biarpun goloknya belum dicabut dari dalam sarungnya, dari balik matanya telah terpancar napsu membunuh yang jauh lebih menakutkan daripada mata golok.

Kalau bisa Siau-hong ingin sekali menyingkap topi yang menutupi wajah Po Eng, agar dia dapat melihat sorot mata lawan yang menakutkan itu.

Bila golok sudah dilolos dari sarungnya, setan pun dapat ditebas Wi Thian-bong dengan sekali bacokan, apalagi hanya seorang yang menutupi wajahnya dengan topi.

Apalagi dalam kantung kulitnya masih terdapat anak panah, panah amarah yang lebih dahsyat dari guntur, lebih cepat daripada kilat.

Topi itu masih menutupi wajahnya, golok pun masih berada dalam sarung.

Tiba-tiba dari balik gundukan pasir berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan. "Semi kolarkolo!"

Tentu saja Siau-hong tidak mengerti apa arti teriakan itu, namun ia dapat mendengar jeritan itu dicekam perasaan takut yang luar biasa, rasa takut, ngeri seakan ada seseorang hendak mencabik-cabik tubuhnya. Ketika ia mendengar jeritan ngeri itu, Wi Thian-bong bagai panah yang terlepas dari busur telah melejit ke depan, melewati gundukan pasir.

Sebetulnya ia sudah tak memiliki kekuatan tubuh lagi, jangankan berdiri, bergerak pun sudah tak sanggup lagi, tapi ia termasuk pemuda yang rasa ingin tahunya sangat kuat, kadang kala rasa ingin tahu merupakan salah satu penggerak kekuatan yang dimiliki manusia, menggerakkan kekuatan terpendam yang paling purba dari makhluk manusia.

Ternyata dia ikut melompat bangun, mengikut di belakang Po Eng, melewati gundukan pasir itu.

Begitu keluar dari gundukan pasir, dia pun menyaksikan sebuah pemandangan seram yang selama hidup tak mungkin akan terlupakan.

Coba kalau lambungnya saat ini tidak berada dalam keadaan kosong, kemungkinan besar ia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya.

Kuda masih berlari kalap, namun tubuh manusia telah terkapar tumpang tindih.

Tiga puluh enam jago pedang kilat angin puyuh anak buah Wi Thian-bong, sudah ada tiga puluh empat orang yang roboh bersimbah darah.

Golok mereka rata-rata belum sempat dicabut dari sarungnya. Padahal kawanan jago itu merupakan jago golok kilat yang amat tersohor dalam dunia persilatan, namun belum sempat mereka melolos senjata, nyawa mereka sudah melayang di tangan orang.

Kematian orang-orang itu tidak mirip mati di tangan orang lain, tapi mati karena dicakar seekor kucing, sebab pada wajah setiap orang tertinggal tiga buah bekas cakaran kucing yang masih mengeluarkan darah.

Seorang berpakaian Tibet, dengan wajah luyuh dan sayu kini mengejang karena takut dan ngeri yang mencekam, sedang berlutut di atas tanah, mengangkat tinggi-tinggi sepasang tangannya dan berteriak berulang kali ke atas langit, "Semi kolarkolo!"

Tahun ini Su-ma berusia lima puluh satu tahun, sejak umur tiga puluh empat tahun ia sudah bekerja sebagai penunjuk jalan bagi bangsa Han, kecuali Ma-luk, saudara satu sukunya, jarang ada yang hapal wilayah gurun pasir sehapal dirinya.

Gurun pasir yang tak berperasaan, bagaikan sebuah impian buruk yang menakutkan, walaupun terkadang bisa muncul pemandangan indah yang bisa membuat orang kalap dan gila, namun pada akhirnya hanya kematian yang datang menghampiri.

Baginya kematian sudah bukan merupakan suatu kejadian yang menakutkan, ia sudah terlalu sering menyaksikan tulang-belulang manusia yang mati tercecer di tengah gurun.

Selama hidup belum pernah juga terlihat ia begitu ketakutan, sedemikian takutnya hingga tubuhnya mengejang keras.

