Dendam Sejagad Jilid 12

Jilid 12

“SAUDARA Lui, jangan kau sambut serangan itu dengan keras lawan keras...!"

Seraya berseru, tubuh Ku See hong bagaikan sukma  gentayangan saja segera menerjang kesamping Sin hong hwee ciau, telapak tangan kirinya diayunkan kedipan me lepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Deruan angin pukulan itu menerobos masuk lewat celah-celah antara kedua gulungan tenaga pukulan tersebut dan langsung menyergap jalan darah ke matian dipinggang Cau sang hui Ciong Keh-teng.

Tenaga dalam  yang  dimilikinya  sekarang  telah  memperoleh  ke majuan yang amat pesat, meski serangan tersebut dilancarkan dengan begitu saja, namun dibalik serangan tersebut justru terselip ancaman me mat ikan yang mengerikan.

Sesungguhnya Cau sang hui Ciong Keh teng berhasrat untuk mence lakai Sin hong hwee ciau secara dia m-dia m ketika tenaga pukulan mas ing- masing pihak saling me mbentur nanti, dia akan segera mengeluarkan ilmu pukulan paling keji untuk me mbinasakan lawannya.

Tapi, setelah dilihatnya ada sesosok bayangan manusia  menerjang tiba sekarang, lalu muncul segulung angin pukulan yang sangat kuat menembus i anca man yang dilancarkan olehnya terkesiaplah gembong iblis ini, dia tak berani menyambut dengan kekerasan, sambil menghimpun  tenaganya  mendadak  tubuhnya me lejit ke atas. Kepandaian yang paling diandalkan Cau-sang-hui Ciong Keh teng dihari-hari biasa adalah ilmu mer ingankan tubuh, tampa k tubuhnya me lejit ke tengah udara dengan kecepatan luar biasa, begitu mencapai ketinggian dua kaki, dia segera berjumpalitan dan me layang turun dua kaki dari posisi se mula.

Demo nstrasi ilmu mer ingankan tubuh yang dilakukan olehnya ini me mang  menunjukkan   kelihayan   kepandaiannya,   hal   mana me mbuat Ku See hong segera berkerut kening.

Rupanya dia sedang berpikir didalam hatinya, Cau Sang-hui Ciong Keh-teng didalam perkumpulan Thi kiong pang tak lebih hanya seorang jago kelas satu belaka, tapi ilmu silatnya sudah mencapai sedemikian lihaynya, bisa diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki pangcu serta para Hu-hoat nya pasti tak terkirakan.

Selain itu, diapun teringat dengan pesan terakhir dari San tian han jiau (Cakar dingin secepat kilat) paman Sangkoan menje lang ajalnya, menurut paman Sangkoan, musuh besarnya adalah perkumpulan Thi- kiong pang serta Tian- khi pang, tapi dibalik layar masih ada dalangnya…., dari sini dapat diketahui bahwa otak atau dalang dibalik layar itu tentu me miliki ilmu silat yang amat dahsyat, kalau tidak bagaimana mungkin kedua buah perkumpulan besar ini dapat dikuasai olehnya?

`Aaaai...! Apa yang dikatakan suhu me mang benar, kekuatan dari pihak lawan a mat dahsyat, sehingga bahkan dia sendiripun tak berani menghadapinya dengan kekerasan.’

Begitulah, setelah malayang turun keatas tanah, Cau sang hui CiongKeh-teng segera tertawa dingin, lalu sindirnya dengan nada sinis:

"Huuuh. . . ., namanya saja Sin hong hwee-ciau yang tersohor di dunia, tak tahunya cuma manusia kerdil yang mengharapkan perlindungan diri seorang bocah muda, heeehhh.....heeehh.......

heeehh….... bila kabar ini sa mpai tersiar keluar, aku ingin tahu, apakah kau masih punya muka untuk berjumpa dengan rekan rekan persilatan!" Cau sang hui Ciong Keh-teng merasa agak terkesiap menghadapi kepandaian silat Ku See hong yang tinggi tak terukur itu, dia sadar bahwa kepandaiannya seorang diri tak mungkin bisa menangkan anak muda itu.

Maka timbullah niatnya untuk me manasi hati Sin hong hwe ciau yang berangasan agar dia melancarkan serangannya lebih  dahulu, ke mudian dengan suatu serangan kilat dia hendak menyingkir kan orang ini lebih dulu.

Bila musuhnya berhasil disingkirkan, baru lah dia akanbekerja sama dengan ketiga orang hiangcu-nya untuk mengalahkan Ku See hong.

Sin hong hwe Ciau Lui-Ki merasa gusar sekali, sekalipun dia tahu kalau tujuan musuh hanya untuk me manasi hatinya, tapi orang mati meninggalkan na ma, macan mati menirgga lkan kulit, bagaimana mungkin dia bisa menahan penghinaan serta ce moohan tersebut.

"Tua bangka she Ciong, aku akan beradu jiwa denganmu!"

Berbareng dengan suara bentakan tersebut, angin pukulan dan bayangan tendangan segera menyambar ke tubuh Cau san  hui Ciong Keh-teng dengan kedahsyatan seperti hembusan angin puyuh.

Angin pukulan yang maha dahsyat  segera  bermunculan diangkasa bagaikan mega yang berlapis-lapis, kekuatannya  luar biasa sekali, sedemikian rapatnya ancaman itu sehingga setitik celah pun tak ada.

Serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan marah, kelihayannya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Paras muka Cau sang hui Keh-teng segera berubah hebat, sambil tertawa seram sepasang telapak tangannya di ayunkan ke udara menciptakan serangkaian angin pukulan yang menyelimut i seluruh angkasa bagaikan sarang laba-laba.

Untuk sesaat, kedua orang itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit. Tampak debu dan pasir beterbangan me menuhi seluruh angkasa, udara menjadi sesak dan badan berputar a mat kencang, sulit untuk me mbedakan mana Cau-sang-hui dan mana Sin-ho ng-hwee-ciau.

Kekuatan tenaga pukulan dari kedua belah pihak pun ibaratnya bukit yang berguguran, kehebatannya luar biasa.

Sementara pertarungan sengit masih berlangsung disebelah sini, dipihak la in Biau- ki-s iang-su In- Han-im juga sedang dikurung oleh enam orang hiangcu tersebut.

Enam batang busur baja seperti enam ekor ular sakti menciptakan cahaya hitam yang memenuhi angkasa, jurus demi jurus serangan dilancarkan beruntun tertuju pada  bagian  bagian me matikan di tubuh Biau-ki-siang-su. Mana dahsyat, keji lagi.

Betul Biau-ki-siang-su In Han- im terhitung seorang tokoh persilatan yang tersohor namanya, tapi bagaimana mungkin dia bisa tahan menghadapi serangan gabungan dari ke enam orang itu?

Baru beberapa gebrakan, ia sudah terdesak sampai kacau balau tak karuan, dengan cepat posisinya terdesak dibawah angin dan terancam anca man maut.

Sepasang alis mata Ku See hong segera berkenyit, sorot matanya me mancarkan sinar pe mbunuhan yang menggidikkan hati, pekikan nyaring yang meme kikkan  telinga  dengan  cepat  berkumandang me mecahkan keheningan........

Ku See hong segera melo mpat ke udara seperti seekor burung raksasa, sesudah berputar satu lingkaran, lalu bagaikan naga sakti terbang di angkasa, dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia terjang ke arah ke enam orang Hiangcu yang sedang mengerubuti Biau-ki-siang-su In Han im tersebut.

Ketika salah satu diantara ke enam orang Hiangcu itu menyaksikan Ku See hong menerjang datang dengan kecepatan luar biasa-, busur baja ditangannya segera diputar satu lingkaran menciptakan selapis cahaya hitam yang menyilaukan mata, ke mudian di sertai suara guntur dan angin yang mende ru deru, ia hantam batok kepala Ku See hong.

Kawanan Hiangcu itu merupakan jago jago kelas satu  dalam dunia persilatan yang berilmu tinggi, tenaga dalam yang mereka miliki pun a mat sempurna, tak terlukiskan dahsyatnya serangan yang dilancarkan itu.

