Dendam Sejagad Jilid 15

Jilid 15

TERNYATA kurang lebih dua puluh kaki dihadapan Ku See hong, terbentang sebuah air terjun yang a mat besar ... .

Kalau dibilang besar sekali me mang tidak, tapi ukuran air terjun terhitung ukuran besar.

Airnya mengalir kebawah dari atas tebing yang terjal dan menghanta m  diatas batuan   besar   dibawahnya,   butiran   air  me mancar ke e mpat penjuru menciptakan selapis kabut air raksasa yang berbentuk bagaikan selapis cer min itu. Air yang tertampung di bawah tebing me mbentuk dua buah jalur sungai dan mengalir turun kebawah permukaan puncak dalam dua arah yang berlawanan, suara air yang me mercik,  dita mbah pepohonan siong yang tumbuh disebelah sana, me mbuat pemandangan alam disekeliling te mpat itu terasa lebih indah dan permai.

Yang lebih indah lagi adalah terlihat seorang gadis berbaju putih yang berperawakan ramping, sedang duduk diatas batu ditepi air terjun sambil me metik senar-senar harpa.

''Criing. . . criing. . " irama harpa yang merdu me mancar keluar dari balik harpa kuno itu.

Mendadak Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras, dia merasa bayangan punggung gadis itu sangat dikenal olehnya, mirip sekali dengan bayangan punggung Keng Cin sin yang telah tiada.

Walaupun gadis cantik berbaju putih itu duduk menghadap kearah air terjun itu na mun bayangan punggungnya na mpak begini ramping, begitu mungil, ra mbutnya terurai sebahu, tak usah dilihat paras mukanyapun dia sudah tahu kalau gadis tersebut adalah seorang gadis yang cantik jelita..

Pakaian putihnya berkibar terhembus angin, apalagi berada ditempat yang terpencil seperti ini, orang bisa salah menduganya sebagai bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Akan tetapi ira ma lagu yang dibawakan mas ih merupa kan ira ma lagu yang sedih perih dan me mikukan hati.

Me mandang bayangan punggung gadis itu, tanpa terasa dalam benak Ku See hong muncul ke mbali bayangan tubuh dari Keng Cin sin serta peristiwa tragis yang pernah diala minya.

Rasa sedih dan hati yang terluka parah dalam hati Ku See hong, dengan cepat terpengaruh oleh ira ma sedih dari ira ma harpa itu.

Lambat laun hatinya terasa seperti mengucur kan darah, air mata bercucuran me mbasahi pipinya, untuk sesaat dia berdiri termangu disitu, bagaikan sebuah patung arca. Mendadak per mainan harpa itu berhenti, tapi Ku See hong yang romantis masih berdiri mela mun  peristiwa  paling  tragis  yang  diala minya dalam istana Huang mo kiong di Lam hay masih saja mence kam seluruh benaknya, seluruh pikiran maupun perasaannya seakan-akan telah balik keperistiwa la ma.

Sementara itu gadis cantik bagaikan bidadari itupun masih duduk me me luk harpanya sambil mengawas i air terjun di hadapannya dengan pandangan termangu ia seperti merasakan sesuatu kepedihan yang a mat sangat.

Tiba tiba ia me nghela napas panjang.

Helaan napas tersebut kedengaran begitu merdu, begitu le mbut, tapi amat nyaring.

Oleh suara helaan napas tersebut, Ku See hong merasakan darah panas dalam dadanya bergoncang keras. bagaikan baru mendusin dari impian, buru-buru dia me musatkan ke mbali perhatiannya dan me mandang lagi kearah gadis cautik itu.

Ternyata dia mas ih tetap duduk ditempat se mula.

Setelah menghe la napas panjang terdengar gadis itu mulai bersenandung lir ih....

Nada  yang  sedih,  bait-bait  syair  yang  penuh  sedu  sedan  me mbuat orang yang mendengarkan turut beriba hati.

Ketika gadis itu sedang bersenandung, bagaikan sesosok bayangan setan Ku See hong segera meluncur ke depan  dan berhenti lebih kurang dua kaki dibelakang gadis tersebut.

Mendadak gadis itu bangkit berdiri lalu berpaling.

Aaaah, betapa cantik dan menariknya gadis itu...

Sewaktu Ku See hong dapat melihat jelas paras mukanya yang cantik itu, mendadak sekujur tubuhnya bergetar keras, bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi,  paras mukanya  berubah hebat, dia seperti merasa sangsi, keheranan, terkejut juga kegirangan. Ia sangsi dan keheranan karena dia sebetulnya sukma gentayangan ataukah setan penasaran?

Dia terkejut dan ge mbira karena ia masih hidup,  bahkan sekarang berdiri didepan mata.

Ternyata paras muka gadis itu begitu mir ip dengan Keng Cin sin

.... Keng Cin sin yang telan mati dipulau Huan mo to di Laut selatan, segala sesuatunya begitu mirip, entah paras mukanya,  matanya, bulu matanya, hidungnya maupun potongan badannya, tiada sebagian pun yang tidak mirip.

Benarkah dia adalah Keng Cin sin? Benarkah dia belum mati?

Sebaliknya paras muka gadis itu sa ma sekali t idak diliputi oleh perasaan kaget atau keheranan,  sepasang  matanya  yang  penuh ke murungan sedang mengawasi wajah Ku See hong tanpa berkedip.

Gadis itu nampa k begitu anggun, begitu menarik bagaikan sekuntum bunga teratai putih.

Sambil me nga mati terus paras muka gadis itu, tiada hentinya Ku See hong menjerit dalam hatinya:

"Dia adalah Keng Cin sin, yaa dia  sudah pasti adalah Keng  Cin sin, dia belum mati, dia mas ih hidup segar bugar dihadapanku, coba lihatlah sepasang matanya, mimik wajahnya, inilah mimik wajah  Keng Cin-sin ketika pertama kali kujumpai dirinya, tak mungkin bisa salah lagi, dia. . . dia adalah adik Sin yang kupikirkan, kurindukan siang dan ma la m "

Pelbagai pikiran terasa dia maju beberapa langkah ke depan, lalu berseru keras:

"Adik Sin, apakah kita sedang bermimpi? Adik Sin, tahukah kau betapa rindu ku kepada mu "

Gadis cantik itu na mpak keheran-heranan, seperti merasa bingung  oleh  seruan  tersebut,  sepasang  matanya   yang   jeli  me mancarkan sinar keheranan, dia hanya mengawasi seluruh tubuh Ku See hong tanpa berkedip,  sementara  mulutnya  masih  tetap me mbungka m dalam seribu bahasa.

Kembali Ku See-hong maju beberapa lanngkah ke depan, kini jaraknja tinggal tiga depa dari gadis cantik berbaju putih itu, bahkan la mat-la mat dia dapat mendengus bau harum tubuhnya, bau harum seorang gadis perawan, bau harum sangat dikenal olehnya dan tak akan pernah dilupakan olehnya sepanjang masa.

Dengan suara le mbut ke mba li, Ku See hong berkata:

"Adik Sin, senja itu aku sempat mendentgar jeritan ngerimu yang me milukan hati, hampir saja kukira  kau sudah meninggalkan dunia ini dan sela ma hidup tak pernah bisa bersua lagi, waktu itu hatiku benar-benar hancur tak karuan. Aku tidak menyangka kalau kau masih hidup di dunia ini, mengapa kau tidak datang mencar iku....

mengapa kau tidak r indu kepadaku ......

Kesadaran Ku See-hong boleh dibilang sudah dipergaruhi oleh bayangan tubuh Keng Cin-sin, sampai mat i dia menganggap gadis yang berada dihadapannya sekarang adalah Keng Cin-sin dari pulau Huah- mo-to di Lam hay, oleh karena itu tiada hentinya dia mengutarakan perasaan hatinya yang selama ini terpendam terus dalam benaknya....

Mendengar kata-kata cinta yang diutarakan si anak muda itu, Gadis berbaju putih tersebut segera berkerut kening, sedengkan paras mukanya juga ta mpak berubah makin kebingungan.