Ketakutan pun merupakan semacam penyakit yang sangat menular, seperti penyakit menular yang mematikan, melihat orang lain ketakutan, terkadang diri sendiri pun jadi ikut takut, ketakutan yang membingungkan.

Apalagi tiga puluh enam golok kilat angin puyuh yang nama besarnya telah menggetarkan sungai telaga, ternyata dalam waktu singkat nyaris mati mengenaskan secara bersamaan, peristiwa ini sendiri pun sudah merupakan sesuatu yang amat menakutkan.

Tiba-tiba saja Siau-hong merasakan kaki tangannya ikut dingin, dingin sebeku salju, peluh dingin bercucuran membasahi tubuhnya, meleleh melalui ujung hidungnya.

Sewaktu ia melompat bangun tadi, Po Eng masih berbaring, wajahnya masih tertutup topi, tapi ketika ia berputar ke balik gundukan pasir, ternyata Po Eng telah berdiri di situ.

Po Eng berdiri dengan wajah hambar, sama sekali tak nampak perubahan mimik mukanya.

Yang mengalir dalam tubuh Po Eng seakan bukan darah yang panas, melainkan air salju, air yang dingin.

Namun Siau-hong seolah mendengar mulutnya sedang menggumam lirih, mengulang mantra menakutkan yang didengarnya berulang kali.

"Semi kolarkolo!"

"Apakah kau mengerti apa arti mantra itu?" Siau-hong segera bertanya.

"Aku mengerti."

"Apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?” “Bersedia."

"Apakah semi artinya beras yang terbuat dari batu kerikil?" kembali Siau-hong bertanya.

"Bukan, batu kerikil bukan beras, batu kerikil tak bisa jadi beras, batu kerikil tak bisa dimakan, bila batu kerikil bisa dimakan, tak ada orang yang mati kelaparan di dunia ini." "Tapi aku seperti mendengar orang itu menyebut semi dan kau pun sempat mengulangnya."

"Itu bahasa Tibet!"

"Apa maksud semi dalam bahasa Tibet?" "Kucing!"

"Kucing?"

"Ya, kucing!"

Kucing adalah sejenis binatang yang sangat penurut, binatang yang sering dijumpai dalam kehidupan manusia, jangankan orang dewasa, nona kecil berusia enam-tujuh tahun pun berani membopong kucing dalam pelukannya.

Kucing suka makan ikan.

Manusia pun suka makan ikan, makan lebih banyak ikan daripada kucing.

Kucing suka makan tikus.

Banyak orang takut tikus, namun jarang yang takut kucing.

"Apa seramnya seekor kucing? Ikan saja tak takut  kucing, ikan hanya takut manusia, manusia yang menangkap ikan.”

“Betul."

"Hanya tikus yang takut kucing.” “Tepat sekali!"

Tiba-tiba sinar mata elangnya memancarkan cahaya yang sangat aneh, seakan dia sedang mengawasi sebuah tempat menakutkan di kejauhan yang penuh diliputi kemisteriusan dan keanehan. Tampaknya Siau-hong pun seakan terbius, terpengaruh oleh situasi penuh misteri ini, ternyata ia tidak bertanya lebih jauh.

Wi Thian-bong masih berusaha keras memulihkan kembali ketenangan Su-ma, minta dia untuk bercerita kembali kisah yang baru saja dialaminya, tapi sayang, orang Tibet yang paling gemar minum arak Cing-ko-ciu (arak dari sorgum) ini masih tetap tak mampu menenangkan hatinya.

Lewat lama kemudian Po Eng dengan nada perlahan baru berkata lebih jauh, "Konon di ujung dunia terdapat sebuah puncak gunung yang lebih tinggi dari langit, bukan saja puncak gunung itu diselimuti salju abadi yang tak terhingga tebalnya, bahkan di sana pun hidup siluman iblis yang jauh lebih menakutkan dari setan mana pun..."