"Criiing!" "Criiing..!” dentingan nyaring menggelegar bersa ma dengan datangnya sambaran dari busur baja itu.

Bukan cuma jurus serangannya saja yang amat cepat, ancamannya juga menger ikan sekali.

Berada ditengah udara, mendadak Ku See hong berjumpalitan ke samping melo loskan diri dari anca man berbahaya itu, lalu sambil tertawa dingin mendadak tubuhnya berkelit kesamping, bagaikan sukma gentayangan dia sudah berpujar ke sebelah kananHiangcu tersebut.

Agaknya Hiangcu tersebut tidak menyangka kalau sergapan kilatnya berhasil dihindari lawan dengan a mat mudah, tapi diapun cukup pintar dan cekatan, begitu serangannya gagal, badannya berputar dan melejit sejauh delapan depa dengan gesit, sementara busur bajanya diayunkan ke muka menciptakan selapjs cahaya tingkatan yang dalam bagaikan sa mudra.....

"'Sreeet!" diir ingi suara desingan taja m, busur baja itu bagaikan seekor ular lincah mendadak menyerang jalan darah Pay-gi hiat di punggung Ku See hong.

Jurus serangan ini selain keji juga ganas tapi indah sekali gerakannya.

Ku See hong mendengus dingin, kakinya berputar secara aneh,  ke lima jari tangan kirinya direntangkan bagaikan cakar elang dan mencengkeram busur baja itu secara tiba-tiba, kemudian sambil menyentil, benda itu digetarkan keras-keras.

Hiangcu itu segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku dan kesemutan, tahu-tahu busur baja itu terlepas dari cekalan, sementara tubuhnya turut terseret pula ke depan oleh segulung tenaja kuat itu sehingga terseret kedepan.

Ilmu Ki-nah-jiu-hoat yang dipergunakan Ku See hong kali ini betul-betul sangat lihay dan luar biasa, begitu busur baja tersebut berhasil dira mpasnya, kebetulan Hiangcu itu pun sedang menerjang datang, hal mana segera menimbulkan napsu me mbunuh didalam hatinya.

Busur baja yang berada ditangan kirinya dengan me mbawa desingan angin tajam segera dibabat kedepan.

Tak se mpat menjer it kesakitan lagi, batok kepala Hiangcu itu segera terpapas oleh busur baja yang tajam itu, ditengah percikan darah segar, batok kepala itu mengge linding sejauh tiga kaki lebih.

Cara membunuh orang semaca m ini boleh dibilang tak pernah dijumpai sebelumnya, kekejamannya cukup  menggidikkan hati orang.

Sambil menggenga m busur bajanya erat-erat ditangan kiri, Ku See hong bergerak makin kedepan, kali ini dia menyambar ke samping seseorang hiangcu yang lain, tangan kirinya diputar dan busur baja itu dengan menciptakan selapis cahaya hitam langsung me mbaco k tubuh Hiangcu tersebut.

Dikala menangkap bergemanya suara desingan angin tajam dari arah belakang, Hiangcu itu segera berpaling ke belakang, dengan cepat dia telah bertemu dengan sepasang sorot mata yang tajam seolah-olah hendak mene mbus i ulu hati orang saja.

Dalam terperanjatnya, busur bajanya segera disapu ke depan dengan gerakan datar menyusul kemudian tubuhnya ikut berkelebat pula keluar.

Busur baja ditangan kiri Ku See hong segera mencukil pelan, busur baja lawan dengan cepat tercukil sehingga terlepas dari cekalan. Seperti bayangan setan, Ku See-hong segera melo mpat maju kedepan, busur bajanya sekali lagi menyapu ke muka dengan jurus serangan yang aneh, ganas dan buas.

Serentetan jeritan aneh yang me milukan hati ke mba li berkumandang me mecahkan keheningan, diantara percikan darah yang me mancar ke e mpat penjuru, Hiangcu itupun menjadi setan tanpa kepala . . . .

Dalam sekali lompat saja, Ku See hong telah me mbunuh dua orang Hiangcu dari perkumpulan Thi-kiong-pang. Serentetan gerakan ini dilakan tak lebih dalam sekejap mata, kenyataan yang amat menggidikkan hati ini kontan saja me mbuat keempat orang Hiangcu lainnya menjadi ge mpar, serentak mereka berlo mpatan keluar dari arena pertarungan.

Dengan mundurnya keempat orang hiangcu tersebut, Biau-ki- siang-su In Han Im baru me mperoleh kese mpatan untuk mengatur napas mimpipun dia tak menyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki Ku See hong telah mencapai tingkatan yang begitu tinggi, tapi setelah menyaksikan caranya me mbunuh orang, bergidik juga hatinya.

Dia lantas sadar bahwa dunia persilatan telah muncul seorang pembunuh, malah ke mungkinan besar keganasannya tidak berbeda dibawah kebuasan Bun-ji-koan-su dimasa lalu.

Dalam pada itu, hawa napsu me mbunuh dari Ku See hong telah berkobar, menyaksikan kee mpat orang Hiang-cu itu mundur ia segera me mperdengarkan suara tertawa panjang  yang menggidikkan sukma........

Seperti bayangan saja dia mengejar kemuka, busur bajanya berputar bagaikan serentetan cahaya hitam yang menyilaukan mata, bagaikan o mbak sa mudra saja, dengan cepatnya menyebar ke empat penjuru dan menggulung se mua r intangan yang dihadapinya.

Sebagai anggota Thi-kio ng-pang, ke e mpat orang Hiangcu itu sudah me mpero leh pendidikan yang cukup ketat, mereka sadar bahwa  meacerai-beraikan  kekuatan  tak lebih  hanya  me mpercepat ke matian sendiri, maka timbullah tekad mereka untuk menggabungkan kekuatan mereka yang ada untuk bersama-sana menghadapi serangan lawan.

Serentak keempat orang itu me mperdengarkan suara pekikan anehnya sebagai tanda, empat buah busur baja bergabung menciptakan berlapis-lapis cahaya dingin yang tebal bagaikan sebuah bianglala panjang, dalam waktu singkat tenaga itu sudah menya mbar kee mpat punjuru dan me mbendung datangnya hawa pembunuhan yang terpancar keluar dari si anak muda itu.

Tapi gejala se maca m itupun hanya berlangsung untuk sesaat, dalam waktu singkat suasana tadi tercerai-berai kembali oleh terjangan hawa pembunuhan yang menggetarkan sukma.

Seluruh benak Ku See hong ketika itu sudah dipenuhi oleh hawa napsu mengerikan, sorot matanya memancarkan cahaya  bengis yang menggetarkan sukma lalu tertawa dingin.

Suara tertawanya kedengaran bagaikan he mbusan angin dingin muncul dari gudang-salju, me mbuat siapapun yang mendengar kan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Setelah tertawa dingin busur baja ditangan kiri Ku See hong segera meluncur kedepan seperti sebatang anak panah  yang terlepas dari busurnya, serangan itu tertuju kearah salah seorang diantara keempat orang Hiangcu  tersebut, sementara tangan kanannya pada saat yang hampir bersamaan melepaskan segulung desingan angin pukulan yang dingin dan kuat menyerang kearah orang yang sama.

Hiangcu itu segera merasakan timbulnya segulung desingan angin pukulan berhawa dingin yang menyesakkan napas mene kan keatas wajahnya. Mendadak serentetan cahaya hitam meluncur tiba pula dengan kecepatan tinggi, sedemikian cepatnya sehingga ia tak sempat melihat jelas benda apakah itu.

Jeritan  ngeri  yang  memilukan  hati  ke mbali  berkumandang  me mecahkan keheningan tahu-tahu badannya sudah terte mbus oleh sambaran busur baja itu hingga te mbus dipunggungnya. "Blaamm.......!" ditengah benturan dahsyat badannya termakan pula oleh tenaga pukulan yang sanggup menghancur kan  batu cadas itu.

Tak ampun lagi, kee mpat anggota badannya tercerai-berai, daging  dan  darah  berserakan   me menuni   per mukaan   tanah, ke matiannya benar-benar menger ikan.