Ku See-hong makin gelisah ketika di lihatnya gadis itu tidak berbicara maupun bergerak, sekali lagi serunya:

"Adik Sin, mengapa kau tidak berbicara? Tahukah kau betapa rinduku kepada mu, aku menda mbakan sepatah katamu......

berbicara lah, janganlah me mbisu terus '

Tiba-tiba gadis berbaju putih itu tersenyum, dengan suara yang merdu merayu katanya:

"Hei sebenarnya apa sih yang sedang kau bicarakan?" Nada suaranya begitu mir ip dengan suara Keng Cin sin, merdu dan indah didengar bagaikan kicauan burung nuri.

Kesemuanya ini me mbuat Ku See-hong se ma kin yakin kalau gadis yang berada dihadapannya adalah Keng Cin sin.

Dengan sangat gelisah bercampur cemas, pemuda itu segera berseru:

"Adik Sin, kau sudah tidak kenal diriku lagi? Aku adalah Ku See- hong, Ku See-hong yang telah ditangkap Sau-kiongcu dari pulau Huan- mo to di La m-hay, akulah Ku See hong yang telah disiksa secara keji oleh Cia sau- kiongcu, kan "

"Pulau Huan mo to di Lam hay?'' gadis berbaju putih itu sema kin kebingungan dan tidak habis mengerti, ''belum pernah kudengar nama pulau ini..''

Ku See hong betul-betul merara amat sedih setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan suara yang me milukan hati:

"Adik Sin, apakah kau sedang mengajak ku bergurau? Aku adalah Ku See hong! Aku adalah Ku See hong yang sangat mencintai mu!"

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba gadis berbaju putih tersebut tertawa cekikikan.

"Hei, mungkin otakmu sudah sinting atau tidak waras? Kalau tidak, mengapa kau me ngoceh se mbarangan?"

Sekalipun sedang me maki Ku See hong, tapi suaranya kedengaran begitu le mbut dan halus, sama sekali tidak menunjukkan sikap marah, malahan kecantikan wajahnya bertambah menarik dalam keadaan seperti ini!.

Ku See hong me mang seorang pe muda yang berwajah dingin berhati kaku dan keji tanpa perasaan, tapi sesungguhnya dalam hati kecilnya tertanam perasaan yang amat kaya, begitu ia jatuh hati kepada seorang gadis ma ka sa mpai berapa r ibu tahun lagipun rasa cintanya itu takkan pernah bisa berubah. Dan hal ini merupa kan suatu kelebihan yang dimiliki pemuda tersebut. Sewaktu berada di pulau Huan mo to, rasa cintanya yang tertanam dalam-dala m dihati nya telah digali dan dike mbangkan oleh kasih sayang Keng Cin sin, cinta yang mulai berke mbang itu mulai me mbekas di dalam hatinya dam tak pernah berubah ke mba li.

Itulah sebabnya meski ia mendengar gadis itu menda mpratnya, me ma kinya dan men-ce moo h dirinya, namun ia tidak merasa gusar, juga tidak merasa tersinggurg, malahan dengan nada yang pedih ia berkata lagi.

''Adik Sin, dulu  kau begitu cinta, begitu sayang kepadaku, sekalipun tubuhku harus hancur lebur perasaan kasih sayangmu itu tak akan pernah kulupakan, sekarang walau pun kau  me makiku,  me mukulku, me mbunuh ku, aku tak akan pernah berkerut kening`

Sebaliknya waktu itu gadis berbaju putih terlebih mengira Ku See hong adalah seorang yang sinting atau seorang hidung bangor yang bermaksud untuk menggaetnya dengan sengaja mengucapkan kata- kata bohong.

Tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat, selapis hawa napsu me mbunuh yang a mat tebal segera menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara dingin ia berkata:

'Jika kau tidak segera pergi meninggalkan tempat ini, sebentar tubuhmu pasti akan hancur lebur menjadi bubuk"

Saat itu kesadaran Ku See hong boleh di bilang sudah hilang, dalam benaknya cuma ada bayangan tubuh dari Keng Cin sin saja.

Dia hanya tahu kalau gadis yang berada dihadapannya adalah kekasih hatinya, terhadap ancaman dari gadis itu, justru dia tidak menganggapnya sebagai suatu masa lah gawat.

Sambil tertawa pedih kembali dia berkata: "Adik Sin, kehidupanku hari ini adalah pe mberian darimu, maka sekarang walaupun aku harus mati diujung telapak tanganmu, aku akan menerimanya dengan senang hati, sekalipun aku sudah mati, namun cinta kasihku kepadamu tak pernah akan berubah, tak akan berubah untuk selama- la manya!'' Aaaai... " Cinta me mang me mpunyai  kekuatan  iblis  yang menger ikan, walaupun setiap manus ia tahu bahwa cinta berarti kuburan, neraka bagi manusia, tapi toh mereka akan mencobanya juga dengan mata terpejam, bahkan sekalipun nama harus  rusak dan harus binasa, mereka tetap melakukannya tanpa ragu."

Tapi apa sebabnya? Apa yang menjadi penyebabnya?

Karena napsu birahi? Ataukah cinta yang murni?, Hingga kini belum ada orang yang bisa me mberi jawaban yang pasti.

Dari dulu hingga sekarang, siapakah dalam masyarakat yang bisa me lupakan cinta kasih?'' jago darimanakah yang  bisa menghindarkan diri dari godaan cinta.

Sepasang mata si nona cantik berbaju putih itu dari awal sa mpai akhir mengawasi terus mimik wajah Ku See hong sewaktu berbicara tanpa berkedip, tapi dia tidak berhasil mene mukan setitik kelicikan atau kebusukan diatas wajahnya...`

Tampaknya ia dibuat terharu juga oleh begitu dala mnya rasa cinta Ku See hong terhadap Keng Cin sin, tiba-tiba paras mukanya berubah kemba li menjadi sedia kala, sambil menghela napas sedih ujarnya:

'Bukan aku yang hendak me mbunuhmu, melainkan orang lain yang hendak me mbunuhmu, sekarang lebih baik menyingkirlah dari sini, pergilah jauh-jauh meninggalkan tempat ini, kalau tidak, bila sampai terla mbat maka kau tak akan sempat lagi untuk me larikan diri"

Tiba-tiba mencorong sinar api dendam yang me mbara dari balik mata Ku See hong, serunya dengan penuh kegusaran:

''Aku Ku See hong tak akan takut menghadapi kawanan manus ia durjana dan manus ia laknat dari Huan mo kiong, aku akan menggunakan  segenap  ke ma mpuan  dan  jiwa   ragaku   untuk me lindungi kesela matan jiwa mu, aku tak akan me mbiarkan mere ka me lukai dirimu, walau hanya seujung rambutpun. Adik Sin, minta kepadamu sudilah percaya kepadaku" Mendengar perkataan itu, wajah nona berbaju putih yang selama ini  selalu  tenang  pun   menjadi  beriak  dan  bergelombang  oleh le mparan batu kecil dari Ku See hong itu.

Wajahnya memperlihatkan sinar mata penuh rasa kuatir, seperti juga perasaan kuatir yang dipancarkan dari mata Keng Cin sin ketika mencegah Ku See hong untuk me masuki istana Huan mo kiong.

Yaa, pancaran sinar mata itu begitu mirt ip, segala sesuatunya bagaikan jelmaan dari Keng Cin sin, mungkinkah dia betul-betul adalah Keng C in sin asli?

”Siapakah yang dapat member ikan jawaban yang pasti atas teka- teki ini... ?"

Kecuali pada saat ini muncul lagi seorang Keng Cin sin yang lain, tapi mungkinkah itu? Serentetan pertanyaan ini sulit untuk dijawab, yang bisa dilakukan hanya menanti .... menanti. .. dan menant i terus ....

Dengan wajah penuh perasaan kuatir, nona berbaju putih itu berkata lagi dengan lirih:

"'Aaaai . . . yang bermaksud untuk me mbunuhmu bukan orang- orang dari istana Huan mo kiong, mela inkan adalah '

Sesungguhnya gadis itu akan mengatakan yang sebenarnya, tapi suatu teguran yang muncul dari lubuk hatinya me mbuat ia  segera me mbungka m diri dalam seribu bahasa.