"Apakah kau maksudkan puncak Cu-mu-lang-ma (Himalaya)?" tanya Siau-hong.

Po Eng manggut-manggut.

"Siluman iblis yang kumaksud adalah kucing," katanya, "Walaupun tubuhnya berwujud manusia, namun kepalanya masih tetap berupa kucing."

" Kolarkolo apa artinya?"

"Penyamun, bandit, rampok, semacam rampok yang sangat ganas dan jahat, bukan saja merampok harta kekayaan manusia, dia pun makan daging dan mengisap darah manusia."

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya, "Kebanyakan mereka adalah orang-orang suku Gorlo yang hidup jauh di perbatasan Tibet, cara mereka hidup, budaya serta dialek bicara jauh berbeda dengan orang lain, bahkan sifat mereka buas, ganas dan barbar, jauh lebih buas dan kejam daripada orang-orang suku Kazak." Akhirnya dia menambahkan lagi, "Gorlo dalam bahasa Sansekerta masih memiliki arti lain”

“Apa artinya?”

“Kepala siluman." Siau-hong menghela napas panjang. "Ai, siluman iblis bertubuh manusia berkepala kucing,

bandit berkepala siluman yang buas, ganas dan barbar. ”

Dia pandang Su-ma sekejap, kemudian melanjutkan, "Tak aneh orang ini ketakutan setengah mati, bahkan sekarang aku pun mulai merasa sedikit takut."

Mendadak Wi Thian-bong menarik tangan Su-ma yang tiada hentinya mengejang keras, jari tangannya satu demi satu dipentangkan dengan paksa.

Ternyata dia menggenggam sebuah panji kecil, di atas panji kecil itu tampak sebuah sulaman yang menggambarkan siluman iblis bertubuh manusia berkepala kucing.

Lagi-lagi Su-ma berlutut di tanah, dia menyembah panji kecil itu berulang kali, sementara mulutnya komat-kamit membaca mantera, setiap kata yang dikatakan tak jauh dari "Semi kolarkolo!".

Kini Siau-hong sudah memahami arti perkataan itu, bandit berkepala kucing!

Akhirnya Su-ma berhasil menenangkan hatinya, dia pun mulai menceritakan semua peristiwa yang disaksikannya barusan.

Ketiga puluh empat orang golok kilat angin puyuh ternyata tewas di tangan bandit berkepala kucing ini.

Mereka muncul secara tiba-tiba bagaikan setan gentayangan, tubuh mereka berwujud manusia tapi berkepala kucing, di atas jidat masing-masing tumbuh telinga kucing yang menyerupai tanduk.

Mereka benar-benar memiliki daya pengaruh iblis yang aneh tapi mematikan, karena itu kawanan jago golok kilat yang sudah lama berlatih diri pun tewas secara mengenaskan di tangan mereka, mereka tak sempat mencabut senjata masing-masing.

Mereka sengaja membiarkan Su-ma tetap hidup, karena mereka ingin orang Tibet ini menyampaikan pesan kepada Wi Thian-bong.

Merekalah yang telah merampok emas itu dan membunuh orang, barang siapa berani melacak dan menyelidiki peristiwa ini, dia bakal mati secara mengenaskan, setelah mati sukmanya akan dibekuk dan dimasukkan ke penjara salju abadi di puncak gunung Cu- mu-lang-ma hingga sepanjang masa tersiksa oleh dinginnya salju dan tak pernah bisa reinkarnasi kembali.

Langit lambat-laun semakin gelap, seluruh jagat raya seolah secara tiba-tiba diselimuti hawa dingin yang menyayat dan penuh hawa pembunuhan.

Siau-hong ingin sekali mencari arak Cing-ko-ciu untuk menghangatkan tubuh.

Di setiap saku kawanan jago golok kilat angin puyuh itu, meski tidak membawa arak, paling tidak mereka membawa air, sekarang air itu sudah tak berguna lagi bagi mereka.

Tapi para begal kucing bukan saja telah merenggut nyawa mereka, bahkan kantung kulit kambing berisi air yang mereka gembol pun ikut dirampas.