Berhasil menghabisi nyawa orang itu, Ku See hong segera merentangkan kelima jari tangan kirinya, setelah membuat satu lingkaran busur lalu disentilnya kedepan.

"Sreet.., sreet..!" ditengah desingan yang menderu-deru, lima gulung angin serangan yang tajam menyergap Hiangcu la innya.

Sedemikian cepatnya serangan itu dilancarkan, seolah olah baru saja tangan kirinya menyambitkan busur baja itu,tangan kanannya turut bergerak pula.

Baru saja salah seorang Hian Su, diantara tiga orang yang masih hidup, mendengar rekannya menjer it kesakitan, segulung desingan angin tajam yang luar biasa hebatnya telah menembus i lapisan cahaya busur bajanya yang tebal.

Didalam kaget  dan  tercekatnya,  serentak  ketiga  orang  itu  me lo mpat mundur ke belakang.

Tapi sayang, gembong pembunuh muda itu sudah terlanjur mengincar seorang korbannya, secepat-cepatnya orang itu berkelit, toh waktunya tetap terlambat selangkah.

'Sreet...! Sreet…!' ditengah desingan angin taja m, serentetan jeritan  ngeri   yang   me milukan   hati   kembali   berkumandang me mecahkan keheningan.

Bagian me matikan dari tubuh bagian atas orang itu tahu-tahu sudah dite mbusi oleh kelima gulung desingan angin tajam itu hingga tembus kedalam dadanya, darah segar segera memancar keluar seperti sumber mata air. Tubuhnya yang tinggi kekar itu kontan mercelat sejauh enam tujuh langkah oleh he mbusan angin pukulan yang sangat kuat itu sehingga badannya roboh terkapar ditanah dan tewas seketika.

Dua orang sisanya segera sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, bila sekarang tidak kabur, bisa jadi jiwanya akan terancam. Maka mereka berdua segera menyebarkan dirikekiri dan kanan ke mudian me lesat kedepan untuk menyela matkan diri.

Ku See hong bepekik panjang dengan suara yang membetot sukma, tubuhnya  seperti  seekor  burung  elang  raksasa  segera me luncur ke tengah udara dengan kecepatan tinggi.

Mendadak ,

pada saat itulah serentetan pekikan nyaring ke mba li berge ma me mecahkan keheningan . . . . .

Kini ditangan Ku See hong telah berta mbah dengan sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya merah yang berkilauan. Itulah pedang Ang-soat-kiam yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada tigaratus tahun berselang atau sekarang lebih dikenal sebagai pedang mest ika Hu-thian seng-kia m!

Pada saat pedang itu  dilancarkan,  tubuh  Ku  See  hong  telah me mbaur menjadi satu dengan cahaya pedang yang me mancar bagaikan air terjun itu, secepat kilat berkelebat lewat ditengah udara.

Sedemikian cepatnya cahaya pedang tersebut berkelebat lewat sehingga pada hakekatnya sukar untuk membeda kan mana cahaya pedang dan mana yang cahaya bianglala.

Serentetan jeritan ngeri yang me milukan hati ke mba li berkumandang me mecahkan keheningan. Tubuh si  Hiangcu yang me layang di angkasa itu sudah terpapas kutung menjadi tiga bagian ditengah   udara,   darah    segar    berhamburan    ke mana-mana, ke matiannya benar-benar menger ikan.

Berada ditengah udara, tiba-tiba Ku See hong me mutar badannya, lalu me mbentak keras, seluruh tubuhnya telah berputar arah dan meluncur ke arah seseorang lainnya. Gerakan pedangnya berkelebat lewat seperti hembusan angin puyuh, selapis cahaya tajam me luncur ke depan menciptakan selapis bukit pedang yang berwarna warni. Selapis hawa pedang yang menggidikkan hati dengan cepat menyergap ke arah tubuh si Hiangcu yang baru saja akan me layang turun keatas tanah itu.

Serentetan jeritan ngeri yang me milukan hati ke mba li berkumandang me mecahkan keheningan, sebutir batok kepala telah terpapas hancur oleh kilatan cahaya pedang,  darah segar segera me mancar ke mana mana dan ke matiannya a mat mengenaskan.

Setelah itu.... seluruh hawa pedang yang menyilaukan ma ka menjadi pudar, Ku See hong dengan wajah dingin seperti es dan bertangan kosong telah berdiri kaku diatas tanah, sementara sepasang matanya yang tajam menggidikkan hati menatap ke enam sosok mayat yang tak utuh itu tanpa berkedip.

Sedihkah dia?

Atau merasa ge mbira dengan hasil yang berhasil dicapainya kini?

Biau-ki siang-su In Han im merasakan pandangan matanya seolah olah menjadi kabur..., dia hanya merasa selapis kabut merah yang menyilaukan mata berkelebat lewat didepan mata, lalu dalam beberanpa kali kelebatan saja, dua orang yang terakhirpun telah roboh binasa diatas tanah.

Ternyata ilmu pedang yang dpergunakan Ku See hong adalah salah satu jurus serangan dari tiga jurus ilmu pedang yang tercantum dalam kitab kecil peninggalan Si hong Lo jin yang disebut Hui-hong-che ki-hiat seng-wi (Bianglala tiba-tiba Muncul Bau A mis dan Me mancar)...!

Si-hong lo jin adalah seorang tokoh sakti yang luar biasa dari dunia persilatan, ilmu pedangnya boleh dibilang sudah merajai seluruh kolong langit. Sebelum ajalnya tiba, dia telah menghimpun semua inti sari ilmu pedang yang ada didunia ini, dengan mengorbankan waktu selama tiga tahun untuk menciptakan jurus pedang baru. Bisa dibayangkan betapa sakti dan luar biasanya jurus serangan hasil ciptaannya itu, selain ganas juga lihay sekali.

Setelah me loloskan pedang Hu-thian seng-kia mnya dari dalam sarung tadi, Ku See hong segera me lebur tubuhnya menjadi satu dengan senjata tersebut untuk me mbunuh seseorang ditengah udara, kemudian sa mbil me mba likkan badan dia me mbunuh pula Hiangcu yang terakhir, se mua gerakan ini dilakukannya dengan kecepatan luar biasa.

Oleh karena itu, Biau-ki siang-su In Han im hanya merasakan berkelebatnya cahaya bianglala didepan mata, sedemikian cepatnya gerakan itu sehingga pada hakekatnya ia tak sempat menyaksikan gerakan Ku See hong sewaktu mencabut pedang maupun menyarungkan ke mbali pedangnya.

Mendadak ,

Dari arah sebelah sana berkumandang suara dengusan tertahan, lalu ta mpaklah bahu kiri Sin hong hwee ciau Lui-Ki kena dihajar telak oleh serangan Cau seng hui Ciang Keh-teng sehingga muntah darah segar, dengan sempoyongan tubuhnya segera mundur sejauh beberapa langkah.

Sementara pertarungan sengit berkobar tadi, Cau sang hui Ciong Keh-teng telah mengetahui kalau enam orang hiangcu-nya telah mati secara mengerikan se mua ditangan pe muda itu.

Dengan hati yang amat sakit seperti ditusuk pisau, dia segera menge luarkan sejurus serangan me matikan yang amat ganas, dengan telak anca man itu bersarang ditubuh Sin hong hwee-ciau.

Saat ini, kobaran hawa napsu me mbunuhnya sudah me mbara dalam dadanya, ia bertekad untuk me mbunuh setiap musuh yang dijumpainya, melihat Sin hong hwee ciau mundur dengan me mbawa luka, sudah barang tentu dia tak akan melepaskan  korbannya dengan begitu saja.

Serentetan suara pekikan nyaring mir ip jeritan setan atau lolongan serigala dengan cepat bergema me mecahkan keheningan. Secepat sambaran petir Cau sang hui Ciong keh-teng mengejar kedepan, kesepuluh jari tangannya direntangkan lebar-lebar dengan me mbawa serentetan desingan angin pukulan  yang tajam, ia cengkeram belasan buah jalan darah penting ditubuh bagian atas Sin hong hwee-ciau.