Sambil mengertak gigi menahan e mosi Ku See hong berkata dengan penuh kebencian.

''Adik Sin, manusia laknat manapun yang berada dalam dunia ini tak nanti bisa mengus ikmu, aku tidak takut mereka datang mencar i gara-gara denganku, aku hendak punahkan mereka dari muka bumi, agar menerima pe mbalasan yang setimpal".

Mendadak paras muka gadis berbaju putih itu berubah hebat, bentaknya dengan suara keras: "Kau harus segera pergi dari sini! Sekarang juga harus pergi, kalau tidak jangan salahkan kalau akan bertindak keji kepada mu.''

Selesai mengucapkan perkataan itu, tidak na mpak gerakan apa yang  digunakan  tahu-tahu   gadis   berbaju   putih   itu   sambil  me mbopo ng harpanya sudah melayang maju sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Gerakan tubuh yang begitu indah dan le mbut tersebut benar- benar amat me mper-sonakan hati, tapi juga  menunjukkan  kalau ilmu mer ingankan tubuh yang dimilikinya benar-benar telah mencapai puncak kese mpurnaan.

Terkesiap hati Ku See-hong setelah menyaks ikan paras dingin dan penuh diliput i napsu me mbunuh yang menyelimuti wajah gadis ini, cepat-cepat pikirnya:

"Mungkinkah dia bukan Keng Cin-s in dari pulau Huan- mo- kiong di lautan selatan? Tidak, tidak, dia pasti adalah Keng C in sin . . . mungkin saja ia sengaja berbuat demikian  karena takut aku terpengaruh oleh cinta muda- mudi sehingga me lupakan cita-cita ku yang sebenarnya atau mungkin ia benar-benar sudah berubah?"

Ia ke mudian berpikir lebih jauh:

'Kalau didengar dari suara petikan harpanya begitu sedih, menyendir i dan menyedihkan hati, mungkin dia tak mau aku karena dalam hatinya terkandung suatu rahasia hati yang sukar diutarakan

.......’

Pelbagai ingatan dengan cepat menyelimut i seluruh benaknya, sementara gadis berbaju putih itu sudah tiba disisi sungai  kecii ditepi bukit.

Pemuda itu menjadi sangat gelisah, segera teriaknya keras-keras: "Adik Sin, tunggu sebentar, ada persoalan penting yang hendak

kusa mpaikan kepada mu, kau "

Nada ucapan penuh dengan kesedihan dan keperihan hati, sungguh me mbuat hati orang beriba. Sambil berkata lagi, tiba-tiba Ku See hong me lo mpat ke depan dan melayang ke belakang punggung si nona berbaju putih itu.

Dengan  suatu   gerakan   cepat   gadis   berbajiu   putih   itu   me mba likkan badannya, lalu dengan kening berkerut dan hawa pembunuhan yang menyelimuti wajahnya, ia berkata dingin:

"Bila kau berani menyusulku lebih jauh, seketika juga akan kusuruh kau ma mpus diujung telapak tanganku"

"Adik Sin, ma lam ini kau bisa berubah menjadi begini  rupa karena akulah yang telah mencelakaimu dosaku benar-benar sangat besar, sampai mati pun dosa ini sukar ditebus, kau "

Seraya berkata dia lantas merentangkan tangannya lebar-lebar siap me meluk tubuh gadis itu..

Setelah menyaksikan perbuatan Ku See hong yang begitu kurang ajar, nona berbaju putih itu semakin menyangka kalau Ku See hong adalah seorang lelaki hidung bangor, napsu me mbunuhnya segera muncul ke mba li, sa mbil me mbentak keras dia mengigos kesa mping menghindarkan diri dari terjangan Ku See hong.

Kesadaran Ku See hong waktu itu betul-betul sudah dipengaruhi oleh cinta buta, begitu tubrukannya kosong dengan cepat berkisar setengah lingkaran dan sekali lagi menubruk ke muka.

Ketika menghindarkan diri tadi, secara diam-dia m gadis berbaju putih itu sudah menghimpun tenaga dalamnya kedalam lengan kiri, maka setelah dilihatnya Ku See hong menubruk datang sekali lagi, dia segera tertawa dingin dengan suara menggidikkan. .

Kali ini dia tidak berkelit ataupun menghindar, kelima jari tangan kanannya disentilkan ke depan .... ''Sreet, sreet, sreet.." lima gulung desingan angin jari tangan yang tajam dengan cepat dan dahsyat langsung menghajar ja lan darah Yu bun, Ko kok, Sang ci, Mong gi, serta ki bun lima buah jalan darah penting.

Padahal waktu itu Ku See hong sedang menerjang  datang dengan kecepatan luar biasa, lagipula dia tak  menyangka  kalau gadis itu bakal me lancarkan serangan secara tiba-tiba, oleh karena itu, diapun tidak mengerahkan tenaga dalamnya untuk me lindungi badan.

Tak ampun lagi ke lima buah serangan dahsyat itu segera menghajar telak diatas lima buah ja lan darah penting ditubuhnya.

''Blaaamm ... blaaammm !''  benturan  keras  segera  bergema  me mecahkan keheningan.

Dengusan tertahan segera berkumandang di udara, darah segar menye mbur keluar dari mulut Ku See hong, paras mukanya juga berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tak ampun dia mundur dua langkah ke belakang dan pelan-pelan roboh le mas diatas tanah..

Tapi, sianak muda itu masih sempat tersenyum, sambil menahan penderitaan dan rasa sakit yang menceka m dalam tubuhnya, ia berkata dengan suara pedih:

"Adik Sin, aku tidak menyalahkan kau yang telah melancarkan serangan keji kepadaku, karena cinta kasih yang kau berikan kepadaku lebih dalam daripada samudra, sekalipun badan harus hancur, akupun tak dapat membayar budi kebaikanmu itu. Sekarang sebelum ajalku t iba aku hendak me ngutarakan isi hatiku, entah kau telah berubah menjadi bagaimana, aku tetap mencintaimu, sekarang aku telah mencintaimu, di alam bakapun aku tetap mencintaimu, aku..."

Berbicara sampa i disini, pemuda itu muntah darah lagi, seluruh badannya mengejang keras dan ke mudian tergelepar diatas tanah tak berkutik lagi..

Paras muka gadis berbaju putih itu tampa k berubah hebat sesudah mendengar perka-taan itu, rasa sedih dan menyesal segera muncul dan menyelimuti hatinya.

Begitu Ku See hong roboh ke tanah, dia  segera berpekik sedih,  air matanya berderai, serunya dengan pedih:

"Ku sauhiap, aku yang salah, aku telah mela kukan me lakukan kesalahan, aku benar-benar berdosa kepadamu, juga berdosa kepada segenap umat persilatan di dunia ini, aaai. . . mengapa aku begini pikun? Mengapa aku mela kukan perbuatan sebodoh ini?"

Suaranya amat sedih, menyesal dan penuh rasa penyesalan.

Inilah wataknya yang benar, sifatnya yang masih polos dan belum terpengaruh oleh kejahatan tapi toh dia sudah me lakukan suatu kesalahan justru karena itu pula dia telah menciptakan suatu sejarah yang amat me milukan hati.

Diiringi pekikan sedih dan penyesalan, gadis berbaju putih itu tidak me mperdulikan lagi noda darah ditubuh pemuda itu,  dia segera menubruk kedalam pelukan Ku See-hong dan menangis tersedu-sedu.

Isak tangisnya benar-benar memilukan hati, kali ini bolen dibilang untuk perta ma kalinya dia menangis dengan sedih.

Suara air terjun yang gemuruh seakan-akan tak dapat menghilangkan suara tangisan nya yang me medihkan hati, sekeliling tempat itu seolah-olah diliputi oleh suasana murung dan sedih...

Setelah menangis sekian waktu, akhirnya gadis berbaju putih itu me me luk tubuh Ku See hong dan pelan-pelan bangun berdiri dengan air mata me mbasahi pipinya, dia berkata sedih.