Dengan tenang Wi Thian-bong mendengarkan  penuturan Su-ma hingga selesai, tiba-tiba ia membalikkan badan, lalu sambil menatap Po Eng tanyanya, "Kau percaya perkataannya?"

"Tidak kutemukan alasan mengapa dia harus berbohong," jawab Po Eng tenang.

"Jadi kau percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat makhluk siluman bertubuh manusia berkepala kucing?" dengus Wi Thian-bong sambil tertawa dingin.

"Kau tidak percaya?"

"Aku pun tidak percaya," tiba-tiba Siau-hong menyela, "Tapi aku percaya kalau tiga puluh laksa tahil emas itu pasti dirampok kawanan begal kucing."

"Siapa pun itu orangnya, asal dia mengenakan topeng berwajah kucing, maka dia pun bisa menyebut diri sebagai begal kucing," kata Wi Thian-bong.

"Siapa mampu berbuat begitu?" tanya Siau-hong seolah- olah menegaskan, "Siapa orangnya yang dapat membunuh tiga puluh empat orang jago golok kilat angin puyuh dalam sekejap mata? Siapa pula orang yang sanggup menghabisi nyawa Peluru baja tombak sakti beserta ketiga puluh enam orang darah bajanya?"

Wi Thian-bong terbungkam, ia tak mampu bicara lagi. Sekalipun begal kucing bukan siluman iblis tapi manusia,

dia pastilah manusia yang sangat menakutkan.

Bukan saja sepak-terjang mereka tak menentu, bahkan pasti memiliki ilmu silat yang penuh misteri dan hebat.

"Aku hanya percaya satu hal," tiba-tiba Po Eng menyela. "Soal apa?"

"Bila mereka ingin membunuh seseorang, pastilah hal ini bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit." Berubah paras Wi Thian-bong.

Ditatapnya wajah orang itu dengan pandangan dingin, kemudian Po Eng berkata lagi, "Ada satu hal lagi harus kau pahami.”

“Katakan!"

"Jika aku adalah begal kucing, sekarang kau sudah menjadi orang mati."

Wi Thian-bong tidak bicara lagi, dia membalikkan tubuh langsung pergi meninggalkan tempat itu.

Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, Siau-hong mengira dia bakal turun tangan.

Tangan yang digunakan untuk menggenggam golok telah berubah mengejang, setiap ruas, setiap otot jari tangannya telah memutih karena genggamannya yang sangat kuat.

Ilmu goloknya dapat dipastikan berada pada deretan sepuluh besar di antara ilmu golok tersohor lainnya di kolong langit, Golok Pemenggal setannya tajam dan berat, bahkan istimewa panjangnya. Perawakan tubuhnya pun jauh lebih tinggi besar bila dibandingkan Po Eng.

Sebaliknya Po Eng kelihatan kecil dan lemah, kecuali sepasang matanya yang tajam bagai mata elang, bagian tubuh lainnya kelihatan sangat lemah, khususnya sepasang tangannya itu, jauh lebih halus dan lembut daripada tangan seorang wanita.

Bahkan Siau-hong pun tidak percaya kalau dia sanggup menghadapi Panah amarah busur sakti golok pemenggal setan yang namanya telah menggetarkan kolong langit ini.

Tapi jalan pikiran Wi Thian-bong justru bertolak belakang. Oleh karena itulah dia pergi, pergi dengan mengajak serta dua orang pengawalnya yang tersisa dari tiga puluh enam golok kilat angin puyuh, berlalu tanpa mengucapkan separah kata pun.

Tak dapat disangkal Wi Thian-bong memang seorang jago yang pandai mengendalikan diri, dia banyak pengalaman dan luas pengetahuannya, bahkan sikapnya dingin dan sadis, pandai melihat gelagat.

Sewaktu berlalu, dia bahkan tidak memandang lagi mayat-mayat yang berserakan di atas pasir, walau sekejap pun, meski mereka adalah anak muridnya, tapi sekarang sama sekali tak berguna.