Pada dasarnya dia me mang sudah berniat untuk me mbunuh lawannya, tentu saja kekuatan yang disertakan dalam serangan itu luar biasa sekali hebatnya.

Sejak terma kan pukulan dahsyat dari Cau sang hui Ciong Keh- teng tadi, Sin hong hwee ciau Lui-Ki sudah merasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, coba kalau tenaga dalamnya tidak sempurna, niscaya sele mbar jiwanya sudah me layang.

Walaupun begitu, pada saat itu ia sudah tak sanggup lagi untuk menghindarkan diri dari sergapan maut itu, tampaknya ia segera akan tewas diujung telapak tangan lawan.

Ketika Biau-ki siang-su In Han im menyaksikan adik angkatnya berada ditepi jurang ke matian, dengan cepat dia me mbentak keras, tubuhnya segera melayang maju ke depan.

Tapi sesosok bayangan manusia lain bagaikan sa mbaran setan gentayangan saja tahu-tahu sudah tiba lebih dulu disisi tubuh Siu hong hwee- ciau, sebuah pukulan yang bertenaga  lembek segera  me luncur keluar dari balik telapak tangan kanannya.

Mendadak.... udara serasa diliputi kabut tebal dan angin menderu-deru, ke mudian menyusul munculnya selapis  cahaya merah yang berkilauan, daya tekanan yang timbul die mpat penjuru pun ma kin la ma sema kin me mberat bagaikan gencetan bukit karang.

OdwO “BLAAAAMMM . . . . !” benturan keras yang memekikkan telinga segera bergema bersa maan dengan saling me mbenturnya dua gulung kekuatan yang maha dahsyat.

Desingan angin tajam segera me mancar ke e mpat penjuru.......

Rambut panjang Cau sang hui Ciong Keh-teng terurai kacau ke bawah, noda darah membasahi ujung bibirnya paras mukanya pucat kehijau-hijauan, kulit mukanya mengejang keras menahan penderitaan.

Dengan se mpoyongan tubuhnya mundur sejauh empat lima langkah dari posisi semula, lalu dengan sorot mata yang memerah me mbara, dia awasi wajah Ku See hong dengan penuh kegusaran.

Paras muka Ku See hong sendiripun dingin seperti es, matanya me mancarkan cahaya menggidikkan, dengan suara yang kaku, katanya:

“Ciong Keh-teng, sekarang kau sudah berada  di ambang pintu ke matian, agar kau ma mpus dalam keadaan jelas, maka akupun akan me mberi sedikit keterangan kepada mu, aku bersikap demikian kepada kalian karena perbuatan keji kalian telah menggusar kan Thian dan merisaukan umat persilatan.

“Sauya-mu tak lain adalah putranya Ku-Kia m-cong, pangcu dari perkumpulan Kim-to-pang yang berna ma Ku See hong , “

“Manusia aneh dari dunia persilatan Bun-ji-koan-su adalah guruku!”

“Nah, beberapa maca m dendam kesumat sedalam lautan ini tentunya pantas bukan bila kutuntut balas?!

Sekarang, kau boleh ma mpus dengan perasaan lega!”

Ketika selesai mendengar kan perkataan dari anak muda itu, paras muka Cau-sang-hui C iong Keh-teng yang semula berwarna pucat pias itu, kini telah berubah ma kin mengenaskan, kulit wajahnya mengejang keras me mbentuk  garis garis kerutan yang,penuh dengan rasa mengerikan…. Mati adalah suatu kejadian yang akan dialami setiap manusia. Tapi bila seseorang sudah berada dia mbang pintu ke matiannya entah bagaimanapun buas dan kejinya dia, sedikit banyak rasa sedih dan menyesal akan timbul juga diatas wajahnya.

Yaa, sesungguhnya dari dulu sampai sekarang, hanya berapa orangkah yang bisa me mandang ke matian sebagai sesuatu kejadian yang wajar? Semut saja masih ingin hidup, apalagi manus ia...

Pelan-pelan Ku See hong mengangkat telapak tangan kanannya, kelima jari tangannya direntangkan lebar-lebar, ke mudian diantara sentilan dan getaran tangannya, lima gulung desingan angin tajam segera meluncur keluar dari ujung jarinya.

Mendadak.....

Serentetan jeritan ngeri yang memekikkan telinga berkumandang me mbe lah keheningan ma la m.

Tampak sepasang tangan Can sang hui Ciong Keh menekan diatas dada serta lambungnya, lalu dengan wajah pucat pias keabu- abuan selangkah de mi selangkah ia mundur ke belakang, darah kental bercucuran dari ujung dada dan bibir, la mbungnya.

Sepasang mata Cau sang hui Ciong Keh-teng terbelalak lebar- lebar, sorot mata tajam me mancar keluar dari balik matanya, tapi sekarang bukan sarot mata yang diliputi rasa benci dan buas. Tapi sorot matanya sekarang adalah sorot mata yang lembut, penuh rasa penyesalan,rasa malu dan iba . . . . .

Bibir Cau sang hui Ciong Keh-teng bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu,tapi tenaganya sudah tidak me menuhi keinginan hatinya, tapi anehnya dia masih tetap berdiri tegak, matanya masih tetap menatap wajah Ku See hong tanpa barkedip.

Akhirnya dari tenggorokannya berkumandang suara gemuruh yang parau dan tidak jelas:

"Ku  sauhiap, loo.... lohu tidak  mee...me..nyesal  mee meski

tewas  dii...ditangan...mu.., tapi Ban-sia-kaucu tee...te..lah menggerakkan kekuatannya uuu...untuk menguasai jaa...ja... jagad............ kau !"

Yaa, bila seseorang sudah tahu kalau ajalnya ha mpir tiba, apa yang diucapkan sebagai akhir  katanya adalah kata-kata yang bernada jujur dan penuh kebajikan.

Beberapa patah kata dari Cau sang hui Ciong Keh-teng ini diucapkan dengan nada yang mengenaskan, me mbuat semua orang yang mendengarkan serta merta merasakan hatinya menjadi iba.

Dengan suatu gerakan cepat Biau-ki siang-su In Han im segera menubruk kemuka, setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba saja hatinya merasa ge metar keras.

"Saudara Ciong..!" serunya dengan gelisah "Tolong berbicara agak jelas, Ban-sia kaucu hendak me laksanakan rencana kejinya terhadap siapa? Cepat katakan! Cepat katakan..!"

Agaknya Cau sang hui Ciong Keh-teng mas ih se mpat mendengar perkataannya itu, bibirnya bergetar seperti mau menjawab akan tetapi tiada suara yang terdengar, cengkeraman maut dari mala ikat ke matian telah merenggut sele mbar jiwanya dari tubuh kasarnya.

Ku See hong segera menghela napas sedih, guma mnya:

"Heran, mengapa manusia selalu keras kepala, sebelum ajalnya menje lang tiba ia enggan menjadi sadar, aaai....! Inilah suatu tragedi bagi umat manusia; juga merupakan watak paling jelek dari umat manusia..... selama hidup Ciong Ken-teng mela kukan banyak kejahatan, seluruh tubuhnya penuh dengan dosa tapi menje lang saat ajalnya, dia telah mene mukan ke mbali ke muliaan hatinya, bila dibandingkan dengan orang-orang berdosa yang sampai manje lang ajalnya tiba pun tak mau bertobat, ia me mang jauh lebih tangguh!"

Biau-ki siang-su In Han im turut menghela napas sedih, pelan- pelan dia me ngha mpir i Sin hong hwee ciau, merogoh kedalam sakunya menge luarkan sebuah botol kecil, lalu mengeluar kan sebutir pil dan dicekokkan kedalam mulutnya. Pelan-pelan Ku See hong turut berjalan me ndekat, lalu tanyanya dengan suara le mbut:

"Paman In, siapakah yang dimaksudkan sebagai Ban-sia kaucu oleh Ciong Keh teng menjelang ajalnya tadi?"

Biau-ki siang-su in Han Im menghe la napas panjang.