“Tanpa sebab tanpa musabab aku telah me mbunuhnya,  aku telah    melakukan     kesalahan     terhadapnya,     aku     hendak me mbopo ngnya, mencari suatu tempat yang berpemandangan indah, menangis i sela ma tiga hari, kemudian menguburnya, dan menda mpingi terus disisi kuburannya. Aku tahu dia terla mpau kesepian, seperti juga aku, seorang lemah yang ditinggalkan se mua orang "

Setelah berbicara sampai disitu, hati keci nya seakan-akan tersentuh, air matanya segera  jatuh  berderai  dengan  derasnya, me mbasahi pipi Ku See hong yang pucat.

Sambil me mbopong jenajah Ku See hong, pelan-pelan dia berjalan menuruni bukit dengan menelusur i sungai Tiba-tiba. . . . pada saat itulah dari seberang sungai kecil itu berkumandang suara pekikan aneh yang tinggi melengking dan menggidikkan hati.

Begitu mendengar suara pekikan tersebut sekilas rasa ngeri dan takut segera menyelimuti wajah si nona berbaju putih itu, sebenarnya dia hendak mele mparkan jenasah Ku See -hong kesamping, akan tetapi ketika sepasang matanya menatap kembali paras mukanya yang pucat dan mengenaskan itu, suatu teguran yang muncul dari dasar hati kecilnya me mbuat ia  mengurungkan niat tersebut.

Dengan cepat selapis hawa a marah  menghiasi wajahnya, lengannya yang me me luk tubuh Ku See hong pun se makin kencang.

Mengikuti suara pekikan tersebut, tampak dua sosok bayangan manus ia muncul dari seberang sungai dan secepat kilat melunncur datang.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah berada di hadapan gadis berbaju putih itu dan berhenti dua kaki dihadapan dua orang, empat matanya mengawasi Ku See hong dalam bopongen gadis itu dengan sorot mata yang tajam, tapi diliputi perasaan tercengang.

Selama hidup belum pernah gadis berbaju putih itu bersentuhan dengan lawan jenisnya, ketika dia merasa sorot mata  kedua orang itu mengawas i Ku See hong yang berada dalam pelukannya tanpa berkedip, tanpa terasa paras mukanya berubah menjadi  merah padam. 

Dibawah sorot cahaya bintang, tampak pendatang itu adalah seorang kakek kurus kering yang berlengan panjang tapi kurus seperti bambu, mukanya bengis dan mengerikan, sedang sinar mata yang terpancar keluar dari balik matanya lebih tajam dari pada sembilu, me mbuat siapa saja yang memandangnya segera  akan tahu kalau orang ini me miliki tenaga dalam yang sangat se mpurna.

Orang kedua adalah seorang lelaki setengah umur yang berbaju ringkas berwarna hijau, berkepala besar, berpera-wakan tinggi besar, bermata besar, gigi bertaring serta mengge mbol dua buah senjata roda bergerigi yang amat besar, sinar mata orang inipun tajam menggidikkan hati, jelas merupakan seorang jagoan  yang lihay pula.

Setelah termangu- mangu beberapa saat lamanya, kakek kurus kering itu maju dua langkah ke muka ke mudian menjura dengan hormatnya kepada gadis berbaju putih itu, katanya dengan suara dalam:

"Ceng kuncu (Tuan Putri Ceng) ka mi mendapat perintah dari Hu kaucu untuk menanyakan bagaimana cara Kuncu  me mbekuk manus ia yang berna ma Ku See-hong ini?"

Serentetan  cahaya  tajam   yang   menggidikan  hati   segera me mancar pula dari balik mata sinona berbaju putih yang jeli, alis matanya berkenyit, lamat-lamat selapis hawa pe mbunuhan menyelimutinya, dengan suara dingin ia menjawab.

"Thian leng Tha mcu, kalian segera pulang dan laporkan kepada Ciu Hu kaucu Ku See hong telah kubunuh"

Ternyata kakek kurus kering ini adalah Tha mcu ketiga dibawah pimpinan Ciu Heng thian, Hu kaucu dari Ban shia kau yang di sebut orang Thian leng Tha mcu .... Mo pit siu (Kakek berlengan iblis) Kwong Yu siang Sedangkan le laki berpakaian ringkas itu adalah Hiangcu no mor satu dibawah ruangan Thian leng tham yang disebut Hong kun lun (roda angin guntur) Sin Bu.

Dia m-dia m Thian leng Tha mcu si kakek berlengan iblis Kwong Yu siang berkerut kering setelah menyaksikan paras muka si nona berbaju putih yang dingin bagaikan es itu diliput i oleh hawa pembunuhan yang tebal.

Setelah termenung sesaat, diapun berkata:

"Ku See hong berhasil dibunuh oleh tuan putri, hal ini benar- behar merupakan suatu peristiwa yang patut dirayakan dengan gembira, Tolong tanya jenasahnya kini berada di mana? Harap Tuan putri sudi me mberikan petunjuknya?" Paras muka gadis berbaju putih itu berubah ma kin serius, katanya sambil tertawa dingin:

''Jenasahnya kini berada dalam bopongan ku, mau apa kalian?"

Thiam leng Tha mcu si kakek berlengan iblis Kwong Yu siang adalah seorang yang licik dan berbahaya, sedari tadi ia sudah tahu kalau orang yang berada dalam bopongan gadis itu adalah Ku See hong, tapi ia merasa tidak habis mengerti, mengapa tuan putrinya yang  berwajah  cantik  tapi  selalu   bersikap   dingin   kaku  dan me mancar kan suatu sikap yang sukar didekati ini bisa me mbopong jenasah Ku See hong sa mbil berjalan ke mari.

Me mbunuh adalah me mbunuh, apa gunanya musti dibopong terus? Mungkinkah di balik kese muanya ini terdapat hal-hal yang tidak beres? Atau mungkinkah tuan putri nya sedang menipunya? .

Tanpa terasa dengan sorot mata yang sangat tajam dia awasi tubuh Ku See hong lekat-lekat, nyatanya tubuh yang berada dalam bopongan gadis itu adalah sesosok mayat.

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benak Kakek berlengan iblis Kwong Yu-siang, akhirnya dengan sikap yang amat menghor- mat dia berkata:

''Tuan putri dengan me mbo pong jenasah orang itu, hal ma na hanya akan menodai kesucian tuan putri saja, biarlah  lohu menyuruh Sim hiangcu me mbantu dirimu''

Mendengar perkataan tersebut lelaki berpakaian ringkas itu si Roda angin guntur Sim Bu segera maju ke depan me mbungkukkan badan me mberi hor mat dan berkata dengan suara parau:

"Tuan Putri berbadan e mas, biarlah aku orang she Sim..."

Gadis berbaju putih itu segera mendengus berat-berat, tukasnya dengan suara dingin:

"Jenasah ini tak perlu merepotkan kalian untuk me mbopo ngnya, aku bisa me mbereskannya sendiri, sekarang lebih baik kalian pulang saja, sudah kalian dengar perkataanku ini? ' Ucapan yang terakhir itu bernada me merintah, suaranya keras dan me mbuat se mua orang yang mendengarnya merasa amat tak sedap.

Paras muka Kakek berlengan iblis Kwong Yu  siang berubah menjadi dingin seperti es, dengan nada menyelidiki dia bertanya:

"Tuan putri, kau hendak me mbawa jenasah ini pulang ke mar kas besar ataukah hendak menguburnya dite mpat lain"

“Tentang soal ini, lebih baik kalian tak usah menca mpurinya!'' "Orangnya toh sudah mati, jenasahnya mau dibawa ke mana saja

toh sama juga, cuma barang yang berada didalam sakunya harus lohu a mbil untuk dibawa pulang ke markas besar, tentunya boleh bukan?`

Nona berbaju putih itu menjadi gusar sekali, teriaknya keras- keras:

'Siapa pun dilarang menyentuh benda yang berada didalam sakunya."

"Tuan putri, kau harus tahu" kata si kakek keji berlengan ibis Kwong Yu-siang sa mbil tertawa seram, me mbawa pulang benda yang berada disakunya bukan merupakan perintah dari wakil ketua, me lainkan atas perintah dari Kaucu  sendiri,  apakah  kau  berani me mbangkangnya?"

Sekali lagi nona berbaja putih itu mendengus dingin.