Siau-hong tak kuasa menahan diri, dia segera bertanya, "Kenapa kau tidak mengubur mereka terlebih dulu sebelum pergi?"

Jawaban yang diberikan Wi Thian-bong seperti sikapnya sewaktu melakukan pekerjaan lain, membuat orang tercengang dan tanpa kompromi.

"Aku telah mengubur mereka secara massal," katanya, "Mengubur secara alami!"

Po Eng belum beranjak pergi.

Lagi-lagi dia membaringkan diri, berbaring di belakang gundukan pasir tempat yang ideal untuk berteduh dari hembusan angin, bahkan menggunakan jubah putihnya yang lebar untuk membungkus tubuhnya.

Gurun pasir tak ubahnya bagaikan seorang wanita yang banyak bertingkah, sewaktu panas, dia dapat membakar tubuhmu, tapi ketika dingin, ia dapat membuat peredaran darahmu membeku. Begitu menjelang malam, gurun pasir yang semula panas gersang bagai api membara akan berubah jadi dingin membekukan badan, ditambah lagi dengan kegelapan yang tiada bertepian, tanpa berisik tanpa menimbulkan suara, seakan telah membinasakan seluruh kehidupan di dunia ini.

Tiada seorang pun bersedia menyerempet bahaya semacam ini.

Kini langit baru saja menjadi gelap, jelas Po Eng berencana untuk tetap tinggal di sana melewatkan malam panjang yang tak berperasaan.

Siau-hong duduk di sampingnya, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa, "Benar-benar minta maaf."

"Kenapa harus minta maaf?"

"Karena ketika mendusin esok pagi, aku pasti masih hidup, bila kau ingin menunggu kematianku, pasti harus menunggu lama sekali."

Dia telah menemukan bangkai elang yang siang tadi ingin melahap tubuhnya, sekarang ia sedang bersiap melahap bangkai elang itu.

Kembali ujarnya sambil menghela napas, "Sekarang aku baru tahu, ketika berada dalam keadaan terdesak, seorang akan berubah tak bedanya dengan seekor elang pemakan bangkai."

"Di saat biasa pun mereka tak ada bedanya....” sela Po Eng.

"O, ya?"

"Setiap hari kau makan daging sapi?” “Ya, makan!" "Bukankah daging sapi yang kau makan berasal dari bangkai sapi."

Siau-hong tertawa getir.

Dia memang hanya bisa tertawa getir, walaupun perkataan Po Eng tajam, sadis tanpa perasaan, namun perkataannya sukar terbantahkan. Hingga kini "Ci-hu" belum roboh.

Ia bisa bertahan sampai sekarang karena Siau-hong telah memberi sisa air terakhir yang dimilikinya untuk kuda itu, meski kuda tergolong binatang namun sifat binatang kuda sangat tipis dibandingkan manusia, paling tidak ia tak doyan anyirnya darah. Dia pun bukan pemakan bangkai.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi, "Kau bukan saja mempunyai pedang yang bagus, ternyata mempunyai kuda yang hebat pula."

"Sayangnya aku adalah manusia yang tak terhitung orang baik," sahut Siau-hong sambil tertawa getir.

"Oleh karena itulah orang lain menjulukimu Siau-hong yang tak mau nyawa sendiri."

"Hah, jadi kau tahu?" seru Siau-hong agak terperanjat.

Kini langit sudah semakin gelap, susah untuk melihat perubahan mimik wajahnya, namun suaranya masih dipenuhi rasa terkejut bercampur keheranan. "Dari mana kau bisa tahu?" teriaknya lagi.

"Hanya sedikit yang tidak kuketahui." "Apa lagi yang kau ketahui?"

"Kau memang seorang pemuda yang benar-benar tak mau nyawa sendiri, watak keras luar biasa, tulang keras luar biasa, terkadang royal setengah mati, terkadang juga miskin bukan kepalang, ada kalanya menginginkan nyawa orang lain, ada kalanya juga orang lain menginginkan nyawamu."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan hambar,  "Kini paling tidak ada tiga belas orang sedang menguntitmu, menginginkan nyawamu."