"Aaai.... ancaman bahaya maut yang menganca m dunia persilatan belakangan ini adalah kelo mpo k dari perkumpulan Ban-s ia kau. Tentang keadaan yang sebenarnya dari Ban-sia-kau dan organisasi macam apakah perkumpulan itu, aku belum se mpat menyelidikinya sampa i jelas, konon kaucu-nya adalah seorang wanita, tapi ilmu silatnya begitu lihay sehingga tak tertuliskan dengan kata-kata !"

Ku See hong ter menung dan berpikir sebentar, lalu tanyanya lagi: "Apakah Ban-sia-kau yang telah menguasahi Thi- kiong pang

serta Jian-khi pang?"

Biau-ki siang-su In Han im segera mengangguk.

"Yaa, benar. Ban-sia kau me mang merupakan perkumpulan yang telah menguasahi Thi kiong pang dan Jian khi pang menurut dugaanku, Ban-sia-kau sudah pasti ada hubungannya dengan pertarungan berdarah di bukit Soat-san tempo dulu, lenyapnya sekawanan   jago   lihay   didalam   dunia  persilatan   pun   besar ke mungkinan merupakan rencana keji dari Ban-sia-kau !!"

Begitu mendengar tentang pertarungan berdarah di bukit Soat- san, Ku See hong segera merasakan darah panas didalam tubuhnya mendidih, gurunya dan kedua orang tuanya telah terlibat dalam pertempuran berdarah itu, kemudian terbunuh pula secara mengenaskan, siapakah dalang dari semua peristiwa berdarah ini?

Mendadak..... Biau-ki-siang-su In-Han- im bertanya kepada Ku See hong: "Ku lote…, sebelum mati apakah gurumu pernah mengungkap keadaan yang sebenarnya tentang peristiwa berdarah di bukit Soat- san?"

Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, menjelang ajalnya Bun-ji koan-su me mang telah mengisahkan ceritanya yang mengenaskan, ia menyuruhnya agar mengingat  selalu  kisah tersebut, tapi melarang untuk diberitahukan kepada orang lain.

Betul Biau-ki-siangsu terhitung seorang pendekar kaum lurus dalam dunia persilatan, namun dia tak ingin  mengingkar i sumpahnya terhadap gurunya.

Maka dengan wajah berat hati serta nada minta maaf, Ku See- hong berkata:

"Paman   In,   menje lang   ajalnya   guruku   me mang    pernah me mbicarakan tentang peristiwa dibukit Soat-san, tapi dia orang tua pernah berpesan agar aku tidak me mbocorkannya kepada orang lain. Oleh sebab itu harap kau suka me maafkan kesulitanku ini."

"Aaaai . . . !" Biau-ki siangsu In-Han- im menghe la napas sedih, "Setiap orang yang turut hadir dalam pertempuran di bukit Soat- san, asal dia termasuk seorang berjiwa lurus, kalau bukan jejaknya tak diketahui lagi,... pasti tewas secara mengenaskan! Yang tersisa pun kini hanya tinggal manusia- manus ia laknat berhati busuk dan keji."

"Dalam dunia persilatan yang begini luas, hanya kau seorang yang mungkin mengetahui duduk persoalan ini yang sebenarnya

...!"

"Orang persilatan me mang mengutama kan soal kepercayaan, aku cukup me maha mi kesulitanmu itu, harap jangan merasa sedih. Sekarang aku akan berusaha untuk mengungkapkan semua jejak atau titik terang yang berhasil kuketahui kepadamu, bila bahan bahan keteranganmu tentang pertarungan dibukit Soat-san  sehingga berhasil menyelidiki usal usul dari Ban-sia kaucu tersebut. Andaikata kau dapat menyelamatkan umat persilatan dari suatu badai pembunuhan, jasa ini benar-benar suatu jasa yang amat mulia."

Ku See hong merasa a mat terharu, serunya dengan cepat: "Paman  In,  aku  benar-benar  berterima  kasih  sekali  atas kasih

sayangmu,  budi  kebaikan  ini  terukir  dalam  dalam dilubuk hatiku

sampai matipun tak dapat kulupakan.  Terus terang kukatakan, dendam kesumat diriku sendiri juga ada sangkut pautnya dengan peristiwa ini, jika teka-teki ini dapat diungkapkan, sekalipun harus mendaki bukit golok atau terjun kecuali berisi minyak mendidih sampai hancurpun, aku pasti akan berusaha untuk melenyapkan kaum laknat tersebut!"

"Sela ma hidup aku In Han im, tak pernah menaruh perhatian terhadap orang lain......" kata Biau-ki siang-su In Han im ke mudian dengan penuh perhatian,

“Tapi se menjak bertemu dengan lote, aku merasa amat menguatir kan sekali tentang keselamatanmu, aku merasa seakan- akan me mpunyai ikatan batin denganmu, apalagi dikalangan kaum lurus dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya kau seorang yang mengetahui rahasia pertempuran berdarah dibukit Soat-san. Bila hal ini sa mpai diketahui oleh gembong-ge mbong iblis tersebut, sudah dapat dipastikan kesela matan jiwa mu pasti akan terancam setiap saat!"

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, katanya dengan penuh kebencian:

"Mati atau hidup sudah digariskan oleh takdir, beruntung atau sengsara sudah merupakan nasib, bila kawanan ge mbong iblis itu berani datang mencar i gara-gara denganku.... Hmmm! Akan kuberikan suatu pertunjukan bagus kepada mereka satu persatu akan kujagal mereka sa mpa i ludas!"

"Ku lote…!" kata Biau-ki siang-su In Han im,

"Meskipun kau me miliki ilmu silat yang amat tinggi, namun musuh berjumlah banyak dan lagi merupakan ge mbong-ge mbong iblis dan pentolan-pentolan Liok- lim yang termashur na manya didunia ini, sepasang tangan sukar me lawan e mpat tangan, aku harap kau suka bertindak lebih berhati-hati janganlah terlalu menurut i e mosi. Ketahuilah, nasib dari beribu-ribu umat persilatan serta kewajiban untuk menegakkan ke mbali keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan telah terjatuh ditanganmu seorang, kematianmu me mang soal kecil tapi akibatnya besar!”

Mendengar perkataan itu, diam- diam Ku See hong merasakan hatinya terkesiap, pikirnya;

'Dulu suhu tidak menje laskan sebab musababnya justeru lantaran takut kalau aku bertindak secara gegebah. . ., betul ilmu silat yang kumiliki belakangan ini telah me ndapat ke majuan yang pesat, apalagi akupun me miliki pedang Ku-thian-seng- kiam yang sangat tajam,tapi untuk menghadapi musuh yang berjumlah begitu banyak, aku me mang merasa kecil sekali, aaai...!

Nasibku telah ditakdirkan begini, siapa pula yang bisa merubahnya? Apalagi jika pedang Hu-thian seng- kiam sa mpa i diketahui orang sebagai pedang Ang-soat-kiam -nya Sihong lo jin dimasa lalu, bukan cuma orang-orang dari golongan  sesat,  saja yang akan merebutkannya, bahkan orang-orang dari golongan putih pun akan secara terang-terangan me musuhi aku.’

Berpikir sa mpai diini, Ku See hong betul-betul merasa a mat sedih, murung dan kesepian.

Tapi selang beberapa saat ke mudian, dengan kening berkerut dan nada yang tegas dia berkata:

"Bagaimanapun juga, aku akan me mikul tanggung jawab atas mati-hidupnya dunia persilatan, tapi aku Ku See-hong sudah ditakdirkan hidup seorang diri. Musuhku mungkin bukan cuma orang-orang dari kaum sesat saja, melainkan seluuh umat persilatan yang ada didunia ini."

Terkesiap sekali Biau- ki siang-su In Han im setelah mendengar perkataannya itu. Dengan perasaan tidak mengerti segera tanyanya: "Apa maksud perkataan itu?"

"Paman In " ujar Ku See Hong dengan sedih, rahasia di balik kesemuanya itu akan kau paha mi sendiri dike mudian hari, sekarang maafkanlah kalau aku tak dapat me mberitahukan kepada mu."

Biau-ki siangsu In Han im adalah seorang yang cerdas, semenjak berjumpa denga Ku See hong, dia sudah merasakan bahwa pemuda ini me miliki banyak keistimewaan yang berbeda dengan manus ia biasa. Dalam hal apapun dia selalu mendatangkan suatu perasaan rahasia dan misterius me mbuat orang jadi tak habis mengerti.