"Entah perintah siapa pun juga sama saja, sekali aku bilang tak boleh menyentuhnya, tetap tak boleh menyentuhnya, kau pun tak usah banyak berbicara lagi, kalau sa mpai menggusarkan aku, perduli terhadap siapa pun aku tetap akan turun tangan keji kepadanya"

Setelah mendengar perkataan itu, mencorong sinar buas  dari balik mata kakek berlengan iblis Kwong Yu-siang, dia segera tertawa seram. ''Heeeehhh ... heeehhh ... heehhh... Tuan Putri, perkataamu itu sudah me langgar peraturan perkumpulan, lohu sebagai anggota perkumpulan mes ki harus melanggar dosa berani dengan atasan, terpaksa harus bertindak tegas juga untuk melindungi keutuhan peraturan perkumpulan, Aku minta tuan putri bersedia  untuk  berpikir tiga kali sebelum bertindak ”

Paras muka gadis berbaju putih itu segera berubah  menjadi dingin bagaikan salju serunya:

"Bila mana kau merasa me miliki kepandaian silahkan saja turun tangan untuk mencobanya'

Sekalipun si Kakek berlengan iblis Kwong  Yu siang adalah seorang manus ia bengis yang banyak melakukan kejahatan, tapi setelah menyaksikan tindakan yang keji tanpa perasaan yang terang-terangan melanggar peraturan ini, hatinya merasa bergidik juga.

Kepandaian silat yang dimiliki gadis itu boleh dibilang sudah diketahui oleh setiap orang, kakek itupun sadar bahwa ke ma mpuan yang dimilikinya  sukar  untuk  mengalahkan  gadis  tersebut  tapi bila mana ia mau bekerja sa ma dengan Hong-lui-lun Sim Bu,  besar ke mungkinan orang tersebut dapat dibinasakannya.

Adapun yang menjadi tujuan dari tindakannya pada malam ini adalah pedang Ang soat kiam yang merupakan pedang mestika nomor satu di dunia, diapun tahu kalau ia tidak bertindak cepat  maka besar ke mungkinan senjata mana akan terjatuh ke tangan Ciu Hu kaucu.

Si Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata.

"Kalau tuan putri berkata demikian, lohu pun akan menur uti saja. Meski cahaya kunang- kunang tak akan bisa menangkan cahaya rembulan, tapi de mi ditegakkannya peraturan perkumpulan, mau tak mau aku harus bertindak tegas' Gadis berbaju putih itupun bersikap amat serius, dia tahu pelanggaran atas peraturan yang dilakukannya sekarang merupakan suatu penghianatan besar, andaikaia sampai diketahui oleh ibunya, sekalipun dia adalah putri kandungnya juga tak akan mendapat pengampunan.

Apa lagi Thian leng Thamcu yang berada dihadapannya sekarang merupakan seorang jago lihay kelas satu dalam perkumpulannya, ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, dia sendiripun belum tentu berkema mpuan untuk me mbinasakan mereka.

Berpikir de mikian, dengan suara dingin gadis berbaju putih itu berkata:

"Thian leng tha mcu, kau harus tahu, sejak dulu hingga sekarang aku bukan anggota dari perkumpulan Ban shia kau, peraturan di dalam perkumpulanmu tidak berlaku bagiku, mala m ini kau mencar i aku merupakan suatu dendam pribadi, dengan soal perkumpulan sama sekali tak ada sangkut pautnya ”

Mendengar perkataan itu, si Kakek berlengan iblis Kwong  Yu siang lantas berpikir: ''Benar juga perkataan ini, sekarang ia sa ma sekali bukan anggota perkumpulan Ban shia kau, sebagar orang yang terlepas dari perkumpulan tentu saja peraturan perkumpulan tidak berlaku pula baginya.”

Berpikir sa mpai disini, si Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang lantas tertawa seram.

"Heeeehhh.... heeeehhh. . . heeehhh. . . Ceng Kuncu,  tak kusangka kau sebagai putri kaucu ternyata bisa mengucapkan perkataan semaca m ini, lohu benar-benar merasa ma lu untuk diri kaucu, andaikata kau masih mengakui kaucu sebagai  ibu kandungmu, tak nanti kau akan mela kukan perbuatan bodoh seperti itu".

ooodwooo MENDENGAR perkatan tersebut, gadis berbaju putih itu seakan- akan merasa hatinya terluka, sekujur tubuhnya bergetar keras, titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, dengan suara keras bentaknya:

"Aku bukan putri kandung kaucu, kalau tidak, kenapa aku tak punya ayah, Aku adalah seorang anak hara m ”

Tak terlukiskan rasa sedih yang menceka m perasaannya, sejak kecil ia sudah merasa merupakan  seorang gadis lemah yang dilupakan orang, andaikata dia tidak me miliki suatu keteguhan hati yang melebihi orang biasa, mungkin sedari dulu ia sudah tak bisa hidup lebih jauh.

Dia a mat me mbenci ibunya sendiri, karena perbuatan jalangnya yang menggaet sana merayu ke mar i, benarkah dia tak punya ayah kandung? Dia adalah putri yang di hasilkan hubungan gelap ibunya dengan lelaki- lelaki hidung bangor ?

ooh Thian!  Betapa kasihannya aku, betapa menyendirinya aku. .

.

Andaikata  dia  mengetahui asal-usul yang  sebenarnya,  mungkin

hatinya akan semakin sedih, sesungguhnya perempuan me mang merupakan kaum le mah,  andaikata  sejak  kecil  ia  sudah  tidak me mpero leh kasih sayang orang tuanya, melainkan ditinggalkan, maka pukulan batin tersebut akan dirasakan sebagai suatu pukulan yang amat parah.

Coba kalau seorang beriman le mah yang menga la mi pukulan batin semaca m ini, niscaya dia tak akan mampu untuk hidup lebih jauh didunia ini...

Ketika si Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang  menyaksikan gadis itu menjadi sedih, mencorong sinar kebuasan dari balik matanya, mendadak bagaikan sa mbaran petir dia menerjang ke sisi tubuh si gadis berbaju putih itu, secepat kilat tangan kanannya menya mbar pedang Hu thian seng kiam yang mengge mbol di punggung Ku See hong. Serangan itu dilancarkan dengan suatu gerakan yang a mat aneh tapi sakti.

Ilmu silat yang dimiliki gadis berbaju putih  itu  sesungguhnya telah mencapai puncak kese mpurnaan,  walaupun dia sedang bersedih hati karena me mikir kan asal-usul sendiri yang me milukan hati, tapi begitu Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang turun tangan, ia segera me mbentak dengan suara nyaring:

"Manusia rendah yang tak tahu ma lu, berani betul kau menyergap secara licik. . ."

Sambil berteriak, mendadak ia berkelebat ke samping menghindarkan diri dari cengkeraman tersebut.

Tidak menant i pihak lawan berubah gerakan, kaki kirinya disertai desingan angin tajam langsung menendang jalan darah Thian ki hiat di pinggang sebeleh kiri Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang.

Bila jago lihay sedang bertarung, setiap tindakan yang dilakukan semuanya merupakan anca man yang bisa me mat ikan lawan nya.

Tendangan tersebut dilancarkan dengan cepat, aneh gencar dan dahsyat...

Betapapun buasnya Kakek berlengan iblia Kwong Yu siang, toh ia tak berani juga menyambut datangnya serangan tersebut, kaki kirinya segera berputar kencang, menyusul ke mudian tubuhnya dengas cepat mundur tiga e mpat langkah dari posisi se mula.

Tampak gadis berbaju putih itu sudah me mpunyai rencana yang matang, sekali lagi dia me mbentak keras, belum sempat kaki kirinya ditarik ke mbali, badannya telah melayang ke sa mping,  kaki kanannya segera diayunkan ke depan menendang jalan darah Yan hou Hat ditenggorokan mus uh.

Tendangan semaca m ini merupa kan suatu ilmu tendangan yang luar biasa dan jarang ditemui dalam dunia persilatan.