Bukannya takut, Siau-hong malah tertawa lebar. "Hahaha, cuma tiga belas orang?" katanya, "Aku malah

menyangka masih ada lebih banyak lagi."

"Padahal tak perlu tiga belas orang datang semua, asal dua orang di antaranya muncul di sini pun sudah lebih dari cukup."

"Dua orang yang mana?"

"Siu-hun-jiu (Tangan maut pencabut nyawa) dan Sui-gin (Air raksa)"

"Air raksa?"

"Kau belum pernah mendengar nama orang ini?" "Siapa Sui-gin itu? Manusia macam apa dia?"

"Tak seorang pun tahu manusia macam apakah dia, bahkan laki perempuan pun tak ada yang tahu. Aku hanya tahu dia adalah seorang pembunuh, seseorang yang hidup sebagai pembunuh."

"Bukan hanya dia seorang yang hidup sebagai pembunuh."

"Tapi paling tidak harga yang dia minta untuk satu nyawa sepuluh kali lipat lebih mahal dari tawaran orang lain, sebab belum pernah korbannya berhasil lolos dari tangannya."

"Aku sangat berharap dia adalah seorang wanita, seorang nona cilik yang cantik dan menawan. Bila aku harus mati, mati di tangan seorang gadis cantik jauh lebih nyaman dan menyenangkan."

"Mungkin saja dia seorang wanita, mungkin seorang nona kecil yang cantik jelita, tapi mungkin juga dia adalah seorang kakek bangkotan, bahkan seorang nenek peyot."

"Mungkin juga dirimu!" Siau-hong menambahkan.

Po Eng tidak langsung menjawab, ia termenung dulu, lewat lama kemudian baru jawabnya, "Mungkin juga aku!"

Angin berhembus makin dingin, kegelapan malam semakin mencengkeram seluruh jagat, dua orang itu berbaring tenang di tengah kegelapan malam, masing- masing tak dapat melihat perubahan mimik muka lawannya.

Kembali lewat lama sekali, tiba-tiba Siau-hong berkata lagi sambil tertawa, "Aku tidak sepatutnya mencurigai dirimu.”

“O, ya?"

"Kalau kau adalah Air raksa, sekarang aku pasti sudah menjadi orang mati!"

"Aku belum membunuhmu, mungkin saja karena aku memang tak perlu terburu napsu," kata Po Eng dingin.

"Mungkin."

"Oleh karena itu, begitu ada kesempatan, kau seharusnya segera berusaha membunuhku."

"Kalau kau bukan Air raksa?"

"Lebih baik salah bunuh daripada dibunuh orang."

"Aku pernah membunuh orang, tapi belum pernah salah membunuh orang baik." "Berarti semua yang kau bunuh adalah orang yang pantas mati?"

"Tepat sekali."

"Tapi aku tahu, paling tidak kau telah salah membunuh seseorang."

"Siapa?"

"Lu Thian-po"

Setelah berhenti sejenak, kembali Po Eng melanjutkan, "Padahal kau tahu, dia adalah putra tunggal Hok-kui-sin- sian (Dewa kaya dan terhormat), kau pun sudah tahu bila membunuh Lu Thian-po, maka dia tak bakal melepaskan dirimu. Tentu kau juga tahu banyak orang persilatan yang bersedia menjual nyawa untuknya."

"Aku tahu."

"Mengapa kau harus membunuhnya?” “Karena dia pantas mati, pantas dibunuh."

"Tapi setelah berhasil membunuhnya, kau sendiri pun tak bisa hidup lebih lama lagi."

"Sekalipun setelah membunuhnya aku segera bakal mati, aku tetap harus membunuhnya."

Tiba-tiba suaranya penuh diliputi hawa amarah yang kental, terusnya, "Sekalipun tubuhku bakal dicincang orang hingga hancur berkeping-keping, meski sukmaku bakal dijebloskan ke neraka delapan belas tingkat, aku tetap akan membunuhnya, dia tetap harus mati."