Maka setelah mendengar perkataan itu, dia lantas tahu kalau asal usul maupun kehidupan selanjutnya dari pemuda itu bukanlah suatu kehidupan yang biasa...

Dengan cepat Biau-ki siang-su In Han im mengalihkan pembicaraan ke soal la in, katanya ke mudian:

"Situasi didalami dunia persilatan dewasa ini sudah bukan masalah perselisihan antara perguruan atau dendam kusumat antara perorangan lagi, Keadaannya sekarang betul-betul sudah kalut dan kacau balau sehingga segenap umat persilatan boleh dibilang sudah terlibat dan bersama-sa ma menuju ke hari Kia mat. .

.!"

"Kini se mbilan Partai besar dari daratan Tionggoan sudah tak dapat berpeluk tangan belaka; mereka masing- mas ing telah mengirim jago-jago lihaynya untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya, namun kunci paling penting diantara sekian masalah masih tetap terletak pada tubuh Ban-sia kaucu tersebut!"

"Oleh sebab itu, tugas pertama yang harus  dilaksanakan sekarang adalah menyelidiki siapakah kaucu dari Ban-sia- kau tersebut, serta sampai dimanakah cakar iblis mereka telah dibentangkan, . . . . kalau didengar dari ucapan Ciong Keh teng menje lang saat ajalnya tadi, tampaknya rencana busuk Ban-s ia kaucu untuk menguasai dunia persilatan sudah mulai dilaksanakan!" "Pendapat paman In me mang tepat sekali!" puji Ku See hong , "Kini  api  sudah  me mba kar  alis  mata,   yang   jauh   tak  akan me mada mkan api didepan mata, tugas paling penting yang harus kita kerjakan sekarang adalah mencari tahu lebih dulu keadaan yang sebenarnya dari perkumpulan Ban sia kau tersebut."

Menurut penyelidikanku baru-baru ini, dapat kusimpulkan bahwa perkumpulan Ban-sia kau tersebut bukan saja ada sangkut pautnya dengan pertempuran dibukit Soat-san, bahkan yang menjadi ketuanya sepertinya juga mempunyai sangkut-paut yang erat sekali dengan Bun-ji koan-su locianpwe . . .!"

"Ku lote, coba pikirkanlah, diantara orang penting yang terlibat langsung dalam pertarungan dibukit Soat-san tempo hari, siapakah yang paling besar kemungkinannya menjadi ketua dari perkumpulan Ban-sia-kau ?"

Ku See hong segera termenung sambil me mutar otak.  Cerita yang pernah didengarnya dari Bun-ji koan-su te mpo hari melintas ke mbali didalam benaknya satu persatu.

Mendadak Ku See hong menjerit kaget:

"Aaah . . . , jangan-jangan mereka? Benar-benar hanya kedua orang ini yang paling besar ke mungkinannya. Ooh suhu! Betapa mengenaskannya nasibmu,.....semua yang tidak kau beritahukan kepadaku dimasa lalu  kini  sudah  tertera  jelas,  aku  pasti  akan me laksanakan menurut kehendak hatimu, entah bagaimanapun juga, aku pasti akan memenuhi keinginanmu itu, tak akan kusia- siakan harapan kau Orang Tua! Legakanlah hatimu . . .!!"

Ku See hong berpekik dengan pedih, air matanya berucuran deras, dalam hatinya ia meresa amat benci kepada orang itu, ia bersumpah akan me mbuatnya mati dalam keadaan mengerikan. . .!

Pada saat itu Ku See hong sedang diliputi oleh rasa sedih dan gusar yang tak terlukiskan dengan kata, darah panas bergelora didalam dadanya, api dendam me mbakar seluruh tubuhnya. Dipengaruhi oleh gejolak e mosi, dia segera mendongakkan kepalanya sambil menyanyikan lagu "Dendam Sejagad". DENDAM kesumat me mbentang bagai jagad, Bukit tinggi berhutan lebat disisi sebuah kuil. Sungai besar didepan kuil bero mbak besar, Dendam kesumat sepanjang abad!

DENDAM kesumat me mbentang bagai Jagad, Burung gagak bersarang dirumput dikala senja. Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua.

Me metik ka mpak me mbuat lagu: Nadanya denda m!" Menitik air mata darah untuk siapa?

Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa. DENDAM kesumat me mbentang bagai Jagad.

Ji koan pernah berbuat salah.

Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya? Salju terbang air laut se muanya ha mbar.

DENDAM kesumat me mbentang bagai Jagad. Curah hujan me mbuyarkan awan.

Air mengalir akhirnya surut.

Dendam kesumat tak akan pernah luntur..........

oooOdwOooo

TENAGA DALAM yang dimiliki Ku See hong belakangan ini telah me mpero leh ke majuan yang pesat. Suara nyanyian yang dibawakannya segera menggetarkan seluruh jagad, selain suaranya mengandung daya iblis yang me mbetot sukma, suaranya pun mengge ma tiada hentinya diseluruh angkasa. Dalam me mbawakan lagu `Dendam Sejagad` kali ini, perasaan Ku See hong jauh lebih sedih dan menderita, dia merasa makin simpatik terhadap tragedi yang  telah  menimpa  gurunya,  diapun me muji kecerdasan Bun-ji Koan-su dalam mendala mi kepandaiannya, semua perasaan yang bercampur-baur itu segera  dila mpiaskan keluar me lalui suara nyanyian maut itu.

Hal ini me mbuat anak muda tersebut makin menyukai lagunya,  dia merasa lagu tersebut merupakan lagu yaag paling mengenaskan dan paling me medihkan hati didunia ini. . . . .

Rupanya pada saat ini Ku See hong telah berhasil me maha mi arti kata dari nyanyian "Dendam Sejagad". Nada bait kedua dan bait ketiga jelas me la mbangkan seluruh penderitaan serta percobaan yang pernah dialami Bun-ji koan-su dalam sejarah kehidupannya.

Makin menda la mi arti kata dari bait syair lagu "Dendam Kesumat", Ku See hong merasakan hatinya ma kin sedih, tanpa terasa diapun teringat ke mbali dengan Keng-Cin-s in, si gadis cantik yang berkorban baginya.

Seluruh perasaan cintanya yang me mbara dan sela ma ini terpendam dalam hati kecilnya segera dilampiaskan keluar, ibarat omba k sa mudra yang bergulung saling berkejaran, sela manya tak akan pernah berakhir, se mentara titik air mata  jatuh bercucuran  me mbasahi seluruh tubuhnya . . . . . . .

Waktu itu persis kentongan ketiga tengah ma la m.

Rembulan berada diangkasa me mancarkan cahayanya yang indah dan menawan, bintang-bintang bertaburan diangkasa menghiasi langit yang gelap.

Tapi suasana disekitar tempat itu penuh diliputi oleh kesura man, keheningan, kesera man yang mengerikan.

Mayat demi mayat bergeletak diatas tanah tanpa berkutik, ketika angin barat yang kencang berhembus lewat menimbulkan suara gemeris ik daun pek-yang yang berguguran. Jeritan keras burung mala m bercampur dengan nyanyian yang me mbetot sukma ini, menjadikan suasana sera m.

Dengan termangu- mangu seperti orang yang kehilangan ingatan, Biau-ki siangsu serta Sin-hong-hwee-biau berdiri tak berkutik disitu, demikian pula dengan Ku See hong yang lagi dirundung kesedihan.

Ditengah tanah pekuburan yang penuh berserakan batu nisan, mereka berdiri bagaikan tiga sosok mayat hidup. Bila secara kebetulan ada orang yang datang kesitu, niscaya mereka akan ketakutan setengah mati.

Mendadak, pada saat itulah . . . .

Dari balik pekuburan yang berserakan itu pelan-pelan berjalan keluar se-sosok mayat hidup yang mengena kan pakaian serba putih!

Bukan . . . ,`dia bukan mayat hidup', mela inkan  seorang pemuda berbaju putih yang berwajah sedingin es ! Sebilah pedang berbentuk ular yang berwarna kuning perak tersoreng dipunggungnya.