Paras muka Kakek berlengan iblis Kwong Yu  siang  berubah hebat, buru-buru dia me mbalikkan badan, tendangan dari gadis itu sudah tiba didepan mata, sepasang bahunya segera bergerak dan tubuhnya langsung melo mpat sejauh dua kaki dari posisi se mula. Berhubung gadis berbaju putih itu harus me mbopong tubuh Ku See hong, maka gerak geriknya kurang leluasa, itulah sebabnya dia lancarkan dua buah  tendangan  berantai  dengan  tujuan  untuk  me ma ksa  mundur  lawannya,  dengan  demikian   ia   baru   bisa me musatkan perhatian nya untuk menghadapi kedua orang itu.

Begitulah, setelah menyaksikan Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang terdesak mundur, dengan cepat dia menarik kembali kakinya, lalu sa mbil me nghimpun tenaga dala mnya, bagaikan seekor burung walet tubuhnya melayang pergi sejauh tiga kaki.

Buru-buru dia me mbaringkan tubuh Ku See hong kebawah sebatang pohon siong ke mudian  tangan  kanannya  secepat  kilat me lepaskan pedang Hu thian sang kiam yang mengge mbo l dipunggung Ku See hong, dan mengikatnya diatas punggung sendiri..

Dilihat dari t indakannya yang dilakukan gadis berbaju putih ini, dapat diketahui kalau gadis itu adalah seorang gadis yang a mat pintar.

Rupanya gadis itu kuatir bila ia sedang dikurung oleh Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang nanti, si Roda angin guntur Sim bu akan manfaatkan kesempatan itu untuk mencur i benda milik Ku-See hong.

Belakangan ini dia pernah mendengar dari Ciu Heng thian yang mengatakan bahwa Ku See hong me miliki sebilah pedang mestika yang luar biasa dan merupakan pusaka dari dunia persilatan, yakni Ang soat kia m.

Dari sini dapat diketahui kalau barang yang mereka butuhkan adalah pedang antik tersebut.

Menanti Kakek berlengan iblis Kwong Yu Siang dapat  berdiri tegak dan mengetahui kalau pedang mestika itu sudah berhasil di rampas oleh gadis itu, dia m-dia m ia lantas menyumpah: "Budak setan, mala m ini lohu  bersumpah  akan  me mbunuhmu ke mudian me munahkan mayatmu, agar orang lain tidak mengetahui mati hidupmu dan sela manya sengsara dalam akhirat"

Begitu menyusun rencana keji didalam hatinya, sekulum senyuman licik segera tersungging diujung bibir kakek berlengan iblis Kwong Yu siang katanya dengan suara dala m:

"Ceng Kuncu, bila kau belum juga mau sadar, terpaksa lohu tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi."

Gadis berbaju putih itu mendengus sinis, katanya dengan suara dingin:

''Buat apa kau menjerit-jerit terus maca m setan? Tak ada gunanya kau berkaok- kaok melulu. Hmmm ma lam ini aku berencana untuk menyuruhmu berdiam sela manya disini."

Kakek berlengan iblis Kwong Yu-siang tertawa licik:

"Heeehhh. . . heeeehhh. . . heeeehhh. . . mana, mana, kalau begitu lohu akan merasakan dulu sa mpai dima nakah kelihayan dari tuan putri"

Paras Muka gadis berbaju putih itu berubah menjadi dingin bagaikan es, hawa napsu me mbunuh menyelimuti seluruh wajahnya, ia segera me mbentak keras:

"Tak usah banyak bicara lagi, lihat serangan!"

Sambil berkata, gadis berbaju putih itu segera menggerakkan tubuhnya menerjang ke muka, telapak tangan kirinya me mbacok ke bawah sementara tangan kanannya diayunkan ke muka, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menggulung ke arah depan'

Begitu kedua buah serangan itu dilancarkan satu dari atas yang lain dari bawah mendadak kedua gulung serangan tersebut bersatu menjadi satu ditengah angkasa dan menimbulkan pusingan angin dahsyat yang menggetarkan sukma ... Setelah itu gumpalan tenaga serangan tadi berubah menjadi puluhan jalur angin jari yang tajam, dengan disertai dengan angin tajam, bagaikan puluhan bilah pedang tajam langsung menyerang belasan buah jalan darah penting ditubuh kakek berlengan iblis Kwong Yu siang..

Rupanya gadis berbaju putih itu ber maksud untuk melukai kakek berlengan iblis Kwong Yu-Siang dalam satu gebrakan maka sewaktu me lepaskan dua gulung angin pukulan  yang  maha  dahsyat  itu, dia m-dia m tenaga dala mnya dihimpun lagi, ke mudian sepuluh jari tangannya di sentilkan ke muka melepaskan puluhan buah serangan gencar.

Ketika kakek berlengan iblis Kwong Yu siang  menyaks ikan  dia me lancarkan dua buah pukulan dahsyat tadi, sebagai seseorang yang licik, ia sudah menaruh curiga, segera pikirnya.

"Budak ini a mat licik dan banyak tipu muslihatnya, dia pasti bermaksud ber main licik dihadapanku'

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat dua gulung angin pukulan telah saling berte mu di tengah udara, ditengah gulungan angin berpusing, puluhan gulung desingan angin jari diiringi suara desingan yang me mekikkan telinga me luncur t iba dan menyebar luas seperti sebuah jaring-jaring me ngancam seluruh ja lan darah penting ditubuhnya.

Mimpipun kakek berlengan iblis Kwong Yu-siang t idak me nyangka kalau angin serangan itu datangnya secepat itu, untuk berkelit jelas tak mungkin lagi, terpaksa dia harus menghimpun segenap tenaga dalam nya ke luar, ke mudian mengikuti putaran lengannya  yang me mbentuk gerakan busur, disertai segulung angin pukulan yang berhawa le mbut menerjang keluar.

Dalam wahtu singkat daerah seluas tiga depa disekeliling arena telah dlliputi oleh selapis dinding hawa murni yang sangat kuat.

Ketika kesepuluh gulung desingan angin serangan itu menumbuk diatas dinding udara tersebut, terjadilah serentetan suara letusan yang me mekikkan telinganya. Menyusul ke mudian... dengusan tertahan mengge ma di udara, kulit muka si kakek berlengan iblis Kwong Yu siang yang kurus kering me ngejang keras me mbentuk satu garis me manjang setelah mundur dua langkah dari balik sorot matanya memancar keluar serentetan sinar bengis dan benci yang a mat sangat.

Terhadap kawanan manusia se maca m itu, gadis berbaju putih itu me mang t idak menaruh  kesan baik,  bahkan terhadap ibunya sendiripun menaruh rasa muak ma ka setelah dilihatnya Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang terluka, tentu saja diapun tidak mengenal a mpun lagi.

Sambil menbentak keras, tubuhnya berkelebat kedepan menerjang tiga depa kesisi kiri kakek berlengan iblis Kwong  Yu siang, ujung baju  kanannya  bagaikan  seekor  ular  sakti  segera me luncur kedepan dan me nggulung leher kakek tersebut.

Dalam pengaruh tenaga dalam yang luar biasa, ujung bajunya itu bagaikan sebilah pedang mustika yang tajam sekali,  andaikata tengkuk Kwong Yu  siang sa mpai kena dililit, niscaya batok kepalanya akan berpisah dengan badan.

Siapa tahu, baru saja gadis berbaju putih itu mengebaskan ujung bajunya kedepan, kakek berlengan iblis Kwong  Yu siang telah tertawa licik.

Tubuhnya seperti sesosok sukma gentayangan berkelebat kesamping dan menyelinap ke belakang tubuh gadis berbaju putih itu, keseluruh jari tangannya yang kurus bagaikan cakar iblis langsung mencengkera m pedang Hu thian seng  kiam  yang mengge mbo l dibahunya.

Betapa terkejutnya gadis berbaju putih itu setelah mendengar suara tertawanya, buru-buru dia berpikir:

"Aduh celaka, tampaknya kebenaran tinggi sejengkal, kejahatan tinggi sekali!'

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, ia segera menge luarkan ilmu Hud lo jiu yang maha dahsyat untuk me lancarkan serangan, kaki  kirinya  bergeser  setengah  langkah, ke mudian tubuhnya berputar  sembilan  puluh  derajat,  menyusul ke mudian ujung baju tangan kirinya dikebaskan ke depan.