"Asal kau menganggap orang itu pantas dibunuh, apakah kau tetap akan membunuhnya, terlepas siapakah dirinya, semuanya sama saja?" "Betul, biarpun dia kaisar yang memerintah negeri ini pun aku tetap akan membunuhnya."

Tiba-tiba Po Eng menghela napas, ujarnya, "Ai, maka saat ini kau hanya menunggu orang lain datang mencabut nyawamu!"

"Aku selalu menunggu, setiap saat setiap detik selalu menunggu."

"Kau tak bakal menunggu terlalu lama," kata Po Eng dengan nada berat dan dalam.

Kegelapan yang tak bertepian, keheningan bagai semuanya telah mati, tiada cahaya, tiada suara, tiada kehidupan.

Siau-hong sendiri pun tahu, dia tak perlu menunggu terlalu lama, dari hati kecilnya telah timbul semacam firasat tak baik.

Air raksa adalah cairan yang dapat menyusup setiap lubang pori, dia tak akan melepaskan setiap kesempatan yang dijumpai.

Air raksa ketika bergerak sama sekali tidak menimbulkan suara.

Asal kau biarkan setetes air raksa mengalir masuk ke dalam tubuhmu, dia akan mengelupas seluruh kulit tubuhmu.

Bila seseorang sampai disebut Sui-gin, air raksa, tentu saja dia mempunyai sebab-musababnya.

Siau-hong sendiri pun tahu, dia pastilah seseorang yang teramat menakutkan!

Luka yang dideritanya tidak terhitung ringan, mulut luka sudah mulai membusuk, darah dan daging seekor elang belum cukup untuk memulihkan kekuatan tubuhnya, berada dalam keadaan seperti ini tampaknya dia hanya bisa menanti datangnya saat kematian.

Menunggu saat ajal sesungguhnya merupakan satu kejadian yang menakutkan, bahkan jauh lebih menakutkan dari 'kematian' itu sendiri.

Tiba-tiba Po Eng bertanya lagi, "Tahukah kau manusia macam apakah Siu-hun-jiu, si Tangan maut pencabut nyawa?”

“Aku tahu!"

Siu-hun-jiu, si Tangan maut pencabut nyawa berasal dari marga Han, bernama Cang.

Orang ini tidak terlalu sering berkelana dalam dunia persilatan, tapi namanya sangat tersohor, karena dia adalah salah satu dari empat jagoan yang dipelihara Hok-kui-sin- sian. Senjata andalannya adalah sebuah senjata khas yang disebut Tangan maut pencabut nyawa, sudah lama punah dari kalangan dunia persilatan. Bukan saja jurus serangannya ganas, keji dan mematikan, entah berapa banyak nyawa sudah lenyap di ujung senjata itu.

"Tapi ada satu hal kau pasti tak tahu," ucap Po Eng. "Soal apa?"

"Dia masih mempunyai julukan  lain,  semua  sahabatnya memanggilnya dengan sebutan itu.”

“Apa julukannya?” “Si buta!"

Buta bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Tapi begitu mendengar julukan itu, Siau-hong segera merasakan hatinya seolah tenggelam ke dasar samudra. Orang buta tak bisa melihat apa-apa, ketika seorang buta hendak membunuh seseorang, dia tak perlu melihat korbannya karena dia tetap dapat menghabisi nyawanya.

Di tengah kegelapan malam seperti ini pun seorang buta tetap dapat membunuh lawannya.

Tiada cahaya bintang, tiada cahaya rembulan, di tengah kegelapan malam yang mudah membuat orang lain putus asa, sepasang mata si buta justru jauh lebih tajam dan lebih menakutkan.

"Sesungguhnya dia sama sekali tak buta seratus persen, tapi tak ada bedanya dengan orang buta lainnya, beberapa tahun berselang sepasang matanya  pernah  terluka,  bahkan. ”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, ucapan itu seakan terbabat putus secara tiba-tiba oleh tebasan sebuah golok tajam.