Gerakan tubuh orang itu sangat ringan seperti sukma gentayangan, kakinya tidak menginjak tanah, tanpa menimbulkan sedikit suara-pun dia mende kati Ku See-hong sekalian, lalu berhenti tak bergerak pada jarak dua kaki dihadapan mere ka.

Dengan sorot mata yang dingin bagikan salju, diawasinya tiga orang yang berada dihadapannya bergantian.

Tiba-tiba sekulum senyum sinis penuh ce moohan tersungging diujung bibirnya.

Setelah hening beberapa saat, pemuda berbaju putih itu mendonga kkan kepala dan tertawa seram. Suaranya dingin menggidikkan hati, sedemikian menggidikkan sehingga sama sekali tidak me mbawa bau kehidupan ma nusia.

Dengungan keras mengge ma di angkasa ,menyusul berakhirnya tertawa dingin itu. Dari sini bisa diketahui kalau tenaga dala mnya telah mencapa i puncak kese mpurnaan. Mendengar suara tertawa yang menusuk telinga bagaikan beribu ekor kuda lari bersa ma itu-, mecorong sinar menggidikkan dari balik mata Ku See hong, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah orang itu. Diam-dia m ia agak terkesiap, tapi selanjutnya dengusan dingin penuh hinaan bergema me menuhi angkasa.

Bian-ki siang-su In Han im serta Sia hong hwee ciau Lui-Ki segera tersadar kembali oleh tertawa itu.

Begitu melihat  siapa pendatangnya, Biau-ki siangsu merasa terkesiap-, ia sadar kalau suatu pertempuran sengit tak dapat dihindari jika orang itu benar seperti apa yang diduganya, maka berarti tiada keyakinan lagi Ku See hong, untuk menangkan pertarungan ini. Andaikata pemuda she Ku itu sampai kalah, ma ka sudah dapat dipastikan, nasib tragis menanti didepan mata.

Dengan wajah dingin dan kaku serta sikap yang angkuh dan jumawa pe muda berbaju putih itu menegur dengan suara dala m,

"Siapa yang telah me mbawakan nyanyian barusan?"

Ku See hong berkerut kening, dari balik matanya terpancar pula sinar keangkuhan yang jauh lebih tebal, sa mbil me ndongakkan kepalanya dia tertawa panjang, suaranya nyaring bagaikan pekikan naga.

Kemudian sa mbil berhenti tertawa ujarnya dengan suara yang jauh lebih dingin daripada pemuda berbaju putih itu,

"Saudara lebih baik kurangi sedikit sikap congkakmu dihadapan pembawa lagu itu !"

Paras muka pe muda berbaju putih itu mas ih tetap dingin tanpa emosi, ia ter menung sebentar, lalu ujarnya dingin:

"Kalau begitu kau adalah mur id manus ia aneh dari dunia persilatan Bun-ji koan-su yang berna ma Ku See hong!?"

Baik, sikap maupun nada suaranya amat angkuh dan juma wa sedikitpun tiada rasa kehangatan. Suara semaca m itu hanya me mbuat bulu kuduk pada bangun berdiri, dan peluh dingin jatuh bercucuran.

Ku See hong mendengus dingin, "Saudara, kalau begitu kau pastilah Cing-hay khi sau yang tersohor karena keangkuhannya itu?" katanya pula sinis.

Agak terkesiap pemuda berbaju putih itu, setelah mendengar perkataan lawan, tapi diluaran dia tetap berkata dengan  wajah tanpa emosi:

"Hmm, tampaknya cukup tajam juga pandangan mata mu, bagus, sekarang aku hendak bertanya kepadamu-, taklukkah kau dengan ilmu silat dari Cing hay pay?"

"Akupun hendak bertanya kepadamu taklukkah kau dengan ilmu silat dari Bun-ji koan-su . . .?" Ku See hong balik bertanya.

Tampaknya pemuda berbaju putih itu seperti tak pernah menyangka kalau Ku See hong bakal mengajukan pertanyaan serupa,  setelah  tertegun  sesaat  dengan  cepat  wajahnya  pulih ke mbali dalam sikap yang dingin dan kaku. Dengan senyum tak senyum dia berkata:

"Bagus! Bagus sekali! Agaknya ma lam ini aku sudah bertemu dengan musuh yang tangguh."

Setelah hening sejenak, mendadak dengan wajah dingin dan suara keras dia me mbentak:

''Ilmu silat dari daratan Tionggoan cuma per mainan buruk dari anak kecil, aku orang she Ciu tidak takluk!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See hong, dia segera balas me mbentak:

"Ilmu silat aliran Ciang hay pay hanya ilmu sesat dari golongan hitam, ilmu yang tak seberapa itu lebih mirip per mainan anak kecil, tentu saja aku orang she Ku pun tidak takluk !!" "Bagus, bagus, kalau begitu tak ada salahnya jika kita saling mencoba kepandaian masing- mas ing.!" ujar pe muda berbaju putih itu sa mbil tertawa ha mbar.

"Bagus sekali!" jengek Ku See hong pula sa mbil tertawa dingin, "kalau cuma beradu mulut belaka sa ma sekali tak ada  gunanya, lebih baik kita saling beradu kepandaian saja!"

"Biau- ki siangsu In Han im cukup sadar seandainya dua orang jagoan muda ini sampai saling bertarung, sudah pasti akibatnya akan mengerikan.

`Orang bilang bila dja ekor harumau berkelahi, salah satu diantaranya pasti terluka`.

Betul si pe muda berbaju putih itu sombong dan juma wa, namun wajahnya me mancarkan sinar kegagahan..., jelas dia bukan serang manus ia buas dari golongan sesat.

Dalam keadaan dunia persilatan yang sedang terancam bahaya maut, dimana pengaruh iblis sedang meraja-lela, andaikata dua orang jago itu sa mpai bertarung dan sa ma-sama terluka, bukankah hal ini akan sangat merugikan kepentingan umat persilatan dari golongan golongan lurus didunia ini.. ?'

Biau-ki siangsu In Han im segera putar otak sambil  berpikir keras, mendadak dia maju dua langkah kedepan, lalu ujarnya  deagan suara lantang:

"Ciu sauhiap ...., Ku sauhiap, ujung langit adalah  tetangga, empat penjuru adalah saudara, untuk saling mengukur kepandaian mah boleh saja, tapi tak perlu saling ngotot untuk beradu jiwa, lebih baik pertarungan dibatasi saling menutul saja, Asal menang kalah sudah ditentukan, pertarungan tak usah dilanjutkan dan alangkah baiknya bila kalian bisa da mai sebagai te man.”

“Ketahuilah, dunia persilatan dewesa ini sedang diliputi oleh ancaman badai yang amat dasyat, setiap orang sedang dicekam perasaan takut dan jiwa setiap orang diancam maut, suatu bencana besar sudah mulai berke mbang dalam dunia persilatan, aku harap sauhiap berdua suka bekerja sama saja untuk melawan datangnya ancaman maut yang sedang mengincar umat  persilatan  daripada me mbuang tenaga untuk saling mengukur kepandaian, toh sumber dari ilmu silat sesungguhnya adalah sa ma?"

Ketika mendengar perkataan dari In Han in yang a mat gagah dan masuk diakal itu, baik Ku See hong mau pun pe muda berbaju putih itu sama-sa ma merasakan hatinya bergetar, tapi dasar anak muda yang berdarah panas, mungkinkah mereka dapat mengesampingkan pertarungan tersebut dengan begitu saja?

Dalam pada itu, pe muda berbaju putih tersebut telah berseru dengan suara dingin:

"Orang she Ku, silahkan kau lancarkan seranganmu !"

"Orang she Ciu !" balas Ku See hong dengan wajah sedingin es, "Kau datang dari Cing-hay, hitung-hitung sebagai tamu yang datang dari jauh, lebih baik kau saja yang melancarkan serangan lebih dahulu!"