Kelihayan dari jurus serangan tersebut justru terletak pada beberapa gerakan tersebut, semua gerakan itu bisa dilancarkan pada saat hampir bersa maan.

Oleh karena itu kecepatan gerakannya juga tak dapat ditandingi oleh jurus serangan manapun juga, selain daripada itu dari balik ujung baju pun berse mbunyi ilmu Hud lo jiu yang maha dahsyat.

Baru saja kakek berlengan iblis Kwong Yu siang sedang ge mbira karena siasatnya berhasil, belum sempat jari tangannya menyentuh gagang pedang mustika lawan, tampak bayangan putin berkelebat lewat, sekilas cahaya bianglala berwarna putih disertai desingan angin pukulan yang maha dahayat telah menggulung keatas urat nadi pada pergelangan tangannya.

Dalam terkesiapnya terpaksa dia harus me mbuang kese mpatan untuk mera mpas pedang mestika itu dan buru-buru me lo mpat mundur beberapa langkah ke belakang.

Begitu berhasil mendesak mundur musuhnya dengan serangan tersebut, tiba-tiba saja gadis berbaju putih itu me mbalikkan badannya, ujung baju kiri dan kanannya segera di kebaskan berulang kali dengan ilmu Hud lo jiu.

Tampak bayangan putih menyelimuti seluruh angkasa, desingan angin pukulan menderu-deru, dan dari e mpat arah delapan penjuru tahu-tahu meluncur tiba ancaman dahsyat yang mengurung seluruh badan kakek berlengan iblis Kwong Yu siang.

Dua buah ujung bajunya yang dikebaskan keluar dengan ilmu Hu lo jiu itu pada hakekatnya merupakan dua maca m senjata tajam yang luar biasa, kontan saja kakek berlengan iblis itu menjadi terdesak hebat dan kalang kabut.

Sekalipun dia telah berusaha mengebaskan tangannya berulang kali, menciptakan bayangan pukulan yang berlapis-lapis, na mun semuanya tak ma mpu untuk me mbendung datangnya serangan lawan..

Gadis berbaju  putih  itu  segera  me mbentak  keras,  serangan me matikan dilancarkan berulang kali, diantara ayunan ujung bajunya yang berlapis-lapis, mendadak telapak tangannya  yang  putih bersih itu meluncur ke depan dan sekaligus me lancarkan dua buah pukulan dahsyat.

Enam lapis bayangan telapak tangan hampir pada saat yang bersamaan melepaskan serangan ke arah sepasang bahu dan dada kakek berlengan iblis tersebut.

Jurus-jurus serangan yang lihay dan anca man yang me matikan betul-betul merupa kan sesuatu kehebatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang yang menyaksikan daging gemuk didepan mulut tiba-tiba terlepas kembali dari cekalannya, apalagi diapun kena diserang secara gencar oleh serangan- serangannya yang mematikan, dari ma lu berca mpur mendongkol, ia menjadi gusar sekali.

Kalaupun dia tahu dengan pasti bahwa dibalik ke enam buah serangannya  itu  diam-dia m  tersembunyi  pula  serangan  yang me matikan, tapi diapun ingin menggunakan tubuhnya untuk mencoba anca man tersebut, dengan cepat telapak tangan kanannya berputar me mbentuk setengah lingkaran, ke mudian.."Weeess!" telapak tangan kirinya secepat kilat melepaskan sebuah pukulan ke depan.

Selapis angin pukulan yang sangat dahsyat bagaikan selembar jaring yang amat tebal langsung menggulung ke muka menyongsong datangnya ancaman mana.

Gadis berbaju putih itu melotot  besar, sambil me mbentak sepasang lengannya segera berputar dan menggertak ke sa mping untuk me mancing serangan lawan mir ing ke arah la in, setelah itu dengan suatu gerakan aneh, tiba-tiba saja dia me munahkan ancaman yang tiba sehingga lenyap tak berbekas. Jurus serangan ini selain aneh juga luar biasa.

Dikala ia me mancing tenaga pukulan lawan meluncur ke arah lain itulah, telapak tangan kirinya didorong ke depan lewat suatu sudut yang sangat aneh, segulung angin pukulan lembut tanpa menimbulkan sedikit suara pun segera menyebar kedepan.

Mengikuti dorongan telapak tangan kirinya, ke lima jari tangan kanannya di pentangkan lebar-lebar, kemudian "Sreeet!" menyerang jalan darah Sin-hong-hiat, Poh long-hiat, Yu bun-hiat serta Tong kok-hiat, empat buah jalan darah penting didepan dada kakek berlengan iblis Kwong Yu-s iang.

Dibawah cahaya re mbulan ta mpak ke lima jari tangan kanannya itu berkilat taja m.

Betapa terkesiapnya kakek berlengan iblis Kwong  Yu-siang setelah menyaksikan kejadian itu, mimpipun dia tak mengira kalau tenaga dalam gadis itu sudah mencapai tingkatan yang begitu sempurna.

Dalam keadaan seperti ini, cukup bila tubuhnya tersentuh angin jari serangan yang terpancar keluar dari ke lima buah jari tangan Iawan, akibatnya ia pasti akan terluka parah.

Padahal apa yang diduga Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang adalah suatu penilaian yang salah, apa yang terpancar keluar dari kelima jari tangan kanan gadis berbaju putih itu tak lebih hanya suatu pancaran tenaga biasa, sedangkan serangan me matikan yang sebetulnya justru terletak pada telapak tangan kirinya.

Tenaga ancaman itu tanpa terasa, tapi bila pihak lawan sudah merasa tenaganya tersentuh badan,  maka jangan harap dia menghindarkan diri lagi, saat itu baginya hanya bisa mandah diserang...

Sedangkan serangan itu sendiripun bisa dikendalikan arahnya menurut kehendak hati, maka andaikata pihak lawan hendak menghindarkan diri dari anca man jari tangan kanan yang menyergap tiba, tenaga pukulan yang berada pada telapak tangan kirir akan berubah arah dan me nyerang tubuh lawan.

Ilmu pukulan se macam ini boleh dibilang merupakan sebuah ilmu pukulan yang jarang dijumpai didalam dunia persilatan.

Siapa yang bakal tahu kalau ilmu pukulan yang sangat aneh ini, sesungguhnya merupa kan salah satu diantara ilmu sakti yang tercantum didalam kitab Cang ciong pit kip?

Tampaknya kakek berlengan iblis Kwong Yu siang segera akan tewas diujung telapak tangannya.

Kebetulan sekali pada saat itu Hong lui lun Sim Bu yang berkepala besar menyaksikan Thamcunya terancam bahaya, secara dia m-dia m ia segera me lepaskan sepasang roda bergeriginya.

Sepasang roda bergerigi yang besar dan berat dengan menciptakan serentetan cahaya perak yang tebal dan rapat, disertai segulung desingan angin tajam yang dahsyat, langsung menggulung tiba dan menghanta m punggung gadis berbaju putih itu.

Ketika secara tiba-tiba gadis berbaju putih itu mendengar datangnya desingan angin tajam yang menyambar tiba di belakang punggungnya, serta merta dia berpaling, tahu-tahu dia saksikan ada dua gulung cahaya yang menyilaukan mata telah menggulung keatas tubuhnya.

Pada saat yang bersamaan Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang juga telah menghimpun tenaga dalamnya sambil  me lepaskan sebuah pukulan dahsyat, angin puyuh yang menggidikkan hati dengan me mbawa desingan angin tajam meluncur ke depan.

Dalam keadaan begini andaikata dia sampai me lanjutkan niatnya untuk me lukai Kakek berlengan iblis, niscaya dia sendiri akan terluka pula di ujung roda angin guntur le laki bengis tersebut.

Melihat datangnya pukulan  yang maha dahsyat dari Kakek berlengan iblis, satu ingatan segera me lintas didalam benaknya. Dengan cepat dia berlagak seakan-akan dirinya terdesak dan menjadi gugup dan gelagagapan.

Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang melihat kejadian itu segera tertawa seram, tiba-tiba saja tenaga dalamnya dilipat gandakan menjadi sepuluh bagian lebih.