Dalam waktu sekejap Siau-hong merasakan bulu kuduknya berdiri, rasa seram dan ngeri yang luar biasa membuatnya bergidik.

Dia tahu apa sebabnya Po Eng tiba-tiba tutup mulut, karena dia pun telah mendengar suatu suara yang aneh, bukan suara langkah kaki, bukan pula suara dengusan napas, melainkan sejenis suara lain yang aneh.

Semacam suara yang tak bisa didengar dengan telinga, suara yang tak akan bisa ditangkap dengan telinga, semacam suara yang hanya bisa dirasakan dengan insting seekor binatang liar.

Seseorang telah muncul di sana! Seseorang yang datang untuk mencabut nyawanya! Dia tak dapat melihat kehadiran orang itu, bahkan bayangannya pun tak tampak, tapi ia dapat merasakan kehadirannya, jarak mereka kian lama kian bertambah dekat.

Jagat raya yang begitu dingin membeku, butiran pasir yang dingin membeku, mata pedang yang dingin membeku.

Siau-hong telah menggenggam pedangnya, menggenggam sangat kencang.

Dia masih belum dapat melihat kehadiran orang itu, bahkan bayangan pun tak tampak.

Tapi ia dapat merasakan semacam hawa pembunuhan yang membetot sukma.

Tiba-tiba ia ia menggelinding ke arah Po Eng berada.

Tadi jelas sekali Po Eng masih berbaring di sana, tidak jauh dari tubuhnya, tapi sekarang ia sudah tak berada di sana.

Tapi di sisi lain pasti telah muncul seseorang, orang itu berada dekat dengannya, sedang siap menanti merenggut nyawanya.

Ia tak berani bergerak lagi, tak berani mengeluarkan sedikit suara pun, tubuhnya seolah makin lama semakin bertambah membeku, makin kaku.

Sekonyong-konyong dia mendengar lagi suara desingan angin tajam yang membelah udara.

Dia sudah mulai mengembara dalam dunia persilatan sejak usia empat belas tahun, selama ini dia mengembara dalam dunia Kangouw bagaikan seekor serigala liar.

Sudah terlampau sering dia merasakan sodokan tinju, pernah ditampar orang, pernah kena bacokan, pernah ditusuk pedang, bahkan pernah mencicipi hajaran berbagai senjata dan Am-gi.

Kini ia dapat mendengar suara desingan angin tajam itu berasal dari sejenis senjata rahasia yang membelah angkasa, sejenis Am-gi yang kecil dan lembut sekali bentuknya. Biasanya senjata rahasia tajam dan lembut semacam ini ditembakkan dari sebuah alat penembak yang dilengkapi pegas berkekuatan tinggi, bahkan sangat beracun dan mematikan.

Dia tidak berkelit, sama sekali tak bergerak. Sebab bila bergerak, dia pasti akan mati!

Senjata rahasia itu sudah meluncur tiba, menghajar di atas butiran pasir di samping tubuhnya.

Orang itu sudah memperkirakan ia pasti akan menghindar, pasti akan bergerak, maka senjata rahasia itu bukan diarahkan ke tubuh korbannya, melainkan menghajar jalan mundurnya, ke mana pun dia menghindar, asal bergerak berarti pasti akan mampus.

Untungnya dia tak bergerak, sama sekali tak menghindar.

Ia dapat menangkap suara desingan angin tajam itu bukan ditujukan langsung ke tubuhnya, dia telah memperhitungkan secara tepat maksud dan tujuan orang itu.

Tentu saja dia tidak yakin seratus persen, dalam menghadapi kejadian seperti ini siapa pun tak nanti memiliki keyakinan seratus persen.

Dalam situasi yang kritis seperti ini, dia memang tak punya waktu untuk banyak berpikir. Sekalipun begitu dia tetap harus bertaruh, menggunakan nyawa sendiri sebagai barang taruhan, menggunakan analisa sendiri sebagai modal taruhan.

Dalam taruhan kali ini, ia berhasil memenangkannya.

Ooo)d*w(ooO