Ku See hong adalah pe muda yang angkuh dan dingin, ia tidak 'me mandang serius setiap pertarungan yang ke mungkinan akan berlangsung. Akan tetapi, berhadapan dengan pemuda berbaju  putih itu entah mengapa t iba tiba saja hatinya terasa tegang dan wajahnya berubah menjadi a mat serius.

Dia cukup mengetahui betapa, seriusnya persoalan yang sedang dihadapinya, maka dia se makin tak berani me mandang secara gegabah, begitu berdiri tegak, segenap perhatiannya dipusatkan menjadi satu, hawa murninya dihimpun menjadi satu dan seluruh kesiagaannya ditingkatkan setinggi-tingginya.

Pemuda berbaju putih itu sendiripun tak berani bertindak secara gegabah, dia tahu pemuda yang berada dihadapannya itu meski diluarannya tampak biasa, sesungguhnya dia me miliki ilmu  silat yang belum pernah dihadapi sebelumnya, diam-dia m hawa murni yang dimilikipun dihimpun menjadi satu. Empat jalur sinar mata yang tajam menggidikan hati  segera saling bertatapan tanpa berkedip, suasana disekeliling te mpat itupun menjadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.

Ditengah suasana hening yang menggidikkan hati itu, penuh diliputi keseraman, kengerian serta ketegangan yang me munca k.

Hawa pembunuhan telah menyelimuti seluruh angkasa, setiap saat suatu pertarungan yang menggidikkan hati ke mungkinan besar akan meletu serta berkobar.

Mendadak pemuda berbaju putih itu tertawa dingin dengan suara menyeramkan. Suara tertawa dingin itu rendah dan berat menggetarkan sukma, me mbuat La m-ciau pak-siang  yang menonton ja lannya pertarungan itu segera merasakan hatinya turut tercekat.

Menyusul ke mudian terdengar suara seseorang mendengus dingin.

"Weess....!" ditengah desingan angin taja m, segulung angin pukulan yang sangat tajam dan kuat segera me luncur ke muka.

Diantara pusaran angin berpusing yang menyebar keempat penjuru, Ku See hong dan pemuda berbaju putih itu berdiri saling bertatapan muka e mpat mata  bertemu,  dengan  masing  masing me mancarkan cahaya kegusaran.

Lam- ciau pak-s iang yang menyaksikan kejadian itu sa ma-sa ma merasa terkesiap... rupanya berbareng dengan bergemanya suara tertawa dingin tadi, pemuda berbaju putih dan Ku See hong telah saling bertukar satu pukulan dengan kecepatan luar biasa!

ooooOdwOoooo

SAKING CEPATNYA gerakan tubuh kedua belah pihak didalam me lakukan penyerangan tadi, ternyata dengan ketajaman mata Lam- ciau pak-s iang pun tak sempat me lihat jelas dengan jurus apakah kedua belah pihak saling bertukar pukulan.

Tapi mereka sempat juga menyaksikan tubuh kedua orang itu saling mener kam dengan kecepatan tinggi, tangan kanan masing- masing pihak melepaskan sebuah pukulan aneh dari suatu sudut yang  tak  terduga,  kemudian  mas ing- masing  pihak  telah  balik ke mbali keposisinya se mula.

Setelah terjadinya bentrokan secepat kilat itulah, perasaan masing- masing pihak berta mbah hebat, pikirnya ha mpir berbareng:

`Untung aku me mpunyai ketajaman mata yang luar biasa, coba tidak, bisa jadi aku sudah ma mpus diujung serangannya itu.`

Suasana tegang, menyeramkan mas ih tetap menyelimuti seluruh angkasa, bagaikan mengikuti berlalunya sang waktu, ma kin la ma suasana semaca m itu se makin menebal.

Di bawah timpaan cahaya rembulan dan bintang, pemuda berbaju putih dan Ku See hong masing- mas ing menggerakkan langkah kaki mere ka yang pelan dan berat, mendekati pihak lawannya....

Bagi jago lihay yang sedang bertarung, bila ada setitik kele mahan saja yang terbuka, niscaya peluang tersebut akan dimanfaatkan lawannya untuk merobohkan lawan, maka geseran kaki mere ka berdua pun dilakukan secara beraturan, setitik kele mahanpun sa ma sekali tak boleh terlihat.

Makin la ma makin mende kat . . . .

Kini jarak kedua belah pihak sudah t inggal tiga depa, tapi berhubung tiada kese mpatan yang bisa dimanfaatkan, serta merta mereka berdua sa ma-sama menghentikan gerakan tubuhnya.

Dengan suatu gerakan cepat Ku See hong mengangkat telapak tangan kirinya ke atas, sementara tangan kanannya dengan mengepal kencang disilangkan didepan dada.

Pada saat yang bersamaan, pemuda berbaju putih itupun mengangkat telapak tangan kanannya menghadap langit dengan telapak tangan kiri disilangkan didepan dada, kaki kiri diluruskan ke belakang se mentara kaki kanan agak mene kuk, bentuknya sangat aneh. Diko mbinasikan wajahnya yang dingin me nyeramkan, posisinya sekarang cukup me mbikin hati siapapun bergidik........ 

Lam- ciau pak-siang adalah seorang tokoh persilatan yang sudah la ma termashur dalam dunia persilatan, pemandang gaya serangan yang ditunjukkan ke dua orang itu, dia m-dia m mereka merasa kagum sekali atas kelihayan ilmu silat yang dimiliki kedua orang pemuda tersebut.

Sebab didalam gaya serangan mana, pada hakekatnya mustahil bagi orang untuk menyarangkan serangannya ditubuh lawan, sebab hampir se mua bagian yang penting dan me matikan ditubuh lawan telah terlindung rapat, entah jurus serangan maca m apapun yang digunakan lawan, sulit bagi lawan untuk melo loskan diri dari jurus serangan ampuh yang tersembunyi dan me mat ikan.

Begitulah, dua orang jago muda yang berilmu tinggi itu saling berhadapan tanpa bergerak..., Seperminum teh sudah lewat tanpa terasa, namun kedua belah pihak belum juga melakukan suatu tindakan.

Padahal, sekalipun tubuh mereka tak bergerak, otak mereka berputar bagai putaran roda kereta, dengan suatu kecepatan yang luar biasa mereka berusaha me meras otak dan mencari gerakan yang bisa dipakai untuk me matahkan pertahanan lawan.

Mendadak.....

Ujung kaki kanan pe muda berbaju putih itu dihentakkan keras- keras keatas tanah, kemudian seluruh badannya menyusup keluar bagaikan kilatan cahaya kilat, gerakan mundur tanpa melancar kan serangan ini jelas merupakan suatu pancingan untuk me mancing pihak lawan me lancarkan serangan.

Walaupun Ku See hong tahu kalau gerakan pancingan, namun pemuda yang angkuh dan keras hati ini berhasrat besar untuk mencoba kelihayan jurus serangan lawan. Maka dia me ndengus sinis, ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong yang maha dahsyat segera dikerahkan, berada di udara tubuhnya laksana kilatan cahaya bintang me luncur ke luar.

Dalam waktu singkat dia telah mengikuti gerakan tubuh pe muda berbaju putih itu me layang turun ke tanah.

Pemuda berbaju putih itu segera mendengus dingin, tubuhnya bagaikan gulungan o mbak ditengah sa mudra segera menggulung balik ditengah gulungan mana sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan, kakinya melancarkan tendangan bersa ma dengan gerakan aneh. 

Dalam sekejap mata, dia telah lepaskan duabelas tendangan dengan delapan belas buah pukulan terantai, kecepatannya benar- benar menyilaukan mata.

Angin pukulan me nderu-deru dan menyesakkan napas, bagaikan gunung yang a mbruk saja, seluruh angkasa penuh dengan pusaran angin yang a mat menyilaukan mata.

Ku See hong me mbentak gusar, sepasang lengannya diputar pula dengan cepat melancarkan serentetan pukulan dahsat.

Angin pukulan yang le mbut tapi menyesakkan napas, bagaikan jaring langit, dengan me mbawa kekuatan yang maha  dahsyat segera menggulung kedepan. Begitu rapatnya ancaman tersebut sehingga sukar untuk mene mukan setitik celah kosong pun.

-oodwoo-