Disaat angin pukulan dari Kwong Yu siang serta roda angin guntur dari Sim Bu hendak menghancur lumatkan tubuh si nona berbaju putih itu. . .

Mendadak sepasang telapak tangan si nona yang sudah dilontarkan kedepan itu ditarik ke mbali, lalu sa mbil me mancing tenaga serangan kakek berlengan iblis agar menerjang kearahnya lebih cepat tubuhnya yang bergeser mengikuti datangnya hembusan angin pukulan tersebut mendadak melejit ketengah udara, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia meluncur ketengah angkasa.

Tiba-tiba saja kakek berlengan iblis Kwong Yu siang merasakan tenaga dalamnya yang dihisap oleh tenaga lawan itu menjadi tak terkendalikan lagi, disaat itulah sinona berbaju putih itu tahu-tahu me lejit ke tengah udara.

Melihat kejadian inilah, Kwong Yu siang menjadi a mat terkesiap, dia m-dia m pekikan dihati.

'Aduh celaka ''

Ternyata tenaga pukulan dahsyat yang tak bisa dikendalikan lagi itu bagaikan a mukan o mbak sa mudra telah menerjang ke arah Hong lui lun Sim Bu yang berada di hadapannya.

Sebaliknya jurus serangan angin puyuh yang dilancarkan Sim Bu dengan sepasang roda angin gunturnya justru bersarang ke arah si kakek berlengan iblis.

Nona berbaju putih itu me mang amat cerdik, sewaktu tubuhnya me lejit ke tengah udara tadi, ia telah memperhitungkan datangnya serangan dari kedua belah pihak, maka ketika badannya meluncur ke udara, kakek berlengan iblis dan Sim Bu sudah sa ma-sa ma tak ma mpu untuk menarik ke mbali serangannya.

Dalam jarak yang begini dekat, ditambah pula kecepatan yang begitu tinggi, sulit bagi mereka untuk melo loskan diri dari jebakan maut tersebut ....

Dasar me mang berhati keji,  tatkala si kakek berlengan  iblis Kwong Yu siang menyaksikan kesela matan jiwanya mula i terancam iapun tidak me mperdulikan apakah pihak lawan adalah anak buah sendiri atau bukan, tenaga dalamnya segera ditingkatkan hingga mencapai dua belas bagian.

"Blamm....!  '  suatu  benturan   nyaring   segera   mengelegar  me mecahkan keheningan.

Menyusul ke mudian terdengar lagi jeritan ngeri yang me milukan hati, tubuh Hong lui lun Sim Bu sudah terhajar oleh tenaga pukulan dari Kakek berlengan iblis itu sehingga isi  perutnya bergeser, nadinya putus dan jiwanya melayang meninggalkan raga...

Sekalipun de mikian, sepasang roda angin gunturnya masih sempat me luncur ke depan secepat sambaran kilat menerjang ke tubuh Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang...

Cepat-cepat Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang melar ikan diri ke luar dari arena...

"Krraaakkkk!" sebuah roda baja itu menya mbar lewat dari bawah ketiaknya hingga bajunya hancur dan darah segar me mancar ke empat penjuru .... Menyaksikan kejadian tersebut, gadis berbaju putih itu tidak menyia-nyiakan kese mpatan baik tersebut dengan begitu saja.

Secepat sambaran petir ia menerjang ke muka, jurus serangan dahsyat dilontarkan berulang kali me ngurung sekujur tubuh lawan..

Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang me mbentak gusar, sambil menahan rasa sakit yang menghebat, dia mengembangkan pula jurus-jurus serangan dahsyatnya ... Serangan berantai yang dilancarkan sinona saat ini se muanya dilakukan dengan gerakan tubuh yang aneh serta perubahan gerakan yang makin la ma se makin cepat, angin pukulan bagaikan pisau tajam menyapu kian ke mari..

Semua serangan yang dilancarkan ha mpir se muanya tertuju ke bagian-bagian yang me matikan lawan, selain dahyat juga teramat keji.

Sesungguhnya Thian leng Tha mcu  si Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang juga me miliki tenaga dalam yang sempurna serta ilmu silat yang melebihi orang lain, sepasang lengannya yang kurus kering berayun kian ke mar i me menuhi angkasa, hawa pukulan yang dingin pun me mancar kian ke mari mengikuti gerakan pukulannya.

Jurus dilawan dengan jurus, serangan dipatahkan dengan serangan, sekalipun tubuhnya sudah terluka, namun t iada tanda- tanda bakal menderita kekalahan.

Ia menyerang semakin gencar lagi, jurus-jurus serangan dahsyatnya dilontarkan bagaikan hujan badai, setiap ancaman selalu menerobos masuk ke balik bayangan lengan lawan yang ceking dan hitam, seakan-akan me masuki lautan yang luas tak bertepian.

Begitulah, kedua orang itu segera terlibat dalam suatu pertempuran yang amat seru, angin  pukulan  menderu-deru  dan me mancar ke e mpat penjuru bergelo mbang besar.

Pepohonan di e mpat penjuru bergoyang kencang, batu dan pasir berterbangan di angkasa, keadaannya sungguh mengerikan hati

......

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung ratusan jurus banyaknya, namun me nang kalah mas ih saja belum diketahui.

Si Kakek berlengan iblis Kwong  Yu-siang ma kin bertarung merasakan hatinya semakin bergidik, dia tak menyangka kalau perempuan ini begitu lihay, padahal dihari-hari biasa kaucu tidak secara tekun member i pelajaran silat kepadanya, diajar sambil lalu saja sudah sehebat ini, bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat kaucu mereka.

Untuk menjaga kesela matan jiwa sendiri, terpaksa dia harus menarik ke mbali niatnya untuk mera mpas pedang Hu-thian-seng kiam tersebut, karena ia sudah merasa bahwa hawa murni dalam tubuhnya sudah mulai tersendat-sendat, jika pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, niscaya  selembar  jiwanya  akan  turut me layang.

Sementara itu si nona berbaju putih itu masih saja berkelebat kesana ke mar i dengan kecepatan bagaikan kilat, sedang pelbagai ingatan pun berkeca muk didalam benaknya, dia segera berpikir:

''Di dalam perkumpulan yang didirikan ibu, orang ini tak lebih cuma seorang jagoan kelas dua, tapi ilmu silatnya sudah begitu lihaynya, kalau begitu kekuatan perkumpulan sesat yang didirikan benar-benar luar biasa sekali dan cukup untuk meraja i seluruh kolong langit, aaai Ibu "

Bila terbayang akan segala perbuatan me malukan yang telah dilakukan ibunya, dia menjadi malu sendiri, tanpa terasa tekanan yang terpancar keluar dari jurus-jurus serangannya juga makin la ma semakin berkurang....

Betapa tajamnya sepasang mata si Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang, peluang yang begitu baik tentu saja tidak disia-sia kan dengan begitu saja, dia segera berpekik dengan suara  aneh yang me me kikkan telinga, segenap tenaga dalam yang dimilikinya di himpun kedalam telapak tangan kanan, lalu melalui sebuah sudut yang tak terduga, dikombinasikan pula dengan gerakan tubuhnya, dia langsung menerjang kedepan sa mbil melancarkan serangan ......

Begitu angin pukulan itu dilepaskan, ma ka tampaklah deruan angin tajam yang menderu-deru bagaikan bendungan yang jebol menggulung bersa ma kedepan dan menghajar tubuh nona berbaju putih itu.

Kekuatan serangan itu sede mikian dahsyatnya, cukup menggidikkan hati siapa saja. Nona berbaju putih itu merasa amat terperanjat, segenap tenaga dalam yang dimiliki pun dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya ke mudian dilontarkan ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Dengan cepat kedua gulung angin pukulan yang maha  dahsyat itu saling berte mu beradu ditengan udara...

"Blaaammmm !"

Ditengah benturan yang me mekikkan telinga terdengar dua kali dengusan bergema me mecahkan keheningan, menyusul ke mudian terdengarlah ledakan yang beruntun yang menggetarkan seluruh angkasa.

-oodwoo-